Anda di halaman 1dari 12

Definisi pemuliaan tanaman

DEFINISI PEMULIAAN TANAMAN 1. Pemuliaan tanaman adalah rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan. (Undang-undang Republik Indonesia nomor 29 tahun 2000 tentang perlindungan varietas tanaman) 2. Pemuliaan tanaman adalah suatu teknologi dan seni untuk memanipuasi gen dan kromosom atau kemampuan genetik tanaman sehingga sifat-sifat tanaman tersebut menjadi mulia dan lebih berguna sesuai dengan keperluan manusia yang selalu meningkat (Ahmad Baehaki dalam Nani Hermiati 2000. Diktat Kuliah Pengantar Pemuliaan Tanaman.Fakultas Pertanian UNPAD Bandung) 3. Plant breeding is the science, art, and business of improving plants for human benefit. (Bernardo, R. 2002. Breeding for quantitative traits. Stemma Press,Minneapolis, MN) 4. Pemuliaan tanaman adalah ilmu tentang perubahan susunan genetic sehingga memperoleh tanaman yang menguntungkan manusia (Poespodarsono Sumardjo. 1988. Dasar-dasar ilmu oemuliaan tanaman.PAU IPB-Lembaga sumberdaya informasi IPB). 5. Plant breeding implies the conscious human effort aimed at improving old and developing new varieties of crops in order to satisfy the demand for human and animal feed. Borojevic Slavsko. 1990. Development of crop science: Principles and method of plant breeding. Elsevier. New York) 6. Plant breeding is use of techniques involving crossing plants to produce varieties with particular characteristics (traits), which are carried in the genes of the plants and passed on to future plant generations. Agricultural Biotechnology glossary, USDA <http://www.usda.gov.us/ERS/brefing room.html >4/4/2008 7. Plant breeding is an applied, multidisciplinary science. It is the application of genetic principles and practices associated with the development of cultivars more suited to the needs of humans than the ability to survive in the wild; it uses knowledge from agronomy, botany, genetics, cytogenetic, molecular genetics, physiology, pathology, entomology, biochemistry, and statistics (Schlegel, R.H.J. 2003. Dictionary of plant breeding. Food Products Press/The Haworth Reference Press, New York.) 8. The ultimate outcome of plant breeding is mainly improved cultivars. Therefore, plant breeding is primarily an organismal science even though it is eminently suited to translate information at the molecular level (DNA sequences, protein products) into economically important phenotypes. (Gepts Paul and Jim Hancock. 2006. The future of plant breeding. Crop Sci. 46:16301634) 9. The traditional definition of a plant breeding includes science which develop new cultivars and improved germplasm; however, many feel this definition should be expanded to include science which contribute to crop improvement through breeding research (Ransom, C., C. Drake, K. Ando, and J. Olmstead. 2006. Report of breakout group 1: What kind of training do plant breeders need, and how can we most effectively provide that training? HortScience 41:5354) 10. A broad definition of plant breeding usually refers to the purposeful manipulation of genetic material through hybridization, mutation, or genetic engineering to produce new genotypes followed by selection of outstanding individuals to establish cultivars which are populations of related plants with economic value (Bliss A.Fredrick . 2007. Education and Preparation of Plant Breeders for Careers in Global Crop Improvement .International plant breeding symposium. Crop science society of America.

Madison WI USA, Desember 2007.pp250-261) 11. Plant breeding is the purposeful manipulation of certain species of plants in order to create desired varieties to achieve specific purposes. The manipulation may be done in several ways. It can either be by means of controlled pollination or the direct manipulation of the plants genes as in genetic engineering. This usually progresses into artificial selection new strains that will eventually lead to domestication. Plant breeding is a practice in making plants develop better strains for as early as thousands of years ago. It started with plant domestication practices that allowed early humans to produce and grow plants with fewer undesirable traits from wild strains. Many of the crops today were a result of plant domestication during the ancient times. 4/4/2008. 12. Plant breeding is technical components, for example, applied science, multidisciplinary approaches based on genetic principles, improved germplasm, new cultivars suited to human needs and transfer of few to many genes controlling simple to complex traits resulting in economically important phenotypes. (Lee, E.A., and J.W. Dudley. 2006. Plant breeding education. p. 120126. In K.R. Lamkey and A.R. Hallauer (eds.) Plant Breeding: The Arnel R. Hallauer Int. Symp., Mexico City. 1723 Aug. 2003.Blackwell Publ. Ltd., Oxford, U.K)

http://yudhistea.blogspot.com/2008/06/definisi-pemuliaan-tanaman.html pemuliaan tanaman pepaya


