Anda di halaman 1dari 9

PENYAKIT HIPERTENSI

Jangan Anggap Enteng Tekanan Darah Tinggi


Sabtu, 30 Juni 2007

Penyakit hipertensi, mungkin belum banyak diketahui banyak kalangan sebagai penyakit berbahaya. Masyarakat awam lebih paham jika disebut penyakit darah tinggi. Sayangnya belum banyak pula yang paham, hipertensi diam-diam tergolong penyakit pembunuh diam-diam. Sifatnya yang demikian akibat penyakit tersebut sebenarnya karena secara medis, penderita hipertensi merasa sehat dan tanpa keluhan berarti. Darah tinggi hampir tanpa keluhan bagi si penderitanya. Karena itu penderitanya cenderung menganggap enteng penyakit hipertensi. Mengacu kepada buku Ringkasan Eksekutif Konsensus Penanggulangan Hipertensi yang diterbitkan pada 2007 oleh Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi) penyakit hipertensi kerap ditemukan tanpa sengaja. Penyakit tersebut ditemukan ketika dilakukan pemeriksaan rutin atau saat pasien datang dengan keluhan lain. Itulah sebabnya hipertensi dijuluki pembunuh diam-diam atau silent killer. Seseorang baru merasakan dampak gawatnya hipertensi ketika telah terjadi komplikasi. Jadi baru disadari ketika telah menyebabkan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung, koroner, fungsi ginjal, gangguan fungsi kognitif atau stroke .Hipertensi pada dasarnya mengurangi harapan hidup para penderitanya. Penyakit ini menjadi muara beragam penyakit degeneratif yang bisa mengakibatkan kematian. Dalam hal ini dapat kita sebut terjadinya komplikasi kardiovaskular akut. Komplikasi semacam itu yang terjadi pada penyakit jantung koroner (PJK), gagal ginjal dan juga penyakit stroke. Hipertensi selain mengakibatkan angka kematian yang tinggi (high case fatality rate) juga berdampak kepada mahalnya pengobatan dan perawatan yang harus ditanggung para penderita. Perlu pula diingat hipertensi berdampak pula bagi penurunan kualitas hidup. Gaya Hidup Sebagian besar penyakit degeneratif yang dialami masyarakat modern memang bersumber dari penyempitan pembuluh darah. Itu terjadi karena penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah bersumber dari makanan berlemak dan berkalori tinggi. Konsumsi jenis makanan mengandung banyak lemak lazim sebagai gaya hidup masyarakat modern. Pada gilirannya hal tersebut bisa berakibat terjadinya infark. Dampaknya adalah penyumbatan pembuluh darah yang menyebabkan kerusaakan jaringan pembuluh darah. Di banyak negara, mayoritas penyebab penyempitan pembuluh darah adalah perubahan gaya hidup masyarakat dan pola makan. Akitivitas merokok, obesitas (kelebihan berat badan di atas normal) serta kurang melakukan aktivitas fisik merupakan bagian dari perubahan gaya hidup tersebut. Kesadaran bahwa hipertensi juga merupakan bagian dari masalah kesehatan masyarakat mestinya datang dari otoritas kesehatan. Pasalnya masih ada penilaian remeh terhadap bahaya penyakit tersebut. Tanpa adanya kesadaran semacam itu, dikhawatirkan akan menjadi masalah yang lebih besar tanpa upaya penanggulangan secara dini. Indonesia sebenarnya tidak sendirian dalam menyikapi perkembangan penyakit hipertensi. Negara yang maju teknologi kedokterannya pun, penanggulangan atas hipertensi belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Itulah sebabnya penanggulangan penyakit hipertensi baru mampu menurunkan prevalensi hingga 8 persen saja. Persoalan seperti minimnya ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan serta

