Anda di halaman 1dari 3

Gemetar.

Aku sudah berdiri sejak lima menit yang lalu di depan pintu masuk kaca transparan bangunan putih ini. Rumah Sakit Prima Medika. Berkali-kali pula aku ditabrak orang-orang yang lalu-lalang hendak masuk ke dalamnya diiringi tatapan heran dan kesal mereka. Biar saja, coba aja kalo mereka jadi aku.. Seorang satpam yang daritadi memperhatikanku curiga kini mendekatiku. Ada yang bisa saya bantu mba? Aku meringis menatap satpam itu. Bahkan menjawab pertanyaannya saja aku tak mampu. Buru-buru aku menggeleng kemudian berlari masuk ke dalam. BRAK!! Aduuuuhh Karena tidak hati-hati dan memperhatikan sekelilingku aku bertabrakan dengan seseorang yang hendak masuk juga. Aku jatuh terduduk. Tiba-tiba kurasakan sakit dari mulutku yang sedari tadi kutahan makin menjadi-jadi. Aku mengusap mulutku. Astaga. Darah!. Darah keluar dari mulutku. Air mataku mengalir. Sakit sekali. Maaf..Maaf..saya buru-buru jadi ga sengaja nabrak kamu..Hei, kamu baik-baik aja?Ayo kubantu berdiri.. sebuah suara lembut menyapaku, tangannya terulur padaku. Aku menatapnya. Seorang laki-laki tinggi berwajah tampan dan lembut dengan jas putihnya. Ya ampunmulut kamu berdarah!! Duh..ayo sini, cepat diobati.. Lelaki itu panik melihatku yang berlinang air mata sambil memegang mulutku yang mengeluarkan darah. Dia setengah menyeretku masuk ke dalam. Berbicara dengan seorang perawat di bagian pendaftaran. Dari pembicaraan mereka aku tahu ternyata lelaki yang menabrakku tadi seorang dokter gigi. Dia akan memeriksaku sebentar lagi. Yeah, beruntung sekali kamu Tita.. Hal yang kamu takutkan dan hindari sejak tadi kini malah menghampirimu. Nah.. Lelaki dokter gigi itu kini menoleh padaku. Kamu udah pernah berobat ke sini sebelumnya? Aku menggeleng. Ini pertama kalinya aku ke rumah sakit. Aku selalu ketakutan jika berurusan dengan rumah sakit, obat, jarum suntik, bahkan dokter.

Kalau gitu kamu isi dulu formulir pendaftarannya. Nanti kamu akan diantar Suster Rita ke ruangan saya.. Dia mengangguk pada seorang suster berwajah ramah yang tadi berbicara dengannya. Suster bernama Rita itu tersenyum ramah padaku. Baiklah.. saya tunggu di ruangan ya.. Dia pun berlalu meninggalkanku yang masih termangu menatap formulir pendaftaran poliklinik gigi itu. Tolong, aku ga mau ke dokter gigi!!!, jeritku dalam hati. Mau tak mau akhirnya kuisi formulir itu, kemudian diantar suster Rita aku menuju ruang praktek dokter itu. Sampailah kini aku di depan ruangan yang takuti. Poliklinik gigi dan mulut. Di depan pintunya ada papan nama bertuliskan Drg. Evan. Jadi namanya Evan.. Ga usah takut mba Tita.. Dokter Evan baik banget kok..Cakep lagi.. Suster itu menyemangatiku sambil mengedipkan mata padaku sebelum kami masuk ke dalam. Aku meringis tersipu mendengarnya. Dokter Evan menyambutku ramah. Kemudian memeriksa data-dataku sebentar dan menuntunku untuk berbaring di dental chair. Jantungku berdebar ketakutan melihat alat-alat kedokteran yang ada di depanku. Ini lebih dari sekedar mimpi buruk!. Keringat dingin membasahi telapak tanganku. Namun ketakutanku perlahan hilang. Benar kata suster Rita, dokter ini baik sekali. Dia pintar sekali membujuk dan mengatasi ketakutanku. Bahkan ia sampai membiayai seluruh pengobatanku karena merasa bersalah dan bertanggung jawab telah memperparah sakit gigiku. Dokter, tampan, baik hati. Aku jatuh cinta dibuatnya. Tak sabar rasanya menunggu hari kontrol berikutnya. *** Tiga hari kemudian Hah?? Dokter Evan ga masuk sus? aku terkejut kecewa. Aaahh.. Padahal dia yang menyuruhku datang untuk control tiga hari lagi. Iya mba Tita, hari ini dokter Evan menikah.. jadi mba Tita akan ditangani oleh dokter yang lain. . . Dokter Evan Menikah?? Selanjutnya penjelasan dari suster tersebut tak kudengar. Rasa ngilu di gigiku yang sudah hilang kembali muncul. Gigiku sakit lagi