Anda di halaman 1dari 21

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Klasifikasi Tanaman Tomat

Tanaman tomat termasuk ke dalam jenis tanaman semusim (annual) yang siklus hidupnya hanya mencapai satu kali fase produksi. Tanaman Tomat Beef berbentuk herba dan menjalar. Pertanaman Tomat Beef maupun tomat pada umumnya memerlukan ajir untuk menopangnya, karena setelah tanaman tumbuh tinggi akan keluar cabang yang menyebar sehingga tanaman tidak dapat menahan beratnya. Tanaman Tomat Beef termasuk dalam golongan Indeterminate dengan ketinggian tanaman mencapai 160-200 cm. Tanaman tomat yang termasuk golongan Indeterminate dapat tumbuh tinggi karena pertumbuhannya tidak diakhiri dengan pembentukan rangkaian bunga. Umur panen Tomat Beef tergolong relatif lama dan pertumbuhan batangnya relatif lambat ( Pracaya, 1998). Purwati dan Khairunisa (2007), menjelaskan kriteria tomat unggul yaitu memiliki sifat-sifat sebagai berikut: 1. Menghasilkan produksi yang tinggi 2. Tahan terhadap serangan hama dan penyakit 3. Tahan terhadap cekaman lingkungan 4. Dapat diterapkan untuk teknologi budidaya yang efisien.

Berdasarkan ukuran dan bentuk buah dalam varietas tomat (Anonim, 2009) yaitu : 1. Granola Tomat granola bentuknya bulat dengan pangkal buah mendatar dan mencakup yang biasanya dikenal sebagai tomat buah (karena dapat dimakan langsung). 2. Gondol Tomat gondol yang biasa dibuat saus dengan bentuk lonjong oval (biasanya yang ditanam di Indonesia adalah kultivar 'Gondol Hijau' dan 'Gondol Putih', dan keturunan dari kultivar impor (Roma) dan termasuk pula tomat buah. 3. Sayur Tomat sayur adalah tomat dengan buah biasanya padat dan dipakai untuk diolah dalam masakan 4. Ceri Tomat ceri yaitu yang berukuran kecil dan tersusun berangkai pada tangkai buah yang panjang.

Wahyu (2002) menjelaskan bahwa kedudukan tanaman tomat dalam tatanama tumbuhan diklasifikasikan ke dalam: Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae (Tumbuh-tumbuhan) : Spermatophyta (Tumbuhan Berbiji) : Angiospermae (Berbiji tertutup) : Dicotyledonae (Biji berkeping satu) : Tubiflorae : Solanaceae : Lycopersicum : Lycopersicum esculentum commune

B. Botani Tanaman Tomat

Secara morfologi tanaman tomat dibedakan menjadi beberapa bagian antara lain: a. Akar Tomat memiliki akar tunggang yang menembus vertikal ke dalam tanah dan akar serabut (akar samping) yang tumbuh menyebar ke segala arah. Kemampuan akar menembus lapisan tanah terbatas, hanya mencapai kedalaman 30-70 cm. Sesuai sifat perakarannya, tanaman tomat dapat tumbuh dengan baik dalam kondisi tanah gembur dan mengikat air (Redaksi Agromedia, 2007).

b. Batang Batang tanaman Tomat Beef berwarna hijau dengan bentuk persegi empat hingga bulat. Tekstur batang saat masih muda tergolong lunak, dan mengeras setelah menua. Permukaan batang ditumbuhi bulu halus dan diantara bulu tersebut terdapat kelenjar yang dapat mengeluarkan bau khas (Redaksi Agromedia, 2007). c. Daun Daun Tomat Beef berbentuk oval dengan panjang 20-30 cm dan bergerigi di bagian tepinya serta membentuk celah yang menyirip. Pada umumnya, daun tomat tumbuh di dekat ujung dahan dan berwarna hijau serta berbulu (Redaksi Agromedia, 2007). Daun tanaman tomat tergolong daun majemuk dan tersusun di setiap sisi ranting dengan jumlah ganjil (5 atau 7 helai) (Purwati dan Khairunisa, 2007). d. Bunga Bunga tomat berbentuk terompet dengan benang sari membentuk tabung. Bunga Tomat Beef bersifat hermaprodite yaitu memiliki benang sari dan kepala putik pada bunga yang sama, sehingga dapat melakukan penyerbukan sendiri, sekaligus dapat pula melakukan penyerbukan silang dengan bantuan binatang penyerbuk, seperti lebah. Penyerbukan silang pada tomat lebih sering terjadi di daerah beriklim tropis (Redaksi Agromedia, 2007). Bunga tomat berukuran kecil, dengan diameter 2 cm dan berwarna kuning cerah yang tersusun dalam satu rangkaian dengan jumlah 5-10 bunga setiap dompol.

Dalam satu kuntum bunga tomat, terdapat 5-6 helai mahkota dengan ukuran kurang lebih 1 cm, bertangkai pendek, dengan kepala sari sepanjang 5mm. Benang sari

bunga tomat berjumlah enam buah dan berwarna sama dengan mahkota bunga yaitu kuning cerah. Tangkai putik pada bunga Tomat Beef berukuran pendek dan menyebabkan kepala putik terletak berdekatan dengan tabung sari, sehingga tomat cenderung lebih sulit untuk melakukan penyerbukan silang. Persentase penyerbukan sendiri relatif tinggi. Daerah beriklim sedang, nilai penyerbukan silang alami tomat mencapai 0,5-4% (Redaksi Agromedia, 2007). Pembuahan pada bunga tomat terjadi selama 96 jam setelah proses penyerbukan, kemudian buah tersebut akan masak dalam waktu 45-50 hari setelah proses pembuahan (Purwati dan Khairunisa, 2007). e. Buah Buah Tomat Beef berbentuk bulat, berukuran besar dan mempunyai beberapa ruang. Buah ketika masih muda berwarna hijau dan berbulu, setelah masak, kulit buah menjadi mengkilap dan berwarna merah kekuningan. Pemberian hormon IAA (Indole-3-Acetic Acid) dilakukan jika tidak terjadi penyerbukan dan dapat merangsang terbentuknya buah tanpa biji (Partenokarpi) (Pracaya, 1998). Buah tomat mengandung likopen, yaitu salah satu zat pigmen yang berwarba kuning tua hingga merah tua yang termasuk kelompok karotenoid. Likopen secara alami terdapat pada buah atau sayur yang berwarna merah, likopen berfungsi sebagai anti oksidan. Likopen terdapat pada bagian dinding sel tomat, oleh karena itu, pemasakan dengan sedikit minyak dapat melepaskan komponen ini. Sebagai tambahan, pemasakan tomat dengan minyak zaitun (olive oil) memudahkan tubuh menyerap likopen dengan lebih baik (Kun, 2008).

Kandungan gula pada buah tomat dipengaruhi oleh sifat genetis tanaman. Penelitian Wijayani dan Widodo pada tahun 2005 menunjukkan bahwa kadungan total gula tomat cenderung normal yaitu berkisar antara 3,00-4,20%. f. Biji Biji Tomat Beef berukuran kecil, dengan lebar 2-4 mm dan panjang 3-5 mm, serta berbentuk seperti ginjal, ringan, berbulu dan berwarna cokelat muda, dalam setiap gram berisi 200-500 biji. Biji tomat saling melekat yang terselimuti daging buah dan tersususn berkelompok. Biji digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman. Biji tanaman Tomat Beef dapat tumbuh pada kisaran waktu 5-10 hari setelah masa tanam (Redaksi Agromedia, 2007).

C. Ekologi Tanaman Tomat

Beberapa faktor agroklimatologi perlu diperhatikan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman Tomat Beef, antara lain: 1. Curah Hujan Tanaman tomat beef cocok dibudidayakan di daerah yang memiliki curah hujan antara 750 mm-1.250 mm/tahun. Keadaan ini berhubungan erat dengan ketersediaan air tanah bagi tanaman terutama di daerah yang tidak terdapat irigasi teknis. Curah hujan yang terlalu tinggi sebaiknya dihindari karena dapat memicu tumbuhnya penyakit seperti layu fusarium. Tipe iklim yang sesuai untuk tanaman Tomat Beef yaitu iklim yang terdapat 7-9 bulan basah dan 2-4 bulan kering, ataupun iklim yang

10

terdapat 7-9 bulan basah dan 0-2 bulan kering hingga 5-7 bulan basah dan 0-2 bulan kering (Redaksi Agromedia, 2007). Tingkat konsumsi air oleh tanaman tomat mengikuti pola kurva sigmoid, yaitu pada tanaman muda mempunyai kebutuhan air cenderung sedikit dan akan meningkat seiring bertambahnya usia tanaman. Tanaman tomat yang buahnya telah matang akan mengkonsumsi air pada titik optimal dan konsumsi air akam mulai stabil selama pematangan buah tomat kemudian semakin menua umur tanaman tersebut, kebutuhan air akan semakin menurun (Redaksi Agromedia, 2007). 2. Sinar Matahari Tanaman tomat beef memerlukan intensitas cahaya matahari yang cukup, berkisar antara 10-12 jam per hari. Intensitas cahaya yang diperlukan tanaman sesuai dengan fase yang sedang dilalui, misalnya pada fase perkecambahan tanaman tomat memerlukan intensitas cahaya yang relatif rendah, sehingga tanaman memerlukan naungan, sedangkan pada fase pertumbuhan dewasa, tanaman tomat memerlukan intensitas cahaya matahari yang cukup tinggi (Anonim, 2011 ). Kekurangan sinar matahari menyebabkan tanaman tomat mudah terserang penyakit, baik parasit maupun non parasit. Sinar matahari berintensitas tinggi akan menghasilkan vitamin C dan karoten (provitamin A) yang lebih tinggi. Penyerapan unsur hara yang maksimal oleh tanaman tomat akan dicapai apabila pencahayaan yang berlangsung selama 12-14 jam/hari, sedangkan intensitas cahaya yang dikehendaki adalah 0,25 mj/m2 per jam (Anonim, 2011 ).

11

3. Temperatur Temperatur yang paling idel untuk perkeambahan benih tomat yaitu 25-30 C, untuk fase selanjutnya tanaman tomat memerlukan suhu malam hari antara 10-20 C dan suhu 18-29 C pada siang hari. Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman tomat tidak dapat membentuk bunga, sedangkan suhu di bawah 10 C menyebabkan tepung sari menjadi lemah dan mati. Warna kuning pada tomat dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi (misalnya 32 C), suhu yang tidak stabil menyebabkan warna buah tomat tidak merata. Suhu antara 24-28 C ideal untuk pembentukan warna buah yang merata (Anonim, 2011 ). 4. Kelembaban Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan untuk tanaman tomat yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak. Tetapi, kelembaban relatif yang tinggi juga merangsang pertumbuhan mikro organisme pengganggu tanaman (Anonim, 2011 ). 5. pH (derajat keasaman tanah) Derajat keasaman tanah yang sesuai untuk budidaya tomat adalah pH 7 (dalam keadaan netral). Tindakan pengapuran diperlukan jika pH tanah terlalu rendah (di bawah 5,5). Pengapuran yang biasa dilakukan yaitu menggunakan Ca(OH)2 atau kapur dolomit (CaCO3MgCO3). Penggunakan kapur dolomit berfungsi untuk menetralkan pH serta dapat menambah kalsium (Ca) yang berguna untuk pertumbuhan tanaman terutama untuk pembentukan dinding sel (Wahyu, 2002). Jika

12

pH tanah terlalu tinggi (di atas 6), tanah perlu ditambah belerang untuk menurunkan pH (Anonim, 2011 ). Tabel 2. Kebutuhan Kapur Dolomit (ton/hektar) pada berbagai tingkat pH Keperluan Dolomit (ton/hektar) 10,24 9,76 9,28 8,82 8,34 7,87 7,39 6,91 6,45 5,98 5,49 5,02 4,54 4,08 3,60 3,12

pH Tanah 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 4,5 4,6 4,7 4,8 4,9 5,0 5,1 5,2 5,3 5,4 5,5

Sumber: Wahyu, B (2002)

13

6. Tempat tumbuh Tanaman tomat dibudidayakan di dataran tinggi dengan ketinggian di atas 900 m dpl dan dapat pula dibudidayakan di daerah rendah denagn ketinggian di bawah 500 m dpl. Tomat yang dibudidayakan di dataran tinggi memerlukan suhu yang relatif rendah dibandingkan dengan tomat yang dibudidayakan di dataran rendah (Anonim, 2011 ). Semakin tinggi suatu wilayah, maka suhu udaranya akan semakin rendah, setiap kenaikan 100 m dari permukaan laut akan mengalami penurunan suhu sebesar 0,5 C (Cahyono, 2008). 7. Waktu tanam Waktu tanam yang tepat untuk tanaman tomat yaitu 1-2 bulan sebelum musim hujan berakhir, hal ini dimaksudkan agar tanaman tomat dapat berbuah ketika musim kemarau sedang berlangsung. Tanaman tomat yang ditanam pada musim kemarau cenderung lebih mudah terserang hama seperti aphis, thrips, ulat buah dan tungau (Anonim, 2011 ). 8. Jenis Media Tanam Tanaman tomat dapat ditanam di segala jenis tanah, mulai tanah pasir sampai tanah lempung berpasir yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik serta unsur hara dan mudah merembeskan air. Selain itu akar tanaman tomat rentan terhadap kekurangan oksigen, oleh karena itu air tidak boleh tergenang (Anonim, 2011 ).

14

D. Pemeliharaan Tanaman Tomat Beef

Pemeliharaan tanaman merupakan rangkaian proses budidaya tanaman yang dilakukan setelah menanam. Di dalam memelihara tanaman harus dilakukan secara cermat dan teliti, karena sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kualitas hasil tanaman yang dihasilkan. Pemeliharaan pada tiap tanaman berbeda, tergantung dari jenis tanaman yang ditanam. Tanaman perlu dipelihara sebab selama

pertumbuhannya tanaman kadang-kadang mengalami keadaan yang kurang menguntungkan antara lain gangguan hama dan penyakit, gangguan gulma, kekurangan air, gangguan alam dan lain-lain. Hal tersebut di atas merupakan penghambat bagi pertumbuhan tanaman dan akan mengurangi hasil. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil yang tinggi, maka faktor-faktor penghambat tersebut harus ditekan serendah mungkin dan segala kebutuhan tanaman harus terpenuhi. Upaya pemeliharaan yang perlu dilakukan selama budidaya tomat antara lain: a. Penjarangan dan Penyulaman Penyulaman adalah kegiatan mengganti tanaman yang mati, rusak atau yang pertumbuhannya tidak normal, misalnya tumbuh kerdil. Penyulaman sebaiknya dilakukan satu minggu setelah tanam. Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam penyulaman adalah bibit yang digunakan. Bibit yang digunakan untuk menyulam diambil dari bibit cadangan yang telah dipersiapkan sebelumnya bersamaan dengan bibit lain yang bukan bibit cadangan (Pudjiatmoko, 2008).

15

Penyulaman dilakukan dengan cara mencabut tanaman yang telah mati, rusak, layu, atau pertumbuhannya tidak normal, kemudian membuat lubang tanam baru ditempat tanaman terdahulu, membersihkannya dan memberi Furadan 0,5 gram bila dipandang perlu. Setelah itu, menanam bibit yang baru pada tempat tanaman awal (tempat tanaman yang disulam) (Pudjiatmoko, 2008). b. Penyiangan Gulma yang tumbuh di areal penanaman tomat harus disiangi agar tidak menjadi pesaing dalam mengisap unsur hara. Gulma yang terlalu banyak akan mengurangi unsur hara sehingga tanaman tomat menjadi kerdil. Gulma juga dapat menjadi sarang hama dan penyakit yang akan menyerang tanaman tomat. Pemberian mulsa plastik atau daun-daunan akan mengurangi gulma. Waktu penyiangan dapat dilakukan 3-4 kali tergantung kondisi kebun (Pudjiatmoko, 2008). c. Pembubunan Tujuan pembubunan adalah memperbaiki peredaran udara dalam tanah dan mengurangi gas-gas atau zat-zat beracun yang ada di dalam tanah sehingga perakaran tanaman akan menjadi lebih sehat dan tanaman akan menjadi cepat besar. Tanah yang padat harus segera digemburkan. Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya (Pudjiatmoko, 2008). d. Pemupukan Pemupukan merupakan suatu upaya menambah kandungan unsur hara atau nutrisi yang berguna bagi pertumbuhan tanaman yang bertujuan untuk merangsang

16

pertumbuhan tanaman. Hasil produksi tomat dapat ditingkatkan dengan cara setiap hektar lahan diberikan pupuk dengan dosis 80-100 kg Urea, 350-450 kg ZA, 200-250 kg SP36, serta 85-176 kg KCL (Gafur dan Maskar, 2006). Pemupukan dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama dilakukan 1 minggu setelah tanam dengan memberikan pupuk buatan (Urea dan KCL) dengan perbandingan 1:1, dosis yang diberikan pada setiap tanaman antara 1-2 gram. Pemupukan diberikan pada jarak 3 cm dari batang. Pupuk Urea dan KCL tidak boleh mengenai tanaman karena dapat melukai tanaman. Pemupukan tahap kedua dilakukan ketika tanaman berumur 2-3 minggu sesudah tanam. Jenis pupuk yang diberikan berupa campuran Urea dan KCl sebanyak 5 gr. Pemupukan dilakukan di sekeliling batang tanaman sejauh 5 cm dan dalamnya 1 cm kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air. Tahap terakhir dilakukan ketika tanaman berumur 4 bulan, apabila tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk lagi dengan Urea dan KCl sebanyak 7 gram. Pemupukan yang diberikan berjarak 7 cm dari batang (Pudjiatmoko, 2008). Penyerapan mineral, khususnya nitrogen, dapat berpengaruh secara nyata terhadap aktifitas sitokinin yang terdapat pada akar tanaman tomat. Serapan nitrogen yang kurang, dapat menurunkan aktifitas sitokinin, sehingga dapat menyebabkan terganggunya metabolisme protein di daun karena sitokinin merupakan regulator pembentukan protein (Wijayani dan Widodo, 2005).

17

e. Penyiraman dan Pengairan Kebutuhan air pada budidaya tanaman tomat tidak terlalu banyak, namun tidak boleh kekurangan air. Pemberian air yang berlebihan pada areal tanaman tomat dapat menyebabkan tanaman tomat tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsurunsur hara dan mudah terserang penyakit. Kelembaban tanah yang tinggi dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan patogen sehingga tanaman tomat dapat mati keracunan karena kandungan oksigen dalam tanah berkurang. Pori-pori yang terisi oleh air mendesak oksigen keluar dari dalam tanah sehingga tanah menjadi anaerob yang menyebabkan proses oksidasi berubah menjadi proses reduksi. Keadaan tanah yang demikian vegetatif menyebabkan berlebihan kerontokan bunga dan menyebabkan dan

pertumbuhan

sehingga

mengurangi

pertumbuhan

perkembangan generatif (buah). Kekurangan air yang berkepanjangan pada pertanaman tomat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pada stadia awal, mengakibatkan pecah-pecah pada buah apabila kekurangan air terjadi pada stadia pembentukan hasil dan dapat menyebabkan kerontokan bunga apabila kekurangan air terjadi selama periode pembungaan (Pudjiatmoko, 2008). Proses pemberian air pada pertanaman tomat dapat dilakukan dengan sistem perendaman, yaitu pemberian air yang dialirkan melalui parit-parit diantara bedengan. Selain itu dapat pula menggunakan sumur ataupun sungai sebagai sumber irigasi. Air yang berasal dari sumber tersebut disiramkan langsung ke atas tanaman tomat (bedengan). Sumur yang dibuat berupa sumur dangkal yang digali di dekat daerah pertanaman. Dalam satu hektar lahan, dapat dibuat 4 sumur dangkal sebagai sumber

18

irigasi yang akan dialirkan menuju bedengan dengan menggunakan pompa portable yang digerakkan dengan mesin diesel (Wahyu, 200). f. Pemasangan ajir Pemasangan ajir dimaksudkan untuk mencegah tanaman tomat roboh dan menegakkan tanaman tomat. Selain itu ajir berfungsi mempermudah penyiangan, mempermudah pemupukan dan mempermudah pengaplikasian pestisida. Penanaman tomat dengan menggunakan ajir dapat meningkatkan hasil sebesar 48%, serta dapat mengurangi serangan organisme pengganggu tanaman (Wahyu, 2002). Menurut Susila (2006), pemasangan ajir dilakukan 3-4 minggu setelah tanam dengan menggunakan tali raffia. Ajir yang digunakan berukuran 2x100 cm, pemasangannya dilakukan pada jarak 10 cm dari tanaman dengan kedalaman 20-30 cm dengan posisi miring keluar. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan ajir antara lain ajir (lanjaran) terbuat dari bambu atau kayu dengan panjang antara 100-175 cm. Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin, ketika tanaman masih kecil akar masih pendek, sehingga akar tidak putus tertusuk ajir. Akar yang luka akan memudahkan tanaman terserang penyakit yang masuk lewat luka. Jarak ajir dengan batang tomat 10-20 cm. Cara memasang ajir bermacam-macam, misalnya ajir dibuat tegak lurus atau ujung kedua ajir diikat sehingga membentuk segitiga. Ajir diolesi dengan ter atau minyak tanah agar tidak dimakan rayap. Tanaman tomat yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir, pengikatan jangan terlalu erat yang penting tanaman tomat dapat berdiri. Pengikatan dilakukan dengan model angka 8

