CATATAN KONDISI HAK ASASI MANUSIA DI PAPUA Briefing Paper

Selama reformasi berlangsung kondisi hak asasi manusia tidak menjadi lebih baik dibandingkan ketika rejim Suharto berkuasa. Aksi-aksi kekerasan dan bentuk-bentuk pelanggaran hak asasi manusia terus berlangsung dan memprihatinkan. Hampir semua peristiwa pelanggaran hak asasi manusia itu berkaitan erat dengan operasi-operasi militer penumpasan separatisme yang dilancarkan. Terbukanya ruang berekspresi dan penyampaian pendapat ketika reformasi bergulir memberi kesempatan yang luas kepada masyarakat Papua untuk menyampaikan aspirasinya. Namun, ekspresi masyarakat Papua ditanggapi dengan tindakan represif aparat keamanan, apalagi ketika aspirasi merdeka terus didengungkan. Menjaga keutuhan NKRI menjadi legitimasi aparat keamanan untuk terus melakukan pengejaran dan penumpasan Operasi Papua. Akibatnya aksi kekerasan kerap dialami masyarakat biasa. Beroperasinya perusahaan-perusahaan besar di Papua tetap mengambil peran atas terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Eksploitasi besar-besaran, kerusakan lingkungan dan penyerobotan hak adat terus berlangsung. Tuntutan masyarakat atas perlakuan tidak adil dijawab dengan kehadiran aparat keamanan dan operasi-operasi penumpasan separatisme. Sementara itu, berlakunya otonomi khusus belum menjadikan kondisi hak asasi manusia lebih baik dari sebelumnya. Ketidaksiapan pemda dan campur tangan pusat menimbulkan konflik di tengah masyarakat. Sementara itu, dinamika politik local, praktik-praktik korupsi menjadikan Papua terus dalam keterpurukan. Sehingga berbagai bentuk hak ekonomi, sosial dan budaya terabaikan.

A. Catatan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Di Papua Pra-1998: Operasi Militer Papua dan Penetrasi Modal Lahirnya Orde Baru di tahun 1965 berakibat buruk pula bagi Papua. Milter Indonesia di bawah sandi Operasi Wisnumurti I dan II1 semakin meningkatkan serangannya untuk memaksa orang Papua berintegrasi dengan NKRI. Sejak itu pula rangkaian kekerasan oleh militer terus meningkat. Pada tahun-tahun sebelum Soeharto berkuasa, tercatat 23 orang ditembak mati di Kebar dan Manokwari dalam kurun waktu Juli hingga Agustus 1965. Sementara itu, di awal-awal orde baru, pada bulan Agustus 1966 hingga 1967 sekitar 500
1

Lihat: Sampari, edisi 02 Februari 2006 “Menapaki Jejak Pelanggaran HAM di Papua”, hlm 9

1

orang ditahan dan 3 orang masyarakat Papua dieksekusi oleh TNI di Teminabuan.2 Hingga akhirnya tiba penyelenggaraan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada tahun 1969, di mana sekitar seribu orang Papua dipaksa memilih integrasi dengan Indonesia.3 Pelaksanaan Pepera yang bermasalah dan hasilnya yang manipulatif memunculkan aksi penentangan oleh masyarakat Papua yang tidak terlibat dalam proses tersebut. Aksi penentangan ini mulai mengadakan perlawanan di bawah Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun, perlawanan ini justru meningkatkan operasi-operasi militer di Papua untuk menumpas separatisme. Di antaranya tahun 1970-1985 dilaksanakan Operasi Tumpas oleh TNI dengan target menggempur daerah yang dianggap basis OPM. Tahun 1977 dikerahkan pesawat pembom, helicopter dan pasukan darat ke wilayah Jayawijaya yang menghancurkan 17 desa.4 Dalam kaitannya dengan operasi militer, di tahun 1990-an pembunuhan dan pembantaian terus berlanjut dan korban terus berjatuhan. Di antaranya tahun 1994 TNI-AD menangkap 4 orang warga Timika yang kemudian dinyatakan hilang. TNI-AD juga menangkap dan menyiksa 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan pada tahun 1994, di antaranya Mama Yosepha Alomang. Pada bulan Mei 1995 pasukan Yonif 752 kembali melakukan pembunuhan kilat terhadap 11 warga, termasuk pendeta, di kampong Hoea. Sementara pada tahun 1996 terjadi penyanderaan oleh kelompok sipil bersenjata terhadap warga sipil Indonesia, Belanda, Inggris, dan Jerman. Operasi pembebasan sandera tersebut telah mengakibatkan 60 orang warga sipil terbunuh dan 7 wanita menjadi korban perkosaan. Akibat penerapan operasi militer, selama kurun waktu di bawah rejim orde baru, setidaknya telah 100 ribu lebih penduduk asli Papua terbunuh.5 Sasaran pembunuhan tidak saja pada orang-orang yang dianggap sebagai tokoh OPM, tetapi juga terhadap masyarakat Papua yang dianggap sebagai basis kekuatan OPM. Penetrasi modal di Papua memberi warna bagi bentuk-bentuk pelanggaran hak asasi manusia di Papua. Di antaranya kehadiran perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang eksploitasi sumber daya alam. Dua tahun sebelum Pepera dilaksanakan, Pemerintah Indonesia telah memberikan ijin kepada P.T. Freeport Indonesia untuk mengeksploitasi tembaga dan emas di Papua. Freeport mulai beroperasi di Papua di saat status Papua belum resmi bergabung dengan NKRI atas dasar kontrak karya dengan Pemerintah Indonesia. Lokasi tambang Freeport sebenarnya merupakan tempat berburu dan hal-hal sakral lainnya bagi suku Amungme. Wilayah itu kemudian dijadikan kota perusahaan yang bernama Tembagapura. Sejak beroperasinya Freeport di wilayah itu, tujuh suku di sekitar areal tambang,6 khususnya suku Amungme dan suku Kamoro, menjadi korban. Begitu pula dengan kehadiran perusahaan-perusahaan kayu di Papua yang sebagian besar milik keluarga dan kroni Soeharto dan petinggi-petinggi militer. Pemain terbesar adalah
Ibid Lihat: Hilmar Farid dan Rikardo Simarmata, Transitional Justice di Indonesia: Sebuah Laporan Pemetaan, draft final April 2003. 4 Lihat: Sampari, edisi 02 Februari 2006 “Menapaki Jejak Pelanggaran HAM di Papua”, hlm 9 5 Sampari, edisi 02 Februari 2006 “Menapaki Jejak Pelanggaran HAM di Papua” 6 Ketujuh suku itu adalah Amungme, Kamoro, Nduga, Ekari/Mee, Lani, Damal, dan Moni.
3 2

2

hlm 17 Lihat: Ibid hlm 17 3 .7 Aktivitas-aktivitas penebangan hutan tersebut sebagian dilakukan di wilayah hutan-hutan adat. Baik itu berupa perampasan tanah. pembunuhan dan bentuk-bentuk pelanggaran hak asasi manusia kerap dialami bagi mereka yang menuntut keadilan kepada perusahaan. Perlakuan tersebut terkait erat dengan tuntutan masyarakat terhadap aktivitas Freeport di Papua. penculikan. perusahaan-perusahaan yang memiliki ijin HPH kebanyakan tidak mengindahkan batas-batas wilayah HPH dengan hutan adat yang dikeramatkan dan tempat berburu. 7 8 Lihat: Laporan ICG Asia. penculikan. Sementara itu. Akibatnya menimbulkan konflik dengan masyarakat adat di sekitarnya.8 Gangguan keamanan melegitimasi penempatan-penempatan sejumlah pasukan di areal-areal eksploitasi. Selain itu. pos-pos militer dan polisi sengaja ditempatkan lokasi konsesi. Protes-protes masyarakat terhadap perlakukan perusahaan dihadapi dengan operasi militer. kerusakan lingkungan maupun maupun pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat adat lainnya. Catatan Kondisi Hak Asasi Manusia Di Papua Periode 1998-2006 Perubahan politik negera yang terjadi pada tahun 1998 belum membawa perubahan yang cukup berarti pada kondisi hak asasi manusia di Papua. penyisiran. Bahkan. besaran ganti rugi sering lebih kecil dari yang diharapkan oleh masyarakat. operasi pembunuhan. Sehingga kekerasan. Protes-protes masyarakat merupakan ancaman bagi keberlangsungan perusahaan-perusahaan di sana sehingga tenaga keamanan sangat dibutuhkan. B. Aksi demonstrasi dan tuntutan kemerdekaan serta pengibaran Bintang Kejora melegitimasi keberlanjutan operasi-operasi penumpasan separatisme di tahun-tahun sebelum era reformasi. Perusahaan lainnya adalah Barito Pacific Timber dan Hanurata. Pos-pos pengamanan didirikan berdampingan dengan perusahaan. Perusahan-perusahaan besar di Papua menyediakan dana khusus untuk operasi-operasi pengamanan. Akibatnya. Kehadiran perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi sumber daya alam Papua telah menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia di Papua.Djajanti Group. Beberapa peristiwa yang berkaitan dengan hal ini di antaranya penangkapan dan penyiksaan yang dilakukan TNI-AD terhadap 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan pada tahun 1994. Aparat keamanan dan perusahaan-perusahaan bersimbiosis untuk menghadapi perlawanan-perlawanan masyarakat Papua. intimidasi. Sehingga pengerahan dan penambahan pasukan diamini Jakarta. Akibatnya. bahkan protes masyarakat dianggap sebagai bagian dari gerakan separatisme. Begitu pula dengan peristiwa pembunuhan pada bulan Mei 1995 dan Peristiwa penyanderaan pada tahun 1996. Terkadang. kehilangan akses ekonomi. kekerasan-kekerasan di Papua terjadi pula atas dukungan perusahaanperusahaan besar di Papua. penyergapan ke kampung-kampung dan asrama mahasiswa serta bentukbentuk pelanggaran hak asasi manusia lainnya masih kerap terjadi dalam kurun waktu 1998-2006. dan warga yang membuat ulah dituding sebagai separatis. yang pemegang sahamnya termasuk keluarga Suharto serta mantan pejabat-pejabat tinggi dan petinggi-petinggi milter.

