Anda di halaman 1dari 39

Kata Pengantar

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat, rahmat, dan petunjuk-Nya jua lah penulis bisa menyelesaikan Laporan Studi Pengembangan Daerah Rawa Non Pasang Surut di Kalimantan Selatan, yang merupakan bagian dari Tugas Mata Kuliah Reklamasi Rawa, HSKB 817. Laporan ini dibuat untuk sedikit memberikan gambaran potensi yang terdapat pada daerah-daerah Rawa di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), khususnya Daerah Rawa Non Pasang Surut (Lebak), dan pengembangannya yang sudah dilakukan oleh Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah/Kota. Laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis memohon maaf dan mengharapkan saran/kritik yang membangun dari berbagai pihak. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang sudah meluangkan waktunya untuk membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan laporan ini. Akhir kata, Semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Banjarmasin, 21 Mei 2011

Mawardi

Bab I Pendahuluan

Rawa Menurut PP RI No. 27 Tahun 1991, Pasal 1, Ayat 1, Rawa adalah lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara phisik, kimiawi, dan biologis. Dalam PP ini termasuk Rawa adalah: a.) Rawa Pantai, yaitu rawa yang terletak di pantai atau dekat pantai, di muara atau dekat muara sungai sehingga dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. b.) Rawa Pedalaman, yaitu rawa yang letaknya sedemikian jauh jaraknya dari pantai sehingga tidak dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Adapun ciri-ciri khas Rawa adalah: Ciri phisik, terutama keadaan tanahnya cekung; Ciri kimiawi, terutama derajat keasaman airnya pada umumnya rendah; Ciri biologis, terutama terdapat ikan-ikan rawa, tumbuhan rawa, dan hutan rawa. (Penjelasan PP RI No. 27 Tahun 1991, Pasal 1, Ayat 1).

Rawa Lebak Rawa Lebak atau disebut Rawa Non Pasang Surut, pada umumnya merupakan lahan dengan keadaan topografi rendah dan berbentuk cekungan. Akibat air hujan, maka daerah tersebut tergenang air (karena daerah cekungan dan karena drainase yang tidak baik). Di musim kering, berangsur-angsur air rawa tersebut menjadi kering dan terkadang kering sama sekali dalam waktu relatif singkat (1-2 bulan). Pada daerah-daerah di dekat sungai, air yang menggenangi berasal dari luapan air sungai sekitarnya. Namun ada pula daerah rawa yang sudah digenangi air hujan sebelum ditambah oleh limpahan air sungai ke daerah tersebut. Berdasarkan tinggi rendahnya genangan maka Daerah Rawa Non Pasang Surut dipilah dalam 3 klasifikasi zone, yaitu: a.) Zone dimana ketinggian topografi relatif cukup tinggi sehingga jangka waktu genangan airnya relatif pendek. Zone ini disebut Lebak Pematang. Zone ini dapat dikembangkan sebagai lahan pemukiman, perladangan atau lainnya, b.) Zone dengan ketinggian topografi terendah sehingga jangka waktu tergenangnya air relatif sangat lama atau terus menerus. Zone ini disebut Lebak Dalam. Pemanfaatannya diarahkan sebagai tempat penampungan air permukaan, atau sebagai waduk penampungan air yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. c.) Zone yang berada di antara lebak pematang dan lebak dalam. Zone ini disebut Lebak Tengah. Pada zone ini dapat dilakukan budidaya pertanian. (Reklamasi Rawa, Ir. Robertus Chandrawidjaja, M.S., 2010).

Provinsi Kalimantan Selatan

Provinsi Kalimantan Selatan secara geografis terletak di antara 114 19 13 116 33 28 Bujur Timur dan 1 21 49 4 10 14 Lintang Selatan. Secara administratif, Provinsi Kalimantan Selatan terletak di bagian selatan Pulau Kalimantan dengan luas wilayah hanya 6,98% dari luas Pulau Kalimantan. Batas-batas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan adalah sebagai berikut: a.) Sebelah Barat dengan Provinsi Kalimantan Tengah. b.) Sebelah Timur dengan Selat Makasar. c.) Sebelah Utara dengan Provinsi Kalimantan Timur. d.) Sebelah Selatan dengan Laut Jawa. (Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Selatan).

Secara administratif wilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan kota Banjarmasin sebagai ibukotanya, meliputi 11 kabupaten dan 2 kota kabupaten terbaru, yaitu Kabupaten Tanah Bumbu (pecahan Kabupaten Kotabaru) dan Kabupaten Balangan (pecahan Kabupaten Hulu Sungai Utara). Persentase luas tertinggi adalah Kabupaten Kotabaru (25,11%) dan Kabupaten Tanah Bumbu (13,50%). Persentase luas terendah adalah Kota Banjarmasin (0,19%) dan Kota Banjarbaru (0,98%) (Kalsel dalam Angka 2009). Luas wilayah menurut Kabupaten/Kota pada Tahun 2008 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel Formasi Geologi Provinsi Kalimantan Selatan

Bentuk geologi wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berupa Aluvium Muda dan formasi Berai (Kalsel dalam Angka 2009).

