Anda di halaman 1dari 45

KONTRUKSI KAPAL PERIKANAN DAN UKURAN-UKURAN UTAMA DALAM PENENTUAN KONSTRUKSI KAPAL

RULLY INDRA TARUNA 230110060005

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2012

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Dalam rangka pemanfaatan sumberdaya ikan di laut, para nelayan menggunakan berbagai jenis kapal penangkap ikan yang berbeda baik ditinjau dari ukuran maupun dari bahan baku pembuatan kapal. Kapal-kapal tersebut kondisinya juga sangat beragam, dari yang bersifat tradisional sampai dengan yang memanfaatkan teknologi maju yang terus disesuaikan sejalan dengan kemajuan dan perkembangan teknologi itu sendiri. Demikian pula dengan alat tangkap yang digunakan kapal ikan itu terdiri dari yang sangat sederhana sampai dengan alat tangkap modern. Di samping itu, kegiatan perikanan merupakan suatu kegiatan ekonomi Sehingga usaha perikanan harus dapat dilakukan secara berkesinambungan dan lestari. Dalam upaya menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan kelangsungan usaha penangkapan ikan, Indonesia sudah bertekad untuk melaksanakan Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Salah satu upaya implementasinya, antara lain menggunakan kapal penangkap ikan yang layak tangkap. Layak tangkap meliputi kesesuaian kapal dengan alat tangkap dan peralatan bantu penangkapan yang digunakan. Termasuk juga upaya-upaya yang dilakukan dalam mempertahankan

mutu ikan yang mencakup kondisi peralatan fasilitas pendinginan di dalam palkah ikan dan system penanganan atau pendinginan yang ada di kapal. Kapal ikan yang berfungsi sebagai kapal penangkap ikan telah sejak dahulu digunakan di indonesia untuk melakukan aktifitas penangkapan ikan di laut. Kapal ikan tersebut merupakan salah satu aspek penting dalam operasi penangkapan ikan karena merupakan salah satu unit teknis yang mentukan keberhasilan operasi penangkapan ikan. Keberhasilan tersebut dilihat dari seberapa banyak hasil tangkapan yang dibawa oleh kapal ikan saat kembali kepelabuhan perikanan dan bagaimana mutu atau kualitas dari hasil tangkapan tersebut. Oleh karena itu kemampuan kapal ikan untuk menampung hasiltangkapan menunjukan besar kecilnya kapasitas usaha penangkapan ikan dari kapal ikantersebut. Hingga saat ini, perhitungan kapasitas usaha penangkapan ikan dalam kaitanya dengan pengelolaan perikanan tangkap di Indonesiaselalu ditinjau berdasarkan ukuran Gross Tonage (GT) kapal. Hal inidikarenakan GT yang merupakan gambaran kapasitas dan daya muat kapal merupakanacuan untuk menghitung berbagai hal erkait dengan produktivitas dan kapasitas usaha penangkapan ikan.selain itu, banyak pengaturan kebijakan pengelolaan perikanan di Indonesia didasarkan atas besar kecilnya ukuran GT kapal ikan.

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Kapal Perikanan Menurut Iskandar dan Novita (1997), kapal merupakan suatu bangunan terapung yang berfungsi sebagai wadah tempat bekerja dan sarana transportasi dan kapal ikan termasuk di dalamnya. Kapal ikan memiliki kekhususan sendiri disebakan bervariasinya kerja dan kegiatan yangdilakukan pada kapal tersebut. Kerja dan kegiatan pada kapal ikan meliputi antara lain mencari daerah penangkapan ikan (fishing ground), mengoprerasikan alat, mengejar ikan, dan sebagai wadah hasiltangkapan ikan dari kapal tersebut. Menurut Nomuradan Yamazaki (1975), persyaratan minimal untuk kapal ikan ketika melakukan operasi penangkapan salah satunya adalah memiliki fasilitas untuk penyimpanan. Fasilitas untuk penyimpanan ini pun juga merupakan ciri khas yang membedakan kapal ikandengan jenis kapal lainnya. Penyimpanan hasil tangkapan dalam ruang tertentu denganfasilias ruang pendingin, ruang pembekuan atau dengan es adalah untuk menghindari pengruh luar yang akan menurunkan mutu ikan. Ditambahkan pula olehFyson (1985), cara penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan merupakan salah satu faktor yang mempengauhi desain suatu kapal ikan. Dalam rangka menjamin keberhasilan operasional kapal penangkapan ikan, perlu dilakukan upaya peningkatan dalam pengawasan terhadap alat kelengkapan yang ada.