BAB I PENDAHULUAN Pepaya memiliki nilai strategis untuk dikembangkan karena memiliki daya terima (aceptable) yang luas dan dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat. Pepaya memiliki manfaat yang sangat bervariasi, dapat digunakan untuk membuat rujak buah, minuman penyegar, agar-agar, selai, asinan, kue-kue dan buah beku. Disamping itu, getah pepaya dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik maupun pelunak daging. Di Indonesia, penanaman pepaya dengan system monokultur masih belum banyak dilakukan. Umumnya pepaya diusahakan pada area yang relatif sempit. Beberapa permasalahan yang dihadapai dalam pengembangan pepaya adalah : 1. Produktivitas pepaya yang ada saat ini yang masih rendah (30 - 40 kg/pohon), varietas unggul yang ada kebanyakan buahnya berukuran terlalu besar (1.5 5 kg). Introduksi varietas Solo yang mempunyai sifat acceptable global karena berukuran kecil serta warna dagingnya kuning ditolak disebabkan adanya konotasi dengan pepaya makanan burung. 2. Masalah lain yang sekarang ini dihadapi adalah varietas unggul yang bersifat genjah dan berpohon pendek masih jarang, kadar kemanisan buah masih rendah, dan belum ada pembakuan varietas; benih tidak berupa galur murni, kebenaran nama varietas tidak terjamin, serta vigor juga tidak selalu tinggi. 3. Kemampuan adaptasi tanaman pepaya terhadap cekaman kekeringan/ kegenangan juga merupakan kendala yang masih harus dihadapi, karena dapat merubah sex pohon, ataupun adanya skip pada beberapa buku sehingga tidak berbuah. 4. Pengembangan budidaya tanaman pepaya secara intensif dalam skala luas masih banyak kendala terutama serangan penyakit.

5. Teknologi penyadapan getah pepaya serta pemrosesan papain belum dikuasai petani. Salah satu peluang pemecahan masalah yang paling tepat adalah melalui pemuliaan tanaman pepaya untuk mendapatkan varietas unggul yang mempunyai karakter a.l. kualitas buah yang disukai konsumen, produktivitas tinggi, tahan terhadap serangan penyakit. Dengan demikian, dalam jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan daya saing pepaya Indonesia dalam agribisnis buah-buahan. Secara rinci tujuan kegiatan tersebut meliputi hal-hal berikut : 1. Merakit varietas unggul baru yang memiliki sifat pohon dwarf, masa pembungaannya cepat (genjah), produktivitasnya tinggi dan tahan penyakit. 2. Sifat-sifat yang berhubungan dengan kualitas buah untuk konsumsi segar antara lain : berukuran kecil-medium (0.5 1.0 kg/buah) atau besar (< 3 kg), warna daging buah jingga sampai merah, mempunyai warna kulit hijau dengan warna merah-jingga diselanya, rongga buah kecil (edible portion tinggi), kulit buah halus, buah berbentuk lonjong (oblong), bertekstur padat (firm), rasanya manis dan tidak ada pahitnya atau rasa getah, self life tinggi, dan beraroma khas. 3. Sifat-sifat yang diinginkan terdapat pada varietas unggul untuk tujuan industri papain antara lain : mempunyai ukuran buah besar, kandungan getah dan kualitas papainnya tinggi, kulit buah halus, daging buah tebal, dan bentuk buahnya memanjang.