tenaga kesehatan berpengaruh terhadap upaya menanggulangi penyakit hipertensi. Kemajuan teknologi kedokteran dan juga industri farmasi diakui memang mengalam kemajuan. Karena itu kemudian muncul obat-obatan lini depan dengan afikasi yang hebat. Obat lini depan itu tentu menjadi harapan bagi para penderita hipertensi. Tetapi pada kenyataannya tak semua penderita hipertensi bisa berharap banyak mengingat obat lini depan itu tergolong relatif mahal. Penderita hipertensi yang kurang mampu tentu bisa berharap banyak. Obat itu menjadi tak terjangkau apalagi untuk pengobatan jangka panjang. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 8,3 persen. Sedangkan menurut data Indonesian Society of Hypertention (InaSH), secara umum prevalensi hipertensi pada orang dewasa antara 15 persen dan 20 persen pada dewasa umur lebih dari 50 tahun. Sementara menurut survei WHO pada pria prevalensi itu mencapai 16,5 persen (1993) dan 12,2 persen pada wanita (1993). Kesepakatan Pengobatan hipertensi sendiri melibatkan banyak dokter spesialis serta organisasi para dokter yang memayunginya. Di dalamnya terlibat Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) serta Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (Perki). Organisasi beberapa dokter spesialis yang terlibat dalam penangangan hipertensi tersebut awal tahun ini sepakat membentuk Indonesian Society of Hypertension atau Perhimpunan Masyarakat Indonesia untuk Hiptertensi. Perhimpunan bertujuan mencegah komplikasi akibat hipertensi secara holistik. Itulah sebabnya InaSH melibatkan organisasi profesi dokter spesialis yang terkait dengan komplikasi hipertensi. Keterlibatan secara integral tersebut diharapkan melahirkan sebuah konsensus penangangan hipertensi. Konsensus tersebut dinilai perlu karena selama ini penanganan hipertensi dilakukan berbeda-beda sesuai dengan spesialisasi masing-masing. Bukan hanya itu InaSH yang dalam bahasa Indonesia menjadi Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi) juga sepakat membuat konsensus program penanggulangan hipertensi di Indonesia. Program pencegahan itu mencakup preventif primodial primer dan preventif sekunder. Langkah Perhi tampaknya memang benar-benar harus dilakukan. Sasaran konsensus itu sendiri adalah para dokter umum yang menangani pengobatan dan pencegahan hipertensi berdasarkan pedoman yang berbeda-beda. Dalam praktiknya dokter umum itu bisa mengacu kepada pedoman Eropa atau Amerika Serikat untuk menangani hipertensi. Konsensus InaSH itu sendiri dievaluasi secara berkala dalam sebuah pertemuan ilmiah nasional. Sudah pasti evaluasi secara berkala itu sendiri dilakukan lewat sebuah kesepakatan antar multidisiplin bidang ilmu kedokteran yang terkait dalam InaSH atau Perhi. Sasaran evaluasi berkalai itu adalah dokter umum yang merupakan ujung tombak pelayanan primer. InaSH sendiri menerbitkan konsensus itu bagi profesional kesehatan yang melayani umum karena itu bersifat mendasar dan umum. Pertimbangan InaSH yang lain adalah karena riset bidang hipertensi di Indonesia juga belum banyak dilakukan. Pada pelaksanaannya, InaSH menunjuk tim penyusun konsensus yang terdiri dari tiga orang. Jumlah itu masih ditambah tim pakar yang jumlahnya tiga orang pula. Tim tersebut yang bertugas mencari dan mengumpulkan data yang relevan. Proses selanjutnya tim pakar yang akan melakukan penyaringan atas data yang dianggap sudah relevan tersebut. Atas dasar konsensus tersebut disebutkan risiko kardiovaskular meningkat bila tekanan darah di atas 110/75 mmHg. Meski begitu konsensus itu tak

