Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Semenjak gigi pertama kali erupsi yaitu umur 6 bulan setelah kelahiran, susunan gigi manusia telah disesuaikan untuk disiapkan dalam fungsi awal dalam proses mengunyah makanan. Bentuk gigi yang tumbuh dan tulang pendukungnya dan ruang diantara gigi sudah lebih dulu ditentukan secara genetik dan faktor faktor ini tidak selalu memberi fungsi yang optimal. Pada umunya terdapat suatu kelainan baik pada bentuk gigi, tulang pendukung maupun jarak ruang diantara gigi yang dapat menimbulkan berbagai dampak secara langsung maupun dampak tidak langsung. Sebagian besar anak yang sedang memasuki periode gigi bercampur mungkin mengalami masalah-masalah seperti dental crowding, spacing, protrusi gigi, gigi tanggal dan kadang masalah perkembangan rahang. Beberapa masalah ortodontik tersebut mungkin merupakan masalah genetik. Masalah maloklusi lainnya dapat terjadi dan berkembang sepanjang waktu (Thomson, 2007). Oklusi sendiri merupakan kondisi saat oklusal gigi berkontak antara rahang atas dan rahang bawah tanpa diperantarai makanan atau benda lain, sehingga maloklusi dapat diartikan bahwa adanya sesuatu kelainan yang mengahalangi berkontaknya gigi rahang atas dan rahang bawah. Maloklusi dapat terjadi akibat malrelasi antara pertumbuhan dan posisi serta ukuran gigi (Thomson, 2007). Kebiasaan buruk anak dapat menyebabkan kelainan pada kondisi gigi anak. Jika kebiasaan tersebut dihentikan sebelum masa erupsi gigi permanen, hal tersebut tidak akan memberikan efek jangka panjang. Namun jika kebiasaan tersebut berkelanjutan maka dapat terjadi keadaan openbite anterior, posterior crossbites, dan maloklusi kelas II (Thomson, 2007).

1.2 Tujuan

1. Mengetahui pengertian dan syarat dari oklusi. 2. Mengetahui pengertian, klasifikasi, etiologi, mekanisme, dan dampak maloklusi. 3. Mengetahui hubungan antara pertumbuhan dan perkembangan manusia dengan maloklusi. 4. Mengetahui kaitan perkembangan psikologi pasien dengan rancangan perawatan.

1. Klasifikasi Maloklusi a. Klasifikasi oklusi menurut Edward Angle (1899) : 1) Class I Lengkung mandibula normalnya mesiodistal berhubungan terhadap lengkung maksila, dengan mesiobukal cusp dari M1 permanen maksila menutupi grove bukal dari M1 permanen mendibula dan mesio lingual cusp M1 maksila menutupi fossa oklusal dari M1 permanen mandibula ketika rahang diistirahatkan dan gigi dalam keadaan tekanan. 2) Class II Cusp mesiobukal m1 permanen maksila menutupiu antara cusp mesio bukal M1 mandibula permanen dan aspek distal dari P1 mandibula. Juga mesiolingual cusp M1 permanen maksila menutupi mesiolingual cusp dari M1 permanen mandibula. Angle membagi class II maloklusi dalam 2 divisi dan 1 subdivisi berdasarkan angulasi labiolingual dari maksila, yaitu ; i. Class II divisi I Dengan relasi Molar terlihat seoerti tipe kelas II, gigi insisivus maksila labio version. ii. Class II divisi II Dengan relasi molar terlihat seperti tipe kelas II, Insisivus maksila mendekati normal secara anteroposterior atau secara

ringan dalam linguoversion sedangkan I2 maksila tipped secara labial atau mesial. iii. Class II subdivisi Saat relasi kelas II molar, terjadi oada satu sisi pada lengkung dental. 3) Class III Lengkung dan badan mandibula berada pada mesial lengkungan maksila dengan cusp mesiobukal M1 permanen maksila beroklusi pada ruang interdental di antara ruang distal dari cusp distal pada M1 permanen mandibula dan aspek mesial dari cusp mesial m2 mandibula. Class III terbagi 2, yaitu : i. Pseudo class III maloklusi Ini bukan maloklusi kelas 3 yang sebenarnya, tapi tampak serupa, disini mandibula bergesar ke anterior dengan fossa gleroid dengan/ kontak prematur gigi atau beberapa alasan lainnya ketika rahang berada pada oklusi sentrik. ii. Kelas III subdivisi Maloklusi sesuai dengan unilaterally. Pada kondisi normal, relasi antar molar pertama normal begitu juga gigi-gigi yang ada di anteriornya (depan-red).

b. Klasifikasi Dewey Klasifikasi Dewey yaitu modifikasi dari angle kelas I dan kelas III, Modifikasi angles kelas I: 1) Tipe 1 : Angle Class I dengan gigi anterior maksila crowding. 2) Tipe 2 : Angle Class I dengan gigi I maksila labio version 3) Tipe 3 : Angle Class I dengan gigi I maksila lingual version terhadap I mandibula. ( anterior cross bite ). 4) Tipe 4 : M dan atau P pada bucco atau linguo version, tapi I dan C dalam jajaran normal ( cross bite posterior ). 5) Tipe 5 : M ke arah mesio version ketika hilangnya gigi pada bagian mesial gigi tersebut, ( contoh hilangnya M susu lebih awal dan P2).

