Anda di halaman 1dari 27

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Saat ini masyarakat sudah banyak menggunakan buah labu kuning yang dapat digunakan untuk berbagai jenis makanan karena memiliki cita rasa yang enak sehingga dapat digunakan sebagai sayur lodeh, sayur asam dan juga sup. Selain itu labu kuning juga memiliki tekstur lembut dan cita rasa sedikit manis sehingga cocok dipadukan dengan beragam bahan. Namun masih sedikit yang dapat dimanfaatkan manusia sebagai bahan pangan. Hal ini disebabkan masyarakat masih belum mengetahui kandungan gizi yang terdapat pada buah labu tersebut. Tetapi secara umum tanaman labu ini kaya akan kandungan serat, vitamin, mineral dan juga air sehingga bermanfaat bagi kesehatan. Jadi dapat diketahui bahwa dari kandungan gizi yang lengkap dan harga yang relatif murah labu kuning dapat dibuat sebagai bahan makanan yang memiliki sumber gizi yang baik. Masyarakat sekarang banyak yang mengkonsumsi mie sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras. Selain mie yang harganya terjangkau, cara penyajiannya yang mudah dan rasanya yang enak, mie juga mudah membuat konsumen kenyang. Adapun jenis jenis mie yang yang beredar di pasaran antara lain mie mentah, mie pangsit, mie basah, dan juga mie instan. Sebagai makanan rakyat, mie mudah didapatkan di mana saja mulai dari warung kecil yang berada di pinggiran jalan sampai ke swalayan. Mie dapat diolah menjadi beragam sajian seperti mie goreng, mie pangsit, mie ayam, ifu mie, dan masih ada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian mie sudah lama dan telah melekat pada

kebudayaan daerah dalam bentuk makanan khas daerah. Di masa yang akan datang penggunaan mie akan semakin meluas karena sifat penggunaannya yang praktis serta rasanya yang enak. Saat ini mie terkhusus mie basah banyak ditakuti oleh masyarakat karena banyak berita beredar bahwa mie menggunakan pengawet formalin dan boraks. Jika dikonsumsi secara berlebihan akan mengakibatkan kanker yang berbahaya bagi kesehatan. Mie yang sehat umumnya memang tidak tahan lama karena tidak mengandung bahan pengawet. Mie tanpa pengawet hanya bertahan 10 12 jam sementara mie yang ditambahkan formalin dalam waktu 3 5 hari masih kelihatan segar. Penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan menyadarkan kita umumnya masyarakat konsumen akan perlunya kehati hatian mengkonsumsi makanan yang masuk ke mulut dan perut kita. Tujuannya yakni untuk menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup kita. Makanan yang bergizi diutamakan dalam hidup kita, tetapi makanan sehat dan aman harus lebih diproritaskan. Program Bakti Profesi merupakan program dimana mahasiswa dituntut untuk ikut berperan aktif dalam masyarakat dengan memberikan solusi untuk masalah-masalah pedesaan guna meningkatkan pengetahuan serta memperluas wawasan masyarakat. Melalui program Bakti Profesi ini diperkenalkan produk olahan sehat dari labu kuning yaitu mie basah sehat dengan substitusi menggunakan labu kuning. Mie basah labu kuning adalah bahan pangan yang berbentuk pilinan memanjang berbahan baku terigu, labu kuning, telur, air, garam dan baking powder. Produk ini diharapkan dapat menambah variasi dalam diversifikasi makanan dan menjadi pedoman bagi masyarakat desa Miruek Lamreudeup agar mengkonsumsi

makanan yang sehat tanpa bahan pengawet serta menjadi motivasi juga inspirasi mereka untuk berwirausaha.

B. Tujuan Bakti Profesi Tujuan dilakukan kegiatan Bakti Profesi ini adalah untuk memberikan

informasi dan pelatihan kepada masyarakat desa Miruek Lamreudeup dalam pembuatan mie basah sehat berbasis produk labu kuning yang belum ditangani secara optimal menjadi produk yang sehat. Selain itu, Bakti Profesi ini juga bertujuan untuk menciptakan mahasiswa yang mandiri dan mengabdi sesuai dengan profesinya juga sebagai sarana yang mempunyai hubungan sangat erat di dalam masyarakat. Secara rinci tujuan Bakti Profesi ini adalah sebagai berikut :
1. Memberikan informasi dan pelatihan kepada masyarakat desa tentang

pengolahan hasil-hasil pertanian. 2. Meningkatkan interaksi antara mahasiswa dengan masyarakat setempat sehingga dapat menjalin silaturrahmi dan solidaritas yang tinggi.