Adapun macam pengertian dan batasan kapal perikanan, yakni : 1. Kapal perikanan adalah kapal, perahu atau alat apung lain yang digunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan,

pembudidaya ikan, pengangkut ikan pengolah ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian/ eksplorasi perikanan. 2. Kapal penangkap ikan adalah kapal yang secara khusus dipergunakan untuk menangkap ikan, termasuk menampung, menyimpan, mendinginkan, atau mengawetkan. 3. Kapal pengangkut ikan adalah kapal yang secara khusus dipergunakan untuk mengangkut ikan, termasuk memuat, menampung, menyimpan, mendinginkan, atau mengawetkan. 4. Satuan armada penangkapan ikan adalah kelompok kapal perikanan yang dipergunakan untuk menangkap ikan jenis pelagis yang bermigrasi dan dioperasikan dalam satu kesatuan sistem operasi penangkapan atau dalam satu kesatuan manajemen usaha, yang terdiri dari kapal penangkap ikan, kapal pembantu penangkap ikan, dan kapal pengangkut ikan, atau kelompok kapal penangkap ikan dan pengangkut ikan dalam satu manajemen usaha penangkapan ikan.

2.2 Klasifikasi Kapal Perikanan 2.2.1 Klasifikasi berdasarkan Statistik Perikanan Indonesia Berdasarkan statistik perikanan tangkap Indonesia kategori dan ukuran perahu/kapal perikanan untuk setiap jenis alat tangkap dibedakan berdasarkan 2 (dua) kategori, yaitu : 1) perahu tanpa motor (non-powered boat) dan perahu/ kapal (powered boat), seperti terlihat pada tabel 1. Tabel 1. Kategori dan ukuran perahu/ kapal.

2.2.2 Klasifikasi Berdasarkan FAO (Food and Agriculture Organization) Sesuai dengan Standar International Klasifikasi Statistik Kapal Perikanan (International Standard Statistical Classification of Fishing Vessels, ISSCFV FAO 1985), kapal perikanan terbagi atas 2 (dua) jenis kapal perikanan, yakni : 1. Jenis kapal penangkap ikan, dan 2. Jenis kapal bukan penangkap ikan (kapal perikanan lainya). Jenis kapal penangkap ikan terbagi atas 11 (sebelas) tipe kapal dan kapal perikanan lainya terbagi atas 7 (tujuh) tipe kapal. Klasifikasi kapal dengan menggunakan singkatan standar dan kode ISSCFV sesuai dengan Standar International Klasifikasi Statistik Kapal Perikanan, seperti terlihat pada tabel 2. Tabel 2. Klasifikasi kapal perikanan.

2.3 Gross Tonage (GT) 2.3.1 Definisi Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2000 tentang Kepelautan, GT kapal adalah satuan volume kapal. Selanjutnya menurut International Convention on Tonnage Measurement of ship (1969), GT kapal adalah besaran yang menggambarkan volume bangunan diatas dek dan bangunan dibaah dek serta merupakan ukuran kapal secara keseluruhan dengan memperhitungkan jumlah isi semua ruangan-ruangan tertutup. Menurut fyson (1985), GT kapal adalah hasil perkalian majemuk antara ukuran-ukuran utama (principal dimensions) kapal serta menggambarkan kapasitas kapal. Selain itu Nomura dan Yamazaki (1975), menyebutkan bahwa GT kapal adalah besaran yang menggambarkan kapasitas kapal karena hubunganya dengan daya muat kapal. Selanjutnya ditambahkan pula menurut Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 Tentang Perkapalan, bahwa GT kapal adalah satuan total volume kapal yang diukur berdasarkan ukuran-ukuran utama kapal baik diatas dek maupun dibawah dek.

2.3.2 Formulasi Menurut Nomura dan Yamazaki (1975), GT kapal diperoleh dan ditentukan sesuai dengan rumus sebagai berikut: GT = (A+B) x 0,353 Ketetangan : A B : Volume bangunan kedap air diatas dek; dan : Volume bangunan kedap air dibawah dek. Menurut Fyson (1985) menyebutkan bahwa GT ditentukan dengan rumus sebagai berikut: GT = + Keterangan : : L x B x D x 0,353 :Lwl x Bwl x D x 0,353 x Cb kapal diperoleh dan

2.4 Terminologi 2.4.1 Dimensi Utama Kapal Menurut Fyson(1985), kapal perikanan mempunyai bentuk tiga dimensi dengan panjang (L), lebar (B), dan dalam (D) atau yang biasa disebut dimensi utama (Main Dimension). Dimensi utama ini diperlukan untuk menentukan volume,

kapasitas kapal, stabilitas serta perhitungan lainya. Adapun definisi dari dimensi utama kapal adalah sebagai berikut (Gambar 1 dan 2) : 1. Panjang (L) kapal adalah jarak horizontal, diukur mulai dari titik terdepan dari tinggi depan sampai dengan titik terbelakang atau LOA (Length Over All). Selain LOA, panjang yang kedua adalah Lwl (Length of Water Line) yaitu panjang badan kapal pada batas air tertinggi yang setara dengan tinggi draft maksimum. Panjang ketiga adalah Lpp (Length of Perpendicular) yaitu panjang badan kapal antara dua garis tegak AP dan FP. Panjang keempat adalah panjang geladak utama kapal diukur dari geladak utama dibelakang tinggi haluan hingga geladak utama di depan tinggi buritan (Gambar 1);

2. Lebar (B) kapal adalah lebar kapal diukurdari sisi laur kulit luar pada lebar yang terlebar dari kapal umumnya terdapat pada bagian tengah kapal (mindship);

10

3. Dalam (D) kapal diukur dari mulai dek terendah hingga kebagian badan kapal terbawah; dan 4. Draf (d) tinggi kapal pada sarat airtertinggi yangdiukur dari badan kapal terbawah dan umumnya tepat di bagiantengah kapal.

2.4.2 Koefisien Balok (Coefficient of Block) Menurut Nomura dan Yamazaki (1975), Koerisien balok (Coefficent of Block) atau Cb merupakan salah satu koefisien kegemukan kapal (Coefficent of Fineness) yang dapat menunjukan bentuk badan kapal (Gambar 3).

11

Nilai Cb akan sangat berpengaruhterhadap hasilpengukuran volume dibawah geladak. Hal ini disebabkan karenauntuk mengukur volume kapaldi bawah geladak sangat tergantung dari bentuk badan kapal yang bersangkutan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Iskandar dan Pujiati (1995) menyebutkan bahwa kapal ikan yang mengoperasikan alat statis memiliki kisaran nilai Cb antara 0,58 0,67. Selanjutnya nilai Cb dapat dihitung menggunakan rumus praktis sebagai berikut :

2.5 Aturan Simpson (Simpsons Rule) Fyson (1985) menyebutkan bahwa Simpsons Rule digunakan untuk mendapatkan Waterplane Area (Aw) yang menunjukkan luas area kapal pada garis air (Waterline) atau WL tertentu secara horizontal-longitudinal dan nilai volume displancement kapal yang menujukkan volume atau kapasitas kapal dibawah garis air (WL). (Gambar 4 dan 5).

12

Selanjutnya luas area kapal dapat dihitung menggunakan rumus praktis sebagai berikut : Luas area = h/3 (Y0 + 4Y1 + 2Y2 + ....4Yn + Yn+1) Untuk menghitung volume displancement kapal dapat digunakan rumus praktis sebagai berikut : = h/3 (A0 + 4A1 + 2A2 + ....4An + An+1)

13

PENGUKURAN KAPAL PERIKANAN 3.1 Teknis Kapal perikanan memiliki dimensi/ ukuran utama dan koefisien bentuk kapal, yang tergantung dari peruntukannya sehingga mempengaruhi karakteristik konstruksi kapal. 3.1.1 Gambar Desain Kapal Umumnya bangunan konstruksi kapal yang didaftar dengan tanda kelas dalam klasifikas Indonesia telah dilengkapi gambar desain kapal, antara lain : 1. Gambar rancang garis (lines plan)

Gambar 6. Gambar rancangan garis (lines plan)

14

2. Gambar rancana umum (general arrangement)

Gambar 7. Gambar rancana umum (general arrangement)

15

3. Gambar konstruksi profil (profile construction)

Gambar 8. Gambar Konstruksi profil (profile construction)

16

4. Gambar penampang melintang atau gading besar (midship section)

Gambar 9. Gambar penampang melintang atau gading besar (midship section) 3.1.2 Dimensi/ Ukuran Utama Kapal Untuk mengukur dimensi utama kapal, sebaiknya bangunan konstruksi kapal dalam keadaan lunas rata (even keel) dan diupayakan bangunan konstruksi kapal berada di atas galangan kapal. Hal ini disebabkan untuk memudahkan pengukuran panjang garis air dan panjang garis tegak kapal serta kedalaman kapal yang berada di

