Anda di halaman 1dari 43

III.

ANALISIS DATA KETENAGAKERJAAN

3.1.

Penduduk Usia Kerja Jumlah dan komposisi tenaga kerja di Indonesia terus mengalami perubahan

sejalan dengan proses demografi yang terus berlangsung. Dari Grafik 3.1 tampak bahwa pada tahun 1986, dari 101,53 juta penduduk usia kerja (PUK), jumlah angkatan kerja mencapai 67,47 juta jiwa atau 66,45 persen terhadap PUK, sementara pada bulan Pebuari 2005 dari 155,55 juta PUK, jumlah angkatan kerja telah mencapai 105,80 juta atau 68,01 persen terhadap PUK. Grafik 3.1 : Jumlah Penduduk Usia Kerja, Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja, Tahun 1986 - 2005
180 160 140 120 100 80 60 40 20 0
19 86 19 87 19 88 19 89 19 90 19 91 19 92 19 93 19 94 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05
AK PUK BAK

Secara umum, perkembangan PUK bertambah 54,02 juta jiwa selama periode 1986 2005, atau rata-rata pertumbuhan PUK sebesar 2,27 persen per tahun. Dilihat dari daerah tempat tinggal, proporsi penduduk usia kerja di daerah perkotaan dan pedesaan mengalami pertumbuhan yang berbeda. Pertumbuhan PUK di pedesaan lebih rendah yakni sebesar 0,85 persen per tahun, sedangkan rata-rata pertumbuhan PUK di perkotaan adalah sebesar 4,89 persen per tahun (Tabel 3.1).

Tabel 3.1 : Penduduk Usia Kerja Menurut Daerah, Tahun 1986 2005 ( Ribuan )
Daerah Tahun 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005 Laju PertamPertumbahan 1986 - 2005 buhan 41 153.8 12 862.0 54,015.8 4.89 0.85 2.27

Perkotaan Pedesaan Total

27 833.5 35 140.5 50 515.1 56 090.5 67 310.8 67 651.1 68 258.8 68 987.3 73 700.4 78 400.3 81 362.9 82 465.7 81 419.2 83 755.2 85 664.9 86 562.4 101,533.9 113,540.8 131,878.0 138,556.2 148,730.0 151,406.3 153,923.7 155,549.7

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

3.2.

Angkatan Kerja Angkatan kerja di Indonesia pada tahun 1986 sebesar 67,47 juta orang,

sedangkan pada tahun 2005 menjadi 105,80 juta jiwa. Pertambahan angkatan kerja pada periode 1986 2005 sebesar 38,33 juta jiwa dengan laju pertumbuhan selama periode tersebut sebesar 2,4 persen per tahun. Grafik 3.2 : Persentase Angkatan Kerja Menurut Daerah Tempat Tinggal, Tahun 1986 2005

80 60 40 20 0

1986

1990

1996

1998

2002
Pedesaan

2003

2004

2005

Perkotaan

Jika dilihat menurut daerah tempat tinggal, jumlah angkatan kerja di daerah pedesaan lebih besar dibandingkan dengan yang tinggal di daerah perkotaan, tetapi jika dilihat dari pertambahan dan laju pertumbuhannya angkatan kerja di perkotaan 30

lebih besar dari di pedesaan. Jumlah angkatan kerja di perkotaan selama tahun 1986 2005 sebesar 29,05 juta orang dengan laju pertumbuhan 5,95 persen per tahun, sedangkan di pedesaan pertambahan angkatan kerja hanya 9,28 juta orang dengan laju pertumbuhan 0,85 persen per tahun pada periode yang sama (Tabel 3.2). Tabel 3.2 : Angkatan Kerja Menurut Daerah Tempat Tinggal, Tahun 1986 - 2005
Daerah Perkotaan Pedesaan Total Tahun 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005 Laju Pertambahan Pertum1986 - 2005 buhan 5.95 0.85 2.40

14 546 032 19 244 334 29 913 049 33 407 706 42 135 477 42 372 783 42 692 450 43 599 422 29 053 390 52 926 891 56 106 877 58 273 723 59 327 226 58 643 793 60 377 309 61 280 937 62 202 950 9 276 059

67 472 923 75 351 211 88 186 772 92 734 932 100 779 270 102 750 092 103 973 387 105 802 372 38 329 449

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

Pada tahun 2005 jumlah angkatan kerja di daerah perkotaan sebesar 43,60 juta orang atau 63,2 persen dan di daerah pedesaan 62,20 juta orang atau 71,9 persen terhadap PUK. Jika dibandingkan pertumbuhan rata-rata angkatan kerja per tahun di Indonesia dengan pertumbuhan rata-rata penduduknya, pada periode 2000-2005 misalnya, pertumbuhan angkatan kerja sekitar 2,1 persen per tahun sedangkan pertumbuhan penduduk pada periode yang sama hanya 1,3 persen. Tingginya pertumbuhan angkatan kerja dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk ini, diakibatkan semakin rendahnya pertumbuhan penduduk Indonesia sejak dekade 80an (akibat keberhasilan program KB, semakin rendahnya IMR, dll), sementara angkatan kerja baru akan berangsur-angsur turun mengikuti penurunan pertumbuhan penduduk.

31

3.2.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) merupakan salah satu indikator ketenagakerjaan. TPAK mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah pada periode waktu tertentu. Pada kurun waktu 1986 2005 TPAK bergerak dari 66,45 persen sampai 68,02 persen, berarti penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi pada periode tersebut masih di bawah 70 persen. Adanya kenaikan pada TPAK, antara lain disebabkan oleh peningkatan mutu sumber daya manusia serta makin bertambahnya wanita yang berperan secara ekonomis di luar mengurus rumah tangga. Grafik 3.3 : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Indonesia Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1986 2005
100 90 80 70 60 50 40 1986 1990 1996 1998 Laki-laki 2001 2002 2003 2004 2005

Perempuan

Jika dilihat menurut jenis kelamin, TPAK perempuan lebih kecil daripada TPAK laki-laki , tahun 1986 yaitu 50,89 persen berbanding 82,78 persen atau 1,6 kali lebih besar dari TPAK Perempuan dan tahun 2005 yaitu 50,65 persen berbanding 85,55 persen atau 1,7 kali lebih besar dari TPAK perempuan. Rendahnya TPAK perempuan ini mengakibatkan ketimpangan dari sisi keterlibatan aktivitas perekonomian. Penduduk perempuan cenderung pada kategori bukan angkatan kerja, seperti sekolah ataupun mengurus rumah tangga, sedangkan penduduk laki-

32

laki banyak pada kategori angkatan kerja. Dimasa yang akan datang, diharapkan komposisi angkatan kerja antara laki-laki dan perempuan dapat berimbang. Grafik 3.4 : Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Daerah Tempat Tinggal, Tahun 1986 - 2005
80 60 40 20 0

1986

1990

1996

1998

2002

2003

2004

2005

Perkotaan

Pedesaan

Kecenderungan TPAK selama periode 1986 2005 mengalami peningkatan dari tahun 1986 sampai dengan tahun 2005 juga mempunyai pola yang sama antara TPAK di daerah pedesaan dan perkotaan.

3.2.2. Angkatan Kerja Menurut Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Pendidikan juga menjadi salah satu indikator kemajuan suatu wilayah, khususnya dalam pembangunan sosial. Semakin banyak penduduk yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi diharapkan pertumbuhan pembangunan dalam bidang sosial dan ekonomi akan semakin meningkat pula. Pendidikan angkatan kerja pada umumnya mengalami kemajuan selama periode 1986 2005, hal ini ditandai dengan meningkatnya mereka yang berpendidikan SLTP ke atas, sementara mereka yang berpendidikan SD atau lebih rendah.

33

Grafik 3.5 : Persentase Angkatan Kerja Menurut Pendidikan, Tahun 1986 2005
100 80 60 40 20 0 1986 1990 1996 < SD 2002 SLTP SLTA 2003 PT 2004 2005

Di tingkat pendidikan SLTP dan SLTA selama periode 1986 - 2005 kenaikannya 2 kali lebih banyak dibanding sebelumnya yaitu dari 8,5 persen pada tahun 1986 menjadi 20,1 persen pada tahun 2005 di tingkat SLTP, dan dari 9,2 persen menjadi 20,6 persen di tingkat SLTA. Sementara pendidikan pada tingkat perguruan tinggi walaupun jumlahnya masih sedikit (5,5 persen) tetapi pada umumnya menunjukkan kenaikan yang cukup berarti setiap tahunnya. Tabel 3.3 : Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan, Tahun 1986 - 2005
Jenis Kelamin/ Pendidikan Laki-Laki SD SLTP SLTA PT TOTAL Perempuan SD SLTP SLTA PT TOTAL Laki-Laki + Perempuan SD SLTP SLTA PT TOTAL 31 599 553 4 246 484 4 456 698 715 926 41 018 661 23 017 157 1 460 242 1 740 907 237 279 26 455 585 54 616 710 5 706 726 6 197 605 953 205 67 474 246 33 5 6 1 46 392 591 079 052 116 613 113 872 886 484 33 7 10 2 54 24 3 4 1 33 58 11 15 3 88 669 965 375 187 197 373 467 972 176 989 042 432 347 363 186 019 276 801 271 367 524 287 021 573 405 543 563 822 844 772 33 9 11 2 56 24 4 5 1 35 58 13 17 3 92 719 037 550 453 761 900 144 472 455 973 619 182 023 909 734 077 862 956 716 611 306 576 889 550 321 34 11 13 2 63 24 5 5 1 37 940 966 425 979 310 116 522 907 921 468 057 488 332 900 779 228 406 271 065 970 809 559 221 711 300 33 14 14 2 64 23 6 6 1 38 063 349 297 888 599 510 682 204 752 150 574 031 502 640 750 795 714 957 354 820 966 204 933 169 272 33 14 14 3 65 22 6 6 2 38 315 625 654 331 927 932 638 329 145 046 247 263 984 477 973 720 212 390 842 164 014 585 695 929 223 33 14 15 3 66 23 6 6 2 39 197 494 106 422 221 747 744 653 435 580 944 239 760 858 802 417 839 860 768 884 469 609 140 270 488 886 448 000 038 372 Tahun 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005