C. Manfaat Bakti Profesi Adapun manfaat dari Bakti Profesi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang diversifikasi pangan produk mie basah dan mendorong untuk mengembangkan usaha pengolahan labu kuning menjadi produk mie basah sehat tanpa penambahan bahan pengawet.

Melalui Bakti Profesi ini juga diharapkan agar mahasiswa dapat menerapkan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dengan memanfaatkan potensi hasil pertanian yang terdapat di lingkungan desa tersebut. Bagi masyarakat desa tersebut juga diharapkan agar Bakti Profesi dapat digunakan sebagai sarana perkenalan pengolahan produk pertanian dan semangat berwirausaha agar mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada pada lingkungan desa tersebut.

D. Metode Kegiatan Dalam penulisan laporan ini digunakan metode deskriptif. Data yang dikumpulkan dalam pelaksanaan Bakti Profesi di lapangan diperoleh dengan 2 cara, yaitu :
1. Metode Observasi, yang dilakukan saat berada di lokasi dilanjutkan dengan

mengadakan pendataan jumlah penduduk serta dengan melihat secara langsung situasi dan potensi dari lingkungan desa tersebut.
2. Metode Wawancara, yaitu dengan cara tanya jawab dengan masyarakat

desa yang dilakukan secara formal maupun informal.

II. GAMBARAN LOKASI DAN PERMASALAHAN PERTANIAN

A. Gambaran Umum Lokasi 1. Letak dan Topografi Lokasi

Desa Miruek Lamreudeup merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh. Desa Miruek Lamreudeup merupakan salah satu desa yang memiliki potensi sumber daya alam melimpah. Dalam sistem pemerintahannya desa Miruek Lamreudeup dipimpin oleh seorang kepala desa dan dibantu oleh sekretaris desa. Peta lokasi kegiatan Bakti Profesi dapat dilihat pada lampiran 1. Secara geografis desa ini memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Miruek Taman, 2. Sebelah Timur dengan Pegunungan, 3. Sebelah Utara dengan Desa Klieng Meuria dan Desa Klieng Cot

Aron,
4. Sebelah Selatan dengan Desa Angan.

2.

Keadaan Alam dan Potensi Fisik Lokasi

Desa Miruek Lamreudeup mempunyai wilayah 500 Ha yang dikelilingi oleh perumahan penduduk, sawah, industri batu bata dan pegunungan. Areal persawahan umumnya ditanami padi, sedangkan untuk areal kebun masyarakat ditanami tanaman seperti pisang, kelapa, ubi kayu dan beberapa jenis sayuran buah seperti labu kuning. Desa ini memiliki beberapa sarana untuk masyarakat seperti meunasah, sekolah, lapangan olahraga dan balai desa. Jumlah penduduk Desa Miruek

Lamreudeup pada tahun 2011 sebanyak 2434 jiwa. Untuk lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Jumlah penduduk desa Miruek Lamreudeup tahun 2011 No. Nama Dusun Jumlah KK Jumlah Lk 1 Tgk Panglima Abu 88 169 2 Tgk Keulayu 81 143 3 Tgk le Pase 77 132 4 Kamai Guni 65 117 5 Komplek 366 692 Total 677 1253 Sumber : Data desa Miruek Lamreudeup (2011). Jumlah Pr 161 148 138 117 617 1181 Total 330 291 270 234 1309 2434

3.

Keadaan Perekonomian

Pada umumnya pendapatan masyarakat desa Miruek Lamreudeup bersumber dari hasil pertanian dan industri khususnya padi dan industri batu bata. Selain sebagai petani, masyarakat juga berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, guru, buruh lepas, supir, POLRI, swasta, tukang kue dan lain-lain. Masyarakat di desa Miruek Lamreudeup umumnya memiliki tingkat kehidupan sosial menengah ke bawah.

4.

