Anda di halaman 1dari 24

EVALUASI KUALITAS PELAYANAN BUS TRANS METRO BANDUNG (TMB) DI KOTA BANDUNG

Proposal Penelitian Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Penyusunan Skripsi

Oleh : Eva Vamela 0804573

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2012

A. JUDUL EVALUASI KUALITAS PELAYANAN BUS TRANS METRO BANDUNG (TMB) DI KOTA BANDUNG B. LATAR BELAKANG Kota merupakan suatu pusat kegiatan yang berfungsi sebagai pusat pelayanan produksi, distribusi barang serta menjadi pintu masuk atau simpul transportasi bagi wilayah sekitarnya (hinterland). Untuk menjalakan peran pusat kegiatan (baik pusat kegiatan nasional, wilayah maupun lokal), kota membutuhkan suatu sistem transportasi perkotaan. Sistem transportasi perkotaan yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu memperlancar pergerakan orang dan atau barang untuk keluar atau masuk kawasan perkotaan maupun yang melayani aktivitas masyarakat di dalam kawasan perkotaan sendiri. Keberadaan transportasi erat kaitannya dengan keadaan penduduk. Semakin banyak manusia semakin banyak barang dan orang untuk bergerak, sehingga semakin padat pula jaringan transportasi. Karena itu jaringan transportasi di wilayah perkotaan selalu lebih padat bila dibandingkan dengan wilayah pedesaan, atau negara maju lebih banyak dan komplek jaringan transportasinya bila dibandingkan negara kurang berkembang (Abdurachmat dan Maryani, 2008:61) Tantangan bagi pemerintah negara berkembang seperti Indonesia terkait masalah transportasi perkotaan adalah kemacetan lalulintas serta pelayanan angkutan umum perkotaan. Masalah kemacetan ini biasanya timbul pada kota yang penduduknya lebih dari 2 juta jiwa, yang sampai tahun 1996 telah dicapai oleh beberapa kota di Indonesia, seperti DKI-Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung dan Jogyakarta. Kota Bandung merupakan kota terbesar di Jawa Barat dan sebagai Ibukota Provinsi Jawa Barat. Kota Bandung memiliki luas sebesar 16.833,10 ha dan jumlah penduduk sebesar 2.296.848 jiwa (BPS, Kota Bandung dalam angka 2006). Terpusatnya berbagai kegiatan di dalam Kota Bandung akibat penetapan lima fungsi kota yaitu Bandung sebagai pusat Pemerintahan, Perdagangan, Pendidikan, Pariwisata/Budaya dan Pusat Industri mengakibatkan pertumbuhan urbanisasi yang tinggi sehingga kebutuhan

penduduk untuk melakukan pergerakan pun menjadi semakin meningkat. Tingkat pertumbuhan pergerakan yang sangat tinggi yang tidak mungkin dihambat,sehingga memerlukan sarana transportasi yang lebih dan hal tersebut dapat mengakibatkan kemacetan lalulintas. Menurut Tamin dalam Yanti (2011), kemacetan lalulintas kota Bandung disebabkan oleh penambahan jumlah kendaraan tidak sebanding dengan penambahan jaringan jalan dan jaringan jalan yang ada juga tidak berfungsi efekrif, akibat kurangnya fasilitas parkir, dominasi angkutan pribadi dan pasar tumpah. Untuk memecahkan masalah kemacetan lalulintas diperlukan manajemen jalan agar dapat melaksanakan perannya dengan baik sesuai dengan fungsi dan kapasitasnya. Selain itu, pengadaan angkutan umum yang murah, waktunya tepat, frekuensi sering, mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan. Berdasarkan hal tersebut maka salah satu cara pemecahan masalah dalam hal kemacetan lalulintas adalah pengadaan angkutan umum. Angkutan umum merupakan saran angkutan untuk masyarakat kecil dan menengah supaya dapat melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam masyarakat. Sedangkan didalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1993 menyebutkan bahwa angkutan umum adalah pemindahan orang dan/atau barang dari suatu tempta ke tempat lain dengan kendaraan bermotor yang disediakan untuk umum dengan dipungutt bayaran. Menurut Nugraha (2000) jenis moda angkutan umum dapat dikelompokan kedalam dua kategori, pertama moda angkutan penumpang, dan kedua angkutan barang. Angkutan umum penumpang dikelompokan menjadi : bus (angkutan berbadan lebar dengan kapasitas tempat duduk sekitar 40 tempat duduk), mikrolet (24 tempat duduk), dan angkot (12 tempat duduk). Adapun jenis angkutan umum yang berada di Kota Bandung dapat dilihat pada tabel berikut ini : Jumlah Armada Angkutan Umum Di Wilayah Kota Bandung No 1 Tahun 2002 Angkutan Kota Jumlah % 5521 Jenis Armada Bis Kota Damri Jumlah % 142 Bis Sedang/Miro Bis Jumlah % 12