24 201 241 2 005 278 2 584 642 443 978 29 235 139 57 7 8 1 75 593 596 664 496 351 854 391 514 864 623

383 59 438 17 845 19 266 4 932 100

037 56 965 21 492 20 776 4 270 102

761 56 918 21 890 20 523 5 092 103

734 56 797 21 085 21 771 5 387 105

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

34

Program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah belum sepenuhnya terealisasi. Hal ini dapat dilihat bahwa angkatan kerja yang berpendidikan SD ke bawah persentasenya masih tetap cukup tinggi walaupun ada kecenderungan penurunannya. Peningkatan kualitas angkatan kerja juga ditunjukkan dengan semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja berpendidikan tinggi terutama perguruan tinggi dengan pertambahan rata-rata 3,35 persen per tahun. Persentase pendidikan perempuan di tingkat Sekolah Dasar dan di bawahnya lebih tinggi dibanding laki-laki dan di tingkat SLTP dan SLTA persentase pendidikan perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan perempuan masih lebih rendah di banding laki-laki. Tetapi di tingkat perguruan tinggi persentase pendidikan laki-laki dan perempuan hampir sebanding.

3.2.3. Angkatan Kerja Menurut Kelompok Umur Aktivitas secara ekonomi dalam mencari pekerjaan atau bekerja diperlihatkan dalam jumlah angkatan kerja. Distribusi angkatan kerja menurut kelompok usia produktif (15 sampai 54 tahun) selama periode 1986 2005 stabil di atas 60 persen. Grafik 3.6 : Persentase Angkatan Kerja Menurut Kelompok Umur, Tahun 1986 - 2005
70 60 50 40 30 20 10 0
1986 1990 1996
15 - 24

2002
25 - 54

2003

2004
55 +

2005

35

Pada Kelompok umur 15 - 24 tahun atau usia muda antara tahun 1986 - 2005 mengalami sedikit penurunan dari sisi jumlah angkatan kerja maupun persentase dari 23,8 persen menjadi 21,7 persen. Penurunan ini terjadi di perkotaan sebesar 7,5 persen, hampir 2 kali dari pada di pedesaan yang hanya 3,5 persen. Penyebab berkurangnya angkatan kerja pada kelompok umur muda ini diduga kesadaran masyarakat untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi terlebih dahulu (long life for study), sebelum akhirnya memasuki pasar kerja. Pada kelompok umur 25 - 34 jumlah angkatan kerja berkisar 26 dan 27 persen, sedangkan kelompok umur 35 - 54 tahun bergerak sedikit dari 37,3 persen menjadi 39,0 persen, kelompok umur 55 - 59 stabil sekitar 4,8 persen dan kelompok 60 tahun ke atas perlahan naik dari 6,5 persen menjadi 7,9 persen. Fenomena ini diduga juga dipengaruhi semakin tingginya angka harapan hidup penduduk Indonesia. Bila dilihat dari golongan umur, angkatan kerja di Indonesia masih didominasi golongan umur 25 - 34 tahun. Bertambahnya angkatan kerja golongan umur tersebut terjadi adanya tambahan jumlah angkatan kerja karena meningkatnya jumlah lulusan institusi pendidikan yang memasuki pasar kerja baik bekerja maupun mencari pekerjaan. Tabel 3.4 : Angkatan Kerja Menurut Kelompok Umur, Tahun 1986 2005 ( Ribuan )
Golongan Umur 15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 + Total Tahun 1986 7 077.8 9 018.6 10 051.7 8 536.1 7 741.3 6 478.7 6 167.3 4 767.4 3 261.1 4 372.9 67 472.9 1990 7 899.3 9 478.0 10 493.3 9 767.9 9 415.1 7 019.4 6 708.6 5 450.3 3 824.4 5 294.9 75 351.2 1996 7 013.3 9 590.5 11 175.8 11 250.0 11 465.7 9 308.8 7 211.2 6 024.5 4 273.2 6 587.1 83 900.1 1998 6 924.8 9 427.9 11 497.9 11 388.1 12 037.9 9 842.6 8 250.5 6 343.7 4 586.2 7 372.8 87 672.4 2002 8 208.4 12 488.6 13 325.4 13 175.8 13 048.2 11 679.9 9 406.1 7 258.7 4 668.7 7 519.5 100 779.3 2003 7 518.4 13 601.5 13 859.1 13 850.9 13 039.5 11 699.4 9 308.2 7 445.5 4 424.5 8 003.1 102 750.1 2004 8 038.1 13 198.3 13 424.7 13 623.4 13 222.4 11 925.6 9 690.8 7 838.6 4 647.5 8 364.0 103 973.4 2005 8 227.8 14 767.6 14 537.0 13 513.3 12 835.4 11 511.2 9 609.5 7 282.9 5 129.7 8 387.9 105 802.3

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

36

3.2.4. Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin Walaupun tingkat pendidikan angkatan kerja perempuan meningkat secara signifikan, tetapi pertumbuhan peran serta perempuan dibanding laki-laki di pasar kerja masih tetap di bawah pertumbuhan laki-laki.

Grafik 3.7 : Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1986 - 2005

70 60 50 40 30 20 10 0
1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005

Laki-Laki

Perempuan

Selama periode 1986 2005 hasilnya jumlah angkatan kerja laki-laki sekitar 1,5 kali lebih besar dibanding angkatan kerja perempuan baik di perkotaan maupun di pedesaan. Pada periode 1986 2005 jumlah angkatan kerja laki-laki bertambah sekitar 2,7 persen dan perempuan 2,5 persen, yaitu angkatan kerja laki-laki bergerak dari 41,02 juta (60,8 persen) menjadi 66,22 juta orang (62,6 persen), dan perempuan bergerak dari 26,46 juta orang (39,2 persen) menjadi 39,58 juta orang (37,4 persen).

37

Tabel 3.5 : Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin dan Daerah, Tahun 1986 - 2005
Jenis Kelamin/ Daerah Laki-Laki Kota Pedesaan Total Perempuan Kota Pedesaan Total Laki-Laki + Perempuan Kota Pedesaan Total 14 546 890 19 244 402 29 913 049 33 407 706 37 578 424 42 372 783 42 692 450 43 599 422 52 927 356 56 107 221 58 273 723 59 327 226 58 072 537 60 377 309 61 280 937 62 202 950 67 474 246 75 351 623 88 186 772 92 734 932 95 650 961 102 750 092 103 973 387 105 802 372 4 848 010 6 761 147 10 821 356 12 359 600 13 676 598 14 971 344 15 029 166 15 549 427 21 607 575 22 473 992 23 168 049 23 613 721 23 194 641 23 178 928 23 017 057 24 031 061 26 455 585 29 235 139 33 989 405 35 973 321 36 871 239 38 150 272 38 046 223 39 580 488 9 698 880 12 483 255 19 091 693 21 048 106 23 901 826 27 401 439 27 663 284 28 049 995 31 319 781 33 633 229 35 105 674 35 713 505 34 877 896 37 198 381 38 263 880 38 171 889 41 018 661 46 116 484 54 197 367 56 761 611 58 779 722 64 599 820 65 927 164 66 221 884 Tahun 1986 1990 1996 1998 2000 2003 2004 2005

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

3.2.5. Pertumbuhan Angkatan Kerja Setiap Tahun Perubahan karena berkembangnya daerah pedesaan menjadi daerah perkotaan berdampak pada pertambahan jumlah angkatan kerja di perkotaan jauh lebih tinggi dibanding daerah pedesaan. Pada periode tahun 1986 - 2005 daerah perkotaan tumbuh dengan rata-rata sebesar 5,95 persen per tahun, sebaliknya jumlah angkatan kerja di pedesaan hanya tumbuh sebesar 0,85. persen per tahun. Perubahan ini juga diperkirakan karena adanya urbanisasi, karena kota menjadi tempat menggantungkan harapan tersedianya lapangan pekerjaan. Pertambahan angkatan kerja per tahun berfluktuasi, walaupun pada beberapa tahun tertentu mengalami kenaikan yang cukup besar yaitu tahun 1987-1988 sebesar 3,99 juta dengan tingkat pertumbuhan 3,1 persen, tahun 1993 - 1994 sebesar 4,46 juta orang dengan tingkat pertumbuhan 5,62 persen dan pertambahan terkecil terjadi pada tahun 1999 - 2000 hanya 0,80 juta orang dengan tingkat

38

pertumbuhan 0,85 persen, dan pada periode tahun 2000 2005 pertambahannya 10,15 juta dengan pertumbuhan rata-rata 2,1 persen per tahun. Grafik 3.8 : Persentase Pertumbuhan Angkatan Kerja, Tahun 1986 2005
7 6 5 4 3 2 1 0
86 -1 19 987 87 -1 19 988 88 -1 19 989 89 -1 19 990 90 -1 19 991 91 -1 19 992 92 -1 19 993 93 -1 19 994 94 -1 19 996 96 -1 19 997 97 -1 19 998 98 -1 19 999 99 -2 20 000 00 -2 20 001 01 -2 20 002 02 -2 20 003 03 -2 20 004 04 -2 00 5

19

Pertumbuhan Angkatan Kerja

3.3.