Kemiringan tanah dengan 4 kelas klasifikasi menunjukkan bahwa sebesar 43,31% wilayah Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2%. Rincian luas menurut kemiringan adalah sebagai berikut: a.) 0-2% b.) >2-15% c.) >15-40% d.) >40% : 1 625 384 Ha (43,31%). : 1 182 346 Ha (31,50%). : 714 127 Ha (19,02%). : 231 195 Ha (6,16%)

(Kalsel dalam Angka 2009). Luas wilayah menurut Kelas Lereng/Kemiringan tiap Kabupaten/Kota (Ha) pada Tahun 2008 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Adapun luas wilayah Kalimantan Selatan menurut kelas ketinggian yang dibagi menjadi 6 kelas ketinggian menunjukkan wilayah Kalimantan Selatan sebagian besar berada pada kelas ketinggian >25-100 m di atas permukaan laut yakni 31,09% (Kalsel dalam Angka 2009). Luas wilayah menurut Kelas Ketinggian dari Permukaan Laut tiap Kabupaten/Kota (Ha) pada Tahun 2008 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Sedangkan luas wilayah menurut Jenis Penggunaan Tanah tiap Kabupaten/Kota (Ha) pada Tahun 2008 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Wilayah Kalimantan Selatan juga banyak dialiri sungai-sungai, antara lain Sungai Barito, Sungai Riam Kanan, Sungai Riam Kiwa, Sungai Balangan, Sungai Batang Alai, Sungai Amandit, Sungai Tapin, Sungai Kintap, Sungai Batulicin, Sungai Sampanahan dan sebagainya. Umumnya sungai-sungai tersebut berpangkal pada Pegunungan Meratus dan bermuara di Laut Jawa dan selat Makasar (Kalsel dalam Angka 2009).

Banyaknya sungai-sungai penting tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Bab II Hasil Studi

Potensi dan Pengembangan Daerah Rawa Kalsel

Menurut sambutan tertulis Gubernur Kalsel, H. Rudy Ariffin yang dibacakan Muhammad Arsyadi M.E. pada Seminar Nasional Tenik

Pengembangan Sumber Daya Rawa, di Hotel Arum Banjarmasin, Senin (4/8/2008), potensi Rawa yang ada di daerah ini mencapai 235.677 hektare, yang terdiri dari luas lahan Daerah Rawa (DR) 3.000 hektare yang mencapai 96.973 Ha wewenang Pemerintah Pusat. Sedangkan kewenangan Daerah Rawa yang menjadi wewenang provinsi antara 1.000 hektare sampai 3.000 hektare, yakni seluas 79.336 hektare, dan bagi luas Daerah Rawa yang kurang mencapai 165.067 hektare, menjadi wewenang Pemerintah Kota.

Apalagi wilayah Kalsel yang mencapai 37.530.052 hektare berdasarkan kondisi elevasi adalah kemiringan 0 persen sampai 2 persen, dengan luas 1.625.384 hektare merupakan dataran yang sangat datar. Jadi, boleh dikatakan daerah rawa identik Daerah Rawa dan luasnya mencapai 43,05 persen luas Kalsel, dan daerah rawa tersebut sebagian besar berada di Wilayah Sungai Barito atau berada sebelah Barat Provinsi Kalsel (Kalimantan Post edisi Selasa, 5 Agustus 2008).

Menurut Prof. Dr. H. Rasmadi, luas Rawa di Indonesia mencapai 33 (33.393.570) juta hektare, bahkan mencapai 39 juta hektare dengan (39.424.500) hektare, terdiri 835.200 hektare lahan Rawa Pasang Surut dan 479.670 hektare lahan Rawa Non Pasang Surut.

Reklamasi lahan Rawa di Kalsel telah mencapai 189.278 hektare, terdiri 89.036 hektare untuk lahan Rawa Pasang Surut, serta 100.242 hektare untuk lahan Rawa Non Pasang Surut (Kalimantan Post edisi Selasa, 5 Agustus 2008).