menetapkan angka pasti yang dapat menggambarkan bertambahnya risiko. Namun secara umum upaya penurunan tekanan darah akan memberikan manfaat lebih besar. Sedangkan langkah diagnosis hipertensi dilakukan bila tekanan darah lebih dari atau sama dengan 140/90 mmHg. Adapun penanggulangan hipertensi dengan obat dilakukan setelah upaya mengubah pola hidup tekanan darah belum mencapai target atau tekanan darah sudah dianggap normal. Usia Lanjut Persoalan yang juga tak luput dari konsensus InaSH adalah penanggulangan hipertensi pada penderita berusia lanjut. Hipertensi pada orang berusia lanjut menjadi perhatian mengingat prevalensi tergolong tinggi mencapai 60-80 persen. Data InaSH menyebut 60 persen hipertensi pada usia lanjut adalah hipertensi sistolik terisolasi dimana terjadi kenaikan tekanan darah sistolik disertai penurunan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik adalah pada saat jantung mengalami kontraksi. Sedangkan diastolik ketika jantung tengah berelaksasi. Tekanan darah sistolik ditunjukkan oleh angka yang lebih tinggi. Sebaliknya diastolik pada angka yang lebih rendah. Penanggulangan hipertensi pada usia lanjut bisa mencegah mortalitas kardiovaskular. Penanggulangan hipertensi pada usia lanjut dinilai oleh Perhi telah terbukti dapat mengurangi kejadian komplikasi kardiovaskular. Rekomendasi Perhi untuk memulai pengobatan hipertensi usia lanjut adalah bila tekanan darah sistolik lebih dari atau sama dengan 160 mmHg bila kondisi dan harapan hidup dianggap baik. Sedangkan usia lanjut disertai diabetes melitus (DM) atau merokok disertai faktor risiko lainnya pengobatan dilakukan saat tekanan darah sistolik-nya mencapai lebih dari atau sama dengan 140 mmHg.

About

Badan Layanan Umum, Solusi dari Reformasi Keuangan Negara


Posted on Mei 20, 2010. Filed under: Uncategorized | Di sebuah kampus milik pemerintah di jakarta, ruang kuliahnya bocor. Air hujan tampak menetes dari plafon. Otomatis suasana belajar mengajar tertanggu. Itupun belum lagi fasilitas lain yang masih buruk seperti toilet yang hampir tak terawat dan tiadanya fasilitas jaringan wifi di setiap gedung. Mahasiswa sudah menyampaikan keluhan tersebut kepada manajemen kampus. Pertanyaan yang selama ini mengganjal adalan kenapa seakan manajemen kampus diam saja. Jawaban yang sering muncul adalah, karena belum tersedia dana (cash on hand) dan menunggu proses pengadaan yang memakan waktu lama. di tempat lain, di sebuah rumah sakit milik pemerintah. Komite medis sedang bersitegang dengan manajemen rumah sakit. Katakanlah ini sebagai perang dingin antara struktural dan profesional. Pimpinan rumah sakit pusing tidak kepalang melihat dokter-dokternya sering absen. Masuk cuma 2-3 hari seminggu. Saat absen mereka entah kemana. Dengan keahlian profesionalnya bukan tidak mungkin mereka ngobyek di luar. Kasihan para pasien yang notabene berasal dari kalangan menengah ke bawah. Alasan klasik yang sering terlontar dari

dokter-dokter itu adalah bahwa mereka tidak mendapatkan haknya. Hak yang mereka maksud adalah penghasilan yang sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawab mereka sebagai seorang dokter. Mereka menuntut remunerasi. Oleh karena itu, sejak awal proses reformasi keuangan negara yang dicanangkan Kementerian Keuangan, pengelolaan keuangan instansi pemerintah yang mengasilkan semi barang/jasa (quasi public goods) dipikirkan ke arah format yang tepat agar pengelolaan keuangannya efisien dan efektif. Kemudian dicetuskanlah pengelolaan keuangan badan layanan umum (PKBLU). Sedangkan pelayanan publik yang murni (pure public goods) seperti halnya pelayanan Polri dan TNI tidak seharusnya dapat menerapkan sistem pengelolaan keuangan ini. Badan Layanan Umum, yang selanjutnya disebut BLU, adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. (Pasal 1 UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara Lalu apa perbedaan mendasar pengelolaan keuangan badan layanan umum dengan pengelolaan keuangan satuan kerja (satker biasa). Sebelum lebih jauh menjelaskan tentang BLU. Saya ingin menjelaskan dahulu apa itu satker. Sederhananya, satker adalah suatu unit pemerintah yang dapat merencanakan, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan anggaran sendiri. Dengan kata lain, satker adalah instansi pemerintah yang memiliki dokumen anggaran sendiri. Jika di daerah, satker disebut sebagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Biasanya dinas lah yang menjadi SKPD. Misalnya, sebuah sekolah negeri pemerintah daerah x, maka jatah anggaran sekolah itu terdapat pada dinas pendidikan pemerintah daerah setempat. Berbeda dengan rumah sakit daerah yang dapat mengelola anggarannya sendiri. perbedaan mendasar dari pengelolaan keuangan badan layanan umum, dengan satker biasa adalah fleksibilitas dalam menggunakan kas yang berasal dari kegiatan operasionalnya/pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Selain itu kelebihan lainnya adalah dapat melakukan pengadaan tanpa menggunakan keppres 80/2003 beserta segala perubahannya tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah. Sehingga hal ini mempercepat pelayanan publik yang dilakukan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 23 tahun 2005 pasal 20, tentang pengelolaan keuangan BLU, pengadaan barang/ jasa oleh BLU dilakukan berdasarkan prinsip efisiensi dan ekonomis, sesuai dengan praktek bisnis yang sehat dimana kewenangan atas pengadaan tersebut diselenggarakan berdasarkan jenjang nilai yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan/gubernur/bupati/w alikota. Jadi, pengadaan barang/jasa BLU yang sumber dananya berasal dari pendapatan operasional, hibah tidak terikat, hasil kerjasama lainnya dapat dilaksanakan berdasarkan ketentuan pengadaan barang/jasa yang ditetapkan pimpinan BLU, Arti fleksibilitas dalam mengelola kas adalah bolehnya melanggar asas universalitas dalam pengelolaan keuangan negara. Asas ini termaktup pada UU No.17 tahun 2003 tentang keuangan negara. Asas universalitas berarti segala pengeluran dan penerimaan negara wajib melalui kas negara. Ketika satuan kerja badan layanan umum mendapat pendapatan dari PNBP, ia dapat menggunakan langsung untuk membiayai operasional kegiatannya tanpa harus menyetorkan dahulu ke kas negara. Meski demikian, setiap triwulan, satker PK BLU wajib

mengajukan Surat Perintah Membayar Pengesahan (SPM Pengesahan ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) untuk instansi pemerintah pusat. Sedangkan untuk instansi pemerintah daerah, SPM Pengesahan diajukan kepada kantor bayar daerah masing-masing. Memang pada dasarnya, segala proses pengadaan barang dan jasa pemerintah harus mematuhi Keppres 80 tahun 2003 dan segala perubahannya. Tujuan peraturan ini untuk memberikan keadilan bagi dunia usaha dalam menyediakan barang/jasa yang dibutuhkan pemerintah. Dengan kata lain, Keppres ini bertujuan untuk menciptakan iklim persaingan yang sehat diantara pelaku sektor produksi. Jika tidak ada peraturan ini maka dikhawatirkan timbul berbagai kecurangan dalam membelanjakan uang negara. Inilah letak kebocoran APBN selama ini. Meski demikian untuk satker PK BLU ada dispensasi untuk tidak menggunakannya. Hal ini penting. Sebagai contoh, ketika sebuah rumah sakit kekurangan stok obat dan peralatan sedangkan banyak pasien banyak yang kritis, maka sangat ironis mereka tak tertolong akibat pengadaan obat dan peralatan medis harus menunggu proses pengadaan. satu hal yang menarik dan yang paling membuat pegawai calon satker BLU dalam mempersiapkan segala hal agar satkernya diangkat menjadi BLU adalah remunerasi. Setiap BLU da pat memberikan remunerasi kepada pegawainya sesuai dengan kemampuan keuangan yang dimiliki. Sehingga nantinya kasus perang urat syaraf antara komite medik dan manajemen rumah sakit seperti cerita di atas tidak terjadi lagi. Selain itu, keistimewaan BLU yang lain adalah kewenangannya mengangkat pegawai non pegawai negeri. Demikian sekilas uraian mengenai BLU. Semoga dapat menjadi kebaikan bagi kita semua. Reformasi keuangan negara adalah salah satu landasan dari reformasi birokrasi. Keuangan negara adalah sektor vital yang ada pada pemerintah. Tidak ada negara yang tidak mengatur khusus keuangan negaranya. Tidak ada negara yang tidak memiliki menteri keuangan. Siko Dian Sigit Wiyanto Pengamat Keuangan Negara dan Reformasi Birokrasi http://shiningphoenix.wordpress.com/

Tuesday, April 19, 2011


PELAKSANAAN INA-DRG/INA-CPG DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MASIH BERKENDALA
Penerapan INA-DRG yang kemudian digantikan oleh INA-CPG di Rumah sakit Umum di Daerah dilaksanakan dalam rangkaian pelaksanaan Program Jamkesmas untuk pasien tidak mampu. Adapun pelaksanaannya masih banyak menghadapi kendala, di antaranya adalah sebagai berikut : 1. SUMBER DAYA MANUSIA

Penerapan INA-DRG/INA-CPG dilaksanakan oleh pengelola di rumah sakit dengan pelaksananya 1 (satu) orang petugas di Catatan Medik, 2(dua) orang petugas di pelayanan dan 3(orang) petugas keuangan. Sehingga untuk

pelaksanaannya di RS relatif tidak ada hambatan. Hambatan muncul pada verifikator, dimana jumlah verifikator yang hanya dua orang dirasa kurang mencukupi untuk menyelesaikan tugasnya melakukan verifikasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan oleh RS. Hal ini menyebabkan lamanya penyelesaian administrasi untuk klaim biaya oleh RS ke bendahara Jamkesmas. Menurut pihak RS, idealnya jumlah verifikator minimal tiga orang. Ini terlihat dari administrasi yang sudah diselesaikan oleh RS untuk mendapatkan verifikasi dan bisa diklaimkan baru sampai bulan Oktober 2010, padahal pihak RS sudah menyelesaikan sampai bulan Maret 2011. 2. SARANA PRASARANA Untuk sarana prasarana cukup memadai. Software yang dibuat oleh Pusat relatif mudah dan bisa dikerjakan oleh pihak RS. Dibandingkan IRNA-DRG, untuk IRNA-CPG lebih banyak jenis penyakit yang masuk, yang sebelumnya tidak ada di IRNA-DRG. Codding juga cukup mudah ditemukan dan diterapkan. 3. KLAIM PEMBIAYAAN Klaim pembiayaan dari Bendahara jamkesmas juga relatif lancar dan tidak ada kendala. Uang yang ada di bendahara Jamkesmas diklaimkan oleh pihak RS, kemudian masuk sebagai pendapatan RS. Rata-rata tiap bulan mencapai Rp 650.000.000,- (enamratuslimapuluh juta rupiah) Untuk besaran penggantian biaya perawatan, bila dijumlah total

keseluruhan, pihak RS tidak mengalami kerugian. Beberapa kasus ada yang di

atas tarif RS, beberapa ada yang di bawah RS. Kasus yang besarannya di bawah tarif RS, biasanya yang berhubungan dengan perawatan di ruang rawat inap. Permasalahan yang muncul dalam penggantian biaya operasional RS, berkisar pada paket yang di bawah tarif RS, diantaranya : a. Kasus penyakit tetanus dewasa yang beberapa kali terjadi di berbagi RS di Banjarnegara. Plafon paket untuk perawatan kasus tetanus adalah Rp 1.300.000,00 (satu juta tiga ratus ribu rupiah), termasuk untuk perawatan rawat inap. Ini tidak mencukupi, karena untuk Anti Tetanus Serum (ATS) saja mencapai Rp 1.200.000,00 (satu juta dua ratus ribu rupiah). Belum termasuk obat-obat lain. Ditambah biaya perawatan, jauh dari cukup karena biaya total yang dibutuhkan mencapai lima juta rupiah lebih. b. Semua kasus persalinan dengan seksio sesaria. Paket yang disediakan plafonnya Rp 1.600.000,00 (satu juta enam ratus ribu rupiah), sementara tarif RS mencapai Rp 2.300.000,00 (dua juta tiga ratus ribu rupiah). Dalam paket ini sudah termasuk tranfusi darah dan pengadaan darah bila membutuhkan. Tarif RS belum termasuk tranfusi darah. Karena kasus rujukan yang harus diakhiri dengan seksio cukup banyak, maka pihak RS tombok cukup banyak. c. Paket apendiktomi tanpa komplikasi. Plafon paket yang disediakan adalah Rp 1.700.000,00 (satu juta tujuh ratus ribu rupiah) termasuk perawatan di bangsal. Tarif RS mencapai Rp 2.500.000,00 dan belum termasuk rawat inap. d. Perawatan luka bakar dengan paket di Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) tidak mencukupi untuk perawatan luka bakar dengan luas lebih dari 30%. Karena obat dan lama perawatan. Agar bisa disesuaikan dengan paket terbagi. e. Kasus Diabetes mellitus (IDDM) di mana pasien sudah bergantung pada insulin yang diberikan secara injeksi. Pasien berobat jalan kontrol sebulan sekali dan