BAB II PEMBAHASAN Kegiatan pengembangan pepaya unggulan Indonesia pada tahun 2002 dilakukan oleh RUSNAS yaitu National Strategic Priority Research, merupakan kelanjutan dan penyempurnaan kegiatan

yang telah dilakukannya pada tahun 2001. Secara umum lingkup kegiatan RUSNAS meliputi tiga aspek, yaitu Pengembangan Varietas, Pengembangan atau Perbaikan Teknologi Produksi, serta Pengembangan Agro-technological Cluster. Pengembangan varietas yang merupakan metode pemuliaan papaya, telah dilakukan penataan, rekonsolidasi dan peningkatan koleksi serta karakterisasi plasma nutfah pepaya; analisis genetic pepaya; melakukan pemurnian koleksi pepaya terpilih sebagai bahan dasar pembentukan varietas unggul. Pengembangan varietas kegiatannya meliputi: 2.1 Koleksi Plasma Nutfah dan Pemanfaatannya Pengembangan varietas pepaya diawali dari pengumpulan plasma nutfah pepaya dengan cara eksplorasi ke berbagai daerah dan introduksi dari luar negeri. Plasma nutfah tersebut ditanam/dikoleksi di Kebun Percobaan IPB (Tajur, Cikabayan dan Pasir Kuda). Selanjutnya dilakukan evaluasi, karakterisasi, dan seleksi untuk dimanfaatkan dalam program pemuliaan seterusnya. Koleksi plasma nutfah telah dimulai sejak tahun pertama dan terus berlanjut sampai saat ini. Hasil kegiatan eksplorasi RUSNAS tahun 2001 ke daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur, serta hasil pemuliaan pepaya BALITBU Solok, telah ditanam di Kebun Percobaan IPB Tajur, Cikabayan dan Pasir Kuda. Tanaman pepaya yang dikoleksi tersebut digunakan untuk tujuan pemuliaan dan penelitian yang terkait dengan pemuliaan pepaya. Selain itu, untuk melestarikan koleksi yang telah ada, dilakukan selfing dan menyimpan benih hasil selfing tersebut di seed storage. Kegiatan koleksi plasma nutfah pepaya terus berlanjut, sehingga jumlah nomor koleksi/aksesi terus bertambah. Pada tahun 2002 diperoleh tiga varietas introduksi dari Malaysia dan Thailand serta enam varietas lokal dari Bengkulu, Pontianak, Blitar, Magelang, Boyolali dan pepaya Semangka Paris. Kegiatan pemeliharan koleksi yang ada terus dilakukan di Kebun Percobaan IPB Tajur, Pasirkuda dan Cikabayan. Koleksi plasma nutfah pepaya ini sekaligus juga dimanfaatkan untuk promosi kepada pengusaha dan petani yang berkunjung ke Kebun Koleksi dan berminat mengembangkan usaha produksi agribisnis pepaya. Sampai saat ini, para pengusaha dan petani pepaya yang telah mengunjungi Kebun Koleksi dan berminat mengembangkan agribisnis papaya sebanyak lima orang. Empat diantaranya sudah mencoba untuk mengembangkan agribisnis pepaya di Bandung, Cisarua, Bogor, dan Lampung. Pemanfaatan dan pengembangan plasma nutfah ini sekaligus merupakan pengujian awal dari hasil seleksi genotipe yang telah dimurnikan. 2. 2 Pembentukan Populasi Dasar Populasi dasar yang dibentuk dari bahan/koleksi plasma nutfah yang telah ada, dapat melalui persilangan di antara genotipe-genotipe terpilih, atau melakukan selfing untuk mengekalkan karakter yang terdapat pada populasi tersebut. Benih hasil selfing maupun crosssing yang sudah didapat akan digunakan dalam program pemuliaan selanjutnya, tergantung tujuan dan metode yang digunakan. Pembentukan populasi dasar pemuliaan bertujuan untuk memperoleh populasi tanaman pepaya yang memiliki keunggulan-keunggulan tertentu. Populasi dasar ini berfungsi sebagai working collection yang merupakan sumber genetik (plasma nutfah) yang dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan. Tanaman yang digunakan sebagai working collection ini dapat berupa tanaman hasil selfing maupun crossing.