Keadaan Agama, Pendidikan dan Sosial Budaya

Kehidupan masyarakat desa Miruek Lamreudeup sangat kental dengan sikap solidaritas sesama, dimana kegiatan-kegiatan yang berbaur sosial kemasyarakatan sangat berjalan dan dipelihara. Hal ini terjadi karena adanya ikatan emosional keagamaan yang sangat kuat antara sesama masyarakat. Atas landasan

inilah sehingga tumbuhnya motivasi masyarakat untuk saling melakukan interaksi sosial dengan baik. Dari segi agama, masyarakat di desa ini beragama Islam 100%. Sebagai sarana peribadatan di desa Miruek Lamreudeup terdapat meunasah yang terletak ditengah desa. Budaya masyarakat di desa Miruek Lamreudeup termasuk penduduk yang homogen, karena penduduk desa Miruek Lamreudeup sebagian besar adalah penduduk asli dan tidak sedikit juga penduduk pendatang. Namun hal tersebut tidak memecahkan budaya masyarakat setempat. Ditinjau dari segi pendidikan, masyarakat desa Miruek Lamreudeup bertaraf pendidikan menengah ke bawah. Hal ini disebabkan karena sebagian besar masyarakat hanya menamatkan pendidikannya di SMA, SMP dan SD. Namun tidak sedikit juga masyarakat yang lulus D3 dan S1.

B. Permasalahan Pertanian Dari hasil pengamatan terlihat bahwa setiap rumah penduduk memiliki pekarangan, namun pekarangan belum termanfaatkan seoptimal mungkin untuk ditanami tanaman untuk peningkatan pendapatan. Selain itu juga kurangnya pengetahuan keahlian masyarakat mengenai cara-cara pengolahan hasil pertanian yang ada di desa tersebut disebabkan karena kurangnya perhatian pemerintah dalam peningkatan SDM desa tersebut.

III. METODE KEGIATAN BAKTI PROFESI

A. Tempat dan Waktu Kegiatan Kegiatan Bakti Profesi ini dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 2011 di Desa Miruek Lamreudeup Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar. Adapun

program dan jadwal kegiatan yang dilakukan selama Bakti Profesi dapat dilihat pada Lampiran 2 dan 3.

B. Tujuan Kegiatan Masyarakat Sasaran Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang cara-cara pemanfaatan hasil pertanian yang dapat memberikan nilai tambah produk tersebut. Selain itu dapat pula menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam berinteraksi dengan masyarakat setempat. Masyarakat yang menjadi sasaran dalam pelaksanaan kegiatan Bakti Profesi ini adalah masyarakat Desa Miruek Lamreudeup, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar.

C. Metode Kegiatan Metode pelaksanaan kegiatan Bakti Profesi ini dilakukan dalam dua tahap dimana pada tahap pertama dilakukan survei lokasi yang bertujuan untuk mengetahui potensi dan situasi dari desa tersebut. Pada tahap kedua ditentukan bentuk pengabdian apa yang akan dilakukan kepada masyarakat. Pengabdian ini dilakukan secara langsung yaitu dengan demonstrasi didepan masyarakat sasaran dan disertai dengan penjelasan yang menyangkut kegiatan yang ditampilkan. Disamping itu juga dilakukan penyuluhan penyuluhan tentang informasi cara diversifikasi produk pertanian yang nantinya diharapkan mampu menjadi inspirasi masyarakat untuk lebih mengembangkan nalarnya dalam mencari alternatif baru dalam pemanfaatan hasil hasil pertanian menjadi suatu produk yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dalam rangka meningkatkan taraf hidup mereka.

10

D. Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan dan praktek langsung pembuatan produk mie basah berbasis labu kuning kepada masyarakat Desa Miruek Lamreudeup. Kegiatan ini meliputi : (1) persiapan, (2) penyuluhan dan (3) demonstrasi. Persiapan meliputi persiapan alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan produk. Penyuluhan meliputi manfaat dan pembuatan produk olahan labu kuning. Demonstrasi meliputi demonstrasi pembuatan mie basah sehat labu kuning. Hal hal yang dilakukan sebelum pelaksanaan demonstrasi produk olahan diatas adalah : 1. Persiapan alat dan bahan
a. Dalam kegiatan ini dibutuhkan peralatan seperti : mixer, ampia, kompor,

timbangan, panci, pisau, sendok pengaduk, saringan mie, baskom dan piring kecil.
b. Bahan bahan yang diperlukan seperti : tepung terigu, labu kuning,

garam, air, telur, minyak goreng dan baking powder. 2. Proses pembuatan Proses pembuatan mie basah sehat labu kuning dapat dilihat pada lampiran 4 dan 5. Parameter tingkat keberhasilan dari kegiatan bakti profesi ini akan dievaluasi dengan menggunakan dimensi dimensi sebagai berikut : 1. Keikutsertaan dan respon peserta selama kegiatan berlangsung.

