Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KANKER TIROID

MAKALAH Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Program Studi Ilmu Keperawatan

Oleh : ALVIAN PRISTY WINDIRAMADHAN R 10.01.003

YAYASAN INDRA HUSADA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) INDRAMAYU 2011

BAB I PENDAHULUAN

Kelenjar tiroid terletak di dalam leher bagian bawah, di sebelah kanankiri anterior trakea, melekat pada tulang laring dan pada dinding laring. Kelenjar ini terdiri dari 2 lobus yaitu lobus dextra dan sinistra yang saling berhubungan oleh istmus. Masing-masing lobus tebalnya 2 cm, panjangnya 4 cm dan lebarnya 2,5 cm. Struktur dari kelenjar tiroid terdiri dari banyak folikel-folikel tertutup (100-300 mikrometer) yang dibatasi sel epitel kuboid. Saraf vasomotor pada kelenjar tiroid sebagian besar tidak bermielin dan terdapat pada dinding arteri tiroid, sedangkan saraf simpatis berakhir pada lamina basal folikel yang merangsang langsung pada sel folikel. Sel folikel mengeluarkan cairan lekat yaitu koloida tiroid (materi proteinaseosa berwarna merah muda) mengandung yodium yang dinamakan hormon tiroxin (T4) dan triiodotironin (T3). T4 dan T3 meningkatkan

kecepatan metabolisme basal tubuh (BMR) dengan mempercepat reaksi kimia tubuh, mengatur penggunaan oksidasi dan udara pernapasan. Sekresinya dipengaruhi hormon dari lobus anterior kelenjar hipofisis yaitu tirotropik/TSH. T3 disekresikan oleh kelenjar tiroid hanya 7 % sehingga jumlahnya di dalam darah jauh lebih sedikit dan lebih sebentar daripada T4 namun T3 empat kali lebih kuat intensitas dan kecepatan kerjanya. T4 juga nantinya akan diubah menjadi T3 di dalam jaringan, diantaranya karena faktor stress, intake makanan dan minuman beryodium, suhu, dan kebutuhan oksigen. Bila kelenjar tiroid

tidak aktif maka koloid dihasilkan banyak serta folikel akan membesar dan lapisan selnya datar. Selain T4 dan T3, kelenjar tiroid mensekresikan juga

Tirokalsitonin/Kalsitonin untuk metabolisme kalsium tubuh, mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Kalsitonin memacu pengendapan kalsium di dalam tulang sehingga menurunkan konsentrasi kalsium dalam cairan ekstravaskuler. Kelenjar tiroid akan meningkatkan pelepasan kalsitonin bila kadar serum kalsium meningkat, dan sebaliknya.

BAB II KONSEP DASAR KANKER TIROID

A. PENGERTIAN Kanker tiroid adalah suatu keganasan pada tiroid yang memiliki empat

(4) tipe, yaitu papiler, folikuler, anaplastik, dan meduler. ( www.medicastore.com ) Kanker tiroid adalah pembesaran tiroid yang diskret. ( Price, Sylvia A., 1995 )

B. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI Kanker tiroid lebih sering ditemukan pada orang-orang yang pernah menjalani terapi penyinaran di kepala, leher maupun dada. Faktor resiko lainnya adalah adanya riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun serta tetangga atau penduduk sekampung ada yang menderita kelainan kelenjar gondok (endemis). Hal ini lebih kepada pola hidup dan letak geografis yang tidak mendukung pada pemenuhan intake yodium. Selain itu, terdapat penyebab spesifik berdasarkan klasifikasi atau pembagian tipe kanker tiroid, yaitu sebagai berikut: 1. Kanker Papiler 60-70% dari kanker tiroid adalah kanker papiler. 2-3 kali lebih sering terjadi pada wanita. Kanker papiler lebih sering ditemukan pada orang muda, tetapi pada usia lanjut kanker ini lebih cepat tumbuh dan menyebar. Resiko tinggi

