Anda di halaman 1dari 6

RAINBOW WARRIOR CASE Pihaknya : New Zealand dan Perancis Inti Kasus : Rainbow Warrior adalah salah satu

nama untuk seri kapal-kapal laut yang dioperasikan oleh Greenpeace. Kapal pertama ditenggelamkan oleh dinas rahasia Perancis (DGSE) di pelabuhan Auckland, Selandia Baru, pada 10 Juli 1985. Saat itu, para aktivitas Greenpeace mendapat teror besar-besaran karena menentang percobaan nuklir Perancis yang dilakukan di Pulau Muroroa, sekitar Polynesia. Kapal yang sekarang menggunakan nama ini mulai beroperasi sejak 1989. Rainbow Warrior ini merupakan satu dari tiga buah kapal yang digunakan Greenpeace untuk menjalankan aksinya menentang perusakan lingkungan saat ini. Dua kapal lainnya, Arctic Sunrise dan Esperanza beraksi di belahan Bumi utara hingga ke kutub. Kapal ini adalah kapal pukat ikan yang dibeli Greenpeace empat tahun setelah kapal pertama tenggelam. Greenpeace lalu memodifikasi kapal buatan tahun 1957 itu menjadi kapal motor-layar, dan dilengkapi peralatan navigasi dan pelayaran modern serta komunikasi elektronik mutakhir. Penyelasaian : Dalam insiden yang melibatkan Rainbow Warrior Selandia Baru dan Perancis, obat termasuk kesepakatan bahwa agen bertanggung jawab atas tenggelamnya kapal Rainbow Warrior akan dipenjarakan untuk jangka waktu tertentu.

THE CORFU CHANNEL CASE Pihaknya : Inggris dan Albania Inti kasus : Kasus antara Inggris dan Albania tentang hancurnya beberapa kalpal ( perang ) Inggris ketika melintasi selat Korfu yang sebelumnya telah digelari bahan-bahan peledak di sepanjang selat tersebut oleh Albania. Mahkamah internasional yang menangani kasus ini berpendapat bahwa kerusakan, kerugian serta meninggalnya beberapa awak kapal Inggris ketika melintasi selat tersebut disebabkan karena kelalaian yang nyata pemerintah Albania yang tidak memberitahukan adanya ranjau ranjau laut di sepanjang perairannya. Oleh karena itu, Albania harus bertanggung jawab atas terjadinya insiden tersebut. Penyelesaian : Tanggung jawab Negara : Putusan ICJ dalam corfu channel case

in the corfu channel case, the international court of justice held that it was a sufficient basis for Albanian responsibility that it knew, or must have known, of the presence of the mines in its territorial waters and did nothing to warn third states of their presence. IRAN CASE Pihaknya : Iran dan AS Inti kasus : Pada masa pemerintah Reagan, Amerika dilanda kasus yang cukup kontroversial dengan kebijakan umum pemerintah di dalam menyikapi hubunganhubungannya dengan Negara-negara yang tidak sehaluan dengan ideologi Amerika. Kasus ini kemudian mencuat kepermukan dan lebih dikenal sebagai kasus Iran-Contra. Sikap pers Amerika cukup kritikal dalam menanggapi kasus ini. Seperti dipahami secara umum, sikap pers Amerika, tidak saja yang tercetak (surat kabar) maupun media elektronik (televisi) sama-sama tidak sejalan dengan apa yang ditempuh oleh Reagan, baik terhadap pemerintah Iran maupun terhadap pemerintah Nicaragua. Sementara opini public di Amerika ketika itu terpecah antara yang mendukung dan yang menentang. Inti persoalannya adalah bahwa pemerintah Reagan secara diam-diam telah menjual senjata ke Iran, yang sudah jelas-jelas bukan partner Amerika dalam politik globalnya. Hasil penjualan senjata tersebut digunakan oleh Reagan untuk membantu Nicaragua yang sedang terlibat dalam konflik lokal dengan pihak komunis. Sementara itu semua bantuan militer dan keuangan terhadap Contra adalah bertentangan dengan Boland Amendment. Apa yang dilakukan oleh Reagan terhadap Iran bisa membawa dirinya ke jalur impeachment, namun kemudian hal itu tidak terjadi pada diri Reagan. Walaupun pihak media sendiri ketika itu punya posisi yang tegas dengan mengkritik tindakan Reagan namun media ternyata punya alasan yang cukup kuat membenarkan Reagan, bahkan tokoh Oliver North dianggapnya sebagai pahlawan dalam hal ini. Media massa baik cetak maupun elektronik, selama pemerintahan Reagan berlaku lunak, tidak berarti media meninggalkan prinsip the watchdog unction nya terhadap pemerintah, akan tetapi Reagan ternyata punya cukup kebijakan yang strategis bagaimana membina hubungan baik dengan media. Dan ini berlainan dengan presiden-presiden Amerika sebelum dan sesudahnya. Sebagai kerangka pikir teoritik yang digunakan dalam tesis ini adalah meminjam teori pers libertarian yang dirintis oleh John Stuart Mill, John Milton dan John Locke. Filosofinya adalah bahwa media harus bertindak sebagai watchdog terhadap pemerintah dan mencari kebenaran. Disamping itu media bisa juga digunakan atau berfungsi sebagai alat politik. Walaupun control terhadap media bisa dilakukan, akan tetapi hanya untuk kasus-kasus tertentu saja dan control tersebut biasanya melalui lembaga peradilan, namun yang paling penting adalah bahwa media dimiliki oleh swasta. Penelitian yang penulis lakukan ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Data dan informasi yang peneliti gunakan adalah semuanya dalam bentuk data sekunder yang diperoleh dari sumber tertulis, buku-buku, dokumen dan terbitan-terbitan berkala seperti surat kabar, rnajalah maupun bentuk dokumen lainnya. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini intinya adalah bahwa : Dalam kasus Iran-Contra hubungan pers dengan pemerintah tidak harmonis, karena kedua belah pihak mempunyai kepentigannya sendiri-sendiri. Pers di Amerika tidak berorientasi kepada politik pemerintah,

artinya ia bukan atas pemerintah bahkan secara eksterm, pers merupakan lawan pemerintah, disamping itu juga pers Amerika banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosialnya, sehingga posisinya cukup kuat untuk lebih mengutamakan kepentingan publik ketimbang kepentingan pemerintah. Dalam kasus Iran- Contra pers ketika itu mengalami kesukaran di dalam mengungkapkan kasus tersebut. Hal ini disebabkan karena penyidik irrdeperrderrl councel (Lawrence Walsh) tetap menuntut agar tuduhan dapat dikenakan dakwaan. Kasus IranContra bukanlah kesalahan konstitusional akan tetapi hanyalah kesalahan procedural, dan yang hanya merupakan penyimpangan dari prinsip check and halaces yang terjadi akibat dari adanya patriotisme yang tinggi yang melekat pada diri Presiden Reagan dan pembantu-pembantunya di NSC untuk membela sebagai apa yang mereka anggap sebagai kepentingan Amerika di Amerika Tengah di Teluk Persi termasuk Sandra Amerika yang disekap di penjara Lebanon. Penyelesaian : Penelitian yang penulis lakukan ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Data dan informasi yang peneliti gunakan adalah semuanya dalam bentuk data sekunder yang diperoleh dari sumber tertulis, buku-buku, dokumen dan terbitan-terbitan berkala seperti surat kabar, rnajalah maupun bentuk dokumen lainnya. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini intinya adalah bahwa : Dalam kasus Iran-Contra hubungan pers dengan pemerintah tidak harmonis, karena kedua belah pihak mempunyai kepentigannya sendiri-sendiri. Pers di Amerika tidak berorientasi kepada politik pemerintah, artinya ia bukan atas pemerintah bahkan secara eksterm, pers merupakan lawan pemerintah, disamping itu juga pers Amerika banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosialnya, sehingga posisinya cukup kuat untuk lebih mengutamakan kepentingan publik ketimbang kepentingan pemerintah.

THE CHORZOW FACTORY CASE Pihak : Jerman dan Polandia Inti kasus : (Jerman v. Polandia) (1927) PCIJ, Ser. A, No 9. A, No 9. Jerman berusaha pernyataan bahwa, Pengadilan telah memutuskan dalam Kepentingan Jerman di Polandia Silesia Atas Kasus (1926) PCIJ, Ser. Jerman berusaha pernyataan bahwa, Pengadilan memutuskan Telah Dalam, Kepentingan Jerman di Polandia Silesia Atas Kasus (1926) PCIJ, Ser. A., No 7 bahwa Pemerintah Polandia sikap terhadap perusahaan-perusahaan Jerman tertentu yang mengambil alih usaha itu tidak sesuai dengan seni. A., bahwa Pemerintah Nomor 7 Polandia sikap terhadap perusahaan-perusahaan Jerman tertentu mengambil Alih Usaha Yang Tidak Sesuai ITU DENGAN seni. 6-22 dari Konvensi mengenai Silesia Hulu tanggal 15 Mei 1922 (9 LNTS 466), Polandia sekarang memiliki kewajiban untuk mengkompensasi perusahaan-perusahaan. 22/06 Dari Konvensi Mengenai Silesia Hulu Tanggal 15 Mei 1922 (9 LNTS 466), Polandia memiliki kewajiban SEKARANG UNTUK mengkompensasi perusahaan-perusahaan. Pemerintah Polandia mengangkat keberatan awal untuk yurisdiksi atas dasar bahwa seni. Pemerintah Polandia mengangkat keberatan Awal UNTUK yurisdiksi Atas Dasar bahwa seni. 23 (1) dari Konvensi, yang memberikan yurisdiksi atas 'perbedaan pendapat yang dihasilkan dari [yang] penafsiran dan penerapan', tidak mempertimbangkan perbedaan dalam hal reparasi diklaim untuk pelanggaran, dan bahwa Konvensi selanjutnya diberikan pengobatan alternatif untuk yang kedua . 23 (1) dari Konvensi, Yang memberikan yurisdiksi Atas 'Perbedaan Pendapat Yang dihasilkan Dari [Yang] penafsiran murah penerapan', Tidak mempertimbangkan Perbedaan Dalam, Hal Reparasi diklaim UNTUK Pelanggaran, murah bahwa Konvensi Selanjutnya diberikan Pengobatan alternatif UNTUK Yang kedua. Pada tanggal 26 Juli 1927, Pengadilan menyatakan pada prinsipnya (10-3), mengesampingkan keberatan, bahwa "[i] t adalah sebuah prinsip hukum internasional bahwa pelanggaran pertunangan melibatkan kewajiban untuk melakukan perbaikan dalam bentuk yang memadai. PADA Tanggal 26 Juli 1927, Pengadilan menyatakan PADA prinsipnya (10-3), mengesampingkan keberatan, bahwa "[i] t adalah Sebuah Prinsip Hukum Internasional bahwa pertunangan melibatkan Pelanggaran kewajiban melakukan perbaikan UNTUK Bentuk Dalam, Yang memadai. Reparasi Oleh karena itu adalah komplemen tak terpisahkan dari kegagalan untuk menerapkan konvensi ... Perbedaan yang berkaitan dengan reparasi, yang mungkin disebabkan oleh alasan kegagalan untuk menerapkan konvensi, akibatnya perbedaan yang berkaitan dengan aplikasi ': p. Oleh KARENA ITU Reparasi adalah komplemen tak terpisahkan Dari kegagalan UNTUK menerapkan konvensi. Perbedaan .. Yang berkaitan DENGAN Reparasi, Yang disebabkan oleh alasan Ujug kegagalan UNTUK menerapkan konvensi, akibatnya Perbedaan Yang berkaitan DENGAN 'aplikasi:.. h. 21 21 Setelah penghakiman ini, Pemerintah Jerman meminta langkah sementara perlindungan di bawah seni Setelah Penilaian. ini, Pemerintah Jerman meminta perlindungan Langkah sementara di bawah seni 41 dari Statuta PCIJ dalam bentuk perintah untuk pembayaran 30m RM dalam waktu satu bulan. 41. Dari Statuta PCIJ Dalam, Bentuk perintah RM UNTUK Pembayaran 30m Waktu Dalam, Satu bulan. ini Pengadilan menolak sebagai upaya berlaku 'untuk mendapatkan penilaian sementara mendukung bagian dari klaim': PCIJ, Ser Ini sebagai upaya Pengadilan menolak berlaku 'UNTUK mendapatkan Penilaian sementara mendukung BAGIAN Dari Klaim': PCIJ, Ser A..

, Nomor 12. Sebuah Tidak, 12. Penghakiman Pengadilan 16 Desember 1927 pada aplikasi Jerman untuk interpretasi Hukum No 7 (Kepentingan Jerman di Polandia Silesia Atas Kasus) dan 8 (PCIJ, Ser. A, No 13) sebenarnya tidak menyentuh penghakiman terakhir. Penghakiman Pengadilan 16 Desember 1927 PADA aplikasi Jerman UNTUK interpretasi Hukum No 7 (Kepentingan Jerman di Polandia Silesia Atas Kasus) murah 8 (PCIJ, Ser A, No 13.) Tidak berhubungan Fakta penghakiman terakhir . Penyelesaian : Inti dari ketentuan mengenai reparasi jelas mewakili hukum yang ada: setiap pelanggaran suatu kewajiban internasional disertai dengan kewajiban untuk memperbaiki kerusakan.Salah satu yang paling sering dikutip bagian dalam hukum internasional dari Penghakiman Pabrik Chorzow dari perma- menetap Pengadilan Keadilan Internasional.Ini menetapkan prinsip-prinsip dasar yang mengatur reparasi berikut pelanggaran internasional obligation.

Negara Mandat adalah suatu negara yang semula merupakan jajahan dari negara yang kalah dalamPerang Dunia I dan diletakkan di bawah perlindungan suatu negara yang menang perang denganpengawasan dari Dewan Mandat LBB. Ketentuan-ketentuan tentang pemerintahan perwalian iniditetapkan dalam suatu perjanjian di Versailles. Contoh: Syria, Lebanon, Palestina (Daerah Mandat A);Togo dan Kamerun (Daerah Mandat B); Afrika Barat Daya (Daerah Mandat )