PENDAHULUAN Salah satu misi Rasulullah diutus ke dunia ini oleh Allah adalah membangun rakyat yang beradab

. Langkah awal yang dilakukan Nabi Muhammad menanamkan pemahaman keimanan dan keberadaannya di muka bumi ini. Ajaran nabi menjadikan manusia sebagai pribadi yang bebas dalam mengoptimalkan potensi dirinya. Kebebasan merupakan unsur kehidupan yang paling mendasar dipergunakan sebagai syarat untuk mencapai keseimbangan hidup. Nilai-nilai manusiawi inilah yang menyebabkan ajaran Nabi Muhammad berlaku hingga akhir zaman. Setelah wafatnya nabi kepemimpinan dipegang oleh Khulafa al Rasyidin, berbagai perkembangan, gagasan, dan pemikiran muncul pada masa itu. Hal ini tercermin dari kebijakan-kebijakan yang berbeda antar Khalifah itu sendiri, kebijakan-kebijakan itupun muncul sebagai akibat dari munculnya masalah-masalah baru. Salah satunya pemenuhan kehidupan masyarakat di bidang ekonomi sehingga masalah teknis untuk mengatasi masalah-masalah perniagaan muncul pada waktu itu. Sejumlah aturan yang bersumberkan Al-Qur’an dan Hadist Nabi hadir untuk memecahkan masalah ekonomi yang ada. Masalah ekonomi menjadi bagian yang penting pada masa itu. Pemikiran ekonomi Islam dimulai sejak Muhammad dipilih menjadi rasul, beliau mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menyangkut dengan kemaslahatan umat, selain masalah hukum dan politik, tetapi juga masalah ekonomi atau perniagaan-mu’amalat. Masalah ekonomi rakyat menjadi perhatian Rasulullah karena masalah itu merupakan pilar penyangga keimanan yang harus diperhatikan, hal ini terbukti dengan adanya hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah bersabda yang artinya : “Kemiskinan membawa kepada kekafiran.” Maka upaya memberantas kemiskinan merupakan bagian dari kebijakan Rasulullah SAW. Selanjutnya kebijakan-kebijakan Rasulullah menjadi pedoman oleh pada penggantiNya yaitu Khulafa al Rasyidin dalam memutuskan kebijakan-kebijakan ekonomi. Al-Qur’an dan hadist menjadi sumber dasar sebagai teori ekonomi. Membicarakan ekonomi dalam studi keislaman secara utuh, tidak cukup

[1]

dikemukakan pada tulisan yang sempit ini, karena ekonomi dalam studi keislaman mencakup beberapa segi dan mempunyai ketergantungan dengan beberapa disiplin ilmu lainnya sebagaimana juga yang ditemukan pada studi ekonomi umum. Persolan sistem bank syariah hanyalah sebagian kecil dari sederetan masalah-masalah yang terdapat dalam ekonomi dalam studi keislaman. Kendati demikian, sistem ekonomi Islam mempunyai ciri khas dibanding sistem ekonomi lain (kapitalis-sosialis). Ekonomi Islam bersifat robbani, menjunjung tinggi etika, menghargai hak-hak kemanusiaan dan bersifat moderat.