2.3 Karakterisasi Morfologis dan Molekuler Plasma Nutfah Karakterisasi plasma nutfah pepaya yang potensial masih terus dilakukan baik secara pengamatan morfologi (konvensional) dan marka molekuler. Berdasarkan karakterisasi morfologi yang telah dilakukan terhadap koleksi tersebut, diperoleh sebanyak 39 genotipe yang teridentifikasi dengan jelas. Sementara itu, berdasarkan karakterisasi dengan menggunakan marka dari 5 genotipe yang berbeda, ternyata hanya 2 yang menunjukkan perbedaan nyata. Deskripsi morfologi tersebut dia atas dilakukan dalam 3 tahap terhadap plasma nutfah yang dikoleksi oleh PKBT. Hal ini dikarenakan plasma nutfah yang diperoleh juga secara bertahap. Tahap pertama, deskripsi morfologi tanaman meliputi lima kultivar yang dilanjutkan dengan pengujian terhadap kualitas buah dari 4 kultivar yang diuji. Tahap kedua, karakterisasi morfologi dilakukan terhadap 15 kultivar yang berasal dari hasil eksplorasi dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pengujian ketiga dilakukan terhadap 19 nomor pepaya hasil pemuliaan Balai Penelitian Buah-buahan (BALITBU) Solok, yang dilanjutkan dengan pengujian kualitas buahnya (pengujian tengah berlangsung). Disamping itu, saat ini masih berlanjut deskripsi morfologi terhadap 10 nomor koleksi PKBT yang baru diperoleh dari eksplorasi ke berbagai daerah. Metode karakterisasi molekuler yang digunakan adalah Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD). Digunakan metode ini karena mempunyai beberapa kelebihan antara lain, metodenya sederhana, relatif cepat dapat dilihat hasilnya, DNA yang diperlukan sangat sedikit dan tidak perlu terlalu murni, tidak menggunakan radioisotop maupun DNA probe, serta sesuai digunakan untuk sampel yang banyak dengan hanya menggunakan satu primer saja. Lima genotipe telah diidentifikasi dengan RAPD, empat genotipe berasal dari species Carica papaya (GM, NM203, KD dan DTM) dan satu aksesi dari species Carica candamarcencis (Dieng) yang merupakan koleksi dari plasmanutfah PKBT. Metode yang digunakan meliputi isolasi DNA dan Analisis RAPD. Isolasi DNA menggunakan metode CTAB dari Doyle and Doyle (1987) dengan sedikit modifikasi. Dengan menggunakan 6 random primer berhasil di identifikasi 40 fragmen dengan kandungan GC lebih dari 60 % di tiap primernya. Jumlah frgamen berkisar antara 5 sampai 8 dengan rata-rata 6.7 fragmen per primer. Dendogram berdasarkan metode UPGMA dengan persamaan Nei dan Li (1979) dan plot hasil analisis komponen utama (AKU) memisahkan aksesi-aksesi yang diuji kedalam dua kelompok. Spesies Carica papaya (GM, NM203, KD dan DTM) berada pada satu kelompok sedangkan spesies Carica candamarcencis (Dieng) berada pada kelompok yang lain. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Carica papaya dan Carica candamarcencis memiliki karakter genetik yang berbeda. 2.4 Perakitan Varietas Hibrida Kegiatan dalam program pembentukan varietas hibrida, diawali dengan eksplorasi, introduksi dan koleksi plasma nutfah yang telah dilaksanakan pada tahun pertama. Selanjutnya, koleksi plasma nutfah yang telah ditanam di Kebun IPB Bogor, dikarakterisasi berdasarkan sifat morfologi dan diseleksi untuk membentuk populasi dasar yang akan digunakan untuk program pemuliaan seterusnya. Genotipe yang terpilih, kemudian diselfing untuk memurnikan zuriatnya. Sebanyak 19 genotipe pepaya telah diseleksi kemudian diselfing. Benih hasil selfing akan ditanam dan dievaluasi pada musim berikutnya. Pembentukan varietas hibrida diawali dengan pembentukan galur murni dari koleksi plasma nutfah hasil eksplorasi PKBT dan introduksi. Beberapa varietas introduksi merupakan galur murni, seperti Sunrise Solo dan Eksotika. Pembentukan F1 hibrida memerlukan persilangan antara tetua / tanaman betina dan tetua jantan yang terpilih. Secara teknis, akan mudah melakukan persilangan tetua betina dari tanaman tipe