Keadaan Penduduk Indonesia yang Bekerja Bekerja merupakan salah satu kegiatan yang mencerminkan aktivitas

ekonomi suatu wilayah. Semakin banyak penduduk yang bekerja maka akan semakin positif dampaknya terhadap kehidupan sosial ekonomi suatu wilayah. Dengan semakin banyak penduduk yang bekerja dan sedikit penduduk yang menganggur, pemerintah akan semakin ringan dalam menangani masalah penyerapan-penyerapan tenaga kerja dan dapat berkonsentrasi di sektor yang lain misalnya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sebaliknya jumlah orang yang bekerja di suatu wilayah juga menggambarkan seberapa besar potensi ekonomi wilayah tersebut.

39

Grafik 3.9 : Jumlah Penduduk 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1986 2005 (juta orang)
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005

Laki-laki

Perempuan

Total

Jumlah orang yang bekerja di Indonesia pada tahun 1986 tercatat sebanyak 65,66 juta orang, naik menjadi 94,95 juta orang pada tahun 2005. Pada Periode 1986 2005 Jika dilihat dari daerah tempat tinggal jumlah yang bekerja di daerah pedesaan lebih banyak daripada di daerah perkotaan. Dilihat menurut jenis kelamin jumlah laki-laki yang bekerja lebih banyak dari perempuan. Tabel 3.6 : Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Daerah dan Jenis Kelamin, Tahun 1986 - 2005
Jenis Kelamin/ Daerah Laki-Laki Kota Pedesaan Total Perempuan Kota Pedesaan Total Laki-Laki + Perempuan Kota Pedesaan Total 13 481 054 18 092 628 27 429 114 30 304 533 37 091 253 37 097 046 37 258 506 37 711 128 52 173 977 55 344 336 56 471 024 57 367 916 54 555 913 55 713 745 56 463 530 57 236 990 65 655 031 73 436 964 83 900 138 87 672 449 91 647 166 92 810 791 93 722 036 94 948 118 4 454 708 6 316 707 9 704 349 11 064 635 12 644 806 12 588 806 12 511 513 12 879 537 21 294 103 22 135 960 22 284 347 22 708 411 20 419 173 20 722 217 20 629 012 21 329 994 25 748 811 28 452 667 31 988 696 33 773 046 33 063 979 33 311 023 33 140 525 34 209 531 9 026 346 11 775 921 17 724 765 19 239 898 24 446 447 24 508 240 24 746 993 24 831 591 30 879 874 33 208 376 34 186 677 34 659 505 34 136 740 34 991 528 35 834 518 35 906 996 39 906 220 44 984 297 51 911 442 53 899 403 58 583 187 59 499 768 60 581 511 60 738 587 Tahun 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

40

3.3.1. Latar Belakang Umur dan Pendidikan Separo dari jumlah penduduk yang bekerja mempunyai struktur umur yang berbeda, pada periode 1986 1988 berada pada kelompok umur 15 39 tahun, pada periode tahun 1989 1992 berada pada kelompok umur 15 44 tahun, pada periode 1993 1996 berada pada kelompok umur 20 49 tahun dan pada periode 1997 2005 umurnya berada pada kelompok umur 25 - 44 tahun, terjadinya pergeseran kelompok umur pada penduduk yang bekerja mungkin dipengaruhi oleh kenaikan tingkat pendidikan penduduk Indonesia. Grafik 3.10 : Jumlah Penduduk yang Bekerja Menurut Kelompok Umur, Tahun 1986 2005 (dalam ribuan orang)
100.000 90.000 80.000 70.000 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0
19 86 19 87 19 88 19 89 19 90 19 91 19 92 19 93 19 94 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05

15-19

20-24

25-29

30-34

35-39

40-44

45-49

50-54

55-59

60+

Dilihat dari struktur umur, persentase penduduk yang bekerja pada kelompok umur 15 - 24 atau usia muda selama periode 1986 2005 mengalami penurunan dari 22,48 persen menjadi 17,36 persen. Penurunan persentase ini menunjukan adanya kesempatan bagi penduduk usia muda menunda masuk ke dunia kerja dan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.

41

Persentase penduduk yang bekerja usia 25 34 stabil pada sekitar 27,0 persen, sedangkan pada kelompok umur 35-54 persentasenya sedikit mengalami kenaikan dari sekitar 38,14 persen menjadi 44,02 persen, kelompok umur 55-59 stabil di sekitar 5 persen, sedangkan kelompok 60 tahun ke atas mengalami kenaikan tiap tahunnya dari 6,6 persen pada tahun 1986 menjadi 8,1 persen pada tahun 2005.

Tabel 3.7 : Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin dan Tingkat Pendidikan, Tahun 1986 - 2005
Jenis Kelamin/ Pendidikan Laki-Laki SD SLTP SLTA UNIVERSITAS TOTAL Perempuan SD SLTP SLTA UNIVERSITAS TOTAL Laki-Laki + Perempuan SD SLTP SLTA UNIVERSITAS TOTAL 31 252 634 4 055 663 3 926 068 671 855 39 906 220 22 777 108 1 334 481 1 429 622 207 600 25 748 811 54 029 742 5 390 144 5 355 690 879 455 65 655 031 33 105 425 5 385 919 5 508 038 984 915 44 984 297 23 990 220 1 896 719 2 173 950 391 778 28 452 667 57 095 645 7 282 638 7 681 988 1 376 693 73 436 964 33 095 271 7 543 210 9 258 983 1 045 565 50 943 029 23 900 237 3 111 660 4 024 637 952 162 31 988 696 56 995 508 10 654 870 13 283 620 2 966 140 83 900 138 33 046 192 8 465 702 10 143 896 2 243 613 53 899 403 24 404 079 3 732 632 4 400 210 1 236 125 33 773 046 34 940 228 11 966 406 13 425 271 2 979 065 63 310 970 24 116 809 5 522 559 5 907 221 1 921 711 37 468 300 31 441 057 13 053 763 12 330 623 2 674 325 59 499 768 21 574 904 5 519 242 4 699 345 1 517 532 33 311 023 53 015 961 18 573 005 17 029 968 4 191 857 92 810 791 31 695 316 13 209 762 12 599 809 3 076 624 60 581 511 21 272 841 5 363 123 4 688 772 1 815 789 33 140 525 52 968 157 18 572 885 17 288 581 4 892 413 93 722 036 31 576 531 13 096 373 12 966 161 3 099 522 60 738 587 21 814 667 5 462 265 4 882 337 2 050 262 34 209 531 53 391 198 18 558 638 17 848 498 5 149 784 94 948 118 Tahun 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005

57 450 271 59 057 037 12 198 334 17 488 965 14 544 106 19 332 492 3 479 738 4 900 776 87 672 449 100 779 270

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

Pada periode 1986 2005 pendidikan penduduk yang bekerja dan berpendidikan Sekolah Dasar ke bawah dari 82,3 persen menjadi 50,7 persen, pendidikan Sekolah lanjutan Tingkat Pertama bergerak dari 8,2 persen menjadi 35,9 persen, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dari 8,2 persen menjadi 20,0 persen dan yang berpendidikan perguruan tinggi bergerak dari 1,3 persen menjadi 5,5 persen.

42

Grafik 3.11 : Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan, Tahun 1986 2005
60 50 40 30 20 10 0 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005

Pertanian Listrik Angkutan lainnya

Pertambangan Bangunan Keuangan

Industri Perdagangan Jasa

Persentase orang yang bekerja di sektor pertanian tahun 1986 1990 stabil lebih dari 50 persen, dan mengalami penurunan pada tahun 1991 1997, namun setelah itu sektor pertanian berfluktuasi di sekitar 43 persen. Sektor terbesar kedua adalah perdagangan bergerak dari 14,5 persen menjadi 19,9 persen pada periode 1986 2005. Sektor terbesar ke tiga adalah Industri pengolahan dari 8,21 persen jadi 12,3 persen pada periode yang sama. Dilihat dari daerah tempat tinggal, di daerah perkotaan periode 80-an orang banyak yang bekerja di sektor jasa dan perdagangan, periode 90-an pada selain ke dua sektor tersebut, struktur ekonomi Indonesia telah berubah dan bergeser ke sektor industri yang mulai banyak menyerap tenaga kerja terutama industri textil, makanan dan perabot rumah tangga. Pada periode 2000 - 2005 selain sektor industri dan perdagangan yang masih tinggi ada juga sektor bangunan dan jasa terutama jasa perorangan yang mulai berkembang.

43

Di daerah pedesaan, orang banyak bekerja di sektor pertanian terutama pertanian tanaman lainnya, sektor perdagangan, sektor angkutan umum dan sektor bangunan.

