Anda di halaman 1dari 15

KONSEP NEGARA ISLAM MENURUT MAUDUDI DAN SAYYID QUTB

Muhammad Adinda Rizki Rakhmansyah (1006692373) Miftah Ardhian (1006692386)

Latar Belakang Pemikiran Islam di masa kontemporer mulai muncul di sekitaran abad 19 yang di latar belakangi oleh keadaan umat Islam yang mengalami kemunduran oleh karena faktor internal seperti krisis di dalam kepemimpinan, sosial, ekonomi dan juga masalah keagamaan yang memicu munculnya gerakan pemurnian dan pembaruan islam. Faktor eksternal sebagai pemicu dari munculnya gerakan-gerakan pemurnian dan pembaruan ini adalah masuknya pengaruh barat yang melakukan intervensi terhadap banyak negara-negara Islam baik di bidang ekonomi ataupun juga militer. Sikap yang penjajah dari barat inilah menyebabkan banyak negara Islam yang membenci dan timbulnya semangat anti-barat di kalangan umat Islam di banyak negara. Dilatar belakangi oleh keadaan seperti inilah lahir pemikir-pemikir islam yang mencoba untuk mencari solusi dengan mengemukakan ide pembaharuan di bidang politik khususnya, dalam hal ini keterkaitan antara Islam dan negara. Dalam kaitan antara negara dan Islam, kami mengutip pernyataan Munawir Sjadzali,1 bahwa terdapat tiga aliran yang berbeda mengenai hal ini. 1. Mereka yang berpendapat bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, sehingga dapat mengatur segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan negara. Tokoh-tokoh yang masuk ke dalam golongan pertama ini adalah Abu Ala Al- Maududi, Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna. 2. Mereka yang berpendapat bahwa Islam tidak ada sama sekali kaitannya dengan urusan-urusan kenegaraan seperti Ali Abd-Raziq dan Thaha Husein. 3. Mereka yang berpendapat bahwa Islam adalah agama yang lengkap dengan perangkat tata-nilai kehidupan bernegara tapi tidak memuat bagaimana sistem

Munawir Sjadzali dalam Rahimah. Pandangan Politik Maududi Tentang Negara Islam. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1626/1/arab-rahimah6.pdf. Diakses pada Tanggal 17 November 2011, Pukul 11.27 WIB.

ketatanegaraan baik di dalam Al-Quran atau pun juga di dalam Hadits seperti yang dikemukakan oleh Dr. Muhammad Husein Haikal. Kali ini kami akan membahas tentang tokoh pembaruan islam yang hidup di abad ke 20 yaitu Abu Ala Al- Maududi (1903-1979) dan juga Sayyid Qutb (1906-1966). Kedua tokoh ini memiliki sejarah perjalanan yang hampir sama. Sama-sama berasal dari organisasi politik, Maududi dengan Jamaat Islami, sedangkan Sayyid Qutb berasal dari Ikhwanul Muslimin di Mesir. Mereka berdua juga ikut berjuang dalam arus revolusi di negaranya masing-masing. Maududi merupakan salah satu inisiator dari lepasnya Pakistan dari India, dan juga ia merupakan anggota dewan yang menghasilkan Undang-undang dasar Islam di Pakistan. Sayyid Qutb hampir serupa, menggulingkan pemerintahan mesir di dasawarsa 50an, bersama Nasser saat itu. Mereka berdua pun akhirnya tersingkir oleh rezim militer, dan akhirnya dipenjarakan, bahkan Sayyid Qutb harus menerima bahwa dirinya tewas oleh tiang gantungan.

Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah Konsep negara Islam yang dikemukakan oleh Sayyid Qutb dan Abu Ala Al- Maududi ? 2. Bagaimanakah konsep pemerintahan ideal menurut Sayyid Qutb?