gynoecious (Q), namun persilangan yang dibuat akan menghasilkan tanaman betina dalam jumlah yang banyak. Keadaan ini tidak diinginkan, karena tanaman betina akan menghasilkan bentuk buah yang kurang disukai (bulat). Oleh karena itu, persilangan dilakukan pada tipe tetua hermaphrodite, meskipun harus melakukan emaskulasi sebelum pelaksanaan persilangan. Tanaman / bunga hermaphrodite akan menghasilkan benih yang akan menjadi tanaman hermaphrodite dengan persentase yang lebih banyak. 2.5 Evaluasi Genotipe Pepaya untuk Produksi Papain Kegiatan penelitian penyadapan getah pepaya ini ditujukan untuk memperoleh metode penyadapan papain yang efisien, mengetahui genotype pepaya yang menghasilkan getah tinggi dan menganalisis kandungan enzim papain yang berasal dari getah tersebut. Sementara ini, hasil yang diperoleh adalah produksi getah dan hasil papain dari empat genotipe yang diuji yaitu Morezati, Sukaraja I, Sukaraja II, dan Bozza. Penelitian dilanjutkan dengan menguji beberapa genotipe yang potensial untuk memproduksi getah dan menganalisis kandungan papainnya (sedang berlangsung).

BAB III PENUTUP Keberhasilan pemuliaan tanaman papaya ini akan memberikan dampak positif pada beberapa aspek dalam mata rantai agribisnis buah-buahan, yaitu: 1. Industri Benih/Bibit Varietas baru yang dihasilkan diharapkan dapat meningkatkan produksi benih/bibit berkualitas. Peningkatan produksi benih/bibit akan menyebabkan kegiatan bisnis benih dan pembibitan akan lebih berkembang. 2. Produksi dan Kualitas Buah

Varietas baru yang dihasilkan dari industri benih/pembibitan berpotensi untuk meningkatkan produksi maupun kualitas hasil yang lebih baik secara luas. Selain itu perbaikan teknologi yang dihasilkan akan mendukung proses produksi lebih baik melalui perbaikan/peningkatan efisiensi, kualitas, produktivitas maupun diversifikasi produksi, baik diversifikasi waktu maupun jenis. 3. Industri Pengolahan Buah Perusahaan processing akan menampung produksi dari perusahaan produsen primer. Dengan adanya varietas baru maka produk yang dihasilkan oleh produsen primer akan lebih baik sehingga berpotensi untuk memberikan kualitas produksi yang lebih baik kepada perusahaan pengolahan buah. Selain itu proses produksi juga menjadi lebih efisien karena seleksi bahan baku lebih mudah karena lebih seragam. Demikian juga dengan teknologi yang diperbaiki diharapkan mendukung kegiatan produksi secara umum lebih baik. 4. Industri Jasa dan Perdagangan Produk baru yang dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dan harga yang lebih bersaing daripada produk sebelumnya. Perbaikan kualitas dan tingkat harga menyebabkan peluang pasar terbuka lebih luas. Misalnya dengan terbukanya peluang perdagangan ke segmen konsumen lebih tinggi dan terbukanya peluang ekspor ke negara-negara lain yang mensyaratkan produk dengan kualitas tinggi. Dengan demikian volume maupun perdagangan buah nasional, baik segar maupun olahan akan meningkat. Sebagai contoh adalah Pepaya Eksotika dari Malaysia dengan perbaikan varietas dapat meningkatkan volume perdagangan hingga 900 persen.