terjadinya kanker papiler ditemukan pada orang yang pernah menjalani terapi penyinaran di leher. 2. Kanker Folikuler 15-20% dari kanker tiroid adalah kanker folikuler. Ini merupakan jenis kanker yang paling tidak ganas dan paling mudah diobati. Kanker folikuler juga lebih sering ditemukan pada wanita, usia 20-50 tahun. Mirip tiroid normal namun dapat berkembang lambat dan bermetastase cepat. Pada penderita yang tidak diobati, kematian disebabkan karena perluasan lokal atau karena metastasis jauh mengikuti aliran darah dengan keterlibatan yang luas dari tulang dan paru-paru. 3. Kanker Anaplastik Kurang dari 10% kanker tiroid merupakan kanker anaplastik. Ini merupakan jenis kanker tiroid yang sangat ganas. Kanker ini paling sering ditemukan pada wanita usia lanjut. Kanker anaplastik tumbuh sangat cepat dan biasanya menyebabkan benjolan yang besar di leher. Kanker ini mengakibatkan kematian dalam beberapa minggu (bulan). Biasanya terjadi pada pasien-pasien tua dengan riwayat goiter yang lama dimana kelenjar tiba-tiba (dalam waktu beberapa minggu atau bulan) mulai membesar dan menghasilkan gejala-gejala penekanan, disfagia atau kelumpuhan pita suara, kematian akibat perluasan lokal yang masif biasanya terjadi dalam 6-36 bulan. Kanker ini sangat resisten terhadap pengobatan.

4. Kanker Meduler Pada kanker meduler, kelenjar tiroid menghasilkan sejumlah besar kalsitonin (dari sel C). Kanker meduler ini sangat jarang terjadi dan merupakan penyakit keturunan. 5-10% dari semua kasus. Karakteristiknya adalah bentuk tumor bulat, keras yang terletak di lobus tengah dan atas kelenjar tiroid. Kanker cenderung menyebar melalu sistem getah bening ke kelenjar getah bening dan melalui darah ke hati, paru-paru dan tulang. Pada metastase stadium dini dapat merupakan komplikasi dari masalah kelenjar lain (sindroma neoplasia endokrin multipel), yakni Pheochromocytomo (kelainan pada kelenjar adrenal) dan pertumbuhan pesat kelenjar paratiroid. Kanker ini lebih agresif dari pada kanker papiler atau folikuler tetapi tidak seagresif kanker tiroid anaplastik. 5. Jenis-Jenis Lain a. Limfoma Satu-satunya jenis kanker tiroid yang tumbuh cepat yang berespon baik terhadap pengobatan. Limfoma tiroid kadang-kadang timbul pada pasien dengan tiroiditis Hashimoto yang lama dan sulit dibedakan dari tiroiditis kronik. Invasi limfosit pada folikel tiroid dan dinding pembuluh darah dapat membantu dalam membedakan limfoma tiroid dari tiroiditis kronik. b. Kanker Metastatik ke Tiroid Kanker sistemik metastasis ke kelenjar tiroid, termasuk kanker payudara dan ginjal, kanker bronkogenik dan melanoma maligna.

C. MANIFESTASI KLINIK Tanda dan gejala kanker tiroid adalah: 1. Terdapat pembesaran kelenjar tiroid atau pembengkakan kelenjar

getah bening di daerah leher (karena metastasis). 2. Nodul ganas membesar cepat, dan nodul anaplastik cepat sekali

(dihitung dalam minggu), tanpa nyeri. 3. Merasakan adanya gangguan mekanik di daerah leher, seperti

gangguan menelan yang menunjukkan adanya desakan esofagus, atau perasaan sesak yang menunjukkan adanya desakan / infiltrasi ke trakea. 4. 5. Suara penderita berubah atau menjadi serak. Bisa terjadi batuk atau batuk berdarah, serta diare atau sembelit.

D. PENATALAKSANAAN Secara umum, penatalaksanaan kanker tiroid adalah: Operasi

Pada kanker tiroid yang masih berdeferensiasi baik, tindakan tiroidektomi (operasi pengambilan tiroid) total merupakan pilihan untuk mengangkat sebanyak mungkin jaringan tumor. Pertimbangan dari tindakan ini antara lain 60-85% pasien dengan kanker jenis papilare ditemukan di kedua lobus. 5-10% kekambuhan terjadi pada lobus kontralateral, sesudah operasi unilateral.

Terapi Ablasi Iodium Radioaktif Terapi ini diberikan pada pasien yang sudah menjalani tiroidektomi total dengan maksud mematikan sisa sel kanker post operasi dan meningkatkan spesifisitas sidik tiroid untuk deteksi kekambuhan atau penyebaran kanker. Terapi ablasi tidak dianjurkan pada pasien dengan tumor soliter berdiameter kurang 1mm, kecuali ditemukan adanya penyebaran.