Konsep Negara Islam Menurut Al-Maududi Ada tiga buah dasar keyakinan yang ada di dalam diri Maududi mengenai Kenegaraan menurut Islam2 yaitu yang pertama adalah, Islam merupakan agama yang paripurna, lengkap dengan cara dan petunjuk untuk mengatur kehidupan manusia, termasuk kehidupan berpolitik sehingga umat Islam tidaklah perlu atau bahkan dilarang untuk menggunakan sistem politik dari Barat, cukup dengan kembali kepada sistem Islam dengan merujuk kepada pola semasa Khulafa ar-Rasydin sebagai model atau contoh sistem kenegaraan menurut Islam. Kedua, mengenai kekuasaan tertinggi atau kedaulatan, adalah hanya kepada Allah, maka rakyat hanya sebagai pelaksana-pelaksana perintah Allah dimuka bumi. Baik negara ataupun juga rakyat dituntut agar menjalani hukum-hukum sebagaimana yang tercantum baik di dalam kitab suci Al-Quran ataupun juga di dalam sunah Rasulullah. Yang terakhir adalah sistem politik Islam merupakan suatu sistem yang Universal dan tidak mengenal batas-batas dan ikatan-ikatan geografi bahasa dan kebangsaan. Konsep negara Islam yang dikemukakan Maududi merupakan konsep yang bersifat kepada Teo-demokrasi, bukan demokrasi.3 Hal ini karena menurut alMaududi kedaulatan paling tinggi hanya dimiliki oleh Allah, sedangkan peran manusia terbatas oleh batas-batas aturan Tuhan. Aturan-aturan ini juga pada akhirnya yang membimbing masyarakat dan harus dipatuhi didalam kehidupannya. Berbeda dengan demokrasi yang mengatakan bahwa kedaulatan mutlak ada di tangan rakyat, maka di dalam Teo-demokrasi hanya Allah yang menjadi satu-satunya pemilik kekuasaan tertinggi.4 Hanya hukum Allah yang paling benar melalui kitab-kitab yang dibawa oleh para rasulnya dan manusia tidak berhak untuk membuat hukum. Hukum yang pada nantinya dibuat oleh manusia pada nantinya tidak boleh berlawanan dengan wahyu dasar dari Allah.
Kamaruzzaman. Relasi Islam dan negara: Perspektif Modernis dan Fundamentalis. (Magelang: Indonesiatera, 2001), 78. 3 Munifah Syanwani. Perbandingan Pemikiran Politik Islam Abu Ala Al- Maududi dengan Pemikiran dan Gerakan Partai Bulan Bintang di Indonesia.(Tesis Magister Sains, Universitas Indonesia, 2004), 50. 4 Ibid.
2

Konsep Teo-demokrasi terdengar mirip dengan konsep Teokrasi (Kedaulatan Tuhan)yang pernah terjadi di Eropa dimana paus, raja atau pun biarawan menjadi wakil tuhan di bumi. Apapun yang mereka lakukan mendapat legitimasi dari tuhan, yang baik menurut mereka (Paus, Raja) tentu juga baik Tuhan dan juga sebaliknya. Namum ada 3 (Tiga) perbedaan antara teori kedaulatan Tuhan dengan Konsep Theodemokrasi yaitu5: 1. Dalam teori kedaulatan Tuhan, penguasa adalah wakil Tuhan di muka bumi. Sedang dalam Islam, seorang khalifah dalam negara Khilafah adalah wakil umat dan bukan wakil Tuhan, didalam urusan kekuasaan dan penerapan hukum-hukum Syariah Islam. 2. Dalam teori kedaulatan Tuhan, penguasa bersifat mashum. Sedang dalam Islam seorang khalifah bukan orang mashum. Bisa saja dia berbuat dosa dan kesalahan. Karena itulah, amar maruf nahi munkar disyariatkan. 3. Dalam teori kedaulatan Tuhan, penguasa atau gerejawan membuat undangundang atau hukum yang berasal dari dirinya sendirinya, tanpa suatu acuan dan pedoman yang jelas dari wahyu Tuhan. Sedang dalam Islam, penguasa mengadopsi hukum-hukum syara berdasarkan ijtihad yang sahih dengan acuan dan pedoman yang jelas, yaitu Kitabullah (kitab-kitab Allah) dan Sunnah Rasul-Nya. Dasar Negara Maududi dari awal sangat jelas menekankan bahwa Islam merupakan dasar utama dari sebuah negara, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan Khulafa ar-Rasyidin. Ada empat ciri utama dari negeri Islam6 yaitu: Pertama, kedaulatan ada ditangan Allah, Kedua, hukum tertinggi di negara tersebut adalah
5

