Anda di halaman 1dari 1

Tokolitik merupakan obat yang digunakan untuk menekan kontraksi uterus sehingga dapat menunda persalinan sampai tujuh

hari sejak terapi diberikan. Berbagai obat yang mempunyai efek sebagai tokolitik adalah beta-agonist, calcium channel blockers, prostaglandin synthetase inhibitors, nitric oxide donors, dan oxytocins receptor antagonist. Sebuah systematic review yang meliputi 17 trials menguji efektivitas tokolitik (ritodrine, isoxuprine, terbutaline, magnesium sulphate, indomethacin, dan atosiban) dibandingkan dengan placebo. Beta agonists, indomethacin, dan atosiban mempunyai efek yang signifikan menunda persalinan dalam 24 jam, 48 jam, dan 7 hari, sedangkan magnesium sulfat tidak. Namun dari berbagai penelitian, tidak terdapat bukti yang cukup kuat bahwa tokolitik dapat meningkatkan keluaran (menurunkan morbiditas atau mortalitas) setelah persalinan prematur. Oleh karena itu cukup rasional untuk tidak menggunakan tokolitik pada setiap persalinan prematur. Meskipun demikian tokolitik dapat dipertimbangkan untuk diberikan pada persalinan yang sangat prematur, wanita yang perlu dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai pelayanan NICU (in utero transfer), atau menunda persalinan untuk pemberian kortikosteroid (pematangan paru). Pemilihan Tokolitik Pemilihan obat hendaknya mempertimbangkan rasio manfaat dan risiko dari masing-masing obat. Dari segi efektivitas tokolitik, hanya terdapat sedikit perbedaan efek dalam menunda kelahiran. Namun perbedaan risiko efek samping pada ibu cukup bermakna. Sedangkan efek samping pada bayi (termasuk masa perinatal), saat ini belum terdapat bukti yang cukup kuat. Ritodrine merupakan obat yang paling sering digunakan. Namun seperti beta agonists lainnya, ritodrine mempunyai banyak risiko efek samping dan kadang-kadang dapat terjadi efek samping serius. Efek samping beta agonists yang paling sering terjadi adalah palpitasi (48%), tremor (39%), mual (20%), sakit kepala (23%), dan sakit dada (10%). Efek samping yang serius meskipun jarang adalah edema paru, dan biasanya berkaitan dengan pemberian cairan intravena yang agresif. Tokolitik lain (magnesium sulfat, indomethacin, nifedipin, dan atosiban) mempunyai efek samping yang lebih jarang dan lebih ringan. Sebagai contoh risiko efek samping atosiban bila dibandingkan dengan beta agonists pada ibu hamil: sakit dada (1% pada atosiban vs. 5% pada beta agonists), palpitasi (2% vs. 16%), takikardi (6% vs. 76%), hipotensi (3% vs. 6%), sesak napas (0,3% vs. 7%), mual (12% vs. 16%), muntah (7% vs. 22%), dan sakit kepala (10% vs. 19%). Demikian juga dengan nifedipin bila dibandingkan dengan beta agonists, nifedipin selain mempunyai efektivitas lebih baik dalam menunda kelahiran juga mempunyai risiko efek samping yang lebih rendah. Selain itu, calcium channel blockers juga tampak menurunkan risiko sindrom gawat napas dan jaundice pada bayi. Apabila dibandingkan antara indomethacin dengan beta agonists, saat ini belum terdapat cukup bukti perbedaan efektivitas antara keduanya. Namun indomethacin tampak mempunyai risiko efek samping lebih minimal pada ibu. Meskipun demikian, indomethacin mempunyai risiko lebih besar terjadinya penutupan dini duktus arteriosus, vasokontriksi pembuluh darah renal dan otak, dan enterokolitis nekrotikans yang berkaitan dengan pemberian dosis besar dan waktu lama. Apabila mempertimbangkan efektivitas dan risikonya, ritodrine saat ini tidak lagi direkomendasikan sebagai pilihan terbaik. Atosiban atau nifedipine menjadi alternatif pilihan karena mempunyai efektivitas yang serupa dengan risiko efek samping pada ibu dan efek samping berat yang lebih sedikit. Namun perlu juga diperhatikan bahwa harga atosiban lebih mahal daripada nifedipin atau beta agonists dan saat ini belum tersedia di Indonesia. Nifedipin mempunyai keuntungan lain yaitu murah dan ada sediaan oral. Saat ini belum terdapat konsensus mengenai dosis nifedipine yang tepat. Dosis yang pernah dilakukan pada uji klinis adalah 10 mg sublingual setiap 15 menit selama 1 jam pertama, hingga kontraksi berhenti, kemudian dilanjutkan dengan nifedipine lepas lambat 60 160 mg/hari tergantung pada kontraksi uterus.

http://dokterkeluargaku.blogspot.com/2011/04/manfaat-dan-risiko-tokolitik-pada.html