Sementara itu. di 4 . pengendalian perampasan sumber daya alam. aktivitas perusahaan-perusahaan eksploitasi masih menunjukkan perannya dalam berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Dalam suasana seperti itu. Operasi Penumpasan Separatisme dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Papua Runtuhnya rejim orde baru menimbulkan harapan baru di kalangan masyarakat Papua bahwa ketidakadilan di masa lalu dapat terungkap. Masyarakat sipil Papua akhirnya menghimpun kekuatan untuk mengusung tuntutan-tuntutan terhadap pemerintah pusat. Di antaranya dengan cara membentuk suatu forum yang dapat menyatukan berbagai aspirasi masyarakat. Penyaluran aspirasi masyarakat yang dinilai sebagai ancaman terhadap keutuhan NKRI dan bahaya separatisme telah mengundang aparat keamanan untuk bertindak represif. Dalam peristiwa itu dilaporkan puluhan orang terbunuh oleh aparat militer dan polisi. Kerusuhan massal dan bentrok massa kerap terjadi berkaitan dengan isu pemekaran wilayah Papua menjadi tiga provinsi. Penyakit menular terus mewabah dan tak terkendali. 1. serangan penyakit dan gagal panen yang mengakibatkan kematian atau ancaman kematian. perusakan lingkungan terus berlangsung di Papua. walaupun saat itu era reformasi telah berlangsung. Tindakan refresif aparat keamanan di antaranya adalah penanganan masalah pengibaran Bintang Kejora di Sorong dan Biak pada bulan Juli 1998. pada kurun waktu 1999-2006 hadir pula pemain baru yang melakukan eksploitasi. persoalan transmigrasi. turut memicu perubahan tuntutan masyarakat menjadi tuntutan merdeka. terus terlantar. seperti pendidikan dan kesehatan. dll. Peristiwa berdarah dan kekerasan lain masih muncul berkaitan dengan akitivitas perusahaanperusahaan ini. Tuntutan masyarakat Papua terhadap aktivitas perusahaan berujung pada bentuk-bentuk kekerasan oleh aparat keamanan. Ruang gerak masyarakat sipil makin terbuka lebar bahkan masyarakat Papua mulai berani secara terbuka mengibarkan Bintang Kejora. pada bulan Agustus 1998. Akibatnya. penarikan mundur pasukan militer di Papua. Ketidaksiapan pemerintah daerah dalam menjalankan otonomi khusus telah menimbulkan persoalan baru dalam generasi pelanggaran hak asasi manusia. Adanya perubahan status Papua ke pemerintahan otonomi khusus belum juga mampu menunjukkan perubahan yang signifikan. perampasan tanah dan hutan adat. kondisi hak asasi manusia yang berupa berupa peristiwa-peristiwa kelaparan. bencana kelaparan kerap terjadi. Pemerintah daerah turut menjadi ancaman yang serius bagi pemenuhan dan penegakan hak asasi manusia di Papua. kondisi hak asasi manusia di Papua dalam kurun waktu 1998-2006 dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar. Secara umum. pelanggaran hak asasi manusia yang berkaitan dengan beroperasinya perusahaan-perusahaan besar di Papua. Sehingga kondisi Papua bukan semakin baik malah semakin pelik. dan pemenuhan hak-hak dasar lainnya. Masyarakat sipil dan mahasiswa menggelar berbagai aksi dan protes menuntut agar pemerintah menyelidiki kasus-kasus kekerasan Soeharto. Tindakan-tindakan aparat keamanan yang represif dalam menangani berbagai aksi demonstrasi di awal-awal reformasi. Selain perusahaan lama. Laju eksploitasi terlihat semakin menggila dengan adanya prakti-praktik illegal logging. sejumlah tokoh masyarakat Papua. yaitu: pelanggaran hak asasi manusia yang berkaitan dengan rangkaian pelaksanaan operasi-operasi militer dan intelijen. Tidak terbukanya Jakarta dan permainan politik elit lokal menambah runyam kondisi Papua.

Situasi Papua yang terus berkembang mengharuskan Presiden terpilih pada Pemilu 1999. Sementara itu aspirasi merdeka terus meluas di daerah-daerah Papua. hlm 15 13 Lihat: Ibid 14 Ibid 9 5 . Kekuatan masyarakat sipil Papua terus menggumpal ketika diadakan rapat akbar pada tanggal 12 November 1999 di Sentani. Jakarta sibuk sendiri untuk membelah Papua menjadi tiga propinsi tanpa melibatkan masyarakat Papua. Sehingga respon masyarakat Papua setelah pertemuan dengan Presiden Habibie dijawab sangat antusias sehingga persiapan-persiapan menyambut merdeka dilakukan.13 Dari rapat itu diangkat Theys Hiyo Eluay sebagai pemimpin besar rakyat Papua sedangkan Yorris diangkat sebagai pimpinan masyarakat Papua di luar tanah Papua. Pengibaran Bintang Kejora di Sorong tanggal 5 Juli 1999 dijadikan alasan oleh aparat keamanan untuk menghentikan aktivitas posko di Sorong. Arus reformasi yang sampai ke Papua mengharuskan aparat keamanan menahan diri. tokoh politik.14 Tuntutan merdeka ditambah pula tuntutan untuk mengganti nama Irian Jaya dengan Papua. Dari pertemuan itu keluar himbauan untuk mengibarkan Kejora di seluruh Papau mulai tanggal 1 Desember 1999 hingga 1 Mei 2000 sebagai batas waktu yang ditetapkan untuk merdeka. “Memoria Passionis: Aspirasi Merdeka Masyarakat Tanah Papua dan Perjuangan Demokrasi Bangsa Indonesia Awal Tahun 2000”.9 Tentu saja hal ini menjadi kekhawatiran aparat keamanan tentang keberlangsungan Papua dalam NKRI. Dialog yang berjalan lancar dan tanggapan Jakarta yang terlihat simpati melambungkan mimpi untuk merdeka. Tindakan ini disinyalir untuk memecah belah masyarakat Papua yang mulai menyimpul dalam satu wadah perjuangannya. 11 Sementara itu. mengadakan kunjungan ke Papua untuk mengadakan dialog pada tanggal 31 Lihat: Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Jayapura. Tentu saja usaha pemerintah mendapat kecaman dan penolakan dari masyarakat Papua sehingga demonstrasi kembali terjadi dari tanggal 11 sampai 17 Oktober 1999 di depan Kantor Gubernur.10 Maklumat ini menyinggung perasaan aspirasi merdeka dan masyarakat Papua berang. intelektual dan aktivis LSM membentuk Forum Rekonsiliasi Masyarakat Irian Jaya (FORERI). hlm.antaranya sejumlah pemimpin gereja. Sampai akhirnya Kapolda Papua pada tanggal 17 April 1999 mengeluarkan maklumat yang berisi instruksi untuk membubarkan segala posko dalam jangka waktu beberapa hari saja. 12 Sikap Jakarta ini dianggap masyarakat Papua sebagai tindakan sepihak tanpa mendengarkan aspirasi masyarakat. 10 Lihat: Ibid 11 Lihat: Ibid 12 Lihat Ibid. Di seluruh wilayah Papua didirikan pos-pos komando tempat bertemunya masyarakat Papua setempat sambil menunggu pengakuan kemerdekaan dari Pusat. Gus Dur. Hingga akhirnya terjadi dialog masyarakat Papua yang diwakili Tim 100 dengan Presiden Habibie pada tanggal 22 Februari 1999. Bahkan pemerintah sempat melantik dua gubernur baru pada tanggal 11 Oktober 1999. Maklumat itu sebenarnya merupakan salah satu pintu masuk aparat keamanan untuk mengendalikan perjuangan masyarakat Papua. 15. Dialog tersebut diselenggarakan untuk menyampaikan aspirasi Papua merdeka.