PEMBAHASAN

A. Masalah kerangka konseptual Ilmu adalah suatu aktifitas manusia dalam mana subyek sebagai yang mengetahui memiliki kedudukan sentral. Pengetahuan dikembangkan di dalam suatu konteks sejarah dan budaya dan karena itu ditentukan oleh batas-batas dari perangkat konseptual dan tehnis dari situasinya dan budayanya. Anggapan bahwa kita dapat memperoleh akses langsung terhadap realitas melalui pengalaman inderawi kita, yang merupakan rukun iman positivis, menjadi titik fokus serangan terhadap positivisme. Pengalaman inderawi tidak lain sebuah konstruksi, suatu interaksi antara skema konseptual, struktur kognitif dan apparatus linguistic yang terkondisikan secara budaya di satu pihak dengan realitas dunia di pihak lain. Jadi apa yang secara langsung diberikan oleh pengalaman tidaklah sama dengan dunia sebagai realitas pada dirinya. Bila kita beralih dari ilmu-ilmu pada umumnya ke dalam cabang tertentu, lebih spesifik seperti ilmu ekonomi, kita akan menemukan berbagai kritik yang menggambarkan ketidakpuasan terhadap struktur keilmuan dalam ilmu ekonomi yang ada sekarang. Khursyid Ahmad secara agak panjang mendeskripsikan berbagai berbagai kegelisahan terhadap paradigm mainstream. Situasi riil dunia sekarang membuat banyak ekonomi meragukan secara serius universalitas, realitas, produktivitas dan bahkan moralitas sejumlah asumsi dasar dan konsepsi inti paradigma tersebut. Thomas Ulen menegaskan bahwa banyak pidato tingkat tinggi terkini di lingkungan Asosiasi Ekonomi Amerika bersikap sangat kritis terhadap teori ekonomi makro dan mikro yang sudah mapan sekarang. Tantangannya menyangkut bagian inti yang mengabaikan dimensi moral, melainkan secara aktif menolak dimasukkannya dimensi moral tersebut. Paradigma baru di sisi lain mengakui peran kunci nilai-nilai moral. Hanya dengan cara demikian dimungkinkan untuk mencari apa yang benar dan sekaligus apa yang menyenangkan. Atas dasar apa yang dikemukakan di atas mengenai titik kelemahan yang menjadi sumber keluhan dalam konstruksi keilmuan yang ada, maka integrasi keilmuan pada intinya dimaknai sebagai upaya restorasi fungsi agama yang diwahyukan Tuhan serta akal dan pengalaman manusia sebagai sumber pengetahuan. Ada dua gerak integrasi ilmu.

[3]

Pertama, gerak integrasi dari agama ke dimensi empiris. Gerakan ini dilakukan dalam konteks rekonstruksi ilmu-ilmu agama yang memang sudah sarat dengan muatan agama, akan tetapi kurang atau bahkan tidak memiliki dimensi empiris. Kedua, gerak integrasi dengan melakukan pemungsian kembali sumber-sumber kewahyuan dan keagamaan dalam kegiatan ilmiah. Sehubungan dengan gerak kedua ini Louay Safi menegaskan.
Merumuskan sebuah metodologi yang mampu menganalisi gejala-gejala sosial yang rumit di satu pihak dan memfasilitasi peyimpulan hukum-hukum dan konsep-konsep dari wahyu ilahi di pihak lain merupakan salah satu perhatian utama kesarjanaan Islam kontemporer … … …

B. Kerangka metodologis integrasi Islamisasi ilmu pada intinya adalah bertujuan memberikan landasan

pengembangan ilmu pengetahuan berdasarkan visi Islam. Caranya dalam ilmu ekonomi adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilai etika Islam (Naqvi), wahyu Islam (Louay Safi) atau maqashid syariah (M. Umer Chapra) ke dalam konstruksi keilmuan ilmu ekonomi. Muhammad Anas az-Zarqi’ membedah ilmu dengan cara lain ke dalam tiga unsur juga, yaitu unsur berupa praanggapan- praanggapan, unsur provisi normatif (komponen nilai), dan unsur berupa komponen deskriptif. Unsur pertama merupakan praasumsi yang bersumber kepada pandangan umum mengenai alam dan, bagi ilmu-ilmu sosial, juga mengenai manusia. Contohnya dalam fisika adalah keyakinan – yang mendahului penelitian ilmiah – bahwa alam dan materi tunduk kepada hukum-hukum yang ajeg dan bahwa hukum-hukum ini dapat ditemukan. Unsur kedua adalah provisi-provisi normatif yang ilmu tidak dapat menghindarkan diri dari padanya dan ilmuan harus menerimanya dalam proses penelitiannya. Unsur ketiga adalah bagian deskriptif dari ilmu, yang berupa kumpulan fakta, tesis-tesis, teori umum dan hukum-hukum yang berkaitan dengan obyek ilmu.