Abdul Aziz. Chiefdom Madinah: Salah Paham Negara Islam. (Jakarta: Pustaka Alvabet,2011), 131.

Abu Ala Al- Maududi dalam Munifah Syanwani. Perbandingan Pemikiran Politik Islam Abu Ala Al- Maududi dengan Pemikiran dan Gerakan Partai Bulan Bintang di Indonesia.( Tesis Magister Sains, Universitas Indonesia, 2004), 54.

Syariah,

Ketiga,

pemerintah

merupakan

pemegang

amanah

Allah

untuk

melaksanakan kehendak-kehendak-Nya dan yang Keempat pemerintah tidak boleh melakukan perbuatan yang melampaui batas-batas yang telah ditetapkan Allah. Dalam pandangan Maududi terdapat empat buah sumber Undang-undang dasar Islam.7 Yaitu: 1. Al-Quran adalah sumber utama dan paling penting karena memuat seluruh perintah dan pedoman paling fundamental dari Allah. 2. Al-Sunnah. Merupakan pedoman bagaimana Rasulullah SAW menjabarkan Al-Quran kedalam bentuk praktisnya, untuk kemudian dikembangkan menjadi suatu tatanan sosial positif. Al-Sunnah merupakan pengalaman praktis prinsipprinsip Al-Quran ke berbagai masalah dalam kehidupan. 3. Konvensi-konvensi Khulafa ar-Rasyidin. Bagaimana empat khalifah pertama mengelola negara Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW dilestarikan ke dalam kitab hadits, Tarikh, dan biografi yang sangat penting mengenai zaman keemasan tersebut. Alasan Maududi mengapa digunakan konvensikonvensi ini adalah karena para sahabat Nabi Muhammad SAW ini telah digembleng langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga sulit bagi Maududi untuk memahami bahwa mereka tidak bisa mengerti makna dan tujuan-tujuan ajaran Nabi Muhammad SAW. 4. Fuqaha (ketentuan para ahli hukum) ternama. Ketentuan yang membentuk sumber keempat ini adalah keputusan para Ahli hukum peringkat atas mengenai masalah perundang-undangan di zaman mereka. Pemerintahan yang diinginkan Islam adalah pemerintahan yang Demokratis, yang dalam artian berarti berdasarkan kepada Ketuhanan dimana negara menjamin kebebasan untuk melaksanakan ajaran agama dan berekspresi baik secara lisan atau
7

Abu Ala Al- Maududi dalam Kamaruzzaman. Relasi Islam dan negara: Perspektif Modernis dan Fundamentalis. (Magelang: Indonesiatera, 2001), 76.

