Anda di halaman 1dari 64

KULIAH BUNG KARNO UNTUK KEBANGSAAN DAN TEKNOLOGI Membangun Kemandirian Teknologi Energi

Diselenggarakan atas kerjasama: Perpustakaan Proklamator Bung Karno dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur

Di Gedung Pusat Robotika ITS Surabaya, 31 Maret dan 1 April 2012

KULIAH BUNG KARNO UNTUK KEBANGSAAN DAN TEKNOLOGI Membangun Kemandirian Teknologi Energi

Diselenggarakan atas kerjasama: Perpustakaan Proklamator Bung Karno dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur

Di Gedung Pusat Robotika ITS Surabaya, 31 Maret dan 1 April 2012

KULIAH BUNG KARNO UNTUK KEBANGSAAN DAN TEKNOLOGI Membangun Kemandirian Teknologi Energi
Editor : Bambang Syairudin Diterbitkan atas kerjasama: Perpustakaan Proklamator Bung Karno dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur
Gambar Sampul Depan: Sketsa Bung Karno karya Basuki Abdullah Gambar Sampul Belakang: Foto Bung Karno koleksi LKBN ANTARA
Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi : Membangun Kemandirian Teknologi Energi / editor, Bambang Syairudin. Blitar : Perpustakaan Proklamator Bung Karno, 2012. 62 hlm. ; 14,6x20,6cm. Diterbitkan atas kerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan Persatuan Insinyur Indonesia Jawa Timur ISBN 978-602-9059-07-6 I. Teknologi Energi I. Bambang Syairudin. II. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. III. Persatuan Insinyur Indonesia Jawa Timur. 621.042

ii

DAFTAR ISI Pengantar dari Meja Editor Susunan Acara Sambutan dari Presiden BEM - ITS Sambutan dari Rektor ITS Sekapur Sirih dari Para Kurator:
Sekapur Sirih dari Prof. Dr. Ing. Herman Sasongko Guru Besar dan PR-I ITS Sekapur Sirih dari Prof. Daniel M. Rosyid Guru Besar ITS Sekapur Sirih dari Ir. H. Ridwan Hisyam Ketua PII - Jawa Timur Sekapur Sirih dari Sulistyanto Soejoso Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur Sekapur Sirih dari Suyatno Kepala Perpustakaan Proklamator Bung Karno

HALAMAN 1 3 4 6

8 10 13 14

17

Kuliah Sesi Pertama oleh Mugi Rahardjo Dirut PT. Dinamika Energitama Nusantara Kuliah Sesi Kedua oleh Kusmayanto Kadiman, Ph.D Mantan Menristek RI Arsip Pidato Bung Karno : Ilmu Teknik Harus Mengabdi Masyarakat Adil Makmur

19 30

39

iii

PENGANTAR DARI MEJA EDITOR


Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi diselenggarakan dalam rangka menyambungkan kembali Visi Kebangsaan Bung Karno kepada semua mahasiswa-mahasiswi dan pemuda-pemudi Indonesia, yaitu Visi Kebangsaan yang bisa diterjemahkan kedalam dedication of life pada masing-masing jalur profesi kita, yang ujungnya adalah untuk pengabdian kepada terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Terkait dengan Visi Kebangsaan Bung Karno tersebut, maka Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi yang diselenggarakan di Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini, digelar dengan melibatkan berbagai komunitas, dengan tujuan untuk mencermati dan senantiasa memikirkan (think & re-think) serta mencari terus-menerus (seek & re-seek) suatu cara yang lebih baik tentang bagaimana: Membangun Kemandirian Teknologi Energi di Indonesia yang tercinta ini. Sekumpulan isi pengetahuan kebangsaan, yang diharapkan dapat menjadi pemicu awal terjadinya proses knowledge sharing untuk menemukan peta jalan kemandirian itu, kemudian didokumentasikan kedalam bentuk buku panduan. Pada bagian akhir dari buku panduan ini, dimuat kembali isi pidato Bung Karno yang berjudul ILMU TEKNIK HARUS MENGABDI MASYARAKAT ADIL MAKMUR . Pemuatan kembali isi pidato Bung Karno tersebut, sekaligus dimaksudkan sebagai GONG yang perlu selalu kita tabuh secara serentak bersama-sama, untuk mengiringi semua langkah nyata kita didalam mendedikasikan hidup kita demi kejayaan Indonesia Raya.

Secara keseluruhan, kegiatan Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi ini akan diadakan sebanyak empat kali untuk agenda perkuliahan pada tahun 2012. Di dalam masing-masing kegiatan perkuliahan tersebut akan diusung 1

tema-tema penting perihal membangun kemandirian teknologi nasional pada bidang-bidang tertentu. Tema-tema Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi tersebut dikemas kedalam bagian-bagian sebagai berikut: Bagian I : Membangun Kemandirian Teknologi Energi. Tempat dan waktu penyelenggaraan: Kampus ITS (Surabaya), pada tanggal 31 Maret dan 1 April 2012. Bagian II : Membangun Kemandirian Teknologi Transportasi. Tempat dan waktu penyelenggaraan: Perpustakaan Proklamator Bung Karno (Blitar), pada bulan Juni 2012. Bagian III : Membangun Kemandirian Teknologi Komunikasi. Tempat dan waktu penyelenggaraan: Kampus ITS (Surabaya), pada bulan Agustus 2012. Bagian IV : Membangun Kemandirian Teknologi Pertanian. Tempat dan waktu penyelenggaraan:

Kampus UB (Malang),
2012. Salam hormat & Terimakasih Bambang Syairudin

pada bulan Nopember

SUSUNAN ACARA
Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi (Bagian I: Membangun Kemandirian Teknologi Energi)

Sabtu,31 Maret 2012 08.00 08.30 08.30 09.00 09.00 09.15 09.15 09.30 : Pembukaan : Persembahan dari PSM : Tari Merak dari UKTK : Sambutan Presiden BEM-ITS Sambutan Kurator Sambutan Rektor : Kuliah Pembuka oleh Dahlan Iskan Menteri BUMN RI : Kuliah Sesi I oleh Mugi Rahardjo Dirut PT. Dinamika Energitama Nusantara : Tari Gandrung Banyuwangi dari Perpustakaan Proklamator Bung Karno : Kuliah Sesi II Oleh Kusmayanto Kadiman, Ph.D Mantan Menristek RI : Sesi III - Tanya Jawab : Penutup (PSM)

09.30 10.15 10.15 11.00

11.00 11.15

11.15 12.15

12.15 12.45 12.45 13.00

Pameran Pustaka dan Bedah Buku Pidato Bung Karno

Sabtu,31 Maret 2012 Minggu, 1 April 2012


Pasar Minggu ITS (PAMITS)

Minggu, 1 April 2012 3

SAMBUTAN DARI PRESIDEN BEM - ITS


GENERASI MUDA, ENERGI BARU TERBARUKAN MASA DEPAN Oleh: Imron Gozali Presiden BEM ITS 2011-2012 Bapak Proklamator kita pernah berkata, Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia. Dapat kita lihat bahwa betapa besar harapan bangsa ini terhadap para generasi mudanya. Kawan, seharusnya kita bersyukur terlahir di Indonesia. Bangsa ini dianugrahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Sudah sepatutnya kekayaan itu dapat dinikmati oleh segenap rakyatnya bukan? Akan tetapi apa yang kita lihat dan alami sekarang ini? Sungguh jauh panggang dari api. Padahal di dalam UUD 45 pasal 33 ayat 3 disebutkan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Seharusnya aset-aset strategis dikuasai oleh negara. Kebijakan pemerintah harus dapat melindungi kekayaan alam kita, Jika pun berupa kontrak kerja sama seharusnya bersifat sementara sampai perusahaan negara dapat mengelolanya secara mandiri. Dan ujung tombak dari semua itu adalah dipergunakan untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Energi seharusnya juga murah dan tepat guna untuk kesejahteraan masyarakat. Lantas lari ke mana kekayaan kita selama ini? Salah satu konsep Bung Karno yang saya anut adalah Berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya. Dan saya masih percaya generasi muda saat ini bisa mewujudkan hal itu. Kita bukan generasi penerus akan kecarutmarutan bangsa saat ini. Kita adalah generasi pembangun bangsa Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Kita adalah energi baru

terbarukan masa depan. Ya, sudah saatnya kita berdiri di atas kaki sendiri!!! HIDUP MAHASISWA!!! HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!

SAMBUTAN DARI REKTOR ITS PERLUNYA KEBERPIHAKAN


Assalammualaikum Wr. Wb., Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air, Sebagai pimpinan Perguruan Tinggi (PT), insya Allah kami telah berupaya keras untuk merancang dan menjalankan proses belajar mengajar dengan sebaikbaiknya agar dihasilkan lulusan PT yang berkualitas. Demikian juga, sebagai PT Teknik seperti ITS dan yang lainnya, insya Allah telah berusaha bagaimana merancang kurikulum yang dapat menghasilkan lulusan sarjana-sarjana teknik yang mengetahui dasar-dasar merancang untuk menghasilkan produk-produk industri atau karya-karya inovatif lainnya. Namun dalam kenyataannya di lapangan, industri-industri di negara kita ini umumnya cukup membutuhkan pekerja-pekerja yang hanya mampu merawat atau menjalankan mesin-mesin serta produkproduk yang sengaja kita import dari luar negeri. Kita seakan-akan menjadi ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan: Apakah Indonesia Bisa ?? Padahal sejarah mencatat bahwa sesungguhnya para sarjana teknik lulusan kita pernah bisa membuat pesawat terbang di IPTN atau kapal-kapal di PT.PAL atau mesin-mesin diesel di PT. BBI dan beberapa karya-karya inovatif para insinyur anak bangsa ini di banyak industri startegis yang kita telah bangun sebelumnya. Sekarang ini beberapa industri strategis tersebut kondisinya memprihatinkan, seperti PT. BBI yang kemungkinan akan segera dimerjer dengan PT. Barata karena mungkin mengalami ketidakefisienan.

Apakah ke depan tidak ada kebijakan Pemerintah tentang bagaimana mengurangi ketergantungan kita terhadap produk-produk dari luar negeri, terutama terhadap produk-produk yang memang kita mampu membuatnya, misalnya dengan lebih memberdayakan industriindustri strategis yang ada. Bisa saja di awal, produk-produk kita memang lebih mahal atau sedikit lebih rendah kualitasnya dibanding produk-produk yang kita import dari luar negeri, namun sungguh kita perlu kebijakan keberpihakan yang membela produk-produk dalam negeri. Dengan demikian, para insinyur-insinyur muda kita bisa berkarya dan berinovasi di negeri sendiri dan membuktikan bahwa INDONESIA memang BISA. Wassalammualaikum Wr. Wb., Surabaya, 31 Maret 2012 Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember ttd. Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA NIP : 19600129 198701 1001

SEKAPUR SIRIH DARI PARA KURATOR


Membangun Kemandirian Teknologi di Kampus Teknologi Oleh: Prof. Dr. Ing. Herman Sasongko Guru Besar dan PR-I ITS Kemandirian teknologi nasional selayaknya merupakan misi setiap lembaga pendidikan tinggi teknologi. Untuk melaksanakan misi ini ITS bertekad melakukannya melalui pendidikan berbasis Laboratorium -Lab Based Education-. Dalam LBE ini Laboratorium hidup dan menghidupi lingkungan di sekitarnya menjadi bagian sistemik perguruan tinggi yg bermaksud mencapai kinerja akademik dan kepribadian atau karakter sekaligus. Setiap elemen dalam LBE ini diarahkan untuk memiliki konsistensi untuk menekuni bidang yang spesifik untuk dimanfaatkan langsung atau tidak langsung bagi kepentingan industri dan masyarakat. Konsistensi ini dapat ditunjukkan dalam Peta Jalan Penelitian Laboratorium yang akan dirujuk oleh para dosen dan mahasiswa, terutama mahasiswa pascasarjana. Di dalam laboratorium inilah terjadi pembenihan kecintaan pada ilmu dan inovasi, serta kepedulian pada masyarakat. Ini adalah bagian terpenting dari peran Pendidikan Tinggi keinsinyuran dalam mendukung Kemandirian Bangsa. Dalam pembinaan kemahasiswaan, kreatifitas yang ditumbuhkembangkan harus didampingi pembangunan karakter yang tangguh yang bertumpu pada kearifan lokal dan berorientasi senantiasa untuk kepentingan bangsa.