C. Proses integrasi

Integrasi syari’ah (agama) dengan ilmu ekonomi dilakukan dengan memasukkan pernyataan-pernyataan normatif Islam yang berkaitan dengan ekonomi ke dalam preferensi-prefenrensi ekonomi sehingga ruang preferensi ekonomi menjadi membesar karena masuknya pernyataan normatif agama Islam ke dalamnya pengintegrasian pernyataan normatif syari’ah ke dalam preferensi ekonomi akan berakibat timbulnya perubahan pada pernyataan deskriptif ekonomi dan dengan demikian ilmu ekonomi mengalami suatu transformasi menjadi ekonomi Islam. Berikut cara atau proses integrasi: 1) Membangun paradigma Paradigma ekonomi Islam dibangun berdasarkan sejumlah item ajaran Islam, antara lain keimanan kepada Allah dan hari kemudian, keyakinan bahwa manusia adalah ciptaan Allah dan merupakan khalifah di atas bumi. Sebagai demikian manusia itu bersaudaram dan sama di hadapan sang Pencipta. Alam semesta diciptakan Tuhan dan diamanahkan kepada manusia untuk mengelolanya guna kemakmuran bersama. Atas dasar itu ekonomi Islam didasarkan kepada suatu paradigma yang menjadikan keadilan sosio-ekonomi sebagai tujuannya (Q. 57:25). 2) Perumusan teori Pengembangan teori perilaku konsumen dalam ilmu ekonomi konvensional dengan mengintrodusir konsep maslahah dalam syari’ah. Bila dalam ekonomi konvensional keinginan (want) dipandang sebagai kekuatan motivasi dalam perilaku ekonomi dan bahwa keinginan itu sama dan tidak terbatas serta harus dipenuhi dari sumber daya langka (terbatas) , maka dalam Islam kekuatan motivasi itu adalah kebutuhan dan bahwa kebutuhan itu, sebagaimana diajarkan dalam teori maslahat, tidak diperlakukan sama, melainkan bertingkat-tingkat.

[5]

3) Perumusan metodologi Nilai-nilai atau prinsip-prinsip agama Islam dapat dijadikan dasar perumusan metodologi sehingga merupakan metodologi terpadu. Dalam kaitan dengan ilmu ekonomi Islam upaya pada arah ini telah mulai dilakukan, meskipun pada baru tahap awal dan belum mencapai suatu hasil yang memuaskan. 4) Perumusan prosedur tehnis tertentu Nilai-nilai dan prinsip syariah dapat masuk ke dalam ekonomi melalui perumusan prosedur-prosedur praktis dalam kegiatan ekonomi. Misalnya dalam kegiatan asuransi, konsep ta’awun, mudarabah dan tabarru’ dalam Islam dijadikan landasan syari’ah operasionalisasi asuransi Islam.

PENUTUP Dari apa yang telah diuraikan di atas dapat dibuat beberapa catatan sebagai berikut: 1) Integrasi ilmu dari perspektif Islam diperlukan karena di satu pihak, ilmu-ilmu keislaman yang ada memiliki kelemahan-kelemahan berupa lack of empirism dan lack of systematization, dan di lain pihak, ilmu umum (sekuler, [dalam arti positif]) didasari oleh pandangan dunia yang materialistik-positivistik sehingga mengingkari wahyu agama sebagai sumber pengetahuan. 2) Integrasi ilmu dalam konteks ilmu-ilmu keislaman berarti memasukkan unsurunsur metodologis ilmu-ilmu sekuler ke dalam ilmu keislaman sehingga membentuk pendekatan terpadu, dan dalam konteks ilmu-ilmu umum (sekuler), termasuk ilmu ekonomi seperti di muka, integrasi berarti merestorasi fungsi agama (wahyu, nilai-nilai) sebagai sumber pengetahuan, dengan kata lain integrasi agama ke dalam struktur keilmuan. 3) Integrasi agama ke dalam struktur keilmuan ekonomi, seperti terlihat di muka,

[7]

dilakukan dengan merumuskan kembali –berdasarkan pandangan dunia, nilainilai, atau prinsip-prinsip agama – terhadap paradigma, pendekatan metodologi (methodological approach), teori-teori dalam ilmu ekonomi konvensional, bahkan beberapa prosedur tehnis operasional kegiatan ekonomi, serta menguji kembali pernyataan-pernyataan positif agama baik yang berasal dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah, maupun yang dihasilkan oleh para sarjana Muslim sepanjang abad untuk menambah atau mengoreksi pernyataan-pernyataan positif ilmu ekonomi konvensional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful