Anda di halaman 1dari 80

Kimia Dasar II

1
1. Larutan
Topik Pembelajaran
1.1 Larutan
1.2 Entalpi pelarutan
1.3 Gaya Intermolekul dalam Larutan
1.4 Kesetimbangan Kelarutan
1.5 Satuan Konsentrasi Larutan
1.6 Cara Membuat Larutan
1.7 Larutan Elektrolit dan Bukan Elektrolit
1.8 Sifat Koligatif Larutan
1.9 Koloid
Kompetensi
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa mampu :
1. Merumuskan kembali proses pelarutan
2. Menentukan entalpi pelarutan
3. Menjelaskan adanya gaya intermolekul dalam larutan
4. Menjelaskan kesetimbangan kelarutan
5. Menghitung konsentrasi larutan
6. Mempersiapkan perhitungan dalam pembuatan larutan
7. Menjelaskan sifat larutan elektrolit dan bukan elektrolit
serta menentukan kesetimbangan ionnya
8. Merumuskan sifat koligatif larutan
9. Menjelaskan fase dan sifat koloid
1. Larutan
1.1 Larutan
Seorang analis kimia akan sering berinteraksi dengan bahan
kimia, baik padat, cair dan gas. Kebanyakan analisis kimia
memerlukan bahan atau pereaksi dalam bentuk larutan, baik
larutan yang berasal dari zat padat, cair, ataupun gas. Larutan
dibuat dengan mencampurkan zat terlarut dalam pelarut tertentu
sehingga diperoleh campuran yang homogen.
Larutan merupakan suatu campuran homogen yang terdiri
dari dua atau lebih zat dengan susunan atau komposisi tertentu
dan seragam serta memiliki sifat yang sama dalam satu sistem
tetapi berbeda dalam sistem yang lain. Larutan terdiri dari zat
terlarut (solute) yang jumlahnya lebih kecil dan pelarut (solvent)
yang jumlahnya lebih besar. Suatu zat dapat larut dengan pelarut
tertentu dengan menggunakan prinsip like dissolve like. Senyawa
polar hanya dapat larut dalam pelarut polar dan senyawa non
polar hanya dapat larut dalam senyawa non polar pula.
1.2 Entalpi Pelarutan
Melarutkan suatu zat dalam pelarut tidak serta merta
menjadi homogen. Suatu zat mempunyai kelarutan dan panas
pelarutan yang berbeda. Adakalanya suatu zat mudah dilarutkan
pada temperatur kamar tetapi ada pula zat yang harus dilarutkan
dalam temperatur tertentu. Suatu zat dapat menyerap atau
melepaskan energi saat dilarutkan. Adanya perubahan energi ini
penting diketahui sebelum melakukan pencampuran zat terlarut
ke dalam pelarutnya, sehingga perlu prosedur atau penanganan
Kimia Dasar II
2
yang khusus, terutama proses pelarutan yang melibatkan
pelepasan energi yang relatif besar.
Proses pelarutan zat terlarut dalam suatu pelarut melalui
beberapa tahap:
1) Penambahan jarak antar molekul-molekul menjadi jarak
rata-rata yang ditampilkan dalam larutan diiringi penyerapan
energi (proses endotermis) untuk melampaui gaya-gaya
intermolekul kohesi disertai dengan peningkatan entalpi.
2) Proses endotermis kedua yakni terjadi pemisahan yang
sama terhadap molekul-molekul zat terlarut
3) Molekul-molekul pelarut dan zat terlarut saling bercampur
Perbedaan gaya tarik intermolekul diantara molekul yang
berbeda menyebabkan terjadinya pelepasan energi sehingga
entalpinya akan menurun tergantung pada perbandingan nilai
perubahan entalpi setiap tahap. Perubahan keseluruhan dapat
bernilai positif (endotermis) atau negatif (eksotermis).
H
pelarutan
= H
larutan
H
zat terlarut
Kimia Dasar II
3
1.3 Gaya Intermolekul dalam Larutan
Jika senyawa A dan B berada dalam suatu sistem campuran,
maka kemungkinan akan terjadi gaya intermolekul diantara
senyawa A dan B serta gaya antarmolekul senyawa A dan B.
Interaksi tersebut dapat dituliskan sebagai AA, AB, dan BB,
sehingga memungkinkan terjadinya beberapa interaksi :
1. AB AA BB
Gaya intermolekul antara molekul sejenis dan molekul yang
berbeda hampir sama sehingga terbentuk campuran yang
homogen yang disebut dengan larutan ideal. Sifat larutan
dapat diduga sama dengan sifat komponen murninya.
Volume larutan sama dengan jumlah komponen penyusunnya
(V = 0) dan tidak ada perubahan entalpi atau efek kalor
pada pencampuran komponen-komponennya (H
pelarutan
= 0).
2. AB > AA > BB
Larutan ini dapat terbentuk, tetapi sifat larutan tidak dapat
diramalkan dari sifat komponennya (larutan non ideal).
Energi yang dilepaskan dalam interaksi ini melebihi yang
diperlukan untuk memisahkan molekul-molekul sejenis,
sehingga proses pelarutannya eksotermis (H
pelarutan
< 0).
Kimia Dasar II
4
3. AB < AA, BB
Terjadi pencampuran sempurna tetapi larutannya tidak ideal
dan prosesnya berlangsung endotermis (H
pelarutan
> 0).
4. AB <<< AA, BB
Jika gaya intermolekul jauh lebih besar dari gaya
antarmolekul maka kedua senyawa tersebut tidak dapat
bercampur.
1.4 Kesetimbangan Kelarutan
Jika suatu lauran ditambahkan sejumlah zat terlarut terus-
menerus dengan jumlah pelarut yang terbatas, maka akan terjadi
pengendapan. Pengendapan dapat terjadi dengan kembalinya zat
terlarut ke dalam spesies atom, ion, atau molekul dalam keadaan
tidak terlarut. Pada saat waktu pelarutan dan pengendapan
terjadi pada kecepatan yang sama akan terjadi kesetimbangan
dinamis dan larutannya disebut larutan jenuh. Konsentrasi larutan
jenuh dinyatakan sebagai kelarutan zat terlarut dalam pelarut
tertentu.
Kimia Dasar II
5
Kelarutan suatu zat terlarut dalam suatu pelarut dipengaruhi
oleh suhu. Jika larutan jenuh tersebut dinaikkan atau diturunkan
sehingga jumlah zat terlarut menjadi lebih besar dari zat terlarut
dalam larutan jenuh, maka larutan tersebut dinamakan larutan
lewat jenuh (supersaturated).
1.5 Satuan Konsentrasi Larutan
Suatu pengujian kimia secara kuantitatif pasti akan
membutuhkan penyajian data yang dinyatakan dalam satuan yang
sesuai dengan tujuan analisis. Setiap parameter pengujian bisa
ditampilkan dalam satuan yang berbeda sesuai dengan
kepentingan pengujian sehingga dapat memberikan kesimpulan
Kimia Dasar II
6
yang tepat. Kandungan mineral esensial dalam air biasanya
dinyatakan dalam satuan mg/L atau ppm karena kandungan
dalam air yang relatif rendah. Berbeda halnya dengan pengujian
logam dalam suatu produk logam, biasanya dinyatakan dalam %
(persen).
Larutan sampel ataupun larutan pereaksi dalam proses
pengujian kimia harus mempunyai kuantitas yang diketahui.
Setiap larutan yang dibuat harus disertai dengan komposisi yang
biasanya dinyatakan dalam satuan konsentrasi tertentu.
Banyaknya zat terlarut dalam sejumlah tertentu pelarut
dinyatakan sebagai konsentrasi. Konsentrasi suatu larutan dapat
dinyatakan dalam beberapa satuan, diantaranya % v/v, % b/b, %
b/v, molar (M), molal (m), normal (N), mg/L, ppm, fraksi mol dan
fraksi massa.
1. Persen (%)
Prosentase suatu larutan menyatakan prosentase zat terlarut
dalam sejumlah tertentu larutan. Prosentase larutan dapat
dinyatakan sebagai % v/v, % b/b, atau % b/v. Satuan konsentrasi
ini banyak digunakan untuk menyatakan komposisi dengan rasio
zat terlarut dan pelarut yang relatif besar. Persen bisa juga
digunakan untuk menyatakan tingkat kemurnian atau randemen
suatu proses kimia atau fisika. Persen juga dapat digunakan
sebagai ukuran perbandingan atau komposisi yang diukur
berdasarkan takaran volume atau massanya dalam membuat
suatu larutan.
Kimia Dasar II
7
% 100 x
larutan V
terlarut zat V
v
v
%



Kimia Dasar II
8
% 100 x
larutan m
terlarut zat m
b
b
%
% 100 x
larutan V
terlarut zat m
v
b
%
Contoh Soal
Tentukan % v/v dan % b/v larutan yang terdiri dari 10 mL asam
fosfat 85 % b/b (massa jenisnya = 1,7 g mL
-1
) yang dilarutkan
menjadi 100 mL dengan akuades.
Diketahui : V H
3
PO
4
= 10 mL
H
3
PO
4
85 b/b = 1,7 g mL
-1
V larutan = 100 mL
Ditanya : % v/v, %b/b, dan % b/v
Jawab :
% 10 % 100 x
mL 100
mL 10
% 100 x
arutan Vl
PO H V
%
3 3
v
v

% 14,5 % 100 x
mL 100
mL .0,85.1,7g mL 10
% 100 x
larutan V
PO H m
%
1
3 3
v
b

Jadi konsentrasi larutan asam fosfat tersebut adalah 10 % v/v


atau 14,5 b/v.
2. Molaritas (M)
Molaritas suatu larutan menyatakan banyaknya mol zat
terlarut setiap satu liter larutan atau dituliskan sebagai mol L
-1
atau molar (M).
3. Molalitas (m)
Kimia Dasar II
9
V
n
M atau
larutan liter 1
terlarut zat mol
M
Contoh Soal
Tentukan molaritas 100 mL larutan yang mengandung 2 gram
NaOH.
Diketahui : V = 100 mL
m NaOH = 2 g
Ditanya : M
Jawab :

M 0,5
L .0,1
1
mol g 40
g 2
BM.V
m
M


Jadi molaritas 100 mL larutan yang mengandung 2 gram NaOH
Molaritas menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam
seribu gram pelarut murni.
4. Normalitas (N)
Normalitas menyatakan banyaknya gram ekuivalen zat
terlarut dalam satu liter larutan. Gram ekuivalen (grek) dapat
ditentukan berdasarkan jenis reaksinya. Gram ekuivalen senyawa
asam atau basa ditentukan berdasarkan banyaknya ion H
3
O
+
yang
dilepaskan atau diterima. Senyawa yang digunakan dalam reaksi
pengendapan dan pengompleksan ditentukan oleh valensinya,
sedangkan dalam reaksi oksidasi reduksi didasarkan pada
banyaknya elektron yang dilepaskan atau diterima dalam suatu
reaksi oksidasi atau reduksi.

Kimia Dasar II
10
p 1000
n
m atau
pelarut g 1000
terlarut zat mol
m
Contoh Soal
Tentukan molalitas larutan yang dibuat dengan melarutkan 5
gram sukrosa dalam 100 gram air
Diketahui : m sukrosa = 5 gram
m pelarut = 100 g
Ditanya : m larutan
Jawab :

pelarut g 1000
terlarut zat mol
m
molal 0,1460
L .0,1
1 -
g.mol 342,33
m
g 5

Jadi molalitas larutan yang dibuat dengan melarutkan 5 gram
sukrosa dalam 100 gram air adalah 0,1460 m
V
grek
N
Hubungan antara molaritas dan normalitas dinyatakan sebagai :
Contoh penentuan grek :
1. HCl + H
2
O H
3
O
+
+ Cl
-
1 mol HCl 1 mol H
3
O
+
1 grek
n HCl = 1 grek/mol
2. I
2
+ 2 e 2I
-
1 mol I
2
2 mol e 2 grek
n I
2
2 grek/mol
Kimia Dasar II
11
N = M. n
Contoh Soal
Tentukan normalitas 250 mL larutan yang mengandung 10 g
KMnO
4
.
Diketahui : V = 250 mL = 250 mL. 10
-3
L.mL
-1
= 0,25 L
m KMnO
4
= 10 g
Ditanya : N
Jawab :
BE KMnO
4
:
MnO
4
-1
+ 8 H
+
+ 5 e



Mn
2+
+ 4 H
2
O
1 mol MnO
4
-1
5 grek 1 grek = 1/5 mol

1
1 - 1 -
grek.L 0,6329
L 0,25 g.mol .158 mol.grek
5
1
g 5
N


Jadi normalitas 250 mL larutan yang mengandung 10 g
KMnO
4
adalah 0,6329 N
5. Milligram/liter (mg/L) dan Bagian per Juta (part per
million, ppm)
Perhitungan dalam analisis kimia sering dijumpai angka
yang sangat kecil untuk satuan ukuran konsentrasi. Beberapa
analisis instrumental menggunakan satuan konsentrasi mg L
-1
yang menyatakan banyaknya milligram suatau zat terlarut dalam
1 liter larutan.
Perbandingan ini menyatakan jumlah yang sangat kecil,
sehingga dapat dikonversi dalam satuan bagian per juta (bpj) atau
part per million (ppm). Satuan ini hanya berlaku untuk larutan
yang sangat encer sekali, sehingga massa jenis larutan dapat
dianggap sama dengan massa jenis pelarut. Misalnya 10 mg L
-1
larutan yang mengandung Cu
2+
jika dikonversikan dalam ppm,
maka konsentrasinya akan sama.
1) Fraksi mol dan fraksi massa
Fraksi mol atau fraksi massa menyatakan banyaknya
perbandingan mol atau massa suatu unsur atau senyawa terhadap
mol atau massa totalnya. Misalnya suatu larutan yang terdiri dari
x gram senyawa A dan y mol senyawa B, maka untuk menentukan
fraksi mol dan massa digunakan persamaan berikut.
Fraksi massa
Kimia Dasar II
12
ppm 10
mg 10
mg 10
g 1
mg 10
L g 1 . L 1
mg 10
L 1
mg 10
6 1