menyatakan bahwa hasil kongres merupakan tindakan separatisme dan tindakan makar.15 Ribuan massa berdatangan dan berkumpul -dengan pakaian khas mereka dan dilengkapi persenjataan tradisional -. Sementara Sekjen Presidium DPP ditunjuk Thaha Mohamad Alhamid.yang selama kepemimpinan Gus Dur terlihat menahan diri -.Kamis. “Tokoh Papua Hanya Bersedia Berdialog Dengan Presiden”. Setelah PM Australia John Howard dan Presiden Filipina Joseph Estrada menegaskan dukungannya bagi integrasi teritorial Indonesia.16 DPR RI juga meminta TNI dan Polri menunjukkan kesungguhan bertindak tegas dalam menyikapi ancaman keutuhan NKRI tersebut. DPR RI melalui ketua DPR Akbar Tanjung dan seluruh wakil ketua DPR dan Sekjen DPR.Desember 1999. Begitu pula DPR RI periode 1999-2004 yang secara resmi menyatakan sikap menolak keras keputusan Kongres Rakyat Papua II. Aspirasi merdeka semakin kencang didengungkan dan mendapat dukungan luas sampai ke pelosok-pelosok Papua. 08 Jun 2000. Mereka ingin memastikan aspirasi merdeka menjadi agenda utama kongres tersebut. membantu Panitia dengan dana milyaran rupiah dan acara yang dihadiri sekitar 3.Sabtu. Kongres II tersebut mendapat dukungan dari Presiden Gus Dur bahkan untuk membiayai kongres tersebut pemerintah pusat. DPR juga mendesak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam usaha mencegah meluasnya gerakan separatisme tersebut dengan mengedepankan cara-cara persuasif.menganggap hal tersebut sebagai ancaman keutuhan NKRI. Perekrutan-perekrutan anggota Satgas terus dilakukan di berbagai daerah di Papua. TNI AD mengimbau kepada segenap komponen bangsa untuk mengutuk dengan keras upaya pihak-pihak yang telah mengarah pada disintegrasi bangsa. 25 Apr 2001 Theys Eluay: Saya Siap Disidangkan 16 KOMPAS . Lihat: KOMPAS . di Timika. sementara wakilnya adalah Tom Beanal yang juga Ketua Lembaga Masyarakat Adat (Lemasa) Suku Amungme. Tyasno Sudarto secara tegas mengatakan bahwa bentuk NKRI mencakup wilayah Sabang-Merauke adalah final. Secara resmi Gus Dur menyampaikan maaf atas terjadinya berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia selama ini kepada masyarakat Papua. Ia juga menentramkan masyarakat Papua melalui sikapnya yang setuju tentang perubahan Irian Jaya menjadi Papua. DPP dilengkapi pula dengan Satuan Tugas Papua yang komandannya adalah Boy Eluai. Theys Hiyo Eluay terpilih sebagai ketua. melalui KSAD Jenderal. dalam hal ini Presiden Abdurrahman Wahid.Rabu. “Pemerintah Tetap Utamakan Tindakan Persuasif di Papua” 17 Ibid 18 KOMPAS . Sehingga setiap upaya yang mengarah pada disintegrasi bangsa tidak akan ditolerir. 10 Jun 2000.di sekitar gedung tempat Kongres berlangsung.000 peserta itu. secara tegas Gus Dur tidak akan memberikan kesempatan terjadinya pemisahan Papua dari NKRI. begitu pula dengan 6 .18 15 Kongres Papua I dianggap telah dilaksanakan pada tahun 196. Kongres ini berjalan tertib walaupun hanya dijaga satgas Papua bentukan DPP. Dalam Kongres II Rakyat Papua yang dihadiri sekitar tiga ribu peserta itu dihasilkan salah satu resolusi yang menyatakan rakyat Papua menolak bersatu dalam NKRI.17 Sementara itu TNI. pernyataan itu secara diam-diam dimaknai sebagai restu terus berlanjutnya operasi militer dan intelijen di tanah Papua. Aparat keamanan -. Bahkan Kapolda sempat memuji Satgas Papua terhadap suksesnya menjaga keamanan kongres. Pernyataan Gus Dur tersebut dimanfaatkan oleh aparat keamanan untuk meredam aspirasi merdeka. Dukungan luas masyarakat Papua tampak nyata ketika diadakan Kongres Papua II pada tanggal 29 Mei-4 Juni 2000. Dukungan bagi integrasi teritorial Indonesia terus berdatangan. Di awal tahun 2000 setelah rapat akbar tahun 1999 dibentuk Dewan Presidum Papua (DPP). Di sisi lain.

26 Rasa takut juga menyebar ke daerah lain.Rabu. dan Agus A Alua sebagai Ketua Panitia Kongres II Rakyat Papua. Dansatgas Port Numbay Ditangkap 24 KOMPAS . Kapolda Papua – yang saat itu dijabat oleh Brigjen (Pol) SY Wenas.Selasa. dan Manokwari. Lanal Merauke pada malam harinya.Kamis. Polda Papua menunjukkan sikapnya dengan memanggil dan memeriksa tiga orang anggota PDP. penduduk di Jayapura baik pendatang maupun penduduk lokal hidup dalam suasana ketakutan dan kewaspadaan tinggi.20 Sementara itu. Dansatgas Port Numbay Ditangkap 27 Ibid 7 . Jepang dan Uni Eropa.22 Penurunan bendera secara paksa juga terjadi di berbagai daerah lain. 10 Oct 2000. Oleh Koalisi LSM untuk Perlindungan Dan Penegakan Ham Di Papua Jayapura. Lihat: KOMPAS . di antaranya di Merauke. Theys Imbau Warga Pendatang Tetap Tenang 26 KOMPAS .24 Aparat keamanan telah secara terang-terangan menganggap bahwa hasil kongres dan pengibaran Bintang Kejora sebagai tindakan makar dan ancaman penuh terhadap kedaulatan NKRI.Sabtu.Setelah kongres tersebut.21 Namun. Ribuan warga pendatang di Merauke masih mengungsi di Markas Kodim. Nabire. Panglima Kodam dan Pemda pada tanggal 3 Oktober 2000 yang menyepakati bahwa batas waktu penurunan Bendera Bintang Kejora adalah tanggal 19 Oktober 2000 yang akan dilaksanakan secara damai. Sorong.25 Hingga bulan November 2000. lebih-lebih penduduk non-Papua.23 Aksi penurunan ini merupakan perintah langsung dari Kapolri sebagai realisasi dari hasil Sidang Tahun MPR 2000. termasuk Pendeta Herman Awom. Lihat: Ibid 20 Setelah ditetapkan sebagai tersangka mereka juga sempat menjadi tahanan dalam proses hukum tersebut. 6 Mei 2003 23 KOMPAS . Akibatnya puluhan orang meninggal dunia dan terjadi gelombang pengungsian secara besar-besaran. 10 Oct 2000.Selasa. situasi keamanan Papua semakin memanas.27 Di sisi lain. aparat keamanan juga mendesak kepada PDP untuk segera menghimbau massanya agar menurunkan dan menghentikan pengibaran Bendara Bintang Kejora yang berlangsung selama ini. “Tokoh Papua Hanya Bersedia Berdialog Dengan Presiden” 19 Mereka yang dipanggil yaitu: Thaha M Alhamid sebagai Sekretaris Umum Kongres II Rakyat Papua.Rabu. 11 Oct 2000. Akhirnya terjadi dialog antara PDP. Wamena. Lihat: KOMPAS . yaitu: Theys Hiyo Eluay sebagai Ketua Umum PDP. Sehingga aparat keamanan berniat membubarkan PDP sebagaimana diungkapkan Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan agar PDP segera dibubarkan dan menurunkan bendera bintang kejora di Irja.Kamis. 11 Oct 2000. Pdt Herman Awom sebagai moderator. beberapa orang PDP juga diperiksa oleh Polda. 21 KOMPAS . 17 Mar 2001 DAERAH SEKILAS.Sabtu. Theys Akan Menghadap Presiden: Akbar Tandjung Sesalkan Kasus Wamena 25 Lihat: KOMPAS . Akhirnya lima orang ditetapkan sebagai tersangka Makar. pada tanggal 6 Oktober 2000 aparat keamanan menurunkan secara paksa bendera Bintang Kejora di Wamena. Namun. Theys Eluay sebagai Ketua PDP. 4 April 2003. John Mambor dan Don Flassy sebagai anggota PDP. 09 Nov 2000. 10 Jun 2000. Operasi ini akhirnya memuncak dalam suatu kontak senjata aparat keamanan dan masyarakat setempat. 09 Nov 2000. sejak tanggal 15 Maret 2001 penahanan mereka ditangguhkan setelah sempat mendekam selama 104 hari. Polres. setelah peristiwa Wamena. Thaha Alhamid sebagai Sekretaris Jenderal PDP. karena sering terjadi penculikan. Lihat juga: KOMPAS . Theys Akan Menghadap Presiden: Akbar Tandjung Sesalkan Kasus Wamena. Theys Imbau Warga Pendatang Tetap Tenang 22 Lihat: Laporan Awal Kasus Wamena.19 Selain itu.

Kabupaten Puncak Jaya dengan membakar sejumlah faslitias umum. “ DPRD Irja Kutuk Tindakan OPM di Ilaga”. 25 September 2001 “Tokoh OPM Merauke Willem Onde Terbunuh” 33 Lihat: Ibid 34 Lihat: Kompas. Operasi-operasi anti separatisme terus berlanjut dan terus menimbulkan korban jiwa. 18 September 2001. terjadi peristiwa pembunuhan terhadap empat karyawan PT Darma Mukti Persada di Desa Ambumi Kecamatan Wasior.31 Aparat keamanan terus meningkatkan operasi pengejaran hingga terjadi tindak kekerasan yang terus dilakukan aparat kepolisian terhadap warga Kecamatan Wasior sejak Juni sampai September 2001. 28 29 Ibid KOMPAS . Kecamatan Wasior. diperlakukan secara tidak manusiawi. 15 orang ditahan Polres Manokwari dan enam orang hilang. Akibatnya seorang guru SD meninggal secara tragis. “Komnas HAM Dituntut Bentuk Tim Independen Kasus Wasior” 31 Lihat: Ibid 32 Lihat: Kompas. Dua orang luka terkena peluru. ditemukan tewas berlumurah darah di salah satu sungai di Asiki. lima senjata api dan dua peti peluru di base camp dibawa kabur. tepatnya di bulan Maret. Kondisi keamanan di Papua terus memburuk di tahun-tahun berikutnya. 2 Oktober 2001. sementara ribuan warga yang ketakutan terpaksa mengungsi ke hutan-hutan dan daerah aman lainnya.28 Untuk menghindari konflik yang terjadi. puluhan orang luka-luka dianiaya. misalnya sebagai polisi.000 anggota Satgas Papua ke dalam berbagai bidang. Muspida berjanji untuk memberdayakan sekitar 620. Selasa. dan bidang lain sesuai kemampuan mereka. Polres Abepura memerintahkan operasi pengejaran dan penyisiran terhadap pelaku yang tak dikenal itu. pedalaman Merauke. pasukan Brimob melakukan penganiayaan terhadap pasukan koteka di Desa Rasiei. Meski pelakunya tidak dikenal.35 Sebelumnya.masyarakat Papua sibuk mempersiapkan diri untuk memperingati hari jadi Papua pada tanggal 1 Desember 2000.33 Pada bulan Oktober 2001 OPM melancarkan aksinya Ilaga. warga meyakini aparat polisi yang melakukannya. Selasa. Rangkaian peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Wasior. Willem Onde. Di awal tahun 2001. 08 Dec 2000 DAERAH SEKILAS 30 Lihat: Kompas. Jayapura. pada bulan Desember 2000 Muspida Irja berdialog dengan PDP. Beberapa jam setelah peristiwa itu.32 Selain itu. Selasa.29 Situasi mencekam di Papua mencapai puncak ketika tanggal 7 Desember 2000 terjadi penyerangan terhadap Polsek Abepura dan pembakaran beberapa bangunan di sana. Di antaranya pada bulan September 2001 tokoh OPM Merauke. Pada tanggal tersebut akan dikibarkan Bendera Bintang Kejora sesuai amanat Kongres II. atau terjun di bidang bisnis. 35 Lihat: Media Indonesia . sopir. tanggal 23 September 2001 dua anggota OPM tewas ditembak anggota TNI di Pos 511 Kostrad. Penembakan terjadi setelah ratusan anggota OPM dengan senjata tradisional berusaha menyerang pos tersebut. Dalam pelaksanaannya. “Setelah Menyerang Koramil Ilaga.34 dan menyerang Koramil. operasi tersebut telah mengakibatkan terjadinya pelanggaran berat hak asasi manusia yang dialami masyarakat Papua. Dua kejadian tersebut semakin membuat warga membenci polisi. Bonggo.Nusantara (02/10/2001 00:35 WIB). Lima anggota Brimob itu tewas. Hingga akhirnya tanggal 12 Juni 2001 puluhan warga menyerang lima anggota Brimob di Base Camp PT Prima Jaya Sukses Lestari (PJSL) di Desa Wondiboi. DPM masih Kuasai Lapangan Terbang” 8 .30 Setelah itu pada bulan April 2001.Jumat.

