Anda di halaman 1dari 23

REVISI Presentasi Kasus Demam Berdarah Dengue Derajat II dengan Asites dan Efusi Pleura

Pembimbing Dr. Kristyaningesti, SpA

Natalia Purnama 07120040064 RUMAH SAKIT KEPOLISIAN PUSAT RADEN SAID SUKANTO PERIODE 30 AGUSTUS 2010 06 NOVEMBER 2010

IDENTITAS : PASIEN Nama : An. F

Tanggal Lahir : 27-12-2001 Usia : 8 tahun 10 bulan

Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Jl. Usaha No 16 Jakarta Timur

Suku Bangsa : Indonesia Agama Pendidikan : Katolik : 3 SD

AYAH PASIEN Nama Usia : Tn. R : 42 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Jl. Usaha No. 16 Jakarta Timur

Suku Bangsa : Indonesia Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan : Katolik : SMA : Wiraswasta : Rp. 2.000.000 / bulan

IBU PASIEN Nama Usia : Ny. M : 36 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat

: Jl. Usaha No. 16 Jakarta Timur

Suku Bangsa : Indonesia Agama Pendidikan Pekerjaan Penghasilan : Katolik : SMA : Ibu Rumah Tangga : Rp - / bulan

Hubungan pasien dengan orang tua adalah anak kandung II. ANAMNESIS Didapatkan keterangan dari ibu pasien ( alloanamnesis) pada hari tanggal 06-10-2010 Keluhan utama Keluhan tambahan : demam tinggi sejak 4 hari sebelum masuk Rumah Sakit : sesak sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan demam tinggi 4 hari sebelum masuk Rumah Sakit, ketika itu ibu pasien mengukur suhu tubuh pasien 38C, demam dirasakan oleh pasien mendadak tinggi dan dirasakan terus menerus sepanjang hari. Bersamaan dengan pasien demam, pasien juga merasakan menggigil. Menggigil dirasakan pada kedua tangan dan kaki. Setelah demam, pasien menyangkal adanya berkeringat banyak. Pasien juga merasakan adanya rasa nyeri pada kedua mata. Nyeri dirasakan saat pasien membuka kedua matanya. Pasien juga merasakan adanya pusing, pusing dirasakan oleh pasien serasa berputar dan terdapat nyeri pada sendi-sendi pada bagian tubuh, terutama sendi tungkai atas dan sendi tungkai bawah. Menurut pengakuan ibu pasien, pasien cepat merasa lelah dan lemas. Lalu pasien dibawa berobat oleh ibu pasien ke puskesmas, dan diberi obat untuk 3 hari pengobatan. Obat yang diberi oleh puskemas yaitu obat penurun panas yang berupa sirup diberikan 4x1 sendok teh , antibiotik yang diberikan secara oral yang berupa kapsul diberikan 3x1, dan obat pusing yang ibu pasien lupa nama obatnya tetapi diberikan 2x1, namun setelah mengkonsumsi obat dari puskesmas, pasien belum merasa ada perbaikan. 3

Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien belum buang air besar. BAB terakhir pasien berampas, konsistensi lunak dan warnanya kuning kecoklatan, tidak ada lendir, dan tidak ada darah. Pasien tidak mengeluh adanya gangguan dalam berkemih, yaitu tidak adanya rasa nyeri dan rasa panas saat berkemih dan warna urin seperti biasa yaitu kuning muda, tidak ada darah. Sejak2 hari sebelum masuk Rumah sakit, mual dan muntah dirasakan oleh pasien. Terdapat nyeri ulu hati, setiap pasien makan dan minum, pasien merasakan adanya mual. Sebelum muntah, pasien merasakan adanya mual terlebih dahulu. Pasien muntah dengan muntahan berupa air, encer dan warnanya bening. Setiap pasien muntah, kira-kira seperempat gelas aqua. Nafsu makan pasien pun berkurang. Pasien mengaku tidak adanya mimisan, perdarahan pada gusi. Sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit, pasien merasa adanya sesak nafas sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Sekitar rumah pasien, yaitu tetangga pasien kira-kira 2 rumah dari rumah pasien, juga terdapat pasien yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien. Riwayat bepergian ke luar pulau Jawa, seperti Irian, Nusa Tenggara Timur, Sumatra disangkal. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita Penyakit Faringitis / Tonsilitis Bronkitis Pneumonia Tuberkulosis Kejang Morbili Varisela Pertusis Difteri Malaria Polio Enteritis Disentri Demam Tifoid Cacingan Operasi + + -

Gegar Otak Patah Tulang Reaksi Obat Riwayat Kehamilan Ibu :

Perawatan antenatal : rutin setiap bulan ke dokter Penyakit Kehamilan : Obat-obat yang diminum : vitamin

Riwayat Kelahiran Persalinan : partus spontan

Penolong persalinan : Dokter spesialis Kandungan di RS Budiasih Lama kandungan Keadaan bayi : 36 minggu : Berat badan lahir : 2200 gram Panjang badan Lingkar kepaa : 46 cm : ibu tidak tahu

Lahir langsung tidak menangis, kulit berwarna agak merah Nilai APGAR : ibu tidak tahu Kelainan bawaan : tidak ada 24 jam setelah lahir pasien kuning, dan oleh dokter disarankan dirawat selama 2 minggu di RS Budiasih. Selama kehamilan, ibu tidak menderita infeksi dan demam tinggi.

Riwayat Makanan Usia ( bulan ) ASI /PASI 0-3 bulan ASI 3 bulan 1 PASI tahun 1 tahun 1 tahun 3 bulan PASI PASI Buah / Biskuit Jeruk, pisang Jeruk, pisang Bubur Susu Milna Milna Milna Nasi Tim Nasi tim 5

Usia > 1 tahun Jenis makanan Nasi / Pengganti Sayur Daging Telur Ikan Tahu Tempe Buah Susu Frekuensi dan Jumlah 3x/ hari @ mangkuk kecil 3x /hari ( bayam, wortel) 2x/ hari (ayam) 2x/hari 1 x/hari 2x/hari 2x /hari 1x/ hari ( jeruk,pisang, apel) SGM 6-8x /hari (sampai umur 1 tahun) Dancow sampai sekarang Riwayat Imunisasi Vaksin BCG Hepatitis B Polio DPT Campak I Lahir 2 bulan 2 bulan 9 bulan II 1 bulan 3 bulan 3 bulan III 4 bulan 4 bulan IV 6 bulan -

Riwayat Perkembangan Pertumbuhan gigi pertama : ibu lupa Psikomotor o Senyum o Miring o Tengkurap o Duduk o Merangkak o Berdiri o Berjalan : : ibu lupa : ibu lupa : ibu lupa : 8 bulan : 11 bulan : 1 tahun 2 bulan : 2 tahun

o Membaca dan Menulis : 4 tahun Gangguan perkembangan mental/emosi : tidak ada

Kesimpulan : Status perkembangan motorik kurang Pasien merupakan anak ke 1 dari 2 saudara Lahir meninggal Keguguran 6 x Riwayat Keluarga o Corak reproduksi No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tanggal Lahir ( usia ) Keguguran bulan) PSP, 2200 gram Keguguran 3 bln Keguguran 3 bln PSP, 3500 gram Keguguran 5 bln Keguguran 3 bln Laki-laki Setelah kelahiran anak yang ke-5 , pasien diperiksa Toxo + Laki-laki Polihidramnion Kelelahan bekerja Kelelahan bekerja (3 Jenis Kelamin Keterangan Pasien kelelahan bekerja

8. Keguguran 3 bln Data Keluarga Perkawinan ke Usia saat menikah Konsanguitas Kesehatan/ Penyakit Ayah 1 33 tahun Ibu 1 28 tahun -

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga o Data keluarga : Ayah Ibu : sehat, tidak ada keluhan yang sama dengan pasien : sehat, tidak ada keluhan yang sama dengan pasien

Saudara-saudara: sehat, alergi Ayah dan ibu pasien tidak pernah mendapatkan transfusi darah

Riwayat penyakit pada anggota keluarga lain / orang serumah Anggota keluarga lain Kakek dari ayah : sehat, tidak ada keluhan yang sama dengan pasien Kakek dari ibu : sehat, tidak ada keluhan yang sama dengan pasien Nenek dari ayah : sehat, tidak ada keluhan yang sama dengan pasien Nenek dari ibu : sehat, tidak ada keluhan yang sama dengan pasien

Data Perumahan Kepemilikan rumah : rumah pribadi Keadaan rumah :

Rumah berukuran 6 x 4 m dihuni oleh ayah, ibu, pasien dan adik pasien. Rumah terdiri dari 1 tingkat. Terdiri dari 1 kamar, 1 dapur, 1 kamar mandi. Di dalam kamar mandi terdapat 1 kloset jongkok dan bak mandi yang dikuras 1 kali sehari. Tidak terdapat jendela rumah. Pintu 1 buah, atap terbuat dari genting dan lantai dari keramik. Air yang dipakai untuk mencuci dan memasak adalah air PAM, sedangkan untuk minum adalah air aqua galon. Keadaan lingkungan : Lingkungan perumahan padat, rumah saling berdempetan, jarak dari satu rumah ke rumah lain dibatasi oleh dinding, keadaan lingkungan bersih. Sampah di rumah dibuang 1 minggu sekali. Di depan rumah terdapat kali dan mengalir dengan lancar, tidak ada sampah pada kali. Bagian depan rumah biasa dilalui 1 motor. III. PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan tanggal 06-10-2010 Pemeriksaan Umum o Keadaan Umum : tampak sakit sedang o Kesadaran o Tanda Vital Tekanan darah : 112/80 mmHg Laju nadi : 119 x/menit, kuat, penuh, teratur : compos mentis

Laju nafas Suhu Data Antropometri o Berat badan o Tinggi badan o Lingkar kepala

: 32 x /menit : 37,1 C

: 23 kg : 117 cm : 51 cm

o Lingkar lengan atas : 20 cm o Lingkar dada o Lingkar perut Status gizi Berdasarkan persentil NCHS ( National Center for Health Statistics ) tahun 2000 BB terhadap umur berada di persentil 10 TB terhadap umur berada di bawah persentil 5 Interprestasi berdasarkan Lokakarya Antropometri Depkes 1974 & Puslitbang Gizi 1978 WFH ( Berat badan berdasarkan tinggi badan ) = 23/22 x 100% = 104,45 % Kesimpulan : Gizi pasien baik Pemeriksaan Sistematis Kepala Bentuk dan ukuran Ubun ubun besar Mata Telinga Hidung Mulut Normosefali, rambut hitam dan merata serta tidak mudah dicabut Menutup konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik sekret -/-, serumen -/deviasi septum -/-, sekret -/-, mukosa hidung hiperemis -/-, nafas cuping hidung + Mukosa oral basah, mukosa bibir basah, sianosis 9 : 67,5 cm : 65 cm

Gigi Tonsil Leher Thorax Cor

Caries Faring tidak hiperemis, T1/T1 Pembesaran KGB servikalis Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat Palpasi : iktus cordis tidak teraba Perkusi : Batas jantung atas : sela iga II linea parasternalis kiri Batas jantung kiri : sela iga IV linea midclavicularis kiri Batas jantung kanan : sela iga II linea parasternalis kanan Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur -/-., gallop -/Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris kanan kiri dalam keadaan statis dan dinamis Palpasi : stem fremitus kanan melemah daripada kiri Perkusi : redup pada paru kanan daripada kiri Auskultasi : bunyi napas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/Inspeksi : tampak cembung, LP =70 cm Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium +, hepar teraba 2 cm dibawah arcus costae, permukaan rata, konsistensi kenyal, tepi tajam.Lien tidak teraba Perkusi : timpani, shifting dullness + Auskultasi : BU + (6x/menit) Skoliosis -, kifosis -, lordosis Tidak teraba massa yang keluar dari anus, lubang intak Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-, ruam peteki pada kedua lengan atas Sesuai genitalia laki-laki Ikterik -/-, turgor baik

Pulmo

Abdomen

Tulang belakang Anus dan rektum Anggota gerak Genitalia Kulit Pemeriksaan Neurologis

10

o Reflex fisiologis : Rangsang meningeal Kaku kuduk Perasat kernig : tidak ditemukan : tidak ditemukan Reflex biseps : normorefleks/normorefleks Reflex triceps : normorefleks/normorefleks Reflex patella : normorefleks/normorefleks Reflex achilles: normorefleks

Reflex patologis Reflex Hoffman-troner : -/Reflex Babinsky Reflex Oppenheim Reflex Chaddock : -/: -/: -/-

Perasat Brudzinski I : tidak ditemukan Persasat Brudzinski II : tidak ditemukan IV. Pemeriksaan Penunjang 06-10-2010 Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Basofil Eosinophil Batang Segmen Limfosit Monosit 14,1gr/dL 42 % 7000 /uL 21.000/uL 1 61 32 2 13-16 gr/dL 40-48 % 5000-10.000 /uL 150.000-450.000 /uL 0-1 % 1-3% 2-6% 50-70% 20-40% 2-8%

11

LED Eritrosit Protein total Albumin Globulin Bilirubin total Bilirubin direk Bilirubin indirek SGOT SGPT

2 5,25 4,5 2,6 1,9 0,35 0,21 0,14 241,0 121,7

< 15 mm/jam 1,80-5,80 juta/uL 6,0 -8,7 gr/dl 3,5 5,2 gr/dl 2,5 3,1 gr/dl Dws < 1,5 ; Neo < 12 mg/dl < 0,5 mg/dl < 1,0 mg/dl < 37 U/L < 40 U/L

Kesan : Peningkatan SGOT, SPGT, hipoproteinemia dan trombositopenia Hasil Foto Rontgen

Kesan : efusi pleura minimal VI. Diagnosis Kerja Demam berdarah dengue grade II dengan asites dan efusi pleura

VII. Diagnosis Banding -

VIII. Anjuran pemeriksaan penunjang 12

Dengue blot Pemeriksaan darah tepi

IX. Prognosis Quo ad vitam : bonam

Quo ad functionam : bonam Quo ad functionam : bonam

X. Penatalaksanaan Tirah baring, rawat inap IVFD RL Kebutuhan cairan ; BB = 23 kg 10 kg pertama : 10 x 100 = 1000 cc 10 kg kedua : 10x 50 = 500 cc 3 kg ketiga : 3 x 20 = 60 cc -------------------------= 1560 cc/24 jam Tetes per menit = 1560 x 20 ----------------- = 21 tetes per menit 24x 60 Monitor tanda-tanda vital / nilai Ht dan trombosit tiap 6-12 jam

Kebutuhan kalori /hari = 90-100 kkal/kg = 100 x 23 kg = 2300 kkal/hari Kebutuhan protein/hari = 1,5 gram/kg/hari = 1,5 x 23 kg = 34,5 gram/hari = 138 kkal Kebutuhan lemak /hari = 15% dari kebutuhan kalori = 345 kal Kebutuhan karbohidrat /hari = 2300 138 345 = 1817 = 454, 25 g/hari

13

BB 23 kg

Antipiretik

Dosis 10-15 mg/kgBB/ hari diberikan dalam 4 dosis : 345 mg/hari Diberikan 4x 1 C Ranitidine Diberikan secara injeksi dengan dosis 2x25 mg

XI. Tindak Lanjut Sambil diperiksa tanda-tanda vital, yaitu tekanan darah, Nadi, Laju pernapasan Untuk menyediakan obat penurun panas di rumah dan memberikan obat begitu Lakukan perbaikan gizi pada pasien, dengan menasehati Ibu untuk memberikan Mengedukasi ibu pasien untuk melakukan 3M 1. Menguras tempat penampungan air secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali atau menabur abate ke dalamnya 2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air 3. Mengubuar/menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air RESUME Anamnesis pada tanggal 6 Oktober 2010 Pasien laki-laki usia 8 tahun 10 bulan BB 23 kg TB 117 cm Status gizi baik dan tumbuh kembang kurang Diagnosis kerja : demam berdarah dengue grade II dengan asites dan efusi pleura dan suhu. anak demam. makanan yang bernutrisi dan adekuat dan seimbang.

14

Pasien datang dengan keluhan demam tinggi 4 hari sebelum masuk Rumah Sakit, demam dirasakan oleh pasien mendadak tinggi dan dirasakan terus menerus sepanjang hari. Bersamaan dengan pasien demam, dirasakan menggigil pada kedua tangan dan kaki. Setelah demam, pasien menyangkal adanya berkeringat banyak. Adanya rasa nyeri pada kedua mata, pusing, pusing dirasakan oleh pasien serasa berputar dan nyeri pada sendi-sendi pada bagian tubuh, terutama sendi tungkai atas dan sendi tungkai bawah. Pasien belum buang air besar sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. BAB terakhir pasien berampas, konsistensi lunak dan warnanya kuning kecoklatan, tidak ada lendir, dan tidak ada darah. Pasien tidak mengeluh adanya gangguan dalam berkemih. Mual dan muntah dirasakan oleh pasien 2 hari sebelum masuk Rumah sakit. Setiap makan dan minum, pasien merasakan adanya mual. Sebelum muntah, pasien merasakan adanya mual terlebih dahulu. Pasien muntah dengan muntahan berupa air, encer dan warnanya bening. Nafsu makan pasien pun berkurang. Sesak nafas sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Sesak dirasakan tidak semakin berat, tidak cepat.Tetangga pasien sekitar 2 rumah dari rumah pasien juga terdapat gejala yang sama seperti pasien. Riwayat bepergian ke luar kota disangkal. Pemeriksaan Fisik Dilakukan tanggal 06-10-2010 Pemeriksaan Umum o Keadaan Umum : tampak sakit sedang o Kesadaran o Tanda Vital Tekanan darah : 112/80 mmHg Laju nadi Laju nafas Suhu Pemeriksaan Sistematis Kepala Bentuk dan ukuran Normosefali, rambut hitam dan merata serta tidak mudah : 119 x/menit, kuat, penuh, teratur : 32 x /menit : 37,1 C : compos mentis

15

Ubun ubun besar Mata : konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikteri Telinga Hidung Mulut Gigi Tonsil Leher Thorax Cor

dicabut Menutup konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik

sekret -/-, serumen -/deviasi septum -/-, sekret -/-, mukosa hidung hiperemis -/-, nafas cuping hidung + Mukosa oral basah, mukosa bibir basah, sianosis Caries Faring tidak hiperemis, T1/T1 Pembesaran KGB servikalis Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat Palpasi : iktus cordis tidak teraba Perkusi : Batas jantung atas : sela iga II linea parasternalis kiri Batas jantung kiri : sela iga IV linea midclavicularis kiri Batas jantung kanan : sela iga II linea parasternalis kanan Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur -/-., gallop -/Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris kanan kiri dalam keadaan statis dan dinamis Palpasi : stem fremitus kanan melemah daripada kiri Perkusi : redup pada paru kanan Auskultasi : bunyi napas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/Inspeksi : tampak cembung, LP =70 cm Palpasi : supel, nyeri tekan epigastrium +, hepar teraba dibawah arcus costae, permukaan rata, konsistensi kenyal, tepi tajam.Lien tidak teraba Perkusi : timpani, shifting dullness

Pulmo

Abdomen

16

Auskultasi : BU + (6x/menit) Tulang belakang Anus dan rektum Anggota gerak Genitalia Kulit Skoliosis -, kifosis -, lordosis Tidak teraba massa yang keluar dari anus, lubang intak Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-, ruam peteki pada kedua lengan atas Sesuai genitalia laki-laki Ikterik -/-, turgor baik

Pemeriksaan Penunjang tanggal 6 Oktober 2010 Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit Basofil Eosinophil Batang Segmen Limfosit Monosit LED Eritrosit Protein total Albumin Globulin Bilirubin total Bilirubin direk Bilirubin indirek SGOT SGPT PEMBAHASAN 14,1gr/dL 42 % 7000 /uL 21.000/uL 1 61 32 2 2 5,25 4,5 2,6 1,9 0,35 0,21 0,14 241,0 121,7 13-16 gr/dL 40-48 % 5000-10.000 /uL 150.000-450.000 /uL 0-1 % 1-3% 2-6% 50-70% 20-40% 2-8% < 15 mm/jam 1,80-5,80 juta/uL 6,0 -8,7 gr/dl 3,5 5,2 gr/dl 2,5 3,1 gr/dl Dws < 1,5 ; Neo < 12 mg/dl < 0,5 mg/dl < 1,0 mg/dl < 37 U/L < 40 U/L

17

Pada pasien ini, didiagnosis dengan demam berdarah dengue derajat II dengan asites dan efusi pleura karena terjadi perembesan plasma akan mengakibatkan adanya cairan di dalam rongga pleura dan rongga peritoneal yang berlangsung singkat selama 24-48 jam. Dari hasil foto ditemukan adanya efusi pleura kanan. Ada 2 teori tentang terjadinya manifetstasi yang lebih berat: 1. Teori infeksi primer / teori virulensi : yaitu munculnya manifestasi itu disebabkan oleh karena adanya mutasi virus dengue menjadi lebih virulen 2. Teori infeksi sekunder : munculnya manifestasi berat bila terjadi infeksi ulangan oleh virus dengue yang serotipenya berbeda dengan infeksi sebelumnya. Patofisiologi Volume plasma Fenomena patofisiologi utama yang menentukan derajat penyakit dan membedakan antara DD dengan DBD adalah peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah, penurunan volume plasma,trombositopenia. Pada sebagian besar kasus, plasma yang menghilang dapat diganti secara efektif dengan memberikan plasma. Trombositopenia Merupakan kelainan hematologis yang ditemukan pada sebagian besar kasus DBD. Nilai trombosit mulai menurun pada masa demam dan mencapai nilai terendah pada masa syok. Jumlah trombosit secara cepat meningkat pada masa konvalesens dan nilai normal biasanya tercapai 7-10 hari sejak permulaan sakit. Trombositopenia dihubungkan dengan meningkatnya megakariosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit diduga akibatnya meningkatnya destruksi trombosit. Trombositopenia dan gangguan fungsi trombosit dianggap sebagai penyebab utama terjadinya perdarahan DBD. Dua teori umum dipakai dalam menjelaskan perubahan patogenesis pada DBD yaitu hipotesis infeksi sekunder atau hipotesis immune enhancement.

18

Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut terjadi : 1. aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilatoksin yang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dan terjadi perembasan plasma dari ruang intravaskular ke ekstravaskular 2. agregasi trombosit sehingga jumlah trombosit menurun apalabila kejadian ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibat mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang 3. kerusakan sel endotel pembuluh darah yang akan merangsang / mengaktivasi faktor pembekuan. Ketiga faktor tersebut dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler sehingga mengakibatkan perembesan plasma, hipovolemi dan syok. Perembesan plasma pada DBD akan mengakibatkan adanya cairan di dalam rongga pleura dan rongga peritoneal yang berlangsung singkat selama 24-48 jam Kelainan hemostasis yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopenia, dan koagulopati sehingga mengakibatkan perdarahan hebat. Manifestasi Klinis Demam berdarah dengue ditandai 4 manifetasi klinis yaitu demam tinggi, perdarahan, terutama kulit, hepatomegali dan kegagalan peredaran darah. Fenomena patofsiologi utama yang menentukan derajat penyakit ialah peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, trombositopenia dan diatesis hemorargik. Masa tunas berkisar antara 3-5 hari pada umumnya (5 -8 hari). Awal penyakit biasanya mendadak, disertai gejala prodormal yaitu nyeri kepala, nyeri berbagai bagian tubuh, anoreksia, rasa menggigil dan malaise. Pada lebih separuh pasien, gejala klinis timbul dengan mendadak dan disertai kenaikan suhu, nyeri kepala hebat, nyeri di belakang bola mata, punggung, otot, sendi dan disertai rasa menggigil. Pada penderita dapat dilihat bentuk kurva suhu bifasik atau menyerupai pelana kuda. Peningkatan kadar hematokrit merupaakan adanya bukti kebocoran plasma, walau terjadi pula pada kasus derajat ringan meskipun tidak sehebat keadaan syok. Hasil laboratorium lain

19

yang sering ditemukan adalah hipoproteinemia, hiponatremia, kadar transaminase serum meningkat.

Kriteria Diagnosis DBD ( WHO, 1996) Kriteria klinis 1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas berlangsung terus menerus selama 2-7 hari. 2. Terdapat manifestasi perdarahan, termasuk uji torniquet positif, peteki, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis atau melena 3. Pembesaran hati 4. Syok ditandai dengan nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi < 20 mmHg, tekanan darah menurun (tekanan sistolik < 80 mmHg), disertai timbul sianosis di sekitar mulut. Kriteria laboratoris 1. Trombositopenia ( 100.000 atau kurang ) 2. Hemokonsentrasi Dua kriteria klinis pertama ditambah dengan trombositopenia dan hemokonsentrasi cukup untuk menegakkan diagnosis klinis DBD. Efusi pleura atau hipoalbuminemia dapat memperkuat diagnosis terutama pada pasien anemi atau terjadi perdarahan. Pada kasus syok adanya peningkatan hematokrit dan adanya trombositopenia mendukung diagnosis DBD. Derajat Penyakit Derajat I : demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah ujung hidung, kulit kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah dan

uji torniquet.

20

Derajat II : seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain. Derajat III : didapatkan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun ( 20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis sekitar mulut, kulit dingin dan lembab dan anak tampak gelisah. Derajat IV : syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak teratur. Diagnosis demam berdarah dengue Demam berdarah dengue Pada awal penyakit, DBD dapat menyerupai kasus DD dengan kecenderungan perdarahan dengan satu manifestasi klinis atau lebih,yaitu : Uji torniquet positif Peteki, ekimosis Perdarahan mukosa ( epistaksis, perdarahan gusi) Hematemesis atau melena Trombositopenia ( jumlah < 100.000) Hemokonsentrasi peningkatan hematokrit > 20% Tanda perembesan plasma : adanya efusi pleura, asites atau proteinemia

Tatalaksana Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat perdarahan. A. DBD tanpa syok ( derajat I dan II) 1. Medikamentosa Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan pemberian parasetamol. Diusahakan tidak memberikan obat-obat yang tidak diperlukan ( misalnya antasid, antiemetik) untuk mengurangi beban detoksifikasi obat dalam hati. Kortikosteroid diberikan pada DBD ensefalopati.

21

2. Suportif Kehilangan cairan plasma perlu diatasi sebagai upaya meningkatkan permeabilitas kapiler dan perdarahan Kunci keberhasilan terletak pada kemampuan untuk mengatasi masa peralihan dari fase demam ke fase penurunan suhu dengan baik Cairan intravena diperlukan apabila anak terus-menerus muntah, tidak mau minum, demam tinggi, dehidrasi daat mempercepat terjadinya syok, nilai hematokrit cenderung meningkat pada pemeriksaan berkala. Pemilihan jenis dan volume cairan yang diperlukan tergantung umur dan berat badan pasien serta derajat kehilangan plasma sesuai dengna derajat hemkonsentrasi yang terjadi. Jenis cairan ( rekomendasi WHO) Kristaloid Koloid Dekstran 40 Plasma Larurtan Ringer Laktat atau Dekstrosa 5 % dalam larutan ringer laktat Larutan Ringer Asetat atau dekstrosa 5 % dalam larutan ringer Asetat Larutan Nacl 0,9 % atau dekstrosa 5% dalam larutan garam faal

Penggantian volume plasma segera Pengobatan awal cairan intravena dengan larutan kristaloid 20 ml/kgBB dengan tetesan secepatnya ( diberikan secara bolus selama 3 menit). Apabila syok belum dapat teratasi atau keadaan klinis menjadi buruk setelah 30 menit pemberian cairan awal, cairan diganti dengan cairan koloid 10-20 ml/kgBB/jam dengan jumlah maksimal 30 ml/kg/BB. Setelah terjadi perbaikan, segera cairan ditukar kembali dengan kristaloid dengan tetesan 20 ml/kgBB. Apabila setelah cairan resusitasi kristaloid dan koloid syok masih menetap sedangkan kadar hematokrit menurun, diduga telah terjadi perdarahan. Apabila kadar hematokrit tetap >40 vol %, maka berikana volume darah dalam volume kecil ( 10ml/kgBB/jam), tetapi apabila terjadi 22

perdarahan masif berikan 20 ml/kgBB. Setelah keadaan klinis membaik, tetesan cairan dikurangi bertahap sesuai dengan keadaan klinis dan kadar hematokrit.

Referensi

1. Sumarmo S.P.S Infeksi & Pediatri tropis. Edisi kedua. Ikatan Dokter Anak Indonesia 2010. h 155-181 2. Hadinegoro SR. Tatalaksana Demam Dengue ( Demam Berdarah Dengue ). Dalam : Demam Berdarah Dengue. Edisi cetak ulang 2. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 2002. H 80-132 3. Halstead SB. Dengue fever/dengue hemorrhagic fever. In: Cohen J, Powderly WG, Berkley SF, Calandra T, Clumeck N, Finch RG, eds. Principles and Practice of Infectious Diseases. 6th ed. Philadelphia, Pa; Churchill Livingstone Elsevier; 2005: chap 184. Diunduh dari http://www.umm.edu/ency/article/001373.htm 4. Tsai TF, Vaughn DW, Solomon T. Flaviviruses (yellow fever, dengue, dengue hemorrhagic fever, Japanese encephalitis, West Nile encephalitis, St. Louis encephalitis, tick-borne encephalitis). In: Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, eds. Principles and Practice of Infectious Diseases. 6th ed. Philadelphia, Pa: Churchill Livingstone Elsevier; 2005: chap 149. 5. Nimamanntya S. Clinical manifestation of dengue hemorrhagic fever. In monograph on dengue / dengue hemorrhagic fever. World Health Organization. 1993. h. 48-54

23