Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Budidaya ikan hias air tawar baik ikan hias yang berasal dari perairan asli Indonesia maupun yang bukan berasal dari perairan Indonesia dapat dijadikan alternatif usaha yang dapat memberikan keuntungan. Permintaan pasar berbagai jenis ikan hias dari tahun ke tahun cenderung terus meningkat akibat banyaknya importir yang membuka pintu untuk ikan hias Indonesia karena untuk pasar yang modern diperlukan suplay yang cukup, kontinu, dan bermutu. Prospek bisnis ikan hias di Indonesia cukup cerah. Faktor pendukungnya adalah jenis ikan hias yang beragam, air cukup, lahan masih sangat luas dan iklim yang ada di Indonesia sangat cocok. Salah satu jenis ikan hias air tawar yang bernilai ekonomis tinggi adalah ikan Pterophyllum scalare. Baik di pasar lokal maupun internasional. Di beberapa pusat penjualan ikan hias di Jakarta harga jenis black and white, slayer, red eye, dan platinum berada pada kisaran Rp20.000,00 sampai Rp25.000,00 per pasang induk. Ikan hias diminati oleh masyarakat karena bentuk dan warnanya yang indah, serta tingkah lakunya yang lucu dan menyenangkan (Daelami, 2001). Kegiatan budidaya P. scalare dilakukan pada dua tahapan yang meliputi pembenihan dan pendederan. Pembenihan dan pendederan ikan P. scalare sangat sederhana, cukup dengan cara memasangkan induk secara masal (induk akan berpasangan masing-masing) akan menghasilkan telur yang relatif banyak (Susanto, 2000). Praktik umum yang akan dilakukan oleh mahasiswa adalah kegiatan pembenihan dan pendederan ikan P. scalare di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok. 1.2 Tujuan Tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok. Adalah sebagai berikut :

1.

Mempelajari, memahami dan mengikuti praktek kerja lapangan di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) depok.

2. Memperoleh pengalaman kerja dan mendapat peluang untuk dapat berlatih untuk dapat berlatih menangani permasalahan di masyarakat. 3. Melaksanakan studi perbandingan antara teori yang diperoleh di kuliah dengan penerapan di lapangan.
4. Mempraktikkan cara pemeliharaan induk, benih,dan larva ikan P. scalare. 5. Mempraktikkan teknik pembenihan ikan P. scalare. 6.

Mahasiswa dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan dan ketrampilan teknik pembenihan dan pendederan ikan P. scalare yang ada di lapangan.

1.3 Waktu dan Tempat Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan di Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) depok, pada tanggal 5 juli s.d 5 agustus 2010.

1.4 Metode Pelaksanaan Proses kegiatan yang dilakukan dalam pembenihan ikan Pterophyllum scalare dalam rangka pengumpulan data sebagai bahan kajian adalah: 1. Menikuti secara langsung dalam semua kegiatan pembenihan ikan Pterophyllum scalare di BRBIH Depok. 2. Wawancara Untuk mencari informasi actual dalam bentuk Tanya jawab pimpinan operasi dan teknisi lapangan dalam pembenihan. 3. Studi pustaka dengan mencari informasi yang bersumber dari literature berupa jurnal dan hasil penelitian yang meliputi kendala yang dihadapi dalam kegiatan hasil penelitian.

BAB II

KEADAAN UMUM TEMPAT PKL

2.1

Lokasi Kegiatan Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok terletak di Jalan Perikanan

No. 13 RT/RW 01/02 Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Propinsi Jawa Barat. Lokasi praktik umum ini merupakan dataran rendah dengan temperatur 28 sampai 30C dengan curah hujan sedang. Balai riset ini memiliki lahan seluas 11,975 ha dan terletak pada ketinggian 500 sampai 600 m di atas permukaan laut. Balai riset ini terletak sekitar 500 m dari jalan raya, berada dalam lingkungan pemukiman penduduk. Jarak antara lokasi BRBIH Depok dengan Stasiun Depok Lama sekitar 1 km.