Sumber: http://www.pu.go.id/satminkal/dit_sda/PETA/data/rawa%20kalsel.asp

Keragaan Tanaman Pangan dan Sayuran di Lahan Lebak Kalsel Tanaman Palawija (Jagung, Ubi, dan Kacang-kacangan), Sayuran (Labu, Cabe, dan Terung) dan tanaman Buah (Semangka) merupakan komoditas utama di lahan Rawa Lebak Dangkal sedangkan padi merupakan komoditas utama di lahan Rawa Lebak Tengahan. Sesuai sifat lahannya, maka komoditas Palawija, Sayuran, Buah-buahan dan Padi lebih banyak diusahakan pada musim Kemarau. Penataan Sistem Surjan di lahan Rawa Lebak Dangkal memberikan peluang peningkatan intensitas tanam lebih dari 100% melalui penerapan pola tanam Palawija dan Sayuran di atas lahan Guludan dan pola Padi, Palawija dan Sayuran di lahan Tabukan atau Sawah. Namun demikian, peningkatan intensitas tanam dan pola tanam yang optimal di lahan Rawa Lebak harus didukung dengan teknologi produksi yang mampu mengatasi masalah utama lahan Lebak, yaitu tingkat kesuburan yang rendah, kondisi lingkungan yang beragam dengan fluktuasi genangan dan kualitas air dan kekeringan. Aplikasi berbagai teknologi ameliorasi dan penggunaan varietas unggul adaptif, berbagai jenis tanaman Palawija, Sayuran, dan tanaman Padi dapat berproduksi dengan baik. Kegiatan keragaan tanaman Padi, Palawija, dan Sayuran dilakukan secara terpisah. Tanaman Padi dan Palawija serta Sayuran berlokasi di Banjarbaru pada hamparan lahan Dangkal dengan Sistem Surjan tahun 2006, tanaman Palawija dan Sayuran di Balangan pada lahan Lebak Dangkal tahun 2006. Paket teknologi dan input yang diberikan pada untuk tanaman Palawija meliputi: Kapur (dolomit) 1 t/ha, pupuk kandang untuk Kedelai, Kacang Tanah,

dan Kacang Hijau masing-masing 1,5 t/a. Varietas unggul Palawija Kedelai: Lawit dan Manyapa; Kacang Tanah: Jerapah untuk Banjarbaru dan Jerapah untuk Balangan; dan Kacang Hijau: Betet dan Kenari). Penataan lahan (Surjan Lebar 3m, tinggi 60 cm, panjang 40 m). Paket teknologi dan input yang diberikan untuk tanaman Sayuran meliputi: Kapur (dolomit) 1 t/ha, pupuk kandang 2,5 t/ha. Varietas unggul Sayuran di lahan Lebak (Tomat: Permata; Terong: Mustang; Mentimun: Hercules; Cabai Besar: Hot Chili). Paket teknologi dan input yang diberikan untuk tanaman Padi meliputi: Varietas Padi Adaptif di lahan Lebak (Margasari, Cihereng, Mendawak, Lambur, Punggur, dan Banyu Asin). Hasil panen Palawija (Kacang Tanah 1,7 t/ha; Kedelai 1,15-1,25 t/ha, dan Kacang Hijau 1,2-1,4 t/ha), Sayuran (Tomat 29,84 t/ha; Terong 25,08 t/ha; Mentimun 12,03 t/ha, dan Melon 34,9 t/ha), sedangkan Padi dari berbagai varietas yang ditanam mencapai 3,0-5,0 t/ha untuk lokasi Banjarbaru, sedangkan lokasi Balangan hasil panen Palawija (Kacang Tanah 3,99 t/ha) dan Sayuran (Kacang Panjang 1,55-2,55 t/ha; Tomat 1,77 t/ha; Terong 6,6-12,44 t/ha, dan Cabai Besar 0,40-1,44 t/ha). (http://jatim.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=artic le&id=250&Itemid=117)

Padi di Lahan Lebak Lebih dari 90.000 hektare (ha) areal Pertanian Rawa Lebak di sejumlah Wilayah Kalimantan Selatan bisa ditanami seiring datangnya musim Kemarau. Tahun sebelumnya, 38.000 ha lahan itu gagal tanam akibat banjir. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalimantan Selatan (Kalsel) Yohanes Sriyono, Kamis (16/6/2011), di Banjarmasin mengatakan lahan Rawa Lebak tersebut berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Hulu Sungai Selatan. Menurutnya, para petani di dua Kabupaten tersebut saat ini tengah melakukan persiapan tanam di lahan Rawa Lebak. Dengan bisa ditanaminya lahan tersebut, produksi pangan Kalsel diperkirakan meningkat setelah sempat anjlok. Sepanjang 2010, seluas 38.000 ha dari 90.000 ha sawah di lahan Rawa Lebak tidak dapat ditanami karena banjir. Gagal tanam juga terjadi di sejumlah wilayah lain akibat pengaruh anomali iklim. Produksi Padi Kalsel sepanjang tahun lalu hanya 1,940 juta ton Gabah Kering Giling dari target yang ditetapkan pemerintah daerah 2,1 juta ton. Sementara itu, pada tahun ini hingga Juni produksi sudah mencapai 560.000 ton gkg atau 27% dari target dengan areal tanam yang dipanen seluas kurang lebih 130.000 ha. (http://www.mediaindonesia.com/read/2011/06/16/234657/127/101/Kemarau-90Ribu-Hektare-Lahan-Rawa-Lebak-Kalsel-Siap-Ditanami) Selama 2011, ternyata tak lepas dari Padi puso. Luas puso yang terjadi akibat banjir Januari-Mei mencapai 822 hektar dari 6.044 hektar lahan yang tergenang di delapan Kabupaten. Luasan puso tertinggi berada di Kabupaten Banjar seluas 708 hektar, Barito Kuala 113 hektar, dan Tanah Laut 1 hektar.

Sementara itu sejumlah daerah, terutama di Banua Enam telah panen. Produksi Padi di Kalsel sejak Januari-April mencapai 560.000 ton Gabah Kering Giling atau 27 persen dari total produksi tahun 2010. Luas lahan yang telah dipanen mencapai 130.000 hektar. (http://regional.kompas.com/read/2011/06/09/18590581/Petani.Rawa.Lebak.Bers iap.Tanam.Padi)

Jagung di Lahan Lebak Sekitar 9 juta ha lahan Rawa di Indonesia berpotensi untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian dan berpeluang menjadi sumber pertumbuhan baru bagi komoditas Jagung. Pengembangan sistem usaha tani dan agribisnis Jagung di lahan Rawa menunjukkan perspektif yang baik karena beberapa keunggulan yang dimiliki lahan Rawa. Namun tingkat produktivitas Jagung di lahan Rawa masih tergolong rendah dengan keberagaman yang cukup tinggi berkisar 3,5-5,5 t/ha, dibandingkan target yang diharapkan 6,5 t/ha. Beberapa kendala antara lain sifat atau watak tanah dan air dengan kunci utama adalah pengelolaan air dan pembenahan tanah. Oleh karena itu, dukungan teknologi budidaya dan pengelolaan tanah, air, dan hara dalam pengembangan Jagung di lahan Rawa sangat diperlukan meliputi penyiapan lahan dan olah tanah, perbenihan, penggunaan varietas unggul, ameliorasi dan pemupukan, pemberian Mulsa dan bahan organik.

Hasil studi Balittra memperlihatkan bahwa keragaan agribisnis Jagung di lahan Rawa masih lemah dalam penyediaan sarana produksi (benih, pupuk), share pendapatan yang diterima Petani masih kecil dibandingkan pedagang, serapan pasar terhadap produksi belum berkembang atau merata meskipun peluangnya cukup besar, sehingga memerlukan upaya perluasan dan distribusi. Dalam meningkatkan sistem budidaya dan sistem agribisnis Jagung di lahan Rawa diperlukan langkah-langkah antara lain: a.) perubahan orientasi produksi dari usaha tani Jagung (panen muda) ke usaha tani Jagung panen pipilan kering, b.) pemanfaatan dan pengembangan teknologi budidaya yang spesifik lokasi, dan c.) dukungan kelembagaan yang efesien dan efektif.

Pertanaman Jagung di lahan Rawa Lebak biasanya dilakukan pada musim Kemarau, namun produktivitas umumnya masih rendah karena selain disebabkan Petani masih menggunakan varietas lokal yang berdaya hasil rendah, juga karena tanaman mengalami masa kekurangan air mulai pada fase pembungaan hingga fase pengisian/pembentukan biji. Kekurangan air tersebut terjadi sebagai akibat dari menurunnya muka air tanah yang juga berpengaruh besar terhadap penurunan lengas tanah. Salah satu upaya untuk dapat mempertahankan lengas tanah agar sesuai bagi pertumbuhan tanaman Jagung adalah dengan mempertahankan tinggi muka air tanah. Upaya ini dapat dilakukan dengan membuat Dam-Dam Parit yang

bertujuan agar laju drainasi tanah dan penurunan Muka Air Tanah dapat dipertahankan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya mempertahankan muka air tanah di lahan Rawa Lebak tidak dapat dilakukan secara permanen, namun

adanya Dam Parit dengan tinggi 20 cm dapat memperlambat penurunan muka air tanah dan lengas tanah. Dengan kondisi demikian ketersediaan air pada

tanaman dapat dipenuhi dan pertumbuhan tanaman yang ditandai dengan tinggi tanaman lebih baik dan jumlah tongkol lebih banyak dibanding pada perlakuan Dam Parit dengan kedalam -40 cm dan perlakuan tanpa Dam Parit. Penurunan lengas tanah tercepat dihasilkan pada perlakuan tanpa Dam Parit dan akibatnya tanaman tumbuh lebih pendek dan kurus. (http://balittra.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=sectio n&layout=blog&id=1&Itemid=127&limitstart=6)