Melalui Kuliah Bung Karno untuk.Kebangsaan dan Teknologi ini kita berharap membangun solusi teknologik yang mentradisi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kemandirian Teknologi Energi Nasional dan Masyarakat Indonesia Baru di Abad 21 Oleh: Prof. Ir. Daniel M. Rosyid, Ph.D. MRINA Guru Besar ITS Sudah jelas bahwa saat ini Indonesia dalam krisis energi. Indonesia telah menjadi importir bersih minyak bumi, sehingga kenaikan harga BBM bersubsidi pada awal bulan April 2012 ini menjadi problematik. Ketergantungan masyarakat pada BBM sudah pada taraf kecanduan yg parah yang diakibatkan pada ketergantungan masyarakat bawah pada sepeda motor dan mobil pribadi. Gejala ini menunjukkan bahwa kebijakan transportasi kita didikte oleh kebijakan perdagangan otomotif yg kebanyakan masih milik asing. Terobosan mobil Kiyat Esemka harus kita lihat dari dua sisi. Sisi yang pertama adalah kebangkitan industri otomotif nasional. Untuk ini kita perlu memberi apresiasi pada pak Joko Widodo, Walikota Surakarta. Sisi yang kedua adalah kita perlu mewaspadai bahwa mobil dan sepeda motor pribadi adalah bagian dari masalah nasional saat ini yang merupakan derivasi dari obsesi pada pertumbuhan yang seolah tanpa batas. Padahal bumi ini terbatas. Keterbatasan yg jelas adalah keterbatasan ruang. Bagaimana ruang diperebutkan secara zero-sum game telah ditunjukkan secara brutal di jalan-jalan kita. Setiap 30 menit seorang meninggal di jalan raya. Kita sudah hampir terlambat untuk membangun angkutan umum massal, terutama yang berbasis rel, baik antar-kota maupun untuk kota-kota kita. Obsesi pada solusi jalan adalah jalan sesat yang telah melumpuhkan -jika tidak disebut mematikan- moda rel, sungai, dan penyeberangan.

10

Yang menjadi ukuran kesuksesan kelas menengah adalah kecepatan mobilitasnya, yang sebagian ditunjukan oleh kepemilikan mobil pribadi. Pada titik inilah kita mesti ingat peringatan Ivan Illich 40 tahun yang lalu (dalam bukunya Energy and Equity) bahwa masyarakat dengan konsumsi energi tinggi adalah jalan bagi inefisiensi transportasi, polusi, dan, ini yang terpenting untuk direnungkan, ketidakadilan dalam masyarakat. Sampai tingkat konsumsi energi perkapita tertentu, energi masih berdampak positif. Lebih tinggi dari itu, pasokan energi justru mulai bersifat destruktif. Artinya, korelasi antara energi dan lingkungan hanya berlaku terbatas hingga satu ambang tertentu. Lebih dari ambang batas ini, energi mulai merusak lingkungan. Ivan Illich bahkan maju lebih jauh. Masyarakat yg digolongkan berdasarkan kecepatannya dalam mobilitas adalah -kecepatan mobilitas menunjukkan tingkat konsumsi energi per kapitamasyarakat yang sakit, seperti tubuh yang sakit akibat kelebihan kalori dalam gula darah. Penyakit masyarakat inj wujud dalam kesenjangan sosial ekonomi. Bahkan, konsumsi energi berlebihan akan justru menghasilkan kelumpuhan sosial-budaya. Lihatlah bagaimana saat ini bermunculan kawasan bebas mobil di akhir pekan dalam program Car Free Day. Orang merasakan betapa bisa berjalan kaki dan bersepeda dengan leluasa. Lebih banyak ruang dan waktu untuk.bercengkerama dengan sesama warga sekalipun tidak kenal. Semakin banyak mobil dan sepedamotor ternyata justru menyebabkan kekurangan waktu dan ruang. Istilah krisis energi dengan demikian jangan diartikan semata pada ketidakmampuan kita untuk menghasilkan sumber-sumber energi baru, terutama yg terbarukan, sementara konsumsi energi kita seolah boleh meningkat tanpa batas. Krisis energi juga bisa diartikan ketidakmampuan kita mengendalikan kebutuhan energi kita untuk hidup berlebihan bahkan dengan mengeksploitasi alam. Pada titik ini pemikiran EF Schoemacher dalam Small is Beautiful menemukan dukungannya dalam pemikiran Ivan Illich. Dalam perspektif kemandirian teknologi energi, harus diingat bahwa obsesi pada peningkatan pasokan energi -terutama yg terbarukan-

11

harus diimbangi dengan pengendalian kebutuhan energi yang sehat. Ini berarti perubahan gaya hidup yang lebih rendah energi, terutama melalui penetapan batas kecepatan mobilitas. Oleh Illich bahkan kecepatan mobilitas itu dibatasi hingga 6 kali kecepatan orang berjalan kaki, atau kecepatan maksimum bersepeda. Ini berarti lebih banyak trotoar lebar untuk pejalan kaki, penggunaan sepeda, dan kendaraan berkuda terutama untuk perjalanan jarak pendek di perkotaan dan pedesaan yang tidak memerlukan kecepatan tinggi. Artinya, kemandirian teknologi energi nasional tidak saja diarahkan pada peningkatan kemampuan produksi energi terbarukan di masa depan, tapi juga harus memperhatikan pembudayaan gaya hidup baru dengan teknologi produksi barang dan jasa yang lebih efisien dari segi konsumsi energinya. Di titik inilah kita perlu membedakan diri dari Cina yg menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia di Abad 21. Jalan Cina, mungkin juga India, adalah jalan yang salah yang telah ditempuh oleh Eropa dan AS. CEO Unilever mengatakan bahwa jika ummat manusia harus mengikuti gaya hidup Eropa, kita membutuhkan 3 bumi, dan jika meniru AS, kita membutuhkan 5 bumi. Jika Fareed Zakaria menyebut Abad 21 ini sebagai 'a post-American world", maka dunia setelah kejayaan AS berakhir itu akan segera disusul oleh 'A post China World" yang sama salahnya. Model Eropa dan AS ini terbukti gagal dan oleh karenanya tidak pantas ditiru. Melalui Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi ini, kita akan memilih sebuah jalan baru modernitas yang berbeda dengan jalan modernitas yang telah ditempuh Eropa dan AS yg kini sedang diikuti oleh Cina. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan mereka. Kita memilih modernitas yg memberdayakan kapasitas fitrah kita yg dianugerahi Tuhan dengan dua kaki yang tegaknya mencerminkan tahapan evolusi primata paling maju. Kita membutuhkan teknologi baru yg menguatkan kedua kaki itu sebagai orang-orang merdeka yg tidak mau dilemahkan oleh mesin-mesin budak energi . Jalan baru itu bukan sekedar kebanggaan kebangsaan yang semu, tapi sekaligus solusi bagi krisis global saat ini.

12

Sekapur Sirih Kuliah Bung Karno Oleh: Ir. H. Ridwan Hisyam Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur Bung Karno adalah seorang Insinyur yang bukan hanya telah berkarya membangun Jembatan Viaduct yang ada di GubengSurabaya, tetapi beliau telah membangun Jembatan Emas menuju Indonesia Merdeka. Karya teknologi beliau membangun Viaduct, membuktikan bahwa bangsa ini sesungguhnya mampu berkarya dengan kemandirian Teknologinya; sedang karya abadi beliau mebangun Jembatan Emas, adalah suatu karya yang tak bakal terwujud bila tidak disertai dengan Kenekatan. Dua Nilai Kemandirian dan Kenekatan inilah yang ingin beliau tanamkan pada Jiwa Bangsa Indonesia, khususnya bagi insinyur Indonesia. Oleh karena itu dengan semangat Kemandirian & Kenekatan Kami PII (Persatuan Insinyur Indonesia) sangat antusias serta berpartisipasi aktif, demi terselenggaranya Kuliah Bung Karno untuk Bangsa dan Teknologi dengan Tema Kemandirian Teknologi Energi Nasional yang diselenggarakan di ITS. Kemajuan tidak diukur dari seberapa jauh kita akan melangkah, tapi seberapa banyak langkah yang telah kita lakukan, mari kita melangkah bersama, semoga Allah meridhoi langkah-langkah yang telah kita amalkan. Billahitaufiq wal hidayah.

13

SEKAPUR SIRIH JEJAK PERJALANAN, AMANAT & VISI BANGSA Sulistyanto Soejoso Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur Kondisi dan wajah suatu bangsa dan negara saat ini, menjadi gambaran, seberapa sungguh-sungguh bangsa itu melakukan upaya untuk memposisikan dirinya di antara bangsa-bangsa yang lain. Potensi yang dimiliki suatu bangsa dibanding potensi yang dimiliki bangsa lain di satu sisi, dan posisi saat ini dari suatu bangsa dibanding bangsa lain di sisi yang lain, menjadi penakar seberapa jauh bangsa itu menganggap arti pentingnya harkat dan martabat bagi dirinya. Para guru SD di negeri ini, sejak dulu selalu memberitahu siswa-siswinya, Indonesia adalah negara yang subur dan makmur, gemah ripah lohjinawi. Salah satu grup band legendaris Indonesia, Koes bersaudara/Koes Plus lewat salah satu lagunya menyatakan : Bukan lautan hanya kolam susu,kail dan jala cukup menghidupimu.......ikan dan udang menghampiri dirimu.Orang bilang tanah kita tanah surga.Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Semua itu menunjukkan Indonesia memiliki sumber daya alam luar biasa. Para guru juga memberitahu siswa-siswinya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, toleran, saling tolong menolong, punya semangat pantang menyerah. Hal ini menunjukkan bangsa Indonesia memiliki modal sosial yg unggul. Keunggulan dan kekuatan SDA & SDM itu berpotensi membawa bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat, mandiri dan bisa berdiri sejajajar dan bahkan di atas bangsa lain.

14

Merenungkan dan menelaah keberadaan candi Borobudur dan peninggalan yang lain, sampailah kita pada kesimpulan, nenek moyang bangsa ini adalah BANGSA yang BESAR. Sebuah bangsa yang kekuasaan dan pengaruhnya menembus jauh keluar dari batas negara yang sekarang dikenal dengan nama Indonesia. Borobudur dan peninggalan yang lain adalah simbol peradaban, simbol keunggulan dalam banyak hal, termasuk bidang TEKNOLOGI. Setelah PROKLAMASI dikumandangkan, dalam masa pemerintahan BUNG KARNO sebagai presiden pertama RI, dicanangkanlah sebuah tekad sekaligus visi untuk bangsa ini, BERDIKARI-berdiri di atas kaki sendiri.Canangan visi berdikari itu ditindaklanjuti dengan langkah kongkrit. Krakatau Steel dibangun dan dijadikan tulang punggung untuk industri-industri dalam berbagai bidang yang dibangun sesudahnya.Indonesia juga berani menyatakan menolak bantuan salah satu negara superpower saat itu dan bahkan berani menyatakan keluar dari PBB. Lepas dari soal benar dan salahnya tindakan tersebut, hal itu menunjukkan kesungguhan untuk melaksanakan tekad berdikari yang sudah dicanangkan. Indonesia saat ini adalah bangsa dan negara yang hampir tidak memiliki kedaulatan di semua bidang. Indonesia saat ini adalah bangsa dan negara yang rasanya tidak lagi punya harkat, martabat dan percaya diri. SEMUANYA HARUS DIUBAH. Indonesia mulai sekarang adalah bangsa dan negara yang bertekad bulat membangun kedaulatannya kembali. Indonesia mulai sekarang adalah bangsa dan negara yang bersungguh-sungguh mewujudkan amanat dan visi yang sudah dicanangkan tokoh-tokoh perintis dan pendiri bangsa dan negara ini, untuk menegakkan kembali harkat, martabat dan kepercayaan dirinya. Kita sekarang sedang berada di era global, sebuah era dimana batas negara seakan-akan tidak berarti lagi, kecuali untuk urusan administrasi. Globalisasi telah disalah tafsirkan oleh banyak orang sebagai era untuk melokalkan kearifan global. Sesungguhnya, era

15

global justru merupakan momentum yang paling tepat untuk MENGGLOBALKAN KEARIFAN-KEARIFAN LOKAL. Kuliah BUNG KARNO untuk kebangsaan dan KEMANDIRIAN teknologi, tidak dimaksudkan untuk mengkultuskan sosok Bung Karno. Kegiatan yang direncanakan berlangsung 4 kali setiap tahunnya, adalah sebuah gerakan untuk mewujudkan pemikiran, tekad dan visi yang dicanangkan para tokoh anak bangsa. Kuliah BUNG KARNO untuk kebangsaan dan KEMANDIRIAN Teknologi adalah motor penggerak mewujudkan gerakan masif bagi SEMUA anak bangsa dan secara BERSAMA, menegakkan kembali ke-INDONESIA-an kita. Kuliah BUNG KARNO untuk kebangsaan dan KEMANDIRIAN Teknologi adalah pemicu untuk mengglobalkan kearifan-kearifan lokal. Kuliah BUNG KARNO untuk kebangsaan dan KEMANDIRIAN teknologi adalah energi untuk mewujudkan INDONESIA ESOK yang berjaya, berdaulat,memiliki harkat, martabat, disegani dan berdiri tegak sejajar dengan bangsa lain. INDONESIA ESOK ADALAH BANGSA DAN NEGARA BESAR & TERHORMAT.

16

SAMBUTAN KULIAH BUNG KARNO Oleh: Suyatno Kepala Perpustakaan Proklamator Bung Karno Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan hidayah sehingga bisa memberikan sambutan yang berhubungan dengan kebangsaan. Terima kasih kami sampaikan kepada Rektor ITS Sepuluh Nopember, Pembantu Rektor I ITS Sepuluh Nopember Prof. Dr. Herman Sasongko, Prof. Dr. Daniel Rosyid atas kesempatan yang diberikan kepada Perpustakaan Proklamator Bung Karno dalam rangka kerja sama Kuliah Bung Karno tentang Nasionalisme dan Teknologi, yang pada saat ini difokuskan pada kuliah Kemandirian Energi. Terima kasih juga kami sampaikan kepada Bapak Sulistiyanto Soejoso, MBA, Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Jawa Timur Ir. Ridwan Hisyam, dan Ir. M. Djamil, MS. Ke-grapyak-an dalam pertemuan-pertemuan yang kita adakan terkondisikan dalam suasana cair sehingga memperteguh bahwa kita satu bangsa Indonesia. Selamat kepada Insinyur Indonesia karena salah satu Bapak Pendiri Bangsa yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia adalah seorang Insinyur, yaitu Ir. Sukarno yang juga disebut Bung Karno. Setelah beratus-ratus tahun kita terlena dan terlelap oleh belenggu imperialisme; dan setelah kita merdeka, melek dari tidur, maka sekarang sudah saatnya Indonesia bangkit, berdiri tegak dan mandiri dalam segala bidang. Dalam buku Mencapai Indonesia Merdeka, Bung Karno mengatakan Kita sekarang tidak boleh berkesempatan lagi untuk menangis, kita sudah kenyang menangis. Bagi kita sekarang ini bukan saatnya lembek-lembekan hati. Berabadabad kita sudah lembek hingga menjadi seperti kapuk dan agar-agar. Yang dibutuhkan oleh tanah air kita kini ialah otot-otot yang kerasnya seperti baja, urat-urat syaraf yang kuatnya seperti besi, kemauan yang kerasnya sebagai batu hitam yang tiada barang

17

sesuatu bisa menahannya, dan yang jika perlu, berani terjun ke dasarnya samudera. Sedangkan dalam pidato penerimaan anugerah gelar Doktor Honoris Causa di ITB tahun 1962, Bung Karno mengatakan: jikalau kita bangsa Indonesia ingin mengubah masyarakat, dan sudah jelas tujuan kita yaitu masyarakat adil dan makmur, maka bangsa Indonesia harus dapat mempergunakan ilmu teknik. Masyarakat adil makmur adalah tanpa adanya exploitation de lhomme par lhome. Dan teknik yang demikian itu harus kita ciptakan. Maka oleh karena itu saya anjurkan seek and reseek, think and rethink. Cari, cari, cipta, cipta, cipta sendiri, juga di dalam ilmu teknik. Tidak ada revolusi yang sudah ready for use. Ravolusi adalah milik dan tugas kewajiban suatu bangsa, dan kewajiban daripada bangsa itu ialah mencari sendiri, jangan menjiplak, oleh karena itu tidak bisa dijiplak. Revolusi adalah menggempur, meniadakan, menghilangkan yang tua, yang kuno, membangun barang yang baru. Semangat yang dikobarkan Sukarno dalam kemandirian itu pada saat ini masih sesuai untuk diterapkan, bahkan perlu untuk disebarluaskan. Dan kuliah Bung Karno ini bisa babar temangkar di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote. Jika perpustakaan sebagai penyedia informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan karya rekam, serta digital, dan Perguruan Tinggi adalah penyedia ahli di segala bidang ilmu, maka sudah selayaknya kerja sama antara perpustakaanperpustakaan dengan Perguruan Tinggi. Merdeka Terima kasih.

18

KULIAH SESI PERTAMA:

MEMBANGUN KEMANDIRIAN TEKNOLOGI ENERGI NASIONAL. Potensi penggunaan Batu Bara Sintetis Biomasa - pada Pembakaran Tingkat Lanjut Boiler PLTU. Oleh: Mugi Rahardjo Direktur Utama PT. Dinamika Energitama Nusantara (PT. DEN). ABSTRAK. Penggunaan Renewable Energy Biomass di sektor kelistrikan Indonesia hingga akhir 2011 implisit 0% - aplikasinya masih terbatas pada sektor Industri Perkebunan; Gula dengan cara pembakaran convensional. Kebijakan Bauran Energi Nasional mentargetkan penggunaan New and Renewable Energy (NRE) 17% pada 2025 - dari 6.2% di 2005. Makalah ini menyampaikan potensi penerapan Torrefaction Pelletisation Biomass (Batu Bara Sintetis) pada Boiler di PLTU; strategi Co-Firing dengan batu bara; produksi bahan bakar Batu Bara Sintetis skala besar berkelanjutan ; peran para stake holder utama; dan peluang usaha Industri hulu dan hilir Nasional. 1) PENDAHULUAN. Penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Nasional di Sektor Kelistrikan sekitar 200, 000 barel/hari atau 20% dari total produksi minyak mentah Indonesia. Akibatnya, mewajibkan Pemerintah Indonesia mengalokasikan subsidi listrik rata rata sebesar 30 Trilyun Rupiah per-tahun. Apabila penggunaan BBM di Sektor Kelistrikan masih tetap tinggi, maka trend besaran subsidi akan tetap terus meningkat seiring dengan meningkatnya harga minyak dunia.

19

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara skala besar dan kecil diharapkan mampu mengurangi konsumsi BBM. Namun, sayangnya pembakaran batu bara akan menghasilkan CO2, yang merupakan polutan penyebab Pemanasan Global. Sekitar 45 juta ton batu bara di bakar untuk menghasilkan listrik PLN 65 TWh di 2011. Pembakaran ini menghasilkan sekitar 72 juta ton gas CO2. Jumlah total gas CO2 yang dihasilkan dari pembakaran energi fosil di Sektor Kelistrikan Indonesia diperkirakan 150- 200 juta ton per-tahun. Torrecfaction Pelletisation Biomass (Batu Bara Sintetis), sebagai energi alternatif terbesar kedua setelah Matahari di Indonesia, merupakan energi yang dapat diperbaharui; tidak memiliki dampak negatif terhadap Pemanasan Global (net zero C02); relatif mudah di konversikan; ketersediaanya banyak; dapat diperbaharui merupakan pilihan menarik pengganti BBM atau energi fosil di Sektor Kelistrikan saat ini dan dimasa mendatang. 2) POTENSI ENERGI BIOMASSA INDONESIA. Indonesia memiliki potensi Energi Biomassa yang terbilang besar. Dengan luas daratan 1,9 juta Km2; ber-iklim tropis; dengan intensitas energi Matahari tinggi sepanjang tahun; memiliki Gunung berapi aktif terbanyak di dunia - merupakan Negeri ideal untuk pengembangan dan produksi Torrefaction - Pelletisation Biomass (Batu Bara Sintetis) sebagai energi alternatif skala besar. Diperkirakan limbah produk Sektor Pertanian dan Perkebunan Indonesia mencapai 121.4 juta ton per-tahun, atau setara dengan 134.8 TWh energi listrik, dengan perhitungan 0.9 ton limbah Biomasa menghasilkan listrik 1MWh. Sekitar 70% limbah tersebut dibakar atau ditimbun sebagai sampah yang kurang memiliki nilai ekonomis. Sektor Kehutanan, dengan luas areal HPH mencapai 25 juta ha, sedikitnya menghasilkan limbah Biomasa 217 juta ton per-tahun atau setara dengan Energi Listrik 241.1 TWh. Dengan potensi Energi limbah Biomasa sebesar 348.9 TWh per-tahun, secara teoritis , Indonesia dapat memproduksi Listrik dari

20

energi ini 100%. Bahkan, sisanya masih dapat di export. Sebagai gambaran, produksi listrik PLN mencapai 158 TWh di 2011. Angka perhitungan potensi energi Biomasa diatas, sebesar 348.9 TWh, masih lebih rendah dibanding data Departement ESDM. Departement ESDM RI memperkirakan kapasitas Energi Biomasa Indonesia sebesar 50.000 MW atau setara dengan Energi Listrik 432 TWh. Per-tahun. 3) PRODUKSI BAHAN BAKAR. Penyebab lambatnya pengembangan teknologi tinggi berbasis energi Biomasa di Sektor Kelistrikan dikarenakan beberapa hal antara lain : image teknologi ini absulut; ada anggapan penggunaannya merusak lingkungan (pembabatan hutan); nilai kalor yang rendah; bahan baku tersebar menyulitkan handling dan transportasi; kurangnya marketing atau informasi yang luas tentang perkembangan teknologi ini - sehingga pada akhirnya Investasi dan Produksi bahan bakar ini dalam skala besar belum tercipta. Pengembangan Torrefaction dan Pelletisation Biomass (Batu Bara Sintetis) pada Pembangkit Listrik , diharapkan mampu menarik minat para Pelaku Usaha dan Pembuat Kebijakan. Lembaga Riset dan Perguruan Tinggi diharapkan dapat mengembangkan teknologi Batu Bara Sintetis ini dalam rangka mempercepat penggunaannya sebagai Energi Alternatif di Sektor Kelistrikan. Torrefaction adalah proses thermo-chemical pada temperatur 200-300C tanpa kehadiran Oxygen. Teknologi Torrefaction Pelletisation bertujuan untuk mengurangi kandungan H2O (air); mengurangi impurities (Clor, Mercury, Potasium, Sulfur, dll) sehingga akan menghasilkan bahan bakar Batu Bara Sintetis dengan nilai kalor tinggi, kerapatan energi tinggi; mudah disimpan dan di transport dan ramah lingkungan. Teknologi Torrefaction dapat dipadu (integrated) dengan Teknologi Pelletisation. Salah satu bentuk produk akhir dari teknologi ini adalah silinder solid dengan ukuran diamater 6-10mm, panjang 20-30mm. Produk ini dapat disimpan relatif lama; tahan terhadap micro organisme; anti air (dapat ditempatkan di ruang

21

terbuka); dapat di atur qualitas dan keseragamannya , menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna; ramah lingkungan; handling dan transportnya mudah. Nilai kalor dari Batu Bara Sintetis ini dapat mencapai 25 30MJ/kg, setara dengan nilai kalor Batu Bara Bituminous qualitas tinggi. Pembakaran bahan bakar ini akan menghasilkan gas CO, sedikit S02, Nox dan CO2 yang jauh lebih rendah dari pembakaran Batu Bara Low Rank Coal/Lignite. Karena Batu Bara Sintetis ini termasuk golongan Energi Terbarukan, maka energi ini ramah lingkungan dan tidak menghasilkan net GHG (Green House Gas) penyebab Pemanasan Global.

22

23

4) TEKNOLOGI PEMBAKARAN LANGSUNG PADA BOILER PLTU. Dari pengalaman PT. DEN, pengembangan teknologi PLTU skala kecil (3 50 MW) sangatlah penting bagi Indonesia. Mengingat jumlah pulau-pulau kecil Indonesia yang di huni mencapai 7.000 dengan kebutuhan Pembangkit Listrik berkisar antara kapasitas 3MW-50MW. PT. DEN telah memproduksi 6 unit boiler skala 7 10 MW yang telah terpasang di Pulau Karimun - Riau, TidoreMaluku Utara dan Ende-NTT. Kapasitas terpasang PLTD PLN di kepulauan kecil tersebar sekitar 3000 MW ideal untuk digantikan dengan Teknologi Spreader Stoker Boiler dengan bahan bakar Batu Bara Sintesis yang ramah lingkungan pada masa mendatang. Teknologi Spreader Stoker Boiler memiliki kemampuan operasi pada beban rendah tanpa BBM; memiliki stabilitas pembakaran yang baik pada semua tingkat pembebanan (rendahsedang-tinggi) dan memiliki kemampuan dalam merespon perubahan beban tanpa mengakibatkan guncangan frekuensi jaringan, sangat ideal untuk menggantikan peran PLTD di pulaupulau kecil tersebar. Dari pengalaman uji operasi PT. DEN di PLTU Karimun, Boiler Speader Stoker tidak memerlukan BBM. Sedangkan teknologi seperti Pulverized, CFB, BFB memerlukan BBM khususnya pada beban rendah, guna mempertahankan Stabilitas Pembakaran (Flame Stabilization). Pengembangan lebih lanjut teknologi Speader Stoker Boiler PLTU skala kecil dengan Re-heater; high pressure; high temperatur; bahan bakar Batu Bara Sintetis, akan dapat meningkatkan effisiensi pembangkit hingga 35%. Sementara itu, effisiensi teknologi pembangkit konvensioanal skala kecil dengan bahan bakar Low Rank Coal (4200 Kcal/kg, Total Moisture 30%) berkisar 20 -25%. Spreader Stoker Boiler, dengan merek dagang Bimasakti, adalah rancang bangun Putra Putri Indonesia, di produksi PT. Dinamika Energitama Nusantara (PT.DEN), Sidoarjo Jawa Timur. Merupakan Boiler pertama PLN rancang bangun Bangsa Indonesia.

24

Dengan sedikit modifikasi, penggunaan bahan bakar Batu Bara Sintetis dapat di aplikasikan pada Boiler Bimasakti. Batu Bara Sintetis diprediksi menghasilkan pembakaran lebih effisien, karena hanya mengandung Total Moisture kurang dari 3% dan pembakarannya yang lebih sempurna. Untuk kapasitas pembangkit besar , Teknologi Pulverized Coal yang telah terpasang, misalnya di Paiton dan Suralaya, dapat menggunakan campuran Batu Bara Sintetis 10% dan Batu Bara Convensional 90% tanpa harus melakukan modifikasi besar. Batu Bara Sintetis tersebut dapat langsung di campur dengan Batu Bara Convensioanl pada Pulverizer di Boiler. Beberapa pembangkit Pulverized Coal di Inggris telah melakukan teknik Co-Firing ini dengan bahan bakar Pellet Biomasa. Batu Bara Sintetis dapat diatur hingga memiliki tingkat kandungan Sulfur; Clorine dan Ash yang sangat rendah. Sehingga pemakaiaan bahan bakar ini, di Boiler berteknologi Pulverized atau Spreader Stoker, tidak lagi memerlukan peralatan polutant control FGD (Flue Gas Desulfurization). Pada tingkat pembatasan kadar CO2 yang ketat di masa mendatang, maka aplikasi teknologi Torrefaction - Pelletisation Biomass (Batu Bara Sintetis) dapat memiliki keunggulan teknis dan ekonomis, bila dibandingkan dengan teknologi convensional. Hal ini dikarenakan penggunaan Batu Bara Sintetis tidak memerlukan Teknologi CCT (Carbon Capture Transport) atau CCS (Carbon Capture Storage) yang sangat rumit dan masih mahal. 5) PERAN PEMANGKU KEPENTINGAN. Sumber sumber energi baru dan terbarukan menjadi impian setiap Negara. Penerapan Renewable Energi Obligation Certificate, yang diterapkan di Inggris, mungkin akan diberlakukan dalam perdagangan internasional dimasa mendatang oleh Dunia Internasional. Hal ini untuk mengurangi GHG. Dalam kaitan itu, peran Lembaga Riset dan Perguruan Tinggi dalam penelitian dan pengembangan teknologi Batu Bara Sintetis dan

25

penerapannya , yang terintegrasi dan berkelanjutan, sangat di perlukan. Peran Pemerintah dalam upaya mendorong penggunaan energi alternatif ini sangat penting. Dana riset negara dibidang ini perlu dialokasikan. Kebijakan Pemerintah yang terpadu dan berkesinambungan dari Sektor hulu dan hilir, akan dapat mendorong iklim Investasi dan usaha yang sehat dan berkelanjutan. Penggunaan energi ini untuk memperkuat ekonomi Domestik perluh di prioritaskan. Karena, hal ini dapat memperkuat pertumbuhan perokonomian Domestik. Keyakinan akan kekuatan besar pasar Domestik Indonesia terus perluh dikembang tumbukan. Saat ini Indonesia termasuk kekuatan Ekonomi G20 yang di topang oleh besarnya konsumsi dalam negeri. Salah satu parameter keberhasilan penerapan Teknologi ini adalah, mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap BBM dan pemakaian energi fosil dimasa mendatang. Parameter penting lainnya adalah, Bangsa Indonesia dapat memproduksi sendiri peralatan teknologi ini, dari karya tangan Putra Putri yang mandiri. Penggunaan 5% Batu Bara Sintetis dalam menggantikan peran BBM dan energi fosil di Sektor Kelistrikan Indonesia, akan dapat menggerakan perekonomian Nasional dalam skala besar; dapat menyerap jutaan tenaga kerja langsung; dapat membuka lapangan usaha kecil, menengah dan besar. 6) KESIMPULAN. Potensi penggunaan bahan bakar Batu Bara Sintetis pada Boiler PLTU sebagai subtitusi bahan bakar BBM dan Batu Bara sangat besar. Pengalaman PT. DEN di PLTU Karimun membuktikan teknologi Spreader Stoker Boiler dapat dioperasikan pada beban rendah tanpa memerlukan BBM. Kestabilan pembakaran tanpa BBM diperlukan pada beban rendah , khususnya pada PLTU skala kecil tersebar. Diperlukan strategi, perencanaan, penelitian, rekayasa , produksi dan penerapan dari teknologi Batu Bara Sintetis pada pembakaran tingkat lanjut di Boiler PLTU. Kebijakan dan pengembangan serta

26

penerapan teknologi ini, yang berkesinambungan dan terintegrasi, perlu medapatkan perhatian dari semua Pemangku Kepentingan. 7) DAFTAR PUSTAKA & LAMPIRAN 1) Blue Print Pengolahan Energi Nasional 2006- 2025, Sesuai Perpres : No. 5- 2006. 2) BPS 2012, data Perkebuban dan Kehutanan. 3) BRAD BUECKER 2002, Basic Of Boiler & HRSG Design. 4) IEA (Internasional Energy Agency), 2011- Bioenergi Annual Report. 5) Ayla Uslu 2005, Techno-economic evaluation of torrefaction , fast pyrolysis and pelletisation. 6) WR Livington , Advanced biomass co-firing technologies for coal fired Boilers. 7) Fig 1 - Boiler Bimasakti PLTU Karimun 2x 7 MW. 8) Fig 2 - Boiler Bimasakti PLTU Ende 2x7MW. 9) Fig 3 - Tampak samping PLTU Karimun 2 x 7 MW ( EPC PT.Rekadaya - Boiler PT, DEN). 10) Fig 4 - Pembakaran batu bara pada Speader Stoker Boiler Bimasakti PT. DEN.

27

Fig 1 - Tampak depan Boiler Bimasakti PT. Dinamika Energitama Nusantara (PT.DEN), PLTU 2x7MW Karimun Kepulauan Riau Sumatra.

Fig 2- Tampak Depan Boiler Bimasakti Produksi PT. Dinamika Energitama Nusantara (PT.DEN), PLTU Ende 2x 7

28

MW, Flores NTT. Dalam fase pembangunan.

Fig 3 Tampak samping PLTU 2x 7MW Karimun. PLTU pertama buatan Indonesia dengan local content 70%, ( Boiler PT. DEN, EPC Rekadaya Elektrika).

Fig 4 Pembakaran Batu Bara Konvensional Pada Spreader Stoker Boiler Bimasakti PLTU 2x7MW, Karimun Riau Sumatra. ( Courtesy of PT. Dinamika Energitama Nusantara PT. DEN).

29

KULIAH SESI KEDUA Oleh Kusmayanto Kadiman, Ph.D Mantan Menristek RI

30

31

32

33

34

35

36

37

38

ARSIP PIDATO BUNG KARNO : ILMU TEKNIK HARUS MENGABDI MASYARAKAT ADIL MAKMUR
(Pidato Presiden Soekarno ketika meneriama gelar Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Teknik dari Institut Teknologi Bandung, 13 September 1962) Hari ini bagi saya sebagai manusia dan sebagai alumnus daripada Technische Hoge School dulu, yang kemudian menjelma menjadi Institut Teknologi, adalah hari yang besar. Dan jikalau sekarang saya berdiri dihdapan Saudara-saudara, maka saya berdiri dengan hati yang amat terharu, hati yang penuh pula dengan rasa terimakasih kepadaSenat Institut Teknologi atas kehormatan yang telah dilimpahkan kepada saya dengan penganugrahan gelar Doctor Honoris Causa daripada Institut Teknologi kepada saya. Dengan tegas saya memakai perkataan penganugerahan, sebab beberapa kali saya dengar baik dari Profesor Rooseno, maupun dari Profesor Kosasih, Presiden ITB, perkataan mempersembahkan, mempersembahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada saya. Saya kira perkataan mempersembahkan ini kurang tepat. Lebih tepat perkataan yang sederhana: memberikan kepada saya. Atau palingpaling perkataan menganugerahkan kepada saya gelar Doctor Honoris Causa itu. Sebab sebagai tadi saya katakana, saya berdiri di sini bukan saja sebagai manusia, tetapi juga sebagai alumnus daripada Technische Hoge School dulu, dan sekarang pun saya dijadikan alumnus daipada Institut Teknologi, yang dus Saudara-saudara mahaguru yang ada di sini sebenarnya adalah berkedudukan lebih tinggi daripada saya, malahan tadi saya telah berkata, saya merasa diri saya sebagai seorang anak terhadap kepada bapak Prof. Kosasih, Presiden Institut Teknologi.