2.2

Sejarah Singkat BRBIH Depok BRBIH Depok merupakan salah satu balai riset yang menunjang lembaga

penelitian perikanan darat Bogor yang dikoordinasi oleh Departemen Kelautan dan Perikanan. Selain sebagai lembaga, BRBIH Depok juga merupakan unit pelaksana teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian di bidang Penelitian dan Pengembangan Perikanan yang berada di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Awalnya BRBIH Depok di bawah Departemen Pertanian. Namun setelah zaman reformasi, antara Departemen Pertanian dan Departemen Perikanan dan Kelautan terpisah maka BRBIH Depok dikoordinasi di bawah Departemen Perikanan dan Kelautan. Berdirinya BRBIH depok Pada tahun 1957 yang dulu berfungsi sebagai pusat percobaan dari Balai Penelitian Perikanan Darat Direktur Jendral Perikanan Departemen Pertanian, setelah beberapa tahun setelah berubah ubah fungsi dan nama maka Tahun 2009 bulan Agustus berubah menjadi Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok.

2.3

Struktur Organisasi BRBIH Depok dalam melakukan tugas pembinaan tidak terlepas dari tenaga

kerja yang melakukan tugas sehari-hari. Untuk mempermudah dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut, maka disusunlah struktur organisasi. Struktur organisasi dapat dilihat pada Lampiran 1.

BAB III KEGIATAN YANG DILAKUKAN

3.1 Skema Kegiatan Pembenihan Ikan Pterophyllum scalare Pembenihan ikan Pterophyllum scalare merupakan kegiatan untuk menghasilkan benih yang dilakukan mulai dari tahap persiapan wadah, persiapan induk, sampai dengan pemanenan benih. Adapun skema kegiatan pembenihan yang dilakukan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Pengadaan Induk

Pemeliharaan Induk Pemijahan induk

Penetasan Telur Pemeliharaan Larva

Pendederan Benih

Gambar 1. Skema Kegiatan Pembenihan

3.2 Pemeliharaan Induk 3.2.1 Persiapan Wadah Pemeliharaan Wadah pemeliharaan induk Pterophyllum scalare berupa akuarium berukuran 80 x 40 x 40 cm3. Sebelum digunakan, akuarium dibersihkan terlebih dahulu dengan tujuan untuk menghilangkan bibit penyakit dan kotoran-kotoran yang dapat mengganggu selama pemeliharaan. Air yang digunakan bersumber dari air tanah (sumur bor) yang diendapkan terlebih dahulu di bak penampungan air (tandon) selama 24 jam. Tinggi air dalam akuarium antara 30 sampai 35 cm. 3.2.2 Penebaran Induk Penebaran induk Pterophyllum scalare dilakukan secara massal dalam akuarium pemeliharaan induk, yang kemudian induk akan memisah secara berpasangan dan siap dipindahkan ke akuarium pemijahan. Pasangan induk yang telah dipindahkan ke akuarium pemijahan dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Pasangan induk yang telah dipindahkan ke akuarium pemijahan 3.2.3 Pemberian Pakan Pakan merupakan asupan yang dibutuhkan ikan sebagai sumber energi untuk melakukan berbagai aktifitas metabolisme. Untuk mempercepat proses pemijahan induk, salah satu yang terpenting yaitu pemberian pakan dengan jumlah

yang cukup dan gizi yang tinggi. Selama pemeliharaan dan pematangan gonad, pakan yang tepat diberikan pada induk Pterophyllum scalare adalah jentik nyamuk (Culex) dan cacing darah (Bloodworm). Pakan diberikan secara adlibitum dengan frekuensi pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali sehari yaitu pada pukul 09.00 dan 15.30 WIB. Jentik nyamuk dan cacing darah yang siap diberikan untuk pakan induk dapat dilihat pada gambar.

