Anda di halaman 1dari 6

Pada

isolasi

kurkumin

dari

kunyit

dapat

dilakukan

kromatografi

kolom

dan

kromatografi lapis tipis terhadap kurkumin. Hal yang pertama dilakukan adalah melarutkan 20 gram rimpang kunyit kering dengan diklorometana kemudian direfluks selama 1 jam. Hal ini dimaksudkan agar senyawa-senyawa kurkumin dalam kunyit tersebut benar-benar larut dalam pelarutnya. Kemudian antara filtrat dan residunya dipisahkan dengan penyaringan vakum. Filtrat (ekstrak kurkumin) ini mengandung senyawa-senyawa kurkumin. Diklorometana digunakan untuk melarutkan karena hal hal berikut: 1. Kelarutan yang tinggi 2. Cepat menguap 3. Selektif 4. Toksisitas rendah 5. Tidak mudah terbakar 6. Murah mudah didapat Setelah didapat filtrat (ekstrak kurkumin), kromatografi dapat dilakukan terhadap ekstrak kurkumin tersebut. Kromatografi adalah cara pemisahan dua atau lebih senyawa atau ion berdasarkan perbedaan migrasi dan distribusi senyawa atau ion-ion tersebut di dalam dua fasa yang berbeda. Dua fasa tersebut adalah a. Fasa Diam Merupakan fasa yang tidak bergerak. Umumnya senyawa yang digunakan adalah silica gel (SiO2) dan alumina (Al2O3). b. Fasa Gerak Merupakan fasa yang bergerak melalui fasa diam dan membawa komponen-komponen yang akan dipisahkan. Fasa gerak yang digunakan adalah suatu pelarut organik atau campuran beberapa pelarut organik. Macam-macam kromatografi, a. Kromatografi Lapis Tipis Yaitu kromatografi yang menggunakan lempeng gelas atau alumunium yang dilapisi dengan lapisan tipis alumina, silika gel, atau bahan serbuk lainnya. Kromatografi lapis tipis pada umumnya dijadikan metode pilihan pertama pada pemisahan dengan kromatografi. b. Kromatografi Penukar Ion Merupakan bidang khusus kromatografi cairan-cairan. Seperti namanya, system ini khusus digunakan untuk spesies ion. Penemuan resin sintetik dengan sifat penukar ion sebelum perang Dunia II telah dapat mengatasi pemisahan rumit dari logam tanah jarangdan asam amino.

c. Kromatografi Penyaringan Gel Merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstran-molekul polisakarida linier yang mempunyai susunan seperti ikatan silang. Bahan ini dapat menyerap molekulair dan membentuk saringan yang dapat memisahkan

molekul berdasarkan ukurannya. Molekul dengan berat antara 100 sampai beberapa juta dapat dipekatkan dan dipisahkan. Kromatografi permeasi gel merupakan teknik serupa yang menggunakan polistirena yang berguna untuk pemisahan polimer. d. Elektroforesis Merupakan kromatografi yang diberi medan listrik disisinya dan tegak lurus

aliran fasa gerak. Senyawa bermuatan positif akan menuju ke katode dan anion menuju ke anoda. Sedangkan kecepatan gerak tergantung pada besarnya muatan. e. Kromatografi Kertas Merupakan kromatografi cairan-cairan dimana sebagai fasa diam adalah

lapisan tipis air yang diserap dari lembab udara oleh kertas jenis fasa cair lainnya dapat digunakan. Prinsip dasar kromatografi kertas adalah partisi multiplikatif suatu senyawa antara dua cairan yang saling tidak bercampur. Jadi partisi sutu senyawa terjadi antara kompleks selulosa-air dan fasa mobil yang melewatinya berupa pelarut organik yang sudah dijenuhkan dengan air atau campuran pelarut.

Keakuratan hasil pemisahan dengan metode kromatografi bergantung pada beberapa faktor berikut: 1. Pemilihan adsorben sebagai fasa diam 2. Kepolaran pelarut atau pemilihan pelarut yang sesuai sebagai fasa gerak 3. Ukuran kolom (panjang dan diameter) relatif terhadap jumlahmaterial yang akan dipisahkan 4. Laju elusi atau aliran fasa gerak Semua jenis kromatografi melibatkan proses kesetimbangan molekul-molekul yang dinamis dan cepat diantara dua fasa. Kesetimbangan tersebut bergantung pada: Kepolaran dan ukuran molekul yang akan dipisahkan Kepolaran fasa diam Kepolaran fasa gerak kolom bertujuan untuk mengisolasi komponen kurkumin dari

Kromatografi

campurannya. Pada kromatogarfi kolom digunakan kolom dengan adsorben sillika gel karena kolom yang dibentuk dengan silika gel memiliki tekstur dan struktur yang lebih kompak dan teratur. Silika gel memadat dalam bentuk tetrahedral raksasa, sehingga

ikatannya kuat dan rapat. Dengan demikian, adsorben silika gel mampu menghasilkan proses pemisahan yang lebih optimal. Silica gel ada 2 macam: 1. GF245, dengan G melambangkan gypsum (CaSO4), F melambangkan

floroscene, dan angka 245 menunjukkan besarnya panjang gelombang yaitu, 245 nm. Silika jenis ini sering digunakan pada kromatografi lapis tipis (TLC). 2. H, dengan tanpa adanya gypsum dan floroscene. Silika jenis ini biasa digunakan pada kromatografi kolom. Silica gel dapat membentuk ikatan hidrogen di permukaannya, karena pada permukaannya terikat gugus hidroksil. Oleh karenanya, silica gel sifatnya sangat polar. Sementara itu, fasa gerak yang digunakan (dalam percobaan ini, CH2Cl2 : CH3OH = 99 : 1) sifatnya non-polar. Maka pada saat campuran dimasukkan, senyawa-senyawa yang semakin polar akan semakin lama tertahan di fasa stasioner, dan senyawa-senyawa yang semakin tidak (kurang) polar akan terbawa keluar kolom lebih cepat. Kromatografi kolom dilihat dari jenis fasa diam dan fasa geraknya dapat dibedakan : a. Kromatografi fase normal Kromatografi dengan kolom konvensional dimana fase diamnya normal bersifat polar, misalnya silica gel, sedangkan fase geraknya bersifat non polar. b. Kromatografi fas terbalik Kromatografi dengan kolom yang fase diamnya bersifat non polar, sedangkan fase geraknya bersifat polar; kebalikan dari fase normal. Dalam proses pemisahan dengan kromatografi kolom, adsorben silika gel harus senantiasa basah karena, jika dibiarkan kering, kolom yang terbentuk dari silika gel bisa retak, sehingga proses pemisahan zat tidak berjalan optimal. Selain itu, kondisi yang senantiasa basah berperan untuk memudahkan proses elusi (larutan melewati kolom) dalam kolom. Senyawa kurkumin dapat mengalami penurunan dengan lepasnya gugus OCH3 dalam setiap penurunan. Kurkumin akan mengalami dua kali penurunan, dimana turunan pertamanya adalah demetoksi kurkumin dan turunan keduanya adalah bis-demetoksi kurkumin. Kurkumin akan terelusi paling akhir (berada paling bawah) karena sifatnya yang polar. Perlu diingat bahwa penurunan ini tak mungkin terjadi dengan hanya dengan melakukan kromatografi, tp ada perlakuan khususnya. Ketika senyawa kurkumin telah mengalami degradasi, akan menjadi senyawa demetoksi kurkumin (terdapat pada bagian tengah) yang lebih polar dari kurkumin. Karena telah kehilangan sebuah gugus OCH3. Senyawa ini merupakan turunan kedua dari senyawa kurkumin. Karena tidak lagi mengandung gugus OCH3, maka senyawa ini merupakan senyawa yang bersifat paling polar dari antara ketiga jenis senyawa kurkumin. Dengan

begitu, senyawa ini akan terelusi terlebih dahulu (berada pada lapisan yang paling atas) karena fasa diam yang digunakan (silica gel) bersifat polar. Apabila kita menggunakan kromatografi lapis tipis, dapat diperoleh dengan adanya 3 titik titik pada pelat TLC. Hal ini menunjukkan adanya 3 komponen utama yang terkandung dalam senyawa kurkumin yang di-refluksi. Adapun 3 komponen utama tersebut adalah senyawa-senyawa kurkuminoid yaitu kurkumin (diferuloylmethane), demetoksikurkumin (hydroxycinnamoyl feruloylmethane) & bis-demetoksikurkumin (dihydroxydicinnamoyl methane). Setelah daerah dari noda yang terpisah telah dideteksi, maka perlu mengidentifikasi tiap individu dari senyawa. Metoda identifikasi yang paling mudah adalah berdasarkan pada kedudukan dari noda relatif terhadap permukaan pelarut, menggunakan harga Rf. Harga Rf merupakan parameter karakteristik kromatografi lapis tipis. Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan besaran karakteristik dan reprodusibel. Kunyit merupakan salah satu tumbuhan yang banyak digunakan dalam masyarakat. Rimpang kunyit terutama digunakan untuk keperluan dapur (bumbu dan zat pewarna makanan), kosmetik hingga pengobatan tradisional. Kunyit (Curcuma sp) merupakan tanaman yang mudah diperbanyak dengan stek. Beberapa kandungan kimia dari rimpang kunyit yang telah diketahui yaitu minyak atsiri sebanyak 6 % yang terdiri dari golongan senyawa monoterpen dan sesquiterpen (meliputi zingiberen, alfa dan beta-turmerone), zat warna kuning yang disebut kurkuminoid sebanyak 5 % (meliputi kurkumin 50-60 %, monodesmetoksikurkumin dan bidesmetoksikurkumin), protein, fosfor, kalium, besi dan vitamin C (http://www.halalguide.info/). Kurkumin (1,7-bis (4hidroksi3-metoksifenil)-1,6-heptadiena-3,5-dion),

merupakan senyawa hasil isolasi dari tanaman Curcuma sp dan telah berhasil dikembangkan sintesisnya oleh Pabon(1964). Kurkumin telah diketahui memiliki aktivitas biologis dengan spektrum yang luas. Aktivitas antioksidan telah dibuktikan berperan pada aktivitas antikanker dan anti-mutagenik kurkumin (Majeed et al., 1995). Kurkumin di alam terdapat dalam dua bentuk tautomer, keto dan enol. Substituen pendorong dan penarik elektron berpengaruh pada stabilisasi tautomer keto-enol krkumin dan turunannya (Supardjan, 1999; Istiyastono et al., 2003). Gugus dengan sifat pendorong elektron cenderung menstabilkan tautomer keto, sedangkan gugus penarik elektron cenderung menstabilkan tautomer bentuk enol. Bentuk tautomer tersebut berpengaruh terhadap sebaran muatan parsial positif struktur kurkumin dan turunannya (lihat gambar 1). Semakin bertambah sebaran muatan parsial positif, menunjukkan aktivitas yang semakin meningkat. Stabilisasi struktur keto bertanggung jawab terhadap peningkatan aktivitas turunan kurkumin (Supardjan dan Muhammad Dai, 2005).

Struktur kimia kurkumin [1,7-bis-(4'-hidroksi-3'-metoksifenil)hepta-1,6-diena-3,5-dion]