Terapi Supresi L-Tiroksin Supresi terhadap TSH pada kanker tiroid pascaoperasi dipertimbangkan karena adanya reseptor TSH di sel kanker tiroid bila tidak ditekan akan merangsang pertumbuhan sel-sel ganas yang tertinggal. Harus juga dipertimbangkan segi untung ruginya dengan terapi ini. Karena pada jangka panjang (7-15 tahun) bisa menyebabkan gangguan metabolisme tulang dan bisa meningkatkan risiko patah tulang. Secara khusus (berdasarkan klasifikasi kanker tiroid), penatalaksanaan kanker tiroid adalah:

1.

Penatalaksanaan Kanker Papiler Kanker ini diatasi dengan tindakan pembedahan, yang kadang melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening di sekitarnya. Nodul dengan diameter lebih kecil dari 1,9 cm diangkat bersamaan dengan kelenjar tiroid di sekitarnya, meskipun beberapa ahli menganjurkan untuk mengangkat seluruh kelenjar tiroid. Pembedahan hampir selalu bisa menyembuhkan kanker ini. Diberikan hormon tiroid dalam dosis yang cukup untuk menekan pelepasan TSH dan membantu mencegah kekambuhan. Jika nodulnya lebih

10

besar, maka biasanya dilakukan pengangkatan sebagian besar atau seluruh kelenjar tiroid dan seringkali diberikan yodium radioaktif, dengan harapan bahwa jaringan tiroid yang tersisa atau kanker yang telah menyebar akan menyerapnya dan hancur. Dosis yodium radioaktif lainnya mungkin diperlukan untuk memastikan bahwa keseluruhan kanker telah dihancurkan. Kanker papiler hampir selalu dapat disembuhkan. 2. Penatalaksanaan Kanker Folikuler Pengobatan untuk kanker ini adalah pengangkatan sebanyak mungkin kelenjar tiroid dan pemberian yodium radioaktif untuk menghancurkan jaringan maupun sel kanker yang tersisa. 3. Penatalaksanaan Kanker Anaplastik Pemberian yodium radioaktif tidak berguna karena kanker tidak menyerap yodium radioaktif. Pemberian obat anti kanker dan terapi penyinaran sebelum dan setelah pembedahan memberikan hasil yang cukup memuaskan. Operasi reseksi diikuti radiasi dan kemoterapi. 4. Penatalaksanaan Kanker Meduler Pengobatannya meliputi pengangkatan seluruh kelenjar tiroid.

Lebih dari 2/3 penderita kanker meduler yang merupakan bagian dari sindroma neoplasia endokrin multipel, bertahan hidup 10 tahun; jika kanker meduler berdiri sendiri, maka angka harapan hidup penderitanya tidak sebaik itu. Kadang kanker ini diturunkan, karena itu seseorang yang memiliki hubungan darah dengan penderita kanker meduler, sebaiknya menjalani penyaringan untuk kelainan genetik. Jika hasilnya negatif, maka

11

hampir dapat dipastikan orang tersebut tidak akan menderita kanker meduler. Jika hasilnya positif, maka dia akan menderita kanker meduler; sehingga harus dipertimbangkan untuk menjalani pengangkatan tiroid meskipun gejalanya belum timbul dan kadar kalsitonin darah belum meningkat. Kadar kalsitonin yang tinggi atau peningkatan kadar kalsitonin yang berlebihan setelah dilakukan tes perangsangan, juga membantu dalam meramalkan apakah seseorang akan menderita kanker meduler.