Gambar 3. Jenis pakan induk (a) cacing darah dan (b) jentik nyamuk 3.2.4 Pengelolaan Kualitas Air Pengelolaan kualitas air dilakukan untuk menjaga kualitas air akuarium agar tetap baik dan bebas dari bahan toksik. Kegiatan dalam pengelolaan kualitas air meliputi penyiphonan, penggantian air, dan pengecekan kualitas air. 3.2.4.1 Penyiphonan Penyiphonan bertujuan untuk membuang kotoran ikan dan sisa pakan yang berada di dasar akuarium untuk menjaga kualitas air tetap baik. Penambahan air baru sesuai dengan volume air kotor yang terbuang. Frekuensi penyiphonan yaitu satu kali setiap hari yang dilakukan pada pagi hari pukul 09.00 WIB. 3.2.4.2 Penggantian Air Penggantian air total dilakukan setiap satu minggu sekali. Pembersihan akuarium menggunakan spons agar lumut dan kotoran yang menempel di akuarium hilang. Selain akuarium, selang aerasi dan substrat penempelan telur juga

dibersihkan. Pengisian air menggunakan air yang telah diendapkan terlebih dahulu dan kemudian diaerasi untuk menjaga kadar oksigen dalam air. 3.2.4.3 Pengecekan Kualitas Air Selain penyiphonan dan penggantian air, pengecekan kualitas air juga diperlukan untuk mengetahui kualitas air pada pembenihan ikan Pterophyllum scalare. Parameter kualitas air yang diukur pada kegiatan pembenihan Pterophyllum scalare di Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Parameter kualitas air No. Parameter kualitas air Optimum* Akuarium induk Akuarium larva 1 Suhu (oC) 2 pH 3 DO (mg/l) 4 NH3 (mg/l) 24 - 28 6,5 7,5 6 - 7,5 01 26,5 - 30 7 6,55 0,008 26,5 - 30 7,5 6,55 0,008

Keterangan : *Lesmana dan Iwan, 2006. Dari tabel diatas dapat dilihat paramater kualitas air sebagai berikut: a. Suhu Suhu merupakan besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda. Suhu optimal dalam kegiatan pembenihan ikan Pterophyllum scalare berkisar 24 sampai 28oC. Sedangkan suhu air pada akuarium induk dan larva berkisar 26,5 sampai 30oC. Fluktuasi suhu yang terjadi antara pagi, siang, dan malam hari dapat mengakibatkan ikan stress dan mudah terserang penyakit. Selain itu juga dapat menyebabkan larva susah beradaptasi, sehingga banyak larva yang mati. Pada pagi hari, suhu air pada akuarium ini sedikit lebih tinggi dibandingkan suhu air tandon. Hal ini karena letak tandon yang berada di luar ruangan (outdoor).

Oleh karena itu penyiphonan sebaiknya dilakukan pada pukul 10.00 WIB saat suhu air akuarium dan tandon sudah relatif sama. b. pH pH merupakan derajat atau tingkat keasaman suatu larutan yang bersifat asam, basa, atau netral. pH dalam pembenihan ikan Pterophyllum scalare sebaiknya netral, yaitu berkisar antara 6,5 sampai 7,5. Pada akuarium induk, pH air sebesar 7 menunjukkan bahwa pH air akuarium tersebut dalam kondisi netral, dan pada akuarium larva, pH yang diperoleh berdasarkan pengukuran sebesar 7,5 juga masih dalam kondisi optimum. c. DO (Oksigen Terlarut) Oksigen terlarut merupakan kandungan oksigen yang terlarut dalam air yang digunakan ikan untuk bernafas. Kebutuhan oksigen terlarut pada setiap spesies ikan bervariasi tergantung pada stadia dan aktivitas ikan. Oksigen terlarut yang optimum untuk pembenihan ikan Pterophyllum scalare adalah 6 sampai 7,5 mg/l. Kandungan oksigen terlarut pada akuarium induk dan larva sebesar 6,55 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan oksigen dalam air sudah tercukupi untuk berbagai aktifitas metabolisme ikan. d. NH3 Kadar NH3 pada akuarium saat pemeliharaan sangat dipengaruhi oleh kotoran (feses) hasil metabolisme ikan dan sisa-sisa pakan yang tidak dimakan ikan. Kadar amoniak yang optimum berkisar 0 sampai 1 mg/l. Akuarium induk dan akuarium larva memiliki kandungan amoniak yang sama yaitu 0,008 mg/l. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan amoniak masih dalam kondisi optimum dan tidak bersifat toksik.