tulisan (masih didalam batas-batas ajaran agama Islam tentunya). Akan tetapi dalam berpolitik, tidak diperkenankan warga negara non-Muslim untuk mendirikan partai politik. Selain karena adanya larangan bahwa warga negara non Muslim untuk menduduki jabatan penting di pemerintahan, dan juga karena dasar negara adalah Islam, maka semua partai politik yang berideologi selain Islam, tidak diperkenankan untuk membentuk partai selain partai Islam.8 Hukum Sesuai dengan dasar negara, hukum yang dianut oleh suatu negara menurut Maududi adalah Hukum Islam. Sumber yang digunakan dalam hukum Islam berasal dari Al-Quran dan juga Al-Hadits. Badan legislatif atau menurut Maududi adalah Lembaga Penengah dan Pemberi Fatwa (Ahl Al-Hall wa Al-Aqd) hanya bertugas untuk menyusun peraturan-peraturan Syariah untuk kemudian disusun ke dalam pasal-pasal dalam undang-undang, memberikan definisi yang jelas mengenai ketentuan hukum tersebut dan membuat peraturan pelaksanaan hukum Allah tersebut.9 Dalam proses legislasi digunakan empat bentuk Ijtihad yaitu tawil (Penafsiran), ijtihad (deduksi), Qiyas (analogi), dan Istihsan.10 Struktur Pemerintahan Maududi menawarkan konsep struktur pemerintahan dengan adanya tiga buah badan, yang didalam sistem pemerintahan modern dikenal sebagai badan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Eksekutif (Amir) memiliki tanggung jawab tinggi sebagai pengelola administratif sebuah negara. Fungsi Amir di dalam pemerintahan adalah untuk
Rahimah. Pandangan Politik Maududi Tentang Negara Islam. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1626/1/arab-rahimah6.pdf. Diakses pada Tanggal 17 November 2011, Pukul 11.27 WIB. 9 Kamaruzzaman. Op. cit, 89. 10 M Din Syamsuddin dalam Mishbahul Ulum. Relasi Islam dan Negara, Studi Kasus Pengaruh Gerakan Dakwah dan Politik Ikhwanul Muslimin terhadap Partai Keadilan Sejahtera. (Tesis Magister Sains, Universitas Indonesia, 2004), 33. +
8

melaksanakan dan menegakkan pedoman-pedoman Allah yang disampaikan di dalam Al-Quran dan Al-Sunnah. Semua orang yang memiliki keyakinan terhadap konstitusi Islam, baik itu laki-laki ataupun perempuan maka ia berhak untuk memilih seorang Amir. Sebuah dewan Syura atau dewan penasehat harus dipilih oleh rakyat untuk membantu dan memberikan bimbingan kepada Amir dalam tugasnya mengelola negara. Amir hanya dapat menduduki jabatannya selama ia masih memperoleh kepercayaan dari rakyat nya dan apabila rakyat telah kehilangan kepercayaan terhadap Amir yang telah mereka pilih, maka seorang Amir wajib untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Sedangkan didalam badan yudikatif, kekuasaan yang dimiliki oleh yudikatif tidaklah diletakkan dibawah eksekutif. Yudikatif memperoleh wewenang nya langsung dari Syariat dan hanya bertanggung jawab kepada Allah. Hakim-hakim harus ditunjuk oleh pemerintah, namun apabila hakim telah menjabat maka ia wajib untuk melaksanakan peradilan sesuai dengan cara-cara yang telah ditentukan oleh Allah. Maududi mengatakan bahwa lembaga yudikatif haruslah bersifat independen, dan hakim akan dilantik oleh Amir. Maududi juga berpendapat bahwa badan yudikatif juga diberi wewenang untuk menguji peraturan-peraturan yang bertentangan dengan Syariah Islam dan jika terbukti berlawanan dengan Syariah, maka hakim berhak untuk membatalkan peraturan tersebut. Semua pejabat dan alat negara tidak ada yang terbatas dari jangkauan hukum, semua pihak baik itu rakyat biasa ataupun juga pejabat tinggi negara memperoleh kedudukan yang setara dimata hukum. Hal ini karena Islam adalah persamaan hak dan akan selalu berpegang kepada hal ini baik di bidang sosial, ekonomi ataupun juga politik. Lembaga legislatif menurut Maududi, adalah lembaga penengah dan pemberi fatwa. Dalam hal ini, legislatif memiliki beberapa fungsi11, seperti: 1. Jika terdapat pedoman-pedoman yang jelas dari Allah dan Rasulullah, meskipun legislatif tidak dapat mengubah ataupun juga menggantinya, maka
11