E. PATOFISIOLOGI Terapi penyinaran di kepala, leher dan dada, riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun serta tetangga atau penduduk sekampung ada yang menderita kelainan kelenjar gondok (endemis) dapat mencetuskan timbulnya neoplasma yang menyebabkan timbulnya pertumbuhan kecil (nodul) di dalam kelenjar tiroid seseorang. Hal ini dipengaruhi oleh pelepasan TRH oleh Hipotalamus. Dimana karena pengaruh TRH, Hipofisis anterior akan merangsang peningkatan sekresi TSH sebagai reaksi adanya neoplasma. Peningkatan TSH ini akan meningkatkan massa tiroid yang akan berdiferesiasi sehingga memunculkan kanker tiroid. Kanker ini umumnya akan meluas dengan metastasis dan invasi kelenjar dan organ tubuh. Berikut perluasan kanker pada organ tubuh yang lain : a. Pada kanker papiler, kanker ini biasanya meluas dengan metastasis dalam kelenjar dan dengan invasi kelenjar getah bening lokal. Selama bertahuntahun tumbuh sangat lambat dan tetap berada dalam kelenjar tiroid dan

12

kelenjar getah bening lokal. Pada pasien tua kanker ini bisa jadi lebih agresif dan menginvasi secara lokal ke dalam otot dan trakea. Selain itu, dapat tumbuh cepat dan berubah menjadi karsinoma anaplastik. Pada stadium lanjut, dapat menyebar ke paru-paru. b. Pada kanker folikuler cenderung menyebar melalui aliran darah, menyebarkan sel-sel kanker ke berbagai organ tubuh. Kanker ini sedikit lebih agresif dari pada kanker papiler dan menyebar dengan invasi lokal kelenjar getah bening atau dengan invasi pembuluh darah disertai metastasis jauh ke tulang atau paru. Kanker-kanker ini sering tetap mempunyai kemampuan untuk mengkonsentrasi iodin radioaktif untuk membentuk tiroglobulin dan jarang untuk mensintesis T3 dan T4. c. Pada kanker anaplastik, terjadi invasi lokal pada stadium dini ke struktur di sekitar tiroid lalu bermetastasis melalui saluran getah bening dan aliran darah. d. Kanker cenderung menyebar melalui sistem getah bening ke kelenjar getah bening dan melalui darah ke hati, paru-paru dan tulang. Pada metastase stadium dini dapat merupakan komplikasi dari masalah kelenjar lain (sindroma neoplasia endokrin multipel).

F.

PATHWAY Terapi penyinaran di kepala, leher dan dada, riwayat keluarga, endemis, konsumsi minim yodium 13

timbul neoplasma, pertumbuhan kecil (nodul) di kelenjar tiroid

Hipotalamus melepas TRH

Hipofisis anterior akan merangsang peningkatan sekresi TSH

T3,T4, Kalsitonin meningkat

massa tiroid meningkat, berdiferensi

memunculkan kanker tiroid

Kurang pengetahuan

Pembengkakan laring

menyebar melalui aliran darah & saluran getah bening

Cedera pita suara, serak Kerusakan komunikasi verbal

Nyeri akut Kerusakan menelan

meluas dengan metastasis dan invasi kelenjar dan organ hati, paru-paru dan tulang tubuh

BAB III

14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN KANKER TIROID

PENGKAJIAN 1. Anamnesis Anamnesis (keterangan riwayat penyakit) merupakan bagian penting dalam menegakkan diagnosis. Pasien dengan nodul tiroid nontoksik baik jinak maupun ganas, biasanya datang dengan keluhan kosmetik atau takut timbulnya keganasan. Sebagian besar keganasan tiroid tidak menimbulkan keluhan, kecuali jenis anaplastik yang sangat cepat membesar dalam beberapa minggu saja. Pasien umumnya mengeluh adanya gejala penekanan pada jalan napas (sesak) atau pada jalan makanan (sulit menelan). Pada nodul dengan adanya perdarahan atau disertai infeksi, bisa menimbul keluhan nyeri. Keluhan lain pada keganasan tiroid yang mungkin timbul adalah suara serak. 2. Pemeriksaan fisik Perlu dibedakan antara nodul tiroid jinak dan ganas. Yang jinak, dari riwayat keluarga: nodul jinak, strumadifus, multinoduler. Pertumbuhannya relatif besarnya tetap. Konsistensinya lunak, rata dan tidak terfiksir. Gejala penekanan dan penyebarannya tidak ada. Sedangkan yang ganas, dari riwayat keluarga: karsinoma medulare, nodul soliter, Usia kurang dari 20 tahun atau di atas 60 tahun. Pria berisiko dua kali daripada wanita dan