3.3 Pemijahan Induk

Pemijahan merupakan salah satu cara menghasilkan keturunan untuk menjaga kelangsungan hidup dan kelestarian ikan tersebut. Pemijahan ikan Pterophyllum scalare dapat berlangsung sepanjang tahun. Proses pemijahan induk dilakukan melalui seleksi induk, persiapan wadah pemijahan, dan teknik pemijahan yang tepat. 3.3.1 Seleksi Induk Seleksi induk perlu dilakukan sebelum proses pemijahan, dengan tujuan untuk mendapatkan pasangan induk yang unggul yang sudah siap memijah. Perbedaan induk jantan dan betina Pterophyllum scalare dapat dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 4. Tabel 2. Perbedaan induk jantan dan betina No. Induk jantan Induk betina 1. Tubuh lebih besar Tubuh lebih kecil 2. Sirip punggung panjang, gerigi kasar Sirip punggung pendek, gerigi halus

3.

Di bagian kepala terdapat benjolan

Bagian kepala datar sampai punggung

4. 5.

Penampilan lebih menarik Perut lebih langsing (tipis)

Penampilan kurang menarik Perut lebih gemuk

Sumber : Septiarini, 2010.

(a)

(b)

10

Gambar 4. Perbedaan induk jantan (a), induk betina (b) Ciri-ciri induk yang siap memijah antara lain telah matang gonad, sehat (tidak terserang penyakit), tidak cacat (anggota tubuh lengkap), gerakannya lincah, berumur antara 7 sampai 12 bulan, dan panjang tubuhnya antara 7,5 sampai 10 cm (Susanto, 2000). Ciri-ciri induk Pterophyllum scalare yang telah matang gonad yaitu pada induk jantan gerakannya lebih agresif dan berenang mengikuti induk betina, sedangkan pada induk betina bagian perutnya sedikit membesar dari biasanya dan saluran lubang kelaminnya menonjol. 3.3.2 Persiapan Wadah Pemijahan Wadah yang digunakan untuk pemijahan induk Pterophyllum scalare adalah akuarium berukuran 80 x 40 x 40 cm3. Sebelum digunakan, akuarium dibersihkan terlebih dahulu kemudian diisi air dengan ketinggian 30 cm. Air yang digunakan bersumber dari air tanah (sumur bor) yang telah diendapkan di bak penampungan selama 24 jam. Kemudian diberi aerasi dan juga paralon sebagai substrat penempelan telur.

3.3.3 Teknik Pemijahan

11

Teknik yang digunakan dalam pemijahan induk Pterophyllum scalare adalah teknik pemijahan secara alami dengan memassalkan induk-induk jantan dan betina dalam satu wadah yang kemudian induk akan memisah secara berpasangan dan dipindahkan ke akuarium pemijahan. Perbandingan antara induk jantan dan induk betina adalah 1 : 1. Pemijahan ini biasanya berlangsung pada sore hari atau pada saat suasana sepi dan tenang. Sebelum memijah, induk jantan dan induk betina akan berenang mengelilingi tempat pemijahan, kemudian kedua induk bergantian membersihkan substrat (paralon) dengan menggunakan mulutnya. Saat pemijahan, induk jantan mulai berenang di samping induk betina, sampai akhirnya induk betina mengeluarkan telurnya sedikit demi sedikit dan menempelkan telurnya di permukaan substrat secara vertikal ke arah atas, setelah itu dilanjutkan dengan pembuahan oleh induk jantan dengan cara menyemprotkan spermanya pada telur-telur yang menempel pada permukaan substrat tersebut. Setelah selesai memijah, kedua induk akan saling bergantian menjaga telur-telurnya dan mengipas-ngipas siripnya untuk memberikan tambahan oksigen pada telurtelurnya. Pemijahan yang sedang berlangsung dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Berlangsungnya pemijahaan 3.4 Penetasan Telur 3.4.1 Akuarium Penetasan Telur

12

Walaupun induk Pterophyllum scalare dapat merawat telurnya sendiri, namun untuk efektivitasnya sebaiknya telur diambil bersama sarangnya dan ditetaskan dalam akuarium lain. Hal ini karena induk bisa memakan telurnya apabila induknya kekurangan makan. Oleh karena itu untuk keamanan telur, sebaiknya penetasan dilakukan secara terpisah (Lesmana dan Iwan, 2006). Wadah yang digunakan untuk penetasan telur Pterophyllum scalare adalah akuarium berukuran 80 x 40 x 40 cm3 yang terbagi menjadi dua bagian. Sebelum digunakan, akuarium dibersihkan terlebih dahulu kemudian diisi air yang telah diendapkan selama 24 jam dengan ketinggian 15 cm. Kemudian diberi aerasi dengan kapasitas kecil dan Methylene Blue dengan dosis 0,02 ppm. Pemberian Methylene Blue bertujuan untuk mencegah penjamuran pada telur. 3.4.2 Pemindahan Substrat (Paralon) Substrat yang telah ditempeli telur dipindahkan kurang lebih 17 jam setelah induk memijah. Pemindahan substrat dilakukan pada pagi hari saat suhu rendah. Cara memindahkan substrat yang telah ditempeli telur adalah dengan menggunakan wadah berupa baskom plastik yang telah diisi air. Pada saat proses pemindahan telur, substrat harus seluruhnya terendam dalam air pada baskom, karena telur yang terkontaminasi dengan udara akan menyebabkan kerusakan dan kematian telur-telur yang telah dibuahi. Setelah itu dengan perlahan-lahan telur dipindahkan ke dalam akuarium penetasan. Substrat yang telah ditempeli telur dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Substrat yang telah ditempeli telur 3.4.3 Penetasan Telur Dalam proses penetasan telur, ada beberapa telur yang tidak menetas. Hal ini disebabkan telur yang dihasilkan oleh induk betina tidak semuanya dibuahi oleh

13

induk jantan. Telur yang dikeluarkan induk betina sebesar 318 butir telur, dengan Fertilization Rate (FR) 95,28% maka telur yang dibuahi berjumlah 303 butir. Telur yang dibuahi akan menetas sekitar 2 sampai 3 hari setelah induk memijah. Pada saat menetas, larva belum bisa berenang sehingga masih menempel pada paralon, dan mulai bisa berenang setelah 2 sampai 3 hari. Larva yang baru menetas memperoleh makanan dari kuning telur yang masih melekat di tubuhnya. Larva yang baru menetas masih dipelihara di dalam akuarium penetasan telur. Setelah sekitar satu minggu larva dapat dipindahkan ke akuarium pemeliharaan benih. Dalam pembenihan ikan Pterophyllum scalare di Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok, jumlah telur yang menetas menjadi larva adalah193 ekor. Selama proses pemijahan diperoleh data derajat penetasan telur atau Hatching Rate (HR). HR dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

HR =

Jumlah telur yang menetas 100 % Jumlah telur seluruhnya


= 83,19 %

Dilihat dari nilai HR yang diperoleh, maka dari jumlah telur yang terbuahi yaitu 232 butir telur memiliki daya penetasan sebesar 83,19% sehingga penetasan telur dikatakan baik. Proses perkembangan telur ikan Pterophyllum scalare secara umum dapat dilihat pada Lampiran 2.

3.5

Pemeliharaan Larva Pemeliharaan larva merupakan tahapan yang paling sulit karena merupakan

stadium paling kritis dalam proses pembenihan. Larva memiliki sifat yang sensitif dan lemah sehingga diperlukan perawatan yang baik.