Modifikasi angles kelas III: 1) Tipe 1 : Suatu lengkungan saat dilihat secara individu bidang pada jajaran yang normal, tetapi oklusi di anterior terjadi edge to edge. 2) Tipe 2 : I mandibula crowding dengan I maksila ( akibat I maksila yang terletak kea rah lingual ). 3) Tipe 3 : Lengkung maksila belum berkembang sehingga terjadi cross bite pada I maksila yang crowding dan lengkung mandibula perkembangannya baik dan lurus.

c. Klasifikasi Lischers, modifikasi dengan Klasifikasi angel: 1) Neutroklusi 2) Distoklusi 3) Mesioklusi menyangkut : Sama halnya dengan klasifikasi Angel kelas 1 : Sama halnya dengan klasifikasi Angel kelas 2 : Sama halnya dengan klasifikasi Angel kelas 3 penambahan versi pada sebuah kata untuk

Nomenklatur Lischer untuk malposisi perindividual gigi geligi

mengindikasikan penyimpangan dari posisi normal. 1) Mesioversi 2) Distoversi 3) Lingouversi 4) Labioversi 5) Infraversi 6) Supraversi 7) Axiversi 8) Torsiversi 9) Transversi : Lebih ke mesial dari posisi normal : Lebih ke distal dari posisi normal : Lebih ke lingual dari posisi normal : Lebih ke labial dari posisi normal : Lebih rendah atau jauh dari garis oklusi : Lebih tinggi atau panjang melewati garis oklusi : Inklinasi aksial yang salah, tipped. : Rotasi pada sumbunya yang panjang : Perubahan pada urutan posisi.

d. Klasifikasi Bennette Klasifikasi ini berdasarkan etiologinya: 1) Kelas I Abnormal lokasi dari satu atau lebih gigi sesuai faktor lokal. 2) Kelas II

Abnormal bentuk atau formasi dari sebagian atau keseluruhan dari salah satu lengkung sesuai kerusakan perkembangan tulang. 3) Kelas III Abnormal hubungan diantara lengkung atas dan bawah dan diantara salah satu lengkung dan kontur fasial sesuai dengan kerusakan perkembangan tulang.

e. Klasifikasi Simons Simons (1930) yang pertama kali menghubungkan lengkung gigi terhadap wajah dan kranial dalam tiga bidang ruang: Frankfort Horizontal Plane (vertikal) Frankfort Horizontal Plane atau bidang mata-telinga ditentukan dengan menggambarkan garis lurus hingga margin tulang secara langsung di bawah pupil mata hingga ke margin atas meatus eksternal auditory (derajat di atas tragus telinga). Digunakan untuk

mengklasifikasi maloklusi dalam bidang vertikal. 1) Attraksi Saat lengkung gigi atau atau bagian dari penutup bidang frankfort horizontal menunjukkan suatu attraksi (mendekati). 2) Abstraksi Saat lengkung gigi atau atau bagian dari penutup bidang frankfort horizontal menunjukkan suatu abstraksi (menjauhi). Bidang Orbital (antero-posterior) Maloklusi menggambarkan penyimpangan antero-posterior

berdasarkan jaraknya, adalah: 1) Rotraksi Gigi, satu atau dua, lengkung dental, dan/atau rahang terlalu jauh ke depan. 2) Retraksi

Satu gigi atau lebih lengkung gigi dan/atau rahang terlalu jauh ke depan. Bidang Mid-Sagital (transversal) Maloklusi mengklasifikasikan berdasarkan penyimpangan garis melintang dari bidang midsagital. 1) Kontraksi Sebagian atau seluruh lengkung dental digerakkan menuju bidang midsagital 2) Distraksi (menjauhi) Sebagian atau seluruh lengkung gigi berada pada jarak yang lebih dari normal.

f. Klasifikasi Skeletal Salzmann (1950) yang pertama kali mengklasifikasikan struktur lapisan skeletal. 1) Kelas 1 Skeletal Maloklusi ini dimana semata-mata dental dengan tulang wajah dan rahang harmoni dengan satu yang lain dan dengan posisi istirahat kepala. Profilnya orthognatic. Kelas 1 dental ditentukan

berdasarkan maloklusi dental : i. divisi I : Malrelasi lokal insisor, caninus , dan premolar. ii. divisi II : Protrusi insisor maksila iii. divisi III : Lingouversi insisor maksila iv. divisi IV : Protrusi bimaksilari 2) Kelas II Skeletal Ini menyangkut maloklusi dengan perkembangan distal mandibular subnormal dalam hubungannya terhadap maksila. Dibagi menjadi dua divisi: i. divisi I Lengkung dental maksila dalam batas sempit dengan crowding pada regio caninus, crossbite bisa saja ada ketinggian wajah

vertikal menurun. Gigi anterior maksila protrusif dan profilnya retrognatic. ii. divisi II Merupakan pertumbuhan berlebih mandibula dengan sudut mandibula yang tumpul. Profilnya prognatic pada mandibula.

