Anda di halaman 1dari 19

PEMBANGUNAN PERKOTAAN DAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) SUATU KAJIAN INTERVENSI

Maret 29, 2012 PEMBANGUNAN PERKOTAAN DAN PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) SUATU KAJIAN INTERVENSI Oleh: Syamsul Bahri

Abstrak

Sektor informal sering di tuding sebagai penyebab ketidak tertiban, , ketidak indahan dan ketidak bersihan (3K) suatu kota. Sebaliknya sector informal ini memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Apabila sumbangan melaluai berbagai pungutan terhadap sector informal dikelolah secara baik dan profesional maka potensi pungutan yang bias di sumbangkan melaluai PAD tentunya akan lebih besar.

1. A.

PENDAHULUAN

Daerah perkotaan merupakan ruangan pemukiman daratan dimana terdapat konsentrasi penduduk dengan segala kegiatannya, yang membutuhkan tersedianya sarana dan prasarana perkotaan dalam jumlah dan kualitas yang cukup dan memadai. Daerah perkotaan mempunyai daya tarik yang kuat, yaitu menjanjikan kesempatan kerja yang lebih luas, pendapatan yang lebih tinggi, dan berbagai kemudahan lainnya yang beraneka ragam Rachibini dan Hamid menyatakan bahwa Pesatnya pertumbuhan sector informal di daerah perkotaan disebabkan oleh semakin sempitnya lahan di daerah pedesaan dan upah yang diterima relatif kecil mengakibatkan terjadinya urbanisasiarus. Hal ini menyebabkan tingginya suplay of labour di banding demand of labour. Pembangunan perkotaan yang begitu pesat menyisahkan banyak masalah, seperti terbatasnya, ruang publik, terbatasnya sarana untuk sektor informal seperti Pedagang Kaki Lima (PKL), akhirnya mereka berjualan di trotoar jalan, di taman-taman kota, di jembatan penyebrangan, bahkan di badan jalan. Pemerintah kota berulangkali menertibkan mereka yang ditengarai menjadi penyebab kemacetan lalu lintas ataupun merusak keindahan kota. Upaya penertiban ini sering

menimbulkan konflik yang melibatkan komponen masyarak ahirnya masalah PKL ini disebutkan sebagai bentuk kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja untuk kaum miskin. 1. B. PEMBANGUNAN DAN PERKEMBANGAN PERKOTAAN

Ditinjau dari segi sejarah agaknya dari waktu kewaktu pemerintahan baru diberbagai negara yang menyatakan dirinya negara sedang berkembang cepat, merasa perlu untuk menyajikan usaha pembangunanya sebagai program modernisasi. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah gerangan yang terkandung dalam istilah modernisasi itu? Jawabannya memang tidak semudah yang kita duga. Variasinya terlalu banyak untuk dibahas satu demi satu. Paling tidak aspek yang paling spektakuler dalam modernisasi suatu masyarakat ialah pergantian teknik produksi dari caracara tradisional ke cara-cara modern, yang tertampung dalam pengertian revolusi industri, akan tetapi proses yang disebut revolusi industri itu hanya satu bagian, atau satu aspek saja dari suatu proses yang jauh lebih luas. Seperti : modernisasi yang berarti transpormasi sosial, politik, ekonomi, kultural, dan perubahan mental seperti yang terjadi dibarat. Modernisasi dapat pula berupa transpormasi dalam bidang urbanisasi, rasionalisasi, birokrasi, demokratisasi, pengaruh kapitalisme, perkembangan individualisme dan motivasi untuk benprestasi, meningkatnya pengaruh akal dan sains, serta berbagai proses lainnya. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang memiliki cirri perekonomian dua sector , yakni sector forman dan informal. Ciri seperti ini di duga terjadi karena akibat peningkatan jumlah tenaga kerja dari tahun ketahun , sementara itu daya serap sector formal terbatas adanya. Pesatnya pertumbuhan sektor informal di daerah perkotaan , disebabkan oleh banyak faktor. Rachibini dan Hamid , seperti alasan klasik lainya, menganggap karena proses urbanisasi akibat lahan di pedesaan semakin sempit dan upah yang diterima relative kecil. Hal ini menyebabkan tingginya suplay of labour di banding demand of labour. Dari sisi lain proses terjadinya sektor informal karena adanya perangkap-perangkap kegiatan ekonomi.rendahnya upah disektor kegiatan ekonomi tradisional pedesaan telah mengundang penduduk untuk berpindah kegiatan sektor modern dipedesaan,yakni sektor ekstraktif seperti eksploitasi minyak dan gas bumi , maupun kegiatan produksi pertambangan lainya dan kehutanan. Namun persyaratan akan keterampilan yang tidak bias dipenuhi menyebabkan mereka tidak tertampung disektor modern di pedesaan.sementara sector tradisional tidak mampu untuk menampung mereka , maka tenaga kerja tersebut berimigrasi kekota. Disisi lain ,kota sebagai pusat kegiatan ekonomi , social, kebudayaan,telah mengundang atau mendapatkan dirinya menjadi daya tarik penduduk yang berada di pedesaan.hal ini tentunya berpengaruh terhadap besarnya migrasi penduduk berusia potensial kedaerah perkotaan. Naim justru Melihat kegiatan penduduk di sektor kegiatan disektor informal bukan karena mereka terpeangkap kedalam pengertian negatif. Naim berpendapat bahwa mereka berusaha disektor informal karena tidak mau menjadi karyawan yang diperintah. Mereka lebih senang menjadi pemimpin terhadap dirinya sendiri, walau harus menjadi pedagang kaki lima (PKL) disepanjan trotoar jalan. Keberadaan PKL ini ,bila diamati dengan kacamata penguasa ,cenderung menimbulkan dilemma bagi pemerintah karena disatu sisi sektor ini banyak menampung tenaga kerja sehingga bisadijadikan sebagai katup pengaman dalam suasana lapangan kerja yang terbatas.tetapi bila

ditinjau dari segi planologi, kehadiran pengusaha kaki lima (PKL) diperkotaan selalu menimbulkan masalah karena kegiatan PKL dilakukan ditempat-tempat yang sudah mempunyai peruntukan sebagai sarana perkotaan seperti taman taman, ,jembatan penyebrangan , trotoar, jalan raya, dan lain- lain. kehadiran PKL juga sering menggangu lingkungan di sekitarnya , seperti perusakan pemandangan, cenderung kelihatan kumuh serta menganggu kebersihan lingkungan. Berikut ini dapat dilihat beberapa dampak positif dan dampak negatif dari perkembangan perkotaan . Dampak positif : 1. Pesatnya pertumbuhan sektor informal di daerah perkotaan , disebabkan oeh banyak factor. Rachibini dan Hamid , seperti alasan klasik lainya, menganggap karena urbanisasi, lahan di pedesaan semakin sempit dan upah yang diterima relative kecil. Hal ini menyebabkan tingginya suplay of labour di banding demand of labour. 2. Peluang untuk bekerja bagi yang memiliki keterampilan terbuka lebar. Dampak negatif : 1. Dengan perkembangan perkotaan ,PKL atau warga yang dijadikan sasaran pengusuran akan mengalami ancaman . 2. Sering terjadi konflik antara aparat berwenang dengan warga akibat dari perluasan perkotaan yang berawal dari penggusuran secara paksa. 3. Dengan perkemangan perkotaan akan membuka kesempatan masyarakat desa melakukan urbanisasi dan pemadatan penduduk kota akan terjadi, penangguran meningkat, lapangan kerjaan terbatas mengakibatkan tindakan kriminal dapat muda terjadi.

1. C.

PEDAGANG KAKILIMA DI PERKOTAAN

Mencermati fenomena PKL di perkotaan mengubah perspektif terhadap keberadaan mereka di perkotaan. Mereka bukanlah kelompok yang gagal masuk dalam sistem ekonomi perkotaan. Mereka bukanlah komponen ekonomi perkotaan yang menjadi beban bagi perkembangan perkotaan. PKL adalah salah satu moda dalam transformasi perkotaan yang tidak terpisahkan dari sistem ekonomi perkotaan. Lapangan pekerjaan yang mereka lakukan adalah salah satu moda transformasi dari masyarakat berbasis pertanian ke industri dan jasa. Mengingat kemudahan untuk memasuki kegiatan ini berikut dengan minimnya tuntutan keahlian dan modal usaha, penduduk yang bermigrasi ke kota cenderung memilih kegiatan PKL. Ketersediaan lapangan kerja sektor formal bukanlah satu-satunya indikator ketersediaan lapangan kerja. Keberadaan sektor informal pun adalah wujud tersedianya lapangan kerja. Cukup banyak studi dinegara Dunia Ketiga yang menunjukkan bahwa tidak semua pelaku sektor informal berminat pindah ke sektor formal. Bagi mereka mengembangkan kewirausahaan adalah lebih menarik ketimbang menjadi pekerja di sektor formal. Masalah yang muncul berkenaan dengan PKL adalah banyak disebabkan oleh kurangnya ruang

untuk mewadahi kegiatan PKL di perkotaan. Konsep perencanaan ruang perkotaan yang tidak didasari oleh pemahaman informalitas perkotaan sebagai bagian yang menyatu dengan sistem perkotaan akan cenderung mengabaikan tuntutan ruang untuk sektor informal termasuk PKL. Kegiatan-kegiatan perkotaan didominasi oleh sektor-sektor formal yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Alokasi ruang untuk sektor-sektor informal termasuk PKL adalah ruang marjinal. Sektor informal terpinggirkan dalam rencana tata ruang kota yang tidak didasari pemahaman informalitas perkotaan. Pedagang kaki lima (PKL) di beberapa kota besar identik dengan masalah kemacetan arus lalu lintas, karena PKL memanfaatkan kelompok pedagang itu memanfaatkan trotoar sebagai media berdagang.Kelompok ini pun kerap diusir dan dikejar petugas karena mempergunakan lahan bisnis tidak sesuai dengan tata ruang perkotaan Akan tetapi, bagi sebagian kelompok masyarakat, PKL justru menjadi solusi mereka karena menyediakan harga lebih miring.. Hal ini membuat pembersihan usaha mikro itu di lokasi-lokasi strategis menjadi kontroversial dilihat dari kaca mata sosial. Setiap hari mereka berjuang untuk menghidupi keluarga, sembari kucing-kucingan dengan aparat. Mereka harus dihargai karena perjuangannya luar biasa, padahal mereka Tidak pernah menerima bantuan modal dari pemerintah maupun perbankan, akan tetapi bisa survive. 1. D. KARAKTERISTIK PEDAGANG KAKI LIMA

Masyarakat pedagang kaki lima pada umumnya adalah masyarakat yang mencoba bertahan hidup didalam situasi sesulit apapun dan mereka ini mempunyai mental yang cukup kuat, apabila mereka dihadapkan pada situasi yang cukup sulit, mereka akan dengan mudah mengatasi. Disatu sisi, masyarakat ini sangat lemah dari keleluasaan dan juga sangat lemah terhadap hak azazi manusia karena disatu sisi dia mengharapkan adanya perlindungan untuk berusaha, tetapi disisi lain mereka mengganggu hak orang lain. Masalahnya kemudian adalah karena PKL berusaha berusaha dengan memamfaatkan sirkulasi yang ada di kota, apabila hal ini didiamkan maka akan menjadi masalah serius bagi lingkungan yang pada akhirnya menjadi masalah serius bagi perkotaan. Melihat karakteristik masyarakat ini, kita juga tentunya tidak hanya melihatnya sebagai sampah kota yang membuat kota menjadi tidak indah, lebih dalam lagi kita justru melihat suatu aspek kehidupan penunjang masyarakat kota yang senantiasa menghendaki berbagai fasilitas kehidupan dapat terpenuhi dengan mudah, hal ini sangat erat kaitannya dengan karakteristik masyarakat dari golongan manapun. Walaupun Pemerintah berusaha untuk memberlakukan peraturan apapun, kelompok masyarakat ini tidak akan pernah bisa mematuhi peraturan ataupun rencana kota yang tidak memperlihatkan solusi bagi kehidupan PKL, sehingga antara PKL dengan pemerintah terjadi masalah berkepanjangan, akibatnya pertumbuhan pedagang ini semakin subur dan menjadi lahan bagi aparat pemerintah dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

1. E.

PEDAGANG KAKI LIMA SEBAGAI MITRA KERJA

Aldwin Surya dalam tulisannya yang berjudul Dilema Pedagang Kaki Lima. menceritakan tentang sejarah PKL. Surya menggambarkan bahwa sebutan pedagang kaki lima awalnya berasal dari para pedagang yang menggunakan gerobak dorong yang memiliki tiga roda. Di atas kereta dorong itulah ia meletakkan berbagai barang dagangannya, menyusuri pemukiman penduduk dan menjajakannya kepada orang-orang yang berminat. Dengan dua kaki pedagang kakilima plus tiga roda kereta dorong itulah, mereka kemudian dikenal sebagai pedagang kaki lima. Namun, pengertian PKL dan area tempat mereka berdagang telah mengalami banyak pergeseran. Seiring dengan peningkatan populasi penduduk, PKL bermunculan di banyak tempat, memanfaatkan tiap celah yang dinilai memberi peluang untuk menjual dagangannya. Mereka pun tidak lagi harus menggunakan kereta dorong. SeInfokop Nomor 29 Tahun XXII, 2006 lanjutnya dikisahkan, dengan berbekal plastik, koran/kardus bekas atau apa saja yang boleh digunakan sebagai alas dagangannya, mereka siap menggelar barang dagangan, sabar menunggu pembeli dan berharap cepat laku. Beberapa pedagang kaki lima memilih .menjemput bola. dengan cara menjadi pedagang asongan. Oleh karena itu, lokasi para pedagang kaki lima sangat bervariasi seperti dapat dijumpai di pasar-pasar tradisional,emperan toko, di pojok jalan, kawasan perumahan, di pintu jalan masuk tol, di persimpangan lampu merah (traffic light), bahkan di sekitar sekolah dan rumah sakit. Aldwin Surya menguraikan bahwa PKL adalah pahlawan bagi keluarganya. Mereka mengajarkan keteladanan kepada keluarganya bahwa kehidupan yang semakin berat dapat dilalui bila mau bekerja keras, tabah dan sabar. Mereka adalah sosok yang tidak cepat menyerah, realistis dan penuh semangat. Meski beban kehidupan semakin berat, semua dilakoni tanpa banyak mengeluh. Bagi mereka, esok berpeluang memberi kehidupan lebih baik. Mereka sebenarnya orang-orang yang patuh, tidak mengeluh saat oknum-oknum tertentu mengutip iuran dari PKL. Bukankah kharakterristik seperti ini memungkinkan untuk tumbuh menjadi pengusaha besar? Bila demikian halnya, kenapa mereka tidak dijadikan sebagai mitra kerja bagi pemerintah. Baik sebagai mitra dalam menertibkan preman, kebersihan kota, keindahan kota, maupun dalam menertibkan penerimaan retribusi atau pendapatan asli daerah (PAD). Pada hakekatnya PKL bukanlah semata-mata kelompok masyarakat yang gagal masuk dalam sistem ekonomi perkotaan. Mereka bukanlah komponen ekonomi perkotaan yang menjadi beban bagi perkembangan perkotaan. PKL adalah salah satu pelaku dalam transformasi perkotaan yang tidak terpisahkan dari sistem ekonomi perkotaan. Bagi mereka mengembangkan kewirausahaannya adalah lebih menarik ketimbang menjadi pekerja di sektor formal kelas bawah. Masalah yang muncul berkenaan dengan PKL ini lebih banyak disebabkan oleh kurangnya ruang untuk mewadahi kegiatan PKL di perkotaan. Konsep perencanaan tata ruang perkotaan yang tidak didasari oleh pemahaman informalitas perkotaan sebagai bagian yang menyatu dengan sistem perkotaan akan cenderung mengabaikan tuntutan ruang untuk sektor informal termasuk PKL. Kegiatan-kegiatan perkotaan didominasi oleh sektor-sektor formal yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Alokasi ruang untuk sektor-sektor informal termasuk PKL adalah ruang marjinal. Sektor informal terpinggirkan dalam rencana tata ruang kota. 1. F. PEDAGANG KAKI LIMA SEBAGAI PART OF SOLUTION

PKL atau dalam bahasa inggris di sebut street hawker atau street trader selalu dimasukkan dalam

sektor informal. Dalam perkembangannya, keberadaan PKL di kawasan perkotaan Indonesia seringkali nampak masalah-masalah yang terkait dengan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Kesan kumuh, liar, merusak keindahan, seakan sudah menjadi label yang melekat pada usaha mikro ini. Mereka berjualan di trotoar jalan, di taman-taman kota, di jembatan penyebrangan, bahkan di badan jalan. Pemerintah kota berulangkali menertibkan mereka yang ditengarai menjadipenyebab kemacetan lalu lintas ataupun merusak keindahan kota. Dan selalu dipandang sebagai bagian dari masalah (part of problem). Upaya penertiban, sebagaimana sering diekspose oleh media televisi acapkali berakhir dengan bentrokan dan mendapat perlawanan fisik dari PKL sendiri Bersama dengan komponen masyarakat lainnya, tidak jarang para PKL pun melakukan unjuk rasa. Pada hal, sejatinya bila keberadaannya ditata dengan dngan baik, keberadaan PKL ini justru akan menambah keindahan kota. Hal ini dapat terjadi apabila PKL dijadikan sebagai bagian dari solusi (part of solution). 1. G. KESIMPIULAN Akibat dari pesatnya pembangunan perkotaan, perkembangan sector informal di perkotaan tidak hanya dapat di jelaskan oleh besarnya migrasi masuk keperkotaan namun karna rendahnya kemampuan daya serap sector modern ( formal ) di perkotaan, sehingga mereka terperangkap dalam sector informal . Namun pilihan sector informal sebagai lahan usahanya karena alasan alasan social budaya di mana seseorang ingin menjadi pimpinan terhadap dirinya dan tidak mau diperintah. Sector informal sering di tuding sebagai penyebab ketidak tertiban, , ketidak indahan dan ketidak bersihan (3K) suatu kota. Sebaliknya sector informal ini memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Apabila sumbangan melaluai berbagai pungutan terhadap sector informal dikelolah secara baik dan profesional maka potensi pungutan yang bias di sumbangkan melaluai PAD tentunya akan lebih besar. Rendahny pengetahuan dan dorongan untuk memperoleh penghasilan bagi kebutuhan hidup menyebabkan mereka (PKL) sering melanggar peraturan peraturan tentang ketertiban, keindahan dan kebersihan (3K). Penyelesaian masalah tidak semestinya dilakukan dengan caracara yang tidak benar, diperlukan sosialisasi dan pembinaan sehingga tidak menimbulkan masalah yang dapat mengganggu ketertiban dan keindahan kota.

DAFTAR PUSTAKA Adi, rukminto isbandi, 2008. Intervensi Komunitas: Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta. PT. Rajagrafindo Persada Adisasmita, Rahardjo. 2006. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Yogyakarta. Graha Ilmu. Ever, Hans Dieter. 1986. Sosiologi Perkotaan: Urbanisasi dan Sengketa Tanah di Indonesia dan Malaysia. Jakarta, LP3ES Koestoer, Raldi Hendro, DKK. 2001. Dimensi Keruangan Kota Teori dan Kasus. Jakarta.

Universitas Indonesia (UI-Press). Naim ,M., 1976, merantau. Gajahmada Universitas Press.yogyakarta. Ramli.R,1992 sektor informal perkotaan kaki lima. Jakarta Ind-Hill.Co. Thamrin. 2010. Pedagang Kaki Lima (Studi Tentang Perilaku Ekonomi dan Solidaritas Sosial di Pasar Terong Kota Makassar).Makassar. Pascasarjana UNM. Pudjiwati, Sajogyo. 1985. Sosiologi Pembangunan. Jakarta. Fakultas Pascserjana IKIP Jakarta bekerja sama dengan badan koordinasi keluarga KBN

Pemberdayaan Pedagang Kaki Lima


Posted on April 8, 2011 by formas juitan

Pemberdayaan Kaum Pedagang Kaki Lima dan Strategi Penanggulangannya Berdasarkan Prinsip-prinsip Demokrasi Bab I 1.1 Latar Belakang Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL) memang tidak dapat ditepis. Dan hampir setiap negara yang ada di dunia ini menghadapi problem PKL. Di negara semaju Amerika dan negara-negara Eropa pun tidak luput dari geliat PKL, termasuk di Ibu Kota Jakarta, keberadaan PKL pun telah memenuhi pinggir-pinggir jalan kota. Melihat perkembangan yang kian maju, adanya kehadiran PKL akan memunculkan persoalan baru bagi pemerintah setempat. Apalagi yang dihadapi dalam permasalahan PKL adalah penempatan stand berdagang yang tepat. Tentu saja yang dimaksud penataan kios-kios dagang yang tak memilik ijin berjualan dipinggir jalan. Selama ini, keberadaan PKL masih kurang mendapatkan perhatian pemerintah setempat. Itu sebabnya, perlindungan hukum dengan merancang perda penertiban dan pemberdayaan PKL sangat diperlukan. Tak jarang ditemukan perlakuan yang diterima oleh pedagang kaki lima ini tidak manusiawi oleh aparat keamanan. Motifnya menjaga kebersihan dan keindahan kota, tetapi bukan berarti para pedagang ini diperlakukan semena-mena. Tetap saja mereka adalah warga

negara Indonesia. Mereka adalah rakyat yang memiliki hak dan martabat yang sama untuk mencari nafkah. Merusak barang dagangan sering ditemukan ketika melakukan penertiban ini. Namun tetap saja, pemerintah belum mampu menemukan solusi yang tepat dalam memberdayakan dan menanggulangi para pedagang kaki lima ini. Ruang lingkup pembahasan ini adalah peran serta pemerintah dalam memberdayakan serta membuat strategi penanggulangan pedagang kaki lima, di mana pedagang kaki lima adalah warga negara yang memiliki hak yang sama sebagaimana masyarakat demokratis. Tujuan dari tulisan ini adalah memenuhi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganeraan sebagaimana telah ditentukan untuk bisa mengikuti ujian akhir semester dan juga tidak lepas dari kepedulian penulis selama melakukan pengambilan gambar sebagai apresiasi bagi para pejuang pencari nafkah (pedagang kaki lima). Bab II Landasan Teori 2.1. Konsep Dalam pembahasan tulisan ini digunakan beberapa konsep sebagaimana judul yang diangkat pemberdayaan pedagang kaki lima dan strategi penanggulangannya berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi. 2.1.1. Konsep Demokrasi

Demokrasi adalah keadaan negara di mana kedaulatan atau kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Istilah demokrasi sendiri berasal dari kata Latin, yaitu Demos yang berarti rakyat dan Kratos yang berarti pemerintahan, sehingga sering juga diasosiasikan sebagai pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat.[1] Demokrasi adalah tatanan kenegaraan di mana kedaulatan berada di tangan rakyat dan mempercayakan kekuasaan negara kepada penyelenggara negara untuk melayani rakyat. Selama penyelenggara menggunakan kekuasaan negara untuk melayani rakyat sesuai dengan kehendak rakyat, selama itu pula rakyat mempercayai penyelenggara negara. Tetapi pada saat penyelenggara negara mengikari kepercayaan tersebut, rakyat akan menjatuhkan mereka dan memilih yang lain menjadi penggantinya.[2] 2.1.2. Undang-Undang Dasar 1945 Bab X tentang warga negara dan pendudukan

Dalam pasal 27 ayat 2 mengatakan, tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Artinya, rakyat memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan penghidupan yang layak dengan melakukan pekerjaan guna kelangsungan hidupnya dalam tatanan negara Indonesia. Pasal 28A UUD 1945 Bab XA tentang Hak Asasi Manusia mengatakan, setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Hal ini jelas, bahwa setiap warga negara Indonesia yang hidup di tanah Indonesia ini memiliki hak dan kesempatan yang sama, kebebasan, hak hidup, hak memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan tanpa di usik oleh pihak lain termasuk pemerintah sendiri, karena pemerintah adalah penyelenggara negara atas daulat rakyat.