14

3.5.1 Pemberian Pakan Larva ikan terbagi menjadi dua yaitu prolarva dan postlarva. Prolarva adalah larva yang baru menetas dari telur dan masih mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur yang melekat pada tubuhnya. Sedangkan postlarva adalah larva ikan yang telah kehabisan kuning telurnya dan mulai membutuhkan makanan dari luar. Pada stadia postlarva, setelah kuning telurnya habis dapat diberi pakan alami berupa nauplii Artemia. Pemberian nauplii Artemia sampai larva berumur 16 hari. Setelah itu, larva dapat diberi pakan kutu air sampai berumur 42 hari. Manajemen pemberian pakan dari larva sampai menjadi benih dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Manajemen pemberian pakan larva berdasarkan umur (hari) No. Umur 1 0 - 6 hari 2 7 - 16 hari 3 17 - 42 hari 4 > 42 hari 3.5.2 Pengelolaan Kualitas Air Pengelolaan air pada stadium larva harus dilakukan dengan baik karena larva sangat rentan terhadap fluktuasi suhu dan bahan-bahan terlarut dari sisa pakan yang diberikan. Kendalanya adalah sulitnya menyiphon dan mengganti air pada akuarium larva karena ukuran larva yang kecil dikhawatirkan ikut tersedot. Oleh karena itu proses penyiphonan dilakukan dengan sangat hati-hati. Penyiphonan dilakukan untuk membersihkan kotoran, sisa pakan, dan larva mati yang terdapat di dasar wadah pemeliharaan. Setelah penyiphonan, dilakukan pengisian air dengan ketinggian air yang sama seperti semula dan kemudian diberi aerasi dengan kapasitas kecil. Jenis Pakan Persediaan kuning telur nauplii Artemia kutu air (Daphnia) cacing sutera (Tubifex) Frekuensi 3 kali sehari 3 kali sehari 3 kali sehari

15

3.6 Pendederan Benih 3.6.1 Akuarium Pemeliharaan Benih Akuarium pemeliharaan benih berukuran 80 x 40 x 40 cm3. Sebelum digunakan akuarium dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan spons hingga bersih. Kemudian diisi air dengan ketinggian 30 cm. Air yang digunakan berasal dari bak tandon yang telah diendapkan selama 24 jam dan setelah itu dapat diberi aerasi. 3.6.2 Penebaran Benih Proses penebaran benih dilakukan pada pagi hari saat suhu rendah dan dilakukan secara aklimatisasi yaitu penyesuaian pada kondisi lingkungan yang baru. 3.6.3 Pemberian Pakan Benih Pterophyllum scalare dapat diberi pakan berupa nauplii Artemia hingga berumur 16 hari, kutu air hingga berumur 42 hari, dan setelah itu dilanjutkan dengan pemberian cacing sutera sampai benih berumur 5 bulan. Pakan diberikan secara adlibitum, dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Pakan cacing sutera dapat dilihat pada Gambar 7.

16

Gambar 7. Cacing sutera untuk pakan benih 3.6.4 Pengelolaan Kualitas Air Pengelolaan kualitas air pada akuarium pemeliharaan benih dilakukan dengan penyiphonan sebanyak satu kali setiap hari dengan penambahan air baru sesuai dengan volume air kotor yang terbuang. Pengisian air menggunakan air yang telah diendapkan terlebih dahulu dan kemudian diaerasi untuk menjaga kadar oksigen dalam air. 3.6.5 Pemanenan Benih Benih yang telah berumur sekitar satu bulan dapat dihitung nilai kelangsungan hidup atau Survival Rate (SR) dengan menggunakan rumus di bawah ini:

SR =

Jumlah benih yang dipanen 100% Jumlah telur yang menetas


= 73 %

Dilihat dari nilai SR yang diperoleh, maka dari jumlah larva yang menetas yaitu 141 ekor memiliki daya kelangsungan hidup sebesar 73% sehingga kelangsungan hidup larva cukup baik.

3.7 Sampling Pertumbuhan Dalam kegiatan praktik di BRBIH Depok, dilakukan sampling

pertumbuhan larva. Sampling pertumbuhan dilakukan setiap minggu untuk mengetahui ratarata laju pertumbuhan panjang larva.

