Anda di halaman 1dari 7

INFEKSI OPORTUNISTIK Penyebab utama morboditas dan mortilitas diantara pasien dengan stadium lanjut infeksi HIV adalah

infeksi oportunistik, yaitu infeksi berat yang diinduksi agen yang jarang menyebabkan penyakit serius pada individu yang imunikompeten. Infeksi oportunistik biasanya tidak terjadi pada pasien yang terinfeksi HIV hingga jumlah sel T CD4 turun dari kadar normal sekitar 1.000 sel/l menjadi kurang dari 200 sel/l.

Infeksi oportunistik yang paling sering terjadi pada pasien AIDS yang tidak dapat diobati yaitu : Protozoa : Toxoplasma gondii, Isospora belli, spesies cryptosporidium. Fungi : Candida albicans, Cryptococcus neoformans,Coccidiodes immitis, Histoplasma capsulatum, Pneumocytis jiroveci. Bakteri : Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium avium-intracellulare, Listeria monocytogenes, spesies salmonella. Virus : Cytomegalovirus, virus herpes simpleks, virus vacella zoster, adenovirus, virus poliomavirus JC, virus hepatitis B dan C

ENSEFALITIS

Ensefalitis adalah suatu peradangan pada otak, yang biasanya disebabkan oleh virus dan dikenal sebagai ensefalitis Virus. Ensefalitis adalah peradangan dari otak. Radang adalah reaksi dari sistem imun tubuh menjadi infeksi atau invasi. Selama radang jaringan otak menjadi swollen. Kombinasi dari infeksi dan reaksi imun ini bisa menyebabkan sakit kepala dan demam.

Epidemologi Infeksi paling sering dan berat pada anak-anak dan orang tua.

Etiologi Tuberculosis, mycoplasma, listeria,lime disease, bartonella henselae (cat scratc fever), leptospira, brucela, legionella, neurosyphilis, semuanya juga menyebabkan meningitis bacterial.

Presentasi klinik Gejala klinik encephalitis mirip flu terutama dengan penyebab virus, mulai dengan sakit kepala, diikuti oleh perubahan keseadaran yang cepat dengan confusion, kejang dan koma. Gejala-gejala yang muncul juga termasuk gejala-gejala peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala berat, vertigo, nausea, konvulsi dan mental confusion. Kemungkinan gejala lain yang bisa timbul termasuk photophobia, perubahan sensorik dan kekakuan leher. Gejala epilepsy merupakan tanda gangguan neurologic dan kognitif bisa juga terbentuk.

Differential diagnosis Meningitis, Behcet's syndrome, Systemic lupus erythematosus, Post-vaccine encephalomyelitis, Stroke, Multiple sclerosis, Syphilis, Intracerebral tumour, Leukaemia, Lymphoma

Diagnosis Secara umum diagnosis ensefalitis meliputi:

Cairan cerebrospinal:
o

Viral encephalomyelitis menunjukkan pleositosis (10-2000 sel/mm3), didominasi oleh sel Mononuclear.

Level CSF protein secara umum meningkat pada encephalomyelitis dan proporsi IgG meningkat.

Peningkatan atibodi spesifik CSF relatif terhadap serum menunjukkan adanya infeksi susunan saraf pusat dengan infeksi tertentu.

Analisis dengan Polymerase chain reaction cairan serebrospinal dapat digunakan me ndiagnosa beberapa infeksi virus, termasuk herpes simplex, Epstein-Barr, varicella zoster, cytomegalovirus, HIV, rabies dan tuberculosis.

Hitung jenis darah dan hapusan: leukositosis. Dapat menunjukkan limfosit yang tidak khas pada infeksi Epstein-Barr viral, morulae pada Ehrlichia, trypanosomes pada trypanosomiasis borreliae pada relapsing fever, atau gamete pada Plasmodium falciparum malaria.

Tes darah yang lain termasuk, kultur darah, fungsi ginjal dan elektrolit, fungsi hati, glukosa, ESR dan CRP.

Kultur lain, misalnya, hapusan tenggorok dan kultur feces bila ada indikasi. CT scan:
o

Dapat membantu menyingkirkan adanya space-occupying lesion, stroke, fraktur basiler tengkorak, dan mendeteksi CSF kebocoran cairan serebrospinal pada sisi fraktur.

CT scan juga digunakan mengidentifikasi peningkatan tekanan intracranial.

MRI scan:
o

Memberikan

deteksi

sensitive

terjadinya

demyelinisasi

dan

memberikan kemungkinan perubahan edematous yang terjadi pada stadium dini encephalitis.

Electroencephalogram (EEG):
o

Seringkali memberikan hasil abnormal (terjadi perlambatan difuse dengan periodic discharges) pada infeksi herpes simpleks akut dan kronik dan kadang-kadang dapat membantu menentukan lokasi stadium dini.

Lebih banyak memberikan hasil dibandingkan CT scan pada minggu pertama.

Penatalaksanaan

Segara perawatan darurat medik Pemberian antibiotik parenteral segera, benzylpenicillin intravena atau intramuscular dapat diberikan selama penderita tidak mengalami alergi penisilin.

Antiobiotik spektrum luas untuk penanganan infeksi bacterial. Pada beberapa kasus pemberian asiklovir untuk dugaan ensefalitis virus. Pyrimethamine plus sulfadiazine, pyrimethamine plus clindamycin, dan trimethoprim-sulfamethoxazole bagi pasien HIV dengan kemungkinan infeksi toxoplasmic meningoencephalitis.

Manitol dan deksametason intravena untuk menurunkan edema serebral. Pemberian cairan intravena harus diberikan secara hati-hati agar tidak memperberat edema serebral.

Penanganan lain termasuk anti-convulsan dan sedatif (untuk menurunkan agitasi).

Penanganan intensif, termasuk ventilasi dapat menurunkan pembengkakan otak secara signifikan.

Acute disseminated encephalomyelitis dapat ditangani dengan steroid dosis tinggi, untuk memperbaiki hasil yang ditimbulkan pada awal penanganan.

Prognosis

Prognosis tergantung pada umur pasien dan penyebab. Prognosis paling rendah bila terjadi encephalitis virus dengan herpes simplex encephalitis dan subacute sclerosing panencephalitis.

CANDIDIASIS Kandidiasis adalah infeksi oportunistik yang sangat umum pada orang dengan HIV. Infeksi ini disebabkan oleh sejenis jamur yang umum, yang disebut kandida. Jamur ini, semacam ragi, ditemukan di tubuh kebanyakan orang. Sistim kekebalan tubuh yang sehat dapat mengendalikan jamur ini. Jamur ini biasa menyebabkan penyakit pada mulut, tenggorokan dan vagina. Infeksi oportunistik ini dapat terjadi beberapa bulan atau tahun sebelum infeksi oportunistik lain yang lebih berat. Etiologi Jamur candida, yang berasal dari mulut, Vagina, Kulit.

Faktor Risiko Diabetes Melitus Pemakaian antibiotic spectrum luas ( tetrasiklin) Pemakaian kortikosteroid ( inhaled corticosteroid )

Sellular immune defisiensi HIV

Gambaran Klinis :

oral trush : putih, adherent, painless, berdarah saat dicabut Esophageal candidiasis : substernal pain, perasaan ada yang mengghalangi dan membengkak

Diagnosis : Cara penegakkan dengan menemukan pseudohifa pada kultur rongga mulut dengan pemberian KOH 10%

Pengobatan : - Oral thrush : Clotrimazole toches 10mg tablet dihisap atau nistatin - Esophageal Candidiasis : Fluconazole (100-200mg/dl) atau Itraconazole (200mg/dl), Caspofungin, micafungin, amfotericin B (sebagai alternatif).

TUBERCULOSIS Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri yaitu bakteri

Mycobacterium tuberculosis. TB biasanya mempengaruhi paru-paru, tapi kadangkadang dapat juga mempengaruhi organ tubuh lain, terutama pada Odha dengan jumlah CD4 di bawah 200. TB primer terjadi setelah anda terinfeksi TB untuk pertama kali. Insiden tuberkulosis primer progresif sangat tinggi pada pasien HIV + denegan derajat imunosupresi lanjut. Imunosupresi menyebabkan pasien tidak mampu membentuk reaksi imunologik yand diperantarai sel T CD4 untuk menehan infeksi. TB sekunder merupakan penyakit yang terjadi pada pejamu yang telah tersensitisasi. Umumnya muncul karena reaktivasi lesi primer dorman.

Beberapa dekade setelah infeksi awal terutama jika resistensi pejamu melemah. TB sekunder biasanya terbatas di apeks satu atau dua lobus atas. Gejala klinis : batuk hilang berat badan; kelelahan terus menerus; keringat basah kuyup pada malam hari; dan demam, terutama pada sore hari. Gejala ini mirip dengan gejala yang disebabkan PCP, tetapi TB dapat terjadi pada jumlah CD4 yang tinggi. TB ditularkan melalui udara, waktu seseorang dengan TB aktif batuk atau bersin. Anda dapat mengembangkan TB secara mudah jika anda pada tahap infeksi HIV lanjut. Anda dapat terinfeksi TB pada jumlah CD4 berapa pun. petalaksanaan Beberapa antibiotik yang dipakai untuk mengobati TB dapat merusak hati atau ginjal. Begitu juga beberapa obat antiretroviral yang dipakai untuk memerangi HIV. Bisa jadi sulit untuk memakai obat untuk TB dan HIV sekaligus. banyak obat anti-HIV berinteraksi dengan obat yang dipakai untuk memerangi TB. Rifampisin atau rifabutin umumnya dipakai untuk mengobati TB. Obat ini dapat mengurangi kadar ARV dalam darah anda di bawah tingkat yang diperlukan untuk mengendalikan HIV. ARV dapat meningkatkan kadar obat TB ini pada tingkat yang mengakibatkan efek samping yang berat. Rifampisin tidak boleh dipakai jika anda memakai protease inhibitor (PI). Rifabutin dapat dipakai dalam beberapa kasus, tetapi mungkin dosisnya harus diubah. Ada pedoman khusus untuk dokter jika anda memakai obat untuk memerangi TB dan HIV sekaligus. Juga, jika jumlah CD4 anda di bawah 100, anda sebaiknya memakai rifabutin sedikitnya tiga kali seminggu. Ini mengurangi risiko TB-nya menjadi resistan terhadap rifabutin.

SIFILIS Suatu infeksi seksual kronis yang disebabkan oleh sprikeata, Triponema pallidum. Sumber infeksi biasanya lesi kulit aktif dikulit atau mukosa. Pada pasien sifilis primer atau sekunder organisme ditularkan dari lesi tersebut saat kontak seksual, menembus luka halus dikulit tau selaput lendir pasangan yang belum terinfeksi. Sifilis Primer : ditandai dengan chancre ditempat inkolusi awal chancre berawal dari papul kecil padat yang secara perlahan memadat yang dapat menyebabkan ulkus tak nyeri dengan tepi tegas berindurasi dan dasar basah. Sembuh secara sepontan dalam periode 4-6 minggu dan diikuti sifilis sekunder. Uji serologik biasanya sering negatif sehingga harus dilengkapi uji meikroskop lapang gelap atau uji flouresen. Sifilis sekunder : dalam waktu kurang lebih 2 bulan setelah resolusi chancre timbul lesi sekunder yang manifestasinya bervariasi yaitu kombinasi pembesaran kelanjar getah bening generalisata dan beragam lesi mukokutis, simetris dan bersifat mukopapular, berskuama atau pustular pada telapak tangan dan kaki yang sering terkena. Sifilis tersier : terjadi pada pasien yang sekitar 1/3 pasien yang tidak diobati, biasanya setelah masa laten 5 tahun atau lebih. Yang ditandai dengan adanya guma namun jarang terjadi, biasanya terjadi pada penderita HIV + terdapat guma pada berbagai tempat yang paling sering di tulang, kulit, serta membran mukosa saluran nafas atas dan mulut.