Anda di halaman 1dari 12

Arsitektur yang memperhatikan potensi lingkungan (artikel koran Sindo)

Posted on Januari 8, 2010 by bopswave| 1 Komentar

[artikel umum] astudioarchitect.com Permulaan tahun baru 2010 ini, saya diberi pertanyaan dari mas Herman dari Koran Sindo tentang tren arsitektur khususnya rumah tinggal pada tahun 2010 ini. Saya berpendapat bahwa tren tahun ini tentunya didasari oleh tren arsitektur yang berkembang pada tahun 2009 akhir. Uniknya, apa yang berkembang saat ini tidak seharusnya hanya berdasarkan tren semata, karena justru dari sini bisa kita lihat masyarakat makin menyadari pentingnya arsitektur yang ramah lingkungan. Karya arsitektur rumah tinggal yang banyak diminati adalah yang memperhatikan potensi lingkungan, menunjukkan kesadaran arsitek dan masyarakat tentang desain hijau yang mutakhir.
Dalam Koran Sindo: Arsitektur Tropis Cenderung Ramah Lingkungan TREN desain rumah selalu didasari pergerakan pasar karena tren memang sering kali diusung untuk menjawab kebutuhan pasar. Seperti fashion,tren desain arsitektur selalu berganti-ganti dan tidak tetap, meskipun sebenarnya tidak selalu dibutuhkan. Itu karena memang merupakan faktor tambahan dalam desain arsitektur yang sesungguhnya. Banyak orang menyukai tren arsitektur karena dipandang bisa meningkatkan citra bangunan, terutama rumah tinggal. Beruntung bahwa tren yang sedang berjalan saat ini menuju pada pergerakan positif pada upaya pelestarian, pemanfaatan secara efektif dan pemeliharaan lingkungan. Hal ini didasari keadaan dan kondisi bumi yang makin terpengaruh pemanasan global yang banyak memicu kesadaran arsitek untuk menciptakan desain arsitektur yang ramah lingkungan. Arsitek dari astudioarchitect Probo Hindarto menjelaskan, kesadaran akan lingkungan dalam rumah yang baik sudah makin dimiliki masyarakat.Konsep arsitektur tropis yang ramah lingkungan dan sesuai untuk orang Indonesia mulai diminati kembali dengan sentuhan lebih modern. Dalam hal ini, tetap stylish dengan gaya modern, tapi juga hijau. Arsitektur yang tren sesaat seperti Spanyol, Mediterania atau minimalis dipandang bukan lagi tren arsitektur rumah yang esensial karena hanya merupakan tren tampilan rumah saja,tapi belum menyentuh konsep ruang yang merupakan esensi arsitektur terpenting. Desain arsitektur tropis menjadi tren karena didasari kesadaran dalam