11

2. Penguasaan teknik pembuatan produk mie sehat. 3. Masyarakat sasaran dapat membuat sendiri produk mie sehat. 4. Animo masyarakat untuk meneruskan kegiatan ini setelah kegiatan pengabdian masyarakat ini berakhir dapat dilihat dari keinginan mereka untuk membuat produk mie sehat.

IV. HASIL KEGIATAN

A. Hasil Kegiatan Kegiatan Bakti Profesi ini dilaksanakan di Desa Miruek Lamreudeup Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar. Bakti Profesi berlangsung kurang lebih selama 3 jam dimana mahasiswa dan dibantu oleh dosen pembimbing tim

12

Bakti Profesi bersama-sama menyampaikan informasi dan demo pembuatan produk kepada masyarakat bagaimana cara pembuatan mie basah sehat berbasis produk labu kuning. Masyarakat yang menghadiri kegiatan ini dominan ibu rumah tangga dan anak-anak. Kegiatan ini dimulai pukul 09.25 Wib, diawali pembukaan oleh ibu Zalniati Fonna Rozali selaku dosen pembimbing dari tim Bakti Profesi yang dilanjutkan pembagian selebaran, presentasi dan demo pembuatan produk oleh mahasiswa. Warga yang menghadiri kegiatan ini sangat antusias dalam mendengar, mengajukan pertanyaan dan menyimak informasi yang diberikan. Didesa ini sangat cocok untuk pembudidayaan labu kuning, karena ketinggian tempat ini sangat ideal yaitu antara 0 m 150 m diatas permukaan laut dimana penanaman tanaman ini tidak sulit, baik pembibitannya, perawataannya, dan hasilnya cukup memberikan nilai ekonomis untuk masyarakat. Tanaman ini dapat ditanam di lahan pertanian, halaman rumah atau pekarangan yang kosong. Tanaman ini dapat ditanam di daerah tropis maupun subtropis. Pada saat demonstrasi pembuatan produk, warga juga ikut serta dalam membantu dan mencoba membuat produk, sehingga interaksi antara masyarakat setempat dengan mahasiswa berlangsung terbuka. Diakhir penutupan acara, masyarakat berharap agar kegiatan ini bisa berlangsung setiap tahunnya agar mereka mendapatkan lebih banyak lagi tentang informasi pengolahan produk pertanian sehingga mereka mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada pada lingkungan desa tersebut.

13

Berikut ini rincian penjelasan proses pembuatan pasta labu kuning dan mie basah sehat labu kuning :
1. Pembuatan pasta labu kuning

Buah labu kuning atau waluh (Cucurbita moschata) merupakan salah satu sayuran yang mempunyai bentuk bulat sampai lonjong dan berwarna kuning kemerahan. Pada bagian tengah buah labu kuning terdapat biji yang diselimuti lendir dan serat. Berat buah labu kuning dapat mencapai sekitar 4 kg, bahkan untuk jenis Cucurbita moschata dapat mencapai berat hingga sekitar 20 kg. Buah labu kuning dipanen pada umur 34 bulan, sementara dari jenis hibrida dipanen pada umur 90 hari. Buah labu kuning memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan lengkap (Anonima, 2006). Labu kuning merupakan bahan yang sangat baik untuk diolah menjadi makanan karena kaya akan karbohidrat, vitamin A, asam askorbat, dan mineral (Ca, Fe, dan Na) namun kandungan lemak dan proteinnya cukup rendah. Labu kuning juga mengandung inulin dan serat pangan yang sangat dibutuhkan untuk pemeliharaan kesehatan. (Astawan, 2006). Komposisi zat gizi labu kuning per 100 gram bahan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Komposisi zat gizi labu kuning per 100 gram bahan Komponen Kalori (kal) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Besi (mg) Vitamin A (SI) Vitamin B1 (mg) Vitamin C (mg) Air (g) b.d.d (%) Jumlah 29 1,1 0,3 6,6 45 64 1,4 180 0,08 52 91,2 77

14

Pasta labu kuning adalah makanan setengah basah yang diperoleh dari labu kuning. Pasta labu kuning diperoleh dari pengolahan buah labu melalui beberapa tahapan proses. Pasta labu kuning dibuat dengan cara sebagai berikut : labu kuning terlebih dahulu disortasi, kulitnya dikupas, dikukus dan selanjutnya dilunakkan hingga menjadi bubur (Anonimb, 2010).