sekali kontrol mendapatkan R/ untuk insulin injeksinya mencapai tiga flakon yang tiap flakon harganya Rp 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah). Sehingga sekali kontrol untuk insulin saja dibutuhkan Rp 450.000,00 (empat ratus lima puluh ribu rupiah), belum obat lainnya. Padahal paket yang disediakan untuk sekali kontrol hanya Rp 125.000,00 (seratus dua puluh lima ribu rupiah). Ada kekurangan yang cukup besar yang harus ditambah oleh RS. f. Pengadaan darah untuk tranfusi. Pada INA-CPG, darah untuk tranfusi sudah termasuk di dalam paket biaya tindakan (operasi, seksio sesaria) dan tidak dipisahkan untuk diklaimkan tersendiri seperti sebelumnya. Ini menyulitkan, terutama pada kasus seksio sesaria yang hampir selalu membutuhkan darah. Paket yang disediakan di bawah tarif RS, sehingga darah tidak mendapatkan penggantian biaya. Ini menyebabkan tagihan PMI terhadap RS untuk darah menjadi besar. Tiap bulannya mencapai rata-rata antara Rp 40.000.000,00 Rp 50.000.000,00 (empat puluh hingga lima puluh juta rupiah). Untuk ini pihak RS mengharapkan agar pengadaan darah untuk tranfusi dapat diklaimkan terpisah. Jangan dijadikan satu paket, karena tidak semua tindakan membutuhkan tranfusi darah. g. Untuk mengatasi kekurangan ini pihak RS melakukan subsidi silang, sehingga semua biaya operasional bisa tertutup. h. Secara keseluruhan pihak RS masih mendapatkan sisa pembayaran dari jamkesmas untuk operasional. Untuk menutup operasional ini, agar bebepata paket dapat dipertimbangkan untuk dinaikkan plafonnya. 4. TIM CLINICAL PATHWAY RS Sampai saat ini RS tidak memiliki Tim Clinical Pathway (CP) yang menyusun CP milik rumah sakit sendiri. Tarif RS masih belum berdasarkan CP yang disusun

RS. Tarif masih disusun mengikuti tarif sebelumnya dan penyesuaian dengan menggunakan persentase dari tarif sebelumnya. Pihak manajemen RS menghendaki tidak perlu ada Tim CP tersendiri dan penyusunan CP sudah termasuk tuposi dari Komite Medik (Komed). Tapi sampai sekarang, Komed yang diketuai oleh dokter spesialis penyakit dalam ini tidak berfungsi untuk menyusun CP. Masih ada keengganan di antara anggota Komed untuk menyusun CP. Tapi Komed telah menyusun Protap pelayanan sesuai yang distandarkan dalam akreditasi RS. Tapi baru sebatas pada pelayanan klinik saja. Pihak RS mengharapkan ada aturan yang jelas dari pusat mengenai Komed ini dan termasuk dalam penyusunan CP.

http://langkahkecil-junita.blogspot.com/2011/04/pelaksanaan-ina-drgina-cpg-di-rumah.html