17

Alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan sampling adalah: centong, penggaris, dan larva Pterophyllum scalare. Cara kerja dalam melakukan sampling adalah sebagai berikut: 1. Larva Pterophyllum scalare diambil bersama airnya dengan menggunakan centong. 2. Diukur panjang larva dengan menggunakan penggaris. 3. Setelah itu larva dimasukkan kembali ke dalam akuarium. Tingkat pertumbuhan larva Pterophyllum scalare dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Tingkat Pertumbuhan Larva No. 1 2 3 4 5 Umur (hari) 0 7 14 21 28 Panjang tubuh (cm) 0,3 0,6 1,0 1,3 1,7

Dilihat dari tabel tingkat pertumbuhan Pterophyllum scalare di atas menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang Pterophyllum scalare sangat baik, karena panjang tubuh ikan bertambah setiap minggu.

3.8 Kultur Pakan Alami Pakan alami merupakan pakan yang berasal dari alam. Pakan alami merupakan pakan yang sangat baik diberikan pada ikan yang baru berkembang sistem pencernaannya karena pakan alami sangat mudah dicerna, selain itu pakan alami juga memiliki gizi yang tinggi yang baik untuk pertumbuhan ikan. Namun ketersediaannya di alam sangat tergantung pada musim, sehingga perlu dilakukan

18

pengkulturan untuk menjaga ketersediaan pakan alami bagi ikan. Beberapa kultur pakan alami yang digunakan dalam pembenihan Pterophyllum scalare antara lain: 3.8.1 Artemia salina Alat dan bahan yang digunakan untuk mengkultur Artemia salina adalah: corong yang dilengkapi dengan kran, timbangan digital, baskom, gelas bening, saringan halus, aerator, lap, selang siphon, air tawar, garam, dan kista Artemia. Cara kerja yang dilakukan dalam mengkultur Artemia salina antara lain: 1. Disiapkan wadah (corong) dan diisi dengan air tawar sebanyak 46 liter. 2. Dilarutkan garam sebanyak 920 g ke dalam 46 liter air tersebut, dan diaerasi. 3. Ditimbang kista Artemia salina dengan timbangan digital sebanyak 138 g, kemudian dimasukkan ke dalam larutan air garam yang sudah diaerasi. 4. Didiamkan selama 24 jam (1 hari) dan Artemia salina siap untuk dipanen. Setelah menetas, nauplii Artemia dapat dipenen dengan cara aerasi dimatikan, lalu corong atas ditutup dan lampu di dekat kerucut corong dinyalakan agar Artemia mengumpul di bawah. Setelah 10 sampai 15 menit, stop kran dibuka perlahan dan ditampung ke dalam gelas bening. Karena masih ada cangkang yang mengendap, maka pada penampungan pertama langsung dibuang. Setelah itu kran dibuka lagi dan disaring ke dalam baskom yang berisi air tawar untuk membilas Artemia. Setelah bersih, Artemia dimasukkan ke dalam wadah kerucut dan kemudian disedot dengan selang sifon dan ditampung ke dalam toples yang berisi air garam 30 ppm. Setelah itu diaerasi dan dimasukkan ke freezer bersuhu 16oC. Nauplii Artemia tersebut diberikan untuk pakan larva yang baru berumur 6 hari atau setelah persediaan kuning telur pada larva sudah habis sampai larva berumur 16 hari. Pemberian nauplii Artemia harus cukup, karena Artemia akan mati setelah satu jam dalam ai tawar (Lesmana, 2007). 3.8.2 Kutu air (Daphnia)