DAFTAR PUSTAKA http:/pkbt.ipb.ac.id/pemuliaan-tanaman-buah-pepaya katalog.ipb.ac.id/jurnale/files/Karsinah_KeragamanGenetikPlasma.pdf http://www.find-pdf.com/cari-pemuliaan+tanaman.html

http://meycess.blogspot.com/2010/06/pemuliaan-tanaman-pepaya.html

http://www.batan.go.id/patir/_berita/pert/padi/padi.html

PEMULIAAN TANAMAN PADI DI PATIR

Upaya peningkatan produksi padi dapat dilakukan melalui perbaikan varietas dengan teknik pemuliaan mutasi atau perakitan varitas unggul yang telah ada melalui persilangan dan bioteknologi. Kegiatan penelitian tanaman padi sawah dengan teknik mutasi telah banyak dilakukan, institusi BATAN sendiri telah berhasil menciptakan varietas baru melalui pemuliaan dengan teknik mutasi ini. Contoh keberhasilan tersebut adalah dilepaskannya beberapa varietas padi diantaranya adalah; Atomita 1, Atomita 2, Atomita 3, Atomita 4, Situgintung, Cilosari, Woyla, Meraoke, Kahayan, Winongo, Diah Suci, Yuwono dan Mayang. Beberapa varietas unggul tersebut telah dimanfaatkan dalam program persilangan padi. Pada penelitian padi sawahuntuk mendapatkan galur-galur mutan yang homogen perlu dilakukan seleksi serta pemurnian, dan untuk mendapatkan informasi mengenai sifat agronomi galur mutan daya hasil, galur-galur tersebut perlu ditanam lagi sebagai tanaman obsevasi dan uji daya hasil. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 2006 dengan bahan penelitian galur F2 dari persilangan Diah Suci/Ar-10k, galur mutan M6 Gilirang dan galur mutan M8 Cimelati. Pemuliaan dengan teknik mutasi ini dapat diterapkan juga untuk meningkatkan potensi unggulan daerah dibidang pertanian terutama dalam perbaikan varietas padi lokal. Hal ini senada dengan Undang-undang No. 22 dan 25 Tahun 1999 mengenai otonomi daerah yang telah mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2001. Ini berarti bahwa setiap daerah di Indonesia, dalam pengertian daerah terkecil adalah Kabupaten, harus mampu mandiri. Oleh sebab itu setiap potensi unggulan daerah perlu dikembangkan agar dapat memberikan sumbangan terhadap pendapatan asli daerah yang nyata dan besar. Didasari dari keberhasilan BATAN dalam melepaskan varietas-varietas padi baru, telah mendorong Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan untuk memperbaiki varietas padi lokal mereka yaitu Siam Datu, yang memiliki sifat yaitu berumur dalam, tanaman tinggi dan produksi rendah. Tinggi dan umur varietas padi sangat mungkin diubah dengan teknik mutasi. Berdasarkan laporan Maluszynski dkk (1995), dari

322 varietas padi mutan yang dilepas secara resmi, 128 varietas dilepas karena batangnya menjadi lebih pendek (semi dwarfness), dabn 111 varietas karena umurnya menjadi lebih genjah. Oleh karena itu, permintaan dari Pemda Kalimantan Selatan tersebut sangat mungkin diwujudkan oleh BATAN. Kegiatan Uspen ini telah dimulai pada tahun 2005. Benih padi dari Kalimantan Selatan diiradiasi pada dosis 0,2 dan 0,3 kGy dan ditanam di Kebun Percobaan Pasar Jumat. Dalam perakitan varietas unggul nasional ada beberapa pendekatan yang lazim digunakan, diantaranya pendekatan secara inbred lines, mutasi buatan, bioteknologi dan hibrida. Perakitan varietas secara inbred lines dan secara mutasi buatan sudah banyak menghasilkan varietas unggul dan telah ditanam di hampir semua areal pertanaman padi di dunia, secara bioteknologi yang dikenal dengan varietas trans-genic belum begitu lazim sedangkan varietas unggul hibrida lebih populer di daratan China dengan luas pertanaman pada tahun 1995 lebih dari 18 juta hektar atau sekitar 58 % dari areal pertanaman padinya. Pada penelitian ini dilakukan perakitan varietas melalui tiga pendekatan sekaligus, yaitu pendekatan secara inbred lines, mutasi buatan dan hibrida. Ketiga pendekatan ini dilakukan secara simultan dan saling mendukung. Selain peningkatan produksi padi, juga ditujukan untuk perbaikan kualitas seperti peningkatan kandungan Fe, Zn dan menurunkan kandungan phytic acid yang merupakan anti nutrisi bagi tubuh. Dari berbagai penelitian yang dilakukan, penurunan phytic acid ini baru bisa dengan menggunakan pemuliaan dengan teknik mutasi. Rendahnya kandungan phytic Acid dalam biji padi, akan menyebabkan peningkatan penyerapan unsur-unsur essensial yang dibutuhkan tubuh seperti Fe, Zn, dan vitamin-vitamin.