B A
A
A
m m
m
X
+


B A
B
B
m m
m
X
+


Fraksi mol
1.6 Cara Membuat Larutan
Salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh
seorang analis kimia adalah mampu melakukan preparasi suatu
pereaksi atau larutan. Sebelum larutan dibuat, harus dapat
dipastikan bahwa secara teoritis menggunakan konsep
stoikhiometri kimia, jumlah zat yang harus diukur atau ditimbang
harus diketahui dengan pasti. Kesalahan dalam menghitung akan
sangat berpengaruh pada larutan yang dihasilkan.
Kimia Dasar II
13
B A
A
A
n n
n
X
+


B A
B
B
n n
n
X
+

Contoh Soal
Suatu larutan terdiri dari 0,2 fraksi mol etanol dan sisanya
adalah pelarut air. Tentukan fraksi massa etanol dan air.
Diketahui : X
etanol
= 0,2
X
air
= 0,8
Ditanya : fraksi massa etanol dan air
Jawab :
Misal jumlah mol total = 1 mol
massa etanol = 0,2 mol . 46,01 g.mol
-1
= 9,202 g
massa air = 0,8 mol . 18,01 g.mol
-1
= 14,408 g

0,3898
g 14,408 g 9,202
g 9,202
m m
m
X
air etanol
etanol
etanol

+



Jumlah yang harus diambil kemudian dilarutkan dalam
sejumlah tertentu pelarut menggunakan labu takar dengan
volume tertentu. Penambahan pelarut harus hati-hati dan
pembacaan tanda batas harus teliti. Jika zat terlarut berupa zat
padat, maka harus dilarutkan terlebih dahulu dalam gelas piala,
kemudian dipindahkan dengan hati-hati. Jika zat yang akan
dilarutkan menimbulkan panas ketika dilarutkan, maka ke dalam
labu takar diisi pelarut terlebih dahulu. Teknik melarutkan dengan
cara yang tepat dan dengan memperhatikan aspek keselamatan
kerja sangat harus menjadi karakter seorang analis kimia.
Prinsip perhitungan dalam menentukan jumlah zat terlarut
yang akan diambil tergantung pada besaran konsentrasi yang
diinginkan. Jika zat terlarut berupa zat padat, maka teknik
pengambilan bahan dapat dilakukan dengan menimbang.
Konversi perhitungan harus dapat memberikan informasi sejumlah
tertentu massa zat terlarut yang akan ditimbang dengan ketelitian
tertentu. Jika berupa zat cair, harus dapat memberikan informasi
konversi satuan volume. Ada kalanya, larutan dibuat dari zat cair
atau larutan dengan konsentrasi yang telah diketahui. Prinsipnya
sederhana, zat yang akan diambil dapat ditentukan dengan rumus
pengenceran :
Kimia Dasar II
14
C
1
V
1
= C
2
V
2
Contoh soal
Buatlah larutan H
2
SO
4
0,1 M dari H
2
SO
4
pekat 98 % b/b dengan
massa jenis 1,84 kg.L
-1
sebanyak 100 mL.
Diketahui : M H
2
SO
4
yang akan dibuat = 0,001 M
Konsentrasi H
2
SO
4
pekat = 98 % b/b
H
2
SO
4
pekat = 1,84 kg.L
-1
Ditanya : V H
2
SO
4
pekat yang harus diambil
Jawab :
H
2
SO
4
pekat = 1,84 kg.L
-1
Artinya dalam 1 L mengandung 1,84 kg.L
-1
x 1 L = 1,84 kg =
1840 g
Kemurnian H
2
SO
4
=

98 % b/b
Massa H
2
SO
4
= 89 % x 1840 g = 1803,2 g
Molaritas H
2
SO
4
pekat =
M 18,39
.1L g.mol 98,04
g 1803,2
BM.V
m
1

Pengenceran : V
1
M
1
= V
2
M
2
100 mL . 0,1 M = V
2
18,39 M V
2
= 0,54 mL
1.7 Larutan Elektrolit dan Bukan Elektrolit
Suatu zat cair atau larutan dapat menghantarkan listrik atau
bersifat elektrolit. Sifat elektrolit larutan lebih kuat dibandingkan
zat cair. Penambahan pelarut dapat meningkatkan daya hantar
listrik, tetapi ada pula yang menyebabkan penurunan daya hantar
listrik. Berdasarkan sifat daya hantar listriknya, larutan
dikategorikan menjadi larutan elektrolit kuat, larutan elektrolit
lemah, dan larutan non elektrolit.
Non
elektrolit
Elektrolit
Kuat
Elektrolit
Lemah
Air Natrium
klorida
Asam formiat
Etanol Asam sulfat Asam asetat
Kimia Dasar II
15
Glukosa Kalium
bromida
Amonia
Urea Asam
perklorat
Asam nitrit
Hubungan daya hantar listrik pada larutan non elektrolit,
elektrolit kuat, dan elektrolit lemah dapat diuji dengan
menggunakan dua batang logam dan lampu yang kemudian
dihubungkan dengan sumber arus listrik AC 110 V. Lampu yang
dipasang pada larutan non elektrolit tidak dapat menyala.
Sedangkan lampu pada larutan elektrolit kuat jauh lebih terang
daripada larutan elektrolit lemah. Kemungkinan ada dan tidaknya
arus listrik apabila :
1) Konsentrasi ion hampir nol maka tidak ada aliran listrik
2) Larutan yang mempunyai daya hantar listrik dapat
menghantarkan arus listrik meskipun konsentrasinya rendah
3) Meskipun konsentrasinya tinggi, kalau daya hantar listriknya
rendah tidak dapat menghantarkan arus listrik.
Besarnya daya hantar listrik tergantung konsentrasi ion-ion
zat terlarut dalam pelarut. Konsentrasi ion ditentukan oleh derajat
dissosiasi (). Jika = 0 atau zat terlarutnya tidak dapat diuraikan
menjadi ion-ionnya disebut larutan non elektrolit. Jika = 1,
semua zat terlarut dapat terdisosiasi dengan sempurna sehingga
bersifat elektrolit kuat. Jika hanya terdisosiasi sebagian disebut
larutan elektrolit lemah. Besarnya daya hantar listrik ditentukan
berdasarkan jumlah ion yang dihasilkan per mol zat terlarut.
Kimia Dasar II
16
1.8 Sifat Koligatif Larutan
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tergantung
pada jumlah zat terlarut bukan tergantung pada jenisnya. Ada
empat sifat koligatif larutan, yaitu penurunan tekanan uap,
kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmosis.
1. Penurunan Tekanan Uap
Jika senyawa B dilarutkan dalam pelarut A, maka proses
pelarutan senyawa tersebut dapat menyebabkan efek penurunan
tekanan uap pelarut. Banyaknya penurunan tekanan uap (p)
setara dengan fraksi mol zat terlarut (X
B
) dan tekanan uap pelarut
murni p
A
o
.
Kimia Dasar II
17
Contoh Soal
Sebanyak 100 mL larutan Na
2
SO
4
0,1 M dan 50 mL larutan NaCl
0,5 M dicampurkan dalam sebuah gelas piala, tentukan jumlah
molaritas ion Na
+
yang dihasilkan.
Diketahui : V Na
2
SO
4
0,1 M = 100 mL
V NaCl 0,5 M = 50 mL
Ditannya : M Na
+
Jawab :
larutan total V
Na total mol
Na M
+
+

Mol total Na
+
= (M Na
2
SO
4
.V Na
2
SO
4
) + (M NaCl. V NaCl)
= (0,1 M. 100 mL) + (0,5 M. 50 mL) = 50 mmol
V total = 100 mL + 50 mL = 150 mL
M 0,3333
mL 150
mmol 50
Na M
+
Jadi molaritas ion Na
+
pada larutan tersebut adalah 0,3333 M
p = X
B
.p
A
o
Jika X
A
+ X
B
= 1, maka X
B
= 1 X
A
. Apabila tekanan uap pelarut
dinyatakan sebagai p
A
, maka p = p
A
o
p
A
. Sehingga penurunan
tekanan uap dapat dinyatakan :
p
A
o
p
A
= (1 X
A
) p
A
o
p
A
o
p
A
= p
A
o
X
A
p
A
o
p
A
= X
A
p
A
o
Persamaan tersebut diungkapkan oleh Raoult yang
kemudian merumuskan Hukum Raoult, yang menyatakan bahwa
tekanan uap pelarut di atas suatu larutan (p
A
) sama dengan hasil
kali tekanan uap pelarut murni (p
A
o
) dengan fraksi mol dalam
larutan (X
A
). Pada larutan ideal, pelarut dan zat terlarut mengikuti
Hukum Raoult pada semua konsentrasi.
Kimia Dasar II
18
Contoh Soal
Campuran benzena dan toluena merupakan larutan ideal. Pada
suhu 25
o
C tekanan uap total di atas larutan dengan jumlah
molekul benzena sama dengan jumlah molekul toluena. Jika
tekanan uap benzena dan toluena masing-masing adalah 95,1
dan 28,4 mm Hg, tentukan tekanan uap parsial dan tekanan
uap totalnya!
Diketahui : X
benzena
= x
toluena
= 0,5
Ditanya : p
benzena
, p
toluena
, dan p
total
Jawab :
p
benzena
= X
benzena
p
benzena
o
= 0,5 x 95,1 mm Hg = 47,6 mm Hg
p
toluena
= X
toluena
p
toluena
o
= 0,5 x 28,4 mm Hg = 14,2 mm Hg
P
total
= p
benzena
+ p
toluena
= 47,6 mm Hg + 14,2 mm Hg = 61,8 mm Hg
2. Penurun Titik Beku
Titik beku suatu pelarut akan mengalami penurunan yang
jumlahnya tergantung pada konsentrasi atau fraksi mol zat
terlarut. Jika larutannya encer, besarnya penurunan titik beku
berbanding lurus dengan molalitasnya.
K
b
: tetapan penurunan titik beku (tetapan krioskopik)
m : molalitas
3. Kenaikan Titik Didih
Penambahan zat terlarut dalam suatu pelarut akan
meningkatkan titik didihnya. Besarnya kenaikan titik didih
dinyatakan dalam pernyataan :
Kimia Dasar II
19
T
b
= K
b
m
Contoh Soal
Sebanyak zat terlarut ditambahkan pada air menyebabkan
terjadinya penurunan titik beku sebesar 0,450
o
C. Tentukan
molalitas larutan tersebut, jika diketahui K
b
air = 186
o
C kg.mol
-1
.
Diketahui : T
b
= 0,450
o
C
K
b
air = 186
o
C kg.mol
-1
Ditanya : m
Jawab : T
b
= K
b
m
b
b
K
T
m
1 -
1 o
o
b
b
kg mol 0,0024
kg.mol C 186
C 0,450
K
T
m

Jadi molalitas larutan tersebut adalah 0,0024 mol.kg


-1
T
d
= K
d
m
K
d
: tetapan kenaikan titik didh (tetapan ebulioskopik)
m : molalitas
4. Tekanan Osmosis
Jika suatu bejana dimasukkan suatu larutan dalam dinding
semipermiabel yang dibuat dari bahan yang memiliki jaringan
lubang kecil atau pori-pori yang hanya dapat dilewati oleh
molekul pelarut saja dan tidak dapat dilewati molekul zat terlarut.
Maka molekul-molekul pelarut akan melewati dinding
semipermiabel yang menyebabkan terjadinya tekanan di ujung
dinding. Proses ini akan berlangsung terus, sehingga larutan akan
semakin encer sampai komposisi larutannya sama. Molekul
pelarut dapat mengalir dua arah, dari pelarut ke larutan. Aliran ini
akan menyebabkan permukaan larutan meningkat. Aliran bersih
pelarut murni melalui dinding semipermiabel dari larutan encer
(pelarut murni) ke larutan pekat dinamakan osmisis. Tekanan
Kimia Dasar II
20
Contoh Soal
Sebanyak 100 g air ditambahkan 5,844 g NaCl. Tentukan
kenaikan titik didihnya jika diketahui kenaikan titik didih air
0,52
o
C kg.mol
-1
Diketahui : m p = 100 g = 100 g. 10
-3
kg.g
-1
= 0,1 kg
m NaCl = 5,844 g
K
d
= 0,52
o
C kg.mol
-1

Ditanya : T
d
Jawab : T
d
= K
d
m
1 -
1
mol.kg 1
kg .0,1 g.mol 58,44
g 5,844
m

T
d
= K
d
m = 0,52
o
C kg.mol
-1
.1 mol.kg
-1
= 0,52
o
C
yang diberikan untuk menghentikan aliran pelarut menuju larutan
dinamakan tekanan osmosis.
Besarnya tekanan osmosis tidak tergantung pada jenisnya,
tetapi tergantung pada jumlahnya. Hubungan antara jumlah zat
terlarut dalam larutan untuk menentukan besarnya tekanan
osmosis dinyatakan dalam persamaan vant Hoff.
1.8 Koloid
Koloid merupakan sistem campuran yang terdiri dari
dispersi ion atau molekul yang ukurannya berada di antara zat
terlarut dalam larutan murni dan homogen. Koloid mengandung
sedikit partikel dibandingkan larutan sejati dengan konsentrasi zat
terlarut yang sama, tetapi jika jumlah partikelnya sedikit, massa
dan ukuran fisiknya lebih besar. Massa partikel koloid berkisar
antara ratusan ribu hingga juta. Bentuk dan ukurannya
bermacam-macam, tergantung jenisnya.
Koloid dapat dibuat dengan cara dispersi dan kondensasi.
Cara dispersi dilakukan dengan memecah partikel besar secara
mekanis. Sedangkan cara kondensasi dilakukan dengan proses
agregasi atau pengelompokan. Usuran koloid ditentukan
Kimia Dasar II
21
T R M RT )
V
n
(
Contoh Soal
Tentukan tekanan osmosis pada larutan sukrosa dalam air dengan
konsentrasi 0,001 M pada 25
o
C
Diketahui : M = 0,001 M
T = 25 + 273 = 298 K
Ditanya :
Jawab : = MRT
= 0,001 mol.L
-1
. 0,0821 L.atm.mol
-1
K
-1
.298 K = 0,0245 atm
berdasarkan dimensinya. Jika satu atau dua dimensi, maka
ukurannya berkisar 1 100 nm. Jika kurang, ukurannya kurang
dari 1 nm dan untuk semua dimensi lebih dari 100 nm.
1) Sifat Koloid
- Mempunyai efek Tyndall, yakni jika koloid diberi cahaya
maka akan dibaurkan ke segala arah dan dapat dilihat
dengan jelas.
- Perbandingan permukaan dengan volumenya berbeda
karena ada gaya yang berbeda (tegangan permukaan).
- Permukaan koloid dapat menyerap ion atau molekul lain
(adsorpsi) sehingga koloid dapat menjadi bermuatan listrik
2) Macam Koloid
Berdasarkan faktor elektrostatis, koloid dikelompokkan menjadi 2 :
- lyofobik (takut pelarut)
- lyofilik (suka pelarut)
Berdasarkan fase terdispersi dan media dispersi, koloid
dikelompokkan dalam beberapa jenis :
Fasa
terdispersi
Media
terdispersi
Jenis Contoh
Padatan Cairan Sol Sol tanah liat, emas
koloid
Cairan Cairan Emulsi Minyak dalam air, susu,
mayones
Gas Cairan Busa Larutan sabun,
detergen, krim kocok
Padatan Gas Aerosol Asap, udara berdebu
Cairan Gas Aerosol Kabut
Padatan Padatan Sol padat Batu murah, mutiara,
Kimia Dasar II
22
intan hitam
Cairan Padatan Emulsi
padat
Batu mata kucing,
mutiara
Gas Padatan Busa
padat
Batu apung, lava, abu
vulkanik
Latihan
1. Larutan kalium iodida (KI) jenuh pada temperatur 20
o
C
mengandung 144 g KI per 100 g H
2
O. Berapakah % b/b
larutan tersebut yang menyatakan g KI per 100 g larutan.
2. Kandungan klor dalam garam dapur ditentukan dengan
titrasi argentometri menggunakan larutan standar AgNO
3
0,1
M. Berapa gram massa kristal AgNO
3
yang dilarutkan
dengan air untuk membuat larutan sebanyak 100
mL?
3. Larutan asam flourida (HF) akan digunakan dalam destruksi
sampel mineral. Jika tersedia HF 30,0 % dengan massa jenis
1,101 kg L
-1
, berapakah molalitas dan molaritasnya?
4. Seorang analis kimia membutuhkan larutan standar NaOH
0,1 M sebanyak 250 mL. Jika tersedia larutan NaOH
50 % b/v, berapa mililiterkah larutan pekat yang harus
diencerkan?
5. Bagaimanakah cara membuat 250 mL larutan HCl 0,2 N dari
HCl pekat 36 % b/b dengan massa jenis 1,18 kg L
-1
.
6. Berapa gram massa K
2
Cr
2
O
7
yang harus ditimbang untuk
membuat larutan yang mengandung 1000 mg/L krom (Cr).
7. Tentukan molaritas ion Cl
-
dan Mg
2+
dari 250 mL larutan
MgCl
2
0,217 M yang ditambahkan 1,85 g MgCl
2
.
Kimia Dasar II
23
8. Berapakah tekanan uap parsial dan tekanan uap total dari
larutan yang dibuat dengan mencampur 60,0 g benzena dan
75,0 g toluena pada temperatur 25
o
C jika tekanan uap
benzena dan toluena berturut-turut adalah 95,1 dan 28,4
mm Hg.
9. Suatu sampel mengandung senyawa yang komposisinya
42,4 % C, 2,4 % H, 16,6 % N dan 37,8 % O. Jika penambahan
6,45 g sampel tersebut ke dalam 50 mL benzena (0,879 kg L
-
1
) titik bekunya menurun dari 5,51
o
C menjadi 1,35
o
C, berikan
kesimpulan massa molekul sampel tersebut!
10. Tekanan osmosis rata-rata dalam darah pada suhu 25
o
C 7,7
atm. Berapakah konsentrasi glukosa yang yang mempunyai
tekanan yang sama dalam darah?
Kimia Dasar II
24
Kimia Dasar II
25
2. Asam-Basa
Topik Pembelajaran
2.1 Asam Basa Arrhenius
2.2 Asam Basa Bronsted-Lowry
2.3 Asam Basa Lewis
2.4 Kesetimbangan Asam Basa
2.5 Derajat keasaman
2.6 Reaksi Netralisasi
2.7 Indikator Asam Basa
Kompetensi
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa mampu :
1. Merumuskan konsep asam basa Arrhenius, Bronsten-
Lowry, dan Lewis
2. Merumuskan kesetimbangan asam basa
3. Menentukan pH suatu asam, basa, asam lemah, basa
lemah dan larutan buffer
4. Merumuskan reaksi netralisasi
5. Menentukan perubahan warna indikator pada berbagai pH
2. Asam Basa
2.1Asam Basa Arrhenius
Suatu elektrolit jika dilarutkan dalam air akan terurai
menjadi ion-ionnya, baik sebagian (elektrolit lemah) atau
seluruhnya (elektrolit kuat). Jika senyawa tersebut menghasilkan
ion H
+
disebut asam dan jika menghasilkan ion OH
-
disebut basa.
Misalnya HCl dan NaOH.
Reaksi antara asam dengan basa disebut reaksi netralisasi
(penggaraman), yang merupakan reaksi penggabungan antara ion
hidrogen dengan ion hidroksida menghasilkan air dan reaksi
antara sisa asam dengan logam menghasilkan garam.
2.2Asam Basa Bronsted-Lowry
Reaksi kimia dapat terjadi tanpa harus dilarutkan dalam air.
Reaksi ini dapat terjadi jika salah satu pereaksinya
menyumbangkan proton dan pereaksi yang lain menerima proton.
Senyawa yang dapat menyumbangkan proton disebut asam
(donor proton), dan senyawa yang menerima proton disebut basa
(akseptor proton).
asam 1 : kehilangan proton menjadi basa 1
basa 2 : menerima proton menjadi asam 2
Kimia Dasar II
26
HCl
(aq)
H
+
(aq)
+ Cl
-
(aq)
NaOH
(aq)
Na
+
(aq)
+ OH
-
(aq)
NH
4
+
+ NH
2
-
NH
3
+ NH
3
asam 1 basa 2 asam 2
basa 1
Jika basa 1 mendapatkan kembali proton disebut basa konjugat,
dan jika asam 2 kehilangan proton disebut asam konjugat.
2.3 Asam Basa Lewis
Asam adalah senyawa yang dapat menerima pasangan
elektron, sedangkan basa adalah senyawa yang dapat
mendonorkan pasangan elektron. Berdasarkan ikatannya, asam
merupakan senyawa yang mempunyai orbital yang belum penuh
dan kekurangan elektron, sedangkan basa mempunyai pasangan
elektron yang dapat dipakai bersama-sama.
2.4 Kesetimbangan Asam Basa
Air merupakan elektrolit lemah dari ionisasi molekul-molekul
air itu sendiri, yang menurut Arrhenius disebut swa-ionisasi
(autoionisasi).
Menurut Bronsted dan lowry, air juga dapat berfungsi sebagai
asam atau kehilangan proton. Molekul air yang lain akan berlaku
sebagai basa untuk menerima proton yang digunakan untuk
membentuk suatu ikatan koordinat kovalen melalui sepasang
elektron bebas pada atom oksigen menghasilkan ion hidronium
(H
3
O)
+
.


Kimia Dasar II
27
+ +
asam 1 basa 2 asam 2 basa 1
BF
3
+ :NH
3
F
3
B:NH
3
asam basa
H
2
O H
+
+ OH
-

Kesetimbangan ionisasinya dapat dinyatakan dalam persamaan


berikut :
karena aktivitas air = 1, sehingga
) )( ( K
OH O H
3
+

Konsentrasi ion sangat kecil sehingga dapat dinyatakan sebagai


konsentrasi molarnya. Persamaan tersebut dapat dinyatakan
sebagai :
K
w
= [H
3
O
+
][OH
-
] pada 25
o
C [H
3
O
+
] = [OH
-
] = 1,0 .10
-7
M
Sehingga K
w
air pada 25
o
C = 1,0 .10
-14
. Besarnya K
w
tergantung
pada suhu. Pada suhu 60
o
C dan 100
o
C berturut-turut besarnya 9,6
.10
-14
M dan 5,5 . 10
-14
M.
Suatu larutan asam atau basa dalam pelarut air, selain akan
terjadi swa-ionisasi juga akan terjadi ionisasi asam dan basa
menjadi ion-ionnya.
Kimia Dasar II
28
2
O H
OH O H
) (
) )( (
K
2
3
+

H
2
O + H
2
O

H
3
O
+
+ OH
-
asam basa asam
basa
HCl + H
2
O H
3
O
+
+ Cl
-
asam basa asam basa
asam 1 basa 2 asam 2 basa 1
Kekuatan suatu asam atau basa ditentukan berdasarkan derajat
ionisasinya, jika terionisasi sempurna disebut asam atau basa
kuat, jika hanya sebagian disebut asam atau basa lemah.
Asam kuat HCl, HBr, HI, HClO
4
, HNO
3
, H
2
SO
4
Basa kuat NaOH, KOH, RbOH, CsOH, Ca(OH)
2
, Sr(OH)
2
,
Ba(OH)
2
2.5 Derajat Keasaman (pH)
1. pH Asam Kuat dan Basa Kuat
Derajat keasaman suatu senyawa menyatakan banyaknya
aktivitas ion H
3
O
+
atau OH
-
yang secara matematis dinyatakan
dalam persamaan :
Asam atau basa umumnya dalam pelarut air dan pada tempertur
25
o
C, [H
3
O
+
][OH
-
] = 1,0. 10
-14
, sehingga :
Kimia Dasar II
29
pH = - log [H
3
O
+
]
pOH = - log [OH
-
]
-log ([H
3
O
+
][OH
-
]) = - log (1,0. 10
-
14
)
- log [H
3
O
+
] - log [OH
-
] = - (-14)
Kimia Dasar II
30
Contoh Soal
1) Tentukan pH larutan HCl 1,0.10
-3
M!
Diketahui : HCl 1,0.10
-3
M
Ditanya : pH
Jawab : pH = - log [H
3
O
+
]
= - log (1,0.10
-3
) = - log 1,0 log 10
-3
= 3
Jadi pH larutan HCl 1,0.10
-3
M adalah 3
2) Tentukan pH larutan NaOH 2,0.10
-4
M!
Diketahui : NaOH 2,0.10
-4
M
Ditanya : pH
Jawab : pOH = - log [OH
-
]
= - log (2,0.10
-4
) = - log 2,0 log 10
-4
= -
0,3010 + 4 = 3,6990
pH + pOH = 14,00
pH = 14,00 pOH = 14,00 - 3,6990 = 10,3010
Jadi pH larutan NaOH 2,0.10
-4
M adalah 10,3010
2. pH Asam Lemah monovalen
Asam lemah akan terurai sebagian dalam larutan air dan
membentuk kesetimbangan ionisasi
HA + H
2
O H
3
O
+
+ A
-
Kimia Dasar II
31

[A]
] ][A O [H
K
3
a
+
K
a
: konstanta ioniasi asam
[H
3
O
+
] = [A
-
] dan [HA] M
a
(molaritas asam mula-mula)
Sehingga
] [M
] O [H
] [M
] O ][H O [H
K
a
2
3
a
3 3
a
+ + +

a 2
1
a 2
1
a 2
1
a 2
1
a a 3
a a 3
a a 3
M log pK pH
M log K log pH
) M (K log ] O [H log
) M (K ] O [H
M K ] O [H
2
1
2
1


+
+
+
Jika derajat ionisasinya =
a
a
2
a
a a
a
a a
a
3
M
K
M
M K
M
M K

] [M
] O [H
mula - mula Asam
terurai yang Asam



+
3.pH Basa Lemah Monovalen
BOH B
+
+ OH
-

[BOH]
] ][OH [B
K
b
+
, K
b
: konstanta ioniasi basa
[BOH] M
b
(molaritas basa mula-mula) dan [B
+
] = [OH
-
], sehingga
Kimia Dasar II
32

Contoh Soal
Tentukan pH dan derajat ionisasi larutan HCN 1,0 M jika = K
a
4,0.10
-
10
!
Diketahui : HCN 1,0 M
K
a
4,0.10
-10
Ditanya : pH dan
Jawab :
HCN + H
2
O H
3
O
+
+ CN
-
4,6989 5 0,3010 10 log 2 log
4,0.10 log 1,0 x 4,0.10 log
M K log pH
5
10 10
a a



Jadi pH larutan HCN 1,0 M adalah 4,6989
5
10
a
a
2.10
1,0
4,0.10
M
K


Jadi derajat disosiasi larutan HCN 1,0 M adalah 2.10
-5

b
b
M
] ][OH [OH
K

pOH pH pK
logM K p pOH
logM K log pOH
) M log(K ] log[OH
M K ] [OH
M K ] [OH
w
b 2
1
b 2
1
b 2
1
b 2
1
b b
b b
b b
2
2
1
+


4. pH buffer
Buffer atau larutan penyangga merupakan larutan yang
bersifat mempertahankan harga pH. Larutan ini terdiri dari
campuran asam lemah dan garamnya atau basa lemah dan
garamnya.
pH buffer dari asam lemah dan garamnya
Kimia Dasar II
33
b 2
1
b 2
1
w
logM K p pK pH +
Contoh Soal
Tentukan pH larutan NH
4
OH 0,1 M jika diketahui K
b
= 10
-5
Diketahui : NH
4
OH 0,1 M
K
b
= 10
-5
Ditanya : pH
Jawab :
NH
4
OH NH
4
+
+ OH
-
11 0,1 log 10 log 14 pH
logM K p pK pH
2
1
5
2
1
b 2
1
b 2
1
w

+

b 2
1
b 2
1
w
logM K p pK pH +
I NaA Na
+
+ A
-

II HA + H
2
O H
3
O
+
+ A
-

Pada reaksi II
[HA]
]
-
][A O
3
[H
a
K
+

[A
-
] = [A
-
]
I
+[A
-
]
II
Karena [A
-
]
I
[A
-
]
II
maka [A
-
]
I
[A
-
]
II
= molaritas garam (M
g
)
g
M
a
M
a
K
] O [H
a
M
g
]M O
3
[H
a
K
3

+
+

pH buffer dari asam lemah dan garamnya dapat ditentukan


dengan persamaan :
pH buffer dari basa lemah dan garamnya
I BOH B
+
+ OH
-
II BA

+ H
2
O B
+
+ OH
-
[B
+
] = [B
+
]
I
+ [B
+
]
II
untuk
[B
+
]
II
[B
+
]
I
untuk maka [B
+
] [B
+
]
II
(molaritas garam, M
g
)
b
M
]
-
[OH
g
M
[BOH]
]
-
][OH [B
b
K
+

g
b
b
g
b
b
-
M
M
log K p pOH
M
M
K ] [OH

Kimia Dasar II
34
g
M
a
M
log
a
pK pH
pH buffer dari basa lemah dan garamnya ditentukan dengan
persamaan
2.6 Reaksi netralisasi
Reaksi netralisasi merupakan reaksi antara asam dengan
basa menghasilkan garam. Reaksi ini juga dinamakan reaksi
penggaraman yang didasarkan pada reaksi berikut :
H
3
O
+
+ OH
-
2 H
2
O
Banyaknya asam dan basa yang dibutuhkan serta banyaknya
garam yang terbentuk dapat ditentukan secara stoikhiometri.
Prinsip inilah yang kemudian dikembangkan menjadi salah satu
metode analisis volumetri dengan menggunakan titrasi netralisasi.
Titrasi merupakan proses mereaksikan sejumlah tertentu
asam atau basa tetes demi tetes basa atau asam yang diukur
dengan suatu buret sehingga dapat langsung diketahui banyaknya
basa atau asam yang dibutuhkan. Pada saat banyaknya asam
tepat bereaksi dengan basa disebut dengan titik ekuivalen. Dalam
percobaan, titik ekuivalen ditentukan dengan menggunakan
pendekatan titik akhir titrasi yang dapat ditentukan dengan suatu
indikator atau pH-meter. Suatu reaksi netralisasi diharapkan
mempunyai pH sesuai dengan jenis asam atau basa yang
bereaksi. Apabila reaksi terjadi dari asam kuat dan basa kuat,
maka pada titik ekuivalen pH akan sama dengan 7. Jika reaksi
melibatkan asam kuat den gan basa lemah atau asam lemah
dengan basa kuat, maka besarnya pH tergantung pada
ekuivalensi masing-masing reaktan.
Contoh Soal
Kimia Dasar II
35
g
b
b w
M
M
log K p K p pH +
Sebanyak 10 mL larutan NaOH 0,01 M dititrasi dengan larutan HCl
0,005 M. Berapakah volume HCl yang diperlukan untuk habis
bereaksi dengan NaOH tersebut? Buatlah kurva titrasi versus pH
pada penambahan HCl 0; 5 ; 10 ; 15 ; 19 ; 19,5 ; 20 ; 20,5 ; dan 21
mL.
Diketahui : V NaOH = 10 mL
M NaOH = 0,01 M
M HCl = 0,005 M
Ditanya : V HCl dan kurva V HCl versus pH
Jawab :
pH mula-mula = pH NaOH 0,01 M
pH NaOH = 14 (- log 0,01) = 12
Reaksi : NaOH + HCl NaCl + H
2
O
Mol NaOH = M NaOH x V NaOH
= 0,01 M x 10 mL = 0,1 mmol
Sehingga 0,1 mmol NaOH 0,1 mmol HCl 0,1 mmol NaCl
0,1 mmol H
2
O
mL 20
M 0,005
mmol 0,1
HCl M
HCl n
HCl V

Jadi volume HCl 0,005 M yang diperlukan untuk menitrasi 10
mL NaOH 0,01 M = 20 mL
Pada penambahan HCl = 5 mL
Mol HCl = 0,005 M x 5 mL = 0,025 mmol
NaOH sisa = 0,1 mmol - 0,025 mmol = 0,075 mmol
[OH
-
] = 0,075 mmol : (10 + 5) mL = 0,005 M
pH = 14 (- log 0,005) = 11,70
Pada penambahan HCl = 10 mL
Mol HCl = 0,005 M x 10 mL = 0,05 mmol
NaOH sisa = 0,1 mmol - 0,05 mmol = 0,05 mmol
[OH
-
] = 0,05 mmol : (10 + 10) mL = 0,005 M
Kimia Dasar II
36
pH = 14 (- log 0,0025) = 11,40
Pada penambahan HCl = 15 mL
Mol HCl = 0,005 M x 15 mL = 0,075 mmol
NaOH sisa = 0,1 mmol - 0,075 mmol = 0,025 mmol
[OH
-
] = 0,025 mmol : (10 + 15) mL = 0,001 M
pH = 14 (- log 0,001) = 11,00
Pada penambahan HCl = 19 mL
Mol HCl = 0,005 M x 19 mL = 0,095 mmol
NaOH sisa = 0,1 mmol - 0,095 mmol = 0,005 mmol
[OH
-
] = 0,005 mmol : (10 + 19) mL = 1,7.10
-4
M
pH = 14 (- log 1,7.10
-4
) = 10,24
Pada penambahan HCl = 19,5 mL
Mol HCl = 0,005 M x 19,5 mL = 0,0975 mmol
NaOH sisa = 0,1 mmol - 0,0975 mmol = 0,0025 mmol
[OH
-
] = 0,0025 mmol : (10 + 19,5) mL = 1,4.10
-4
M
pH = 14 (- log 1,4.10
-4
) = 10,10
Pada penambahan HCl = 20 mL
Mol HCl = 0,005 M x 20 mL = 0,1 mmol
Mol NaOH = mol HCl, sehingga pH larutan = 7
Pada penambahan HCl = 20,5 mL
Mol HCl = 0,005 M x 20,5 mL = 0,1025 mmol
HCl sisa = 0,1025 mmol - 0,1 mmol = 0,0025 mmol
[H
+
] = 0,0025 mmol : (10 + 20,5) mL = 8,2.10
-5
M
pH = - log 8,2.10
-5
= 4,08
Pada penambahan HCl = 21 mL
Mol HCl = 0,005 M x 21 mL = 0,105 mmol
HCl sisa = 0,105 mmol - 0,1 mmol = 0,005 mmol
[H
+
] = 0,005 mmol : (10 + 21) mL = 1,6.10
-4
M
pH = - log 1,6.10
-4
= 3,79
Kimia Dasar II
37

Gambar 2.1. Grafik volume penambahan HCl versus pH
2.7 Indikator Asam Basa
Indikator merupakan asam basa merupakan suatu senyawa
yang dapat mengalami perubahan pada pH tertentu sehingga
dapat digunakan untuk membedakan senyawa yang bersifat
asam, basa, ataupun netral. Senyawa tersebut biasanya berupa
asam lemah (H-In) yang terdisosiasi sebagian membentuk
kesetimbangan berikut :
HIn + H
2
O H
3
O
+
+ In
-
warna 1 warna 2
Kimia Dasar II
38

Warna indikator tergantung pada pergeseran kesetimbangan yang


ditentukan berdasarkan jumlah atau konsentrasi H
3
O
+

atau dapat
dinyatakan sebagai pH. Perubahan pH pada indikator ditentukan
dari persamaan berikut :
Kimia Dasar II
39
[HIn]
] [In
log pKa pH

+
Latihan
1. Apa yang dimaksud asam dan basa menurut Arrhenius?
Bagaimana asam dan basa bisa terbentuk? Berikan masing-
masing 3 contoh!
2. Apa yang dimaksud asam dan basa menurut Bronsted dan
Lowry? Bagaimana asam dan basa tersebut bisa terbentuk?
Berikan masing-masing 3 contoh!
3. Jelaskan pula yang dimaksud dengan asam konjugat dan basa
konjugat
4. Apa yang dimaksud dengan asam dan basa Lewis?
Bagaimana asam dan basa tersebut dapat terbentuk?
Bagaimana interaksi antara asam dan basa Lewis, berikan 3
contoh reaksi dengan menggambarkan struktur Lewis dan
tunjukkan arah interaksi asam dengan pasangan elektron dari
basa!
5. Apakah suatu senyawa dapat bersifat sebagai asam dan
sebagai basa? Jelaskan dan berikan 3 contoh!
6. Mengapa air dapat mengalami swa ionisasi? Bagaimana
mekanismenya? Tuliskan pula kesetimbangan ion-ionnya!
7. Bilamana asam dapat bersifat asam lemah atau asam kuat?
Bilamana pula basa dapat bersifat basa lemah atau basa
kuat? Berikan masing-masing 3 contoh reaksi ionisasi.
8. Tentukan pH dari larutan HCl 0,05 M, HCl 0,0002 M, HI 0,01 M
dan HI 0,0005 M
9. Tentukan pH dari NaOH 0,001 M, NaOH 0,05 M, Mg(OH)
2
0,0001 M, dan Mg(OH)
2
0,1 M
10. Tentukan konsentrasi dari larutan NaOH yang mempunyai pH
12 dan HCl yang mempunyai pH 4.
11. Tentukan pH dan derajat ionisasi dari larutan asam asetat
0,001 M jika K
a
= 1,74.10
-5
Kimia Dasar II
40
12. Tentukan pH dan derajat ionisasi dari 1000 mg asam
asetilsalisilat (HC
9
H
7
O
4
) dalam 100 mL larutan yang
mempunyai K
a
= 2,75.10
-5