17

bawah permukaan air laut. Adapun pengertian teknis mengenai dimensi/ ukuran utama dan koefisien bentuk kapal adalah sebagai berikut : a. Panjang kapal 1. Panjang seluruh kapal (Length over all, Loa) adalah jarak mendatar antara ujung depan linggi haluan sampai dengan ujung belakang linggi buritan kapal. 2. Panjang garis geladak kapal (Length deck line, Ldl) adalah jarak mendatar antara sisi depan linggi haluan sampai dengan sisi belakang linggi buritan yang diukur pada garis geladak utama atau geladak kekuatan. 3. Panjang garis air kapal (Length water line, Lwl) adalah jarak mendatar antara sisi belakang linggi haluan sampai dengan sisi depan linggi buritan, yang diukur pada garis air muatan penuh. 4. Panjang garis tegak kapal (Length between perpendicular, Lbp) adalah jarak mendatar antara garis tegak haluan sampai dengan garis tegak buritan/ sumbu poros kemudi kapal, yang diukur pada garis air muatan penuh. 5. Panjang kapal (Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM 6 Tahun 2005 tentang Pengukuran Kapal, p) adalah panjang yang diukur pada 96 % dari panjang garis air dengan sarat 85 % dari ukuran dalam terbesar yang terendah diukur dari sebelah atas lunas, atau panjang garis air tersebut diukur dari linggi haluan sampai ke sumbu poros kemudi, apabila panjang ini yang lebih besar.

18

Gambar 10. Mengukur panjang kapal b. Lebar kapal 1. Lebar maksimum kapal (Breadth maximum, Bmax) adalah jarak mendatar antara sisi-sisi luar dari pisang-pisang atau fender kapal, yang diukur pada lebar kapal terbesar. 2. Lebar garis geladak kapal (Breadth deck line, Bdl atau Breadth moulded, Bmld) adalah jarak mendatar antara sisi-sisi luar kulit kapal, yang diukur pada garis tepi geladak dan dipertengahan panjang garis tegak kapal. 3. Lebar garis air kapal (Breadth water line, Bwl) adalah jarak mendatar antara sisisisi luar kulit kapal, yang diukur pada garis muatan penuh dan dipertengahan panjang garis tegak kapal.

19

Gambar 10. Mengukur lebar kapal c. Tinggi kapal 1. Tinggi maksimum kapal (Height atau Depth maximun, Hmax atau Dmax) adalah jarak vertikal atau tegak antara garis dasar/ garis sponeng bawah sampai dengan garis atau sisi atas pagar kapal, yang diukur pada pertengahan panjang garis tegak kapal. 2. Tinggi kapal atau tinggi geladak kapal (Height, H atau Depth, D) adalah jarak vertikal atau tegak antara garis dasar/ garis sponeng bawah sampai dengan garis atau sisi atas geladak pada garis tepi geladak utama, yang diukur pada pertengahan panjang garis tegak kapal.

20

3. Sarat air kapal (Draught atau draft, d) adalah jarak vertikal/ tegak antara garis dasar sampai dengan garis air muatan penuh atau tanda lambung timbul kapal untuk garis muat musim panas, yang diukur pada pertengahan panjang garis tegak kapal.

Gambar 11. Mengukur tinggi atau dalam kapal

Gambar 12. Mengukur sarat air kapal

21

3.1.3 Koefisien bentuk kapal 1. Koefisien balok (Block coefficient, Cb) Koefisien balok adalah nilai perbandingan antara volume badan kapal yang berada dibawah permukaan air dengan volume balok yang membatasinya atau yang dibentuk oleh panjang, lebar dan tinggi balok.

Gambar 13. Penentuan koefisien balok Adapun formula untuk menghitung koefisien balok (Cb) badan kapal yang berada dibawah air adalah :

Keterangan : Cb = Koefisien balok kapal = Volume displacement kapal (m3) Lwl = Panjang garis air kapal (m)

22

Bwl = Lebar garis air kapal (m) d = Sarat air kapal (m)

2. Koefisien gading besar (Midship coefficient, Cm) Koefisien gading besar adalah nilai perbandingan antara luasan penampang gading yang berada di bawah permukaan air dengan luas penampang empat persegi panjang yang membatasinya atau yang dibentuk oleh lebar dan tinggi empat persegi panjang. Adapun formula untuk menghitung koefisien gading besar (Cm) luasan penampang gading yang berada di bawah permukaan air adalah :

Keterangan : Cm = Koefisien gading besar kapal Am = Luasan penampang gading besar (m2) Bwl = Lebar garis air kapal (m) d = Sarat air kapal (m)

Gambar 14. Penentuan koefisien balok

23

3. Koefisien garis air (Water iine coefficient, Cwl) Koefisien garis air adalah nilai perbandingan antara luasan penampang garis air dengan luas penampang empat persegi panjang yang membatasinya atau yang dibentuk oleh panjang dan lebar empat persegi panjang.

Gambar 15. Penentuan koefisien garis air Adapun formula untuk menghitung koefisien garis air (Cwl) luasan penampang garis air adalah :

Keterangan : Cw = Koefisien garis air Aw = Luasan penampang garis air (m2) Lwl = Panjang garis air kapal (m) Bwl = Lebar garis air kapal (m)

24

4. Koefisien Prismatik (Prismatic Coefficient, Cp) a) Koefisien prismatik memanjang (longitudinal prismatic coefficient : Cpl) adalah nilai perbandingan antara volume badan kapal yang berada dibawah permukaan air dengan volume prisma yang membatasinya kearah memanjang kapal atau yang dibentuk oleh luas penampang gading besar dan panjang prisma. Adapun formula untuk menghitung koefisien prismatik (Cpl) badan kapal yang berada dibawah permukaan air secara memanjang adalah :

atau Keterangan : Cpl = Koefisien prismatik memanjang kapal = Volume displacement (m3) Am = Luasan penampang gading besar (m2) Lwl = Panjang garis air kapal (m) Cb = Koefisien balok Cm = Koefisien gading besar b) Koefisien prismatik melintang (Vertical Prismatic Coefficient, Cpv) adalah nilai perbandingan antara volume badan kapal yang berada dibawah permukaan air dengan volume prisma yang membatasinya kearah melintang kapal atau yang dibentuk oleh luas penampang garis air dan tinggi prisma.

25

Adapun formula untuk menghitung koefisien prismatik (Cpv) badan kapal yang berada dibawah permukaan air secara melintang adalah :

atau Keterangan : Cpv = Koefisien prismatik melintang kapal = Volume displacement kapal (m3) Aw = Luasan penampang garis air (m2) d = Sarat air kapal (m)

Cb = Koefisien balok Cw = koefisien garis air

3.2 Besaran Kapal Terdapat beberapa cara dalam menentukan besaran kapal perikanan, diantaranya sebagai berikut : 1. Volume displacement kapal Volume displacement kapal merupakan volume badan kapal yang berada di bawah permukaan air, dimana besaran yang dihasilkan merupakan hasil perkalian panjang, lebar, tinggi sarat air (pada garis air muat penuh) dengan koefisien balok (block coefficient, Cb) 2. Displacement kapal

26

Displacement kapal merupakan volume kapal apabila kapal berlayar di perairan dalam hal ini perairan laut, yang dihasilkan dari perkalian antara Volume displacement dengan berat jenis air laut 3. Tonnage atau Gross Tonnage (GT) kapal Pengukuran besaran volume kapal perikanan dilakukan pada bagian ruangan ruangan yang tertutup dan dianggap kedap air yang berada di dalam kapal dan dinyatakan dalam Gross Tonnage kapal dengan menggunakan satuan Register Tonnage (1 RT = 100 ft3 = 2,8328 m3). Volume ruangan tertutup dalam kapal terdiri dari volume ruang tertutup yang terdapat di bagian atas dan bawah dari geladak utama. Dimana geladak utama kapal adalah geladak kapal yang menyeluruh dari haluan sampai buritan kapal, yang dianggap sebagai geladak kekuatan kapal. Sebagian besar kapal perikanan memiliki 1 (satu) geladak kapal, maka geladak utama sama dengan geladak kekuatan kapal. Bangunan di atas kapal (super structure) merupakan bangunan kapal yang terletak di atas geladak utama dan mempunyai lebar bangunan atas sama dengan moulded kapal. Apabila lebar bangunan atas lebih kecil dari 96 % lebar moulded kapal, maka bangunan di atas geladak utama dianggap sebagai rumah geladak (deck house).

27

Gambar 16. Ruangan tertutup di bawah geladak utama

28

Gambar 17. Ruangan tertutup di atas geladak utama

29

Sesuai dengan International Convention on Tonnage Measurment of Ship, TMS 1969, maka menentukan tonnage atau gross tonnage kapal dilakukan dilakukan dengan formula sebagai berikut : a) Panjang seluruh kapal kurang dari sama dengan 24 meter ( 24 m) Metode pengukuran dalam negeri berdasarkan TSM 1969 digunakan bagi kapal yang memiliki panjang seluruh kapal (Loa) kurang dari sama dengan 24 meter ( 24 m). Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM 6 Tahun 2005 tentang Pengukuran Kapal metode pengukuran dalam negeri (*) adalah sebagai berikut :

Keterangan : GT = Gross Tonnage atau tonase kotor (RT) 0,25 = faktor V = Volume ruang tertutup yang berada dalam kapal (m3)

V1 = Volume ruangan di bawah geladak utama (m3) V2 = Volume ruangan di atas geladak utama (m3) a.1) Ruangan tertutup di bawah geladak

Keterangan : V1 = Volume ruangan di bawah geladak utama (m3)

30

Ldl = Panjang (m), diperoleh dengan dengan mengukur jarak mendatar antara titik temu sisi luar kulit lambung dengan linggi haluan dan linggi buritan pada ketinggian geladak atas pada bagian sebelah atas dari rimbat tetap Bdl = Lebar (m), diperoleh dengan mengukur jarak mendatar antara kedua sisi luar kulit lambung pada bagian kapal yang terlebar, tidak termasuk pisang-pisang D = Tinggi (m), diperoleh dengan mengukur jarak tegak lurus ditengah-tengah lebar pada bagian kapal yang terlebar dari sebelah bawah alur lunas sampai bagian bawah geladak atau samapai garis melintang kapal yang ditarik melalui kedua sisi atas rimbat tetap F = Faktor a) 0,85 = bagi kapal-kapal dengan bentuk dasar rata, secara umum digunakan bagi kapal tongkang. b) 0,70 = bagi kapal-kapal dengan bentuk dasar agak miring dari tengah ke sisi kapal, secara umum digunakan bagi kapal motor. c) 0,50 = bagi kapal-kapal yang tidak termasuk golongan (a) dan (b), secara umum bagi kapal layar atau kapal layar motor.

31

Gambar 18. Volume tertutup di bawah geladak utama a.2) Ruangan tertutup di atas geladak

Keterangan : V2 = Volume ruangan di atas geladak utama (m3) l = Panjang ruangan (m), diukur hingga kesebelah dalam kulit atau plat dingding (*) b(r) = Lebar rata-rata (m), diukur hingga kesebelah dalam kulit atau plat dingding (*) d(r) = Tinggi rata-rata (m), tinggi ruang bangunan atas diukur dari sebelah atas geladak sampai sebelah bawah geladak diatasnya; tinggi kepala palkah diukur dari sebelah bawah geladak sampai sebelah bawah tutup kepala palkah (*)

Gambar 19. Volume tertutup di atas geladak utama

32

Catatan Umumnya ruangan tertutup di atas geladak utama terdiri dari : a. Ruangan di depan kapal : akil (fore castle), b. Ruangan di tengah kapal : anjungan (bridge), c. Ruangan di belakang kapal : kimbul (poop), d. Ruangan tutup palka (muatan, gudang dan motor atau mesin), e. Ruangan yang berbentuk balok atau kotak mempunyai koefisien balok :Cb = 1,00 f. Ruangan di bawah geladak terpenggal, baik yang berada di haluan maupun di buritan kapal dan mengikuti kelengkungan bentuk kapal, maka koefisien baloknya sama dengan koefisien balok kapal. Note : Tonase bersih (NT) ditetapkan sebesar 30 % dari Tonase Kotor (GT) atau dalam bentuk rumus sebagai berikut :

b) Panjang seluruh kapal lebih besar dari 24 meter ( 24 m) Metode pengukuran internasional berdasarkan TSM 1969 digunakan bagi kapal yang memiliki panjang seluruh kapal (Loa) lebih besar dari sama dengan 24 meter (> 24 m). Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM 6 Tahun 2005 tentang Pengukuran Kapal metode pengukuran dalam negeri (*) adalah sebagai berikut :

33

Keterangan : GT = Gross Tonnage atau tonase kotor k = koefisien k = 0,2 + 0,02 log102 atau menggunakan tabel koefisien : k fung dari volume ruangan tertutup :v, seperti terlihat pada tabel 3. V = Volume ruang tertutup yang berada dalam kapal (m3) V1 = Volume ruangan di bawah geladak utama (m3) V2 = Volume ruangan di atas geladak utama (m3) Tabel 3. Koefisien : k Untuk mengukur tonnage/ gross tonnage (GT) dengan formula internasional

34

b.1) Ruangan tertutup di bawah geladak Definisi satuan dalam pengukuran dimensi kapal untuk ruangan tertutup di bawah geladak adalah sebagi berikut : Panjang geladak ukur (m), diperoleh dengan dengan mengukur jarak mendatar pada tengah-tengah lebar kapal antara titik temu bagian bawah geladak ukur dengan bagian dalam linggi haluan dan linggi buritan pada kapal yang terbuat dari bahan logam dan fibreglass (sisi luar kulit lambung denga nlinggi haluan dan linggi buritan pada kapal yang terbuat dari bahan selain logam dan fibreglass). Lebar penampang (m), digunakan untuk menghitung luas penampang melintang diukur samapi kegaris acuan (bagian luar) gading-gading untuk kapal-kapal yang kulitnya terbuat dari logam atau fiberglass dan sampai ke permukaan luar badan kapal untuk kapal yang kulitnya terbuat dari bahan selain logam atau fiberglass. Tinggi penampang melintang (m), dengan mengukur jarak tegak lurus pada tengah-tengah lebar kapal dari sebelah bawah geladak ukur sampai sebelah atas bagian dasar lunas pada kapal yang dibangun dari logam atau fiberglass dan samapai sebelah bawah alur lunas pada kapal yang dibangun dari selain logam atau fiberglass. Lengkung geladak ditetapkan dengan mengukur jarak tegak lurus pada tengahtengah lebar kapal dari sebelah bawah geladak sampai garis melintang yang

35

menghubungkan titik potong bagian bawah geladak dengan sisi bagian dalam kulit pada kedua sisi lambung. Tinggi lengkung geladak dikoreksi dengan memperhatikan bentuk lengkung geladak sebagai berikut : a. Dikurangi 1/3 tinggi lengkung geladak jika geladak melengkung searah melintang kapal atau jika geladak sebagian melengkung dan sebagian lagi miring lurus;

Gambar 20. Lengkung geladak miring b. Dikurangi . tinggi lengkung geladak jika lengkung geladak berbentuk segitiga;

Gambar 21. Lengkung geladak berbentuk segitiga

36

c. Pengurangan untuk lengkung geladak yang berbentuk trapezium dihitung dengan rumus :

Gambar 22. Lengkung geladak berbentuk trapesium

Keterangan : a = tinggi lengkung geladak (m) b = lebar bagian geladak yang mendatar (m) B = lebar teratas penampang melintang (m) Adapun Pengukuran dan perhitungan volume ruangan dibawah geladak ukur dilakukan dengan geladak ukur sebagai berikut : - Geladak ukur dibagi sejumlah bagian yang jaraknya sama berdasarkan panjang geladak ukur sebagai berikut : Panjang sampai dengan kurang dari 15 meter dibagi 4 15 meter sampai dengan kurang dari 30 meter dibagi 6

37

30 meter sampai dengan kurang dari 45 meter dibagi 8 45 meter sampai dengan kurang dari 60 meter dibagi 10 60 meter sampai dengan kurang dari 75 meter dibagi 12 75 meter sampai dengan kurang dari 90 meter dibagi 14 90 meter sampai dengan kurang dari 105 meter dibagi 16 105 meter sampai dengan kurang deari 120 meter dibagi 18 120 meter atau lebih dibagi 20 Dua bagian terakhir di haluan dan buritan masing-masing dibagi 2 (dua) yang jaraknya sama panjang. - Pada setiap posisi titik bagi, termasuk kedua titik ujung dari panjang geladak ukur diambil penampang melintang tegak lurus pada bidang tengah, sejajar dengan sekatsekat melintang kapal atau gading-gading dan diberi nomor urut mulai dari depan ke belakang. - Tinggi sebagaimana dimaksud dalam dari setiap penampang melintang dibagi menjadi sejumlah bagian yang jaraknya sama berdasarkan tinggi penampang melintang, sebagai berikut : Tinggi sampai dengan 6 meter dibagi 5; Tinggi lebih dari 6 meter dibagi 7 Bagian paling bawah dari pembagian tinggi tersebut dibagi 2 (dua) yang jaraknya sama panjang.

38

- Pada setiap posisi titik bagi, termasuk titik paling bawah dan titik paling atas dari tinggi penampang melintang diambil ukuran lebar dan diberi nomor urut, dimulai dari bawah ke atas. - Luas penampang melintang dihitung sebagai berikut : Lebar pertama dikalikan faktor 0,5; Lebar kedua dikalikan faktor 2; Lebar ketiga dikalikan faktor 1,5; Lebar lainnya yang bernomor genap dikalikan faktor 4 dan yang bernomor ganjil dikalikan faktor 2; Lebar teratas dikalikan faktor 1. Luas penampang melintang diperoleh dengan mengalikan sepertiga dari jarak titik bagi tinggi dengan jumlah hasil perkalian lebarlebar tersebut atau ditulis dalam bentuk rumus sebagai berikut : Luas penampang melintang = Catatan : Jt = jarak titik bagi tinggi ; dan A = jumlah hasil perkalian lebar-lebar dengan faktor tersebut - Perhitungan luas penampang untuk kapal dengan konstruksi dasar yang tidak seperti biasa dilakukan dengan membagi menjadi beberapa bagian. - Volume ruangan dibawah geladak ukur dihitung sebagai berikut : 1) Panjang geladak ukur dibagi 4 (empat) bagian;

39

Luas penampang nomor 1, 1 ., 2, 2 1/2 , 3, 3 ., 4, 4 ., dan 5 secara berurut dikalikan dengan faktor ., 2, 1, 2, 1, 2, 1, dan .. 2) Panjang geladak ukur dibagi 6 (enam) bagian : Luas penampang nomor 1, 1 ., 2, 2 ., 3, 4, 5, 5 ., 6, 6 . dan 7 secara berurut dikalikan dengan faktor ., 2, 1, 2, 1 ., 4, 1 ., 2, 1, 2 dan .. 3) Panjang geladak ukur dibagi 8 (delapan) bagian : Luas penampang nomor 1, 1 ., 2, 2 . dan 3 secara berurut dikalikan dengan faktor ., 2, 1, 2, 1 ., luas penampangpenampang bagian akhir yaitu nomor 7, 7 ., 8, 8 . dan 9 secara berurut dikalikan dengan faktor 1 ., 2, 1, 2, 1/2 , luas penampang lainnya yang bernomor genap dikalikan dengan faktor 4, yang bernomor ganjil dikalikan dengan faktor 2. 4) Panjang geladak ukur dibagi 10 (sepuluh) bagian atau lebih : Ketentuan tersebut pada huruf g.3) berlaku untuk panjang geladak ukur yang dibagi 10 bagian atau lebih dengan mengganti nomor penampang-penampang bagian akhir sesuai jumlah pembagian geladak. Volume ruangan dibawah geladak ukur diperoleh dengan mengalikan sepertiga jarak antara titik-titik bagi dari panjang geladak ukur dengan jumlah perkalian luas penampangpenampang sebagaimana dimaksud pada butir 1 huruf g angka 1), 2), 3) dan 4) atau ditulis dalam bentuk rumus sebagai berikut: Volume ruangan dibawah geladak ukur =

40

Catatan : Jp = jarak titik bagi panjang geladak ukur penggal Lp = jumlah hasil perkalian luas penampang-penampang melintang dengan faktorfaktor dimaksud pada butir 1 huruf g 1), 2), 3) dan 4).

b.2) Ruangan tertutup di atas geladak

Keterangan : V2 = Volume ruangan di atas geladak utama (m3) l = Panjang ruangan (m), diukur hingga kesebelah dalam kulit atau plat dingding (*) b(r) = Lebar rata-rata (m), diukur hingga kesebelah dalam kulit atau plat dingding (*) d(r) = Tinggi rata-rata (m), tinggi ruang bangunan atas diukur dari sebelah atas geladak sampai sebelah bawah geladak diatasnya; tinggi kepala palkah diukur dari sebelah bawah geladak sampai sebelah bawah tutup kepala palkah (*)

Gambar 23. Volume tertutup di bawah dan atas geladak utama

41

KESIMPULAN

Dengan adanya identifikasi mengenai kapal perikanan yang teliti serta akurat akan memberikan kemudahan untuk pengenalan dan pengkajian teknis mengenai kelaik lautan dan kelaik tangkapanya sesuai dengan alat tangkap ikan yang akan dioperasikan oleh sebuah kapal perikanan. Sehingga pemanfaatan sumbedaya perikanan dapat berlangsung secara berkesinambungan dan bertanggung jawab, serta terjaminya kelestarian sumberdaya perikanan.

42

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kelautan dan Perikanan. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10 Tahun 2002 tentang Perizinan Usaha Perikanan, Jakarta 2002. Departemen Perhubungan. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 6 Tahun 2005 tentang Pengukuran Kapal, Jakarta 2005. Mulyanto, RB dan Syahasta. 2005. Petunjuk Teknis Identifikasi Sarana Perikanan Tangkap Kapal Perikanan (Fishing Vessel). Balai Pengembangan Perikanan Tangkap Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan, Semarang 2005. Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Jakarta 1983. Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran, Jakarta 1992. Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, Jakarta 2004. Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1984 Tentang Pengelolaan Sumberdaya alam Hayati di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Jakarta 1984.

43

Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan. Jo. No. 141 Tahun 2000, Jakarta 2000. Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan, Jakarta 2002. Purbayanto, Ari, Wisudo H, Sugeng, Iskandar, B.H, dan Novita, Y. 2004. kajian Teknis Kemungkinan pengalihan Pengaturan perijinan dari GT menjadi Volume Palkah Pada Kapal Ikan, (makalah disampaikan pada Semiloka: Pradigma Baru Pengelohan Perikan yang Bertanggungjawab Dalam Rangka Mewujudkan Kelestarian Sumberdaya dan Manfaat Ekonomi Maksimal di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Bogor. Fyson, J. 1985. Desing of Small Fishing Vessels. Fising News LTD. London. England. Iskandar, B.H. dan Pujiati, S. 1995. Keragaan Teknis Kapal Perikanan dibeberapa wilayah Indonesia. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. FPIK-IPB. Bogor. Iskandar, B.H. dan Novita, Y. 1997. Penuntun Praktikum Kapal Perikanan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. FPIK-IPB. Bogor. Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1990 Tentang Pengesahaan Internasional Convention on Tonnage Measurement of Ship 1969.

44