Anda di halaman 1dari 8

PENANGANAN KEJANG

A. Dasar Teori Kejang Kejang adalah perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari aktifitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan. Aktifitas ini dapat bersifat parsial atau fokal, berasal dari daerah spesifik korteks serebri, otak umum, melibatkan kedua hemisfer otak. Manifestasi klinik berfariasi tergantung bagian otak yang terkena 1. Penyebab kejang mencakup faktor-faktor perinatal, malformasi otak kongenital, faktor genetik, penyakit infeksi, demam, gangguan metabolisme, trauma, neoplasma, toksin, gangguan sirkulasi, penyakit degeneratif susunan syaraf. Kejang disebut idiopatik bila tidak ditemukan penyebabnya. Berdasarkan kasus diatas melalui data pemeriksaan fisik didapatkan bahwa kejang demam yang dialami bayi tersebut termasuk dalam jenis kejang parsial sederhana (Kejang Sederhana)dimana ciri-ciri kejang parsial sederhana yaitu kesadaran tidak terganggu (compos mentis), suhu > 37,780C yakni 38,50C , lama kejang <30 menit yakni 15 detik 2. Kejang mempunyai manifestasi klinik ketidaksadaran atau pingsan gerakan involunter, perubahan persepsi, perilaku, sensasi, postur, mata mendelik keatas, melotot atau mengedip, tubuhnya kaku, melengkung kebelakang, dan tangannya mengepal3. Pada anak yang sedang mengalami kejang, dilakukan perawatan yang adekuat. Penderita dimiringkan agar jangan terjadi aspirasi ludah atau lendir dari mulut. Jalan napas dijaga agar tetap terbuka lega, tujuannya adalah agar suplai oksigen tetap terjamin. Bila perlu berikan oksigen2. Jenis-Jenis Kejang Demam : 1. Kejang Parsial Sederhana Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini : a. Tanda-tanda motorik : kedutan pada wajah, tangan, atau salah satu sisi tubuh ; umumnya gerakan setiap kejang sama. b. Tanda atau gejala otonomik : muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil c. Gejala somatosensoris atau sensoris usus : mendengarkan musik, merasa seakan jatuh dari udara, parestesia. d. Gejala psikik : dejavu, rasa takut. 2. Kejang parsial kompleks

a. Terdapat gangguan kesadara, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial Simpleks b. Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap-ngecapkan bibir, mengunyah, gerakan mencongkel yang berulang-ulang pada tangan, dan gerakan tangan lainnya. c. Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku.

B. Ketentuan dan Langkah-langkah penanganan kejang Kejang Karena Demam Anak kecil yang berusia dibawah 4 tahun dapat mengalami kejang ketika mereka terkena infeksi dan mengalami panas tinggi. Mengenali kejang : 1. Tubuh anak tempak memerah, berkeringat, dan dahi terasa panas 2. Mata mendelik keatas, melotot atau mengedip 3. Wajahnya tampak membiru jika ia menahan nafas 4. Tubuhnya kaku dan punggungnya melengkung kebawah 5. Tangannya mengepal Ketentuan: 1. Hitung lamanya kejang untuk menentukan durasi kemungkinan hipoksia dan kebutuhan perawatan darurat. 2. Lindungi anak selama kejang a. Jangan berusaha merestrain anak atau menggunakan paksaan untuk mencegah cidera b. Bila anak berdiri atau duduk dikursi roda pada awal episode,bantu anak mencapai lantai agar tidak jatuh c. Tempatkan selimut kecil atau tangan anda sendiri dibawah kepala anak untuk mencegah cidera d. Jangan menempatkan apapun dimulut anak e. Longgarkan pakaian yang dapat membatasi gerakan atau pernapasan f. Cegah anak dari benturan kepala pada objek keras g. Singkirkan benda-benda yang dapat menyebabkan bahaya h. Bantali objek seperti keranjang bayi, dan penghalang tempat tidur i. Pertahankan agar penghalang tempat tidur tetap terpasang istirahat atau sedang menglamai kejang ketika anak sedang tidur

j. Biarkan kejang berakir tanpa pengaruh. k. Bilamungkin posisikan anak dengan kepala pada garis tengah, bukan hiperekstensi untuk meningkatkan ventilasi yang adekuats l. Bila anak mulai muntah miringkan dengan hati-hati agar tidak terjadi aspirasi m. Miringkan anak agar tidak terjadi aspirasi lidah dan lendir-lendir. n. Lindungi anak setelah kejang

Penanganan 3: 1. Buka pakaian anak sampai hanya tinggal celana dalam saja. Pastikan ia memperoleh banyak udara segar tapi tidak sampai kedinginan.