15

riwayat terekspos radiasi leher. Pertumbuhannya cepat membesar. Konsistensi, padat, keras, tidak rata dan terfiksir. Gejala penekanan, ada gangguan menelan dan suara serak. Penyebarannya terjadi pembesaran kelenjar limfe leher. 3. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang diagnostik dilakukan untuk mengevaluasi nodul tiroid dapat berupa pemeriksaan laboratorium untuk penentuan status fungsi dengan memeriksa kadar TSHs dan hormon tiroid, pemeriksaan Ultrasonografi, sidik tiroid, CT scan atau MRI, serta biopsi aspirasi jarum halus dan terapi supresi Tiroksin untuk diagnostik. a. Pemeriksaan laboratorium dimaksudkan untuk memperoleh hasil pemeriksaan fungsi tiroid baik hipertiroid maupun hipotiroid yang dapat menditeksi kemungkinan keganasan. Pemeriksaan TSH yang meningkat berguna untuk tiroiditis. Pemeriksaan kadar antibodi antitiroid peroksidase dan antibodi antitiroglobulin penting untuk diagnosis tiroiditis kronik Hashimoto yang sering timbul nodul uni/bilateral. Sehingga masih mungkin terdapat keganasan. b. Pemeriksaan calcitonin merupakan pertanda untuk kanker tiroid jenis medulare, sedangkan pemeriksaan kadar tiroglobulin cukup sensitif untuk keganasan tiroid tetapi tidak spesifik. Karena bisa ditemukan pada keadaan lain seperti tiroiditis dan adenoma tiroid.

16

c. Pemeriksaan

Ultrasonografi

yang

merupakan

pemeriksaan

noninvasif dan ideal. Khususnya dengan menggunakan ''high frequency real-time'' (generasi baru USG). Dengan alat ini akan diperoleh gambaran anatomik secara detail dari nodul tiroid, baik volume (isi), perdarahan intra-noduler, serta membedakan nodul solid/kistik/campuran solid-kistik. Gambaran yang mengarah

keganasan seperti massa solid yang hiperkoik, irregularitas, sementara gambaran neovaskularisasi dapat dijumpai pada

pemeriksaan dengan USG. Dari satu penelitian USG nodul tiroid didapatkan 69% solid, 12% campuran dan 19% kista. Dari kista tersebut hanya 7% yang ganas, sedangkan dari nodul yang solid atau campuran berkisar 20%. d. Pemeriksaan sidik tiroid dapat memberikan gambaran morfologi fugsional, hasil pencitraannya merupakan refleksi dari fungsi jaringan tiroid. Bahan radioaktif yang digunakan I-131 dan Tc-99m. Pada sidik tiroid 80-85% nodul tiroid memberikan hasil dingin (cold), sedangkan 10-15% mempunyai risiko ganas. Nodul panas (hot) dijumpai sekitar 5% dengan risiko ganas paling rendah, sedang nodul hangat (warm) 10-15% dari seluruh nodul dengan risiko ganas kurang dari 10%. e. Pemeriksaan CT scan (Computed Tomographic scanning) dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) diperlukan bila ingin mengetahui

17

adanya

perluasan

struma

substernal

atau

terdapat

kompresi/penekanan pada jalan nafas. f. Pemeriksaan Biopsi Aspirasi Jarum Halus dianggap sebagai metode yang efektif untuk membedakan nodul jinak atau ganas pada nodul tiroid yang soliter maupun pada yang multinoduler. Pemeriksaan biopsi aspirasi jarum halus ini mempunyai sensitivitas sebesar 83% dan spesifisitas 92%. g. Terapi supresi Tiroksin (untuk diagnostik). Rasionalisasi dari tindakan ini adalah bahwa TSH merupakan stimulator kuat untuk fungsi kelenjar tiroid dan pertumbuhannya. Tes ini akan meminimalisasi hasil negatif palsu pada biopsi aspirasi jarum halus.

18

B. ANALISIS DATA No. 1. DS : Data Fokus Etiologi Kerusakan saraf laring, cedera pita suara Cedera postoperasi Problem Kerusakan komunikasi verbal Nyeri akut

DO : Kesulitan berbicara, suara 2. serak DS : Pasien mengatakan nyeri secara verbal atau nonverbal 3. DO : Pasien merintih nyeri DS : Pasien mengeluh sakit ketika makan DO : Pasien lambat dalam 4. menelan DS : DO : Pasien terlihat bingung dan sering bertanya mengenai penyakitnya dan prosedur penatalaksanaan penyakit

Tumor laring-kanker Kerusakan tiroid menelan

Keterbatasan paparan informasi

Kurang pengetahuan mengenai penyakit, komdisi dan prosedur penatalaksanaan penyakit

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita suara, kerusakan saraf laring.