13. Tentukan pH dan derajat ionisasi dari trimetil amin [(CH
3
)
3
NH]
0,152 M jika K
b
= 6,2.10
-5
14. Tentukan pH dan derajat ionisasi dari amonia 0,01 M K
b
=
1,74.10
-5
15. Tentukan pH buffer dari 1 L larutan yang mengandung asam
asetat 0,2 mol dan 0,4 mol natrium asetat, jika K
a
= 1,74.10
-5
16. Tentukan pH buffer dari campuran 100 mL amonia 0,2 M dan
50 mL amonium klorida 0,5 M jika K
b
= 1,74.10
-5
17. Jika 10 mL larutan NaOH 0,01 N akan distandarisasi dengan
25 mL larutan asam oksalat dihidrat (H
2
C
2
O
4
.2H
2
O). Tuliskan
reaksi penggaraman yang terjadi dan tentukan massa asam
oksalat dihidrat yang dibutuhkan
18. Tentukan pH pada titrasi 20 mL KOH 0,05 M dengan 0 mL, 1
mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL,5 mL, 6 mL, 7 mL, 8 mL, 9
mL, 9,5 mL, 10 mL, 10,5 mL dan 11 mL HCl 0,1 M. Buatlah
grafik volume titrasi versus pH!
19. Sebanyak 10 mL larutan HCl 0,001 M dititrasi dengan larutan
NaOH 0,0005 M. Berapakah volume NaOH yang
diperlukan untuk habis bereaksi dengan HCl tersebut?
Buatlah kurva titrasi versus pH pada setiap 1 mL
penambahan NaOH dari 0 mL 21 mL.
Kimia Dasar II
41
Kimia Dasar II
42
3. Termokimia
Kompetensi
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan cara penentuan kalor reaksi
2. Merumuskan persamaan termokimia
3. Menentukan entalpi perubahan kimia dan fisika
Topik Pembelajaran
3.1 Penentuan Kalor Reaksi secara Eksperimen
3.2 Persamaan Termokimia
3.3 Entalpi
3.4 Energi Disosiasi Ikatan (H
dis
)
3.5 Entalpi Hilangnya atau Diperolehnya Elektron
3.6 Entalpi kristal ion (H
x tal
)
3. Termokimia
3.1 Penentuan Kalor Reaksi secara Eksperimen
Kalor suatu reaksi ditentukan dengan menggunakan
kalorimeter. Metode sederhana untuk menentukan kalor suatu
reaksi adalah kalorimeter pembakaran dan kalorimeter reaksi.
Kalorimeter pembakaran digunakan untuk menentukan kalor
pembakaran dari suatu unsur atau senyawa dengan oksigen,
sehingga energi yang dibebaskan atau diserap dapat diukur.
kalorimeter ini kebanyakan digunakan untuk menentukan kalor
pada pemutusan ikatan senyawa organik. Kalorimeter reaksi
digunakan untuk menentukan banyaknya kalor atau energi yang
dihasilkan atau dibutuhkan pada suatu reaksi kimia, seperti
kebanyakan reaksi kimia senyawa anorganik.
Jenis kalorimeter sangat beragam, diantaranya kalorimeter
tipe bom seperti pada gambar berikut ini.
air

pereaksi
Kumparan
Kimia Dasar II
43
Reaksi berlangsung dalam suatu
bilik baja (bom) yang ditempatkan
dalam sebuah bejana berisi air
yang diketahui jumlahnya. Reaksi
diawali dengan memanaskan
kumparan dengan listrik. Jika
reaksinya sangat eksotermis, maka
panas reaksi akan diserap oleh air
yang ada di sekitarnya sehingga
perubahan temperatur dapat
diketahui. Kalor reaksi dapat
ditentukan dari massa air, massa
pereaksi, perubahan temperatur,
dan kapasitas panasnya.
E
reaksi
= E
air
+
E
kalorimeter
3.2 Persamaan Termokimia
Persamaan termokimia menyatakan persamaan reaksi bila
diketahui perubahan kalornya pada suatu kondisi tertentu yang
dinyatakan sebagai perubahan entalpi (H).
Kimia Dasar II
44
Contoh Soal
Sebanyak 100 mg aluminium direaksikan dengan oksigen
berlebih dalam sebuah kalorimeter bom dengan
massa air 500 g. Jika temperatur air mula-mula
adalah 20,20
o
C dan setelah reaksi selesai
temperatur air meningkat menjadi 21,64
o
C.
Tentukan energi yang dibebaskan setiap mol
aluminium yang bereaksi jika kapasitas panas air
adalah 4,184 Jg
-1 o
C
-1
dan kapasitas panas
kalorimeter adalah 62,8 Jg
-1 o
C
-1
Diketahui : m Al = 100 mg = 10
-1
g m air
= 500 g
t
1
= 20,20
o
C t
2
=
21,64
o
C
c
air
= 4,184 Jg
-1 o
C
-1
c
kalorimeter
= 62,8 J
o
C
-1
Ditanya : Kalor pembakaran 1 mol Al
Jawab : E
reaksi
= E
air
+ E
kalorimeter
E
reaksi
= [(4,184 Jg
-1 o
C
-1
)(500 g)(21,64
o
C-
20,20
o
C)] +
[(62,8 J
o
C
-1
)(21,64
o
C-20,20
o
C)]
H = H
produk
H
pereaksi
Jika suatu reaksi membutuhkan kalor (H = +) maka reaksinya
disebut reaksi endoterm dan jika reaksinya melepaskan kalor (H
= -) disebut reaksi eksoterm. Apabila reaksi berlangsung
eksoterm, maka reaksi kebalikannya adalah reaksi endoterm.
Kalor yang dilepaskan reaksi eksotem sama dengan kalor yang
diserap oleh reaksi eksoterm.
H
2
O
(l)
H
2(g)
+ O
2(g)
H = + 285,83 kJ
H
2(g)
+ O
2(g)
H
2
O
(l)
H = - 285,83 kJ
3.3 Entalpi
Entalpi adalah istilah dalam termodinamika yang
menyatakan jumlah energi internal dari suatu sistem
termodinamika ditambah energi yang digunakan untuk melakukan
kerja. Secara matematis, entalpi dinyatakan sebagai
H = U + pV
H : entalpi sistem (joule)
U : energi internal (joule)
p : tekanan dari sistem (Pa)
V : volume sistem (m
3
)
Perubahan entalpi suatu reaksi sangat tergantung pada
keadaan zat-zat yang terlibat seperti temperatur dan tekanan.
Perubahan entalpi pada keaddan standar (tekanan 1 atm dan
temperatur 25
o
C) disebut perubahan entalpi standar (H
o
).
Perhitungan termokimia berlaku Hukum Hess yang
menyatakan bahwa untuk suatu reaksi keseluruhan tertentu,
perubahan entalpi selalu sama, baik reaksi yang berlangsung
secara langsung maupun tidak langsung.
S
(s)
+ O
2(g)
SO
2(g)
H
r
o
= - 296,83 kJ
SO
2(g)
+ O
2(g)
SO
3(g)
H
r
o
= - 98,9 kJ
Kimia Dasar II
45
S
(s)
+ 1 O
2(g)
SO
3(g)
H
r
o
= - 395,73 kJ
Entalpi pembentukan standar (H
f
o
)
Entalpi pembentukan standar dinyatakan sebagai perubahan
entalpi pembentukan 1 mol suatu senyawa dari unsur-unsurnya
pada kondisi standar. Jika kalor reaksi sama dengan kalor
pembentukan maka besarnya H
r
o
= H
f
o
H = H
f
o

produk
H
f
o

pereaksi
Tabel entalpi pembentukan standar, H
f
o
dalam kJ.mol
-1
Zat
H
f
o
Zat
H
f
o
Zat
H
f
o
CH
4(g)
-74,81 HBr
(g)
-36,4 NO
(g)
+90,25
C
2
H
4(g)
+226,7 HCl
(g)
-92,31 NO
2(g)
+33,2
C
2
H
6 (g)
-84,68 H
2
O
(l)
-285,83 O
3(g)
+143
CO
(g)
-110,5 H
2
O
(g)
-241,82 SO
2(g)
-296,83
CO
2(g)
-393,52 NH
3(g)
-46,11 SO
3(g)
-395,7
3.4 Energi Disosiasi Ikatan (H
dis
)
Energi disosiasi ikatan menyatakan banyaknya energi per
mol yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan suatu senyawa
menjadi atom-atomnya. Jika suatu senyawa yang terdiri dari
unsur A dan B, maka besarnya energi disosiasi ikatan ditentukan
berdasarkan persamaan berikut :
AB
(g)
A
(g)
+ B
(g)

H
o
dis
A-B = H
o
f
A
(g)
+ H
o
f
B
(g)
- H
o
f
A-B
(g)
Pada molekul poliatomik, energi ikatan rata-rata (H
o
dis avg
)
merupakan energi rata-rata per ikatan yang diperlukan untuk
mendisosiasikan 1 mol molekul menjadi atom-atom penyusunnya.
Kimia Dasar II
46
3.5 Entalpi Hilangnya atau Diperolehnya Elektron
1. Entalpi pengionan (H
ion
)
Entalpi pengionan menyatakan banyaknya energi yang diserap
untuk mengionkan satu atom yang dinyatakan dalam elektronvolt
per atom (1 eV = 1,602.10
22
kJ)
2. Entalpi afinitas elektron (H
ea
)
Entalpi afinitas elektron menyatakan banyaknya energi yang
dibebaskan bila sebuah atom memperoleh satu elektron.
3.6 Entalpi kristal ion (H
x tal
)
Entalpi kristal ion menyatakan banyaknya perubahan entalpi per
mol bila ion-ion berbentuk gas yang terpisah jauh satu sama lain,
saling mendekati untuk membentuk zat kristal padat. Perubahan
entalpi ini menjadi ukuran
Terdapat empat Hukum Dasar yang berlaku di dalam sistem
termodinamika, yaitu:
1. Hukum Awal (Zeroth Law) Termodinamika
Hukum ini menyatakan bahwa dua sistem dalam keadaan
setimbang dengan sistem ketiga, maka ketiganya dalam saling
setimbang satu dengan lainnya.
2. Hukum Pertama Termodinamika
Hukum ini terkait dengan kekekalan energi. Hukum ini
menyatakan perubahan energi dalam dari suatu sistem
termodinamika tertutup sama dengan total dari jumlah energi
Kimia Dasar II
47
kalor yang disuplai ke dalam sistem dan kerja yang dilakukan
terhadap sistem.
3. Hukum kedua Termodinamika
Hukum kedua termodinamika terkait dengan entropi. Hukum
ini menyatakan bahwa total entropi dari suatu sistem
termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkat seiring
dengan meningkatnya waktu, mendekati nilai maksimumnya.
4. Hukum ketiga Termodinamika
Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol
absolut. Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem
mencapai temperatur nol absolut, semua proses akan berhenti
dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Hukum ini
juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal
sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol.
Contoh Soal
1. Tentukan entalpi pembentukan propana dari unsur-unsurnya
jika diketahui entalpi pembakaran propana, grafit, dan
hidrogen masing-masing adalah -2220,1 kJ.mol
-1
; -393,5
kJ.mol
-1
; dan -285,8 kJ.mol
-1

Diketahui : C
3
H
8(g)
+ 5 O
2(g)
3 CO
2(g)
+ 4H
2
O
(l)
H = -2220,1
kJ.mol
-1
C
(s)
+ O
2(g)
CO
2(g)
H = -393,5
kJ.mol
-1

H
2(g)
+ O
2(g)
H
2
O
(l)
H = -285,8
kJ.mol
-1
Ditanya : 3C
(s)
+ 4H
2(g)
C
3
H
8(g)
H =...
kJ.mol
-1
?
Jawab :
Kimia Dasar II
48
3C
(s)
+ 3O
2(g)
3CO
2(g)
H = 3 (-393,5
kJ.mol
-1
)
4H
2(g)
+ 2O
2(g)
4H
2
O
(l)
H = 4 (-285,8
kJ.mol
-1
)
3 CO
2(g)
+ 4H
2
O
(l)
C
3
H
8(g)
+ 5 O
2(g)
H = +2220,1
kJ.mol
-1
3C
(s)
+ 4H
2(g)
C
3
H
8(g)
H = -103,6
kJ.mol
-1
Jadi entalpi pembentukan propana dari unsur-unsurnya adalah
-103,6 kJ.mol
-1

