Anda di halaman 1dari 12

Jurnal Praktikum Fisika Eksperimen II Modul 3 Karakteristik Sensor

Nama No. BP Hari/Tanggal Shift/Kelompok Rekan Kerja

: Okci Mardoli : 0910441014 : Minggu/25 Maret 2011 : 1/3 : 1. Mairisdawenti (0910443080)

2. Mahmudi Rio Putra (0910442032) Asisten : 1. Tri Kusmita 2. Zasvia Hendri

Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas Padang, 2012

KARAKTERISTIK SENSOR Oleh ; OKCI MARDOLI (0910441014)

ABSTRAK Eksperimen Karakterisasi Sensor bertujuan untuk (1) dapat melakukan karakteristik sensor yang akan digunakan, (2) dapat menentukan tingkat kelinearan dan sensitivitas sensor, (3) dapat menjelaskan kurva karaktesistik sensor, dan (4) dapat memutuskan apakah sensor tersebut dapat digunakan sebagai pengindra besaran fisis tertentu berdasarkan kurva karakteristik sensor tersebut. Eksperimen ini dilakukan di Laboratorium Elektonika dan Instrumentasi jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, dengan menggunakan komponen-komponen potensiometer, multimeter digital, busur, papan rangkaian, catudaya dan papan rangkaian. Dari eksperimen yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa semakin besar sudut dan hambatan maka tegangan keluaran yang dihasilkan juga semakin besar. Kata kunci: potensiometer, sudut, hambatan, sensor dan tegangan keluaran.

I.

PENDAHULUAN Sensor adalah komponen elektronika yang digunakan untuk merubah

besaran fisis menjadi besaran listrik sehingga bisa dianalisa dengan menggunakan rangkaian listrik. Jenis sensor secara garis besar bisa dibagi menjadi 2 jenis yaitu : Sensor Fisika dan Sensor Kimia. Sensor fisika adalah sensor yang mendeteksi suatu besaran berdasarkan hokum-hukum fisika. Yang termasuk kedalam jenis sensor fisika yaitu : Sensor cahaya, Sensor suara, Sensor suhu, Sensor gaya, Sensor percepatan. Sedangkan sensor kimia adalah sensor yang mendeteksi jumlah suatu zat kimia dengan cara mengubah besaran kimi menjadi besaran listrik. Biasanya ini melibatkan beberapa reaksi kimia. Yang termasuk kedalam jenis sensor kimia yaitu : Sensor PH, Sensor Gas, Sensor oksigen, Sensor Ledakan, dan lain-lain. Untuk selanjutnya pembahasan akan lebih difokuskan pada jenis Sensor Fisika dan implementasinya dalam rangkaian elektronika sederhana. Sebelum dapat merancang suatu alat ukur maka diperlukan pemilihan terhadap sensor yang sesuai dengan rancangan kita. Sebelum sensor dapat

digunakan maka perlu dilakukan karakteristik terhadap sensor tersebut. Karakteristik sangat diperlukan untuk menentukan sensitifitas dan kelinieran dari sensor tersebut. Cara karakteristik umumnya sama untuk berbagai sensor dengan cara mencari hubungan antara keluaran sensor ( besaran listrik ) terhadap besaran fisis yang diindranya.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik Sensor Karakteristik sensor dilakukan dengan cara melakukan percobaan dengan membandingkan antara besaran fisika yang diindra terhadap besaran listrik tertentu. Dalam karakteristik sensor diperlukan suatu pembanding yang dijadikan sebagai suatu acuan. Sebagai contoh kita ingin mengkarakteristik sensor suhu seperti PTC yang hambatannya naik setiap kenaikan temperatur. Karakteristik dilakukan dengan memanaskan air dan melihat perubahan hambatan pada multimeter dan membandingkan dengan pembacaan temperatur dengan

termometer. Potensiometer dapat digunakan sebagai sebuah sensor kemiringan dengan membebani potensiometer sedemikian sehingga perubahan hambatan pada potensiometer sebanding dengan perubahan kemiringan suatu benda. Selain itu sensor cahaya ( misal LDR ) dapat dikarakteristik dengan memvariasikan jarak sensor cahaya terhadap sumber cahaya dengan daya konstan untuk melihat perubahan jarak terhadap perubahan hambatan pada multimeter.

Gambar 2.1 Cara karakteristik sensor (a) LDR dan (b) Potensiometer

2.2

Macam-macam Sensor

2.2.1 Sensor cahaya Sensor cahaya adalah sensor yang cara kerjanya yaitu merubah besaran cahaya menjadi besaran listrik. Dipasaran sudah begitu luas penggunaannya. Komponen yang termasuk dalam Sensor cahaya yaitu : LDR ( Light Dependent Resistor ) adalah sebuah resistor dimana nilai resistansinya akan berubah jika dikenai cahaya. Photo dioda adalah sebuah dioda yang apabila dikenai cahaya akan memancarkan electron sehingga akan menalirkan arus listrik. Phototransistor adalah sebuah transistor yang apabila dikenai cahaya akan mengalirkan electron sehingga akan terjadi penguatan arus seperti pada sebuah transistor. Optocoupler adalah sebuah komponen kopling berbasis optik.