Awalnya militer menyangkal bahwa Kopassus sebagai pelakunya. Jumat.45 Pada awal 2002 tercatat pula pembentukan Barisan Merah Putih (BMP) oleh sejumlah tokoh Papua di Jakarta (termasuk mantan wakil Gubernur. 5 Oktober 2001. 11 Oktober 2001. Wamena. Lihat: Media Indonesia . “ Aparat Berusaha Kuasai Lapangan Terbang Ilaga”. Jumat. DPM masih Kuasai Lapangan Terbang” 38 Lihat: Kompas. Pada tahun 2001 aparat keamanan juga membentuk para-militer (milisi). di antaranya pada bulan Oktober 2001 Kodim 1702 Jayawijaya membentuk Satgas dengan jumlah anggota 170 orang. Pembunuhan Theys ini telah membuat suasana tegang di Papua semakin meningkat. Tim Gabungan TNI-Polri yang dipimpin Mayor Inf Isak dari Satgas Tribuana berhasil menyergap tujuh anggota Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) di sekitar Kali Kopi. dan menghilangkan segala 36 Lihat: Media Indonesia .42 Di bulan November 2001. “Setelah Menyerang Koramil Ilaga. diserang sekitar 100 anggota OPM. “Aparat Rebut Kembali Lapangan Terbang Ilaga Delapan Pamen Dicopot” 40 Lihat: Kompas. yaitu: Kecamatan Kurulu (52 orang).40 Tanggal 16 Oktober.Nusantara (02/10/2001 00:35 WIB). “TNI/Polri Sergab Tujuh Anggota OPM” 42 Lihat: Ibid 43 Lihat: Kompas. yang dianggap sebagai pelaku pembakaran KM Jala Perkasa di Kecamatan Kimaam. Selanjutnya. pengejaran dan penyisiran dilakukan aparat Polsek. Oleh Koalisi LSM untuk Perlindungan Dan Penegakan Ham Di Papua Jayapura. 37 Satuan yang dikirim ke Ilaga berasal dari Batalyon 753 dan Satgas Tribuana serta Brimob Polda Irja.41 Mereka ditangkap dan ditahan di Polres Mimika. 41 Republika. pada bulan November 2001. Tujuannya untuk menjaga keintegrasian Papua dalam NKRI. pada tanggal 10 Oktober 2001 Markas Besar Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Hans Youweni di sekitar Desa Marwei Kecamatan Pantai Timur. “Polsek Waropen Atas Diserang OPM: Dua Warga Sipil Luka Berat” 45 anggotanya berasal dari empat kecamatan terdekat. “Markas Besar OPM Dikuasai TNI”. Kabupaten Mimika. Kegiatan Satgas ini a. 17 November 2001. Walaupun demikian. dikuasai pasukan Batalyon Infantri 611. “TNI Ambil Alih Lapangan Terbang Ilaga”. 9 November 2001.l. Sabtu. Lihat juga: Media Indonesia . Bonggo. 39 Media Indonesia . Kamis.37 Tanggal 04 Oktober 2001 TNI berhasil merebut Lapangan Terbang Ilaga38 dan memulihkan keamanan di Ilaga tanpa ada perlawan dari pihak OPM yang telah melarikan diri.OPM menguasai Lapangan Terbang Ilaga sejak tanggal 28 September 2001.43 Sementara itu. Demostrasi dan kerusuhan berlangsung di beberapa daerah di Papua. Kodam XVII/Trikora mengirimkan pasukan ke Ilaga. [3] upacara bendera setiap hari Senin bersama TNI di Kodim. Theys Hiyo Eluay.Nusantara (03/10/2001 01:24 WIB). Kecamatan Assologaima (50 orang). Ketua Presidium Dewan Papua. aparat keamanan terus melakukan pengejaran. dan [4] mendapatkan pelajaran pembelaan negara.44 Puncak dari operasi militer di tahun 2001 adalah penculikan dan penangkapan terhadap. 6 Mei 2003 9 . ditangkap aparat Polres Merauke. Djopari). J.: [1] latihan baris-berbaris. Irian Jaya. Operasi pengejaran dan penumpasan terhadap OPM di Papua terus berlanjut. pada tanggal 16 November 2001 Polsek Waropen Atas. “18 Anggota OPM Ditangkap” 44 Lihat: Kompas.Nusantara (03/10/2001 01:24 WIB). Merauke. Kecamatan Mimika Baru. [2] apel pagi hari.36 Setelah peristiwa itu. sebanyak 18 anggota OPM. “ Aparat Berusaha Kuasai Lapangan Terbang Ilaga”.39 Dalam melakukan operasi ini aparat keamanan melakukan tindakan-tindakan kekeraran pula terhadap masyakat. kecamatan Wamena Kota (50 orang) dan Kecamatan Kurima (18 orang). Lihat: Laporan Awal Kasus Wamena.Nusantara (05/10/2001 00:08 WIB). Kamis 18 Oktober 2001. Yapen Waropen. 4 April 2003.

10 Desember 2002. aktivitasnya kemudian dihentikan atas permintaan unsur pimpinan daerah Mimika dan Provinsi Papua. bergabung dengan satuan lainnya untuk membasmi gerakan separatisme di daerah tersebut. termasuk 2 orang warga AS. Sabtu Agustus 24.48 Situasi di Papua terus tak menentu sementara aparat keamanan semakin arogan. Dalam kerangka inipun Kodim membentuk Satgas Merah Putih pada awal 2002. 29/5/2002. 49 West Papua Net. “Satu Kompi Pasukan Tempur Kodam I/BB Dikirim ke Papua”. 52 Kompas. 2 Januari 2003. Freeport tewas. 29 Desember 2002 Istri Direktur Elsham Papua Ditembak di Perbatasan RI-PNG 55 Media Indonesia.T. Peristiwa ini berawal dari penyerangan terhadap mobil pejabat provinsi yang sedang menjemput Duta Besar RI di PNG di perbatasan.53 Di penghujung 2002 kembali lagi terjadi peristiwa penembakan. serta Ny Yeni Ireuw Meraudje ditembak oleh orang tak dikenal di perbatasan Jayapura-Papua Niugini (PNG) saat dalam perjalanan dari Jayapura menuju Vanimo (PNG). Minggu.51 Pengerahan pasukan digelar untuk memburu para pelaku penembakan.T. Pada bulan Desember. Namun. Minggu. 2002 19:06:58: “Dua Puluh Anggota Polda Papua Aniaya Berat Frengky Rarenggulu” 50 Ibid 51 Lihat: Kompas. Eurico Guterres juga melakukan aktivitas membentuk barisan milisi di Timika. 8 buah gigi rontok dan lengan kirinya ditikam dengan sangkur.50 Papua semakin bergolak setelah terjadi peristiwa penembakan terhadap konvoi kendaraan karyawan P. Pada tanggal 4 Agustus 2002 sedikitnya 20 anggota Polda Papua menganiaya Frengky Rengrenggulu di Jayapura. “Kontak Senjata di Perbatasan Jayapura-PNG” 54 Lihat: Kompas. “TNI Kejar OPM Pimpinan Wenda” 10 . Diduga keras pelakunya adalah militer dalam kaitannya dengan bisnis pengamanan Freeport. Dalam peristiwa tersebut 3 karyawan P. istri dan anak Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia (Elsham) Papua. Selasa. Sementara pihak militer menyatakan bahwa pelakunya adalah OPM sehingga operasi penumpasan OPM kembali mendapat legitimasinya. dan menangkap dua orang anggota OPM. “Pusat Logistik OPM di Jayapura Digerebek” 53 Kompas. Pada tanggal 28 Mei 2002 satu kompi Pasukan Tempur Kodam I Bukit Barisan dikirim ke Papua. Tahun 2002 operasi militer memburu separatisme terus berlanjut bahkan terjadi penambahan pasukan di Papua. tim gabungan Polsek Demta dan Satgas TNI yang bertugas di daerah itu mengklaim telah menggerebek pusat logistik di Jayapura. “Aparat Hentikan Kegiatan Guterres di Timika” 48 Lihat: Detik Rabu. dan 12 orang lainnya luka-luka. Rabu.46 Sementara itu.54 Aksi penembakan diperbatasan tersebut terus terjadi di tahun 2003.49 Tindakan main hakim sendiri 20 anggota penegak hukum itu mengakibatkan wajah Frengky babak belur.47 Kebijakan Presiden Megawati tampak berbeda dengan Gus Dur dalam menangani masalah Papua.56 46 47 Lihat: Ibid Lihat: Media Indonesia. Freeport di kilometer 62-63 dari Tembagapura ke arah Timika pada tanggal 13 Agustus 2002.52 Sementara itu. Di antaranya di awal 2003 Konvoi tim olah TKP Mabes Polri yang akan menyelidiki kasus penembakan istri direktur ELSHAM diberondong peluru oleh sejumlah orang bersenjata di perbatasan RI-PNG. Rabu.55 Akibat insiden ini Danrem 172/Praja Wira Yakti Letkol Inf Agus Mulyadi mengeluarkan perintah pengejaran dan pengepungan terhadap OPM pimpinan Matias Wenda. “Karyawan Freeport Tewas Ditembak”. Kamis. 1 September 2002. “Tim Olah TKP Polri Ditembak di Papua” 56 Suara Pembaruan.kegiatan yang beraspirasi kemerdekaan. 18 Desember 2002. Jumat 03 Januari 2003. pada tanggal 17 Desember telah terjadi kontak senjata antara OPM pimpinan Matias Wenda dengan TNI di perbatasan Jayapura-Papua Niugini (PNG). 03 Desember 2003.

64 Di tahun 2004. Rabu. Kamis. Kamis. Bahkan salah seorang di antaranya meninggal ditahanan karena disiksa. Pasukan. Serangan itu mengakibatkan dua anggota TNI tewas. “Satu Tahanan Kasus Wamena Meninggal” 59 Koran Tempo. Satgas Kompi Rajawali Yonif 753 BKO Korem 172 PWY. Di samping itu.Sementara itu. yaitu: Melanesia merdeka.60 Akibatnya telah terjadi pelanggaran berat hak asasi manusia di Wamena. Berkaitan dengan 57 58 Suara Pembaruan. Jumat 04 Maret 2003. pada tanggal 4 November 2003 sebuah operasi penyerangan oleh satuan gabungan TNI di Pegunungan Jayawijaya menewaskan gembong OPM Yustinus Murib. Sabtu 13 Maret 04. 24 April 2003. Sejumlah orang ditahan dan disiksi di Markas Kodim 1702. TNI melakukan pengejaran dan penyisiran. aparat keamanan membakar puluhan rumah penduduk.58 Amnesty Internasional melaporkan bahwa TNI telah melakukan penyiksaan terhadap sejumlah penduduk desa. OPM terus meningkatkan serangannya dengan menyerang Kodim 1702 Wamena pada tanggal 4 April 2003.57 Berikutnya. Kamis 27 November 200. terus meningkatkan operasi penyisiran di tempat-tempat yang diduga menjadi persembunyian empat anggota kelompok GPK yang meloloskan diri saat terjadi kontak senjata antara TNI dengan GPK. sekolah. Dalam pengejaran tersebut. 07 Juli 2003. 1 September 2003. Pelaksanaan kebijakan tersebut ditandai diresmikannya Provinsi Irjabar tanggal 6 Februari 2003.62 Pengibaran “bendera 14” ini tampak sebagai penanda adanya aspirasi lain yang tumbuh di kalangan masyarakat Papua. “Amnesti: Ada Penyiksaan di Wamena” 60 Koran Tempo. 16 April 2003. “Pimpinan OPM Tewas Ditembak" 11 . puskesmas dan perumahan guru serta ternak yang jumpai di kampungkampung sekitar Kuyawage. Berikutnya pada tanggal 31 Agustus. kebijakan pemerintah pusat yang membagi Provinsi Papua menjadi tiga bagian telah menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. tepatnya bulan Maret seorang pempinan OPM. konflik ini kemudian menjadi perang adat di Timika pada tanggal 23-27 Agustus 2003. “Gembong Organisasi Papua Merdeka Yustinus Murib Tewas” 65 Suara Pembaruan. “Elsham: 5 Kampung di Wamena Dibakar” 61 Elsham News Report. Kebijakan pemekaran Papua ini telah menyebabkan situasi Papua semakin buruk akibat pro dan kontra pemekaran. “Timika Diprovokasi. Misalnya di Provinsi Irian Jaya Tengah telah terjadi konflik antar kelompok pro dan anti pemekaran. 6 November 2003. Selasa 15 April 2003. dan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat Kostrad.59 Pengejaran dilakukan oleh pasukan gabungan dari Kopasus. 11:49 WIB. Batalyon 413 Kostrad. Senin. Papua. Empat Luka-Luka” 62 KCM.65 Aparat keamanan. ketika memburu penyerang Kodim 1702/Jayawijaya di Wamena. Kemudian 50 orang yang dianggap pelaku ditangkap aparat kepolisian. selain itu satuan TNI menewaskan sekitar 10 anggota OPM yang bergerak di Pegunungan Jayawijaya Tengah. terjadi pula pembunuhan terhadap 2 orang dan melukai 4 orang warga non-Papua di Timika. Dua Meninggal. “Kodim Wamena Diserang. “Polisi Tahan Dua Pengibar Bendera "Bintang 14" di Wamena” 63 Suara Pembaruan. Rangkaian kejadian ini dikenal dengan peristiwa Wamena. Polres Jayawijaya menahan dua orang yang dituduh mengibarkan bendera Melanesia “Bintang 14” di halaman gedung DPRD Wamena. Dua Tentara Tewas” Suara Pembaruan. Leo Wresman tewas dalam kontak senjata antara pasukan TPM/OPM dengan Satgas Kompi Rajawali Yonif 753 AFT di Desa Kamenawari 40 km arah barat Kota Sarmi. Bendera ini kembali dikibarkan pada bulan November 2003 di Manowari.63 Di daerah lain. “Polisi Tahan 50 Pengibar Bendera Melanesia Barat di Manokwari” 64 Koran Tempo.61 Pada bulan Juli 2003. dalam peristiwa itu 5 orang meninggal dan 108 orang luka-luka.

Pam Pemilu Diserang” 68 Suara Pembaruan. Walaupun bom tersebut tidak meledak. Aparat Kepolisian bentrok dengan kelompok orang tak dikenal bersenjata kelewang dan panah di desa Mariendi. 15 Maret 2004 (Headline).66 Sementara itu. “OPM Tembaki Kendaraan Sipil Enam Orang Dikabarkan Tewas” 72 Elsham News Service. Kabupaten Bintuni. 3 November. Kabupaten Teluk Bintuni. 14 Oktober 2004. dua anggota kelompok sipil bersenjata pimpinan Guliat Tabuni tewas tertembak dalam kontak senjata lawan TNI selama dua jam di daerah Garage Kampung Munia. Polisi dan Brimob yang memburu Goliat Tabuni. “Polisi Diserang di Papua.yang menamakan diri Parlemen Jalanan Rakyat Sipil untuk Politik di Papua -. tombak. 06 April 2004 (Headline). pada bulan September aparat militer telah menangkap dan akhirnya menembak mati pendeta Elisa Tabuni dalam keadaan tangan terikat tali. kapak dan parang menghadang petugas Pengamanan (PAM) Pemilu dan petugas Panwalu yang akan melaksanakan pendistribusian logistik di Kampung Yowit Distrik Okaba Kabupaten Merauke. seorang ibu-ibu. “Polres Manokwari Tahan Tiga Anggota OPM” 70 Kompas. pasukan militer melancarkan operasi darat dan udara terhadap penduduk sipil. TNI AD. Rabu 21 April 2004. Sebelumnya. “Istri GPK Diamankan TNI” Harian Cenderawasih Post. dalam rangka operasi tersebut.72 Militer menuding kelompok Goliat Tabuni sebagai pelakunya. di antaranya pada bulan Desember 2004 aparat kepolisian membubarkan aksi ratusan warga Papua -.67 Tanggal 20 April. “Di Merauke. Jum'at. Kamis. Socrates Sofyan Yoman. Empat Tewas” 69 Media Indonesia. militer menangkap dan mengintimidasi pendeta Yason Kogoya. 6 orang tewas dalam aksi penghadangan dan penembakan yang dilakukan kelompok sipil bersenjata (KSB) terhadap iring-iringan kendaraan PT Modern di Kampung Munia. Irian Jaya Barat tanggal 20 April. Puncak Jaya” 73 Ibid 74 Ibid 12 . menyebabkan sekitar 5000-an penduduk mengunsi ke hutan. Papua. Beberapa hari sebelumnya. pada tanggal 17 Agustus 2004. Helikopter TNI menembak dan meluncurkan bom-bom ke perkampungan penduduk sipil.73 Berikutnya.69 Sementara di daerah Garade Kampung Munia. 2004. sekelompok orang tak dikenal yang jumlah sekitar 20 orang dengan bersenjatakan panah. Irian Jaya Barat.71 Sementara di Kabupaten Puncak Jaya. Akibatnya beberapa orang dari kelompok tersebut tewas. pada bulan April. Sedangkan anaknya berhasil melarikan diri dalam keadaan tangan terikat karena tidak mengetahui keberadaan Goliat Tabuni. “Pdt.saat mengibarkan bendera Bintang Kejora di Lapangan Trikora.operasi tersebut.68 Di Manokwari. MA: Kasus Puncak Jaya Murni Rekayasa Militer Mulia.74 Bergantinya Presiden setelah Pemilu 2004 belum merubah kondisi Papua. Tanggal 17 Oktober. bernama Fransina Sawen (27). Dalam insiden tersebut satu orang anggota OPM tewas ditembak pasukan Brimob. Kamis. Distrik Purwata. menyusul insiden berdarah di hutan belantara distrik Babo.70 Di bulan Oktober. Distrik Ilu. terjadi penahanan terhadap tiga orang anggota OPM. Kabupaten Puncak Jaya. 19 Agustus 2004. dalam kaitannya dengan pelaksanaan Pemilu tahun 2004. Jayapura. diamankan anggota TNI di Koramil Sarmi. Kabupaten Puncak Jaya. perbatasan Distrik Mulia dengan Distrik Ilu. “Dua Anggota OPM Tewas dalam Kontak Senjata “ 71 Media Indonesia. Rangkaian kekerasan masih terjadi. aparat kepolisian telah mengeluarkan 66 67 Harian Cenderawasih Post. 23 April 2004. terjadi pembunuhan warga sipil non-Papua pada tanggal 12 Oktober 2004 menyusul dilakukannya operasi militer gabungan pasukan Kopasus.