Kamaruzzaman. Op. cit, 89.

hanya legislatif-lah yang berkompeten untuk menegakkan ke dalam susunan dan bentuk pasal demi pasal, menggunakan definisi yang relevan, dan juga menciptakan peraturan-peraturan dan Undang-undang. 2. Jika pedoman yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits terdapat kemungkinan interpretasi lebih dari satu, maka legislatif-lah yang berhak untuk mengambil keputusan mengenai penafsiran mana yang akan masuk ke dalam peraturan ataupun undang-undang. 3. Jika terdapat isyarat yang tidak jelas didalam Al-Quran dan Hadits maka fungsi lembaga legislatif ini adalah untuk menegakkan hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah yang sama, tentunya masih dengan menjaga jiwa hukum Islam. 4. Apabila dalam suatu masalah, tidak ditemukan satupun pedoman yang dasar dari Al-Quran atau Hadits, dan juga tidak ada di dalam konvensi Khulafa arRasyidin, maka kita harus mengartikan bahwa Allah telah membiarkan kita untuk bebas melakukan legislasi mengenai masalah tersebut, menurut apa yang terbaik nantinya. Dalam cara pembentukan lembaga legislatif, Maududi mengatakan bahwa anggota-anggota badan legislatif dapat dipilih sesuai dengan tata cara pemilihan umum modern yang kita kenal sekarang ini. Partai-partai dapat mengajukan calon-calonnya dalam pemilihan umum tersebut. Akan tetapi setelah masuk parlemen, nantinya tidak akan ada pengelompokan berdasarkan partai. Seorang anggota legislatif hanya akan menyuarakan aspirasi rakyat dan bukan partai politik yang mencalonkannya di dalam Pemilu tersebut. Konsep Negara dan Pemerintahan Sayyid Qutb Sayyid Qutb saat ini tidak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah seorang tokoh muslim yang banyak menuai kontroversi akan pemikiran-pemikirannya, beliau dianggap berkaitan dengan munculnya gerakan radikalisme yang ada saat ini, namun, dalam makalah kali ini penulis membatasi hanya membahas tentang konsep negara

dan pemerintahan yang diusung oleh Sayyid Qutb, yaitu konsep negara Islam menurut Sayyid Qutb, pemerintahan supranasional, tiga dasar politik pemerintahan Islam, dan politik pemerintahan dalam Islam. 1. Konsep Negara Islam Sayyid Qutb Seperti hal nya Maududi, Sayyid Qutb pun mencanangkan negara Islam sebagai pokok pemikirannya, beliau berpendapat bahwa negara tidak bisa dilepaskan dari agama dan agama pun tidak bisa berdiri tanpa hukum dan sistem. Karena itu, mitos yang mengatakan bahwa agama dan negara merupakan dua hal yang terpisah, tidak terdapat dalam Islam, negara tidak bisa ada tanpa agama dan agama pun tidak bisa ada tanpa hukum dan sistem.12 Negara Islam itu dimulai semenjak kaum Muslimin itu baru berupa sekumpulan kecil manusia, yang sanggup mempertahankan diri terhadap permusuhan, dan sanggup pula memelihara diri terhadap godaan untuk menyeleweng dari agama Allah SWT, dan bahwa mereka berkumpul dalam sebidang tanah yang dilindungi oleh bendera Islam.13

2. Konsep Pemerintahan Supranasional Sayyid Qutb menginginkan bentuk pemerintahan supra nasional (kesatuan seluruh dunia Islam) yang sentralistis, tetapi daerah tidak sebagai jajahan, mempersamakan pemeluk agama, dan didirikan atas tiga prinsip: keadilan penguasa, ketaatan rakyat karena hasil pilihannya dan permusyawarahan antara penguasa dan rakyat. Meskipun ia tidak mempersoalkan sistem pemerintahan apapun sesuai dengan sistem kondisi masyarakat, namun pemerintahan ini bercirikan penghormatan pada supremasi hukum Islam (syariah).14