39

Tatkala saya tadi meninggalkan lapangan udara menuju ke gedung Gubernuran, kemudian kesini, saya pun amat terharu, oleh karena sebabnya satu hal yang sering terjadi kepada diri saya, saya melihat sambutan daripada rakyat. Saat disambut oleh rakyat dengan cara yang meluap-meluap. Tetapi ini hari mengharukan kepada saya oleh kareana saya melihat bahwa di antara penyambut-penyambut itu sebagai yang amat besar pemuda dan pemudi, murid-murid daripada sekolah rakyat, murid-murid dari sekolah lanjutan, mahasiswa, mahasiswi daripada Universitas-universitas dan Institut Teknologi. Disambutlah saya pada ini hari oleh the rising generation. Disambut oleh the rising generation yang sedang menghirup udara ilmu. Disambut oleh the rising generation yang sedang minum kepada sumber ilmu pengetahuan. Mereka tentunya gembira, bahwa pada hari ini ada seorang putra Indonesia yang dianugerahi gelar ilmu, sebagai tanda kegembiraan bahwa mereka itu menghargai benar akan arti ilmu, bukan saja di dalam hidup mereka sebagi manusia, tetapi juga sebagai warga negara daripada Republik yang mereka cintai. Itulah sebabnya saya tadi tatkala saya lewat jalan-jalan dari lapangan terbang sampai ke sini merasa diri saya terharu. Sebab memang Indonesia tidak akan dapat maju tanpa mempergunakan ilmu pengetahuan. Saya sendiri Saudara-saudara sebagai tadi saya katakana alumnus daripada tempat ini, lama sesudah saya meninggalkan tempat ini, tempat ilmu ini, tidak masuk lagi di dalam balairung-balairung ilmu pengetahuan. Nasib hidup saya sudah keluar daripada balairung ilmu di sini, telah melemparkan saya ke kalangan rakyat jelata. Melemparkan saya ke pasar-pasar yang penuh dengan debu dan kotoran-kotoran. Melemparkan saya ke dalam gubuk-gubuknya orang-orang yang miskin. Melemparkan saya ke dalam kancahnya perjuangan daripada rakyat Indonesia yang menderita. Dan selama saya di dalam kancah itu, saya tak dapat kesempatan untuk amat mendalam menyelami lagi ilmu pengetahuan. Maka oleh karena itu Saudara-saudara sekarang menyebut saya Doctor Honoris Causa Ilmu Teknik, maka saya berharap Saudara-

40

saudara jangan mengira bahwa saya ini adalah seorang ahli imiah teknik, yang mengetahui secara detail, secara njlimet segala sesuatu yang mengenai ilmu daripada teknik itu. Jangan tanya kepada saya bagaimana misalnya perhitungan-perhitungan constructive berekeningen, jangan tanya kepada saya hal kimia dan lain-lain sebagainya. Tidak Saudara-saudara, saya mengakui dengan tegas bahwa saya di dalam hal ilmiah yang sempit itu, adalah sebenarnya tetap seorang stranger. Stranger, yang saya malahan merasa diri saya sebagai kecil sekali. Itulah sebabnya misalnya, misalnya, sebagai dikatakan oleh Prof. Roosseno tadi tatkala saya membuka Biro Insinyur Arsitek, saya ambil kawan Roosseno sebagai kawan saya di dalam Biro Insinyur Arsitek itu, oleh karena saya di dalam Biro Insinyur Arsitek itu hanya dapat mencurahkan idea, cipta, imagination kata Prof Roosseno. Hal perhitungan-perhitungan dan penghitunganpenghitungan calculation, berekeningen, apalagi beton berekeningen, saya serahkan kepada Prof. Roosseno yang memang dari sejak mudanya beliau adalah seorang ahli di dalam hal calculation beton ataupun besi. Tetapi saya gembira bahwa Sdr. Roosseno tadi tatkala mengadakan pidatonya, dengan tegas mengatakan bahwa gelar Doctor Honoris Causa diberikan kepada saya bukan sebenarnya atas dasar keilmiahan itu, meskipun namanya Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Teknik, tetapi sebenarnya sekadar atas dasar idea, imagination, leadership dan lain-lain sebagainya yang saya telah berikan di lapangan pekerjaan teknik di Indonesia ini. Malahan saya dengan amat gembira sekali mendengar Sdr. Roosseno promotor saya mensitir ucapan saya bahwa saya adalah orang yang There is no gap between idea and act. Tidak ada jurang antaracipta dan amal, antara cipta dan penyelenggaraan daripada cipta itu. Jikalau saya terharu pada ini hari Saudara-saudara, maka itu adalah benar-benar satu hal luarbiasa di dalam suasana pemberian gelar Doctor Honoris Causa. Sebab tadi dikatakan pun oleh Sdr. Prof. Roosseno, bahwa saya ini sering mendapat gelar Doctor Honoris

41

Causa. Jelasnya, saya sudah di luar dan di dalam negeri sebelum hari ini 17 kali mendapat gelar Doctor Honoris Causa. Jadi ini hari adalah ke-18 kalinya. Pada saat sekarang ini 18 gelar Doctor Honoris Causa boleh saya kantongi. Mula-mula Saudara-saudara di Yogyakarta, GadjahMada. Kemudian Filipina, Far Eastern University. Kemudian saya piker saja geografis, Moskow, Lomonosov University di Moskow. Malahan pada saat saya mendapat gelar itu bukan saja digelarkan Doctor Honoris Causa daripada Lomonosov Uninversity di Moskow, tetapi diangkat pula sebagai Honorary Professor, Profesor Kehormatan dari Lomonosov University, Moskow. Nomor 4, Warsawa, Duta Besar Polandia ada di sini.Nomor 5, Berlin. Nomor6, Praha. Nomor 7, Budapest. Nomor 8, Beograd. Nomor9, Sofia, Bulgaria. Nomor10, Istambul. Nomor 11, Al Azhar, Kairo. Nomor 12, Rio De Janeiro. Nomor 13, La Paz, Bolivia. Nomor 14, Columbia University, New York. Nomor 15, University of Michigan. Nomor 16, Mac Gil University, Kanada, Monteral. Nomor 17,--poho ayeuna--, poho artinya lupa. (Bukarest-red). Nomor 18, ITB, Bandung. Jadi sebetulnya saya tidak terlalu kaget saudara-saudara, jikalau ini hari saya dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa oleh ITB, tetapi toh tadi saya katakana saya terharu dan saya ucapkan amatamat banyak sekali terima kasih. Pengalaman saya -- saya cerita sebentar tentang hal pemberian Doctor Honoris Causadi 17 universitas-universitas di luar negeri itu, sekarang yang ke-18, adalah berbeda-beda. Di universitas-universitas yang bukan universitas Eropa Barat, upacara pemberian gelar Doctor Honoris Causa itu adalah upacara singkat sekali. Tidak singkat sekali, tetapi lebih singkat daripada upacara ITB. Misalnya di Amerika, di Kanada, di Brazil, di Bolivia, di Uni Sovyet, upacara pemberian Doctor Honoris Causa adalah upacara yang tidak terlalu panjang. Presiden universitas membacakan satu citation29 singkat. Citation, artinya, ya satu citation, ya saudarasaudara mengerti. Nah, Presiden Soekarno adalah berjasa hal ini, ini Berhubung dengan itu maka kami daripada universitas ini

42

memberikan kepadanya gelar Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Masyarakat, Social Science; Ilmu Hukum, Laws; Ilmu Politik, Political Science; ilmu Teknik, Technical Science dan lain-lain sebagainya. Kemudian diberikan gelar itu kepada saya, dan saya ditanya apakah mau mengadakan response, sambutan apa tidak. Pernah, ya saya sambut. Upacara selesai. Di Eropa Barat saudara-saudara, upacara ini panjang. Malah yang paling serem yaitu di Praha, lebih serem dari pada di ITB, ada juga promotornya. Promotor dengan panjang lebar memberi penjelasan apa sebab dipandang perlu memberikan gelar Doctor Honoris Causa, kepada saya, kepada orang yang hendak digelari Doctor Honoris Causa itu. Prof. Roosseno tadi mengatakan, mengadakan satu pidato setengah jam, tetapi universitas praha 50 menit, panjang lebar, maka dengan tiupan-tiupan, yah dari tiupan-tiupan tanda sesuatu pidato akan dimulai etc. etc. kemudian baru saya me-response. Tetapi di Amerika, di Uni Sovyet singkat, diadakan citation, kemudian saya mengadakan response, sudah. Diantara gelar-gelar itu sebagai tadi saya katakan, ada yang Technical Science, ada PoliticalScience, ada yang Law, adayang Philosophy seperti Universitas Al Azhar di Kairo. Dan khusus untuk saudara-saudara baiklah saya beritahu bahwa gelar Doctor Honoris CausaTechnical Science, saya mendapat dari Berlin dan dari Budapest. Nomor tiga adalah ITB Bandung. Nah, saya mau cerita tentang hal Berlin ini, juga tentang hal Budapest. Tatkala saya di-approach, sebelum Berlin, sebelum Budapest. Apakah saya mau digelari Doctor Honoris Causa dalam hal Technical Science, saya terus terang berkata kepada Presiden daripada Unversitas Berlin itu. Sebagai mana saya berkata kepada Presiden ITB, kok hendak menggelari saya Doctor Honoris Causa dalam hal Doctor Honoris Causa Technical Science, ilmu teknik, padahal saya ini dalam hal teknik, ilmu teknik, tidak terlalu out standing. Jangan tanya kepada saya hal dari pada uap, jangan tanya kepada saya teori daripada electricity, jangan tanya kepada saya hal beton berekeningen, yang saya terus kalah dengan Prof. Roosseno, jangan tanya kepada saya hal construction calculation dan lain-lain sebagainya, jangan tanya

43

kepada saya, hal ilmu tumbuh-tumbuhan. Kepada Universitas Berlin mau memberikan kepada saya gelar DoctorHonoris Causa Ilmu Teknik? Jawabnya boleh dikatakan sama yang dikemukakan oleh Prof. Roosseno tadi, juga sama dengan apa yang dikemukakan oleh pembicaraan di Istana Merdeka dikemukakan oleh Prof. Kosasih kepada saya, yaitu terutma sekali dianggap saya pantas diberi gelar DoctorHonoris Causa ilmu teknik oleh karena saya katanya menunjukkan cita yang besar sekali dalam hal teknik, menunjukkan dorongan yang hebat sekali, dan lain-lain sebagainya. Malah Presiden dari Universitas Berlin berkata, kami terutama sekali kagum kepada Presiden Soekarno, sebab Presiden Soekarno telah membuat jembatan yang hebat sekali. Saya bertanya, jembatan apa? Saya tidak pernah membuat jembatan yang hebat sekali. Tetapi kenapa tuan mengatakan bahwa saya membuat jembatan yang hebat sekali ? Presiden Universitas Berlin berkata, Paduka Yang Mulia membuat jembatan yang hebat sekali a bridge between nations. Jembatan yang menghubungkan bangsa-bangsa, jembatan yang membuat bangsa-bangsa dapat bergaul satu sama lain dengan cara yang akrab, jembatan yang demikian ini tidak mudah dibuat, tetapi Tuan telah membuat atau menyumbangkan tenaga Tuan dalam hal yang demikian ini. Dan jembatan yang demikian ini tak dapat sempurna jikalau hanya dilaksanakan dengan cara ideal saja. Jembatan antara bangsa-bangsa hanyalah bisa sempurna jikalau juga diberi technical means kepada manusia-manusia daripada bangsabangsa itu untuk bergaul satu sama lain. Sebab malam sebelumnya saya mengadakan pembicaraan dengan Presiden daripada Universitas Berlin, mengadakan satu pidato yang saya berkata, dan ucapan ini sudah saya pernah ucapkan di lain tempat international relations are in fact a matter of human relations. Hubungan internasional pada hakikatnya adalah hubungan antara manusia dengan manusia. Tidak bisa ada hubungan internasional jikalau misalnya bangsa ini hidup menyendiri di tempat itu, bangsa itu hidup menyendiri di tempat itu dengan tiada