2. Jika entalpi pembentukan nitrogen monooksida adalah +90,25
kJ.mol
-1
dan entalpi pembakaran nitrogen monooksida menjadi
nitrogen dioksida adalah -56,52 kJ.mol
-1
tentukan entalpi
pembakaran nitrogen menjadi nitrogen dioksida!
Diketahui : N
2(g)
+ O
2(g)
NO
(g)
H = +90,25
kJ.mol
-1
NO
(g)
+ O
2(g)
NO
2(g)
H = -56,52
kJ.mol
-1
N
2(g)
+ O
2(g)
NO
2(g)
H = +33,73
kJ.mol
-1
Jadi entalpi pembakaran nitrogen menjadi nitrogen dioksida
adalah +33,73 kJ.mol
-1
Latihan
1. Sebutkan 3 jenis kalorimeter disertai dengan gambar dan
jelaskan fungsinya!
2. Sebanyak 3200 mg etanol dimasukkan ke dalam kalorimeter
bom dan direaksikan dengan oksigen berlebih. Jika massa air
Kimia Dasar II
49
dalam kalorimeter sebanyak 3000 g dan temperatur mula-
mula 25
o
C, tentukan kalor pembakaran 1 mol metanol apabila
temperatur air setelah reaksi berakhir menjadi 30,2
o
C.
3. Tentukan entalpi pembentukan HCl dari Cl
2
dan H
2
O?
4. Tentukan entalpi reaksi
C
2
H
4(g)
+ Cl
2(g)
C
2
H
4
Cl
2(l)
Jika diketahui
2Cl
2(g)
+ 2H
2
O
(l)
4HCl
(l)
+ O
2(g)
H =
+202,5 kJ.mol
-1
2HCl
(g)
+ C
2
H
4(g)
+ O
2(g)
C
2
H
4
Cl
2(l)
+ H
2
O
(l)
H = -319,6
kJ.mol
-1
H
2(g)
+ Cl
2(g)
HCl
(g)
H = -92,30
kJ.mol
-1
H
2(g)
+ O
2(g)
H
2
O
(l)
H = -285,85
kJ.mol
-1
5. Jika diketahui :
2H
2(g)
+ O
2(g)
2H
2
O
(l)
H = -572 kJ
C
3
H
4(g)
+ 4O
2(g)
3CO
2(g)
+ 2H
2
O
(l)
H = -1937
kJ
C
3
H
8(g)
+ 5O
2(g)
3CO
2(g)
+ 4H
2
O
(l)
H = -2220 kJ
Dengan menggunakan Hukum Hess, tentukan entalpi dari
reaksi
C
3
H
4(g)
+ 2H
2(g)
C
3
H
8(g)
6. Hitung entalpi standar pembentukan gas diboran (B
2
H
6
) jika
dari data diketahui :
4B
(s)
+ 3O
2(g)
2B
2
O
3(s)
H = -2509,1 kJ
2H
2(g)
+ O
2(g)
2H
2
O
(l)
H = -571,7 kJ
B
2
H
6(g)
+ 3O
2(g)
B
2
O
3(s)
+ 3H
2
O
(l)
H = -2147,5 kJ
Kimia Dasar II
50
Kimia Dasar II
51
Kimia Dasar II
52
Kimia Dasar II
53
4. Kesetimbangan
Kimia
Topik Pembelajaran
4.1 Kesetimbangan Reaksi Kimia
4.2 Faktor yang Mempengaruhi Kesetimbangan
4.3 Tetapan Kesetimbangan Kimia
Kompetensi
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa mampu :
6. Merumuskan reaksi kesetimbangan kimia
7. Menentukan faktor yang memepngaruhi kesetimbangan
kimia
8. Menentukan arah kesetimbangan kimia
9. Menentukan konstanta kesetimbangan konsentrasi dan
tekanan
4. Kesetimbangan Kimia
4.1 Kesetimbangan Reaksi Kimia
Suatu reaksi kimia dikatakan setimbang apabila reaksi yang
saling berlawanan terjadi dengan kecepatan atau laju reaksi yang
sama. Reaksi setimbang hanya berlaku pada sistem yang
setimbang dan reaksi yang bersifat reversibel (dapat balik). Jika
sejumlah tertentu reaktan menghasilkan sejumlah tertentu
produk, maka kecepatan pembentukan produk dan kecepatan
produk untuk kembali menjadi reaktan sama.
Pada reaksi setimbang tidak tampak terjadi perubahan
produk dan reaktan, meskipun reaksinya tetap berlangsung secara
terus-menerus dengan kecepatan yang sama. Kesetimbangan ini
dinamakan sebagai kesetimbangan dinamis, yaitu pada saat :
1) reaksi berlangsung dengan dua arah yang berlawanan
dengan kecepatan yang sama meskipun jumlahnya tidak sama
2) tidak terjadi perubahan makroskopis (perubahan yang dapat
diukur atau diamati) tetapi pada saat terjadi perubahan yang
bersifat mikroskopis (perubahan tingkat partikel)
3) reaksi terjadi pada ruang tertutup pada suhu dan tekanan
konstan
4) reaksi berlangsung secara terus-menerus dengan jenis
komponen yang tetap
Reaksi kesetimbangan dapat dikelompokkan menjadi 2,
yaitu kesetimbangan homogen dan heterogen. Kesetimbangan
homogen adalah kesetimbangan yang terjadi pada reaksi yang
mempunyai wujud yang sama, seperti kesetimbangan antara gas-
gas dan kesetimbangan ion-ion dalam larutan.
N
2(g)
+ 3 H
2(g)
2 NH
3(g)
Kimia Dasar II
54
Fe
2+
(aq)
+ SCN
-
(aq)
Fe(SCN)
2+
(aq)
Kesetimbangan heterogen adalah kesetimbangan yang terjadi
pada reaksi yang memiliki komponen yang berbeda wujudnya.
CaCO
3(s)
CaO
(s)
+ CO
2(g)

4.2 Faktor yang mempengaruhi kesetimbangan
Suatu reaksi kesetimbangan dinamis dipengaruhi oleh suatu
keadaan tertentu yang dapat memberikan sebuah aksi yang akan
mengganggu kesetimbangan tersebut berdasarkan prinsip Le
Chatelier yang menyatakan bahwa jika suatu sistem
kesetimbangan diberikan suatu aksi, maka sistem tersebut akan
mengalami reaksi sehingga pengaruh aksi tersebut menjadi
sekecil-kecilnya dan reaksi kesetimbangan dapat dipertahankan.
Reaksi yang ditimbulkan dari aksi tersebut akan
menimbulkan pergeseran kesetimbangan yang arahnya
tergantung pada aksi yang diberikan. Beberapa faktor yang
mempengaruhi kesetimbangan adalah terjadinya perubahan :
1) konsentrasi
Jika konsentrasi atau jumlah reaktan bertambah maka reaksi
akan bergeser kearah produk dan jika konsentrasi produk
bertambah maka reaksi akan bergeser kearah reaktan
2) tekanan
Jika tekanan dinaikkan maka reaksi akan berjalan kearah
jumlah mol yang kecil dan jika tekanan diturunkan maka reaksi
akan bergeser kearah jumlah mol yang lebih besar
3) suhu
Jika suhu diturunkan, sistem kesetimbangan akan melepaskan
energi sehingga reaksi akan bergeser kearah reaksi eksoterm
dan jika suhu dinaikkan, kesetimbangan akan menyerap energi
sehingga reaksi akan bergeser kearah reaksi endoterm
Kimia Dasar II
55
4) volume
Jika sejumlah volume tertentu ditambahkan pada
kesetimbangan ion-ion, maka kesetimbangan akan bergeser
kearah jumlah partikel yang lebih banyak. Kenaikan volume
pada kesetimbangan gas akan menyebabkan terjadinya
penurunan tekanan sehingga kesetimbangan akan bergeser
kearah jumlah mol yang lebih besar.
4.3 Tetapan Kesetimbangan Kimia
Tetapan kesetimbangan merupakan perbandingan
komposisi reaktan dan produk dalam reaksi kesetimbangan pada
suhu tertentu. Berdasarkan jenis reaksi kesetimbangan,
konstanta kesetimbangan dapat dinyatakan dalam konstanta
kesetimbangan untuk konsentrasi (K
c
) dan konstanta
kesetimbangan untuk tekanan parsial (K
p
).
1) Konstanta kesetimbangan konsentrasi (K
c
)
Suatu kesetimbangan dari sejumlah mol tertentu suatu
reaktan menghasilkan sejumlah mol tertentu produk, maka secara
umum dapat dituliskan dalam reaksi berikut :
a A + b B + ... m M + n N + ...
Konstanta kesetimbangan konsentrasinya dapat dinyatakan dalam
persamaan berikut :
Konstanta kesetimbangan merupakan fungsi stoikhiometri
dari reaksi kimianya. Hubungan konsentrasi pada reaksi
kesetimbangan yang mempunyai harga tetap mengikuti hukum
kesetimbangan. Reaksi kesetimbangan pada suhu yang konstan,
Kimia Dasar II
56
... [B] [A]
... [N] [M]
K
b a
n m
c

konsentrasi hasil kali reaksi dibagi hasil kali konsentrasi pereaksi,
masing-masing dipangkatkan dengan koefisien reaksinya.
CO
(g)
+ Cl
2(g)
COCl
2(g)

] ][Cl [CO
] [COCl
K
2(g) (g)
2(g)
c

2 Cr
3+
(aq)
+ Fe
(s)
2 Cr
2+
(aq)
+ Fe
2+
(aq)
] [Fe ] [Cr
] [Fe ] [Cr
K
(s)
2
(aq)
3
(aq)
2 2
(aq)
2
c
+
+ +

2) Konstanta kesetimbangan tekanan parsial (K


p
)
Konstanta kesetimbangan tekanan parsial menyatakan
perbandingan hasil kali tekanan parsial produk dengan hasil kali
tekanan parsial reaktan, masing-masing dipangkatkan dengan
koefisien reaksinya.
Pada reaksi : a A + b B + ... m M + n N + ...
Besarnya konstanta kesetimbangan tekanan parsial adalah
N
2(g)
+ 3 H
2(g)
2 NH
3(g)
3
2(g) 2(g)
2
3(g)
p
) )(pH (pN
) (pNH
K
Hubungan antara tekanan parsial dengan konsentrasi
dinyatakan dengan pendekatan persamaan gas ideal, pV = nRT .
RT
V
n
p dimana
V
n
konsentrasi
Jika pA = [A] RT pB = [B] RT
pM = [M] RT pN = [N] RT
Kimia Dasar II
57
... (pB) (pA)
... (pN) (pM)
K
b a
n m
p

x
c
b a
n m
p
(RT) K
... ([B]RT) ([A]RT)
... ([N]RT) ([M]RT)
K
dimana x = (m + n +...) (a + b +...)
Latihan
1. Bilamana reaksi kimia dapat mencapai kesetimbangan?
2. Jika pada kesetimbangan Fe
2+
(aq)
+ SCN
-
(aq)
Fe(SCN)
2+
(aq)
, apa
yang terjadi apabila konsentrasi Fe
2+
(aq)
bertambah dan apa
yang terjadi apabila Fe(SCN)
2+
(aq)
bertambah.
3. Apa yang terjadi pada kesetimbangan 2 NO
2(g)
N
2
O
4(g)
H =
-14,1 kkal temperaturnya dinaikkan. Jelaskan pula jika
temperaturnya diturunkan
4. Apa yang terjadi jika tekanan dinaikkan untuk kesetimbangan
N
2(g)
+ 3 H
2(g)
2 NH
3(g)
dan jelaskan pula apa yang terjadi
jika tekanan diturunkan.
5. Apa yang terjadi jika pada kesetimbangan 2 Cr
3+
(aq)
+ Fe
(s)
2
Cr
2+
(aq)
+ Fe
2+
(aq)
volume Cr
3+
(aq)
ditambah dan apa yang terjadi
bila volume Cr
2+
(aq)
bertambah.
6. Gas HI mengalami dekomposisi pada temperatur rendah
menghasilkan gas hidrogen dan gas iodin. Jika pada
temperatur 25
o
C dalam suatu vessel yang memiliki volume 2
L mengandung 0,5 mol HI. Tuliskan reaksi kesetimbangan
yang terjadi dan tentukan konsentrasi gas hidrogen pada
keadaan setimbang jika diketahui Kc = 1,26.10
-3
.
7. Jika 0,150 mol PCl
5
ditempatkan dalam sebuah labu tertutup
yang mempunyai volume 500 mL dan pada suhu 250
o
C
mengalami dekomposisi menjadi PCl
3
dan Cl
2
. Jika
kesetimbangan tercapai pada harga Kc 1,80 maka ramalkan
banyaknya masing-masing spesies.
Kimia Dasar II
58
Kimia Dasar II
59
Kimia Dasar II
60
5. Kinetika Kimia
Topik Pembelajaran
5.1 Kinetika Kimia
5.2 Persamaan laju reaksi
5.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi
5.4 Teori Tumbukan
5.5 Reaksi Orde Nol
5.6 Reaksi Orde Pertama
5.7 Reaksi Orde Kedua
5.8 Reaksi Orde Ketiga
5.9 Waktu Paruh
5.10 Penentuan Orde Reaksi dan Konstanta Laju Reaksi
5.11 Pengaruh Temperatur terhadap Laju Reaksi
Kompetensi
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa mampu :
1. Persamaan laju reaksi
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
3. Teori tumbukan
4. Menentukan orde reaksi dan konstanta laju reaksi
5. Merumuskan pengaruh temperatur terhadap laju reaksi
5. Kinetika Kimia
5.1 Kinetika Kimia
Kinetika kimia merupakan cabang ilmu kimia yang
mempelajari hubungan antara tinjauan stoikhiometri kimia dengan
waktu berlangsungnya suatu reaksi kimia. Perubahan atau reaksi
kimia baik secara alamiah maupun yang dirancang oleh manusia
akan membutuhkan waktu yang tertentu untuk berlangsungnya
perubahan reaktan menjadi produk. Kadangkala suatu reaksi
berjalan dengan cepat, bahkan harus dikendalikan agar tidak
menimbulkan bahaya. Adapula reaksi yang berjalan dengan
lambat sehingga harus diberikan suatu perlakuan agar reaksinya
berjalan dengan cepat. Cepat atau lambatnya suatu proses
kimiawi tentu saja akan memberikan pengaruh terhadap
kepentingan reaksi tersebut terjadi. Jika reaksinya justru
merugikan pasti harus dicegah seminimal mungkin, sebaliknya
jika reaksinya menguntungkan tentu dibuat secepat mungkin
dengan hasil yang maksimal.
Hubungan kuantitatif senyawa-senyawa yang bereaksi
menghasilkan suatu senyawa-senyawa tertentu dalam kurun
waktu tertentu dinyatakan dalam laju reaksi. Laju reaksi atau
kinetika reaksi menyatakan banyaknya suatu reaktan yang
berkurang dalam satu satuan waktu atau banyaknya produk yang
bertambah dalam satu satuan waktu. Secara matematis, laju
reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi per satuan
waktu atau didefinisikan sebagai pengurangan konsentrasi
reaktan atau penambahan konsentrasi produk per satuan waktu.
Kimia Dasar II
61
Jika sebanyak a mol senyawa A bereaksi dengan b mol
senyawa B dan seterusnya menghasilkan p mol senyawa P dan q
mol senyawa Q dan seterusnya, maka dapat dituliskan sebagai :
a A + b B + p P + q Q +
Persamaan laju reaksinya dapat dituliskan dalam persamaan
berikut :
v : laju reaksi
a, b,,p,q, : koefisien stoikiometri
m,n, : orde reaksi terhadap A,B,
k : konstanta laju reaksi
5.2 Reaksi Orde Nol
Laju reaksi tertentu tidak dipengaruhi oleh besarnya
konsentrasi reaktan atau produk yang dihasilkan. Umumnya
reaksi yang demikian ini merupakan reaksi yang berlangsung
secara enzimatis atau fotokimiawi. Jika senyawa A bereaksi
menghasilkan senyawa B, dengan reaksi :
A B
maka persamaan laju reaksinya dapat dinyatakan dalam
persamaan :
`
jika diintegrasikan dan diketahui pada t = 0 , [A] = [A]
o