Polda Papua melakukan pengejaran dan penyisiran terhadap pelaku penyerangan ke berbagai desa dan kecamatan di sekitar Wasior. 2 Desember 2004 . Kabupaten Paniai yang mengakibatkan 1 orang meninggal dan tiga warga sipil lainnya terluka. akibat proses persidangan. Beberapa jam setelah penyerangan itu Polres Jayapura menggelar operasi penyisiran dan pengejaran. Dalam peristiwa ini 5 orang anggota Brimob tewas dan 1 orang warga sipil tewas.75 Operasi penumpasan terus terjadi sepanjang tahun 2005 dan awal 2006. Setelah peristiwa tersebut. terutama kesaksian. Sementara pada bulan Maret 2006. Freeport berlangsung. yang masih di bawah standar. Peristiwa (Abepura 2000) Pada tanggal 7 Desember 2000 terjadi penyerangan kantor Polsek Abepura oleh sekelompok orang bersenjata golok dan parang.larangan resmi. Situasi yang buruk selama reformasi menjadi alasan bagi 43 warga Papua meminta suaka di Australia di awal bulan Januari 2006. Kesimpulan hasil penyelidikan dan semua berkasnya telah diserahkan Komnas HAM ke kejaksaan agung untuk dilakukan 75 Koran Tempo. a. Peristiwa ini telah diselidiki oleh Komnas HAM dengan membentuk KPP HAM. Di bulan Februari 2006. Akibatnya dua terdakwa tersebut diputus bebas oleh hakim pengadilan HAM Makassar. Berikutnya di bulan Januari 2006 telah terjadi penembakan di Distrik Waghete. Kekerasan sepanjang reformasi tersebut menunjukkan bahwa situasi Papua belum menjadi baik.T. Peristiwa Wasior (2001) Peristiwa ini bermula dari penyerangan oleh sekelompok orang bersenjata terhadap PT Darma Mukti Persada (DMP) di Kecamatan Wasior pada tanggal 31 Maret 2001. yang diakhiri dengan terbunuhnya beberapa aparat keamanan di depan kampus Universitas Cendrawasih. Pada tanggal 13 Juni 2001 terjadi lagi penyerangan terhadap basecamp CV Vatika Papuana Perkasa (VPP) di desa Wondiboi. “Polisi dan Warga Papua Bentrok Saat Peringati 1 Desember” 13 . Kamis. dua orang terdakwa tidak dapat dibuktikan kesalahannya. Dalam peristiwa tersebut tiga orang pegawai PT DMP menjadi korban. Rangkaian kekerasan tersebut berakibat buruk pada kondisi hak asasi manusia bagi warga Papua. Dalam peristiwa itu satu orang anggota polisi tewas dan sejumlah lainnya luka-luka. Dalam proses pengejaran tersebut diduga telah terjadi pula pelanggaran berat hak asasi manusia. Komnas HAM menyimpulkan telah terjadi pelanggaran berat hak asasi manusia berupa kejahatan terhadap kemanusiaan. Tapi. Sehingga Komnas HAM melakukan penyelidikan terhadap peristiwa ini. Kesimpulan ini dijadikan dasar oleh kejaksaan agung untuk mendakwa dua orang anggota kepolisian yang dianggap bertanggung jawab pada Pengadilan HAM di Makassar. Begitu pula pelaksanaan Otsus belum mampu meredam gelombang kekerasan di Papua. demostrasi yang menuntut penutupan P. Dalam operasi tersebut telah terjadi rangkaian kekerasan yang dapat digolongkan sebagai pelanggaran hak asasi manusia. b. terjadi penembakan terhadap 3 orang pendulang emas di tepi Sungai Aikwa dalam operasi penertiban penambangan liar di Distrik Tembagapura. Di bawah ini disajikan beberapa kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi sepanjang reformasi.

11 Nopember 2001 79 Sejak Juli 1999. 76 77 Lihat: “Theys Meninggal. dan Sersan Satu Lauren SL (28) 14 . Setelah beberapa kali sidang akhirnya pada bulan April 2003 pengadilan militer memutuskan bahwa ketujuh terdakwa terbukti bersalah dan dihukum 2-3. dan Praka Ahmad Zulfahmi (27). Kecamatan Muara Tami. Kegiatan berikut dilancarkan 1 Desember 1999 berkait dengan peringatan Hari Ulang Tahun Irja. Pemeriksaan kasus Theys melalui pengadilan militer ini ditolak oleh sejumlah pihak. 10 November 2001 diculik. pada tanggal 03 Januari 2003. ia mulai mengadakan satu kegiatan deklarasi kemerdekaan Irja. Sersan Satu Asrial (31). dan 12 bangunan lainnya. Setelah peristiwa ini TNI melakukan operasi pengejaran dan penyisiran di sekitar kota Wamena. daerah asal Theys. di kediamannya. Kabupaten Jayapura. Peristiwa Wamena (2003) Pada bulan April 2003 telah terjadi pembobolan gudang senjata api milik Kodim Wamena. dan leher. Menyikapi temuan tersebut. Mayor Infantri Donny Hutabarat (35). Putusan ini sangat mengecewakan masyarakat Papua karena dinilai tidak memenuhi rasa keadilan. Penculikan yang berakhir pembunuhan ini diduga terkait erat dengan aktivitas politik Theys dan kawan-kawannya. c. Desakan dari berbagai pihak mengharuskan Pemerintah membentuk Komisi Penyelidik Nasional (KPN) untuk menyelidik kasus pembunuhan Theys. Esok harinya. d.5 tahun penjara. Dakwaannya adalah secara bersamasama atau sendiri sengaja melakukan penganiayaan sehingga menyebabkan hilangnya nyawa Theys. Irian Berduka” Kompas. disertai pengibaran bendera bintang kejora dan menyanyikan lagu Hai Tanahku Papua 80 Yaitu: Letnan Kolonel Hartomo (40). alasan utamanya adalah karena kasus Theys adalah pelanggaran hak asasi manusia. Peristiwa Pembunuhan Theys (November 2001) Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay hari Sabtu. Kapten Infantri Rionardo (32). dua bank (BRI dan BPD Irja). dahi.79 Saat ia dibunuh. 12 November 2001 Lihat: Ibid 78 Lihat: “Masyarakat Jayapura Mulai Panik” Republlika. Theys berstatus sebagai tahanan luar dan sedang diadili di Pengadilan Negeri Jayapura dengan dakwaan melakukan sejumlah kegiatan makar dengan tujuan memisahkan Irian Jaya dari NKRI. Tetapi. Jenazah Theys ditemukan tertelungkup di jok mobil Toyota Kijang dengan wajah babak belur dan luka di pelipis. ia ditemukan telah tewas di di Koya Tengah. KPN menemukan adanya keterlibatan Kopassus dalam pembunuhan Theys. sampai sekarang hasil penyelidikan Komnas HAM tersebut belum ditindaklanjuti oleh Kejaksaan Agung. Ratusan warga Sentani membakar dua rumah toko. Banyak pihak berpendapat bahwa pembunuhan Theys adalah upaya terakhir untuk membungkam keinginan rakyat Papua untuk merdeka. Senin. tujuh anggota Kopassus80 didakwa dalam pengadilan militer di Surabaya.76 Peristiwa ini menyulut kemarahan masyarakat Sentani.77 situasi pun mencekam78 sampai ke hari-hari berikutnya. Minggu.penyidikan. Letnan Satu Agus Soepriyanto (31). Dalam operasi ini telah terjadi berbagai bentuk kekerasan.

Ancaman dari OPM menjadi legitimasi bagi kehadiran aparat keamanan di sekitar wilayah tambang. Freeport membangun istana tempat berlangsungnya penambangan. Indonesia: sumber Daya dan Konflik Papua. 13 September 2002. Dalam kondisi ini kecemburuan sosial dapat saja terjadi. daerah tersebut merupakan tempat masyarakat sekitar menggantungkan hidupnya. Tiga situ situ dikeruk oleh perusahaan-perusahaan besar. 15 . Kota Tembagapura dibangun.Komnas HAM telah melakukan penyelidikan dalam peristiwa ini dan menyimpulkan telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia yang berat. masyarakat sekitar diusir. kayu (hutan) dan gas alam.81 Beroperasinya ketiga perusahaan ini.T. protes masyarakat kerap mengganggu aktivitas perusahaan sehingga diperlukan pengamanan. a. dan praktik-praktik represif aparat keamanan yang berkolaborasi dengan perusahaan. Berdasarkan kontraknya dengan pemerintah Indonesia. Bentuk-bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di antaranya praktik-praktik diskriminasi dan pelarangan atau pembatasan aktivitas ekonomi oleh pihak perusahaan.T.83 Di sisi lain. Padahal.T. dan mendongkrak pentingnya Papua bagi Indonesia.82 Kekayaan melimpah yang dihasilkan Freeport menarik minat keluarga/kroni Soeharto dan petinggi-petinggi militer untuk ikut menikmati kekayaan yang dihasilkan Freeport. masyarakat sekitar tidak diperhatikan dan tetap miskin. sampai sekarang kasus tersebut belum ada tindak lanjutnya. dan gas alam oleh P. 21 83 Ibid. walaupun hasil penyelidikan Komnas HAM tersebut telah disampaikan kepada penyidik Jaksa Agung. 18 Mei 2004 82 Laporan ICG Asia. Freeport Indonesia. Gunung Ertsberg yang mengandung banyak mineral dieksploitasi. Freeport menjadi penghasil tembaga dan emas terbesar di dunia. lahan luas tempat berburu dicaplok tanpa ganti rugi. di antaranya adalah P. Freeport Indonesia sudah melakukan kegiatan produksi tidak lama setelah menandatangani kontrak karya dengan Indonesia. Pertambangan diwakili oleh P.138 ha di Papua. Sejak mengeksploitasi gunung tersebut. terdapat pula perusahaan lain yang memperoleh ijin. perebutan tanah. hlm 22. Gunung Rrasberg yang bersebelahan dengan Ertberg. pada tahun 1988 ditemukan mengandung cadangan mineral yang sangat besar. terutama pada masyarakat pendatang yang terlihat berlimpah setelah ikut menikmati recehan Freeport. P. Penetrasi Modal dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Papua Saat ini setidaknya terdapat tiga situs utama sumber daya alam yang menjadi sasaran eksploitasi di Papua. Lihat: Bisnis Indonesia. penebangan kayu oleh perusahaan-perusahaan HPH. baik secara langsung maupun tidak langsung turut menyumbang praktik-praktik pelanggaran hak asasi manusia di Papua. yaitu: pertambangan. Namun. Perlakuan seperti ini mengundang perlawanan dari masyarakat setempat. Freeport Sebelum Papua bergabung dengan NKRI. 2. 81 Selain itu. Gag Nickel yang mendapat jatah seluas 13. terutama pertambangan di hutan lindung setelah berlakunya Perpu Nomor 1/2004. hlm.T. perusakan lingkungan. LNG Tangguh.