Sayyid Qutb. Beberapa studi tentang Islam, 21. http://www.muslimdiary.com/downloads/bbrp%20studi%20ttg%20islam%20%20Sayyid%20Quthb.pdf . Diakses Tanggal 11 desember 2011, Pukul 21.00 13 Ibid. 14 Sukron Kamil. Peta Pemikiran Politik Islam Modern dan Kontemporer. http://www.paramadina.ac.id/downloads/Jurnal%20Universitas%20Paramadina/Jurnal%20UPM%20V

12

3. Tiga Prinsip Dasar Politik Pemerintahan Islam 15 : a. Keadilan Penguasa Seorang penguasa dalam mengeluarkan keputusan dan kebijakannya tidak terpengaruh oleh kepentingan atau keuntungan bagi kalangan tertentu. Suatu keadilan tidak terpengaruh oleh sebab apapun juga. Setiap individu berhak menikmati keadilan yang sama, tidak ada diskriminasi antara mereka yang muncul karena nasab dan kekayaan, karena uang dan pangkat sebagaimana yang ada pada umat di luar Islam, walaupun antara kaum Muslimin dan non Islam itu terdapat permusuhan dan kebencian. Sungguh ini merupakan nilai keadilan yang belum pernah dicapai oleh Hukum Internasional manapun dan juga oleh hukum lokal manapun sampai detik ini. Yang paling penting untuk diketahui tentang keadilan Islam ini adalah bahwa ia bukan sematamata sekedar teori- teori mati, tetapi telah terbukti dalam kenyataan hidup sehari-hari.

b. Ketaatan Rakyat Ketaatan kepada pemegang kekuasaan (pemerintah) merupakan kelanjutan dari ketaatan terhadap Allah swt dan Rasul-Nya, sebab menaati waliul amri dalam Islam bukanlah karena jabatan mereka, melainkan karena mereka melaksanakan syariat Allah dan Rasul-Nya. Jadi, jika seorang penguasa menjalankan pemerintahan tidak sesuai dengan tuntunan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, maka hilanglah kewajiban kita untuk tunduk dan taat pada penguasa tersebut.

c. Musyawarah Antara Penguasa dengan Masyarakat Musyawarah merupakan salah satu prinsip pemerintahan Islam, sedangkan teknis pelaksanaanya secara khusus tidak diterapkan. Dengan demikian
ol-3%20No-1,%2009-2003/314-sukron.pdf . Diakes pada tanggal 11 Desember 2011, Pukul 15.30 WIB. 15 , Munawir Sjadzali. Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. (Jakarta: Universitas Indonesia, 1990)

bentuknya tergantung pada kebutuhan saja. Musyawarah juga merupakan sistem dan lembaga tertinggi yang telah ditetapkan oleh Islam. Tujuannya adalah agar penguasa mengetahui apakah keputusan dan kebijakan yang telah diambilnya benar-benar sesuai dengan kondisi dan dapat diterima oleh masyarakat secara keseluruhan. Sehingga bukan hanya bagi kepentingan tertentu saja. Dalam perjalanannya untuk mewujudkan pemikirannya tentang negara Islam, Sayyid Qutb mengambil langkah yang sangat menarik, sesuai dengan ajaran yang ada dalam Islam. Menurut Sayyid Qutb dunia dipahami memakai kerangka dualism. beliau menyatakan bahwa ada Partai Tuhan (hizb Allah) (yang mematuhi ajaran Tuhan) dan Partai Setan (yang tidak mematuhi ajaran Tuhan).16 Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Sayyid Qutb adalah seorang pemikir yang mengedepankan kedaulatan Tuhan dalam pembentukan negara dan menjalankan pemerintahan, Kemurnian ajaran Islam menjadi pedoman dalam menjalankan pikiran-pikirannya, walaupun banyak menuai kontroversi karena dianggap membangkitkan gerakan radikalisme, namun, sesungguhnya hal tersebut dilakukan agar tidak terjadinya penyimpangan terhadap ajaran agama Islam, Sayyid Qutb berpegang teguh pada dasar hukum yang menjadi pedomannya yaitu Al-Quran dan As-Sunnah serta Hadits.