19

sehingga tidak terjadi gesekan antara batang tomat dengan ajir yang dapat menimbulkan luka. Tali pengikat, misalnya tali plastik harus dalam keadaan bersih. Setiap bertambah tinggi 20 cm, harus dilakukan pengikatan lagi agar batang tomat selalu berdiri tegak (Pudjiatmoko, 2008). g. Pemangkasan Pemangkasan bertujuan untuk menghasilkan buah tomat yang berukuran besar. Pemangkasan yang dilakukan yaitu dengan memotong cabang tanaman serta meninggalkan satu cabang utama per tanaman (Dewa, 2007). Wahyu (2002) menjelaskan bahwa pemangkasan pada daun tua atau daun yang terkena serangan hama dan penyakit bertujuan untuk memperlancar masuknya sinar matahari ke tanaman dan mengurangi resiko penyebaran hama dan penyakit. Pemangkasan lebih baik dilakukan pada pagi hari karena daun dan tunas masih banyak mengandung air sehingga lebih mudah untuk dipatahkan. h. Pengendalian Hama dan Penyakit Hama: 1) Hama ulat Tanah (AgrotisipsilonHufn.) Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctuidae Gejala serangan dapat terlihat dari terpotongnya pangkal batang tanaman muda yang baru ditanam di lapangan, menyebabkan tanaman roboh (patah batang), sering terjadi awal musim kemarau. Ulat tanah ini bersifat polifag,

sehingga mempunyai banyak tanaman inang seperti tomat, kentang, cabe, kubis,

20

jagung yang masih muda. Upaya pengendaliannya dapat dilakukan secara kultur teknis, biologis dan kimiawi. Secara kultur teknis dilakukan dengan cara menanam bibit yang toleran atau resisten terhadap serangan ulat tanah, serta lebih memperhatikan sanitasi sekitar tanaman, jika ditemukan ulat sebaiknya langsung mengumpulkannya dan membunuh (Dewa, 2007). Cara biologis yang dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami parasitoid seperti Apanteles ruficrus dan Tritaxys braueri serta memanfaatkan aneka

tanaman biopestisida selektif (Dewa, 2007). Apabila cara pengendalian lainnya tidak mampu menekan populasi serangan ulat tanah, aplikasi insektisida selektif dan efektif sesuai dosis/ konsentrasi yang direkomendasi, seperti penggunaan Rhocap 10 G 0,1% (Sunarjono, 2003). 2) Ulat Buah (Helicoverpa armigera Hubn.) Gejala yang terlihat seperti buah menjadi berlubang, membusuk dan rontok. Pengendalian yang dilakukan secara biologi yaitu dengan memanfaatkan musuh alami parasitoid, predator dan pathogen serta memanfaatkan aneka tanaman biopestisida selektif (Dewa, 2007). 3) Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn.) Ordo : Homoptera Famili : Aphididae Gejala yang terlihat berupa munculnya bercak nekrotik pada daun yang disebabkan oleh rusaknya selsel dan jaringan daun dihisap nimfa dan serangga dewasa, merupakan vektor TLCV ( Tomato Leaf Curl Virus). Pengendalian secara

21

biologis dapat dilakukan dengan cara Memanfaatkan musuh alami parasitoid seperti Encarsia sp., dan predator seperti Scymnus, sp., Menochillus sp., dan Amblyseius sp. serta memanfaatkan aneka tanaman biopestisida selektif (Dewa, 2007). 4) Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Gejala yang ditimbulkan yaitu ulat grayak menyerang epidermis dengan meninggalkan bagian atas daun hingga barupa bercakbercak putih menerawang. Serangan larva dewasa menyebabkan daun sampai berlubang, bahkan sampai tulang daun. Pengendalian yang dapat dilakukan yaitu memanfaatkan musuh alami parasitoid, seperti Telenomus spodopterae Dodd (Sceliomidae), Micropitis

similes (Eulopidae) dan Peribaea sp. (Tachinidae) serta memanfaatkan aneka tanaman biopestisida selektif (Dewa, 2007). 5) Nematoda Bintil Akar (Meloidogyne sp.) Meloidogyne sp. hidup pada tanah yang terlalu asam dengan pH berkisar antara 4-5. Hama ini dapat menyebabkan munculnya bintil pada akar tomat, tanaman menjadi lemah sehingga dapat mengakibatkan produksi Tomat menurun (Sunarjono, 2003). Penyakit: 1) Layu bakteri Penyakit layu bakteri disebabkan oleh Bakteri Ralstonia solanacearum yang menimbulkan gejala daun layu secara menyeluruh dan berwarna coklat diikuti