Kedelai di Lahan Lebak Pengkajian Sistem Usaha Tani (SUT) Kedelai di lahan Lebak bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi SUT Kedelai spesifik lokasi yang menguntungkan dan meningkatkan pendapatan Petani. Pengkajian telah dilaksanakan di Desa Siang Gantung, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan pada MK. 1998. Pengkajian di lakukan di lahan Petani (on farm research) pada satu hamparan dengan luas 25 Ha di Sentra Pengembangan Kedelai. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa

keberhasilan usaha tani Kedelai di lahan Lebak sangat tergantung keadaan iklim

yaitu curah hujan yang dapat mengakibatkan pertanaman kekeringan atau kebanjiran, keduanya dapat mengakibatkan rendahnya produksi atau bahkan gagal panen. Hasil Kedelai dalam pengkajian Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian ini belum memberikan hasil yang optimal, karena curah hujan yang terlalu tinggi sehingga pertumbuhan dan produksi Kedelai sangat beragam. Adanya genangan air di lahan usaha tani pada saat menjelang pengisian dan pembentukan polong menyebabkan sebagian pertanaman tidak menghasilkan. Keragaan agronomis tanaman menunjukkan tinggi berkisar 36-74 cm, jumlah polong 25-60 per tanaman, hasil biji Kedelai 0,70-1,44 ton/ha dengan ratarata 0,91 ton/ha. Hasil analisa usaha tani Kedelai dengan hasil 0,91 t/ha memberikan keuntungan pada Petani sebesar Rp 1.643.750 dengan ratio R/C = 2,25. (Pengkajian Sistem Usahatani Kedelai Di Lahan Lebak Kalimantan Selatan, Aidi Noor, Rina Dirgahayu Ningsih, dan Murwati, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, 2004). Pada Tahun 2008, Dinas Pertanian Kalimantan Selatan pernah menyiapkan lahan seluas 3.800 hektar di tiga Kabupaten yang siap ditanami kedelai untuk mendukung kebutuhan Kedelai Daerah. Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kalsel Sriyono, Senin (18/8/2008) mengungkapkan, lahan tanaman Kedelai tersebut merupakan program Pemerintah Pusat untuk mengatasi kelangkaan Kedelai Nasional. Target produksi tersebut meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya sekitar 2.000 hektar per tahun, itu pun terus mengalami penurunan karena Petani enggan menanam Kedelai mengingat nilai ekonomisnya yang tidak

sebanding. Dengan adanya kebijakan Pemerintah tersebut, diharapkan, Petani kembali bersemangat untuk produksi Kedelai, mengingat adanya jaminan harga dari Pemerintah dan bantuan bibit yang cukup besar. Pada program awal, penanaman Kedelai difokuskan pada tiga Kabupaten yang paling potensial untuk pengembangan komoditas Kedelai ini. Ketiga Kabupaten tersebut, yaitu Kabupaten Kotabaru, Tanah Laut (Tala), dan Barito Kuala (Batola). Sebenarnya Daerah Banua Enam juga potensial untuk pengembangan Kedelai, namun musimnya sudah lewat, karena lahan Lebak. Sesuai rencana, penanaman Kedelai akan dilakukan pada bulan Oktober hingga November mendatang, untuk realisasinya hingga kini Petani masih menunggu bantuan bibit dari Pemerintah Pusat. Sesuai dengan kebutuhan, setiap satu hektar lahan memerlukan sekitar 15 kilogram bibit Kedelai yang akan menghasilkan sebanyak satu ton Kedelai. Diharapkan, realisasi bantuan bibit tersebut tidak akan terlambat, karena bisa mengganggu pola tanam dan berisiko besar untuk gagal, karena musim sudah lewat. Sementara itu Distan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Ir.Supomo mengungkapkan, hingga kini Petani di Kalsel masih enggan untuk menanam Kedelai, karena perawatannya yang cukup sulit dan hasil yang kurang menjanjikan. Petani justru tertarik mengembangkan komoditas Kacang Tanah selain tanaman Padi, yang hasilnya mampu mendongkrak kesejahteraan mereka, dibanding harus menanam Kedelai. (http://berita.kapanlagi.com/ekonomi/nasional/kalsel-siapkan-lahan-kedelai-3800-hektar-fpra6ue.html)