Bab III Pembahasan 3.1. Pedagang kaki lima sebagai rakyat yang berdaulat Demokrasi sebagaimana berlaku secara universal adalah rakyat mengendalikan negara. Kekuasaan dan kedaulatan ada di tangan rakyat. Hal demikian seharusnya dapat tercermin pada sistem pergaulan hidup rakyat Indonesia yang juga menganut demokrasi. Pada kenyataannya kedaulatan yang dimiliki oleh rakyat tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena ketidakcakapan administrasi dan rendahnya pendidikan mengakibatkan ketidaktahuan mengendalikan kekuasaan negara yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pedagang kaki lima adalah rakyat. Mereka adalah orang yang dengan modal yang relatif sedikit berusaha di bidang produksi dan penjualan barang-barang (jasa-jasa) untuk memenuhi kebutuhan kelompok tertentu di dalam masyarakat, usaha tersebut dilaksanakan pada tempat-tempat yang dianggap strategis dalam suasana lingkungan yang informal. Pedagang kaki lima pada umumnya adalah self-employed, artinya mayoritas pedagang kaki lima hanya terdiri dari satu tenaga kerja. Modal yang dimiliki relatif tidak terlalu besar, dan terbagi atas modal tetap, berupa peralatan, dan modal kerja. Namun, mereka tetap disebut warga negara yang berkebangsaan Indonesia, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pasal 28 mereka memiliki hak dan kesempatan yang sama atas hak hidup dan kehidupan yang layak. Tetapi kondisi semacam inilah yang menjadi persoalan, di mana hak pedagang kaki lima dirampas dengan pledoi mengganggu ketertiban, mengotori dan merusak keindahan kota. Pertanyaannya adalah bagaimana tidak pedagang kaki lima melakukan hal demikian, karena usaha produksi mereka kalah mati dengan keberadaan Mall, Carefour, Alfamart, Indomaret, dan Hypermart. Pedagang kaki lima muncul karena persaingan yang ketat dengan para kapitalis. Akhirnya mereka memilih berdagang atau berjualan di pinggir jalan karena lokasi yang tidak ada, di mana Mall dan carefoour telah berdiri serta dagangan mereka bisa dilirik orang. Sehingga tempat untuk mereka tidak ada. Jika berbicara soal demokrasi, maka di mana keadilan sebuah demokrasi bagi para pedagang kaki lima ini? Mereka malahan lebih sering digusur dengan paksa hingga tindak kekerasaan. Mereka hanyalah rakyat biasa yang juga mencari makan untuk kelangsungan hidup mereka. Seharusnya rakyat-rakyat kecil inilah yang menjadi prioritas untuk ditangani lebih intensif karena mereka bukan tidak berusaha tetapi ketidakadanya kesempatan lahan menjadikan mereka ditindas oleh penyelenggara negara yang telah mereka percayai. Kasus PKL ini menjadi bukti nyata bagi masyarakat Indonesia, apakah negara Indonesia adalah negara yang demokratis sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianutnya? Seharusnya negara tidak boleh tinggal diam melihat realitas ini karena negara lah yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya. Sesuai dengan kontrak sosial terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia .serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat telah memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk mengendalikan negara, semestinya negara mampu menjalankan daulat rakyat tesebut demi menciptakan keadilan sosial bagi masyarakat termasuk para PKL ini.

3.2. Peran Pemerintah dalam pemberdayaan Pedagang kaki lima Sekarang, pertanyaannya adalah apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk pedagang kaki lima? Hingga saat ini pedagang kaki lima semakin membludak tidak terurus. Di setiap sudut kota dan di depan toko-toko besar mereka berserakan. Saat ini melihat kinerja pemerintah sangat menyedihkan. Pemerintah tidak mampu melakukan sesuatu untuk menyelesaikan dilema PKL. Pemerintah semestinya bertanggung jawab dan berwenang untuk merumuskan dan melaksanakan keputusan-keputusan yang mengikat bagi seluruh penduduk. Dalam hal ini pemerintah bertindak atas nama negara sebagai penerima daulat dari rakyat untuk menyelenggarakan kekuasaan dan menciptakan kebijakan kearah tecapainya tujuan-tujuan masyarakat.[3] Tetapi hal itu belum terealisasi. Di lain pihak peran pemerintah yang muncul melakukan penggusuran yang dilandaskan retorika ketertiban dan keamanan. Inilah hard shock PKL yang secara kasat mata memunculkan tragedy kemanusiaan. Muncul pungutan-pungutan yang dilakukan oknum-oknum pemerintah yang tak diimbangi terselenggaranya perlindungan dan ancaman pemusnahan. Dalam pasal pasal 27 ayat 2 mengatakan, tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Jadi jelas tertulis PKL ini memiliki hak yang sama terhadap pekerjaan yang dikerjakan tanpa diganggu gugat oleh siapapun termasuk pemerintah. Potret realitas yang kontras ini ternyata kehadirannya bener-bener merefleksikan adanya irasionalitas hubungan antara pemerintah dengan masyarakat kecil seperti PKL ini. Dalam konteks realitasnya PKL menjadi kelompok yang losser, yakni pihak yang dikalahkan. Disadari atau tidak pemerintah dikatan gagal mengemban daulat rakyat dalam menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Peran pemerintah sangat rentan dalam menghadapi masalah ini. Pemerintah harus memikirkan dan memberikan solusi yang jelas dan konkret serta kebijakan yang adil dalam menyelesaikan persoalan PKL ini. 3.3. Pemberdayaan dan strategi penanggulangan Pedagang kaki lima

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang mulia di mana martabat melekat di dalam kehidupannya, baik secara pribadi maupun berbangsa dan bernegara. Di dalamnya juga tidak luput dari hak asasi manusia yakni, hak hidup, hak untuk bebas, hak untuk sejatera dan hak untuk bahagia. Pedagang kaki lima juga memiliki hal demikian karena ia adalah manusia yang memiliki martabat dan hak yang sama. Untuk itu pemerintah seharusnya memberikan solusi dan strategi penanggulangan bagi pedagang kaki lima ini agar dapat menghirup udara segar tanpa diburu rasa ketidaktenangan karena penggusuran. Sama seperti yang dilakukan oleh pemerintah Singapura terhadap pemberdayaan dan strategi penanggulangan pedagang kaki lima ini terbukti efektif dan terkordinir. Singapura diakui sebagai negara yang bersih dan jauh dari pedagang kaki lima liar. Pedangan kaki lima di sana mendapat perhatian khusus dari pemerintahnya dan sangat terkoordinasi.

Hal ini menunjukan tidak ada sulit untuk menuntaskan persoalan pedagang kaki lima ini jika pemerintah serius menanganinya. Strategi pemberdayaan dan penanggulangannya: Pemerintah pusat atau pun pemerintah kota setempat melakukan suatu koordinasi dan kerjasama dalam membuat atau merumuskan suatu kebijakan pemberdayaan dan penanggulangan pedagang kaki lima. Artinya ada aturan dan langkah-langkah yang ditempuh sehingga dapat terealisasi. Pertama, pemerintah melakukan pendataan terhadap para pedagang kaki lima. Misalnya kota Jakarta, pemerintah kotanya yang melakukan pendataan langsung hingga persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para PKL ini. Setelah dilakukan pendataan maka langkah selanjutnya pemerintah kota tersebut bersinergis dengan pemerintah pusat melakukan pengelompokkan-pengelompokkan untuk dibina dan diberi pelatihan dan pembelajaran dalam ilmu-ilmu pengelolaan barang dagangan. Kedua, setelah pengelompokkan selesai maka pemerintah bekerjasama dengan pihak-pihak transmigrasi untuk menyebarkan para pedagang kaki lima ini ke daerah-daerah yang jarang penduduknya. Dengan bekal pelatihan dan bimbingan selama di pembinaan, para pedagang kaki lima bisa mampu survive tanpa menumpuk di Jakarta atau di kota-kota besar yang sudah padat penduduknya. Ketiga, pemerintah juga membuat anggaran untuk melakukan pembinaan ini di mana para pedagang kaki lima ini di modali sesuai dengan standar yang diberikan oleh pemerintah sendiri. Dengan demikian para PKL bisa ditertibkan dan mendapat penghidupan yang layak serta hak yang sama untuk hidup dan sejahtera. Bab IV Penutup 4.1. Kesimpulan Demokrasi adalah pemerintah oleh semua dan untuk kepentingan semua. Semua warganegara termasuk kaum miskin, kaum minoritas, pedagang kaki lima, yang cacat sekalipun memiliki hak dan martabat yang sama terhadap jalannya sebuah negara demokrasi. Pemberlakuan keadilan yang sama dan merata bagi seluruh warga negara menjadi suatu amanat agung yang harus dijalankan oleh pemerintah yang bertindak sebagai penyelenggara negara. Rakyat mengendalikan negara menjadi otoritas dan kedaulatan tertinggi yang dimiliki oleh setiap manusia demokrasi, sehingga tidak ada alasan mendapat perlakukan irasional termasuk dari pemerintahnya sendiri. Oleh karena itu pemerintah bertanggung jawab atas kesejahteraan dan kehidupan yang layak terhadap para pedagang kaki lima serta menjadi benteng bagi persoalan-persoalan yang meraka hadapi dengan memberikan solusi-solusi konkret bukan hanya bualan dan janji-janji semata. 4.2. Saran

Pemerintah seharusnya lebih peka terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi warga negaranya, khususnya persoalan hidup dan penghidupan yang layak dan terjamin keamanannya. Pemerintah diharapkan memberi perhatian khusus terhadap para pedagang kaki lima guna memenuhi tanggung jawab dan hak mereka seperti yang diatur dalam undang-undang dasar. Pemerintah sebaiknya bekerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam melaksanakan pemberdayaan dan strategi penanggulangan pedagang kaki lima ini untuk dibina dan diberdayakan. Daftar Pustaka Budiarjo, Miriam, 2008, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta, Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Panjaitan, Merphin, 2011, Logika Demokrasi:Rakyat Mengendalikan Negara, Jakarta, Penerbit Permata Aksara. Suhelmi, Ahmad, 2001, Pemikiran Politik Barat, Jakarta, Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 2 tentang Warga Negara dan Pendudukan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28A tentang Hak Asasi Manusia

[1] Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, (Jakarta, Gramedia, 2001), halm.295 [2] Merphin Panjaitan, Logika Demokrasi:Rakyat Mengendalikan Negara, (Jakarta, Gramedia, 2010)halm.2 [3] Prof.Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama,Jakarta 2008;Hal.54

PROFIL PEDAGANG KAKI LIMA DAN KAJIAN STRATEGIS PEMBANGUNAN PUJA SERA DI BANGKINANG KABUPATEN KAMPAR

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Visi Bupati dan Wakil Bupati Kampar diterangkan bahwa sasarannya adalah terwujudnya peningkatan kualitas hidup masyarakat dari aspek sosial, ekonomi, budaya, yang berbasis kerakyatan dalam rangka penanggulangan kemiskinan serta mengembangkan dan memberdayakan koperasi dan UKM sebagai basis ekonomi daerah. Pada hakekatnya pembangunan ekonomi adalah rangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, pemerataan pembagian pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional dan mengusahakan pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah meningkatkan pendapatan masyarakat dengan tingkat pemerataan yang lebih baik. ( PDRB Kampar 2008 : 1 ) Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kampar secara makro dalam tahun 2009 menunjukkan angka yang menggembirakan yakni 7,25%, yang berada diatas angka pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,50% dan pada tahun yang sama pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau hanya sebesar 6,80%. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kampar sebesar 7,25% terwujud sebagai akibat dari dorongan sektor-sektor kunci, yaitu sektor pertanian yang tumbuh sebesar 6,68%, sektor industri rumah tangga tumbuh sebesar 8,39 % dan sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh sebesar 7,72% serta sektor lainnya tumbuh sebesar 8,14%. PDRB kabupaten Kampar tanpa minyak dan gas bumi atas dasar harga berlaku pada tahun 2009 diperkirakan sebesar Rp 11.914,53 Milyar, dibanding PDRB tahun 2008 sebesar Rp 9.968,28 Milyar, atau terjadi peningkatan sebesar 19,50%. Sektor yang berperan sangat menonjol adalah sektor pertanian sebesar Rp 7.253,63 Milyar atau 60,88% dan sektor kedua yakni sektor industri sebesar Rp 2.238,75 Milyar atau 18,79%. Pada tahun 2009 Pemda Kampar telah berhasil menekan angka kemiskinan dari 21,50% pada tahun 2008 menjadi 20,25% pada tahun 2009, atau menurun sebesar 1,25%, dimana angka tersebut masih diatas angka rata-rata kemiskinan Provinsi Riau yaitu sebesar 14,50%. Namun disisi lain, pertumbuhan ekonomi dan PDRB Kabupaten Kampar yang cukup tinggi, belum memberikan dampak secara signifikan terhadap terciptanya peluang lapangan kerja. (www.Kamparkab.go.id Wednesday, 31 March 2010 10:52 Humas Kampar) Banyaknya angkatan kerja setiap tahun dan sempitnya peluang lapangan kerja serta banyaknya pendatang dari daerah lain menjadikan masalah tersendiri di Kabupaten Kampar khusunya di Kota Bangkinang. Pemecahan masalah yang paling sederhana yang muncul dari pemikiran sekelompok masyarakat kecil untuk bertahan hidup antara lain adalah berjualan mencari sedikit keuntungan dengan menjajakan berbagai jenis barang, makanan atau minuman.