44

sama sekali kontak antara manusia dari bangsa ini dan manusia dari itu. Nah, ini Universitas Berlin berpendapat bahwa saya di sampingnya menganjurkan membuat jembatan, idiil, antara bangsabangsa, the bridge between nations, di sampingnya menganjurkan hubungan idiil antara bangsa-bangsa ini, saya telah menyumbangkan pula untuk penyelenggaraan technical means agar supaya manusia dengan manusia itu bisa lebih kontak satu sama lain. Technical means di lapangan radio, technical means di lapangan sea communications, technical means persuratkabaran, technical means di lapangan-lapangan hubungan riil antara universitas dengan universitas lain-lain dan sebagainya. Maka berhubung dengan itu Universitas Berlin mengatakan bahwa saya adalah salah seorang penyumbang daripada bridge between nations itu, dan saya di anggap pantas diberi gelar Doctor Honoris Causa Ilmu Teknik. Demikian pula universitas Budapest juga menyandarkan dirinya kepada perhitungan atau alam pikiran yang demikian itulah. Dan jikalau sekarang ITB memberikan gelar Doctor Honoris Causa kepada saya dalam ilmu teknik dalam arti sebagai yang dikemukakan oleh Prof. Rosseno itu tadi, empat kesimpulan beliau yang sebagian daripada kesimpulan itu didasarkan atas ini tadi idea, imagination, dorongan dan lain-lain sebagainya, maka saya terima pemberian gelar Doctor Honoris Causa Ilmu Teknik ini dengan rasa terima kasih dan terharu. Saudara-saudara, memang, technical means. Yang dinamakan teknik itu sebetulnya apa saudara-saudara? Yang dinamakan teknik ialah pembuatan alat untuk membuat hidup manusia ini lebih nyaman. Itulah teknik. Jangan mengira bahwa teknik adalah hanya... ya bisa membuat ini saja... lampu yang bersinar ini, padahal lampu yang bersinar ini adalah alat untuk membuat hidup kita nyaman. Jangan mengira bahwa teknik hanyalah . Ya membuat kapal udara, padahal kapal udara pun adalah satu alat untuk membuat hidup manusia ini nyaman. Tetapi tatkala manusia masih hidup di hutan-hutan, dan manusia buat pertama kali mendapatkan pikiran untuk membuat

45

sepotong kayu menjadi pentung, ini sudah teknik. Sepotong kayu yang sederhana ini adalah teknik, oleh karena manusia dengan sepotong kayu yang sederhana ini telah membuat ia punya hidup lebih nyaman. Dia lebih dapat menghadapi binatang-binatang buas. Dia lebih dapat dengan kayu sepotong ini mencari makanan dengan membunuh binatang-binatang yang ia dapat makan. Sepotong kayu ini adalah teknik. Tatkala wanita, wanita, sekali lagi wanita, buat pertama kali mendapat pengetahuan menanam, menanam, menanam bibit padi menjadi pohon yang berbuah; atau menanam biji jagung sehingga menjadi tanaman jagung yang kemudian berbuah, ini adalah ilmu pertanian yang pertama. Ini adalah teknik, teknik pertanian yang pertama-tama diperoleh kaum wanita. Memang di dalam kitab saya Sarinah saya berkata: Penemu ilmu pertanian yang pertama adalah kaum wanita, bukan orang laki. Orang laki pada waktu itu berburu, kataku di dalam kitab Sarinah. Orang laki mengejar binatang buas dan binatang seperti sapi dan kambing di hutan untuk dimakannya. Orang perempuan terutama sekali yang sedang hamil ditinggalkan di bawah pohon atau di dalam gua. Di situ orang perempuan mendapat pengetahuan jikalau benih jagung ia tanam di tanah dengan cara tanah itu digarap lebih dahulu dengan sepotong kayu, jagung ini bisa tumbuh dengan subur dan memberi makan kepada manusia. Teknik. Tatkala wanita buat pertama kali menemukan kepandaian untuk membuat tutup badan, bukan kain tenun yang saya pakai atau yang Saudara-saudara pakai, tidak. Tetapi buat pertama kali ia menyambungkan kulit binatang yang lain dengan membuat lubanglubang yang dengan taring yang tajam dia tusuk di sini, dengan tali yang seperti yang Ibu Gubernur punya di rumah, tetapi tali dengan akar-akaran tanaman, dia jahit bagian ini dengan bagian itu daripada kulit binatang itu sehingga bersambung dua hal ini menjadi satu, dan dengan apa yang dinamakan kain, kain kulit binatang. Pada waktu ia menutupi dia punya badan, menutupi badannya ia punya anak, menutupi tubuhnya ia punya suami; teknik; teknik menjahit. Wanita adalah yang pertama-tama mendapatkan teknik pakaian.

46

Tatkala wanita ditinggalkan oleh orang laki, ke hutan - hutan orang laki itu, dan ia tinggal di gua-gua atau di bawah pohon dan ia ditimpa oleh matahari yang terik atau ditimpa oleh hujan yang lebat, dan ia ingin melindungi ia punya anak daripada dingin dan panas, maka ia menyusun dahan-dahan, kayu-kayu di atasnya. Ditutup dengan daun-daunan sehingga yang kita namakan sekarang ini terjadilah gubuk yang sederhana. Itu adalah teknik. Teknik untuk membuat hidup lebih nyaman. Membuat hidup tidak terancam oleh hujan dan matahari. Wanita lagi yang pertama kali mendapatkan teknik pembuatan rumah. Bahkan dalam kitab Sarinah saya katakan: wanita is de eerste ontdekker van der wet. Dia yang membuat hukum yang pertama, bukan laki. Hukum manusia yang pertama, yaitu hukum yang mengatakan bahwa anak dihitung daripada garis ibu, bukan garis bapak, yang kemudian dinamakan matriarchaal sistem. Hukum ini adalah wanita yang pertama-tama mengadakan. Barangkali ada baiknya saya di dalam uraian saya ini sekarang memberi tribute, hormat kepada kaum wanita, bahwa kaum wanita adalah yang pertama-tama di dalam hidup manusia ini mengadakan atau apply ilmu teknik dan hukum. Saudara-saudara, dus teknik harus diambil di dalam arti yang sempit itu tadi atau arti malahan yang luas sekali, jangan mengira ini saja. Mikrofon ini adalah teknik. Jangan mengira lampu listrik itu saja adalah teknik. Segala alat yang kita adakan untuk membuat hidup kita ini lebih nyaman adalah teknik. Alat, alat untuk apa? Untuk membuat hidup kita lebih nyaman. Bagi kita Republik Indonesia atau, bangsa Indonesia yang sekarang sedang di dalam perjuangan, kita pun mempunyai tujuan yang tertentu, sebagai juga disitir oleh Prof. Roosseno tadi itu. Tujuan kita yang tertentu sebagai bangsa, dus juga sebagai manusia Indonesia adalah membuat hidup kita lebih nyaman daripada sekarang ini dengan cara mengadakan satu masyarakat adil dan makmurdi tanah air Indonesia, satu masyarakat tanpa exploitation de lhomme par lhomme. Mungkin tujuan teknik di negeri lain meskipun an sich maksudnya membuat hidup lebih nyaman, tetapi di dalam kontes-

47

kontes yang lebih besar tidak untuk membuat yang adil dan makmur, malahan teknik di beberapa negara yang hebat sekarang ini adalah nyata-nyata teknik yang tidak menuju kepada masyrakat adil dan makmur. Manusia itu bersejarah berapa tahun sudah? Manusia bersejarah jikalau kita hitung dari zaman Galdea, dari zaman yang lebih dulu daripada zaman Galdea itu sudah sembilan ribu, sepuluh ribu tahun. The written history of men. Sejarah manusia yang sudah dinamakan sejarah sepuluh ribu tahun. Selidiki sepuluh ribu tahun ini saudarasaudara. Berapa daripada sepuluh ribu tahun ini ditempati sejarah yang terutama sekali berpokok dan berpusat ilm pengetahuan, malah khususna ilmu pengetahuan teknik. Saudara tidak akan dapat seribu tahun, saudara ukur? Tidak akan mendapat lima ratus tahun. palingpaling saudara akan mendapat dua ratus tahun. dua ratus tahun yang belakang ini sejak dari pertengahan abad ke-18, sekarang abad ke-20, pertengahan abad ke-20 sekarang ini. Sejak daripada pertengahan abad ke-18, disitulah boleh dikatakan baru timbul ilmu teknik. Ilmu teknik sebagai yang betul-betul kita artikan sebagai alat untuk membuat sesuatu macam masyarakat. Dan saudara lihat, pesatnya sejarah, 200 tahun ini, geraknya sejarah, 200 tahun ini lebih daripada sepuluh ribu tahun yang terdahulu. Daya daripada ilmu teknik saudara-saudara, membuat manusia bergerak. Maka oleh karena itu, lebih dulu saya ulangi, kataku, jikalau kita bangsa Indonesia ingin mengubah masyarakat, dan sudah jelas tujuan kita yaitu masyarakat adil dan makmur, maka bangsa Indonesia harus dapat mempergunakan ilmu teknik. Tetapi sebagai tadi saya katakan, teknik yang menuju kepada satu masyarakat yang adil dan makmur, -- bukan teknik yang menuju masyarakat yang tidak adil dan makmur, bukan teknik yang menuju kepada exploitation de lhomme par lhomme, bukan teknik yang membuat gedung-gedung susun tinggi 100 tingkat tingginya, tetapi yang membuat manusia in de schaduw van die gebouwen hidup sengsara, tidak,-- tetapi manusia yang benar-benar hidup dalam suatu masyarakat yang adil dan makmur, satu masyarakat yang penuh dengan hanya kebahagiaan dan kemajuan saja. Dan teknik yang demikian itu harus kita ciptakan saudara-saudara, sebab sebagai tadi

48

saya katakan, sepuluh ribu tahun sejarah berjalan, 200 tahun kita mengalami satu kepesatan daripada sejarah ini. Tetapi celakanya 200 tahun ini kecepatan langkah sejarah atas ilmu teknik yang tidak menuju kepada masyarakat yang adil dan makmur. Dua ratus tahun teknik terutama sekali yang malahan menuju kepada exploitation de lhomme par lhomme. Dua ratus tahun ilmu uap, tetapi membawa exploitation de lhomme par lhomme. Dua ratus tahun ilmu atom belakangan ini, mengandung bahaya bukan saja exploitation de lhomme par Dus saudara-saudara, kita harus berani mencari, juga di lapangan teknik mencari. Jikalau saudara sudah menetukan lebih dahulu ini tujuan kita masyarakat adil da nmakmur tanpa exploitation de lhommeparlhomme. masyarakat yang kita semuanya hidup bahagia di dalamnya, masyarakat yang cukup sandang cukup pangan kataku, masyarakat yang penuh dengan gedung-gedung indah untuk kepentingan rakyat, masyarakat yang pendek kata yang membuat hidup 100 juta rakyat, 120 juta rakyat, 150 juta rakyat, 200 juta rakyat hidup di dalam kebahagiaaan yang sesempurna-sempurnanya, jikalau Saudara-saudara sudah menentukan inilah tujuan kita, ketahuilah bahwa sebenarnya saudara-saudara tidak bisa mempergunakan teknik yang sudah membawa exploitation de lhomme par lhomme itu. Maka oleh karena itu saya anjurkan seek and reseek, think and rethink. Cari, cari, cipta, cipta, cipta sendiri, juga di dalam ilmu teknik. Di dalam ilmu teknik saya melihat, ada sudah teori-teori using Saudara-saudara, masih toh in den treure30 dipakai, padahal kita ingin membantu dengan cara cepat, ingin membangun dengan secara murah, ingin membangun dengan secara efisien selekas-lekasnya. Mengapa kita mempergunakan metode-metode yang sudah using. Di segala lapangan kita harus think and rethink, berani mencari, berani seek, reseek, berani mencari jalan yang baru. Dan memang revolusi sebagai sudah saya katakana berulang-ulang adalah menggempur, meniadakan, menghilangkan yang tua, yang kuno, membangun barang yang baru. Dan, katakanlah, keuntungannya atau ada juga yang mengatakan celakanya revolusi itu, sebenarnya kita tidak tahu benar bagaimana caranya membangun barang yang baru ini. Kita hanya