1
0
1
0
t k d[A]
[A]
1
[A]
o
= k (t
1
t
0
), karena t
0
= 0 maka t
1
t
0
= t
Kimia Dasar II
62
...
dt
d[Q]
q
1
dt
d[P]
p
1
...
dt
d[B]
b
1
dt
d[A]
a
1
v
= k[A]
m
[B]
n
k
dt
d[A]
v
[A]
1
= [A]
o
kt

t
[A] [A]
k
1 o

5.3 Reksi Orde Pertama


Reaksi orde pertama merupakan reaksi yang laju reaksinya
berbanding langsung dengan konsentrasi reaktan. reaksi ini terjadi
pada reaksi yang hanya terdiri dari satu jenis reaktan saja. Jika
Kimia Dasar II
63
Contoh soal
Reaksi fermentasi glukosa 5 mol/L menjadi alkohol mengikuti
kinetika orde nol. Dari hasil pengamatan, pada t = 24 jam telah
terbentuk 60 % alkohol. Reaksi dibiarkan selama 12 jam lagi.
Tentukan berapa glukosa yang tersisa ?
Diketahui : t
1
= 24 jam
[C
6
H
12
O
6
]
o
= 5 mol.L
-1
[C
6
H
12
O
6
]
1
= 0,6 [C
6
H
12
O
6
]
o
t
2
= (24 + 12) jam = 36 jam
Ditanya : [C
6
H
12
O
6
]
2
mol/L
Jawab :
1 - 1 -
-1 -1
1
1 6 12 6 o 6 12 6
jam . mol.L 0,0833
jam 24
mol.L 0,6.5 mol.L 5
t
] O H [C ] O H [C
k

[C
6
H
12
O
6
]
2
= [C
6
H
12
O
6
]
o
kt
2
= 5 mol. L
-1

-1 -1
jam . mol.L 0833 , 0 .36 jam = 2 mol. L
-1
Jadi jumlah glukosa yang tersisa adalah 2 mol. L
-1
reaktannya meruapan senyawa A bereaksi menghasilkan senyawa
B, maka reaksi kimianya dapat dituliskan sebagai:
A B
Persamaan laju reaksi untuk reaksi orde pertama dapat dituliskan
sebagai berikut:
Jika diintegrasikan dan diketahui pada t = 0 , [A] = [A]
o


1
0
1
0
dt k
[A]
d[A]

kt
[A]
[A]
ln
o
1

atau ln [A]
1
ln [A]
o
= kt

kt
o 1
e [A] [A]

atau
1
o
[A]
[A]
ln
t
1
k
jika dinyatakan dalam logaritma, maka persamaan tersebut
menjadi :

2,303
kt -
o
1
[A]
[A]
log
atau log [A]
1
log [A]
o
=
2,303
kt -
Plot ln [A] atau log [A] terhadap t merupakan suatu garis lurus.
Konstanta laju reaksi (k) dihitung dari gradient persamaan garis
lurus yang diberikan.
ln [A]
1


= kt + ln [A]
0
log [A]
1
=
2,303
kt -
+ log [A]
o
Kimia Dasar II
64
k[A]
dt
d[A]
v
Contoh soal
Suatu senyawa peroksida mengalami dekomposisi menurut
reaksi orde pertama sehingga konsentrasinya mengalami
penurunan konsentrasi sebesar :
t (sekon) 0 30 60 90 120 150
[C] (M) 0,100 0,095 0,089 0,084 0,079 0,075
Tentukan konsentrasi peroksida yang tersisa pada waktu 90
menit.
Diketahui :
t
(sekon)
0 30 60 90 120 150
[C] (M) 0,100 0,095 0,089 0,084 0,079 0,075
Log [C] -1 -
1,0222
8
-
1,0506
1
-
1,0757
2
-
1,1023
7
-
1,1249
4
Ditanya : [C] pada 90 menit
5.4 Reksi Orde Kedua
Ada dua kasus pada reaksi orde kedua, yaitu reaksi yang
terjadi pada satu jenis reaktan dan dua jenis reaktan.
Kimia Dasar II
65
Jawab :
Dari data tersebut dibuat grafik log [C] versus t
-1.14
-1.12
-1.1
-1.08
-1.06
-1.04
-1.02
-1
-0.98
0 50 100 150 200
t (sekon)
[
C
]

M
Slope = m = -0,00085
Intersep = -0,99907
log [C] =
2,303
kt -
+ log [C]o
y = mx + c
log [C] = -0,00085 (5400) + (-0,99907)
= -5.58907
[C] = 2,76.10
-6
M
Jadi konsentrasi peroksida yang tersisa pada waktu 90 menit adalah
2,76.10
-6
M
Kasus I
Pada kasus ini, laju reaksi berbanding langsung dengan
kuadrat konsentrasi reaktan. Misalnya senyawa A bereaksi
menghasilkan senyawa B dengan reaksi sebagai berikut :
A B
Persamaan laju reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut :
Jika persamaan tersebut diintegrasikan pada kondisi mula-mula
(0) sampai kondisi pertama (1) maka :


1
0
1
0
2
dt k
[A]
d[A]
kt
o
[A]
1
-
[A]
1
1

,
_

atau
kt
[A]
1
[A]
1
o 1
+

Kasus II
Pada kasus ini berlaku untuk dua jenis reaktan yang
berbeda. Misalnya a mol senyawa A bereaksi dengan b mol
senyawa B, menghasilkan c mol senyawa C, dengan persamaan
reaksi sebagai berikut :
a A + b B Produk
Jika a b dan A B maka persamaan laju reaksinya dapat
dituliskan :
jika diintegrasikan


1
0
1
0
dt k
[A][B]
d[A]
a
1
Kimia Dasar II
66
2
k[A]
dt
d[A]
v
k[A][B]
dt
d[B]
b
1
dt
d[A]
a
1
v
kt
[B] [A]
[A] [B]
ln
a[B] b[A]
1
1 0
1 0
0 0

Jika a = b = 1, maka
kt
[B] [A]
[A] [B]
ln
[B] [A]
1
1 0
1 0
0 0

5.5 Reaksi Orde ketiga


Kasus I
Jika laju reaksi berbanding langsung dengan pangkat tiga
konsentrasi dari suatu reaktan.
3 R Produk
maka persamaan laju reaksinya secara matematis didefinisikan
sebagai :


t
0
[R]
[R]
3
dt k
[R]
d[R]
o
kt
2[R]
1
2[R]
1
2
o
2

,
_


2
o
2
[R]
1
[R]
1
2t
1
k
Kasus II
Laju reaksi sebanding dengan kuadrat konsentrasi dari reaktan
dan pangkat satu dari reaktan yang lain.
R
1
+ R
2
Produk
Kimia Dasar II
67
] [R ] k[R
dt
] d[R
dt
] d[R
v
2
2
1
2 1

3
k[R]
dt
d[R]
v
jika diintegrasikan dan diketahui pada t = 0 , [R
1
] = [R
1
]
o
dan [R
2
]
= [R
2
]
o
kt
] [R ] [R
] ][R [R
ln
] [R ] [R
1
] [R
1
] [R
1
] [R ] [R
1
2 o 1
o 2 1
2
o 1 o 2 o 1 1 o 1 o 2

+
1
]
1

Kasus III
Laju reaksi sebanding dengan hasil kali dari ketiga reaktan
R
1
+ R
2
+ R
3
Produk
jika diintegrasikan dan diketahui pada t = 0 , [R
1
] = [R
1
]
o
; [R
2
] =
[R
2
]
o
dan [R
3
] = [R
3
]
o
kt
] [R
] [R
] [R
] [R
] [R
] [R
ln
) ] [R ] ([R ) ] [R - ] ([R ) ] [R - ] ([R
1
o
]
3
[R -
o
]
1
R o
]
1
[R -
o
]
3
[R
o
]
3
[R -
o
]
2
[R [
3
o 3
2
o 2
1
o 1
o 1 o 3 o 3 o 2 o 2 o 1

1
1
]
1

,
_

,
_

,
_

5.6 Reaksi Orde Semu


Jika konsentrasi satu atau lebih reaktan jauh lebih besar
daripada konsentrasi reaktan lainnya atau salah satu reaktan
bekerja sebagai katalis. Konsentrasi dari jenis ini dianggap
konstan sehingga orde reaksi berkurang. Misalnya pada hidrolisis
ester dengan katalis asam.
5.7 Waktu Paruh
Kimia Dasar II
68
] ][R ][R k[R
dt
] d[R
dt
] d[R
dt
] d[R
v
3 2 1
3 2 1

Didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan bila separuh
konsentrasi dari suatu reaktan digunakan. Waktu paruh hanya
dapat ditentukan jika satu jenis reaktan terlibat. Jika suatu reaksi
berlangsung antara jenis reaktan yang berbeda, waktu paruh
harus ditentukan terhadap reaktan tertentu saja. Waktu paruh
pada sistem satu komponen ditentukan dengan rumus :

untuk n = 1maka waktu paruh dapat ditentukan dengan
persamaan :
Jika reaksi mengikuti orde semu, waktu paruh ditentukan
terhadap konsentrasi jenis yang ada dalam jumlah kecil. Dalam
sistem lebih dari satu reaktan, waktu paruh adalah waktu untuk
separuh dari reaktan yang ada dalam jumlah kecil.
Latihan
1. Di suatu tempat
penampungan limbah industri cat mengandung senyawa
organik mengalami fotodegradasi. Berdasarkan hasil
pengukuran di laboratorium, kandungan senyawa organik yang
berbahaya sebanyak 1000 ppm. Hasil monitoring pada tiga
puluh hari kemudian kandungannya menurun 245 ppm.
Tentukan berapa lama senyawa tersebut konsentrasinya
menjadi 120 ppm!
2. Jika 0,125 M senyawa A
direaksikan menghasilkan senyawa B dengan mengikuti reaksi
Kimia Dasar II
69
k 1)[C] - (n
1 - 2
t
1 - n
o
1 - n
2
1

k
0,69
t
2
1

orde pertama. Pada waktu 60 detik, senyawa A konsentrasinya
menjadi 0,100 M. Berapakah laju reaksi pembentukan senyawa
B? Tentukan pula konstanta laju reaksinya dan berapakah
konsetrasi senyawa A yang tersisa pada waktu 150 detik?
3. Suatu hidrogen
peroksida mengalami dekomposisi menurut reaksi orde
pertama sehingga konsentrasinya mengalami penurunan
konsentrasi sebesar :
t (sekon) 0 30 60 90 120
[H
2
O
2
] (M) 0,200 0,191 0,182 0,179 0,169
Tentukan konsentrasi hidrogen peroksida yang tersisa pada
waktu 180 sekon.
4. Dekomposisi
asetaldehid mengikuti reaksi orde kedua dengan reaksi sebagai
berikut :
CH
3
CHO CH
4
+ CO
Jika konsentrasi asetaldehid mula-mula adalah 50 % b/b dan
konsentrasi pada waktu 24 jam menjadi 35 % b/b, tentukan
konsentrasi asetaldehid yang tersisa pada waktu 48 jam.
5. Suatu senyawa X terurai
dengan mengikuti reaksi orde ketiga. Jika konsentrasi mula-
mula adalah 2 M dan konsentrasi pada waktu 10 menit menjadi
1,25 M, tentukan t

