Anda di halaman 1dari 51

Identifikasi Serat Tekstil

MENGIDENTIFIKASI SERAT TEKSTIL

Untuk SMK Teknik Pembuatan kain

Untung Mardiyanto, ST
SMK Negeri 2 Karanganyar

2011
Teknologi Dan Rekayasa Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

PENGESAHAN

Telah disyahkan buku Mengidentifikasi Serat Tekstil untuk Program Keahlian Teknik Pembuatan Kain dan semoga buku ini bermanfaat bagi siswa maupun guru pengampu program keahlian Teknik Pembuatan Kain serta dapat menambah koleksi buku Teknik Tekstil yang masih sangat kurang.

Karanganyar, Januari 2011 Mengesahkan Kepala SMKN2 Karanganyar

Penulis

Drs. Wahyu Widodo, MT


NIP.19601019 199412 1 001

Untung Mardiyanto, ST
NIP.19750121 200801 1 009

Mengetahui
Ka. Dinas DIKPORA Karanganyar

Drs. Sri Suranto, M.Pd


NIP.19580102 198303 1 011

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

MENGIDENTIFIKASI SERAT TEKSTIL


untuk

SMK Teknik Pembuatan Kain

disusun

Untung Mardiyanto, ST

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

ii

Identifikasi Serat Tekstil

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dengan rasa syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya. Dengan rahmad Nya telah selesai apa yang menjadi tujuan untuk menyelesaikan buku Mengidentifikasi Serat Tekstil. Karena keberadaan buku pegangan siswa untuk Program Keahlian Teknik Pembuatan Kain sangatlah kurang, maka penulis berusaha mewujudkan apa yang menjadi keinginan penulis. Oleh karena itu, penulis berusaha memudahkan para siswa untuk mempelajari bagian dari Teknik Pembuatan Kain. Susunan buku ini disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dipaparkan dengan bahasa yang sederhana sehingga sangat memudahkan untuk dipelajari oleh para siswa dan sangat membantu terhadap proses kegiatan belajar mengajar Dalam menyusun buku ini tentunya masih terdapat kekurangan dan kelemahan, karena itu penulis sangat mengharap koreksi dan saran perbaikan dari rekan guru demi kesempurnaan buku ini.

Karanganyar,

Januari 2011

Penulis

Teknologi Dan Rekayasa

iii

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan ........................................................................................................ Halaman Judul .................................................................................................................. Kata Pengantar .................................................................................................................. Daftar Isi ........................................................................................................................... i ii iii iv

1. IDENTIFIKASI SERAT TEKSTIL A. Pengertian Bahan Tekstil ................................................................................... B. Klasifikasi Serat Tekstil ..................................................................................... -

1 1 1

Serat Alam ................................................................................................... 3 Serat Buatan ................................................................................................ Serat Setengah Buatan ................................................................................ Serat Sintetis ............................................................................................... 3 4 4

C. Identifikasi Serat tekstil ...................................................................................... 5

2. BENTUK SERAT A. Bentuk Serat dan Sifat Serat .............................................................................. Staple .............................................................................................................. Filamen ........................................................................................................... Tow ................................................................................................................. Monofil ...........................................................................................................

9 9 9 9 9 10 10

B. Bentuk penampang serat Alam .............................................................................

Serat Tumbuh Tumbuhan ( Selulosa ) ............................................................... 10 1). Kapas .......................................................................................................... 2). Flax ............................................................................................................. 10 13

3). Henep .......................................................................................................... 14 4). Rami ........................................................................................................... C. Serat Protein ......................................................................................................... Sutera .............................................................................................................. Wool ............................................................................................................... 16 17 17 18 20

D. Serat Alam .................................. .........................................................................

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

iv

Identifikasi Serat Tekstil

Asbes .................................................................................................................... E. Serat Buatan ......................................................................................................... Selulosa Yang Diregenerasi ................................................................................. Rayon Viskosa ...............................................................................................

20 20 20 20

Rayon Kupramonium ...................................................................................... 21 Rayon Acetat ................................................................................................... 22

3. METODE PENGUJIAN SERAT TEKSTIL A. Metode Pengujian Serat Dengan Menggunakan Mikroskop ................................ Tujuan Uji Mikroskop .................................................................................... Alat dan Bahan Uji Mikroskop .......................................................................

26 26

26 29

Langkah Kerja ................................................................................................. 30 32

B. Metode Pengujian Serat Dengan Pelarutan .......................................................... C. Metode Pengujian Serat Dengan Uji Pembakaran ................................................ D. Metode Uji Zat Warna .........................................................................................

34

35

Daftar Pustaka

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

IDENTIFIKASI SERAT TEKSTIL

1
A . Pengertian Bahan Tekstil
Pengetahuan bahan tekstil adalah pengetahuan bahan baku dari kain tekstil yang disebut serat tekstil. Jadi yang dipelajari adalah serat serat tekstil, umpamanya mengenai asalnya serat, macamnya, bentuknya, sifatnya, kualitasnya dan sebagainya. Serat sarat itu nantinya yang akan dibuat menjadi benang dan dari benang dibuat menjadi kain. Pekerjaan merubah serat menjadi bahan benang disebut memintal dan merubah benang menjadi kain disebut menenun. Menenun adalah menganyam benang lusi dan benang pakan pada mesin tenun. Benang lusi adalah benang yang membujur pada kain dan benang pakan adalah benang yang melintang pada kain. Setelah menenun masih banyak lagi pekerjaan lain yang dilakukan terhadap kain tersebut untuk memperbaiki kualitasnya dan memperindah bentuknya, misalnya dikelangtang, dicelup, dicap ( printing ), dan lain lain. Pekerjaan ini disebut dengan penyempurnaan kain tekstil. Kadang kadang benangpun ada yang disempurnakan untuk maksud maksud tertentu, misalnya untuk benang jahit.

B . Klasifikasi Serat Tekstil


Serat adalah sebuah zat yang panjang, tipis, dan mudah

dibengkokkan.Panjang serat beberapa ratus kali lebarnya. Ditinjau dari segi zat kimia penyusunnya, serat tekstil tersusun atas molekul-molekul yang sangat besar yaitu berupa celulose, protein, thermoplastics atau mineral. Berdasarkan asal zat kimia seratnya, serat dikelompokkan menjadi serat alam dan serat buatan. Serat alam adalah serat yang molekulnya terbentuk secara alami. Serat alam dikelompokkan ke dalam serat yang berasal dari tumbuhan dan yang berasal dari hewan. Serat tumbuhan dapat diperoleh dari bagian biji, batang, daun atau buahnya. Serat hewan dapat diperoleh dari bagian bulu atau rambut binatang.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

2
Serat buatan adalah serat yang molekulnya disusun secara sengaja oleh manusia. Serat buatan dikelompokkan ke dalam serat alam yang diolah kembali, serat setengah buatan (bahan dari serat alam dan bahan kimia buatan), serat buatan (murni dari bahan kimia buatan). Serat serat yang terutama digunakan untuk tekstil dapat dibagi dua golongan besar, yaitu serat alam dan serat buatan. Tiap tiap golongan dapat pula dibagi lagi menurut asalnya.
Serat Biji Serat Batang Serat Daun Serat Buah

Selulosa

Serat Alam Serat Binatang

Serat Pendek (Wol, rambut)

Serat Panjang (sutera)

Serat Bahan Galian

Asbes

Serat Tekstil Rayon Viskosa Polimer Alam


Organik Polimer Buatan Polimer Adisi Serat Buatan

Rayon Kupramonium

Polimer Kondensasi
Anorganik

Gelas Logam

Gambar : Penggolongan Serat

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

3
Serat tekstil dapat digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu : 1. Serat alam. 2. Serat buatan.

SERAT ALAM

Serat yang digolongkan dalam serat alam yaitu serat yang diperoleh langsung dari alam. Serat alam digolongkan menjadi : 1. Serat selulosa. 2. Serat protein. 3. Serat mineral.

Serat Selulosa Serat selulosa dapat berasal dari : 1. Batang; flax ( linen ), henep, jute, kenaf, rami. 2. Buah ; serat serabut kelapa. 3. Daun ; serat abaca ( manila ), henequen, sisal. 4. Biji ; kapas, kapok.

Serat Protein Serat protein dapat berbentuk serat staple dan serat filament. Serat staple dapat berasal dari : 1. Rambut; umpamanya dari alpaca, unta, cashmere, liama, mohair, kelinci, vicuna. 2. Wol ; dari biri biri. Serat filamen yaitu serat sutera yang di dapat dari ulat sutera.

Serat Mineral Serat serat yang termasuk dalam serat mineral alam adalah serat asbes.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

4
SERAT BUATAN Serat buatan digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu : 1. Serat setengah buatan. 2. Serat sintetis. SERAT SETENGAH BUATAN Serat setengah buatan yaitu serat yang dibuat dari polimer polimer yang sudah terdapat di alam. Serat setengah buatan dapat berasal dari : 1. Selulosa ; umpanya serat rayon viskosa, rayon asetat, rayon kupramonium. 2. Protein ; umpanyanya serat kaseina, zein. 3. Mineral ; serat logam, gelas, silikat dan karbon.

SERAT SINTETIS Serat sintetis yaitu serat yang di buat dari polimer polimer buatan. Serat sintetis digolongkan menjadi : 1. Polimer kondensasi. 2. Polimer adisi.

Polimer Kondensasi Serat yang termasuk dalam polimer kondensasi yaitu serat serat : 1. Poliamida, misal serat nylon. 2. Polyester, misal serat tetoron, daeron. 3. Poliuretan , misal serat spandex.

Polimer Adisi Serat yang termasuk polimer adisi yaitu serat : 1. Polihidrokarbon ; misalnya serat olefin, polietilena, polipropilena. 2. Polihidrokarbon yang disubstitusi halogen ; misalnya serat polyvinyl khlorida. 3. Polihidrokarbon yang disubstitusi hidroksil ; misalnya polyvinyl alcohol. 4. Polihidrokarbon yang disubstitusi nitril ; misalnya serat akrilat, modakrilat, nitril.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

C. Identifikasi Serat
Identifikasi serat didasarkan pada beberapa sifat khusus dari suatu serat, antara lain : morfologi, sifat kimia dan sifat fisika. Pada umumnya identifikasi serat dilakukan menurut beberapa cara, terutama pengamatan dengan menggunakan

mikroskop dan cara kimia agar mendapatkan hasil yang maksimal. Pada serat alam, morfologi serat menunjukkan suatu bentuk dengan

perbedaan yang besar antara satu dengan yang lainnya. Ini di sebabkan karena serat tersebut ditentukan oleh jenis tanaman dan jenis hewannya. Oleh karena itu, morfologi serat dari serat alam sangat menentukan dalam identifikasi serat. Sifat kimia serat alam perbedaannya sangat kecil, karena serat tersebut tersusun oleh selulosa atau protein. Pada serat buatan, yang memegang peranan sangat penting adalah sifat kimia dan sifat fisika. Proses identifikasi serat dapat dilakukan dengan pengujian : 1. Cara mikroskopik. 2. Cara pelarutan. 3. Cara pembakaran. 4. Cara pewarnaan. 5. Cara penentuan berat jenis. 6. Cara penentuan titik leleh.

SENARAI :
Selulosa : bio polisakarida yang dihasilkan oleh sito plasma sel tanaman yang membentuk dinding sel Staple Filament Disubstitusi : serat serat yang pendek : serat serat yang panjang : digantikannya suatu unsur untuk memperoleh unsur yang lain

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

Latihan Soal
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat.
1. Benang yang membujur sepanjang kain disebut dengan benang a. benang pakan b. benang lusi / lungsi c. benang jahit d. benang rajut e. benang nylon 2. Benang yang melintang sepanjang kain disebut dengan benang a. benang pakan b. benang lusi / lungsi c. benang jahit d. benang rajut e. benang nylon 3. Serat yang disusun sengaja oleh manusia disebut dengan a. serat alam b. serat kapas c. serat buatan d. serat linen e. serat nylon 4. Yang bukan termasuk sellulosa adalah a. serat biji b. serat batang c. serat buat d. serat alam e. serat daun 5. Dibawah ini macam macam jenis serat, yang adalah a. b. c. d. e. nylon kapok kapas rami asbes termasuk kedalam serat batang

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

7
6. Serat yang dibuat dari polimer polimer yang sudah terdapat di alam di sebut juga dengan a. serat alam b. serat sintetis c. serat buatan d. serat rami e. serat setengan buatan 7. Poliamida adalah ternasuk serat dari hasil polimer kondensasi. Contoh dari poliamida adalah a. tetoron b. daeron c. nylon d. spandek e. rami 8. Yang termasuk dalam polyester adalah a. spandek b. nylon c. daeron d. rami e. jute 9. Serat yang tahan terhadap api atau panas adalah a. serat nylon b. serat jute c. serat buatan d. serat asbes e. serat rami 10. Polyvinyl alcohol adalah contoh polimer adisi dari a. polihidrokarbon yang disubstitusi dengan oksigen b. polihidrokarbon c. polihidrokarbon yang disubstitusi dengan nitril d. polihidrokarbon yang disubstitusi dengan hiroksil e. polihidrokarbon yang disubstitusi dengan halogen

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

Jawablah dengan tepat


1. Sebutkan macam macam dari serat serat alam ! 2. Sebutkan macam selulosa dari serat alam dan berikan masing masing contohnya ! 3. Jelaskan penggolongan dari serat sintetis ! 4. Sebutkan dan beri jenis serat yang termasuk dari polimer adisi ! 5. Beri contoh serat yang termasuk dari polimer kondensasi !

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

Bentuk Serat

2
A . Bentuk Serat Dan Sifat Serat
1. Panjang Serat

Panjang serat biasanya beberapa ratus kali lebarnya. Perbandingan ini biasanya yang besar berguna untuk memperoleh sifat fleksibel (mudah dirubah bentuk) sehingga memungkinkan untuk dapat dipintal. Panjang serat menentukan juga nomer benang dan kehalusan benang yang dikehendaki. Pengukuran panjang serat dilakukan dipabrik yang membuat benang dengan cara meluruskan sejumlah serat lalu diukur dengan penggaris. Untuk lebih teliti , pengukuran dilakukan dilakukan secara laboratories dengan alat Baer Sorter atau semacamnya. Panjang serat buatan biasanya seragam. Panjang serat dapat dibedakan sebagai berikut : staple, filamen, tow dan monofil. 1.1 . Stapel Staple adalah serat serat yang panjangnya hanya beberapa inchi. Serat serat alam pada umumnya berbentuk staple, kira kira 50% dari jumlah serat buatan juga diproduksi dalam bentuk staple dengan cara memotong filamen menjadi berkisar 1 6 inchi. 1.2 Filamen Filamen adalah serat serat yang panjang, misal serat sutera. Semua serat buatan semua dibuat dalam bentuk filamen. 1.3 .Tow Tow adalah multi filamen yang terdiri dari puluhan atau ratusan ribu filamen dalam bentuk berkas seperti sliver., kadang kadang dengan sedikit antihan. Filamen filamen tersebut sudah tersusun sejajar, sehingga memudahkan untuk dipintal menjadi benang setelah dipotong potong.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

10
1.4 . Monofil Monofil adalah monofilamen , artinya satu filamen. Benang

monofilamen adalah benang yang terdiri dari satu halai filamen. Benang ini terutama dibuat untuk keperluan khusus, seperti kaos kaki wanita.

B . Bentuk Penampang Serat Alam


1. Serat Tumbuh Tumbuhan ( Selulosa ) 1.1 Kapas
Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk dalam jenis gossypium, yaitu : a. Gossypium arboretum b. Gossypium herbarium c. Gossypium barbadense d. Gossypium hirsutum. Tiap jenis tanaman kapas tersebut menghasilkan kapas yang mutunya sangat khas. Gossypium barbadense disebut juga kapas sea island, merupakan jenis yang menghasilkan kapas yang bermutu sangat tinggi karena panjang serat 38 - 55 mm, halus dan berkilau. Gossypium arboreum dan gossypium herbareum menghasilkan serat yang pendek yaitu 7 - 25 mm. Gossypium hirsutum disebut juga kapas upland, menghasilkan serat panjang 25 - 35 mm. Serat kapas diperoleh dari buah kapas. Buah kapas yang sudah matang dipetik, bulu-bulunya dipisahkan dari bijinya, dibersihkan dan dipintal. Bulubulu pendek yang masih melekat pada biji-biji kapas tersebut disebut linter. Kapas terutama tersusun atas selulose. Selulose dalam kapas mencapai 94 % dan sisanya terdiri atas protein, pektat, lilin, abu dan zat lain. Proses pemasakan dan pemutihan serat akan mengurangi jumlah zat bukan selulose dan meningkatkan persentase selulose.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

11
Penampang serat Kapas

a) Membujur Bentuk memanjang serat kapas, pipih seperti pita yang terpuntir. Bentuk memanjang serat, dibagi menjadi tiga bagian, antara lain: dasar, badan dan ujung. - Dasar Berbentuk kerucut pendek yang selama pertumbuhan serat pertumbuhan serat tetap tertanam di antara sel-sel epidermis. Dalam proses pemisahan serat dari bijinya, pada umumnya dasar serat ini putus sehingga jarang ditemukan pada saat kapas diperdagangkan. - Badan Merupakan bagian utama dari serat, kira-kira 3/4 sampai 15/16 panjang serat. Bagian ini mempunyai diameter yang sama, dinding yang tebal, dan lumen yang sempit. - Ujung Merupakan bagian yang lurus dan mulai mengecil dan pada umumnya kurang dari 1/4 bagian panjang serat. Diameter bagian ini lebih kecil dari diameter badan dan berakhir dengan ujung yang runcing.

Gambar : Penampang MembujurSerat Kapas

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

12
b) Melintang

Bentuk penampang serat kapas sangat bervariasi dari pipih sampai bulat tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Serat kapas dewasa,

penampang lintangnya terdiri dari 6 bagian, yaitu : - Kutikula Merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin dan protein. Adanya lilin menyebabkan lapisan ini halus, sukar tembus air dan zat pewarna. Berfungsi melindungi bagian dalam serat. - Dinding primer Merupakan dinding tipis sel yang asli, terutama terdiri dari selulose tetapi juga mengandung pektin, protein, dan zat-zat yang mengandung lilin. Selulose dalam dinding primer berbentuk benang yang sangat halus yang tidak tersusun sejajar sepanjang serat tetapi membentuk spiral

mengelilingi sumbu serat. - Lapisan antara Merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan strukturnya sedikit berbeda dengan dinding primer. Dinding sekunder Merupakan lapisan-lapisan selulose, yang merupakan bagian utama serat kapas. Dinding ini juga merupakan lapisan benang yang halus yang membentuk spiral mengelilingi sumbu serat. Arah putarannya berubahubah. - Dinding lumen Dinding lumen lebih tahan terhadap zat kimia tertentu dibanding dinding sekunder. - Lumen Merupakan ruang kosong di dalam serat. Bentuk dan ukurannya bervariasi dari serat ke serat lain maupun sepanjang satu serat.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

13

Gambar : Penampang Melintang Serat Kapas

1.2. Flax
Flax adalah serat yang diambil dari batang linum usitatissimun. Benang dan kain yang dibuat dari serat flax lebih dikenal dengan nama linen. Untuk memperoleh serat yang baik umumnya penuaian dilakukan pada saat tanaman telah tumbuh buah, bagian bawah batang berubah menjadi kuning dan daun-daun bagian bawah telah gugur. Proses pengolahan dimulai dengan mencabut dan memotong batang flax dan memisahkan biji dengan sisir. Batang selanjutnya dibusukkan dengan air panas 40o C selama tiga atau empat hari, untuk memisahkan seratnya. Setelah pembusukan, batang dikeringkan dalam mesin kemudian serat dilepas dengan cara memisahkan kulit batang dari kayunya. Serat flax kering terdiri dari 75 % selulose, 15 % hemi selulose dan selebihnya pektin, lignin, malam dan zat-zat yang larut dalam air. Terdapatnya hemi selulose mempengaruhi ketahanan terhadap asam dan basa.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

14
Penampang serat a) Membujur Bentuk memanjang serat seperti silinder dan kedua ujungnya meruncing dengan lumen yang sempit dan menghilang pada kedua ujungnya.

Gambar : Penampang Membujur Serat Flax

b) Melintang Serat flax pada umumnya berbentuk segi banyak dengan dinding sel yang tebal dan lumen yang kecil.

Gambar : Penampang Melintang Serat Flax

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

15

3. Henep
Henep adalah serat yang diperoleh dari batang tanaman cannabis sativa. Tanaman henep adalah tanaman tahunan, mempunyai batang yang kecil dan tinggi. Serat henep dipisahkan dengan cara mencabut dan memotong batang tanaman, mengeringkan batang dan memisahkan biji, membusukkan batang melepaskan serat dari batang, menyisir serat, dan memintal serat. Serat henep kering mengandung 75 % selulose, 17 % hemi selulose dan sisanya terdiri dari pektin, lignin, lilin, dan zat-zat yang larut dalam air.

Penampang serat

a) Membujur Serat henep berbentuk silinder dengan ujung sel yang tumpul dan kadangkadang bercabang. Lumen di bagian ujung serat menyempit.

Gambar : Penampang Membujur Serat Henep

b) Melintang Penampang menunjukkan serat berbentuk segi banyak membulat

dengan dinding sel yang tebal dan lumen agak pipih.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

16

Gambar : Penampang Melintang Serat Henep

4. Rami
Rami adalah serat yang diperoleh dari batang tanaman boehmerianivea. Tanaman rami merupakan tanaman berumur panjang dengan batang yang tinggi, kecil dan lurus. Rami mulai dapat dituai dengan hasil optimum apabila batang bagian bawah berwarna kekuning-kuningan atau coklat muda, daun bagian bawah mulai menjadi kuning, dan ujung tanaman baru mulai tumbuh. Kulit batang dipecah dengan cara dipukul-pukul batangnya, kemudian serat

dipisahkan dengan cara dikerok. Untuk menghilangkan getah, lilin dan pektin serat rami direndam dalam larutan soda kaustik panas. Serat rami mentah kering tersusun kira-kira oleh 75 % selulose, 16 % hemi selulose, dan selebihnya terdiri dari pektin, lignin, zat-zat yang larut dalam air, dan lemak. Dengan proses pemisahan kadar selulose menjadi 96 - 98 %.

Penampang serat

a) Membujur Bentuk memanjang seperti silinder dengan permukaan bergaris garis dan berkerut-kerut membentuk benjolan-benjolan kecil.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

17

Gambar : Penampang Membujur Serat Rami

C. Serat Protein
1. Sutera
Sutera adalah serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut lepidoptera. Serat sutera adalah satu-satunya serat alam yang berbentuk filament dihasilkan dari kepompong ulat sutera. Jenis serat sutera yang terbaik ialah yang berasal dari kepompong ulat sutera jenis bombyx mori.

Jenis serat sutera lain diperoleh dari ulat sutera liar yaitu jenis ulat sutera tusah, serat sutera yang dihasilkan lebih kasar dan sulit diwarnai. Ulat sutera mengeluarkan zat sutera (fibroin) dari mulutnya membentuk filament. Filament tersebut dibalut oleh zat perekat (serisin). Bila terkena udara fibroin dan serisin akan mengeras. Keadaan tersebut terjadi dari dalam dan menambah lapisan demi lapisan sehingga membentuk lapisan pelindung yaitu kepompong. Pembentukan

kepompong berlangsung selama 2 hari.

Proses pengolahan kepompong dilakukan dengan cara yaitu sejumlah kepompong direndam dalam air panas supaya serisinnya melunak untuk

memudahkan melepaskan filament dari kepompong.

Kepompong

disikat

untuk

menemukan

ujung

filament,

kemudian

diperoleh sutera mentah. Sutera mentah selanjutnya dimasak dengan air sabun untuk
Teknologi Dan Rekayasa Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

18
menghilangkan serisinnya, sehingga sutera menjadi lunak, berwarna putih, berkilau, dan mudah menyerap pewarna. Sutera mentah tersusun oleh 76 % protein fibroin (serat), 22 % protein serisin (perekat), 1,5 % lilin dan 0,5 % garam-garam mineral. Serisin adalah protein yang melindungi serat dari kerusakan, namun pada proses penyempurnaan serat sutera, protein ini dihilangkan dengan pemasakan. Fibroin merupakan protein yang menjadi bagian utama dari serat. Filament sutera mentah terdiri atas dua serat fibroin yang terbungkus di dalam serisin.

Penampang serat a) Membujur Serat sutera tusah memiliki penampang membujur bergaris-garis dengan lebar tidak merata. Serat sutera anaphe mempunyai bentuk bergaris-garis pada jarak tertentu sepanjang serat.