g. Klasifikasi Caninus Untuk menentukan oklusi, tidak hanya dilihat dari relasi molar pertama saja namun dapat dilihat dari caninus juga. Berikut klasifikasi caninus : 1) Kelas 1 : Caninus rahang atas beroklusi pada ruang bukal antara caninus rahang bawah dan premolar satu rahang bawah 2) Kelas 2 : Caninus rahang atas oklusi di anterior sampai ruang bukal di antara caninus rahang bawah dan premolar satu rahang bawah. 3) Kelas 3 : Caninus rahang atas oklusi di posterior sampai ruang bukal diantara caninus rahang bawah dan premolar satu rahang bawah.

BAB III KESIMPULAN Maloklusi gigi atau kelainan kontak pada gigi rahang atas dan bawah yang tidak diperbaiki atau diberikan perawatan dengan tetap dan sejak dini akan menyebabkan kelainan pada fungsi-fungsi dan permasalahan higienitas lainnya. Posisi gigi yang berjejal misalnya, menyebabkan bakteri berkembang biak di daerah-daerah yang sulit dijangkau dengan sikat gigi. Jaringan penunjang gigi seperti gusi pun dapat rusak. Kondisi lebih berat akibat maloklusi adalah kerusakan pada sendi temporo mandibula (sendi antara tulang rahang rahang dan tulang wajah) yang bisa menimbulkan sakit kepala, rasa dengung pada telinga yang terus menerus atau masalah pencernaan. Oklusi yang normal dapat dilihat berdasarkan struktur skeletal maupun dental-nya, pengkategorian normalnya oklusi seseorang berpatokan pada relasi molar 1 dan kaninus umumnya, seperti di dalam penjelasan disebutkan cups

mesiobukal dari M1 rahang atas tepat pada groove bukal dari M1 rahang bawah dan seterusnya. Maloklusi seperti di dalam penjelasan merupakan gangguan pada proses kontak antara gigi rahang atas dan bawah sesuai dengan syarat oklusi. Maloklusi banyak sekali pengklasifikasiannya, berbeda pakar berbeda pula

pengklasifikasiaannya. Namun pengklasifikasian yang umum digunakan adalah pengklasifikasian dari Edward Angle yang membagi maloklusi menjadi tiga Class, sementara itu pakar yang lain mengembangkan pengklasifikasian Angle berdasarkan variasi yang timbul pada kasus maloklusi. Etiologi maloklusi secara umum banyak sekali ada yang mengkategorikan menjadi faktor luar dan lokal, seperti pertumbuhan dan organ kepala sekitar mulut yang tidak harmonis, adanya penyakit sistemik, faktor genetik, kebiasaan buruk yang sering dilakukan sehingga menyebabkan maloklusi, muskulus sekitar mulut yang abnormal atau tidak seimbang dalam memberikan tekanan, malfungsi dari lidah, gigi, dan tulang rahang, metabolisme tidak normal, kelainan hormonal dan lain-lain. Gangguan pada proses oklusi umumnya dapat diakibatkan faktor herediter yang mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan dari komponen-komponen penyusun oklusi seperti dental, skletal dan neuromuskular terganggu Namun, gangguan oklusi atau maloklusi juga bisa ditimbulkan oleh kebiasaan buruk atau faktor lain, seperti kebiasaan menghisap jari tangan sejak kecil, kebiasaan menjulurkan lidah, atau kondisi pasca kecelakaan yang melibatkan bagian muka, kehilangan gigi terlalu dini, dan banyak faktor lainnya. Pada kasus pbl kali ini ,Menghisap jempol adalah salah satu dari kebiasaan anak yang dapat menyebabkan maloklusi (gigi dan rahang dalam posisi yang tidak normal), kalau hal ini dibiarkan terus hingga anak melewati masa batita. Gigi anak dapat menjadi maju, atau dapat terjadi juga open bite yaitu saat rahang dikatupkan gigi belakang atas dan bawah sudah berkontak namun gigi depan atas dan bawah tetap terbuka.. Bahkan terkadang hingga menyebabkan perubahan bentuk langitlangit mulut karena tekanan jempol di daerah tersebut. Dalam perawatan orthodonsi banyak hal yang harus ditinjau, terkait psikologi pasien tidak hanya fisiknya, dengan memperhitungkan sifat dan

kebiasaan pasien akan memberikan kemudahan dalam melakukan edukasi pada pasien. Setelah itu akan dilakukan pencegahan dan perawatan sesuai tingkat keparahan derajat kelas maloklusi nya dan juga memperhatikan pada usia pasien terkait perhitungan growth spurt dapat menunjang proses perawatan.