Anda di halaman 1dari 9

DAFTAR PUSTAKA

http://anwarvets.blogspot.com/2012/03/antemortem-dan-postmortem-di-rph.html diakses pada tanggal 27 - maret - 2012 jam 21:22 WIB http://duniasapi.com/id/penyakit-potong/2234-pemeriksaan-ante-mortem-pada-ternak-sapi.html diakses pada tanggal 27 - maret - 2012 jam 21:22 WIB http://hal-biasa.blogspot.com/2011/11/pemeriksaan-pramerta-antemortem.html diakses pada tanggal 27 - maret - 2012 jam 21:22 WIB https://docs.google.com/viewer? a=v&q=cache:OO9dk_lCIhAJ:pustaka.rumahilmu.or.id/pendidikan/materikejuruan/pertanian/general/tehnik_kesehatan_ternak.pdf+diagnosa+penyakit+secar+visual+pad a+unggas&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESjnBamRqkl6IQS_ntzUytwRI3jUmom5FdMNunep njP9ThcAPsHfZrpAvhclmvZGu6o622hEdYmG75T79iybwHr0z3MzE5PAT83773CYmfb5afeARpPb_uhsQq5hIYNahQfCxzw&sig=AHIEtbTNvOS9hLAko54j8lI_GIHzjDX7A Budiharta S. 2009. Penyembelihan, Pemeriksaan Pramerta, dan Pemeriksaan Pascamerta pada Ternak Potong, hlm. 12-23. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Soeparno, 1994. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Suharyanto, 1996. Pentingnya Pembangunan Rumah Potong Ayam di Bengkulu. Semarak, 4 Januari 1996. http://suharyanto.wordpress.com/2007/11/09/halo-dunia/ diakses pada tanggal 27 - maret 2012 jam 21:22 WIB

PEMERIKSAAN ANTEMORTEM Pemeriksaan antemortem adalah pemeriksaan sebelum pemotongan = pemeriksaan kesehatan hewan sebelum hewan dipotong. Berasal dari bahas latin yaitu [ante = sebelum; mortem = mati]. Menurut Swatland (1984 disitasi oleh Soeparno (1994) bahwa pemeriksaan antemortem dimaksudkan 1. Untuk mengetahui ternak yang cidera sehingga diprioritaskan untuk disembelih terlebih dahulu 2. Untuk mengetahui ternak-ternak yang sakit sehingga disembelih secara terpisah. Adapun manfaat dari pemeriksaan antemortem (Suharyanto, 1996) adalah: a. Mengetahui/menentukan ternak yang dagingnya berbahaya untuk dikonsumsi. Misalnya ditemukan adanya ternak yang berada pada taraf septi chaemi (gejala infeksi yang mulai menjalar); ternak yang demikian ini sukar diketahui gejala-gejalanya sehingga tanpa pemeriksaan sukar diketahui sedangkan hal ini berbahaya bagi konsumen. b. Dapat menetapkan kesehatan ternak ketika masih hidup sehingga bisa menyatakan sehat atau tidak dagingnya untuk dikonsumsi. c. Dapat mengetahui apakah ternak dalam keadaan lelah atau tidak untuk segera dilakukan penyembelihan. Petugas yang berwenang untuk melakukan pemeriksaan antemortem adalah dokter hewan pemeriksa daging dibawah petugas berwenang dari pemerintah (dinas peternakan). Pemeriksaan dilakukan pada hari pemotongan atau sehari sebelumnya. Para doter atau peugas inilah yang memutuskan apakah ewantersebut dapat dipotong atau tidak (soedjono, 2002) Secara umum pemeriksaan antemortem dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: Menghindari pemotongan hewan yang sakit (penyakit hewan menular, zoonosis)

Mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi pada tempat pemotongan (RPH), alat dan pekerja.

Bahan informasi bagi keperluan pemeriksaan postmortem Dasar rekomendasi apakah hewan dapat dipotong, ditunda atau tidak boleh dipotong. Mencegah pemotongan ternak betina besar bertanduk produktif Memperoleh ternak yang segar dengan memeriksa ternak dalam keadaan lelah atau tidak untuk segera dilakukan penyebelihan

Menghindari pemotongan yang sakit ataupun abnormal Mengetahui ternakternak yang harus disembelih secra terpisah akibat penyakit atau cidera sehingga diprioritaskan untuk disembelih terlebih dahulu

Mengawasi penyakit tertentu sesuaidengan undang-undang

Keputusan-keputusan pemeriksaan antemortem 1. Dilarang untuk disembelih pada keadaan hewan menderita penyakit tertentu, misalnya antraks, maleus, radang paha, rabies, rinderpest, pneumonia contagiosa bovum. 2. Diijinkan untuk dipotong, bila pemeriksa yakin bahwa untuk dimakan manusia, daging dari hewan bersangkutan tidak membahayakan kesehatan. 3. Ditunda untuk dipotong pada keadaan hewan yang lelah, pemeriksa belum yakin, bahwa hewan bersangkutan adalah sehat, oleh karenanya harus selalu di bawah pengawasan dan pemeriksaan. Dalam hal ini hewan harus disendirikan. Prinsip diagnosa antemortem 1. Menseleksi ternak-ternak yang layak dipotong dan dikonsumsi

2. Mengetahui catatan kesehatan ternak yang dapat memandu dalam diagnosa selama ternak dalam masa karantina 3. Mengurangi kontaminasi, dengan cara mendahulukan pemotongan ternak sehat dan mengakhirkan pemotongan ternak sakit yang masih layak untuk dikonsumsi. 4. Memastikan bahwa ternak-ternak yang cacat (injured animals) mendapatkan perlakuan khusus (receive emergency slaughter) dan manusiawi. 5. Mencegah kontaminasi dari lantai yang terkontaminasi oleh pemotongan ternak sakit/kotor. 6. Mengetahuhi ternak-ternak yang sakit dan jenis obat yang diberikan (antibiotic, cheumotherapeutic agent,, insectides, and pesticides). Secara umum yang harus diteliti pada pemeriksaan antemortem adalah: 1. Keadaan gizi Lemak subkutis terasa, pada sapi dibagian dada muka, dinding iga, lipatan inguinal, bagian sisi, ambing muka, dan pangkal ekor. Kelainan yang dapat terjadi adalah kekurusan. Pada kekurusan fisiologik, semua organ normal dan tidak menunjukkan gejala penyakit, namun tidak ada lemak subkutan bila dicubit. Kekurusan patologik diakibatkan oleh suatu penyakit. Dalam hal ini lemak subkutan dapat ada, namun lebih sedikit disbanding yang normal. Dapat berkaitan dengan penyakit infeksi berat yang akut seperti mastitis piogenus, dan penyakit kronis (TBC, paraTBC, maleus, distomatosis, cacing paru, enteritis kronis, dan metritis kronis). 2. Sikap jalan dan pandangan Pada hewan normal, sikapnya bebas, jalannya terkoordinasi teratur, pandangan baik, gerak telinga bagus dalam memperhatikan lingkungan. 3. Kulit

Kulit hewan normal adalah supel, lepas, mudah dilipat dan digeser, lipatan-lipatannya cepat hilang. Rambut licin dan mengkilat. Suhu kulit diberbagai tempat sama, kecuali pada pucuk dari tanduk, telinga, dan kaki bagian bawah yang lebih rendah suhunya. Hidung dan moncong dingin dan basah. 4. Organ pencernaan Pada hewan sehat, nafsu makannya bagus, dan defekasi normal. Nafsu makan yang kurang karena adanya penyakit pada lambung atau organ dalam lainnya. 5. Organ pernafasaan Normalnya, pernafasan hewan teratur dan perlahan atau tenang.

6. Sirkulasi darah Peredaran dalah dapat diamati dengan perhitungan pulsus. Pulsus adalah manifestasi kerja jantung yaitu proses systole dan diastole. Pada penyakit jantung, stille kolder, dan penyakit infeksi akut pulsus biasanya aritmis. Pulsus venosus positif terjadi pada penyakit jantung (perikarditis traumatic), dan miokarditis. Frekuensi nafas sapi normalnya sekitar 60-70 kali per menit, pada domba dan kambing 60-90 kali per menit. 7. Selaput lendir Pada hewan sehat, mukosa nampak merah muda ceri. Eksudasi pada hidung dapat disebabkan oleh maleus. 8. Suhu Suhu dapat dicek dengan thermometer melalui lubang rectum. Suhu normal sapi adalah 38-39,5oC, sama dengan domba dan kambing.