Kacang Tanah di Lahan Lebak Menurut Rosita Galib dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalsel, Agroekosistem lahan Lebak, yang dikelompokkan ke dalam lahan Marginal di Kalsel dengan berbagai upaya dapat dimanfaatkan untuk sumber pendapatan masyarakat melalui maksimalisasi usaha tani tanaman Pangan, Palawija, Hortikultura, Ternak dan Ikan. Luas lahan Rawa dan Lebak di Kalsel mencapai 382.272 ha, di antaranya sekitar 48.000 ha sudah diusahakan dan berada di tiga Kabupaten, yaitu HSU, HST, dan HSS. Di Kabupaten HST, di Kecamatan LAS di Desa Panggang marak terdapat pertanaman kacang tanah yang cukup luas (sekitar 200 ha). Pola usaha tani dilakukan secara monokultur dengan teknologi yang masih tradisionil dan tanpa input bahan kimia. Hasil yang diperoleh 1-1,5 polong t/ha, sementara ditingkat hasil penelitian dapat mencapai dua kali lipat. Varietas yang digunakan petani varietas lokal yang dilakukan satu kali tanam pertahun dan rata-rata luasan perpetani sekitar 0,5 ha, sehingga pendapatan yang diperoleh dari usaha tani Kacang Tanah ini berkisar antara Rp.2.857.000,- Rp.4.285.700,- atau setara 1400 kg - 2142 kg beras/KK. Hasil Kacang Tanah ini dapat dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, dan itu tentu sangat berguna bagi tumbuhnya kesempatan kerja di Pedesaan. Efek samping positif lain adalah tumbuhnya industri Rumah Tangga, berupa pengolahan hasil bahan baku Kacang Tanah di Pedesaan (Kacang Tanah di Lahan Lebak Kalimantan Selatan Untuk Pengembangan Agribisnis Di Pedesaan, Rosita Galib, BPTP Kalsel).

Jeruk Siam di Lahan Lebak Kalimantan Selatan merupakan salah satu penghasil Jeruk Siam (Citrus suhuensis) yang potensial. Sentra produksi terletak di Kabupaten Barito Kuala, Banjar, dan Tapin. Jeruk Siam merupakan Jeruk yang mempunyai peranan penting di pasaran Indonesia, karena produksinya paling tinggi, digemari konsumen, dan nilai ekonominya menguntungkan (Sunarmani dan Soedibyo, 1992). Penanaman dan pengembangan Jeruk di Kalimantan Selatan sebagian besar dilaksanakan di lahan Rawa, baik lahan Rawa Pasang Surut maupun lahan Lebak. Pengembangan di lahan Pasang Surut mulai tahun 1997 di lahan Tipologi B dan C dalam skala cukup besar. Sebelumnya, tanaman Jeruk hanya dikembangkan di lahan Pasang Surut Tipologi A dimana masalah yang ditemui hanya genangan air yang tinggi. Sedangkan pada pertanaman di lahan Tipologi B dan C, mulai tahun ke-10 sudah ada tanaman Jeruk yang mati diduga karena perakaran mulai masuk ke lapisan tanah yang sangat masam (jarosit). Masalah lain yang ditemui pada areal pertanaman Jeruk di lahan Tipologi A serta lahan Lebak, adanya perbedaan kualitas buah yang dihasilkan. Buah Jeruk dari lahan Pasang Surut Tipologi A dan lahan Lebak mempunyai kualitas buah yang lebih baik dibandingkan pada areal pengembangan baru (lahan Pasut Tipologi B dan C). Diduga, ada korelasi antara konsentrasi hara-hara tertentu dalam tanah serta air dengan kualitas buah Jeruk yang dihasilkan (Ar-Riza, et al., 2003). (Evaluasi Mutu dan Penanganan Pasca Panen Jeruk di Sentra Produksi, Sudirman Umar dan S.S Antarlina).

Peta Sebaran Lokasi Perusahaan Perkebunan Di Lahan Rawa Kalsel

Sumber: http://disbun.kalselprov.go.id/peta/kebunrawa.html

Produksi Ikan Darat menurut Jenis Perairan dan Jenis Ikan Tahun 2008

Kerbau Rawa dan Padi Hiang Vegetasi pakan alami ternak Kerbau Rawa yang tumbuh di padang penggembalaan ternak Kerbau Rawa di Kalimantan Selatan saat ini populasinya sudah mulai menurun, terutama yang palatable (disukai) oleh ternak Kerbau Rawa. Berkurangnya jenis pakan yang disukai oleh ternak Kerbau Rawa diduga karena penggembalaan yang over grazing. Ternak Kerbau Rawa dalam kondisi kekurangan pakan terutama pada musim Kemarau, akan memakan jenis tumbuhan yang tidak disukai, sehingga berpengaruh pada pertumbuhannya. Ternak Kerbau akan menjadi kurus dan mati akibat kekurangan pakan, seperti yang pernah terjadi di Kecamatan Danau Panggang, Hulu Sungai Utara (HSU). (http://regional.kompas.com/read/2011/02/01/10292211/Puluhan.Kerbau.Rawa. Mati.Kelaparan). Menurut Mc. Dowell (1985), untuk memaksimalkan penggunaan rumput tropis di-pasture harus mempunyai karakteristik yaitu: kandungan protein lebih dari 10% dan kecernaan lebih dari 55%. Berdasarkan hasil evaluasi nilai gizi pakan alami ternak Kerbau Rawa yang paling berpotensi dan memenuhi kriteria untuk dikembangkan secara maksimal adalah Padi Hiang. Padi Hiang mempunyai kandungan protein kasar tertinggi yaitu sebesar 13,22%, kandungan serat kasar dan lignin paling rendah serta mempunyai kecernaan bahan kering, bahan organik, dan protein kasar yang cukup tinggi yaitu diatas 50%, walaupun mempunyai kecernaan serat kasar yang rendah yaitu 20,15%. Padi Hiang mempunyai kelebihan lain yaitu dapat tumbuh beradaptasi pada lingkungan Rawa baik pada musim Kemarau maupun musim Hujan. (Evaluasi Nilai Gizi Pakan Alami Ternak Kerbau Rawa di Kalimantan Selatan, Ir. Nursyam Andi Syarifuddin, MP).