85 Bagi Freeport.000 per gram. Perlakuan tidak adil Freeport terhadap masyarakat sekitar telah pula menyebabkan konflik antara suku Amungme dan suku Dani sehingga sebelas orang tewas pada tahun 1997. terjadi pengusiran dan berakhir dengan kerusuhan yang menimbulkan korban. misalnya pada tanggal 25 Mei 2002 sekitar 20 orang mendobrak gedung-gedung Freeport di kota perusahaan Kuala Kencana. Freeport dan militer membawa bencana bagi kondisi hak asasi manusia di Papua. Limbah tersebut ternyata masih mengandung emas sehingga mengundang kegiatan mendulang emas bagi masyarakat masyarakat sekitarnya. Di sisi lain. dan perlakuan adil kepada masyarakat sekitar sehingga ada tuntutan peninjauan kembali terhadap ketentuan-ketentuan kontraknya dengan pemerintah. Peristiwa ini menambah kebencian masyarakat terhadap Freeport semakin meninggkat sehingga aksi penutupan satu-satunya jalan menuju lokasi penambangan Grasberg dari pemukiman karyawan dilakukan keesokan harinya.gangguan keamanan terus meningkat di wilayah Freeport sehingga kehadiran aparat keamanan terus dibutuhkan. aktivitas tersebut dinilai mengganggu sehingga diperlukan penertiban oleh aparat gabungan petugas satuan pengamanan Freeport. Namun. kebijakan Freeport telah mengakibatkan terjadinya penembakan pada tahun 2006 di Distrik Tembagapura. Rabu. Aksi ini memaksa Freeport menghentikan kegiatan penambangan selama beberapa hari. aksi ini berakhir setelah terjadi insiden berdarah di depan Universitas Cedrawasih yang menewaskan beberapa aparat keamanan. Freeport. Manado. walaupun Freeport telah menyadari kesalahannya – di antaranya pada tahun 2000 dan 2001 telah menandatangani kesepakatan dengan masyarakat Kamoro dan Amungme mengenai serangkaian proyek ekonomi dan sosial84 -. Selain itu. dan Jayapura pada tanggal 26 Februari 2006. Mereka berduyun melakukan penambangan liar dan hasilnya dijual di Kota Timika dengan harga Rp 80. Freeport meminta bantuan pengamanan dari tentara sehingga AD mengirimkan pasukan tambahan. Tiga Pendulang Emas Ditembak” 16 .T. sementara itu 3 orang pendulang mengalami luka tembak. Arus reformasi di tahun 1998 menjadikan Freeport sebagai salah satu sasaran reformasi. Operasi militer digelar dan akibatnya 37 orang warga Papua telah dibunuh oleh pasukan tentara. pembagian keuntungan. di antaranya penduduk Kampung Wa’a dan Banti. Aksi berikutnya di Jakarta (27 Februari 2006) berakhir dengan bentrokan. “Satpam Freeport Dipanah. 22 February 2006. 84 85 Lihat: Ibid hlm 24 Lihat: Kompas. Terutama berkaitan dengan aktivitasnya terhadap lingkungan.Kekerasan makin meningkat di Timika setelah terjadi penembakan karyawan Freeport pada tahun 1994 oleh orang tak dikenal. Di antaranya dua satpam Freeport mengalami luka-luka akibat dipanah oleh pendulang. Aksi penutupan tersebut mengundang pula aksi massa berupa unjuk rasa mahasiswa yang dilakukan di Jakarta. Distrik Tembagapura. Berawal dari adanya penambangan liar di sepanjang Sungai Aikwa sebagai tempat pembuangan limbah tambang berupa tailing. Serangan-serangan terhadap Freeport kerap terjadi. Aksi-aksi mahasiswa terus berlanjut hingga bulan Maret 2006 yang menuntut penutupan P.000 hingga 130. Akibatnya pada bulan Februari 2006.

89 Walaupun telah ada pelarangan illegal logging pada tahun 2001. Irian Jaya Barat. perusahaan ini sering tidak mengindahkan batasbatas wilayah adat.87 Eksploitasi besar-besaran terjadi di daerah Sorong yang menyimpan banyak pohon merbau. Selain itu di Bintuni juga terjadi kasus penyelundupan dan penebangan kayu ilegal besar-besaran. Djajanti Gorup selama puluhan tahun. Kabupaten Bintuni. Sehingga melegitimasi pendirianpendirian pos pengamanan di sekitar perusahaan-perusahaan tersebut. Misalnya pada kawasan bagian barat Sorong. “Dua Anggota OPM Tewas Tertembak di Bintuni “ 17 . 86 87 Lihat: Laporan ICG Asia. Kamis. pada tanggal 21 April 2004 telah terjadi penghadangan terhadap aparat kepolisian yang mengawal uang ganti P. 22 April 2004. Perusahaan lainnya adalah Barito Pacific Timber dan Hanurata. padahal masyarakat menuntut ganti rugi sebesar Rp 300 juta. Sehingga perusahaan.b. Pemain terbesar adalah Djajanti Group. aktivitas tersebut terus berlangsung. Berdasarkan siaran pers LBH Papua dan ELSHAM pada tanggal 2004. Kamis. para pelakunya di-backing orang-orang kuat.88 iduga.T. Beberapa perusahaan yang beroperasi di Papua dikuasai kalayangan dari zaman Suharto. “Dua Anggota OPM Tewas Tertembak di Bintuni “ 89 Kompas. Protes masyarakat sering dihadapi dengan operasi-operasi aparat keamanan yang berakibat terjadinya pelanggaran hak asasi manusia. Lagipula. 6 orang dinyatakan tewas. monopoli industri hutan menghadapi tantangan dari baru dari daerah. Uang Rp 150 juta rupiah dinilai tidak sepadan untuk mengganti hak ulayat seluas 250 hektar. Dalam melakukan aktivitasnya. Misalnya pada tanggal 31 Maret telah terjadi penembakan oleh sekelompok orang bersenjata terhadap tiga orang karyawan perusahaan kayu di Wasior.86 Setelah Suharto jatuh. hlm 17 Lihat: Ibid 88 Kompas. 22 April 2004. Djayanti Group untuk warga Babo dari Kampung Meried ke Babo. 2 orang penghadang tewas oleh aparat kepolisian. sepanjang 2001-2004 telah terjadi lima kasus illegal logging. namun kasus-kasus tersebut belum ditindaklanjuti pihak berwenang. Banyak pelaku illegal logging tertangkap namun proses hukumnya terlihat mandeg. Di Bintuni beroperasi P. Terkadang pula ganti rugi yang diberikan tidak setimpal dengan kerugian yang dialami masyarakat. Aktivitas-aktivitas illegal logging banyak terjadi di daerah ini yang melakukan penyelundupan kayu gelondongan. Tuntutan dari masyarakat dianggap mengganggu aktivitas perusahaan. Apalagi pada tanggal 3 Mei pasukan tersebut menyerang penduduk sipil.T. Akibat peristiwa ini dikerahkan pasukan Brimob untuk memburu para pelaku dan melindungi perusahaan kayu yang lainnya. Perusahaan-perusahaan Kayu Selain tambang.122 batang kayu olahan jenis merbau. Akibat penghadangan itu. yang pemegang sahamnya termasuk keluarga Suharto serta mantan pejabat-pejabat tinggi dan petinggi-petinggi milter. hutanhutan tengah ditebang oleh pengusahan yang bekerjasama dengan Bupati Sorong serta perwira-periwira aparat keamanan. Di antaranya: • Pada tahun 2001 terdapat 8 kasus ilegal loging dengan 8 pelaku yang semuanya warga Indonesia dengan kerugian negara 1. Sementara itu. Aksi ini menimbulkan ketakutan luar biasa bagi masyarakat sekitar. di indikasikan bahwa aparat keamanan di sana melakukan bisnis kayu. penebangan kayu merupakan sumber kekayaan yang cepat mendatangkan kekayaan di Papua.