2 2005 5521 3 2008 5521 135 Sumber : Dinas Perhubungan Kota Bandung

12 22

Berdasarkan data jumlah tiap angkutan umum yang berada di Kota Bandung, maka dapat dikatakan bahwa sebagian besar warga Bandung tergantung pada angkutan umum untuk memenuhi kebutuhan melakukan aktivitas sehari-hari, terutama bagi warga yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Hal tersebut dikarenakan jumlah armada angkutan kota yang sangat banyak jika dibandingkan dengan jumlah armada angkutan umum yang lainnya sehingga keberadaannya mudah didapat. Namun beberapa permasalahan utama dalam penyelenggaraan angkutan umum di Kota Bandung, yakni struktur jaringan angkutan umum yang belum terhirarki dengan baik serta kualitas pelayanan yang belum optimal sesuai dengan keinginan para penggunanya (Dishub Kota Bandung 2008). Dominasi angkot dalam pelayanan angkutan di Kota Bandung ini menimbulkan berbagai masalah angkutan terutama dampaknya bagi kelancaran lalulintas, dengan tingkat pelayanan rendah (jadwal tak pasti, kecepatan rendah, kedatangan tidak teratur), kurang manusiawi (berdesakan dan berdiri), daya angkut terbatas, tingkat kecelakaan relatif masih tinggi, dan pengelolaan yang buruk. Permasalahan tersebut dapat dilihat sehari-hari di Bandung, pada angkutan kota (angkot) dan bus kota Damri dijejali penumpang. Menurut Tatanan Transportasi Wilayah Jawa Barat, prioritas pengembangan transportasi di Jawa Barat adalah angkutan massal. Menurut Pasal 58 UU No. 22/2009 ttg LLAJ, angkutan massal harus didukung dengan : (1) Bus berkapasitas angkut massal, (2) Lajur khusus, (3) Trayek angkutan umum lain yang tidak berhimpitan, (4) Angkutan penumpang. Di indonesia sendiri bus sudah menjadi alat transportasi yang sangat dibutuhkan karena bus merupakan angkutan massal yang tarifnya terjangkau. Sebagai bagian dari upaya memecahkan permasalahan kemacetan, Pemerintah Pusat melalui Departemen Perhubungan mengajukan penyelenggaraan Bus Rapid Transit (BRT) atau lebih dikenal dengan busway yang saat ini mulai diterapkan di berbagai kota di Indonesia. Konsep Bus Rapid Transit (BRT) merupakan sistem angkutan massal

yang terintegrasi di setiap koridor, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan transportasi dalam kota. Status pembangunan angkutan massal di Indonesia telah beroperasi di 8 Kota, yaitu Kota Jakarta (Transjakarta ; 8 Koridor), Batam (Bpp ; 2 Koridor), Bogor (Transpakuan ; 2 Koridor), Yogyakarta (Transyogya ; 6 Koridor), Pekanbaru (Trans Metro Pekanbaru ; 2 Koridor), Menado (Trans Kawanua ; 2 Koridor), Semarang (Trans Semarang ; 2 Koridor), dan pada tahun 2009 pemerintah Kota Bandung dan Dinas Perhubungan menyediakan layanan transportasi berupa layanan angkutan massal yaitu bus Trans Metro Bandung (TMB) yang baru memiliki 1 Koridor. (Sinaga, Elly 2009). Trans Metro Bandung (TMB) adalah suatu transportasi angkutan massal yang menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Bandung untuk meningkatkan pelayanan publik khususnya pada sektor Transportasi darat di kawasan perkotaan di Kota Bandung dengan berbasis bus mengganti sistem setoran menjadi sistem pelayanan dengan ciri pemberangkatan bus terjadwal, berhenti pada halte khusus, aman, nyaman, handal, terjangkau dan ramah bagi lingkungan. Trans Metro Bandung (TMB) bermaksud untuk mereformasi sitem angkutan umum perkotaan melalui manajemen pengelolaan maupun penyediaan sarana angkutan masal sesuai dengan keinginan masyarakat yang aman, nyaman, murah, mudah dan tepat waktu, yang dapat melayani penumpang perkotaan dan penumpang luar Kota Bandung. Adapun tujuan dari penyelenggaraan Bus Trans Metro Bandung adalah sebagai berikut : (a) Perbaikan sistem angkutan umum perkotaan, (b) Perbaikan manajemen pengelolaan angkutan umum perkotaan, (c) Perbaikan pola operasi angkutan umum perkotaan (misalnya berhenti pada halte yang telah ditentukan, standardisasi armada bus), (d) Penghubung simpul transportasi (Terminal Bus, Stasiun KA serta Bandara) dan pusat kegiatan masyarakat dan (e) Penghubung seluruh wilayah perkotaan di Kota Bandung.
Dengan keberadaan bus Trans Metro Bandung sangat diharapkan moda angkutan ini dapat memberikan pelayanan yang memadai kepada pengguna. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diperlukan suatu studi yang dapat memberikan penjelasan tentang kinerja

angkutan umum tersebut. Kinerja angkutan umum didasarkan pada beberapa indikator pelayanan.

Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan pelanggan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan pelayanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain. Sedangkan melayani adalah membatu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang. Menurut Edvardsson et al (2005) jasa atau pelayanan merupakan kegiatan, proses dan interaksi serta merupakan perubahan dalam kondisi orang atau sesuatu dalam kepemilikan pelanggan. Pelayanan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi harapan konsumen. Pelayanan (service) berasal dari orang-orang bukan dari perusahaan. Tanpa memberi niai pada diri sendiri, tidak akan mempunyai apa-apa. Demikina halnya pada organisasi atau perusahaan yang secara essensial merupakan kumpulan ornag-orang. Oleh karena itu, harga diri yang tinggi adalah unsur yang paling mendasar bagi keberhasilan organisasi yang menyediakan jasa pelayanan yang berkualitas (Nuhasyima, 2008). Kata kualitas memiliki banyak definisi yang berbeda dan bervariasi mulai dari yang konvensional hingga yang lebih strategis. Definisi konvensional dari kualitas biasanya menggambarkan karakteristik suatu produk seperti : kinerja (performance), keandalan (reliability), mudah dalam penggunaan (easy of use), estetika (esthetics), dan sebaginya. Sedangkan dalam definisi strategi dinyatakan bahwa kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan (meeting the needs of custumers) (Nuhasyima, 2008). Berdasarkan pengertian kualitas, baik yang konvensional maupun lebih strategis oleh Gaspersz dalam Nuhasyim (2008) dinyatakan bahwa pada dasarnya kualitas mengacu kepada pengertian pokok yaitu kualitas terdiri dari sejumlah keistimewaan produk, baik keistimewaan langsung, maupun keistimewaan atraktif yang memenuhi keinginan pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan atas penggunaan produk. Kualitas terdiri dari segala sesuatu yang bebas dari kekurangan atau kerusakan. Kualitas pelayanan yang baik merupakan satu hal yang sangat penting untuk meraih pasar. Kepuasan konsumen merupakan tingkat perasaan konsumen setelah

membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan dengan harapannya (Fandy Tjipto dalam Heriawan (2008)). Kualitas pelayanan (service quality) dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi para konsumen atas pelayanan yang nyata-nyata mereka terima atau peroleh dengan pelayanan yang sesungguhnya mereka harapkan atau inginkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan. Jika jasa yang diterima atau dirasakan (perceived service) sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan, jika jasa yang diterima melampaui harapan konsumen, maka kualitas pelayanan dipersepsikan sangat baik dan berkualitas.Sebaliknya jika jasa yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk (Tjiptono, 2007). Ketika konsumen merasakan kepuasan terhadap pemakaian produk maka ia akan cenderung terus menerus memakai produk itu kembali, seperti hal nya bus Trans Metro Bandung (TMB) apabila bus tersebut memiliki kualitas pelayanan yang baik maka para penumpang yang memiliki posisi sebagai konsumen cenderung akan kembali memakai jasa atau pelayanan itu kembali. Berdasarkan latar belakang masalah di atas dan melihat pentingnya kualitas pelayanan suatu moda transportasi maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Evaluasi Kualitas Pelayanan Bus Trans Metro Bandung (TMB) di Kota Bandung.

C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimana karakteristik pola angkutan Trans Metro Bandung (TMB) ? 2. Bagaimana persepsi konsumen (penumpang) atas kinerja operasional angkutan Trans Metro Bandung (TMB) ? 3. Bagaimana kualitas pelayanan bus Trans Metro Bandung (TMB)?

D. VARIABEL PENELITIAN Variabel Bebas (x) Karakteristik pola angkutan Trans Metro Bandung (TMB) Load Factor Jumlah armada TMB Trayek TMB Lintasan/rute TMB Jumlah shelter TMB Variabel Terikat (y) Kualitas Pelayanan Angkutan Bus Trans Metro Bandung (TMB)

Kinerja operasional angkutan Trans Metro Bandung (TMB) kecepatan perjalanan waktu perjalanan waktu pelayanan frekuensi jumlah kendaraan yang beroperasi waktu tunggu penumpang

Pelayanan angkutan Trans Metro Bandung (TMB) Waktu Tunggu Jarak ke Pemberhentian Bis (shelter) Waktu Perjalanan

E. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka terdapat tujuan penelitian sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui karakterisktik pola angkutan bus Trans Metro Bandung (TMB). 2. Untuk mengidentifikasi kinerja operasional angkutan Trans Metro Bandung (TMB) 3. Untuk menganalisis kualitas pelayanan bus Trans Metro Bandung (TMB)

F. MANFAAT PENELITIAN
1.

Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Kota, yang diharapkan dapat menjadi informasi dan landasan untuk menentukan kebijakan mengenai angkutan massal
terutama tentang pelayanan kepada pengguna transportasi.

2.