Tabel 3.8 : Persentase Penduduk Berusia 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Seminggu yang lalu Menurut Lapangan Pekerjaan dan Daerah, Tahun 1996 - 2005
Lapangan Pekerjaan Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas dan Air Bangunan Perdagangan Besar, Eceran, dan Rumah makan Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah dan Jasa Perusahaan Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan Lainnya Total Sumber : Sakernas 1996 - 2005 0.01 0.01 26.63 7.71 26.52 7.60 19.44 5.77 18.98 5.02 19.74 8.60 19.04 5.94 7.69 2.13 3.24 0.18 7.45 1.76 3.30 0.15 7.79 2.26 3.27 0.28 8.04 3.03 3.51 0.33 8.69 2.55 3.97 0.31 8.73 2.24 3.95 0.35 1996 Kota 8.30 0.77 16.57 0.44 5.86 31.42 Desa 60.60 0.96 10.58 0.08 3.84 12.79 1998 Kota 11.07 0.87 15.70 0.32 5.26 31.05 Desa 62.86 0.71 9.02 0.09 3.36 12.91 2002 Kota 12.99 0.69 19.77 0.35 6.30 30.42 Desa 65.65 0.69 8.76 0.09 3.55 11.94 2003 Kota 14.11 0.82 18.64 0.33 6.19 29.85 Desa 67.86 0.77 8.22 0.05 3.16 11.09 2004 Kota 12.13 1.09 17.50 0.50 6.19 31.60 Desa 63.91 1.11 9.06 0.08 3.96 13.01 2005 Kota 12.87 0.84 18.50 0.38 6.32 31.08 Desa 64.58 0.86 8.17 0.07 3.55 12.54

100.00 100.00

100.00 100.00

100.00 100.00

100.00 100.00

100.00 100.00

100.00 100.00

Menurut jenis kelamin, perempuan banyak bekerja di sektor pertanian,

sektor

industri, sektor perdagangan dan sektor jasa terutama jasa perorangan dan rumah tangga. Sementara Laki-laki banyak bekerja di sektor bangunan, listrik, angkutan dan sektor keuangan.

44

Tabel 3.9 : Persentase Penduduk Berusia 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Seminggu yang lalu Menurut Lapangan Pekerjaan dan Jenis Kelamin, Tahun 1996 - 2005
Lapangan Pekerjaan Lk Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas dan Air Bangunan Perdagangan Besar, Eceran, dan Rumah makan Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah dan Jasa Perusahaan Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan Lainnya Total Sumber : Sakernas 1996 - 2005 0.02 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 14.29 13.25 14.43 13.68 10.77 12.26 10.18 11.35 10.29 12.91 10.15 12.90 7.41 0.96 0.29 0.59 7.46 0.76 0.39 0.61 7.70 1.25 0.50 0.79 8.01 1.59 0.52 1.09 8.72 1.39 0.59 0.85 8.82 1.28 0.58 0.78 42.70 1.16 11.16 0.28 7.05 14.96 1996 Pr 44,81 0.48 14.93 0.05 0.37 25.24 Lk 44.29 1.06 10.17 0.24 6.28 15.30 1998 Pr 46.02 0.30 13.18 0.05 0.40 25.38 Lk 43.74 0.94 12.15 0.27 7.09 16.11 2002 Pr 45.40 0.25 15.10 0.05 0.36 25.28 Lk 45.72 1.07 11.24 0.24 6.58 15.36 2003 Pr 47.54 0.28 14.43 0.04 0.41 24.34 Lk 42.62 1.43 10.99 0.35 7.31 16.89 2004 Pr 44.62 0.50 13.31 0.06 0.34 26.82 Lk 43.39 1.17 11.29 0.27 7.08 16.56 2005 Pr 45.19 0.29 14.01 0.07 0.34 25.85

3.3.2. White dan Blue Collar White dan blue collar adalah salah satu indikator ketenagakerjaan yang mencerminkan kualitas pekerja di suatu wilayah/negara. Pengelompokan pekerja white collar dan blue collar adalah berdasarkan jenis pekerjaan, dimana kelompok white collar adalah mereka yang jenis pekerjaannya tergolong sebagai tenaga profesional dan teknisi dan yang sejenisnya, tenaga kepemimpinan dan ketata laksanaan, tenaga tata usaha dan sejenisnya, dan tenaga usaha penjualan.

45

Pekerja yang di masukkan pada kelompok Blue collar adalah mereka yang mempunyai jenis pekerjaan sebagai tenaga usaha jasa, tenaga usaha pertanian, kehutanan, perburuan dan peternakan, dan tenaga produksi, operator alat-alat angkutan dan pekerja kasar, dan lainnya.

Grafik 3.12 : Persentase Penduduk 15 Tahun yang Bekerja Menurut Klasifikasi Pekerjaan, Tahun 1994 - 2005
80,0 70,0 60,0 50,0 40,0 30,0 20,0 10,0 0,0 1994 1996 1998 2002 2003 2004 2005

White Collars

Blue Collars

Data tentang white dan blue collar baru mulai dibuat dari hasil Sakernas tahun 1994 sampai sekarang. sebagai Blue collar Pada periode 1994 2005 mereka yang bekerja sebagian besar (72 - 75 persen) mempunyai jenis pekerjaan yang digolongkan atau jumlah penduduk yang tersedia sebagian besar hanya untuk tenaga kerja kasar yang tidak banyak membutuhkan keterampilan yang tinggi dan sisanya sekitar (25 28 persen) di kelompok White collar. Keadaan kelompok White collar selama periode 1994 1998 mengalami peningkatan sebesar 2,5 persen, dan pada periode 1998 2005 keadaannya berfluktuasi.

46

Sebaliknya kelompok blue collar selama periode 1994 1998 mengalami penurunan dari 74,0 persen menjadi 71,5 persen, dan pada periode 2002 - 2005 keadaanya juga berfluktuasi.

Grafik 3.13 : Jumlah yang Bekerja Pada Kelompok White Collars Menurut Daerah, Tahun 1994 2005 (Juta) 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0
1994 1996 1997 1998 1999
Kota

2001

2002
Desa

2003

2004

2005

Menurut daerah tempat tinggal, di perkotaan penduduk yang bekerja dan termasuk kelompok white collar tahun 1994 sebesar 47,6 persen dan tetap stabil hingga tahun 1999, namun sejak tahun 2001 persentase ini turun terus hingga saat ini menjadi sebesar 41,9 persen. Keadaan ini mungkin pengaruh krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997 dan penduduk yang bekerja bergeser ke kelompok blue collar secara signifikan sejak tahun 2001. Sementara di daerah pedesaan, mereka yang bekerja pada kelompok white collar tahun 1994 sebesar 16,7 persen dan pada tahun 2005 turun menjadi 15,6 persen.

47

Tabel 3.10 : Klasifikasi Pekerjaan Menurut Daerah, Tahun 1994 - 2005


Klasifikasi Pekerja/ Daerah Perkotaan White Collars Blue Collars Total Pedesaan White Collars Blue Collars Total Kota + Desa White Collars Blue Collars Total 1994 1996 1997 1998 1999 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005

11 432 836 13 150 116 14 063 260 14 353 644 15 437 498 15 586 264 15 891 141 15 694 805 15 991 147 15 797 614 12 607 540 14 278 998 15 290 538 15 950 889 16 889 446 20 512 540 21 200 112 21 402 241 21 267 359 21 913 514 24 040 376 27 429 114 29 353 798 30 304 533 32 326 944 36 098 804 37 091 253 37 097 046 37 258 506 37 711 128 9 348 077 9 505 403 10 292 230 9 829 668 9 715 124 8 178 302 8 271 849 7 722 138 8 865 451 8 927 964 46 653 892 46 965 621 45 759 501 47 538 248 46 774 791 46 530 311 46 284 064 47 991 607 47 598 079 48 309 026 56 001 969 56 471 024 56 051 731 57 367 916 56 489 915 54 708 613 54 555 913 55 713 745 56 463 530 57 236 990 20 780 913 22 655 519 24 355 490 24 183 312 25 152 622 23 764 566 24 162 990 23 416 943 24 856 598 24 725 578 59 261 432 61 244 619 61 050 039 63 489 137 63 664 237 67 042 851 67 484 176 69 393 848 68 865 438 70 222 540 80 042 345 83 900 138 85 405 529 87 672 449 88 816 859 90 807 417 91 647 166 92 810 791 93 722 036 94 948 118

Sumber : Sakernas 1994 - 2005

3.3.3. Formal dan Informal Pengelompokan tenaga kerja dapat dibedakan menurut kegiatan formal dan kegiatan informal. Pendekatan kelompok formal dan informal yang digunakan didasarkan pada kombinasi antara status pekerjaan (employment status) dan jenis pekerjaan (occupation). Dalam analisis ini kegiatan informal didekati melalui pendekatan status pekerjaan dan jabatan (bila data tersedia seperti pada tahun 1986 1993 dan tahun 2000 hanya didasarkan pada status pekerjaan karena variabel jenis pekerjaan tidak tersedia). Melalui pendekatan itu seorang pekerja dikategorikan pekerja formal didefinisikan sebagai pekerja yang berstatus berusaha dibantu pekerja tetap/pekerja dibayar, buruh/karyawan, di luar itu sebagai pekerja informal.

48

Grafik 3.14 : Jumlah Penduduk yang Bekerja di Kegiatan Informal Menurut Daerah Perkotaan dan Pedesaan, Tahun 1986 2005 (Juta)
70 60 50 40 30 20 10 0 1986 1990 1996 Kota 1998 2002 Desa 2003 Total 2004 2005

Berdasarkan pengelompokan tersebut, pada tahun 2005 dari 94,95 juta penduduk Indonesia yang bekerja, 63,9 persen (60,6 juta orang) diserap oleh kegiatan informal, suatu sektor yang bercirikan berskala serba kecil dilihat dari modal maupun tenaga kerja yang seringkali masih memiliki mobilitas yang tinggi dalam arti mudah berubah bidang kegiatannya. Pada tahun 1986 kegiatan informal menyerap tenaga kerja sekitar 72,9 persen, dan turun sekitar 10 persen dalam kurun waktu 10 tahun yaitu menjadi 61,8 persen pada tahun 1996. Namun demikian, pada tahun 1998 naik kembali menjadi 64,2 persen dan berangsur-angsur turun menjadi 63,9 persen pada tahun 2005. Hal ini jelas memperlihatkan bahwa akibat krisis ekonomi terhadap ketenagakerjaan di Indonesia bukan berkurangnya orang yang bekerja, namun terjadi adalah pergeseran dari kegiatan formal ke kegiatan informal.