19

2. Nyeri akut berhubungan dengan cedera pascaoperasi. 3. Kerusakan menelan berhubungan dengan tumor laringeal (kanker tiroid). 4. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, kondisi dan prosedur

penatalaksanaan penyakit berhubungan dengan keterbatasan paparan informasi

D. NURSING OUTCOMES CLASSIFICATION (NOC) 1. Diagnosa I NOC Indikator : Kemampuan berkomunikasi : - menggunakan bahasa tertulis

menggunakan bahasa lisan menggunakan bahasa nonverbal/isyarat menanggapi pesan yang diterima

2. Diagnosa II NOC Indikator : Kontrol/Pengendalian nyeri : - mengetahui factor penyebab

mengetahui waktu muncul dan permulaan nyeri penggunaan analgetik yang tepat menggunakan sumber pendukung yang tepat mengetahui gejala nyeri

3. Diagnosa III NOC Indikator : Status menelan: esofagial : - nyaman saat menelan

20

Makanan masuk tidak batuk saat menelan tidak ada nyeri epigastrial kandungan di lambung terjaga/tidak muntah tidak terjadi hematemesis pengulangan menelan tidak terjadi

4. Diagnosa IV NOC (a) Indikator : Pengetahuan tentang proses penyakit : - mengetahui tentang nama penyakit

menjelaskan mengenai proses penyakit menjelaskan penyebab dan factor pendukung menjelaskan tanda dan gejala penyakit menjelaskan komplikasi penyakit menjelaskan tanda dan gejala penyakit : Pengetahuan tentang prosedur : - menjelaskan prosedur

NOC (b) Indikator -

menjelaskan tujuan prosedur menjelaskan langkah/tahapan prosedur mendemonstrasikan prosedur menjelaskan efek samping yang potensial : Pengetahuan tentang pengobatan : - menjelaskan tentang cara penggunaan obat - menjelaskan tentang efeks damping obat

NOC (c) Indikator

21

- menyebutkan nama obat dengan benar - menjelaskan tentang cara penyimpanan obat dengan benar E. NURSING INTERVENTION CLASSIFICATION (NIC) 1. NOC I NIC : Peningkatan komunikasi : defisit bicara : - Libatkan keluarga untuk membantu memahami apa yang dibicarakan oleh pasien. Dengarkan pasien saat berbicara dengan penuh perhatian. Gunakan kata dan kalimat yang sederhana saat berbicara dengan pasien. Gunakan papan tulis/gambar bagi pasien untuk mengungkapkan kebutuhannya. Anjurkan pada pasien dan keluarga untuk menggunakan alat bantu suara. 2. NOC II NIC : Manajemen nyeri : - Kaji ulang secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi, karakteristik, penjalaran, keparahan, kualitas, factor pencetus Observasi isyarat non verbal atas ketidaknyamanan

Aktivitas :

Aktivitas :

22

Gunakan

strategi

komunikasi

terapeutik

untuk

mengetahui

tanggapan pasien terhadap nyeri yang dialami Monitoring perubahan nyeri Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien atas ketidak nyamanan misalnya suhu ruang Ajarkan teknik nonfarmakologikal (kompres dingin, relaksasi, guided imagery) sebelum, selama, dan setelah nyeri Kolaborasi medis pemberian analgetik Pastikan pasien menerima perawatan analgetik yang tepat

3. NOC III NIC : Terapi menelan :

Aktivitas : -

Hindarkan minum minuman bersoda Bantu pasien memilih posisi yang nyaman saat makan Anjurkan pasien untuk memfleksikan kepalanya ke depan saat makan unutk mendukung menelan

Monitor tanda dan gejala aspirasi Monitor pergerakkan lidah saat makan Anjurkan pasien menjangkau makanan yang ada di bibir dan sekitar mulut dengan lidah