Beberapa abnormalitas dalam diagnosa antemortem : abnormalities in respiration (frekuensi bernafas) abnormalities in behaviour abnormalities in gait (berjalan tidak normal akibat ada perlukaan di kaki, dada, maupun perut abnormalities in posture (terlihat kepala menunduk ketika berdiri atau perut ditekuk) abnormalities in conformation (abscess, persendian bengkak, radang ambing, bloated abdomen, prolapsed rectum or uterus) abnormalitas warna (pada babi dan kuda)

Beberapa Penyakit pada Unggas yang Penting di Indonesia

Nama Penyakit

Penyebab

Gejala Klinis yang Terlihat

Usaha Pengendalian

Perlakuan pemotongan hewan dan daging

Aspergilosis

Aspergillus fumigatus

Gangguan pernafasan, gejala syarafi. Hewan kelihatan mengantuk.

Lakukan sanitasi dan program higiene yang baik. Infeksi melalui spora

Lakukan sanitasi dan program higiene yang baik. Infeksi melalui spora Hewan yang menderita Aspergillosis dapat dipotong dan dikonsumsi setelah bagaian yang terkena dimusnahkan

CRD (chronic repritaorus disease)

Mycoplasma gallisepticum

Ingus katar dari lubang hidung, serak nafas, kebengkakan kepala dan sinus dan ngorok

higiene dan sanitasi yang ketat. Immunisasi tidak dianjurkan mengingat kekebalan yang tidak sempurna dan penularan penyakit secara vertikal

Bagian yang terserang dimusnahkan sedangkan Daging dari ayam yang tidak terlalu parah sakitnya dapat dikonsums setelah dimasak Daging dapat dikonsumsi setelah dimasak.

Coccidiosis

Eimeria spp

Berak darah, diare. Pada Coccidiosis Yang diakibatkan oleh E. tenella

Higiene dan sanitasi, penggunaan koksidiostat yang dicampur ke ransum,

Secara visual ternak sakit dan sehat dapat dibedakan sebagai berikut

Ternak Sehat Ternak aktif, lincah, mata jernih, bulu halus, bersih dll Nafsu makan normal Pertumbuhan baik

Ternak Sakit Ternak kurang aktif/lincah, mata sayu/pucat, bulu kusam dll Kurang nafsu makan Pertumbuhan kurang baik atau tidak normal

Dari lubang alami tidak keluar cairan atau feses abnormal

Keluar leleran atau lendir yang tidak normal dari lubang-lubang alami (seperti hidung, telinga dll) misalnya pilek, diare/mencret dll

Jalannya normal Tidak ada luka di tubuh Kriteria-kriteria ayam yang sehat

Jalannya pincang Ada luka, gatal dll

induk yang baik adalah induk yang memiliki kriteria khas dan kelbihan dari ayam-ayam yang lain sebagai induk seperti:

ayam memiliki sifat riang dan gembira, penampilan yang lincah besar dan sehat, dan memiliki berbagai gerakan yang lincah, tidak malas bergerak, ayam senantiasa jinak atau tidak takut dengan orang.

Memiliki bulu yang bagus karena ayam pertama dinilai adalah bulu, jika bulu jelek, berarti kulit ayam juga tidak sehat, dan pastinya ayam tersebut tidak baik buat dijadikan induk yang akan di andalkan untuk tindak lanjut kedepan.

Ketika tidur malam ayam tidak sering bangun dan teriak-teriak, ayam yang baik dalah ayam yang selalu tidur nyenyak.

Susunan sisik pada kaki rapih, dan tidak ada kelainan pada susunan kulit, seperti kerusakan pada kulit, dan sisik harus lah teratur (tersusun baik)

Memiliki dada yang tegap. sayap tidak terkulai ke bawah, ayam yang baik adalah mempunyai sayap yang rapat dengan tubuh ketika ayam santai.

memiliki leher yang bagus (tidak terlalu panjang atau pendek) Otot dada montok, dan otot paha kuat, kalau berdiri ayam akan terlihat tegap. Paruh kuat, tebal dan tidak terlalu panjang kedepan.

Anak ayam umur sehari (DOC) yang baik mempunyai ciri-ciri : bulu kering dan bersih, berat tidak dibawah standar (minimal 39 gr/ekor), lincah, tidak mempunyai cacat tubuh dan tidak menunjukkan adanya penyakit-penyakit tertentu seperti ompalitis, ngorok ataupun pullorum yang dapat dilihat dari adanya kotoran berwarna putih yang melekat pada dubur.