PP RI No. 27 Tahun 1991 tentang Rawa Salah satu Peraturan Pemerintah RI yang mengatur masalah Rawa adalah PP RI No. 27 Tahun 1991 yang memiliki beberapa kelemahan, antara lain: a.) Tak transparannya mengatur distribusi/redistribusi lahan hasil Reklamasi Rawa. Akibat adanya Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 1974 tentang KetentuanKetentuan Mengenai Penyediaan dan Pemberian Tanah untuk Keperluan Perusahaan, Pasal 3, dan PP No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah, Pasal 12, seharusnya pada PP No. 27 Tahun 1991 tentang Rawa ada pasal mengenai pengaturan pembuatan usul distribusi/redistribusi lahan hasil Reklamasi Rawa. Pengaturan hasil Reklamasi Rawa dari pihak Dep. PU yang ada samar-samar yaitu pada Pasal 26 Peraturan Menteri PU No. 64/PRT/1993 tentang Reklamasi Rawa. b.) Pengaturan pengelolaan tak berdasarkan Konsep Zona Pengelolaan Air. Pada waktu PP tersebut dibuat, perkembangan ilmu/teknologi rawa belum sampai pada pemakaian konsep Zona Pengelolaan Air (ilmu/teknologi sangat penting untuk dipakai dalam menetapkan kebijakan/upaya dalam PP tentang Rawa). c.) Pengertian Rawa tak berlaku untuk semua Rawa dan rancu dengan Situ/Danau. Secara fisik, pengertian Rawa berdasarkan PP ini rancu dengan pengertian Situ dan Danau karena tak adanya kriteria kemiringan wadah genangan air.

Terdapat kesalahan penjelasan seharusnya rawa pada umumnya (tak selalu) mempunyai derajat keasaman air dan tanahnya tinggi ditandai dengan ph yang rendah, yang tertulis pada PP ini berlawanan artinya.

Ciri kimia dan biologis tak selalu terdapat dalam rawa, karenanya tak dapat dijadikan kriteria.

d.) Kelirunya Pengertian Reklamasi. Pengertian Reklamasi yang benar (berdasarkan ilmunya) adalah: Reklamasi Lahan adalah pemakaian dan perbaikan lahan alam untuk tujuan sebagai berikut: 1. Budidaya pertanian/perkebunan/perikanan/peternakan. 2. Industri/permukiman 3. Lainnya Dalam PP ini Reklamasi Rawa adalah upaya meningkatkan fungsi dan pemanfaatan rawa untuk kepentingan masyarakat luas. Pengertian dalam PP ini dalam Undang-Undang Sumber Daya Air No. 7 Tahun 2004 adalah Pengembangan. e.) Tak mengatur pengendalian daya rusak. Daya rusak Sumber Daya Alam seperti yang telah dijelaskan dalam Butir 1.6. tentu harus dikendalikan dan dijadikan misi untuk mencapai visi pengelolaan Sumber Daya Alam Rawa. f.) Visi dalam Peraturan Pemerintah ini tak sesuai dengan Visi UndangUndang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2005 tentang RPJMN Tahun 2004 - 2009.

Dalam PP ini visinya terdapat dalam pasal-pasal 2, 3, dan 40 adalah Konservasi Sumber Daya Alam Rawa. (Konservasi adalah salah satu upaya dalam pengelolaan Sumber Daya Alam Rawa).

Visi Undang-Undang Sumber Daya Air No. 7 Tahun 2004 terdapat dalam pasal-pasal sebagi berikut : Pasal 2: Sumber Daya Air dikelola berdasarkan atas kelestarian keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keadilan,

kemandirian serta transparansi dan akuntabilitas. Pasal 3: Sumber Daya Air dikelola secara menyeluruh, terpadu dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan

kemanfaatan Sumber Daya Air yang berkelanjutan untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Visi Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2005 tentang RPJMN Tahun 2004 - 2009 Visi Pembangunan Nasional Tahun 2004 - 2009 adalah: 1. Terwujudnya kehidupan Masyarakat, Bangsa, dan Negara yang aman, bersatu, rukun dan damai. 2. Terwujudnya Bangsa dan Negara yang menjunjung tinggi hukum, kesetaraan dan Hak Azasi Manusia. 3. Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan fundasi (baca: pondasi) yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan.

P3A tak sanggup membiayai Jaringan Tertier Pada PP ini P3A diharuskan membiayai O & P Jaringan Tertier (baca: Tersier). Dimensi Bangunan Air dan Saluran Tertier Jaringan Reklamasi Rawa adalah 5 lebih besar daripada dimensi Bangunan Air dan Saluran Tertier Jaringan Irigasi, sehingga P3A tak akan mampu membiayai O & P-nya . Jadi karenanya harus ditanggung Pemerintah.

(Sumber: http://madsalimminformasi.blogspot.com/2010/08/ii-kelemahankelemahan-pp-no-27-tahun.html).

Bab III Kesimpulan

1. Berdasarkan kondisi elevasinya, sekitar 43,31% (1.625.384 hektare) dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (37.530.052 hektare) terletak pada kemiringan 0-2%. Jadi, boleh dikatakan daerahnya merupakan Dataran yang sangat datar, identik dengan Rawa, dan sebagian besar Daerah Rawa tersebut berada di Wilayah Sungai Barito atau berada sebelah Barat Provinsi Kalsel. 2. Potensi Rawa yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencapai 235.677 hektare, yang terdiri dari luas lahan Daerah Rawa (DR) 3.000 hektare yang mencapai 96.973 Ha wewenang Pemerintah Pusat. Sedangkan kewenangan Daerah Rawa yang menjadi wewenang provinsi antara 1.000 hektare sampai 3.000 hektare, yakni seluas 79.336 hektare, dan bagi luas Daerah Rawa yang kurang mencapai 165.067 hektare, menjadi wewenang Pemerintah Kota. 3. Reklamasi lahan Rawa di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) telah mencapai 189.278 hektare, terdiri 89.036 hektare untuk lahan Rawa Pasang Surut, serta 100.242 hektare untuk lahan Rawa Non Pasang Surut (Lebak). 4. Luas daerah Rawa di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) yang sudah dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum (PU) telah mencapai 104.536 hektare untuk jenis Rawa Pasang Surut dan 20.915 hektare untuk jenis Rawa Lebak.

Rawa Lebak yang sudah dikembangkan Ditjen Sumber Daya Air Dep. PU, antara lain: Mekar Sari Landasan Ulin Martapura Kandangan Daha Selatan Daha Utara Tanta Candi Laras Selatan I Candi Laras Selatan II Tapin Utara Kusan Hilir II P. Laut Timur Sei Tabuk : : 5.250 Ha. : : 280 Ha. 580 Ha.

: 1.450 Ha. : 1.800 Ha. 580 Ha. 780 Ha.

: 1.045 Ha. : 2.460 Ha. : 370 Ha.

: 2.460 Ha. : 360 Ha.

: 3.500 Ha.

Totalnya, 20.915 Ha. 5. Agroekosistem lahan Lebak, yang dikelompokkan ke dalam lahan Marginal di Kalsel dengan berbagai upaya dapat dimanfaatkan untuk sumber pendapatan masyarakat melalui maksimalisasi usaha tani tanaman Pangan, Palawija, Hortikultura, Ternak dan Ikan. Luas lahan Rawa dan Lebak di Kalsel mencapai 382.272 ha, di antaranya sekitar 48.000 ha sudah diusahakan dan berada di tiga Kabupaten, yaitu HSU, HST, dan HSS. 6. Tanaman Palawija (Jagung, Ubi, dan Kacang-kacangan), Sayuran (Labu, Cabe, dan Terung) dan tanaman Buah (Semangka) merupakan komoditas utama di lahan Rawa Lebak Dangkal sedangkan padi merupakan komoditas utama di lahan Rawa Lebak Tengahan. Sesuai sifat lahannya, maka komoditas Palawija, Sayuran, Buah-buahan dan Padi lebih banyak

diusahakan pada musim Kemarau. Penataan Sistem Surjan di lahan Rawa Lebak Dangkal memberikan peluang peningkatan intensitas tanam lebih dari 100% melalui penerapan pola tanam Palawija dan Sayuran di atas lahan Guludan dan pola Padi, Palawija dan Sayuran di lahan Tabukan atau Sawah. 7. PP RI No, 27 Tahun 1991 tentang Rawa memiliki beberapa kelemahan, antara lain: Tak transparannya mengatur distribusi/redistribusi lahan hasil Reklamasi Rawa. Pengaturan pengelolaan tak berdasarkan Konsep Zona Pengelolaan Air. Pengertian Rawa tak berlaku untuk semua Rawa dan rancu dengan Situ/Danau. Kelirunya Pengertian Reklamasi. Tak mengatur pengendalian daya rusak. Visi dalam Peraturan Pemerintah ini tak sesuai dengan Visi UndangUndang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan Peraturan Presiden RI No. 7 Tahun 2005 tentang RPJMN Tahun 2004 - 2009.