Sebagai bahan masukan bagi instansi terkait, yaitu Dinas Perhubungan Kota Bandung, dalam meningkatkan pelayanan Bus Metro Bandung (TMB).

3.

Bagi peneliti lain dapat dijadikan sebagai bahan tambahan informasi dalam penyusunan penelitian selanjutnya atau penelitian-penelitian sejenis.

G. DEFINISI OPERASIONAL 1. Pelayanan Pelayanan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi harapan

konsumen. Kualitas pelayanan (service quality) dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi para konsumen atas pelayanan yang nyata-nyata mereka terima atau peroleh dengan pelayanan yang sesungguhnya mereka harapkan atau inginkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan. Jika jasa yang diterima atau dirasakan (perceived service) sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan, jika jasa yang diterima melampaui harapan konsumen, maka kualitas pelayanan dipersepsikan sangat baik dan berkualitas.Sebaliknya jika jasa yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk (Tjiptono, 2007). 2. Bus Trans Metro Bandung (TMB) Trans Metro Bandung (TMB) adalah suatu transportasi angkutan massal yang menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Bandung untuk meningkatkan pelayanan publik khususnya pada sektor Transportasi darat di kawasan perkotaan di Kota Bandung dengan berbasis bus mengganti sistem setoran menjadi sistem pelayanan dengan ciri pemberangkatan bus terjadwal, berhenti pada halte khusus, aman, nyaman, handal, terjangkau dan ramah bagi lingkungan.

H. TINJAUAN PUSTAKA 1. Transportasi Transportasi merupakan proses pergerakan atau perpindahan manusia atau barang dari suatu tempat ke tempat lain untuk tujuan tertentu. Manusia selalu berusaha mencapai efisiensi transportasi, yaitu berusaha mengangkut barang atau orang dengan waktu secepat mungkin dan dengan pengeluaran biaya sekecil mungkin. Pengertian trasportasi menurut Morlok dalam Setijadji (2006) adalah memindahkan atau mengangkut dari suatu tempat ke tempat lain. Menurut Bowersox dalam Setijadji (2006), definisi trasportasi adalah perpindahan barang atau penumpang dari suatu lokasi ke lokasi lain, dengan produk yang digerakkan atau dipindahkan ke lokasi yang dibutuhkan atau diinginkan. Sedangkan Steenbrink dalam Setijadji (2006) mendefinisikan sebagai perpindahan orang atau barang menggunakan kendaraan atau lainnya, tempat-tempat yang dipisahkan secara geografis. Sementara menurut Papacostas dalam Setijadji (2006), transportasi didefinisikan sebagai suatu system yang terdiri dari fasilitas tertentu beserta arus dan sistem kontrol yang memungkinkan orang atau barang dapat berpindah dari suatu tempat ketempat lain secara efisien dalam setiap waktu untuk mendukung aktifitas manusia. Transportasi secara sederhana dapat diartikan sebagai pergerakan manusia dan barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Whynne-Hammond (1981) dalam Abdurachmat dan Maryani (2008:61) mengartikan transportasi sebagai: . is a servise or facility by which person, goods and property are conveyed from one location to another. Moreover it is an organized industry created to satisfy the basic need of society. Dengan demikian transportasi merupakan fasilitas yang memberikan pelayanan kepada masyarakat untuk menggerakan orang-orang, barang atau jenis lainnya yang dianggap berharga oleh suatu masyarakat, dari satu tempat ke tempat lainnya. Transportasi ini adalah sarana yang sangat pentibg untuk terpenuhinya berbagia kebutuhan masyarakat dengan baik.

Transportasi sebagai dasar untuk pembangunan ekonomi dan perkembangan masyarakat serta pertumbuhan industrialisasi. Dengan adanya transportasi menyebabkan adanya spesialilsasi atau pembagian pekerjaan menurut keahllian sesuai dengan budaya, adat-istiadat, dan budaya suatu bangsa atau daerah (Salim, A Abbas, 2006:6) Menurut Ahmad, Munawar (2005:2) terdapat tiga jenis sarana atau moda transportasi dapat digolongkan sebagai berikut : a. Udara, dengan sarana pesawat dan prasarana bandara b. Air, dengan sarana kapal dan prasarana dermaga atau pelabuhan c. Darat melalui jalan raya untuk sarana bus, mobil, sepeda motor dengan prasarana terminal dan melalui jalan prasarana stasiun. Transportasi mempunyai pengaruh besar terhadap perorangan masyarakat pembangunan ekonomi, dan social politik suatu negara. Pengangkutan merupakan sarana dan prasarana bagi pembangunan ekonomi negara yang bisa mendorong lajunya pertumbuhan ekonomi (Rate of Growth) (Salim, 2006:11). rel dengan sarana kereta api dan

2. Pelayanan Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interkasi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan pelanggan. Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan pelayanan, bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Soetopo dalam Hartono (2008)

mendefinisikan pelayanan sebagai suatu usaha untuk membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan orang lain. Menurut Ivancevich, Lorenzi, Skinner dan Crosby dalam Hartono (2008) pelayanan adalah produk-produk yang tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang melibatkan usaha-usaha manusia yang menggunakan peralatan. Sedangkan definisi pelayanan menurut Groonros dalam Hartono (2008) adalah :

Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen/pelanggan. Kotler dalam Hartono (2008) menyebutkan sejumlah karakteristik pelayanan sebagai berikut : a. Intangibility (tidak berwujud); tidak dapat dilihat , diraba, dirasa, didengar, dicium sebelum ada transaksi. Pembeli tidak mengetahui dengan pasti atau dengan baik hasil pelayanan (service costum) sebelum pelayanan dikonsumsi. b. Inseparability (tidak dapat dipisahkan); dijual lalu diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan karena tidak dapat dipisahkan. Karena itu, konsumen ikut berpartisipasi menghasilkan jasa pelayanan. Dengan adanya kehadiran konsumen, pemberi pelayanan berhati-hati terhadap interaksi yang terjadi antara penyedia dan pembeli. Keduanya mempengaruhi pelayanan. c. Variability (berubah-ubahh dan bervariasi); jasa beragam selalu mengalami perubahan, tidak selalu sam kualitasnya bergantung kepada siapa yang menyediakan dan kapan serta dimana disediakan. d. Perishability (cepat hilang, tidak tahan lama); jasa tidak dapat disimpan dan permintaannya berfluktuasi. Daya tahan suatu layanan bergantung kepada situasi yang diciptakan oleh berbagai faktor. Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri utama dari pelayanan adalah tidak kasat mata dan melibatkan upaya manusia atau peralatan lainnya yang disediakan oleh perusahaan penyelenggara pelayanan. Pelayanan juga merupakan serangkaian kegiatan atau proses pemenuhan kebutuahan orang lain secara lebih memuaskan berupa produk jasa yang diberikan pelanggan sehinggan pelanggan dapat berpartisipasi aktif dalam mengkonsumsi jasa tersebut. Parasuraman dalam Nurhasyim (2008) mengatakan bahwa ada dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu expective service (pelayanan yang diharapakan) dan perceived service (pelayanan yang diterima). Karena kualitas

pelayanan berpusat pada upaya pemenuhan dari keinginan pelanggan serta kepetapan penyampaian untuk mengimbangi harapan pelangga. Dalam

perkembangan selanjutnya Parasuraman dkk (dalam Nurhasyim 2008) mengatakan bahwa konsumen dalam melakukan penilaian terhadap kualitas jasa ada lima dimensi yang perlu diperhatiakn, yaitu : a. Tangible, yaitu meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi. b. Emphaty, yaitu meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para pelanggan. c. Responsiveness, yaitu keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap. d. Reliability, yaitu kemampuan memberikan layanan yang dijanjiakan dengan segera, akurat, kehandalan dan memuaskan. e. Assurance, yaitu mencakup pengetahuan, kemampuan, kesopanan dan sifat yang dapat dipercaya yang dimiliki oleh para staf (bebas dari bahaya, resiko, dan keragu-raguan)

3. Kualitas Pelayanan Angkutan Umum


Menurut Gray dalam Anggoman (2007) kualitas pelayanan merupakan suatu kondisi atau karakteristik dari angkutan umum yang diharapkan oleh pengguna yang terdiri dari elemen-elemen, seperti: a. Keselamatan, meliputi keselamatan pada waktu menggunakan angkutan umum (in-vehicles) dan pada waktu kendaraan berhenti (at-stops); b. Kenyamanan, meliputi kenyamanan fisik penumpang, keindahan dan lingkungan. c. Kenyamanan fisik penumpang meliputi kenyamanan dalam kendaraan maupun di tempat perhentian, misalnya kenyamanan tempat duduk dan tempat berdiri, kemudahan pada waktu masuk dan keluar kendaraan, tempat meletakan barang dan lain-lain.

d. Keindahan meliputi tempat duduk yang bersih, tempat perhentian yang menarik, sedangkan kenyamanan meliputi perlindungan lingkungan terhadap polusi udara dan suara; e. Kemudahan pencapaian meliputi distribusi rute yang menjangkau seluruh wilayah, kapasitas kendaraan, frekuensi pelayanan dan pengoperasian jadwal, identifikasi tempat perhentian dan distribusi papan informasi; f. Keandalan, elemen ini tergantung dari penyediaan pelayanan khusus yang diberikan oleh operator, misalnya adanya informasi apabila terjadi perubahan jadwal keberangkatan/kedatangan kendaraan, jaminan kemudahan pergantian kendaraan dan lain-lain; g. Perbandingan biaya, ini meliputi jaminan ongkos/biaya, jarak tempuh minimum, kemudahan pergantian moda, pengurangan ongkos perjalanan untuk kelompok khusus (anak-anak, pelajar dan lain-lain) serta karcis berlangganan; h. Efisiensi, yang meliputi tingginya kecepatan rata-rata, waktu tunggu minimum, jarak perjalanan yang dekat dengan tempat perhentian kendaraan umum, koordinasi dan pergantian jadwal dengan meminimumkan ketidaknyamanan penumpang, pelayanan cepat dan khusus. Dalam studi ini aspek-aspek yang telah disebutkan di atas lebih lanjut akan digunakan sebagai dasar untuk mengetahui persepsi pemakai terhadap pelayanan angkutan umum Bus Trans Metro Bandung (dari sisi pengguna) dan mengetahui karakteristik operasi angkutan umum itu sendiri (dari sisi penyedia).

