Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan

PENGARUH AUKSIN TERHADAP ABSISI ORGAN TUMBUH TANAMAN

Oleh : Kelompok 1

Azhari Haritsa Adli Putri Zulfajri

: 1105101050067 : 1105101050018 : 1105101050043

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN FAKULATS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM, BANDA ACEH 2012

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Percobaan Berbagai bagian atau organ tumbuhan dapat mengalami absisi (keguguran). Misalnya daun, cabang atau ranting, daun mahkota bunga, bunga dan buah. Proses ini berada di bawah pengaruh auksin. Pembentukan daerah absisi itu di pengaruhi oleh aliran auksin dari helaian daun ke batang. Selama auksin di dalam suatu tanaman cukup, daerah absisi tidak terbentuk. Tetapi sebaliknya, apabila suplai auksin dalam suatu tanaman kurang, maka daerah absisi akan terbentuk. Kenyataannya bahwa auksin dapat mengontrol proses absisi memungkinkan dilakukannya tindakantindakan untuk mengontrol gugur daun, bunga, dan buah. Auksin termasuk senyawa yang sangat kuat (efektif pada konsentrasi rendah), sehingga perlu dihindarkan kemungkinan pencemaran yang akan berpengaruh terhadap tumbuhan lain. Percobaan yang akan dilakukan berkaitan dengan sistem kerja auksin dalam tanaman merupakan salah satu cara pembuktian apakah benar auksin suatu zat pengatur tumbuh untuk mengontrol absisi suatu tanaman tertentu.

B. Tujuan Percobaan Percobaan ini bertujuan untuk meneliti pengaruh auksin terhadap absisi daun.

C. Manfaat Percobaan Diharapkan dengan adanya percobaan ini, mahasiswa dapat menyesuaikan teori dan hasil praktik yang sudah dilakukan. Pemahaman mahasiswa terhadap pengaruh auksin bagi tanaman diharapkan juga dapat bertambah pengetahuan dengan adanya percobaan ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Hormon tanaman adalah suatu senyawa organik yang disintesis dalam suatu bagian tanaman dan kemudian diangkut ke bagian tanaman yang lain dimana pada konsentrasi yang sangat rendah akan menyebabkan suatu dampak fisiologis. Hormon harus di translokasikan didalam tubuh tanaman, tetapi tidak disebutkan berapa jauh hormon tersebut harus di angkut, juga tidak disebutkan bahwa hormon tidak akan menyebabkan pengaruh pada sel dimana hormon tersebut disintesis. Auksin yang ditemukan oleh Went, sekarang dikenal sebagai asam indol-asetat (indole 3-acetic acid, disingkat IAA). Beberapa ahli yakin bahwa IAA merupakan hormon auksin yang sebenarnya, atau IAA diidentikkan dengan auksin. Walaupun demikian tanaman mengandung 2 senyawa lain yang pengaruhnya terhadap tanaman sama dengan IAA dan selayaknya juga di golongkan sebagai auksin. Berbeda dengan pergerakan gula, ion, dan bahan terlarut lainnya, IAA biasanya tidak di angkut melalui pembuluh floem dan tidak juga melalui xylem. IAA diangkut melalui saluran pembuluh jika diaplikasikan pada permukaan daun yang cukup dewasa yang telah mampu mengekspor gula, tetapi pengangkutan IAA secara normal dalam batang dan tangkai daun adalah dari daun muda dan melalui sel-sel hidup lainnya, termasuk floem parenkima dan selsel parenkima yang mengelilingi jaringan pembuluh. (Lakitan, 1996). Auksin adalah salah satu bentuk hormon yang paling banyak diteliti. Terutama berpengaruh terhadap pertumbuhan dengan merangsang pembesaran sel. Dalam merangsang pembesaran sel dan perubahan-perubahan lainnya, Auksin ini bekerja sama dengan hormonhormon lain. (Anonim, 2009). Auksin merupakan istilah generik untuk substansi pertumbuhan yang khususnya merangsang perpanjangan sel, tetapi auksin juga menyebabkan suatu kisaran respon pertumbuhan yang agak berbeda-beda. Respon auksin berhubungan dengan konsentrasinya. Konsentrasi yang tinggi bersifat menghambat. (Anonim, 2008).

BAB III BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

A. Tempat dan Waktu Percobaan Tempat Percobaan : di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Gedung Type B, Lantai II Waktu Percobaan : Kamis, 08 Maret 2012, pukul : 10.00 WIB

B. Bahan dan Alat Percobaan Bahan Tanaman Bahan Kimia Alat alat : Tanaman Coleus dalam pot : Pasta IAA 1000 ppm dan pasta lanolin : Kertas label, kertas milimeter, pisau silet, dan alat pengoles pasta

C. Metode Kerja 1. Pilih 3 pasang daun (6 daun) dan potong dengan pisau silet pada pangkal helai daunnya serta biarkan petiolnya. 2. Bubuhkan pasta lanolin pada 3 petiolnya, dan pasta IAA pada ujung 3 petiol lainnya. Dengan demikian maka salah satu petiol dari setiap pasangan mendapat perlakuan IAA, sedangkan yang lainnya tidak mendapat perlakuan dan digunakan sebagai kontrol. 3. Setiap petiol di beri label sesuai dengan perlakuannya. 4. Ukur panjang petiol pada saat percobaan dimulai dan setiap seminggu sekali selama 3 minggu. 5. Catat kapan petiol gugur. Untuk itu perlu diadakan pengamatan setiap 2 hari sekali.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Percobaan Dari percobaan yang kami lakukan terhadap bunga Colleus yang diberikan lanolin dan IAA, didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 1. Panjang petiol tanaman Colleus polybag 1 Pelaksanaan Ulangan Hari 1 IAA 1 2 3 Lanolin 1 2 3 2,2 mm 2,0 mm 1,3 mm 2,5 mm 2,1 mm 1,2 mm Panjang Petiol (mm) Minggu 1 2,5 mm 2,2 mm 1.6 mm Minggu 2 2,7 mm 2,4 mm 1.7 mm Minggu 3 -

Tabel 2. Waktu gugur petiol tanaman Colleus polybag 1 Perlakuan Ulangan Waktu Gugur Hari Setelah Tanam (HST) IAA 1 2 3 Lanolin 1 2 3 12 hari 13 hari 13 hari Minggu ke-1, hari ke-4 Minggu ke-1, Hari ke-6 Minggu ke-1, Hari ke-4

Tabel 1. Panjang petiol tanaman Colleus polybag 2 Pelaksanaan Ulangan Hari 1 IAA 1 2 3 Lanolin 1 2 3 2,0 mm 2,0 mm 1,4 mm 2,2 mm 1.5 mm 1,6 mm Panjang Petiol (mm) Minggu 1 2,3 mm 1.5 mm Minggu 2 2,4 mm 1.7 mm Minggu 3 -

Tabel 2. Waktu gugur petiol tanaman Colleus polybag 2 Perlakuan Ulangan Waktu Gugur Hari Setelah Tanam (HST) IAA 1 2 3 Lanolin 1 2 3 2 hari 10 hari 12 hari Minggu ke-1, hari ke-4 Minggu ke-1, Hari ke-6 Minggu ke-1, Hari ke-4

B. Pembahasan Dari hasil yang didapatkan terlihat bahwa cabang yang diberikan IAA lebih lama gugu dibandingkan dengan cabang yang diberikan Lanolin. Pada minggu ke-1 (hari ke-5) petiol yang diberikan pasta lanolin pada ulanagan pertama gugur. Pada hari ke-7, petiol yang diberikan pasta lanolin pada ulangan kedua gugur, begitu juga pada ulangan ketiga. Petiol yang diberikan IAA masih bertahan tidak gugur. Pada hari ke-12 petiol pada ulangan pertama yang diberikan IAA gugur. Kemudian pada hari ke-13 ptiol pada ulangan kedua dan ketiga juga gugur. Seperti yang kita ketahui bahwa IAA mengandung hormon auksin yang dapat mencegah kegugurang daun. Sedangkan Lanolin merupakan pasta biasa yang berbentuk seperti tepung tetapi dicampur dengan IAA agar dapat lengket di petiol tumbuhan. Maka pada percobaan ini keguguran daun lebih cepat terjadi pada lanolin disbanding dengan IAA. Percobaan ini membuktikan bahwa hormone auksin sangat berpengaruh pada absisi daun. Apabila daun kekurangan hormone auksin, maka absisi daun akan terjadi lebih cepat dan akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman berkaitan dengan proses fotosintesis.

KESIMPULAN

1. Petiol yang diberikan pasta IAA lebih lama gugur dibandingkan dengan petiol yang diberikan pasta lanolin; 2. Absisi daun sangat berpengaruh pada hormon auksin; 3. Absisi daun akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman berkaitan dengan proses fotosintesis; 4. IAA merupakan indole-3-acetic acid yang disebut juga sebagai hormon auksin untuk mencegah absisi daun.

LAMPIRAN Gambar. Tanaman Coleus dengan perlakuan IAA dan Lanolin

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Fungsi Auksin. http://Wies.blogspot.com. Diakses pada tanggal 28 Maret 2012 ---------, 2009. Pengaruh Auksin. http://Wies.blogspot.com. Diakses pada tanggal 28 Maret 2012 Lakitan, Benjamin. 1996. Dasar Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.