49

Penyerapan tenaga kerja kegiatan informal di pedesaan lebih besar dibanding daerah perkotaan. Kegiatan informal di pedesaan didominasi oleh pertanian dan di perkotaan didominasi oleh perdagangan. Selama periode 1986 2005 sektor informal terus bertambah setiap tahun ratarata sekitar 2 persen. Dari data yang ada menunjukkan bahwa kegiatan informal merupakan penyelamat keadaan ketenagakerjaan di Indonesia, karena kenaikan jumlah tenaga kerja di sektor informal secara keseluruhan dapat meningkatkan penampungan jumlah tenaga kerja atau mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia.

Tabel 3.11 : Penduduk Berusia 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja di Sektor Formal dan Informal, Tahun 1986 - 2005
Formal-Informal/ Daerah Perkotaan Formal Informal Total Pedesaan Formal Informal Total Kota + Desa Formal Informal Total 1986 1990 1996 1998 Tahun 2002 2003 2004 2005

7 423 465 10 101 560 18 200 644 18 379 830 21 793 804 21 469 101 21 873 336 21 666 282 6 057 589 7 991 068 9 228 470 11 924 703 15 297 449 15 627 945 15 385 170 16 044 846 13 481 054 18 092 628 27 429 114 30 304 533 37 091 253 37 097 046 37 258 506 37 711 128 10 370 269 11 316 187 13 825 750 12 968 376 11 876 760 11 330 200 12 635 697 12 654 542 41 803 708 44 027 355 42 645 274 44 399 540 42 679 153 44 383 545 43 827 833 44 582 448 52 173 977 55 343 542 56 471 024 57 367 916 54 555 913 55 713 745 56 463 530 57 236 990 17 793 734 21 417 747 32 026 394 31 348 206 33 670 564 32 799 301 34 509 033 34 320 824 47 861 297 52 018 423 51 873 744 56 324 243 57 976 602 60 011 490 59 213 003 60 627 294 65 655 031 73 436 170 83 900 138 87 672 449 91 647 166 92 810 791 93 722 036 94 948 118

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

50

3.3.4. Lapangan Pekerjaan Apabila penyerapan tenaga kerja dilihat menurut lapangan pekerjaan,

terlihat bahwa tenaga kerja Indonesia masih didominasi sektor pertanian, dimana pada tahun 2005 mencapai 44 persen, walaupun persentase di sektor pertanian cukup berfluktuasi selama periode 1986 2005. Sektor terbesar ke dua adalah sektor perdagangan yaitu 19,9 persen, sektor terbesar ke tiga adalah sektor industri pengolahan 12,3 persen. Sepanjang kurun waktu 1990 2005, sektor pertanian masih sangat dominan dalam penyerapan tenaga kerja. Lebih dari 50 persen pada tahun 2005, tenaga kerja di Indonesia masih terserap di sektor pertanian.

Grafik 3.15 : Persentase Tenaga Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan Periode 1990 2005
60.00

50.00

40.00

30.00

20.00

10.00

0.00 90 Pertanian perdagangan 91 92 93 94 96 97 98 99 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Listrik/gas/air jasa bangunan

Pertambangan angkutan

Industri keuangan

51

3.3.5. Jam Kerja Salah satu variabel yang dapat menggambarkan produktivitas seseorang adalah banyaknya waktu yang digunakan untuk bekerja. Sejak tahun 1982, BPS bersama Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) menyepakati bahwa jam kerja normal (JKN) seseorang selama seminggu adalah 35 jam. Mereka yang bekerja di bawah 35 jam per minggu belum dianggap optimal oleh karena berbagai alasan. Pada periode 1986 2005 terlihat bahwa ada kecenderungan kenaikan rata-rata jam kerja. Pada tahun 1986, mereka yang bekerja di atas JKN sekitar 60,6 persen naik menjadi 62,0 persen pada tahun 1996, namun turun menjadi 60,8 persen pada tahun 1998 dan naik kembali hingga mencapai 66, 2 persen pada tahun 2005. Jam kerja di daerah pedesaan dan perkotaan berbeda, dan rata-rata jam kerja di daerah perkotaan lebih tinggi dibanding pedesaan. Demikian juga halnya apabila jam kerja diteliti menurut jenis kelamin. Jam kerja laki-laki masih lebih tinggi dibanding perempuan. Pada tahun 1986 misalnya, laki-laki yang bekerja di atas JKN sebesar 71,5 persen naik menjadi 73,6 persen pada tahun 2005. Sementara perempuan hanya 43,9 persen pada tahun 1986 naik menjadi 53,2 persen pada tahun 2005. Grafik 3.16 : Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja, Tahun 1986 - 2005
70 60 50 40 30 20 10 0
1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005

0*

1 - 34

35+

52

Tabel 3.12 : Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas yang Bekerja Menurut Jam Kerja dan Jenis Kelamin, Tahun 1986 - 2005
Jenis Kelamin/ Jam Kerja Laki-Laki 0 *) 1 - 34 35 + Total Perempuan 0 *) 1 - 34 35 + Total Laki-Laki + Perempuan 0 *) 1 - 34 35 + Total
Catatan: 0*) = Sementata tidak bekerja Sumber : Sakernas 1986 - 2005

Tahun 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005

495 736 493 186 1 176 397 1 126 622 1 325 212 1 263 684 1 191 873 1 305 089 10 895 824 11 824 696 13 584 658 14 816 538 14 442 403 14 763 091 13 962 718 14 734 980 28 514 660 32 666 412 37 150 387 37 956 243 42 815 572 43 472 993 45 426 920 44 698 518 39 906 220 44 984 297 51 911 442 53 899 403 58 583 187 59 499 768 60 581 511 60 738 587 570 023 529 553 1 050 385 1 055 171 1 216 969 1 258 333 1 074 561 1 104 949 13 855 743 14 841 023 16 047 529 17 303 537 14 426 179 14 771 557 13 984 540 14 907 147 11 323 045 13 082 091 14 890 782 15 414 338 17 420 831 17 281 133 18 081 424 18 197 435 25 748 811 28 452 667 31 988 696 33 773 046 33 063 979 33 311 023 33 140 525 34 209 531 10 657 759 1 022 739 2 226 782 2 181 793 2 542 181 2 522 017 2 266 434 2 410 038 24 751 567 26 665 722 29 632 187 32 120 075 28 868 582 29 534 648 27 947 258 29 642 127 39 837 705 45 748 503 52 041 169 53 370 581 60 236 403 60 754 126 63 508 344 62 895 953 65 655 031 73 436 964 83 900 138 87 672 449 91 647 166 92 810 791 93 722 036 94 948 118

3.3.6. Produktivitas Perkembangan pembangunan ekonomi ditandai dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, penciptaan kesempatan kerja serta pembagian pendapatan masyarakat yang semakin merata. Salah satu ukuran yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan data pendapatan regional atau Produk Domestik Bruto (PDB) yang merupakan salah satu indikator ekonomi untuk mengukur total nilai produk barang dan jasa akhir dalam suatu perekonomian dan pendekatan yang digunakan bisa melalui produksi, pendapatan atau pengeluaran.

53

Pada periode 1990 - 2004, menggambarkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia cukup berfluktuasi, hal ini dibuktikan dengan besarnya PDB atas dasar harga konstan dengan tahun dasar 2000=100, bergerak dari 1.647,7 triyun pada tahun 1990 menjadi 3.265,8 triyun pada tahun 2004. Dan produktivitas nasional bergerak dari 22,4 juta menjadi 34,8 juta.

Grafik 3.17 : Produktivitas Penduduk yang Bekerja, Tahun 1990 -2004


36 34 32 30 Juta 28 26 24 22 20
19 90 19 91 19 92 19 93 19 94 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04

Produktivitas

Produktivitas tenaga kerja, penghitungannya dilakukan dengan membagi PDB per sektor dengan jumlah tenaga kerja pada sektor yang sama. Dari hasil penghitungan itu dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan dan sektor keuangan dan jasa perusahaan cenderung mempunyai nilai produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor yang lainnya. Produktivitas sebelum terjadinya krisis moneter (sebelum tahun 1998) cenderung mengalami peningkatan, tetapi setelah tahun 1997 terjadi penurunan yang cukup besar yaitu dari 34,9 juta pada tahun 1997 menjadi 28,2 juta pada tahun 1998. Setelah masa krisis moneter

54

(setelah tahun 1998) berangsur-angsur mengalami peningkatan kembali hingga tahun 2004. Pada tahun 2004 produktivitas tenaga kerja memperlihatkan kondisi yang semakin baik, hal ini ditandai dengan nilai produktivitas tenaga kerja pada tahun 2004 mendekati kondisi seperti pada tahun 1997, yaitu ketika awal dari krisis moneter terjadi.

3.3.7. Pekerja Paruh Waktu (Part-Time Worker) Part time worker adalah istilah untuk orang yang bekerja di bawah jam kerja normal (di bawah 35 jam/minggu) atas kemauan sendiri. Orang yang bekerja di bawah jam kerja normal ada yang berdasarkan kemauan sendiri atau setengah pengangguran sukarela dan ada yang karena terpaksa atau disebut setengah pengangguran terpaksa.

