Anda di halaman 1dari 16

ALAT PENDIDIKAN

Yang termasuk alat pendidik/faktor pendidik itu termasuk segala sesuatu yang membantu terlaksananya pendidikan. Syarat-syarat memilih alat pendidikan: a. Tujuan apakah yang hendak dicapai dengan alat itu b. Siapa (pendidik) yang memakai alat itu c. Anak (si terdidik) yang mana yangakan dikenai alat itu d. Bagaimana menggunakan alat itu

Alat-alat Pendidikan
1.
2. 3. 4. 5. 6.

Pembiasaan Pengawasan Perintah Larangan Ganjaran Hukuman

1. Pembiasaan
Pembiasaan adalah suatu alat didik yang penting sekali, terutama pada seseorang yang baru pertama kali mengenal lingkungannya. Pembiasaan yang baik penting artinya bagi pembentukan watak dan akan berpengaruh pada seseorang sampai hari tuanya kelak. Menanamkan kebiasaan baru adalah sukar dan terkadang memakan waktu yang lama. Tetapi segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan juga sukar untuk megubahnya. Jadi, lebih baik kita menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik daripada terlanjur mempunyai kebiasaan yang

2. Pengawasan
Pembiasaan yang baik memerlukan pengawasan. Demikian pula dengan aturan dan larangan dapat berjalan dan ditaati dengan baik jika disertai dengan pengawasan yang terus menerus. Pegawasan sangat penting sekali dalam pendidikan, tanpa penawasan seseorang dapat berperilaku seenaknya karena mereka tidak dapat membedakan baik dan buruk. Tujuan mendidik adalah agar seseorang dapat bertanggung jawab atas perbuatannya.

3. Perintah
Perintah adalah apa yang harus dikerjakan oleh orang lain termasuk peraturan paraturan umum yang harus ditaati. Tiap-tiap perintah dan peraturan mengandung norma-norma kesusilaan. Perintah dapat mudah ditaati oleh yang terdidik apabila pendidik mengikuti peraturan tersebut. Dengan kata lain berhasil tidaknya perintah, larangan, nasihat, dan hukunman tergantung kepada contoh-contoh teladan yang diberikan oleh pendidik

4. Larangan
Larangan biasanya dikeluarkan jika seseorang melakukan perbuatan yang tidak baik, merugikan maupun membahayakan dirinya dan orang lain. Orang tua yang sering kali melarang perbuatan anaknya dapat memunculkan berbagai sikap yang kurang baik, seperti: keras kepala (melawan), pemalu dan penakut, perasaan kurang percaya diri, kurang bertanggung jawab, pemurung/pesimis. Maka dari itu, janganlah pendidik terlalu melarang perbuatan anak.

5. Ganjaran
Ganjaran ialah alat untuk mendidik seseorang supaya dapat merasa senang karena mendapat penghargaan atas perbuatannya, sehingga anak dapat menjadi lebih giat lagi untuk memperbaiki usahanya. Ganjaran tidak boleh menjadi sifat sebagai upah yaitusebagai data pembayaran suatu tenaga, pikiran, atau pekerjaan yang telah diakukan seseorang. Jia ganjaran itu sudah berubah menjadi upah, maka ganjaran itu tidak bernilai mendidik lagi. Seseorang hanya mau bekerja dengan giat dengan mengharap upah dan jika tidak memperoleh upah, merea akan bekerja seenaknya.

6. Hukuman
Hukuman ialah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seorang sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau sebaliknya.sebagai alat pendidik hukuman hendaknya merupakan jawaban atas suatu pelanggaran, dan selalu bersifat ke arah perebaikan.

Teori hukuman
Teori pembalasan : hukuman diadakan sebagai pembalasa dendam terhadap kelalaian dan pelanggaran yang telah dilakukan seseorang 2) Teori perbaikan : hukuman diadakan untuk membasmi kejahatan. Jadi, hukuman dimaksudkan unuk memperbaiki si pelanggar agar tidak mengulangi kesalahannya. 3) Teori perlindungan : hukuman diadakan untuk melindungi masyarakat dari perbuatanperbuatan yang tidak wajar.
1)

Teori ganti kerugian : hukuman diadakan untuk mengganti kerugian-kerugian (boete) yang telah diderita akibat dari kejahatankejahatan atau pelanggaran. 5) Teori menakut-nakuti : hukuman diadakan untuk menimbulkan perasaa takut kepada si pelanggar akibat perbuatan-perbuatannya.
4)

Dengan kata lain, tujuan dari hukuman adalah untuk memperbaiki tabiat dan tingkah laku anak didik untuk mendidiknya ke arah kebaikan.

Akibat hukuman

Menimbulkan perasaan dendam pada si terhukum Menjadikan anak didik menjadi lebih pandai dalam menyembunyikan pelanggaran Memperbaiki tingkah laku si pelanggar Mengakibatkan si pelanggar menjadi kehilangan perasaan bersalah, karena merasa kesalahannya telah dibayar dengan hukuman yang telah dideritanya Memperkuat kemauan si pelanggar untuk menjalankan kebaikan

Macam-macam hukuman
Ada pendapat yang membedakan hukuman menjadi 2, yaitu: 1) Hukuman preventif: yaitu hukuman yang dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran 2) Hukuman represif: yaitu hukuman yang dilakukan karena adanya pelanggaran Hukuman juga dapat dibedakan menjadi: 1) Hukum alam Menurut JJ Rosseau anak-anak ketika dilahirkan adalah dalam keadaan suci, bersih dari segala noda dan kejahatan, maka anak harus dididik menurut alamnya 2) Hukuman yang disengaja hukuman ini dilakukan dengan sengaja dan

Wiliam Stern membedakan hukuman menjadi 3, yaitu: a. Hukum asosiatif Umumnya orang mengasosiasikan antara hukuman dan kejahatan, antara penderitaan yang diakibatkan oleh hukuman dengan perbuatan pelanggaran yang dilakukan. Untuk menyingkikan hukum itu orang akan berusaha menjauhi perbuatan yang dilarang itu. b. Hukuman logis Hukuman ini adalah akibat yang logis dari perbuatan yang telah ia lakukan. c. Hukuman normatif Hukuman normatif adalah hukuman yang bermaksud memperbaiki moral. Hukuman ini

Syarat-syarat hukuman yang pedagogis


Hukuman harus ada hubungannya dengan kesalahan ii. Hukuman harus disesuaikan dengan kepribadian anak iii. Hukuman harus diberikan dengan adik iv. Pendidik harus sanggup memberi maaf setelah memberikan hukuman
i.

Menurut Th Sajid dkk, alat pendidik dibagi menjadi 2:


1. 2.

Alat pendidik pendahuluan: keteraturan, kebersihan dan ketenangan Alat pendidik yang sebenarnya: a. memberi perlindungan: Melarang Pembiasaan Ketentuan yang teta anjuran b. mengerti perbuatan orang tua: memberi contoh, memberi tahu, petunjuk, aturan

c. Asimilasi/penyatuan diri Dasar: pendidik memberi contoh, yang terdidik menirukannya d. Hidup bersama, untukmempertemukan pendapat, perasaan, pikiran, dan sikap e. Pembentukan kemauan: agar yang tedidik mampu berbuat dengan pikiran bebas dan bertnggung jawab, bukan karena paksaan