Gambar : Penampang Membujur Serat Sutera

b) Melintang Penampang lintang serat sutera tusah berbentuk pasak. Penampang lintang serat sutera anaphe berbentuk segitiga yang melengkung. Penampang lintang serat sutera bombyx mori berbentuk segitiga dengan sudut-sudut yang membulat.

Gambar : Penampang Melintang Serat Sutera Teknologi Dan Rekayasa Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

19

2. Wool
Wool merupakan serat yang berasal dari bulu biri-biri atau binatang berbulu lainnya. Serat wool dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu wool halus, wool sedang, dan wool kasar. Wool halus bersifat lembut, kuat elastik, dan keriting sehingga dapat dibuat benang halus. Wool sedang umumnya dihasilkan dari bulu biri-biri yang berasal dari Inggris. Serat lebih kasar, lebih panjang, dan lebih berkilau dari wool halus. Wool kasar kebanyakan dihasilkan oleh biri-biri yang hidup dalam kondisi primitif. Warna serat wool lebih bervariasi dari putih hingga hitam.

Penampang serat Bentuk penampang lintang serat wool bervariasi dari bulat sampai lonjong.

Penyimpangan dari bentuk bulat biasanya dinyatakan dengan perbandingan antara sumbu panjang dengan sumbu pendek. Perbandingan tersebut untuk bermacammacam wool mempunyai harga tetap.

Gambar : Penampang Membujur Wool

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

20

D. Serat Alam
Asbes
Nama asbes berarti tidak dapat dibakar. Didasarkan pada panjang serat, serat asbes yang dapat dipertimbangkan untuk pembuatan tekstil adalah 3/8 inci ke atas. Asbes digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu asbes amphibole dan asbes serpentine. Dari golongan asbes amphibole hanya crocidolite yang terpakai sebagai serat tekstil. Sedangkan darigolongan asbes serpentine yang paling penting dan umum digunakan untuk tekstil adalah chrysotile.

E. Serat Buatan
1. Selulose serat alam yang diregenerasi a. Rayon viskosa
Rayon viskosa adalah serat selulose alam yang disusun kembali molekulnya sehingga susunannya sama dengan serat selulose yang lain, perbedaannya terletak pada tingkat pemanjangan rantai molekul serat. Panjang rantai

molekulnya lebih rendah dari bahan alam pembentuknya karena terjadinya pemutusan rantai bahan pembentuknya selama pembuatan serat. Sebagai bahan dasar adalah kayu sebangsa cemara. Bahan ini akan mengalami proses pembuatan serat melalui perlakuan secara fisika maupun dengan bantuan zat kimia hingga diperoleh serat.

Penampang serat

Bentuk memanjang serat rayon viskosa seperti silinder bergaris dan penampang lintangnya bergerigi.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

21

Gambar : Penampang Melintang

Gambar : Penampang Membujur

b. Rayon kupramonium

Serat rayon kupramonium adalah serat yang dibuat dari selulose kapas yang disusun kembali dengan cara mencampur ke dalam larutan amonia yang mengandung kuprooksida. Sebagai bahan baku dipergunakan kapas linter atau kadang-kadang pulp kayu yang telah dimurnikan sehingga mempunyai kadar selulose yang tinggi.

Penampang serat Bentuk memanjang serat seperti silinder, sedangkan penampang melintangnya berbentuk bulat.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

22

Gambar : Penampang Membujur

Gambar : Penampang Melintang

c. Rayon Acetat
Rayon acetat adalah serat yang dibuat dari linter atau selulose kayu, anhidrida dan aceton. Selulose kayu dilarutkan dalam natrium karbonat dan natrium hidroksida kemudian dicuci, diputihkan, dan dikeringkan. Larutan ini kemudian dilarutkan lagi dalam asam sulfat dan asam acetat sehingga terjadi acetil selulose. Acetil selulos dilarutkan dalam aceton, disemprotkan melalui alat pemintal ke arah suhu panas, aceton kemudian mengalami penguapan dan terbentuk filament acetil selulose. Karena penyusunannya banyak zat kimia buatan, dimasukkan kelompok

thermoplastics.

Penampang serat Bentuk memanjang serat seperti silinder dengan garis-garis sedikit, sedang penampang melintangnya berlekuk-lekuk seperti daun semanggi.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

23

SENARAI
Selulose : bio polisakarida yang dihasilkan oleh sito plasma sel tanaman yang membentuk dinding sel pada serat Pektat :

Epidermis : bagian kulit terluar Pectin Serisin Fibroin : zat yang dapat memetahkan atau memotong- motong serat(penghancur serat) : zat perekat yang terdapat pada serat sutera :

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

24

LATIHAN SOAL SOAL

Pilihlah Jawaban Yang Paling Tepat


1. Pengukuran panjang serat dapat dilakukan dengan alat a. baer sorter b. millimeter block c. micrometer d. manometer e. roll meter 2. Serat yang pendek disebut dengan a. rami b. kapas c. staple d. filament e. jute 3. Multifilamen yang terdiri dari puluhan sampai ribuan filamen dengan bentuk berkas dengan sedikit antihan disebut a. staple b. filament c. tow d. rami e. kapas 4. Selain jenis gossypium pada serat kapas adalah a. gossypium arboretum b. gossypium herbarium c. gossypium barbadense d. gossypium hirsutum. e. selulosa 5. Lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin dan protein adalah a. dinding primer b. kutikula c. dinding sekunder d. lapisan antara e. dinding lumen 6. Serat yang diperoleh dari batang tanaman cannabis sativa adalah a. linen b. henep c. kapas d. rami e. jute

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

25
7. Serat yang dibuat dari selulose kapas yang disusun kembali dengan cara mencampur ke dalam larutan amonia yang mengandung kuprooksida disebut a. serat alam b. rayon viskosa c. rayon kupramonium d. rayon acetat e. selulosa 8. Ujung penampang berbentuk silinder dengan ujung sel yang tumpul dan kadangkadang bercabang. Lumen di bagian ujung serat menyempit adalah penampang membujur dari a. serat henep b. serat sutera c. serat kapas d. wool e. serat rami 9. Penampang melintang berbentuk segi banyak dengan dinding sel yang tebal dan lumen yang kecil adalah a. flax b. jute c. rami d. kapas e. sutera 10. Sutera adalah serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut a. lumen b. serisin c. bombyx mori d. lepidoptera e. fibroin

Jawablah Dengan Singkat dan jelas


1. Sebutkan bagian dari serat kapas dan jelaskan masing masing ! 2. Jelaskan bagian penampang melintang dari serat kapas ! 3. Bagaimana pengolahan dari serat sutera ? 4. Sebutkan golongan dari asbes ! 5. Sebutkan bahan dari serat rayon acetat !

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

Metode Pengujian Serat Tekstil

3
A . Metode Pengujian Serat Dengan Menggunakan Mikroskop
1. Tujuan Dari Uji Mikroskop

Tujuan dari uji serat dengan menggunakan mikroskop adalah untuk mengetahui dan meneliti morfologi serat dalam pandangan penampang melintang dan membujur, serta untuk meneliti dimensi serat , struktur bagian dalam serat dan permukaan serat. Indetifikasi serat serat tekstil dengan cara mikroskop dimaksudkan untuk mengetahui jenis serat dari pandangan melintang dan pandangan membujur, dengan demikian dapat diketahui ciri ciri suatu serat contohnya wool dimana seratnya bersisik dilihat dari penampang membujur atau serat sutera mempunyai penampang melintang yang berbentuk menyerupai segitiga. Uji identifikasi dengan mikroskop merupakan cara yang baik, karena kita dapat mengetahui dengan jelas terutama untuk jenis serat campuran, dalam pengujian dengan mikroskop ini dilakukan dengan 2 cara melintang dan

membujur, dengan percobaan mikroskop ini denagan jelas mengetahui perbedaan serat yang satu dengan serat yang lain. Bahan tekstil yang akan diidentifikasi pada umumnya harus dipersiapkan terlebih dahulu. Persiapan contoh uji akan mengalami pengerjaan secara mekanik dan secara kimia. Pengerjaan Secara Mekanik Beberapa kemungkinan cara pencampuran serat-serat yang terdapat pada kain,yaitu : Serat dari benang lusi berbeda dengan serat dari benang pakan. Benang lusi atau pakan merupakan benang gintir, yang masing-masing benang tunggalnya terdiri dari campuran serat yang berbeda jenisnya. Kombinasi atau campuran dari keadaan di atas.