dunia desain,terutama oleh para arsitek,ilmuwan dan pencinta lingkungan hidup untuk menggunakan desain yang ramah lingkungan, hijau, dan berkelanjutan. Konsep ini lebih didasari oleh kesadaran, karena itu dengan adanya kesadaran untuk arsitektur yang lebih hijau dan berwawasan lingkungan. Hal ini berarti kesadaran masyarakat dan para praktisi arsitek pada umumnya sudah meningkat daripada sekedar membuat desain bangunan yang tidak berwawasan lingkungan, jelas dia saat dihubungi Seputar Indonesia. Ciri khas desain arsitektur tropis ini adalah memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan baik.Sehingga meminimalkan kerusakan lingkungan akibat desain arsitektur. Beberapa contoh aplikasi desain yang hijau.Misalkan saja sinar atau cahaya matahari untuk mengurangi atau menghilangkan pemakaian listrik untuk penerangan buatan. Berbagai trik desain seperti atap yang tinggi,ventilasi yang baik, unsur tanaman dan perkerasan di sekitar rumah menjadi pendukung untuk konsep ini. Selain itu, penghawaan alami yang didukung oleh desain yang tidak memerlukan AC atau penghawaan buatan,karena sudah terasa dingin dan sejuk,didukung oleh pelestarian tanah dengan menanam banyak pohon untuk penghijauan. Lahan yang makin sempit dan mahal harus didesain dengan seksama sehingga tetap memiliki taman yang menyegarkan area rumah,menjadi area peresapan air sehingga mengurangi banjir, terangnya. Pembangunan yang cenderung vertikal, sehingga makin banyak lahan tersisa untuk penghijauan dan peresapan air tanah.Meskipun tidak memiliki taman di atas tanah, bisa juga menggunakan taman di atas atap dak beton,hal ini juga mulai menjadi tren, sehingga tetap ada area untuk bersantai bagi keluarga menikmati alam. Sementara pada unsur tampilan, desain rumah pada 2010 cenderung akan mengadopsi gaya arsitektur modern dan tropis yang banyak menggunakan unsur material ekspos seperti batuan ekspos dan lapisan kayu. Ini membuat tampilannya menjadi makin segar. Sayangnya belum banyak pengembang yang membangun rumah dengan desain seperti itu. Ini karena orientasi pengembang saat ini barangkali masih 90% berorientasi pada keuntungan ekonomis dari penjualan rumah-rumah atau apartemen. Karena itu tren yang ditawarkan perumahan pengembang pada umumnya masih kalah maju selangkah daripada karya arsitek yang sudah memiliki kesadaran itu. Hal ini karena arsitek perumahan berbeda dengan arsitek independen, dimana arsitek yang independen lebih bisa mengimplementasikan berbagai konsep arsitektur tropis dan hijau tanpa terpengaruh oleh faktor keuntungan. Apabila ada pengembang yang berani menawarkan konsep arsitektur hijau yang tidak terpengaruh unsur ekonomis bangunan,maka pengembang ini sudah mengikuti tren dunia yang berkembang saat ini.Arsitek dari PT Buanareksa Binaperkasa,Andry Hermawan menjelaskan, tren desain rumah pada 2010 lebih kepada sustainable environment dan ecological issue. Efisiensi biaya dan energi menjadi suatu keniscayaan. Di Indonesia sendiri masih akan menganut minimalis dan tropical design,namun tidak tertutup kemungkinan

berkembangnya arsitektur organik. Arsitektur vernakular bergaya Sunda dan Bali modern pun semakin dilirik,ucapnya. (hermansah)

________________________________________________ by Probo Hindarto

Desain Gaya Arsitektur Bangunan yang Tanggap Terhadap Lingkungan Beriklim Tropis
Fath Trinugrohoadiwijaya Abstraksi Perubahan suhu yang saat in terjadi secara global mengakibatkan perubahan pola hidup manusia termasuk pula di bidang arsitektur perancangan, berkembang pesatnya material bangunan memiliki kecenderungan semakin hari semakin tidak ramah terhadap lingkungan. Pola kehidupan manusia mulai berubah dengan sendirinya, begitupula dengan gaya berarsitektur masyarakat saat ini, di Negara seperti Indonesia ini, iklim merupakan salah satu hal yang paling harus dipertimbangkan untuk melaksanakan sesuatu, dalam pemilihan bahan bangunan tentu saja iklim sangat berpengaruh. Berbeda dengan Negara-negara Eropa yang merupakan negara tidak beriklim tropis, perbedaan sangat signifikan terjadi manakala penerapan gaya bangunan berlainan iklim diterapkan pada sebuah negara yang berlawanan iklimnya. Indonesia beriklim tropis yang memiliki curah hujan yang sangat tinggi, hujan terjadi di negara ini bisa sangat lebatnya dengan angin yang kencang. Berbeda dengan negara Eropa yang merupakan negara beriklim sub tropis meiliki curah hujan yang cukup kecil, dalam hal gaya arsitektur negara-negara ini memiliki pandangan tersendiri untuk menyesuaikan dengan iklim mereka, maka munculah aliran-aliran arsitektur dengan gaya mereka, dengan pengaruh negara Eropa yang sangat kuat terhadap negara lainnya maka teori-teori tentang arsitektur cara barat tersebar dengan mudah. Negara Tropis seperti di Indonesia sebagian besar masyarakatnya adalah orang-orang yang paham akan teknologi dan selalu ingin mencoba hal-hal yang baru, dalam hal ini adalah gaya arsitektur. Banyaknya literatur dari barat tidak mengindikasikan gaya arsitektur mereka beberapa sangat tidak cocok jika diterapkan di kawasan tropis. Maka yang terjadi adalah banyak bangunan-bangunan di negara tropis justru bangunan yang sebenarnya paling layak jika di bangun di kawasan sub tropis, akibatnya adalah penyesuaian-penyesuaian banyak dilakukan pada bangunan tersebut. Hendaknya dalam mewujudkan arsitektur yang maju harus dipertimbangkan iklim yang paling utama, bila ditelaah lebih dalam, bangunan tradisional Indonesia adalah bangunan yang paling cocok di kawasan tropis ini, selain hemat energi, bahan bangunannya tidak merusak lingkungan dan tidak menimbulkan efek yang merugikan bagi kawasan sekitarnya dalam kata lain sebagai bangunan yang ramah terhadap lingkungan, jika ini diterapkan pada skala yang lebih besar maka akan terwujud kawasan yang ramah lingkungan. Kata kunci: Tropis, Sub Tropis, Gaya Arsitektur, Ramah lingkungan

Pembahasan

Dewasa ini bangunan tradisional Indonesia mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, beragam gaya arsitektur mewabah di bumi Indonesia, dan semua adalah asli produk dari bangsa Barat. Istilah global architecture destroyed the regional environment merupakan salahsatu hal yang patut dicermati, masyarakat bangsa-bangsa timur saat ini lebih condong dengan arsitektur barat yang pada hakekatnya malah menghancurkan khasanah arsitektur timur yang unik dan berasal dari tempat-tempat aslinya. Hal yang paling penting untuk dijadikan parameter kebutuhan desain arsitektur adalah iklim, cuaca atau keadaan suhu disuatu tempat. Secara global adalah iklim di wilayah dunia bagian timur adalah tropis, tropis meliputi beberapa bagian bumi, meliputi sabuk yang lebar di sekitar pertengahan bumi, luasnya kira-kira 23,50 tingkat kearah kedua kutup dari katulistiwa dan berisi hampir 40% total permukaan daratan bumi, dengan curah hujan yang relatif tinggi, suhu udara yang cukup tinggi, pada siang hari mampu mencapai 350 C yang harus ditoleransi oleh masyarakat tropis, banyaknya hujan yang sering terjadi pada kawasan tropis memiliki tingkat kelebatan yang tinggi. Dari segi positif keadaan ini adalah tropis memiliki hutan-hutan yang lebat, pohon-pohon mudah untuk tumbuh, sehingga tercipta keseimbangan antara cuaca yang ekstrim dengan pengendalinya yaitu pepohonan. Masyarakat tradisional kawasan timur sudah sejak lama mengakomodasikan alam ini, belajar dari alam lalu menyesuaikan dengan alam untuk dapat beradaptasi dengan baik, namun keadaan mulai berubah manakala dominasi barat mengalami penguatan dalam segala hal, pada bidang arsitektur dimulai pada abad ke-20 arsitektur telah menjadi sekedar fungsional, rasionalisme, standarisasi dan ekonomi, kesemuanya ini adalah kehidupan yang dibuat-buat yang membosankan. Maka muncul penerapan-penerapan desain baru yang bukan sekedar halhal diatas, kreatifitas, gaya hidup, dan perubahan pola pikir masyarakat mempengaruhi apresiasi desain arsitektur. Hegemoni barat mengakar kuat sejak dahulu mengakibatkan masyarakat timur mulai tercuci otaknya dengan adanya teori-teori negara barat, idiom bahwa negara barat adalah negara yang maju (walaupun kenyataannya memang demikian) mengakibatkan masyarakat negara timur menjadikan negara barat sebagai acuan dalam segala bidang. Dalam ranah arsitektur begitu kentara dengan pemakaian teori-teori barat untuk literatur desain, disebutkan sebagai teori-teori yang pakem namun jika diaplikasikan di kawasan ini dibutuhkan beberapa penyesuaian. Banyak faktor yang mengakibatkan masyarakat tropis memilih teori-teori, langgam-langgam arsitektur barat, diantaranya adalah faktor ekonomi, walaupun bukan sebagai faktor utama, faktor ekonomi memberikan dampak yang cukup signifikan, saat ini banyaknya masyarakat dengan ekonomi berlebih menjadikan prestise sebagai kiblatnya, dalam bidang arsitektur di Indonesia khususnya ukuran keberhasilan seseorang adalah memiliki rumah yang mewah, megah, dan mengikuti gaya arsitektur barat yang sedang tenar. Jika disinkronkan dengan bidang arsitektur biasanya masyarakat ini lebih memilih desain bangunannya yang tidak ada duanya di kawasan tersebut dan disesuaikan dengan trend terbaru pada waktu itu, atau dengan desain-desain karya luar negeri, tidak memikirkan faktor iklim, lingkungan atau keseragaman kawasan, mereka lebih cenderung memperlihatkan perbedaan secara ekstrim. Faktor lainnya yang berpengaruh adalah pola pikir masyarakat yang cenderung mentasbihkan negara barat sebagai pusat dari segala-galanya. Perkembangan jaman yang begitu pesat, perkembangan teknologi yang kian meningkat menjadikan hidup semakin dipermudah dengan teknologi, segalanya saat ini menjadi serba instan, mudah diakses, dan tidak perlu membebani pikiran. Dalam bidang arsitektur pola pemikiran ini berlaku, dengan munculnya desain-desain dengan gaya arsitektur yang beragam, kesemuanya itu menindaklanjuti paradigma pemikiran manusia yang semakin maju dan berkembang.

Sebuah rumah dengan gaya arsitektur mediterania yang disesuaikan dengan iklim tropis Pemilihan gaya arsitektur yang dipengaruhi oleh gaya arsitektur barat sering diaplikasikan pada perumahan di kawasan tropis, sekedar untuk mengejar keuntungan ekonomi saja atau mengapresiasi keinginan masyarakat modern. Konsekuensinya adalah dengan penambahan-penambahan bahan guna mengantisipasi kekurangsesuaian gaya arsitektur barat pada iklim tropis.

Dari gambar diatas mengindikasikan bahwa perlu penyesuaian terhadap bangunan-bangunan dengan desain yang kurang akrab dengan kondisi iklim tropis. Permasalahan yang didapat adalah jatuhnya air hujan yang berlimpah sehingga mengakibatkan teras rumah menjadi tergenang, terjadi rembesan-rembesan air pada sekitar jendela dan pintu depan. Seharusnya dalam menentukan pemilihan gaya bangunan perlu diperhatikan beberapa aspek yang penting, beberapa kriteria tersebut adalah: - kondisi klimat yang terdapat pada wilayah tersebut, dengan memperhatikan: suhu maksimum, minimum dan rata-rata. Curah hujan. Radiasi matahari. Arah dan kecepatan angin. Pemahaman seperti ini memang seharunya diberikan oleh arsitek untuk meyakinkan klien bahwa penyesuaian gaya arsitektur pada iklim nantinya sangat perlu, akan berkaitan dengan

daya tahan bangunan, kenyamanan penghuni, dan kesatuan lingkungan serta dampak ekologi yang akan timbul. Salah satu aplikasi bangunan yang diharapkan sesuai dengan lingkungan dengan iklim tropis adalah Menara Mesiniaga Malaysia, dengan konsep arsitektur bioklimatik, mengetengahkan bangunan dengan green building.

Menara Mesiniaga dengan konsep arsitektur bioklimatik

Salahsatu hal yang dipikirkan pada bangunan ini adalah memanfaatkan energi matahari sehingga hemat pada beberapa komponen bangunan. Iklim tropis memiliki cahaya matahari yang menerangi sepanjang 12jam, sehingga pemanfaatannya dapat berguna untuk bangunan, tentunya dengan beberapa teknik penggunaan, seperti penggunaaan sun shading untuk mengatur seberapa banyak pancahayaan yang masuk. Selain itu diterapkan pula pengolahan lansekap, berupa taman berbentuk spiral yang melilit dari bawah sampai atas bangunan. Lansekap vertikal ini berfungsi sebagai pendingin evaporatif supaya didapat kenyamanan termal (lingkungan disekitar bangunan menjadi tidak terlalu panas), pengaplikasian vegetasi pada strategi lansekap ini disamping menyediakan pembayangan terhadap area-area bagian dalam dan dinding bagian diluar, juga akan meminimalkan pemantulan panas dan sinar matahari. Selain itu lansekap vertikal dapat

meningkatkan iklim mikro pada bangunan dan dapat menyerap polusi karbondioksida dan monoksida pada bangunan. Jika penerapan-penerapan ini diaplikasikan pada bangunan-bangunan tropis maka diharapkan menjadi bangunan-bangunan yang tanggap terhadap lingkungan, sesua dengan ikim tropis dan tidak merugikan bangunan atau lingkungan disekitarnya. Dibutuhkan pemahaman akan gaya berarsitektur baik secara mikro tentang bangunan maupun secara global tentang lingkungan yang harus menjadi pertimbangan. Kesimpulan Seringkali seseorang terpancang dengan modernitas pemikiran gaya arsitektur yang berkembang pada saat ini, hal ini didukung dengan pengetahuan instan tentang arsitektur yang mulai marak di dapat pada buku-buku arsitektur, seharusnya pemikiran arsitektur harus diimbangi dengan seorang arsitek yang menerangkan akan kelebihan dan kekeurangan bahan konsumsi instan tersebut. Diharapkan pada masa selanjutnya adalah pemahaman akan arsitektur lebih baik bila disesuaikan dengan kondisi kehidupan di kawasan ini, baik dilihat dari faktor iklim, atau faktor-faktor yang lainnya. Arsitektur hijau adalah mendesain untuk menyatukan apa yang akan kita bangun (yaitu semua yang akan kita buat seperti gedung, jalan, mobil, pendingin, mainan, makanan, dll) dengan lingkungan alami di sekitarnya secara terpadu dan berkelanjutan. (Ken Yeang, Betterbricks Interview) Referensi Hakim, R, 2003, Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap Prinsip-prinsip dan aplikasi desain, Bumi Aksara, Jakarta. Nugroho, F, 2005, Low Energy Office, Tugas Seminar Studi Kelompok Semester VII, Mahasiswa Strata Satu UNDIP (tidak dipublikasikan). Wright, F, 1939, Between Principle and Form, Yeang, K, 1996, The Skycraper, Bioclimatically Consider, Singapore. Yeang, K, 1987, Tropical Urban Regionalism, A Mimar Book, Singapore. Diposkan oleh moRat-maRit di 18:43 Label: arsitektur

Konsep Arsitektur Tropis disertai artikel dalam Koran Sindo


Posted on Januari 28, 2009 by bopswave| Tinggalkan komentar

Konsep rumah tropis, pada dasarnya adalah adaptasi bangunan terhadap iklim tropis, dimana kondisi tropis membutuhkan penanganan khusus dalam desainnya. Pengaruh terutama dari kondisi suhu tinggi dan kelembaban tinggi, dimana pengaruhnya adalah pada tingkat kenyamanan berada dalam ruangan. Tingkat kenyamanan seperti tingkat sejuk udara dalam rumah, oleh aliran udara, adalah salah satu contoh aplikasi konsep rumah tropis.
Meskipun konsep rumah tropis selalu dihubungkan dengan sebab akibat dan adaptasi bentuk (tipologi) bangunan terhadap iklim, banyak juga interpretasi konsep ini dalam tren yang berkembang dalam masyarakat; sebagai penggunaan material tertentu sebagai representasi dari kekayaan alam tropis, seperti kayu, batuan ekspos, dan material asli yang diekspos lainnya.

diatas, adalah dua contoh penerapan arsitektur tropis. Yang satu dengan budget pembangunan yang cukup besar, dengan material pilihan yang diekspos, yang lainnya lebih sederhana dengan budget lebih kecil, namun sudah memiliki konsep arsitektur tropis.

Berikut ini sebuah artikel di Koran Sindo yang memuat sebagian pendapat saya tentang konsep rumah tropis.
HUNIAN PEMBACA SINDO: Rumah ini memiliki fasad yang menarik. Cat eksteriornya adalah marun dan cokelat tua. Penggunaan material alami tampak di muka rumah, seperti batu kali untuk konstruksi tangga serta penggunaan kayu untuk pilar dan pagar.

INSPIRASIhunian di tahun 2009 kian beragam.Bagi Anda yang bosan dengan kekakuan gaya minimalis,namun menyukai filosofinya,boleh mencoba menerapkan gaya resor tropis. Seperti rumah milik Kurniadi di kawasan Jakarta Selatan. Rumah tersebut bergaya resor tropis yang begitu ringkas, namun tetap artistik. Inspirasi rumah bergaya resor semakin marak seiring pertumbuhan tempat wisata pantai atau bahari,di mana keberadaan vila-vila modern pun kian menjamur. Menurut arsitek dari Astudio Malang, Probo Hindarto, sebuah rumah bergaya resor memiliki hal-hal berikut ini. Usahakan memiliki jendela-jendela yang besar agar view luar ruangan dapat masuk dan dinikmati dari dalam rumah. Material alami seperti batuan ekspos, kayu, dan sebagainya cukup menarik untuk digunakan karena kesan alaminya dapat mendekatkan kita pada alam.Penggunaan material berkesan alami memang bisa membawa kita untuk memiliki rumah pantai dengan ciri khas Indonesia, tutur Probo. Rumah Kurniadi memiliki fasad yang menarik. Cat eksteriornya marun dan cokelat tua. Ada pilarpilar dari kayu untuk menopang serta pagar rendah yang diletakkan pada teras. Penggunaan material alami sudah tampak dari muka rumah. Seperti batu kali untuk konstruksi tangga serta penggunaan kayu. Arsitek Teky Wijaya mengemukakan, selalu ada pilihan untuk rumah resor.Tidak perlu terpaku pada satu model, semisal gaya minimalis dengan memperhatikan kebutuhan rumah tropis. Model sangat relatif, tergantung pemiliknya. Kita juga perlu memperhatikan lingkungan sekitar, ujar arsitek lulusan Universitas Parahyangan Bandung ini.Keselarasan dengan alam pun menjadi perhatian utama. Kebanyakan rumah resor dibangun dengan konsep tradisional karena memiliki standar pengaturan interior yang lebih padu pada akhirnya. Seperti pemakaian bahan kayu, rotan, dan batu alam pada furnitur maupun pajangan. Rumah pun dapat diisi dengan aneka tanaman dalam pot yang berukuran lebih besar.Tanaman itu tidak sekadar jadi pemanis meja, seperti terlihat pada rumah milik Kurniadi. Karena fungsinya disamakan dengan fungsi resor, yang kebanyakan dipakai untuk beristirahat, rumah ini dikonsep senyaman mungkin. Bagian dalam difungsikan sebagai ruang kumpul sekaligus ruang makan. Ada sebuah meja bundar dengan enam kursi beserta tambahan kursi sudut sebagai pemanis ruangan di sana. Ruang ini menggunakan lantai ubin agar terkesan bersih, juga pencahayaan high light.

Unsur kayu menyatu dengan sentuhan nuansa Oriental. Coba lihat kursi-kursi pendek yang diletakkan pada sudut ruangan. Begitu cantik, klasik, dan menggemaskan. Juga bentukan dinding dengan garis-garis minimalis. Ruangan berikutnya adalah lorong, dengan split levelmenuju kamar mandi luar dan ruang kamar. Meski hanya berfungsi sebagai penyeranta,namun konsepnya matang. Perpaduan parket, kayu, tegel batu, dan permainan warna dengan material alami tadi menghadirkan kesan jadul dalam rumah ini. Bagi rumah berukuran sedang, split level memang dapat dipakai untuk menjelaskan fungsi ruangan. Sementara kamar mandi dirancang seapik mungkin untuk memenuhi kriteria vila.Area ini didominasi material batu,permainan lantai pada area wastafel, shower, dan ruang ganti, serta memiliki jendela tinggi untuk cahaya dan sirkulasi udara. Area ini juga menyimpan benda-benda artistik seperti lukisan dan pajangan meja yang cantik. Bagian terbaik adalah kamar. Dengan sentuhan nuansa interior baby pink,kamar ini mengakomodasikan semua kebutuhan bersantai. Tempat tidur berukuran sedang, sofa empuk berwarna biru tua,kursi malas, penerangan down light namun memiliki ekstracahaya dari jendela, dan pemandangan apik di luar. Manisnya warna interior diisi oleh lukisan dengan tone yang sedikit lebih strong. (johana purba)

________________________________________________

Rumah Tropis untuk Anda

Apa sih sebenarnya rumah tropis itu? Rumah tropis merupakan jenis rumah yang bentuk dan elemen-elemen pendukungnya didesain sedemikian rupa sehingga cocok dan nyaman untuk dihuni bagi mereka yang hidup di iklim tropis, seperti Indonesia.

Iklim tropis berarti iklim dimana bumi mendapatkan cahaya matahari yang melimpah, kelembaban udara yang cukup tinggi dan curah hujan yang cukup tinggi pula. Biasanya terjadi di sekitar ekuator bumi atau garis khatulistiwa, di mana matahari dapat tepat berada di atas kepala dialami. Efek yang kemudian timbul akibat iklim tropis ini, terutama yang berpengaruh pada hunian adalah : 1. Ruang yang kemudian terasa panas dan sumpek, akibat suhu yang meningkat akibat panas langsung dari matahari dan udara yang tak bisa mengalir. 2. Timbul bakteri dan jamur yang tentunya kurang baik bagi kehidupan manusia. 3. Bahan bangunan, terutama kayu, akan menjadi rawan terhadap pelapukan dan rayap. 4. Aliran hujan yang deras yang tertahan oleh bangunan dan kemudian tersumbat akan rawan bagi keawetan bangunan itu sendiri. Untuk itu, jika memang Anda hidup dan tinggal di Indonesia, ada baiknya Anda mendesain rumah Anda menurut prinsip-prinsip rumah tropis, agar kenyamanan dan keamanan yang Anda inginkan dapat dicapai. Ada beberapa prinsip dalam desain rumah tropis : 1. Bukaan yang banyak, untuk mengatasi permasalahan suhu ruangan yang harus sesuai dengan yang dibutuhkan, selain sebagai sirkulasi udara. Dapat berupa jendela-jendela yang besar, pintupintu yang lebar ataupun meletakkan sedikit taman terbuka di dalam rumah. 2. Suhu udara yang tinggi dapat pula dinetralisir dengan memasukkan unsur air ke dalam rumah, seperti adanya kolam atau air mancur mini. 3. Pemanfaatan sinar matahari di siang hari sebagai sumber cahaya utama, dengan pengaplikasian skylight atau lubang bukaan cahata pada bagian atas maupun dinding bagian atas. ALternatif lainnya adalah pemakaian glassblock atau kaca patri. 4. Permainan facade bangunan untuk mengatur arah jatuhnya sinar matahari, terutama di sore dan pagi hari dimana sudut jatuh sinar matahari kecil. 5. Menggunakan material bangunan yang alami yang tampak ringan, seperti batu alam, batu bata ekspos atau kayu. Perkecil penggunaan logam karena akan tampak berat untuk bangunan selain logam biasanya menyimpan panas. 6. Memilih jenis kayu yang tahan terhadap rayap, jamur dan pelapukan dengan hati-hati. Anda juga dapat memberikan lapisan anti rayap. 7. Memilih genteng yang mempunyai alur dan kedalaman lurus sehingga air lebih cepat mengalir dan tidak menggenang. Yang penting, manfaatkan semua energi yang sudah disediakan oleh alam, sesuaikan dengan kondisi Anda sendiri. Bagaimanapun kenampakannya, budget besar ataupun kecil, tentunya Anda ingin rumah Anda adalah rumah yang ternyaman untuk ditinggali.

Perletakan ventilasi silang. Ventilasi silang adalah bukaan atau lubang untuk aliran udara yang perletakannya tidak pada satu sisi dinding melainkan pada dua atau tiga sisi dinding yang berlawanan sehingga angin bisa masuk dan mengalir. Inti dari ventilasi silang adalah menciptakan perbedaan tekanan udara sehingga udara bisa mengalir. Ventilasi ini bisa berupa jendela, pintu, lubang angin, yang intinya untuk lubang keluar masuk udara dari luar ruangan. Bukaan ventilasi yang tepat sangat penting bagi kenyamanan ruang. Ventilasi yang baik memungkinkan terjadinya aliran udara selama 24 jam tanpa bantuan peralatan mekanis. Harus ada ventilasi untuk malam hari ketika pintu dan jendela tertutup. Ventilasi yang hanya pada satu dinding menyebabkan angin tidak mengalir. Supaya angin bisa mengalir harus ada lubang udara masuk (inlet) dan lubang udara keluar (outlet). Pertimbangkan untuk membuat kisi-kisi di atas jendela/pintu agar ketika ditutup masih memungkinkan untuk pergerakan udara.

Keterangan gambar: A). Angin berhembus dari daerah bertekanan tinggi ke rendah. Lubang angin masuk tanpa ada lubang angin keluar, angin tidak akan mengalir. B). Ventilasi silang, dengan membuka jalan masuk dan keluar, angin akan mengalir. Lubang keluar < masuk =" aliran"> lubang masuk=aliran cepat. C). Lubang keluar dekat dengan lubang masuk, maka akan ada daerah yang tak teraliri. D). Lubang keluar di dua sisi memungkinkan udara berputar lebih jauh masuk ke dalam ruangan.