49

mempunyai cipta yang remang-remang. Masyarakat yang adil dan makmur, masyrakat tanpa exploitation de lhomme par lhomme masyarakat yang semua manusia kenyang, masyarakat yang semua manusia mempunyai pakaian cukup, masyarakat yang semua manusia mempunyai perumahan. Cipta remang-remang. Tetapi bagaimana, het hoe, kita harus cari sendiri. Het hoe, bagaimananya itu harus kita cari sendiri. Sistem-sitem yang harus kita pakai. Tidak bisa saudara teori kan. Apalagi dengan membuka, hanya membuka saja textbook-textbook, sampai saudara punya kepala botak tidak akan saudara bisa menemukan het hoe itu tadi. Tetapi kita harus cipta sendiri, cari sendiri . This is revolution. Revolution adalah mencari saudara-saudara. Tidak ada revolusi yang sudah ready for use. Tidak, cari sendiri, dan lebih katakanlah celakatetapi tidak celaka, bahagia bagi kita sebetulnya. Tidak ada satu revolusi atau dua revolusi yang sama. Jangan kira revolusi Indonesia itu sama dengan revolusi Sovyet. Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mesir. Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Kuba. Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi RRC. Jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mexico, itu duta besarnya yang duduk disitu. Revolusi adalah milik dan tugas kewajiban dari pada sesuatu bangsa, dan kewajiban dari pada bangsa itu ialah mencari sendiri, jangan menjiplak, oleh karena tidak bisa dijiplak. Kalau saya atau kita menjiplak revolusi Mexico, bubrah(rusak) revolusi kita. Kalau kita Indonesia menjiplak revolusi United Arab Republic, bubrah revolusi kita. Kalau kita menjiplak revolusi Yugoslavia, Duta Besarnya Bebler ada duduk disitu, bubrah revolusi kita. Kalau kita menjiplak revolusi Polandia, bubrah revolusi kita. Kalau kita menjiplak revolusi Uni Sovyet, bubrah revolusi kita. Kalau kita menjiplak revolusi Amerika, 1776 dulu itu bubrah revolusi kita. Tidak, kita harus mencipta sendiri. Dan ini adalah satu hal yang kalau kita menjiplak revolusiAmerika, 1776 dulu itu bubrah

50

revolusi kita. Tidak gampang saudara-saudara. Oleh karena itu, saya selalu mengajukan, dont think a la textbook, cari sendiri. Saya pernah bicara dengan pemimpin-pemimpin besar di dunia ini. Saya pernah bicara dengan Fidel Castro. Saya Tanya kepadanya, he Saudara Castro, atau kadang-kadang .. he Fidel, apa Saudara itu sudah jelas? Political system apa yang Saudara akan jalankan di Kuba? What political system are you going to apply in Cuba? I dont know. And that was a very wise answer. Satu jawaban yang amat bijaksana. I dont know, katanya. Kami sedang mencari. Apakah Saudara akan mengikuti parlementaire democratie, tidak. Sebab nyata perlementaire democratie tidak membawa kebahagiaan. Apa Saudara akan mengadakan political system sebagai di Uni Sovyet? Tidak, di Kuba lain daripada Uni Sovyet. Apa Saudara akan mengadakan satu system facisme, facismus. Tidak. Lantas political system apa yang saudara akan jalankan di kotaKuba ini? Pada saat sekarang ini we still dont know. Tetapi kami mencari, dan kancahnya revolusi inilah kami akan bisa mendapatkan nanti political system apa yang paling cocok bagi Kuba. Dan saya berkata, you are a very wise man. Ini wisdom-nya, kebijaksanaan Fidel adalah ini, bahwa dia tidak tahu political system apa yang harus dipakai, tetapi sedang mencari bersama-sama dengan ia punya rakyat. Dan kita orang Indonesia harus demikian juga saudarasaudara. Saya pernah bicara dengan Ho Chi Minh. Malahan pernah pidato Ho Chi Minh itu di sini. Saya tanya macam-macam hal kepadanya. Apakah saudara bisa memerdekakan Vietnam Utara dengan peperangan, apa saudara memakai di dalam peperangan liberation itu ilmu peperangan sebagai yang kita kenal di dalam kalangan militer literatuur ?. Oo tidak, tidak, sama sekali tidak. Kami mempunyai sendiri, membuat sendiri satu ilmu kemiliteran, yaitu kami mendapatkan bahwa, meskipun di dalam buku-buku kemiliteran, tentang strategi, tentang taktik, tentang peralatan, tentang ini, tentang itu, sudah,

51

dikatakan harus begini, harus begutu, harus mempunyai senjatasenjata yang lengkap, kami telah mendapat di dalam kami punya perjuangan ini, bahwa dengankatakanlah seperti di sinibambu runcing, tetapi dengan organisasi rakyat yang lengkap, kami bisa mengalahkan segala peralatan daripada imperialism itu. Kami sedang mencari, dan kami mencarinya itu in the school of life. The school of life itu yang paling hebat, kata Ho Chi Minh, bukan buku, bukan textbook, the school of life. Political system demikian juga, apa yang sebagai tadi saya katakana juga tentang Castro. Ini Ho Chi Minh, kami mencari, social system, kami sedangmencaridantelahmendapat. Pendek kata semuanyaadalahluardaripada textbook, tetapi hasil daripada pencarian sendiri. Demikian juga saudara-saudara, maka kita kataku, jikalau kita ingin benar-benar menjadi satu bangsa yang besar, yang kuat, yang sejahtera, yang aman, yang tenteram, yang adil, yang makmur, yang di dalamnya tiada exploitation de lhommeparlhomme, kita harus mencari sendiri. Dan di dalam hal mencari ini nomor satu adalah sebagai tadi sayakatakan, cipta, idea. Kalau kita sudah punya cipta itu, kita cari jalan teknik, ilmu untuk menyelengaarakan idea ini. Tidakgampanguntukmembuat idea saudara-saudara, tidakgampanguntukmendapat idea. Sejarah dunia ini sebagai pernah saya katakan penuh dengan namanya, dengan orang-orang yang besar. Sejarah dunia yang 10.000 tahun, apalagi sejarah dunia yang 2.000 tahun belakangan ininee, lebih dari 2.000 tahun, tiga empat ribu tahun yang belakangan ini penuh, nee, tidakpenuh, kadang-kadang berisikan nama-nama orang besar, entah orang besar itu namanya Caesar, entah orang besar itu bernama Hamurabi, entah orang besar itu bernama Lenin, entah orang besar itu bernama Roosevelt, tetapi kadang-kadang sejarah itu illuminated, seperti lampu-lampu cemerlang yang nama-namanya orang besar. Tapi terutama sekali kepada pemuda dan pemudi, saya selalu berkata lebih besar daripada orang besar adalah ide yang hidup di dalam dadanya orang besar itu.Orang besar adalah besar oleh karena idenya besar. Orang besar adalah satu physical figure, cumafisik,

52

badannya mungkin kecil sekali, tetapi bisa dikurung di dalam fisiknya. Tetapi ide yang hidup di dalam dadanya, di dalam otaknya, di dalam ciptaanyna, ide itu tidak bisa di kurung. Ide itu menjalar, ide adalah lebih besar daripada orangnya sendiri. Oleh karena itu kepada pemuda-pemuda mahasiswamahasiswi yang hadir disini, saya selalu tamboereer hal ini, cipta, ide, ide, idea, sekali lagi ide. Ya, orang besar seperti Hamurabi, memang dia orang besar tetapi apa sebab dia besar, antara lain oleh karena ia punya cipta teknik adalah hebat sekali. Baca batu tertulis saudara-saudara di Irak sekarang ini, peninggalan daripada Hamurabi itu, dan saudara akan mengerti, ha, Hamurabi adalah besar. Karena lain yang di tulis itu, Hamurabi dia berkata, -- bahasa Inggrisnya, saya tidak bisa baca bahasa kunonya by the grace of Ahuramadza, I am King of Kings, and I make the rivers flow over the fields. Dengan karunia Ahuramadza saya adalah maharaja diraja, I am King of Kings, and I make the rivers flow over the fields. Dan saya membuat sungai-sungai mengaliri lading-ladang. Nah ini, membuat sungai mengaliri lading-ladang, what is that? TeknikPengairan. Oleh pengairan dari Hamurabi inilah cipta Hamurabi yang diselenggarakan kemudian oleh oramg-orangnya Hamurabi. Tanah airnya menjadi, sebagai tertulis di dalam kitab Injil the land of milk and honey, negeri daripada air susu dan air madu, yang manusianya itu hidup dengan senang. Teknik menjadi alat daripada manusia zaman Hamurabi untuk mengairi dia punya ladang ladang, untuk bisa hidup lebih senang. Pada waktu saya membuka Pekan Listrik di Jakarta, saya berkata juga, kita mempunyai orang sebagai Hamurabi, orang besar, tetapi yang besarnya karena ide, itu Airlangga kataku. Airlangga yang sampai sekarang namanya masih disebut sebut orang. Sampai di Bali orang masih menyebutkan nama Airlangga, Airlangga, Airlangga, malahan nama Airlangga itu dipakai untuk menghiasi Universitas Airlangga di Surabaya. Pernahkah saudara saudara pikirkan apa sebab ia bernama Airlangga, Pelangga Air. Di dalam kitabnya Stutterheim dikatakan,

53

pelangga, pelangga, melangga Air, de watersluper . Ya, de watersluper, Airlangga, Watersluper. Apa sebab ia dinamakan watersluper, apa sebab ia dinamakan pelangga air? Ia adalah mengereh Sungai Brantas. Sungai Brantas yang bukan saja dari zaman sekarang saudara, menjadi headache bagi technician. Sungai Brantas oleh karena bersumber dekat gunung Kelud, dan jangan kira Gunung Kelud itu meletus tahun 1867 meledak sekali, kemudian tahun 1901, meledak sekali, kemudian tahun 1919, meledak sekali, kemudian diadakan terowongan. Tidak ! Gunung Kelud itu sebagai tiap tiap gunung ya sudah beribu ribu tahun selalu periodik meledak, meledak, meledak, meledak, dan membikin sungai Brantas itu headache bagi orang orang yang memerintah daerah itu. Tetapi Airlangga pada waktu itu, seperti Hamurabi, mengendalikan sungai Brantas ini. Dan bukan saja mengendalikan sungai Brantas, tetapi ia membuat air sungai Brantas flow over the fields. Mau melihat detail daripada ini, bacalah Nagarakretagama. Di dalam Nagarakretagama ditulis bagaimana makmurnya tanah di daerah kanan kiri sungai Brantas itu, ijo royo-royo kadiya penganten anyar, penuh dengan padi-padi yang masih muda remaja. Tekniknya Airlangga, ciptanya Airlangga, membuat nama Airlangga itu tercantum dalam letter emas, aksara emas, di dalam sejarah bangsa Indonesia. Maka oleh karena itu sekali lagi he pemuda-pemuda pemudi pemudi mahasiswa-mahasiswi daripada ITB ini, nomor satu belajarlah mencipta, nomor satu belajarlah memikir, mencari, mencari, mencari, mencari. Taruh tujuan dengan jelas dan terang dan dimuka pandangan mata saudara-saudara, tujuannya, masyarakat adil dan makmur, dan cari bagaimana caranya. Saya datang di laboratorium of research di Lisabon. Ya saudara Rooseno juga pernah kesana. Saya dulu tatkala di gedung ini dapat kuliah Prof. De Vos. Kalau membuat dam itu harus harus begini katanya, dia menggambarkan, mengajarkan kepada saya bagaimana membuat dam.