2.2.2

Sensor suara Sensor suara adalah sensor yang cara kerjanya yaitu merubah besaran

suara menjadi besaran listrik, dan dipasaran sudah begitu luas penggunaan nya. Komponen yang termasuk dalam Sensor suara yaitu : Micropone adalah komponen elektronika dimana cara kerjanya yaitu membran yang digetarkn oleh gelobang suara akan menghasilkan sinyal listrik, dan lainlain. 2.2.3 Sensor suhu Sensor suhu adalah sensor yang cara kerjanya yaitu merubah besaran suhu menjadi besaran listrik dan dipasaran sudah begitu luas penggunaan nya. Komponen yang termasuk dalam sensor suhu yaitu : NTC adalah komponen elektronika dimana jika dikenai panas maka tahanan nya akan naik. PTC adalah komponen elektronika dimana jika terkena panas maka tahannany akan semakin turun.

Gambar 2.2 LM35 Sebagai Sensor Suhu

Ini merupakan sebuah sirkuit elektronik yang dapat digunakan sebagai rangkaian/pengontrol otomatis suhu. Sirkuit saklar sebuah miniatur relay HIDUP atau MATI sesuai dengan suhu terdeteksi oleh satu keping sensor suhu LM35. Bila LM35 mendeteksi suhu yang lebih tinggi dari tingkat preset (ditetapkan oleh VR1), maka relay akan berkerja. Ketika suhu berada di bawah preset suhu, relay adalah tidak akan memberikan tenaga kepada beban yang akan kita gunakan. Misalnya saja beban yang kita pakai adalah Lampu, atau kipas angin. Rangkaian ini dapat diaktifkan melalui tegangan AC atau tegangan DC 12V dengan pasokan (100mA min.)

Gambar 2.3 Rangkaian sensor suhu 2.2.4 Sensor Getaran Rangkaian sensor getaran ini dibuat sangat sederhana dan

dimungkinkan untuk digunakannya baterai sebagai sumber tenaga listriknya. Selain rancangannya yang sangat sederhana, rangkaian ini juga sangat kecil

menggunakan arus listrik. Sensor Getaran Menggunakan Speaker ini untuk rancangan rangkaian ini diambil dari komponen yang mudah didapatkan. Sensornya hanya berupa sebuah speaker dengan diameter 2 inch. Prinsip kerjanya sangat sederhana yaitu membalik proses kerja daari proses kerja speaker biasa. SPEAKER jika terminal-terminalnya mendapatkan sinyal seperti pada gambar 1 sebelah kiri maka akan menghasilkan output berupa getaran pada membran dan menyebabkan terbentuknya bunyi. Sebaliknya pada saat speaker ini digunakan sebagai sensor, lapisan membran pada SPEAKER berfungsi sebagai
DETEKTOR

getaran. Ketika ada getaran datang pada membran, maka membran Bergetarnya membran akan

ini juga akan ikut bergetar (beresonansi).

mengakibatkan lilitan membran akan bergerak relatif terhadap inti magnet tetap dan menghasilkan sinyal listrik. Pembatasan daerah resonansi pada membran perlu diatur agar membran tidak akan merespon getaran dengan frekunsi yang tidak dinginkan. Di dalam proyek ini, membran dibuat sedemikian hingga hanya merespon pada frekuensi rendah karena getaran langkah/benda pada frekuensi rendah. Untuk menurunkan respon pada speaker digunakan penambahan material yang bersifat menyerap sinyal/getaran frekuensi tinggi seperti pemberian lapisan spon pada daerah di sekitar membrannya. Penambahan ini harus dilakukan dengan hati-hati agar speaker tetap dapat merespon getaran dengan baik. Untuk memperkuat sinyal yang dihasilkan dari speaker ini digunakan opamp CA3094. Dasar pemilihan transistor ini adalah karena yang sinyal yang dihasilkan oleh speaker amplitudonya dan arusnya sangat lemah. Untuk

mengatasi hal tersebut dengan hanya menggunakan sebuah opamp maka harus digunakan opamp yang mempunyai karakteristik transconductance amplifier. Kelebihan dari IC opamp ini adalah gain nya bisa dikontrol sehingga CA3904 ini biasanya dikatakan sebagai programmable transconductance amplifier.

III. PROSEDUR PERCOBAAN Sebelum melakukan praktikum dipersiapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum. Adapun alat-alat tersebut antara lain ; potensiometer dan LDR, multimeter digital, project board, busur, penggaris, tabung paralon, dan lampu. Setelah semua alat tersebut dipersiapkan, maka telah

bisa dilakukan percobaan

Karakteristik

Potensiometer sebagai

sensor

kemiringan. Adapun langkah-langkah yang mesti dilakukan, pertama kali diberikan beban pada potensiometer dan kemudian tempatkan pada project board. Setelah itu project board ditempatkan pada tempat yang datar. Dihubungkan kaki potensiometer dengan probe multimeter (diatur pada pengukuran hambatan) dengan kaki 2 dan 3 dihubungkan satu sama lain seperti gambar yang ada pada modul praktikum. Kemudian diukur hambatan potensiometer pada saat project board dalam posisi datar (kemiringan nol). Divariasikan kemiringan project board setiap 100 dan diukur besar hambatan pada potensiometer tersebut. Setelah itu diukur tegangan dari rangkaian tersebut. Akhirnya diperoleh data dan dicatat sebagai data pengukuran dan dibuat grafik hubungannya. Berikut adalah skema rangkaian percobaan.