.
Kimia Dasar II
70
Kimia Dasar II
71
6. Reaksi Redoks
Topik Pembelajaran
6.1 Reaksi Reduksi dan Oksidasi
6.2 Menyetarakan Reaksi Redoks
6.3 Potensial Sel
6.4 Sel Elektrokimia
6.5 Kerja listrik dan Perubahan Energi Bebas
6.6 Hubungan
E
osel
dan K
6.7 E
sel
sebagai fungsi konsentrasi
Kompetensi
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa mampu :
1. Merumuskan reaksi reduksi dan oksidasi
2. Menyetarakan reaksi redoks
3. Menentukan potensial sel
4. Menjelaskan sel elektrokimia
5. Menentukan kerja listrik dan perubahan energi bebas
6. Merumuskan hubungan
E
osel
dan K
7. Merumuskan hubungan E
sel
dan konsentrasi
6.Reaksi Redoks
6.1 Reaksi Reduksi dan Oksidasi
Reaksi oksidasi adalah suatu reaksi yang menyebabkan
terjadinya kenaikan bilangan oksidasi atau reaksi yang
melepaskan elektron. Reaksi oksidasi juga dapat didefinisikan
sebagai reaksi yang membutuhkan oksigen atau disebut sebagai
reaksi pembakaran. Pada senyawaan organik, jika pembakaran
sempurna maka akan dihasilkan gas karbon dioksida dan air,
tetapi jika pembakarannya tidak sempurna akan dilepaskan gas
karbon monooksida.
Cu
(s)
Cu
2+
(aq)
+ 2 e
4 Fe
(s)
+ 3 O
2(g)
2 Fe
2
O
3(s)
2 C
2
H
6(g)
+ 7 O
2(g)
4 CO
2(g)
+ 6 H
2
O
(g)
Reaksi reduksi adalah reaksi yang menyebabkan terjadinya
penurunan bilangan oksidasi atau reaksi yang membutuhkan
elektron. Jika reaksi berlangsung dalam suasana asam, maka
reaksi reduksi memerlukan H
+
dan jika dalam suasana basa maka
membutuhkan OH
-
sehingga reaksinya akan menghasilkan air.
Ag
+
(aq)
+ e Ag
(s)
MnO
4
-
(aq)
+ 8H
+
(aq)
+ 5e Mn
2+
(aq)
+ 4H
2
O
(l)
Reaksi reduksi oksidasi merupakan suatu reaksi kimia yang
menyebabkan kenaikan bilangan oksidasi pada salah satu reaktan
yang terjadi secara serentak dengan penurunan bilangan oksidasi
pada reaktan yang lain. Elektron yang dilepaskan akan sebanding
dengan elektron yang akan ditangkap. Suatu senyawa yang
mengalami reaksi oksidasi dinamakan senyawa reduktor dengan
mereduksi senyawa lain, sedangkan senyawa yang mengalami
Kimia Dasar II
72
penurunan bilangan oksidasi dinamakan senyawa oksidator
karena mampu mengoksidasi reaktan yang lain.
6.2 Menyetarakan Reaksi Redoks
Setiap reaksi kimia pasti akan selalu mengikuti hukum
kesetaraan reaksi. Pada reaksi redoks yang menyebabkan
pelepasan dan penangkapan sejumlah tertentu elektron yang
sesuai dengan tingkat oksidasinya, maka secara stoikhiometri
reaksi redoks harus disetarakan. Salah satu metode yang paling
sederhana adalah dengan menggunakan metode elektron ion atau
metode setengah reaksi. Misalnya reaksi antara asam oksalat dan
kalium permanganat.
1. menentukan spesies yang terlibat dalam perubahan bilangan
oksidasi
oksidasi C
2
O
4
2-
(aq)
CO
2(g)

reduksi MnO
4
-
(aq)
Mn
2+
(aq)
2. menyeimbangkan jumlah atom. Apabila kelebihan atom O di
sebelah kiri maka perlu ditambahkan H
2
O di sebelah kanan.
Adanya atom H di sebelah kanan, maka perlu ditambahkan
H
+
atau OH
-
di sebelah kiri, tergantung suasana asam atau
basa yang diinginkan.
oksidasi C
2
O
4
2-
(aq)
2 CO
2(g)

reduksi MnO
4
-
(aq)
+ 8 H
+
(aq)
Mn
2+
(aq)
+ 4 H
2
O
(l)
3. menyeimbangkan muatan listrik dengan menambahkan
elektron pada setiap setengah reaksi
oksidasi C
2
O
4
2-
(aq)
2 CO
2(g)
+ 2e
reduksi MnO
4
-
(aq)
+ 8 H
+
(aq)
+ 5e Mn
2+
(aq)
+ 4 H
2
O
(l)
4. menyetarakan jumlah elektron dan menjumlahkan setengah
reaksi menjadi reaksi redoks
oksidasi C
2
O
4
2-
(aq)
2 CO
2(g)
+ 2e
Kimia Dasar II
73
reduksi MnO
4
-
(aq)
+ 8 H
+
(aq)
+ 5e Mn
2+
(aq)
+ 4
H
2
O
(l)
5. menyederhanakan reaksi redoks dengan perbandingan
koefisien reaksi terkecil
oksidasi (C
2
O
4
2-
(aq)
2 CO
2(g)
+ 2e) x5
reduksi (MnO
4
-
(aq)
+ 8 H
+
(aq)
+ 5e Mn
2+
(aq)
+ 4 H
2
O
(l)
)
x2
C
2
O
4
2-
(aq)
+ 2 MnO
4
-
(aq)
+ 16 H
+
(aq)
2 Mn
2+
(aq)
+
10CO
2(g)
+ 8 H
2
O
(l)
)
6. meneliti kembali langkah demi langkah
6.3 Potensial Sel
Potensial sel pada spesies yang mengalami reaksi reduksi
dan oksidasi dapat diukur dalam keadaan standar (temperatur 298
K dan tekanan 1 atm) yang dinyatakan dalam E
o
sel
. Jika diukur
dalam keadaan temperatur dan tekanan tertentu dinyatakan
sebagai E
sel
. Setiap spesies mempunyai harga tertentu yang
merupakan bilangan bulat yang besarnya dinyatakan sebagai
potensial setengah reduksi. Harga potensial setengah reduksi
standar dapat diperoleh dalam tabel harga E
o
sel
. Besarnya
potensial setengah oksidasi standar merupakan kebalikan harga
potensial reduksi standar, sedangkan besarnya potensial standar
untuk reaksi redoks merupakan neto dari kedua reaksi tersebut.
Kimia Dasar II
74
+
Contoh soal
Tuliskan persamaan setengah sel dan tentukan E
o
sel
dari reaksi
redoks :
Cu
(s)
+ Ag
+
(aq)
Cu
2+
(aq)
+ Ag
(s)

Diketahui : dari tabel diperoleh data sebagai berikut :
Cu
2+
(aq)
+ 2e Cu
(s)
E
o
sel
+ 0,337 V
Ag
+
(aq)
+ e Ag
(s)
E
o
sel
+ 0,771 V
Ditanya : E
o
sel
Jawab :
oksidasi : Cu
(s)
Cu
2+
(aq)
+ 2e E
o
sel
- 0,337 V
reduksi : (Ag
+
(aq)
+ e Ag
(s)
)x2

E
o
sel
+ 0,771 V
Cu
(s)
+ 2Ag
+
(aq)
Cu
2+
(aq)
+ 2Ag
(s)
E
o
sel
+
0,434 V
6.4 Sel Elektrokimia
Apabila suatu elektroda dalam setengah sel elektrokimia
yang berasal dari logam M berada dalam sebuah larutan yang
mengandung ion M
n+
maka akan terjadi interaksi diantara
keduanya.
M
M
n+
1) Ion logam M
n+
akan menabrak elektrode tanpa suatu
perubahan
2) Ion logam akan menabrak elektrode dengan menangkap n
elektron sehingga akan tereduksi menjadi logam M
3) Elektrode M akan kehilangan n elektron dan teroksidasi
menjadi M
n+
Interaksi yang terjadi pada setengah sel tersebut menyebabkan
terjadinya energi listrik. Penggabungan setengah reaksi reduksi
dan setangah reaksi oksidasi dinamakan sel elektrokimia.

aliran elektron potensiometer
Kimia Dasar II
75
Oksidasi : M M
n+
+ n e
Reduksi : M
n+
+ n e M
Cu jembatan garam Ag
anoda katoda
KNO
3(aq)
Cu
2+
(aq)
Ag
+
(aq)
Pada anoda terjadi reaksi oksidasi dan pada katoda terjadi reaksi reduksi
Oksidasi : Cu(s) Cu
2+
(aq) + 2e
Reduksi : (Ag
+
(aq) + e Ag(s)) x 2
Cu(s) + 2Ag
+
(aq) Cu
2+
(aq) + 2 Ag(s)
Elektron yang dilepaskan anoda ditangkap olah katoda
sehingga ion Ag
+
(aq)
mengalami reduksi dan mengendap di
katoda. Elektroda Cu mengalami oksidasi sehingga konsentrasi
Cu
2+
(aq)
meningkat. Hubungan listrik dapat terjadi dengan adanya
kawat logam yang menghubungkan kedua elektroda yang dapat
diukur dengan suatu potensiometer yang menyatakan perbendaan
potensial. Aliran listrik yang berbentuk migrasi ion dihubungkan
dengan suatu larutan yang disebut dengan jembatan garam. Oleh
karena itu dapat dituliskan sebagai diagram sel :
anoda jembatan garam katoda
Cu
(s)
Cu
2+
(aq)
Ag
+
(aq)
Ag
(s)
setengah sel setengah sel
Besarnya energi listrik dari hubungan antara perbendaan potensial
dan muatan listrik dalam sel elektrokimia dinyatakan sebagai :
joule = volt x coulomb
Kimia Dasar II
76
Contoh soal
Tentukan E
o
sel
dari sel elektrokimia Zn
(s)
Zn
2+
(aq)
Sn
2+
(aq)
Sn
(s)
Diketahui : dari tabel diperoleh data sebagai berikut :
Zn
2+
(aq)
+ 2e Zn
(s)
E
o
sel
-0,763 V
Sn
2+
(aq)
+ 2e Sn
(s)
E
o
sel
-0,136 V
Ditanya : E
o
sel
Jawab :
oksidasi : Zn
(s)
Zn
2+
(aq)
+ 2e E
o
sel
+
0,763 V
reduksi : Sn
2+
(aq)
+ 2e Sn
(s)
E
o
sel
-
0,136 V
Zn
(s)
+ Sn
2+
(aq)
Zn
2+
(aq)
+ Sn
(s)

E
o
sel
+ 0,627 V
6.5Kerja listrik dan Perubahan Energi Bebas (G)
Reaksi redoks dapat terjadi secara spontan jika G lebih
kecil dari nol (negatif), jika G lebih dari nol (positif) maka
reaksinya tidak spontan. Reaksi yang berlangsung spontan dapat
menghasilkan arus listrik sedangkan reaksi tidak spontan
memerlukan energi. Proses spontan mampu melakukan kerja
yang bersarnya :
Apabila reaksi berlangsung dalam sel volta, maka kerja listrik yang
dapat dihasilkan sebesar :
F : bilangan Faraday (96.500 C.mol.e
-1
)
n : jumlah mol elektron per mol reaksi
Dengan demikian, jika E
sel
positif maka reaksi dapat berlangsung
spontan, dan jika E
sel
negatif reaksinya tidak spontan.
Kimia Dasar II
77
G = w
maks
= - n F
E
sel

o
= - n F
W
eleks
= n F E
sel
6.6Hubungan E
o
sel
dan K
Hubungan E
o
sel
dengan K dapat dinyatakan dalam persamaan :
6.7E
sel
sebagai Fungsi Konsentrasi
Pada sel galvani yang terdiri dari :
a A + b B ... c C + d D ...
maka dapat dinyatakan sebagai :
Latihan
Setarakan reaksi redoks berikut ini dengan menggunakan
setengah reaksi :
1) Cu
(s)
+ H
+
(aq)
+ NO
3
-
(aq)
Cu
2+
(aq)
+ NO
(g)
+ H
2
O
(l)

2) Zn
(s)
+ H
+
(aq)
+ NO
3
-
(aq)
Zn
2+
(aq)
+ NH
4
+
(aq)
+ H
2
O
(l)

3) H
2
O
2(l)
+ MnO
4
-
(aq)
+ H
+
(aq)
Mn
2+
(aq)
+ O
2(g)
+ H
2
O
(l)

2. Setarakan dan tentukan E
o
sel
dari reaksi berikut :
Kimia Dasar II
78

=
o
= - 2,303 RT log Q
- n F E
sel
= n F E
o
sel
+ 2,303 RT log Q
K log
nF
RT 2,303
E E
o
sel sel


b a
d c
o
sel sel
[B] [A]
[D] [C]
log
nF
RT 2,303
E E

o
= - 2,303 RT log K = n F E
o
sel
K log
nF
RT 2,303
E
o
sel

K log
n
0,0592
E
o
sel

1) Sn
2+
(aq)
+ Cr
2
O
7
2-
(aq)
+ H
+
(aq)
Sn
4+
(aq)
+ Cr
3+
(aq)
+ H
2
O
(l)

2) S
2
O
3
2-
(aq)
+ Cl
2(g)
+ H
+
(aq)
HSO
4
-
(aq)
+ Cl
-
(aq)
+ H
2
O
(l)

3) As
2
O
3(s)
+ MnO
4
-
(aq)
+ H
+
(aq)
Mn
2+
(aq)
+ AsO
4
3-
(aq)
+ H
2
O
(l)

3. Tentukan E
o
sel
, W
elek,
dan
o
serta tunjukkan bahwa reaksi
tersebut termasuk reaksi spontan atau tidak spontan
1) Zn
(s)
Zn
2+
(aq)
Ag
+
(aq)
Ag
(s)

2) Fe
(s)
Fe
2+
(aq)
Ni
2+
(aq)
Ni
(s)

3) Al
(s)
Al
3+
(aq)
Cr
2+
(aq)
Cr
(s)


Kimia Dasar II
79
DAFTAR PUSTAKA
Brady, J.E., 1990, General Chemistry, Principle & Structure, 5
th
ed.,
John Willey Sons, New York
Petrucci HR, 1997, General Chemistry Principle & Modern
Applications, Prentice Haal International, New Jersey
Keenan, Kleinfelter, Wood, 1980, Kimia untuk Universitas, Edisi ke-
6 Jilid 1 dan 2, Erlangga, Jakarta
Syukri S., 1999, Kimia Dasar, Penerbit ITB Bandung
Kimia Dasar II
80