Grafik 3.18 : Jumlah Penduduk yang Bekerja Part-Time Tahun 1986 2005 (Juta)
30 25 20 15 10 5 0 1986 1988 1990 1992 1994 1997 1999 2001 2003 2005

Total

Kota

Desa

55

Jumlah orang yang bekerja sebagai part-time worker lebih banyak di daerah pedesaan dibanding di daerah perkotaan, karena di pedesaan tidak terlalu banyak tekanan ekonomi, tetapi di perkotaan dengan tekanan ekonomi yang tinggi jadi lebih sedikit orang yang bekerja part-time. Jumlah orang yang bekerja part time selama tahun 1986 2005 berfluktuasi, yaitu sekitar 23,8 juta pada tahun 1986 dan menurun hingga sekitar 17 juta pada tahun 1997 namun meningkat sampai tajam pada tahun 1998, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya turun kembali. Peningkatan secara dramatis pada tahun 1998 diyakini akibat terjadinya krisis ekonomi yang melanda baik daerah pedesaan maupun perkotaan.

3.4.

Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) Pengangguran terbuka merupakan ukuran pengangguran yang umum

dipergunakan dalam menyatakan banyaknya jumlah penganggur di suatu wilayah pada waktu tertentu. Biasanya dinyatakan dalam besaran absolut atau suatu rate (TPT= Tingkat Pengangguran Terbuka). Pengangguran terjadi merupakan akibat dari tidak sempurnanya pasar kerja, keterbatasan-keterbatasan persaingan dan kepentingan mendesak dari lembaga/institusi dalam perekonomian. Implikasinya supply tenaga kerja yang ada di pasar kerja melebihi dari demand untuk mengisi kesempatan kerja yang tercipta. Menurut Keynes, hal itu terjadi karena pasar bebas gagal menciptakan lapangan kerja dan kebijakan pemerintah setempat menciptakan lapangan kerja bagi sejumlah angkatan kerja yang ditawarkan. Kenyataan yang ada, kondisi perubahan politik dan sosial di suatu negara yang erat berkaitan dengan stabilitas perekonomian tidak kalah berdampak terhadap kondisi pasar kerja. Memang tampak seperti lingkaran permasalahan yang tidak terputus, tingginya pengangguran sering sebagai dampak ikutan dari rendahnya pertumbuhan pendapatan di suatu wilayah. Seperti efek dari terpuruknya kondisi perekonomian nasional yang berlarut-larut akibat krisis ekonomi yang

56

berkepanjangan, mengakibatkan jumlah orang yang menganggur secara drastis meningkat tajam. Pada sub bab ini akan dibahas pengangguran terbuka menurut berbagai karakteristiknya. Antara lain pengangguran terbuka menurut daerah tempat tinggal, umur, dan selanjutnya menurut rata-rata jumlah jam kerja per minggu yang menghasilkan pengangguran kritis dan setengah pengangguran.

3.4.1. Pengangguran Menurut Daerah Tempat Tinggal Grafik 3.19 : Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Wilayah Perkotaan dan Pedesaan, Tahun 1986 2005
16,0

Tin g ka t P e n g a n g g u ra n Te rb u ka

14,0 12,0 10,0

Perkotaan Pedesaan Nasional


8,3 9,3 7,0 6,0 4,9 2,7 1,4 2,5 1,4 3,1 5,5 3,3 12,0

13,5 12,5 12,7 10,3 8,0

9,1

9,7 7,7

9,9 7,9

8,0 6,0 4,0 2,0 0,0

7,3

1986

1990

1996

1998 Tahun

2002

2003

2004

2005

Secara nasional TPT dari tahun 1986 - 2005 mengalami peningkatan. Ditunjukkan dengan tingginya TPT yang hanya 2,7 persen pada tahun 1986 dari total Angkatan Kerja 67,5 juta orang; dan 10,3 persen tahun 2005 dari 105,8 juta Angkatan Kerja.

57

Pada umumnya TPT di wilayah perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan di pedesaan pada tingkat nasional, masing-masing di pedesaan dan perkotaan pada tahun 2005 sebesar 13,5 persen dan 8,0 persen. Dengan konsentrasi penduduk yang tinggal di wilayah pedesaan mencakup dari hampir 60 persen dari seluruh angkatan kerja nasional, kondisi tersebut menunjukkan bahwa cukup nyata pengangguran terjadi di wilayah perkotaan. Sedangkan pola pertumbuhan TPT antar periode pada daerah perkotaan dan pedesaan hampir sama. Namun apabila dilihat tingginya tingkat TPT, maka wilayah pedesaan banding perkotaan perbandingannya adalah 1:3 periode tahun (1986-1998) dan 2:3 periode tahun (2002 - 2005).

3.4.2. Pengangguran Menurut Umur, Pendidikan dan Jenis Kelamin Berdasarkan Grafik 3.20, TPT yang dirinci menurut kelompok umur sejak periode tahun 1986-2005 menunjukkan bahwa kelompok umur muda (15-24) tahun yang mayoritas sebagai angkatan kerja baru (future start) berada di tingkat TPT yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok usia yang lainnya. Keadaan tahun 2005, TPT untuk kelompok usia (15-24) sebesar 28,7 persen sedangkan untuk kelompok usia (2554) hanya sebesar 4,9 persen dan 6,6 persen untuk usia (55+) pada tahun yang sama. Pola distribusi dari tingginya TPT pada berbagai kelompok umur ini hampir sama di semua periode tahun 1986 - 2005. Apabila diamati perubahan TPT di penyebaran antar kelompok umur tersebut, memperlihatkan TPT bertambah relatif sama pada setiap kelompok umur. Tingginya pengangguran pada golongan umur 15 - 24 tahun pada periode 1986 2005, merupakan implikasi dari keadaan pasar kerja yang pada umumnya pada kelompok usia kerja muda ini baru memasuki dunia kerja dan masih banyak pertimbangan untuk memasuki dan menerima pekerjaan yang diimpikan. Dipandang dari beban ekonomi, mengingat pada kelompok usia ini belum memiliki banyak beban tanggungan ekonomi keluarga dan masih ada jaring pengaman ekonomi

58

baginya yaitu keluarga dan masyarakat sosialnya. Dihubungkan dengan tingkat pendidikan pada kelompok usia (15-24) ini belum memiliki keterampilan dan pengalaman kerja yang cukup dan layak untuk siap kerja. Di tambah lagi ada kemungkinan di usia muda ini masih memiliki orientasi jenis pekerjaan yang idealis (sesuai keinginan, keahlian, hobi, standar gaji dan gengsi), sehingga kurang menerima jenis pekerjaan apa saja. Sebagai konsekuensi dari berbagai alasan tersebut, maka diduga faktor-faktor tersebut sangat erat memberikan dampak terhadap tingginya TPT pada usia muda.

Grafik 3.20 : Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Kelompok Umur, Tahun 1986 2005
2005 2004 2003 2002 Tahun 1998 1996 1990 1986
0,0 0,3 0,2 3,2 4,9 4,5 4,5 4,4 6,6 28,7 6,6 29,6 7,5 28,1 27,9 17,1 15,5 8,0 8,3 5,0 10,0 15,0 20,0 25,0 30,0 35,0

2,7 2,1

55+ 25-54 15-24

0,2 1,1 0,3 1,0

Tingkat Pengangguran Terbuka

Secara umum penyebaran TPT menurut pendidikan (lihat Grafik 3.20), selama kurun waktu tahun 1986-2005 cenderung meningkat. Pada tingkat pendidikan SLTA, secara series menunjukkan TPT yang tertinggi dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang lainnya. Pada tingkat pendidikan SD berada di TPT yang paling rendah dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya. Tingginya persentase pengangguran terbuka pada tingkat pendidikan SLTA ini mengindikasikan

59

bahwa sistem pendidikan telah menjadikan prestasi dalam persyaratan tenaga kerja di Indonesia pada tahun 1986 2005. Fakta tersebut sama seperti penemuan studi dari Turham (1970) dan Perlman (1976): . Bagi negara miskin dan kurang maju serta belum berkembang, pengangguran merupakan sesuatu yang mewah karena mereka tidak mampu mendapatkan penghasilan .. Kondisi ini berbeda halnya bagi orang-orang yang setengah menganggur, dimana produktivitas sangat diperhitungkan. Pengamatan secara periode tahun yang ada, memperlihatkan di tahun 1996 terjadi peningkatan TPT yang paling nyata pada semua tingkat pendidikan. Pada tahun 1996 dan di bawahnya terjadi peningkatan TPT pada tingkat pendidikan SD, semula 0,9 persen (1990) menjadi 1,8 persen (1996). Selanjutnya pada tahun 1998 terjadi penurunan tingkat TPT di tingkat pendidikan Perguruan Tinggi sementara tingkat pendidikan yang lain meningkat. Pada tahun 1998-2002 terjadi suatu titik point berkebalikan antara tingkat pendidikan SLTP dan SD terhadap tingkat pendidikan PT, TPT untuk tingkat pendidikan SLTP dan SD meningkat tajam dan sebaliknya pada PT menurun. Grafik 3.21 : Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, Tahun 1986 2005
20,0 18,0 16,0 14,0 12,0 Tingkat Pengangguran 10,0 Terbuka 8,0 6,0 4,0 2,0
1,1 0,9 13,6

<=SD SLTP SLTA PT


14,6 13,4 11,8 11,0

17,6 16,8 16,9

18,0

12,3 11,7 10,6 9,7

12,7 10,7

12,6 12,1

11,3

7,8

7,9 6,8

7,5 6,3 5,5 5,8 6,2

5,5 4,1

1,8

2,0

0,0

1986

1990

1996

1998

2002

2003

2004

2005

Tahun

60

Keadaan dan fakta perubahan antar tingkat pendidikan dari series tahun tersebut memperlihatkan bahwa pada tahun 1998 diduga krisis berpengaruh terhadap pasar kerja untuk tingkat pendidikan SD,SLTP dan SLTA. Sebaliknya untuk tingkat pendidikan PT, justru kurang terlihat dampaknya, tampak TPT dari tahun 1996 2002 berangsur-angsur mengalami penurunan terus hingga tahun 2003, masing-masing secara berturut-turut besarnya TPT yaitu 11,8 persen (1996); 11,0 persen (1998); 10,2 persen (2002); dan 9,7 persen (2003). Hal ini bisa diduga bahwa untuk orang-orang dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi mampu menciptakan pekerjaan baru bagi dirinya di saat krisis melanda akibat tingginya tingkat PHK. Grafik 3.22 : Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Jenis Kelamin, Tahun 1986 2005