2. Proses pembuatan mie basah sehat labu kuning

Mie ialah makanan khas dari Cina. Rasanya yang hambar membuat bahan makanan ini dapat diolah dengan bumbu yang sesuai selera si pembuatnya. Biasanya dibuat dari adonan terigu, air, garam, dan minyak. Lebih sering dibuat dengan mencampur air khi atau kansui atau lebih dikenal dengan air abu. Harus dipertimbangkan dalam memilih terigu terutama adalah kadar protein dan kadar abunya. Kadar protein mempunyai kolerasi erat dengan jumlah gluten. Sedangkan kadar abu erat dengan kualitas mie yang dihasilkan (Andriani, 2008). Mie basah disebut juga mie kuning adalah jenis mie yang mengalami perebusan dengan kadar air mencapai 52% sehingga daya tahan atau keawetannya cukup singkat. Mie basah labu kuning adalah bahan pangan yang berbentuk pilinan memanjang berbahan baku terigu, labu kuning, telur, air, garam dan baking powder. Proses pembuatan mie basah labu kuning terdiri atas beberapa tahap. Tahap tahap tersebut antara lain penimbangan bahan, mixing, pengistirahatan adonan, pembentukan lembaran, pemotongan, perebusan dan pelumasan (Nurakmal, 2010). Penjelasan dari tiap tahap adalah sebagai berikut :

15

a.

Penimbangan bahan

Bahan bahan yang akan dibuat adonan mie ditimbang sesuai proporsi masing masing bahan dalam adonan.
b.

Mixing (Pencampuran)

Mixing adalah proses pencampuran antara tepung terigu dan bahan baku lainnya dalam mixer. Pencampuran dilakukan hingga homogen dalam waktu sekitar 5-10 menit. Proses ini bertujuan untuk membentuk adonan sehingga memudahkan proses pembuatan lembaran. c. Pengistirahatan adonan

Pengistirahatan adonan dilakukan selama 10-15 menit. Pengistirahatan adonan diperlukan untuk memberikan waktu terbentuknya struktur gluten. Selama proses pengistirahatan, adonan dijaga agar tidak mengalami perlakuan apapun. d. Pembentukan lembaran

Pembentukan lembaran dilakukan dengan melewatkan adonan pada roll pengepres. Pengepresan adonan dilakukan berulang dengan jarak antar roll yang dipersempit. Pengepresan dilakukan sekitar 4 kali sehingga dihasilkan lembaran yang homogen. Fungsi utama pembentukan lembaran adalah penyeragaman pengembangan gluten. e. Pemotongan

Pemotongan dilakukan setelah lembaran terbentuk dengan strukur homogen. Pemotongan menggunakan roll pemotong pada ampia. Pemotongan akan

16

menghasilkan untaian mie. Bentuk lurus dari mie dihasilkan oleh perlakuan kecepatan putaran roll. f. Perebusan

Proses perebusan dilakukan dengan menggunakan air panas bersuhu 100 1100C. Proses ini bertujuan untuk memasak mie mentah menjadi sifat mie yang solid. Dalam proses ini akan terjadi proses gelatinisasi pati dan koagulasi gluten yang menyebabkan gelombang mie bersifat solid atau tetap, selain itu gelatinisasi sempurna akan menghasilkan tekstur mie yang lembut, lunak dan elastis. g. Pelumasan

Proses ini dilakukan dengan melumasi mie yang telah direbus menggunakan minyak goreng. Proses ini bertujuan agar mie tidak lengket dan membuat penampakan mie lebih mengkilap. Mie yang disukai masyarakat Indonesia adalah mie dengan warna kuning, bentuk khas mie yaitu berupa pilinan panjang yang dapat mengembang sampai batas tertentu dan lenting serta kalau direbus tidak banyak padatan yang hilang. Semua ini termasuk sifat fisik mie yang sangat menentukan terhadap penerimaan konsumen (Setianingrum dan Marsono, 1999).

B. Faktor pendukung kegiatan

1. Inisiatif dan Motivasi Mahasiswa Keberhasilan program ini terutama sangat didukung oleh keinginan dari mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Pertanian Unsyiah untuk

17

mengabdi pada masyarakat. Selain itu faktor kedua yang mendukung program ini adalah adanya kerjasama yang baik antar mahasiswa THP dan masyarakat setempat. Kesamaan visi antara masyarakat dan mahasiswa ini mempermudah bagi pengembangan ide dan alternatif dalam pemecahan masalah yang dihadapi di desa tersebut.

2.

Partisipasi Masyarakat Secara umum tanggapan masyarakat terhadap kehadiran mahasiswa THP di desa Miruek Lamreudeup sangat positif. Hal ini terwujud dari partisipasi masyarakat dalam menyukseskan program kerja yang ditawarkan, baik dari segi keikutsertaan dalam kegiatan maupun ikut serta berdiskusi untuk memecahkan masalah-masalah di bidang pertanian terutama dalam bidang pengolahan hasil pertanian di desa tersebut.

3.

Kondisi dan Potensi Desa Keadaan alam di desa Miruek Lamreudeup sangatlah mendukung kegiatan Bakti Profesi yang mahasiswa lakukan. Sehingga dengan adanya potensi alam desa tersebut dapat meningkatkan partisipasi masyarakat untuk mengetahui pengolahan lanjutan dari bahan-bahan pertanian menjadi produk yang siap dikonsumsi.

4. Interaksi antara Masyarakat dan Mahasiswa Keramahan masyarakat desa Miruek Lamreudeup kepada mahasiswa

pelaksana Bakti Profesi ini memberikan dorongan kepada mahasiswa untuk lebih menyatu dengan masyarakat, sehingga suasana kekeluargaan terjalin pada saat

18

kegiatan berlangsung, terutama saat demo pembuatan produk mie sehat labu kuning, masyarakat pun turut serta membantu dalam pembuatan produk ini.

C. Faktor Penghambat Faktor faktor penghambat dalam pelaksanaan Kegiatan Bakti Profesi yaitu masa Bakti Profesi yang sangat singkat sehingga tidak dapat mengevaluasi daya serap masyarakat dalam pembuatan produk - produk yang ditawarkan oleh mahasiswa THP.

V. PENUTUP

A. Kesimpulan Dari hasil kegiatan Bakti Profesi di desa Miruek Lamreudeup, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Desa Miruek Lamreudeup mempunyai potensi alam yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan Bakti Profesi yang

dilaksanakan oleh mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian. Salah satunya labu kuning yang dapat diolah menjadi produk mie basah.
2. Kegiatan Bakti Profesi ini berupa pengolahan hasil pertanian menjadi

suatu produk diversifikasi yaitu produk mie basah sehat labu kuning.

19

3. Masyarakat desa memiliki antusias yang tinggi dalam mengikuti Bakti Profesi ini, terutama kaum ibu-ibu.
4. Masyarakat berharap agar kegiatan ini bisa berlangsung setiap tahunnya

agar mereka mendapatkan lebih banyak lagi tentang informasi pengolahan produk pertanian.

B. Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan antara lain : 1. Bagi kaum ibu-ibu diupayakan agar dapat meningkatkan keterampilan dalam mengolah hasil pertanian melalui program Bakti Profesi ini untuk meningkatkan penghasilan keluarga.
2. Bagi mahasiswa Bakti Profesi dalam melaksanakan kegiatannya diharapkan lebih

banyak lagi memberikan program-programnya baik dalam bidang pangan maupun non-pangan dan lebih mempersiapkan diri dalam pelaksanaan kegiatan sehingga program Bakti Profesi berjalan dengan sukses.

20

DAFTAR PUSTAKA

Andriani, F.W.B. 2008. Pengaruh Jumlah Bubur Labu Kuning dan Konsentrasi Kitosan Terhadap Mutu Mie Basah. Skripsi. Departemen Teknologi Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Anonima. 2006. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan. http://www.iptek.net.id [19 Desember 2011]. Anonimb. 2010. Alternatif Pemanfaatan Labu Kuning. http://bisnisukm.com/ [19 Desember 2011]. Astawan, M., 2006. Membuat Mie dan Bihun. Penebar Swadaya, Jakarta. Nurakmal. 2010. Pembuatan mie kering dengan subtitusi tepung labu tanah (Cucurbita Moschata). Skripsi. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Setianingrum, A.W. dan Marsono. 1999. Pengkayaan Vitamin A dan Vitamin E dalam Pembuatan Mie Instan Menggunakan Minyak Sawit Merah. Kumpulan Penelitian Terbaik Bogasari 1998 2001, Jakarta.