19

Alat dan bahan yang digunakan untuk mengkultur kutu air antara lain: bak berukuran 2 x 2 m2 dengan ketinggian 1,5 meter, air, pupuk kandang 5 kg, benih kutu air. Cara kerja yang dilakukan dalam mengkultur kutu air adalah: 1. Air diisi ke dalam bak berukuran 2 x 2 m2 dengan ketinggian air 1,3 meter, lalu diendapkan selama 24 jam. 2. Dimasukkan pupuk kandang 5 kg dan diendapkan selama 1 minggu. 3. Setelah diendapkan selama 1 minggu, kemudian dimasukkan benih kutu air. 4. Setelah 2 minggu kutu air siap untuk dipanen. 3.8.3 Jentik nyamuk (Culex) Alat dan bahan yang digunakan untuk mengkultur jentik nyamuk antara lain: bak plastik bundar berdiameter sekitar 1 m, air, batang dan daun pepaya, dan daun hujanan. Cara kerja yang dilakukan dalam mengkultur jentik nyamuk adalah: 1. Air diisi ke dalam bak berdiameter sekitar 1 m dengan ketinggian air kurang lebih 20 cm. 2. Kemudian dimasukkan batang dan daun pepaya serta daun hujanan. 3. Dibiarkan selama 1 minggu dan jentik nyamuk siap untuk dipanen.

3.9 Pencegahan Hama dan Penyakit Jenis penyakit yang sering menyerang benih dan induk ikan Pterophyllum scalare adalah white spot. Penyakit white spot disebabkan oleh Ichtiopthirius multifilis yang menyebabkan tubuh ikan banyak terdapat bintik-bintik putih. Penyakit ini dapat merusak sel-sel lendir ikan sehingga menimbulkan pendarahan di sirip dan insang (Susanto, 2000). Cara pencegahannya, diperlukan perawatan dan pengontrolan kualitas air dengan melakukan penyiphonan dan penggantian air secara teratur, pengontrolan suhu air, serta pemberian suplai aerasi yang sesuai.

20

Cara penanggulangannya adalah dengan pemberian OTC (Oxytetracycline) 0,003 g/l, garam sebanyak 0,2 g/l, dan daun ketapang sebanyak 3 lembar.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan Kesimpulan yang bisa diperoleh dari kegiatan pembenihan ikan Pterophyllum scalare di Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok adalah sebagai berikut:

21

1. Kegiatan pembenihan ikan Pterophyllum scalare di BRBIH Depok menggunakan teknik pembenihan secara alami. 2. Kegiatan pembenihan ikan Pterophyllum scalare di BRBIH Depok meliputi kegiatan pemeliharaan induk, seleksi induk, persiapan wadah pemijahan, teknik pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva sampai menjadi benih, dengan FR= 95,28%, HR= 83,19%, dan SR= 73%, yang menunjukkan tingkat pembuahan dan penetasan telur serta tingkat kelangsungan hidup larva cukup baik. 3. Kendala-kendala yang terjadi dalam pembenihan ikan Pterophyllum scalare adalah sulitnya menjaga kualitas air, seperti suhu yang berfluktuasi antara pagi, siang, dan malam hari. 4.2 Saran 1. Karena induk Pterophyllum scalare biasanya memijah pada kondisi yang tenang, maka akuarium pemijahan sebaiknya diletakkan jauh dari kebisingan dan orang yang berlalu lalang. 2. Sebaiknya sarana pembenihan lebih dilengkapi agar hasil produksi benih Pterophyllum scalare dapat ditingkatkan. 3. Perlu diperhatikan pengelolaan kualitas air yang baik dengan memasang heater untuk menjaga suhu tetap stabil.

DAFTAR PUSTAKA Alma, B. 2000. Perencanaan Bisnis Kewirausahaan. Bandung ; Alfabeta Axelrod, H.R. dan L.P.Schulz.1984. Handbook of Tropical Aquarium Fishes Neptune City. T.F.H

22

Daelami, D.A.S. 2001. Usaha Pembenihan Ikan Hias Air Tawar. Jakarta : Penebar Swadaya.

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama : Yogyakarta

Rachmatun, S dan Mochamad F. 1987. Beternak Ikan Hias Bagian :1 Ikan-ikan Famili Cichlidae , Jakarta : Direktoral Jengral Perikanan.

Susanto, H 2000. Maanvis , Jakarta : Penebar Swadaya

Lingga, P dan H. Susanto, 2003. Ikan Hias Air Tawar. Jakarta : Penebar Swadaya.

23