4. Bus Trans Metro Bandung (TMB) Trans Metro Bandung (TMB) adalah suatu transportasi angkutan massal yang menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Bandung untuk meningkatkan pelayanan publik khususnya pada sektor Transportasi darat di kawasan perkotaan di Kota Bandung dengan berbasis bus mengganti sistem setoran menjadi sistem pelayanan dengan ciri pemberangkatan bus terjadwal, berhenti pada halte khusus, aman, nyaman, handal, terjangkau dan ramah bagi lingkungan.

Salah satu dasar hukum penyelenggaraaan Bus Trans Metro Bandung (TMB) adalah mengacu kepada Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 158 ayat (1) dan (2) yang menyebutkan bahwa : 1) Pemerintah menjamin ketersediaan angkutan missal berbasis Jalan untuk memenuhi kebutuhan angkutan orang dengan Kendaraan Bermotor Umum di kawasan perkotaan. 2) Angkutan missal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didukung dengan : a. mobil bus yang berkapasitas angkut massal; b. lajur khusus; c. trayek angkutan umum lain yang tidak berimpitandengan trayek angkutan massal; dan d. angkutan pengumpan TMB bermaksud untuk, mereformasi sitem angkutan umum perkotaan melalui manajemen pengelolaan maupun penyediaan sarana angkutan masal sesuai dengan keinginan masyarakat yang aman, nyaman, murah, mudah dan tepat waktu, yang dapat melayani penumpang perkotaan dan penumpang luar Kota Bandung. Adapun tujuan dari penyelenggaraan Bus Trans Metro Bandung adalah sebagai berikut : a. Perbaikan sistem angkutan umum perkotaan b. Perbaikan manajemen pengelolaan angkutan umum perkotaan c. Perbaikan pola operasi angkutan umum perkotaan (misalnya berhenti pada halte yang telah ditentukan, standardisasi armada bus) d. Penghubung simpul transportasi (Terminal Bus, Stasiun KA serta Bandara) dan pusat kegiatan masyarakat. e. Penghubung seluruh wilayah perkotaan di Kota Bandung Trans Metro Bandung (TMB) memiliki rencana pengembangan koridor yaitu sebagai berikut : Rencana Koridor dan Trayek Bus Trans Metro Bandung (TMB) No Koridor 1 Koridor I 2 Koridor II Trayek Elang (Cibeureum ) Jl. Soekarno Hatta Cibiru Cibeureum (Jl. Elang) Jalur Tengah Cicaheum

3 4 5

Koridor III Koridor IV Korodor V

Antapani Laswi Lingkar Selatan Leuwi Panjang Antapani Laswi ST. Hall Setra Sari Mall Surya Sumantri Dr. Junjunan Surapati Cicaheum

Sumber : Dinas Perhubungan 2008 Berdasarkan tabel diatas Trasns Metro Bandung (TMB) memiliki rencana pengembangan koridor sebanyak lima koridor, namun hingga saat ini jumlah koridor yang telah teralisasi adalah sebanyak satu koridor, yaitu koridor 1 (Cibeureum Cibiru) dengan panjang trayek 20 Km. Arah pergerakan Trans Metro Bandung (TMB) berawal dari Jl. Raya Cibeureum, Jl. Rajawali Barat, Jl. Elang, Jl. Trs. Pasir Koja, Jl. Kopo, Jl. Leuwi Panjang, Jl. Mohammad Toha, Jl. Buah Batu, Jl. Ibrahimadji, Jl. Rumah Sakit, Jl. Raya Cipadung, Jl. Raya Cibiru, Jl. Soekarnohatta, Jl. Cibaduyut, Jl. Holis, Jl. Jend. Sudirman. Jumlah alokasi armanada koridor 1 (Cibeureum-Cibiru) yaitu sebanyak 39 unit, namun hingga saat ini alokasi armada yang telah terealisaikan di koridor tersebut adalah sebanyak 10 unit. TMB yang dioperasikan menggunakan sistem mixed traffic sehingga tidak ada jalur khusus layaknya busway di Jakarta. Jalur TMB dioperasikan di tengah sedangkan pembangunan Shelter dilakukan di sebelah kiri jalan. Personil untuk operasional Trans Metro Bandung (TMB) sebanyak 68 orang dengan uraian tugas 60 orang ditempatkan sebagai tiketing sales pada shelter dan 8 orang sebagai tenaga administrasi UPT TMB. Dalam pergerakan Trans Metro Bandung (RMB) dilengkapi dengan keberadaan shelter pada setiap ruas jalan sebagai tempat pemberhentian bus untuk mengangkut para penumpang. Rencana pembangunan shelter Trans Metro Bandung (TMB) adalah sebanyak 32 unit, namun saat ini pembangunan shelter yang telah terealisai adalah sebanyak 15 unit shelter baik shelter permanen maupun shelter sementara. Adapun lokasi shelter Trans Metro Bandung (TMB) berada di Jl. Elang sebanyak 1 shelter, Cijerah sebanyak 1 shelter, Holis sebanyak 2 shelter, Caringin sebanyak 2 shelter, Leuwipanjang sebanyak 2 shelter, LPKIA sebanyak 2 shelter, Samsat sebanyak 2 shelter, Metro Margahayu sebanyak 1 shelter, Gedebage sebanyak 1 shelter, dan Cibiru sebanyak 1 shelter.