Monitor intake dan output makanan dan minuman, turgor kulit, mukosa mulut

Sediakan perawatan mulut

23

Kolaborasi dengan ahli diet konsultasi tentang kebutuhan nutrisi pasien

3. NOC IV NIC (a) : Pengajaran : Proses Penyakit Aktivitas : :

Jelaskan patofisiologi penyakit dan hubungannya dengan anatomi dan fisiologi

Jelaskan tanda dan gejala penyakit Jelaskan kemungkinan komplikasi penyakit Identifikasi penyebab Informasikan tentang kondisi pasien Diskusikan perubahan gaya hidup untuk mencegah komplikasi dan mengontrol penyakit

Diskusikan pilihan terapi Instruksikan pasien agar melaporkan bila terjadi tanda dan gejala guna tindakan perawatan

Kolaborasi tenaga kesehatan lain untuk memberikan informasi kepada pasien tentang penyakit.

NIC (b) : Pengajaran : Prosedur treatment Aktivitas :

Informasikan kepada pasien tentang prosedur meliputi, waktu, durasi, tempat

Jelaskan tujuan prosedur treament

24

Anjurkan pasien agar ia kooperatif selama prosedur treatment Diskusikan alternatif treatment Libatkan keluarga dalam treatment

NIC (c) : Pengajaran : Medikasi Aktivitas :

Anjurkan pasien untuk mematuhi tindakan pengobatan Informasikan pada pasien tentang obat meliputi jenis, merk , kandungan, reaksi, dosis, dan durasi efektif obat

Anjurkan pasien untuk mengikuti prosedur sebelum pelaksanaan medikasi

Informasikan pada pasien tentang apa yang harus dilakukan bila terjadi pengobatan yang terlupa/terlambat

Informasikan tentang tanda dan gejala bila terjadi kekurangan atau kelebihan dosis obat

Informasikan tentang penyimpanan obat Libatkan keluarga dalam proses medikasi

F. EVALUASI Evaluasi dilakukan dengan memperhatikan Nursing Outcomes Classification yang telah ditetapkan guna mengetahui perkembangan kondisi pasien setelah

25

dilakukan implementasi sesuai Nursing Intervention Classification. Beberapa hasil evaluasi yang ideal adalah sebagai berikut 1. Diagnosa I 2. Diagnosa II : Pasien mampu berkomunikasi dengan nyaman : Pasien mampu mengontrol/mengendalikan nyeri

3. Diagnosa III : Status menelan: esofagial pasien normal 4. Diagnosa IV : Pasien mengetahui tentang proses penyakit Pasien mengetahui tentang prosedur treatment Pasien mengetahui tentang pengobatan/medikasi

BAB IV PENUTUP

26

Kanker tiroid adalah suatu keganasan pada tiroid yang memiliki empat (4) tipe, yaitu papiler, folikuler, anaplastik, dan meduler. Kanker tiroid lebih sering ditemukan pada orang-orang yang pernah menjalani terapi penyinaran di kepala, leher maupun dada. Faktor resiko lainnya adalah adanya riwayat keluarga yang menderita kanker tiroid dan gondok menahun serta tetangga atau penduduk sekampung ada yang menderita kelainan kelenjar gondok (endemis). Hal ini lebih kepada pola hidup dan letak geografis yang tidak mendukung pada pemenuhan intake yodium. Penatalaksanaannya diantaranya adalah Operasi, Terapi Ablasi Iodium Radioaktif, Terapi Supresi L-Tiroksin.

DAFTAR PUSTAKA

27

Closkey, J.C, Bulecheck, G.M, 1996. Iowa Intervention Project: Nursing Intervention Classification (NIC) 2nd, Mosby, St.Louis. Greenspan & Baxter, 2000, Endokrinologi Dasar dan Klinik, EGC, Jakarta. Isselbacher, Kurt J, 2000, Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, EGC, Jakarta. Johnson, M, dkk, 2000, Iowa Intervention Project: Nursing Outomes Classification (NOC) 2nd. Mosby, St.Louis. Mansjoer, Arif, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, Jakarta. NANDA, 2005, NANDA:Nursing Diagnosis Definition & Classification 20052006, Philadelphia. Price, Sylvia Anderson & Lorraine M.W., 1995, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, EGC, Jakarta. Ragg, M. , 1999, Memahami Masalah Tiroid, ARCAN, Jakarta. Suastika, K., 1995, Penyakit Kelenjar Tiroid, EGC, Jakarta. http://www.medicastore.com/med/detail/Kanker Tiroid/231206/19.46 WIB @id.

28