Teknologi Dan Rekayasa

26

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

27
Dilihat dari kemungkinan-kemungkinan di atas, maka pengambatan harus dimulai dari serat-serat benang tunggal, kemudian dilanjutkan ke seluruh benang baik lusi maupun pakan. Benang diuraikan menjadi helai-helai serat. Jumlah komponen serat yang berbeda dalam benang ditentukan dengan mikroskop.

Pengerjaan Secara Kimia Pada pengerjaan ini pertama-tama ialah penghilangan zat warna dari bahan tekstil yang telah dicelup. Bahan yang sudah dicelup akan menyulitkan pengamatan kita. Dalam hal ini tertentu zat warna tersebut harus dihilangkan, seluruhnya atau sebagian dengan menggunakan zat-zat kimia. Beberapa zat warna dapat dihilangkan dengan larutan amonia 1% yang panas, larutan natrium karbonat panas atau hangat, larutan alkali atau hydrogen peroksida. Apalagi dengan pelarutan tersebut zat warna tidak dapat larut, maka dapat dipakai salah satu bahan pelarut di bawah ini, yaitu :

a. Larutan natrium hidrosulfit 5% dengan natrium hidroksida 1%. Larutan ini merupakan perlarut zat warna yang baik, cocok untuk berbagai macam zat warna dan serat. Kerjanya akan lebih baik bila suhu dinaikkan menjadi 60 80 derajat celcius atau mendidih. Untuk menghilangkan zat warna bejana penambahan piridin 10% akan memperbaiki daya kerja larutan. Larutan ini bersifat basa, karenanya tidak baik untuk serat protein. b. Larutan natrium hidrosulfit yang asam Larutan ini dipakai untuk serat protein atau campuran serat protein dan selulosa. Mula-mula serat dikerjakan dengan larutan asam asetat lemah pada suhu 600C. Kemudian ke dalam larutan ditambahkan larutan natrium hidrosulfit. Campuran ini didihkan selama 15 20 menit. Setelah selesai pengerjaan tersebut, serat dicuci dengan air panas dan air dingin untuk menghilangkan sisa natrium hidrosulfit. c. Larutan natrium hipokhlorit Larutan alkali dingin yang mengandung paling sedikit 2 gram khlor aktif dapat digunakan untuk serat selulosa. Jika larutan tersebut adalah asam

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

28
(0,04% asam asetat atau asam sulfat) maka bekerjanya akan lebih efektif tetapi merusak selulosa. Sesudah pengerjaan dengan larutan tersebut, bahan dikerjakan dalam larutan anti khlor (larutan tiosulfit 50 gram/l). d. Larutan piridin 20 60% Larutan ini akan menghilangkan hampir seluruh zat warna direk. e. Larutan asam asetat 5% mendidih Larutan ini akan menghilangkan zat warna basa dari sutera atau larutan amonia 1% mendidih juga akan menghilangkan zat warna asam dari sutera atau wol. f. Larutan natrium khlorit 5% dalam asam asetat encer Larutan ini digunakan untuk menghilangkan zat warna hitam anilin dan zat warna belerang. g. Alkohol 95% ditambah aseton 10% Larutan ini digunakan untuk melarutkan zat warna pada serat selulosa asetat. Pengerjaan secara kimia yang lain juga dikerjakan misalnya penghilangan kanji atau zat penyempurnaan yang lain. Penghilangan kanji dapat dilakukan dengan larutan encer diastase 3% pada suhu 65 derajat Celcius selama 1 jam. Zat penyempurnaan dapat dihilangkan dengan memasak bahan dalam air mendidih yang mengandung deterjen, lalu dicuci, dikeringkan lalu dididihkan dalam karbon tetra khlorida selama 20 menit, dicuci karbon tetra khlorida dan dikeringkan. Setelah bahan bebas dari zat-zat yang lain barulah kita mempersiapkan contoh uji yang akan diperiksa dengan mikroskop. Dengan mikroskop ini dapat diketahui bentuk-bentuk penampang lintang, pandangan membujur, ukuran permukaan serat dan struktur bagian dalam serat. Untuk mendapatkan hasil pengamatan yang baik, diperlukan mikroskop yang mempunyai perbesaran 100 150 kali. Perlengkapan mikroskop yang diperlukan ialah kaca obyek (slide glass) jarum pemisah, kaca penutup (cover glass), alat untuk membuat penampang lintang serat perekat dan pisau silet yang tajam.

29 Sebelum dilakukan dahulu :


Teknologi Dan Rekayasa Teknik Pembuatan Kain

pengamatan maka harus dilakukan persiapan lebih

Identifikasi Serat Tekstil

1) Kaca obyek dan kaca penutup harus betul-betul bersih, karena kotoran akan membuat bayangan yang kurang jelas di dalam mikroskop sehingga dapat membingungkan. 2) Kaca obyek dan kaca penutup ini harus bebas lemak, sehingga cairan dapat merata dan tidak membentuk tetesan-tetesan. Kaca obyek dan kaca penutup yang baru harus dibersihkan dengan amonia 5% atau alkohol 50%, kemudian dikeringkan dengan kain kaca penyerap atau kertas lensa. 3) Untuk membersihkan kaca obyek yang sudah dipakai, dapat digunakan campuran bikhromat yang terdiri dari kalium bikhromat 200 gr, air 800 ml dan asam sulfat pekat 1,2 L. Kaca obyek yang sudah dipakai direndam dalam larutan tersebut selama 2 hari.

2. Alat Dan Bahan Uji a. Peralatan Uji Mikroskop Peralatan yang dipergunakan pada uji mikroskop antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) Mikroskop dengan beberapa ukuran lensa obyektif. Slide glass ( kaca obyek ). Cover glass ( kaca penutup ). Gabus. Silet.

b. Bahan Uji Bahan yang dipakai dalam pengujian antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Lak Air ( medium ) Wool Poliamida Kapas Rami Sutera Poliester Rayon viskosa 11) Poliakrilat 12) Poliester rayon 13) Poliester wool 14) Poliester kapas

10) Rayon asetat


Teknologi Dan Rekayasa Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

30

Gambar : Mikroskop

3. Langkah Kerja a. Proses pengamatan penampang membujur serat 1) Mengambil serat dan di urai dari gintirannya dipisahkan satu dengan yang lain. 2) Serat yang telah terurai diletakkan pada kaca obyek. 3) Basahi kaca obyek dengan setetes air. 4) Tutup serat dengan cover glass. 5) Amati serat.

b. Proses pengamatan penampang melintang serat 1) Siapkan gabus. 2) Jarum mesin jahit yang panjang berisi benang nylon halus ditusukkan melalui tengah-tengah gabus

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

31
3) Suatu kawat kecil dimasukkan pada lengkungan benang yang menonjol, kemudian jarum ditarik kembali dengan meninggalkan lengkungan benang pada gabus. 4) Sekelompok serat yang telah disejajarkan dan diberi lak diletakkan dalam lengkungan benang dan dengan hati-hati ditarik masuk ke dalam gabus dengan cara menarik ujung-ujung benang. Jumlah serat yang ditarik harus cukup tertekan sehingga serat akan terpegang oleh gabus dengan baik, tanpa terjadi perubahan bentuk serat. 5) Permukaan gabus yang mempunyai ujung serat yang menonjol dipotong rata dengan pisau silet tajam. 6) Setelah laknya kering, gabus diiris tipis menggunakan pisau silet tajam. 7) Irisan gabus yang mengandung potongan serat ditempelkan pada kaca penutup dengan setetes gliserin. 8) Kaca penutup dengan potongan gabus dibawahnya diletakkan pada kaca obyek, sehingga seluruh irisan dapat terletak dalam satu fokus.

Gambar : Pembuatan Irisan Penampang Melintang Serat

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

32

B . Metode Pengujian Serat Dengan Pelarutan


Cara pelarutan ini dapat dilakukan dalam kaca arloji yang mengandung pelarut. Serat yang diperiksa dengan cara terlebih dahulu harus dibebaskan dari zat-zat lain sebab mungkin akan mengganggu jalannya reaksi antar serat dan pereaksi (pelarutnya).

Pelarut yang ada umumnya banyak digunakan ialah : 1. Kalium hidroksida 5% Suhu pengujian mendidih selama 50 menit dan digunakan untuk membedakan serat protein dan serat selulosa. Semua serat binatang dan sutera laut.

2.

Asam khlorida pekat Suhu pengujian adalah suhu kamar. Pelarut ini hanya melarutkan rayon viskosa, tetapi serat alam tidak larut. Untuk serat protein larut hanya untuk sutera, sedangkan wol dan serat protein yang diregenerasi tidak larut.

3. Kuproamionium hidroksida Pelarut ini melarutkan serat selulosa, sedang kutikula pada kapas tidak larut.

4. Asam sulfat 70% Suhu pengujian 300 selama 15 menit, akan melarutkan serat selulosa.

5. Larutan natrium hipokhlorit (3,3% khlor aktif) Larutan ini melarutkan wol dan serat rambut. 6. Aseton 80 100% Pelarut ini dapat melarutkan asetot rayon, Aseton 100% melarutkan Vinyon Dynel (larut lambat) dan Pe Ce, sedangkan serat lain tidak.

7. Khloroform Zat ini melarutkan Vinyon, tetapi asetat rayon tidak larut.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

33
8. Metilena dikhlorida Zat ini melarutkan Vinyon tetapi rayon tidak.

9. Asam asetat glasial Asam ini melarutkan asetat rayon, tetapi tidak melarutkan vinion atau dynel.

10. Asam khlorida 1 : 1 Larutan ini dibuat dari asam khlorida dengan berat jenis 1,19 (37,5%) diencerkan dengan air dalam jumlah yang sama. Larutan ini melarutkan nylon pada suhu kamar tetapi tidak melarutkan serat lain.

11. Fenol 90% Larutan ini melarutkan nylon pada suhu 350C.

12. Dimetil formamida Zat ini melarutkan serat-serat poliakrilat, dynel pada suhu 350C, acrilan pada suhu 550C, Orlon 41 dan suhu 710C dan Orlon 81 pada suhu 990C.

13. Asam nitrat pekat Asam ini melarutkan acrilan.

14. Natrium hidroksida 45% Pengujian pada suhu mendidih selama 45 menit melarutkan dacron, yang tidak dapat dilarutkan dengan kebanyakan pelarut lain.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

34

C . Metode Pengujian Serat Dengan Uji Pembakaran


Mengidentifikasikan serat dengan uji pembakaran , yaitu dengan mengamati cara terbakarnya serat, bau pada serat terbakar, warna asap dan sisa pembakaran apakah terbentuk abu, lelehan atau menggumpal. Uji pembakaran ini adalah cara yang paling tua untuk identifikasi serat. Golongan serat dapat diperkirakan secara umum dengan cara ini dan tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk campuran serat. Alat yang dipakai untuk pemeriksaan cara pembakaran ini hanyalah nyala api. Nyala api yang baik adalah nyala api yang diperoleh dari pembakar Bunsen yang menggunakan bahan bakar gas. Korek api merupakan sumber yang tidak baik, sebab korek api sendiri mengeluarkan bau yang keras, yang akan mengganggu bahan yang diperiksa.

Gambar : Pembakar Bunsen

Serat yang akan diperiksa dibuat kira-kira sebesar benang Ne1 10 dengan panjang 4 5 cm dan diberi puntiran. Contoh serat didekatkan pada api dari samping

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

35
perlahan-perlahan. Diamati apakah bahan waktu dekat api meleleh, menggulung atau terbakar mendadak. Pada saat serat menyala, perhatikan di mana terjadinya nyalat api. Bila nyala api sudah padam, maka segera dicatat bau dari gas yang dikeluarkan oleh serat yang terbakar itu. Perlu dicatat apakah serat mengeluarkan asap atau tidak. Akhirnya perlu dicatat pula banyaknya, bentuknya, warnanya dan kekerasan dari abu sisa pembakaran. 1. Bila serat terbakar cepat, meninggalkan abu berbentuk serat dan berbau seperti kertas terbakar, maka keadaan ini menunjukkan serat selulosa. 2. Bila serat tidak terbakar sama sekali maka keadaan ini menunjukkan serat gelas atau asbes. 3. Bila serat terbakar tanpa ada abu, berbau rambut terbakar meninggalkan bulatan kecil hitam diujungnya, maka ini menunjukkan serat protein. Bila bau yang ditimbulkan sama tetapi tidak meninggalkan abu, maka ini adalah sutera. 4. Bila serat meleleh dan membentuk bulatan kecil diujungnya tanpa berbau rambut terbakar, maka keadaan ini menunjukkan serat dacron, asetat rayon, dynel atau orion atau nylon. Bau seperti amida menujukkan nylon, bau segak dengan bulatan kecil tak teratur menunjukkan dynel atau vinyon. Bau yang keras dan adanya bulatan kecil tak teratur menunjukkan dacron.

D . Metode Uji Zat Warna


Identifikasi zat warna perlu dilakukan bila kita akan melakukan pencelupan terhadap bahan tekstil. Untuk identifikasi ini perlu diketahui jenis seratnya dan cara identifikasinya. Semua cara identifikasi menentukan golongan zat warna, bukan jenis zat warna dari suatu golongan zat warna. Cara identifikasi zat warna menurut Amerika Assosiation of Textile Chemist and Colorists (AATCC) meliputi semua golongan zat warna pada serat selulosa, serat protein, serat rayon asetat, serat nylon, serat poliester dan acrilic. Cara identifikasi ini berdasarkan pada pemisahan golongan zat warna secara sistematik.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

36
Zat Warna Pada Kain Selulosa Serat selulosa mudah dikenal dengan uji pembakaran yang akan

memberikan abu yang rapuh dan bau seperti kertas terbakar. Kemudian dilakukan pemisahan secara sistimatik untuk mengetahui golongan zat warna yang ada. Zat warna yang ada mungkin digunakan untuk mencelup serat selulosa adalah : zat warna direk, asam, basa, direk dengan penyempurnaan resin, belerang, bejana, anilin, direk dengan pengerjaan iring, naftol, pigmen dan zat warna reaktif. Pengujian zat warna pada serat kapas dan rayon dilakukan dengan cara yang sama.

Zat warna yang dipakai untuk mencelup serat selllulosa dapat digolongkan sebagai berikut : a. Golongan I Golongan ini meliputi zat warna direk, asam, basa dan direk dengan penyempurnaan resin. Penggolongan ini didasarkan atas kelunturan zat warna tersebut dalam larutan amonia atau asetat encer mendidih yang dilakukan menurut urutan yang ditentukan.

Zat Warna Direk Cara identifikasi zat warna direk ini adalah dengan mengerjakan contoh uji dalam tabung reaksi yang diberi 5 10 ml air dan - 1 ml amonia pekat. Larutan yang berisi contoh uji ini kemudian dididihkan, supaya melunturkan zat warna sampai larutannya cukup banyak untuk dapat mencelup kapas kembali. Setelah zat warna yang luncur cukup banyak, contoh uji dikeluarkan dan ke dalam tabung reaksi dimasukan sepotong kain kapas putih dan garam dapur sedikit. Larutan dididihkan selama 1 menit, dinginkan sampai suhu kamar, kainnya diambil, dicuci dan diamati pewarnaan pada kain kapas putih tersebut. Pencelupan kembali pada kain kapas putih dalam larutan amonia dan garam dapur yang menghasilkan warna yang sama dengan warna contoh uji, menunjukkan uji positif zat warna direk.

Zat Warna Asam Zat warna asam ini jarang dipakai untuk mencelup serta selulosa kecuali untuk jenis rayon yang dapat dicelup dengan zat warna asam. Bila pada uji

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

37
zat warna direk terjadi pelunturan warna tetapi tidak mencelup dengan warna yang sangat muda, maka larutan tersebut dinetralkan dengan asam asetat kemudian tambah 1 ml asetat 10% dan masukkan wol putih, lalu dididihkan larutan itu selama menit, kemudian wolnya dicuci dan diamati adanya pewarnaan pada wol tersebut. Bila terjadi pewarnaan pada wol putih tersebut, ini menunjukkan uji positif zat warna asam.

Zat Warna Basa Zat warna basa jarang dipakai untuk mencelup serat selulosa, karena berkembangnya pemakaian zat warna reaktif. Zat warna basa ini hanya dipakai untuk mendapatkan bahan dengan warna yang cerah dan murah tetapi tahan luntur warnanya jelek. Cara pengujiannya ialah bila pada uji zat warna direk tidak terjadi peluntura n atau hanya luntur sedikit maka perlu diadakan uji zat warna basa. Contoh uji dimasukkan pada tabung reaksi, kemudian tambahkan ml asam asetat glasial, panaskan dan tambahkan 5 ml air dan dididihkan. Kemudian contoh uji diambil dan masukkan serat acrilic yang dapat dicelup dengan zat warna cationic, atau kapas yang telah dibeits dengan tanin dan terus dididihkan. Pencelupan kembali pada serat acrilic atau pada kapas yang ditanin menunjukkan adanya zat warna basa. Untuk uji penentuan zat warna basa dapat dilakukan dengan menambahkan larutan natrium hidroksida 10% pada larutan ekstraksi tersebut, dan tambahkan juga eter. Larutan dikocok supaya ekstraksi zat warna basa terserap ke dalam lapisan eter. Setelah campuran didiamkan sampai terjadi pemisahan lapisan,

kemudian tambahkan air supaya lapisan atas eter berada di dekat mulut tabung, kemudian lapisan dipindahkan ke dalam tabung reaksi tambah 2 3 tetas asam asetat 10% dan dikocok kembali. Semua zat warna basa akan meninggalkan lapisan eter dan warna asli akan terlihat dalam lapisan asam asetat.

Zat Warna Direk Dengan Penyempurnaan Resin Bila contoh uji tidak luntur atau sedikit luntur pada uji zat warna direk, sedang pada uji zat warna basa hasilnya negatif, maka perlu dilakukan uji kemungkinan adanya zat warna direk dengan penyempurnaan resin.

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

38
Cara pengujiannya dilakukan dengan memasukkan contoh uji dalam tabung, lalu tambahkan larutan asam khlorida 1% dan dididihkan selama 1 menit. Kemudian larutan asamnya dibuang diganti dengan larutan asam yang baru, dan dilakukan pengerjaan-pengerjaan ekstraksi kembali. Akhirnya dicuci dengan air dingin. Pengerjaan dengan asam khlorida itu bermaksud untuk menghilangkan resin. Setelah pengerjaan tersebut contoh uji memberikan uji positif untuk zat warna direk maka zat warna tersebut adalah zat warna direk dengan penyempurnaan resin.

b.

Golongan II

Golongan II meliputi zat warna yang warnanya berubah pada reduksi dengan natrium hidrosulfit dalam suasana alkali. Pada oksidasi kembali oleh udara warna aslinya timbul lagi. Yang termasuk golongan ini adalah zat warna belerang, bejana dan hitam anilin. Sebelum uji golongan II dilakukan, harus diuji dulu dengan uji untuk golongan I. Untuk uji pendahuluan golongan II ini kita harus melakukan pengujian pada contoh uji dengan cara memasukkannya pada tabung yang ditambahkan 5 ml air dan 1 2 ml larutan natrium hidroksida 10%. Larutan dipanaskan sampai mendididh, lalu tambahkan natrium hidrosulfit dan didihkan. Semua zat warna golongan ini warnanya berubah dengan jelas sekali kecuali indanthren biru yang luntur sekali setelah penambahan natrium hidrosulfit. Pada penambahan natrium hidroksida hanya luntur sedikit, berbeda dari warna asli. Warna senyawa leuko zat warna indanthren biru yang hanya sedikit berbeda dari warna aslinya. Contoh uji diambil dan diletakkan di atas kertas saring. Semua zat warna golongan ini akan teroksidasi kembali ke warna dalam waktu 5 6 menit. Untuk uji penentuan zat warna indanthren biru caranya adalah dengan

meletakkan contoh uji di atas beberapa kertas saring yang tersusun, kemudian ditetesi dengan 1 2 tetas asam nitrat pekat dan warnanya diamati. Bila contoh uji berubah warnnya menjadi kuning atau hijau, maka contoh uji diperas dengan kertas saring. Bila kertas saring yang kena air perasan tersebut berwarna kuning, lalu tetesi bagian tersebut dengan larutan pereduksi yang terdiri dari stano
Teknologi Dan Rekayasa Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

39
khlorida, asam khlorida pekat dan air dalam perbandingan yang sama maka warna biru dari indanthren biru akan kembali seperti warna semula.

Zat Warna Belerang Cara pengujiannya ialah dengan memasukkan contoh uji ke dalam tabung reaksi, kemudian tambah air 2- 3 ml, natrium karbonat dan sedikit natrium sulfida. Larutan dipanaskan sampai mendidih selama 1 2 menit. Contoh uji diambil, lalu ke dalam tabung reaksi itu dimasukkan kapas putih dan garam dapur. Setelah larutan dididihkan, kiapasnya diambil diletakkan di atas kertas saring dan dibiarkan di udara yang teroksidasi. Dengan cara ini zat warna belerang akan mencelup kembali kain kapas dalam warna yang sama dengan warna contoh uji tetapi lebih muda. Uji penentuan untuk zat warna belerang dilakukan dengan mendidihkan contoh uji dalam 5 ml larutan natrium hidroksida 10%, cuci bersih. Setelah contoh itu dimasukkan dalam tabung reaksi, tambahkan larutan pereduksi. Mulut tabung ditutup dengan kertas saring di tengah kertas saring ditetesi larutan Pb asetat alkali. Tabung reaksi tersebut kemudian diletakkan dalam gelas piala yang berisi air mendidih. Bila dalam waktu 1 menit tetesan Pb asetat pada kertas saring berubah menjadi coklat tua atau hitam, maka menunjukkan uji positif zat warna belerang. Uji lebih lanjut pada zat warna belerang dapat dilakukan dengan membasahi kain contoh uji dengan natrium hipokhlorit 10%. Zat warna belerang oleh larutan ini akan hilang warnanya dalam waktu 5 menit.

Zat Warna Bejana Zat warna bejana dapat diidentifikasikan dengan cara memasukkan contoh uji ke dalam tabung reaksi, yang ditambahkan air dan 1 ml larutan natrium hidroksida 10%. Kemudian tabung dipanaskan sampai mendidih tambahkan sedikit natrium hidrosulfit dan didihkan kembali. Contoh uji diambil ke dalam larutan zat warna masukkan kapas putih dan garam dapur. Pemanasan diteruskan sampai mendidih, lalu dinginkan. Kapasnya

diambil dan diletakkan di atas kertas saring supaya teroksidasi oleh udara. Bila kapas tersebut berwarna sama dengan contoh uji, tetapi lebih muda, maka ini menunjukkan uji positif zat warna bejana. Kesimpulan ini hanya benar bila uji zat warna belerang memberi hasil negatif.
Teknologi Dan Rekayasa Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

40
Zat Warna Hitam Anilin Semua zat warna jenis ini tidak akan mencelup kembali kain kapas putih pada uji reduksi dengan natrium sulfida dan natrium karbonat atau uji reduksi dengan natrium hidrosulfit dan natrium hidroksida. Uji penentuan untuk zat warna hitam anilin ini adalah dengan memasukkan contoh uji ke dalam cawan penguap. Kertas contoh uji dituangkan 2 3 ml asam sulfat pekat dan diaduk sehingga zat warna terekstraksi. Larutan ekstraksi zat warna dimasukkan dalam tabung yang berisi 30 ml air, disaring dengan kertas saring dan dibilas beberapa kali. Pada sisi kertas saring ditetesi beberapa tetas larutan natrium hidroksida 10%. Noda yang berwarna merah ungu menunjukkan uji positif zat warna hitam anilin.

c.

Golongan III Golongan 3 ini termasuk zat warna yang rusak dalam larutan natrium hidrosulfit yang bersifat alkali. Larutan ekstraksi zat warna dalam air, air amonia atau asam asetat tidak mencelup kain kapas putih. Zat warna yang termasuk golongan ini adalah zat warna direk dengan pengerjaan iring, zat warna naftol dan zat warna azo yang tidak larut dan zat warna yang diazotasi dan dibangkitkan. Uji pendahuluan untuk golongan ini adalah dengan cara memasukkan contoh uji ke dalam tabung yang kemudian ditambahkan 5 ml air, 1 ml larutan natrium hidroksida 10% dan sedikit natrium hidrosulfit. Larutan didihkan selama 5 menit. Semua zat warna golongan ini akan rusak, sebagian rusak seketika dan sebagian lagi rusak setelah pendidihan yang agak lama. Kerusakan zat warna ditunjukkan oleh adanya perubahan yang tetap dari warna asli menjadi putih, abu-abu, kuning dan jingga. Perubahan ini terjadi baik pada kain maupun larutan ekstraksinya. Oksidasi kembali dari contoh tidak mengembalikan warna aslinya.

Zat Warna Direk Dengan Pengerjaan Iring Formaldehid Adanya formaldehid pada contoh uji membuktikan adanya zat warna dari golongan ini. Uji untuk formaldehid dilakukan dengan memanaskan contoh uji dalam larutan asam sulfat 5% sampai mendidih. Kemudian larutan ekstraksi ditambahkan setetes demi setetes ke dalam larutan karbozol 0,1% yang dilarutkan dalam asam

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

41
sulfat pekat. Bila terbentuk endapan biru, maka ini menunjukkan adanya formaldehid. Zat warna yang tahan lunturnya jelek terhadap pencucian biasa diperbaiki dengan pengerjaan iring dengan formaldehid atau logam yang pada uji golongan I menunjukkan uji positif, tetapi kelunturannya dalam larutan ammonia encer tidak cukup untuk mencelup kembali kain kapas putih.

Zat Warna Naftol Dan Azo Yang Tidak Larutan Zat Warna Yang Diazotasi Dan Dibangkitkan Kedua golongan zat warna azo yang tidak larut ini mempunyai sifat-sifat yang berbeda tetapi mempunyai persamaan yaitu bahwa zat warna yang terdapat pada bahan tidak pernah terdapat pada larutan tercelup, tetapi baru terbentuk setelah berada dalam larutan serat.

Pada pencelupan dengan zat warna yang didiazotasi dan dibangkitkan, kain kapas dicelup dahulu dengan zat warna direk jenis tertentu kemudian didiazotasi dan setelah itu dikerjakan dalam larutan pembangkit. Pada pencelupan dengan zat warna naftol, mula-mula bahan dikerjakan dengan senyawa fenolat yang mempunyai daya tarik terhadap kapas dan kemudian dikerjakan dengan larutan garam diazonium yang distabilkan sehingga zat warna akan terbentuk di dalam bahan. Untuk identifikasi zat warna ini, pengujiannya dilakukan setelah asam zat warna lainnya menunjukkan hasil yang negatif, sehingga tinggal membedakan kedua zat warna tersebut.

Zat Warna Naftol Dan Azo Yang Tidak Larut Sifat khusus yang utama dari jenis zat warna ini adalah kelarutannya di dalam piridin. Cara pengujiannya dilakukan dengan memasukkan contoh uji dalam tabung reaksi yang diberi sedikit piridin dan kemudian dididihkan. Semua jenis naftol akan larut dalam piridin. Karena sifatnya yang tidak larut dalam air, maka kelarutan zat warna naftol dalam larutan natrium hidroksida dan hidrosulfit akan lebih lambat, bila dibandingkan dengan zat warna lainnya dari golongan III. Uji penentuan untuk zat warna naftol, cara uji penentuannya adalah dengan memasukkan contoh uji ke dalam tabung dan tambahan natrium hidroksida 10%

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

42 dan sedikit alkohol. Larutan dididihkan, kemudian tambahkan air dan natrium
hidroksulfit, dan didihkan lagi. Setelah warna contoh uji tereduksi, maka larutan ekstraksinya didinginkan dan disaring. Pada larutan filtratnya dimasukkan kain kapas putih dan garam dapur sedikit lalu didihkan. Kemudian dinginkan dan kapasnya diambil. Hasil pencelupan kembali dengan warna kuning dan berfluoresensi di bawah sinar ultra violet,

menunjukkan bahwa contoh uji dicelup dengan zat warna naftol atau dicap dengan zat warna azo yang tidak larut.

Zat Warna Yang Diazotasi Dan Dibangkitkan Zat warna ini dapat ditentukan dengan tidak adanya jenis zat warna lain pada identifikasi golongan III. Zat warna yang didiazotasi dan dibangkitkan tidak luntur dalam piridin dan mudah direduksi pada pendidihan dalam larutan natrium hidroksida dan hidrosulfit

SENARAI
Larutan alkali : larutan yang bersifat basa, yang didalam larutan menghasilkan ion hidroksida. Bertindak sebagai oksidator( pemercepat reaksi) Larutan piridin : Zat warna direk : Pereaksi Diregenerasi : zat pelarut : senyawa atau zat kimia ukuran besar yang telah diurai menjadi molekul sederhana kemudian disusun kembali ke ukuran besarnya, dengan atau tanpa pengurangan bagian bagian tertentu. Resin : hasin reaksi atau residu(sisa/ampas/ hasil reaksi yang tidak diinginkan)

Larutan pereduksi : larutan yang berfungsi mereduksi zat lain dalam reaksi

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

43

LATIHAN SOAL SOAL Pilih Jawaban Yang Paling Tepat


1. Maksud dari pengujian dari uji mikroskop adalah a. untuk mengetahui besar serat b. untuk mengetahui bentuk serat c. untuk mengetahui bentuk penampang melintang dan penampang membujur dari serat d. untuk mengetahui sifat serat e. untuk membuat gambar bentuk serat 2. Larutan ini dipakai untuk serat protein atau campuran serat protein dan selulosa adalah a. larutan natrium hidrosulfit 5% dengan natrium hidroksida 1% b. larutan natrium hidrosulfit yang asam c. larutan natrium hipokhlorit d. larutan piridin e. larutan asam asetat 3. Larutan yang digunakan untuk menghilangkan hampir seluruh zat warna a. larutan natrium hidrosulfit yang asam b. larutan piridin c. larutan asam asetat d. larutan natrium hipokhlorit e. larutan natrium hidrosulfit 5% dengan natrium hidroksida 1% direk adalah

4. Larutan ini digunakan untuk melarutkan zat warna pada serat selulosa asetat adalah a. larutan piridin b. asam asetat c. natrium hipoklorit d. alcohol ditambat aseton e. natrium hidrosulfit ditambah natrium hidroksida 5. Larutan yang dapat menghilangkan zat warna basa dari sutera adalah a. asam asetat b. natrium hipoklorit c. alcohol d. natrium hidrosulfit e. natrium hidrosida

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

44
6. Untuk mendapatkan hasil pengamatan yang baik, diperlukan mikroskop yang mempunyai perbesaran a. 50 100 kali b. 100 150 kali c. 125 150 kali d. 150 175 kali e. 150 200 kali 7. Kaca obyek dan kaca penutup pada mikroskop dapat dibersihkan dengan a. asam asetat b. alcohol c. natrium hidrosulfat d. piridin e. natrium hidroksida 8. Alat yang dipakai untuk uji pembakaran adalah a. korek api b. kompor minyak c. bunsen d. arang e. batubara 9. Bila serat terbakar cepat, meninggalkan abu berbentuk serat dan berbau seperti kertas terbakar adalah sifat dari serat a. rami b. jute c. sutera d. selulosa e. rayon 10. Apabila serat yang dibakar tidak terbakar maka serat tersebut merupakan a. jute b. sutera c. selulosa d. rayon e. asbes

Jawablah Dengan Singkat Dan Jelas


1. Bagaimana sifat serat sutera jika dibakar ? 2. Sebutkan 5 macam zat pelarut ! 3. Jelaskan dengan singkat langkah uji dengan mikroskop ! 4. Bagaimana langkah kerja uji pembakaran ? 5. Sebutkan peralatan yang digunakan pada uji mikroskop !

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain

Identifikasi Serat Tekstil

BIOGRAFI
Nama NIP Lahir : Untung Mardiyanto, ST : 19750121 200801 1 009 : Boyolali, 21 Januari 1975

Riwayat Pendidikan :
o SD Negeri Ketaon 1 o SMP Negeri 2 Teras o STM YP Colomadu Teknik Mesin o Politeknik Muhammadiyah Karanganyar Teknik Tekstil o Univet Bantara Sukoharjo Teknik Manajemen Industri

Riwayat Pekerjaan :
Mengajar SMK Satya Karya 1996 2008 Mengajar SMK Negeri 2 Karanganyar 2008

Motto :
Hidup adalah untuk Belajar dan Belajar untuk hidup Bekerja adalah suatu ibadah dan tugas adalah suatu amanah

Teknologi Dan Rekayasa

Teknik Pembuatan Kain