2. Singkirkan benda-benda disekelilingnya agar ia terlindung dari cedera. Basuh tubuhnya dengan air hangat, dimulai dari kepala dan turn kearah tubuhnya. Jangan biarkan tubuhnya menjadi terlalu dingin.

3. Setelah tubuh mendingin kejangnya akan berhenti. Gulingkan tubuhnya hingga ia berbaring miring dan jaga agar kepalanya tetap menengadah kebelakang. Selimuti tubuhnya dengan selimut atau seprei tipis dan tenangkan dirinya. Jika suhu tubuhnya naik lagi, basuhlah kembali.

Water Tepid Sponging

A. Dasar Teori

Tepid Water Sponge mengurangi demam dengan mendilatasi pembuluh darah perifer sehingga melepaskan panas dan menurunkan suhu tubuh. Tepid water sponge dapat mengurangi suhu sistemik ketika perawatan demam tidak rutin khususnya untuk bayi dan anak kecil yang suhunya cenderung dapat meningkat sangat tinggi dan cepat.

B. Peralatan 1. Ember 2. Selimut mandi 3. Perlak 4. Termometer air 5. Termometer 6. Botol air panas 7. Waslap 8. Handscoon

C. Persiapan Alat Siapkan botol air panas kemudian tempatkan termometer kedalam ember. Tuangkan air hingga suhunya mencapai batas atas suhu hangat atau 340C (karena akan mendingin selama mandi). Rendam waslap dalam air hangat hingga basah dan hangat.

D. Langkah-Langkah 1. Cek kondisi pasien 2. Jelaskan prosedur 3. Jaga privasi dan pastikan ruangannya hangat 4. Cuci tangan dan pakai handscoon 5. Pasang perlak dibawah pasien kemudian lepaskan pakaian pasien 6. Periksa suhu tubuh pasien, nadi dan ekspirasi 7. Tempatkan botol air hangat dikaki pasien untuk mengurangi sensasi dingin 8. Peras waslap sebelum diusapkan kepasien agar tidak menetes 9. Tempatkan waslap lembab dipermukaan pembuluh darah super fisial mayor, diketiak, selangkangan, untuk mempercepat pendinginan

10. Basuh setiap ekstermitas secara terpisah selama kurang lebih 5 menit, kemudian usap dada dan perut selama 5 menit. Balikkan pasien dan basuh punggung dan bokong pasien selama 5 10 menit. Jaga pasien tetap tertutup kecuali bagian yang akan diusap.

11. Tambahkan air panas kedalam ember jika dibutuhkan agar menjaga temperatur tetap hangat 12. Periksa suhu pasien, nadi dan respirasi setiap 10 menit. Perhatikan jika suhu pasien tidak turun dalam 30 menit, hentikan tindakan tepid water sponge. Ketika suhu pasien mencapai kurang lebih 10C diatas suhu yang diinginkan karena suhunya akan turun secara alami. Lanjutkan untuk memonitor suhu sampai stabil 13. Observasi pasien untuk tanda-tanda kedinginan, menggigil, pucat, bintik, sianosis pada bibir dan bantalan kuku. Perubhana tanda-tanda vital khususnya nadi cepat, lemahatau tidak beraturan. Jika salah satu atau beberapa tanda tersebut terjadi, hentikan tindakan dan selimuti pasien. 14. Jika tidak terjadi efek merugikan tindakan dilakukan paling sedikit 30 menit. 15. Keringkan setiap area yang telah dibasuh dengan cara menepuk, hindari menggosok dengan handuk karena menggosok dapat meningkatkan metabolisme sel dan menghasilkan panas. 16. Setelah dilakukan tiindakan, pastikan pasien kering dan nyaman, pakaikan dengan pakaian segar dan tutupi dengan selimut yang tipis. 17. Cek suhu pasien, nadi dan ekspirasi setelah tindakan dalam 30 menit untuk menentukan keefektifan tindakan.

E. Komplikasi Penurunan suhu yang cepat dapat meicu kejang

DAFTAR PUSTAKA Betz, Cecily L. 2002. Buku saku keperawatan pediatri edisi 3. Jakarta : EGC Lumbantobing, SM. 2007. Kejang Demam (febrile convulsions). Jakarta: FK UI Moffat, Sir Cameron. 2005. Pertolongan Pertama Untuk Anak. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama Williams, Lippincott & Willkins. 2009. Nursing Procedurs. China : Wolters Kluwer. Wong, Dona L, dkk. 2001. Wongs Essentials of Pediatric Nursing. Missouri : Mosby.