22

dengan matinya tanaman. Daun layu disertai dengan warna menguning, diawali dari salah satu pucuk daun atau cabang tanaman, umumnya terjadi pada tanaman berumur sekitar 6 minggu. Bila batang tanaman terserang dipotong akan tampak garis vaskuler berwarna gelap, bila potongan batang tersebut dimasukkan ke dalam air bening akan mengeluarkan eksudat berupa lendir berwarna putih keabuabuan. Pada fase serangan ringan keadaan tersebut tidak tampak. Eksudat dapat ditemukan pada akar ditandai dengan menempelnya tanah pada bagian akar tersebut. Pengendalian dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami patogen antagonis, seperti Pseudomonas flurescens (terdapat dalam kandungan pupuk hayati MiG6PLUS) yang diaplikasikan pada permukaan bedengan secara merata saat tanaman berumur 15 hari setelah tanam Solani (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2003). 2) Layu fusarium Penyakit layu fusarium disebabkan oleh Cendawan (Fusarium solani). Gejala yang ditimbulkan berupa daun tampak layu dimulai dari daun bawah

berkembang ke daun atas kemudian menguning dan akhirnya mengering kecuali pucuk tetap berwarna hijau dan pertumbuhan tanaman tidak normal. Batang tanaman yang terserang, bila dipotong akan tampak kambiumnya berwarna coklat. Warna coklat serupa kadang dijumpai juga pada pembuluh tangkai daun. Pada tanah basah atau dingin, batang di bawah permukaan tanah menjadi busuk, tanaman layu dan mati. Musuh alami yang dapat digunakan

23

untuk mengendalikan cendawan Fusarium solani yaitu Trichoderma sp Solani (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2003). 3) Virus daun menggulung Virus daun menggulung disebabkan oleh Potato Leaf Roll Virus (PLRV). Daun yang terserang menggulung ke bagian atas mulai dari tepi ke arah ibu tulang daun dan batang menyerupai tabung, warna daun menguning atau mengalami klorosis, Daun dan batang tanaman yang sakit menjadi pucat dan kurus serta batang mengecil (Dewa, 2007). 4) Bercak kering (early blight) Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Altenaria solani. Miselium cendawan masih dapat bertahan hidup 1-2,5 tahun pada daun yang telah mongering. Pembentukan spora pada temperatur minimal 1,5 C, temperatur optimal 26,1 C dan temperaturmaksimal 34,5 C. Gejala penyakit bercak kering yaitu munculnya bercakbercak cokelat tua hingga kehitaman dengan bentuk bulat dan terdapat lingkaran konsentris. Bercak akan bersatu bila membesar dan berhenti berkembang jika telah mencapai tulang daun. Serangan dimulai dari daun bagian bawah dan menjalar kebagian atas. Daun yang terserang bagian tepinya bergerigi dan pecah tidak teratur, ketika bercak mongering daun akan gugur, pada kondisi lain, daun akan menggulung dan keriting. Serangan terparah dapat menyebabkan seluruh daun menguning dan mongering dan warna hijau hanya dapat dijumpai pada bagian tunas Solani (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2003).

24

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan penyemprotan bubur bordeo, jika memang sudah tidak dapat diselamatkan, tanaman dapat langsung dimusnahkan. Rotasi tanaman perlu dilakukan untuk menghindari penyebaran penyakit dan menanam jenis tomat yang tahan terhadap serangan A. Solani (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2003). 5) Penyakit Cacar atau Busuk Daun Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Phytopthora infestans. Gejala yang ditimbulkan seperti munculnya noda hitam seperti cacar dengan bentuk yang tidak teratur hingga akhirnya akan mongering ataupun membusuk. Penyakit cacar dapat dikendalikan dengan pestisida kimia Benlate (konsentrasi 0,1-0,3%), Dhitane M-45 (konsentrasi 0,2%) (Sunarjono, 2003).

25