Tanaman padi bersegregasi

Percobaan tanaman padi di lapangan

http://www.batan.go.id/patir/_berita/pert/padi/padi.html

DEFINISI PEMULIAAN TANAMAN Pemuliaan tanaman dapat didefinisikan sebagai gabungan dari ilmu pengetahuan, teknologi dan seni agar diperoleh tanaman yang menguntungkan bagi manusia dengan cara merekayasa gen/kromosom dan lingkungan. (Tim Dosen FPUB) Pemuliaan tanaman adalah ilmu tentang perubahan susunan genetic sehingga memperoleh tanaman yang menguntungkan manusia (Poespodarsono Sumardjo. 1988. Dasar-dasar ilmu oemuliaan tanaman.PAU IPB-Lembaga sumberdaya informasi IPB). Pemuliaan tanaman adalah rangkaian kegiatan penelitian dan pengujian atau kegiatan penemuan dan pengembangan suatu varietas, sesuai dengan metode baku untuk menghasilkan varietas baru dan mempertahankan kemurnian benih varietas yang dihasilkan. (Undang-undang Republik Indonesia nomor 29 tahun 2000 tentang perlindungan varietas tanaman). Plant breeding is the science, art, and business of improving plants for human benefit. (Bernardo, R. 2002. Breeding for quantitative traits. Stemma Press,Minneapolis, MN) Plant breeding is technical components, for example, applied science, multidisciplinary approaches based on genetic principles, improved germplasm, new cultivars suited to human needs and transfer of few to many genes controlling simple to complex traits resulting in economically important phenotypes.

PROGRAM BAKU PEMULIAAN TANAMAN Ruang lingkup pemuliaan tanaman dibagi menjadi empat kegiatan besar, yaitu Pembentukan keragaman genetik (sebagai populasi dasar/bahan dasar proses pemuliaan tanaman), seleksi (pemilihan yang didasarkan pada penilaian genetik dari populasi yang diseleksi), pengujian (menguji individu-individu yang terseleksi untuk dipastikan kualitas dan kuantitasnya sebelum akhirnya dilepas) dan pelepasan varietas. Penentuan tujuan pemuliaan tanaman Tujuan dalam program pemuliaan tanaman didasarkan pada strategi jangka panjang untuk mengantisipasi berbagai perubahan arah konsumen atau keadaan lingkungan. Ada dua tujuan umum dalam pemuliaan tanaman yaitu pertama peningkatan kepastian terhadap hasil yang tinggi artinya biasanya diarahkan pada peningkatan daya hasil, cepat dipanen, ketahanan terhadap organisme pengganggu atau kondisi alam yang kurang baik bagi usaha tani, serta kesesuaian terhadap perkembangan teknologi pertanian yang lain. Yang kedua perbaikan kualitas produk yang dihasilkan artinya tujuan semacam ini dapat diarahkan pada perbaikan ukuran, warna, kandungan bahan tertentu (atau penambahan serta penghilangan substansi tertentu), pembuangan sifat-sifat yang tidak disukai, ketahanan simpan, atau keindahan serta keunikan. Penyediaan materi pemuliaan Penyediaan materi pemuliaan (populasi dasar) yang memiliki keragaman genetik yang tinggi sangat penting untuk menunjuang proses pemuliaan tanaman. Karena suatu tanaman dapat ditingkatkan potensi genetiknya jika terdapat keragaman genetik dalam populasinya. Peningkatan keragaman (variabilitas) genetik apabila aksesi tidak ada satu pun yang memiliki