Sekelompok masyarakat inilah yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan pedagang kaki lima (PKL). Dalam kamus bahasa Indonesia memang belum dikenal tentang definisi PKL, namun tidak berlebihan apabila PKL ini diartikan sebagai suatu bentuk usaha informal yang dilakukan oleh seorang / badan / lembaga dengan menjual barang atau produk dagangan yang tidak memiliki tempat usaha permanen dan sewaktu-waktu dapat berpindah-pindah tempat untuk menjajakan barang dagangannya. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan bahwa di Kota Bangkinang begitu banyak pedagang kaki lima (PKL) memakai kaki lima pertokoan untuk dijadikan tempat mereka berusaha dagang. Hal ini berdampak tidak baik bagi lalu lintas dan estetika keindahan serta kebersihan kota. Bidang Pasar Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Kampar sangat menyesalkan tindakan para Pedagang Kaki Lima, dan mengaku kewalahan menghadapi para PKL, namun nantinya para PKL yang berjualan dimedia jalan diberi teguran, jika tidak patuh juga barang daganganya akan disita. Proses penertiban ini , pihaknya akan bekerja sama dengan SATPOL PP (PKL Berjualan di Badan Jalan - Riau Pos , 18 April 2009). Penertiban yang dilakukan oleh SATPOL Pamong Praja di Pasar, Inpres pernah berpindah beberapa PKL ke badan jalan di sekitar Islamic Centre.Kemudian setelah diadakan penertiban kembali dan pembuatan pagar di sekitar Islamic Centre mereka kembali ke Pasar Inpres. Bukan tidak mungkin waktu waktu tertentu akan kembali kedaerah yang pernah ditertibkan, hal ini dikarenakan mereka hanya ditertibkan bukan diselesaikan masalahnya. Hal ini akan dapat kita lihat pada momen-momen tertentu seperti pada bulan Ramadhan. Dilihat dari sisi hukum, maka mereka adalah rakyat Indonesia yang mencari nafkah yang harus dilindungi oleh pemerintah dan dilandasi oleh Undang-Undang Dasar 1945. Bila hal ini tidak ditata dengan bijaksana maka akan terjadi konflik antara penegak hukum/ pemerintah dengan rakyat yang harus dilindungi hukum dan ditanggung jawab kesejahteraan oleh pemerintah. Pemerintah paling betanggung jawab untuk mentertibkan tanpa merugikan para pedagang kaki lima melalui beberapa kebijakan. Jika hal ini terulang tentunya menjadi masalah baru bagi keindahan dan kebersihan sekitar Islamic Centre sebagai tempat ibadah dan pusat pendidikan Islam terbesar di Kota Bangkinang. Pemandangan lain terjadi, tempat tersebut banyak dikunjungi bukan hanya belanja tapi wisata yang pada saat waktu beribadah mereka juga banyak berkeliaran baik secara perorangan maupun kelompok. Ciri khas sebagai Islamic Centre sudah tidak nampak lagi, secara bertahap seiring berjalannya waktu PKL tersebut akan dapat merusak keindahan dan nilai sakral dari Gedung Kebanggaan Kota Bangkinang, yakni Gedung Balai Bupati (Pendopo Bupati) serta Gedung Mahligai Bungsu. Secara empiris, tanda-tanda kemajuan suatu wilayah perkotaan sebenarnya terlihat dari geliat tumbuh suburnya sektor informal. Semakin tumbuh subur sektor informal menandakan kehidupan ekonomi kota berkembang pesat. Keberdaan mereka sebenarnya merupakan suatu berkah bagi masa depan suatu daerah. Kereka sudah membekali dirinya dengan semangat juang, jiwa kemandirian, pekerja keras, pantang menyerah, tidak cengeng dan tidak pernah berharap pada uluran tangan pemerintah, namun tindakan usahanya sering tidak sejalan dengan pemerintah. Sektor informal, terutama pedagang kaki lima sering dianggap sebagai penganggu ketertiban dan

kelancaran lalu lintas, menganggu keindahan, kebersihan dan kenyamanan kota. Bahkan dapat dikatakan sebagai anak tiri pemerintah. Dilihat dari sektor hukum, mereka PKL adalah rakyat Indonesia yang mencari nafkah melawan kemiskinan. Mereka wajib dilindungi oleh pemerintah dan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945. Keberadaan mereka juga akibat sulitnya ekonomi, dimana hal ini juga merupakan tanggung jawab negara dalam pengentasan kemiskinan. Bila hal ini tidak ditata dengan bijaksana, maka akan terjadi konflik antara penegak hukum/pemerintah dengan rakyat sendiri. Untuk itu pemerintah harus segera bertindak dengan arif dan bijaksana dalam mentertibkan PKL sehingga mereka menjadi kuat dan pendukung pembangunan. Pada gilirannya , PKL menjadi salah satu penghela pembangunan daerah dengan dampak peningkatan sektor ekonomi, dan nilai tambah sektor wisata serta dapat memberikan kontribusi pendapatan bagi daerah. Tahap akhir Pedagang Kaki Lima (PKL) menjadi mandiri dan menjadi penyokong ekonomi daerah yang berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat serta menjadikan daya tarik wisata yang terlokalisasi di Pusat Jajanan Serba Ada .(PUJASERA). 1.2. Tujuan dan Keluaran Penelitian Tujuan penelitian - Mempertegas peran dan potensi sektor informal/Pedagang Kaki Lima ( PKL ) dalam menggerakkan sektor riil di Bangkinang yang merupakan ibukota Kabupaten Kampar. - Mengembangkan dan mengintegrasikan sektor informal / Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan sektor formal, dengan cara : Menginventarisir. Mengelompokkan. Membina, membantu dan memfasilitasi. Mengorganisasi. Merelokasi (menempatkan). Hasil dan keluaran yang akan didapat dari kajian ini adalah: - Pemetaan pedagang kaki lima menurut lokasi, klasifikasi dan permasalahan. - Mengidentifikasi potensi-potensi pengembangan ke depan. - Mendapatkan perumusan cara-cara pemberdayaan dan pengembangan. - Menyusun kebijakan pengaturan dan pemberdayaan. - Menempatkan pada tempat yang strategis . 1.3. Metode Kajian 1.3.1. Wilayah Kajian Kajian ini menfokuskan pelaksanaannya di Bangkinang, Kabupaten Kampar, khususnya kawasan yang menjadi sentra-sentra pedagang kaki lima. 1.3.2. Jenis dan Sumber Data

Data utama yang digunakan dalam kajian adalah data primer melalui observasi wilayah dan penyebaran kuesioner terkait, serta dibantu dengan teknik wawancara yang dipandu oleh pedoman wawancara atau interview-guide. Disamping itu, kajian ini juga menggunakan data-data sekunder yang tersedia, khususnya data dalam Kampar Dalam Angka, publikasi instansi terkait, serta sumber-sumber publikasi resmi lainnya, seperti hasil penelitian sebelumnya dan jurnal-jurnal. 1.3..3. Populasi dan Sampel Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka sasaran yang harus dicapai yaitu identifikasi profil PKL, ruang dan aktivitas PKL, disamping identifikasi profil dan persepsi pengunjung (konsumen) terhadap keberadaan PKL di satu kawasan. Setelah itu, dilakukan analisis karakteristik berlokasi PKL, untuk mengetahui sebab akibat akhirnya PKL memilih lokasi terkait untuk menggelar dagangannya. Untuk itu batasan populasi dan sampel dari kajian ini perlu diperjelas. Populasi adalah semua karakteristik yang berhubungan dengan obyek kajian, yaitu pemberdayaan pedagang kaki lima yang ada di Kota Bangkinang, Kabupaten Kampar. Lokasi sampel (sampel area) ditetapkan secara sengaja (purposive), yakni sebanyak 3 (tiga) lokasi utama dari ruas jalan lokasi PKL. Sedangkan, penentuan sampel konsumen sebagai pengunjung PKL dengan cara random sampling. Karena adanya keterbatasan informasi mengenai identitas populasi pengunjung PKL, maka responden nantinya merupakan pengunjung PKL yang ditemui saat survey dilakukan. 1.3.4. Operasionalisasi Variabel Untuk dapat memberikan cakupan yang jelas mengenai batasan-batasan dari masing-masing variabel yang digunakan, maka perlu dilakukan pengukuran variabel-variabel dalam operasionalisasi kajian ini, yaitu sebagai berikut: NO VARIABEL BATASAN DEFINISI INDIKATOR 1. Pedagang Kaki Lima Penjual yang menjajakan dagangannya secara rutin di atas trotoar atau di pinggir jalan Jumlah PKL 2. Peluang usaha Kesempatan untuk melakukan usaha Derajat hambatan berusaha 3. Lokasi dan lalu lintas Tempat berusaha yang banyak dilintasi pengunjung 1. Jumlah orang yang melintasi lokasi 2. Keinginan orang untuk ke lokasi tersebut 4. Kemampuan (keahlian) Kapasitas PKL dalam berusaha 1. Kemampuan menjual 2. Kemampuan mendapat barang 3. Kemampuan negosiasi

4. Kemampuan mengenal & memperbaiki barang 5. Kemampuan mengelola usaha 5. Modal Jumlah finansial yang dipergunakan untuk usaha 1. Nilai aset 2. Nilai hutang 3. Uang cash 6. Pendapatan Penghasilan yang diperoleh dari usaha 1. Nilai penjualan 2. Nilai pengeluaran 3. Nilai keuntungan 7. Biaya tempat Uang yang dikeluarkan untuk menggunakan lokasi 1. Sewa tempat 2. Retribusi 3. Uang keamanan 4. Uang kebersihan 8. Konsumen Pengunjung yang membeli barang di PKL 1. Jumlah konsumen potensial 2. Jumlah konsumen riil 9. Jarak Jarak dari rumah tangga ke lokasi PKL Satuan jarak 10. Keberagaman produk Keanekaragaman produk yang dijual di lokasi PKL Jenis / total produk 11. Harga produk tersebut Harga produk bersangkutan Nilai harga barang 12. Harga produk sejenis lainnya Harga produk yang sama di tempat lain Nilai harga barang lain 13. Aksesibilitas Kemudahan dan kecepatan konsumen mencapai lokasi PKL 1. Kemudahan ke lokasi 2. Waktu per transaksi 14. Pendapatan Besaran penghasilan konsumen per bulan Besarnya penghasilan 15. Kebijakan Pemerintah (Pemda) Keputusan pemerintah dalam mengatur kepentingan publik 1. Derajat kepuasan masyarakat 2. Derajat efektifitas 3. Derajat efisien 16. Tata ruang Penggunaan lokasi / ruang sesuai dengan peruntukannya 1. Derajat keindahan & kenyamanan kota 2. Dasar acuan penentuan lokasi PKL 3. Fungsi Lahan 17. Pendapatan Asli Daerah Pendapatan yang bersumber dan dipungut sendiri oleh pemerintah daerah Jumlah pajak daerah dan retribusi daerah 18. Respon masyarakat Tanggapan dan reaksi masyarakat terhadap kebijakan pemerintah 1. Derajat penerimaan masyarakat 2. Derajat resistensi masyarakat

1.3.5. Kerangka Berfikir Kajian Dengan memperhatikan beberapa konsep diatas yang pada pokoknya menjadi pertimbangan utama bagi perkembangan sektor informal pedagang kaki lima, kajian ini mencoba memfokuskan model kajiannya sesuai dengan alur kerangka berpikirnya sesuai skema berikut ini: Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan oleh para stakeholders dalam mempengaruhi kecenderungan munculnya PKL antara lain: A. Konsumen 1. Jarak. 2. Keberagaman produk. 3. Harga produk tersebut. 4. Harga produk sejenis lainnya. 5. Aksesibilitas. 6. Pendapatan. B. PKL 1. Peluang usaha. 2. Lokasi dan lalu lintas. 3. Kemampuan (keahlian). 4. Modal. 5. Pengelolaan usaha. 6. Pendapatan. 7. Biaya tempat. C. Kebijakan Pemerintah (Pemda) 1. Tata ruang. 2. Pendapatan Asli Daerah. 3. Respon masyarakat. 1.3.6. Teknik Analisis Teknik analisis yang digunakan adalam kajian ini adalah sebagai berikut: Analisis Deskriptif, yaitu mendeskripsikan data dan informasi yang disajikan dalam bentuk narasi. Analisis Inferensial, yaitu analisis kuantitatif yang digunakan untuk menjelaskan data-data numerik dan data kuantitatif lainnya yang disesuaikan dengan tujuan dan sasaran kegiatan yang disajikan dalam bentuk tabulasi, grafik, dan atau gambar.

Analisis Kebijakan Kajian Profil Pedagang Kaki Lima di Kota Bangkinang dan sekitarnya ini merupakan bagian pengelolaan sumber daya dan lingkungan. Melalui analisis ini, dapat diidentifikasi kelebihan dan kelemahan sistem kebijakan nasional maupun lokal dalam pengembangan pemberdayaan pedagang kaki lima di Kota Bangkinang. Adapun sasaran yang ingin dicapai dengan menggunakan analisis kebijakan ini, yaitu analisis regulasi untuk mengetahui dasar hukum pengembangan dan pemberdayaan pedagang kaki lima di Kota Bangkinang. Untuk menghitung potensi penerimaan retribusi usaha pedagang kaki lima adalah: Pt = (Pkl x Tr x Wt) Keterangan: Pt = Jumlah Potensi yang seharusnya dapat direalisasikan Pkl = Jumlah Pedagang kaki lima Tr = Tarif pedagang kaki lima Wr = Jumlah bulan dalam setahun.