Harga tiket yang diberlakukan tidak memberatkan masyarakat. Saat ini, sudah ditetapkan bahwa harga tiket TMB Rp 3.000,00 untuk umum, sedangkan pelajar bisa mendapatkan tarif murah Rp 1.500,00, dengan menunjukkan kartu pelajar atau kartu tanda mahasiswa (KTM). Tarif ini berlaku untuk perjalanan jauh ataupun dekat. Kapasitas bus ber-AC ini mampu menampung 36 penumpang dengan 18 orang duduk dan 18 orang berdiri. Rasio konversi Trans Metro Bandung (TMB) yaitu 1 : 3 artinya 1 unit bus mengganti 3 unit angkot, sehingga kapasitas angkot yang maksimum hanya 12 tempat duduk penumpang dapat tergantikan.

I. METODOLOGI PENELITIAN 1. Desain Penelitian Kota Bandung terletak di wilayah Jawa Barat dan merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung secara geografis terletak diantara 6o 55' 00" LS dan 107o 36' 00" BT. Batas wilayah Bandung adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung Sebeleh Timut : Kabupaten Bandung Sebelah Selatan : Kabupaten Bandung Sebelah Barat : Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi Penelitian ini berlokasi di koridor 1 Bus Trans Metro Bandung (TMB) yaitu pada ruas jalan Cibeureum-Cibiru. a. Populasi Menurut Tika, Pabundu (1996:32) populasi adalah himpunan individu atau objek yang banyaknya terbatas atau tidak terbatas. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari populasi wilayah dan populasi penduduk. Populasi wilayahnya adalah Koridor 1 jalan Cibeureum-Cibiru sedangakan populasi penduduknya adalah penumpang bus Trans Metro Bandung (TMB) trayek Cibeureum-Cibiru. b. Sampel Menurut Tika, Pabundu (1996:32) sampel adalah sebagian dari objek atau individu-individu yang mewakili suatu populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah sampel wilayah dan sampel penduduk. Sampel wilayahnya adalah

Koridor 1 jalan Cibeureum-Cibiru sedangkan sampel penduduknya adalah penumpang bus Trans Metro Bandung (TMB) trayek Cibeureum-Cibiru. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode simple random sampling yaitu cara mengambil sampel dengan memberi kesempatan yang sama untuk dipilih bagi setiap individu atau unit dalam keseluruhan populasi. (Tika, 2005).

2. Instrumen Penelitian a. Bahan dan Alat 1. Bahan 1.1 Peta rupabumi 25.000 lembar 1209-311 Bandung. 1.2 Peta rupabumi 25.000 lembar 1209-312 Ujungberung. 2. Alat 2.1 Alat ukur lapangan, yaitu Global Position Sistem (GPS), alat tulis dan kamera digital 2.2 Pedoman wawancara 2.3 Pedoman observasi

b. Data yang dikumpulkan 1. Data Primer Data yang diperoleh secara langsung dari petani penumpang dengan cara observasi dan wawancara. Pengumpulan data primer, diperoleh dari wawancara dan observasi. Teknik wawancara menggunakan kuesioner yang akan disiapkan sebelumnya. Kuesioner tersebut berupa daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai masalah yang diteliti. Sedangkan observasi berupa pengamatan yang dilakukan secara langsung oleh peneliti berdasarkan pedoman-pedoman obervasi yang telah disiapkan sebelumnya.

2. Data Sekunder Pengumpulan data sekunder, diperoleh dari instansi yang terkait dalam penelitian yaitu Dinas Perhubungan, Dinas Binamarga, BAPPEDA dan BPS Kota Bandung.

3. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data a. Metode Penelitian Penelitian deskriptif (descriptive research) yaitu metode yang

menggambarkan dan meringkaskan berbagai kondisi, situasi atau berbagai variabel. Data deskriptif pada umumnya dikumpulkan melalui metode pengumpulan data, yaitu wawancara atau metode observasi. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik populasi atau bidang tertent. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang di selidiki. b. Teknik Pengumpulan Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik sebagai berikut : 1. Observasi Menurut Tika (2005:44) observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian. Obervasi yang akan dilakukan pada penelitian ini yaitu melakukan pengamatan secara langsung menganai situasi dan kondisi daerah peneletian untuk mendapatakan gambaran yang lebih jelas mengenai masalah penelitian. 2. Wawancara Menurut Nasution dalam Tika (1996:75) wawancara (interview) adalah suatu bentuk komunikasi verbal. Sedangkan menurut Tika (2005:49) wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian.

3. Angket Menurut Nawawi dalam Tika (2005:54) angket (kuisioner) adalah usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis oleh responden. 4. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi ialah teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan mengenai data pribadi responden (Fathoni, 2006 :112). 5. Studi Literatur Sumber literatur berupa buku, jurnal atau media cetak sebagai teknik kegiatan pengumpulan data, konsep ataupun teori yang berkaitan dengan masalah penelitian.

c. Teknik Analisis 1. Metode Kuantitatif Analisis mengenai kumpulan fakta yang menggambarkan masalah penelitian terutama yang berkaitan dengan pelayanan Trans Metro Bandung (TMB), dalam menganalisis menggunakan perhitungan prosentase yaitu dengan rumus : p = x 100% keterangan : p = prosentase f = data yang dimuat n = jumlah seluruh data yang didapat 100 % = konstanta

2. Metode Kualitatif (Analisis Data Secara Deskriptif) Untuk mengetahui pengaruh perubahan orientasi mata pencaharian petani mendong maka digunakan analisis deskriptif. Analisis secara deskriptif penting untuk menjelaskan data yang bersifat kualitatif. Dalam bidang Geografi Sosial, analisis data secara deskriptif diperlukan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang bersifat sosial (Tika, 2005:116).

J. SISTEMATIKA PENULISAN 1. Judul 2. Latar Belakang Masalah 3. Rumusan Masalah 4. Tujuan Penelitian 5. Manfaat Penelitian 6. Definisi Operasional 7. Tinjauan Pustaka 8. Metodologi Penelitian 9. Sitematika Penulisan 10. Agenda Penelitian 11. Kerangka Berfikir 12. Daftar Pusataka

K. AGENDA PENELITIAN Waktu Penelitian (4 Bulan) Bentuk Kegiatan Maret 1 Persiapan Proses Bimbingan Penyusunan Instrumen Perbanyakan Pelaksanaan Survey Data Fisik Wawancara April 4 Mei 1 2 3 4 Juni 1 2 3 4

2 3 4 1 2 3

Pengolahan Data Analisis Data Penyimpulan Hasil Penyusunan Laporan Pengetikan Penyerahan

L. KERANGKA BERFIKIR Perkembangan Kota

Pemenuhan Kebutuhan

Bergerak Tanpa Moda Transportasi

Bergerak Tanpa Moda Transportasi

Penyediaan Transportasi

Transportasi Darat

Transportasi Udara

Transportasi Laut

Angkutan Pribadi

Angkutan Umum

Bus

Mikrolet

Angkot

Baik

Kurangnya kualitas dan kuantitas pelayanan

Rekomendasi

Cukup

Kualitas Pelayanan Bus Trans Metro Bandung (TMB)

Pengembangan Transportasi (Angkutan Massal)

Rendah

M. DAFTAR PUSTAKA Abbas Salim. Manajemen Transportasi. Jakarta: Raja Grafindo. 2006 Anggoman, P Johan. 2007. Studi Tingkat Pelayanan Angkutan Umum Damri Di Kota Manado. Tesis : Program Pasca Sarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah Dan Kota Universitas Diponegoro Semarang Anonim. 2003. Ringkasan Eksekutif Studi Perubahan Armada Angkot Menjadi Bus Sedang Dan Bus Besar Di Kota Bandung (Kantor Litbang dengan LPPM-ITB) Anonim. 2008. Data Armada Angkutan Umum di Bandung. Bandung : Dinas Perhubungan Kota Bandung Anonim. 2009. Analisis Kebijakan Persaingan Dalam Industri Angkutan Darat Indonesia. Komisi Pengawas Persaingan Usaha Anonim. 2011. Trans Metro Bandung. Bandung : Dinas Perhubungan Kota Bandung Hastono, S Yuli. 2008. Studi Tingkat Pelayanan Angkutan Umum Damri Di Kota Manado. Disertasi : Program Magister Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara Nugroh, Lanugranto Adi. 2008. Konsumen Dan Jasa Transportasi (Studi Terhadap Perlindungan Hukum Pada Konsumen Fasilitas Publik Transportasi Darat Dan Pelayanan Jasa Transportasi Perusahaan Otobus Di Kabupaten Wonogiri). Skripsi : Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta Tamin, Z Ofyar. 2000. Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Bandung : ITB Tika, Moh. Pabundu. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta : Grafika Offset Tjiptono, Fandy. 2001. Strategi Pemasaran. Edisi Pertama. Yogyakarta : Andi Ofset