14,0 12,0 10,0


Tingkat Pengangguran Terbuka 11,8 12,7 12,9 13,6 Perempuan

8,0 6,0 4,0


2,7 2,7 2,5 2,7 4,2 5,9 5,0 6,1 7,5 7,9 8,1 8,3 Laki-laki

2,0 0,0
1986

1990

1996

1998

2002

2003

2004

2005

Merujuk pada Grafik TPT menurut jenis kelamin periode 1986 2005 (Grafik 3.22), tampak bahwa: TPT perempuan dari awal hingga 2005 cenderung lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Pada tahun 1986 TPT untuk masing-masing jenis kelamin

61

sama yaitu, 2,7 persen. Secara berangsur-angsur TPT keduanya bertambah besar, namun TPT laki-laki lebih kecil pertambahannya dibandingkan dengan pertambahan TPT perempuan. Akhirnya pada tahun 2005, tampak TPT laki-laki sebesar 8,3 persen dan TPT wanita 13,6 persen, perbandingan TPT nya hampir sekitar 2:3. Kesenjangan TPT antara pria dan wanita, dimungkinkan alasan sosial dan budaya, yaitu dampak dari kesempatan yang sama antara pria dan wanita mendapatkan pendidikan beberapa puluh tahun yang lalu dan pergeseran peran ganda wanita dalam rumah tangga. Perlu di garisbawahi dari analisa TPT menurut umur, jenis kelamin dan pendidikan, bahwa tingginya TPT pada kelompok usia muda, wanita dan tingkat pendikan SLTA perlu perhatian khusus. Hal ini perlu diantisipasi dengan kebijakan dan regulasi khusus dari pemerintah secara terkoordinasi antara bidang pendidikan, ketenagakerjaan dan pelaku usaha guna menekan tingginya TPT dengan latar belakang tiga karakteristik tersebut. Apabila memang lowongan dan kesempatan kerja yang ada maupun yang baru sangat kurang setiap tahunnya dibandingkan dengan peningkatan jumlah angkatan kerja baru setiap tahunnya. Terobosanterobosan yang bisa dilakukan antara lain : menciptakan usahawan-usahawan baru yang mandiri sampai tingkat akar rumput. Pendistribusian dan pemberian kesempatan yang seluas-luasnya bagi para SDM yang berkeahlian namun tidak memiliki modal usaha untuk mendapatkan akses peminjaman modal sampai ke tingkat paling bawah. Mengingat guna menciptakan perusahaan dan pekerjaan baru sangatlah diperlukan modal dan kewirausahaan. Penemuan Stiglit (2002) dari penelitiannya di beberapa negara berkembang menunjukkan bahwa: Dua hal pokok yaitu modal dan kewirausahaan hampir merata lemah dan terbatas dimiliki oleh negara-negara berkembang. Rintangan utama untuk mewujudkan terwujudnya modal dan kewirausahaan adalah kurang dan mahalnya pendidikan dan sulitnya mendapatkan sumber pendanaan bagi usaha-usaha di masyarakat.

62

3.4.3. Pengangguran Baru (New Entrance) Pengangguran baru yang dimaksud di sini adalah penganggur yang tidak memiliki pengalaman kerja. Pengangguran baru terjadi karena adanya pertambahan jumlah penduduk, yang memasuki usia kerja atau mereka yang untuk pertama kalinya memasuki dunia kerja, dimana sebelumnya yang bersangkutan belum pernah bekerja karena berbagai alasan. Pengangguran baru yang terjadi di suatu wilayah diasumsikan mampu mencerminkan lebih tajam lagi akan keadaan ketersediaan pasar kerja. Mengingat semakin banyaknya pengangguran baru yang memasuki dunia kerja ini, namun tidak terserap dalam pasar kerja yang tersedia, sehingga akan menambah akumulasi besarnya jumlah penganggur (khususnya penganggur yang belum pernah bekerja) saat berikutnya, dibanding pada periode waktu sebelumnya. Secara keseluruhan selama periode tahun 1986-2005, jumlah penganggur baru secara absolut mengalami pertambahan. Pada awal tahun 1986 sampai dengan 1990 jumlah pengangguran baru bertambah sekitar 102,5 ribu orang, dari 1,3 juta orang (1986) menjadi 1,4 juta orang (1990). Tampak pertambahan pengangguran baru terjadi secara nyata pada periode tahun (1990-1996) sebesar 2,1 juta dan secara dramatis pada periode tahun (1998-2003) sebesar 2,3 juta orang. Sementara itu, mulai tahun 2003 sampai dengan keadaan Pebruari 2005, tampak stabil jumlah pengangguran baru hampir sama setiap tahunnya sekitar tujuh juta orang. Bila diamati menurut wilayah perkotaan dan pedesaan, maka pada periode tahun 1986 2002 kecenderungan jumlah penganggur baru di wilayah perkotaan jauh lebih besar dari pedesaan. Sebaliknya sesudah tahun 2003 sampai dengan 2005 jumlah penganggur baru di pedesaan sedikit lebih besar dibandingkan dengan perkotaan. Selanjutnya dilihat dari pertambahannya, tampak antara kota dan desa memiliki pola pertambahan penganggur baru yang sama sebelum tahun 2003, yaitu secara absolut penganggur baru bertambah sama besarnya pada kedua wilayah. Berbeda

63

kondisinya sejak tahun 2003 - 2004 pengangguran baru di pedesaan bertambah lebih besar dibanding dengan perkotaan.

Grafik 3.23 : Pengangguran Baru Dirinci Menurut Wilayah Perkotaan dan Pedesaan, Tahun 1986 - 2005
8.000 7.165 7.000 6.000 Dalam ribuan ( 000 ) 5.000 4.000 3.000
2.106

Perkotaan Pedesaan Total


5.445

7.126

7.148

3.512 3.104
2.875 2.570

3.659 3.505

3.707 3.419

3.581 3.567

2.000 1.000 0

1.877 1.227

1.344
802 541

1.446
893 554

1.406

1986

1990

1996

1998

2002

2003

2004

2005

Tahun

Pada periode sebelum tahun 1996, rata-rata perubahan pertambahan pengangguran baru secara absolut per tahun di wilayah perkotaan tampak lebih besar dari pedesaan, namun mulai tahun 1996 sampai dengan 2003 terjadi perubahan pertambahan yang sebaliknya pada kedua wilayah tersebut (Lihat Grafik di bawah). Selanjutnya sesudah tahun 2003 perubahannya tidak menentu terjadi di antar wilayah. Grafik 25 di bawah, masing-masing besarnya perubahan pertambahan rata-rata mutlak pertahun pada tahun 1996 sebesar, (202,2 ribu) orang di perkotaan dan (141,9 ribu) orang di pedesaan. Terjadi titik balik perubahan pertambahan absolut rata-rata

64

pertahun pengangguran baru di tahun 1998 di kedua wilayah, diduga berkurangnya dorongan penduduk muda perdesaan ke perkotaan dan akibat dari ruralisasi karena pemutusan hubungan kerja sektor formal di saat krisis. Grafik 3.24 : Rata-Rata Perubahan Pengangguran Baru Per Tahun Dirinci Menurut Wilayah Perkotaan dan Pedesaan, Tahun 1986 - 2005
2000

Perkotaan Pedesaan
1500 Dalam ribuan ( 000 )

Total

1000

500

1986
-500

1990

1996

1998

2002

2003

2004

2005

Tahun

Berdasarkan perbandingan persentase perubahan pengangguran baru dari waktu ke waktu berikutnya tampak fluktuatif dari masing-masing periode (Tabel 3.13). Sama halnya pola yang terjadi apabila diamati menurut pedesaan dan perkotaan. Persentase perubahan secara umum yang terbesar terjadi pada periode antara tahun 2002 ke 2003 sebesar 31,6 persen, sebaliknya yang terkecil terjadi pada tahun 2003 - 2004 sebesar (- 0,54 ) persen.

65

Tabel 3.13 : Persentase Perubahan Pengangguran Baru Menurut Wilayah Perdesaaan dan Perkotaan, Tahun 1986 - 2005
Tahun 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005 Perkotaan 2.81 22.66 -6.36 13.29 21.94 -2.46 4.73 Pedesaan 0.57 25.65 -5.81 27,37 42.38 1.29 -3.77 Total 1.91 23.80 -3.18 18.86 31.59 -0.54 0.31

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

3.4.4. Pengangguran Kritis Dengan belum terciptakannya sistem jaminan terhadap pengangguran dan sistem kesejahteraan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul karena sistem pasar kerja, sehingga terdapat masyarakat yang tergolong sebagai penganggur kritis. Kondisi pasar kerja dengan tanpa jaring pengaman dalam bentuk apapun, tiada adanya asuransi/jaminan bagi pengangguran dan dengan tingkat pengangguran terbuka yang tinggi, maka akan berdampak nyata pada terciptanya pengangguran kritis, yaitu orang yang terpaksa bekerja kurang dari 15 jam per minggu, namun masih mengharapkan pekerjaan yang lain. Sangatlah mustahil dimana 15,4 persen penduduk Indonesia terkategori miskin (BPS, 2004), maka mereka yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan di sektor formal dengan jam kerja normal, berkemungkinan besar mereka akan tetap melakukan pekerjaan apa saja untuk tetap menjaga kelangsungan hidup diri dan keluarganya. Akhirnya mereka banyak yang mengisi dan bekerja di sektor yang bersifat informal.