PENUTUP Kesimpulan Dari Pembahasan kelompok kami, sudah jelas bahwa baik Maududi ataupun juga Sayyid Qutb melihat bahwa Islam adalah agama yang paripurna. Yang tidak hanya mengatur kehidupan sosial semata namun juga kehidupan politik yang lebih
16

Moussalli dalam Anthony Black. Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini. (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2006), 581.

luas cakupannya. Sehingga mereka melihat bahwa adanya pemisahan antara agama dengan politik, seperti yang terjadi di negara-negara di masa itu adalah sesuatu yang salah. Kedua tokoh ini juga melihat paham demokrasi yang selama ini memberikan mandat kekuasaan tertinggi kepada rakyat adalah suatu kesalahan. Menurut mereka berdua, kekuasaan tertinggi adalah berada di Allah SWT. Sehingga pemimpin di suatu negara bertanggung jawab kepada Allah. Kedua tokoh ini juga mengingatkan bahwa sumber hukum paling utama bukanlah hukum buatan manusia, melainkan adalah Al-Quran dan juga Al-Hadits. Meskipun konsep negara dan pemerintahan yang mereka kemukakan nampak sulit untuk terealisasikan karena dibutuhkan adanya tatanan masyarakat yang memiliki fondasi ke-Imanan atau kepercayaan yang sangat kuat terhadap Agama Islam dalam hal ini adalah soal pertanggung jawaban kekuasaan. Meskipun demikian, pemikiran kedua tokoh ini di abad ke 20 merupakan suatu terobosan, dimana negaranegara di masa mereka lebih memilih mengadopsi nilai-nilai barat ketimbang memilih menggunakan ajaran Agama mereka sendiri.

Daftar Pustaka
Sumber Buku Aziz, Abdul. Chiefdom Madinah: Salah Paham Negara Islam. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2011. Black, Anthony. Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2006. Kamaruzzaman. Relasi Islam dan Negara: Perspektif Modernis dan Fundamentalis. Magelang: Indonesiatera, 2001. Sjadzali, Munawir. Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1990

Syanwani, Munifah. Perbandingan Pemikiran Politik Islam Abu Ala Al- Maududi dengan Pemikiran dan Gerakan Partai Bulan Bintang di Indonesia. Tesis Magister Sains, Universitas Indonesia, 2004. Ulum, Misbahul. Relasi Islam dan Negara, Studi Kasus Pengaruh Gerakan Dakwah dan Politik Ikhwanul Muslimin terhadap Partai Keadilan Sejahtera. Tahun 2004. Tesis Magister Sains, Universitas Indonesia, 2004.

Sumber Internet Kamil, Sukron. Peta Pemikiran Politik Islam Modern dan Kontemporer. http://www.paramadina.ac.id/downloads/Jurnal%20Universitas%20Paramadi na/Jurnal%20UPM%20Vol-3%20No-1,%2009-2003/314-sukron.pdf . Diakses pada tanggal 11 Desember 2011, Pukul 15.30 WIB.

Rahimah. Pandangan Politik Maududi Tentang Negara Islam. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1626/1/arab-rahimah6.pdf. Diakses pada Tanggal 17 November 2011, Pukul 11.27 WIB. Qutb, Sayyid. Beberapa studi tentang Islam. http://www.muslimdiary.com/downloads/bbrp%20studi%20ttg%20islam%20%20Sayyid%20Quthb.pdf . Diakses Tanggal 11 desember 2011, Pukul 21.00