Pada tahun 2003 terdapat 2 kasus di Desa Mayado dan desa Barma Kecamatan Merdey Kabupaten Manokwari yang dilakukan oleh PIT Arta Mas dan PT Trilyon Abadi Perkasa melibatkan 17 WNA asal Malaysia dan 3 WNI serta menggunakan 77 alat berat dan 840 batang kayu log jenis merbau yang saat ini masih disidangkan di Pengadilan Negeri Manokwari. Proyek ini akan mengambil gas bumi di Teluk Berau-Bintuni di bagian barat Papua. ancaman juga datang dari aparat keamanan walaupun masyarakat telah secara tegas menolak kehadiran aparat keamanan di lokasi proyek. Namun. dan fakfak. Manokwari.90 Pencemaran lingkungan akibat aktivitas LNG Tangguh merupakan ancaman utama bagi masyarakat Papua. sejak itu pula nama Irian Jaya diganti dengan Papua. pemberlakuan Otsus ini belum 90 Lihat: Laporan ICG Asia 18 . selain terhadap ekonomi dan masyarakat pedalaman. 4 unit tug boat dan 3 unit crane serta menghasilkan 10. Rencananya proyek ini pada tahun 2006 sudah mulai mengeskpor gas bumi tersebut. LNG Tangguh: Potensi Konflik dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Sumber gas bumi yang kaya di Papua mengundang perusahaan asing yang besar untuk beroperasi di sana.• • • • Pada tahun 2002 tendapat 7 kasus ilegal loging dengan pelaku 10 orang WNI dengan kerugiarkan negara 2145 batang kayu log jenis merbau. c.000 hektar. Sebagian besar ladangnya merupakan daerah lepas pantai. 34 unit alat berat serta 1000 M3 kayu olahan jenis merbau. Walaupun telah ada pendekatan yang sangat berbeda dengan Freeport. Di antaranya adalah proyek LNG Tangguh yang dilaksanakan BP. Otonomi Khusus dan Kondisi Hak Asasi Manusia Sejak 1 Januari 2002 secara resmi diberlakukan otonomi khusus (Otsus) bagi Papua. Pada bulan Januari 2004 pihak TNI AL telah menangkap kapal asing berbendera Vietnam yang mengangkut ribuan kubik kayu dari Sorong yang ditaksir kerugian negara sekitar 17 milyar namun kasus ini tidak jelas penyelesaiannya. Selain itu. 3 tongkang. terutama mengenai hak atas tanah yang dijadikan areal LNG Tangguh. Kabupaten Teluk Bintuni telah memilih untuk dipindahkan ke Kampung Tanah Merah Baru (TMB) dan 26 KK ke Kampung Onar.000 batang kayu log. sekitar 101 KK dari 127 KK yang berada di Kampung Tanah Merah Lama (TML) Distrik Babo. termasuk kota-kota Sorong. Perselisihan-perselihan dengan masyarakat setempat dapat terjadi. Di areal itu akan terjadi pemindahan penduduk.Marindo Utarma Jaya yang berkedudukan di Jakarta dengan direktur Yudi Firmansyah dan melibatkan 15 WNA asal Malaysia dengan menggunakan 117 unit alat berat. Pada bulan Juli 2004. proyek ini akan berakibat sangat besar terhadap petani dan nelayan yang menghuni teluk. dan menyalurkannya melalui jalur pipa menuju pabrik di daratan. 3. Pada Januari 2004 terdapat I kasus di distrik Bintuni Kabupaten Teluk Bintuni yang dilakukan oleh PT. Proyek LNG Tangguh ini akan menggunakan lahan seluas 3.

terdapat 1. Taramlu. Wabah ini menyerang sekitar 630 orang. Provinsi Papua yang berpenduduk 2.93 Dalam kasus muntaber.92 Sementara itu. Palur. serangan dan wabah penyakit. Selasa 27 May 2003. Pada bulan maret saja di Merauke terdapat lebih dari 600 kasus HIV/AIDS. 29 Januari 2004. Saat itu jumlah penderita diare sebanyak 1. gagal panen kerap terjadi di tahuntahun berikutnya. 25 september 2003. Di Papua setidaknya terdapat tiga wabah penyakit yang belum tertangani dengan baik. pemerintah pusat berencana untuk melaksanakan pemekaran Papua menjadi tiga Provinsi. telah berakibat 8 orang meninggal dunia. meninggal dunia akibat terserang diare. kebijakan penataan kota. di awal tahun 2004 diberitakan sebanyak 38 warga Distrik Borme. belum siapnya Otonomi khusus. Konflik horizontal yang berujung pada kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia serta kondisi Hak ekosob yang belum tertangani yang menyebabkan peristiwaperistiwa kelaparan. juga belum terbentuk akibat pemerintah pusat begitu lamban menyusun peraturan pemerintahnya. di antaranya adalah HIV/AIDS. eksploitasi sumber daya alam untuk mengejar pendapatan daerah. Dalam tahun pertama. yaitu Majelis Rakyat Papua. aksi pemerkosaan dan kekerasan seksual lainnya serta beberapa individu mendapat teror dan intimidasi. dan Desa Borme. “Berdasarkan data Dinkes di Papua 1. Papua Masuk Kategori Siaga Satu dalam Kasus HIV/AIDS Kompas. Sampai tahun 2003. jumlah korban meninggal 91 92 Kompas. pada tahun 2003. Di sisi lain. Sampai Desember 2002. yakni 527 kasus terdiri 307 AIDS dan 220 HIV. Kamis. Papua. Kabupaten Pegunungan Bintang. Humharu.94 Sementara itu di tahun 2006 diberitakan pula sekitar 100 warga Kabupaten Jayawijaya dilaporkan meninggal dunia akibat muntah berak yang melanda daerah itu sepanjang 13 Maret-24 April 2006.857 orang. Papua Masuk Kategori Siaga Satu dalam Kasus HIV/AIDS 93 Harian Papua Pos. Arima. Werde. perangkat yang paling penting. Pasca pendeklarasian propinsi Irian Jaya Tengah.3 juta jiwa dikategorikan siaga satu plus.disertai dengan perangkat peraturan perundang-undangan lainnya. isu politik di Papua dipanaskan dengan pro-kontra pencabutan UU Nomor 45 Tahun 1999 dan Inpres nomor 1 tahun 2001 tentang pemekaran wilayah Papua. 38 Warga Papua Meninggal akibat Terserang Diare “. Praktik-praktik korupsi.018 Kasus HIV/AIDS” 94 Kompas. dan arus investasi yang dibuka lebar telah menambah persoalan bagi pemenuhan hak asasi manusia di Papua.263 kasus dari 724 1. Dalam kasus penyebaran HIV/AIDS. Rencana tersebut telah menimbulkan pro-kontra di antara elit politik local dan masyarakat Papua. Aktivitas pemprov pada tahun pertama disibukkan dengan sosialisasi dan edukasi UU Otsus Papua tersebut ke birokrasi di seluruh Papua sembari menyiapkan perangkat-perangkat pendukung. Weime. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Jayawijaya. 112 orang luka-luka. 19 . data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Papua sampai akhir Agustus 2003 terdapat 1018 kasus yang terdiri dari 382 AIDS dan 636 HIV. Muntaber. Kasus besar di Merauke. terdiri dari 724 HIV dan 539 AIDS.263. Selasa 27 May 2003. di antaranya MRP.91 Laju penyebaran virus ini hampir 95% ditularkan melalui hubungan seksual. Kesepuluh desa tersebut adalah Desa Sigipur. Konflik yang terjadi akibat pro-kontra pemekaran adalah Peristiwa Timika yang terjadi pada tanggal 23 Agustus 2003. Masingmasing mendesak pemerintah untuk menjalankan pemekaran dan menghentikan pemekaran. Orban. Ketidaksiapan pemeritah daerah dan pro-kontra pemekaran Papua mengakibatkan kondisi hak asasi manusia memburuk di dua ranah sekaligus. Kasus diare ini mewabah di 10 desa di Kecamatan Borme. kasus terbesar terdapat di Desa Taramlu. Nongge. yakni sekitar 270 orang. dan TBC.

sebelah timur Jayapura. 96 95 20 . Korban terus meningkat hingga pada akhir April 2006 tercatat total korban mencapai 2. baik semasa orde baru maupun peristiwa yang terjadi semasa reformasi belum diselesaikan secara baik. Kompas. Musatfak. tercatat 9 distrik terserang. begitu pula dengan kasus-kasus lainnya. “Muntaber Renggut Jiwa 100 Warga Jayawijaya”. tetapi malah sebaliknya sebaliknya menerapkan kebijakan-kebijakan instan secara sepihak yang makin menambah persoalan di Papua. yang mengakibatkan 17 Transmigran mati kelaparan.090 orang dan 141 orang meninggal dunia. Assolokobal. dan Hubikosi. Situasi seperti ini tidak pernah disikapi oleh pemerintah Indonesia secara bijaksana.153 Meninggal 97 Harian Papua Post. seperti kasus Wasior dan Wamena hingga kini belum kelihatan hasilnya. Ancaman kelaparan terus menghantui Papua. Pada tahun 2003 tercatat sekitar Sekitar 27.95 Wabah muntaber ini terus menyebar ke beberapa wilayah di Kabupaten Jayawijaya. Suara Pembaruan. Rabu 26 April 2006. Sebagian besar disebabkan kekurangan makan dan kondisi hidup yang sangat buruk. Penyelesaian yang ada. Hom-Hom.96 Sementara itu. pada tahun 2000 telah terjadi kelaparan di Bonggo. “Ratusan Warga Terserang TBC di Pegunungan Bintang: Penyakit Framboesia Juga Diderita Warga”. Tercatat setidaknya sebanyak 200 orang lebih di Pegunungan Bintang menderita. Kebanyakan para korban berasal dari Kota Wamena dan distrik di sekitar Wamena.97 Ancaman lainnya adalah gizi buruk dan kelaparan. 10 September 2003. Pugima. Pada tahun 2006 kelaparan terjadi di Yahukimo.3 persen balita masih menderita kekurangan gizi. Rangkaian peristiwa pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi. Asologaima. di antaranya Kurulu. Sementara korban meninggal di RSUD Wamena per 24 April 2006 sebanyak 10 orang sehingga total korban meninggal dunia sebanyak 100 orang. Sabtu 29 April 2006 Wabah Muntaber Serang Jayawijaya. Ketidakseriusan pemerintah dalam menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia telah menambah rasa kekecewaan masyarakat Papua terhadap pemerintah Indonesia. PENUTUP Permasalahan di Papua yang terjadi selama ini telah berakibat serius terhadap kondisi hak asasi manusia di Papua. Bolakme. misalnya kasus Pembunuhan Theys dan kasus Abepura Desember 2000 sangat mengecewakan masyarakat Papua. terdapat juga penyakit TBC yang belum tertangani di Papua.akibat wabah muntah berak (muntaber) sejak 13 Maret-23 April 2006 mencapai 90 orang. Wamena.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful