Anda di halaman 1dari 6

BAB 5 PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis Sidik Ragam diperoleh bahwa perlakuan jenis bahan dan konsentrasi memberikan hasil yang berpengaruh nyata terhadap penurunan total bakteri feses ayam (Lampiran 7). Berarti ketiga jenis bahan (gerusan bawang putih, lisol dan iodine) memberikan daya bunuh terhadap total bakteri feses ayam. Ketiga bahan ini memiliki kandungan yang berbeda-beda terhadap total bakteri feses ayam. Lisol merupakan derivat yang digunakan untuk mendesinfeksi kandang, feses, dan peralatan sesudah depopulasi (pengosongan kandang) yang dilakukan setelah ayam diafkir ataupun sesudah terjadi wabah. Lisol memiliki kemampuan sebagai pembasmi bakteri yang lebih baik serta tidak beracun, pemakaiannya cukup 2% saja sudah mendapatkan hasil yang cukup bagus dalam sebagai bahan desinfektan (Natalia, 2002). Iodine memiliki fungsi sebagai antimikrobial karena memiliki kemampuan menghambat dan mematikan bakteri spora, jamur, dan virus (Setiadi dkk, 1985). Iodine 10% merupakan antiseptik yang mempunyai daya bunuh bakteri yang kuat, lama dan berspektrum luas. Kerjanya langsung dan cepat membunuh bakteri dan bukan menahan perkembangan bakteri. Umumnya untuk tujuan antimikroba iodine digunakan dalam bentuk preparat lugol untuk povidone iodine (Reddish, 1961; Setiadi dkk, 1985). Bawang putih memiliki zat antibakterial sejenis minyak atsiri dengan bau yang khas yang bernama allicin. Allicin mengandung senyawa sulfur yang tidak stabil, adanya senyawa sulfur tersebut diidentifikasikan sebagai prinsip anti bakteri

27

28

yang potensial dari bawang putih. Reaksi Allicin dengan sistein yang terdapat dalam bawang putih menghasilkan senyawa yang bekerja sebagai agen antibakterial, yaitu dengan merusak gugus sulfidril yang penting proliferasi kuman, sehingga kuman dihambat pertumbuhannya (Guenther, 1975; Roser, 1997). Hasil analisa data pada uji BNJ 5% diperoleh bahan antimikrobial yang menurunkan koloni tertinggi adalah B2 (perlakuan lisol), sedangkan perlakuan bawang putih dan iodine mempunyai efektivitas yang sama atau tidak berbeda. Mekanisme kerja lisol dalam membunuh mikroorganisme adalah dengan merusak dinding dan membran sitoplasma sel serta menyebabkan denaturasi protein sel (Joklik et al., 1984; Volk and Wheeler, 1992). Dibidang peternakan, lisol digunakan sebagai desinfektan untuk mendesinfeksi kandang, feses, peralatan dan lingkungan sekitar. Tindakan tersebut bertujuan untuk mencegah dan membasmi mikroorganisme penyebab penyakit. Mekanisme kerja iodine sebagai antimikroba dengan mempresentasikan protein-protein, sebagaian hilang dalam bentuk ikatan dan sebagaian lagi dikonversikan dalam bentuk ion iodida. Iodium dalam bentuk ikatan terus berpenetrasi sehingga efeknya terus berlanjut. Pendapat lain mengatakan bahwa iodium membunuh mikroorganisme dalam bentuk garam dengan protein melalui halogenisasi langsung. Konsentrasi efektif iodium terhadap mikroorganisme tidak bervariasi secara lebar tetapi mempunyai kecepatan membunuh yang berbeda-beda (Reddish, 1961). Bawang putih mempunyai kandungan yaitu saponin dan flavonoid, disamping minyak atsiri yan sama-sama berfungsi sebagai antibakteri. Saponin adalah senyawa aktif yang kuat dan menimbulkan busa jika digosok dalam air sehingga

29

bersifat seperti sabun (Robinson, 1995) dan mempunyai kemampuan antibakterial (Ilmi, 1995). Saponin dapat meningkatkan permeabilitas membran sel bakteri sehingga dapat mengubah struktur dan fungsi membran, menyebabkan denaturasi protein membran sehingga membran sel akan rusak dan lisis (Siswandono dan Soekarjo, 1995). Menurut Dwidjoseputro (1994) menyatakan bahwa saponin memiliki molekul yang dapat menarik air atau hidrofilik dan molekul yang dapat melarutkan lemak atau lipofilik sehingga dapat menurunkan tegangan permukaan sel yang akhirnya menyebabkan kehancuran kuman. Flavonoid merupakan senyawa fenol yang bersifat desinfektan yang bekerja dengan cara mendenaturasi protein yang dapat menyebabkan aktifitas metabolisme sel bakteri berhenti karena semua aktifitas metabolisme sel bakteri dikatalisis oleh suatu enzim yang merupakan protein. Berhentinya aktifitas metabolisme ini akan mengakibatkan kematian sel bakteri (Trease dan Evans, 1978). Flavonoid juga bersifat bakteriostatik yang bekerja melelui penghambatan sintesis dinding sel bakteri (Masya, 1985; Soedibyo, 1998). Bawang putih mengandung minyak atsiri dengan unsur utama alliin. Alliin secara enzimatis akan dipecah oleh enzim allinase menjadi senyawa berbau khas yaitu allicin. Senyawa allicin dikenal mempunyai daya antibakterial yang kuat. Efek antibakteri allicin bekerja dengan cara menghancurkan kelompok SH, yaitu kelompok Sulfhidril dan disulfida yang terikat pada protein dan merupakan enzim penting untuk metabolisme sel bakteri serta merupakan gugus yang penting untuk proliferasi bakteri atau sebagai stimulator spesifik untuk multiplikasi sel bakteri.

30

Dengan adanya allicin inilah maka pertumbuhan kuman dapat dihambat dan proses selanjutnya mengakibatkan terjadinya kematian kuman (Mursito, 2003). Bawang putih mempunyai kemampuan yang sama dengan iodine sebagai desinfektan yaitu memiliki daya bunuh terhadap total bakteri feses ayam. Berarti bawang putih dapat mengantikan iodine yang selama ini menjadi pilihan peternak sebagai bahan antimikrobial kimia yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan sekitar peternakan dan peternak itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan bawang putih adalah antimikrobial alami. Konsentrasi menunjukkan hasil yang berbeda nyata dengan p<0,01 lihat Tabel 4.2. Berarti dengan adanya konsentrasi mempengaruhi sistem kerja dari desinfektan terhadap total bakteri feses ayam. Menggunakan desinfektan dengan konsentrasi tertentu dapat mematikan mikroorganisme penyebab penyakit dengan cara merusak struktur dinding sel, mengubah permeabilitas membran sel, mengadakan perubahan molekul-molekul protein dan asam nukleat atau dapat pula menghambat sintesa asam nukleat dan protein (Pelczar and Chan, 1998). Hasil uji BNJ 5% dari perlakuan konsentrasi pada berbagai bahan terhadap total bakteri feses ayam menunjukkan bahwa konsentrasi yang tertinggi dalam menurunkan jumlah koloni bakteri pada feses ayam adalah K4 (konsentrasi 10%) tetapi tidak membunuh bakteri hingga 100%. Konsentrasi yang sama atau tidak berbeda nyata didapat pada K2 dan K3. Menurut Katzung (1998) mengatakan bahwa konsentrasi yang rendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan konsentrasi yang tinggi dapat membunuh mikroorganisme tertentu. Bahan dengan konsentrasi yang tinggi bersifat bakterisid yaitu memiliki daya membunuh kuman, sedangkan bahan dengan konsentrasi

31

rendah bersifat bakteriostatik yaitu memiliki daya menghambat pertumbuhan kuman (Lay, 1994). Pada K2 dan K3 terjadi penurunan total bakteri feses ayam yang tidak berbeda nyata dikarenakan tingkat konsentrasi yang digunakkan dalam penelitian ini jaraknya terlalu pendek dan adanya bahan organik di feses. Hal ini mengakibatkan sedikitnya penurunan terhadap total bakteri feses ayam. Oleh karena itu semakin besar konsentrasi yang digunakkan maka semakin kuat daya antimikrobial. Adanya bahan organik pada feses dapat menghalangi desinfektan dalam menghambat atau membunuh bakteri sehingga dapat mengurangi atau bahkan meniadakan daya antimikrobialnya. Lisol stabil terhadap bahan organik. Karena itu lisol sangat cocok digunakan untuk desinfektan kandang (Pelczar dan Chan, 1998; Roostita, 2002). Cara kerja desinfektan selain dipengaruhi konsentrasi juga dipengaruhi oleh bahan organik dan lama waktu kontak dengan feses. Menurut Harvey (1990) dan Nugrahani (2001) menyatakan bahwa semakin lama kontak desinfektan dengan feses maka semakin banyak pula mikroba yang dihambat pertumbuhannya atau dibunuh sedangkan dalam penelitian ini lama waktu kontak desinfektan dengan feses adalah 2 jam (Linton et al., 1995). Ternyata lama waktu kontak yang digunakan ini belum mampu membunuh bakteri hingga 100%. Sehingga dapat disimpulkan waktu berpengaruh terhadap efektivitas bahan antimikrobial. Lisol, bawang putih dan iodine dapat digunakan sebagai desinfektan. Kandungan bahan yang berbeda mempengarui efektivitas ketiganya. Bahan organik yang ada dalam feses ayam juga dapat mempengaruhi efektivitas ketiga bahan. Pada penelitian ini konsentrasi 10% belum dapat membunuh 100% total bakteri

32

feses ayam. Jadi bawang putih dapat digunakan sebagai alternatif desinfektan alami kandang untuk menggantikan iodine yang selama ini digunakan oleh para peternak.