66

Tabel 3.14 : Jumlah Pengangguran Kritis dan Persentase Menurut Wilayah Pedesaan dan Perkotaan, Tahun 1986 - 2005
Tahun 1986 1990 1996 1998 2002 2003 2004 2005 Persentase Perkotaan Pedesaan 10.1 11.4 16.4 18.8 23.7 22.5 16.4 24.60 89.9 88.6 83.6 81.2 76.3 77.5 83.6 75.40 5 5 6 7 4 4 5 4 Total 008 108 134 011 177 360 134 715 513 351 241 611 880 981 241 044

Sumber : Sakernas 1986 - 2005

Berdasarkan Tabel di atas, selama periode tahun 1986 2005 tanpa membedakan karakteristik apapun secara mutlak jumlah pengangguran kritis membentuk kurva huruf u terbalik. Dengan jumlah pengangguran kritis mencapai jumlah yang terbesar yaitu 7,0 juta orang sebagai puncak kurva pada tahun 1998, dimana dampak krisis ekonomi yang dimulai 7 Juli 1997 mulai terasa. Terpuruknya perekonomian ditandai dengan rontoknya sektor industri yang diikuti dengan PHK (pemutusan hubungan kerja) yang sangat besar di wilayah perkotaan khususnya. Fenomena ini didukung fakta terjadinya peningkatan persentase jumlah pengangguran kritis di wilayah perkotaan selama periode tahun 1996 sampai dengan 2002. Meskipun apabila diamati secara keseluruhan, persentase pengangguran kritis di perkotaan pada umumnya rata-rata hanya 20 persen (seperlima) dibandingkan dengan total pengangguran kritis di pedesaan. Merujuk pada laporan Bank Dunia (2000), para pekerja miskin di pedesaan yang jauh dari sejahtera menurut standar apapun telah dibuat lebih miskin oleh adanya krisis ekonomi 1997.

67

3.4.5. Setengah Pengangguran Pemanfaatan tenaga kerja yang tidak penuh terhadap tenaga kerja mengakibatkan mereka yang bekerja namun tidak layak imbalan dan upah yang diperolehnya, disebut sebagai setengah pengangguran. Dalam kondisi sistem pencatatan ketenagakerjaan dan pengupahan yang cukup bisa dipercaya dan akurat, hal ini bisa dilakukan dari pendekatan catatan orang-orang yang kerja paruh waktu saja. Berbeda halnya untuk kondisi yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia, pekerja paruh waktu yang terjadi bukan karena kemauan si tenaga kerja tetapi dari keterbatasan lapangan pekerjaan yang tersedia dengan jam kerja normal. Terjadinya pekerja yang sebenarnya menganggur (setengah pengangguran) bisa ditinjau dari tiga faktor utama yaitu: pertama, Berkaitan dengan fluktuasi produktivitas ketenagakerjaan yang ada; kedua, Melimpahnya penawaran jumlah pekerja; dan ketiga, Adanya pengangguran terselubung.

Grafik 3.25 : Jumlah Pengangguran dan Setengah Pengangguran, Tahun 1986 - 2005
35.0 30.0 Dalam Jutaan ( 000 000) 25.0 20.0 15.0 10.0 5.0 0.0 1986 1990 1996 1998 2002 Tahun 2003 2004 2005 Pengangguran Setengah Pengangguran

68

Secara nasional perbandingan jumlah pengangguran dan setengah pengangguran selama kurun waktu 1986 1998, memiliki trend yang sama yaitu: mengalami pertambahan. Mulai tahun 1998 jumlah pengangguran secara mutlak mengalami peningkatan dramatis, selanjutnya mulai tahun 2002 sampai dengan 2005 masih tetap meningkat jumlahnya meskipun kecil. Sebaliknya pada trend setengah pengangguran mulai tahun 1998 justru menurun banyak dan berikutnya fluktuatif bertambah meskipun sangat kecil sampai keadaan Pebruari 2005. Perubahan yang sangat besar terjadi pada tahun 1998, merupakan respon dari ketidakstabilan kondisi sosial ekonomi yang terjadi di tanah air. Kondisi pada periode perubahan (1998-2002) ini dapat diprediksikan sebagai shifted dari tenaga kerja yang semula setengah menganggur berubah status menjadi penganguran, sebagai efek akumulasi dari dahsyatnya krisis ekonomi. Hal ini di dukung pula oleh hasil temuan laporan penelitian Stiglit (2002,p:137) bahwa: Di Indonesia, hampir 15 persen pria yang bekerja pada tahun 1997 kehilangan pekerjaan mereka pada bulan Agustus 1998, dan kehancuran ekonomi bahkan lebih buruk di daerah-daerah pedesaan di Pulau Jawa. Grafik 3.26 : Setengah Pengangguran Menurut Wilayah Perkotaan, Pedesaan dan Nasional,Tahun 1986 - 2005
45,0

T in g k a t S e te n g a h P e n g a n g g u ra n

1986
40,0 35,0 30,0 25,0 20,0 15,0

1990

1996

1998

2002
33,6 31,7

2003

2004

2005
37,7 36,3 35,3

40,2

29,0

30,6 24,024,523,1 23,6

31,5 31,8

29,8

31,3

9,6 10,0 5,0 0,0 4,1 4,6 6,3 7,5 7,3 6,7 7,6

Perkotaan

Pedesaan

Nasional

69

Dalam pendekatan menghasilkan jumlah setengah pengangguran dari segi produktivitas dan jumlah waktu kerja perminggu yang minim, maka di batasi konsep setengah pengangguran seperti yang disebutkan sebelumnya (lihat sub bab I konsep dan definisi). Pada tingkat nasional selama periode 1986-2005, tingkat setengah pengangguran selalu mengalami penurunan kecuali pada tahun 1998 terjadi peningkatan sebesar 4,9 persen. Penurunan TSP terbesar terjadi pada tahun 2002 sebesar 8,7 persen, semula sebesar 20,9 persen tahun 1998 menjadi 16,5 persen tahun 2002. Apabila dilakukan pengamatan menurut wilayah pedesaan dan perkotaan, maka TSP di perdesaan jauh lebih besar dibandingkan di perkotaan. Pola perubahan TSP antar periode waktu (1986-2005) yang terjadi di daerah pedesaan hampir sama dengan tingkat nasional, berangsur-angsur menurun. Sebaliknya di perkotaan, justru terjadi kecenderungan meningkat dan sangat bervariasi antar periode. Pada tahun 1986 Tingkat setengah pengangguran di perdesaan dan perkotaan, masing-masing sebesar 33,6 persen dan 4,1 persen. Sedangkan pada kondisi tahun 2005, TSP di ke dua wilayah masing-masing, 23,6 persen untuk pedesaan dan 7,6 persen di perkotaan. Berarti TSP di kota dibandingkan pedesaan pada tahun 1986 adalah 1:8; sedangkan di tahun 2005 perbandingannya berubah menjadi 1:3. Tingginya jumlah setengah pengangguran di daerah perkotaan terutama di sektor industri yang berhubungan dengan siklus pertanian, bangunan, produksi dan perdagangan turisme.

70

Grafik 3.27 : Setengah Pengangguran Menurut Sektor, Tahun 1986 - 2005


60,0
53,5 54,3 50,8 49,0 49,3 47,7 47,5 49,5
Pertanian

50,0 Tingkat Setengah Pengangguran

48,3

Pertambanga n Industri

40,0
35,5 36,7

Listrik,gas & air Bangunan

30,0
24,5 23,8 22,6 24,8 24,7 24,4 22,6 25,5 25,1 23,2 20,2 24,3 18,7 16,1 13,8 10,3 9,6 8,0 7,4 10,6 10,5 9,8 24,9 25,5 26,5

Perdagangan

Angkutan

22,1 18,3 15,1 13,2 7,9 6,2 5,3 18,3 18,4 15,4 12,2 9,0 4,4 0,4 12,0 9,6 9,3 5,7
Keuangan

20,0

19,2

Jasa & lainny a

10,0

9,2 8,2 7,5 7,4

9,5 9,2 7,5 6,6

0,0

1990

1996

1998

2002 Tahun

2003

2004

2005

Setengah pengangguran di Indonesia banyak terjadi pada sektor pertanian di daerah pedesaan, sedangkan di perkotaan terjadi pada mereka yang bekerja di berbagai pekerjaan musiman yang amat berfluktuasi. Oleh karena itu meskipun terjadi krisis ekonomi, sektor pertanian tidak mengalami perubahan TSP yang cukup besar, hanya berfluktuasi kecil antar periode, namun tetap menempati TSP yang tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya. Sektor berikutnya yang memiliki TSP tinggi pada periode yang sama (1990-2005) adalah sektor pertambangan, sektor listrik, gas dan air, dan sektor keuangan. Sektor keuangan ini memiliki pola yang hampir sama dengan sektor pertanian, yakni mengalmi perubahan yang tidak signifikan selama periode (1990-2005). Pada tahun 1998 pada hampir semua sektor mengalami peningkatan TSP dibandingkan tahun 1996, kecuali pada sektor pertambangan dan penggalian. Demikian juga pada tahun 2002 dibandingkan tahun 1998, hampir semua sektor terjadi penurunan TSP kecuali sektor pertambangan dan penggalian mengalami peningkatan TSP.

71