Gambar 3.1 Skema Rangkaian Percobaan

IV. PEMBAHASAN 4.1 Jurnal


LEMBAR DATA KARAKTERISTIK SENSOR

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Nama Praktikan : Okci Mardoli No. BP : 0910441014 Hari/Tanggal praktikum: Minggu/25 Maret 2012 Asisten : 1. Tri Kusmita 2. Zasvia Hendri Hambatan (ohm) Sudut(derajat) Vop (volt) 2,0 30 0,06 2,7 40 0,07 3,3 50 0,10 415 60 4,02 877 70 4,50 1.160 80 4,60 1730 90 4,72 2510 100 4,81 2630 110 4,81 3010 120 4,83

VoT (volt) 0,09 0,13 0,16 4,02 4,49 4,60 4,73 4,81 4,81 4,83

Asisten 1,

Asisten 2,

Padang, 28 Maret 2012 Praktikan,

(Tri Kusmita)

(Zasvia Hendri)

(OkciMardoli)

4.2 Grafik

4.3 Perhitungan dan Pembahasan Rangkaian karakteristik sensor yang perlu diamati diantaranya adalah resistansi dan tegangan output yang dihasilkan. Dalam hal ini telah dilakukan perhitungan dengan penjabaran sebagai berikut. Tegangan keluaran yang diperoleh secara teori (VOT) adalah sebagai berikut : 1. VOT = x Vsumber x 5 volt

= =0,09 volt 2. VOT = x Vsumber

= = 013 volt 3. VOT = x Vsumber

x 5 volt

= = 0,16 volt 4. VOT = x Vsumber

x 5 volt

= = 4,02 volt 5. VOT = x Vsumber

x 5 volt

= = 4,49 volt 6. VOT = x Vsumber

x 5 volt

= = 4,60 volt 7. VOT = x Vsumber

x 5 volt

= = 4,73 volt 8. VOT = x Vsumber

x 5 volt

= = 4,81 volt

x 5 volt

9. VOT =

x Vsumber x 5 volt

= = 4,81 volt 10. VOT = x Vsumber

= = 4,83 volt

x 5 volt

Dengan menggunakan potensiometer sebagai sensor terhadap kemiringan didapatkan resistansi sudut yang merupakan karakteristik dari sensor tersebut. Karakteristik dari sensor secara teori menunjukkan nilai yang konstan terhadap perubahan variabelnya. Dalam percobaan ini variabel dari karakteristik untuk sensor kemiringan adalah besarnya sudut yang divariasikan dengan nilai resistansi yang dihasilkan oleh potensiometer. Dari hasil praktikum dapat dilihat bahwa perbandingan nilai resistansi yang dihasilkan dengan besar sudut yang divariasikan. Dimana hasil percobaan adalah besarnya kenaikan sudut

menyebabkan semakin meningkatnya nilai resistansi yang dihasilkan oleh potensiometer tersebut. Hubungan antara sudut dan resistansi dapat dilihat pada Gambar 3.1 dan Gambar 3.2 Gambar 3.1 merupakan hubungan hambatan dan sudut dari sebuah potensiometer. Dari grafik terlihat kemiringan (sudut) dari sebuah potensiometer tidak linear terhadap hambatan. Seharusnya grafik yang dihasilkan linear.

Sedangkan Gambar 3.2 hampir mendekati linear. Dari gambar diatas terlihat bahwa hubungan antara resistansi dengan sudut memperoleh nilai yang tidak linear. Hal ini disebabkan oleh tidak linearnya grafik yang praktikan peroleh. Secara teori nilai resistansi miningkat sebanding dengan perubahan sudut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa potensiometer dapat digunakan sebagai sensor. Dari hasil yang praktikan dapatkan kurang berhasil. Hal ini mungkin disebabkan kurang telitinya praktikan pada saat membaca sudut yang diperoleh. V. PENUTUP Potensiometer dapat digunakan untuk mengkarakteristik sensor, karena semakin besar sudut yang dihasilkan pada potensiometer maka akan semakin

besar pula hambatan yang dihasilkan sedangkan tegangan keluaran yang dihasilkan semakin kecil.

DAFTAR KEPUSTAKAAN Balch, Mark. 2003. Completed Digital Design. New York. The McGraw-Hill
Companies. http://teknik-informatika.com/sensor/. Diakses pada tanggal 27 Maret 2012, pukul

19.10 WIB.
http://ilmu-elektronika.co.cc/index.php/sensor/sensor.html. Diakses pada tanggal 28

Maret 2012, pukul 19.45 WIB.