suatu sifat yang diinginkan, pemulia tanaman melakukan beberapa cara untuk merakit individu yang memiliki sifat ini. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah introduksi bahan koleksi, persilangan, manipulasi kromosom, mutasi dengan paparan radioaktif atau bahan kimia tertentu, penggabungan (fusi) protoplas/inti sel, manipulasi urutan gen, transfer gen, dan manipulasi regulasi gen. Seleksi melalui penilaian genotip atau populasi yang dijadikan varietas harapan Proses seleksi dapat dilakukan jika materi pemuliaan (populasi dasar) memiliki keragaman genetik yang tinggi. Pemilihan individu atau populasi didasarkan pada penampakan fenotip atau uji keturunan. Keefektifan seleksi tergantung pada tujuan program pemuliaan, tingkat keragaman genetik pada populasi dasar, jenis tanaman dan parameter genetik. Pengujian genotip dan varietas harapan Bahan-bahan pemuliaan yang telah terpilih harus dievaluasi atau diuji terlebih dahulu dalam kondisi lapangan karena proses seleksi pada umumnya dilakukan pada lingkungan terbatas dan dengan ukuran populasi kecil. Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah keunggulan yang ditunjukkan sewaktu seleksi juga dipertahankan dalam kondisi lahan pertanian terbuka dan dalam populasi besar. Selain itu, bahan pemuliaan terpilih juga akan dibandingkan dengan kultivar yang sudah lebih dahulu dirilis. Pelepasan varietas harapan menjadi varietas baru Untuk varietas yang akan dilepas harus diadakan percobaan adaptasi, dibandingkan dengan varietas baku, di beberapa tempat yang mewakili daerah, di mana varietas tersebut akan dianjurkan. Percobaan adaptasi dilaksanakan sedemikian rupa sehingga data yang diperoleh dapat dipercaya. Sebelum pelepasan varietas harus melakukan prosedur pelepasannyadengan cara mengajukan Permohonan pelepasan varietas diajukan secara tertulis kepada Menteri Pertanian melalui Ketua Badan Benih Nasional dan beberapa tahap yang lainnya. Keputusan tentang pelepasan varietas ditetapkan oleh Menteri Pertanian dengan Surat Keputusan.

BENTUK CONTOH KEBERHASILAN PEMULIAAN TANAMAN PEMULIAAN MUTASI TANAMAN JERUK KEPROK (MUTATION BREEDING OF CITRUS RETICULATA BLANCO) Karakterisasi merupakan salah satu cara yang biasa digunakan dalam kegiatan pemuliaan untuk mendeteksi perubahan sifat yang terjadi pada tanaman termasuk setelah perlakuan mutasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakter morfologi tanaman jeruk keprok yang telah mendapat perlakuan radiasi sinar gamma. tanaman yang diamati dalam penelitian ini adalah tanaman jeruk keprok (Batu 55, SoE, dan Garut) yang telah mendapat perlakuan sinar gamma (20 Gray, 40 Gray dan 60 Gray) dan berumur tiga tahun. Pengamatan karakterisasi morfologi tanaman dilakukan pada fase vegetatif dan generatif dengan menggunakan descriptor list dari

IPGRI yang telah disesuaikan terhadap setiap individu tanaman yang mengalami perlakuan. Jumlah dihitung untuk mandapatkan kandidat tanaman yang seedless. Hasil pengamatan terhadap morfologi daun menunjukkan adanya karakter yang berbeda yaitu pada jeruk keprok Batu 55 yang telah diradiasi dengan sinar gamma 20 gray terdapat sayap daun yang sempit dengan obovate yaitu bagian atas lebar kamudian semakin ke pangkal semakin menyempit. Sementara pengamatan terhadap jumlah biji menunjukkan bahwa dari 36 tanaman Keprok SoE terdapat 3 tanaman (8.3 %) memiliki biji nol (0) atau seedless. Kata kunci : mutan, Batu55, SoE, Garut, sinar gamma, karakterisasi

http://frombeetobee.blogspot.com/2011/05/pertanian-pemuliaantanaman.html?zx=f54b08e24b025100