21

22

Lampiran 2 PROGRAM KEGIATAN BAKTI PROFESI LOKASI : Desa Lamreudeup, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar. PEMBIMBING : Dr. Ing. Sri Haryani, S.TP, M.Sc. No 1. Kegiatan Pembukaan Acara Waktu Tujuan

27 Desember Memperkenalkan diri sebagai 2011 mahasiswa THP dan memaparkan program kegiatan dan mempererat tali silaturahmi antara mahasiswa dengan masyarakat desa dan mengonsultasikan pengolahan produk pertanian yang akan didemontrasikan serta hal-hal lain yang perlu diketahui.

2.

Demonstrasi pembuatan 27 Desember Memperkenalkan cara pengolahan produk-produk pertanian 2011 dan memasyarakatkan produkproduk olahan pertanian yang

23

belum diketahui masyarakat secara umum dengan memanfaatkan potensi hasil pertanian yang ada di sekitar desa Miruek Lamreudeup. 3. Pengambilan kelengkapan 29 Desember Meminta data desa pada sekretaris data data desa Miruek 2011 desa dan mengucapkan terima Lamreudeup kasih atas kerjasamanya sehingga terlaksana kegiatan Bakti Profesi ini

Lampiran 3 JADWAL KEGIATAN MAHASISWA BAKTI PROFESI DI DESA MIRUEK LAMREUDEUP KECAMATAN BAITUSSALAM KABUPATEN ACEH BESAR

No Hari / Tanggal

1.

Pukul Kegiatan Pengurusan izin Bakti 10.00 Profesi di desa Miruek Lamreudeup Senin / 26 Desember Survei Lokasi, 2011 12.00 Persiapan alat dan bahan yang 08.15 08.40 08.50 09.25 Selasa / 27 Desember 09.30 2011 09.40 10.45 11.30 dibutuhkan Berangkat ke lokasi Tiba di lokasi Persiapan alat dan bahan Pembukaan Acara Presentasi Demontrasi Perpisahan dan foto bersama dengan masyarakat desa Meninggalkan Desa

2.

24

Kamis / 29 Desember 3. 2011

10.30

Mengambil kelengkapan data-data desa

Lampiran 4. Proses Pembuatan Pasta Labu Kuning Labu Kuning

Sortasi Pengupasan dan pemotongan

kulit

Pencucian

Pengukusan pada suhu 100oC selama 30 menit Pelumatan

Pasta labu kuning

25

Lampiran 5. Diagram Alir Pembuatan Mie Basah Labu Kuning

Tepung terigu 350 gr, pasta labu kuning 150 gr, telur 1 butir, garam 3 gr, baking powder 2 gr

Air

Pengadukan pada mixer 5 10 menit

Adonan mie

Pengistirahatan adonan mie 15 20 menit

Pembentukan lembaran 4 kali sampai ketebalan 1 mm

Pemotongan menjadi untaian mie menggunakan ampia Perebusan 5 menit pada suhu 1000 C

Pelumasan mie menggunakan minyak goreng

26

Mie Basah

Lampiran 6. Struktur organisasi Desa Miruek Lamreudeup Geuchik Sekdes Bendahara Imuem Meunasah Ketua Pemuda Ketua Pemerintahan Ketua Keuangan Ketuan Pembangunan Ketua Kesra Kepala Dusun Tgk Panglima Abu Kepala Dusun Tgk Keulayu Kepala Dusun Tgk ie pase Kepala Dusun Tgk Khamai Guni Tuha Peut Ketua Wakil Tgk. Nasri Musa Ridhwan SE. Ak Murdani Yakop Muhajir Iskandar Syani Tgk. M. Dahlan Sayuti Usman Zulfadly Sayuti Usman Zulkifli Juned Ibnu Abas Amiruddin Husen Jailani Ismail Bakhtiar Ahmad

27

Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Sekretaris

Fahruddin Amiruddin Usman M. Nasir M. Juned Ali Zainudin S.Ag Mursal