Kunyit (Curcuma sp) merupakan salah satu tumbuhan memiliki banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia, diantara manfaat kunyit adalah sebagai bahan dasar warna kuning dalam industri tekstil tradisional serta digunakan pula sebagai bumbu masakan, dan juga kunyit digunakan sebagai obat tradisional. Kunyit adalah jenis tumbuhan rimpang dengan warna kuning kemerah-merahan pada rimpangnya. Ternyata manfaat dan warnanya yang indah menarik perhatian para ilmuan untuk mencari tahu apa saja kandungannya. Sejauh ini senyawa yang paling banyak diisolasi dari kunyit adalah kurkumin (1,7-bis (4hidroksi- 3-metoksifenil)-1,6-heptadiena-3,5-dion). Kurkumin sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh disamping untuk menambah nafsu makan, kurkumin juga merupakan suatu senyawa anti bakteri yang juga dapat dimanfaatkan sebagai perangsang dinding kantong empedu untuk berkontraksi mengeluarkan empedu, sehingga pencernaan akan lebih sempurna. Kurkumin dikabarkan memiliki kemampuan sebagai anti tumor dan antioksidan. Dengan melihat betapa banyaknya manfaat kurkumin bagi tubuh manusia, adalah sangat potensial bagi ilmuwan kimia untuk mengetahui bagaimana cara mengisolasi zat kurkumin. Sehingga kimiawan terbekali kemampuan untuk bekerja di industri farmasi atau industri makanan lainnya. Kurkumin adalah senyawa polifenol aktif dengan rumus molekul C21H20O6. Kurkumin memiliki 2 bentuk tautomer yaitu keto dan enol. Gugus dengan sifat pendorong elektron cenderung menstabilkan tautomer keto, sedangkan gugus penarik elektron cenderung menstabilkan tautomer bentuk enol. Bentuk tautomer tersebut berakibat pada aktivitas kurkumin, aktivitas kurkumin dipengaruhi oleh banyaknya sebaran muatan parsial positif pada bentuk tautomer, dimana pada struktur keto muatan parsial positif lebih banyak daripada pada bentuk enolnya, sehingga tautomer kurkumin dalam bentuk keto jarang ditemui dalam suatu isolasi. Berdasarkan teori aktivitas yang tinggi akan menurunkan stabilitas suatu senyawa, stabilitas yang rendah akan mengakibatkan jarang didapatkan senyawa tersebut dalam kondisi yang normal. Isolasi kurkumin dari rimpang kunyit pada percobaan ini dilakukan dengan metode kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis. Metode kromatografi kolom bertujuan untuk memisahkan kurkumin murni beserta eluennya dan KLT bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan kurkumin dalam fraksi. Mekanisme kerja dari kromatografi kolom adalah pemisahan suatu senyawa dalam kolom kromatografi dengan silika gel sebagai fasa diam dan campuran pelarut polar-nonpolar sebagai fasa gerak yang akan mengelusi sampel, eluen bergerak turun dan mengelusi sampel digerakkan oleh gaya grafitasi bumi. Eluen yang digunakan

dalam percobaan ini adalah campuran 1,2-dikloroetan-metanol dengan perbandingan 99:1. Metanol bersifat polar dan 1,2-dikloroetan bersifat non polar. Eluen akan mengelusi sampel kunyit dan membawa senyawa bersamanya menuju wadah eluat (keluar dari kolom), fasa diam (silika gel) memiliki daya adsorbsi yang cukup besar, sehingga ketika eluen yang membawa sampel melewati fasa diam akan terbentuk fraksi-fraksi warna yang berbeda. Fraksi warna yang berbeda ini menunjukkan perbedaan senyawa atau zat aktif yang dipisahkan dari setiap fraksi. Semakin pekat warna fraksi, maka semakin banyak senyawa atau zat aktif yang terpisahkan dalam fraksi tersebut. Dalam percobaan ini diperoleh 10 fraksi yang berbeda. Pada dasarnya kurkumin banyak terdapat pada kunyit, sehingga dapat dipastikan dari setiap fraksi yang diperoleh memiliki kandungan kurkumin. Untuk menguji keberadaan kurkumin maka dilakukan metode pemisahan dengan kromatografi lapis tipis. Eluen yang digunakan untuk mengelusi sampel pada KLT ini sama dengan eluen yang digunakan dalam kromatografi kolom, yaitu campuran 1,2dikloroetan-metanol dengan perbandingan 99:1. Eluen yang digunakan haruslah jenuh agar dapat memisahkan sampel dengan baik, eluen akan mengelusi sampel pada plat KLT ke arah atas akibat gaya kapilaritas silika gel. Dari hasil pembacaan noda pada plat KLT yang telah dibasahi oleh CeSO4 dan dikeringkan dalam oven, diketahui terdapat 13 noda yang terbentuk (lihat data pengamatan). Dengan membandingkan jarak noda dan jarak pelarut maka akan didapatkan nilai Rf dari masing-masing noda tersebut. Nilai Rf yang sama ditunjukkan pada noda A1, B1, C1, D1 dan E1 dengan Rf = 0,15 serta pada noda A3, B2, C2 dan D2 dengan Rf = 0,31. Dengan membandingkan data Rf teori dan Rf sampel, maka dapat dipastikan terdapat senyawa kurkumin dalam sampel. G. Kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui kandungan yang terdapat dalam suatu sampel dapat dilakukan pemisahan dengan kromatografi kolom yang dilanjutkan dengan kromatografi lapis tipis untuk memperoleh suatu pemisahan senyawa yang murni dengan sistem like disolves like. Keberadaan kurkumin dapat dilihat pada noda di fraksi A3, B2, C2 dan D2 dengan Rf = 0,31. http://teenagers-moslem.blogspot.com/2011/02/isolasi-kurkumin-dari-kunyit.html