54

Saya datag di Lisabon melihat apa yang dicoba disitu, apa yang dicari di situ, dan apa yang didapat di situ di dalam research laboratorium di Lisabon itu, wah apa yang diajarkan oleh Prof. De Vos kepada saya di gedung ini, sama sekali tidak terpakai lagi. Saya di laboratorium di Lisabon itu melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa cara yang paling murah, paling kuat untuk membuat dam, dam yang besar adalah bentuk periuk, seperti periuk, gebogen. Bukan saja gebogen twee dimensional,31 tetapi gebogen juga tiga dimensional, paling tipis damnya tetapi paling kuat. Ingat pada telur kecil, kulitnya tipis, coba saudara pijat telur ini dengan jari-jari saudara, kalau saudara bisa memecahkan telur itu, saudara orang kuat. Padahal kulit telur itu adalah tipis, apa sebab, oleh karana bentuknya begitu. Nah, dam tipis tetapi kuat adalah sebagai yang saya lihat di dalam national research center di Lisabon itu. Kalau kita mambuat dam yang demikian, kita bisa membuat dam yang kuat dengan harga yang murah. Malahan kita punya tujuan ialah membuat satu masyarakat adil dan makmur dengan mengeluarkan biaya yang sedikit-dikitnya. Baiklah kita ambil hal ini. Saya dulu tatkala di sini di bawah pimpinan Prof?beton atau gewapend beton -- .. Harman, Prof. Harman dengan demikian disambung oleh Ir. Plantema. Dikatakan bahwa beton kalau membuat balok dari beton itu jangan lebih dari 20 meter, sebab beton itu kalau kena panas melar, kena angin mengkerut; melar; mengkerut, kalau lebih daripada 20 meter panjangnya balok beton itu pecah. Saya melihat di luar negeri lebih panjang daripada 20 meter, dan saya pikir, apakah benar di Indonesia harus balok beton itu hanya 20 meter. Indonesias tempratuur wisselingen, naik turunnya suhu, paling banyak 5 derajat. Suhu malam, suhu siang, suhu musim bedhidhing dingin. Dengan suhu musim panas, paling banyak 5 derajat. Oo kalau saya saudara-saudara terus terang saja kepada semua Beton specialisten yang ada di sini, saya berani membuat balok beton yang panjangnya 80 meter, 100 meter, tanpa dilatatie voeg, tanpa itu, apa itu, apa namanya dilatatie voeg? Sambungan dulu. Apa sebab, oleh karena di sini ini perbedaan suhu hanya 5 derajat. Ya kalau di

55

Uni Soviet atau di Jerman, musim winter kadang-kadang , 30 derajat di bawah nol, musim panas 30, 40 derajat di bawah nol, nah itu bedanya berapa? 60 derajat, 70 derajat, sehingga saya melihat sendiri di Berlin ada jalan yang terbuat dari beton meledak sama sekali, oleh karena tempertuurswisseling amat besar. Nah, kita ada textbook, textbook, ikut saja ya dalam textbook ditulis tidak boleh dari 20 meter, dus kita juga 20 meter. Ini kita tidak mempunyai cipta kalau kita berfikir demikian. Saya minta seluruh teknis Indonesia mempunyai cipta, cipta yang riil, cipta yang menuju kepada apa yang kita taruhkan di dalam kita punya cita-cita. Di samping cipta Saudara-saudara, kita harus ada, sebagai saya tempo hari saya ucapkan di hadapan para atlet Indonesia, dedication of life. Kita hidup ini buat apa? He engkau juga, kaum teknisi, Hidup ini buat apa? Apakah hanya untuk nanti kerja jadi ingenieur dan dapat gaji? Tidak? Saya minta kepada segenap pemuda-pemudi Indonesia, kepada segenap rakyat Indonesia, kepada semua pemimpin Indonesia, supaya mempunyai dedication of life. Dedicate kita punya hidup ini untuk suatu cita-cita yang tinggi dan dedication of life kita yang tertinggi ialah membuat Indonesia ini gemah ripah loh jinawi , membuat Indonesia satu tanah air yang besar, membuat Indonesia ini satu negara yang kuat, membuat masyarakat Indonesia ini satu masyarakat yang adil dan makmur, dan kita harus dedicate kita punya hidup kepada cita-cita ini Saya tanya he Prof. Mustopo, apa profesor punya dedication of life, apa cuma, ya saya , dedication of life ialah oleh karena Tidak, toh, tidak. Ya, saya Tanya kepada Prof. Johannes, apa Saudara punya dedication of life , toh tidak cuma sekedar, ya, saya mau ingenieuringenieur-an. Tidak! Tadi pagi saya sedang menginspirasi kepada Pak Suprajogi, duduk di sana itu. Pak Suprajogi katanya, mau mengadakan jalan dari Sabang sampai ke Merauke. Bagus, kataku, bagus sekali, tetapi jalan dari Sabang ke Merauke itu satu kali naik auto di Sabang

56

teruuuus sampai Marauke jangan turun-turun kataku, dengan tunnel, dengan segala macam alat-alat alat teknik yang modern. Ini, oleh karena saudara Suprajogi punya dedication of life untuk membuat Indonesia ini besar dan kuat dan makmur, maka saudara Suprajogi sebagai menteri Produksi mempunyai cipta untuk mengadakan jalan dari Sabang sampai ke Marauke. Engkau he pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, punyai pulalah dedication of life. Saya tatkala bicara terhadap para atlet Indonesia, dengan yah, oleh karena mereka menganggap Bapak kepada saya, saya berkata, kalau saya ini meskipun dulu anak miskin, dulu anak yang kipu, kataku, kipu itu yaitu ngesot di debu. Dulu, tidak sebagai kamu orang dari kecil-kecil sudahmempunyai sepatu, sudahmempunyai pakaian lengkap, tetapi anak seperti saya ini dulu kipu si dalam debu, betulbetul kipu,main-main di debu, di pasir dengan tiada sepatu, dan tiada pakaian. Kalau saya anak dulu demikian, kemudian menjadi mahasiswa di Bandung pun belajar di sekolah ini dengan cara yang amat sederhana dan miskin sekali,yang sering aku belajar tidak di bawah sinar lampu listrik, tetapi tidur di bale-bale. Jikalau saya kemudian toh oleh hidup, by the course of life, saya ini sekarang menjadi Presiden Republik Indonesia mengepalai negara yang 100 juta manusia., bahkan diangkat ITB menjadi Doctor Honoris Causa dalam ilmu Teknik, apa sebabnya? Bukan kok saya ini orang yang mempunyai otak yang lebih cemerlang daripada orang-orang lain. Itu tidak. Tetapi saya mengakui dengan terus terang, akan menganjurkan kepada semua pemuda dan pemudi saya mempunyai dedication of life. Saya dedicate hidup saya ini kepada tanah air dan bangsa. Dedicate hidup saya ini pada kebesaran Indonesia. Malahan pernah saya katakan, bahwa saya ini seperti obsessed, dikeranjingi oleh paham kapal Indonesia. Di Jambi saya berkata, segala hal bagi saya mempunyai bentuk dan suara Indonesia. Kalau saya melihat awan berarak di angkasa yang biru, ini adalah awan Indonesia. Kalau saya di tepi pantai selatan sini mendengarkan lautan bergelora membanting di pantai selatan itu ,

57

saya dengarkan lagu Indonesia. Jikalau saya melihat gunung-gunung biru yang mengelilingi kota Bandung ini, ini adalah Indonesia. Jikalau saya melihat wajah mukanya pemuda dan pemudi di pinggir jalan tadi, yang dengan berseri-seri berteriaklah merdeka, merdeka, saya melihat mata Indonesia. Pendek kata Indonesia bagiku adalah satu totaliteit, satu totalitas, dan saya dedicate saya punya hidup untuk itu, untuk benarbenar Indonesia ini menjadi satu hal yang besar, yang makmur, yang bersejarah sampai ke akhir zaman. Nah, oleh karena saya memiliki dedication of life yang demikian itulah, he pemuda dan pemudi, maka meskipun dulu saya kipu di debu, meskipun dulu pernah ada orang menyatakan, bahwa saya ini adalah anak yang tiada harganya sama sekali, a good for nothing boy, bahasa Inggrisnya sekarang.meskipun dulu saya adalah a good for nothing boy, tetapi oleh karena saya mempunyai dedication of life akhirnya Saudara-saudara, yah boleh saya katakan, bahwa I have accomplished something di dunia ini, bahwa saya telah menyelenggarakan sesuatu kecil atau besar terserah kepda sejarah di dunia ini, dan terutama sekali di Indonesia ini. Nah, inilah yang saya minta kepada semua mahasiswamahasiswa ITB, kepada semua mahasiswa-mahasiswa daripada semua universitas-universitas, kepada semua pemuda-pemudi Indonesia agar supaya semuanya memiliki dedication of life, mempunyai cipta yang setinggi-tingginya. Di dalam kitab sejarah Saudara-saudara, ada pernah tertulis bahwa cipta yang tadi saya katakan, yang tidak mempunyai batas itu, cipta, ideas can break prison walls. Memecahkan tembok-temboknya penjara. Nah ini, Saudara-saudara semua supaya mempunyai ideas that break prison walls. Idea yang besar, cipta besar, dengan dedication of life. Dan kita menyelenggarakan di atas dasar dedication of life dan cipta itu, ilmu teknik yang cocok dengan tujuan kita. Think and rethink, seek dan reseek, cipta, cipta, cita, cita secara baru, agar yang menjadi amanat penderitaan rakyat, amanat yang diberikan kepada kita, amanat yang akan kuteruskan kepadamu, he pemuda dan pemudi, amanat yang aku teruskan kepadamu, he mahasiswa dan mahasiswi

58

daripada ITB dan daripada Selenggarakan. Sekian. Terima kasih.

semua

universitas-universitas.

59

Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi diselenggarakan sebanyak empat kali untuk agenda perkuliahan pada tahun 2012 ini, dengan mengusung tematema penting perihal membangun kemandirian teknologi nasional pada bidang-bidang tertentu. Tema-tema Kuliah Bung Karno untuk Kebangsaan dan Teknologi tersebut dikemas kedalam bagian-bagian sebagai berikut: Bagian I : Membangun Kemandirian Teknologi Energi. Tempat dan waktu penyelenggaraan: Kampus ITS (Surabaya), pada tanggal 31 Maret dan 1 April 2012. Bagian II : Membangun Kemandirian Teknologi Transportasi. Tempat dan waktu penyelenggaraan: Perpustakaan Proklamator Bung Karno (Blitar), pada bulan Juni 2012. Bagian III : Membangun Kemandirian Teknologi Komunikasi. Tempat dan waktu penyelenggaraan: Kampus ITS (Surabaya), pada bulan Agustus 2012. Bagian IV : Membangun Kemandirian Teknologi Pertanian. Tempat dan waktu penyelenggaraan:

Kampus UB (Malang),
2012.

pada bulan Nopember