Anda di halaman 1dari 318

Pendahuluan

TUJUAN BUKU ini menyajikan kerangka kerja, proses, dan aneka pendekatan komposisional dalam merancang sebuah penelitian kualitatif, kuan-titatif, dan metode campuran untuk bidang-bidang sosialhumaniora. Adanya minat yang tinggi pada penelitian kualitatif, munculnya beragam pendekatan metode campuran, dan terus diterapkannya bentuk-bentuk tradisional kuantitatif, membuat saya merasa pe"rlu melakukan perbandingan terhadap tiga rancangan penelitian ini. Saya membandingkan ketiganya berdasarkan asumsi-asumsi filosofis, tinjauan pustaka, penggunaan teori, struktur penyajian, dan pertimbangan-pertirnbangan etis atas ketiga rancangan tersebut. Selanjutnya, saya menjelaskan unsur-unsur kunci dalam proses penelitian pada umumnya: menulis pendahuluan, menegaskan tujuan penelitian, mengidentifikasi rumusan masalah dan hipotesis penelitian, serta menerapkan metode-metode dan prosedur-prosedur di dalam pengumpulan dan analisis data. Semua elemen ini saya jelaskan berdasarkan penerapannya dalam rancangan kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran. Cover buku ini buku aslinya, bukan buku terjemahan bahasa Indonesia ini menggambarkan sebuah mandala: suatu simbol orang Hindu dan Buddha tentang dunia. Merancang mandala, sepertihalnya merancang penelitian, membutuhkan usaha pengamatan yang tepat terhadap kerangka kerja, desain keseluruhan, dan detail-detail sebuah mandala yang dibuat dari pasir akan membutuhkan waktu berhari-hari karena sang arsitek harus menyusun dengan tepat bagian-bagian di dalamnya yang terdiri dari butiran-butiran pasir. Mandala juga menunjukkan keterkaitan bagian-bagian ini secara keseluruhan, yang juga merefleksikan rancangan penelitian, di mana setiap bagian di dalamnya saling berpengaruh terhadap konstruksi akhir penelitian. SASARAN PEMBACA Buku ini ditujukan untuk para mahasiswa sarjana dan pasca-sarjana yang ingin menyiapkan rencana atau proposal untuk artikel jurnal akademis, disertasi, ataupun tesisnya. Pada level yang lebih luas, buku ini bisa digunakan sebagai buku referensi sekaligus pegangan untuk mata kuliah metode-metode penelitian. Agar mem-peroleh manfaat terbaik dari buku ini, pembaca perlu memiliki pengetahuan dasar tentang penelitian kualitatif dan kuantitatif. Sebab, bagaimanapun juga, istilah-istilah kunci yang akan dijelaskan dan dijabarkan serta strategi-strategi yang

direkomendasikan dalam buku ini, mengharuskan pembaca memiliki kesiapan dasar "teknis" dalam merancangpenelitian. Istilah-istilah yang dicetak tebal dalam. tulisan ini ataupun dalam giosarium pada akhir buku ini merupakan istilah-istilah yang diharapkan dapat membantu proses pernbacaan yang lebih cepat, Buku ini juga dirancang untuk pembaca umum dalam bidang-bidang sosial-humaniora. Sejak diterbitkan pertama kali, saya melihat bahwa pembaca buku ini adalah mereka yang berasal dari berbagai disiplin dan bidang ilmu pengetahuan. Tentu saja, dari respons yang begitu positif ini, saya sangat berharap para mahasiswa, pembaca, dan peneliti di bidang-bidang seperti marketing, manajemen, hukum pidana, komunikasi, psikologi, sosiologi, pendidikan dasar, pendidikan menengah atau perguruan tinggi, ke-perawatan, kesehatan, studi perkotaan, keluarga, dan bidangbidang lain, juga dapat memanfaatkan edisi ketiga buku ini. FORMAT Pada masing-masing bab, saya menyajikan contoh-contoh penelitian yang berasal dari berbagai disiplin yang berbeda. Contoh-contoh ini saya ambil dari buku, artikel ilmiah, proposal disertasi dan disertasi itu sendiri. Meskipun spesialisasi saya adalah pendidik-an, namun contoh-contoh ini sudah saya rancang seinklusif mungkin agar dapat diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora. Contoh-contoh ini pada umumnya merefleksikan isu-isu seputar keadilan sosial, individu-individu marginal, serta sampel dan populasi yang pernah dikaji oleh para peneliti sosial. Sifat inklusivitas (keterbukaan) ini diharapkan dapat memperluas pluralisme metodologis dalam . penelitian dewasa ini. Apalagi, saya juga sudah memperluas konten dalam buku dengan menjelaskan gagasangagasan filosofis penelitian, gaya-gaya penelitian, dan prosedur-prosedur penelitian yang beraneka ragam. Buku ini bukanlah buku metodologi yang rinci karena saya hanya menyoroti poin-poin penting dalam rancangan/rencana penelitian. Meski demikian, saya berkeyakinan bahwa saya telah menge-mas buku ini sebaik mungkin dengan menyajikan gagasan-gagasan inti yang kira-kira dibutuhkan oleh peneliti untuk merencanakan suatu penelitian. Strategi-strategi penelitian dalam buku ini dibatasi berdasarkan frekuensi penggunaan penelitian tersebut. Misalnya, untuk penelitian kuantitatif, saya hanya membahas rancangan survei dan eksperimen. Sedangkan untuk penelitian kuantitatif, disertakan pembahasan tentang fenomenologi, etnografi, grounded theory, studi kasus, dan penelitian. Adapun strategi-strategi konkuren, sekuensial, dan transformatif menjadi tiga topik utama yang saya bahas terkait dengan penelitian metode campuran. Para mahasiswa bisa memanf

aatkan buku ini untuk membantu mempersiapkan proposal disertasi. Akan tetapi, saya tidak membahas topik-topik seputar "politik penyajian dan negoisasi" dengan pihak perguruan tinggi karena topik-topik seperti ini sudah dijelaskan di buku-buku lain. Dengan tetap konsisten pada konvensi-konvensi tulisan akade-mis, saya sudah berusaha menghilangkan kata-kata dan contoh-contoh yang cenderung diskriminatif (seperti, seksis atau etnis). Contoh-contoh yang dipilih pada umumnya berhubungan dengan gender dan kebudayaan. Saya juga sudah berusaha membagi contoh-contoh secara merata untuk penelitian kualitatif dan kuantitatif. Tldak ada favoritisme di sini. Selain itu, perlu diketahui pula bahwa meskipun contoh-contoh yang disajikan dalam buku ini dikutip dari berbagai buku dan referensi, masih ada banyak contoh yang bisa Anda peroleh dari referensi-referensi lain. Saya hanya mengutip satu referensi yang benar-benar sesuai dengan contoh yang ingin saya sajikan. Seperti halnya dengan dua edisi sebelum buku ini, saya tetap mempertahankan beberapa hal yang dapat meningkatkan keterbacaan dan pemahaman atas materi di dalamnya, misainya bullet-bullet untuk menekankan poin-poin inti, angka-angka untuk menekankan langkah-langkah pelaksanaan, contoh-contoh kutipan dengan catatan tambahan untuk menyoroti poin-poin kunci penelitian yang di-tunjukkan oleh para pengarangnya. Meski demikian, pada edisi ketiga kali ini, ada banyak hal baru yang ditambah untuk merespons keinginan pembaca dan perkem-bangan-perkembangan penelitian masa kini: Asumsi-asumsi filosofis diperkenalkan di awal buku ini sebagai langkah dasar yang perlu dipertimbangkan oleh peneliti sebelum mereka benar-benar merancang penelitiannya. Pembahasan tentang masalah-masalah etis diperluas lagi dengan menyertakan lebih banyak pertimbangan terkait pengumpulan data dan pelaporan hasil penelitian. Dalam edisi ketiga ini juga diselipkan, untuk pertama kalinya., CD (Compact Disc) yang berisi slide-slide presentasi Powerpoint yang dapat digunakan dalam kelas, serta contoh-contoh aktivitas dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat didiskusikan. Program-program terkomputerisasi untuk mencari bahan bacaan juga disertakan, seperti Google Scholar, ProQuest, dan Survey-Monkey. Bab tentang prosedur-prosedur metode campuran sudah direvisi secara besar-besaran dengan menyertakan gagasan-gagasan mutakhir yang muncul baru-baru ini. Artikel-artikel terbaru dari jurnal Sage, yakni Journal of Mixed Methods Research, juga disajikan dan dikutip. Bab tentang Definisi Istilah, Batasan Penelitian, dan Perluasan Pe nelitian yang sebelumnya

muncul pada edisi kedua kini telah dihapus, dan informasi tersebut dimasukkan ke dalam bab yang membahas tentang pendahuluan dan tinjauan pustaka. Edisi ketiga ini juga berisi glosarium yang memuat sejumlah istilah penting yang bisa digunakan oleh para peneliti pemula ataupun yang sudah berpengalaman untuk memahami bahasa penelitian. Hal ini sangat penting, utamanya menyangkut soal istilah-istilah yang berkembang tentang penelitian kualitatif dan metode campuran. tidak hanya disertakan, istilah-istilah tersebut juga didefinisikan secara detail. Pada hampir semua bab, saya juga menyertakan tips-tips peneliti an yang hingga saat ini telah membantu saya dalam memberikan arahan pada mahasiswa dan fakultas saya tentang metodemetode peneiitian selama hampir 35 tahun. Saya juga telah menyertakan referensi-referensi terbaru yang terkait dengan setiap topik yang dibahas dalam buku ini. Keunggulan-keunggulan pada edisi sebelumnya, dalam beberapa hal, juga saya sertakan, seperti:

1.

Struktur keseluruhan buku ini yang terdiri dari pembahasan mengenai rancangan kualitatif, rancangan kuantitatif, dan rancangan metode campuran, utamanya yang terkait dengan proses-proses dan langkah-langkah penelitian di dalamnya.

2.

Strategi-strategi kunci dalam memahami asumsi-asumsi filo- sofis, tips-tips dalam menulis penelitian akademis, melakukan tinjauan pustaka, script-script dalam menulis tujuan penelitian dan pertanyaan-pertanyaannya, serta daftar-daftar rinci mengenai bagaimana cara menulis prosedur-prosedur penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran.

3.

Masing-masing bab diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan diskusi dan referensi-referensi kunci.

RINGKASANBAB Buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian I berisi langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan oleh para peneliti sebelum mereka mengembangkan proposal atau rencana penelitiannya. Bagian II membahas bagian-bagian dalam proposal.

Bagian I: Pertimbangan-Pertimbangan Awal Bagian ini membahas persiapan-persiapan untuk merancang penelitian akademis. Bagian ini mencakup Bab 1 sampai Bab 4. Bab 1. Memilih Rancangan Penelitian Saya mengawali bab ini dengan mendefinisikan penelitian kuali-tatif, kuantitatif, dan metode campuran, serta membahas ketiganya sebagai rancangan penelitian. Rancangan penelitian merupakan rencana untuk melakukan penelitian. Rancangan ini terdiri dari tiga komponen penting: asumsi-a'sumsi fiiosofis, strategi-strategi penelitian, dan metode-metode penelitian spesifik. Setiap komponen dibahas secara detail, Pilihan pada satu rancangan penelitian didasarkan pada pertimbangan atas tiga elemen ini serta masalah penelitian yang tengah dihadapi, pengalaman pribadi si peneliti, dan target pembaca. Bab ini diharapkan dapat membantu para pembuat proposal dalam menentukan jenis rancangan (apakah rancangan kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran) yang sesuai dengan penelitian mereka. Bah 2. Tinjau'an Pustaka Sebelum merancang proposal, Anda juga perlu melakukan tinjauan pustaka tentang topik penelitian yang ingin Anda bahas. Untuk itu, Anda perlu mengawalinya dengan mencari topik apa yang bisa diteliti dan kemudian mengeksplorasi literatur-literatur dengan menerapkan beberapa langkah penting sebagaimana yang akan dibahas dalam bab ini. Yang jelas, untuk melakukan tinjauan pustaka, Anda perlu memprioritaskan jenis-jenis literatur yang akan Anda review, menggambar peta literatur yang berhubungan dengan topik Anda, menulis abstraksi, menggunakart petunjuk-petunjuk gaya, dan mendefinisikan istilah-istilah yang dianggap penting. Bab ini di harapkan dapat membantu para pembuat proposal dalam memper-timbangkan literatur-literatvir yang sesuai dengan topik mereka dan mulai menulis tinjauan pustaka untvik proposalnya. Bab 3. Penggunaan Teori Teori memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda-beda dalam tiga bentuk penelitian. Dalam penelitian kuantitatif, teori berperan sebagai penjelasan awal tentang hubungan antarvariabel yang idiuji oleh peneliti. Dalam penelitian kuaiitatif, teori berperan sebagai perspektif bagi penelitian dan terkadang pula justru dihasilkan selama penelitian itu berlangsung. Dalam penelitian metode

campuran, teori bisa digunakan untuk beragam tujuan, bergantung pada fleksibilitas penggunaannya dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif. Bab ini membantu para pembuat proposal dalam mempertLm-bangkan dan merencanakanbagaimana suatu teori dapat disertakan ke dalam penelitian mereka. Bab 4. Strategi-Strategi Menulis dan Pertimbangan-Pertimbangan Etis Anda juga perlu memiliki outline/draf yang menyeluruh tentang topik-topik yang hendak dimasukkan ke dalam proposal sebelum Anda benar-benar menulis proposal tersebut. Untuk itulah, dalam bab ini, saya menyajikan sejumlah outline untuk proposal penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran. Selanjutnya, saya menyajikan pula trik-trik menulis proposal yang sebenamya, seperti mengembangkan kebiasaan menulis dan aneka persoalan tata bahasa yang perlu diperhatikan di dalam menulis proposal penelitian aka-demis. Di bagian akhir, saya mulai bergeser ke masalah-masalah etis dan membahasnya tidak sebagai gagasan-gagasan abstrak, melainkan sebagai pertimbangan-pertimbangan yang perlu diantisipasi selama proses penelitian.

Bagian II: Merancang Penelitian Dalam bagian ini, saya menjelaskan komponen-komponen proposal penelitian. Bab ini terdiri dari Bab 5 sampai 10, yang masing-masing menjelaskan setiap komponen proposal dan tata cara penulisannya. Bab 5. Pendahuluan Pendahuluan adalah salah satu bagian penting dalam (proposal) penelitian mana pun. Saya menyajikan satu contoh pendahuluan aka-demis yang baik untuk proposal Anda. Dalam bagian pendahuluan, Anda perlu mengidentifikasi masalah penelitian, membuat kerangka atas masalah tersebut berdasarkan literatur-literatur yang ada, me-nunjukkan defisiensi-defisiensi dalam literaturliteratur tersebut, dan menargetkan para pembaca yang dapat mengambil manfaat dari penelitian Anda. Bab ini menyajikan metode sistematis dalam merancang pendahuluan akademis untuk proposal atau penelitian.

Bab 6. Tujuan Penelitian Pada awal proposal penelitian, Anda juga perlu mempertegas tujuan inti dari penelitian tersebut. Tujuan penelitian merupakan bagian yang teramat penting dalam keseluruhan proposal penelitian. Pada bab ini, Anda akan belajar bagaimana menulis tujuan penelitian untuk penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran. Anda juga akan saya beri contoh-contoh yang sangat membantu Anda dalam merancang dan menulis tujuan penelitian tersebut. Bab 7. Rumusan Masalah dan Hipotesis Penelitian Rumusan masalah dan hipotesis penelitian dibuat untuk mem-persempit dan memfokuskan tujuan penelitian. Karena berperan sebagai "rambu-rambu" utama dalam sebuah peneiitian, rumusan masalah dan hipotesis ini haruslah ditulis dengan hati-hati. Pada bab ini, Anda akan belajar bagaimana menulis rumusan masalah dan hipotesis penelitian kualitatif dan kuantitatif, serta bagaimanamenerapkan dua bentuk tersebut untuk menulis rumusan masalah dan hipotesis pada metode campuran. Saya sudah menyajikan banyak contoh untuk mengilustrasikan rumusan masalah dan hipotesis untuk ketiga rancangan penelitian ini. Bab 8. Metode-Metode Kuantitatif Metode-metode dalam penelitian kuantitatif pada umumnya melibatkan proses pengumpulan, analisis, dan interpretasi data, serta penulisanhasil-hasil penelitian. Akan tetapi, dalam penelitian survei atau eksperimen kuantitatif, misalnya, metode-metode ini muncul lebih spesifik, yang biasanya berhubungan dengan identifikasi sampel dan populasi, penentuan strategi penelitian, pengumpulan dan analisis data, penyajian hasil penelitian, penafsiran, dan penulis-an hasil penelitian. Pada bab ini, Anda akan belajar tentang prosedur^ prosedur spesifik dalam merancang penelitian survei atau eksperimen, yang juga bisa Anda sajikan dalam proposal penelitian. Ada beberapa checklist yang disajikan dalam bab ini untuk membantu Anda memastikan terlaksananya semua prosedur tersebut. Bab 9. Prosedur-Prosedur Kualitatif Prosedur-prosedur kualitatif dalam pengumpulan, analisis, dan interpretasi data, serta penulisan hasil penelitian memang berbeda dengan prosedur-prosedur kuantitatif tradisional. Pengambilan sampel secara sengaja, pengumpulan data terbuka, analisis teks atau gambar, penyajian informasi dalam

bentuk gambar dan tabel, serta interpretasi pribadi atas temuan-temuan, semuanya mencerminkan prosedur-prosedur kualitatif. Bab ini menyajikan prosedur-prosedur kualitatif yang bisa Anda tulis dalam proposal penelitian Anda. Selain itu, bab ini menyertakan checklist untuk memastikan terlaksananya semua prosedur kualitatif. Bab ini juga menampilkan sejumlah contoh prosedur kualitatif yang berasal dari penelitian-penelitian fenomenologi, grounded theory, etnografi, studi kasus, dan studi naratif.

Bab 10. Prosedur-Prosedur Metode Campuran Prosedur-prosedur metode campuran menerapkan aspek-aspek dari metode kuantitatif dan prosedvir kualitatif. Penelitian metode campuran sudah banyak dilakukan dalam beberapa tahun bela-kangan, dan bab ini akan menyoroti perkejnbangan-perkembangan penting dalam penelitian metode campuran. Ada enam jenis strategi metode campuran yang dibahas dalam bab ini, lengkap dengan penjelasan mengenai kriteria-kriteria dalam mcmilih salah satu dari enam jenis strategi tersebut berdasarkan pada timing, bobot, pen-campuf an, dan teori. Beberapa gambar disajikan untuk memudah-kan Anda merancang dan menyertakannya dalam proposal penelitian. Anda juga akan memperoleh pengetahuan dasar tentang bagaimana mempraktikkan penelitian metode campuran dan juga tentang jenis-jenis strategi metode campuran yang bisa Anda terap-kan dalam proposal penelitian Anda. Merancang suatu penelitian merupakan proses yang amat sulit dan menyita waktu. Buku ini tidak ditujukan untuk mempermudah atau mempercepat proses tersebut, tetapi lebih dimaksudkan untuk menyediakan keterampilan-keterampilan khusus yang bisa diterap-kan dalam proses itu, sekaligus petunjuk-petunjuk praktis dalam menyusun dan menulis sebuah penelitian akademis. Sebelum langkahlangkah dalam proses ini dijelaskan, saya merekomen-dasikan agar para pembuat proposal terlebih dahulu memikirkan pendekatan apa yang akan mereka terapkan dalam penelitiannya, melakukan tinjauan pustaka atas masalah penelitian, mengembang-kan outline topik untuk disertakan dalam rancangan proposalnya, dan mulai mengantisipasi masalah-masalah etis yang mungkin muncul selama penelitian. Mengenai hal ini, Bagian I akan menjelas-kannya secara detail kepada Anda

Penghargaan
Buku ini tidak akan bisa terbit tanpa gagasan dan dorongan dari ratusan mahasiswa doktoral pada mata kuliah Pengembangan Proposal yang saya ampu di University of Nebraska-Lincoln selama beberapa tahun ini. Sejumlah mahasiswa sebelumnya dan para editor yang menjadi partner dalam proses penulisan buku ini: Dr. Sharon Hudson, Dr. Leon Cantrell, Nette Nelson (aim.), Dr. De Tonack, Dr. Ray Ostrander, dan Diane Greenlee. Sejak edisi pertama, saya juga banyak berutang budi kepada para mahasiswa di kelas Metode Penelitian Dasar dan orang-orang yang telah berpartisipasi dalam seminar metode campuran yang pernah saya pimpin. Kuliah-kuliah ini, semuanya, menjadi laboratorium pribadi saya dalam menyam-paikan gagasan, memperoleh ide-ide segar, dan membagibagikan pengalaman saya sebagai penulis dan peneliti. Kepada para staf dan rekan-rekan di Kantor Penelitian Kualitatif dan Metode Campuran di University of Nebraska-Lincoln yang sudah banyak membantu penulisan buku ini, saya ucapkan terima kasih. Saya juga mendapat-kan banyak kontribusi dari kajian-kajian akademis Dr. Vicki Piano Clark, Dr. Ron Shope, Dr. Kim Gait, Dr. Yun Lu, Sherry Wang, Amanda Garrett, dan Alex Morales. Saya juga mengucapkan terima kasih atas saran-saran yang men-cerahkan dari para pereview buku ini. Saya tidak bisa menghasilkan buku ini tanpa dukungan dan dorongan dari rekan-rekan saya di Penerbit Sage. Sage merupakan dan masih menjadi salah satu publishing-house dengan rating yang cukup tinggi. Secara khusus, saya juga berutang banyak kepada pembimbing sekaligus editor saya sebelumnya, C. Deborah Laughton (sekarang di Guilford Press), dan lisa Cuevas-Shaw, Vicki Knight, dan Stephanie Adams. Selama hampir 20 tahvin bekerja sama'dengan Sage, kami telah berusaha mengembangkan metode-metode penelitian. Dalam kesempatan ini, saya ingin memberikan penghargaan sebesar-besarnya atas kontribusi para pereview berikut ini: Mahasweta M. Banerjee, University of Kansas; Miriam W. Boeri, Kennesaw State University; Sharon Anderson Dannels, The George S. Georgakopoulos, Nova Southeastern University; Mary Enzman Hagedorn, University of Colorado di Colorado Springs; Richard D. Howard, Montana State University; Drew Ishii, Whittier College; Marilyn Lockhart, Montana State University; Carmen McCrink, Barry University; Barbara Safford, University of Northern Iowa; Stephen A. Sivo, University of Central Florida; Gayle Sulik, Vassar College; dan Elizabeth Thrower, University of Montevallo

Tentang Penulis
John W. Creswell adalah Profesor Psikologi Pendidikan sekaligus penulis dan pengajar mata kuliah metodologi kualitatif dan penelitian metode campuran. Dia mengajar di University of Nebraska-Lincoln selama 30 tahun dan telah menulis setidak-tidak-nya 11 buku, sebagian besar tentang rancangan penelitian, penelitian kualitatif, dan penelitian metode campuran. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalamberbagai bahasa dan digunakan di seluruh dunia. Dia juga menjabat sebagai co-director di Kantor Penelitian Kualitatif dan Metode Campuran di Nebraska yang bertugas me-nyediakan dukungan bagi para sarjana yang ingin mengajukan penelitian kualitatif dan metode campuran pada lembaga-lembaga pendanaan. Dia juga tercatat sebagai co-editor utama untuk jurnal Sage, Journal of Mixed Methods Research, dan sebagai Asisten Profesor untuk bidang Kedokteran di University of Michigan. Cresswell juga sering diminta menjadi asisten peneliti bidang-bidang kesehatan. Baru-baru ini, dia terpilih menjadi Senior Fulbright Scholar dan bertugas di Afrika Selatan sejak Oktober 2008 untuk berbagi ilmu tentang penelitian metode campuran denganpara ilmuwan sosial dan doku-mentator isu-isu AIDS. Dia hobi bermain piano, menulis sajak, dan berolahraga. Kunjungi websitenya di www.johnwcreswell.com.

Pendahuluan vii Penghargaan xvii Tentang Penulis xix Daftar Isi xx

Daftar Isi

BAGIAN SATU: PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN AWAL I Bab Satu: Memilih Rancangan Penelitian 3 Tlga Jenis Rancangan 3 liga Komponen Penting dalam Rancangan Penelitian 6 Beberapa Pandangan-Dunia Filosofis 6 Pandangan-Dunia Post-positivisme 8 Pandangan-Dunia Konstruktivisme Sosial 11 Pandangan-Dunia Advokasi dan Partisipatoris 13 Pandangan-Dunia Pragmatik 15 Strategi-Strategi Penelitian 17 Strategi-Strategi Kuantitatif 18 Strategi-Strategi Kualitatif 19 Strategi-Strategi Metode Campuran 21 Metode-Metode Penelitian 23 Rancangan Penelitian Sebagai Pandangan-dunia, Strategi, dan Metode 25 Kriteria dalam Memilih Rancangan Penelitian 29 Masalah Penelitian 29 Pengalaman-Pengalaman Pribadi 30 Pembaca 31 Ringkasan 32 Latihan Menulis 32 Bacaan Tambahan 32 Bab Dua: Tinjauan Pustaka 36 Topik Penelitian 36 Tinjauan Pustaka 40

Pemanfaatan Pustaka/Iiteratur 40 Teknik-Teknik Tinjauan Pustaka 46 Langkah-Langkah Melakukan Tinjauan Pustaka 46 Database Terkomputerisasi 48 Prioritas dalam Memilih Literatur 52 Peta Literatur Penelitian 54 Mengabstraksikan Literatur 57 PetunjukGaya 61 Definisi Istilah 63 Tinjauan Pustaka Kuantitatif atau Metode Campuran 69 Kesimpulan 71 Latihan Menulis 72 Bacaan Tambahan 73 Bab Tiga: Penerapan Teori 75 Teori dalam Penelitian Kuantitatif 76 Variabel-Variabel dalam Penelitian Kuantitatif 76 Definisi Teori 78 Bentuk-Bentuk Teori 81 Penempatan Teori dalam Penelitian Kuantitatif 84 Menulis Perspektif Teoretis Kuantitatif 86 Teori dalam Penelitian Kualitatif 93 Variasi Penggunaan Teori dalam Penelitian Kualitatif 93 Menempatkan Teori dalam Penelitian Kualitatif 98 Teori dalam Penelitian Metode Campuran 99 Ringkasan 104 Latihan Menulis 106 Bacaan Tambahan 107 .

Bab Empat: Strategi-strategi Menulis dan Pertimbangan-Pertitnbangan Etis 109 Menulis Proposal'109 Bagian-Bagian dalam Proposal 109 Format Proposal Kualitatif 111 Format Proposal Kuantitatif 113 Format Proposal Metode Campuran 113 Merancang Bagian-Bagian dalam Proposal Penelitian 114 Menulis Gagasan 116 Menulis seperti Berpikir 117 . Kebiasaan Menulis 118 Keterbacaan Tulisan 121 Kalimat Aktif, Kata Kerja, dan "Berlebih-lebihan" 124 Masalah-masalah Etis yang Perlu Diantisipasi 130 Masalah-Masalah Etis dalam Masalah Penelitian 131 Masalah-Masalah Etis dalam Tujuan Penelitian dan Rumusan Masalah 132 Masalah-Masalah Etis dalam Pengumpulan Data 132 Masalah-Masalah Etis dalam Analisis dan Interpretasi Data 135 Masalah-Masalah Etis dalam Menulis dan Menyebarluaskan Hasil Penelitian 137 Ringkasan 138 Latihan Menulis 139 Bacaan Tambahan 140 BAGIAN DUA; MERANCANG PENELITIAN 143 ,Bab Lima: Pendahuluan 145 Pentingnya Pendahuluan 145 Pendahuluan dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Metode Campuran 147 Salah Satu Model Pendahuluan 149 -

Sebuah Ilustrasi 150 Masalah Penelitian 153 PeneHtian-Penelitian Sebelumnya 156 Kekurangan (Defisiensi) dalam Literatur Sebelumnya 159 Signifikansi Penelitian bagi Pembaca 161 Ringkasan 163 Latihan Merudis 164 Bacaan Tambahan 164 Bab Enam: Tujuan Penelitian 166 Signifikansi dan Makna Tujuan Penelitian 166 Tujuan Penelitian Kualitatif 167 Tujuan Penelitian Kuantitatif 175 Tujuan Penelitian Metode Campuran '- 181 Ringkasan 188 Latihan Menulis 189 Bacaan Tambahan 189 Bab Tujuh: Rumusan Masalah dan Hipotesis Penelitian 191 Rumusan Masalah Kualitatif 191 Rumusan Masalah dan Hipotesis Penelitian Kuantitatif 196 Model Rumusan Masalah dan Hipotesis Deskriptif 203 Rumusan Masalah Dan Hipotesis Penelitian Metode Campuran 205 Ringkasan 210 Latihan Menulis 211 Bacaan Tambahan 212 Bab Delapan: Metode-metode Kuantitatif 215 Mendefinisikan Rancangan Survei dan Eksperimen 216 Komponenkomponen Rancangan Metode Survei 216 Rancangan Survei 217 Populasi dan Sampel 218

Instrumentasi 221 Variabel-Variabel dalam Penelitian 224 Analisis Data dan Interpretasi 225 Komponen-komponendalam Metode Penelitian Eksperimen 229 Partisipan 229 Variabel-Variabel 236 Instrumentasi dan Materi 237 Prosedur-ProsedurEksperimentasi 237 Ancaman-Ancaman terhadap Validitas 240 Prosedur 247 AnalisisData 249 Interpretasi Hasil '-=- 250 Ringkasan 251 Latihan Menulis 254 Bacaan Tambahan 255 Bab Sembilan: Prosedur-prosedur Kualitatif 258 Karakteristik-karakteristik Penelitian Kualitatif 259 Strategi-strategi Penelitian 263 Peran Peneliti 264 Prosedur-prosedur Pengumpulan Data 266 Prosedur-Prosedur Perekaman Data 271 Analisis dan Interpretasi Data 274 Reliabilitas, Validitas, dan Generalisabilitas 284 Menulis Kualitatif 290 Ringkasan 291 Latihan Menulis 302 Bacaan Tambahan 302 .

Bab Sepuluh: Prosedur-prosedur Metode Campuran 304 Komponen-komponen Prosedur Metode Campuran 305 Sif at Penelitian Metode Campuran 307 Strategi-strategi Penelitian Metode Campuran dan Model-model Visualnya 308 Merencanakan Prosedur-Prosedur Metode Campuran 308 Timing (Waktu) 309 Weighting (Bobot) 310 Mixing (Pencampuran) 310 Teorisasi dan Perspektif-Perspektif Transformasi 312 Strategi-Strategi Penelitian Metode Campuran dan Model-Model Visualnya 313 Strategi Eksplanatoris Sekuensial 316 Strategi Eksploratoris Sekuensial 317 Strategi Transformatif Sekuensial 318 Strategi Triangulasi Konkuren 320 Strategi Embedded Konkuren 321 Strategi Transformatif Konkuren 324 Memilih Strategi Metode Campuran 325 Prosedur-Prosedur Pengumpulan Data 326 Analisis Data dan Prosedur-prosedur Validasi 328 Susunan Laporan Penelitian 331 Contoh-contoh Prosedur Metode Campuran 332 Ringkasan 337 Latihan Menulis 339 Bacaan Tambahan 339 Glosarium 342 Daftar Pustaka 359 Indeks 379 .

Bagian Satu

B abl

Memilih Rancangan Penelitian Bab 2 Tinjauan Pustaka Bab 3 Penggunaan Teori Bab 4 Strategi-Strategi Menulis dan Pertimbangan-Pertimbangan Etis Buku ini dirancang untuk membantu para peneliti mengem bangkan rencana atau proposal penelitian. Bagian I membahas sejumlah pertimbangan awal sebelum seorang peneliti merancang rencana atau proposal penelitian. Pertimbangan-pertirnbangart ini pada umumnya berkaitan dengan pemilihan rancangan penelitian yang sesuai, peninjauan pustaka untuk memosisikan penelitian yang diusulkan dalam konteks literatur-literatur yang ada, penentuan teori apa yang hendak digunakan dalam penelitian sekaligus usaha dalam menulis karya yang baik dan sesuai dengan standar etika yang berlaku.

Bab Satu

Memilih Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian merupakan rencana dan prosedur penelitian yang meliputi: dari asumsi-asumsi luas hingga metode-metode rinci dalam pengumpulan dan analisis data. Rancangan tersebut melibatkan sejumlah keputusan yang, dalam buku ini, sudah saya sajikan meski tidak secara runtut dalam pengertian yang lazim. Yang jeias, secara keseluruharr, keputusan ini melibatkan rancangan seperti apa yang seharusnya digunakan untuk meneliti topik tertentu. Misalnya, dalam (proposal) penelitian, para peneliti perlu mengambil keputusan terkait dengan asumsi-asumsi filoSofis yang mendasari penelitian mereka, prosedur-prosedur (yang juga sering di-sebut sebagai strategi -strategi) penelitian, dan metode-metode spesifik yang akan mereka gunakan dalam pengumpulan, analisis, dan interpretasi data; Pemilihan atas satu rancangan penelitian juga perlu didasarkan pada masalah/isu yang ingin diteliti, pengalaman pribadi si peneliti, dan target atau sasaran pembacanya. TIGA JENIS RANCANGAN Dalam buku ini, ada tiga jenis penelitian yang akan disajikan: penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran. Pada hakikatnya, tiga pendekatan ini tidaklah terpisah satu sama lain seperti ketika pertama kali muncul. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif seharusnya tidak dipandang sebagai antitesis atau dikotomi yang saling bertentangan; keduanya hanya merepresentasikan hasil akhir yang berbeda, namun tetap dalam satu continuum (Newman & Benz, LggS). Suatu penelitian hanya akan lebih kualitatif ketimbang kuantitatif, atau sebaliknya. Adapun penelitian metode campuran berada di tengah continuum tersebut karena penelitian ini melibatkan unsur-unsur dari pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif sering kali dijelaskan berdasarkan bentuk-bentuknya yang menggunakan kata-kata (kualitatif) dan yang menggudakan angka-angla (kuantitatif), atau berdasarkan pertanyaan-pertanyaan ycng tertutup (hipotesis kuantitatif) dan yang terbuka (hipotesis kualitatif). Padahal, gradasi perbedaan antar keduanya sebenamya terletak pada asumsi filosofis dasar yang dibawa oleh peneliti ke dalam penetitiannya, jenis-jenis strategi penelitian yang digunakan peneliti sepanjang penelitiannya (seperti,strategi eksperimen kuantitatif atau strategi studi lapangan kualitatif), dari metode-metode spesifk yang diterapkan peneliti untuk melaksanakan strategi-strategi ini (seperti, pengumpulan data secara kuantitatif dalam bentuk instrumen versus Pengumpulan data secara kualitatif melalui observasi lapangan). Lagi pula, ada perkembangan historis yang dapat membedakan kedua pendekatan tersebut. Misalnya saja, pendekatan kuantitatif banyak mendominasi bentuk-bentuk penelitian dalam ilmu-ilmu sosial sejak awal abad XIX hingga pertengahan abad XX. Namun, sejak awal pertengahan abad XX, muncul minat yang tinggi terhadap penelitian kualitatif, dan bersamaan dengan itu berkembang pula penelitian metode campuran (lihat Creswell, 2008, untuk sejarah

yang lebih lengkap). Latar belakang historis ini setidak-tidaknya dapat dijadikan salah satu landasan untuk mencari definisi "rigid" atas tiga istilah kunci tersebut, yang untuk selanjutnya akan digunakan dalam buku ini: Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengekplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-uPaya penting, sepei'ti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumPulkan data yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema umum, dan menafsirkan makna data. Laporan akhir untuk penelitian ini memiliki struktur atau kerangka yang fleksibel. Siapa pun yang terlibat dalam bentuk penelitian ini harus menerapkan cara pandang penelitian yang bergaya induktif, berfokus terhadap makna individual, dan menerjemahkan kompleksitas suatu persoalan (diadaptasi dari Creswell,2007). Penelitian kuantitatif merupakan metode-metode untuk menguji teori-teori tertentu dengan cara meneliti hubungan antarvariabel. Variabel-variabel ini diukur -biasanya dmgan instrumen-instrumen penelitian- sehingga data yang terdiri dari angka-angka dapat dianalisis berdasarkan prosedur-prosedur statistik. Laporan akhir untuk penelitian ini pada umumnya memiliki struktur yang ketat dan konsisten mulai dari pendahuluan, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan. (Creswell,2008). Seperti halnya para peneliti kualitatif, siapa pun yang terlibat di dalam penelitian kuantitatif juga perlu rnemiliki asumsi-asumsi untuk menguji teori secara deduktif, mencegah munculnya bias-bias, mengontrol penjelasan-penjelasan alternatif, dan mampu menggeneralisasi dan menerapkan kembali penemuan-penemuannya. Penelitian metode campuran merupakan pendekatan penelitian yang mengombinasikan atau mengasosiasikan bentuk kualitatif dan bentuk kuantitatif. Pendekatan ini melibatkan asumsi-asumsi filosofis., aplikasi pendekatan-pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dan pencampuran (mixing) kedua pendekatan tersebut dalam satu penelitian. Pendekatan ini lebih kompleks dari sekadar mengumpulkan dan menganalisis dua jenis data; ia juga melibatkan fungsi dari dua pendekatan penelitian tersebut secara kolektif sehingga kekuatan penelitian ini secara keseluruhan lebih besar ketimbang penelitian kualitatif dan kuantiiatif (Creswell & Plano Clark, 2007). Seperti yang kita lihat, masing-masing definisi di atas memiliki titik tekannya tersendiri. Untuk itulah, dalam buku ini, saya akan menjelaskan tiga definisi tersebut secara detail agar Anda bisa mengetahui masing-masing maknanya dengan jelas. TIGA KOMPONEN PENTING DALAM RANCANGAN PENELITIAN Ada dua titik tekan dalam setiap definisi tadi yaitu: bahwa suatu pendekatan penelitian selalu melibatkan asumsi-asumsi filosofis dan metode-metode atau prosedur-prosedur yang berbeda-beda. Rancangan penelitian, yang saya sebut sebagai rencana atau propasal untuk melaksanakan penetitian, melibatkan relasi antara asumsi-asumsi filosofis, strategi-strategi

penelitian dan metode-metode tertentu. Kerangka kerja yang saya gunakan untuk menjelaskan pertemuan antara tiga komponen ini dapat dilihat pada Gambar 1.1. Secara detail, dalam merencanakan penelitian, para peneliti perlu memPertimbangkan tiga komponen penting, yaitu: (1) asumsi-asumsi pandangan-dunia (worldview) filosofis yang mereka bawa ke dalam penelitiannya, (2) strategi penelitian yang berhubungan dengan asumsi-asumsi tersebut, dan (3) metode-metode atau prosedur-prosedur spesifik yang dapat menerjemahkan strategi tersebut ke dalam Praktik nyata. Beberapa Pandangan-Dunia Filosofis Meskipun sebagian besar gagasan filosofis tersembunyi dalam sebuah penelitian (Slife & William, 1995), gagasan-gagasan tersebut tetap mempengaruhi praktik penelitian dan perlu diidentifikasi. Saya merekomendasikan agar siapa pun yang tengah mempersiapkan proposal atau rencana penelitian seyogianya memperjelas gagasan-gagasan filosofis yang mereka ekspos. Penjelasan ini tentu akan mencerminkan alasan mengaPa mereka perlu memilih- pendekatan kuaiitatif, kuantitatif, atau metode camPuran untuk penelitian mereka. Dalam menjelaskan pandangan-dunia filosofis, peneliti setidak-tidaknya perlu menyertakan dalam proposalnya satu bagian khusus yang membahas sejumlah hal berikut: Beberapa PandanganDunia Filosofis Post-Positivis Konstruksi Sosial Advokasi/partisipatoris Pragmatis Strategi-Strategi Penelitian Strategi-Strategi Kualitatif (seperti, ethnografi) Strategi-Strategi Kuantitatif (seperti, eksperimen) Strategi-Strategi Metode Campuran (seperti, sekuensial) RancanganRancangan Penelitian Kualitatif Kuantitatif Metode Campuran

Metode-metode Campuran Pertanyaan-pertanyaan Pengumpulan data Analisis data Interpretasi Laporan tertulis Validasi
Gambar 1.1 Kerangka Kerja Rancangan Penelitian Relasi antara Pandangan Dunia, StartegiStrategi Penelitian, dan Metode-Metode Penelitian

Pandangan dunia filosofis yang diusulkan dalam penelitian. Pertimbangan-Pertimbangan dasar mengapa pandangan-dunia tersebut digunakan Bagaimana pandangan-dunia itu membentuk pendekatan penelitian.

Saya lebih memilih menggunakan istilah pandangan-dunia (worldviews) karena memiliki arti kepercayaan dasar yang memandu tindakan (Guba, 1990: 17). Peneliti lain lebih suka menyebutnya paradigma (Lincoln & Guba, 2000; Mertens, 1998); epistemologi dan ontologi (Crotty, 1998), atau metodologi penelitian yang telah diterima secara luas (Neuman, 2000). Saya memandang pandangan-dunia sebagai orientasi umum terhadap dunia dan sifat penelitian yang dipegang kukuh oleh peneliti. Pandangan-dunia ini sering kali dipengaruhi oleh bidang keilmuan yang menjadi konsentrasi mahasiswa,kepercayaan para pembimbin dan pihak fakultas terhadap bidang tersebut, dan pengalaman-pengalaman penelitian sebelumnya. Unikny pandangan dunia yang dipegang kukuh oleh para peneliti tidak jarang merangkul secara kolektif pendekatan kualitatif, kuantitafrf, dan metode campuran dalam penelitian mereka. Ada empat pandangan dunia yang akan dibahas kali ini: post-positivisme, konstruktivisme, advokasi/partisipatoris, dan pragmatisme. Elemen-elemen penting dalam setiap pandangan dunia ini dapat dilihat dalam Tabel 1.1. Tabel 1.1 Empat Pandangan-Dunia Post-positivisme Determinasi Reduksionisme Observasi dan Pengujian empiris Verifikasi teori Advokasi/Partisipatoris Bersifat politis Berorientasi pada isu pemberdayaan Kolaboratif Berorientasi pada perubahan Konstruktivisme Pemahaman Makna yang beragarn dari partisipan Konstruksisosiai dan historis Penciptaan teori Pragmatisme Efek-efek tindakan Berpusat Pada masalah Bersifat Pluralistik Berorientasi pada praktik dunia-nyata

Pandangan-Dunia Post-positivisme Asumsi-asumsi post-positivis merepresentasikan bentuk tradisional penelitian, yang kebenarannya lebih sering disematkan untuk penelitian kuantitatif ketimbang penelitian kualitatif. Pandangan-dunia ini terkadang disebut sebagai metode saintifik atau penelitian sains. Ada pula yang menyebutnya sebagai penelitian positivis/post-positivis, sains empiris, dan postpositivisme. Istilah terakhir disebut post-positivisme karena ia merepresentasikan pemikiran post-positivisme, yang menentang gagasan tradisional tentang kebenaran absolut ilmu

pengetahuan (Phillips & Burbules, 2000), dan mengakui bahwa kita tidak bisa terus menjadi "orang yang yakin/positif" pada klaim-klaim kita tentang pengetahuan ketika kita mengkaji perilaku dan tindakan manusia. Dalam perkembangan historisnya, tradisi post-positivis ini lahir dari penulis-penulis abad XIX, seperti Comte, Mill, Dukheim, Newton, dan Locke (Smith, 1983), dan belakangan dikembangkan lebih lanjut oleh penulis-penulis seperti Phillips dan Burbules (2000). Kaum Post-positivis mempertahankan filsafat deterministik bahwa sebab-sebab (faktorfakior kausatif) sangat mungkin menentukan akibat atau hasil akhir. Untuk itulah, problemproblem yang dikaji oleh kaum post-positivis mencerminkan adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab y ang memengaruhi hasil akhir, sebagaimana yang banyak kita jumpai dalam penelitian eksperimen kuantitatif. Filsafat kaum post-positivis juga cenderung reduksionistis yang orientasinya adalah mereduksi gagasan-gagasan besar menjadi gagasan-gagasan terpisah yang lebih kecil untuk diuji lebih lanjut, seperti halnya variabelvariabel yang umumnya terdiri dari sejumlah rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Pengetahuan yang berkembang melalui kacamata kaum post-positivis selalu didasarkan pada observasi dan pengujian yang sangat cermat terhadap realitas objektif yang muncul di dunia "luar sana." Untuk itulah, melakukan observasi dan meneliti perilaku individu-individu dengan berlandaskan pada ukuran angka-angka dianggap sebagai aktivitas yang amat penting bagi kaum post-positivis. Akibatnya, muncul hukum-hukum atau teori-teori yang mengatur dunia, yang menuntut adanya pengujian dan verifikasi atas kebenaran teori-teori tersebut. agar dunia ini dapat dipahami oleh manusia. Untuk itulah, dalam metode saintifik,salah satu pendekatan penelitian "yang telah disepakati" oleh kaum post-positivis, seorang peneliti harus mengawali penelitiannya dengan menguji teori tertentu, lalu mengumpulkan data baik yang mendukung maupun yang membantah teori tersebut, baru kemudian membuat perbaikan-perbaikan lanjutan sebelum dilakukan pengujian ulang. Membaca buku Phillips dan Burbules (2000), kita akan menemukan sejumlah asumsi dasar yang menjadi inti dalam paradigma penelitian post-positivis, antara lain: 1. Pengetahuan bersifat konjektural/terkaan (dan antifondasional/ddak berlandasan apa pun) bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan kebenaran absolut. untuk itulah, bukti yang dibangun dalam penelitian sering kali lemah dan tidak sempurna. Karena alasan ini pula, banyak peneliti yang berujar bahwa mereka tidak dapat membuktikan hipotesisnya; bahkan, tak jarang rnereka juga gagal untuk menyangkal hipotesisnya. 2. Penelitian merupakan proses membuat klaim-klaim, kemudian menyaring sebagian klaim tersebut meniadi "klaim-klaim lain" yang kebenarannya jauh lebih kuat. sebagian besar penelitian kuantitatif, rnisalnya, selalu diawali dengan pengujian atas suatu teori. 3. Pengetahuan dibentuk oleh data, bukti, dan Pertimbang-pertimbangan logis. Dalam praktiknya, peneliti mengumpulkan informasi dengan menggunakan instrumen-instrumen Pengukuran tertentu yang diisi oleh para partisipan atau dengan melakukan observasi mendalam di lokasi penelitian.

4. Penelitian harus mampu mengembangkan statemen-statemen yang relevan dan benar, statemen-statemen yang dapat menjelaskan situasi yang sebenarnya atau dapat mendeskripsikan relasi kausalitas dari suatu persoalan. Dalam penelitian kuantitatif, peneliti membuat relasi antarvariabel dan mengemukakannya dalam bentuk pertanyaan dan hipotesis' 5. Aspek terpenting dalam penelitian adalah sikap objektif; para peneliti harus menguji kembali metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan yang sekiranya mengandung bias. untuk ituiah, dalam penelitian kuantitatif, standar validitas dan reliabilitas. menjadi dua ispek penting yang wajib dipertimbangkan oleh peneliti. Pandangan-Dunia Konstruktivisme Sosial Kelompok lain memiliki pandangan dunia yang berbeda. Salah satunya adalah pandangan-dunia konstruktivisme sosial (yang sering kali dikombinasikan dengan interpretivisme) (lihat Merters, 1998). Pandangan-dunia ini biasanya dipandang sebagai suatu pendekatan dalam penelitian kualitatif. Gagasan konstruktivisme sosial berasal dari Mannheim dan buku-buku seperti The Social Construction of Reality-nya Berger dan Luekmann (1967) dan Naturalistic Inquiry-nya Lincoln dan Guba (1985). Dewasa ini, penulis-penulis yang getol mengkaji paradigma konstruktivisme sosial antara lain Lincoln dan Guba (2000), Schwandt (2007, Neuman (2000), dannCrotty (1998). Konstruktivisme sosial meneguhkan asumsi bahwa individu-individu selalu berusaha memahami dunia di mana mereka hidup dan bekerja. Mereka mengembangkan makna-makna subjektif atas pengalaman-pengalaman mereka -makna-makna yang diarahkan pada objek-objek atau benda-benda tertentu. Makna-makna ini pun cukup banyak dan beragam sehingga peneliti dituntut untuk lebih mencari kompleksitas pandangan-pandangan ketimbang mempersempit makna-makna meniadi sejumlah kategori dan gagasan. Peneliti berusaha mengandalkan sebanyak mungkin pandangan partisipan tentang situasi yang tengah diteliti. Untuk mengeksplorasi pandangan-pandangan ini, pertanyaan-pertanyaan pun perlu diajukan. Pertayaanpertanyaan ini bisa jadi sangat luas dan umum sehingga partisipan dapat mengkonstruksi makna atas situasi tersebut, yang biasanya tidak asli atau tidak dipakai dalam interaksi dengan orang lain. Semakin terbuka pertanyaan tersebut tentu akan sernakin baik, agar peneliti bisa mendengarkan dengan cermat apa yang dibicarakan dan dilakukan partisipan dalam kehidupan mereka. Makna-makna subjektif ini sering kali dinegosiasi secara sosial dan historis. Maknamakna ini tidak sekadar dicetak untuk kemudian dibagikan kepada indiviciu-individu, tetapi harus dibuat melalui interaksi dengan mereka (karena itulah dinamakan konstruktivisme sosial) dan melalui norma-norma historis dan sosial yang berlaku dalam kehidupan mereka sehari-hari. Makna-makna itu juga harus ditekankan pada kontekster tentu dimana individu-individu ini tinggal dan kerjia agar peneliti dapat memahami latar belakang historis dan kultural mereka. Para peneliti iuga perlu menyadari bahwa latar belakang dapat mempengaruhi, penafsiran mereka terhadap hasil penelitian. Untuk itulah ketika melakukan penelitian,mereka harus memosisikan diri mereka sedemikian rupa seraya mengakui dengan rendah hati bahwa interpretasi mereka tidak pernah lepas dari pengalaman pribadi, kultural, dan historis mereka

sendiri. Dalam konteks konnstruktivisme, peneliti memiliki tujuan utama, yakni berusaha memaknai (atau menafsirkan) makna-makna yang dimiliki orang lain tentang dunia ini. Ketimbang mengawali penelitiannya dengan suatu teori (seperti dalam post-positivisme), peneliti sebaiknya membuat atau mengembangkan suatu teori atau pola makna tertentu secara induktif. Terkait dengan konstruktivisme ini, Crotty(1995) memperkenalkan sejumlah asumsi: 1. Makna-makna dikonstruksi oleh manusia agar mereka bisa tertibat dengan dunia yang tengah mereka tafsirkan. Para peneliti kualititif cenderung menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka agar partisipan dapat mengungkapkan pandangan-pandangannya. 2. Manusia senantiasa terlibat dengan dunia mereka dan berusaha memahaminya berdasarkan perspektif historis dan sosial mereka sendiri kita semua dilahirkan ke dunia makna (world of meaning) yang dianugerahkan oleh kebudayaan di sekeliling kita. Untut itulah, para peneliti kualitatif harus memahami konteks atau latar belakang partisipan mereka dengan cara mengunjungi konteks tersebut dan mengumpulkan sendiri informasi yang dibutuhkan. Mereka juga harus menafsirkan apa yang mereka cari: sebuah penafsiran yang dibentuk oleh pengalaman dan latar belakang mereka sendiri. 3. Yang menciptakan makna pada dasarnya adalah lingkungan sosial, yang muncul di dalam dan di luar interaksi dengan komunitas manusia. Proses penelitian kualitatif bersifat induktif di mana di dalamnya peneliti menciptakan makna dari data-data lapangan yang dikumpulkan. Pandangan-Dunia Advohasi dan Partisipatoris Terdapat kelompok lain yang memiliki asumsi-asumsi filosofis berdasarkan pada pendekatan advokasi/partisipatoris. Pendekatan ini muncul sejak 1980-an hingga 1990-an dari sejumlah kalangan yang merasa bahwa asumsi-asumsi post-positivis telah rnembebankan hukum-hukum dan teori-teori struktural yang sering kali tidak sesuai dengan/tidak menyertakan individu-individu yang terpinggirkan dalam masyarakat kita atau isu-isu keadilan sosial yang memang perlu dimunculkan. Pandangan-dunia ini tampaknya memang cocok dengan penelitian kualitatif, namun ia juga bisa menjadi dasar untuk penelitian kuantitatif . Dalam sejarahnya, pembahasan tentang advokasi/partisipatoris (atau emansipatoris) dapat kita jumpai dalam kajian-kajian yang dilakukan oleh penulis-penulis seperti Marx, Adorno, Marcuse, Habermas, dan Freire (Neuman, 2000). Adapun Fay (1987), Heron dan Reason (1997, serta Kemmis dan Wilkinson (1998) merupakan sederet penulis masa kini yang aktif mengkaji perspektif advokasi dan partisipatoris ini. Yang ielas, mereka semua merasa bahwa sikap konstruktivis tidak memadai dalam menganjurkan (mengadvokasi) program aksi untuk membantu orang-orang yang termarjinalkan. Pandangan-dunia advokasi/partisipatoris berasumsi bahwa penelitian harus dihubungkan dengan politik dan agenda politis. Untuk itulah, penelitian ini pada umumnya memiiiki agenda aksi demi reformasi yang diharapkan dapat mengubah kehidupan para partisipan, institusi-institusi di mana mereka hidup dan bekerja, dan kehidupan para peneliti sendiri. Di samping itu, pandangan-dunia ini menyutakan bahwa ada isu-isu tertentu yang perlu mendapat perhatian lebih, utamanya isu-isu menyangkut kehidupan sosial dewasa ini, seperti

pemberdayaan, ketidakadilan, penindasan, penguasaan, ketertindasan, dan pengasingan. Peneliti dapat mengawali penelitian mereka dengan salah satu dari isu-isu ini sebagai fokus penelitiannya. Dalam penelitian ini, para peneliti harus bertindak secara kolaboratif agar nantinya tidak ada partisipan yang terpinggirkan dalam hasil penelitian mereka. Bahkan, para partisipan dapat membantu merancang pertanyaan-pertanyaan, mengumpulkan data, menganalisis informasi, atau mencari hibah-hibah penelitian. Penelitian advokasi menyediakan sarana bagi partisipan untuk menyuarakan pendapat dari hak-hak mereka yang selama ini tergadaikan. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mereka akan realitas sosial yang sebenarnya atau dapat mengusulkan suatu agenda perubahan demi memperbaiki kehidupan mereka sendiri. Tentu saja, kondisi ini akan mendorong lahirnya satu suara yang bersatu demi reformasi dan perubahan. Pandangan-dunia filosofis advokasi/partisipatoris fokus pada kebutuhan-kebutuhan suatu kelompok atau individu tertentu yang mungkin termarginalkan secara sosial. Untuk itulah, tidak menutup kemungkinan diintegrasikannya pandangan-dunia ini dengan perspektif-perspektif teoretis lain yang mengkonstruksi suatu gambaran tentang isu-isu/masalah-masalah yang hendak diteliti, orang-orang yang diselidiki, dan perubahan-perubahan yang diinginkan, seperti perspektif feminis, diskursus rasialisme, teori kritis, teori queer, dant eori disability sejumlah perspektif teoretis ini akan dibahas lebih rinci pada Bab 3. Meskipun penjelasan saya sejak tadi cenderung bersifat generalisasi terhadap kelornpokkelompok yang termarginalkan, setidak-tidaknya kita perlu membaca ringkasan Kemmis dan Wilkinson (1995) tentang karakteristik-karakteristik inti dari penelitian advokasi atau partisipatoris: 1. Tindakan partisipatoris bersikap dialektis dan difokuskan untuk membawa perubahan. Untuk itulah, pada akhir penelitian advokasi /partisipatoris, para peneliti harus memunculkan agenda aksi demi reformasi dan perubahan. 2. Penelitian ini ditekankan untuk membantu individu-individu agar bebas dari kendala-kendala yang muncul dari media, bahasa, aturan-aturan kerja, dan relasi kekuasaan dalam ranah pendidikan. Penelitian advokasi/partisipatoris sering kali dimulai dengan satu isu penting atau sikap tertentu terhadap masalah-masalah sosial, seperti pemberdayaan. 3. Penelitian ini bersifat emansipatoris yang berarti bahwa penelitian ini membantu membebaskan manusia dari ketidakadilan-ketidakadilan yang dapat membatasi perkembangan dan determinasi diri. Penelitian advokasi/partisipatoris bertujuan untuk menciptakan perdebatan dan diskusi politis untuk menciptakan perubahan. 4. Penelitian ini juga bersifat praktis dan kolaboratif karena ia hanya dapat sempurna jika dikolaborasikan dengan penelitian-penelitian lain, dan bukan menyempurnakan penelitianpenelitian yang lain. Dengan spirit inilah para peneliti advokasi/partisipatoris melibatkan para partisipan sebagai kolaborator aktif dalam penelitian mereka.

Pandangan Dunia Pragmatik Prinsip lain berasal dari kelompok pragmatis. Pragmatisme ini berawal dari kajian Peirce, james, Mead, dan Dewey (Cherryholmes, 1992). Penulis-penulis kontemporer yang termasuk dalam kelompok ini antara lain Rorty (1990), Murphy (1990), Patton (1990), dan Cherryholmes (1992). Paradigma filosofis yang satu ini memiliki banyak bentuk, tetapi pada umumnya Pragmatisme sebagai pandangan-dunia lahir dari tindakan-tindakan, situasi-situasi, dan konsekuensi-konsekuensi yang sudah ada, dan bukan dari kondisi-kondisi sebelumnya (seperti dalam post-positivisme). Pandangan-dunia ini berpijak pada aplikasi-aplikasi dan solusi-solusi atas problem-problem yang ada (Patton, 1990). Ketimbang berfokus pada metode-metode, para peneliti pragmatik lebih menekankan pada pemecahan masalah dan menggunakan semua pendekatan yang ada untuk memahami rnasalah tersebut (lihat Rossman & Wilson, 1985). Sebagai salah satu paradigma filosofis untuk penelitian metode campuran, Tashakkori dan Teddlie (1998), Morgan (2007), dan Patton (1990) menekankan pentingnya paradigma pragmatik ini bagi para peneliti metode campuran, yang pada umumnya harus berfokus pada masalah-masalah penelitian dalam ilmu sosial humaniora, kemudian menggunakan pendekatan yang beragam untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam tentang problem-problem tersebut. Berdasarkan kajian Cherryholmes (1992), Morgan (2007), dan pandangan saya pribadi, pragmatisme pada hakikatnya merupakan dasar filosofis untuk setiap bentuk penelitian, khususnya penelitian metode campuran: 1. Pragmatisme tidak hanya diterapkan untuk satu sistem filsafat atau realitas saja. Pragmatisme dapat digunakan untuk penelitian metode campuran yang di dalamnya para peneliti bisa dengan bebas melibatkan asumsi-asumsi kuantitatif dan kualitatif ketika mereka terlibat dalam sebuah penelitian. 2. Setiap peneliti memiliki kebebasan memilih. Dalam hal ini, mereka bebas untuk memilih metode-metode, teknik-teknik, dan prosedur-prosedur peneIitian yang dianggap terbaik untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan mereka. 3. Kaum pragmatis tidak melihat dunia sebagai kesatuan yang mutlak. Artinya, para peneliti metode campuran dapat menerapkan berbagai pendekatan dalam mengumpulkan dan menganaIisis data ketimbang hanya menggunakan satu pendekatan saja (jika tidak kuantitatif, selalu kualitatif). 4. Kebenaran adalah apa yang teriadi pada saat itu. Kebenaran tidak didasarkan pada dualitas antara kenyataan yang berada di luar pikiran dan kenyataan yang ada dalam pikiran. Untuk itulah, dalam peneiitian metode campuran, para peneliti menggunakan data kuantatif dan kualitatif karena mereka meneliti untuk memiliki pemahaman yang baik terhadap masalah penelitian. 5. Para peneliti pragmatis selalu melihat apa dan bagaimana meneliti, seraya mengetahui apa saja akibat-akibat yang akan mereka terima kapan dan dimana mereka harus menjalankan penelitian tersebut. Untuk itulah, para peneliti metode campuran pada umumnya selalu memiliki tujuan atas pencampuran (mixing) ini, sejenis alasan mengapa data kuantitatif dan kualitatif harus dicampur menjadi satu.

6. Kaum pragmatis setuju bahwa penelitian selalu muncul dalam konteks sosial, historis, politis, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, penelitian metode campuran bisa saja beralih pada paradigma post-modern, suatu pandangan teoretis yang reflektif terhadap keadilan sosial dan tujuan-tujuan politis. 7. Kaum pragmatis percaya akan dunia eksternal yang berada di luar pikiran sebagaimana yang berada di dalam pikiran manusia. Mereka juga percaya bahwa kita harus berhenti bertanya tentang realitas dan hukum-hukum alam (Cherryholmes, 1992). Bahkan, "mereka sepertinya ingin mengubah subjek" (Rorty, 1983: xiv). 8. Untuk itulah, bagi para peneliti metode campuran, pragmatisme dapat membuka pintu untuk menerapkan metode-metode yang beragam, pandangan-dunia yang berbeda-beda, dan asumsi-asumsi yang bervariasi, serta bentuk-bentuk yang berbeda dalam pengumpulan dan analisis data. Strategi-Strategi Penelitian Para peneliti hendaknya jangan hanya memilih penelitian kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran untuk diterapkan; mereka juga harus menentukan jenis penelitian dalam tiga pilihan tersebut. Strategi-strategi penelitian merupakan jenis-jenis rancangan peneIitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran yang menetapkan prosedur-prosedur khusus dalam penelitian. Beberapa orang menyebut strategi penelitian dengan istilah pendekatan peneiitian (Creswell, 2007) atau metodologi penelitian (Mertens, 1998). Strategi-strategi yang tersedia bagi peneliti sebenamya sudah muncul bertahun-tahun lalu saat teknologi komputer telah mempercepat aktivitas kita dalam menganalisis data-data yang rurnit. Strategi-strategi tersebut hadir ketika manusia sudah mampu mengartikulasikan prosedurprosedur baru dalam melakukan penelitian ilmu sosial. Pilihlah salah satu dari strategi-strategi penelitian yang sering kali digunakan dalam ilmu sosial, seperti yang akan saya jelaskan dalam Bab 8, 9, dan10. Di sini, saya hanya akan memperkenalkan strategi-strategi ini yang nantinya akan dijelaskan lebih rinci lengkap dengan contoh-contohnya di sepanjang buku ini. Ringkasan strategi-strategi tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1.2. Tabel 1.2 Strategl-Strategi Penetitian Alternatif Kuantitatif Kualitatif Rancangan-rancangan Penelitian naratif eksperimen Fenomenologi Rancangan-racangan Etnografi non-eksperimen, seperti Grounded theory metode survei Studi kasus

Metode Campuran Sekuensial Konkuren Transformatif

Strategi-strategi Kuantitatif Selama akhir abad XIX dan awal abad XX, strategi-strategi penelitian yang berkaitan dengan rancangan kuantitatif selalu meIibatkan pandangan-dunia post-positivis. Strategi-strategi ini meliputi eksperimeh-eksperimen nyata, eksperimen-eksperimen yang kurang rigid yang sering disebut dengan kuasi-eksperimen dan penelitian korelasional (Campbell & Stanley, 1963), dan eksperimen-eksperimen single-subject (Cooper, Heron, & Heward, 1987; Neuman & McCormick,1995). Namun, dewasa ini, strategi-strategi kuantitatif sudah melibatkan eksperimen-eksperimen yang lebih kompleks dengan semua variabei dan treatment-nya (seperti rancangan faktorial dan rancangan repeated measure). Strategi-strategi kuantitatif juga meliputi model-model persamaan struktural yang sedikit rumit, yang biasanya menyertakan metode-metode kausalitas dan identifikasi kekuatan variabel-variabel ganda. Dalam buku ini, saya hanya fokus pada dua strategi penelitian kuantitatif, yakni survei dan eksperimen. Penelitian survei berusaha memaparkan secara kuantitatif kecenderungan, sikap, atau opini dari suatu populasi tertentu dengan meneliti satu sampel dari populasi tersebut. Penelitian ini meliputi studi-studi cross-sectional dan longitudinal yang menggunakan kuesioner atau wawancara terencana dalam pengumpulan data, dengan tujuan untuk menggeneralisasi populasi berdasarkan sampel yang sudah ditentukan (Babbie, 1990). Penelitian eksperimen berusaha menentukan apakah suatu treatment memengaruhi hasil sebuah penelitian. Pengaruh ini dinilai dengan cara menerapkan treatment tertentu pada satu kelompok (sering disebut kelompok treatment, penj.) dan tidak menerapkannya pada kelompok yang lain (sering disebut kelompok kontrol, Penj.), Ialu menentukan bagaimana dua kelompok tersebut menentukan hasil akhir. Penelitian ini mencakup eksperimen-aktual dengan penugasan acak (random assignmenf) atas subjek-subjek yang di-treatment dalam kondisi-kondisi tertentu, dan kuasi-eksperimen dengan prosedur-prosedur non-acak (Keepel 1991). Termasuk dalam kuasi-eksperimen adalah rancangan single-subiect. Strategi-Strategi Kualitatif Untuk penelitian kualitatif, strategi-strateginya sudah mulai bermunculan sepanjang tahun 1990-an dan memasuki abad XX. Tidak sedikit buku yang telah membahas strategi kualitatif ini (seperti 19 strategi yang diperkenalkan oleh Wolcott, 2001). Bahkan, pendekatanpendekatan di dalam penelitian kualitatif tertentu sudah memiliki prosedur-prosedur yang lengkap dan jelas. Misalnya, Clandinin dan Connelly (2000) telah membuat deskripsi komprehensif tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang peneliti naratif. Moustakas (1994) juga telah membahas doktrin-doktrin filosofis dan prosedur-prosedur dalam metode fenomenologi, sedangkan Strauss dan Corbin (1990,1998) memperkenalkan prosedur-prosedur untuk peneliti grounded theory. Wolcott (1999) menjabarkan prosedur-prosedur etnografis, dan Stake (1995) merekomendasikan sejumlah proses yang harus dilakukan dalam penelitian studi kasus.

Dalam buku ini, saya sudah menyajikan ilustrasi-ilustrasi berdasarkan strategi-strategi di atas, sekaligus memperkenalkan bahwa pendekatan-pendekatan seperti penelitian partisipatoris (Kemmis & Wilkinson, 1998), analisis wacana (Cheek,2004), dan pendekatan-pendekatan lain yang tidak disebutkan (lihat Creswell, 2007b) juga dapat menjadi cara-cara yang memadai di dalam melakukan penelitian kualitatif: Etnografi merupakan salah satu strategi penelitian kualitatif yang di dalamnya peneliti menyelidiki suatu kelompok kebudayaan di lingkungan yang alamiah dalam periode waktu yang cukup lama dalam dalam pengumpulan data utama, data observasi, dan data wawancara (creswell, 2007b). Proses penelitiannya fleksibel dan biasanya berkembang sesuai kondisi dalam merespons kenyataan-kenyataan hidup yang dijumpai di lapangan (LeCompte & Schensul, 1999). Grounded theory nterupakan strategi penelitian yang di dalamnya peneliti "memproduksi" teori umum dan abstrak dari suatu proses, aksi, atau interaksi tertentu yang berasal dari pandangan-pandangan partisipan. Rancangan ini mengharuskan peneliti untuk menjalani sejumlah tahap pengumpulan data dan penyaringan kategori-kategori atas informasi yang diperoleh (Charmaz, 2006; Strauss dan Corbin, 1990, 1998). Rancangan ini memiliki dua karakteristik utama, yaitu: (1) perbandingan yang konstan antara data dan kategori-kategori yang muncul dan (2) pengambilan contoh secara teoretis (teoretical sampling) atas kelompok-kelompok yang berbeda untuk memaksimalkan kesamaan dan perbedaan informasi. Studi kasus merupakan strategi penelitian dimana didalamnya peneliti menyeliki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses, atau sekelompok individu. Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti mengumpulkan informasi secara lengkap dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data berdasarkan waktu yang telah ditentukan (Stake, 1995). Fenomenologi merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang suatu fenomena tertentu. Memahami pengalamanpengalaman hidup manusia menjadikan filsafat fenomenologi sebagai suatu metode penelitian yang prosedur-prosedurnya mengharuskan peneliti untuk mengkaji sejumlah subjek dengan terlibat secara langsung dan relatif lama di dalamnya untuk mengembangkan pola-pola dan relasi-relasi makna (Moustakas, 1994). Dalam Proses ini, peneliti mengesampingkan terlebih dahulu pengalaman-pengalaman pribadinya agar ia dapat memahami pengalaman-pengalaman partisipan yang ia teiiti (Nieswiadomy,1993). Naratif merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti menyelidiki kehidupan individu-individu dan meminta seorang atau sekolompok individu untuk menceritakan kehidupan mereka. Informasi ini kemudian diceritakan kembali oleh peneliti dalam kronologi naratif. Di akhir tahap penelitian, peneliti harus menggabungkan dengan gaya naratif pandangan-pandangannya tentang kehidupan partisipan dengan pandangan-pandangannya tentang kehidupan peneliti sendiri (Clandinin & Connelly,2000).

Strategi-Strategi Metode Campuran Strategi-strategi metode campuran sebenamya kurang populer dibanding dua strategi sebelumnya (kuantitatif dan kualitatif). Konsep untuk "mencampur metode-metode yang berbeda" ini pada hakikatnya muncul pada 1959 ketika Campbell dan Fisk menggunakan metode-jamak (multimethods) dalam meneliti kebenaran watak-watak psikologis. Mereka kemudian mendorong orang lain menggunakan matriks metode-jamak mereka untuk menguji kemungkinan digunakannya pendekatan-jamak (muttiple approaches) dalam pengumpulan data penelitian. Berawal dari inilah, banyak orang yang kemudian mencampur metode-metode sekaligus pendekatan-pendekatan yang berhubungan dengan metode-metode tersebut, misalnya, mereka menggabungkan metode observasi dan wawancara (data kualitatif) dengan metode survei tradisional (data kuantitatif) (Sieber, 1973). Dengan menyadari bahwa setiap metode pasti memiliki kekurangan dan keterbatasan, para peneliti metode campuran pun akhirnya meyakini bahwa bias-bias yang muncul dalam satu metode dapat menetralisasi atau menghilangkan bias-bias dalam metode metode yang lain. Triangulasi sumber-sumber data (triangulasi of data resourcers) suatu metode dalam mencari konvergensi antara metode kualitatif dan metode kuantitatifpun muncul (Jick, 1979). Pada awal 1990-an, gagasan "pencampuran" (mixing) ini mulai beralih dari yang awalnya hanya berusaha mencari-cari konvergensi menuju usaha penggabungan yang sebenarnya antara data kuantitatif dan data kualitatif. Misalnya, hasil-hasil dari satu metode dapat membantu metode yang lain, utamanya dalam mengidentifikasi para partisipan yang diteliti atau pertanyaanpertanyaan yang diajukan (Thashakkori & Teddlie, 1998). Selain itu, data kualitatif dan kuantitatif dapat disatukan menjadi satu database besar yang bisa digunakan secara berdampingan untuk memperkuat satu sama lain (misalnya, kuota kualitatif dapat mendukung hasi-hasil statistik)(Creswell & Plano Clark, 2007). Jika tidak, kombinasi dua metode tersebut dapat diterapkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang luas dan transformatif, misalnya, dalam mengadvokasi kelompok-kelompok marginal, seperti perempuan, minoritas etnik/ras, komunitas gay dan lesbian, orang-orang difabel, dan mereka yang miskin/lemah (Mertens' 2003). Dimungkinkannya sejumlah metode dicampur "jadi satu" telah rnenuntun para pakar untuk mengembangkan prosedur-prosedur penelitian berdasarkan metode campuran. Hingga saat ini, istilah-istilah untuk menyebut rancangan metode campuran pun sangat beragam, seperti multi-metode, metode konvergensi, metode terintegrasi, dan metode kombinasi (Creswell & Plano Clark, 2007), yang memiliki prosedur-prosedurnya masing-masing (Tashakkori & Teddlie, 2003) . Secara khusus, ada tiga strategi metode campuran dan sejumlah variasinya yang akan diilustrasikan dalam buku ini: Strategi metode campuran sekuensial/bertahap (sequential mixed methods) merupakan prosedur-prosedur di mana di dalamnya peneliti berusaha menggabungkan atau memperluas penemuan-penernuannya yang diperoleh dari satu metode dengan penemuan-penemuannya dari metode yang lain. Strategi ini dapat dilakukan dengan melakukan interview kualitatif terlebih dahulu untuk mendapatkan penjelasan-penjelasan yang memadai, lalu diikuti

denganmetode survei kuantitatif dengan sejumlah sampel untuk memperoleh hasil umum dari suatu populasi. Jika tidak, penelitian ini dapat dimulai dari metode kuantitatif terlebih dahulu dengan menguji suatu teori atau konsep tertentu, kemudian diikuti dengan metode kualitatif dengan mengeksplorasi sejumlah kasus dan individu. Strategi metode campuran konkuren/satu waktu (concurrent mixed metlnds) merupakan prosedur-prosedur di mana di dalamnya peneliti mempertemukan atau menyatukan data kuantitatif dan data kualitatif untuk memperoleh analisis kornprehensif atas masalah penelitian. Dalam strategi ini, peneliti mengumpulkan dua jenis data tersebut pada satu waktu, kemudian menggabungkannya menjadi satu informasi dalam interpretasi hasil keseluruhan. Jika tidak, dalam strategi ini peneliti dapat memasukkan satu jenis data yang lebih kecil ke dalam sekumpulan data yang lebih besar untuk menganalisis jenis-jenis pertanyaan yang berbeda-beda (misalnya, jika metode kualitatif diterapkan untuk melaksanakan penelitian, metode kuantitatif dapat diterapkan untuk mengetahui hasil akhir). Prosedur metode campuran transformatif (transformative mixed methods) merupakan prosedur-prosedur di mana di dalamnya peneliti menggunakan kacamata teoretis (lihat Bab 3) sebagai perspektif overaching yang di dalamnya terdiri dari data kuantitatif dan data kualitatif. Perspektif inilah yang akan menyediakan kerangka kerja untuk topik penelitian, metode-metode untuk pengumpulan data, dan hasil-hasil atau perubahan-perubahan yang diharapkan. Bahkan, perspektif ini bisa digunakan peneliti sebagai metode pengumpulan data secara sekuensial ataupun konkuren.

Metode-Metode Penelitian Komponen ketiga dalam kerangka kerja penelitian adalah metode-metode penelitian spesifik yang berkaitan dengan strategi pengumpulan, analisis, dan interpretasi data. Seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 1.3, peneliti perlu mempertimbangkan sejumlah metode pengumpulan data dan mengatumya secara sisternatis, misalnya berdasarkan level metode tersebut atas sifat objek penelitian, fungsi metode tersebut saat peneliti menggunakan pertanyaan tertutup dan terbuka, dan fokus metode tersebut pada analisis data yang numerik atau non-numerik. Metodemetode ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam Bab 8 hingga 10. Tabel 1.3 Metode Kuantitafif, Metode Campuran, dan Metode Kualitatif Metode Kuantitatif Metode Campuran Metode Kualitatif Bersifat Pre-determined (sudah ditentukan sebelumnya) Perianyaan-Pertanyaan Yang didasarkan Pada instrumen penelitian Data Performa, data sikap, data observasi, dan data sensus Bersifat Pre-determined dan berkembang dinamis Pertanyaan-pertanyaan Terbuka dan pertanyaanpertanyaan tertutup Bentuk-bentuk data berganda Yang tebuka Pada Kemungkinan Berkembang dinamis Pertanyaan-pertanyaan terbuka Data wawancara, data observasi, data dokumentasi, dan data audio-visual Analisis tekstual dan

Analisis statistik Lnterpretasi statistik

kemungkinan lain Analisis statistik dan analisis tekstual Lintas-interpretasi database

gambar Lnterpretasi tema-tema, pola-pola

Peneliti mengumpulkan data dengan bantuan instrumen atau tes (seperti, pertanyaanpertanyaan tentang harga diri) atau mengumpulan informasi dengan bantuan checklist perilaku (seperti, observasi atas seorang pekerja yang terlibat dalam keterampilan yang kompleks). Di sisi lain, pengumpulan data juga bisa melibatkan peneliti untuk mengunjungi secara langsung tempat penelitian dan mengobservasi perilaku individu-individu di dalamnya tanpa ada pertanyaan yang disediakan sebelumnya atau melakukan wawan cara secara aktif atas individu-individu tersebut agar dapat mengungkapkan gagasannya tentang topik penelitian, tanpa harus menyediakan pertanyaan-pertariyaan yang spesifik. Pemilihan metode ini pada akhirnya haruslah disesuaikan dengan maksud peneliti; apakah peneliti bermaksud untuk menggali informasi yang diinginkan atau membiarkannya muncul begitu saja dari para partisipan. Atau, apakah peneliti ingin menganalisis jenis data berupa informasi numerik yang dikumpulkan dari instrumen penelitian atau informasi teks yang dikumpulkan dari rekaman hasil pembicaraan dengan partisipan. Atau, apakah peneliti ingin menafsirkan, hasil-hasil statistik atau mereka ingin menafsirkan kecenderungan-kecenderungan atau pola-pola umum yang muncul dari data penelitian. Dalam sejumlah penelitian, data kuantitaiif dan kualitatif bisa saja dikumpulkan, dianalisis, dan ditafsirkan secara bersama-sama. Data instrumen dapat dilengkapi dengan observasi-terbuka, atau data sensus dapat diikuti dengan wawancara mendalam. Akan tetapi, dalam kasus metode campuran, peneliti membuat inferensi/kesimpulan antara data kuantitatif dan data kualitatif. RANCANGAN PENELITIAN SEBAGAI PANDANGAN-DUNIA, STRATEGI, DAN METODE Pandangan-dunia, strategi, dan metode, semuanya turut menentukan apakah suatu rancangan penelitian akan cenderung kuantitatif, kualitatif, atau campuran. Tabel 1.4 menyajikan perbedaanperbedaan yang mungkin berguna bagi para peneliti dalam memilih suatu pendekatan penelitian. Tabel ini juga menyertakan praktik-praktik dari tiga pendekatan yang akan dijelaskan secara lebih rinci dalambab-bab selanjutnya di buku ini. Berikut ini, akan digambarkan bagaimana ketiga elemen ini (pandangan-dunia, strategi, dan metode) berkombinasi dalam satu skenario penelitian:

Tabel 1.4 Pendekatan-Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Metode Campuran Pendekatan Pendekatan Pendekatan Metode Kecenderungan Kualitatif Kuantitatif Campuran Menggunakan Klaim-klaim Klaim-klaim Klaim-klaim asumsi-asumsi Pengetahuan pengetahuan Postpengetahuan filosofis ini konstruktivis/advok positivis pragmatis asi/ Partisipatoris Menerapkan Fenomenologi, Survei dan Sekuensial, strategi-strategi grounded theory, eksprimen konkuren, dan penelitian ini etnografi, studi transformatif kasus, dan naratif Menerapkan Pertanyaan Pertanyaan Pertanyaanmetode-metode ini Pertanyaan lerbuka, Pertanyaan pertanyaa pendekatanterbuka, yang terbuka dan Pendekatan yang pendekatantertutup, berkembang pendekatan yang pendekatandinamis predetermined pendekatan yang (fleksibel/emerging (sudah ditentukan berkembang ), data tekstual dan sebelumnya), data dinamis gambar berupa angka(emerging) dan angka sudah ditentukan sebelumnya (predetermined), analisis data kuantitatif dandata kualitatif Menerapkan Posisi-posisi dia Menguji atau Mengumpulkan praktik-praktik memverifikasi data kuantitatif penelitian ini teori atau dan data kualitatif Penjelasan Mengumpulkan Membuat makna dari para rasinalisasi atas Mengidentifikasi partisipan variabel-variabel dicampurnya dua yang akan diteliti data Fokus pada satu konsep atau Menghubungkan Menggabungkan fenomenon variabel-variabel data pada tahapdalam rumusan tahap penelitian Membawa nilaimasalah dan yang berbeda nilai pribadi ke hipotesis dalam penelitian Menyajikan penelitian gambaran visual Meneliti konteks tentang prosedur Menggunakan atau setting standar-standar prosedur partisipan validitas dan Menerapkan Menvalidasi akurasi reliabilitas praktik-praktik penemuan Mengobservasi kuantitatif dan penemuan dan mengukur kualitatif Menginterpretasi

data Membuat agenda perubahan atau reformasi Berkolaborasi dengan partisipan

informasi secara numerik (angkaangka) Menerapkan pendekatanpendekatan yang bebas-bias Menerapkan prosedur-prosedur statistik

Penelitian kuantitatif pandangan-dunia post-positivis, strategi penelitian eksperimen, dan metode pre- danpost-test perilaku Dalam skenario ini, peneliti kuantitatif menguji suatu teori dengan cara memerinci hipotesis-hipotesis yang spesifik, lalu mengumpulkan data-data untuk mendukung atau membantah hipotesis-hipotesis tersebut. Strategi eksperimen diterapkan untuk menilai perilakuperilaku, baik sebelum maupun sesudah proses eksperimen. Data-data dikumpulkan dengan bantuan instrumen khusus yang dirancang untuk rnenilai perilaku-perilaku, sedangkan informasiinformasi dianalisis dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik dan penguiian hipotesis. Penelitian kualitatif pandangan-dunia konstruktivis, strategi etnografis, dan metode observasi perilaku Dalam hal ini, peneliti kuatitatif berusaha membangun makna tentang suatu fenomena berdasarkan pandangan-pandangan dari para partisipan. Misalnya, peneliti menerapkan strategi etnografis dengan berusaha mengidentifikasi suatu komunitas culture-sharing, lalu meneliti bagaimana komunitas tersebut mengembangkan pola-pola perilaku yang berbeda dalam satu waktu. Salah satu metode pengumpulan data untuk strategi semacam ini adalah dengan mengobservasi perilaku para partisipan dengan cara terlibat langsung dalarn aktivitas-aktivitas mereka. Penelitian kualitatif pandangan-dunia partisipatoris, strategi naratif, dan metode wawancara terbuka Untuk penelitian yang satu ini, peneliti berusaha menyelidiki suatu isu yang berhubungan dengan marginalisasi individu-individu tertentu. Untuk meneliti isu ini, cerita-cerita dikumpulkan dari individu-individu tersebut dengan menggunakan pendekatan naratif . Individuindividu ini kemudian diwawancarai untuk mengetahui bagaimana mereka secara pribadi mengalami penindasan dan marginalisasi. Penelitian metode campuran pandangan-dunia pragmatis, strategi/metode pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif secara sekuensial Peneliti dengan metode campuran ini melakukan suatu penelitian dengan asumsi bahwa mengumpulkan berbagai jenis data yang dianggap terbaik dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang masalah yang diteliti. Penelitian ini dapat dimulai dengan survei secara luas

agar dapat dilakukan generalisasi terhadap hasil penelitian dari populasi yang telah ditentukan. Kemudian, pada tahap selanjutnya, dilakukan wawancara kualitatif secara terbuka agar dapat mengumpulkan pandangan-pandangan dari partisipan. KRITERIA DALAM MEMILIH RANCANGAN PENELITIAN Pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran memiliki kemungkinan yang sama untuk diterapkan. Lalu, faktor-faktor apa saja yang dapat memengaruhi seseorang untuk lebih memilih satu pendekatan tertentu ketimbang pendekaian lain untuk proposal penelitiannya? Selain ketiga komponen di atas (pandangan-dunia, strategi, dan metode), masalah penelitian, pengalaman-pengalaman pribadi, dan target pembaca juga perlu dipertimbangkan oleh peneliti dalam memilih rancangan penelitian yang tepat. Masalah Penelitian Masalah penelitian, yang akan dijelaskan lebih rinci pada Bab 5, haruslah masalah yang benar-benar perlu dibahas (seperti, masalah diskriminasi ras). Masalah-masalah sosial tertentu terkadang turut menentukan pendekatan penelitian yang digunakan. Misalnya, jika masalah ini mengharuskan (a) identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi hasil, (b) fungsi keterlibatan, atau (c) pemahaman prediksi hasil, pendekatan kuantitatif menjadi pilihan terbaik. Pendekatan ini juga layak diterapkan untuk menguji suatu teori atau pernyataan. Di sisi lain, jika ada suatu konsep atau fenomena yang perlu dipahami misalnya, karena sedikitnya penelitian yang membahas fenomena/konsep tersebutberarti pendekatan kualitatif dapat dipilih sebagai jalan terbaik. Pendekatan kualitatif bersifat eksploratif, dan berguna bagi peneliti-peneliti yang tidak mengetahui bagaimana menguji variabel-variabel. Jenis pendekatan ini juga bisa berguna, misalnya, karena ada topik yang baru, dan topik baru ini tidak pernah dibahas dengan sampel atau sekelompok individu tertentu; atau karena teori-teori yang ada selama ini belum diterapkan sebagai landasan untuk meneliti sampel atau sekelompok individu yang diteliti (Morse, 1991). Pendekatan metode campuran sangatlah berguna, utamanya ketika pendekatan kuantitatif atau pendekatan kualitatif dirasa tidak memadai untuk memahami masalah yang diteliti. Alhasil, keduanya pun harus digabung agar mampu memahami masalah yang tengah diteliti. Misalnya, seorang peneliti mungkin sjia ingin melakukan generalisasi terhadap penemuan-penemuannya atas populasi yang ada; atau ingin mengembangkan pandangan yang detail mengenai makna suatu fenomena atau konsep tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti tersebut terlebih dahulu harus mempelaiari variabel-variabel apa yang akan diteliti, kemudian menguji variabel-variabel ini berdasarkan sampel individu yang luas. Jika tidak, peneliti bisa melakukan survei terlebih dahulu pada sejumlah besar individu, kemudian menindaklanjuti dengan sejumlah partisipan saja untuk memperoleh pandangan mereka tentang topik penelitian. Dalam kondisi seperti inilah, pengumpulan data kuantitatif yang tertutup dan data kualitatif yang terbuka, benar-benar diperlukan.

Pengalaman-Pengalaman Pribadi Pengalaman pribadi juga turut memengaruhi para peneliti dalam memilih pendekatan yang akan mereka terapkan. Seseorang yang terbiasa dilatih dalam program-program teknik, penulisan saintifik, statistik, dan komputer, serta terbiasa membaca jumal-jurnal kuantitatif di perpustakaan, ia cenderung akan memilih rancangan kuantitatif. Di sisi lain, seseorang yang sudah nyaman menulis buku atau melakukan wawancara pribadi dan observasi, mungkin akan lebih tergerak untuk menggunakan pendekatan kualitatif. Namun, seseorang yang terbiasa dengan penelitian kuantitatif dan kualitatif sangat mungkin akan memilih metode campuran. Biasanya, dia memiliki waktu dan sumber yang memadai untuk mengumpulkan data-clata kuantitatif dan kualitatif, serta memiliki outlet untuk menerapkan metode campuran yang jangkauannya cenderung luas. Sejak penelitian kuantitatif menjadi gaya penelitian tradisional, banyak prosedur, dan aturan yang dibuat untuk penelitian tersebut. Sebagian orang mungkin saja lebih nyaman dengan prosedur-prosedur penelitian kuantitatif yang sangat sistematis ini. Namun, bagi sebagian yang lain, hal ini justru kurang comfortable karena tidak dapat beradaptasi dengan keinginan sejumlah fakultas yang memang memiliki basis pendekatan kualitatif dan advokasi/partisipatoris dalam penelitian-penelitiannya. Apalagi, pendekatan-pendekatan kualitatif diyakini menyediakan ruang inovasi yang lebih besar bagi kerangka kerja penelitian. Penelitian semacam ini juga memungkinkan munculnya tulisan-tulisan yang lebih kreatif dan bergaya sastrawi: suatu gaya yang sebagian orang lebih menyukainya. Untuk para penulis advokasi/partisipatoris, tak dapat disangkal ada dorongan yang kuat untuk mengejar topik yang memang sesuai dengan minat pribadi isu-isu yang berhubungan dengan orang-orang marginal, misalnya, atau keinginan untuk menciptakan kelompok masyarakat yang lebih baik bagi mereka dan yang lainnya. Bagi para peneliti dengan metode campuran, proyek ini bisa saja menyita banyak waktu karena mereka dituntut untuk mengumpulkan dan menganalisis data kuantitatif dan kualitatif sekaligus. Artinya, penelitian dengan metode campuran ini hanya sesuai bagi seorang peneliti yang merasa nyaman dengan struktur penelitian kualitatif yang cenderung rigid dan fleksibilitas penelitian kualitatif yang cenderung adaptif. Pembaca Pada akhirnya, peneliti menulis laporan penelitian yang benar-benar bisa diterima oleh para pembaca. Pembaca-pernbaca ini bisa jadi editor jurnal, pembaca jumal, dewan perguruan tinggi, peserta seminar, atau rekan-rekan satu bidang ilmu pengetahuan. Mahasiswa seharusnya mempertimbangkan pendekatan-pendekatan yang sudah biasa direstui dan digunakan oleh para pembimbing mereka. Pembaca yang telah berpengalaman dengan penelitian kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran ini dapat membantu mahasiswa untuk menentukan pilihan mereka.

RINGKASAN Dalam merencanakan suatu proyek penelitian, peneliti perlu menentukan apakah mereka akan menggunakan rancangan kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran. Rancangan ini dipilih berdasarkan pandangan-dniia atau asumsi-asumsi filosofis tentang suatu penelitian,strategi-strategi penelitian, dan metode-metode penelitian. Pilihan atas suatu rancangan penelitian biasanya dipengaruhi oleh masalah penelitian yang akan diteliti, pengalaman-pengalaman pribadi dari si peneliti, dan target pembaca yang diharapkan akan membaca hasil penelitian tersebut. Latihan Menulis 1. Cariiah rumusan masalah penelitian dalam sebuah artikel jurnal dan jelaskan rancangan apa yang terbaik untuk meneliti pertanyaan tersebut, berikut alasanalasannya. 2. Pikirkanlah satu topik yang ingin Anda teliti; dan dengan menggunakan pandangan-dunia, strategi penelitian, dan metode penelitian seperti yang tertera pada, Gambar 1.1, buatlah satu proyek penelitian yang berbasis pada satu pandangan-dunia, strategi, dan metode yang telah Anda pilih. Lalu, tentukanlah apakah proyek tersebut akan didesain menjadi penelitian kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran. 3. Apa yang membedakan penelitian kuantitatif dari pnelitian kualitatif? Jelaskan (minimal) tiga karakteristik pembedanya!

BACAAN TAMBAHAN

Cherryholmes, C.H. (Agustus-September, 1992). "Notes on Pragmatism and scientific Realism." dalam Educational Researcher, 14. (hlm. 13-17). Cleo Cherryholmes menjelaskan pragmatisme sebagai suatu perspektif yang berbeda dengan realisme saintifik. Kelebihan artikel ini terletak pada sumber kutipannya yang cukup memadai dari para penulis pragmatisme dan klarifikasinya tentang satu versi pragmatisme. Cherryholmes menegaskan bahwa pragmatisme digerakkan oleh konsekuensi-konsekuensi yang telah terduga, keengganan utuk rnenceritakan kisah yang sebenarnya, dan sekumpulan gagasan yang menyatakan bahwa ada dunia eksternal yang berada di luar pikiran kita. Selain itu, artikel itu juga menyertakan beragam referensi dari para penulis mulai dari yang klasik hingga modernyang berfokus pada pragmatisme sebagai prinsip filosofis.

LATIHAN MENULIS

Crotty, M. (1998). The Foundations of Social Research: Meaning and Perspective in the Research Process. Thousand Oaks, CA: Sage. Michael Crotty menawarkan kerangka penting unttrk mengikat secara bersama isu-isu epistemologis, perspektif-perspektif teoretis, metodologi, dan metode-metode penelitian sosial. Crotty ,menghubungkan empat komponen ini dalam suatu proses penelitian, lalu ia menampilkan sebuah tabel berisi metode representatif pengambilan sampel (sampling) atas topik-topik yang ada dalam setiap komponen tersebut. Crotty lalu beralih menjelaskan enam perbedaan orientasi teoretis dalam penelitian-penelitian sosial, seperti post-modernisme, feminisme, penelitian kritis, interpretativisme, konstruktivisme, dan positivisme. Kemmis, S., & Wilkinson, M. (1998). "Participatory Action Research and The Study of Practice." dalam B. Atweh, S. Kemmis, & P. Weeks (ed.). Action Research in Practice: Partnerships for social Justice in Education. New York: Routledge. (hlm. 21-36). Stephen Kemmis dan Mervyn Wilkinson menyajikan satu ringkasan apik tentang penelitian partisipatoris. Singkatnya, mereka menjelaskan enam keunggulan utama penelitian aksi partisipatoris (participatory action research), lalu menjabarkan bagaimana penelitian ini dipraktikkan dalam ranah individu, sosial, dan kedua-duanya. Guba, E.G., & Lincoln, Y.S. (2005). "Paradigmatic Controversies, Contradictions, and Emerging Confluences." dalam N.K. Denzin & Y.S. Lincoln, The Sage Handbooko f Qualitative Research. Thousand Oaks, CA: Sage. (hlm. 191-215). Yvonna Lincoln and Egon Guba menjelaskan prinsip-prinsip dasar dari lima paradigma penelitian ilmu sosial: positivisme/Post-positivisme, teori kritis, konstruktivisme, dan partisipatoris. Penielasan ini memperluas kembali analisis yang sudah disajikan dalam edisi pertama dan kedua Handbook tersebut. Masing-masing paradigma disajikan secara ontologis (seperti, substansi realitas), epistemologis (seperti, bagaimana kita mengenali pengetahuan kita), dan metodologis (seperti, proses penelitian). Paradigma partisipatoris menjadi paradigma alternatif tambahan yang kehadirannya baru muncul pada edisi kedua buku ini. Setelah menjelaskan lima pendekatan ini, mereka kemudian membedakannya berdasarkan tujuh isu utama, seperti sifat pengetahuan bagaimana pengetahuan bertambah, dan kelayakan atau kriteria mutu. Neuman, W.L. (2000). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. Boston: Allyn & Bacon. Lawrence Neuman menulis buku pengantar komprehensif tentang metode penelitian untuk ilmu-ilmu sosial. Yang secara khusus berguna bagi pemahaman kita tentang makna-makna metodologi terdapat pada Bab 4, berjudul "The Meanings of Methodology." Dalam bab ini, Nueman membedakan

tiga metodologi ilmu sosial positivis, ilmu ilmu sosial interpretif, dan ilmu sosial kritisberdasarkan delapan pertanyaan (misalnya, apa saja yang turut membentuk penjelasan atau teori realitas sosial? epa kira-kira manfaat dari bukti atau informasi faktual?). Phillips, D.C., & Burbules, N.C. (2000). Post positivism and Educational Research. Lanham, MD: Rowrnan & Littlefield. D.C. Phillips dan Nicholas Burbules merangkum gagasan-gagasan penting pemikiran postpositivisme. Melalui dua bab sekaligus, "What is Postpositivism?" dan "Philosophical Commitments of Postpositivist Researchers," mereka menjelaskan ide-ide utama dalam postpositivisme, khususnya ide-ide yang membuat aliran ini berbeda dengan aliran positivisme. Postpositivisme menegaskan bahwa pengetahuan manusia pada hakikatnya lebih bersifat spekulatif ketimbang normatif, dan bahwa kepastian kita sebelumnya akan suatu pengetahuan dapat terbantahkan dalam proses penelitian selanjutnya.

Bab Dua

Tinjauan Pustaka
Selain memilih rancangan kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran, seorang peneliti juga perlu melakukan tinjauan pustaka terkait dengan topik penelitiannya. Tinjauan pustaka ini membantu peneliti untuk menentukan apakah topik tersebut layak diteliti ataukah tidak. Tinjauan pustaka juga akan memberikan pengetahuan luas bagi peneliti dalam membatasi ruang lingkup penelitiannya. Bab ini masih tetap membahas hal-hal yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu oleh peneliti sebelum meluncurkan (proposal) penelitian. Pertama-tama, saya akan membahas bagaimana memilih dan menulis suatu topik yang menjadi fokus penelitian. Dalam hal ini, penting juga dipertimbangkan apakah topik tersebut dapat dan perlu diteliti. Selanjutnya, saya akan menjabarkan langkah-langkah dalam melakukan tinjauan pustaka, tujuan-tujuan utama dilakukannya tinjauan pustaka dalam penelltian, dan prinsip-prinsip penting dalam merancang tinjauan pustaka untuk penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran.

TOPIK PENELITIAN

Sebelum mempertirnbangkan pustaka/literatur apa yang akan ditinjau dalam proyek penelitian, pertama-tama identifikasilah dahulu satu topik yang akan diteliti, lalu pertimbangkan apakah topik tersebut bermanfaat secara praktis atau tidak. Topik adalah subjek atau materi subjek penelitian, seperti "pengajaran sekolah," "kreativitas organisasi," atau "tekanan psikologis." Buatlah abstraksi tentang topik tersebut dalam beberapa paragraf. Topik inilah yang nantinya akan menjadi gagasan utama yang harus dipelajari dan dieksplorasi oleh peneliti. Dalam hal ini, ada beberapa cara untuk memperoleh pemahaman mengenai topik penelitian (dengan asumsi bahwa topik ini harus dipilih sendiri oleh si peneliti dan bukan oleh pembimbing). Salah satunya adalah dengan menulis judul yang jelas dalam proposal penelitian. Saya terkejut ketika menjumpai banyak peneliti yang sering kali gagal merancang judul awal untuk proyek penelitian mereka. Menurut saya, judul yang baik dan terencana akan menjadi jalan utama untuk masuk ke dalam penelitianinilah gagasan nyata yang harus dimiliki peneliti agar tetap fokus pada proyek penelitiannya (lihat Glesne & Peshkin, 1992). Ketika saya melakukan

penelitian, topik akan menuntun dan memberikan saya petunjuk atas apa yang harus saya teliti, serta petunjuk yang akan saya gunakan untuk menyampaikan gagasan penelitian saya kepada orang lain. Saat para mahasiswa pertama kali memberikan prospektus penelitian mereka pada saya, saya sering meminta mereka agar terlebih dahulu merancang judul yang baik sebelum menulis penelitiannya. Bagaimana menulis judulyang baik? Coba lengkapi kalimat ini, Penelitian saya akan membahas.... Jawabannya bisa jadi Penelitian saya akan membahas siswa-siswa nakal di SMA, atau Penelitian saya akan membahas bagaimana memfasilitasi mahasiswa menjadi peneliti yang kompeten. Pada tahap in, buatlah kerangka jawaban atas pertanyaan tersebut sehingga orang lain mudah menangkap maksud/tujuan proyek penelitian anda. Kesalahan umum para peneliti pemula adalah bahwa mereka sering kali membuat kerangka penelitiannya dengan bahasa yang rumit dan kompleks. Kesalahan ini mungkin saja disebabkan terlalu seringnya mereka membaca artikel-artikel ilmiah yang telah mengalami revisi berkali-kali sebelum diterbitkan. Akan tetapi terlepas dari itu, proyek penelitian yang baik biasanya dilandasi dengan pemikiran-pemikiran yang jelas dan tidak rumit, mudah dibaca dan dipahami. Coba renungkan artikel yang anda baca baru-baru ini. Jika artikel tersebut mudah dibaca dan dipahami, dipastikan artikel ini ditulis dalam bahasa vang sederhana sehingga anda (pembaca) dapat dengan mudah memahaminya, selain konseptualisasi dan rancangan keseluruhan artikel yang memang ditulis dalam bentuk yang lugas dan sederhana. Wilkinson (1991) pernah memberikan saran yang bagus dalam membuat judul: Buatlah sejelas mungkin dan hindari pernyataan-pernyataan yang berlebihan. Hilangkan kata-kata yang tidak penting, seperti Suatu Pendekatan..., Sebuah Studi..., dan seterusnya. Gunakan judul tunggal atau ganda. Contoh judul ganda bisa seperti "Etnografi: Memahami Persepsi Anak-anak tentang Perang." Selain saran-saran Wilkinson di atas, cobalah membuat judul yang tidak lebih dari 12 kata, hilangkan kata sandang dan preposisi yang berlebihan, dan pastikan bahwa judul tersebut sudah mencakup topik utama penelitian. Strategi lain untuk mengembangkan topik adalah menuliskannya dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan seperti apa yang harus dijawab dalam penelitian? Buatah pertanyaan, seperti Ancaman apa yang paling membahayakan bagi penderita depresi? Apa makna menjadi orang Arab dalam masyarakat Amerika saat ini? Faktor-faktor apa saja yang membuat orang ingin berkunjung ke Midwest? Ketika merancang pertanyaan-pertanyaan seperti di atas,

fokuslah anda pada topik inti dalam penelitian. Pikirkan apakah pertanyaan tersebut akan terjawab dalam penelitian Anda ataukah tidak (lihat Bab 6 dan 7 tentang tujuan, rumusan masalah, dan hipotesis penelitian). Pertimbangkan alasan-alasan utama mengapa topik penelitian tersebut benar-benar dapat dan perlu diteliti. Suatu topik dapat diteliti jika peneliti memiliki target partisipan yang bersedia membantunya dalam melakukan penelitian dan memiliki perangkat-perangkat yang memadai dalam mengumpulkan dan menganalisis data dalam jangka waktu yang ditentukan, seperti program komputer atau perangkat-perangkat lain. Selain kemungkinan suatu topik yang dapat diteliti, peneliti juga perlu

mempertimbangkan apakah topik tersebut memang perlu diteliti. Masalahnya, untuk menentukan topik yang layak diteliti bukanlah pekerjaan yang mudah. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi kemungkinan ini. Setidak-tidaknya, hal terpenting yang harus dipertimbangkan adalah apakah topik tersebut hanya sekadar menambah pengetahuan yang sudah ada, atau sekadar menduplikasi penelitian-penelitian sebelumnya, atau justru berusaha menyuarakan kembali hak-hak kelompok atau individu yang terpinggirkan, atau membantu keadilan sosial, atau justru berusaha mentransformasi gagasan-gagasan para peneliti sebelumnya. Untuk mengatasi masalah itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memanfaatkan sebanyak mungkin waktu di perpustakaan untuk membaca berbagai literatur tentang topik yang akan diteliti (tentang strategi-strategi efektif memanfaatkan perpustakaan dan sumber-sumber pustaka dapat dibaca pada subbab selanjutnya). Langkah ini harus menjadi pertimbangan utama. Para peneliti pemula mungkin saja sudah melangkah jauh dalam penelitian, seperti merancang rumusan masalah, melengkapi data penelitian, dan melakukan analisis statistik. Akan tetapi bukan tidak mungkin mereka kurang didukung oleh pihak fakultas atau perencana seminar karena penelitian mereka tidak memberikan sesuatu yang baru. Tanyakan pada diri Anda, Bagaimana proyek saya ini memiliki kontribusi pada literatur? Pertimbangkan pula apakah proyek penelitian anda akan membahas suatu topik yang belum diteliti, ataukah akan memperluas pembahasan literatur/penelitian sebelumnya dengan menyertakan elemen elemen baru, ataukan akan menduplikasi penelitian-penelitian sebelumnya, namun dengan partisipan-partisipan baru dan dalam situasi-situasi yang berbeda pula. Mengenai apakah topik itu memang perlu diteliti atau tidak, pada hakikatnya juga berhubungan dengan apakah ada orang lain di luar lembaga peneliti yang akan tertarik pada topik

tersebut. Jika ada pilihan antara topik yang berkaitan dengan kepentingan daerah dan topik yang berkaitan dengan kepentingan nasional, saya akan memilih opsi yang terakhir karena topik tersebut memiliki daya tarik yang lebih besar bagi pembaca umum. Editor jurnal, pihak universitas, panitia serninar, dan agen pendanaan, semuanya akan mengapresiasi penelitianpenelitian yang dapat menjangkau pembaca umum. Akhirnya, isu kelayakan iniapakah suatu topik layak diteliti atau tidakjuga berhubungan dengan cita-cita peneliti itu sendiri. Pertimbangkanlah waktu yang harus dihabiskan untuk merampungkan proyek anda, merevisinya, dan menyebarkan hasil-hasil penelitian anda. Para peneliti seharusnya merenungkan betapa penelitian dan komitmen besarnya suatu saat akan mendukung cita-cita karier mereka, baik citacita ini berhubungan dengan dedikasi mereka untuk melakukan banyak penelitian, memperoleh kedudukan di masa depan, atau menaikkan pangkat/jabatan. Sebelum membuat proposal atau melakukan penelitian, para peneliti sebaiknya mempertimbangkan faktor-faktor di atas dan meminta orang lain memberikan respons kritis pada topik penelitiannya. Mintalah respons-respons dari teman-teman, orang-orang yang kompeten dalam bidang tersebut, para pembimbing akadernik, dan para pengurus fakultas. TINJAUAN PUSTAKA Setelah mengidentifikasi satu topik yang dapat dan perlu diteliti barulah peneliti bisa melakukan tinjauan pustaka atas topik tersebut.Tinjauan pustaka memiliki beberapa tujuan utama: menginformasikan kepada pembaca hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan erat dengan penelitian yang dilakukan saat itu, menghubungkan penelitian dengan literatur-literatur yang ada, dan mengisi celah-celah dalam penelitian-penelitian sebelumnya (Cooper, 1984; Marshall & Rossman, 2006). Tinjauan ini juga dapat menyediakan kerangka kerja dan tolok ukur untuk mempertegas pentingnya penelitian tersebut, seraya membandingkan hasil-hasilnya dengan penemuan-penemuan lain. Semua atau beberapa alasan ini bisa menjadi dasar bagi peneliti untuk menuliskan literatur-literatur yang relevan ke dalam penelitianya (lihat Miller, 1991 untuk pembahasan lebih jelas mengenai tujuan-tujuan menggunakan literatur dalam penelitian). Pemanfaatan Pustaka/Literatur Persoalan lain yang juga penting dipertimbangkan dalam menulis tinjauan pustaka adalah bagaimana menggunakan pustaka/ literatur tersebut dalam proposal penelitian. Terkait hal ini,

ada banyak cara yang bisa diterapkan. Saya menyarankan anda agar meminta pendapat dari pembimbing atau pihak fakultas tentang keinginan mereka terkait dengan penyajian tinjauan pustaka ini. Menurut saya, tinjauan pustaka sebaiknya disajikan secara jelas dan dapat meringkas berbagai literatur yang relevan dengan masalah penelitian; namun, tinjauan pustaka ini jangan sampai terlalu rumit dan komprehensif karena pihak fakultas sangat mungkin akan meminta perubahan-perubahan besar ketika proposal penelitian diajukan. Selain itu, tinjauan pustaka juga jangan terlalu panjangkatakanlah maksimal 20 halamannamun mampu menunjukkan kepada pembaca bahwa anda benarbenar memahami literatur-literatur yang berkaitan dengan topik penelitian. Pendekatan lain dalam menulis tinjauan pustaka adalah dengan membuat ringkasan detail tentang topik penelitian dan referensi-referensi yang terkait dengan topik ini untuk nantinya dikembangkan kembali dalam bab khusus biasanya dalam bab dua, Tinjauan Pustaka, yang mungkin saja membutuhkan 20 hingga 60 halaman lebih. Tidak seperti dalam disertasi dan tesis, tinjauan pustaka dalam artikel jurnal pada umumnya ditulis secara rngkas. Tinjauan itu biasanya disajikan dalam bagian khusus bertajuk "Bacaan Terkait" setelah Pendahuluan. Ini sudah menjadi pola umum untuk artikel-artikel penelitian kuantitatif dalam jurnal-jurnal ilmiah. Akan tetapi untuk artikel penelitian kualitatif, tinjauan pustaka bisa jadi ditulis secara terpisah, namun tetap berada dalam bagian pendahuluan, atau justru disajikan secara intrinsik di sepanjang penelitian. Singkatnya, bagaimanapun tinjauan pustaka ini ditulis, yang jelas hal ini akan sangat bergantung pada jenis penelitian yang hendak dilakukan, apakah kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran. Dalam penelitian kualitatif, peneliti menggunakan literatur secara konsisten berdasarkan asumsi-asumsi yang berasal dari para partisipan, tidak memberi ruang bagi pandangan pribadi peneliti. Penelitian kualitatif pada umumnya dilakukan dengan pertimbangkan bahwa penelitian tersebut haruslah eksploratif. Hal ini berarti bahwa peneliti tidak boleh terlalu banyak menulis tentang topik atau populasi yang tengah diteliti. Sebaliknya, peneliti harus berusaha mendengarkan opini partisipan dan membangun pemahaman berdasarkan pada apa yang ia dengar. Namun demikian, penggunaan literatur dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan beragam cara. Untuk penelitian yang berorientasi teoretis, seperti etnografi atau etnografi kritis, literatur-literatur tentang konsep kebudayaan atau teori kritis diperkenalkan terlebih dahulu dalam laporan atau proposal sebagai kerangka kerja orientasi. Namun, untuk penelitian

grounded theory, studi kasus, dan fenomenologi, literatur-literatur jarang sekali digunakan untuk membangun tahap-tahap penelitian secara keseluruhan. Untuk pendekatan kualitatif yang didasarkan pada opini partisipan, ada beberapa model tinjauan pustaka yang bisa anda pertimbangkan. Saya menawarkan tiga model penempatan, yang berarti tinjauan pustaka bisa anda letakkan dalam ketiga lokasi ini. Model pertama, seperti yang tampak pada Tabel 2.1, peneliti bisa saja memasukkan tinjauan pustaka dalam pendahuluan. Artinya, dengan posisi ini, pustaka/literatur berfungsi untuk menjelaskan latar belakang "teoretis" atas masalah penelitian, seperti siapa saja yang telah menulis mengenai masalah ini, siapa saja yang telah menelitinya, dan siapa saja yang telah menunjukkan upaya-upaya penelitian ke arah itu. Penyajian latar belakang teoretis ini, tentu saja, sangat bergantung pada literaturliteratur atau penelitian-penelitian yang tersedia. Peneliti dapat mencari model seperti ini di berbagai penelitian kualitatif yang menerapkan jenis strategi penelitian yang berbeda-beda. Model kedua adalah dengan menempatkan tinjauan pustaka di bagian terpisah. Model ini biasanya diterapkan dalam penelitian kuantitatif atau dalam jurnal-jurnal yang berorientasi kuantitatif. Meski demikian, dalam penelitian kualitatif yang berorientasi pada teori seperti etnografi, teori kritis, dan advokasi atau emansipatoris, peneliti juga dapat menempatkan tinjauan pustaka di bagian terpisah. Model ketiga, peneliti menyertakan bagian khusus, seperti Bacaan/Literatur Terkait, di akhir penelitian. Penempatan ini dimaksudkan untuk membandingkan dan membedakan hasilhasil atau kategori-kategori yang muncul dalam penelitian dengan hasil-hasil atau kategorikategori yang terdapat dalam literatur. Model ini banyak dijumpai dalam penelitian grounded theory, dan saya merekomendasikan model ketiga ini karena penelitian grounded theory pada umumnya mengguakan literatur secara induktif.

Tabel 2.1 Menggunakan Literatur dalam Peneitian Kualitatif Model Penggunaan Strategi Penelitian yang sesuai Harus ada beberapa literatur Model ini bisanya digunakan yang tersedia dalam peneitian-penelitian kualitatif, apa pun itu jenis strateginya Kriteria Pendekatan ini biasanya diterapkan dalam penelitianpenelitian yang menggunakan teori yang sudah kuat di awal penelitian, seperti etnografi dan kajian teori kritis Pendekatan ini dapat diterapkan di semua jenis rancangan kuaitatif, tetapi lebih sering diterapkan dalam penelitian grounded theory dimana seseorang dapat membedakan dan membandingkan satu teori dengan teori-teori lain yang terdapat dalam literatur

Tinjuan pustaka disajikan dalam pendahuluan untuk menjelaskan kerangka teoritis-kronologis masalah peneitian Tinjauan pustaka disajikan Pendekatan ini lebih disukai dalam bagian terpisah dengan oeh pembaca-pembaca yanng judul Tinjauan Pustaka. sudah terbiasa dan nyaman dengan pendekatan pospositivis tradisional untuk tinjauan pustaka Tinjauan pustaka disajikan di akhir penelitian. Biasanya berjudu Bacaan/Literatur untuk membandingkan dan membedakan hasil penelitian dengan apa yang terdapat dalam literatur. Pendekatan ini cocok untuk penelitian kualitatif yang bersifat induktif; literatur tidak membimbing dan mengarahkan penelitian, tetapi menjadi pentunjuk dan pembanding atas pola-pola atau kategori-kategori yang diperkenalkan dalam penelitian

Penelitian kuantitatif, di sisi lain, menyertakan sejumlah besar literatur utama di awal penelitian untuk memberikan arahan/petunjuk atas pertanyaan-pertanyaan dan hipotesis-hipotesis penelitian. Penelitian kuantitatif juga menggunakan literatur untuk mennperkenalkan masalah atau menggambarkan secara detail literatur-literatur sebelumnya dalam bagian khusus berjudul Literatur Terkait atau "Tinjauan Pustaka, atau judul-judul yang sejenis. Selain itu, tinjauan pustaka dalam penelitian kuantitatif dapat ditulis untuk memperkenalkan suatu teori suatu penjelasan atas hubungan-hubungan yang diinginkan (lihat Bab 3), menggambarkan teori yang akan digunakan, dan menjelaskan mengapa teori tersebut penting untuk dikaji. Pada akhir penelitian, peneliti meninjau kembali literatur yang ada dan membuat perbandingan antara hasil penelitian dengan penemuan-penemuan yang terdapat dalam literatur. Dalam hal ini, peneliti kuantitatif menggunakan literatur secara deduktif sebagai kerangka kerja untuk merancang rumusan masalah dan hipotesis-hipotesis penelitian.

Cooper (1984) menyarankan tinjauan pustaka yang bersifat integratif: peneliti menyimpulkan tema-tema umum yang terdapat dalam literatur. Model ini sering digunakan dalam proposal disertasi dan dalam disertasi itu sendiri. Model kedua yang direkomendasikan Cooper adalah tinjauan pustaka yang bersifat teoretis: peneliti fokus pada teori-teori dalam berbagai literatur yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Model ini biasanya banyak muncul dalam artikel-artikel jurnal, yang di dalamnya penulis sering kali menjelaskan teori di bagian pendahuluan. Model terakhir yang disarankan Cooper adalah tinjuan pustaka yang bersifat metodologis: peneliti fokus pada metode-metode dan definisi-definisi. Tmjauan semacam ini biasanya menyajikan ringkasan atas penelitian-penelitian sebelumnya, dan kritik atas kekuatan dan kelemahan metodologis dalam penelitian-penelitian tersebut. Model yang terakhir ini kini sudah jarang ditemukan dalarn tesis dan disertasi. Dalam penelitian metode campuran, peneliti menerapkan pendekatan kualitatif dan kuantitatif sebelumnya dalam menulis tinjauan pustaka, bergantung pada jenis strategi yang digunakan. Untuk strategi sekuensial, literatur disajikan pada setiap tahapan penelitian dengan tetap konsisten pada metode yang digunakan. Misalnya, jika penelitian dimulai dengan tahap kuantitatif, peneliti boleh jadi memasukkan tinjauan pustaka di awal penelitian yang dapat membantunya membangun logika atas rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Jika penelitian dimulai dengan tahap kualitatif, tinjauan pustaka tidak terlalu ditekankan, yang berarti si peneliti bisa menyajikannya secara detail di akhir penelitian jika pendekatannya berslfat induktif. Jika peneliti menerapkan penelitian konkuren dengan bobot dan prioritas yang seimbang antara data kualitatif dan kuantitatif, peneliti bisa menyajikan literatur secara detail di setiap tahap kualitatif dan kuantitatif. Singkatnya, penggunaan literatur dalam proyek metode campuran sangat bergantung pada strategi dan bobot yang diberikan antara penelitian kualitatif atau kuantitatif. Saya merekomendasikan beberapa langkah dalam menulis atau menggunakan pustaka untuk penelitian kualitatif, kuantitatif dan metode campuran. Dalam penelitian kualitatif, gunakanlah literatur secara hemat di awal penelitian agar nantinya bisa terbentuk rancangan yang induktif, kecuali jika jenis rancangan yang diinginkan benarbenar membutuhkan orientasi atau petunjuk literatur yang detail di awal penelitian. Masih dalam penelitian kualitatif, pertimbangkan pula segmen tempat yang benar-benar sesuai untuk tinjauan pustaka, dan jadikan pembaca sebagai dasar keputusan untuk

pertimbangan ini. Ingatlah opsi-opsi berikut: meletakkan tinjauan pustaka diawal tulisan untuk membantu membangun kerangka masalah penelitian; meletakkan tinjauan pustaka di bagian terpisah atau meletakkan tinjauan pustaka di akhir penelitian untuk membandingkan dan membedakannya dengan hasil penelitian. Dalam penelitian kuantitatif, gunakanlah literatur secara deduktif, sebagai dasar untuk merancang rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Masih dalam proposal penelitian kuantitatif, gunakanlah literatur untuk memperkenalkan penelitian, dan sajikanlah literatur tersebut (tinjauan pustaka) dalam bagian terpisah untuk membandingkan hasil penelitian dengan konsep-konsep yang terdapat dalam literatur. Jika tinjauan pustaka diletakkan dalam bagian terpisah, pertimbangkan apakah tinjauan tersebut akan ditulis secara integratif, teoretis, atau metodologis. Praktik yang biasa diterapkan dalam penulisan disertasi pada umumnya adalah tinjauan pustaka secara integratif. Dalam penelitian metode campuran, gunakanlah literatur dalam satu pola yang konsisten dengan jenis strategi yang dipilih dan sesuai dengan bobot yang diberikan pada pendekatan kualitatif atau kuantitatif.

Teknik-Teknik Tinjauan Pustaka

Apa pun jenis penelitiannya, ada beberapa proses yang harus dilalui dalam melakukan tinjauan pustaka.

Langkah-Langkah melakukan Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka berarti menempatkan dan menyimpulkan kajian-kajian tentang suatu topik tertentu. Kajian-kajian tersebut sering kali berupa studi-studi penelitian (karena anda memang tengah menggarap suatu penelitian), tetapi kajian-kajian ini bisa juga meliputi artikelartikel atau pemikiran-pemikiran yang memberikan kerangka kerja dalam menjelaskan suatu topik. Ada banyak cara dalam menggarap tinjauan pustaka, tetapi sebagian besar sarjana melakukannya dengan cara yang sistematis untuk menangkap, mengevaluasi, dan menyirnpulkan pustaka/literatur yang ada. Di bawah ini adalah beberapa cara yang saya rekomendasikan untuk anda:

1. Mulailah dengan mengidentifikasi beberapa kata kunci (keywords) penelitian. Langkah ini utamanya pent.ng ketika Anda ingin mencari materi-materi, referensi-referensi, dan bahanbahan pustaka di perpustakaan universitas. Kata kunci ini bisa saja Anda peroleh ketika Anda tengah mengidentifikasi topik penelitian atau bisa jadi berasal dari hasil pembacaan beberapa buku. 2. Setelah kata kunci diperoleh, selanjutnya kunjungi perpustakaan dan mulailah-mencari katalog untuk materi-materi referensi (seperti, jurnal-jurnal dan buku-buku). Namun, kebanyakan perpustakaan saat ini sudah memiliki database terkomputerisasi, dan saya menyarankan Anda fokus terlebih dahulu pada jurnal-jurnal dan buku-buku yang relevan dengan topik penelitian anda. Selain itu, cobalah untuk mencari database-database terkomputerisasi yang telah direview dan direkomendasikan oleh para peneliti ilmu sosial, seperti ERIC, PsycINFO, Sociofile, Social Science Citation Index, Google Schoolar, ProQuest, dan sebagainya. Database-database ini sudah bisa diakses secara online, bahkan beberapa di antaranya sudah tersedia dalam bentuk CD-ROM. 3. Pertama-tama, cobalah menemukan sedikitnya 50 laporan penelitian, seperti artikel-artikel atau buku~uku, yang berhubungan dengan topik penelitian anda. Prioritaskan pencarian pada artikel-artikel jurnal dan buku-buku karena sumber-sumber seperti ini sangat mudah diperoieh. Pastikan apakah artikel-artikel danbuku-buku tersebut tersedia diperpustakaan akademik anda, atau apakah anda perlu meminta bantuan dari pustakawan untuk mengirimkannya, atau apakah Anda harus membelinya di toko buku. 4. Bacalah sepintas sekumpulan artikel atau bab-bab dalam buku, lalu salinlah/gandakanlah babbab atau artikel-artikel yang memang relevan dengan topik anda. Dalam proses ini, pastikan apakah artikel ataubab tersebut akan cukup memberi kontribu.si yang memadai untuk tinjauan pustaka Anda 5. Ketika Anda mengidentifikasi beberapa literatur, mulaiIah merancang peta literatur (yang akan dibahas lebih detail pada subbab khusus). Peta literatur (literature map) merupakan sejenis gambar visual yang menampilkan pengelompokan literatur berdasarkan topik penelitian. Peta inilah yang nantinya akan menggambarkan bagaimana penelitian Anda memberikan kontribusi pada literatur-literatur yang ada. 6. Setelah mernbuat peta literatur, buatlah ringkasan dari beberapa artikel yang paling relevan. Ringkasan-ringkasan inilah yang nantinya akan dimasukkan ke dalam tinjauan pustaka anda.

Masukkanlah referensi-referensi relevan dalam tinjauan pustaka dengan menggunakan petunjuk penulisan yang sesuai, seperti petunjuk American Psychological Association (APA) (APA, 2001) agar anda memiliki referensi yang lengkap untuk digunakan di akhir proposal penelitian. 7. Setelah rnembuat ringkasan dari beberapa literatur yang anda peroleh, kini saatnya membuat tinjauan pustaka, dengan menyusunnya secara tematis atau berdasarkan konsep-konsep penting. Di akhir tinjauan pustaka, utarakan pandangan umum anda tentang tema keseluruhan yang anda peroleh dari literatur-literatur yang ada, lalu jelaskan mengapa penelitian anda benar-benar memiliki kebaruan tersendiri dibandingkan literatur-literatur yang sudah ada.

Database Terkomputerisasi

Dalam proses pengumpulan bahan/materi yang relevan, database terkomputerisasi memberikan akses yang cepat dan mudah. Saat ini, database terkomputerisasi sudah banyak tersedia di berbagai perpustakaan dan menyediakan akses pada ribuan jurnal, makalah seminar, dan materi-materi lain tentang berbagai topik yang berbeda-beda. Perpustakaan akademik di sebagian besar Universitas pada urnumnya juga sudah memiliki database komersial ataupun database-database domain publik. Beberapa database yang akan saya sajikan dalam buku ini memang sedikit, namun database-database ini sudah populer dan menjadi sumber utama yang seriing kali digunakan oleh para peneliti profesional untuk mencari artikel-artikel jurnal dan dokurnen-dokumen lain yang diar.ggap penting. ERIC (Educational Resources Information center) merupakan perpustakaan digital Qnline gratis yang berisi berbagai penelitian dan informasi yang berhubungan dengan pendidikan. Database yang disponsori oleh Institute of Educational Sciences (IES) Departemen Pendidikan AS ini dapat Anda kunjungi di http://www.erx.ed.gov. ERIC memungkinkan user mengakses sekitar 1,2 juta item yang telah terindeks sejak 1966. Koleksinya meliputi artikel ilmiah, buku, sintesis penelitian, makalah seminar, laporan teknis, undang-undang, dan materimateri lain yang berhubungan dengan pendidikan. ERIC mengindeks lebih dari 600 jurnal, dan link-link untuk berbagai materi yang full-text. Jika Anda berminat menggunakan ERIC, idenditikasilah deskriptor-deskriptor yang berhubungan dengan topik anda. Deskriptor

merupakan istilah yang digunakan oleh indexer dalam mengategorisasi artikel atau dokumendokumen lain. Anda bisa mencari deskriptor ini melalui Thesaurus of ERIC Descriptors (Educational Resources Information, Center, 1975) atau melalui thesaurus online lain. Untuk memperoleh hasil maksimal dari program ERIC, saya merekomendaskan agar anda mencari artikel-artikel ilmiah dan dokumen-dokumen terkini yang berhubungan dengan topik ~^r^lda. Kemudian, lihatlah dengan cermat deskriptor-deskriptor yang digunakan dalam artkel dan dokumen tersebut, lalu lakukan pencarian lain dengan menggunakan islah-istilah yang baru anda temukan ini. Tips ini akan memaksimalkan kemungkinan diperolehnya beberapa artikel yang layak untuk tinjauan pustaka. Database gratis lain adalah Google Scholar. Database ini memungkinkan anda mencari materi-materi dari berbagai sumber dan disiplin pengetahuan, seperti makalah peer-reviewed, tesis, buku, abstraksi, dan artikel-artikel dari penerbit akademik, kelompok profesional, universitas, dan organisasi-organisasi intelektual yang lain. Artikel-artikel yang terdaftar dalam Google Schoolar pada umumnya dilengkapi dengan link-link yang terhubung dengan abstraksi, artikel-artikel relevan, versi artikel elektronik yang berafiliasi dengan perpustakaan tertentu, website-website relevan, dan sumber-sumber untuk membeli full-fext artikel tersebut. Selain Google Schoolar, Anda juga bisa memperoleh abstraksi materi ilmu-ilmu kesehatan mealui database PubMed gratis. Database ini merupakan layanan Perpustakaan Nasional Kesehatan AS, yang memiliki lebih dari 17 juta kutipan dari MEDLINE; dan jurnaljurnal life science yang menerbitkan artikel-artikel biomedis sejak 1950-an

(www.ncbi.nlm.nih.gov). PubMed juga memiliki link-link yang terhubung dengan artikel-artikel full-text (yang terdapat di perpustakaan-perpustakaan akademik) dan sumber-sumber lain yang relevan. Untuk mendapatkan hasil pencarian yang maksimal dari PubMed, anda sebaiknya menggunakan MeSH (Medical Subject Hendings), sejenis thesaurus kosakata yang dikontrol oleh Perpustakaan Nasional Kesehatan AS, untuk mengindeks artikel-artikel di

MEDLINE/PubMed. Dengan MeSH, anda bisa memperoleh referensi-referensi yang sesuai dengan topik yang Anda cari. Perpustakaan-perpustakaan akademik saat ini juga sudah memiliki situs-situs berlisensi untuk database-database komersial tertentu. Salah satu situs yang biasanya dimiliki adalah ProQuest (http://proquest.com), yang memungkinkan peneliti mencari berbagai database yang

berbeda-beda. Situs ini, konon, merupakan salah satu tempat penyimpanan konten onine terbesar di dunia. Misalnya, anda bisa mencari ERIC, PsycInfo, Dissertation Abstracts, Periodicals Index, Health and Medical Complete, dan berbagai database spesifik lain (seperti International Index to Black Periodicals), hanya dengan mengakses situs ini. Karena memasukkan berbagai database yang berbeda-beda, tentu saja situs ini bisa menjadi salah satu perangkat pencarian yang dapat anda gunakan sebelum memanfaatkan database-database yang lain. Database komersial lain yang berlisensi yang sudah banyak dimiliki oleh berbagai perpustakaan akademik adalah Sociological Abstracts (Cambridge Scientific Abstracts, http://www.csa.com). Database ini mengindeks lebih dari 2000 jurnal, makalah seminar, disertasi resensi buku, dan buku-buku terpilih dalam sosiologi, kajian sosial, dan disiplin-disiplin lain yang relevan. Untuk literatur dalam bidang psikologi dan bidang-bidang yang terkait, anda bisa mengakses database komersial psikologi, PsyclNFO (http:// www.apa.org). Database ini mengindeks 2.150 judul jurnal, buku, disertasi dari berbagai negara. Database ini mencakup bidang psikologi serta aspek-aspek psikologis dari disiplin-disiplin yang relevan, seperti kedokteran, psikiater, keperawatan, sosiologi, pendidikan, farmasologi, fisiologi, linguistik, antropologi, bisnis, dan hukum. Database ini memilild Thesaurus of Psychological Index Terms yang dapat dirnanfaatkan untuk mencari istiaah-istiaah penting dalam literatur psikologi. Database komersial terakhir yang banyak tersedia di perpustakaan adalah Social Sciences Citation Index (SSCI, Web of Knowledge, Thomson Scientific [http://isiwebofknowledge.com]). Database ini mengindeks sekitar 1.700 jurnal yang meliputi 50 disiplin dan juga mengindeks item-item relevan dari lebih 3300 jurnal sains dan teknik. Database ini dapat digunakan untuk mencari artikel-artikel dan pengarang-pengarang yang telah melakukan penelitian mengenai topik tertentu. Database ini terutama berguna ketika anda ingin mencari satu penelitian kunci yang dijadikan awal mula rujukan oleh penelitian-penelitian lain. Dengan demikian, anda bisa membuat daftar referensi secara kronologis yang mendokumentasikan evolusi historis dari suatu gagasan atau penelitian tertentu. Daftar kronologis tersebut bisa jadi sangat membantu dalam melacak perkembangan gagasan-gagasan tentang topik tinjauan pustaka Anda. Ringkasnya, ada beberapa tips yang saya rekomendasikan jika Anda ingin memanfaatkan database terkomputerisasi ini:

Gunakanlah database literatur online gratis serta database-database gratis lain yang tersedia di perpustakaan akadernik anda. Carilah beberapa database yang berbeda, misalnya Anda harus tetap menggunakan database ERIC meskipun topik penelitian anda tidak terlalu berhubungan dengan pendidikan, atau anda menggunakan PsycINFO meskipun anda merasa topik anda tidak terlalu berkaitan dengan psikologi. Baik ERIC maupun PsycINFO sama-sama memandang pendidikan dan psikologi sebagai istilah umum yang bisa diteliti dengan berbagai topik yang berbeda Gunakanlah panduan istilah-istilah untuk mencari artikel yang anda inginkan, seperti thesaurus --jika tersedia. Carilah satu artikel yang sangat berkaitan dengan topik anda, lalu lihatlah istilah-istilah penting yang digunakan dalam artikel tersebut, kemudian gunakan istilah-istilah itu untuk men-search literatur lain yang relevan. Gunakanlah database-database yang menyediakan akses, link, atau informasi tentang gandaan full-text dari artikel-artikel yang anda inginkan (baik di perpustakaan atau di toko buku) agar anda bisa menghemat lebih banyak waktu untuk mencari gandaan artikel-artikel lni.

Prioritas dalam Memilih Literatur

Saya sangat merekomendasikan agar Anda membuat satu prioritas ketika mencari literatur. Jenis-jenis literatur apa saja yang ingin Anda masukkan dalam tinjauan pustaka? Pertimbangkan beberapa hal berikut ini: 1. Jika Anda ingin meneliti topik tertentu, namun belum tahu bagaimana harus melakukannya, cobalah memulainya dengan mempelajari sintesis-sintesis umum dari literatur yang ada. Misalnya, Anda mencari ringkasan-ringkasan literatur yang terkait dengan topik Anda di beberapa ensiklopedia (misalnya, Aikin, 1992; Keeves, 1988), atau anda bisa mencarinya dalam artikel-artikel jurnal atau abstraksi-abstraksi ilmiah (rnisalnya, dalam Annual Review of Psychology, 1950). 2. Selanjutnya, beralihlah pada artikel-artikel ilmiah yang diterbitkan oleh jurnal-jurnal nasional/internasional kenamaan, khususnya jurnal-jurnal yang menampilkan laporan

penelitian. Para penulis di jurnal-jurnal seperti ini biasanya mengekspos rurnusan masalah atau hipotesis penelitian mereka. Dari sini, cobalah Anda menjawab rumusan masalah dan hipotesis tersebut. Ada beberapa jurnal yang bisa Anda pelajari dalam bidang Anda, dan biasanya jurnal-jurnal tersebut diterbitkan oleh dewan editorial dan para penulis profesional dari belahan Amerika Serikat dan dunia. Di halaman-halaman pertama jurnal ini, Anda bisa melihat apakah ada dewan editorialnya dan apakah artikel-artikel di dalamnya ditulis oleh individu-individu dari berbagai belahan dunia. Mulailah dengan isu-isu terkini dalam jurnaljurnal tersebut dan carilah artikel-artikel penelitian yang terkait dengan topik Anda, begitu seterusnya. Tindaklanjuti referensi referensi di akhir artikel untuk memperoleh sumbersumber lain yang mendukung. 3. Setelah artikel, Anda bisa mencari buku-buku yang berkaitan dengan topik Anda. Mulailah dengan naskah-naskah penelitian yang merujuk pada berbagai literatur penting. Kemudian, pertimbangkan beberapa buku yang berhubungan dengan satu topik yang ditulis oleh seorang pengarang atau sekelompok pengarang, atau buku-buku yang berisi bab-bab yang ditulis oleh pengarang yang berbeda-beda. 4. Lanjutkan usaha Anda di atas dengan melacak makalah-makalah seminar terkini. Hadirilah seminar-seminar nasional, lalu dapatkan makalah-makalah yang disampaikan oleh penyaji. Jika tidak, Anda bisa mencarinya melalui database. Sebagian besar seminar, ada yang membutuhkan. dan ada pula yang meminta para penyaji untuk mencantumkan makalahnya dalam database-database terkomputensasi. Dari database inilah Anda bisa menghubungi para penyaji yang telah menulis makalah yang relevan dengan topik Anda. Kirimlah email atau teleponlah mereka, lalu tanyakan apakah mereka mengetahui penelitian-penelitian yang berhubungan dengan topik Anda. Tanyakan juga apakah mereka memiliki sebuah instrumen yang mungkinbisa digunakan atau dimodifikasi untuk penelitian anda. 5. Jika memungkinkan, periksalah entri-entri dalam Dissertation Abstracts (University Microfilms, l938). Akan tetapi Anda perlu berhati-hati karena setiap disertasi memiliki kualitas yang berbeda-beda, dan Anda perlu selektif dalam memilih disertasi-disertasi tersebut untuk disertakan dalam tinjauan pustaka. Mencari dalam Dissertation Abstracts mungkin saja menghasilkan satu atau dua disertasi yang relevan, dan Anda bisa meminta gandaan disertasi ini melalui pustakawan atau University of Michigar. Microfilm Library.

6. Website juga menyediakan bahan-bahan yang berguna untuk tinjauan pustaka. Kemudahan mengakses dan kemampuannya untuk memposting beragam artikel membuatnya lebih atraktif. Namun, pelajarilah terlebih dahulu artikel-artikel ini dengan hati-hati agar Anda memperoleh artikel yang benar-benar berkualitas. Perhatikan, apakah artikel-artikel ini memang mencerminkan sejenis penelitian yang rigid, berkualitas, dan sistematis, yang layak dimasukkan ke dalam tinjauan pustaka Anda, atau hanya menampilkan gagasan-gagasan yang kurang bermutu. Jurnal-jurnal online, di sisi lain, sering kali juga menyertakan artikel-artikel yang telah diperiksa secara cermat oleh dewan editor. Meski demikian, Anda terlebih dahulu harus mencari tahu apakah jurnal-jurnal tersebut benar-benar memiliki dewan editor profesional dan menetapkan standar-standar untuk menerima naskah-naskah yang masuk, ataukah tidak. Saya meletakkan artikel-artikel jurnal di urutan teratas karena artikel-artikel semacam ini sangat mudah dicari dan digandakan. Artikel tersebut juga tak jarang merepresentasikan suatu penelitian tentang topik tertentu. Disertasi diletakkan dalam daftar prioritas yang lebih rendah karena disertasi pada umumnya memiliki kualitas yang berbeda-beda dan karenanya sangat sulit dicari, apalagi pada umumnya disertasi merupakan materi yang sangat sulit dipahami. Selain itu, berhati-hatilah dalam memilih artikel-artikel ilmiah di website kecuali jika artikel-artikel tersebut berasal dari salah satu artikel ilmiah yang diterbitkan oleh jurnaljumal tertentu.

Peta Literatur Penelitian Selain mencari literatur, peneliti juga perlu menyusun literatur tersebut sedemikian rupa untuk disajikan dalam tinjauan pustaka. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penyusunan ini memungkinkan pembaca untuk memahami apakah penelitian yang diajukan hanya sekadar menambah, menduplikasi, atau justru memperluas penelitian yang sudah ada sebelumnya. Pendekatan penting dalam menyusun literatur ini adalah dengan membuat literature map (peta literatur). Pendekatan ini merupakan gagasan yang saya peroleh beberapa tahun lalu, dan ternyata sangat membantu para mahasiswa ketika mereka menyusun tinjauan pustaka untuk dipresentasikan di hadapan dewan penguji, atau dalam makalah presentasi dan artikel ilmiah. Peta literatur merupakan ringkasan visual dari penelitian-penelitian yang sudah dilakukan orang lain. Peta ini biasanya disajikan dalam bentuk gambar dan bisa disusun dengan berbagai cara. Salah satunya adalah disusun secara hierarkis, yakni menyajikan literatur dengan teknik

top-down, yang pada bagian paling bawah diisi oleh peneilitian yang diajukan. Struktur lain bisa saja dibuat menyerupai flowchart, di mana pembaca melihat tinjauan pustaka disusun layaknya suatu hamparan (unfolding) yang membentang dari kiri-kekanan, dengan sisi-kanan paling akhir diisi oleh penelitian yang diajukan. Model ketiga bisa berbentuk lingkaran-lingkaran di mana setiap lingkaran mencerminkan satu literatur dan titik potong lingkaran-lingkaran yang mengindikasikan penelitian selanjutnya. Saya pernah melihat contoh-contoh dari ketiga struktur ini, dan semuanya ternyata efektif.

Keadian Prosedural dalam Organisasi*

Terbentuknya Persepsi tentang Keadian

Efek-efek Keadilan

Keadian dalam Perubahan Organisasi*

Motif-motif (Tyler, 1994)

Pengetahuan (Schappe, 1996)

Outcome-outcome (Masterson, Lewis, Goldman, dan Taylor, 2000)

Kepercayaan (Konovsky dan Pugh, 1994)

Penjelasan-penjelasan

Iklim (Nauman dan Bennett, 2000)

Struktur-struktur Organisasi (Schminke, Ambrose, dan Cropanzona, 2000)

Perilaku-perilaku Kewarganegaraan Organisasi Moorman, 1991)

Dukungan Organisasi (Moorman, Blakely, dan Niehoff, 1998)

Divestasi (Gopinath dan Becker, 2000)

Sejarah (Lawson dan Angle, 1998)

Relokasi (Daily, 1995)

Pendapat/Suara (Bies dan Shapiro, 1998, Hunton, Hall, dan Price, 1998; Lind, Kanfer, dan Early, 1990)

Kemimpinan (Wiensenfeld, Brockner, dan Thibalt, 2000) Pengambilan Keputusan strategis (Kim dan Mauborgne, 19980

Treatment yang Tidak Adil (dailey dan Kirk, 1992; Kickul, 2011; Tepper, 2000)

Kredit Macet (Shaubroeck, May, dan Brown, 1994)

Yang perlu diteliti (Keadilan dan Kultur Prosedural

Gambar 2.1 Contoh Peta Pustaka *Kekhawatiran-kekhawatiran para pekerja terhadap keadilan dalam keputusan-keputusan manajerial SUMBER: Janovec (1002) Dicetak atas izin resmi

Intinya, peneliti sebaiknya membangun gambaran visual atas penelitian-penelitian atau literatur-literatur yang sudah ada sebelumnya. Gambar 2.1 rnerupakan contoh peta literatur yang mengilustrasikan literatur-literatur yang berkaitan dengan keadilan prosedural dalam studi-studi organisasi (Janovec, 2001). Peta Janovec ini menggambarkan model hierarkis, dengan prinsip-prinsip rancangan peta yang sangat baik. Dia menempatkan topik penelitiannya di kotak hierarki paling atas. Selanjutnya, dia mencari penelitian-penelitian lain di database terkomputerisasi, lalu menyusunnya ke dalam tiga subtopik umum (misalnya, Susunan Persepsi Keadilan, EfekEfek Keadilan, dan Keadilan demi Perubahan Organisasi). Untuk peta seperti ini, peneliti bisa saja menempatkan lebih sedikit atau banyak dari sekadar empat kategori, bergantung pada ketersedian penelitian-penelitian lain sebelumnya. Dalam setiap kotak, ada pula label-label yang menggambarkan sifat dari penelitian yang terdapat di dalamnya. Dalam setiap kotak itu pula disertakan referensi-referensi relevan lain yang terkait. Saya merekomendasikan Anda untuk menggunakan referensi-referensi yang terbit baru-baru ini dan secara tepat menuliskan referensi-referensi tersebut, dalam setiap kotak, berdasarkan gaya tertentu, seperti gaya APA. Perhatikan pula tingkatan-tingkatan dalam peta literatur ini. Setiap topik umum menuntun subtopik-subtopik tertentu yang dilanjutkan dengan subtopik-subtopik berikutnya, begitu seterusnya. Anda bisa saja membuat peta literatur yang jauh lebih luas ketimbang peta literatur di atas. Namun, perluasan ini tentu saja bergantung pada jumlah literatur yang tersedia dan kedalaman eksplorasi dari setiap literatur tersebut. Kembali lagi ke peta literatur Janovec. Setelah menyusun literatur-literatur dalam bentuk diagram hierarkis, Janovec kemudian menyajikan cabang-cabang lanjutan dari setiap kotak untuk menunjukkan keluasan penelitiannya. Dia membuat kotak Need to Study (Yang Perlu Diteliti) di bagian peta paling bawah yang menunjukkan penelitian yang ia ajukan, yaitu Procedural Justice and Culture (Keadilan dan Kultur Prosedural), lalu ia menggambar garis-garis untuk literatur-literatur sebelumnya. Semua ini disusun untuk membuktikan bahwa proyek penelitian Janovec dapat memperluas literatur-literatur tersebut. Khusus untuk peta literatur Anda, cobalah memasukkan penelitian-penelitian kuantitatif, kualitatif, dan metode campuran di dalarnnya

Mengabstraksikan Literatur Ketika peneliti menulis tinjauan pustaka untuk penelitiannya, dia perlu mencari literatur-literatur, lalu membuat abstraksi atas literatur-literatur tersebut. Abstraksi ini harus mewakili isi dari setiap literatur, utamanya yang terkait dengan topik penelitian. Abstraksi merupakan tinjauan singkat atas literatur (biasanya dalam bentuk paragraf pendek) yang meringkas elemen-elemen utama agar pembaca dapat memahami keunggulan-keunggulan dasar dari setiap literatur. Untuk membuat abstraksi, peneliti perlu mempertimbangkan materi apa yang akan diringkas dari literatur yang ada. Abstraksi menjadi informasi penting manakala peneliti ingin meninjau puluhan atau bahkan ratusan literatur. Dalam jurnal-jurnal ilmiah, kita dapat melihat ada banyak contoh abstraksi ini. Biasanya, abstraksi yang baik mencakup beberapa poin berikut: Menyatakan masalah yang tengah dibahas. Menyatakan tujuan atau fokus utama penelitian. Menyatakan secara singkat informasi tentang sampel, populasi atau data. Membahas hasil-hasil inti yang berhubungan dengan penelitian yang diajukan. Jika tinjauan pustakanya bersifat metodologis (Cooper, 1984), tunjukkan kekurangan teknis dari metodologis dalam literatur/ penelitian tersebut. Dalam jurnal ilmiah, abstraksi pada umumnya ditulis di bagian awal penelitian. Namun, dalam penelitian-penelitian akademik, seperti disertasi atau tesis, abstraksi tidak hanya ditulis di bagian awal penelitian, tetapi juga bisa ditulis dalam bagian tinjauan pustaka, yang biasanya ditujukan untuk mendeskripsikan materi literatur-literatur atau penelitian-penelitian sebelumnya yang terkait dengan topik penelitian yang diajukan (penj.). Untuk mengabstraksikan penelitian-penelitian relevan lain yang sudah dilakukan sebelumnya, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan. Jika penelitian tersebut berbentuk karya tulis ilmiah, carilah masalah dan tujuan penelitiannya (biasanya terdapat dalam pendahuluan). Informasi tentang sampel, populasi atau data penelitian, carilah di pertengahan (biasanya dalam bagian metode/ prosedur penelitian), sedangkan hasil penelitian sering kali disampaikan di akhir karya tulis (biasanya dalam penutup/kesimpulan). Khusus di bagian akhir ini, carilah pernyataan-pernyataan si penulis yang menunjukkan jawaban singkat atas rumusan masalah dan hipotesis penelitian yang diajukan sebelumnya. Hal yang sama juga dilakukan jika penelitiannya berbentuk buku. Perhatikan contoh berikut :

Contoh 2.1 Tinjauan Pustaka dalam Penelitian Kuantitatif Berikut ini, ringkasan satu paragraf atas komponen-komponen utama dalam peneitian kuantitatif (Creswel, Seagren, & Henry, 1979), sangat mirip dengan paragraf yang muncul dalam tinjauan pustaka yang biasanya terdapat dalam disertasi atau artikel jurnal. Dalam kutipan ini, saya telah memiih komponen-komponen kunci untuk diabstraksikan. Creswell, Seagren, dan Henry (1979) menguji mode Biglan, model tiga-dimensi yang mengelompokkan 36 bidang akademik ke dalam bidang0bidang yang sulit atau mudah, murni atau aplikasi, dan kehidupan atau nono-kehidupan, sebagai prediktor atas kebutuhn pengembangan profesional seorang pemimpin. Delapan ketua jurusan yang bertugas di empat perguruan tinggi dan satu universitas negeri Midwestern menjadi partisipan dalam penelitian ini. Hasinya menunjukkan bahwa para ketua jurusan dalam bidang akademik yang berbeda memiliki kebutuhan pengembangan profesional yang berbeda-beda pua. Berdasarkan penemuan ini, Creswell dkk. Merekomendasikan agar para ketua/pimpinan yang mengembangkan program-program inservice perlu mempertimbangkan perbedaan-perbedaan antarbidang yang dipimpinnya.

Pada contoh di atas, kami menulis abstraksi penelitian berdasarkan referensi in-text dengan format APA (2001). Dalam abstraksi ini, kami meringkas tujuan inti penelitian, yang diikuti dengan informasi tentang pengumpulan data dan diakhiri dengan pernyataan tentang hasil-hasil utama dan implikasi-implikasi praktis dari hasi-hasil tersebut. Lalu, bagaimana mengabstraksilcan esai, opini, tipologi, dan sintesis dari penelitian sebelumnya, padahal tulisan tulisan seperti ini tidak termasuk dalam studi penelitian? Untuk tulisan-tulisan yang berbasis penelitian non-empiris seperti di atas, abstraksinya dapat dibuat dengan cara berikut: Sebutkan masalah yang dibahas oleh tulisan tersebut. Identifikasilah tema utama tulisan tersebut. Nyatakan kesimpulan utama yang berhubungan dengan tema itu. Jika jenis tinjauan pustakanya bersifat metodologis, jelaskan kekurangan-kekurangan tulisan tersebut dalam hal penalaran, logika, kekuatan argumentasi, dan seterusnya. Berikut ini, salah satu contoh abstraksi yang mengilustrasikan karakteristikkarakteristik di atas.

Contoh 2.2 Tinjauan Pustaka dalam Studi Tipologi Sudduth (1992) menyelesaikan disertasi kuantitatifnya dalam bidang poitik tentang adaptasi strategis di beberapa rumah sakit pedesaan. Dia melakukan tinjauan pustaka di awal penelitian. Dalam hal ini. Sudduth meringkas tiga ha, yakni masalah, tema, dan tipologi Ginter, Duncan, Richardson, dan Swayne (1991) mengangap bahwa lingkungan eksternal berdampak pada mekampuan rumah sakit untuk beradaptasi dengan perubahan. Meraka kemudian menyarankan suatu proses yang dikenal dengan analisis lingkungan (environmental anaysis) yang memungkinkan suatu organisasi dapat merespons secara strategis perubahan-perubahan muncu di lingkungan, ternyata tidak ada satu pun skema konseptual atau model komputer yang komprehensif yang berhasil dikembangkan untuk menganalisis isu-isu lingkungan (Ginter et al., 1991). Meraka lalu menyimpulkan bahwa perubahan yang paling strategis adalah perubahan yang bertumpu pada proses evaluasi yang non-quantifiable dan non-judgemental. Untuk membantu pengelola rumah sakit mengevaluasi lingkungan ekternal, Ginter et al. (1991) lalu mengembangkan suatu tipologi, seperti yang terdapat dalam Gambar 2.1

Pada contoh di atas, Sudduth mereview penelitian/literatur relevan lain dengan menggunakan gaya referensi in-text untuk menjelaskan masalah ("kemampuan rumah sakit untuk menyesuaikan perubahan"), mengidentifikasi tema utama ("suatu proses yang mereka sebut sebagai enviromental analysis"), dan menyatakan kesimpulan yang berhubungan dengan tema tersebut (seperti, "tidak ada satu pun model konseptual yang komprehensif," "mengembangkan suatu tipologi).

Petunjuk Gaya

Pada dua contoh sebelumnya, saya telah memperkenakan gagasan tentang bagaimana menggunakan gaya APA untuk mereview artikel di bagian awal abstraksi. Petunjuk gaya (style manual) menyediakan arahan-arahan bagi para peneliti untuk menulis penelitian bergava akademis, seperti format yang konsisten dalam mengutip referensi membuat judul, menyajikan tabel dan gambar, dan menggunakan bahasa yang tidak diskriminatif. Landasan utama dalam melakukan tinjauan pustaka adalah menggunakan gaya referensi yang tepat dan konsisten di sepanjang tulisan. Ketika mendapatkan dokumen yang sekiranya penting dan relevan, jadikanlah dokumen tersebut sebagai referensi dengan menggunakan gaya yang sesuai. Untuk proposal disertasi, mahasiswa pascasarjana seharusnya meminta arahan dari pihak fakultas, dewan pertimbangan disertasi, staf jurusan atau universitas tentang gaya seperti apa yang seharusnya digunakan dalam mengutip referensi.

Publication Manual of the American Psychological Association, Fifth Edition (APA, 2001) merupakan petunjuk gaya yang paling sering digunakan dalam bidang pendidikan dan psikologi. Gaya penulis Universitas Chicago (A Manual of Style, 1982), Turabian (1973), dan Campbell dan Ballou (1977) juga sering digunakan dalam bidang ilmu sosial meskipun tetap kurang populer jika dibandingkan dengan gaya APA. Beberapa jurnal juga telah mengembangkan variasi gaya mereka sendiri. Saya merekomendasikan Anda

mengidentifikasi satu gaya yang dapat diterima oleh para pembaca dan segera mengadopsinya dalam proyek penelitian Anda. Style manual pada umumnya mempertimbangkan beberapa format penting, seperti intext, end-of- text, judul, dan penggunaan gambar dan tabel. Berikut ini adalah beberapa rekomendasi saya terkait dengan bagaimana menggunakan petunjuk gaya untuk keperluan tulisan akademik: Ketika menulis referensi in-text, perhatikan format yang tepat untuk jenis-jenis referensi dan kutipan ganda. Ketika menulis referensi end-of-text, perhatikan juga apakah petunjuk gaya yang Anda gunakan mengharuskan referensi ini ditulis secara alfabetis atau numerik. Selain itu, pastikan pula bahwa setiap referensi in-text sudah masuk dalam daftar end-text. Dalarn makalah/karya tulis akademik, judul (heading) biasanya disusun dalam bentuk tingkatan-tingkatan. Pertama-tama, perhatikan seberapa banyak tingkatan judul yang akan Anda tulis dalam penelitian Anda. Kemudian, bukalah petunjuk gaya untuk mendapatkan format yang sesuai untuk setiap tingkatan tersebut. Biasanya, laporan penelitian berisi sekitar dua hingga empat tingkatan judul. Jika menggunakan catatan kaki (footnote), perhatikan petunjuk gaya untuk mengetahui bagaimana menulis footnote yang sesuai. Footnote saat ini jarang sekali digunakan dalam makalah/karya tulis akademik dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika Anda menyertakan footnote, perhatikan apakah footnote tersebut berada di bagian bawah setiap halaman, di akhir setiap bab, atau di akhir makalah. Tabel (table) dan gambar (figure) memiliki format-formatnya tersendiri dalam setiap petunjuk gaya. Perhatikan aspek-aspek penting, seperti garis yang harus dicetak tebal (bold), judul, dan spasi, pada contoh-contoh yang disajikan. Ringkasnya, aspek terpenting dalam penggunaan petunjuk gaya adalah konsistensi di sepanjang tulisan.

Definisi Istilah

Topik lain yang berhubungan dengan tinjauan pustaka adalah identifikasi dan definisi istilah-istilah yang dibutuhkan pembaca untuk memahami proyek penelitian yang diajukan. Bagian defnisi istilah bisa saja ditulis secara terpisah dari tinjauan pustaka, bisa pula masuk dalam tinjauan pustaka, atau justru diletakkan di bagian lain dalam proposal penelitian. Saran saya, definisikan istilah-istilah vang kemungkinan tidak dimengerti oleh orangorang di luar bidang penelitian Anda, atau istilah-istilah yang terdengar asing (Locke, Spirduso, & Silverman, 2007). Pentingnya sejumlah istilah untuk didefinisikan memang hanya persoalan judgment saja, namun saya tetap merekomendasikan Anda untuk mendefinisikan istilah-istilah tertentu y ang kemungkinan tidak dipahami oleh sebagian besar pembaca. Selain itu, definisikan istilah-istilah ketika muncul pertama kali agar pembaca tidak perlu kembali lagi membaca di bagian awal ketika mereka menemukan istilah-istilah tersebut dibagian akhir atau pertengahan. Sebagai mana pendapat Wilkinson (1991), "para ilmuwan harus mendefinisikan istilah-istilah yang dapat menjelaskan penelitian mereka secara tepat dan dapat mengomunikasikan penemuan-penemuan dan gagasan-gagasan mereka secara akurat" (hlm. 22). Mendefinisikan istilah juga dapat menambah keakuratan suatu penelitian, seperti diungkapkan oleh Firestone (1987) berikut ini:

Bahasa sehari-hari memiliki makna yang sangat kaya dan beragam. Sepert halnya simbol, kekuatan bahasa berasal dari kombinasi antara makna dengan konteks tertentu. Bahasa ilmu saat ini tampaknya terlalu sering mengabaikan

keanekaragaman makna ini, utamanya dalam hal keakuratan. Inilah alasan mengapa istilah-istilah umum atau bahasa-bahasa sehari-hari pun bisa saja memiliki "maknamakna teknis" jika digunakan untuk tujuan keilmuan (hlm. 17).

Demi keakuratan inilah, peneliti perlu mendefinisikan istilah-istilah penting di awal penelitian. Dalam proposal disertasi dan tesis, definisi istilah biasanya ditulis di bagian khusus. Alasannya adalah bahwa dalam penelitian-penelitian formal seperti ini, mahasiswa harus tepat dalam menggunakan bahasa dan istilah. Hanya dengan menjelaskan pemikiranpemikiran dalam definisi-definisi yang otoritatiflah, keilmuan kita akan terbentuk dengan baik. Karena itu, definisikan istilah-istilah yang muncul di semua bagian proposal penelitian Anda:

Judul penelitian Masalah penelitian Tujuan penelitian Pertanyaan atau hipotesis penelitiar Tinjauan pustaka Landasan teori Metode penelitian.

Definisi istilah bisa saja ditulis untuk semua jerus penelitian, baik kualitatif, kuantitatif, ataupun metode campuran. Dalampenelitian kualitatif, karena bersifat induktif dan melibatkan rancangan

metodologis, peneliti bisa saja mendefinisikan beberapa istilah di awal penelitian meskipun definisi ini hanya tentatif semata. Sebagai gantinya, tema-tema (atau perspektifperspektif atau dimensi-dimensi) dapat ditulis setelah analisis data. Dalam bagian prosedur penelitian, peneliti dapat mendefinisikan istilah-istilah penting pada saat istilah-istilah ini muncul pertama kali. Karena alasan inilah, para peneliti kualitatif sering kali tidak membuat bagian terpisah untuk definisi istilah, melainkan mengemukakan definisi-definisi tersebut secara tentatif di awal penelitian sebelum masuk ke dalam inti persoalan. Di sisi lain, dalam penelitian kuantitatifyang sering ditulis secara deduktif dengan sasaran penelitian yang sudah fixedpeneliti dapat menyertakan definisi-definisi ekstensif dalam proposal penelitiannya. Peneliti meletakkan definisi ini pada bagian terpisah. Peneliti juga mencoba mendefinisikan secara komprehensif istilah-istilah yang relevan di awal penelitian dan menggunakan definisi-definisi lain yang diperoleh dari literatur. Dalam penelitian metode campuran, definisi istilah bisa diletakan di bagian terpisah jika penelitiannya dimulai dengan tahap awal pengumpulan data kuantitatif. Jika penelitiannya diawali dengan pengumpulan data kualitatif, berarti istilah-istilah bisa didefinisikan sepanjang penelitian, atau bahkan di bagian akhir penelitian. Jika pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif ditulis secara bersamaan, berarti penulisan definisi istilah bergantung pada prioritas yang diberikan atas salah satu dari dua jenis penelitian tersebut. Namun, dalam penelitian metode campuran, ada istilah-istilah yang mungkin terdengar asing bagi pembacamisalnya definisi tentang penelitian metode campuran itu sendiri sehingga peneliti perlu meletakkan definisi tersebut di bagian prosedur penelitian (lihat Bab 10). Selain itu, jelaskan istilah-istilah yang berhubungan dengan strategi penelitian

yang digunakan seperti strategi konkuren atau sekuensial, dan istilah tertentu untuk strategi tersebut (seperti rancangan triangulasi konkuren, seperti yang akan dibahas pada Bab 10).

Tidak ada satu pun pendekatan yang dianggap paling baik untuk mendefinisikan istilah-istilah dalam penelitian. Meski demikian, ada beberapa saran yang perlu dipertimbangkan (lihat juga Locke et al., 2007): Definisikan suatu istilah ketika ia muncul pertama kali dalam proposal Anda. Dalam pendahuluan, misalnya, suatu istilah bisa saja menuntut adanya definisi untuk membantu pembaca memahami masalah penelitian, rumusan masalah, atau hipotesis penelitian tersebut. Tulislah definisi dalam tingkatan operasional tertentu. Definisi operasional ditulis dalam bahasa tertentu, tidak dalam bahasa konseptual yang abstrak. Karena peneliti memiliki ruang untuk menspesifikasikan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitiannya maka lebih baik digunakan definisi operasional saja. Jangan mendefinisikan istilah-istilah dan bahasa sehari-hari. Alhasil, gunakanlah bahasabahasa "teknis" yang sudah ada dalam literatur. Dalam hal ini, istilah-istilah harus didasarkan pada literatur dan tidak boleh Anda buat sendiri (Locke et al., 2007). Meski demikian, sangat mungkin definisi yang tepat atas suatu istilah tidak tersedia dalam literatur, dan bahasa sehari-hari pun bisa jadi digunakan. Jika demikian ihwalnya, sajikanlah definisi yang tepat dan gunakanlah istilah-istilahnya secara konsisten di sepanjang proposal penelitian (Wilkinson, 1991). Definisi istilah bisa ditulis dengan karakteristik yang berbeda-beda. Definisi dapat mendeskripsikan istilah sehari-hari (seperti, organisasi). Definisi juga bisa disandingkan dengan batasan tertentu, seperti, "Kurikulum ini dibatasi hanya pada kurikulum School Disctrict Manual untuk siswa SMP" (Locke et al., 2007, hlm. 130). Definisi juga bisa terdiri dari kriteria yang digunakan dalam penelitian, seperti, "Rata-rata IP mahasiswa yang digunakan dalam penelitian ini adalah GPA kumulatif 3,7 atau di

atasnya,berdasarkan skala 4,0." Definisi juga bisa menjelaskan istilah secara operasional, seperti, "Penguatan (reinforcement) dalam penelitian ini merujuk usaha-usaha untuk mendaftarkan semua anggota klub pada buletin sekolah, menyediakan ruangan khusus bagi anggota, dan mendaftarkan keanggotaan klub pada transkip nilai sekolah" (Locke et al., 2007, hlm. 130).

Meskipun tidak ada satu format yang dianggap paling tepat, sebagian besar definisi istilah diletakkan di bagian khusus penelitian, yang sering kali bertajuk "Definisi Istilah," dan memasangkan istilah-istilah dengan definisi-definisinya dengan cara meng-highlight istilah tersebut, yang menunjukkan bahwa istilah itu memiliki makna tertentu (Locke et al., 2007). Biasanya, bagian yang terpisah ini tidak lebih dari dua atau tiga paragraf saja. Dua contoh berikut menggambarkan susunan definisi istilah yang berbeda-beda dalam penelitian:

Contoh 2.3.

Definisi Istilah dalam Disertasi Metode Campuran

Contoh pertama ini mengilustrasikan definisi panjang atas istilah-istilah dalam penelitian metode campuran yang diletakkan di bagian terpisah pada Bab I, Pendahuluan. VanHorn-Grassmeyer (1998) meneliti bagaimana 119 staf baru bidang kemahasiswaan di perguruan tinggi terlibat dalam refleksi secara individual atau kolaboratif. Grassmeyer menyurvei para staf baru dan melakukan wawancara mendalam dengan mereka. Karena penelitian refleksi individual dan kolaboratif di antara para staf bidang kemahasiswaan ini, Grassmeyer kemudian memberikan definisi detail atas istilah-istilah tersebut di awal penelitiannya. Berikut ini saya akan menggambarkan dua cara bagaimana Grassmeyer mendefinisikan istilah-istilahnya. Perhatikan bagaimana Grassmeyer merujuk pada definisi istilah yang sudah disajikan oleh para penulis lain : Refleksi Individual Schon (1983) menulis sebuah buku yang menjelaskan konsep-konsep yang ia sebut sebagai berfikir reflektif, berefleksi dan praktik reflektif. Setelah beberapa decade, buku ini kemudian ditulis dan dirombak kembali oleh Schon dan Argyris (Argyris dan Schon, 1978) untuk mempertajam konsep-konsep tersebut. Dari buku Schon inilah, sejauh yang peneliti pahami, definisi singkat atas refleksi individual adalah tindakan intuitif yang sulit dilakukan. Meski demikian, dalam penelitian ini, karakteristik-karakteristik penting dari refleksi individual dapat merujuk pada beberapa hal : (a) tindakan artistic (Schon, 1983); (b) bagaimana seseorang mempraktikkan secara terang-terangan apa yang diketahuinya secara intuitif; dan (c) bagaimana seorang pengurus professional meningkatkan praktiknya melalui tuturan reflektif dan pikiran.

Staf Kemahasiswaan Staf memiliki banyak definisi. Baskett dan Marsick mendeskripsikan staf sebagai seorang individu yang memiliki pangkat tertentu dari kebebasan untuk memberikan judgment dengan tetap didasarkan pada gagasan, perspektif, informasi, norma dan kebiasaan kolektif (dan seorang individu yang terlibat dalam persoalan-persoalan professional) (Baskett & Marsick, 1992:3). Staf kemahasiswaan setidak-tidaknya memiliki karakteristikkarakteristik di atas dalam melayani mahasiswa di lingkungan universitas yang salah satu fungsinya adalah mendukung keberhasilan akademik dan kurikulum. (VanHorn-Grassmeyer, 1998:11-12) Contoh 2.4 Definisi Istilah dalam Subbab Variabel-Variabel Bebas

Contoh keduaini menggambarkan bentuk singkatbagaimana menulis definisi istilah untuk suatu penelitian. Jika pada contoh ini disajikan definisi operasional tertentu, pada contoh kedua ini disajikan definisi procedural. Vernon (1992) meneliti bagaimana perceraian dalam keturunan kedua mempengaruhi relasi antara kakek-nenek dan cucu-cucu mereka. Untuk menjelaskan topic ini, Vernon memasukkan definisi istilah pada subbab variablevariabel bebas. Relasi Kekeluargaan Dengan Cucu Relasi kekeluargaan dengan cucu pada umumnya ditentukan oleh apakah kakeknenek berasal dari pihak ibu atau dari pihak ayah. Penelitian sebelumnya (seperti Cherlin dan Furstenberg, 1986) menyatakan bahwa kakek-nenek dari pihak ibu cenderung dekat dengan cucu-cucu mereka. Jenis Kelamin Kakek-Nenek Baik kakek meupun nenek ternyata menjadi salah satu fackor dalam relasi kekeluargaan antara mereka dengan cucu-cucu mereka (seperti, nenek cenderung lebih dekat dengan cucu-cucu mereka daripada kakek), sehingga peran menjaga keutuhan keluarga sering kali dikaitkan dengan wanita di dalamnya (Hagestad, 1988) . (Vernon, 1992:35-36)

Tinjauan Pustaka Kuantitatif atau Metode Campuran Saat menyusun tinjauan pustaka, biasanya peneliti akan sulit menentukan seberapa banyak literatur yang harus direview. Agar masalah ini terselesaikan, saya telah mengembangkan satu model yang menyajikan parameter-parameter tertentu dalam menulis tinjauan pustaka, khususnya untuk rancangan penelitian kuantitatif atau metode campuran yang hampir selalu menyediakan bagian/subbab khusus unhrk tinjauarr pustaka. Dalam penelitian kualitatif, tinjauan pustaka bisa saja mengeksplorasi aspek-aspek fenomena utama yang dibahas dan membaginya ke dalam topik-topik khusus. Meski demikian, tiniauan pustaka dalam penelitian kualitatif ini, seperti yang telah dibahas sebelumnya, dapat ditulis untuk tujuan yang berbeda-beda (misalnya, sebagai alasan atau penjelasan logis atas masalah penelitian, sebagai sesuatu yang dibahas sepanjang penelitian, sebagai sesuatu yang dibandingkan dengan hasil penelitian, dan sebagainya). Untuk penelitian kuantitatif atau metode carnpuran yang memprioritasknn penelitian kuantitatif, tulisiah.tinjauan pusiaka yang berisi materi-materi perrting daiam literatur yang berhubungan dengan variabel-variabel bebas, variabel-variabel terikat, dan relasi antara variabel bebas dan variabel terikat (lebih jelas tentang variabel ini baca Bab 3). Model penulisan ini tampaknya sesuai untuk disertasi atau untuk mengkonseptualisasikan literatur dalam artikel/karya tulis ilmiah. Buatlah tinjauan pustaka yang tersusun dari lima komponen: Pendahuluan, Topik 1 (tentang variabel bebas), Topik 2 (tentang variabel terikat), Topik 3 (keterangan-keterangan lain yang membahas relasi antara variabel bebas dan variabel terikat), dan Kesimpulan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan rincian berikut ini: 1. Tulislah paragraf awal tinjauan pustaka dengan memerinci bagian-bagian yang akan dibahas di dalamnya.Paragraf ini lebih berupa penjelasan tentang susunan setiap bagian dalam tinjauan pustaka yang Anda tulis. 2. Tinjaulah Topik 1, yakni dengan meninjau literature-literatur akademik tentang satu atau beberapa variabel bebas. Jika ada beberapa variabel bebas ),ang dibahas dalan'r literatur tersebut,perhatikan subbagian-subbagiannya atau fokuslah pada satu variabel yang paling penting saja. Jangan lupa membahas penjelasan dalam literature yang hanya terkait dengan variabel bebas, bukan variabel terikat. 3. Tinjaulah Topik 2, yakni dengan meninjau literatur-literatur akademik tentang satu atau beberapa variabel terikat. Jika dalam literature tersebut dibahas bebepa variabel terikat,perhatikan subbagian-subbagiannya atau fokuslah pada satu variabel terikat yang paling panjang saja.

4. Tinjaulah Topik 3, yakni iengan meninjau literatur-literatur akademik yang membahas hubungan antara variabel-variabel bebas dan variabel(-variabel) terikat. Di sinilah inti dasar penelitian Anda. untuk itu, bagian ini harus padat dan berisi literatur-literatur lain yang memang sangat berkaitan dengan topik penelitian Anda. Ambillah satu bagian dalam literature tersebut yang sangat berkaitan erat dengan topik atau tinjaulah bagianbagian lain yang membahas topik tersebut secara umum. 5. Di bagian akhir tinjauan pustak, buatlah kesimpulan atau ringkasan yang menonjolkan literature-literatur yang dianggap paling relevan; tunjukkan tema-tema utama yang diangkat oleh literature-literatur tersebut,jelaskan mengapa tema-tema ini membutuhkan penelitian lebih lanjut dan tentu saja yakinkan pembaca mengapa penelitian lebih lanjut dan tentu saja yakinkan pembaca mengapa penelitian Anda dapat memenuhi kebutuhan ini. Langkah-langkah di atas dapat diterapkan untuk menulis tinjauan pustaka untuk jenis penelitian yang membahas variabel-variabel (biasanya kuantitatif atau penelitian metode campuran dengan bobot kuantitatif). Tidak hanva itu, langkah-langkah ini iuga dapat mempersempit ruang lingkup penelitian yang diaiukan sehingga rumusan masalah dan metode penelitian yang nantinva disajikan benar-benar dapat terjangkau dengan baik

KESIMPULAN Sebelum mencari literatur, identifikasilah topik Anda, misalnya dengan merancang iudul yang jelas atau menyatakan rumusan masalah utama. Selain itu, pertimbangkan apakah topik Anda dapat dan perlu diteliti dengan cara mencari tahu adakah akses kepada para partisipan dan sumber-sumber lain, dan apakah topik tersebut akan memberikan konkibusi pada literatur yangada, akan diminati oleh orang lain, dan konsisten dengan tujuan-tu;uan utamanya. Dalam tinjauan pustaka, peneliti seyogianya menggunakan literatur-literatur akadernik untuk menyajikan hasil-hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya,

menghubungkan penelitiannya dengan literatur-literatur tersebu! dan menyediakan kerangka kerja dalam membandingkan hasil penelitiannya dengan hasil penelitian-penelitian lain. untuk penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran, literatur memiliki tujuan yang berbeda-beda. Dalam penelitian kua litatif,bteratur membantu memverifikasi masalah. Penelitiar tetapi literatur tersebut tidak mempersempit pandangan dari para partisipan. Pendekatan umurn yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah memasukkan

lebih banyak literatur di bagian akhir ketimbang di bagian awal. Dalam pen elTtian kuantitatif, literatur tidak hanya membantu memverifikasi masalah, tetapi juga

memperlihatkan kemungkinan perlunya mmusan masalah atau hipotesis untuk dibahas. Dalam penelitian kuantitatif, tinjauan pustaka biasanya diletakkan terpisah dalam satu bagian khusus. Namun demikian, dalam penelitian metocle campuran, Penggunaan tinjauan pustaka bergantung pada jenis rancangan dan bobot yang diberikan pada aspek-aspek kuaiitatif dan kuantitatif. Ketika akan melakukan tinjauan pustaka, identifikasilah kata kunci-kata kunci (keywords) untuk mencari literatur. Kemudian, carilah database-database online, seperti ERIC, ProQuest, Google Scholar; PubMed, dan database-database lain yang lebih spesifik, seperti PsycINFO, Sociofile, dan SSCI. Lalu, carilah literatur-literatur yang sesuai dengan prioritas, pertama-pertama carilah artikel jurnal, lalu buku-buku, dan seterusnya. Identifikasilah penelitian-penelitian lain yang turut memberikan kontribusi pada penelitian Anda. Kelornpokkan penelitian-p-enelitian ini ke dalam peta literatur yang mencerminkan kategori-kategori utama atas penelitian-penelitian tersebut dan posisikin penelitian Anda dalam kategori-kategori ini. Mulailah menulis absiaksi penelitian, seraya memerhatikan gaya penulisan referensi berdasarkan petunjuk gaya (seperti, APA, 2001). Deskripsikan secara singkat informasi penting tentang penelitian tersebut yang meliputi masalah penelitian pertanyaan penelitian, pengumpulan dan analisis data penelitian' dan hasil akhir penelitian. Definisikan istilah-istilah kunci dan jika dibutuhkan sediakan subbab khusus untuk definisi istilah ini dalam proposal Anda; atau jika tidak, masukkan definisi tersebut dalam tinjauan pustaka. pada tahap akhir, pertimbangkan keseluruhan struktur Penyusunan tinjauan pustaka Anda, Untuk penelitian kuantitatif, Anda dapat menyediakan bagian khusus untuk tinjauan pustaka berdasarkan variabel-variabel utama, atas berdasarkan subtema-subtema penting suatu fenomena untuk penelitian kualitatif'

Latihan Menulis 1. Buatlah peta literatur untukliteratur-literatur yang Anda peroleh. Masukkan penelitian Anda ke dalarn peta tersebut dan gambarlah garis-garis Cari penelitian Anda ke kategori-kategori pehelitian lain seiringga pembaca dapat mudah

LATIHAN MENULIS

melihatbagaimana penelitian Anda benar-benar memperluas pertelitian/literatur yang sudah ada 2. Buatlah tiniauan pustaka untuk penelitian kuantitatif dan perhatikan langkahlangkah yang sudah diielaskansebelumny agar variabel-variabel penelitian Anda dapat terlihat dengan jelas. 3. Berlatihlah dengan menggunakan database online terkomputerisasi untuk mencari literalur-literatur yang relevan dengan topik Anda' Lakukan pencarian berulangulang hingga Anda menemukan satu literature yang sangat ierkait dengan topik penelitian Anda' Kemudian, lakukan pencarian ulang dengan memanfaatkan deskrip tor-deskriptor yang terdapat dalarn literatur tersebut. Ambillah l0 literatur yang telah Anda pilih dan abstraksikan literatur tersebut untuk tinjauan pustaka Anda. 4. Berdasarkan pencarian yang sudah Anda lakukan pada latihan (3), tulislah satu abstraksi -rnasing-masing untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif- atas literatur/penelitian lain yang sudah Anda dapatkan dari database terkomputerisasi. Gunakan petunjuk-petunjuk yang sudah dijelaskan dalambab ini

untukmengetahui elemen-elemen aPa saja yang perlu dimasukkan dalam abstraksi tersebut.

BACAAN TAMBAHAN Locke, L.F., Spirduso, W.W, & Silverman, SJ. (2007). Proposals that Work A Guide for Planning Dissertations and Grant Proposals (5'h Edition). Thousand Oaks. CA: Sage. Lawrence Locke, Waneen Spirduso, dan Stephen Silverman mendeskripsikan tiga tahapan dalam melakukan tiniauan pustaka, antara lain: mengembangkan konsep-konseP yang menjelaskan alasan/logika penelitian, mengembangkan subtopik-subtopik untuk setiap konsep utama, dan menambah referensi-referensi terpenting yang mendukung konsep-konsep tersebut. Mereka juga menjelaskan enam aturan dalam mendefinisikan istilahistilah: jangan membuat kata-kata sendiri, sajikan definisi-definisi di bagian utama proposal, jangan

menggunakan bahasa-bahasa umum sehari-hari, definisikan istilah-istilah penting ketika muncul pertama kali, dan gunakan definisi-definisi tertentu (prosedural atau operasional, peni.) untuk istilah-istilah tersebut.

Merriam, S.B. (1998). Qualitatit:e Research and Case Study Applications in Education. San Francisco: Jossey-Bass. Sharan Merriam menyajikan pembahasan menarik tentang penggunaan literatur dalam penelitian kualitatif . Dia mernperkenalkan langkah-langkah dalam melakukan tinjauan pustaka dan memberikan kriteria penting dalam memilih literatur. Langkah-langkah ini mencakup usaha peneliti untuk memeriksa apakah Pengarang literatur tersebut sudah kompeten dengan topik yang diangkat, kapan terakhir kali literatur tersebut diterbi&an, apakah literature tersebut relevan dengan topik penelitian yang diajukan, dan apakah literatur tersebut berkualitas. Merriam lebih jauh menjelaskan bahwa tinjauan pustaka bukanlah sekadar proses linear dari membaca literatur, lalu mengidentifikasi kerangka teoretis, kemudian menulis masalah peelitian. Lebih dari itu, tinjauan pustaka justru melibatkan proses yang lebih interaktif, yakni melakukan langkah-langkah ini secara bersama-bersama.

Punch, K.F. (2005) .Introduclion to social Research: Quantitatiae and Qualitatioe Approaches (2'd edition). London: Sage Keith Punch membahas tentang penelitian ilmu-ilmu sosial yang biasanya menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan. Konseptualisasi Funch atas isu-isu penting yang membedakan dua pendekatan ini semakin memperjelas mengapa kedua pendekatan tersebut berbeda. Punch juga. mencatat bahwa ketika menulis proposal atau laporan penelitian, fokus kita dalam menulis tinjauan pustaka sering kaliberbeda-beda. Faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan tersebut biasanyi meliputi gaya penelitian, keseluruhan strategi penelitian, dan seberapa ketat penelitian tersebut akan mengikuti arahanarahan yang terdapat dalam literature.

BAB TIGA

PENERAPAN TEORI
Salah satu komponen penting dalam melakukan penelitian adalah menentukan teori apakah yang akan digunakan untuk mengeksplorasi rumusan masalah. Dalam penelitian kuantitatif,peneliti sering kali menguji berbagai teori untuk menjawab rumusan masalahnya. Dalam proposal disertasi kuantitatif, semua bagian di dalamnya bisa saja dirancang untuk rnenyaji kategori yang akan diteliti. Dalam penelitian kuatitatif, penggunaan teori lebih bervaridsi lagi. Bahkan, peneliii kualitatif dapat mengembangkan suatu teori dari hasil penelitiannya dan meletakkan teori tersebut di akhir proyek penelitian misalnya dalam penelitian grounded theory. Dalam penelitian kualitatif, teori bisa juga muncul di awal penelitian sebagai .perspektif yang nantinya dapat membentuk.apa yang dilihat Can rumusan masalah apa yang diajukan, seperti dalam penelitian etnografi atau advokasi. Dalam penelitian metode campuran' peneliti bisa saja menguji atau justru membuat suatu teori' Bahkan, penelitian dengan metode carnpuran bisa didasarkan pada satu perspektif teoretis, seperti fokus pada isu-isu feminis, ras, atau kelas, yang nantinya dapat menuntun keseluruhan tahap penelitian. Saya mengawali bab inidengan berfokus pada penggunaan teori dalam penelitian kuantitatit. Saya juga akan menyajikan definisi dari teori itu sendiri, penggunaan variabelvariabel dalam penelitian kuantitatif, peletakan serta model penulisan teori dalam penelitian kuantitatif. Selanjutnya, saya akan membahas prcsedur-prosedur dalam mengidentlfikasi teori, lalu menjabarkan perspektif teoretis dalam proposal penelitian kuantitatif. Kemudian, pembahasan akan beralih pada penggunaan teoridalam penelitian kualitatif. Para peneliti kualitatif menggunakan istilah yang berbeda-beda untuk menyebut teori, sepe rti pota-pola, kacamata teoretis' atau generalisasi naturalistik, untuk mendeskripsikan sudut pandang mereka dalam penelitian. Dalam bab ini juga disediakan contoh-contoh penulisan teori kualitatif. Di bagian arnir,uau ini akan berarih pada penggunaan teori dalam penelitian metode campuran, dan penerapan perspektif transformatif yang populer dalam pendekatan ini.

73

TEORI DALAM PENELITIAN KUANTITANF Variabet-Variabel dalam Penelitian Kuantitatif Sebelum membahas teori kuantitatif, penelitin perlu memahami variabel-variabel dan jenis-jenisnya vang akan digunakan dalam rnembangtrn teori. vaiabel meruiuk pada karakteristik atau atribut seorang ir,ai riau atau suatu organisasi yang dapat diukur atau diobservasi (Creswell, 2007 a).Variabel biasanya berv-ariasi dalam dua atau lebih kategori atau dalam continuum skor.Variabel dapat diukur atau dinilai berdasarkan satu skala. Ahli psikologi lebih suka.menggunakan istilah konstruk (ketimbang variabel), yang memiliki konotasi gagasan yang.lebih abstrak ketimbang istilah yang didefinisikan justru spesifik. Namun demikian, ilmuwan sosial biasanya menggunakan istilah aariabel,yang iuga akan digur'akan dalam buku inisecara pemranen. Variabel-variabel yang diukur dalam penelitian biasanya meliputi gender, umur, status sosial-ekonomi (SSE)' dan sikap-sikap atau, perilakuperilaku tertentu, seperti rasisrme control sosial, kekuatan politis, atau kepemimpinan' Ada sejumlah buku yang menjelaskan secara rinci tentang jenis-jenis variabel dan skala pengukurannya (seperti,Isaac & Michael 1981; Keppel, 1991; Kerlinger, 1979 ; Thotndike, 1997). Variabel-variabel dibedakan berdasarkan dua karakteristik: susunan temporal dan pengukurannya (atau observasi). Susunan temporal (temporal order) berarti bahwa, satu variabel mendahului variabel lain dalam satu waktu. Karena susunan waktu inilah maka sering dikatakan bahwa satu variabel dapat berpengaruh pada variabel iain meskipun Pernyataan yang lebih akurat adalah satu variabel mungkin saja memengaruhi variabel lain. Ketika melakukanpenelitian dalam setting dan terhadap manusia tertentu, peneliti tidak bisa secara mutlak membuktikan adanya penyebab dan pengaruh (Rosenthal & Rosnow, L991), apalagi iknuwan social saat ini sering mengatakan bahwa ada penyebab yang mungkin (probable causation). Temporal order berarltbahlva peneliti kuantitatif belpikir tentang variabel-variabel dalam satu sustrnan (order) "dari kiri ke kanan,, (Punch,2005), dan menyusun variabel-variabel tersebut dalarn rumusan masalah dan fujuan penelitian, serta memvisualisasikan model-model variabel iiu ke cialam penyajian kiri-kanan atau penyebab-dan-pengaruh. Untuk itulah: Vaiabel-aniabel bebas (independcnt aariables) merupakan variabel-variabel yang (mungkin) menyebabkan, mernengaruhi, atau berefek pada outcome .Yariabel-variabel ini juga dikenal dengan istilah variabel-variabel treatmant, manipulated, atecedent, atau predictor.

74

Variabel-aariabel.terikat (dependent variables merupakan variabel-variabel yang bergantung pada variabel-variabel bebas. Variabel-variabel terikat ini merupakan outcome atau hasil dari pengaruh variabel-variabel bebas. Istilah lain untuk variabel terikat adalah variabel criterion, outcome, dan effect.

Variabel intervening ataumediatingberadadi antara variabel bebas dan variabel terikat. Variabel ini memediasi pengaruh-pengaruh vaariabel bebas terhadap variabel terikat. Misalnya, jika siswa dapat melakukan fesf metode penelitian dengan baik (variabel terikat), hal ini mungkin disebabkan (a) persiapan mereka dalam penelitian (variabel bebas) dan/atau (b) usaha mereka dalam menyusun gagasan penelitian ke dalam kerangka kerja (variabel intervening) yang juga turut memengaruhi performa mereka dalam test tersebut. Seperti yang terlihat bahwa variabel mediating ini, yakni usaha menyusun penelitian, berada di antara variabel bebas dan variabel terikat.

Variabel moderating merupakan variabel baru yang dikonstruksi sendiri oleh peneliti dengan cara rnengambil satu variabel dan mengalikannya dengan variabel lain untuk mengetahui dampak keduanya (seperti, umur X sikap = kualitas hidup), Variabelvariabel ini biasanya terdapat dalam penelitian eksperimen.

Dua jenis variabel lain adalah variabel control dan variabel confounding. Variabel control memainkan peran penting dalam penelitian kuantitatif. variabel ini merupakan variabel bebas jenis khusus karena variabel ini secara potmsial juga dapat memengaruhi variabel terikat. peneliti menggunakan prosedur-prosedur statistik (seperti analisis covariance) untuk mengontrol variabel-variabel ini. variabel tersebut bisa saja merupakan variabel demografis atau persbnal (seperti umur atau gender) yang memang perlu dikontrol sehingga pengaruh variabel bebas terhadap variaber terikat benar-ben.r dapat diidentifikasi. Jenis variabel lain, variabel confounding (atau spurious), sebenarnya tidak diukur atau diobservasi dalam penelitian. Vuriabel ini meman ada, tetapi pengaruhnya tidak dapat dilacak secara langsung. Peneliti mernberikan komentar tentang pengaruh variabel confounding setelaah penelitiannya selesai karena variabel-variabel ini dapat beroperasi untuk menjelaskan relasi antara variabel bebas dan variabel terikat,tetapi variabel ini tidak atau tidak bisa dinilai (misalnya, sikap-sikap diskriminatif).

Dalam penelitian kuantitatif, vadabel-variabel saling dihubung kan untuk menjawab rumusan masalah (seperti,"Bagaimana harga diri mempengaruhi hubungan pertemanan di

75

antara anak-anak remaja?") atau untuk memuat prediksi tentang hasil apakah yang ingin diharapkan. Prediksi-prediksi sering kali dikenal dengan istilah hipotesis (seperti, "Harga diri yang positif dapat rneningkatkan hubungan pertemanan di antara anak-anak remaja")'

Definisi Teori Dengan berbekal pemahaman tentang variabel' kita dapat melanjutkan pembahasan tentang Penggunaan teori kuantitatif. Dalam penelitian kuantitatif, ada beberapa preseden historis untuk memandang teori sebagai prediksi atau penjelasan saintifik (lihat G.Thomas, 1997, mengenai cara-cara mengkonseptualisasikan teori dan bagaimana teori dapat mempersempit ruang lingkup penelitian), Misalnya, definisi Kerlinger tentang teori masih berlaku hingga saat ini, Dia berpendapat bahwa teori merupakan seperangkat konstruk (variabel-variabel), definisi-definisi, dan proposisi-proposisi yang saling berhubungan yang mencerminkan pandangan sistematik atas suatu fenomena dengan cara memerinci hubungan antar variabel yang ditujukan untuk menjelaskan fenomena alamiah (hlm.64). Berdasarkan definisi ini, teori merupakan seperangkat konstruk (atau variabel) yang saling berhubungan, yang berasosiasi dengan proposisi atau hipotesis yang memerinci hubungan antar variabel (biasanya dalam konteks magnitude atau direction). Suatu teori dalam penelitian bisa saja berfungsi sebagai argumentasi, pembahasan, atau alasan. Teori biasanya membantu menjelaskan (atau memprediksi) fenomena yang muncul di dunia. Labovitz dan Hagedorn (1971) menambah definisi teori ini dengan gagasan tentang theoretical rationale, yang dimaknai sebagai "usaha mengetahui bagaimana dan mengapa variabel-variabel dan pernyataan-Pernyataan relasional saling berhubungan satu sama lain" (hlm. 17). Mengapa variabel bebas, X, berpengaruh atau berefek pada variabel terikat, Y? Dalam hal ini, teori akan menyediakan penjelasan atas ekspektasi atau prediksi atas keterhubungan ini. Pembahasan mengenai teori biasanya muncul di bagian tinjauan pustaka atau di bagian khusus, seperti landasan teori, logika teoretis, atau perspektif teoretis, meskipun saya lebih suka dengan istilah perspektif teoretis karena istilah ini lebih banyak digunakan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalarn proposal penelitian, utamanya dalam makalah yang disajikan di seminar American Educational Research Association Metafora pelangi (metaphor of a rainbow) mungkin dapat membantu kita memvisualisasikan bagaimana Suatu teori beroperasi. Dalam hal ini, pelangi mrnjembotani variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian. Pelangi ini mengikat secara bersarrra variabel-variabel tersebut dan menyediakan penjelasan yang memadai tentang bagaimana dan mengapri seseorang harus berharap pada variabel t'rebas untuk menjeiaskan atau
76

memprediksikan variabel terikat. Teori-teori berkembang ketika peneliti tengah rnenguji suatu prediksi secara terus-menerus. Berikut ini saya tunjukkan bagaimana suatu teori ini berkembang dalam penelitian. Misalnya, peneliti mengombinasikan variabel-variabel bebas, mediating, dan terikat berdasarkan ukurannya yang berbeda-beda dalam rumusan masalah penelitian. Rumusan masalah ini memberikan informasi tentang jenis hubungan antarvariabel (apakah positif,negatif,atau tidak diketahui) dan magnitudenya (apakah kuat atau lemah). Dengan memasukkan informasi ini ke dalam pernyataan prediktif (hipotesis), peneliti bisa menulis, semakin kuat sentralitas kekuasaan dalam diri pemimpin, semakin besar disanfranchisemant dalam diri pengikutnya." Ketika peneliti menguji hipotesis hipotesis seperti ini dalam setting yang berbeda-beda dan dengan populasi yang berbeda-beda pula (seperti Pramuka, gereja Presbyterian, Rotary CIub, dan siswa-siswa SMA) maka teori pun akan rnuncul, dan ia bisa memberinya nama (seperti, teori atribusi). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teori muncul dan berkembang sebagai penjelasan atas suahl pengetahuan dalam bidang-bidang tertentu (Thomas, 1997). Selain itu, teori iuga memiliki jangkauan yang berbeda-beda, Neuman (2000) membagi teori dalam tiga level: level-mikro,level-meso, dan level-rnakro. Teori level-mikro mernberikan penjelasan yang hanya terbatas pada waktu, ruang dan jurnlah tertentu" seperti teori Goffman tentang gerak wajah (face work) yang menjelaskan bagaimana orang berinter aksi face to face ketika berada dalam ritual-ritual keagaman. Teori level-meso menghubungkan teori level-mikro dan teori level-makro. Teori ini pada umumnya meliputi teori tentang organisasi, pergerakan sosial, atau komunitas, seperti teorinya Collin tentang kontrol dalam organisasi. Teori level-makro menjelaskan agregat-agregat yarig lebih luas, seperti institusi sosial, sistern berdaya, dan masyarakat luas. Teorinya Lenski tentang stratifikasi sosial, misalnya, menjelaskan bagaimana surplus suatu masyarakat dapat meningkat seiring dengan perkembangan masyarakat tersebut. Teori-teori bisa saja muncul daiamberbagai disiplin ilmu sosial, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, pendidikan, dan ekonomi, serta dalam subbidang-subbidang lain. Teori-teori ini tentu saja dapat diakses, misalnya, dengan mencarinya dalam databasedatabase literatur (seperti, Psychological Abstracts, Sociological Abstracts) atau mereview petunjuk-petunjuk dalam literatur yang memb ahas teori-teori tersebut (misatnya, lihat Webb, Beals, & White, L986).

77

Bentuk-Bentuk Teori Dalam proposal peneli tian, peneliti menegaskan teorinya dalam beberapa bentuk, seperti hipotesis, pernyataan logika "jika-maka", atau benfuk visual. Pertama,peneliti menegaskan teori dalam bentuk hipotesis-hipotesis yang saling berhubungan. Contoh, Hopkins (1964) menegaskan teorinya tentang ?roses-Prosespenganh dalam 15 hipotesis. Sebagian hipotesis ini dapat dilihat sebagai berikut (hipotesis-hipotesis ini sudah dimodifikasi dengan menghilangkan pronornina-pronomina yang me3ujuk pada gender tertentu): 1. Semakin tinggi pangkat seseorang, semakin kuat sentralitasnya. 2. Semakin kuat sentralitas seseorang, semakinbesar observabilitasnya. 3. Semakin tinggi pangkat seseorang, semakinbesar observabilitasnya, 4. Semakin kuat sentralitas seseorang, semakin besar konformitasnya. 5. Semakin tinggi pangkat seseorang,semakin besar konformitasnya, 6. Semakin besar observabilitas seseorang, semakin besar konforrnitasnya. 7. Semakin besar konformitas seseorang, semakin besar observabilitasnya (htm. 51). Kedua, peneliti menyatakan teori dalam bentuk pemyataan Jika-maka" yang menunjukkan mengapa seseorang harus berharap variabel bebas dapat mempengaruhi variabel terikat. Misalnya, Homans (1950) menjelaskan teori tentang internksi: Jika frekuensi interaksi antara dua atau lebih individu meningkat, tingkat kesukaan antarkeduanya juga akan meningkat, dan seterusnya... Individu-individu yang senitmentil dalam berinteraksi dengan individu-individu lain akan mengungkapkan perasaan sentimennya dalam aktivitas-aktivitas yang sering kali melampaui aktivitasaktivitas sistem eksternal, dan alctivitas-aktivitas ini bisa saja sernakin memperkuat perasaan sentimen tersebut' Semakin sering individu berinteraksi dlngan individu lain, aktivitas-aktivitas dan sentimen-sentimen mereka, dalam beberapa keadaan, akan semakin mirip (hlm 112,118,120).

Ketiga,peneliti dapat menyajikan teori dalam bentuk visual. Bentuk ini penting untuk meneterjemahkan variabel-variabel ke dalam gambar visual. Blalock (1969, 1985, 1991) rnenampilkan causal modeling dengan membentuk teori-teori verbal menjadi model-model kausal sehingga pembaca dapat menvisualisasi hubungan antarvariabel. Ada dua contoh sederhana yang dapat disajikan di sini. Seperti yang tampak pada Gambar 3.1, tiga variabel

78

bebas mempengaruhi satu variabel terikat, yang juga dimediasi oleh pengaruh dari dua variabel intervening. Diagram semacam ini menunjukkan adanya rangkaian kausalitas antar variabel yang menuntun modeling melewati suatu analisis dart analisis-analisis lain yang lebih rumit dengan menggunakan sistem pengalian antarvariabel, seperti yang terdapat dalam model ekuasi siruktural (lihat Kline ,1998). Pada level preliminer, Duncan (1985) memberikan saran penting untuk membuat diagrarn-diagram kausal seperti ini: Posisikan variabel-variabel bebas di bagian kanan diagram dan variabel-variabel terikat di bagian kiri. Gunakan anak panah satu-arah yang menuntun setiap variabel utama (variabei bebas) menuju variabel-variabel lain (variabel terikat dan variabel futercating / control)yang bergantung padanya. Tunjukkan kekuatan hubungan antarvariabel dengan menyisipkan simbol-sirnbol valensi dalam setiap anak panah. Gunakan valensi positif atau negatif untuk mempostulasi atau menyimpulkan hubunganhubungan antarvariabel. Gunakan anak panah two-headed yangterhubung satu sama lain untuk menunjukkan hubungan yang tidak dianalisis diantara variabel-variabel yang tidak terkait dengan hubungan-hubungan lain.

X1 + Y1 X2
+ +

+ Y2 X3
Variabel-variabel Terikat

+
Variabel-variabel Intevening

Z1
Variabel-variabel Bebas

Gambar 3.1 Tiga Variabel Bebas Memengaruhi Satu Variabel Terikat Yang Dimensiasi Oleh Dua Variabel Intervening.

79

Diagram klausal yang lebih rumit dapat dibuat dengan notasi-notasi tambahan. Contoh diatas merupakan contoh dasar yang mengunakan variabel-variabel yang terbatas, seperti yang sering terdapat dalam penelitian metode survei. Variasi atas model diatas bisa dilakukan dengan menambahkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen segala variabel-variabel yang dikomparasikan berdasarkan

pengaruhnya terhadap hasil akhir (variabel terikat). Seperti yang tanpak pada gambar 3.2, dua kelompok dalam variabel X dikomparasikan berdasarkan pengaruh terhadap Y, variabel terikat. Rancangan seperti ini sering diterapkan untuk penelitian eksperimen antar kelompok (lihat Bab 8). Mengenai aturan-aturan notasi, sama seperti yang dijelaskan pada contoh sebelumnya. Saya mwenunjukkan dua contoh ini hanya untuk memperkenalkan kemungkinankemungkinan menghubungkan variabel bebas dan variabel terikat agar teori yang dapat terpakai dapat terbangun secara utuh. Ada juga model-model yang lebih rumit, biasanya dengan mengunakan sistem pengalian antara variabel bebas dan variabel terikat dalam bentuk model kausal yang sangat rinci (blalock, 1969, 1985).

Variabel X Kelompok Eksperimen

Y1
Variabel Y Kelompok Kontrol

Gambar 3.2 Dua Kelompok (Variabel X) Dengan Treatmen Yang Berbeda-Beda Dikomparasikan Berdasarkan Pengaruhnya Terhadap Y Misalnya, Jungnikel (1990), dalam proposal disertasinya tentang produktivitas penelitian antar guru disekolah-sekolah farmasi, menyajikan contoh visual yang kompoleks, seperti yang tanpak pada Gambar 3.3 Jungnikel mempertanyakan faktor-faktor apa saja yang memengaruhi performa penelitian akademik penelitian disekolah-sekolah farmasi. Setelah mengidentifikasi faktor-faktor ini dalam literatur-literatur yang ada, dia menyesuaikan dengan kerangka teoretis yang terdapat dalam penelitian-penelitian keperawatan (Megel, Langston, Creswell, 1988), lalu membuat model visual yang melukiskan hubungan antar faktor-faktor ini, dengan aturan-aturan model visual seperti yang baru saja diperkenalkan.
80

Jungnickel memerinci variabel-variabel bebas di bagian kiri, variabel-variabel intervening di bagian tengah, dan variabel-variabel terikat di bagian kanan. Arah pengaru membentang dari kiri ke kanan dengan simnol panah, dan simbol plus dan minus. Untuk menunjukkan arah hipotesis.

Penempatan Teori dalam Penelitian Kuantitatif. Dalam penelitian kuantitatif, peneliti mengunakan teori secara deduktif dan meletakkanya diawal proposal penelitian. Karena tujuanya adalah untuk menguji atau memverifikasi suatu teoriketimbang mengembangkanya maka peneliti kuantitatif seyogianya mengajukan teori, mengumpulkan data untuk menguji teori tersebut, dan menyatakan konfirmasi atau diskonfirmasi atas teori tersebut berdasarkan hasil yang diperoleh.

Eksogen
Variabel-variabel Demografis Standart-standart Ikatan Dinas (Lenure Institusi) Jarak waktu Pengangkatan jabatan Pusat study Universitas

(+/-)
Beban kerja non riset

(+) (-) (+) (+) (+) (+) (-) (+)


Tekanan untuk melakukan penelitian

(-)

(+)

Kolaborasi Sumber daya

(-)

(+)
Dukungan & Rekanrekan

Performa akademik: Presentasi (non riset) Presentasi (riset) Artikel-artikel Jurnal (Tidak diminta) Artikel-artikel Jurnal (diminta/risert) Kontributor tulisan dibuku-buku Buku-buku Hibah pemerintah (disetujui) Hibah pemerintah (didanai) Hibah swasta kontrak

(-)
Persepsi diri Sebagai peneliti

(+)

(+)

Dukungan dari kepala sekolah

(+)

(-)
Training penelitian sebelumnya Pengangkatan (kepala sekolah vs guru)

(+/-)

Teori menjadi kerangka kerja untuk keseluruhan penelitian yang nantinya berfungsi mengorganisasi rumusan masalah dan hipotesis penelitian serta prosedur pengumpulan data. Model berfikir deduktif yang diterapkan dalam penelitian kuantitatif tanpak pada gambar 3.4 peneliti memverifikasi suatu teori dengan menguji rumusan masalah atau hipotesis-hiotesis
81

yang berasal dari teori ini. Hipotesis atau rumusan tersebut berisi variabel-variabel (Konstruk-konstruk) yang perlu didefinisikan oleh peneliti atau perlu disesuaikan dengan definisi-definisi yang terdapat dalam literatur. Dari sinilah, peneliti mengunakan suatu instrumen penelitian untuk mengukur sikap-sikap atau perilaku-perilaku para partisipan. Kemudian, peneliti mengumpulkan skor-skor yang diperoleh dari instrumen ini mengonfirmasi atau mengonfirmasi teori tersebut.Para hakikatnya, pendekatan deduktif yang diterapkan dalam penelitian kuantitatif juga turut mempengaruhi peletakan teori di dalamnya (lihat Tabel 3.1). Petunjuk umumnya adalah memperkenalkan teori diawal proposal penelitian: dalam pendahuluan, dalam tinjauan pustaka, setelah hipotesis atau rumusan masalah (sebagai resionalisasi atas hubungan antar variabel), atau dalam bab/ subbab khusus. Masing-masing penempatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Tips penelitian: Anda sebaiknya menulis teori pada bagian terpisah dalam proposal penelitian sehingga pembaca dxapat mudah mengidentifikasi teori tersebut dari komponenkomponen lain. Dengan meletakkan teori di bagian khusus, anda dapat memberikan penjelasan yang memadai tentang teori tesebut, fungsinya, dan hubunganya dengan penelitian. Menulis Perspektif Teoretis kuantitatif Berdasarkan opsi-opsi yang sudah disajikan sebelumnya, berikut ini saya akan menunjukkan satu contoh penulisan persepektif
Peneliti menguji atau memverifikasi suatu teori

Peneliti menguji hipotesis-hipotesis atau rumusan masalah dari teori tersebut Peneliti mendefinisikan dan mengoperasionalisasikan variabelvariabel yang terbentuk dari teori tersebut Peneliti mengukur atau mengobservasi variabel-variabel dengan bantuan instrumen untuk memperoleh skor-skor

Gambar 3.4 Pendekatan Deduktif dalam Penelitian Kualitatif 82

Teoretis dalam penelitian kuantitatif. Anggap saja, tugas anda saat ini adalah mengidentifikasi suatu teori yang menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. 1. Periksalah literatur-literatur yang kemungkinan membahas teori ini. Jika unit analisis untuk variabel-variabel penelitian adalah seorang individu, periksalah dalam literatur psikologi. Jika unit analisisnya adalah kelompok-kelopmok atau organisasi, lihatlah dalam literatur sosiologi. Jika penelitianya hendak menguji individu-individu dan kelompok-kelompok atau organisasi, lihatlah dalam literatur sosial-psikologi. Jika penelitianya hendak menguji individu-individu dan kelompok-kelompok, pertimbangkanlah literatur sosial-psikologi. Tentu saja, teori-teori dari disiplin lain bisa saja berguna (misalnya, untuk meneliti isu ekonomi). 2. Periksa pula penelitian-penelitian lain yang membahas topik atau yang sangat berkaitan dengan topik anda. Teori-teori apa ketimbang mengembangkanya maka peneliti kuantitatif seyogianya mengajukan teori, mengumpulkan data untuk menguji teori tersebut, dan menyatakan konfirmasi atau diskonfirmasi atas teori tersebut berdasarkan hasil yang diperoleh. Teori menjadi kerangka kerja untuk keseluruhan penelitian yang nantinya berfungsi mengorganisasi rumusan masalah dan hipotesis penelitian serta prosedur pengumpulan data. Model berfikir deduktif yang diterapkan dalam penelitian kuantitatif tanpak pada Gambar 3.4 peneliti memverifikasi suatu teori yang menguji rumusan masalah atau hipotesis-hipotesis yang berasal dari teori ini. Hipotesis atau rumusan masalah tersebut berisi variabel-variabel (konstrukkonstruk) yang perlu didefinisikan oleh peneliti atau perlu disesuaikan dengan definisi-definisi yang terdapat dalam literatur. Dari sinilah, peneliti mengunakan suatu instrumen penelitian untuk mengukur sikap-sikap atau perilaku-perilaku para partisipan. Kemudian, peneliti mengumpulkan skor-skor yang diperoleh dari instrumen ini untuk mengonfirmasi atau mendiskonfirmasi teori tersebut. Pada hakikatnya, pendekatan deduktif yang bisa diterapkan dalam penelitian kualitatif juga turut memengaruhi peletakan teori di dalamnya (lihat tabel 3.1). Petunjuk umumnya adalah memperkenalkan teori diawal proposal penelitian: dalam pendahuluan, dalam tinjauan pustaka, setelah hipotesis atau rumusan masalah (sebagai rasionalisasi atas hubungan antarvariabel), atau dalam bab/subbab khusus. Masing-masing penempatan ini memiliki kelebihan dan kekuranganya tersendiri.

Tabel 3.1 Opsi-Opsi Penempatan Teori Dalam Penelitian Kualitatif. Penempatan Dalam pendahuluan Kelebihan-kelebihan Penempatan ini banyak ditemukan dalam artikel-artikel jurnal; akan tanpak fimiliar bagi pembaca; lebih bersifat deduktif. Teori berasal dari literaturliteratur yang ada. Dengan meletakkanya dalam tinjauan pustaka, teori ini akan semakin jelas dan tuntut sesuai dengan literatur aslinya. Kekurangan-kekurangan Pembaca sulit untuk memisahkan landasan teori dari komponen-komponen lain dari proses penelitian Pembaca silit membedakan teori dengan tinjauan pustaka

Dalam tinjauan pustaka

83

Setelah rumusan masalah atau hipotesis peelitian

Bagaimanapun juga, teori merupakan penjelasan logis atau rumusan masalah atau hipotesis penelitian karena teori dapat menerangkan bagaimana dan mengapa variabel-variabel saling berhubungan Penempatan ini dapat memperjelas pembahasan mengenai teori dari pembahasan-pembahasan lain dalam penelitian. Penempatan ini juga memungkinkan pembaca untuk mengidentifikasi dan memahami dengan baik landasan teori untuk penelitian tersebut.

Dalam bagian (bab/subbab terpisah)

Peneliti bisa saja memasukkan logika teoretis setelah rumusan masalah atau hipotesis penelitian, tetapi ia akan mengabaikan pembahasan detail tentang asal mula perkembangan dan penerapan teori tersebut. Pembahasan teori bisa saja berada terpisah dari komponen-komponen lain, namun pembaca akan sulit untuk menghubungkanya dengan komponen-komponen lain dalam penelitian.

Yang digunakan oleh para penelitianya? Batasilah jumlah teori dan cobalah mengidentifikasi suatu teori yang dapat menjelaskan hipotesis inti atau rumusan masalah utama. 3. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, buatlah rumusan masalah dengan metafor pelangi agar dapat menjembatani variabel-variabel bebas dan variabel-variabel terikat, seperti: mengapa variabel(-variabel) bebas mempengaruhi variabel (-variabel) terikat? 4. Jelaskan teori anda dalam bagian khusus. Ikuti kalimat-kalimat berikut: Teori yang akan digunakan adalah.......... (nama teori). Teori ini dikembangkan oleh.........(sumber atau pengembang teori) dan sudah banyak diterapkan dalam penelitian mengenai.......(topik-topik penelitian yang menerapkan teori ini sebagai landasanya). Teori ini menegaskan bahwa...... (proposisi-proposisi atau hipotesis-hipotesis dalam teori tersebut). Diaplikasikan pada penelitian ini, teori tersebut diharapkan dapat menjelaskan pengaruh variabel(-variabel) bebas...........( variabel-variabel bebas) terhadap variabel(-variabel) terikat (variabel-variabel terikat) karena....... (penjelasan yang didasarkan pada logika dari teori tersebut).

Dengan demikian, topik-topik yang harus dimasukkan kedalam pembahasan mengenai teori kuantitatif ini mencangkup antara lain: teori yang digunakan, hipotesis-hipotesis atau proporsi-proporsi dari teori tersebut, informasi tentang aplikasi teori tersebut dalam penelitian-penelitian sebelumnya, dan pernyataan yang mencerminkan bagaimana teori tersebut berhubungan dengan penelitian yang diajukan. Contoh penulisan teori kuantitatif ini dapat disimak dalam penelitian Crutchfiled (1986) berikut:

84

Contoh 3.1 Teori kuantitatif Crutchfiled (1986) menulis disertai doktoralnya dengan judul Locus of Control, Interpersonal Trust, And Scolarly produktifity. Dengan menyurvei para guru keperawatan, ia hendak mengetahui apakah lokus kontrol dan keyakinan interpersonal dapat memengaruhi tingkat produktifitas para guru. Dalam bab ini pendahuluan disertai ini terdapat salah satu subbab yang berjudul Perspektif teoritis. Subbab ini mencangkup poin-poin berikut: Teori yang akan digunakan Hipotesis utama dari teori tersebut Informasi tentang siapa yang telah mengunakan teori tersebut Penyesuaian antara teori dan variabel-variabel penelitian dengan mengunakan bentuk pernyataan logika jika-maka Saya telah memberikan catatan-catatan tambahan dalam format italic untuk menandai poin-point diatas. Perspektif Teoritis Untuk merumuskan perspektif teoritis dalam meneliti produktifitas akademi para guru, teori belajar sosial (sosial learning theori) menyediakan proto tipe penting. Konsep tentang perilaku berusaha mendekati perilaku manusia berdasarkan hubungan (timbal-balik) berkelanjutan antara faktor-faktor kognitif, perilaku, dan lingkungan (Bandura, 1977:vi) (Disini, peneliti tengah mengidentifikasi teori tertentu). Meskipun teori ini menyarankan agar diterapkan reirfoncemen seperti membentuk prinsip-prinsip, teori belajar sosial tetap melihat peran reward sebagai sarana untuk mengidentifikasi respon-respons terbaik dan sebagai motivasi intensif terhadap perilaku yang diharapkan. Selain itu, prinsip-prinsip belajar dalam teori ini menekankan peran penting proses-proses lain, seperti proses vicari ous, simbolic, dan self regulating (Bandura, 1997). Teori belajar sosial tidak hanya membahas belajar dan pembelajaran, tetapi juga berusaha mendeskripsikan bagaimana kompetensi sosial dan dan kompetensi personal (sehingga disebut personalitas) dapat mengembangkan kondisi sosial yang kondusif untuk proses belajar. Teori ini juga untuk menjabarkan teknik-teknik penilaian personalitas (Mischel, 1968), dan modifikasi perilaku dalam setting klinis dan edukatif (Bandura, 1977; Bowel dan Hilgart, 1981; Rotter 1954) (Disini, peneliti tengah mendeskripsikan teori belajar sosial) Sejauh ini prinsip-prinsip teori belajar sosial telah banyak diterapkan pada perilaku-perilaku sosial seperti kompetifitas, agresifitas peran seks, tantanga, dan perilaku patologis (Bahdura & Walters, 1963; Bandura 1977; Mishel, 1968; Miller & Dollard, 1941, Rotter 1954; Staats, 1975) (Disini peneliti tengah mendeskripsikan penerapan teori ).

85

Dengan menjelaska teori belajar sosial, rotter (1954) menunjukkan bahwa ada empat tingkatan variabel yang harus dipertimbangkan: perilaku, ekspektasi, reinforcement, dan situasi psikologis. Formula umum tentang perilaku dapat dinyatakan sebagai berikut: Potensi munculnya perilaku dan situasi psikologistertentu merupakan pengaruh ekspektasi bahwa perilaku tersebut nantinya akan menuntun para reiformence dan manfaat-manfaatnya dalam dalam situasi psikologis tersebut (Rotter, 1975:57). Ekspektasi dalam formula ini merujuk pada kepastian (atau kemungkinan) tertentu bahwa hubungan kausatif umumnya muncul antara perilaku dan rewad konstruk dari eksprestasi ini dapat didefinisikan sebagai lokus kontrol ekternal ketika seorang individu percaya bahwa dalam dirinya mempengaruhi oleh hal-hal seperti keberuntungan, nasib atau kekuatan-kekuatan lain. Kesadaran akan hubungan kausatif ini tentu saja bukanlah sikap yang mutlak dan selalu muncul dalam setiap individu, melainkan yang berupa sikap yang berbedabeda dalam satu kontinum bergantung pada pengalaman-pengalaman individu tersebut dan sebelumnya dan kompleksitas-kompleksitas situasional (Rotter: 1996).(Disini peneliti menjelaskan variabel-variabel dalam teori) Karena penelitian ini menerapkan teori belajar sosial maka empat tingkatan variabel yang diidentifikasi oleh Rotter (1954) diatas menjadi bahan utama untuk memerinci poin-poin produktifitas akademik seperti berikut: 1. Produktifitas akademik merupakan perilaku atau aktifitas yang diharapkan. 2. Lokus kontrol merupakan ekspektansi umum bahwa reward dapat atau tidak dapat bergantung pada perilaku-perilaku tertentu. 3. Reinforcement merupakan reward dan penghargaan atas kerja akademik 4. Institusi pendidikan merupakan situasi psikologis yang di dalam nya terdapat berbagai reward atas produktivitas akademik

Dengan variabel-variabel diatas maka konsep umum tentang perilaku sebagaimana yang sedang diformulasikan oleh Rotter (1975) akan diadaptasi sehingga menjadi seperti ini: potensi munculnya perilaku akademi dalam institusi pendidikan merupakan pengaruh dari ekspektasi bahwa perilaku tersebut nantinya akan menuntut pada reward-rewad tertentu dan manfaat-manfaatnya dalam institusi pendidikan, yakni produktifitas para guru semakin meningkat karena adanya para guru. Selain itu hubungan antara kepercayaan interpersonal dan lokus control perlu dipertimbangkan dalam kaitanya dengan ekspektasi dengan kaitanya reward melalui perilaku-perilaku yang direkomendasikan oleh Rotter dalam bukunya yang lain (1967). Selanjutnya, karakteristik-karakteristik tertentu, seperti persiapan akademik,umur kronologis, beasiswa doktoral, ikatan dinas atau kerja full-time, atau part-time, diasosiasikan
86

dengan produktifitas akademik keperawatan dalam satu cara yang sama dengan produktifitas dengan disiplin-disiplin lain (disini peneliti tengah menerapkan konsep-konsep teoretis pada penelitianya). Untuk lebih jelasnya, pernyataan berikut akan merepresentasikan logika dasar penelitian ini. Jika para guru percaya bahwa: a) usaha-usaha mereka melaksanakan kegiatan akademik akan capai menuntutnya pada reward (lokus kontrol), b) Usaha-usaha mereka sangat bergantung pula kesanggupan-kesanggupan mereka pribadi (kepercayaan

interpersonal), c) Reward atas aktifitas akademik sangat bermanfaat (manfaat reward), d) Reward benar-benar ada dalam bidang atau institusi mereka (Seting Institusi) maka produktifitas akademik mereka akan semakin meningkat (hlm. 12-16) (Disini, peneliti tengah memberikan kesimpulan hipotesis dengan pernyataan logika jika maka untuk menghubungkan variabel bebas dengan variabel terikat).

TEORI DALAM PENELITIAN KUALITATIF

Variasi Penggunaan Teori Dalam Penelitian Kualitatif. Para peneliti kualitatif menggunakan teori dalam penelitian untuk tujuan-tujuan yang berbeda. Pertama,dalam penelitian kualitatif, teori sering kali digunakan sebagai penjelasan atas perilaku dan sikap-sikap tertentu. Teori ini bisa jadi sempurna dengan adanya variabelvariabel, konstruk-konstruk, dan hipotesis-hipotesis penelitian. Misalnya, para ahli etnografi memanfaatkan tema-tema kultural atau aspek-aspek kebudayaan (Wolcott, 1999:113) untuk dikaji dalam proyek penelitian mereka, seperti kontrol sosial, bahasa, stabilitas dan perubahan, atau organisasi sosial, seperti kekerabatan atau keluarga (lihat pembahasan Wolcott:1999 tentang sejumlah penelitian antropologi yang mengangkat topik-topik kebudayaan). Tema-tema ini dapat memberikan serangkaian hipotesis siap pakai untuk diuji dengan literatur-literatur yang ada. Meskipun para peneliti kualitatif tidak merujuk pada tema-tema tersebut sebagai teori mereka, tema-tema ini umumnya menyediakan penjelasan lengkap yang sering kali dimanfaatkan oleh antropolog untuk meneliti perilaku culturesharing dan tingkah laku manusia. Pendekatan ini sangat populer dalam penelitian ilmu kesehatan kualitatif dimana peneliti biasanya mengawali penelitianya dengan model-model teoretis, seperti adopsi dalam praktek-praktek kesehatan atau kualitas dalam orentasi kehidupan umat manusia.

87

Kedua,para peneliti kualitatif sering kali mengunakan perspektif teoritis sebagai panduan umum untuk meneliti gender, kelas, dan ras (atau isu-isu lain mengenai kelompokkelompok marginal). Perspektif ini biasanya digunakan dalam penelitian

advokasi/partisipatoris kualitatif atau dapat membantu peneliti untuk merancang rumusan masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, serta membentuk call for action and change (panggilan untuk melakukan aksi dan perubahan). Penelitian kualitatif pada 1980-an mengalami transformasi besar-besaran yang ditandai munculnya perspektif-perspektif teoretis seperti ini sehingga memperluas ruang lingkup penelitian yang muncul sebelumnya. Perspektif-perspektif teoretis ini menuntun peneliti pada isu-isu penting yang perlu diteliti (seperti, perempuan, anak jalanan,dan kelompok-kelompok minoritas lain). Perspektifperspektif juga menunjukkan bagaimana peneliti harus memosisikan diri mereka dalam penelitian kualitatif (seperti, berada diluar atau tidak condong pada konteks pribadi, kultural, atau historis tertentu) dan bagaimana menulis laporan akhir (seperti, dengan tidak memarjinalisasi lebih jauh individu-individu yang diteliti, atau dengan cara berbaur langsung dengan mereka). Dalam penelitian etnografi kritis, peneliti memulai dengan satu teori yang menjelaskan keseluruhan proses penelitian. Teori kausatif seperti ini bisa berupa teori emansipasi atau represi (Thomas, 1993). Beberapa perspektif teoritis yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif adalah sebagai berikut (Creswell, 2007): Perspektif feminis mengugat kaum wanita saat ini yang ditindas dengan sewenangwenang dan institusi yang turut membentuk kondisi tersebut. Topik-topik penelitian bisa mencangkup isu-isu kebijakan yang berhubungan dengan realisasi keadilan sosial bagi kaum wanita dengan ranah-ranah tertentu atau pengetahuan tentang kondisikondisi ketertindasan yang dialami oleh mereka (Ollesen, 2000). Wacana rasial memunculkan pertanyaan-pertanyaan penting tentang tentang kontruksi dan kontrol atas pengetahuan yang berbau ras, khususnya tentang orangorang dan komunitas-komunitas kulit berwarna (Ladson-Bilings, 2000) Perspektif teori kritis fokus pada pemberdayaan umat manusia agar dapat bebas dari kungkunghan rasial, kelas, dan gender yang diletakkan pada mereka (Fay, 1987) Teori queer-begitulah istilah yang digunakan dalam literatur ini berfokus pada individu-individu yang menanamkan pada dirinya sebagai kelompok lesbian, gay, biseksual, atau trans gender. Penelitian-penalitian yang menerapkan perspektif teoritis ini bukan berarti menjadikan individu-individu diatas sebagai objek mentah yang

88

dapat diperlakukan begitu saja, melainkan lebih berusaha mencari sisi-sisi kultural dan politis apa yang membuat mereka terkucilkan dalam ranah sosial. Teori ini bahkan menyuarakan kembali hak-hak dan pengalaman-pengalaman individu yang tertindas (gamson, 2000) Studi ketidak mampuan berfokus pada makna inklusi dalam sekolah, yang melibatkan para pengurus sekolah, guru dan orang tua yang memiliki anak-anak dengan ketidak mampuan tetentu (Mertens, 1998).

Rossman dan Rallis (1998) mengartikan teori dalam penelitian kualitatif sebagai perspektif pos modern dan kritis: Menjelang abad XX, ilmu-ilmu sosial tradisional mulai dikritik dan dipertanyakan oleh perspektif-perspektif pos modern dan kritis yang menantang asumsi-asumsi objektif dan norma-norma tradisional dalam penelitian. Ada empat hal yang menjadi fokus utama dalam kritik ini: a). Penelitian pada dasarnya melibatkan isu-isu kekuasaan, b). Laporan penelitian tidak transparan dan netral, tetapi dikuasai oleh individu-individu yang secara teoritis berorentasi pada ras, gender, merupakan aspekaspek penting dalam memahami pengalaman manusia dan d). Penelitian historis tradisional telah membungkam kelompok-kelompok yang tertindas dan marginal (hlm. 66)

Ketiga dalam penelitian kualitatif, teori sering kali digunakan sebagai poin akhir penelitian. Dengan menjadikan teori sebagai poin akhir penelitian, berarti peneliti menerapkan proses penelitianya secara induktif yang berlangsung mulai dari data, lalu ke tema-tema umum, kemudian menuju teori atau model tertentu (lihat punch, 2005). Logika pendekatan induktif ini dapat dilihat pada gambar 35.

89

Peneliti mengemukakan generalisasigeneralisasi atau teori-teori dari literatur-literatur dan pengalamanpengalaman pribadinya

Peneliti mencari pola umum, generalisasi-generalisasi atau teori-teori dari tema-tema atau kategori-kategori yang dibuat

Peneliti menganalisis data berdasarkan tema-tema dan kategori-kategori

Peneliti mengajukan pertanyaanpertanyaan terbuka pada partisipasi dan merekam catatan-catatan lapangan

Peneliti mengumpulkan informasi (misalnya, dari wawancara atau observasi)

Gambar 3.5. Logika Induktif Dalam Penelitian Kualitatif

Peneliti memulai penelitianya dengan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari para partisipan, lalu membentuk informasi ini menjadi pola-pola, teori-teori, atau generalisasi-generalisasi untuk nantinya diperbandingkan dengan pengalaman-pengalaman pribadi atau dengan literatur-literatur yang ada. Usaha mengembangkan tema-tema dan kategori-kategori menjadi pola-pola, teoriteori atau generalisasi-generalisasi ini menunjukkan bahwa penelitian kualitatif memiliki point akhir yang berbeda-beda. Misalnya, dalam penelitian studi kasus, Stake (1995) menyebut tuntutan (assertion) sebagai generalisasi proporsional (kesimpulan peneliti dari hasil interpretasi dan klaim-klaimnya) dan generalisasi naturalistik (pengalaman-pengalaman pribadi peneliti) (hlm. 86). Sebagai contoh lain, grounded theory memiliki poin akhir yang berbeda. Dalam penelitian ini, peneliti berharap dapat menemukan satu teori yang didasarkan pada informasi dari para partisipan (Stauss dan Corbin, 1998). Bahkan, Lincoln dan Guba
90

(1985) menyebut pattern theory (teori pula) sebagai pemikiran-pemikiran awal yang terus berkembang selama penelitian kualitatif ini justru merepresentasikan pemikiran-pemikiran yang saling berhubungan atau bagian-bagian yang berhubung dengan keseluruhan.

Neuman (2000) memberikan informasi tambahan mengenai pattern theory ini: Pattern theory tidak menemukan aspek penalaran deduktif. Sebaliknya, mirip dengan teori kausatif, pattern theory justru berisi konsep-konsep dan relasi-relasi yang saling berhubungan, namun teori ini tidak membutuhkan pernyataan kausatif. Malahan, teori ini mengunakan metafora dan analogi-analogi agar relasi-relasi ini memiliki arti. pattern theory merupakan sistem gagasan-gagasan. Konsep-konsep dan relasi-relasi di dalamnya membentuk sejenis mutual-reinforcing dan sistem tertutup. Pattern theory mengurutkan setiap tahapan atau menghubungkan bagian-bagian dengan keseluruhan (hlm. 38)

Keempat, beberapa penelitian kualitatif tidak mengunakan teori yang terlalu eksplisit. Kasus ini bisa saja terjadi disebabkan dua hal: (1) karena tidak ada satupun penelitian kualitatif dilakukan dengan observasi yang benar-benar murni dan (2) karena struktur konseptual sebelumnya yang disusun dari teori dan metode tertentu telah memberikan starting point bagi keseluruhan observasi (Schwandt, 1993). Bahkan, tidak sedikit orang memandang penelitian kualitatif sebagai penelitian yang tidak memiliki orientasi teori yang eksplisit, seperti dalam penelitian fenomenologi, yang didalamnya peneliti berusaha untuk membangun esensi pengalaman dari para partisipasi (lihat, misalnya, Riemen, 1986). Dalam penelitian-penelitian semacam ini, peneliti hanya membuat sesuatu deskripsi yang kaya dan rinci tentang fenomena tertentu.

Tips penelitian saya tentang pengunaan teori dalam penelitian kualitatif ini antara lain sebagai berikut: Pastikan apakah teori tersebut dapat diterapkan dalam penelitian kualitatif atau tidak. Jika bisa diterapkan, identifikasilah bagaimana teori tersebut akan dijabarkan dan digunakan dalam penelitian anda; apakah sebagai penjelasan up-front, sebagai end point penelitian, atau sebagai perspektif advokasi. Tempatkan teori tersebut dalam naskah penelitian anda dibagian yang tepat, sesuai

dengan tujuan yang digunakanya teori tersebut.


91

Menempatkan Teori Dalam Penelitian Kualitatif Bagaimana teori itu digunakan, akan turut memengaruhi penempatanya dalam sebuah penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif yang mengunakan tema kultural atau perspektif teoretis, teori muncul diawal dan dapat dimodifikasi atau disesuaikan dengan sedemikian rupa berdasarkan pandangan dari para partisipan. Akan tetapi, untuk sebagian besar rancangan kualitatif yang berorientasi teori, seperti etnografi kritis, Lather (1986) mengulifikasi pengunaan teori sebagai berikut: Melakukan penelitian grounded theory secara empiris membutuhkan relasi timbal balik antara data dan teori. Data harus diolah secara dialektik agar dapat menghasilkan proposisiproposisi baru yang memungkinkan munculnya kerangka teoretis, dengan tetap menjaga kerangka tersebut secara ketat agar tidak tercampur-baur dengan data penelitian (hlm. 276) Seperti yang tanpak pada contoh diatas, kami telah mengembangkan suatu model visual yang menghubungkan variabel-variabel, merancang model ini secara induktif dari komentarkomentar infor man, dan meletakkan model tersebut di akhir penelitian, yang di dalamnya proposisi utama dapat dibedakan dengan teori-teori dan literatur-literatur yang sudah ada. Contoh 3.2 Teori di Bagian Awal Penelitian Kualitatif

Murguia, Padilla, dan Pavel (1991) meneliti 24 siswa yang berasal dari Spayol dan Amerika Asli yang tergabung dalam suatu sistem sosial (dalam hal ini, universitas). Mereka ingin mengetahui tentang bagaimana etnisitas memengaruhi integrasi sosial. Mereka mengawalinya dengan menghubungkan pengalaman-pengalaman partisipan dengan satu model teori, yaitu model Tinto tentang integrasi sosial. Mereka merasa bahwa model ini telah "dikonseptualisasikan secara tidak utuh dan, sebagai konsekuensinya, sering kali dipahami dan diukur dengan tidak tepat" (hlm. 433). Untuk itulah, dalam penelitian mereka, model tersebut tidak diuji (seperti yang sering ditemukan dalam proyek kuantitatif), tetapi hanya dimodifikasi (karena penelitian mereka adalah penelitian kualitatif). Mereka mendaur-ulang model Tinto ini dan menawarkan modifikasinya untuk mengilustrasikan bagaimana etnisitas itu berfungsi. Karena penelitian kualitatif mereka menempatkan teori, pola, atau generalisasi sebagai poin akhir (end point} maka modifikasi atas teori model Tinto tersebut dimunculkan di akhir penelitian. Modtfikasi-teori ini berbentuk diagram logika, sebuah representasi visual yang mengilustrasikan hubungan antarkonsep.

92

TEORI DALAM PENELITIAN METODE CAM! URAN Teori dalam penelitian metode campuran dapat diterapkan secara deduktif (seperti dengan pengujian atau verifikasi teori kuantitatif) atau secara induktif (seperti dengan pemunculan teori atau pola kualitatif). Teori ilmu sosial atau ilmu kesehatan bisa saja digunakan sebagai kerangka teoretis untuk diuji, baik dengan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif. Cara lain untuk menerapkan teori dalam penelitian metode campuran adalah dengan menjadikan teori sebagai perspektif teoretis untuk menuntun penelitian. Dalam hal ini, penelitian metode campuran yang didasarkan pada teori gender, ras atau etnisitas, ketidakmampuan, orientasi seksual, atau isu-isu lain maka penelitian tersebut sebaiknya menerapkan teori-teori ini di bagian penelitian (Mertens, 2003). Contoh 3.3 Teori di Bagian Akhir Penelitian Kualitatif Dengan menggunakan database yang memuat sekitar 33 wawancara kami bersama para ketua jurusan akademik, kami (Creswell & Brown, 1992) mengembangkan suatu grounded theory yang menghubungkan variabel-variabel (atau kategori-kategori) penelitian, yakni pengaruh para ketua jurusan terhadap performa dosen. Bab teori kami munculkan di bagian akhir penelitian. Pada bagian ini, kami menggambarkan teori tersebut secara induktif dalam bentuk isual berdasarkan kategori-kategori informasi yang berasal dari para informan. Selain itu, kami juga menyertakan hipotesis-hipotesis dari teori tersebut. Bahkan, pada bagian ini, kami juga membandingkan hasil survei dari para partisipan dengan hasil survei dari penelitian-penelitian lain, sekaligus membandingkan beragam spekulasi teoretis yang terdapat dalam literatur. Dalarn bab tersebut, antara lain kami menyatakan: Proposisi dan subproposisi-subproposisi dari teori ini ternyata menampiikan sesuatu yang tidak biasa, bahkan kontras, dengan harapan kami. Bertentangan dengan proposisi 2.1, kami berharap bahwa jenjang-jenjang karier akan sama, bukan dalam jenis-jenis masalah, melainkan dalam jangkauan masalah-masalah tersebut. Kami justru menemukan bahwa masalah yang dirasakan para dosen yang post-tenure hampir mencakup keseluruhan masalah yang terdapat dalam daftar. Mengapa kebutuhankebutuhan para dosen yang tenured justru lebih banyak dibanding para dosen yang nontenured? Padahal, salah satu literatur yang membahas tentang produktivitas penelitian menegaskan bahwa performa penelitian seseorang tidak akan merosot hanya karena ada penghargaan tenure (Holley, 1977). Barangkali, beragamnya tujuan-tujuan karier para dosen yang post-tenure memperluas kemungkinan munculnya "jenis-jenis" masalah tersebut. Dalam banyak hal, subproposisi ini justru menekankan pada kelompok karier yang understudied, yang menurut Furniss (1981), mengharuskan kita untuk mengujinya lebih rinci. (Creswell & Brown, 1992: 58)

93

Secara historis, gagasan digunakannya landasan teoretis dalam penelitian metode campuran sudah ditunjukkan pertama kali oleh Greene dan Caracelli pada 1997. Mereka mengidentifikasi penerapan rancangan transformatif'untuk penelitian metode campuran. Rancangan ini mengutamakan penelitian-penelitian yang berbasis pada nilai dan aksi, seperti penelitian aksi partisipatoris (participatory action research) dan pendekatan pemberdayaan (empowerment approach). Dalam rancangan ini, Greene dan Caracelli menawarkan pencampur-an nilai-nilai dari tradisi-tradisi yang berbeda (seperti, bebas-bias dari kuantitatif dan bermuatan-bias dari kualitatif), penerapan metode-metode yang berbeda, dan perhatian pada solusi-solusi aksi. Banyak peneliti metode campuran yang sudah menerapkan gagasan ini. Tentang prosedur-prosedur penelitian metode campuran, Creswell, Piano Clark, Gutmann, dan Hanson (2003) sudah menulis sebuah bab khusus yang menjelaskan hal tersebut secara kompre-hensif. Mereka menjelaskan kemungkinan penelitian metode campuran menerapkan perspektif-perspektif teoretis yang beragam, seperti gender, feminis; kebudayaan/ras/etnik; gaya hidup; kritik; kelas dan status sosial. Perspektif-perspektif inilah yang nantinya saling bertumpang tindih dalam penelitian metode campuran (lihat-Bab 10). Mereka kemudian membuat model-model visual untuk mengilustrasikan bagaimana perspektif-perspektif ini dapat menjadi panduan bagi penelitian metode campuran. Mertens (2003) melanjutkan pembahasan ini. Sebagaimana diringkas dalam Kotak 3.1, dia menegaskan pentingnya perspektif teoretis dalam penelitian metode carnpuran. Tidak hanya itu, dalam menjelaskan paradigma transfor-rriatif-partisipators dan prosedur-prosedur khusus metode campuran, dia menekankan pentingnya nilai-nilai dalam meneliti isu-isu feminis, etnis/ras, dan isu-isu ketidakmampuan (disability issues). Teori transformatifnya Mertens ini bisa menjadi gagasan umum bagi serrtua penelitian yang berbasis emansipatoris, antidiskriminasi partisipatif, Freirian, feminis, ras/etnis, dengan objek penelitian yaitu individuindividu dengan ketidakmarnpuan-ketidakmampuan khusus dan kelompok-kelompok marginal. Mertens juga menjelaskan implikasi dasar diterapkannya teori-teori transformatif ini dalam penelitian metode campuran. Para peneliti metode campuran yang menggunakan teoriteori transformatif ini, menurut Mertens, perlu menggabungkan metodologi emansipatoristransformatif ke dalam semua tahap penelitiannva. Dengan membaca pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam Kotak 3.1, para peneliti akan menyadari pentingnya penelitian tentang isu-isu diskriminisi dan tekanan, serta perlunya pengharga-an akan perbedaan di antara para partisipan penelitian. Pertanyaan-pertanyaan dalam Kotak 3.1 mengarahkan para peneliti
94

untuk respek dalam mengumpulkan dan mengomunikasikan data penelitian dan melaporkan hasil penelitian sehingga dapat menuntun pada per-ubahan dalam proses dan relasi sosial. Penelitian metode campuran di atas "menekankan dimensi-dimensi berbasis nilai dan aksi dari dua tradisi penelitian yang berbeda" (Greene & Caracelli, 1997:24). Mereka menggunakan perspek-tif teoretis untuk mengonfigurasi kembali bahasa dan percakapan partisipan, lalu mereka mengemukakan pentingnya pemberdayaan dalam penelitian. Langkah-langkah untuk menggunakan teori dalam proposal metode campuran ialah: Tentukan teori apa yang akan digunakan. Identifikasilah penerapan teori tersebut dalam hubungannya dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Jika teori digunakan sebagai strategi transformasional dalam penelitian, jelaskan strategi tersebut dan bahaslah poin-poin intinya dalam penelitian yang diajukan, yang di dalamnya gagasan-gagasan emansipatoris juga digunakan.

95

Kotak 3.1

Pertanyaan-Pertanyaan Emansipatoris-Transformatif untuk PenelitianPenelitian Metode Campuran selama proses Penelitian

Membatasi Masalah dan Mencari Literatur Apakah Anda sudah mencari dengan teliti literatur-literatur yang concern dengan isu-isu diskriminasi dan penindasan? Apakah Anda sudah membatasi masalah penelitian, utamanya untuk komunitas yang diteliti? Apakah Anda sudah benar-benar memanfaatkan waktu dengan komunitaskomunitas ini? (seperti, membangun kepercayaan; menggunakan kerangka teoretis ketimbang model tertentu yang terbatas; merrlbuat pertanyaan-pertanyaan positif dan negatif yang seimbang? Membuat pertanyaan-pertanyaan yang menuntun pada jawaban-jawaban transformatif, seperti pertanyaan-pertanyaan yang difokuskan pada persoalan otoritas dan relasi kekuasaan dalam institusi-institusi dan komunitaskomunitas tertentu?). Mengidentifikasi Rancangan Penelitian Apakah rancangan penelitian Anda sudah menerapkan treatment yang berbedabeda pada setiap kelompok dan menghormati pertimbangan-pertimbangan etis dari para partisipan? Mengidentifikasi Sumber-Sumber Data dan Memtlih Partisipan Apakah para partisipan benar-benar pernah mengalami atau setidaknya berkaitan dengan diskriminasi dan penindasan? Apakah para partisipan sudah tepat dilabeli sebagai komunitas yang tertindas? Apakah proses penargetan populasi sudah memenuhi syarat-syarat pengharaan akan perbedaan? Apa yang Anda lakukan pada sampel penelitian untuk mengetahui bahwa kelompokkelompok yang tertindas itu benar-benar terwakilkan dengan tepat dan akurat? Mengidentifikasi atau Membuat Instrumen-Instrumen dan Metode-Metode Pengumpulan Data Apakah proses pengumpulan data dan hasil penelitian akan menguntungkan komunitas yang diteliti?

96

Apakah temuan-temuan penelitian nantinya dapat dipercaya oleh komunitas tersebut? Apakah komunikasi dengan komunitas tersebut akan berjalan efektif? Apakah proses pengumpulan data dapat membuka jaian bagi partisipan menuju proses perubahan sosial? Menganalisis, Menafsirkan, dan Melaporkan Hasil Penelitian Apakah hasif penelitian akan memunculkan hipotesis-hipotesis baru? Apakah penelitian ini juga akan meneliti subkelompok-subkelompok (seperti, analisis multilevel) untuk mengetahui bahwa ada dampak yang berbeda terhadap setiap kelompok? Apakah hasil penelitian akan membantu memahami dan memper-jelas relasi kekuasaan? Apakah hasil penelitian akan mempermudah proses perubahan sosial? Sumber: Diadaptasi seperlunya dari D.M. Mertens (2003), "Mixed Methods and the Politics of Human Research: The Transformative-Emancipatory Perspective/' dalam A. Tashakkori & C. Teddlie (Ed.), Handbook of Mixed Methods in the Social & Behavioral Sciences. Diadaptasi atas izin penulis.

RINGKASAN Teori diterapkan dalam penelitian kuantitatif, kualitatif, dan metode campuran untuk tujuan yang berbeda-beda. Para peneliti kuantitatif menggunakan teori untuk memberikan penjelasan atau prediksi tentang relasi antarvariabel dalam penelitian. Peneliti kuantitatif tentu membutuhkan landasan teoretis tentang variabel-variabel ini untuk membantunya merancang rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Teori inilah yang menjelaskan bagaimana dan mengapa variabel-variabel itu berhubungan satu sama lain, berfungsi sebagai jembatan antarvariabel. Ruang lingkup teori bisa saja luas ataupun sempit, dan peneliti menyatakan teori mereka dalam bebe rapa bentuk, seperti dalam bentuk hipotesis, pernyataan logika "jika-maka," atau dalam bentuk visual. Jika teori-teori tersebut digunakan secara deduktif, peneliti menempatkannya di awal penelitian dalam tinjauan pustaka. Mereka juga dapat memasukkan teori-teori itu dalam rumusan masalah atau hipotesis penelitian, atau menempatkannya dalam bagian terpisah. Tentu saja, jika diletakkan di bagian terpisah, peneliti perlu membuat tulisan agak panjang mengenai teori tersebut.

97

Contoh 3.4 Teori dalam Penelitian Metode Campuran Transformatif-Emansipatoris Hopson, Lucas, dan Peterson (2000) meneliti isu-isu yang sering kali muncul dalam masyarakat urban, yang didominast oleh penduduk Afrika Amerika yang terjangkit HIV/AIDS. Dengan kerangka teori transformatif-emanstpatoris, mereka meneliti bahasa para partisipan yang terjangkit HIV/AIDS dalam konteks sosial, Mereka pertama-tama melakukan 75 wawancara etnografis terbuka untuk mengidentifikasi "tema-tema bahasa" (him. 31), seperti celaan, kepemilikan, dan keber-terimaan dan ketakberterimaan. Mereka juga melakukan 40 wawancara semi-struktur untuk mengidentifikasi demografi, rutinitas sehari-hari, penggunaan obat-obatan, pengetahuan tentang bahaya HIV/ AIDS, narkoba, dan karakteristik-karakteristik perilaku-sosio seksual. Dari data kualitatif ini, mereka menyaring kembali pertanyaanper-tanyaan follow-up (lanjutan) untuk digunakan sebagai instrumen posintervensi kuantitatif. Mereka lalu menyatakan bahwa dalam metakukan penilaian (evaluasi), sebaiknya diterapkan pendekatan pemberdayaan di mana peneliti secara aktif mendengarkan pendapat dari para partisipan dan melaksanakan program-program yang mereka inginkan

Sebagaimana dalam penelitian kuantitatif, para peneliti kualitatif juga dapat menerapkan teori sebagai penjelasan umurn, misal-nya dalam etnografi. Teori juga bisa diterapkan sebagai perspektif teoretis untuk membantu peneliti memunculkan pertanyaanpertanyaan tentang gender, kelas, ras, dan sebagainya. Teori juga dapat diterapkan sebagai poin akhir penelitian (end point), pola (pattern], atau generalisasi (generalization) yang secara induktif berawal dari pengumpulan dan analisis data. Para peneliti kualitatif yang menerapkan grounded theory, misalnya, berusaha menghasilkan suatu teori yang didasarkan (grounded) pada pandangan-pandangan para partisipan, lalu memosisikannya sebagai kesimpulan di akhir penelitian mereka. Meski demikian, ada juga beberapa penelitian kualitatif yang tidak menyertakan teori yang eksplisit, hanya menyajikan penelitian deskriptif tentang fenomena utama, seperti penelitian feno-menologi. Para peneliti metode campuran dapat menerapkan teori secara deduktif (sebagaimana dalam penelitian kuantitatif) ataupun secara induktif (sebagaimana dalam penelitian kualitatif). Mereka juga dapat mengawalinya dengan menggunakan perspektif-perspektif teoretis (misalnya, yang berhubungan dengan gender, gaya hidup, ras/etnis, dan kelas) dalam penelitian metode campuran mereka. Misalnya, para peneliti metode campuran dapat
98

menerapkan pen-dekatan transformasional-emansipatoris yang menggabungkan perspektifperspektif di atas untuk meneliti isu utama. Bahkan, beberapa buku penelitian saat ini (seperti, Mertens, 2003) sudah me-nyediakan prosedur-prosedur khusus bagaimana memasukkan beragam perspektif tersebut ke dalam tahap-tahap penelitian.

Latihan Menulis
1. Berdasarkan contoh yang sudah disajikan dalam bab ini, buatlah tulisan

Latihan Menulis

mengenai perspektif teoretis untuk rencana penelitian kuantitatif Anda! 2. Setelah itu, buat juga model visual teori tersebut yang mengilustrasikan hubungan antarvariabel dalam penelitian Anda! Ikutilah prosedur-prosedur rancangan model kausatif yang sudah dijelaskan dalam bab ini! 3. Carilah artikel-artikel jurnal yang: (a) memodifikasi suatu teori yang muncul sebelumnya; (b) berusaha mengembangkan suatu teori di akhir penelitian; dan (c) menyajikan penjelasan deskriptif tanpa menggunakan teori yang eksplisit. 4. Carilah penelitian metode campuran yang menggunakan satu perspektif teoretis, seperti perspektif feminis, etnis/ras, atau kelas. Identifikasilah secara cermat bagaimana perspektif tersebut membentuk langkah-langkah dalam proses penelitian itu! Gunakan Kotak 3.1 sebagai panduan identifikasi.

BACAAN TAMBAHAN Flinders, D.J., & Mills, G.E. (Ed.). (1993). Theory and Concepts in Qualitative Research: Perspectives from The Field. New York: Teachers College Press, Teachers College, Columbia University. David Flinder dan Geoffrey Mills mengeditori sebuah buku yang membahas tentang perspektif-perspektif yang berasal dari lapangan "teori lapangan" seperti yang sudah sering dideskripsikan oleh para peneliti kualitatif. Bab-bab dalam buku ini mengilustrasikan beberapa konsensus tentang bagaimana meryjelaskan suatu teori, dan teori seperti apa yang dianggap buruk dan baik. Lebih jauh, buku ini juga menunjukkan bahwa teori bisa saja beroperasi pada banyak level dalam penelitian kualitatif, seperti teori-teori formal, teori-teori epistemologis, teori-teori metodologis, dan meta-teori. Berdasarkan keragaman inilah, diperlukan usaha untuk mencari teori lapangan yang sebenarnya dalam penelitian kualitatif.
99

Buku ini juga mengilustrasikan praktik dari kritisisme kritis, personal, formal, dan edukasional. Mertens, D.M. (2003). "Mixed Methods and The Politics of Human Research: The Transformative-Emancipatory Perspective." dalam A. Tashakkori & C. Teddlie (Ed.). Handbook of Mixed Methods in Social and Behavioral Research. Thousand Oaks, CA: Sage. (him. 135-164). Donna Mertens mengakui bahwa secara historis, metode penelitian pada awalnya tidak terlibat dalam. isu-isu politik-kemanusiaan dan keadilan sosial. la juga menawarkan paradigma transformatif-emansipatoris sebagai kerangka teoretis bagi penelitian metode campuran karena paradigma ini digagas oleh para sarjana yang berasal dari kelompok ras/etnis yang beragam, dari orane-orang yang memiliki ketidakmampuan-ketidakmampuan khusus dan dari kaum feminis. Aspek yang berbeda dari tulisan Mertens ini terletak pada bagaimana ia berusaha merangkaikan paradigma pemikiran transformatif-emansipatorisnya dengan langkah-langkah dalam proses pelaksanaan penelitian metode campuran. Thomas, G. (1997). "What's The Use of Theory?" dalam Harvard Educational Review. 67 (1). (him. 75-104). Gary Thomas mengkritik penggunaan teori dalam penelitian edukatif, yang menurutnya cenderung membatasi pemikiran. Dia mencatat beragam definisi tentang teori dan memetakan empat fungsi teori, yaitu: (a) sebagai bahan pemikiran dan refleksi, (b) sebagai hipotesis yang lebih sempit atau longgar, (c) sebagai penjelasan untuk menambah pengetahuan dalam bidang yang berbeda, dan (d) sebagai pernyataan formal dalam ilmu pengetahuan. Berangkat dari catatan-catatan ini, dia kemudian memunculkan satu tesis bahwa teori tidak seharusnya menstrukturkan apalagi mengekang pemikiran. Sebalik-nya, teori-teori ini harus berkembang secara terus-menerus dan menjadi ad hocery, sebagaimana dikatakan Toffler.

100

Bab Empat

Strategi-strategi Menulis dan Pertimbangan-Pertimbangan Etis

ebelum menulis proposal, peneliti perlu memiliki gagasan umum tentang struktur penelitian yang akan sajikan, utamanya tentang 'format bagian-bagian dan outline topik-topik di dalamnya. Struktur proposal ini akan berbeda tergantung pada apakah

proyek yang ditulis adalah kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kesadaran akan tulisan yang baik dan benar, yang akan turut memastikan konsistenst dan keterbacaan proposal tersebut. Sepanjang penggarapan proposal, peneliti juga perlu mematuhi aturan-aturan etis dan mengantisipasi masalah-masalah etis yang sering kali muncul. Bab ini akan menjelaskan garis-garis besar susunan proposal penelitian secara keseluruhan, praktik-praktik penulisan proposal agar mudah dibaca, dan masalah-masalah etis yang harus dipertimbangkan saat proposal tersebut ditulis.

MENULIS PROPOSAL Bagian-Bagian dalam Proposal Salah satu syarat utama yang harus dipenuhi sebelum menulis proposal adalah mempertimbangkan topik-topik apa saja yang akan dimasukkan dalam proposal tersebut. Semua topik harus saling berhubungan dan memberikan gambaran kohesif mengenai proyek penelitian secara keseluruhan. Untuk itulah, diperlukan sejenis outline atau draft meskipun topik-topik ini akan bervariasi bergantung pada jenis proposal yang diajukan, apakah kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran. Dalam bab ini, saya menyajikan outline topiktopik proposal, sejenis draf tentang bagian-bagian yang perlu dimasukkan dalam proposal penelitian. Dalam bab-bab selanjutnva, saya akan menjelaskan bagian-bagian ini secara lebih detail. Yang jelas, secara keseluruhan, suatu proposal penelitian di-bentuk oleh beberapa argumentasi utama. Maxwell (2005) menyebut sembilan argumentasi inti yang harus diperhatikan peneliti untuk menulis proposal penelitian. Berikut ini saya sajikan sembilan argumentasi tersebut dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan. 1. 2. Apa yang dibutuhkan pembaca untuk memahami topik Anda dengan lebih mudah? Apa yang sudah sedikit-banyak diketahui pembaca mengenui topik Anda?
101

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Apa yang Anda harapkan dari penelitian Anda? Rancangan seperti apa dan siapa saja orang-orang yang ingin Anda teliti? Metode-metode apa yang ingin Anda gunakan untukmenyajikan data? Bagaimana Anda akan menganalisis data? Bagaimana Anda akan menvalidasi penemuan-penemuan Anda? Masalah-masalah etis apa saja yang akan Anda sajikan? Apakah hasil-hasil sementara sudah menunjukkan bahwa penelitian yang Anda ajukan ini bermanfaat dan bisa diterapkan? Sembilan pertanyaan ini, jika masing-masing disajikan secara tepat dalam satu bagian

proposal, akan membentuk fondasi penelitian yang baik dan sangat membantu proses penyusunan proposal secara keseluruhan. Yang menarik dari sembilan pertanyaan di atas adalah disertakannya verifikasi penemuan, pertimbangan-pertimbangan etis, hasil-hasil sementara, dan bukti manfaat atau tidaknya sebuah proposal. Komponen-komponen ini dapat memfokuskan perhatian pembaca pada elemen-elemen kunci yang sering kali diabaikan dalam proposal penelitian.

Format Proposal Kualitatif Mengenai format proposal kualitatif, saya menawarkan dua model alternatif. Contoh 4.1 didasarkan pada perspektif konstruk-tivis/interpretivis, sedangkan Contoh 4.2 didasarkan pada perspektif advokasi/partisipatoris. Contoh 4.1 Format Konstruktivis/Interpret!vis Kualitatif

Pendahuluan Latar belakang masalah (mencakup literatuMiteratur yang ber-hubungan dengan rnasalah tersebut dan pentingnya penelitian). Tujuan penelitian dan batasan masalah. Rumusan masalah. Prosedur-Prosedur Asumsi-asumsi filosofis tentang penelitian kualitatif. Strategi penelitian kualitatif. Peran peneliti. Prosedur-prosedur pengumpulan data, Strategi-strategi menvalidasi hasil penelitian. Susunan naratif penelitian. Masalah-masalah etis yang mungkin muncul, Hasil-hasil sementara (jika ada). Outcomes yang diharapkan. Lampiran: pertanyaan-pertanyaan wawancara, bukti observasi, catatan waktu, dan anggaran yang diajukan.
102

Pada contoh di atas, peneliti hanya menyertakan dua bagian utama, yaitu pendahuluan dan prosedur-prosedur. Tinjauan pustaka bisa saja dimasukkan, tetapi hanya bersifat optional saja; lagi pula, sebagaimana yang sudah dijelaskan pada Bab 3, tinjauan pustaka bisa dimasukkan di akhir penelitian atau di bagian outcomes yang diharapkan. Selain itu, saya juga sudah menambah bagian-bagian yang mungkin pada awalnya tampak tidak lazim. Misalnya, denganmembuat catatan waktu dan menyajikan anggaran yang diajukan peneliti setidak-tidaknya sudah memberikan informasi yang berguna bagi pihak perguran tinggi meskipun bagian-bagian ini biasanya tidak dijumpai dalam outline proposal. Format proposal di atas tadi sama dengan format sebelumnya (konstruktivis/interpretivis) kecuali dalam hal bahwa dalam format proposal ini, peneliti mengidentifikasi isu-isu advokasi/partisipatoris tertentu yaing akan dieksplorasi dalam penelitian (seperti

marginalisasi dan pemberdayaan), berkolaborasi dengan para partisipan dalam pengumpulan data, dan menyatakan perubahan-perubahan yang dapat ditawarkan oleh penelitian ini. Contoh 4.2 Format Advokasi/Partisipatoris Kualitatif

Pendahuluan Latar belakang masalah (meliputi isu-isu advokasi/partisipatoris yang akan dieksplorasi, literatur-literatur yang berhubungan dengan isu tersebut, dan pentingnya penelitian). Tujuan penelitian dan batasan masalah. Rumusan masalah. Prosedur-Prosedur- , Asumsi-asumsi filosofis tentang penelitian kualitatif. Strategi penelitian kualitatif. Peran peneliti, Prosedur-prosedur pengumpulan data (meliputi pendekatan-pendekatan pengumpulan data secara kolaboratif bersama para partisipan). Prosedur-proseedur pencatatan/perekaman data. Prosedur-prose*dur analisis data. Strategi-stratecgi menvaiidasi hasif penelitian.

Susunan naratif. Masalah-masalsh etis yang mungkin muncul. Pentingnya penelitian. Hasil-hasil semwentara (jika ada). Perubahan-perubahan advokasi/partisipatoris yang diharapkan.
Lampiran: pertanyaan-pertanyaan wawancara, bukti observasi, catatan waktu, dan anggaran yang diajukan.
103

Format Proposal Kuantitatif Untuk penelitian kuantitatif, formatnya disesuaikan dengan bagian-bagian yang biasanya terdapat dalam artikel-artikel jurnal kuantitatif. Format tersebut pada umumnya terdiri dari pendahuluan, tinjauan pustaka, metode penelitian, hasil, dan pembahasan. Dalam merencanakan penelitian kuantitatif atau proposal disertasi, pertimbangkanlah format berikut ini sebagai panduan menulis (lihat Contoh 4.3). Contoh 4.3 merupakan format standar untuk penelitian ilmu sosial meskipun susunan bagian-bagiannya, khususnya dalam pendahuluan, bisa jadi bermacam-macam antarmasingmasing penelitian (lihat, misalnya, Miller, 1991; Rudestam & Newton, 2007). Contoh ini juga sangat berguna bagi para peneliti yang ingin merancang bagian-bagian penelitian untuk disertasi atau membuat kerangka topik-topik untuk penelitian-penelitian akademik yang lain.

Format Proposal Metode Campuran Untuk proposal metode campuran, peneliti dapat menggabungkan format kuantitatif dan kualitatif (lihat Creswell & Piano Clark, 2007). Ilustrasi untuk format proposal metode campuran ini dapat dilihat pada Contoh 4.4 (yang diadaptasi dari buku Creswell & Piano Clark, 2007). Format ini menunjukkan bahwa peneliti menerapkan komponen-komponen kuantitatif dan kualitatif (khususnya, tujuan pe-nelitian dan rumusan masalah) sebagai komponen-komponen Metode campuran. Untuk itu, sangat penting menjelaskan sejak awal alasan-alasan diterapkannya pendekatan metode campuran dan mengidentifikasi elemen-elemen kunci dari rancangan ini, seperti metode campuran, gambaran visual prosedur-prosedur penelitian secara umum, dan prosedur-prosedur pengumpulan dan analisis data kuantitatif dan kualitatif.

104

Contoh 4.3

Format Kuantitatif

Pendahuluan Latar belakang masalah (meliputi pembahasan mengenai masalah yang diangkat dan pentingnya penelitian). Tujuan penelitian dan batasan masalah. Perspektif teoretis. Rumusan masalah atau hipotesis.

Tinjauan Pustaka Metode Penelitian 3enis rancangan penelitian. Populasi, sampel, dan partisipan. Instrumen-instrumen pengumpulan data, vartabel-variabel, dan materi-rnateri. Prosedur-prosedur analisis data.

Isu-isu etis yang mungkin muncul. Hasil-hasil sementara.

Lampiran: instrumen, catatan waktu, dan anggaran yang diajukan.

Merancang Bagian-Bagian dalam Proposal Penelitian Di sini, ada beberapa tips penelitian yang sering kali saya sampaikan kepada para mahasiswa, terkait dengan bagaimana merancang struktur keseluruhan proposal penelitian. Merinci terlebih dahulu bagian-bagian dalam rancangan proposal. Mengerjakan satu bagian akan mendorong munculnya gagasan-gagasan baru ketika merancang bagianbagian proposal yang lain. Pertama-tama, buatlah satu draft atau outline bagian-bagian proposal, lalu tulislah sesuatu dalam setiap bagian tersebut. Kemudian, saringlah kembali ke bagian-bagian tersebut dengan mempertimbangkan secara lebih detail informasiinformasi lain yang mungkin perlu dimasukkan ke dalam setiap bagian.

105

Contoh 4.4 Pendahuluan

Format Metode Campuran

Latar belakang masalah. Penelitian-penelitian sebelumnya yang juga mernbahas masalah tersebut. Kekurangan-kekurangan dalam penelitian-penelitian sebelumnya dan satu kekurangan yang membuat Anda merasa perlu mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan untuk menutupi kekurangan ini. Para pembaca yang dapat mengambil manfaat dari penetitian ini.

Tujuan Penelitian Tujuan atau manfaat peneiitian dan rasionalisasi digunakannya metode campuran. Rumusan masalah dan hipotesis (rumusan masalah atau hipotesis kuantitatif, rumusan masalah kualitatif, rumusan masalah metode campuran). Landasan-landasan filosofis tentang peneiitian metode campuran. Tinjauan pustaka (tinjauan kuantitatif, tinjauan kualitatif, dan tinjauan metode campuran}.

Metode Campuran Definisi peneiitian metode campuran. Jenis rancangan yang digunakan dan definisinya. Tantangan-tantangan menggunakan rancangan ini dan bagaimana menghadapi tantangantantangan tersebut. Contoh-contoh penerapan rancangan tersebut. Referensi dan penyertaan diagram visual. Pengumpulan dan analisis data kuantitatif. Pengumpulan dan analisis data kualitatif. Prosedur-prosedur analisis data metode campuran. Pendekatan-pendekatan dalam menvalidasi data kuantitatif dan kualitatif.

Sumber-sumber dan skill-skill peneliti. Isu-isu etis yang mungkin muncul. Catatan waktu dalam menyelesaikan penelitian. Referensi dan lampiran-lampiran, seperti instrumen penelitian, protokol penelitian, dan bentukbentuk visual lain.

106

Pelajari proposal-proposal dari mahasiswa lain yang juga dipandu oleh pembimbing Anda dan perhatikan proposal-proposal tersebut dengan seksama. Gandakan proposalproposal yang me-nurut pembimbing Anda paling layak diajukan pada pihak perguruan tinggi. Pelajari topik-topik yang dibahas dan susunan di dalamnya hingga ke tahap yang lebih detail.

Pastikan apakah program atau institusi Anda menawarkan sejenis kursus tentang pembuatan proposal atau topik-topik lain yang sejenis. Kelas-kelas seperti ini sering kali membantu Anda dalam menyusun proyek penelitian dan membantu pembaca memahami dan merespons gagasan-gagasan dalam proposal tersebut.

Mintalah pertimbangan dari pembimbing Anda tentang format proposal yang ia harapkan. Jangan terlalu mengandalkan artikel jurnal sebagai panduan penyusunan. Susunan bagian-bagian proposal yang terdapat dalam artikel-artikel jurnal bisa saja tidak memberikan banyak informasi yang diinginkan oleh pembimbing atau pihak perguruan tinggi.

Menulis Gagasan Setiap tahun, saya selalu mengumpulkan berbagai buku tentang teknik menulis yang baik. Saya biasanya membeli satu buku baru tentang teknik-teknik menulis setiap kali saya mengerjakan proposal penelitian. Ketika buku Research Design ini saya tulis untuk edisi yang ketiga, saya waktu itu sedang membaca Reading Like a Writer-nya Francine Prose (Prose, 2006). Setiap kali saya membaca buku-buku seperti ini, saya terus teringat dengan prinsip-prinsip menulis yang baik yang harus saya terapkan pada penelitian saya. Hingga saat ini, penelitian-penelitian saya sudah menjangkau berbagai spektrum yang luas, mulai dari buku-buku profesional hingga buku-buku akademik. Semua ini tentu saja didukung, salah satunya, oleh hasil pembacaan saya pada buku-buku panduan menulis tersebut. Untuk itu, pada bagian ini, saya akan memberikan pada Anda gagasan-gagasan kunci yang saya dapatkan dari buku-buku favorit yang pernah saya baca.

Menulis seperti Berpikir Salah satu tanda penulis yang kurang berpengalaman adalah ia lebih suka mendiskusikan penelitian yang diajukan ketimbang me-nulis tentangnya. Untuk mengatasi masalah ini, saya merekomen-dasikan beberapa langkah berikut: Di awal proses penelitian, cobalah untuk benar-benar menulis gagasan-gagasan Anda, dan bukan membicarakannya. Para penulis ahli me-mandang proses menulis layaknya
107

berpikir (Bailey, 1984). Zinsser (1983) membahas pentingnya mengekspresikan kata-kata (gagas-an-gagasan) di kepala ke atas kertas. Pembimbing akan memberikan respons yang lebih baik ketika mereka membaca gagasan-gagasan di atas kertas daripada ketika mereka mendengar dan mendiskusikan topik penelitian dengan mahasiswa atau rekannya. Ketika peneliti berusaha menuliskan gagasan-gagasannya di atas kertas, pembaca akan mampu menvisualisasi hasil akhir-nya, lebih tepatnya melihat bagaimana hasil akhir itu tampak ke permukaan, dan pada akhirnya pun juga mampu mengklarifikasi gagasan-gagasan di dalamnya. Konsep tentang menulis gagasan-gagasan di atas kertas ini sudah banyak membantu orang dalam merangkai tulisan yang baik. Sebelum merancang proposal, buatlah draf ringkas sebanyak satu hingga dua halaman tentang proyek Anda dan biarkan pembimbing Anda memberikan arahan atas penelitian yang Anda ajukan. Draf ini dapat berisi sejumlah informasi penting: masalah penelitian yang akan dianalisis, tujuan penelitian, rumusan masalah yang akan diajukan, sumber data, dan pentingnya proyek tersebut bagi para pembaca. Selain itu, penting juga membuat draf untuk topik-topik yang berbeda sebanyak satu sampai dua halaman, lalu melihat topik mana yang lebih disukai pembimbing Anda dan memberikan kontribusi besar bagi bidang yang tengah Anda geluti saat ini. Lebih baik menulis beberapa draf proposal ketimbang mencoba memoles drafpertama. Setidak-tidaknya, cara ini akan membuat gagasan-gagasan di kepala Anda'segera tercurahkan. Zinsser (1983) meng-identifikasi dua jenis penulis: "tukang batu" (bricklayer), yang ber-usaha membuat satu paragraf yang benar-benar baik sebelum beralih pada paragraf selanjutnya, dan penulis yang "membiarkan semuanya menggelantung pada draf pertama", yang menulis draf pertama secara keseluruhan tanpa peduli terlebih dahulu betapa buruknya draf tersebut. Yang berada di antara kedua jenis ini adalah Peter Elbow (Elbow, 1973) yang lebih merekomendasikan agar seseorang melewati proses literatif, yakni: mulai dari menulis, mereview, lalu menulis kembali. Kata Elbow: jika Anda punya satu jam untuk membuat sebuah tulisan, lebih baik menulis empat draf (masing-masing 15 menit) daripada menulis satu draf (yang harus dihabiskan selama 15 menit). Peneliti yang berpengalaman akan menulis draf pertama dengan sangat hati-hati tetapi ia tidak menulis draf yang benar-benar sudah dipoles: pemolesan ini hanya akan membuat proses penulisan menjadi lamban. Jangan mengedit proposal Anda pada tahap-tahap awal. Lebih baik, Anda mempertimbangkan model tiga-tahapnya Franklin (1986) yang saya pandang sangat bermanfaat dalam membuat proposal awal dan penulisan penelitian akademik yang saya
108

lakukan selama ini: 1. Pertama-tama, buatlah sebuah outline; outline ini dapat berupa kalimat-kalimat atau kata-kata, atau dapat berupa peta visual. 2. Tulislah satu draf utuh, lengkap dengan gagasan-gagasan pokoknya, lalu nyatakan gagasan-gagasan tersebut dalam bentuk paragraf-paragraf. 3. Akhirnya, edit dan poleslah setiap kalimat yang sudah Anda tulis.

Kebiasaan Menulis Cobalah untuk berdisiplin dan membiasakan diri menulis proposal secara reguler dan terus-menerus. Merancang draf yang benar-benar utuh dalam satu waktu memang dapat memberikan Anda perspektif awal ketika mereview hasil tulisan sebelum dilakukan pengeditan yang sebenarnya, namun proses menulis yang tidak konsisten ini (sebentarsebentar berhenti, sebentar-sebentar memulai lagi) sering kali menghambat rampungnya penulisan. Bahkan, cara seperti ini dapat mengubah seorang penulis yang awalnya memiliki bakat menulis yang baik, menjadi seorang penulis mingguan, yaitu penulis yang hanya memiliki waktu untuk mengerjakan penelitian-nya pada akhir-akhir pekan setelah semua pekerjaan "penting" hariannya terselesaikan. Menulis proposal secara kontinu yang saya maksudkan adalah menulis beberapa paragraf setiap hari atau se-tidak-tidaknya libatkan pikiran kita setiap hari dalam proses berpikir, mengumpulkan informasi, dan mereview beberapa hal yang sudah ditulis dalam proposal penelitian. Pilihlah waktu-waktu khusus dalam satu hari untuk menggarap proyek penelitian Anda, lalu cobalah untuk berdisiplin dalam menulis pada momen-momen itu setiap harinya. Pilihlah tempat yang bebas dari gangguan. Boice (1990:77-78) menawarkan ide tentang bagaimana Anda membangun kebiasaan menulis yang baik: Dengan prioritas yang sudah Anda miliki, tulislah aktivitas keseharian Anda, baik ketika siap maupun belum siap untuk menulis. Jika Anda merasa tidak memiliki waktu untuk menulis secara reguler, cobalah memetakan aktivitas keseharian Anda dalam momen-momen setengah-jam-an selama satu sampai dua minggu. Ini akan membantu Anda menemukan waktu yang tepat buat menulis. Menulislah ketika Anda sedang fresh. Jangan menulis ketika Anda kekenyangan. Menulislah secara reguler meski hanya sebentar. Buatlah jadwal aktivitas menulis sehingga Anda dapat merencana-kan kapan harus
109

mengerjakan unit-unit tulisan tertentu dalam setiap sesi. Cobalah menaati kartu harian Anda. Tulislah setidak-tidaknya tiga hal: (a) waktu yang digunakan untuk menulis, (b) jumlah halaman yang dapat diselesaikan, dan (c) perkiraan kapan tugas dapat selesai secara keseluruhan. Rencanakan tujuan-tujuan harian Anda. ; .ni

Diskusikan tulisan Anda dengan teman-teman yang suportif dan konstruktif sehingga Anda merasa siap untuk go public. Cobalah menulis dua atau tiga proyek penulisan secara serempak sehingga Anda tidak overload dengan satu proyek saja. Yang juga penting diketahui, proses menulis itu berlangsung secara perlahan-lahan

danbahwa penulis harus merasa mudah ketika menulis. Layaknya pembalap yang selalu menggeliat sebelum balapan dimulai, penulis juga harus menghangatkan pikiran dan jari-jari terlebih dahulu sebelum benar-benar menulis. Aktivitas menulis yang tidak tergesa-gesa, seperti menulis sebuah surat kepada seorang teman, brainstorming di depan komputer, membaca tulisan-tulisan di komputer, atau merenungkan sebuah syair, dapat membuat tugas menulis lebih mudah. Saya teringat konsep "masa-pemanasan"-nya John Steinbeck (1969:42) yang dideskripsikan secara detail dalam Journal of a Novel: The East of Eden Letters. Steinbeck selalu memulai aktivitas menulisnya setiap hari dengan membuat satu surat kepada editor sekaligus teman dekatnya, Pascal Covici, di sebuah notebook. Ada banyak pemanasan lain yang bisa dilakukan. Carrol (1990) memberikan contoh latihan untuk memperbaiki kontrol seorang penulis yang ingin membuat tulisan yang deskriptif dan emotif: Deskripsikan suatu objek, lengkap dengan bagian-bagian dan dimensi-dimensinya, tanpa terlebih dahulu menceritakan nama objek tersebut kepada pembaca. Tulislah sebuah percakapan dramatis di antara dua orang yang sekiranya dapat membuat pembaca penasaran. Tulislah serangkaian petunjuk sederhana untuk tulisan-tulisan yang diperkirakan sangat rumit untuk dimengerti. Carilah satu tema pokok, lalu tulislah dengan tiga cara yang ber-beda-beda (him. 113116). Latihan yang terakhir ini tampaknya cocok bagi para peneliti kualitatif yang menganalisis data mereka dengan kode-kode dan tema-tema yang beragam (lihat Bab 9 mengenai analisis data kuali-tatif).

110

Selain itu, pertimbangkan pula instrumen-instrumen penulisan dan tempat fisik yang membantu proses penulisan Anda berjalan baik dan disiplin. Instrumen-instrumen tersebut seperti komputer, keypad yang nyaman dipakai, pena kesayangan, pensil, bahkan kopi dan snack (Wolcott, 2001) memberikan banyak opsi kepada Anda untuk dapat comfortable ketika menulis. Setting fisik juga turut membantu. Annie Dillard, seorang novelis pemenang penghargaan Pulitzer, justru menghindari tempat-tempat yang menarik perhatian: Seseorang ingin ruangannya tanpa pemandangan, sehingga imajinasi dapat muncul dari kegelapan. Ketika saya menggarap pekerjaan ini tujuh tahun lalu, saya mendorong meja panjang saya ke dinding kosong sehingga saya tidak dapat melihat dari jendela mana pun. Suatu hari, lima belas tahun lalu, saya juga menulis di dekat perapian di area parkir. Saya tak mau berada di atas aspal dan kerikil. Di sana ada banyak pohon pinus yang tidak berhenti berguguran daunnya sehingga membuat saya merasa bahwa pekerjaan di dekat bara api ini lebih baik, dan pekerjaan saya pun terselesaikan (Dillard, 1989:26-27). Keterbacaan Tulisan Sebelum mulai menulis proposal, cobalah berpikir tentang bagaimana Anda meningkatkan keterbacaan proposal Anda. Publication Manual APA (2001) membahas tentang bagaimana menyajikan tulisan yang rapi dengan cara menunjukkan hubungan antargagasan dan menggunakan kata transisional. Selain itu, penting juga meng-gunakan istilah-istilah yang konsisten dan terus membangun kohe-rensi dalam proposal penelitian Anda. Gunakan istilah-istilah yang konsisten di sepanjang proposal Anda. Pakailah istilahistilah yang sama setiap kali variabel disebutkan dalam penelitian kuantitatif atau fenomena utama dalam penelitian kualitatif. Jangan menggunakan sinonim-sinonim dari istilah-istilah tersebut. Hal ini hanya akan membuat pembaca bingung memahami makna setiap gagasan dalam proposal penelitian Anda. Pertimbangkan pula seberapa naratif gaya pemikiran yang Anda terapkan agar pembaca dapat memahami proposal Anda. Konsep ini pernah dikemukakan oleh Tarshis (1982) yang merekomendasi-kan agar penulis membuat tahapan pemikiran untuk membim-bing pembaca. Ada empat jenis gaya pemikiran yang bisa diper-timbangkan: 1. Umbrella thoughts gagasan-gagasan umum atau inti yang disilangkan satu sama lain. 2. Big thoughts gagasan-gagasan atau gambaran-gambaran tertentu yang berada dalam ranah umbrella thought untuk memperkuat, mengklarifikasi, atau menjelaskan umbrella thought.
111

3.

Little thoughts gagasan-gagasan atau gambaran-gambaran yang fungsi utamanya adalah memperkuat big thoughts. Attention or interest thoughts gagasan-gagasan yang tujuan-nya adalah mengorganisasi pemikiran-pemikiran lain dan menjaga perhatian pembaca agar tetap berada dalam satu jalur pemikiran/konsep tulisan.

4.

Para peneliti pemula pada umumnya selalu berputar-putar dalam umbrella thought dan attention thought. Akibatnya, proposal mereka dipenuhi dengan gagasan umbrella yang sangat banyak, namun tidak didukung oleh isi yang detail untuk memperjelas gagasangagasan besar tersebut. Hal ini biasa muncul dalam tinjauan pustaka yang di dalamnya peneliti perlu menyediakan bagian-bagian besar yang lebih banyak untuk mengikat dan menyimpulkan semua literatur secara bersama-sama. Salah satu gejala masalah ini adalah terlalu cepatnya peralihan gagasan secara terus-menerus dari satu gagasan umum ke gagasan umum yang lain dalam satu naskah. Bahkan, suatu gagasan umum tidak jarang ditulis dalam satu para-graf yang sangat pendek dalam pendahuluan proposal, seperti yang sering ditulis oleh para jurnalis dalam artikel-artikel koran. Untuk itulah, peneliti diharapkan dapat berpikir dalam konteks narasi yang detail agar gagasan-gagasan umbrella dapat tersampaikan dengan jelas. Attention thoughts, yang merupakan statemen-statemen ter-organisir untuk memandu pembaca, juga dibutuhkan. Pembaca membutuhkan rambu-rambu dan petunjuk-petunjuk agar mereka dapat memahami peralihan dari satu gagasan umum ke gagasan umum selanjutnya (Bab 6 dan 7 akan membahas rambu-rambu dalam penelitian, seperti tujuan penelitian, rumusan masalah, dan hipo-tesis). Paragraf yang terorganisir utamanya sangat dibutuhkan di awal dan akhir tinjauan pustaka. Pembaca harus melihat secara ke-seluruhan susunan gagasan-gagasan melalui paragraf-paragraf awal dan harus diberi tahu mengenai poin-poin terpenting di bagian akhir yang nantinya dapat mereka ingat. Terapkanlah koherensi untuk menambah keterbacaan naskah. Koherensi dalam tulisan berarti bahwa gagasan-gagasan Anda terikat bersama dan mengalir secara logis dari satu kalimat ke kalimat lain dan dari satu paragraf ke paragraf lain. Konsistensi nama-nama variabel dalam judul, tujuan penelitian, rumusan masalah, dan tinjauan pustaka (yang banyak muncul dalam proyek kuantitatif), misalnya, menggambarkan dengan jelas bagaimana koherensi ini bekerja. Konsistensi ini akan turut mem-bangun koherensi dalam penelitian. Begitu pula, menekankan urutan yang konsisten kapan pun variabel bebas dan terikat disebutkan juga merupakan teknik yang dapat digunakan untuk membangun
112

koherensi. Pada level yang lebih detail, koherensi dapat dibangun dengan menghubungkan kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf dalam naskah. Zinsser (1983) menyarankan agar setiap kalimat ditulis secara bersambung dan logis. Latihan hook and eye-nya Wilkinson (1991) tampaknya dapat diterapkan untuk menghubungkan gagasan-gagasan dari kalimat satu ke kalimat lain dan dari paragraf satu ke paragraf yang lain pula. Contoh 4.5 yang dikutip dari proposal salah seorang mahasiswa berikut ini akan menunjukkan kepada Anda bagaimana level tinggi koherensi tersebut terjadi. Kutipan ini diambil dari bagian pen-dahuluan proyek disertasi kualitatif seorang mahasiswa yang membahas tentang siswa-siswa yang berisiko gagal. Dalam kutipan ini, saya sudah menerapkan pola hook and eye untuk menghubungkan gagasan-gagasan dari kalimat satu ke kalimat lain dan dari paragraf satu ke paragraf lain. Seperti yang sudah dijelaskan, tujuan latihan hook and eye ini (Wilkinson, 1991) adalah untuk menghubungkan gagasan-gagasan di setiap kalimat dan paragraf. Jika hubungan semacam ini tidak dibuat mudah, berarti sebuah tulisan tidak mampu menghubungkan peralihan gagasan-gagasan dan topik-topik secara koheren. Untuk itu, penulis perlu menambah kata-kata, frasa-frasa, atau kalimat-kalimat transisional untuk membangun koherensi yang jelas. Pada mata kuliah pengembangan proposal yang saya ampu, saya sering menyediakan satu kutipan dari pendahuluan sebuah proposal dan meminta mahasiswa untuk menghubungkan kalimat-kalimat di dalamnya dengan melingkari dan menggaris gagasangagasan inti untuk menghubungkan gagasan-gagasan tersebut dari kalimat satu ke kalimat yang lain. Teknik ini diterapkan agar para mahasiswa dapat menemukan koherensi dalam proposal penelitian, sejak dari halaman pertama. Pertama-tama, saya memberikan kutipan yang tidak diberi tanda apa pun kepada para mahasiswa, kemudian setelah latihan usai, baru saya memberikan kutipan yang lengkap dengan tanda-tandanya. Karena gagasan inti suatu kalimat seharusnya terhubung pada gagasan inti pada kalimat selanjutnya maka mereka harus menandai hubungan ini. Jika kalimat-kalimat tersebut tidak terhubung, berarti ada kata-kata transisional yang hilang, dan untuk itu perlu dibumbui. Saya juga meminta para mahasiswa untuk memastikan bahwa antarparagraf dan antarkalimat sudah terhubung dengan teknik hook and eye.

113

Kalimat Aktif, Kata Kerja, dan "Berlebih-lebihan" Setelah belajar bagaimana mengekspresikan pemikiran-pemikiran dan paragrafparagraf, kini saatnya Anda belajar menulis kalimat-kalimat dan kata-kata. Persoalan tata bahasa dan konstruksi kalimat sebenarnya sudah dijabarkan dalam Publication Manual APA (2001), akan tetapi saya tetap menyertakan bagian ini untuk me-nyoroti beberapa masalah tata bahasa yang sering kali saya lihat dalam proposal-proposal mahasiswa saya dan tulisantulisan saya pribadi. Dalam bagian ini, Anda tidak akan diajari untuk menulis dari tahap paling dasar (seperti merangkai kalimat, menemukan gagasan, dan sebagainya), melainkan dari tahap meminjam istilah Franklin (1986) memoles tulisan. Inilah tahap yang harus dilalui terakhir kali dalam proses penulisan. Ada banyak buku yang membahas tentang bagaimana menulis penelitian atau menulis kesusastraan dengan aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang harus diikuti terkait dengan konstruksi kalimat dan diksi yang tepat. Wolcott (2001), se-orang peneliti etnografi, misalnya, berbicara tentang bagaimana mengasah kemampuan editing dengan cara mengurangi kata-kata yang tidak perlu, menghilangkan kalimat pasif, mengukur diksi, meminimalisir frasa-frasa yang sering diulang, dan mereduksi kutip-an-kutipan yang berlebihan, kata-kata yang digaris miring (italic), dan pernyataan-pernyataan yang dikurawal. Selain gagasan dari Wolcott di atas, gagasan saya tentang kalimat aktif, kata kerja, dan "berlebih-lebihan" dalam bagian ini sebenarnya juga bisa Anda gunakan untuk menyegarkan dan memperkuat tulisan akademik Anda selama ini. Untuk tulisan-tulisan akademik, gunakanlah kalimat aktif se-banyak mungkin (APA, 2001). Menurut penulis sastra, Ross-Larson (1982), "kalimat aktif jika subjeknya melakukan tindakan. Kalimat pasif jika subjeknya dikenai tindakan" (him. 29). Jika harus menggunakan konstruksi pasif, cobalah untuk menvariasi-kan auxiliary verb, seperti was. Contoh-contohnya meliputi will be, have been, dan is being. Penulis dapat menggunakan konstruksi pasif dengan variasi ini ketika subjek yang bertindak dapat secara logis diletakkan di kiri kalimat dan ketika apa yang dilakukan subjek tersebut dapat diletakkan sesudahnya (Ross-Larson, 1982). Misalnya, daripada konstruksi proposal yang diajukan oleh peneliti, lebih baik menerapkan konstruksi proposal yang peneliti ajukan (penj.).

114

Halaman ini Sengaja dikosongkan Cek di buku

115

Halaman ini Sengaja dikosongkan Cek di buku

116

Gunakanlah verba-verba yang kuat, bersemangat, dan sesuai dengan bidang tulisan yang disusun. Verba-verba yang kurang kuat biasanya adalah verba-verba yang minim-aksi (is atau was, misalnya) atau verba-verba yang berfungsi sebagai adjektiva atau adverbia.

Banyak peneliti menggunakan past tense dalam menulis tinjauan pustaka dan melaporkan hasil penelitian. Padahal, yang seharus-nya diterapkan adalah future tense. Verba ini setidak-tidaknya dapat mendukung semua waktu yang tersaji secara implisit dalam proposal penelitian. Untuk penelitian-penelitian yang sudah di-lakukan, gunakanlah present tense untuk menambah kesegaran dalam penelitian, khususnya di bagian pendahuluan. Publication Manual APA (2001) hanya merekomendasikan past tense (seperti, "Jones telah melaporkan") atau present perfect tense (seperti, "Peneliti baru saja melaporkan") untuk tinjauan pustaka dan pro-sediir-prosedur yang berdasarkan pada peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi, past tense untuk mendeskripsikan hasil penelitian (seperti, "diketahui bahwa stres telah menurunkan harga diri"), dan present tense (seperti, "penemuan kualitatif tersebut me-nunjukkan") untuk membahas hasil penelitian dan menyajikan kesimpulan. Saya melihat semua ini bukanlah sebagai aturan yang rumit dan berat, melainkan justru sebagai petunjuk yang sangat bermanfaat.

Berusahalah mengedit dan merevisi draf-draf naskah Anda agar hal-hal yang sekiranya terkesan "berlebihan" dapat terkurangi. "Sesuatu yang berlebihan" di sini merujuk pada kata-kata yang tidak terlalu penting dalam menjelaskan makna suatu gagasan. Untuk menghindari hal ini, para penulis sebaiknya membuat banyak draf untuk satu naskah/tulisan. Proses ini biasanya me-liputi tindakan menulis, mereview, dan mengedit tulisan. Dalam proses editing, kurangilah kata-kata yang berlebihan, seperti modi-fikasimodifikasi yang terlalu banyak, preposisi-preposisi yang terlalu sering muncul, dan konstruksi "the-of" misalnya, the study of yang hanya akan menambah kata-kata yang tidak terlalu penting (Ross-Larson, 1982). Saya jadi teringat dengan prosa lucu yang ditulis oleh Bunge (1985): Sekarang, Anda bisa melihat orang-orang pintar yang berusaha mem-buat kalimat yang rumit. Seorang rekan yang saat ini menjadi staf administrasi universitas, setiap harinya hampir selalu mengatakan kalimat yang rumit, yang sering kali dimulai dengan kata-kata seperti ini, "Saya hanya akan bisa berharap bahwa kita akan bisa...." Pada awalnya, dia tidak pernah mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu, tetapi di umurnya yang sekarang, dengan pergaulan yang jauh dari krisis kehidupan anak-anak muda, dia justru sangat sulit mengucapkan kalimat-kalimat yang mudah (Bunge, 1985:172).

117

Mulailah mempelajari bagaimana menulis penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran dengan baik. Salah satu ciri tulisan yang baik adalah mata dan pikiran ini tidak akan terhenti dan ter-sendat tiba-tiba dalam sebuah kutipan atau kalimat tertentu. Tulisan yang baik adalah tulisan yang ide-idenya mengalir hingga titik akhir. Dalam buku ini, saya telah mencoba menggambarkan contoh tulisan-tulisan yang baik dari beberapa jurnal ilmu sosial-humaniora, seperti American Journal of Sociology, Journal of Applied Psychology, Administrative Science Quarterly, American Educational Research Journal, Sociology of Education, dan Image: Journal of Nursing Scholarship. Dalam ranah kualitatif, literatur yang baik akan menyajikan tulisan yang jelas dan kalimat-kalimat yang detail. Para pengajar yang membimbing penelitian kualitatif setidak-tidaknya perlu menugaskan pada maha-siswa untuk membaca buku-buku terkenal, seperti Moby Dick, The Scarlet Letter, dan The Bonfire of the Vanities (Webb &; Glesne, 1992). Selain itu, Qualitative Inquiry, Qualitative Research, Symbolic Interaction, Qualitative Family Research, dan Journal of Contemporary Ethnography merupakan jurnal-jurnal akademik yang juga layak dipelajari. Jika ingin melakukan penelitian dengan metode campuran, cobalah mempelajari jurnal-jurnal yang melaporkan penelitian dengan kombinasi data kualitatif dan kuantitatif, termasuk pula jurnal-jurnal ilmu sosial, seperti Journal of Mixed Methods Research, Field Methods, dan Quality and Quantity. Baca pula artikel-artikel lain yang dikutip dalam Handboox of Mixed Methods in the Social and Behavioral Sciences (Tashakkori & Teddlie, 2003).

MASALAH-MASALAH ETIS YANG PERLU DIANTISIPASI Selain mengkonseptualisasi proses penulisan bagian-bagian proposal, peneliti juga perlu mengantisipasi masalah-masalah etis yang bisa saja muncul dalam penelitian mereka (Hesse-Bieber & Leavey, 2006). Untuk mengetahui masalah-masalah etis ini, peneliti perlu terlibat langsung dalam pengumpulan data dari atau tentang orang lain (Punch, 2006). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, menulis masalah-masalah etis seperti ini sangat dibutuhkan, utamanya untuk membangun argumentasi dalam penelitian dan menetapkan satu topik penting untuk format proposal. Peneliti juga harus mempro-teksi para partisipan mereka; membangun kepercayaan (pada) mereka; berusaha jujur dalam penelitian; mencegah kelalaian dan kecerobohan yang dapat mencemari nama baik organisasi atau insti-tusinya; dan berupaya mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dengan sikap arif dan bijaksana (Isreal & Hay, 2006). Pertanyaan-pertanyaan etis saat ini sudah mulai bermunculan, mulai dari masalah-masalah seperti pembocoran rahasia individu, autentisitas dan kredibilitas

118

laporan penelitian, peran peneliti dalam konteks lintas-budaya, hingga masalah-masalah privasi dari data-data internet (Isreal & Hay, 2006). Dalam literatur, masalah-masalah etis biasanya dibahas di bagian kode-kode etik profesi dan di bagian respons-respons mereka terhadap dilema-dilema etis serta solusisolusinya (Punch, 2005). Banyak organisasi nasional memublikasikan standar atau kode-kode etik dalam website profesional mereka sesuai, dengan bidang yang mereka garap. Sebagai contoh, lihatlah: "Ethical Principles of Psychologists and Code of Conduct," dalam www.apa.org/ethics, tahun 2002. "The American Sociological Association Code of Ethics," dalam www.asanet.org, tahun 1997. "The American Anthropological Association's Code of Ethics," dalam www.aaanet.org, Juni 1998. "The American Educational Research Association Ethical Standars of the American Educational Research Association," dalam www.aera.net, tahun 2002. The American Nurses Association Code of Ethics for Nurses Provisions, dalam
www.ana.org, Juni 2001

Praktik-praktik etis melibatkan lebih dari sekedar mengikuti seperangkat pedoman statis, seperti pedoman-pedoman yang disajikan oleh organisasi-organisasi professional di atas. Lebih dari itu, peneliti juga perlu mengantisipasi dan menyampaikan masalah-masalah etis yang mungkin saja muncul dalam penelitian mereka (seperti, lihat Berg, 2001; Punch, 2005; dan Sieber, 1998). Masalah-masalah etis ini bisa saja muncul dalam penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran, serta semua tahap dalam tiga penelitian tersebut. Dalam bab-bab selanjutnya, saya sudah menjelaskan beberapa masalah etis dalam banyak tahapan penelitian. Dengan menyajikan masalah-masalah ini, saya berharap para peneliti dapat terdorong untuk lebih hati-hati merancang bagian-bagian proposal mereka. Meskipun pembahasan dalam buku ini tidak secara komprehensif mencakup semua masalah etis, setidaknya saya sudah menyajikan masalah-masalah etis yang paling sering muncul. Masalah-masalah tersebut sering kali muncul ketika peneliti tengah membatasi masalah penelitian (Bab 5); mengidentifikasi tujuan penelitian dan rumusan masalah (Bab 6 dan 7); dan mengumpulkan, menganalisis, dan menulis data penelitian (Bab 8,9, 10).

119

Masalah-masalah Etis dalam Masalah Penelitian. Hesse-Biber dan Leavy (2006:86) mengajukan pertanyaan: Bagaimana masalahmasalah etis masuk kedalam bagian latar belakang masalah penelitian? Dalam pendahuluan proposal, peneliti mengidentifikasi satu masalah atau isu yang penting untuk diteliti dan menyajikan rasionalisasi atas pentingnya penelitian tersebut. Selain itu peneliti juga perlu mengidentifikasi satu masalah yang akan menguntungkan individu-individu yang akan diteliti, satu masalah yang nantinya berguna bagi orang lain selain peneliti itu sendiri (Punch, 2005). Gagasan inti penelitian aksi/partisipatoris adalah: peneliti tidak boleh memarginalisasi atau melemahkan partisipan-partisipan yang ditelitinya. Masalahnya, tidak jarang identifikasi masalah penelitian justru semakin meminggirkan para partisipan yang diteliti. Untuk mrncegah hal ini terjadi, peneliti terlebih dahulu harus membuat proyek-proyek utama agar kepercayaan partisipan dapat terbangun sehingga peneliti dapat mendeteksi marginalisasi apa saja yang tidak boleh dilakukan sebelum ia benar-benar menggarap penelitian.

Masalah-masalah Etis dalam Tujuan Penelitian dan Rumusan Masalah Dalam merancang tujuan penelitian atau rumusan masalah, peneliti perlu menjelaskan tujuan penelitian kepada para partisipan (Sarantakos,2005). Penipuan sering kali muncul ketika partisipan memahami satu tujuan, tetapi penelitian memiliki tujuan lain yang berbeda. Untuk mengatasi masalah ini, peneliti perlu menentukan sponsorship atas penelitian mereka. Misalnya, dalam merancang surat-surat pendahuluan untuk penelitian survey, sponsorship merupakan elemen penting yang dapat membangun kepercayaan dan kredibilitas instrument survey yang disebarkan peneliti.

Masalah-masalah Etis dalam Pengumpulan Data Selain mempersiapkan data apa saja akan dikumpulkan, peneliti juga perlu respek terhadap para partisipan dan tempat-tempat yang akan diteliti. Banyak masalah etis muncul selama tahap pengumpulan data. Jangan membahayakan Partisipan, dan hargailah kelompok-kelompok yang rawan kekerasan. Proposal openelitian yang diajukan sebaiknya sudah direview oleh Dewan Peninjau Institusi/Instutional Review Board (IRB) atau lembaga-lembaga sejenis diperguruan tinggi mereka. Komite IRB ini dibangun atas dasar peraturan pemrintah untuk mencagah adanya kekerasan atau pelanggaran HAM. Bagi seorang peneliti, IRB dibutuhkan untuk meninjau kemungkinan terjadinya resiko-resiko penelitian, seperti resiko fisik, psikologis, sosial, ekonomi, atau hukum (Sieber,1998), yang mungkin saja muncul tiba-tiba. Selain itu,
120

peneliti juga mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan tertentu bagi komunitas yang rawan kekerasan, seperti anak-anak kecil (di bawah umur 19 tahun), partisipan-partisipan yang lemah mental, korban-korban kekerasan atau bencana, para napi, dan individu-individu yang terserang AIDS. Penelti juga harus menyimpan proposal penelitian yang berisi prosedurprosedur dan informasi mengenai partisipan di komite IRB kampus mereka yang komite ini dapat meninjau sejauh mana proposal proposal tersebut menjangkau subjek-subjek atau partisipan-partisipan yang berada dalam resiko. Selain Proposal ini, peneliti juga harus membuat formulir izin tertulis yang ditandatangani oleh partisipan sebelum mereka terlibat dalam penelitian. Formulir ini menjelaskan bahwa hak-hak partisipan akan dijaga selama pengumpulan data. Elemen-elemen dalam formulir tersebut dapat meliputi beberapa informasi sebagai berikut (Sarantakos, 2005): Informasi mengenai peneliti Informasi mengenai institusi yang mensponsori Informasi mengenai prosedur-prosedur pemilihan partisipan Informasi mengenai tujuan penelitian Informasi mengenai keuntungan-keuntungan bagi partisipan Informasi mengenai tingkatan dan jenis keterlibatan partisipan Natation of Risks bagi partisipan Jaminan kerahasiaan bagi partisipan Jaminan bahwa partisipan dapat mundur kapan saja Klausula nama-nama person yang dapat dihubungi jika ada pertanyaan

Salah satu masalah yang harus diantisipasi terkait dengan jaminan kerahasiaan adalah bahwa beberapa partisipan bisa saja identitas mereka dirahasiakan. Jika demikian Ihwalnya, peneliti sebaiknya meminta mereka untuk menjaga sendiri pendapat mereka dan membebaskan mereka untuk mengambil keputusan. Akan tetapi, mereka juga harus diberitahu mengenai resiko ketidakrahasiaan tersebut, seperti kemungkinan terbongkarnya data dalam laporan akhir yang mungkin tidak mereka harapkan, informasi yang mungkin melampaui batas hak-hak orang lain seharusnya disembunyikan, dan sebagainya (Giardano, OReilly, Taylor, & Dogra, 2007). Selain, itu prosedur etis lain yang harus dipenuhi peneliti selama pengumpulan data adalah persetujuan dari individu-individu yang berwenang (seperti, satpam) untuk memberikan akses bagi para peneliti untuk melakukan penelitiannya. Prosedur seperti
121

ini seringkali mengharuskan penelti untuk menulis sebuah surat yang menjelaskan jangka waktu penelitian, dampak potensial, dan hasil-hasil penelitian. Begitu pula, pemerolehan data melalui interview atau survey elektronik juga harus disertai ijin dari partisipan. Hal ini dilakukan, pertama-pertama dengan mengirimkan email permohonan, baru kemudian melakukan survey dan wawancara. Peneliti juga harus respek pada lokasi-lokasi yang diteliti agar mereka tidak mendapat gangguan setelah melakukan penelitian. Tugas ini mengharuskan peneliti, khususnya dalam penelitian kualitatif, untuk terlibat dalam observasi atau wawancara berkelanjutan di lokasi tersebut, sadar akan konsekuensinya, dan tidak boleh merusak tatanan fisik lokasi itu. Misalnya, jika punya waktu berkunjung, peneliti juga bisa menyusup ke dalam aktivitas-aktivitas partisipan. Jika tidak, peneliti harus meminta izin terlebih dahulu. Apalagi, beberapa organisasi saat ini sudah memiliki aturan tersendiri bagi orang-orang yang ingin melakukan penelitian agar tidak terjadi perusakan di tempat mereka. Dalam penelitian-penelitian eksperimen, yang sering kali memperoleh keuntungan dari penelitian hanyalah kelompok yang ditreatment (atau sering kali dengan dengan kelompok eksperimen). Sedangkan kelompok control tidak mendapatkan apa-apa. Untuk menghindari hal ini, peneliti perlu melakukan beberapa eksperimentasi bagi semua kelompok dalam satu waktu atau secara bertahap sehingga kelompokkelompok ini bisa mengambil secara merata. Masalah etis juga muncul ketika tidak ada mutualitas antara peneliti dan partisipan. Baik peneliti maupun partisipan seharusnya sama-sama dapat mengambil keuntungan dari penelitian. Akan tetapi, yang sering terjadi justru sebaliknya: kekuasaan disalahgunakan dan partisipan dipaksa untuk terlibat dalam proyek tersebut. Untuk itulah, melibatkan para partisipan secara kolaboratif dalam penelitian mungkin dapat memunculkan muatlitas tersebut. Penelitian-penelitian yang benar-benar kolaboratif, seperti dalam beberapa penelitian kualitatif, dapat melibatkan partisipan sebagai coresearcher dalam proses penelitian, seperti merancang penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data, menulis laporan penelitian , dan menyebarkan hasil penelitian (Patton, 2002). Wawancara dalam penelitian kualitatif tampaknya sudah semakin banyak dipandang sebagai penelitian moral (Kvale, 2007). Untuk itu, pewawancara harus memastikan beberapa hal penting, seperti apakah wawancaranya dapat memperbaiki situasi manusia

122

(serta meningkatkan pengetahuan saintifik), seberapa sensitive interaksi wawancara pagi partisipan, apakah partisipan pernah berkata tentang bagaimana statemen mereka harus ditafsirkan, seberapa kritis pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan, dan apa saja akibat-akibat yang akan diterima pewawancara dan partisipan dari hasil wawancara tersebut. Peneliti juga perlu mengantisipasi kemungkinan informasi yang berbahaya dan intim yang diungkapkan selama proses pengumpulan data. Sulit mengantisipasi dan merencanakan dampak dari informasi ini selama atau setelah wawancara (Patton, 2002). Misalnya, siswa bisa saja membicarakan pelecehan orang tuanya: atau para napi berbicara tentang pelolosan dirinya dari penjara. Dalam situasi seperti ini, biasanya kode etik bagi peneliti (yang bisa saja berbeda satu sama lain) dapat memproteksi privasi partisipan-partisipan tersebut, dan tugas penelitian adalah menyampaikan proteksi ini kepada semua partisipan yang juga terlibat dalam penelitian.

Masalah-masalah Etis dalam analisis dan Interpretasi Data Ketika peneliti menganalisis dan menginterpretasi data kuantitatif ataupun kualitatif, tidak jarang masalah-masalah muncul yang mengharuskan peneliti untuk membuat keputusan etis yang tepat. Dalam mengantisipasi masalah-masalah etis ini, mempertimbangkan beberapa hal berikut: Bagaimana peneliti memproteksi anonimitas individu-individu, peran-peran, dan peristiwa-peristiwa yang diteliti dalam proyek penelitiannya? Misalnya, dalam penelitian survey, peneliti tidak memasukkan nama-nama partisipan selama proses coding dan perekaman. Dalam penelitian kualitatif, peneliti menggunakan nama alias atau nama samaran dari para partisipan atau tempat-tempat tertentu, untuk memproteksi identitas mereka. Data, setelah dianalisis, harus dijaga selama dalam jangka waktu tertentu (misalnya, Sieber, 1998, merekomendasikan jangka waktu 5-10 tahun). Setelah itu peneliti sebaiknya membuang data tersebut agar tidak jatuh ke tangan peneliti-peneliti lain yang ingin ,enyalahgunakannya. Pertanyaan tentang siapa yang memiliki data tersebut setelah proses pengumpulan dan analisis data juga menjadi masalah yang sering kali memecah belah tim penelitian dan membuat mereka bertengkar satu sama lain. Dalam hal ini, proposal peneliti seharusnya juga mengidentifikasi masalah kepemilikan ini dan membahas bagaimana

123

solusinya, seperti melalui proses saling memahami antara antara peneliti, partisipan, dan pihak fakultas (Punch, 2005). Berg (2001) merekomendasikan agar digunakan persetujuan personal untuk menunjuk siapa pemilik pemilik data penelitian tersebut. Hal ini dilakukan agar data dapat terjaga dari individu-individu yang tidak terlibat dalam penelitian. Dalam interpretasi data, peneliti perlu memastikan bahwa informasi yang diperoleh benar-benar akurat. Untuk mengetahui akurasi ini, dalam penelitian kuantitatif, peneliti dapat bernegosiasi dan berinterogasi dengan para partisipan (berg, 2001). Untuk penelitian kualitatif langkah tersebut dapat diterapkan dengan cara menerapkan satu atau beberapa strategi validasi data bersama para partisipan atau dengan cara membandingkan data tersebut dengan sumber-sumber data lain yang relevan (lihat strategi-strategi validasi kualitatif pada Bab 9).

Masalah-Masalah Etis dalam Menulis dan Menyebarluaskan Hasil Penelitian Masalah-masalah etis tidak berhenti dalam pengumpulan dan analisis data saja. Masalah-masalah tersebut juga bisa terjadi dalam proses penulisan dan penyebaran laporan penelitian final. Untuk mengantisipasinya, Anda bisa menerapkan beberapa langkah berikut: Jelaskan bagaimana penelitian Anda tidak akan menggunakan bahasa atau kata-kata yang mengandung bias pada orang-orang tertentu, baik itu bias gender, orientasi social, ras, etnis, ketidakmampuan, maupun usia. Publication Manual APA (2001) memberikan tiga saran. Pertama, sajikan bahasa yang tidak bias pada tingkat spesifisitas yang sesuai (seperti, daripada menulis prilaku pelanggan tersebut biasanya adalah para lelaki, lebih baik menulis, perilaku pelanggan tersebut(jelaskan) ). Kedua, untuk keperluan melabeli atau sejenisnya, gunakan bahasa yang tegas dan peka (seperti, daripada menulis 400 Hispanik, lebih baik menulis 400 orang yang terdiri dari penduduk meksiko, Spanyol, dan Puerto Rico). Ketiga, cobalah untuk benar-benar mengenali identitas para partisipan dalam penelitian (seperti, daripada menulis subjek lebih baik menggunakan kata-kata partisipan, daripada menulis dokter perempuan lebih baik menggunakan dokter atau ahli medis saja, tanpa ada identifikasi jenis kelamin). Masalah-masalah etis lainnya dalam menulis penelitian bisa saja meliputi usaha-usaha untuk menekan, memalsukan, atau mengkreasikan penemuan-penemuan baru untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan peneliti atau audiens. Praktik-praktik curang seperti ini

124

tidak diterima dalam komunitas penelitian professional, dan tindakan tersebut biasanya akan membentuk sifat atau prilaku saintifik yang buruk (Neuman, 2000). Proposal penelitian seharusnya mengendalikan kesempatan peneliti untuk tidak terlibat dalam praktik-praktik seperti ini. Dalam merencanakan penelitian, peneliti perlu mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi dilaksanakannya penelitian tersebut pada partisipan-partisipan tertentu dan tidak menyalahgunakan hasil-hasil penelitian untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Peneliti harus memberikan gandaan publikasi penelitian tersebut pada pihak-pihak yang pernah ditelitinya (Creswell, 2007). Masalah lain etis yang sering dijumpai dalam tulisan-tulisan akademik adalah praktik eksploitasi terhadap sejumlah pegawai universitas dan disertakannya nama individuindividu yang secara substansial tidak berkontribusi atas penelitian. Israel dan hay (2006) membahas praktik tidak etis yang disebutnya sebagai hadiah kepengarangannya bagi individu yang tidak berkontribusi pada penelitian dan hantu kepenarangan bagi staf-staf yunior yang membuat kontribusi penting, namun namanya tidak dimasukkan dalam daftar contributor. Pada akhirnya, peneliti juga perlu mengekspos detail-detail penelitiannya agar pembaca dapat mengetahui kredibilitas penelitian tersebut (Neuman, 2000). Prosedur-prosedur dalam penelitian kuantitatif, kualitatif, dan metode campuran harus disajikan secara rinci dalam setiap bab. Begitu pula, peneliti seharusnya tidak melakukan duplikasi secara berlebihan dengan menyajikan secara persis data, pembahasan, dan kesimpulan yang sama dari makalah seseorang, sementara peneliti tidak menawarkan materi yang baru. Beberapa jurnal biomedis mengharuskan pengarang untuk menyatakan apakah mereka telah atau sedang memublikasikan makalahnya pada media-media lain ataukah tidak (Israel & Hay, 2006).

RINGKASAN Peneliti perlu memikirkan bagaimana menulis proposal penelitian dengan baik sebelum benar-benar terlibat dalam proses penelitian. Pertimbangkan Sembilan argumentasi yang ditawarkan Maxwell (2005) sebagai elemen-elemen kunci yang perlu dimasukkan dalam proposal, kemudian gunakanlah salah satu dari empat outline topic atau format penelitian-yang sudah dijelaskan dalam bab ini-untuk membuat proposal kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran.

125

Dalam pembuatan proposal, mulailah merangkai kata-kata di atas kertas berdasarkan gagasan-gagasan yang ada dalam pikiran Anda; cobalah membangun kebiasaan membangun menulis secara regular; dan terapkan strategi-straregi penulisan yang baik, seperti menggunakan istilah-istilah yang konsisten,menunjukkan level gagasan naratif yang berbedabeda, dan menciptakan koherensi untuk meningkatkan kekuatan tulisan. Sejumlah langkah yang dapat dilakukan antara lain menggunakan kalimat aktif dan verba-verba yang kuat dan tegas, serta merevisi dan mengedit kembali tulisan Anda. Sebelum menulis proposal, peneliti juga perlu memikirkan masalah-masalah etis yang perlu diantisipasi dan dideskripsikan dalam proposal. Masalah-masalah ini berhubungan dengan semua tahap proses penelitian. Dengan mempetimbangkan keberadaan partisipan, lokasi penelitian, dan pembaca potensial, penelitian bisa menjadi sejenis studi yang benarbenar dirancang berdasarkan praktik-praktik etis yang sesungguhnya.

Latihan Menulis 1. Buatlah satu outline topic-topik atau draft bagian-bagian untuk proposal kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran. Masukkan topic-topik utama seperti

LATIHAN MENULIS

yang telah dijelaskan dalam bab ini. 2. Carilah artikel jurnal yang didalamnya melaporkan penelitian kualitatif, kuantitatif, atau metoe campuran. Cobalah melatih diri anda dengan membaca pendahuluan artikel tersebut dan gunakan metode hook and eye yamh telah dijelaskan dalam bab ini. Identifikasikanlah aliran gagasan dari kalimat satu ke kalimat yang lain dan dari paragraph satu ke paragraph yang lain, serta kekurangan-kekurangan di dalamnya. 3. Pertimbangkanlah salah satu dilema etis berikut ini yang anggap saja- pernah anda hadapi ketika melakukan penelitian. Gambarkan cara-cara yang bisa anda terapkan untuk mengantisipasi masalah tersebut dan membahasnya dalam proposal penelitian Anda.

a. Seorang narapidana yang tengah Anda wawancarai bercerita tentang kesempatan melarikan diri pada malah hari. Apa yang akan anda lakukan? b. Salah seorang peneliti dalam tim Anda menduplikasi kalimat dari penelitian lain dan memasukkannya dalam laporan akhir penelitian. Apa yang anda lakukan? c. Seorang mahasiswa melakukan beberapa kali wawancara pada sekelompok individu di tempat anda. Setelah wawancara keempat, mahasiswa tersebut bercerita kepada

126

Anda bahwa Institutional Review Board sebenarnya tidak menyetujui proyek penelitian tersebut. Apa yang anda lakukan?

BACAAN TAMBAHAN Maxwell, J. (2005). Qualitative Research Design: An Interactive Approach. Edisi kedua. Thousand Oaks, CA:Sage Joe Maxwell menyajikan ringkasan menarik mengenai proses pembuatan proposal untuk penelitian kualitatif yang juga dapat diterapkan dalam penelitian kuantitatif dan metode campuran. Dia kemudian menyajikan Sembilan langkah membuat proposal dan contohcontohnya. Selain itu, dia juga menganalisis dan menyajikan satu contoh proposal kualitatif yang menurutnya- layak untuk diikuti. Sieber, J.E. (1998). Planning Ethically Responsible Research. Dalam L. Bickman & D. J. Rog (Ed). Handbook of Applied Social Research Methods. Thousand Oaks, CA:Sage. (hlm. 127-156) Joan Sieber membahas pentingnya perencanaan etis sebagai bagian integral dalam merancang penelitian. Dalam bab ini, dia menyajikan review komprehensif mengenai beragam topic yang berhubungan dengan masalah-masalah etis, seperti IRB, formulir perizinan, privasi, kerahasiaan, dan anonimitas, serta beberapa resiko penelitian dan komunitas yang rawan kekerasan. Pembahasannya sangat luas, dan strategi-strategi yang ia rekomendasikan juga sangat melimpah.

Israel, M., & Hay, L. (2006). Research Ethics for Social Scientists: Between Ethical Conduct and Regulatory Compliance. London: Sage Mark Israel dan Lain Hay menyajikan analisis kritis tentang manfaat berfikir serius dan sistematis mengenai apa saja yang membentuk prilaku etis dalam ilmu social. Mereka mereview beragam teori etika, seperti pendekatan konsekuensialis dan non-konsekuensialis, viriue ethics, dan pendekatan normative berorientasi-kepedulian. Mereka juga menjelaskan sejarah perilaku etis di berbagai Negara di dunia ini. Sepanjang buku ini, mereka menawarkan contoh-contoh kasus etis yang sebenarnya dan cara-cara yang bisa ditempuh peneliti untuk menghadapi kasus-kasus tersebut secara etis. Dalam lampiran buku ini, mereka menyajikan tiga contoh kasus dan mengajak para sarjana untuk berkomentar mengenai bagaimana mereka akan mendekati ketiga kasus tersebut.
127

Wolcott, H.F. (2001). Writing up Qualitative research. Edisi kedua. Thousand Oaks, CA: Sage Harry Wolcott, seorang ahli etnografi pendidikan, mengumpulkan sumber-sumber berharga terkait dengan proses penulisan penelitian kualitatif. Dia menyurvei teknik-teknik ampuh bagaimana seseorang memulai menulis, mengembangkan detail, menghubungkan literature, teori, dan metode; merevisi dan mengedit; dan merampungkan proses penulisan dengan menghadirkan aspek-aspek ini sebgai judul dan lampiran. Bagi para penulis, buku ini sangat penting, baik untuk keperluan penelitian kualitatif, kuantitatif, maupun metode campuran.

128

Halaman Kosong Sesuai Buku

129

Halaman Kosong Sesuai Buku

130

Bagian Dua

Merancang Penelitian
BaB 5 Pendahuluan Bab 6 Tujuan Penelitian Bab 7 Rumusan masalah dan hipotesis penelitian Bab 8 Metode-metode kuantitatif Bab 9 Prosedur-prosedur kualitatif Bab 10 Prosedur-prosedur Metode Campuran

Bagian kedua ini menghubungkan tiga rancangan kuantitatif, kualitatif, dan metode campuran- masing-masing dengan langkah-langkah penelitiannya. Setiap bab dalam bagian kedua ini akan membahas satu langkah terpisah dalam proses penelitian ini.

131

BAB LIMA

PENDAHULUAN
Setelah menentukan jenis pendekatan penelitian (kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran), tinjauan pustaka sementara, serta format proposal, langkah selanjutnya adalah merancang atau merencanakan penelitian. Langkah ini diawali dengan membuat pendahuluan proposal sebagai proses mengatur dan menulis gagasan-gagasan awal. Bab ini membahas komposisi dan penulisan pendahuluan serta menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam menulis pendahuluan untuk tiga jenis rancangan yang berbeda. Kemudian pembahasan beralih pada lima komponen dalam menulis pendahuluan, antara lain: a. menjelaskan masalah yang dapat menuntun pada penelitian, b. mereview literature-literatur yang berhubungan dengan masalah tersebut, c. menunjukkan sejumlah kekurangan dalam literature-literatur itu, d. menyatakan pentingnya penelitian bagi pembaca-pembaca tertentu, dan e. mengidentifikasi tujuan penelitian. Peneliti juga perlu menerapkan model defisiensi ketika menulis pendahuluan karena komponen utama dalam pendahuluan adalah menunjukkan kekurangan-kekurangan (defisiensi-defisiensi) dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Untuk mengilustrasikan model ini, saya sudah menyajikan satu tulisan pendahuluan yang utuh (lengkap dengan analisisnya) dari salah satu artikel jurnal yang pernah dipublikasikan. PENTINGNYA PENDAHULUAN Pendahuluan merupakan bagian pertama dalam artikel jurnal, disertasi, atau penelitian akademik. Pendahuluan inilah yang menentukan tahap-tahap selanjutnya dalam penelitian. Seperti yang dijelaskan Wilkinson (1991:96): Pendahuluan merupakan bagian tulisan yang memberikan informasi awal kepada pembaca tentang penelitian yang ditulis. Tujuannya untuk membangun kerangka penelitian sehingga pembaca dapat memahami bagaimana penelitian tersebut berhubungan dengan penelitian-penelitian yang lain. Pendahuluan menjelaskan suatu isu atau concern yang dapat menuntun pada penelitian. Karena pendahuluan merupakan bagian awal dalam proposal atau penelitian maka diperlukan perhatian khusus dalam proses penelitiannya. Pendahuluan harus membuat pembaca tertarik pada topic penelitian, menjabarkan masalah yang dapat menuntun pada penelitian, meletakkan penelitian dalam konteks literature yang lebih luas, dan menjangkau

132

audien tertentu. Semua unsur ini ditulis secara singkat dalam beberapa halaman. Karena ada pesan-pesan yang harus disampaikan sedangkan ruang yang tersedia sangat terbatas maka pendahuluan bisa menjadi tantangan tersendiri untuk ditulis dan dipahami. Masalah penelitian merupakan masalah atau isu yang menuntun pada keharusan dilaksanakannya penelitian tersebut. Ia bisa bersumber dari pengalaman yang pernah dirasakan peneliti dalam kehidupan pribadi atau tempat kerjanya. Ia juga bisa berasal dari perdebatan ekstensif dalam literature-literatur. Ia juga bisa muncul dari perdebatan kebijakan di pemerintahan atau antara para eksekutif kenamaan. Intinya, sumber-sumber masalah penelitian bisa jadi sangat beragam. Masalahnya mengidentifikasi dan menjabarkan masalah penelitian yang menggarisbawahi penelitian bukanlah tugas mudah. Misalnya, untuk mengidentifikasi isu kehamilan anak remaja, kita masih perlu memunculkan terlebih dahulu masalah yang terkait dengan kehidupan wanita dan social secara umum. Sayangnya, terlalu banyak pengarang tidak secara jelas mengidentifikasi masalah penelitian, membiarkan pembaca menentukan masalah tersebut. Ketika masalah tidak jelas, signifikansi penelitian menjadi sulit dipahami. Apalagi, masalah penelitian seringkali dikacaukan dengan rumusan masalah-pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab peneliti untuk memahami atau menjelaskan masalah tersebut. Belum lagi kompleksitas ini ditambah dengan keharusan peneliti untuk mendorong audiens agar mau lebih jauh membaca dan melihat pentingnya penelitian. Untungnya, ada satu model yang bisa ditiru tentang bagaimana menulis pendahuluan yang baik untuk penelitian ilmu social. Namun, sebelum memperkenalkan model ini, saya terlebih dahulu perlu menjelaskan perbedaan-perbedaan subtil antara pendahuluan untuk penelitian kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran.

PENDAHULUAN DALAM PENELITIAN KUALITATIF, KUANTITATIF, DAN METODE CAMPURAN Setelah melakukan tinjauan umum pada beberapa pendahuluan yang terdapat dalam banyak penelitian, saya menemukan bahwa pendahuluan pada umumnya selalu mengikuti pola yang sama, yaitu: menyatakan suatu masalah, lalu menjustifikasi mengapa masalah tersebut harus diteliti. Jenis masalah yang disajikan dalam pendahuluan sangat beragam tergantung pada pendekatan yang digunakan (lihat Bab 1). Dalam proyek kualitatif, peneliti mendeskribsikan masalah penelitian yang benar-benar mudah dipahami dengan cara mengeksplorasi suatu konsep atau fenomena tertentu. Saya juga sudah menegaskan bahwa penelitian kualitatif bersifat eksploratoris, dan peneliti memanfaatkan pendahuluan untuk
133

mengeksplorasi suatu topic yang tidak bisa diidentifikasi variable-variabel ataupun teorinya. Morse (1991:120), misalnya, pernah menyatakan: Karakteristik-karakteristik masalah penelitian kualitatif antara lain: a. konsepnya belum matang (immature) karena teori dan penelitian sebelumnya yang membahas konsep tersebut tidak terlalu banyak dan menonjol, b. gagasan yang ditawarkan suatu teori bisa saja belum akurat, tidak cocok, tidak benar, atau mengandung bias; c. adanya keharusan untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan fenomena dan mengembangkan suatu teori; atau d. sifat fenomena yang ingin diteliti tidak sesuai jika dianalisis secara kuantitatif.

Misalnya, meningkatnya urbanisasi (sebagai masalah penelitian) harus dieksplorasi karena masalah tersebut pelum pernah diteliti dalam kawasan-kawasan tertentu di suatu Negara. Misalnya lagi, anak-anak SD sering kali gelisah dan mengganggu proses belajar (sebagai masalah penelitian), dan cara terbaik untuk mengeksplorasi masalah ini adalah dengan pergi ke sekolah dan mengunjungi mereka dan para guru secara langsung. Sejumlah peneliti kualitatif terkadang memiliki perspektif teoritis tentang masalah apa yang akan diteliti (seperti, ketidakadilan dalam pembagian upah antara wanita dan laki-laki atau sikap-sikap rasial yang sering kali muncul saat membuat sketsa biografis sopir-sopir di jalan raya). Thomas (1993:9) mengatakan bahwa seorang peneliti kritis selalu berangkat dari premis bahwa semua kehidupan kultural merupakan ketegangan konstan antara control dan resistensi. Orientasi teoritis inilah yang kemudian membentuk struktur pendahuluan. Beisel (1990), misalnya meneliti bagaimana teori politik kelas menjelaskan ketidaksuksesan kampanye anti-vice di salah satu dari tiga kota besar di Amerika. Selain itu, dalam beberapa penelitian kualitatif yang lebih berfokus pada perspektif partisipan, pendahuluannya bisa saja tidak ditulis secara induktif, tetapi deduktif, seperti penelitian etnografi. Pendahuluan kualitatif juga bisa dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan personal dari peneliti tentang pengalaman pribadi memandang suatu fenomena secara substansial, seperti yang sering dijumpai dalam penelitian-penelitian fenomenologis (Moustakas, 1994). Bahkan pendahuluan kualitatif juga dapat ditulis dari sudut pandang subjektif, pribadi, orang pertama, yang didalamnya peneliti memosisikan diri mereka secara naratif dalam penelitian, seperti dalam penelitian naratif. Untuk pendahuluan kuantitatif, masih jarang ada variasi. Dalam proyek kuantitatif, masalah penelitian dijelaskan dengan cara mengidentifikasi, memahami, dan menemukan factor-faktor atau variable-variabel apa saja yang mempengaruhi suatu outcome. Misalnya,
134

dalam merespon pengurangan jumlah kerja (sebagai masalah penelitian), seorang peneliti kuantitatif harus berusaha menemukan factor-faktor apa saja yang mempengaruhi menurunnya bisnis-bisnis besar. Contoh lain, peneliti kuantitatif perlu memahami tingginya rata-rata perceraian (sebagai suatu masalah) dan menelti apakah salah satu faktor yang menyebabkan perceraian itu adalah masalah financial. Dalam dua situasi ini, masalah penelitian merupakan masalah yang darinya pemahaman mengenai faktor - faktor yang menjelaskan atau berhubungan dengan hasil menjadi sangat penting karena membantu peneliti menjelaskan masalah tersebut dengan baik. Selain itu, dalam pendahulian kuantitatif, peneliti bisa saja menguji suatu teori terlebih dahulu dan melakukan tinjauan pustaka singkat untuk mengidentifikasi rumusan masalah yang nantinya harus dijawab. Bahkan, pendahuluan kuantitatif juga dapat ditulis dari sudut pandang interpersonal dan dalam kalimat pasif, untuk meningkatkan objektivitas. Peneliti dengan metode campuran dapat menerapkan pendekatan kualitatif atau kuantitatif terlebih dahulu (atau kombinasikan sekaligus) dalam pendahuluannya. Dalam penelitian metode campuran, peneliti bisa memprioritaskan salah satu diantara pendekatan kuantitatif atau pendekatan kalitatif, dan pendahuluan harus mencerminkan prioritas tersebut. Meski demikian, prioritas ini bisa saja setara antara penelitian kualitatif atau kuantitatif, yang berarti bahwa pendahuluannya harus menjelaskan suata masalah yang di dalamnya diperlukan pemahaman antara variable variable dan eksplorasi terhadap suatu topic/fenomenda secara mendalam. Proyek metode campuran bisa terlebih dahulu menjelaskan hubungan antara perilaku merokok dan depresi dalam lingkungan remaja, kemudian mengeksplorasi pandangan pandangan dari para remaja untuk dapat menampilkan pola pola / tema tema yang berbeda tentang merokok dan depresi tersebut. Jika tahap pertama proyek ini bersifat kuantitatif, pendahuluan dapat menekankan pada pendekatan kuantitatif dengan menyertakan terlebih dahulu suatu teori yang dapat memprediksi hubungan antara perokok dan depresi, lalu melakukan tinjauan pustaka secara mendalam. SALAH SATU MODEL PENDAHULUAN Menulis pendahuluan untuk tiga penelitian yang berbeda - seperti yang sudash dijelaskan di atas memang tidak terlalu jelas perbedaannya. Komponen utama yang perlu dimasukkan ke dalam pendahuluan pada umumnya berhubungan dengan jenis jenis masalah yang dibahas, baik itu penelitian kualitatif, kuantitatif, maupun metode campuran. Untuk itu, diperlukan satu model ilustratif tentang bagaimana menulis pendahuluan yang baik
135

tanpa perlu memandang pendekatan pendekatan dan komponen komponen yang harus disertakan. Model defisiensi pendahuluan (deficiency model an introduction) merupakan salah sastu pola umum dalam menulis pendahuluan yang baik. Model ini merupakan pendekatan popular yang banyak digunakan dalam ilmu ilmu social. Jika struktur model ini dirinci, Anda akan menemukan banyak sekali penelitian dewasa ini yang telah menggunakan model tersebut. Model ini terdiri dari lima bagian yang masing masing dari kelimanya dapat ditulis dalam satu paragrap sehingga secara keseluruhan bisa mencapai maksimal dua halaman. Lima bagian tersebut antara lain : 1. Masalah penelitian 2. Penelitian penelitian sebelumnya yang membahas masalah tersebut 3. Kekurangan kekurangan (deficiencies) dalam penelitian penelitian sebelumnya 4. Pentingnya penelitian untuk audiens tertentu. 5. Tujuan penelitian Sebuah ilustrasi Sebelum menjelaskan lima bagian tersebut, berikut ini ada contoh pendahuluan kualitatif yang ditulis oleh Terezainni, Cabrera, Colbeck, Bjorklund, dan Parente (2001) dalam The Journal of Higher Education dengan judul penelitiannya Racial and Ethnic Diversity in the Classroom (ditulis kembali atas izin penerbit). Berdasarkan lima komponen penting pendahuluan yang sudah dijelaskan di atas maka beberapa pernyataan yang menurut saya- berkaitan dengan masing masing komponen sudah saya tandai dengan jelas. Sejak diterbitkannya Civil Right Act tahun 1964 dan Higher Education Act tahun 1965, universitas universitas di Amerika berusaha meningkatkan keragaman ras dan etnik para mahasiswa dan dosennya. Tindakan afirmatif kemudian diambil sebagai kebijakan untuk merealisasikan heterogenitas ini ( di sini, penulis menyatakan dengan teknik hook naratif). Akan tetapi, kebijakan tersebut sampai saat ini mash menjadi topic perdebatan nasional yang hangat. Persoalan hokum terkait dengan tindakan afirmatif tersebut bermula dari kasus Regents of the University of California versus Bakke tahun 1978, yang di dalamnya Justice William Powell menyatakan bahwa ras ini sudah dipertimbangkan berdasarkan keputusan keputusan admisi. Akan tetapi, yang lebih terkini, U.S. Court of Appeals for the Fifth Circuit, yang menangani kasus Hopwood vs. states of Texas, menemukan argumentasi Powell ini bermasalah. Keputusan courth untuk menolak tindakan afirmatif ini didasarkan pada referenda Negara, perundang undangan, dan tindakan
136

tindakan terkait melarang pengakuan yang sensitive ras atau sewa menyewa di California, Florida, Lousiana, Maine, Massachusetts, Michigan, Mississippi, New Hampshire, Rhode Island dan Puerto Rico (Healy, 1998a, 1998b, 1999). Dalam merespons hal ini, para pendidik lalu mengemukakan argumentasi mereka untuk mendukung tindakan afirmatif ini dengan klaim bahwa siswa siswa heterogen, dalam konteks pendidikan, lebih efektif ketimbang siswa siswa yang lebih homogen. Presiden Harvard University, Neil Rudenstine, mengklaim bahwa alasan utama diterimanya keragaman siswa di perguruan tinggi adalah karena nilai pendidikannya (Rudenstine, 1999:1). Lee Bollinger, rekan Rudenstine di University of Michigan, juga menyatakan : Sebuah kelas yang tidak mempresentasikan anggota anggota ras yang berbeda akan melahirkan diskusi yang miskin wawasan (Schmidt, 1998 : A32). Dua presiden ini tidak sendirian. Di belakang mereka ada Assiciation of American Universities yang terdiri dari para rector dari 26 universitas yang mengusung argumentasi yang sama, dengan menegaskan : Pertama-tama, perlu kami sampaikan bahwa kami berbicara atas nama pendidik. Kami percaya bahwa mahasiswa kami dapat memperoleh keuntungan dari pendidikan yang berbasis keragaman (On the importance of Diversity in University Adminissions, The New York Times, 24 April 1997:A27) (Di sini, penulis mengidentifikasi masalah penelitian). Ada banyak penelitian yang membahas mengenai pengaruh keragaman terhadap outcomes mahasiswa. Penelitian penelitian ini dapat dibagi ke dalam tiga kecenderungan utama. Pertama, penelitian penelitian yang menganalisis hubungan mahasiswa dengan keragaman secara umum sebagai salah satu implikasi percampuran mahasiswa secara kuantitas, ras/etnis, atau gender dalam satu kampus (lihat, misalnya, Chang, 1996, 1999a; Kanter, 1997; Sax, 1996). Kedua, penelitian penelitian yang memandang keragaman structural sebagai suatu yang ilmiah, dan lebih berpijak pada perjumpaan antara mahasiswa dan keragaman dengan cara mengamati frekuensi atau sifat interaksi mereka dengan rekan rekannya secara ras/etnis berbeda. Ketiga, penelitian penelitian yang meneliti secara institusional usaha usaha programatik yang terstruktur untuk membanu mahasiswa terlibat dalam keragaman ras/etnis dan/atau gender dalam kaitannya dengan gagasan gagasan dan kemanusiaan. Intinya, ada banyak pendekatan yang telah diterapkan untuk meneliti pengaruh keragaman terhadap outcomes mahasiswa. Bukti bukti yang dimunculkan pada umumnya tidak jauh berbeda bahwa para mahasiswa dalam komunitas yang lintas gender atau ras/etnis atau yang terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan keragaman, sering kali

137

memperoleh manfaat dan makna edukatif yang lebih positif (Disini, penulis menyebutkan penelitian penelitian yang pernah membahas masalah tersebut). Hanya sedikit sekali penelitian (seperti, Chang, 1996, 1999a; Sax, 1996) yang secara spesifik meneliti apakah komposisi ras/etnis atau gender para mahasiswa dalam sebuah kampus, dalam satu komunitas akademik atau dalam kelas (seperti, keragaman structural) memiliki manfaat manfaat akademik yang diklaim..Begitu pula, isu isu, seperti apakah tingkat keragaman rasial dalam satu kampus atau kelas berpengaruh langsung terhadap hasil belajar ataukah tidak, hal ini masih menyisakan banyak pertanyaan (Di sini, penulis menunjukkan kekurangan atau defisiensi dalam penelitian penelitian sebelumnya). Langkanya informasi tentang manfaat akademik dari keragaman structural di sebuah kampus atau kelas, tentu saja sangat disayangkan. Padahal informasi inilah yang bisa menjadi bukti para hakim untuk mendukung kebijakan keputusan yang sensitive ras (Di sini, penulis menunjukkan pentingnya penelitian pada audiens tertentu, yakni hakim, peneliti, dan para pendidik). Penelitian ini berusaha memberikan kontribusi pengetahuan dengan mengekspolrasi pengaruh keragaman structural kelas terhadap perkembangan akademik dan skill intelektual mahasiswa. Penelitian ini menganalisis pengaruh langsung keragaman kelas terhadap outcome akademik/intelektual dan apakah ada dari pengaruh pengaruh tersebut yang ditindaklanjuti menjadi pendekatan pendekatan instruksional aktif dan kolaboratif dalam konteks pembelajaran (Di sini, penulis mengidentifikasi tujuan penelitian) (hlm. 510 512, ditulis kembali atas izin The Journal of higher Education). Masalah Penelitian Dalam pendahuluan artikel Terenzini et al. (2001) di atas, kalimat pertama sudah menunjukkan dua komponen utama pendahuluan yang baik, yaitu menunjukkan dua komponen utama pendahuluan yang baik, yaitu menunjukkan bahwa penelitian tersebut menarik dan memperlihatkan bahwa masalah atau isu yang diangkat benar benar berbeda. Pengaruh seperti apa yang dimunculkan dari kalimat ini? Apakah kalimat tersebut memancing pembaca untuk membacanya lebih lanjut? Apakah kalimat tersebut harus ditulis dalam level tertentu sehingga pembaca dapat memahaminya? Pertanyaan pertanyaan ini penting dijawab untuk menulis kalimat pembuka pendahuluan. Kalimat ini sering kali dikenal dengan istilah narrative hook, suatu istilah yang diambil dari bahasa inggris, yang berarti kata kata yang dapat menggambarkan, melibatkan, atau menghubungkan (hook) pembaca dengan/dalam penelitian. untuk mempelajari bagaimana menulis narrative hook yang baik,
138

perhatikan Koran Koran penting. Sering kali, para jurnalis menyajikan contoh contoh yang menarik di awal kalimatnya. Berikut ini, contoh contoh kalimat pembuka dalam jurnal jurnal ilmu social. selebriti transeksual dan tnometodologis, Agnes, telah mengubah identitasnya tiga tahun lalu sebelum pada akhirnya ia menjalani kembali pembedahan jenis kelamin (Cahlil, 1989:281). Siapa yang mengendalikan proses pencalonan wakil DPR? (Boeker, 1992:400). Ada banyak literature yang menel,iti garis kartografis (salah satunya, artikel ringkas baru baru ini, Buttenfield:1985), dan generalisasi garis garis tersebut (salah satunya, McMaster:1987) (Carstensen, 1989:181).

Tiga contoh di atas menyajikan informasi yang mudah dipahami oleh pembaca. Dua contoh pertama yang menjadi pendahuluan dalam penelitian kualitatif menunjukkan bagaimana pembada di tarik perhatiannya dengan merujuk pada satu partisipan (di contoh pertama) dan mengajukan satu pertanyaan (di contoh kedua). Contoh ketiga, yang menjadi pendahuluan dalam penelitian kuantitatif, menunjukkan bagaimana pembaca dapat mengawali bacaanhya dengan memahami beberapa literature terlebih dahulu. Yang jelas, ketika contoh di atas sudah menggambarkan bagaimana menulis kalimat pembuka dengan baik agar pembaca tidak dipaksa masuk ke dalam pemikiran yang terlalu detail, tetapi digiring perlahan lahan ke dalam topic penelitian. Untuk menggambarkan lebih jauh bagaimana proses menulis pendahuluan ini, saya menggunakan metaphor seseorang yang sedang menurunkan seubah tong ke dalam sumur. Penulis pemula menceburkan tong (pembaca) langsung ke kedalaman sumur (artikel). Pembaca pun hanya akan melihat materi yang tidak biasa dan aneh. Sementara itu, penulis yang berpengalaman menurunkan tong (pembaca) sedara perlahan lahan, seraya membiarkannya beradaptasi dengan kedalaman (penelitian). Penurunan tong ini diawali dengan narrative hook, yakni menceritakan contoh kasus umum terlebih dahulu sehingga pembada dapat memahami dan menghubungkannya dengan topic penelitian. Setelah itu, peneliti perlu menunjukkan masalah atau isu yang dapat menuntun pada signifikansi penelitian. Artikel terezini et al.(2001) membahas problem yang unik, yaitu perjuangan untuk meningkatkan keragaman ras dan etnik di universitas universitas AS. Mereka mencatat bahwa kebijakan kebijakan untuk meningkatkan keragaman ini sedang menjadi topic perdebatan nasional yang hangat (hlm.509).
139

Dalam ilmu social terapan, masalah penelitian bisa saja muncul dari isu isu, kesulitan kesulitan, dan perilaku perilaku masa kini. Masalah penelitian ini akan menjadi jelas jika peneliti mau mengidentifikasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan, seperti : Apa kepentingan atau motivasi diadakannya penelitian ini? Atau Masalah apa yang memengaruhi untuk melakukan penelitian ini? jawaban atas dua pertanyaan ini bisa bermacam macam. Misalnya : karena sekolah masih belum menerapkan pedoman pedoman multi cultural; karena ada kebutuhan dari para dosen yang harus dipenuhi agar mereka terlibat dalam aktivitas pengembangan professional di jurusan jurusan mereka; karena siswa siswa minoritas membutuhkan akses yang lebih baik ke universitas; atau karena suatu masyarakat tidak boleh melupakan kontribusi para pelopor wanitanya. Semua jawaban ini merupakan masalah =- masalah penting yang memerlukan penelitian lebih jauh. Ketika merancang paragraph paragraph pembuka, yang tentu saja meliputi masalah penelitian, ingatlah tips tips penelitian berikut ini : Tulislah kalimat pembuka yang dapat menstimulasi ketertarikan pembaca dan mampu menampilkan masalah yang dapat dipahami secara relasional oleh pembaca pada umumnya. Sebagai aturan umum, hindari penggunaan kutipan kutipan, khususnya kutipan yang terlalu panjang, dalam kalimat pembuka. Kutipan kutipan hanya akan memunculkan banyak kemungkinan penafsiran, bahkan dapa membuat topic penelitian menjadi tidak jelas. Akan tetapi, dalam beberapa penelitian kualitatif, kutipan kutipan seperti ini juga dapat menarik perhatian membaca. Untuk itu, gunakan kutipan secara layak dan tepat. Hindari ekspresi ekspresi idiomatic (kalimat kalimat membingungkan). Pertimbangkan pengaruh informasi yang menggunakan angka angka (seperti, Setiap tahun, sekitar 5 juta orang Amerika mengalami kematian anggota keluarga secara tiba tiba). Tunjukkan secara jelas masalah yang diangkat (seperti, dilemma, isu) yang dapat menuntun pada penelitian. Cobalah bertanya pada diri sendiri : Adakah kalimat yang bisa mewakili masalah penelitian yang saya angkat ini? Tunjukkan mengapa masalah tersebut penting diteliti dengan cara mengutip berbagai referensi yang membenarkan kelayakan penelitian akan masalah tersebut. Sekadar intermezzo : saya selalu mengatakan kepada para mahasiswa saya : Jika kalian tidak memiliki banyak referensi pada halaman halaman pertama proposal kalian maka penelitian kialian tidak akan bernilai akademik.
140

Pastikan bahwa masalah sudah dijelaskan dalam konstruksi yang konsisten dengan jenis pendekatan penelitian (seperti, eksploratoris daslam kualitatif, pengujian hubungan hubungan atau predictor predictor dalam kuantitatif, dan pendekatan keduanya dalam metode campuran).

Tuliskah, apakah ada satu atau banyak masalah yang terlibat dalam penelitian sehingga mengharuskan anda untuk menelitinya? Seringkali, dalam beberapa penelitian, ada banyak masalah yang perlu dibahas. Bukan hanya satu masalah saja.

Penelitan penelitian sebelumnya Setelah menulis paragraph paragraph pembuka yang membahas penelitian, penelti selanjutnya perlu mereview penelitian-penelitian/literature-literatur sebelumnya yang pernah membahas masalah penelitian tersebut. Saya harus berhati hati ketika berbicara tentang mereview penelitian di sini karena saya tidak bermaksud bahwa Anda harus memasukkan tinjauan pustaka utuh dalam bagian pendahuluan. Tinjauan pustaka ditempatkan di bagian khusus yang terpisah dari bagian pendahuluan. Meski demikian, peneliti bukan berarti tidak boleh melakukan tinjauan pustaka/penelitian dalam pendahuluan ini. Hanya saja, ia harus lebih meringkas sebagian besar penelitian penelitian yang nantinya akan dirinci kembali pada bagian khusus. Saya selalu meminta mahasiswa saya untuk merefleksikan peta pustaka (seperti yang pernah dibahas dalam Bab 2), lalu di bagian atas tinjauan psutaka, mereka diminta untuk meringkas kategori kategori penting dari berbagai pustaka yang ditinjaunya. Menyebutkan katergori kategori penting inilah yang saya maksudkan dengan meninjau psutaka atau mereview penelitian penelitian di bagian pendahuluan. Peneliti perlu mereview penelitian penelitian relevean sebelumnya dan menaruhnya di bagian pendahuluan dengan tujuan : (1) untuk menjustifikasi pentingnya penelitian yang ia ajukan; dan (2) untuk menjelaskan perbedaan antara penelitian penelitian sebelumya dengan penelitian yang sedang ia ajukan. Artinya, peneliti seyogianya berusaha merancang penelitiannya dalam satu dialog berkelanjutan dengan literature literature / penelitian penelitian lain yang relevan. Peneliti tentu tidak dakan melaksanakan penelitian yang sekedar meniru apa yang telah diteliti orang lain. Untuk itu diperlukan penelitian penelitian baru untuk memperkaya literature literature yang relevan atau untuk memperluas dan bahkan menguji kembali penelitian penelitian yang sudah ada sebelumnya. Marshall dan Rossman (2006) memandang bahwa tinjauan pustaka dalam pendahuluan ini adalah cara untuk merancang penelitian dalam konteks penelitian penelitian lain yang berhubungan. Kemampuan membingkai penelitian dengan cara inilah
141

yang membedakan peneliti pemula dengan peneliti berpengalaman. Peneliti yang berpengalaman akan mereview dan memahami tulisan tulisan sebelumnya yang membahas topic atau masalah serupa yang menjadi garapan penelitiannya. Pemahaman ini tentu saja tidak muncul dengan sendirinya, tetapi berasal dari keterlibatan peneliti selama bertahun tahun dalam mengikuti perkembangan masalah penelitiannya dan literature literature yang terkait. Pertanyaan lain yang sering kali muncul adalah : Jenis literature seperti apa yang harus direview oleh seorang peneliti? Saya menyarankan agar peneliti merevie penelitian penelitian sebelumnya yang memiliki rumusah masalah dan data data untuk menjawab rumusan tersebut. Penelitian penelitian ini bisa saja berupa penelitian kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran. Intinya adalah : literature literature atau penelitian penelitian sebelumnya akan memberikan sumbangsih pemikiran dalam menganalisis rumusan masalah yang akan dibahas dalam proposal. Peneliti penula seringkali bertanya : Apa yang harus saya lakukan sekarang? Tidak ada satu pun penelitian / literature yang pernah membahas topi ini. Tentu saja, jika tinjauan pustaka diartikan secara sempit maka tidak ada satupun literature yang mendokumentasikan atau menjabarkan secara komprehensif dan precise masalah penelitian yang kita bahas. Untuk itu, saya sering kali menyarankan agar peneliti memandang literature dengan pola piker segitiga terbalik. Pada ujung segitiga itu terdapat penelitian yang diajukan. Penelitian ini haruslah sempit dan terfokus (tidak boleh ada satu pun penelitian yang serupa). Jika seseorang melihat tinjauan pustaka ini terus ke bagian atas segitiga, ada beberapa literature yang bisa dijumpai meskipun agak sedikit berbeda dengan penelitian yang diajukan. Misanya, topic mengenai siswa siswa Amerika Afrika yang beresiko gagal di SD mungkin tidak pernah diteliti. Namun, secara umum, topic mengenai siswa siswa yang beresiko gagal di SD atau di jenjang jenjang pendidikan lain sudah banyak diteliti. Artinya, peneliti terlebih dahulu harus mengabstraksikan literature literature / penelitian penelitian yang membahas topic yang lebih umum (seperti, siswa siswa yang berisiko gagal di SD atau di jenjang jenjang pendidikan lain), baru kemudian mengakhiri abstraksinya secara spesifik dengan menegaskan pentingnya penelitiannya yang diajukan (misalnya, tentang siswa siswa Afrika Amerika yang berisiko gagal di tingkat SD). Untuk mereview literature literature / penelitian penelitian yang relevan di bagian pendahulan proposal, pertimbangkan tips tips penelitian berikut ini : Reviewlah sejumlah literature dengan meringkasnya secara komunal, bukan secara individual (tidak seperti dalam Tinjauan Pustaka yang biasanya terdapat dalam bagian
142

khusus dan terpisah). Tujuannya adalah untuk membangun wilayah penelitian yang lebih luas. Agar tidak sekedar menekankan pada literature literature secara individual, letakkan referensi referensi in text di akhir paragraph atau di akhir review mengenai literature literature tersebut. Tinjaulah penelitan penelitian lain yang menggunakan pendekatan kuantitatif, kualitatif, atau metode campuran. Carilah literature literature terbaru untuk direview dan diabstraksikan, seperti literature literature yang dipublikasikan tidak lebih dari 10 tahun lalu. Kutiplah penelitian penelitian sebelumnya jika memang ada karena penelitian penelitian seperti itu basanya banyak dijadikan referensi oleh orang lain. Kekurangan (Defisiensi) dalam Literatur Sebelumnya Setelah menjabarkan masalah penelitian dan mereview sejumlah literature/penelitian lain yang relevan, peneliti kemudian mengidentifikasi kekurangan kekurangan (deficiencies) yang terdapat dalam literature/penelitian tersebut. Identifikasi semacam ini sering dikenal dengan istilah model defisiensi. Sifat defisiensi ini bervariasi dasi satu penelitian ke penelitian lain. Defisiensi dalam literature atau penelitian sebelumnya bisa saja muncul karena topic topic yang diangkat di dalamnya tidak dieksplorasi berdasarkan kelompok, sampel, atau populasi tertentu; literature/penelitian tersebut mungkin perlu dikaji kembali untuk melihat adakah kesamaan-kesamaan dalam hal penemuan-penemuan, sampel sampel, ataupun tempat-tempat yang diteliti; atau komunitas yang termarjinalkan tidak direpresentasikan secara memadai dalam literature/penelitian tersebut. Untuk literature/penelitian mana pun, peneliti seyogianya dapat menjelaskan satu atau lebih defisiensi ini dalam bagian pendahuluan proposal mereka. Untuk mencari defisiensi ini, caranya sangat mudah. Dalam artikel artikel jurnal, defisiensi ini basanya ada di bagian saran-saran untuk penelitian selanjutnya yang sering kali disampaikan secara implicit maupun eksplisit. Peneliti tinggal merujuk gagasan gagasn defisiensi ini untuk dijadikan topic penelitiannya. Selain menyebutkan defisiensi defisiensi, peneliti juga perlu menjabarkan bagaimana penelitiannya akan mengoreksi atau menutupi defisiensi tersebut. Misalnya, karena penelitian penelitian sebelumnya telah mengesampingkan satu variable penting maka penelitian anda bisa memasukkan variable tersebut dan menganalisis pengaruh pengaruhnya. Sebagai contoh, karena penelitian sebelumnya mengabaikan keberadaan
143

penduduk asli Amerika sebagai komunitas cultural maka Anda dapat menyertakan mereka sebagai paratisipan dalam proyek penelitian anda. Pada dua contoh tulisan berikut, Anda dapat melihat bagaimana para penulisnya menunjukkan kelemahan kelemahan atau kekurangan kekurangan dalam beberapa literature sebelumnya. Perhatikan pula bagaimana mereka menggunakan frasa frasa kunci untuk menunjukkan defisiensi defisiensi ini, seperti yang belum dianalisis, sangat sedikit penelitian empiris, sedikit sekali penelitian, dan sebagainya. Contoh 5.1 Defisiensi Defisiensi dalam Literatur : Dibutuhkan Penelitian Penelitian Lanjutan

Berdasarkan rasionalisasi inilah, tidak sedikit ilmuwan sosial yang berusaha meneliti makna perang dan kedamaian (Cooper, 1965; Alvik, 1968; Rosell, 1968; Svancarova& Svancarova, 1967-1968; Haavedsrud, 1970). Sayangnya, dari sekian banyak analisis ini, ada satu masalah yang belum dianalisis, yaitu tentang bagaimana bekas pejuang masa lalu memberikan reaksi terhadap perang masa kini. (Ziller, 1990 :85-86)

Contoh 5.2

Defisiensi Defisiensi dalam Literatur : Sedikitnya Penelitian Penelitian yang dilakukan

Meskipun ada minat yang sangat tinggi terhadap persoalan mikro-politik, anehnya sangat sedikit penelitian empiris yang berusaha menganalisis isu tersebut, khususnya dari perspektif subordinasi. Penelitian politik dalam ranah pendidikan, misalnya, begitu langka. Sedikit sekali penelitian yang difokuskan pada bagaimana guru menggunakan kekuasannya untuk berinteraksi secara strategis dengan kepala sekolah, dan apa makna semua ini secara deskriptif dan konseptual (Ball, 1987; Hoyle, 1986; Pratt, 1984) (Blase, 1989 :381)

Singkatnya, untuk menunjukkan kekurangan kekurangan (deficiencies) dalam literature sebelumnya, peneliti perlu menerapkan tips tips penelitian berikut ini : Kutiplah sejumlah kekurangan dalam literature tersebut untuk memperkuat alasan dibutuhkannya penelitian terhadap topic tertentu. Tunjukkan secara spesifik kekurangan kekurangan dalam penelitian penelitian yang sudah ada (seperti, kesalahan metodologis atau variable variable yang terabaikan).

144

Tulislah bidang bidang atau ranah ranah tertentu yang terabaikan oleh penelitian penelitian sebelumnya, termasuk topic, proses statistic, implikasi implikasi penting, dan sebagainya.

Jelaskan bagaimana peneltian Anda akan mengoreksi kekurangan kekurangan ini dan memberkan kontribusi yang berbeda pada literature/penelitian akademik. Tulislah paragraph pendek untuk menjelaskan tiga atau empat kekurangan dari

penelitian sebelumnya atau fokuslan pada satu kekurangan paling pokok, seperti yang pernah dicontohkan dalam pendahuluan Terenzini et al. (2000). Signifikansi Penelitian bagi Pembaca Dalam disertasi, peneliti sering kali menyertakan bagian khusus yang

mendeskripsikan signifikansi penelitian bagi pembaca tertentu. Hal ini dilakukan untuk mendukung pentingnya analisis topic penelitian bagi kelompok kelompok tertentu yang mungkin saja dapat memperoleh manfaat dengan membaca dan menggunakan penelitian tersebut. Dalam bagian ini, peneliti hendaknya menulis alasan/rasionalisasi tentang pentingnya penelitiannya yang diajukan. Semakin banyak pembaca yang ditargetkan, semakin besar signifikansi penelitian tersebut bagi mereka; begitu pula potensi penelitian tersebut akan semakin kuat untuk diterapkan di dunia nyata. Dalam bagian ini pula, peneliti juga dapat menjelaskan beberapa hal berikut : Tiga atau empat alasan/rasionalisasi tentang bagaimana penelitian Anda dapat menambah penelitian akademik dan literature dalam bidang bidang tertentu. Tiga atau empat alasan/rasionalisasi tentang bagaimana penelitan Anda dapat membantu memperbaiki atau meningkatkan praktik praktik tertentu. Tiga atau empat alasan/rasionalisasi tentang bagaimana penelitian Anda akan memperbaiki atau meningkatkan kebijakan tertentu. Tiga atau empat alasan/rasionalisasi tentang bagaimana penelitian Anda akan memperbaiki atau meningkatkan kebijakan tertentu. Pada contoh tulisan berikut ini, Anda bisa melihat bagaimana penulisnya menyatakan pentingnya penelitian pada paragraph pembuka. Penelitian yang dilakuka noleh Mascarenhas (1989) ini meneliti kepemilikan perusahaan perusahaan industri. Dia secara jelas menunjukkan bahwa para pengambil keputusan, anggota organisasi, dan para peneliti adalah target pembacanya yang diharapkan akan membaca hasl penelitiannya.

145

Contoh 5.3

Signifikansi Penelitian yang Dinyatakan dalam Pendaluluan Studi Kuantitatif

penelitian tentang kepemilikan organisasi dan ranah ranah di dalammya, seperti costumer service, jangkauan produk, orientasi pembeli, dan pemanfaatan teknologi (Abeli dan Hammond, 1979; Abell, 1980; Peny dan Rainey, 1988), sangat penting dilakukan karena sejumlah alasan. Pertama, memahami hubungan antara kepemilikan dan ranah ranahnya akan membantu menyingkap logika dasar aktivitas organisasi dan dapat membantu anggota organisasi tersebut mengevaluasi strategi strategi. Kedua, dibutuhkan keputusan mendasar yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat demi terlaksananya aktivitas organisasi ini. Pengertahuan mengenai ranah ranah dalam kepemilikan organisasi yang berbeda dapat menjadi input penting atas keputusan tersebut. Ketiga, ada begitu banyak pakar yang meneliti organisasi organisasi yang merefleksikan satu atau dua jenis kepemilikan, namun penemuan penemuan mereka pada umumnya terlalu digeneralisasi untuk semua organisasi. (Mascarenhas, 1989 : 582)

Terenzini et al. (2001) mengakhiri pendahuluannya dengan menyatakan bahwa pengadilan / hakim (court) dapat menggunakan informasi dari penelitian penelitian yang ada untuk meminta perguruan tingi dan universitas universitas mendukung kebijakan admisi yang sensitive-ras (hlm.512). Selain itu, mereka juga menyatakan pentingnya penelitian ini bagi para staf kantor admisi, para mahasiswa yang menuntut admisi, dan para anggota dewan yang mereview admisi admisi tersebut. Pada akhirnya, pendahuluan yang baik untuk penelitian selalu diakhiri dengan pernyataan tentang tujuan atau maksud penelitian. Terenzial et al. (2001) mengakhiri pendahuluannya dengan meyatakan secara tegas bahwa penelitiannya ditujukan untuk membahas pengaruh keragaman structural terhadap skill intelektual mahasiswa.

RINGKASAN Bab ini menyajikan cara cara bagaimana menyusun dan menulis pendahuluan untuk penelitian penelitian akademik. Untuk menulis pendahuluan yang baik, pertama tama peneliti perlu mendeskripsikan masalah penelitian yang berhubungan dengan penelitian kuantitatif, kualitatif, atau metode campurannya. Kemudian, peneliti disarankan untuk menggunakan model pendahuluan lima bagian yang sudah dijelaskan dalam bab ini. Model yang sering kali dikenal dengan istilah model defisiensi ini diterapkan, salah satunya, dengan

146

cara mengidentifikasi terlebih dahulu kasus kasus umum (dengan teknik narrative hook) yang berhubungan dengan masalah penelitian. Selain itu, peneliti juga perlu menyertakan secara singkat tinjauan psutaka/literature lain yang relevan, seraya menunjukkan satu atau lebih kekurangan (defisiensi) dalam literature literature tersebut dan menegaskan bagaimana penelitian yang diajukan dapat mengoreksi kekurangan kekurangan itu. Peneliti kemudian mulai memerinci secara implicit atau eksplisit pembaca pembaca tertentu yang diharapkan dapat mengambil manfaat dari penelitiannya. Akhirnya, peneliti dapat menutup pendahuluannya dengan menyatakan setidaknya- tiga atau empat tujuan diadakannya penelitian.

Latihan Menulis
1. Cobalah menulis pendahuluan dengan teknik narrative hook. Setelah itu, diskusikan tulisan Anda ini dengan rekan rekan Anda, apakah teknik yang Anda gunakan berhasil menarik perhatian pembaca, meyakinkan pembaca tentang

LATIHAN MENNULIS

uniknya penelitian Anda, dan mampu menghubungkan pembaca dengan topic yang diangkat. 2. Tulislah pendahuluan untuk suatu penelitian tertentu. Buatlah masing masing satu paragraph mengenai masalah penelitian, literature literature yang terkait dengan masalah tersebut, kekurangan kekurangan dalam literature, dan pembaca pembaca yang secara potensial dapat mengambil manfaat dari penelitian ini. 3. Carilah beberapa penelitian bidang bidang tertentu yang dipublikaskan dalam jurnal jurnal akademik. Amatilah pendahuluannya, lalu carilah kalimat kalimat yang menunjukkan bahwa penulisnya tengah membahas satu masalah atau isu tertentu.

BACAAN TAMBAHAN Bem, D.J. (1987). Writing the Empirical Journal Article. Dalam M. P.Zanna&J.M Darley (ed.). The Compleat Academic : A Practical Guide for the Beginning Social Scients. New York : Random House. (hlm. 171-201). Daryl Bern menekankan pentingnya statemen/paragraph pembuka dalam suatu penelitian. Dia menyajikan sederet aturan tentang paragraph pembuka ini, yang menurutnya harus menekankan pada kejelasan, keterbacaan, dan struktur yang dapat menuntun pembaca langkah demi langkah untuk sampai pada rumusan masalah. Bern juga menyajikan contoh
147

contoh paragraph pembuka, baik yang memuaskan maupun yang tidak. Menurut Bern, paragraph pembuka yang baik adalah paragraph yang dapat dimengerti bahkan oleh seseorang yang bukan ahli sekalipun, dan juga tidak membosankan lantaran terlalu banyak bahasa teknis. Maxwell, J.A. (2005). Qualitative Research Design : An Interakctive Approach. Edisi kedua. Thousand Oaks, CA : Sage. Joe Maxwell menulis tentang tujuan penelitan untuk proposal disertasi kualitatif. Menurut Maxwell, salah astu aspek mendasar dalam proposal adalah menjustifikasi bahwa proyek yang diajukan dapat membantu pembaca memahami, tidak hanya tentang apa yang Anda rencanakan, tetapi juga mengapa Anda merencakanannya. Dia juga menyatakan pentingnya mengidentifikasi isu isu yang ingin Anda teliti dan pentingnya menunjukkan mengapa isu isu tersebut penting untuk diteliti. Pada satu contoh proposal disertasi mahasisaw s2 yang disajikan, Maxwell membahas isu isu utama yang harus dieksplorasi mahasiswa untuk membuat argument proposal penelitiannya efektif dan efisien. Wilkinson, A.M. (1991). The Scientists Handbook for Writing Papers and Dissertations. Englewood Cliffs, NJ : Prentice Hall. Antoinette Wilkinson membahas tiga aspek utama dalam pendahuluan : (1) Pernyataan mengenai suatu masalah dan sifat sifatnya; (2) pembahasan mengenai latar belakang dari masalah tersebut; dan (3) pernyataan mengenai rumusan masalah. Wilkinson juga menyajikan banyak contoh dari tiga aspek tersebut, yang disertai dengan penjelasan tentang bagaimana menulis dan menyusun sebuah pendahuluan yang baik. Dia menekankan bahwa pendahuluan harus menuntun secara logis dan runtut pada rumusah masalah.

148

Bab Enam

TUJUAN PENELITIAN
Bagian terakhir dari pendahuluan, sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam bab 5, adalah menyajikan tujuan penelitian. Inilah bagian terpenting dari keseluruhan penelitian. Untuk itu, tujuan penelitian harus ditulis dengan jelas dan spesifik. Dari tujuan inilah semua asfek penelitian ditentukan. Dalam artikel-artikel jurnal, peneliti biasanya menulis tujuan penelitian dibagian pendahuluan. Namun, dalam disertasi atau proposal disertasi, tujuan penelitian sering kali ditulis secara terpisah. Dalam bab yang khususnya untuk tujuan penelitian ini, saya membahas alasanalasan/rasionalisasi ditulisnya tujuan penelitian, prinsip-prinsip kunci, dan contoh-contoh tujuan penelitian yang biasa anda modifikasi untuk proyek proposal anda.

SIGNIFIKANSI DAN MAKNA TUJUAN PENELITIAN Menurut Locke et al. (2007: 9), tujuan penelitian berarti menunjukkan mengapa anda ingin melakukan penelitian dan apa yang ingin anda capai. Sayangnya proposalproposal penelitian saat ini jarang sekali yang memperhatikan tujuan penelitian. Para penlulis metodologi penelitianpun sering memasukkan tujuan penelitian ini kedalam bagian-bagian lain, seperti rumusan masalah atau hipotesis. Wilkinson (1991), misalnya, menjelaskan tujuan dalam konteks rumusan masalah dan sasaran penelitian. Penulis lain merujuknya sebagai salah satu aspek dari masalah penelitian (Casstetter & Heisler, 1997). Akan tetapi, pembahasan mereka pada umumnya tetap menunjukkan bahwa tujuan penelitian merupakan gagasan inti dari suatu penelitian. Dikenal dengan istilah tujuan penelitian karena ia menggambarkan tujuantujuan/maksud-maksud dilakukannya penelitian dalam satu atau beberapa kalimat. Dalam proposal, peneliti haruslah membedakan secara jelas antara tujua penelitian , masalah penelitian, dan rumusan penelitian. Tujuan penelitian mengindikasikan maksud penelitian, dan bukan masalah atau isu yang dapat menuntun pada keharusan diadakannya penelitian (lihat Bab 5). Tujuan penelitian bukanlah rumusan masalah yang di dalamnya terdapat sejumlah pertanyaan yang nantinya dijawab berdasarkan data-data penelitian yang telah dikumpulkan (lihat Bab 7). Akan tetapi, tujuan penelitian adalah kumpulan pernyataan yang menjelaskan sasaran-sasaran, maksud-maksud, atau gagasan-gagasn umum diadakannya
149

suatu penelitian. Gagasan ini dibangun berdasarkan suatu kebutuhan (masalah penelitian) dan diperhalus kembali dalam pertanyaan-pertanyaan spesifik (rumusan masalah). Begitu pentingnya tujuan penelitian ini, sehingga peneliti perlu menulisnya secara terpisah dari aspek-aspek lain dalam proposal penelitiannya da ia juga perlu membingkainya dalam satu kalimat atau paragraph yang mudah dipahami oleh pembaca. Meslipun tujuan penelitian untuk studi kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran ditulis dengan konten yang sama, masing-masing tujuan penelitian untuk tiga penelitian ini sebenarnya tetap memiliki sifat-sifat dan cara penulisannya sendiri yang berbeda-beda, seperti yang akan digambarkan dalam paragraf-paragraf berikut ini.

Tujuan Penelitian Kualitatif Tujuan penelitian kualitatif pada umumnya mencakup informasi tentang fenomena utama yang dieksplorasi dalam penelitian, partisipan penelitian, dan lokasi penelitian. Tujuan penelitian kualitatif juga bisa menyatakan rancangan penelitian yang dipilih. Tujuan ini ditulis dengan istilah-istilah teknis penelitian yang bersumber dari bahasa penelitian kualitatif (Schwandt,2007). Untuk itulah, Peneliti perlu memperhatikan beberapa hal mendasar dalam menulis tujuan penelitian kualitatif, seperti berikut ini: Gunakanlah kata-kata seperti tujuan, maksud, atau sasaran untuk menandai tujuan penelitian yang anda tulis. Tulislah tujuan penelitian ini dalam kalimat atau paragraph terpisah, dan gunakanlah bahasa-bahasa penelitian, seperti tujuan (maksud atau sasaran) penelitian ini adalah.... Para peneliti biasanya menggunakan verba masa kini (present verb tense) dan verb masa lampau (past verb tense) untuk proposal penelitian karena proposal mereka tengah menyajikan rencan penelitian yang akanbukan yang belumdikerjakan. Fokuslah pada satu fenomena (atau konsep atau gagasan) utama. Persempitlah penelitian anda menjadi satu gagasan untuk dieksplorasi dan dipahami. Fokus ini berarti bahwa tujuan penelitian kualitatif tidak boleh menunjukkan dua atau lebuh variable yang salin berelasi, atau justru membandingkan dua atau lebih kategori tertentu, seperti yang sering dijumpai dalam penelitian kuantitatif. Untuk itu, jelaskan satu fenomena saja, namun tetap tunjukkan bahwa penelitian anda bisa saja berkembang untuk mengeksplorasi hubungan atau perbandingan antargagasan dalam fenomena tersebut. Misalnya suatu penelitian bisa saja dimulai dengan mengeksplorasi peran ketua jurusan dalam usaha pemberdayaan kualitas akademik para dosen

150

(Creswell & Brown, 1992), atau dengan mengeksplorasi identitas guru dan marginalisasi atas identitas ini disekolah tertentu (Huber & Whelan,1999), atau dengan menjelaskan makna kebudayaan bisbol dalam hubungannya dengan pekerja studion (Trujillo,1992), atau menunjukkan bagaimana individu-individu tertentu secara kognitif mencirikan penyakit AIDS yang dideritanya (Anderson & Spencer, 2002). Contohcontoh ini semua mengiliustrasikan bahwa ada satu gagasan utama yang dijadikan focus dalam tujuan penelitian kualitaitf. Gunakanlah verb-verb tindakan untuk menunjukkan bahwa ada proses learning dalam penelitian anda. Verb-verb atau frasa-frasa tindakan, seperti mendeskripsikan, memahami, mengembangkan, meneliti makna, atau mengamati, akan membuat penelitian anda terbuka atas kemungkinan-kemungkinan lain: suatu cirri yang menunjukkan bahwa penelitian anda adalah penelitian kualitatif. Gunakan kata-kata dan frasa-frasa yang netral ---bahasa tidak langsung ---seperti , dari pada menggunakan kata-kata pengalaman sukses individu-individu. Lebih baik memakai kata-kata pengalamn individu-individu jangan terlalu sering menggunakan atau frasa-frasa yang problematik, seperti berguna, positif, dan informatif ---kata-kata yang seolah-olah memiliki makna yang bisa saja nuncul atau tidak muncul. McCracken (1998) mengatakan bahwa dalam wawancara kualitatif, pewawancara seharusnya mengajak responden untuk mendeskripsikan pengalamannya. Dengan demikian, pewawancara (peniliti) ini dapat dengan mudah mengutak-atik atturan ketidaklangsungan (McCracken, 1998: 21) tersebut dengan menggunaka kata-kata yang seolah-olah berorientasi langsung. Sajikan definisi umum mengenai fenomena atau gagasan utama, khususnya jika fenomena tersebut merupakan istilah yang tidak dipahami oleh pembaca luas. Karena termasuk dalam retorika penelitian kualitatif, definisi ini tidak boleh rigid, melainkan tentatif dan berkembang selama pemelitian berdasarkan informasi dari para partisipan. Untuk itu, peneliti kualitatif setidak-tidaknya harus menggunakan kata-kata seperti: untuk semintara ini, definisi..... (fenomena utama) adalah .... selain itu peneliti juga perlu memperhatikan bahwa definisi ini tidak boleh dicampur-baurkan dengan definisi yang lebih detail, spesifik, teoritis dan teknis yang biasanya ada pada bagian khusus, definisi istilah, seperti yang telah saya jelaskan dalam Bab 2. Tujuan disajikannya definisi umum ini adalah untuk menunjukkan kepada pembaca makna general dari fenomena yang dijabarkan dalam penelitian.

151

Gunakan kata-kata teknis strategis/teori penelitian yang digunakan ketika sampai pada bagian pengumpulan data, analisis data, dan proses penelitian, seperti: apakah penelitian tersebut menggunakan teori etnografi, grounded theory, studi kasus, fenomenologi, pendekatan naratif, atau strategi-stragi lainnya. Gunakan kata-kata yang sering digunakan dalam teori-teori diatas.

Jelaskan para partisipan yang terlibat dalam penelitian, seperti: apakah partisipan penelitian anda terdiri dari satu atau lebih individu, atau sekelompok orang, atau suatu organisasi.

Tunjukkan lokasi dilakukannya penelitian, seperti rumah, kelas, organisasi, program, atau peristiwa tertentu. Gambarkan tempat ini secara detail sehingga pembaca benarbenar mengetahui dimana penelitian itu dilaksanakan.

Sebagai langkah akhir dalam tujuan penelitian kualitatif, gunakan beberapa bahasa yang membatasi ruang lingkup partisispan atau lokasi penenlitian. Misalnya, penelitian bisa saja terbatas pada wanita saja, atau satu wilayah geografis tertentu. Fenomena utama dapat dibatasi pada individu-individu dalam suatu organisasi bisnis, lebih khusus mereka yang menjadi anggota tim kreatif. Pembatasan-pembaasan semacam ini aka membantu peneliti untuk lebih jauh menjabarkan parameter penelitiannya. Meskipun ada banyak variasi dalam mencantumkan poin-poin di atas pada tujuan

penelitian, proposal disertasi atau tesis kualitatif yang baik, setidak-tidaknya harus mencakup beberapa diantara poin-poin itu. Untuk membantu anda, di sini saya menyajikan sejumlah catatan yang mungkin berguna dalam menulis tujuan penelitian kualitatif. Seperti catatan-catatan (scripts) sebelumnya dalam buku ini, saya sudah menyediakan ruang agar anda bisa menyisipkan informasi yang sesuai. Tujuan penelitian..... (strategi/teori penelitian, seperti etnografi, studi kasus, atau sejenisnya) ini adalah untuk..... (memahami? mendeskripsikan? mengembangka? meneliti?) ...... (fenomena utama yang diteliti) pada...... (para partisipan, seperti individu, kelompok, atau organisasi) di...... (lokasi penelitian). Dalam penelitian ini....... (fenomena utama yang diteliti) secara umum dapat didefinisikan sebagai.... (sajikan definisi umum). Conto-contoh di bawah ini mungkin tidak secara sempurna mengilustrasikan semua elemen yang telah saya jelaskan, tetapi setidaknya contoh-contoh berikut ini telah berhasil menyajikan model-model yang layak ditiru dan dipelajari.

152

Saya memperoleh tujuan penelitia yang ditulis oleh Lauterbach (1993) ini disebuah artikel jurnaldi bagian pembukanya yang berjudul tujuan penelitian. Judul inilah yang secara jelas mengajak pembaca untuk focus pada tujuan penelitian. pengalaman kehidupan para ibu menjadi fenomena utama dan penulis menggunakan kata kerja mengartikulasikan untuk membahas makna (kata yang netral) dari pengalaman-pengalaman ini. Penulis lalu mendifinisikan pengalaman-pengalaman apa saja yang ditelitinya terkait dengan memori dan pengalaman hidup ini. Di sepanjang tulisannya, jelas Leuterbach telah menggunakan strategi fenomenologi. selain itu, tulisan Leuterbach juga secara jelas menunjukkan bahwa partisipannya hanya para ibu, dan bagianbagian selanjutnya di artikel itu, pembaca akan melihat bagaimana Leuterbach melakukan interviw pada lima sampel ibu (yang masingmasing telah mengalami keguguran) dirumah mereka.

Contoh 6.1 Tujuan Penelitian Dalam Studi Fenomenologi Kualitatif

Leuterbach (1993) meneliti lima wanita yang kehilangan bayinya ketika sedang hamil (keguguran), dan memori serta pengalaman-pengalaman mereka atas peristiwa itu. Tujuan penelitian Leuterbach adalah sebagai berikut: Sebagai upaya menyingkap makana substantif suatu fenomenalogi, penelitian fenomenologi ini berusaha mengartikulasikan esensi-esensi makna dalam pengalaman kehidupan para ibu ketika bayi yang mereka sayangi meninggal dunia. Dengan menggunakan persfektif feminis, focus penelitian ini adalah pada memori para ibu dan pengalaman kehidupan mereka. Perspektif ini mempermudah usaha menyingkap pengalamanpengalaman tersebut yang tertutup selama ini. perspektif ini juga membantu mengartikulasikan dan menyuarakan memori para ibu dan cerita kehilangan mereka. Metode yang digunakan dalam penelitia ini meliputi refleksi fenomenologis atas data-data yang ada berdasarkan investigasi pada pengalaman para ibu, dan investigasi atas fenomena tersebut dalam konteks seni kreatif. (Leuterbach, 1993: 134)

153

Kos (1991) menegaskan bahwa penelitiannya bukanlah penelitian kuantitatif yang mengukur besarnya perubahan skill membaca dalam diri siswa. Kos justru meletakkan penelitiannya dalam pendekatan kualitatif dengan menggunakan kata-kata seperti mengeksplorasi. Dia berfokus pada faktor-faktor sebagai fenomena utama dan menyajikan definisi tentative dengan menyebutkan contoh

Contoh 6.2 Tujuan Penelitian Dalam Studi Kasus

Kos (1991) melakukan beberapa kali studi kasus tentang siswa-siswa SMP yang tidak bisa membaca. Studi kasus ini berfokus pada faktor-faktor yang menghalangi para siswa SMP berkembang dalam skill membacanya. Tujuan penelitiannya adalah sebagai berikut: Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi faktor-faktor afektif, sosial, dan edukatif yang mempengaruhi empat anak remaja (siswa) tidak mampu membaca. Penelitian ini juga berusaha menjelaskan mengapa siswa-siswa tersebut tetap saj tidak bisa membaca meskipus sudah bertahun-bertahun sekolah. Penelitia ini bukanlah intervensi, meskipun beberapa siswa mungkin telah mampu mengembangkan skill membaca mereka, bukan berarti fokus penelitian ini pada usaha peningkatan skill membaca.

(Kos, 1991: 876-877) faktor tersebut, seperti afektif, sosial, edukatif. Dia juga menulis pernyataan di atas dengan judul Tujuan Penelitian untuk membuat pembaca fokus pada tujuan penelitiannya. Tidak hanya itu, dia juga menyebutkan para partisipannya secara jelas. Pada bagian selanjutnya, diartikel tersebut, khususnya dibagian abstraksi dan metodologi, pembaca akan menemukan bahwa penelitian Kos ini menggunakan strategi penelitian studi kasus yang dilakukan dalam suatu ruang kelas. Karena tujuanya adalah untuk meningkatkan iklim kampus maka penelitian kualitaitf diatas termmasuk ke dalam jenis penelitian advokasi, seperti yang telah dijelaska dalam Bab 1. Uniknya, tujuan penelitian ini muncul di bagian awal artikel, yang memang menjadi cirri umum untuk artikel-artikel jurnal. Kebutuhan mahasiswa yang gay dan biseksual menjadi fenomena utama yang diteliti.

154

Contoh 6.3 Tujuan Penelitian Dalam Etnografi

Rhoads (1997) melakukan penelitian etnografi selama dua tahun disebuah Universitas kenamaan. Dia berusaha mengeksplorasi bagaimana iklim kampus dapat ditingkatkan bagi laki-laki gay yang biseksual. Tujuan penelitian, yang ia sertakan pada bagain awal tulisannya adalah sebagai berikut: Artikel ini berusaha memberikan sumbangsih tambahan pada literaturliteratur yang membahas tentang kebutuhan mahasiswa gay yang biseksual dengan mengidentifikasi sejumlah kawasan yang sekiranya dapat meningkatkan iklim kampus bagi mereka. Tulisan ini sebenarnya berasal dari penelitian etnografis yang pernah penulis lakukan duaa tahun terhadap suatu subkultur mahasiswa yang terdiri dari laki-laki gay yang biseksual disebuah Universitas kenamaan. Penelitian ini hanya dibatasi pada laki-laki gay dan biseksual saja, yang berarti secara langsung merefleksikan bahwa wanita lesbian dan biseksual merupakan komonitas berbeda yang membentuk subkultur tersendiri di Universitas tersebut.

(Rhoads, 1997: 278)

juga berusaha mengidentifikasi kawasan-kawasan yang dapat meningkatkan iklim kampus bagi laki-laki gay dan biseksual. Selain itu, Rhoads juga telah menyebutkan bahwa strategi penelitian yang digunakan adalah etnografi, dan bahwa penelitian ini hanya akan melibatkan laki-laki saja (partisipan) di sebuah Universitas kenamaan (lokasi penelitian). Sayangnya, Rhoads tidak memberikan informasi tambahan mengenai sifat utama kebutuhan para mahasiswa ini atau definisi umum dari kebutuhan tersebut. Akan tetapi, dib again terpisah, dia sudah berusaha mengidentifikasi dan menyajikan makna tentative atas istilah-istilah penting tersebut. Pada pernyataan di atas, fenomena utamanya adalah perkembangan karier, da pembaca juga akan mengetahui bahwa fenomena tersebut didefinisikan sebagai pengaruhpengaruh penting dalam kesuksesan karir 18 wanita tersebut. Dalam penelitian ini memang digunakan kata langsung, seperti kesuksesan. Akan tetapi, kata ini lebih dimaksudkan untuk mendefinisikan sampel individu yang diteliti dan bukan untuk membatasi tentang fenomena utama.

155

Contoh 6.4 Tujuan Penelitian Dalam Studi Grounded Theory

Richie

et

al.

(1997)

melakukan

penelitian

kualitatif

untuk

mengembangkan suatu teori tentang perkembangan karier 18 wanita AmerikaAfrika (kulit putih dan hitam) yang memiliki prestasi tinggi Ameriaka Serikat yang masing-masing dalam bidang profesi yang berbeda-beda. Pada paragraph kedua penelitiannya, mereka menyatakan tujuan diadakannya penelitian tersebut: Artikel ini ---yang didasarkan pada penelitian kualitatif--- berusaha meneliti perkembangan karier 18 wanita Amerika-Afrika (kulit putih dan hitam) yang memiliki prestasi tinggi di Amerika Seriakat dalam 8 bidang profesi yang berbeda-beda. Secara keseluruhan, tujuan kami melakukan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi factor-faktor penting yang mempengaruhi perkembangan karier para wanita ini, khusunya pengaruh-pengaruh yang berhubungan dengan kesuksesan karier mereka.

(Richie et al. 1997: 133)

Peneliti beusaha untuk mengeksplorasi fenomena terssebut, dan pembaca akan memahami bahwa partisipannya adalah para wanita yang bekerja di tempat berbeda-beda. Grounded Theory sebagai strategi penelitian disebutkan pada bagian abstraksi dan dijelaskan lebih lanjut pada bagian prosedur penelitian.

Tujuan Penelitian Kuantitatif Tujuan penelitian kuantitatif sangat berbeda dengan model tujuan penelitian kualitatif, baik dalam hal bahasa maupun fokusnya dalam menghubungkan atau membandingkan varibel-varibel. Ingatklah kembali Bab 3 yang menjelaskan jenis-jenis variable utama dalam penelitian kuantitatif, yaitu varibel bebas, varibel mediate, varibel moderate, dan varibel terikat. Tujuan penelitian kuantitatif meliputi varibel-varibel dalam penelitian dan hubungan antar varibel tersebut, para partisipan, dan lokasi penelitian. Tujuan ini ditulis dengan bahasabahasa yang berhubungan dengan penelitian kuantitatif, dan terkadang juga mencakup pengujian deduktif atas hubungan-hubungan atau teori-teori tertentu. Tujuan penelitian

kuantitatif biasanya dimulai dengan mengidentifikasikan varibel-varibel utama dalam


156

penekitian (bebas, intervening, atau terikat) beserta model visualnya, lalu mencari dan dan menentukan bagaimana varibel-varibel itu akan diukur atau diamati. Pada akhirnya, tujuan digunakannya variable-varibel secara kuantitatif adalah untuk menghubungkan varibelvaribel tersebut, seperti yang bisa ditemukan dalam penelitian survei, atau untuk membandingkan sampel-sampel atau kelompok-kelompok tertentu dalm kaitannya dengan hasil penelitian, seperti yang sering dijumpai dalam penelitian eksperimen. Untuk menulis tujuan penelitian kuantitatif, ada sejumlah hal yang perlu diperhatika: Gunakan kata-kata untuk menandai tujuan penelitian anda, seperti tujuan, maksud, atau sasaran. Mulailah dengan kata-kata seperti tujuan (atau maksud atau sasaran) penelitian ini adalah...... Tunjukkan teori, model, atau kerangka konseptual yang anda gunakan. Dalam hal ini, Anda tidak perlu mendeskripsikannya secara detail karena--- seperti yang sudah saya jelaskan pada Bab 3--- ada kemungkinan bagian Perspektif Teoritis ditulis secara terpisah untuk keperluan ini. Mendeskripsikan teori secara sederhana di bagian tujuan penelitian akan memberikan penekanan pada pentingnya teori itu dalam penelitian tersebut. Tunjukkanlah varibel bebas dan varibel terikat, serta varibel-variabel lain, seperti mediate, moderate, atau control, yang digunakan dalam penelitian. Gunakan kata-kata yang dapat menghubungkan varibel bebas dan varibel terikat untuk emnunjukkan bahwa kedua jenis varibel ini benar-benar saling berhubungan, seperti hubungan antara dua atau lebih varibel, atau perbandingan antara dua atau lebih kelompok. Kebanyaka penelitian kuantitatif menggunakan dalah satu dari dua opsi ini untuk menghubungkan varibel-varibel dalam tujuan penelitian. Tetapi ada juga peneliti yang menggunaka kombinasi antara membandingkan (comparing) dan menghubungkan (relating), misalnya, penelitian eksperimen dua faktor yang didalamnya peneliti memiliki dua atau lebih kelompok treatment dan satu varibel bebas. Meskipun peneliti kebanyakan menggunakan teknik menghubungkan dua atau lebih kelompok dalam penelitian eksperimen, tidak menutup kemungkinan mereka juga menggunakan teknik tersebut dalam penelitian survei. Tempatkanlah dan susunlah varibel-varibel ini dari kiri ke kanan, dengan varibel bebas (di bagain kiri) yang diikuti oleh varibel terikat (di bagian kanan). Letakkan varibel-variabel intervening antara varibel bebas dan varibel terikat. Banyak peniliti juga meletakkan varibel-varibel moderating antara varibel bebas dan varibel terikat.
157

Bahkan, varibel control juga tidak jarang diletakkan secara tiba-tiba mengikuti varibel terikat, misalnya dalam frasa yang juga dipengaruhi oleh...... atau dengan varibel kontrol....... Dalam penelitian eksperimen, varibel bebas selalu menjadi varibel yang dimanipulsi. Sebutkan jenis strategi penelitian (seperti strategi survei atau eksperimen) yang digunakan dalam penelitian. Dengan menyatakan informasi tentang strategi penelitian, peneliti setidaknya sudah mengantisipasi diri untuk tidak membahas detail metodologi penelitian (yang biasanya di tulis dibagian khusus) dan memungkinkan pembaca untuk mengasosiasikan hubungan antarvaribel dengan strategi penelitian. Tunjukkan sedcara jelas partisipan (atau unit analisis) dan lokasi penelitian tersebut. Definisikanlah secara umum masing-masing varibel kunci, misalnya dengan menggunakan definidi-definisi yang sudah diterima secara umum yang berasal dari literatur-literatur. Disertakannya definisi umum ini adalah untuk membantu pembaca lebih memahami tujuan penelitian. Meski demikian, peneliti tidak boleh memberikan terlalu detail memberikan definisi secara operasional karena definisi semacam ini biasanya ditulis dalam bagian khusus Definisi Istilah (yang menjelaskan secara rigid bagaimana varibel-varibel diukur). Selain itu, berikan batasan pada ruang lingkup penelitian, seperti ruang lingkup pengumpulan data atau ruang lingkup partisipan penelitian. Berdasarkan poin-poin di atas, tujuan penelitian kuantitatif dapat ditulis sebagai berikut: Tujuan penelitian....... (eksperimen? survei?) ini adalah untuk menguji teori....... yang ..... (membandingkan? emnghubungkan?)...... dengan (varibel terikat), yang juga

dipengaruhi/dikontrol oleh....... (varibel kontrol), terhadap..... (partisipan penelitian) di...... (lokasi penelitian). Varibel-(varibel) bebas....... dalam hal in didefinisikan sebagai....... (sajikan suatu definisi umum), dan varibel(-varibel) control dan intervening..... (tunjukkan varibel control dan intervening) didefinisikan sebagai....... (sajikan definisi umum). Contoh-contoh berikut ini akan mengilustrasikan elemen-elemen di atas. Dua penelitian pertama adalah penelitian survey, satu penelitian terakhir adalah penelitian eksperimen.

158

Contoh 6.5 Tujuan Penelitian Dalam Studi Survei

Kalof (2000) melakukan penelitian selama dua tahun pada 54 mahasiswi, terkait oerilaku-perilaku dan pengalaman-pengalaman mereka terhadap pelecehan seksual. Mahsiswi ini memberikan responnya masing-masing pada dua instrumen survei yang disebarkan secar terpisah selama dua tahun. Kalof menggabungkan tujuan penelitian dengan rumusan masalah sebagai berikut: Penelitian ini berusaha mengelaborasikan dan mengklarifikasi hubungan antara perilaku seksual wanita dan pengalaman-pengalaman mereka terhadap pelecehan seksual. Saya memanfaatkan data yang diperoleh selama dua tahun dari 54 mahasiswi untuk menjawab pertanyaanpertanyaan berikut ini: (1) Apakah perilaku-perilaku wanita mempengaruhi pelecehan seksual terhadap mereka dua tahun ini? (2) Apakah sikap-sikap wanita berubah setelah mengalami pelecehan seksual? (3) Apakah pelecehan seksual sebelumnya mengurangi atau justru meningkatkan resiko pelecehan-pelecehan seksual selanjutnya?

(Kalof, 2000: 24)

Meskipun Kalof (2000) tidak menyebutkan teori yang dia gunakan, setidak-tidaknya dia telah mengidentifikasi varibel bebas (perilaku seks) dan varibel terikat (pelecehan seksual) dalam penelitiannya. Dia juga menggunakan kata-kata hubungan antara untuk menunjukkan relasi antarvaribel. Tujuan penelitian di atas juga telah mengidentifikasi secara jelas para partisipan (wanita) dan lokasi penelitian (Universitas) . Selanjutnya, pada bagian metodologi penelitian, Kalof menyebutkan bahwa penelitiannya menggunakan metode survei mailed. Selain itu, meskipun Kalof tidak mendefinisikan varibel-varibel utama dalam tujuan penelitian di atas setidaknya dia sudah menyajikan ukuran-ukuran spesifik pada varibelvaribel tersebut dalam rumusan masalah. Kutipan di atas mencakup beberapa komponen tujuan penelitian yang baik. Selain ditulis pada bagian terpisah (Pernyataan Masalah), kutipan di atas telah menggunakan kata hubungan, istilah-istilah yang didefinisikan, populasi dan sebagainya. Lebih jauh, dari susunan varibel yang dijelaskan, pembaca akan mudah mengidentifikasi varibel bebas dan varibel terikatnya.
159

Contoh 6.6 Tujuan Penelitian Dalam Studi Survei Disertasi

DeGraw (1984) menyelsaikan disertasi doktoralnya dalam bidang pendidikan. Disertasi itu membahas topik tentang para pendidik yang bertugas pada institusi-institusi perbaikan remaja. Dalam salah satu subjudul disertasinya Pernyataan Masalah dia menjelaskan tujuan penelitian sebagai berikut: Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara karakristikkarakristik pribadi dan motivasi pekerjaan bagi para pendidik yang mengajar dilembaga-lembaga negeri perbaikan remaja di Amerika Serikat. karakristik-karakristik dibagi ke dalam dua informasi penting, yaitu informasi tentang latar belakang responden (seperti informasi institusional, tingkat pendidikan, pelatihan sebelumnya, dan sebagainya) dan informasi tentang pemikiran responden terhadap pekerjaannya yang berubah-ubah. Penelitian terhadap latar belakang responden sangat penting dalam disertasi ini karena penelitian semacam dan ini diharapkan faktor-faktor dapat yang

mengidentifikasi

karakristik-karakristik

mempengaruhi mobilitas dan motivasi. Bagian kedua penelitian ini meminta responden untuk mengidentifikasi faktor-faktor motivasional ini yang berhubungan dengan mereka. Motivasi pekerjaan didefinisikan sebagai enam faktor utama, sebagaimana yang terdapat dalam kuesioner penelitian komponen kerja pendidikan (educational work components study/EWCS) (Miskel & Heller, 1973). Enam faktor ini antara lain: potensi perubahan dan perkembangan diri, daya saing, keinginan dan penghargaan akan kesuksesan, kesabaran terhadap tekanan pekeerjaan, keamanan konservatif, da kesediaan untuk mencari reward meski berada diantara ketidakpastian dan penyangkalan.

(DeGrew, 1984: 4-5)

Kutipan di atas juga merefleksikan komponen-komponen tujuan penelitian kuantitatif yang baik. Selain ditulis dengan terpisah, tujuan penelitian di atas juga menjelaskan adanya perbandingan antarvaribel. Para penulisnya juga telah menunjukkan para partisipan yang terlibat dalam penelitian eksperimennya. Dalam hal susunan varibel, mereka menyusunnya dengan meletakkan varibel terikat diurutan pertama an varibel bebasnya di
160

bagian ke dua (Note: cara penulisan ini berbeda dengan apa yang sayasarankan agar varibel bebas ditulis terlebih dahulu---- dari kiri--- kemudian varibel terikat---- kekanan). Meski demikian, kelompok-kelompok dalam masing-masing varibel telah diidentifikasi secara jelas. Begitu pula, meskipun dalam tujuan penelitian diatas par apenulisnya tidak menyebutkan dasar teori yang digunakan, dalam pararaf-paragraf sebelumnya mereka sebenarnya sudah mereview beberapa penemuan dari teori sebelumnya. Contoh 6.7 Tujuan Penelitian Dalam Studi Eksperimen

Booth-Kewley, Edwards, dan Rosenfeld (1992) membandingkan antara daya tarik sosial terhadap penggunaan computer dan daya tarik pribadi terhadap pensil dan kertas. Mereka melanjutkan penelitian inventaris yang telah dilakukan sejumlah mahasiswa sebelumnya dengan menggunaka Balanced Inventory of Desirable Responding (BIRD), yang menawarkan dua skala, yaitu impression management (IM) dan Self-Deception (SD). Dalam paragraf terakhir di bagaian pendahhuluan, mereka mengemukakan tujuan penelitiannya: Kami merancang penelitian ini untuk membandingkan respon-respon para calon Angkata Laut terhadap skala IM dan SD, yang dikumpulkan dalam tiga kondisi, yaitu: (1) kertas---dan----pensil, (2) komputer dengan backtracking (3) komputer tanpa backtracking. Kurang lebih separu dari calon AL ini menjawab kuesioner-kuesioner yang diberikan secara anonym (tanpa nama/identitas jelas) dan separuh lainnya menjawab dengan identitas yang jelas.

(Booth-Kewley et al. 1992: 563)

Tujuan Penelitian Metode Campuran Tujuan penelitian metode campuran berisi tujuan penetian secara keseluruhan, informasi mengenai unsure-unsur penelitian kuantitatif dan kualitaif, dan alasan/rasionalisasi mencampur dua unsur tersebut untuk meneliti masalah penelitian. Tujuan penelitian metode campuran biasanya ditunjukkan terlebih dahulu, dalam pendahuluan, untuk memberikan panduan awal bagi pembaca dalam memahami bagian-bagian penelitian kuantitatif dan kualitatif di dalamnya. Berikut ini saya sajikan beberapa petunjuk bagaimana menyusun dan menyajikan tujuan penelitian metode campuran.

161

Mulailah dengan menulis kata-kata yang menunjukkan secara jelas tujuan penelitian yang akan dijabarkan, seperti Tujuan..... atau Maksud.... Jelaskan tujuan penelitian dari perspektif konten, seperti Tujuannya adalah untuk mempelajari efektivitas organisasi atau Tujuannya adalah untuk mengamati keluarga-keluarga yang anak tiri untuk memahami keseluruhan maksud penelitian tersebut terlebih dahulu sebelum peneliti membagi penelitiannya ke dalam bagian kuantitatif dan kualitatif.

Tunjukka jenis rancangan metode campuran yang digunakan, apakah itu sekuensial, konkuren, atau transformasional. Jelaskan alasan/rasionalisasi dikombinasikannya data kuantitatif dan kualitatif. Alasan ini dapat berupa salah satu dari yang berikut ini (lihat Bab 10 untuk lebih detailnya): 1. Untuk lebih memahami masalah penelitian dengan mengonvergensikan (atau mentrianggulasi) data kuantitatif yang berupa angka-angka dan data kualitatif yang berupa rincian-rincian deskreptif. 2. Untuk mengeksplorasi pandangan partisipan (kualitatif) untuk kemudian dianalisis berdasarkan sampel yang luas (kuantitatif). 3. Untuk memperoleh hasil-hasil statistic kuantitatif dari suatu sampel, kemudian menindaklanjutinya denga mewawancarai atau mengobservasi sejumlah individu untuk membantu menjelaskan lebih jauh hasil statistik yang sudah diperoleh (lihat juga OCathain, Murphy & Nicholl, 2007). 4. Untuk mengungkap kecenderungan-kecenderungan dan hak-hak dari kelompok atau individu-individu yang tertindas.

Terapkan karakristik-karakristik tujuan penelitian kualitatif yang baik, seperti berfokus pada satu fenomena utama, menggunakan kata-kata tindakan dan bahasa tidak langsung, menyebutkan strategi penelitian, dan menjelaskan para partisipan dan lokasi penelitian.

Terapkan pula karakristik-karakristik tujuan penelitian kuantitatif yang baik, seperti menyebutkan suatu teori dan varibel-varibel, menghubungkan varibel-varibel atau membandingkan kelompok-kelompok varibel, menyusun varibel-variabel ini mulai dari varibel bebas terlebih dahulu lalu varibel terikat, menyebutkan strategi penelitian dan memerinci para partisipan dan lokasi penelitian.

162

Pertimbangkan pula informasi-informasi tambahan mengenai jenis-jenis/strategistrategi pengumpilan data kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan elemen-elemen di atas, berikut ini disajikan empat contoh tujuan

penelitian metode campuran (Creswell & Plano Clark, 2007). Dua contoh pertama adalah penelitian sekuensial dengan satu strategi pengumpulan data yang turut membangun strategi pengumpulan data yang lain. Contoh ketiga adalah penelitian konkuren dengan menerapkan dua strategi pengumpulan data dalam satu waktu lalu dibawa secara bersama-sama dalam analisis data. Contoh keempat adalah penelitian metode campuran transformative yang didasarkan pada rancangan konkuren.

1. Penelitian sekuensial dengan tahap kuantitatif di urutan kedua yang didasarkan pada tahap
kualitatif di urutan pertama: Tujuan penelitian metode campuran sekuensial dua-tahap ini adalah untuk.... (sebutkan tujuan penelitian berdasarkan konten). Tahap pertama adalah eksplorasi

kualitatif terhadap ... (fenomena utama) dengan mengumpulkan (jenis-jenis data) dari (para partisipan) di (lokasi penelitian). Penemuan- penemuan dari tahap kualitaiif ini kemudian digunakan untuk menguji (suatu teori, rumusan masalah, atau hipotesis) yang

(menghubungkan? membandingkan?) (variabel bebas) dengan (variabel terikat) terhadap (sampel dari populasi) di (lokasi penelitian). Alasan didahulukannya pengumpulan data kualitatif disebabkan (seperti, instrumen - instrumennya tidak sesuai atau tidak tersedia, variabel variabel-nya tidak diketahui, ada sedikit teori atau taksonomi yang dapat dijadikan panduan rigorus).

2. Penelitian sekuensial dengan tahap kualitatif tindak-lanjut (di urutan kedua) yang turut
membantu menjelaskan tahap kuantitatif sebelumnya (di urutan pertama): Tujuan dari penelitian metode campuran sekuensial dua- tahap ini adalah untuk (sebutkan tujuan penelitian berdasarkan konten). Pada tahap pertama, rumusan masalah atau hipotesis penelitian kuantitatif akan menjelaskan hubungan atau perbandingan (variabel bebas) dan (variabel terikat) dengan melibatkan (partisipan penelitian) di (lokasi penelitian). Informasi dari tahap pertama akan dieksplorasi lebih lanjut pada tahap kedua, yaitu tahap kualitatif. Pada tahap kedua ini, wawancara atau observasi kualitatif digunakan untuk memeriksa kembali (hasil-hasil kuantitatif) dengan mengeksplorasi aspek-aspek ............................................................................. (fenomena utama)

dengan melibatkan (para partisipan) di (lokasi penelitian). Alasan ditindaklanjutinya

163

metode kuantitatif ini dengan metode kualitatif adalah untuk (seperti, lebih memahami dan menjelaskan hasil-hasil kuantitatif yang diperoleh sebelumnya).

3. Penelitian konkuren dengan mengumpulkan data kuantitatif dan data kualitatif sekaligus
dalam satu waktu, lalu memadukan keduanya untuk dapat memahami masalah penelitian dengan lebih baik : Tujuan penelitian metode campuran konkuren ini adalah untuk..:.. (sebutkan tujuan penelitian berdasarkan konten). Dalam penelitian ini,.... (instrumen instrumen kuantitatif) akan digunakan untuk mengukur hubungan antara (variabel bebas) dan (variabel

terikat). Pada waktu bersamaan, (fenomena utama) akan dieksplorasi dengan menggunakan (wawancara atau observasi kualitatif) dengan/terhada (para partisipan) di (lokasi penelitian). Asalan mengombinasikan data kuantitatif dan data kualitatif

ini adalah agar lebih memahami masalah penelitian tersebut dengan mengon vergensi data kualitatif (berupa angka-angka) dan data kuantitatif (berupa pandangan-pandangan deskriptif).

4. Contoh terakhir adalah penelitian metode campuran dengan strategi transfofiriatif.


Contoh ini ditulis berdasarkan penelitian konkuren, tetapi yang namanya proyek metode campuran bisa saja menggunakan strategi konkuren (data kuantitatif dan data kualitatif dikumpulkan dalam waktu bersamaan) ataupun strategi sekuensial (dua jenis data yang dikumpulkan secara ber-tahap). Dikatakan strategi tranformatif karena tujuan dari penelitian ini adalah untuk membahas isu utama yang berhubungan dengan kelompok-kelompok atau individu-individu yang ter-marjinalkan. Selain itu, hasil dari penelitian semacam ini biasanya untuk mengadvojcasi kebutuhan-kebutuhan kelompok atau individu tersebut sehingga dalam tujuan penelitiannya diserta-kan pula penjelasan mengenai usaha/harapan transformasi (perubahan) dalam tujuan penelitian. Tujuan penelitian metode campuran konkuren ini adalah untuk (sebutkan isu-isu yang perlu dibahas terkait dengan kelompok atau individu-individu yang termarjinalkan). Dalam penelitian ini, ..... (instrumeninstrumen kuantitatif) akan digunakan untuk mengukur hubungan antara (variabelvariabel bebas) dan (variabel-variabel terikat). Pada waktu bersamaan, (fenomena

utama) akan dieksplorasi juga dengan menggunakan (wawancara atau observasi kualitatif) dengan/terhadap (para partisipan) di (lokasi penelitian). Alasan

dikombinasikannya data kuantitatif dan data kualitatif iri adalah untuk lebih memahami masalah penelitian dengan cara mengonvergensi data kuantitatif (berupa angka-angka) dan

164

data

kualitatif

(berupa

pandangan-pandangan

rinci),dan

untuk

mengadvokasi

perubahan/transformasi bagi (kelompok-kelompok atau individu-individu). Contoh 6.8 Tujuan Penelitian Metode Campuran Konkuren Hossler dan Vesper (1993) meneliti sikap/kecehderungan anak-anak dan prang tua, khususnya yang terkait dengart pengbernatan orang tuauntuk pendicfikan S2 bag] anak-a.nak rriereka. Pajarrr penejitian yang diiaksariakan selama tig a tahun, mereka rnengideritiftkasi taktpf-faktof yang sangat berhubufigari dengan p'enghematart orang tua dan data kuantitatifkualitatif yang mereka kurhpulkan. Tujuan penelitian mereka adalah sebagai perikut: Karya tulis ini berusaha meneliti perilaku-perilaku pengtiernatan (saving) orang tua, Dengan menggunakan data anak-anak dan orang tua yang diperoleh dari penelitian longitudinal dengan metode survei selama tiga tahun, kami memilih regresi logistik untuk mengidentifikasifaktor-faktor yang berhubungan dengan pehghematan prang tua bagi pendidikan S2 anak-anak mereka. fidakhanya itu, kami juga berusaha menggali pengetahuan lain dari hasil wawancara kami dengan beberapa sampel mahasiswa dan orang tua mereka selama lima kali dalam jangka waktu tiga tahun. Pengetahuan ini diharapkan dapat mernbantu mengekSplorasi lebih jauh isu teritang penghematan orang tua. (Hossler & Vesper, 1991: 141)

Dalam teks aslinya, tujuanpenelitian di atas ditulis denganjudul "Tujuan." Tujuan tersebut juga sudah mengindikasikan bahwa ada data kuantitatif (seperti, survei) dan data kualitatif (seperti, wawan-cara) yang dicampur dalam penelitian. Kedua jenis data ini di-kumpulkan selama periode tiga tahun. Artinya, penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian triangulasi atau konkuren. Alasan dipilihnya metode triangulasi atau konkuren ini memang tidak di-sertakan dalam tujuan penelitian di atas, namun ia telah disajikan pada bagian selanjutnya, dalam pembahasan metode survei dan wawancara. Dalam bagian metode survei dan wawancara inilah di-dapati pernyataan bahwa "wawancara juga digunakan untuk meng-eksplorasi lebih detail variabel-variabel yang sudah dianalisis dan untuk mengtriangulasi hasil penelitian berdasarkan data kuantitatif dan data kualitatif" (Hossler & Vesper, 1993:146)

165

Contoh 6.9 Tujuan Penelitian Metode Campuran Sekuensial Ansorge, Creswell, Swidler, dan Gutmann (2001) meneliti penggunaan laptop iBook di tiga kelas Metoae Pendidikan Guru. Laptop ini memungkinkan mahasiswa untuk belajar di meja mereka masing-masing dan mernanfaatkannya untuk login secara langsung ke dalam website-website yang direkomendasikan oleh instruktur. Tujuan

penelitiannya adalah sebagai berikut : Tujuan penelitian metode campuran sekuensial ini adalah per-tama-tama untuk mengeksplorasi dan membuat tema-tema utama tentang penggunaan laptop iBook di kelas Metode Pendidikan Guru dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara langsung. Kemudian, dari tema-tema tersebut, dibuatlah instrumen penelitian untuk menyurvei cara penggunaan laptop oleh para mahasiswa dalam beberapa kondisi. Alasan digunakannya data kualitatif dan ddta kuantitatif ini disebabkan survei terhadap.pengalaman mahasiswa dapat dilakukan dengan lebih baik hanya jika eksplorasi terhadap cara penggunaan laptop oleh mahasiswa terlebih dahulu diterapkan.

Tujuan penelitian di atas ditulis dengan judul "Tujuan." Tujuan penelitian tersebut sudah menyebutkan jenis rancangan metode campuran yang digunakan (rancangan sekuensial). Hal ini diperkuat karena di dalamnya berisi elemen-elemen dasar dari tahap pertama ' (kualitatif) yang ditindaklanjuti oleh tahap kedua (kuantitatif). Tujuan penelitian di atas juga menyertakan informasi mengenai dua strategi pengumpulan data dan diakhiri dengan alasan digunakannya dua bentuk data dalam rancangan metode campuran sekuensial. Contoh 6.10 Tujuan Penelitian Metode Campuran Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman umum tentang bagaimana keadilan dan kesetaraan gender dipersepsikan oleh perernpuan dan laki-laki Swedia. Tujuan karya tulis ini adalah untuk rneneliti pentingnya pemanfaatan waktu, surnber daya-surnber daya individu, keadilan distributif, dan ideologi gender bagi terbentuknya persepsi positif masyarakat Swedia tentang kejadilan dan kesetaraan gender. (Nordenmark & Nyman, 2003: 185)

166

Seperti yang sudah kita baca, kutipan di atas diawali dengan pernyataan tentang maksud penelitian dan ditulis di akhir pen-dahuluan. Kutipan tersebut mengetengahkan persoalan kesetaraan gender sebagai isu utama. Sebelum kutipan di atas, pembaca disajikan satu informasi bahwa orang-orang Swedia ternyata memiliki tujuan politis terkait dengan kesetaraan gender ini, di mana "ke-seimbangan kerja dan kekuasaan antara pria dan wanita seolah-olah dieliminasi" (Nordenmark & Nyman, 2003: 182). Para penulisnya juga menunjukkan dua jenis data yang dikumpulkan (yaitu, survei dan wawancara), dan setelah kutipan di atas, mereka juga menjelaskan mengapa dua jenis data ini digabungkan (yaitu, untuk saling melengkapi satu sama lain). Artinya, penelitian metode campuran ini dilaksanakan berdasarkan strategi konkuren. Selain itu, tujuan penelitian di atas juga sudah menyebutkan variabel-variabel kuanti-tatif yang saling berhubungan dalam penelitian. Uniknya, di bagian-bagian selanjutnya dalam artikel ini, pembaca akan mengetahui bahwa variabel-variabel ini ternyata ditulis dalam bentuk pertanya-an-pertanyaan kualitatif. Meski demikian, para pen1 llisnya bisa saja lebih eksplisit dalam menjelaskan prosedurprosedur kuantitatif dan kualitatifnya, serta jenis strategi metode campuran yang digunakan. Dalam kutipan di atas juga tidak disebutkan bagaimana penelitian ini akan turut mem-bantu menciptakan kesetaraan gender di lingkungan masyarakat Swedia. Meski demikian, di bagian akhir karya tulisnya, mereka sudah menegaskan bahwa tidak menu tup kemungkinan muncul tujuan-tujuan, pemikiran-pemikiran, dan perilaku-perilaku yang saling kontradiktif yang berimplikasi terhadap kesetaraan gender di Swedia, dan karena inilah mereka mengharapkan adanya penelitian lanjutan terhadap keadilan dan kesetaraan gender dengan metode survei skala-luas.

RINGKASAN Bab ini menjelaskan pentingnya tujuan penelitian yang menjadi gagasan utama dilakukannya suatu penelitian atau studi. Dalam menulis tujuan penelitian kualitatif, peneliti perlu menegaskan feno-mena utama yang diteliti dan menyajikan definisi tentatif ten tang fenomena tersebut. Selain itu, peneliti juga perlu menggunakan kata-kata tindakan seperti mengamati, mengetribangkan, atau mernahami, menggunakan bahasa tidak langsung, dan memperjelas strategi penelitian, para partisipan penelitian, dan lokasi penelitian. Dalam tujuan penelitian kuantitatif, peneliti menegaskan teori yang akan diuji dan variabel-variabel yang akan dihubungkan atau diperbandingkannya. Peneliti juga perlu menempatkan variabel bebas di urutan pertama (bagian kiri) dan variabel terikat di urutan kedua (bagian kanan). Selain itu, peneliti harus menyatakan secara jelas strategi penelitian yang
167

hendak diterapkan serta para partisipan dan lokasi penelitiannya. Dalam beberapa hal, peneliti juga dapat mendefinisikan variabel-variabel kunci yang digunakan dalam penelitian. Dalam tujuan penelitian metode campuran, jenis strategi harus dinyatakan secara jelas: apakah data penelitian dikumpulkan secara konkuren atau sekuensial, dan alasan/rasionalisasi dignnakannya strategi tersebut. Selebihnya, karena ini penelitian metode campuran maka beberapa elemen dalam tujuan penelitian kuantitatif dan kuali-tatif juga harus disertakan. Latihan Menulis 1. Dengan merujuk pada sejumlah contoh tujuan penelitian kualitatif yang sudah disajikan dalam bab ini, buatlah satu tujuan penelitian dengan mengisi ruang-ruang kosong di dalamnya. Pastikan tujuan ini ringkas

LATIHAN MENULIS

dan jelas. Tulislah tidak lebih dari sepertiga halaman. 2. Dengan merujuk pada beberapa contoh tujuan penelitian kuantitatif, tulislah satu saja tujuan penelitian. Seperti biasa, pastikan tulisan Anda singkat, tidak lebih dari sepertiga halaman 3. Dengan merujuk pada beberapa contoh tujuan penelitian metode campuran, tulislah satu saja tujuan penelitian. Pastikan Anda menyertakan alasan dicampurnya data kuantitatif dan data kualitatif, selebihnya Anda bisa menerapkan elemen-elemen kunci dalam tujuan penelitian kuantitatif dan kualitatif kan sebelumnya. sebagaimana yang telah dijelas-

BACAAN TAMBAHAN Marshall, C, & Rossman, G.B. (2006). Designing Qualitative Research. Edisi keempat. Thousand Oaks, CA: Sage. Dalam buku ini, Catherine Marshall dan Gretchen Rossman membahas di antaranya mengenai tujuan penelitian. Tujuan penelitian, menurut Marshall dan Rossman, lazimnya disertai dengan pembahasan singkat mengenai topik penelitian dan sering kali ditulis dalam satu atau dua kalimat. Tujuan penelitian menjelaskan kepada pembaca hasil-ttasil apa saja yang ingin dicapai oleh peneliti. Peneliti harus menulis tujuan penelitian secara eksploratif, ekplanatoris, deskriptif, dan emansipatoris. Peneliti juga perlu menyertakan unit analisis (seperti, individuindividu atau kelompok-kelompok) dalam tujuan penelitiannya.

168

Creswell, J.W., & Piano Clark, V.L. (2007). Designing and Conducting Mixed Methods Research. Thousand Oaks, CA: Sage. John W. Creswell dan Vicki L. Piano Clark menulis buku peng-antar tentang penelitian metode campuran. Di dalamnya, mereka membahas proses-proses penelitian dengan metode campuran; mulai dari menulis pendaehuhian, mengumpulkan data, menganalisis data, menafsirkan data, serta menulis hasil penelitian. Mereka juga me-nyajikan empat cqntdh jenis penelitian metode campuran serta panduan-panduan umum dalam menulis tujuan penelitian berdasar-kan contoh-contph tersebut. Wilkinson, AJNC (1991).; The Scientist's Handbook for Writing Papers andfiissertatkms. Englewood Cliff, NJ: Prentice Hall. Antoinette Wilkinson menyebut tujuan penelitian dengan istilah "sasaran langsung penelitian" (immediate objective of the study). Dia menyatakanbahwa tujuan penelitian ditulis untuk menjawab rumus-an masalah. Lebih lanjut, tujuan penelitian harus disajikan dalam bagian pendabAiluan, meskipun tujuan ini bisa saja secara implisit dinyatakan di bagian mana pun. Jika ditulis secara eksplisit, tujuan penelitian sbaiknya ditulis di bagian akhir pendahuluan saja, atau diletakkan berdampingan atau di pertengahan pendahuluan, tergantung pada bagaimana bagian pendahuluan itu disusun oleh peneliti.

169

BabTujuh

Rumusan Masalah dan Hipotesis Penelitian


Peneiiti seyogianya menyajikan rarnbu-rambu yang dapat me-nuntun pembaca melewati semua tahap penelitian. Rambu pertama adalah tujuan penelitian yang menjadi petunjuk utama sebuah penelitian. Dari tujuan penelitian ini, peneliti mulai memper-sempit fokus penelitiannya dengan menyajikan rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Bab tujuh ini akan menjelaskan sejumlah prinsip dan panduan dalam merancang rumusan masalah penelitian kualitatif, rumusan masalah dan hipotesis penelitian kuantitatlf, serta rumusan masalah penelitian metode campuran.

RUMUSAN MASALAH KUALITATIF Dalam penelitian kualitatif, peneliti menyatakan rumusan masalah, bukan sasaran penelitian (seperti, hasil-hasil akhir yang ingin diperoleh dalam penelitian) ataupun hipotesis-hipotesis (seperti, prediksi-prediksi yang melibatkan variabel-variabel dan pengujian-pengujian statistik). Rumusan masalah untuk penelitian kualitatif

mengandaikan dua bentuk: satu rumusan masalah utama danbebe-rapa subrumusan masalah spesifik. Rumusan masalah utama mempakan pertanyaan umum tentang konsep atau fenomena yang diteliti. Peneliti mengajukan pertanyaan ini sebagai masalah umum yang tidak dimaksudkan untuk mem-batasi penelitian. Untuk membuat pertanyaan seperti ini y cobalah bertanya: "Apa pertanyaan terluas yang bisa say a ajukan terkait dengan penelitian ini?" Peneliti pemvila yang dilatih dalam penelitian kuantitatifbiasanya akan kesulitan untuk menerapkan pendekatan ini karena mereka terbiasa dengan pendekatan sebaliknya: meng-identifikasi rumusan masalah yang spesifik atau hipotesis-hipotesis yang didasarkan pada variabel-variabel yang sangat terbatas. Sebaliknya, penelitian kualitatif bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor kompleks yang berada di sekitar fenomena utama dan me-ny ajikan perspekuf-perspektif atau makna-makna yang beragam dari para partisipan. Berikut ini saya sajikan beberapa petunjuk bagai-mana menulis rumusan masalah atau pertanyaan umum dalam penelitian kualitatif:

170

Ajukanlah satu atau dua pertanyaan utama (rumusan masalah) yang diikuti oleh lima hingga tujuh subpertanyaan. Subpertanyaan-sub-pertanyaan ini harus sesuai dengan rumusan masalah dan mem-peisempit fokus penelitian, tetapi tetap membuka diri akan kemungkinan-kemungkinan lain. Miles dan Huberman (1994) merekomendasikan agar peneliti menulis tidak lebih dari dua belas pertanyaan penelitian kualitatif, baik itu pertanyaan utama (rumusan masalah) maupun subpertanyaan-subpertanyaan. Sebaliknya, subpertanyaan-subpertanyaan bisa

dibuat menjadipertanyaan-pertanyaan spesifik untuk digunakan selama xvawancara (atau obser-vasi, atau ketika proses dokumentasi). Dalam membuat protokol atau panduan wawancara, misalnya, peneliti dapat mengajukan pertanyaan ice breaker di awal wawancara, yang kemudian di-lanjutkan dengan lima subpertanyaan (lihat Bab 9). Wawancara ini kemudian bisa diakhiri dengan pertanyaan penutup, seperti yang pernah saya lakukan dalam salah satu penelitian studi kasus saya: "Pertanyaan terakhir, siapa yang bisa saya hubungi untuk mempelajari lebih jauh tentang topik ini?" (Asmussen & Creswell, 1995). Kaitkanlah pertanyaan utama (rumusan masalah) dengan strategi penelitian kualitatif'tertentu. Misalnya, spesifikasi rumusan masalah dalam penelitian etnografi berbeda dengan rumusan masalah dalam strategi-strategi penelitian kualitatif yang lain. Dalam penelitian etnografi, Spradley (1980) mengajukan taksonomi rumusan masalah etnografis terkait dengan sekelumit kisah komunitas culture-sharing, pengalaman-pengalaman mereka, penggunaan bahasa asli, perbedaan-perbedaan mereka dengan kelompok-kelompok kultural lain, dan rumusan masalah tambahan untuk menverifikasi keakuratan data. Dalam etnografi kritis, rumusan masalah bisa saja dibuatberdasarkan literatur-literatur yang ada. Rumusan masalah ini, biasanya lebih berupa petunjuk-petunjuk kerja ketimbang kebenaran-kebenaranyang haruc

dibuktikan (Thomas, 1993:35). Sebaliknya, dalam fenomenologi, rumusan masalahnya bisa dinyatakan secara luas tanpa harus merujuk pada literatur-literatur. Moustakas (1994) membahas satu rumusan masalah tentang peristiwa apa saja yang dialami partisipan dan dalam situasi apa mereka mengalami peristiwa itu. Contoh rumusan masalah fenomenologi adalah: "Bagaimana kehidupan seorang ibu jika satu anak remajanya meninggal karena kanker?" (Nieswiadomy, 1993: 151). Dalam grounded theory, rumusan masalahnya bisa diarahkan menuju upaya menciptakan teori baru tentang proses-proses tertentu, seperti mengajukan rumusan masalah untuk menciptakan teori tentang

171

interaksi antara pasien dan dokter di rumah sakit. Dalam penelitian studi kasus, rumusan masalahnya bisa diarahkan untuk mendesknpsikan suatu kasus dan kecenderungankecenderungan tertentu. Awalilah rumusan masalah peneliticm Anda dengan kata-kata "apa" atau "bagaimana" untuk meniinjukkan keterbukaan penelitian Anda. Kata bagaimana sering kali menyiratkan bahwa penelitian tengah berusaha menjelaskan mengapa sesuatu muncul. Kata ini memang menuntut adanya jawaban sebab-akibat yang lebih berhubungan dengan penelitian kuantitatif. Hanya saja, dalam penelitian kuali-tatif, kata itu mencerminkan pemikiran yang lebih terbuka. Fokuslah pada satu fenomena atau konsep utama. Suatu penelitian memang bisa berkembang dari waktu ke waktu; ada kemungkin-an banyak faktor lain yang muncul dan memengaruhi fenomena tersebut, tetapi cobalah memulai penelitian Anda dengan satu fenomena utama untuk dieksplorasi secara detail. Gunakanlah verba-verba eksploratif sesuai dengan jenis strategi kualitatif yang Anda terapkan. Verba-verba ini seyogianya mengajak pembaca untuk memahami bahwa penelitian Anda: 1. Menemukan (grounded theory). 2. Berusaha memahami (etnografi). 3. Mengeksplorasi suatu proses (studi kasus). 4. Mendeskripsikanpengalaman-pengalaman (fenomenologi). 5. Menyajikan cerita-cerita (penelitian naratif).

Karena ini penelitian kualitatif maka gunakanlah verba-verba eksploratoris berupa kata-kata tidak langsung (nondirectional words) ketimbang kata-kata langsung (directional words), seperti "berdampak "merientukan," "menyebabkan," dan "menghubungkan." pada, "memengaruhi,"

Upayakan rumusan masalah Anda terus berkembang dan berubah selama penelitian berlangsung, namun tetap konsisten dengan asumsi-asumsi dasar rancangan penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif, rumusan masalah sering kali didasarkan pada revieiv atau reformulasi secara terus-menerus (seperti dalam penelitian bagi grounded theory). Pendekatan yang sudah ini mungkin terbiasa saja

problematis

individu-individu

dengan

172

rancangan

kuantitatif,

di

mana

rumusan

masalah

harus

fixed

sepanjang penelitian. Gimakanlah rumusan masalah yang open-ended (terbuka), tanpa perlu merujuk pada literatur atau teori tertentu, kecualijika ada strategi ' penelitian kualitatif yang menganjurkan hal itu. Rinicilah para partisipan dan lokasi penelitian, itu pun jika sebelumnya

informasi mengenai keduanya belum dijelaskan.

Di bawah ini, salah satu model bagaimana menulis rumusan masalah kualitatif: .............................. (bagaimana atau apa) ("cerita tentang" untuk penelitian

naratif; "makna dari" untuk penelitian fenomenologi; "teori yang menjelaskan proses" untuk penelitian grounded theory; "kecenderungan culture-sharing" untuk penelitian etnografi; "isu" dalam "kasus" untuk penelitian studi kasus)....(fenomena utama) dengan ..... (partisipan penelitian) di..... (lokasi penelitian). Berikut ini, kutipan sejumlah rumusan masalah kualitatif dari strategi-strategi penelitian yang berbeda-beda.

Contoh 7.1 Rumusan Masalah Kualitatif dalam Etnografi Finders (1996) menggunakan prosedur-prosedur etnografi uhtuk

mendokumentasikan kecenderungan membaca majalah-majalah remaja oleh siswa siswi kelas 1 SMP Amerika yang berekonomi kelas-menengah. Finders berusaha mengeksplorasi bagaimana sis'wi-siswi tersebut memersepsi.dan mengkonstruksi peran sosiaf dan pergaulan mereka saat mereka masuk ke SMP dengan cara meneliti kecenderungan mereka dalam membaca majalah-majalah remaja. Finders meng-ajukan satu rumusan masalah utama dalam penelitiannya: Bagaimana para remaja putrj membaca buku-buku yang menyajikan realisme fiksi? (Rnders, 1996: 72)

173

Rumusan masalah Finders (1996) ini dimulai dengan kata bagaimana, menggunakaan verba terbuka, membaca; fokus pada satu konsep utama, literatur atau majalah remaja; dan menyebutkah para partisipannya, remaja-remaja putri, sebagai kelompok culture-sharing. Perhatikan bagaimana Finders membuat rumusan masalah yang ringkas dan padat ini untuk nantinya dijawab dalam penelitiannya. Rumusan masalahnya adalah pertanyaan luas yang memungkinkan Finders menyingkap pola-pola aiau kecenderungan-kecenderungan siswi SMP membaca majalah remaja.

Contoh 7.2 Rumusan Masalah Kualitatif dalam Studi Kasus Padula dan Miller (1999) melakukan studi kasus untuk mendeskripsikan pengalaman para mahasiswi program doktrol psikologi di salah satu universitas research Midwestern yang ingin kembali bersekolah, setefah beberapa lama mereka kuliah di universitas. Tujuannya untuk mendokumentasikan pengalaman para mahasiswi ini berdasarkan perspektif "perempuan" feminis dan gender. Padula dan Miller mengajukan tiga rumusan masalah utama dalam penelitiannya: (1) Bagaimana paYa mahasiswi program doktora psikologi mendeskripstkan keputusan mereka untuk kembali bersekolah? (2) Bagaimana para mahasiswi program doktoral psikologi mendeskripstkan pengalaman mereka, ketika sudah mulai bersekolah kembalf? Dan (3) Bagaimana sekembalinya mereka dari seKotah ini mengubah kehidupan mereka? (Padula & Miller, 1999: 328)

Tiga rumusan masalah ini, semuanya diawali dengan kata bagaimana, menggunakan verbaverba yang terbuka, seperti mende-kripsikan; dan fokus pada tiga aspek pengalaman psikologis kembali ke sekolah, masuk kembali, dan mengubah. Ketiganya juga_me-nyebutkan secara jelas para partisipan, yaitu mahasiswi-mahasiswi program doktoral di salah satu universitas research Midwestern.

RUMUSAN MASALAH DAN HIPOTESIS PENELITIAN KUALITATIF Dalam penelitian kuantitatif, peneliti menyajikan rumusan masalah dan hipotesis penelitian, terkadang sasaran penelitian juga. Rumusan masalah ini biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan antara variabel-variabel yang akan dianalisis oleh
174

peneliti. Rumusan masalah pada umumnya digunakan dalam penelitian ilmu sosial dan lebih khusus dalam penelitian survei. Di sisi lain, hipotesis kuantitatif merupakan prediksi-prediksi yang dibuat peneliti tentang hubungan antarvariabel yang ia harapkan. Hipotesis ini biasanya berupa perkiraan numerik atas populasi yang dinilai berdasarkan data sampel penelitian. Menguji hipotesis berarti me-nerapkan prosedur-prosedur statistik di mana di dalamnya peneliti mendeskripsikan dugaan-dugaannya terhadap populasi tertentu berdasarkan sampel penelitian. Hipotesis sering kali digunakan dalam penelitian eksperimen yang di dalamnya peneliti memban-dingkan kelompok-kelompok (groups). Para pembimbing biasanya

merekomendasikan penggunaan hipotesis ini hanya untuk pene-litian-penelitian formal, seperti disertasi atau tesis, guna memperjelas ke mana penelitian-penelitian tersebut diarahkan. Selain rumusan masalah dan hipotesis, ada pula sasaran kuantitatif. Sasaran ini mengindikasikan tujuan jangka panjang yang ingih dicapai. Sasaran kuantitatif banyak dijumpai dalam proposal-proposal permohonan dana, tetapi jarang digunakan dalam penelitian-penelitian ilmu social dan kesehatan de wasa ini. Untuk itulah, f okus kita hanya pada rumusan masalah dan hipotesis penelitian. Berikut ini adalah contoh rumusan masalah kuantitatif: Apakah ...... (nama teori) dapat menjelaskan hubungan antara .............. (variabel bebas) dan

.................. (variabel terikat), yang dipengaruhi pula oleh ................. (variabel control)? Sementara untuk contoh hipotesis kuantitatif dapat berupa seperti ini (hipotesis nol): Tidak ada perbedaan signifikan antara .......... (kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalam variabel bebas) terhadap..................... (variabel terikat). Berikut ini, disajikan sejumlah petunjuk dalam menulis rumusan masalah dan hipotesis kuantitatif yang baik: Variabel-variabel dalam rumusan masalah atau hipotesis biasanya hanya digunakan dengan tiga pendekatan dasar. Pertama, peneliti membandingkan kelompok-kelompok dalam variabel bebas untuk melihat dampaknya terhadap variabel terikat. Kedua, penelitimenghubungkan satu atau beberapa variabel bebas dengan satu atau beberapa variabel terikat. Ketiga, peneliti mendeskripsikan respons-respons terhadap variabel bebas, variabel mediate, atau variabel terikat. Kebanyakan penelitian kuantitatif menggunakan salah satu atau lebih dari tiga pendekatan ini. Salah satu hal yang paling sering muncul dalam penelitian kuantitatif adalah pengujian terhadap suatu teori (lihat Bab 3) dan spesi-fikasi rumusan masalah atau hipotesis yang berhubungan dengan teori tersebut.
175

Variabel bebas dan variabel terikat harus diukur secara terpisah. Prosedur ini sekaligus memperkuat logika sebab-akibat dalam penelitian kuantitatif. Untuk mengurangi "kelebihan muatan", tulislah hanya rumusan masalah atau hipotesis saja, tidak kedua-duanya, kecuali jika hipotesis tersebut dibuatberdasarkan rumusan masalah (mengenai hal ini, akan dijelaskan kemudian). Pilihlah satu pola rumusan masalah atau hipotesis berdasarkan tradisi atau rekomendasi dari pembimbing atau pihak fakultas, atau berdasarkan ada tidaknya prediksi akan hasil penelitian dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Jika hipotesis yang digunakan, ada dua bentuk: hipotesis nol dan hipotesis alternatif. Hipotesis nol merepresentasikan pendekatan tradisional: ia membuat suatu prediksi yang menyatakan tidak ada satu pun hubungan atau perbedaan signifikan antara kelom-pokkelompok dalam variabel penelitian. Pernyataan untuk hipotesis nol bisa berupa: "Tidak ada perbedaan (atau hubungan)" antara kelornpok-kelompok. Berikut ini, salah satu contoh hipotesis nol

Contoh 7.3 Hipotesis Nol Seorang peneliti mengamati tigas jenis penguatan (reinforcement) bagi anak-anak autis, yaitu isyarat-isyarat verbal, reward dan tanpa penguatan. Peneliti tadi mengumpulkan informasi mengenai perilaku anak-anak autis yang nantinya dapat dijadikan instrumen pengukuran untuk menganlisis interaksi sosial mereka dengan saudara-saudara mereka. Hipotesis nol untuk penelitian ini bisa berupa : Tidak ada perbedaan signifikan antara isyarat verbal, reward dan tanpa penguatan terhadap interaksi sosial antara anak-anak autis dan saudara-saudara mereka

Hipotesis kedua, yang banyak dijumpai dalam artikel-artikel jurnal;-adalah hipotesis alternatif atau hipotesis direksional. Peneliti m^mbuat suatu prediksi atas hasil yang diharapkan. Predjkstini bjasanya berasal dari literatur-literatur atau peneMan-penelitiajfiL set>eltunnya yang pen\ah menyatakan kemungkinan hasil tersebut. Misalnya, peneliti dapat memprediksikan bahwa "Nilai Kelompbk A akan lebih tinggi ketimbang Kelompok B" dalam yariabel terikat; atau, bahwa "Kelompok A akan lebih banyak berubah ketimbang Kelompok B" dalam outcome yang diharapkan. Contoh-contoh berikut mengilustrasikan

176

hipotesis direksional ini karena outcome yang diharapkan (seperti, lebih tinggi, lebih banyak berubah, dan sebagainya) juga disertakan di dalamnya. Contoh 7.4 Hipotesis Direksional (1989) meneliti perbedaan antara jenis-jents keperriilikan

Mascarenhas

perusahaan (milik riegara, publik, dan swasta) dalam Industrioffshore drilling (pengeboran jauh dari paritai). Secara khustis, perbedaan-perbedaan yang dieksplbrasi menyangkut soal dominasi market domestik, jangkauan internasional, dan orientasi kostumer antara ketiga jenis perusahaan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan terkontroi (control field study} dengan prosedur kuasi-eksperimehtai Hipotesis 1: Perusahaan-perusahaan publik akan rnemiliki rata-rata pertumbuhan yang lebih besar ketimbang perusahaan-perusahaan swasta. Hipotesis 2: Perusahaan-perusahaan publik akan rnemiliki jangkauan internasional yang lebih luas ketimbang perusahaan-perusahaan milik negara dan swasta. Hipotesis 3: Perusahaan-perusahaan rnilik riegara akan rrie-miiiki share yang lebih luas dalam market domestik ketimbang perusahaan-psrusahaan publik dan swasta. Hipotesis 4: Perusahaan-perusahaan publik akan memiliki jaringan produk yang lebih luas ketimbang perusahaan-perusahaan rnilik negara dan swasta. Hipotesis 5: Perusahaan-perusahaan milik negara kemungkinan akan lebih banyak membangun BUMN-BUMN di seberang lautan untuk menjaring kostumer yang lebih luas. Hipotesis 6: Perusahaan-perusahaan milik negara akan memiliki jumlah kostumer yang lebih stabil ketimbang perusahaan-perusahaan swasta. Hipotesis 7: Meskipun tidak terlalu tampak, perusahaan-perusahaan publik sepertinya akan menerapkan teknologi yang lebih canggih ketimbang perusahaan-perusahaan milik negara dan swasta. (Mascarenhas, 1989: 585-588

Jenis lain dari hipotesis alternatif adalah hipotesis nondireksional: suatu prediksi dibuat, namun bentuk perbedaan-perbedaannya (seperti, lebih besar, lebih lemah, lebih banyak, kurang, dan se-bagainya) tidak secara eksak dirinci karena si peneliti tidak menge-tahui apa yang diprediksikan dari literatur-literatur sebelumnya. Untuk itu, peneliti yang menggunakan hipotesis ini kemungkinan akan menulis: "Ada perbedaan" antara dua
177

kelompok. Berikut ini, salah satu contoh yang menggabungkan dua jeni hipotesis tersebut (direksional dan nondireksional). Contoh 7.5 Hipotesis Nondireksional dan Direksional Terkadang hipotesis-hipotesis direksional dibuat untuk meneliti hubungan antara variabel=variabel ketimbang membandingkan kelompok-kelompok. Misalnya Moore (2000) meneliti makna identitas gender wanita Yahudi dan Arab yang religius dan sekuler di lingkungan Israel. Dengan sampel probabilitas berskala nasional yang terdiri dari wnita Yahudi dan Arab lingkungan Israel, Moore mngidentifikasikan tiga hipotesis untuk penelitiannya. Hipotesis pertama bercirinondireksional, sedangkan dua hipotesis terakhir berciri direksional. Ht: Identitas gender Wanita Arab dan Yahudi yang religius dan sekuler sangat berkaitan dengan tatanan masyarakat sosio-politik yang berbeda-beda yang turut merefleksikan sistem nilai mereka yang berbeda-beda pula. H2: Wanita religius dengan identitas gender yang prominen kurang aktif secara sosio-politik ketimbang wanita sekuler dengan identitas gender yang juga prominen. H3: Hubunga.,0 antara identitas gender, religiusitas, dan penlaku sosial lebih lemah dalam komunitas wanita Arab ketimbang wanita Yahudi

Jika penelitian Anda menggunakan variabel-variabel demografis sebagai prediktorprediktornya, sebaiknya gunakanlah variabel-variabel nondemografis (seperti, sikap atau perilaku) sebagai vaxiabel bebas dan terikatnya. Bahkan, variabelvariabel demografis (seperti, umur, tingkat pemasukan, level pendidikan, dan sebagainya) bisa saja Anda gunakan sebagai variabel-variabel intervening (atau mediate atau moderate) sebagai ganti dari variabel-variabel bebas.

Gunakanlah pola urutan kata-kata yang konsisten dalain menulis rumusan masalah atau hipotesis penelitian agar pembaca mudah mengidentifikasi variabel-variabel utama. Hal ini mengharuskan peneliti untuk mengulang frasa-frasa kunci dan memosisikan variabel bebas di bagian pertama (bagian kiri) dan variabel terikat di bagian kedua (sebelah kanan), seperti yang sudah dibahas dalam Bab 6 tentang Tujuan Penelitian. Berikut ini, contoh susunan kata-kata dengan menyatakan variabel bebas terlebih dahulu, lalu variabel terikat.
178

Contoh 7.6 Penggunaan Standar Bahasa dalam Hipotesis 1. Tlidak ada hubungan antara fasilitas tambahan dan ketekunan akademik bagi para mahasiswi di bawah umur rata-rata. 2. Tidak ada hubungan antara dukungan keluarga dan ketekunan akademik bagi para mahasiswi di bawah umur rata-rata. 3. Tidak ada hubungan antara fasilitas tambahan dan dukungan keluarga bagi para mahasisvvi di bawah umur rata-rata

MODEL RUMUSAN MASALAH DAN HIPOTESIS DESKRIPTIF Salah satu model yang saya rekomendasikan dalam merancang rumusan masalah dan hjpotesis penelitian adalah dengan menulis rvtmusan masalah yang bersifat deskriptif (mendeskripsikan sesuatu) terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan menulis rumusan masalah dan hipotesis inferensial (memberikan dugaan-dugaan atas populasi tertentu berdasarkan sampel penelitian). Model rumusan masalah dan hipotesis ini mencakup variabel bebas dan variabel terikat. Dalam model ini, peneliti membuat rumusan masalah deskriptif, masing-masing untuk variabel bebas, variabel terikat, dan variabel intervening/control. Setelah menulis rumusan masalah deskriptif ini, peneliti bisa menyajikan rumusan masalah (atau hipotesis) inferensial yang menghubungkan variabel-variabel atau mem-bandingkan kelompok-kelompok. Berikut ini, contoh model rumusan masalah deskriptif dan inferensial.

Contoh 7.7 Rumusan Masalah Deskriptif dan Inferensial Untuk mehgiiustrasikan model rumusan masalah deskriptif dan , inferensial ini, anggap saja ada seorang peneliti yang tengah rnenganalisis hubungan antara keterampilan berpikir kritis (variabe! bebas yang .diukur berdasarkan instrumen tertentu) dan prestasi (variabel terikat yang dmkur berdasarkan level-level) siswa kelas delapan jurusan ilmu sosial di distnk sekolah metropolitan. Sebagai tindak lanjutnya, peneliti tersebut mendasarkan analisis ini pada variaber control, yaitu pengaruh prestasi siswa-siswa sebeiumnya di kelas ilmu sosial dan pendidikan orang tua. Jika mengikuti model yang sudah dijelaskan tadi, rumusan masalahnya bisa ditulis seperti berikut ini:

179

Rumusan Masalah Deskriptif : 1. Bagaimana' rata-rata keterampilan berpikir kritis para siswa? (Rumusan masalafi deskriptif yang fokus pada vanabel bebas). 2. Bagaimana level-level prestasi siswa di kelas ilmu sosial?(Rumusan masalah deskriptif yang fokus pada vanabel terikat). 3. Bagaimana level-level kualitas siswa sebelurnnya di kelas ilmu sosial? (Rumusan masalah deskriptif yang fokus pada variabel kontrol, yaknj prestasiTprestasj siswasebelumnya), 4. Bagaimana keberhasilan pendidikan orang tua? (Rumusan masalah deskriptif yang fokus pada variabel kontrpl yang lain, yakni keberhasilan pendidikan orang tua). Rumusan Masalah Inferensial 1. Apakah kemampuan berpjkir-kritis berpengaruh pada prestasi siswa? (Rumusan masalah inferensial yang rnenghubungkah variabel bebas dengan variabel tenkati. 2. Apakah kemampuan berpikir krijtis tierpengaruh pada prestasi 5iswa? Apakah pengaruh ini juga berasal dari kualitas-kualitas siswa-siswa sebelijmnya dan keberhasilan pendidikan orang tua? (Rumusan masalah inferensial yang

menghubungkan variabel bebas dan variabel terikat, yang juga melibatkan pengaruh-pengaruh dari dua variabel control).

Contoh di atas mengilustrasikan bagaimana menyusiin rumusan masalah secara deskriptif dan inferensial dalam konteks hubungan antarvariabel. Peneliti bisa saja membandingkan kelompokkelompok dalam variabel. Hanya saja, dalam rumusan masalah inferensialnya, bahasa yang digunakan mungkin akan sedikit berbeda. Anda juga bisa mengkreasikan sendiri rumusan masalah deskriptif dan inferensial dengan cara membuat sebanyak mungkin rumusan masalah yang menghubungkan variabel bebas dan variabel terikat. Akan tetapi, saya

merekomendasikan Anda untuk menggunakan model deskriptif-inferensial seperti di atas tadi. Contoh di atas juga mengilustrasikan bagaimana mendeskripsi-kan variabel-variabel dan menghubungkannya. Begitu pula, dalam struktur penulisannya, contoh di atas meletakkan variabel bebas di urutan pertama dan variabel terikat di urutan kedua, sedangkan variabel control di urutan ketiga. Tidak hanya itu, contoh di atas juga menggunakan informasi-informasi demografis (seperti, pendidikan orang tua dan prestasi siswa sebelumnya) sebagai variabel
180

control ketimbang sebagai variabel utama sehingga pembaca akan berasumsi bahwa rumusan masalah tersebut berasal dari suatu model teoretis tertentu.

RUMUSAN MASALAH DAN HIPOTESIS PENELITIAN METODE CAMPURAN Dalam buku^buku yang membahas mstode penelitian, peneliti biasanya tidak akan melihatpenjelasan mengenai rumusan masalah atau hipotesis yang spesifik yang memang didesain untuk rancangan metode campuran, Meski demikian, sudah banyak pembahasan mengenai aplikasi rumusan masalah metode campuran dan bagaimana merancang rumusan masalah ini (lihat Creswell & Piano Clark, 2007; Tashakkori & Creswell, 20&7). Penelitian metode Campuran seharusnya dimulai dengan rumusan masalah. yang memang dirancang khusus untuk penelitian metode campuran.Haliriidimaksudkari

untukmembentukmetode dan rancangan penelitian yang benar-benar sesuai dan utuh. Karena penelitian metode campufan sering kali bertumpu pada salah salu dari dua desain penelitian yang lain, yaitu kuantitatif atau kualitatif, maka kombinasi atas dua rancangan ini bisa jadi memberikan infor-masi yang berguna dalam membuat rumusan masalah dan hipotesis metode campuran. Dengan demikian, yang perlu dipikirkan adalah: seperti apa jenis-jenis rumusan masalah yang seharusnya disajikan dan kapan serta informasi'apa saja yang paling dibutuhkan dalam rumusan masalah untuk menunjukkan sifat penelitian metode campuran Rumusan masalah (atau hipotesis), baik yang didasarkan pada rancangan kualitatif maupun kuantitatif, harus sama-sama disajikan dalam penelitian metode campuran untuk mempersempit dan memfokuskan tujuan penelitian. Rumusan masalah atau hipotesis ini dapat diajukan diawal penelitian atau dibagian-bagian lain, tergantung tahap penelitian apa yang didahulukan. Misalnya, jika penelitiannya diawali dengan tahap kuantitatif, penelitisebaiknya memperkenalkan hipotesis terlebih dahulu. Nanti, dalam penelitian tersebut, ketika tahap kualitatif sudah mulai di-bahas, barulah peneliti memunculkan rumusan masalah kualitatif. Ketika menulis rumusan masalah atau hipotesis penelitian metode campuran, ikutilah petunjuk-petunjuk dalam bab ini tentang bagaimana menulis rumusan msalah dan hipotesis yang baik. Peneliti seharusnya juga memerhatikan susunan rumusan masalah dan hipotesis ini. Dalam penelitian metode campuran dua- tahap (sekuensial), rumusan masalah tahap pertama seharusnya diajukan terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh rumusan masalah tahap kedua sehingga pembaca bisa melihat rumusan-rumusan tersebut secara berurutan sebagai
181

acuan mereka ketika akan mem- baca keseluruhan penelitian. Untuk penelitian metode campuran satu-tahap (konkuren), rumusan masalah seharusnya disusun berdasarkan metode apa yang paling ditekankan dalam penelitian tersebut. Tulislah rumusan masalah penelitian metode campuran yang secara langsung menunjukkan adanya pencampuran {mixing) karakteristik-karakteristik penelitian kuantitatif dan kualitatif. Rumusan masalah inilah yang nan tiny a akan dijawab berdasarkan proses pencampuran tersebut (lihat Creswell & Piano Clark, 2007). Inilah rumusan masalah terbaru yang akhir-akhir ini banyak di- bahas dalam buku-buku metode penelitian. Tashakkori dan Creswell (2007: 208), misalnya, menyebut rumusan masalah iru sebagai rumusan masalah "hibrida" atau "terintegrasi". Rumusan masalah semacam ini dapat ditulis di awal penelitian maupun di bagian-bagian lain. Misalnya, dalam penelitian dua-tahap, rumusan masalah ini dapat diletakkan dalam pembahasan antara dua tahap tersebut. Rumusan semacam ini mengandaikan salah satu dari dua bentuk. Bentuk pertama adalah menuliskannya ketika peneliti tengah membahas metodologi atau prosedur-prosedur dalam penelitian (seperti, apakah data kualitatif dapat membantu menjelaskan hasil-hasil dari tahap penelitian kuantitatif sebclumnya?) (Lihat Creswell & Piano Clark, 2007). Bentuk kedua adalah menuliskannya ketika peneliti tengah membahas isi atau konten penelitian (seperti, apakah topik mengenai dukungan sosial dapat membantu menjelaskan mengapa beberapa siswa menjadi nakal di sekolah?) (lihat Tashakkori & Creswell, 2007). Pertimbangkan pula teknik-teknik lain yang berbeda: bahwa semua jenis rumusan masalah (baik itu kuantitatif, kualitatif, maupun metode campuran) bisa saja ditulis untuk keperluan penelitian metode campuran, misalnya: 1. Tulislah, secara terpisah dan sendiri-sendiri, rumusan masalah atau hipotesis kuantitatif dan rumusan masalah kualitatif. Semua rumusan masalah dan hipotesis ini bisa ditulis di awal penelitian atau di bagian-bagian lain ketika penelitian tersebut sampai pada tahap tertentu. Dengan teknik ini, berarti peneliti tengah menekankan penelitiannya pada dua pendekatan sekaligus (kuantitatif dan kualitatif), bukan pada metode campuran saja atau pada komponen integratif penelitian semata. 2. Tulislah, secara terpisah dan sendiri-sendiri, rumusan masalah dan hipotesis kuantitatif, rumusan masalah kualitatif, yang kemudian diikuti oleh rumusan masalah metode campuran. Teknik penulisan semacam ini menyisratkan

pentingnya dua tahap penelitian tersebut (kualitatif dan kuantitatif) serta kekuatan

182

kombinasi keduanya. Tidak mengherankan jika pendekatan semacam ini dianggap sebagai pendekatan yang paling ideal. 3. Tulislah hanya rumusan masalah metode campuran yang mencerminkan prosedurprosedur atau isi (atau, tulislah rumusan masalah metode campuran berdasarkan pendekatan prosedurai maupun isi), dan jangan menulis rumusan

masalah kuantitatif dan kualitatif secara terpisah. Pendekatan ini dapat meningkatkan cara pandang pembaca bahwa penelitian tersebut memang dimaksudkan untuk

mengintegrasikan atau menghubungkan secara ketat tahap penelitian kuantitatif dan kualitatif (artinya, jumlah/gabungan dari dua tahap ini kuantitatif dan kualitatif lebih besar ketimbang jumlah masing-masing dari keduanya). Contoh 7.8 Hipotesis dan Rumusan Masalah dalam Penelitian Metode Campuran Houtz (1995) melakukan penelitian metode campuran dua-tahap (sekuensial) dengan hipotesis dan rumusan masalah yang ditulis secara terpisah (antara kuantitatif dan kualitatif) di masing-masing bagian pendahuluan tahap tersebut. Penelitian mi mengana'isis perbedaanperbedagn antara strategi instruksional SNIP (nontradisio-nal) dan strategi instruksional SLTP (tradisional) bagi siswa-siswa kelas tujuh dan kelas delapan, juga prestasi-prestasi mereka dan sikap-sikap me-eka terhadap ilmu pengetahuan. Penelitian mi dilaksanakan ketika banyak sekolah berahh dan konsep dua-tahun SLTP menuju tiga-tahun SMP (yang mehputi kelas enam). Dalam penelitian dua-tahap ini, tahap pertama (kuantitatif) melibatkan penilaian pretest dan post-test terhadap penlaku-perilaku dan prestasi-prestasi siswa dengan menggunakan ska'a dan nilai ujian. Houtz kemudian me-ianjutkan hasil kuantitatif in1 dengan wawancara kualitatif bersama para guru ilmu sostal, kepala sekolah, dan konsultan-konsultan terkait. Tahap kedua sni rrterqbantu menjelaskan perbedaan-perbedaan dan petsamaan-persamaan. antara Qua strategi instruksional yang diper-ojefi'dan'tahap pertama tadi. Dengan penelitian kuantitatif d; tahap pertama, Houtz (1995: 630) menulis hipotesishipotesisnya sebagai benkut: PeneJitian mi didasarkan pada hipotesis bahwa tidak ada per-bedaan signifikan antara siswa di SMP (nontradisional) dan siswa di SLTP (tradisional) dalam hal sikap-sikap mereka terhadap ilmu pengetahuan sebagai maten pelajaran. Selain itu, dihipotesiskan pula bahwa tidak ada perbedaan signifikan anta~a siswa di SMP dan siswa di SLTP dalam hal prestasi keilmuan mereka Hipotesis-hipotesis di atas muncul di bagian pendahuluan tahap kuantitatif Setelah itu,
183

dalam tahap kualitatif, Houtz memuncunculkan tiga rumusan masalah untuk mengeksplorasi hasil-hasii Kuantitatif secara lebih mendalam. Rumusan masalah mi la jadikan sebagai bahan pertanyaan untuk mewawancarai guru ilmu sosial, kepala sekolah dan para konsultan universitas. Tiga rumusan masalah tersebut antara lain: Apa saja perbedaan antare strategi instruksional SMP dan strategi instruksional SLTP ketika sekolah ini berada dalam masa-masa transisi? Bagaimana masa-masa transisi ini memengaruhi perilaku dan prestasi keilmuan siswa Anda? Bagaimana perasaan para guru tentang proses yang berubah ini? (Houtz, 1995: 649) Dari penelitian metode campuran ini dapat kita lihat bahwa Houtz telah menyertakan hipotesis kuantitatif dan rumusan masaiah kualitatif di awal setiap tahap peneiitiannya, dan ia sudah menggunakan elemen-elemen yang tepat dalam menulis hipotesis dan rumusan masaiah tersebut. Dari hipotesis dan rumusan masaiah ini; Houtz (1995) sebenarnya bisa membuat sejenis rumusan masaiah metode campuran yang ia nyatakan berdasarkan perspektif procedural: Bagaimana interview dengan para guru, kepala sekolah, dan para konsultan universitas dapat membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan kuantitatif dalam hal prestasi siswasiswa SMP dan SLTP? Jika tidak, rumusan masaiah metode campurannya dapat ditulis berdasarkan orientasi isi, seperti berikut ini: Bagaimana pemikiran-pemikiran yang diungkapkan oleh para guru dapat membantu menjelaskan mengapa nilai siswa SMP lebih rendah ketimbang nilai siswa SLTP?

Contoh 7.9 Rumusan Masalah Metode campuran dalam Konteks Prosedur-prosedur Campuran Sejauh mana dan dalam hal apa wawancara kualitatif bersama para mahasiswa dan pihak fakultas turut menciptakan pemahaman yang lebih komprehensif tentang hubungan antara nilai SEEPT dan performa akademik siswa, meialui analisis metode campuran integratif? (Lee & Greene, 2007)

184

Rumusan masalah ini merupakan rumusan masalah metode campuran yang fokus pada tujuan dicampurnya dua tahap penelitian, yakni gabungan antara data kuantitatif dan wawancara kualitatif untuk melihat hubungan antara nilai dan performa siswa. Rumusan masalah di atas juga menekankan pada apakah penggabungan ini dapat membantu menciptakan pemahaman yang komprehertsif tentang topik penelitian. Di akhir penelitiannya, Lee dan Greene telah menyajikan petunjuk untuk menjawab pertanyaan ini.

RINGKASAN Rumusan masalah dan hipotesis berperan sebagai "rambu-ranribu" bagi pembaca dan untuk mempersempit tujuan penelitian. Para peneliti kualitatif seyogianya mengajukan sedikitnya satu rumusan masalah utama danbeberapa subrumusari masalah. Mereka harus mengawali rumusan masalahnya dengan kata-kala seperti bagaimana atau apakah dan menggunakan verba-verba eksploratoris, seperti mengeksplorasi atau mendeskripsikan. Selain itu, mereka harus menyajikan rumusan masalah yang umum dan luas yang memung-kinkan mereka mengeksplorasi gagasan-gagasan partisipan. Mereka juga harus fokus pada satu fenomena utama yang diteliti. Rumusan masalah dalam penelitian kualitatif juga harus menyebutkan partisipan dan lokasi penelitian. Sebaliknya, para peneliti kuantitatif bisa menulis rumusan masalah atau hipotesis saja. Kedua bentuk ini harus meliputi variabel-variabel yang dideskripsikan. dihubungkan,

dikategorisasikan ke dalam kelompok-kelompok perbandingan. Dua bentuk ini juga bisa meliputi variabel bebas dan variabel terikat yang diukur secara ter-pisah. Dalam beberapa penelitian kuantitatif, peneliti sering kali menggunakan rumusan masalah saja. Akan tetapi, untuk keperluan formal, hipotesis tidak jarang disertakan pula. Hipctesis merupakan prediksi atas hasilhasil penelitian. Hipotesis ini dapat berupa hipotesis alternatif yang memerinci hasil eksak yang diharapkan (lebih banyak atau lebih luas, lebih kuat atau lebih lemah, dan sebagainya) dan juga dapat berupa hipotesis nol yang mengindikasikan tidak adanya perbedaan atau hubungan signifikan antara kelornpok-kelompok dalam variabel terikat. Biasanya, peneliti menulis variabel bebas di urutan pertama, kemudian diikuti oleh variabel terikat di urutan kedua. Salah satu teknik penyusunan rumusan masalah dalam proposal kuantitatif adalah mengawalinya dengan rumusan masalah deskriptif, kemudian diikuti oleh rumusan masalah infe-rensial yang menghubungkan variabel-variabel atau membanding-kan kelompok-kelompok dalam variabel.

185

Bagi para peneliti metode campuran, saya merekomendasikan agar mereka membuat rumusan masalah metode campuran secara terpisah dalam penelitian mereka. Rumusan masalah ini dapat ditulis berdasarkan prosedur-prosedur atau isi penelitian, dan bisa diletak-kan dalam bagian yang berbeda-beda. Rumusan masalah untuk metode oampuran setidaknya juga harus menunjukkan pentingnya penggabungan atau pengombinasian elemen-elemen kuantitatif dan kualitatif. Sejumlah teknik dapat diterapkan untuk menulis rumusan masalah dengan metode campuran, antara lain: (1) menulis hanya rumusan masalah atau hipotesis kuantitatif (bukan keduanya) dan rumusan masalah kualitatif; (2) menulis rumusan masalah atau hipotesis kuantitatif dan rumusan masalah kualitatif yang diikuti oleh rumusan masalah metode campuran; atau (3) menulis hanya rumusan masalah metode campuran saja.

Latihan Menulis
1. Untuk penelitian kualitatif, tulislah salah satu atau dua rumusan masalah utama yang kemudian diikuti oleh lima hingga tujuh subrumusan masalah. 2. Untuk penelitian kuantitatif, tulisiah dua jenis rumusan masalah. Jenis rumusan pertama ditulis secara deskriptif tentang variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian. Jenis rumusan kedua ditulis secara inferensial yang menghubungkan (atau membandingkan) variabel bebas dan variabel terikat. Ikutilah model yang disajikan dalam bab ini tentang pengombinasian rumusan masalah deskriptif dan rumusan masalah inferensial. 3. Tulislah rumusan masalah metode campuran. Pertama-tama, tulislah rumusan tersebut sebagai rumusan masalah yang didasarkan pada prosedur-prosedur penelitian metode campuran, kemudian tulislah kembali rumusan tersebut berdasarkan pada isi penelitian. Berikan komentar tentang pendekatan mana yang paling tepat untuk Anda gunakan BACAAN TAMBAHAN Creswell, J.W. (1999). "Mixed-Method Research: Introduction and Application." dalam GJ. Cizek (ed.). Hcnulbook of Educational Policy. San Diego: Academic Press, (him. 455-472). Dalam bab ini, saya menjelaskan sembilan langkah dalam melaksanakan penelitian metode campuran, antara lain: 1. Pastikan, apakah masalah yang ingin Anda teliti memang mengharuskan dicampurnya dua metode penelitian yang berbeda.
186

LATIHAN MENULIS

2.

Pikirkan kemungkinan dan ketidakmungkinan dilaksanakannya penelitian metode campuran.

3. 4. 5.

Tulislah rumusan masalah kuantitatif dan rumusan masalah kualitatif. Tentukan jenis-jenis strategi pengumpulan data. Ukurlah bobot relatif dan strategi implementasi atas dua strategi (kuantitatif dan kualitatif) tersebut.

6. 7. 8. 9.

Sajikan model visualnya. Jelaskan bagaimana data akan dianalisis. Berikan kriteria-kriteria pasti untuk mengevaluasi penelitian. Buatlah rencana penelitian. Dalam menulis rumusan masalah, saya merekomendasikan kepada para peneliti agar

membuat jenis rumusan kualitatif dan kuantitatif di mana di dalamnya juga disebutkan strategi penelitian kualitatif yang digunakan Tashakkori, A., & Creswell, J.W. (2007). "Exploring the Nature of Research Questions in Mixed Methods Research." dalam Tim Editorial. Journal of Mixed Methods Research. 1(3). (him. 207-211). Tim editorial jurnal ini membahas penulisan dan sifat rumusan masalah dalam penelitian metode campuran. Jurnal ini menyoroti pentingnya rumusan masalah dalam proses penelitian dan membahas perlunya peiriahaman yang baik untuk menulis rumusan masalah metode campuran. Dalam jurnal ini pula, diajukan sebuah pertanyaan: "Bagaimana seseorang merancang rumusan masalah dalam penelitian metode campuran?" (him. 207). Tiga model kemudian disajikan: (1) menulis secara terpisah rumusan masalah kuantitatif dan rumusan masalah kualitatif; (2) menulis satu rumusan masalah untuk metode campuran yang dapat mewakili semuanya; dan (3) menulis rumusan masalah untuk masing-masing tahap penelitian (kuantitatif dan kualitatif) ketika penelitian tersebut tengah ditulis dan dilakukan. Morse, J.M. (1994). "Designing Founded Qualitative Research." dalam N.K. Denzin & Y. S. Lincoln (Ed.).- Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, CA: Sage. (him. 220-235). Janice Morse mengidentifikasi dan mendeskripsikan sejumlah persoalan dalam merancang proyek kualitatif. Dia membandingkan beberapa strategi penelitian kualitatif dan membuat kerangka atas jenis-jenis rumusan masalah yang digunakan dalam masing-

187

masing strategi tersebut. Untuk penelitian fenomenologi dan etnografi, rumusan masalahnya harus deskriptif dan mencerminkan usaha me-nyingkap makna. Untuk penelitian grounded theory, rumusan masalahnya harus membahas suatu proses, sedangkan dalam penelitian etnometodologi dan analisis wacana, rumusan masalahnya harus berhubungan dengan interaksi verbal dan dialog. Morse juga me-ngatakan bahwa rumusan masalah harus menegaskan fokus dan ruang lingkup penelitian Tuckman, B.W. (1999). Conducting Educational Research. Edisi kelima. Fort Worth, TX: Harcourt Brace. Bruce Tuckman menyajikan satu bab tentang bagaimana caranya membuat hipotesis-hipotesis. Dia mengidentifikasi asal mula hipotesis dalam teori deskriptif dan observasi induktif. Tuckman lebih jauh mendefinisikan dan mengilustrasikan hipotesis alternatif dan hipotesis nol serta mengajak pembaca merrahami bagaimana pro -sedurprosedur pengujian dua hipotesis ini

188

Bab Delapan

METODE-METODE KUANTITATIF
Bagi kebanyakan penulis proposal, bagian metode penelitian merupakan bagian proposal yang paling konkret dan spesifik. Untuk itulah, bab ini ditulis untuk menyajikan langkah-langkah penting dalam merancang metode-metode kuantitatif untuk proposal penelitian, dengan berfokus pada rancangan metode survei dan eks-perimen. Dua rancangan ini merefleksikan asumsi filosofis pospositivis, sebagaimana yang telah dibahas dalam Bab 1. Salah satu asumsi fiiosofis pospositivis adalah determinisme. Kaum determinis menegas-kan bahwa dalam metode survei dan eksperimen meneiiti hubung-an antara variabel-variabel merupakan syarat utama untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis sebuah penelitian. Daiam menganalisis hubungan antarvariabel, yang secara ketat dilakukan melalui analisis statistik, peneliti melakukan pengukuran atau observasi untuk menguji teori tertentu. Data objektif dihasilkan dari observasi dan pengukuran empiris. Validitas dan reiiabilitas skor dalam instrumeri-instrumen penelitian memandu peneliti untuk menginterpretasi data penelitian. Dengan menjelaskan relasi antara asumsi-asumsi ini dan prosedur-prosedur untuk menerapkan asumsi-asumsi tersebut, pembahasan dalam bab ini tidak secara komprehensif menyajikan metode-metode penelitian kuantitatif (survei dan eksperimen). Ada banyak sumber yang secara detail membahas penelitian survei (seperti, lihat Babbie, 1990,2007; Fink, 2002; Salant & Dillman, 1994). Untuk prosedur-prosedur eksperimen, sejumlah buku lama (seperti, Campbell & Stanley, 1963; Cook & Campbell, 1979) dan buku baru turut memperluas pembahasan-pembahasan yang disajikan dalam buku ini (seperti, Bausell, 1994; Boruch, 1998; Field & Hole, 2003; Keppel, 1991; Lipsey, 1990; Reichardt & Mark, 1998). Dalam bab ini, fokus pembahasannya hanyalah pada komponen-komponen penting yang harus disertakan oleh peneliti dalam bagian metode penelitian untuk proposal survei dan eksperimen. MENDEFINISIKAN RANCANGAN SURVEI DAN EKSPERIMEN Dalam rancangan survei, peneliti mendeskripsikan secara kuantitatif (angka-angka) kecenderungan-kecenderuiigan, perilaku-perilaku, atau opini-opini dari suatu populasi dengan meneliti sampel populasi tersebut. Dari sampel ini, peneliti melakukan generalisasi atau membuat klaim-klaim tentang populasi itu. Dalam rancangan eksperimen, peneliti juga
189

mengidentifikasi sampel dan melakukan generalisasi populasi. Akan telapi, tujuan utama rancangan eksperimen adalah untuk menguji dampak suatu treatment (atau suatu intervensi) terhadap hasil penelitian,. yang dikontrol oleh faktor-faktor lain yang dimungkinkan juga memengaruhi hasil tersebut. Misalnya, dalam rancangan eksperimen yang melibatkan kelompok kontrol, peneliti secara acak membagi (random assignment) individu-individu ke dalam kelompok-kelompok. Ketika satu kelompok menerima suatu treatment (kelompok eksperimen, penj.) dan kelompok lain (kelompok kontrol, penj.) tidak, peneliti eksperimen dapat memilah-milah mana yang termasuk treatment dan mana yang merupakan faktor-faktor lain namun turut memengaruhi outcome penelitian.

KOMPONEN-KOMPONEN RANCANGAN METODE SURVEI Untuk menulis bagian metcde survei dalam proposal penelitian, peneliti sebaiknya mengikuti format standar. Ada banyak sekali contoh format ini, seperti dalam jurnal-jurnal akademik, dan contoh-contoh ini pun sering menampilkan model-model yang patut diper-timbangkan. Berikut ini, akan disajikan sejumlah komponen yang sudah biasa muncul dalam penelitian survei. Akan tetapi, sebelum berencana untuk memasukkan komponen-komponen ini ke dalamproposal,

peneliti sebaiknya mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam checklist, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 8.1, sebagai panduan umum. Rancangan Survei Dalam proposal, salah satu komponen pertama dalam bagian metode penelitian adalah tujuan dasar atau alasan/rasionalisasi di-adakannya penelitian survei. Mulailah membahas bagian pertama ini dengan rciereview tujuan survei dan rasionalisasi atas pemilihan metode tersebut dalam penelitian yang Anda ajukan. Berikut ini, beberapa hal yang bisa Anda bahas dalam proposal, khususnya di bagian metode penelitian untuk rancangan survei:

Identifikasilah tujuan penelitian survei. Tuiuannya untuk menggeneralisasi populasi dari beberapa sampel sehingga dapat dibuat kesimpulankesimpulan/dugaan-dugaan sementara tentang karakteristik-karakteristik, perilaku-perilaku, atau sikap-sikap dari populasi tersebut (Babbie, 1990). Sajikan referensi mengenai tujuan ini dari

190

salah satu buku/literatur yang membahas metode survei (beberapa buku tersebut sudah saya tunjukkan dalam bab ini). Tunjukkan mengapa survei lebih dipilih sebagai jenis prosedur pengumpulan data dalam penelitian tersebut. Untuk rasionalisasi ini, pikirkanlah keunggulankeunggulan rancangan survei, seperti keekonomisan rancangan ini dan kecepatan dalam menyajikan data penelitian. Jangan lupa untuk membahas keuntungan-keuntungan mengidentifikasi sifat-sifat suatu populasi berdasarkan sekelompok kecil individu (sampel) (Babbie, 1990; Fowler, 2002). Pertegas apakah survei yang Anda tetapkan adalah survei lintas- bagian {crosssectional survey) dengan mengumpulkan data satu per satu dalam satu waktu, atau survei longitudinal (longitudinal survey) dengan mengumpulkan data secara kumulatif sepanjang waktu. Rincilah strategi pengumpulan data. Fink {2002) menunjukkan empat strategi pengumpulan data, antara lain: (1) kuesioner yang disusun sendiri (self-administered
questionnaires); (2) wawancara (interviews); (3) review catatan terstruktur (structured record review) untuk mengumpulkan informasi finansial, medis, atau sekolah; dan (4) observasi terstruktur (structured observation). Pengumpulan data juga bisa dilakukan dengan menerapkan survei berbasis website atau internet dan mengolahnya secara online (Nesbary, 2000; Sue & Ritter, 2007). Seperti apa pun data dikumpulkan, yang jelas, peneliti harus tetap rnenyajikan alasan/rasionalisasi digunakannya prosedur pengumpulan data tersebut dengan argumen-tasi-argumentasi yang didasarkan pada kekuatan dan kelemahannya, biaya (cost), ketersediaan data, dan kemudahan. Populasi dan Sampel Tenrukaniah karakteristik-karakteristik populasi dan prosedur sampling. Ada banyak pakar metodologi yang telah menulis buku-buku tentang logika dasar teori sampling (seperti, Babbie, 1990,2007). Berikut ini, aspek-aspek penting populasi dan sampel yang dapat dideskripsikan dalam proposal penelitian: Identifikasilah populasi dalam penelitian. Selain itu, nyatakan secara jelas besaran popuiasi ini; apakah besaran tersebut dapat ditentukan ataukah tidak, dan cara-cara pengidentifikasian individu-individu dalam populasi itu. Pertanyaan191

pertanyaan akses juga bisa ditulis di bagian ini, dan peneliti dapat menunjukkan ketersediaan kerangka-kerangka sampling surat atau daftar-daftarpara responden potensial dalam populasi tersebut. Perjelaslah apakah prosedur sampling untuk populasi ini menggunakan satu-tahap atau multi-tahap (yang sering dikenal dengan istilah clustering). Prosedur sampling multi-tahap atau clustering sampling adalah prosedur sampling yang ideal ketika peneliti merasa tidak mungkin mengumpulkan daftar semua elemen yang membentuk populasi (Babie, 2007). Prosedur sampling salu-tahap merupakan prosedur sampling yang di dalamnya peneliti sudah memiliki akses atas nama-nama dalam populasi dan dapat mensampling sejumlah individu (atau elemen-elemen) secara langsung

Tabel 8.1 Checkllist Pertanyaan-Pertanyaan untuk Merancang Metode Survei Apakah tujuan rancangan survei sudah dijelaskan secara rinci? Apakah alasan/rasionalisasi dipilihnya rancangan ini juga sudah disebutkan? Apakah sifat survei (cross-sectional atau longitudinal) sudah dipartegas? Apakah populasi dan besarnya populasi sudah dirinci? Apakah populasi tersebut akan distratifikasi (stratified sampling, penj.)? Jika iya, bagaimana caranya? Seberapa banyak orang yang akan dijadikan sampel? Didasarkan pada apa besaran sampel ini? Apa prosedur sampling yang akan diterapkan terhadap pcpulasi yang ada (apakah acaW random sampling atau non-acak/nonrandom sampling)? Instrumen apa yang akan digunakan dalam survei ini? Siapa yang membuat instrumen itu? Konten apa saja yang akan dijelaskan dalam survei ini? Skala-skalanya? Prosadur survei apa yang akan diuji terlebih dahulu di lapangan? Seberapa lama catatan waktu (timeline) untuk menyusun, mengolah, dan mengurus survei tersebut? Apa saja variabel-variabel dalam penelitian survei ini? Bagaimana variabel-variabel tersebut disilangkan (cross-reference) dengan pertanyaanpertanyaan dan item-item penelitian dalam rancangan survei ini? Langkah-langkah spesifik apa saja yang akan diambil dalam menganalisis data? Apakah: (a) Analisis return (hasil/keuntungan)?
192

(b) (c) (d) (e) (f)

Analisis bias respons (check for response bias)? Analisis deskriptif? Memasukkan item-item ke dalam skala-skala? Anaiisis reliabilitas skala-skaia? Menerapkan statistik inferensiai untuk menjawab rurriusan masalah? Bagaimana hasil-hasil ini diinterpretasikan?

Dalam prosedur multi-tahap atau clustering, peneliti terlebih dahulu menentukan kluster-kluster (kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi), lalu

mengidentifikasi nama-nama individu dalam setiap kluster, baru kemudian mensampling individu-individu tersebut.

Jelaskanlah proses pemilihan atas individu-individu. Saya me-rekoniendasikan agar Anda memilih sampel acak (random sample) di mana di dalamnya setiap individu dalam populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk dipilih (sering juga dikenal dengan istilah systematic sample atau probabilistic sample). Yang kurang menarik adalah sampel nonprobability (atau convenience smnple) di mana di dalamnya para responden/individu dipilih berdasarkan kemudahan

{convenience) dan ketersediaannya

(Babbie, 1990). Dengan pengacakan

(randomization), sampel yang paling representif akan memungkinankan peneliti untuk melaku-kan generaiisasi terhadap suatu populasi.

Pertegaslah

apakah

peneliti.an

Anda

akan

menggunakan

strati-fikasi

(penjenjangan) populasi sebelum Anda memilih sampel, ataukah tidak. Stratifiknsi berarti bahwa karakteristik-karakteristik tertentu dari individu-individu yang dipilih (seperti, jenis kela-min, iaki-laki atau perempvian) direpresentasikan dalam sampel agar sampel ini nantinya dapat merefleksikan proporsi yang tepat dalam populasi sesuai dengan karakteristik-karakteristiknya masing-masing (Fowler, 2002). Ketika individu-individu dipilih secara acak dari suatu populasi, karakteristikkarakteristik mereka bisa disajikan dalam sampel sesuai proporsinya masingmasing secara sama rata sebagaimana dalam populasi. Dalam hal ini, stratifikasilah yang memastikan penyajian ini. Selain itu, iden-tifikasilah karakteristik-karakteristik yang Anda gunakan untuk menstntifikasi populasi
193

tersebut (seperti, gender, tingkat peng-hasilan, pendidikan,. dan sebagajnya). Kemudian, dalam setiap strata ini, tetapkan apakah sampelnya berisi individuindividu yang memiliki karakteristik-karakteristik yang sama sebagaimana karakteristik-karakteristik dalam keseluruhan populasi, ataukah tidak (Babbie, 1990; Miller, 1991).

Jelaskan prosedur-prosedur dalam menyeleksi sampel dari daftar-daftar yang ada. Metode yang paling umum digunakan untuk menyeleksi sampel ini adalah memilih individu-individu (sampel) dengan menggunakan tabel angka-angka secara acak (random numbers table), sebuah tabel yang banyak dibahas dalam buku-buku panduan statistik (seperti, Gravetter & Wallnau, 2000).

Tunjukkan juga angka setiap individu yang di-sampling dan jelaskan prosedurprosedur yang Anda gunakan untuk mengalkulasi angka-angka ini. Dalam peneiitian survei, saya merekomendasikan agar peneliti menggunakan formula besaran sampel (sample size formula) yang banyak dibahas dalam buku-buku peneiitian survei (seperti, lihat Babbie, 1990; Fowler, 2002).

Instrumentasi Sebagai populasi dan sampel, peneliti juga perlu menyajikan informasi detail mengenai instrumen-Lnstrumen survei yang akan digunakan dalam peneiitian yang diajukan. Pertimbangkan larigkah-langkah berikut:

Namailah instrumen survei yang Anda gunakan untuk mengumpulkan data. Jelaskan apakah instrumen tersebut merupakan instrumen yang dirancang khusus untuk peneiitian ini, sejenis instrumen yang dimodifikasi, ataukan instrumen utuh yang pemah dirancang orang lain. Tika instrumen yang digunakan memang dirancang khusus (modified instrument),, jelaskan apakah Anda sudah memiiiki izin atau dasar teoretis yang kuat untuk menggunakannya. Dalam sejumlah proyek penelitian survei, pe- neliti sering kali merancang suatu instrumen dari beberapa komponen instrumen lain. Jika demikian, peneliti tersebut seharusnya memiiiki izin atau dasar teoretis untuk menggunakan sebagian instrumen-instrumen ini. Apalagi, instrumen-instrumen yang ada saat ini sudah banyak dirancang monjadi sejenis pe- rangkat survei online (lihat, Stie &
194

Ritter, 2007). Salah satu pe rangkat survei online yang cukup terkenal adalah SurveyMonkey (SurveyMonkey.com), sebuah produk komersial yang dirilis sejak 1999. Dengan menggunakan perangkat ini, peneliti dapat mem-buat survei-survei pribadinya dalam waktu yang relatif cepat, hanya dengan memanfaatkan custom
templates, lalu mem-posting-nya di website-website mereka, atau mengirimkannya

pada para partisipan untuk diisi. Setelah itu, SurveyMonkey akan memberi-kan hasil dan laporan balik kepada peneliti dalam bentuk statistik deskripuf, atau dalam wujud informasi grafik. Hasil-hasil ini dapat diunduh ke dalam spreadsheet atau database untuk kemudian dianalisis lebih lanjut. Perangkat ini gratis jika digunakan untuk 100 resporis per survei, dan tidak lebih dari 10 pertanyaan per survei. Jika peneliti menginginkan respons-respons tambahan, pertanyaanpertanyaan yang lebih banyak, dan beberapa custom feature yang lain, SurveyMonkey membebankan biaya bulanan atau tahunan kepada si peneliti.

Ketika menggunakan instrumen yang memang sudah ada, deskripsikanlah validitas dan reliabilitas skor-skor yang diperoleh dari penggunaan instrumen tersebut sebelumnya. Hal ini berarti. mengharuskan peneliti untuk membangun validitas atas instrumen tersebut adakah peneliti dapat menghasilkan kesimpulan-kesimpulan/dugaan-dugaan penting dan berguna dari skor-skor yang diperoleh dari instrumen ini. Tiga bentuk validitas yang harus dicari adalah: (1) content validity (apakah item-item yang dianalisis benar-benar sesuai konten yang terdapat dalam item-item tersebut?); (2) predictive validity (apakah skor-skor yang diperoleh sudah memprediksi kriteria-kriteria yang diukur? Apakah hasil-hasilnya berkorelasi dengan hasil-hasil yang lain?); dan (3) construct validity (apakah itemitem yang dianalisis sudah sesuai dengan konstruksi-konstruksi atau konsepkonsep hipotesis?). Dalam penelitian baru-baru ini, construct validity juga meliputi pertanyaan dasar tentang apakah skor-skor yang dihasilkan me-miliki tujuan yang berguna dan dampak-dampak yang positif ketika dipraktikkan dalam kehidupan nyata (Humbley & Zumbo, 1996). Dengan mendeteksi validitas skor dalam penelitian survei, peneliti dapat mengetahui apakah instrumen yang digunakan benar-benar sudah tepat untuk penelitian surveinya. Konsep
validitas (validity) dalam penelitian survei ini tentu saja berbeda dengan identifikasi
195

ancaman-ancaman terhadap validitas (threats to validity) dalam paielitian eksperimen (mengenai hal ini, akan di-jelaskan lebih lanjut). Lebih dari itu, jelaskan pula apakah skor-skor yang dihasilkan dari penggunaan instrumen sebelumnya sudah mencerminkan adanya reliabilitas atau tidak. Untuk mengetahui hal ini, peneliti harus mencari laporan mengenai konsistensi internal (apakah respons dari setiap item sudah konsisten dengan konstruk -konstruk yang dibuat?) dan korelasi test-retest (apakah skor-skor yang dihasilkan selalu stabil meskipun instrumennya digunakan pada lain waktu?) dalam penggunaan instrumen tersebut sebelumnya. Selain itu, pastikan juga apakah ada konsistensi dalam aturan testing dan scormg-nya (apakah ada kesalahan-kesalahan yang disebabkan karena kecerobohan dalam menerapkan aturan testing atau scoring sebelumnya?) (Borg, Gall, & Gall, 1993).

Ketika peneliti memcdifikasi suatu instrumen atau mengkom binasikan beberapa instrumen, validitas dan reliabilitas tidak berlaku untuk instrumen yang baru ini. Untuk irulah, peneliti perlu membangun kembali validitas dan reliabiiitas tersebut ketika dilakukan proses analisis data.

Tunjukkan item-item sampel dari instrumen tersebut sehingga pembaca dapat melihat item-item sebenarnya yang digunakan. Dalam lampiran proposal, lampirkan juga item-item sampel atau keseluruhan instrumen penelitian ini.

Tunjukkan isi-isi utama dalam instrumen tersebut, seperti Surat Pengantar (Dillman, 1978, menyajikan beberapa hal yang perlu di- masukkan dalam Surat Pengantar), item-item (seperti, demografis, item-item perilaku, item-item sikap, item-item faktual), dan instruksi penutup. Selain itu, sebutkan juga jenis skala-skala yang digunakan untuk mengukur/menganalisis item -item dalam instrumen, seperti skala-skala berkelanjutan (misalnya, benar-benar diterima hingga tidak diterima) dan skala-skala kategorial (misalnya, ya/tidak, level ranking atau signifikansi dari yang tertinggi hingga yang terendah)

Jelaskan rencana-rencana Anda untuk melakukan uji coba surveidi lapangan (pilot testing) dan sajikan pula alasan/rasionalisasi atas rencana ini. Pilot testing ini penting untuk membangun validitas konten dari suatu instrumen dan untuk memperbaiki pertanyaan-pertanyaan, format, atau skala-skala yang mungkin tidak sesuai ketika diterapkan. Sebutkan juga jumlah orang-orang yang akan menguji
196

coba instrumen tersebut. Jangan lupa untuk menyertakan pendapat-pendapat mereka dalam instrumen final yang sudah direvisi.

Untuk mailed survei, perjelaslah langkah-langkah Anda dalam pengaturan pendekatan survei ini dan tindak lanjutnya untuk memastikan rating respons yang tinggi. Salant dan Dillman (1994)menyarankan proses pengaturan empat-tahap. Mail yang dikirim pada tahap pertama adalah surat pemberitahuan singkat kepada semua daftar sampel yang dipilih. Mail yang dikirim pada tahap kedua adalah mail survei yang sebenarnya, yang didistribusikan setidak-tidaknya satu minggu setelah surat pemberitahuan diedarkan. Mail yang dikirim pada tahap ketiga berisi tindak lanjutberupa kartu pos (atau sejenisnya) yang dikirimkan pada semua anggota sampel 4 hingga 8 hari setelah pengiriman mail sebelumnya. Mail yang dikirimkan pada tahap keempat, yang biasanya ditujukan untuk anggota nonresponden, berisi surat pengantar pribadi lengkap dengan tanda tangan tertulis, kuesioner, danamplop plus perangko pengembalian. Peneliti mengirimkan mail keempat ini tiga minggu setelah mail kedua dikirimkan. Jadi, total secara keseluruhan, peneliti menyelesaikan periode administrasi/ pengaturan ini selama kurang lebih empat minggu (sebulan), bisa jadi dengan proyek tindak lanjutnya.

Variabel-Variabel dalam Penelitian Meskipun pembaca proposal sudah mengetahui informasi mengenai variabelvariabel dalam tujuan penelitian, rumusan masa-lah, atau hipotesis, peneliti tetap perlu memasukkannya dalam bagian metode penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk menghubung kan variabel-variabel tersebut dengan rumusan masalah atau hipo-tesis dan instrumen penelitian. Salah satu tekniknya adalah dengan menghubungkan variabelvariabel, rumusan masalah atau hipotesis, dan item-item survei agar pembaca mudah mengidentifikasi bagaimana item-item tersebut digunakan. Untuk itu, buatlah sebuah tabel dan penjelasan khusus tentang variabel-variabel, rumusan masalah, hipotesis, dan item-item tersebut. Teknik ini khususnya berguna bagi para peneliti yang menggunakan model-model berskala luas untuk penelitian disertasinya. Di bawah ini adalah tabel 8.2 yang menggunakan data hipotesis.
197

Analisis Data dan Interpretasi Tabel 8.2 Variabel-variabel, Rumusan Masalah dan item-item Survei
Nama Variabel Variabelbebasi: Penelitian sebelumnya Rumusan Masaiah Item-Item dalam Survei

Rumusan masalah deskriptif 1: Lihat rumusan masalah 11, 12, 13, 14, Seberapa banyak penelitian dan 15: hasil penelitian dalam bentuk

yang mampu dihasilkan oleh artikel jurna!, maka-iah seminar, bab-bab dosen untuk diserahkan sebagai buku yang berhasil dipublikasikan tanda bukti doktoralnya? sebelum menerima gelar doktor?

Variabel terikat 1 : Rumusan Hibah

masalah

deskriptif Lihat rumusan masalah 16, 17, dan 18:

penelitian 3:Ada berapa hibah yang di- Hibah dari yayasan, lembaga swasta, terima dosen dalam tiga tahun atau lembaga negara terakhir ini?

yang didanai

Variabel

kontrol: Rumusan masalah deskriptif 5: Lihat rumusan masalah 19: Ikatan Apakah dosen memiliki ikatan dinas (Ya/Tidak) dinas?

Status ikatan di-nas

Dalam proposal, jelaskan tahap-tahap analisis data. Saya me-nyarankan Anda menggunakan tips penelitian berikut, yaitu dengan menyajikan analisis data dalam bentuk tahap-demi-tahap agar pembaca bisa memahami bagaimana suatu tahap menuntun tahap selanjutnya hingga semua prosedur analisis data dibahas secara tuntas. Langkah 1. Sajikan informasi tentang jumlah sampel yang ter-libat dan tidak terlibat dalam survei. Informasi ini bisa dirancang dalam bentuk tabel yang berisi angka-angka dan persentase-persen-tase yang mendeskripsikan responden dan nonresponden. Langkah 2. Jelaskan metode-metode yang sekiranya dapat naengidentifikasi respons bias. Respons bias adalah pengaruh/efek dari tidak adanya respons terhadap survei (Fowler, 2002). Bias berarti bahwa jika nonresponden memberikan respons, maka respons ini akan memberi perubahan besar-besaran terhadap hasil survei akhir. Jelaskan prosedurprosedur yang digunakan untuk mengecek respons bias, seperti wave analysis atau analisis responden/nonresponden. Dalam wave analysis, peneliti mengevaluasi hasilhasil item yang terpilih dari minggu ke minggu untuk mengetahui apakah sebagian besar respons berubah (Lesile, 1972). Berpijak pada asumsi bahwa partisipan yang mengembalikan survei pada minggu terakhir hampir semuanya merupakan partisipan
198

yang nonresponden, maka jika respons-respons tersebut terlihat mulai berubah, ada kemungkinan terdapat respons bias. Salah satu cara untuk.mengecek adanya respons bias adalah dengan menghubungi beberapa nonresponden melalui sambungan telepon, kemudian mengidentifikasi apakah respons mereka berbeda jauh dengan hasil respons dari responden. Langkah 3. Lakukan analisis data secara deskriptif terhadap variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian. Analisis ini harus menunjukkan rata-rata, deviasi stand ar, dan skor-skor untuk dua variabel ini. Langkah 4. Jika Anda menggunakan instrumen penelitian dengan skala-skala atau berencana untuk mengembangkan sendiri instrumen tersebut (dengan

mengombinasikan beberapa item dalam skala), gunakanlah prosedur statistik (analisis faktor) untuk menye-lesaikan proses ini. Anda juga bisa menggunakan tes reliabilitas untuk mengidentifikasi konsistensi internal skala-skala tersebut (seperti, statistik alpha Cronbach).
Langkah 5. Gunakanlah statistik atau program statistik kompu-ter untuk menguji rumusan masalah atau hipotesis inferensial. Rumusan masalah atau hipotesis inferensial menghubungkan (relate) variabel-variabel atau membandingkan (compare) kelompok-kelompok dalam variabel agar kesimpulan-kesimpulan sementara (inferensiinferensi) dari skala sampel hingga skala populasi dapat diketahui. Sajikanlah rasionalisasi mengapa dipilih tes statistik, lalu jelaskanlah asumsi-asumsi yang berkaitan dengan statistik tersebut. Sebagaimana terlihat dalam Tabel 8.3, pilihan atas tes statistik harus didasarkan atas sifat rumusan masalah (apakah menghubungkan variabel-variabel atau

membandingkan beberapa kelompok dalam variabel), jumlah variabel bebas dan variabel terikat, serta jumlah variabel kontrol (lihat, misalnya, Rudestam & Newton, 2007). Lebih jauh, pertimbangkan apakah variabel-variabel ini akan diukur ber-dasarkan suatu instrumen sebagai skor berkelanjutan/continuous score (seperti, umur dari 18 hingga 36) atau sebagai skor katagoris/ categorical score (seperti, perempuan = 1, laki-laki = 1). Selain itu, pertimbangkan pula apakah skor-skor ini akan didistribusikan secara normal (normal distribution) dalam kurva berbentuk bel (bell-shaped curve) atau tidak didistribusikan secara normal (non-normal distribution). Ada banyak cara untuk mengetahui apakah skor-skor ini didistribusikan secara normal ataukah tidak (Lih. Creswell, 2008). Faktor-faktor ini, dalam kombinasinya, akan memudahkan peneliti untuk menentukan apakah tes statistik akan

199

cocok untuk menjawab rumusan masalah atau hipotesis. Dalam Tabel 8.3, saya menunjukkan bagaimana faktor-faktor ini bisa menuntun peneliti untuk memilih sejumlah tes statistik yang biasa digunakan. Untuk mendapatkan jenis tes statistik yang lain, peneliti bisa merujuk pada buku metode statistik, seperti buku yang ditulis Gravetter dan Wallnau (2000). Langkah 6. Langkah terakhir dalam proses analisis data adalah menyajikan hasil survei dalam bentuk tabel atau gambar, kemudian menginterpretasikan hasil tes statistik. Interpretasi terhadap hasil berarti bahwa seorang peneliti membuat suatu kesimpulan dari rumusan masalah dan hipotesis yang sudah dianalisis. Interpretasi ini melibatkan beberapa langkah khusus

Tabel 8.3 Kriteria Memilih Tes-tes Statistik Sifat Pertanyaan Petbandngan kelompok Peibandngan kelompok Perbandingan kelompok Petbandingan kelompok Jumlah Variabel Bebas 1 1 atau lebih 1 atau lebih 1 Jumlah Variabel Terikat 1 1 1 1 Jumlah Variabel Control 0 0 t 0 Jenis Skor Distribusi Tes Variabel Skor Statisik Bebas/Terikat Kategorial/ Normal l-tes berkelanjutan Kategorial/ Normal Analisis berkelanjutan varian Kategorial/ Normal Analisis berkelanjutan kovarian Kategorial/ NonTes berkelanjutan normal MannWhitney U Kategorial/ NonChiberkelanjutan normal square Kategorial/ Normal Korelasi berkelanjutan product moment Pearson Kategorial/ Normal Regresi berkelanjutan berganda Kategorial/ NonKorelasi berkelanjutan normal rankorder Spearman

Gabungan antar kelompok Menghubungkan variabel-variabel

1 1

1 1

0 0

Menghubungkan variabel-variabel Menghubungkan variabel-variabel

2 atau lebih i

1 1 atau lebih

0 0

200

Laporan apakah hasil hasil tes statistic yang diperoleh signifikan atau tidak secara statistic, seperti analisis varian secara statistic menunjukan adanya perbedaan signifikan antara wanita dan pria dalam hal sikap sikap mereka terhaap larangan merokok di restoran F (2:6) = 8,55, p =.001. Laporan bagaimana hasil hasil ini menjawab rumusan masalah atau hipotesis penelitian. Apakah hasil hasil tersebut mendukung hipotesis ataukah kontradiktif dengan yang diharapkan? Tunjukan pula kemungkinan menjelaskan mengapa hasil hasil tersebut bias muncul seperti itu. Untuk menjelaskan ini, anda dapat merujuk kembali pada teori yang anda gunakan dalam penelitian (lihat bab 3), literature literature sebelumnya yang membahas hal ini (lihat bab 2), atau alasan/rasionalisasi lain yang logis. Jelaskan juga kemungkinan hasil ini dipraktikkan di lapangan atau untuk penelitian penelitian sebelumnya. KOMPONEN KOMPONEN DALAM METODE PENELITIAN EKSPERIMEN Metode penelitian eksperimen pada umumnya menggunakan format standar yang melibatkan komponen komponen sebagai berikut : partisipan, materi, prosedur, dan ukuran (besaran). Pada sub bab kali ini, saya akan membahas komponen komponen tersebut dan menyajikan informasi seputar rancangan eksperimen dan analisis statistic. Sebagaiman pembahasan mengenai peneleitian survey sebelumnya, pembahasan mengenai penelitian eksperimen ini juga dimaksudkan untuk menonjolkan beberapa komponen kunci di dalamnya. Untuk mengetahui petunjuk detail atas komponen komponen ini, cobalah untuk menjawab pertanyaan pertanyaan dalam checklist table 8.4 Contoh 8.1. Bagian Metode Survey Berikut ini adalah salah satu contoh tulisan bagian metode survey yang didasarkan pada langkah langkah yang telah dijelaskan sebelumnya. Tulisan ini (yang diperoleh atas izin penulis) dikutip dari salah satu artikel jurnal yang melaporkan penelitian tentang factor factor yang mempengaruhi atrisi (berkurangnya jumlah) mahasiswa di salah satu universitas seni liberal (bean & creswell, 1980 : 32 1 322). Metodologi Penelitian ini memilih lokasi disalah satu universitas seni liberal yang kecil (tingkat pendaftaran 1.000 orang), religious, dan koendukatif, di kota Midwestern dengan populasi 175.000 orang. (disini, penulis mengidentifikasi lokasi dan populasi penelitian)

201

Rating dropout pada tahun sebelumnya adalah 25 %. Rating Dropuot yang paling sering terjadi adlah pada mahasiswa tahun pertama dan tahun kedua maka dibuatlah kuisioner kuisioner untuk didistribusikan kepada sebanyak mungkin mahasiswa tahun pertama dan tahun kedua di universitas tersebut. Sejumlah penelitian yang membahas atrisi atau menurunnya jumlah mahasiswa bahwa dropoutnya mahasiswa ini, baik laki laki maupun perempuan ternyata dilatari oleh banyak alasan (Bean, 1978; Spady, 1971). Maka dari itu, hanya mahasiswa saja yang akan dianalisis dalam penelitian ini. Selama April, 1979, sebanyak 169 mahasiswi mengembalikan kuisioner. Dari 169 mahasiswi ini, diantaranya berumur 25 tahun, tidak menikah, warga Negara AS, dan kulit putih; dipilih sebagai objek analisis dengan mengecualikan beberapa variabel yang kemungkinan mengacaukan sampel ini (Kerlinger, 1973). Dari keseluruhan mahasiswi, yang dipilih sebagai sampel, 71 diantaranya mahasiswi tahun pertama, 55 mahasiswi tahun kedua, dan 9 diantaranya mahasiswi junior. Sebanyak 95 % mahasiswi ini rata rata berumur 18 hingga 21 tahun. Sampel ini lebih ditekankan pada mereka yang memili kemampuan melebihi rata rata yang dapat dilihat dari skor skor yang mereka perolah dalam tes ACT. (disini, penulis menyajikan informasi deskriptif tentang sampel penelitian). Data dikumpulkan dengan metode kuisioner yang berisi 116 item. Item item ini kebanyakannya likert like yang didasarkan pada skala dari jangkauan sangat kecil hingga jangkauan sangat besar ada juga pertanyaan pertanyaan lain yang diajukan untuk mendapatkan informasi factual, seperti skor skor ACT, tingkat kelas, dan pendidikan orang tua. Semua informasi yang digunakan dalam analisis ini berasal dari data kuisioner. Kuisioner ini telah dirancang dan diuji pada tiga institusi yang lain sebelum kemudian diterapkan pada institusi ini. (disini penulis membahas instrument penelitian). Validitas konkuren dan konvergen (Campbell & Fiske, 1959) atas instrument ini telah diuji melalui analisa factor (Faktor analysis), dan didapatkan bahwa validitas tersebut sudah berada dalam level yang layak (memenuhi syarat). Reliabilitas factor factor juga telah diuji melalui alpha koefisien (coefficeient alpha). Untuk konstruk konstruk disajikan dalam 25 ukuran yaitu item item berganda berdasarkan analisis factor untuk membuat indeks indeks dan 27 ukuran lainnya indicator indicator item tunggal. (disini penulis menjelaskan validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian, regresi berganda dan path analysis (helse, 1969; Kerlinger & Pedhazur, 1973) dipilih sebagai tes statistic untuk menganalisis data.

202

Dalam metode kausal.., keinginan untuk keluar dari universitas diregresi pada semua variabel yang mendahuluinya dalam satu rangkaian kausal. Setelah itu, variabel variabel intervening yang secara signifikan berhubungan dengan keinginan untuk keluar dari universitas diregresi pada variabel variabel organisasi, varibel variabel personal, variabel variabel lingkungan, dan variabel variabel latar belakang. (disini, penulis menyajikan langkah langkah analisis data).

Partisipan Pembaca perlu mengetahui cara pemilihan (sampling). Penugasan (assignment), dan jumlah partisipan yang terlibat dalam suatu eksperimen. Perhatikanlah beberapa hal berikut ini saat menulis metode eksperimen. Deskripsikanlah proses pemilihan (sampling) partisipan, apakah dilakukan secara acak atau non acak (dipilih secara kovenien). Dalam pemilihan acak atau random sampling, masing masing individu memiliki kemungkinan yang sama untuk dipilih sebagai partisipan penelitian Langkah ini juga akan memastikan bahwa sampel yang terpilih benar benar

representative dan bisa mewakili suatu populasi (Keppel, 1991). Meski demikian, dalam beberapa penelitian eksperimen, hanya sampel convenience-lah yang memiliki kemungkinan untuk terpilih sebab peneliti biasanya menggunakan kelompok kelompok yang sudah terbentuk secara alamiah (seperti, sebuah kelas, organisasi, atau sebuah keluarga) atau sukarelawan. Jika masing masing partisipan, tidak ditugaskna secara acak (non-randomly assignment), berarti prosedur yang demikian lebih dikenal sebagai prosedur quasi-eksperimen. Jika setiap partisipan ditugaskan secara acak (randomly assignment) ke dalam beberapa kelompok, berarti prosedur yang demikian dikenal sebagai prosedur true-experiment, jika penelitian anda menggunakan penugasan acaka seperti ini, paparkanlah secara detail bagaimana anda akan menugaskan secara acak masing masing individu ke dalam kelomopk kelompok treatment. Hal ini berarti bahwa dalam lingkup partisipan, partisipan pertama ditugaskan dalam kelompok I, partisipan kedua ditugaskan dalam kelompok II, dan begitu seterusnya hingga tidak ada bias sistematik dalam penugasan masing masing partisipan. Prosedur ini bisa menghilangkan kemungkinan adanya perbedaan sistematik antara karakteristik karakteristik dari setiap partisipan yang bisa

203

mempengaruhi hasil penelitian, sehingga perbedaan apapun yang muncul dalam hasil penelitian bisa diatribusikan pada treatment eksperimen (Keppel, 1991). Jelaskan pula keunggulan keunggulan lain penelitian ekperimen yang secara sistematik dapat mengontrol variabel variabel yang bisa mempengaruhi hasil penelitian. Salah satu pendekatannya adalah dengan memasangkan partisipan berdasarkan sifat atau karakteristik tertentu, kemudian memilih seorang partisipan dari masing masing pasangan ini untuk ditugaskan dalam suatu kelompok. Pengukurannya dapat menggunakan skor skor pre-test. Berdasarkan skor pretest ini, peneliti dapat menugaskan setiap partisipan ke dalam kelompok tertentu dengan anggota yang juga memiliki skor pre-test yang sama. Skro pre-test bisa dibagi menjadi skor tinggi, sedang dan rendah, sebagai alternatifnya, individu individu bisa dipasangkan satu sama lain berdasarkan level kemampuan atau variabel demografi.

204

Tabel 8.4. :

Checklist pertanyaan partanyaan untuk merancang prosedur penelitian eksperimen.

_________ _________ _________ _________ _________ _________ _________ _________ _________

_________

_________ _________ _________ _________ _________

Siapa saja partisipan yang terlibat dalam penelitian? Populasi seperti apa yang akan dijadikan landasan untuk menggeneralisasi semua partisipan? Bagaimana partisipan partisipan ini dipilih? Apakah dengan menggunakan pemilihan acak (random sampling)? Bagaimana partisipan partisipan ini akan ditugaskan secara acak (randomly assignment)? Apakah mereka akan dipasangkan? Bagaimana caranya? Ada berapa banyak partisipan dalam kelompok eksperimen dan kelompok control? Apakah variabel (variabel) bebas (seperti, variabel outcome) dalam penelitian tersebut? Bagaimana cara mengukurnya? Apakah variabel tersebut akan diukur sebelum atau sesudah eksperimen? Seperti apa treatmen nya? Bagaimana langkah operasionalnya? Apakah variabel variabel akan dicovarian? Bagaimana cara pengukurannya? Metode/rancangan penelitian eksperimen seperti apakah yang akan digunakan? Bagiamana model visual untuk rancangan ini? Instrumen apa saja yang akan digunakan untukm mengukur hasil penelitian? Mengapa instrument tersebut dipilih? Siapa saja yang membuatnya? Apakah instrument tersebut sudah valid dan reliable? Apakah peneliti sudah memiliki izin unutk menggunakannya?? Bagaimana langkah langkah dalam prosedur penelitian ini (apakh dengan menugaskan secara acak para partisipan ke dalam beberapa kelompok, atau dengan mengumpulkan infromasi demografis, ataukah dengan menggunakan pre-test, treatment, atau post-test? Ancaman ancaman seperti apakah yang paling berpotensi mengurangi validitas internal dan eksternal dalam penelitian ini? Bagaimana ancaman ancaman ini akan dibahas? Apakah instrument penelitian sudah diuji lapangan terlebih dahulu?? Statistic seperti apakah yang akan digunakan untuk menganalisis data (apakah secara deskriptif atau inferensial? Bagaimanahasil penelitian akan diinterpretasi?

Seorang peneliti bisa saja memutuskan untuk tidak melakukan pemasangan seperti diatas sebab hal ini bisa menyedot banyak biaya maupun waktu (Salkind, 1990) serta rentan menimbulkan adanya kelompok yang tidak bisa dibandingkan, misalnya jika ada partisipan yang tidak mau ditreatment (Rosenthal & Roshnow, 1991). Prosedur lain untuk mengontrol proses eksperimen adalah dengan menggunakan covarian (seperti, skor skro pres-tes) sebagai variabel moderating dan mengontrol pengaruh dari skor skor ini secara statistic, memilih sampel sampel yang homogen, atau mem-block beberapa partisipan dalam subkelompok atau kategori tertentu, kemudian menganalisis pengaruh dari masing masing subkelompok ini terhadap hasil penelitian (Creswell, 2008) Tunjukkan kepada pembaca jumlah partisipan dalam setiap kelompok dan jelaskan prosedur prosedur sistematik dalam menentukan besaran setiap kelompok. Untuk

205

penelitian eksperimen, penelitian seyogianya menggunakan analisis kekuatan (power analysis) (lipsey, 1990) untuk mengidentifikasi besaran sampel yang sesuai untuk kelompok kelompok tersebut. Kalkulasinya harus melibatkan beberapa hal berikut. 1. Pertimbangan level signifikasi statistic untuk eksperimen ini (alpha) 2. Jumlah kekuatan yang diinginkan biasanya disajikan dalam bentuk kuat (high), sedang (medium), lemah (low) dalam pengujian statistic terhadap hipotesis nol ketika hipotesis ini, sebenarnya, gagal. 3. Besaran efek, perbedaan perbedaan yang diinginkan dalam jumlah rata rata antara kelompok control dan kelompok eksperimen yang dinyatakan dalam unit unit deviasi standar. Susunlah nilai nilai untuk tiga factor ini (seperti, alpha = .05, kekuatan = .80, dan besaran efek = .50) dan perlihatkanlah dalam sebuah tabel besaran, besaran yang dibutuhkan untuk setiap kelompok ini (lihat Cohen, 1977; Lipsey, 1990). Dalam hal ini, rencanakanlah sebuah eksperimentasi supaya besaran setiap kelompok yang ditretment memberikan sensitivitas yang paling tinggi : bahwa pengaruh yang diinginkan terhadap outcome penelitian bisa tercapai dalam manipulasi eksperimental ini. Variabel Variabel Dalam penelitian eksperimen, variabel variabel harus dirinci agar pembaca bisa melihat dengan jelas kelompok kelompok apa yang akan dieksperimentasi dan outcome outcome apa saja yang ingin diukur. Berikut ini adalah beberapa saran bagaimana mengembangkan gagasan terkati dengan variabel variabel dalam proposal penelitian: Tunjukkanlah secara jelas variabel variabel bebas yang anda gunakan dalam penelitian tersebut (ingat kembali pembahasan mengenai variabel dalam bab 3). Satu variabel harus menjadi treatment variabel. Satu atau beberapa harus meminta treatment dari peneliti. Variabel variabel bebas yang lain bisa saja menjadi measured variabel yang didalamnya tidak ada manipuasi yang dilakukan (seperti, sikap atau karakteristik pribadi pada partisipan). Variabel variabel bebas lain bisa menjadi variabel control atau dapat dikontrol secara statistic, seperti demografi (gender atau usia). Intinya, bagian metode penelitian dalam proposal eksperimen harus memerinci dan menunjukkan secara jelas semua variabel bebas ini. Tunjukan pula variabel (variabel) terikat (misalnya, outcome) yang anda gunakan dalam penelitian eksperimen. Variabel terikat merupakan variabel respons atau
206

variabel criteria yang diasumsikan mendapat pengaruh dari variabel bebas. Rosenthal dan Rosnow (1991) menyajikan tiga ukuran outcome prototipik dalam variabel terikat, yaitu : arah perubahan, kuantitas perubahan, dan kemudahan perubahan, yang diperoleh dari partisipan (misalnya, seorang partisipan memberikan respon yang tepat ketika ditreatmen dalam rancangan eksperimen single-subjet).

Instrumentasi dan Materi Selama penelitian eksperimen, khususnya pada tahap pres-test atau post-test (atau keduanya), penelitia biasanya melakukan observasi dan pengukuran dengan menggunakan instrument instrument yang tersedia. Nah, dalam proposal penelitian, peneliti perlu membahas instrument instrument ini, cara perancangannya, item itemnya, skala skalanya, dan laporan reliabilitas dan validitas skornya. Peneliti juga perlu melaporkan, materi materi yang akan digunakan selama proses eksperimentasinya (seperti, program program, atau kegiatan kegiatan tertentu yang diberikan pada kelompok eksperimental). Deskripsikan pula instrument instrument yang di isi / diselesaikan partisipan (biasanya, instrument instrument ini diselesaikan sebelum eksperimen tersebut dilakukan atau bahkan di akhir eksperimen). Tunjukkan pula validitas dan reliabiitas skor atas instrument tersebut, individu individu yang mengembangkannya, dan izin izin untuk menggunakannya. Jelaskan secara menyeluruh materi materi yang akan dimanfaatkan selama proses eksperimentasi. Satu kelompok, misalnya berpartisipasi dalam rencana pembelajaran berbasis IT yang disampaikan seorang guru di ruang kelas. Rencana ini dapat meliputi handout, mata pelajaran, dan isntruksi tertulis khusus unutk membantu siswa dalam kelompok eksperimen ini, belajar mata pelajaran dengan computer. Tes lapangan atas materi materi semacam ini harus dijelaskan. Bahkan, jika dibutuhkan, peneliti juga perlu menjelaskan training training lain yang mungkin dibutuhkan untuk mengelola materi materi tersebut. Tujuan tes lapangan ini adalah untuk memastikan bahwa materi materi penelitian bisa dikelola dengan baik tanpa varibilitas dalam kelompok eksperimen.

207

Prosedur Prosedur Eksperimentasi Selain instrument dari materi penelitian, peneliti juga perlu menjelaskan dalam proposalnya prosedur prosedur khusus yang digunakan selama proses eksperimentasi. Penjelasan ini bisa meliputi pembahasan mengenai jenis rancangan eksperimentasi, alasan alasan digunakannya rancangan tersebut, dan model visual untuk membantu pembaca memahami prosedur prosedurnya. Tunjukanlah jenis rancangan eksperimentasi yang akan anda gunakan dalam penelitian. Jenis jenis rancangan eksperimentasi bisa meliputi rancangan pra-eksperimen (preexperimental design), eksperimentasi yang sebenarnya (true experiment), kuasi eksperimen (quasi experiment) dan rancangan subjek tunggal (single subject design). Dalam rancangan pre experimental, peneliti mengatai satu kelompok utama dan melakukan intervensi di dalamnya sepanjang penelitian. Dalam rancangan ini, tidak ada kelompok control untuk diperbandingkan dengan kelompok eksperimen. Dalam quasiexperiment, peneliti menggunakan kelompok control dan kelompok eksperimen, namun tidak secara acak memasukkan (no random assignment) para partisipan ke dalam dua kelompok tersebut (misalnya, mereka bisa saja berada dalam satu kelompok utuh yang tidak dapat dibagi bagi lagi) dalam true experiment, peneliti mulai memasukkan secara acak para partisipan dalam kelompok kelompok yang akan diproses. Adapun rancangan single-subject atau yang dikenal dengan rancangan N of 1. Mengharuskan peneliti untuk mengobeservasi perilaku satu individu utama (atau sejumlah kecil individu) sepanjang penelitian. Tunjukkan pula apa yang ingin dikomparasikan. Dalam kebanyakan penelitian eksperimen, yang salah satunya dikenal dengan rancangan subjek antara (between subject design), peneliti membandingkan dua atau lebih kelompok (Keppel, 1991; Rosenthal & Rosnow, 1991). Misalnya, rancangan factorial (factorial design) salah satu varian dalam between subject design mengharuskan peneliti untuk menggunakan dua atau lebih variabel treatment untuk menguji pengaruh pengaruh simultan variabel variabel ini terhadap hasil penelitian (Vogt, 1999). Rancangan penelitian ini mengeksplorasi pengaruh pengaruh setiap treatment secara terpisah dan juga pengaruh pengaruh variabel yang digunakan di dalamnya sehingga peneliti dapat memperoleh pandangan yang multidimensional dan lebih kaya (Keppel, 1991). Dalam penelitian eksperimen lain, yang dikenal dengan rancangan kelompok dari dalam (within group design), peneliti menguji hanya satu kelompok treatment saja. Misalnyal, dalam rancangan ukuran terulang (repeated measure design), sejenis varian dalam within
208

group desing, para partisipan dikelompokkan dalam treatmen yang berbeda beda pada waktu yang berbeda beda pula selama penelitian. Praktik lain dari within group design adalah meneliti perilaku seorang individu sepanjang waktu, yang didalamnya peneliti menyajikan dan memberikan treatment terhadap individu tersebut pada waktu yang berbeda beda, untuk mengetahui dampaknya. Sajikanlah diagram atau gambar yang dapat menghasilkan rancangan penelitian yang anda gunakan. System notasi standar juga perlu diterapkan dalam gambar/diagram ini. Rekomendasi saya, gunakanlah system notasi klasik yang pernah disampaikan oleh Campbell dan Stanley (1963 : 6). 1. X merepresentasikan satu kelompok dalam peristiwa atau variabel eksperimental tertentu; efek efek dari variabel tersebut. 2. O mempresentasikan proses observasi atau pengukuran dengan instrument penelitian 3. X dan O yang berada dalam satu lajur mempresentasikan kelompok (X) dan observasi (O) yang di aplikasikan dalam lajur yang sama, atau disejajarkan secara vertical, bersifat simultan. 4. Simbol matra dari kiri ke kanan merepresentasikan pelaksanaan prosedur prosedur treatment secara temporal (terkadang disimbolkan dengan anak panah) 5. Simbol R merepresentasikan penempatan acak (random assignment). 6. Pemisahan lajur lajur yang sejajar oleh garis horizontal merepresentasikan bahwa kelompok kelompok yang diperbandingkan tidak ditempatkan secara acak (no random assignment). Tidak adanya garis antara kelompok kelompok menunjukkan bahwa individu individu di dalamnnya ditempatkan secara acak (random assignment) ke dalam kelompok kelompok yang akan di treatment (treatment groups). Contoh contoh berikut ini mengilustrasikan bagaimana notasi di atas digunakan untuk mengindentifikasi rancangan pre experimental, quasi experimental, true experimental, dan single subject. Ancaman Ancaman terhadap Validitas Ada sejumlah ancaman terhadap validias yang sering kali membuat orang mempertanyakan hasil / outcome yang disimpulkan oleh peneliti : apakah hasil tersebut dipengaruhi oleh factor factor utama, atau justru ada intervensi peneliti didalamnya. Untuk itu, peneliti harus mengidentifikasi beberapa hal yang berpotensi mengancam validitas dan eksperimentasinya. Setelah berhasil diidentifikasi, peneliti harus merancang dan mengantisipasi sedemikian rupa agar ancaman ancaman ini tidak lagi muncul atau
209

setidaknya dapat diminimaliasasi. Ada dua jenis ancaman terhadap validitas : ancaman dalam (internal threats) dan ancaman luar (external threats). Ancaman Validitas Internal dapat berupa prosedur prosedur eksperimentasi, treatment treatment, atau pengalaman pengalaman dari para partisipan yang mengancam kemampuan peneliti untuk menarik kesimpulan kesimpulan yang tepat dari data penelitian. Tabel 8.5 menyajikan beberapa ancaman ini, mendeskripsikan setiap ancaman, dan memberikan saran saran kepada peneliti agar ancaman ancaman tersebut tidak lagi dating. Ada ancaman ancaman yang melibatkan para partisipan (seperti sejarah, maturasi, seleksi, dan mortalitas), ancaman ancaman yang berhubungan dengan treatment eksperimental (seperti difusi, demoralisasi imbang, dan rivalitas imbangan), dan ancaman ancaman yang berhubungan dengan prosedur prosedur eksperimentasi (seperti, pengujian / testing dan instrumentasi). Contoh 8.2 Rancangan Pre- - Experimental

Studi Kasus Dengan Satu Bidikan (One Shot Case Study) Rancangan Berikut Ini Melibatkan Satu Kelompok (X) Dalam Treatment Tertentu Yang Kemudian Dilanjutkan Dengan Observasi/Pengukuran (O) Kelompok A X ---------------------- O Rancangan Pra Tes Pos Tes pada Satu Kelompok (One Group Pre Test Post Test Design) Rancangan berikut ini mencakup satu kelompok yang diobservasi pada tahap pre test yang kemudian dilanjutkan dengan treatment dan psot test. Kelompok A O1 -------------------X------------------ O2 Perbandingan Kelompok Statis atau Rancangan Pos Tes terhadap Kelompok Kelompok Non Ekuivalen (Statistic Group Compariosn or Post Test Only with Nonequivalent Groups) Setelah melakukan treatment pada satu kelompok eksperimental (A), peneliti memilih satu kelompok perbandingan (B), lalu melakukan Post test pada kelompok eksperimental A (kelompok yang sudah di treatment tadi) dan kelompok perbandingan B yang sudah dipilih sebelumnya. Kelompok A X ---------------------- O

210

----------------------------------------------Kelompok A X ---------------------- O Rancangan Alternatif Pos tes Treatment dengan kelompok kelompok Non Ekuivalen (Alaternative Treatment Post Test Only with Nonequipalent Groups Design) Rancangan ini menerapkan prosedur yang sama dengan rancangan Static Group Comparison sebelumnya. Hanya saja, dalam rancangan ini peneliti melakukan treatment yang sedikit berbeda (dengan rancangan sebelumnya) terhadap kelompok perbandingan non ekuvalen. Berikut ilustrasinya : Kelompok A X1 ---------------------- O -----------------------------------------------Kelompok B X2 ---------------------- O

Contoh 8.3

Rancangan Quasi experimental

Rancangan Kelompok control (Pra Tes dan Pos Tes) Nonekuivalen (nonequivalent (Pre test and Post test)Control Group Design) Dalam rancangan ini, kelompok eksperimen (A) dan kelompok control (B) diseleksi tanpa prosedur penempatan acak (without random assignment) pada dua kelompok tersebut, sama sama dilakukan pre test dan post test. Hanya kelompok eksperimen (A) saja yang di treatment. Kelompok A O ------------X---------- O -----------------------------------------------Kelompok B O ------------------------ O Rancangan Serangakain waktu yang diputus oleh satu kelompok (Single Group Interupted Time-Series Design) Dalam rancangan ini, peneliti melakukan pengukuran pada satu kelompok, baik sebelum maupaun sesudah treatment. Kelompok A OOOOXOOOO Rancangan serangkaian waktu yang diputus oleh kelompok control (control group Interrupted Time Series Design)

211

Rancangan ini merupakan modifikasi dari rancangan single group sebelumnya. Dalam rancangan ini, dua kelompok partisipan (A dan B), yang dipilih tanpa random assignment, diobeservasi sepanjang waktu. Meski demikian, dari dua kelompok tersebut, hanya satu kelompok saja yang di treatment, yaitu kelompok A. Kelompok A OOOOXOOOO ----------------------------------------------------------------Kelompok B OOOOOOOOO

Contoh 8.4

Rancangan True Experimental

Rancangan Pra Tes Pos Tes pada kelompok control (Pre Test Pos Test Control Group Design) Rancangan ini merupakan rancangan klasik dan tradisional yang menerapkan prosedur random assignment (R) pada para partisipan untuk ditempatkan ke dalam dua kelompok (A) dan (B). Peneliti menerapkan pre test dan pos test pada dua kelompok ini. Meski demikian. Yang di treatment hanya kelompok eksperimen (A) saja. Kelompok A R -----------O-----------X--------------O ----------------------------------------------------------------Kelompok B R -----------O---------------------------O Rancangan Post Test pada kelompok control (post test only control group design) Rancangan post test ini merupakan salah satu rancangan eksperimen yang paling popular dan diterapkan karena pre-test memberikan efek efek yang kurang diharapkan. Para partisipan dikategorisasikan atau ditempatkan secara acak (random assignment) dalam dua kelompok. Penelitia sama sama melakukan post test pada kedua kelompok tersebut, dan hanya kelompok eksperimen (A) saja yang di treatment. Kelompok A R ----------------------X--------------O Kelompok B R --------------------------------------O

Rancangan Solomon Empat Kelompok (Solomon Four Group Design) Rancangan ini merupakan salah satu bentuk rancangan faktorial 2 X 2 yang menerapkan prosedur random assignment (R) pada para partisipan untuk dikategoriasasi ke dalam empat

212

kelompok (A,B,C, dan D). Peneliti bisa memberikan pre-test dan treatment secara variatif pada masing masing kelompok, hanya saja, peneliti harus melakukan post test untuk semua kelompok tersebut tanpa terkecuali. Kelompok A R -----------O-----------X-------------- O Kelompok B R -----------O--------------------------- O Kelompok C R ---------------------------X------------ O Kelompok D R ----------------------------------------- O

Contoh 8.5

Rancangan Single Subejct

Rancangan Subejk Tunggal A-B-A (A-B-A Single Subejct Design) Rancangan ini menerapkan observasi terus menerus pada satu individu utama. Target perilaku dari individu tersebut dibangun sepanjang waktu untuk kemudian dicari perilaku utama yang menjadi garis dasar (baseline) untuk diteliti. Perilaku dasar ini kemudian dinilai, di treatment, sebelum pada akhirnya treatment tersebut dihentikan di tahap akhir penelitia. Baseline A Treatment B Baseline A

OOOOOXXXXX OOOOOO Ancaman ancaman terhadap valitidas eksternal juga harus di indentifikasi dan dirancang sedemikian rupa agar ancaman ancaman tersebut dapat direduksi sedikit mungkin. Ancaman ancaman validitas eksternal ini muncul, misalnya, ketika peneliti menarik kesimpulan kesimpulan yang seharusnya berasal dari data sampel, namun ia justru menariknya dari orang orang lain, setting setting lain, atau kondisi kondisi masa lalu, bahkan masa depan. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam tabel 8.6, ancaman ancaman ini biasanya berasal dari karakteristik karakteristik individu yang dipilih sebagai sampel, keunikan keunikan setting, dan timming eksperimentasi. Misalnya, ancaman ancaman ini muncul ketika peneliti melakukan generalisasi

213

Tabel 8.5 Ancaman-ancaman terhadap Validitas Internal Jenis Ancaman Sejarah Deskripsi Ancaman Seiring berjalannya waktu selama peneiitian, ada banyak peristiwa bermunculan yang sering kali memengaruhi outcome yang tidak diharapkan. Tindakan-Tindakan Responsif Peneliti dapatmemintatelonrF pok kontrol dan kelompok eksperimen untuk merasakan peristiwa-peristiwa yang sama.

Maturasi

Selama peneiitian, para parti-sipan Peneliti dapat memilih para partisipan bisa saja berubah dan menginjak yang sudah dewasa dengan rating yang dewasa (mature) sehingga dapat sama (seperti, umur yang sama). memengaruhi outcome peneiitian. Para partisipan yang memiliki skor Peneliti dapat memilih para partisipan yang tinggi dipilih sebagai objek yang tidak memiliki skor-skor yang tinggi peneiitian. Tentu saja, skor-skor uniuk di-toliti. mereka sangat rnung-kin berubah selama peneiitian. Tidak heran jika skor-skor yang tinggi ini, sewaktuwaktu, bisa merosot menjadi ratarata. Para partisipan sering kali dipilih hanya karena mereka memiliki karakteristik-karakteristik yang dianggap dapat memengaruhi hasilhasil tertentu (misalnya, karena mereka lebih cerdas). Peneliti dapat memilih para partisipan secara acak sehingga karakteristikkarakteristik mereka memiliki kemungkinan yang sama untuk didistri-busikan menjadi kelompok-kelompok eksperimen.

Regresi

Seleksi

Mcrtalitas

Para partisipan bisa saja mun-dur Peneliti dapat merekrut se-banyak dari peneiitian disebabkan banyak mungkin partisipan peneiitian untuk alasan. Tidak heran jika peneliti mengantisi-pasi para partisipan yang sering kali ke-bingungan untuk mun-dur atau untuk membanding-kan mengetahui outcome atas individu- mereka yang mundur dengan mereka individu ini. yang tetap meneruskan, guna memperoleh outcome peneiitian. Para partisipan dalam kelom-pok Peneliti harus menjaga keter-pisahan kontrol dan eksperimen saling antara dua kelompok ini selarna berkomunikasi satu sama Iain. penelitian. Ironisnya, komu-nikasi ini bisa saja memengaruhi skor akhir kedua kelompok tersebut.

Difusi treatmenta

Demoralisasi Keuntungan diadakannya pe- Peneliti dapat memberikan keuntungan imbang-an nelitian bisa saja tidak setara pada dua kelompok ini, misalnya dengan karena yang 6\-treatment hanyalah memberikan treatment pada kelompok Kelompok eksperimen saja kontrol setelah penelitian usai atau (misalnya, kelompok eksperimen dengan memoerikan jenis treatment yang diberikan terapi, sedangkan sama pada dua kelom-pok tersebut se/ama kelompok kontrol tidak diberikan penelitian.
214

apa-apa). Rivalitas imbangan Para partisipan dalam kelompok Peneliti dapat mencari lang-kah-langkah kontrol merasa bahwa mereka strategis guna menciptakan kesetaraan didevaluasi karena di- antara dua kelompok ini, misalnya perbandingkan dengan kelompok dengan cara me-ngurangi ekspektasi eksperimen dan tidak men- kelompok kontrol. dapatkan treatment sama sekali. Para partisipan sudah terbiasa Peneliti harus memiliki teng-gang waktu dengan hasil akhir pengujian yang lebih lama dalam menyebarkan sehingga mereka bisa meren- instrumen-instrumen yang berbeda canakan manipulasi atas res-pons- kepada para partisipan. respons tersebut jika ada pengujian selanjutnya. Perubahan instrumen dalam pre- Peneliti dapat menggunakan instrumen test dan post-test tidak jarang yang sama untuk pre-test dan post-test. memengaruhi skor-skor penelitian.

Pengujian (testing)

.Instrumen

ralisasi melampaui kelompok-kelompok yang dieksperimentasi, seperti kelompok-kelompok sosial atau ras lain, setting-setting lain, atau situasi-situasi lain, yang tidak termasuk objek eksperimentasi. Langkah-langkah untuk menyiasati isu-isu ini juga disajikan dalam Tabel 8.6. Ancaman-ancaman lain yang juga perlu diperhatikan adalah ancaman-ancaman terhadap validitas kesimpulan statistik yang muncul ketika peneliti menarik kesimpulan yang tidak tepat dari data penelitian, disebabkan kekuatan statisik yang lemah atau pe-langgaran terhadap asumsi-asumsi statistik yang sebenarnya. Selain ancaman terhadap kesimpulan statistik, ada pula ancaman terhadap validitas konstruk. Ancaman ini muncul ketika peneliti menyajikan definisi-definisi dan ukuran-ukuran yang tidak tepat pada variabel-variabel penelitian. Berikut ini adalah tips-tips penelitian praktis untuk menjabar-kan isu-isu validitas tersebut dalam proposal penelitian: Identifikasilah ancaman-ancaman potensial terhadap validitas yang mungkin muncul. Anda bisa membuat bagian terpisah khusus untuk membahas ancaman ini. Definisikanlah jenis ancaman dan isu-isu apa yang sering dimunculkan oleh ancaman itu. Jelaskan bagaimana Anda akan menjabarkan ancaman-ancaman ini dalam proposal eksperimen Anda. Kutiplah referensi dari beberapa buku yang membahas mengenai ancaman terhadap
215

validitas ini, seperti Cook dan Campbell (1979); Creswell (2008); Reichardt dan Mark (1998); Shadish, Cook, & Campbell (2001); dan Tuckman (1999). Prosedur Dalam proposal penelitian, peneliti harus mendeskripsikan secara detail prosedurprosedur dalam melakukan eksperimentasi. Deskripsi ini akan membantu pembaca untuk memahami rancangan, observasi, treatment, dan jangka waktu yang ditetapkan. Tabel 8.6 Ancaman-ancaman terhadap Validitas Eksternal Jenis Ancaman Antara pemilihan dan treatment Deskrlpsi Ancaman Karena sempitnya karakteris-tikkarakteristik yang ditetap-kan dalam memilih para parti-sipan, peneliti sering kali tidak mampu menggenaralisasi siapa saja yang rhemiliki dan tidak memiliki karakteristik khusus untuk menjadi parti-sipan penelitian. Tindakan-Tindakan Responsif

Peneliti perlu membatasi tuntutantuntutan atau klaim-klaimnya mengenai karakteristik partisipan yang sering kali membuat peneliti tidak mampu menggeneralisasi hasil penelitian. Peneliti me-laksanakan penelitian tambahan pada kelompok-kelom-pok/para partisipan yang memiliki karakteristik yang berbeda. Antara Karena ditetapkan karakteristik- Peneliti perlu melakukan penelitian setting dan karakteristik khusus dalam memilih tambahan dalam setting yang baru untuk treatment setting, peneliti sering kali tak menge-tahui apakah hasil yang mun-cul mampu menggeneralisasi individu- sama dengan yang diper-oiehnya dalam individu pada setting-setting yang setting se-belumnya. berbeda. Antara Karena hasil ekspenmentasi terikat- Peneliti perlu melakukan penelitian sejarah dan waktu, peneliti sering kali tidak ulang pada waktu-waktu yang akan treatment mampu menggeneralisasi hasil datang untuk mengetahui apakah hasilpenelitian untuk situasi masa lalu hasil yang diperolehnya sama dengan dan masa depan. hasil-hasil pada penelitian terdahulu. Sumber : diadaptasi dari Creswell (2008) Jelaskan pendekatan langkah demi langkah dalam prosedur eksperimentasi tersebut. Misalnya, Borg dan Gall (1989: 679) meringkas enam langkah yang biasanya digunakan dalam prosedur rancangan pre-test post-test control group dengan menjodohkan para partisipasi dalam kelompok kontrol : 1. Buatlah ukuran-ukuran variabel terikat atau variabel yang sangat berkorelasi dengan variabel terikat untuk setiap partisipan penelitian 2. Tempatkan para partisipan secara berpasangan berdasarkan skor-skor dalam ukuran mereka sebagaimana yang telah diidentifikasi pada langkah 1 3. Tempatkan secara acak satu anggota dari setiap pasangan ini dalam kelompok eksperimen dan anggota lain dalam kelompok kontrol

216

4. Lakukan treatment eksperimen pada kelompok eksperimen dan berikan treatment alternatif (atau bahkan tanpa treatment) pada kelompok kontrol 5. Buatlah ukuran-ukuran variabel terikat untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ini 6. Bandingkan performa kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada akhir tes (post-tes) dengan menggunakan tes-tes signifikansi statistik Analsis Data Jelaskan kepada pembaca jenis-jenis analisis statistik yang akan anda gunakan selama penelitian. Laporkan statistik-statistik deskriptif yang telah diukur dan diobservasi pada pre-test dan post-test sebelumnya. Statistik-statistik ini haruslah berupa means (rata-rata), standard deviation (deviasi standar) dan range (jangkauan). Jelaskan tes statistik inferensial (inferensial statistic test) yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Dalam rancangan eksperiman (eksperimental design), yang menerapkan informasi kategoris untuk variabel bebasdan informasi berkelanjutan untuk variabel terikat, penelitian menerapkan t-test atau univariate analysis of variance (ANOVA), analysis of covariance (ANCOVA), atau multivariate analysis of variace (MANOVA) multiple dependent measure). (sebagaimana jenis tes ini telah ditunjukan dalam tabel 8,3 sebelunya.) dalam rancangan faktorial (factorial design), peneliti menggunakan pengaruh timbal-balik dan efek-efek utama dari ANOVA. Akan tetapi, ketika data dalam pre-test dan posttest menunjukan deviasi pemarkaan (marked deviation) dari distribusi normal, peneliti sebaiknya menggunakan tes statistik nonparameter (parametric statical test) untuk menguji hipotesis penelitian. Untuk rancangan subjek-tunggal (single-subject design), gunakanlah grafik garisgsris untuk beseline, sedangkan untuk unit waktu gunakanlah grafik abscissa( poros horizontal) dan grafik ordinate (poros Vertikal) untuk unit target perilaku dalam observasi treatment. (mengenai ilustrasinya dapat dilihat dalam contoh 8.5 sebelumnya,penj). Setiap data diformulasikan secara terpisah dalam grafik tersebut, lalu masing-masing data ini dihubungkan dengan garis-garis (misalnya, lihat Neuman & McCormick, 1995). Kadang-kadang, tes-tes signifikansi statistik, seperti t test, digunakan untuk membandingkan rata-rata beseline dengan tahap-athap treatment ,

217

meskipun prosedur-prosedur seperti ini bisa saja melanggar asumsi ukuran-ukuran variabel bebas (Borg&Gall, 1989) Peneliti juga perlu melaporkan hasil-hasil statistik pengujian hipotesis, interval confidence dan besaran efek sebagai indikator-indikator utama atas signnifikansi hasil penelitian. Interval confidence merupakan perkiraan interval atas nilai statistik yang lebih tinggi dan lebih rendah, yang sesuai data penelitian dan bisa saja mencerminkan rata-rata populasi yang sebenarnya. Besaran efek merupakan kekuatan atas hasil kesimpulan tentang perbedaan-perbedaan antarkelompok atau hubungan antarvariabel dalam penelitian kuantitatif. Kalkulasi besaran efek ini bermacammacam, tergantung pada tes statistik yang digunakan. Interpretasi Hasil Langkah terakhir dalam penelitian eksperimen adalah mentafsirkan penemuanpenemuan berdasarkan hipotesis atau rumusanmasalah yang sudah dirancang di awal penelitian. Dalam laporan interpretasi ini, jelaskan apakah hipotesis atau rumusan masalah tersebut disetujui (signifikan) atau ditolak (tidak signifikan). Jelaskan pula apakah proses treatment yang diimplementasikan benar-benar mendptakan suatu perbedaanbagi para partisipan yang diteliti. Beri-kan alasan mengapa hasil penelitian signifikan atau tidak signifikan, berdasarkan literatur-literatur yang telah Anda review (Bab 2), teori-teori yang Anda gunakan (Bab 3), atau logika persuasif lain yang dapat menjelaskan hasil tersebut. Jelaskan adakah hasil penelitian yang muncul disebabkan prosedur-prosedur eksperimental yang tidak tepat, seperti kehadiran ancaman-ancaman terhadap validitas, dan jelaskan pula bagaimana Anda menggeneralisasi hasil tersebut pada orang-orang tertentu, setting-setting tertentu, dan waktu-waktu tertentu. Pada akhirnya, Anda juga harus menunjukkan dampakdampak dari hasil ini terhadap populasi yang diteliti atau bagi penelitian-peneiitian selanjutnya.

RINGKASAN Bab ini menjelaskan tentang komponen-komponen penting dalam merancang prosedurprosedur metodis penelitian eksperimen dan survei. Dalam penelitian survei, peneliti menjelaskan tujuan, mengidentifikasi populasi dan sampel, instrumen-instrumen yang

218

digunakan, hubungan antarvariabel, rumusan masalah, item-item khusus, dan langkahlangkah yang diambil dalam analisis dan interpretasi data. Dalam penelitian eksperimen, peneliti mengidentifikasi partisipan, variabel-variabel kondisi-kondisi treatment dan variabel-variabel outcome dan instrumen-instrumen yang digunakan untuk pre-test dan post-test, dan materi-materi yang akan dimanfaatkan selama treatment. Penelitian eksperimen juga mencakup jenis-jenis rancangan eksperimen, seperti pre-experimental, quasi-experimental, true experiment, dan single-subject. Peneliti kemudian membuat sebuah gambar untuk mengilus-trasikan rancangan ini, sesuai notasi yang tepat. Setelah itu, penelitiContoh 8.6 Bagian Metodologi Penelitian Eksperimen

Berikut ini, salah satu contoh tulisan dari penelitian quasi-experimental yang dilakukan Enns dan Hackett (1990). Tulisan ini mengilus-trasikan beberapa komponen penting dalam penelitian eksperimen seperti yang sudah dijelaskan sejak awal. Penelitian Enns dan Hackett ini mengangkat isu umum tentang kesesuaian minat antara klien dan penasihatnya sepanjang menyangkut dimensi-dimensi dikap femi-nisme. Enns dan Hacket berhipotesis bahwa para partisipan (klien) feminis lebih reseptif pada penasihat feminis yang radikal ketimbang para partisipan non-feminis, dan bahwa para partisipan nonfeminis lebih reseptif pada penasihat feminis yang liberal dan non-seksis ketimbang para partisipan feminis. Kecuali pembahasan yang begitu terbatas mengenai analisis dan iriterpretasi data, tulisan Enns dan Hackett ini setidaknya sudah berisi elemen-elemen penting bagai-mana menulis bagian metode penelitian eksperimen yang baik.

Metode Penelitian Partisipan Partisipan dalam penelitian ini adalah 150 mahasiswi kelas dasar dan kelas atas dalam bidang sosiologi, psikologi, dan komunikasi, di uni-versitas negeri dan perguruan tinggi swasta, di pesisir barat. (Disini, peneliti mendeskripsikan para partisipan penelitiannya). Rancangan dan Manipulasi Eksperimental Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial (factorial design) 3 X 2X2: Kecenderungan Penasihat (humanis-nonseksis, feminis liberal, atau feminis radikal) X Nilai-nilai (implisitatau eksplisit) X Identifikasi Feminisme Partisipan (feminis atau

219

nonfeminis). Untuk data penelitian yang kemungkinan tidak mengenai sasaran dalam itemitem tertentu, sudah kami tangani dengan prosedurpairwise deletion. (Disini, peneliti menjabarkan keseluruhan rancangan penelitian). Tiga sifat konseling (humanis-nonseksis, feminis liberal, dan feminis radikal) tergambar dari hasil deskripsi singkat atas rekaman videotape selama 10 menit antara seorang penasihat wanita dan seorang klien wanita.... Nilai-nilai implisit kami peroleh dari hasil wawancara pada sampel (klien) saja, tidak pada penasihatnya secara langsung. Karena itulah, nilai penasihat bersifat implisit. Untuk nilai-nilai eksplisit, kami memperolehnya dengan cara menggabungkan tiga sifat konseling tadi dengan deskripsi singkat atas rekaman videotape selama 2 menit tentang seorang penasihat yang tengah menjelaskan pendekatan konselingnya kepada seorang klien. Setelah itu, kami mengidentifikasi nilainilai tersebut berdasarkan dua orientasi filospfis feminisme, yaitu liberal dan radikal. Tiga sifat konseling kami tetapkan berdasarkan tiga perbedaan filosofis feminisme (humanjsnonseksis, liberal, dan radikal) dan implikasi-implikasi konselingnya. Pernyataanpernyataan klien dan hasil wawancara dengan mereka pada umumnya bersifat konstan (tidak berubah-ubah). Sedangkan respons-respons penasihat justru berbeda-beda sesuai pendekatan yang mereka gunakan. (D/ sini, peneliti mendeskripsikan tiga ^variabel yang di-treatment dan dimanipulasi dalam penelitiannya). Instrumen Cek manipulasi. Untuk rhengecek persepsi partisipan terhadap manipulasi eksperimeritai dan untuk menilai kesamaan persepsi mereka terhadap tiga penasihat, dua subskala dari Attributions of the Term Feminist Sca/e-nya Berryman-Fink dan Verderber (1935) karni modifikasi dan kami gunakan sebagai instrumen penelitfan, yaitu Counselor Description Quesiidnnaire (CDQ) dan Personal Description Questionnaire (PDQ).... Berryman Fink dan Verderber melaporkart reliabilitas konsistensi internal .86 dan .89 untuk versi asli dari dua subskala ini. (Di sini, peneliti menjelaskan instrumen-instrumeh dan reliabilitas skala-skala untuk variabel terikat). Prosedur Semua tahap eksperimentasi dilakukan secara individual. Kami telah mengundang para partisipan, menjelaskan tujuan penelitian kami untuk mengetahui respons mereka mengenai konseling, dan kami telah mengatur ATF. Sementara ATF dikumpulkan dan dinilai, kami meminta setiap partisipan untuk mengisi formulir data demografis dan
220

membaca serangkaian petunjuk untuk menggunakan videotape. Separuh partisipan pertama ditempatkan secara acak (randomly assigned) ke dalam 12 videotape (3 Pendekatan X 2 Nilai X 2 Penasihat). Untuk nilai rata-rata, kami memperolehnya dari ATF. Nilai rata-rata untuk separuh partisipan pertama kemudian digunakan untuk mengategorisasi separuh kelompok kedua ke dalam feminis dan nonfeminis, dan sisany'a yang lain ditempatkan secara acak {randomly assigned) ke dalam'tiga' kelorhpok orientasi feminis (humanis-nonseksis, liberal, dan radikal) untiik memastikan hasii cell size yang setara. Pada tahap akhir, kami memeriksa nilai rata-rata sampel final dan menga-tegorisasi kembali beberapa partisipan dengan pecahan rata-rata, yang akhirnya menghasilkan 12 atau 13 per cell. Setelah m.endehgsirkan videotape yang bernubungan dengan pe-nempatan/periugasah eksperimentalnya {experimental assignment), para partisipan kernudian diminta untuk menyelesaikan instrumen variabel terikat (dependent measure), setelah itu baru mereka mulai diwawancarai (him. 35-36). (D/ sini, peneliti mende'skripsikan pro-sedur-prosedur yang diterapkan dalam penelitian eksparimen).

Sumber : Erns dan Hackett (1990). 1990 oleh American Psychological Association. Dikutip atas izin penulis memberikan komentar-komentarnya tentang ancaman-ancaman potensial pada validitas internal dan eksternal (dan validitas statistik dan konstruk, jika ada) yang berhubungan dengan penelitian eksperi-men, analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis atau rumusan masalah, dan interpretasi hasil.

Latihan Menulis 1. Buatlah desain penelitian berdasarkan prosedur-prosedur penelitian survei.


LATIHAN MENULIS

Setelah usai, amati kembali checklist dalam Tabel 8.1 untuk mengetahui apakah semua komponen sudah disertakan secara jelas dalam desain yang Anda buat, 2. Buatlah desain penelitian berdasarkan prosedur-pro-sedur penelitian eksperimen. Setelah ucai, amati kembali Tabel 8.4 untuk mengetahui apakah semua komponen sudah disertakan secara jelas.

221

BACAAN TAMBAHAN Babbie, E. (1990). Survey Research Methods, (Edisi kedua. Belmont, CA: Wadsworth. Earl Babbie membahas secara detail aspek-aspek penelitian survei. Dia menyajikan jenis-jenis rancangan penelitian survei, logika sampling, dan contoh-contoh untuk masingmasing rancangan. Dia membahas konseptualisasi instrumen survei dan skala-skalanya. Dia juga menyajikan gagasan yang amat penting terkait dengan bagai-mana mengatur kuesioner dan memproses hasil akhir. Selain itu, disertakan pula pembahasan tentang analisis data dengan fokus pada bagaimana membuat dan memahami tabel-tabel dan menulis laporan survei. Buku ini sangat detail, informatif, dan teknis, sangat cocok bagi mahasiswa yang sudah berada di level intermediate atau advance dalam mempelajari penelitian survei. Campbell, D.T. & Stanley, J.C. (1963). "Experimental and Quasi-Experimental Designs for Research." dalam N. L. Gage (Ed.). Handbook of Research on Teaching. Chicago: Rand-McNally. (him. 1-76) Salah satu bab dalam Handbook ini membahas penelitian ekspe-rimen. Campbell dan Stanley merancang sistem notasi untuk penelitian eksperimen yang hingga saat ini masih digunakan. Mereka juga mengajukan jenis-jenis rancangan eksperimen, dimulai dari faktorfaktor yang membahayakan validitas internal dan eksternal, jenis-jenis rancangan preexnerimental, true experiment, quasi experimental, dan rancangan correlational dan ex post facto. Bab ini menyajikan ringkasan yang menarik tentang jenis-jenis rancangan eksperimen, ancaman-ancaman terhadap validitas, dan prosedur-prosedur statis-tik. Bab ini cocok bagi mahasiswa yang baru belajar penelitian eksperimen. Fink, A. (2002). The Survey Kit. Edisi kedua. Thousand Oaks, CA: Sage. "The Survey Kit" disusun daribeberapa buku dan dieditori oleh Arlene Fink. Ringkasan detail buku-buku tersebut disajikan dalam volume pertama. Dalam pendahuluan volume tersebut, Fink mem-bahas aspek-aspek penelitian survei, yang meliputi antara lain: bagai-mana mengajukan pertanyaan, bagaimana melaksanakan survei, bagaimana melibatkan diri dalam wawancaran telepon, bagaimana melakukan sampling, dan bagaimana mengukur validitas dan relia-bilitas. Pembahasan dalam buku ini pada umumnya cocok untuk para peneliti survei pemula. Apalagi di dalamnya juga disajikan banyak contoh dan ilustrasi yang bagus, membuatnya lebih menarik untuk dipelajari. Fowler, F.J. (2002). Survey Research Methods. Edisi ketiga. Thousand Oaks, CA: Sage.
222

Floyd Fowler menyajikan tulisan menarik tentang keputusan-keputusan yang harus diambil dalam melaksanakan proyek penelitian survei. Dia menjelaskan tentang bagaimana menerapkan prosedur sampling alternatif, mengurangi rating nonrespons, mengumpulkan data, merancang pertanyaan yang baik, menerapkan teknik-teknik wawancara yang menarik, mempersiapkan anaiisis, dan menghadapi masalah-masalah etis dalam penelitian survei. Keppel, G. (1991). Design and Analysis: A Researcher's Handbook. Edisi ketiga. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall. Geoffrey Keppel menjelaskan penelitian eksperimen secara detail dan menyeluruh, mulai dari prinsip-prinsip rancangan eksperimen hingga anaiisis statistik terhadap data-data eksperimen. Secara kese-luruhan, buku ini cocok dibaca oleh mahasiswa dalam bidang statistik di level intermediate hingga advance, yang ingin memahami rancangan dan anaiisis statistik eksperimentasi. Bab pendahuluan dalam Handbook ini menyajikan ringkasan yang begitu informatif rnengenai komponen-komponen dalam rancangan eksperimen. Upsey, M.W. (1990). Design Sensitivity: Statistical Power for Experimental Research. Newbury Park, CA: Sage. Mark Iipsey menulis sebuah buku yang membahas rancangan-rancangan eksperimental dan kekuatan statistik dari rancangan-rancangan tersebut. Premis dasarnya adalah: bahwa sebuah eksperi-mentasi perlu memiliki sensitivitas yang memadai untuk mendeteksi pengaruh-pengruh dari objek yang diteliti. Buku ini mengeksplorasi kekuatan statistik dan menyertakan sebuah tabel untuk membantu para peneliti menentukanbesaran (size) yang sesuai untuk kelompok-kelompok yang diteliti. Neuman, S.B., & McCormick, S. (Ed.). (1995). Single-Subject Experimental Research: Applications for Literacy. Newark, DE: International Reading Association. Susan Neuman dan Sandra McCormick mengeditori sebuah buku panduan praktis yang membahas ten tang rancangan penelitian single-subject. Mereka juga menyajikan banyak contoh jenis-jenis rancangan yang lain, seperti reversal design dan Tiniltipe-baseline design. Selain itu, mereka juga menyajikan prosedur-prosedur statistik yang bisa diterapkan dalam analisis data single-subject. Salah satu bab, misalnya, mengilustrasikan bagaimana menampilkan data dengan grafik garis-garis. Meskipun aplikasi dari rancangan single-subject yang dijeiaskan dalam buku ini secara khusus diorientasikan untuk bidang kesusastraan, Anda sebenarnya juga bisa menerapkan rancangan ini untuk bidang ilmu sosial-humaniora.

223

Bab Sembilan

Prosedur-prosedur Kualitatif
Prosedur-prosedur kualitatif memiliki pendekatan yang lebih beragam dalam peneiitian akademik ketimbang metode-metode kuantitatif. Penelitian kualitatif juga memiliki asumsi asumsi filosofis, strategi-strategi penelitian, dan metode-metode pengumpulan, analisis, dan interpretasi data yang beragam. Meskipun prosesnya sama, prosedur-prosedur kualitatif tetap mengandalkan data berupa teks dan gambar, memiliki langkah-langkah unik dalam analisis datanya, dan bersumber dari strategi-strategi peneiitian yang berbeda-beda. Pada dasarnya, strategi-strategi penelitian yang dipilih dalam proyek kualitatif sangat berpengaruh terhadap prosedur-prosedurnya yang, meski seragam, tetap menunjukkan pola yang berbeda-beda. Melihat landskap prosedur-prosedur kualitatif berarti melihat perspektifperspektif yang beragam, mulai dari perspektif keadilan sosial (Denzin & Lincoln, 2005), perspektif ideologis (Lather, 1991), perspektif filosofis (Schwandt, 2000), hingga petunjukpetunjuk prosedur sistematis (Creswell, 007; Corbin & Strauss, 2007). Semua perspektif ini bersaing untuk menjadi landasan utama dalam penelitian kualitatif. Bab ini berusaha mengombinasikan perspektif-perspektif tersebut, menyajikan prosedurprosedur urnum, dan menampilkan contoh-contoh dari beragam strategi kualitatif. Bab ini juga akan menyajikan gagasan-gagasan dari beberapa pakaryang menulis tenta.ng rancangan proposal kualitatif (misalnya, lihat Berg, 2001; Marshall &. Rossman, 2006; Maxwell, 2005; Rossman & Rallis, 1998). Topik-topik yang termasukke dalam bagian prosedur kualitatif antara lain: karakteristik-karakteristik penelitian kualitatif, strategi peneiitian, peran peneliti, langkah-langkah dalam pengumpulan dan analisis data, strategi-strategi validasi, akurasi penemuan, dan struktur naratif. Tabel 9.1 menunjukkan checklist pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana merancang prosedur-prosedur kualitatif ini.

KARAKTERISTIK-KARAKTERISTIK PENEUTIAN KUALITATIF Bertahun-tahun lamanya, para penulis proposal terus berusaha membahas karakteristikkarakteristik penelitian kualitatif untuk me-mastikan legitimasi dari pihak fakultas dan pembacanya. Saat ini, pembahasan-pembahasan semacam itu sudah jarang dijumpai dalam literatur. Bahkan, sekarang ada beberapa konsensus yang telah meng-atur ketentuan-

224

ketentuan dalam penelitian kualitatif. Untuk itulah, saran saya bagi para penulis proposal yang ingin merancang bagian karakteristik penelitian ini antara lain: Amatilah apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh para pembaca proposal Anda. Identifikasilah apakah pembaca Anda sudah banyak mengetahui karakteristikkarakteristik penelitian kualitatif sehingga bagian ini tidak begitu pen ting bagi mereka. Jika Anda ragu-ragu atas pengetahuan mereka, jelaskan karakteristik-karakteristik dasar penelitian kualitatif dalam proposal Anda dan jika rnemungkinkan, bahaslah sebuah artikel jurnal (atau studi) kualitatif baru-baru ini sebagai contoh untuk mengilustrasikan karakteristik-karakteristik tersebut. Sejumlah karakteristik penelitian kualitatif bisa saja digunakan (seperti, Bogdan & Biklen, 1992; Eisner, 1991; Hatch, 2002; LeCompte & Schensul, 1999; Marshall & Rossman, 2006), tetapi saya lebih mengandalkan pada analisis gabungan dari beberapa penulis ini yang sudah saya sertakan secara menyeluruh dalam buku saya tentang penelitian kualitatif (Creswell, 2007). Saya tidak hanya menyertakan perspektifperspektif tradisional saja, tetapi juga perspektif-perspektif baru dalam penelitian kualitatif, seperti advokasi, partisipatoris, dan refleksi-diri. Berikut ini adalah beberapa karakteristik penelitian kualitatif yang disajikan tidak dalam urutan prioritas tertentu.

Tabel 9.1 Checklist pertanyaan-pertanyaan untuk merancang prosedur kualitatif --------Apakah karakteristik-karakteristik dasar penelitian kualitatif sudah di-jelaskan? jenis strategi kualitatif yang akan dan digunakan penerapan juga dari sudah strategi

---------- Apakah -

dijelaskan?

Apakah

sejarah,

definisi,

tersebut sudah dijelaskarvpula? _____ --------- Apakah pembaca dapat memahami peran peneliti dalam peneiitian tersebut (pengalaman historis, sosial, dan kultural sebelumnya, hubungan personal dengan lokasi dan partisipan, langkah-langkah dalam memperoleh entri, dan masalahmasaiah etis)? ---------- Apakah strategi sampling dalam memilih lokasi dan partisipan penelitian sudah -------diidentifikasi? Apakah jenis strategi pengumpulan data dan rasionalisasi pengguna-annya juga
225

sudah dijabarkan? ---------- Apakah langkah-langkah perekaman/pencatatan informasi selama prosedur pengumpulan .data sudah dijelaskan? ---------- Apakah langkah-langkah analisis data juga sudah dijabarkan? --------Apakah ada bukti/petunjuk bahwa peneliti telah mengatur data untuk dianalisis?

---------- Apakah peneliti telah merew'ewdata secara umum untuk memperoleh makna informasi? ---------- Apakah data sudah di-cocffng? ---------- Apakah kode-kode sudah dirancang untuk membentuk deskripsi atau mengidentifikasi tema-tema utama? ---------- Apakah tema-tema tersebut sating terkait satu sama lain, memperkuat analisis dan abstraksi? ---------- Apakah cara-cara penyajian data sudah dijelaskan misalnya dalam bentuk tabel, grafik, atau gambar? --------Apakah dasar-dasar dalam menginterpretasi data sudah dijelaskan secara rinci (pengalaman-pengalaman personal, literatur, pertanyaan-pertanyaan, agenda aksi)? ---------- Apakah peneliti sudah menyebutkan outcome penelitian (misalnya, untuk mengembangkan/msnciptakan suatu teori, menyajikan gambar-an kompleks tentang tema)? ---------- Apakah ada strategi-strategi lain yang dikutip untuk menvalidasi hasil atau penemuan penelitian? Lingkungan alamiah (natural setting); para peneliti kualitatif cenderung mengumpulkan data lapangan di lokasi di mana para partisipan mengalami isu atau masalah yang akan diteliti. Peneliti kualitatif tidak membawa individu-individu ini kedalm laboratoratorium (atau dalam situasi yang telah di-setting sebelumnya); tidak pula membagikan instrumen-instrumen kepada mereka. Informasi yang dikumpulkn dengan berbicara langsung kepada orang-orang dan melihat mereka bertingkah laku dalam konteks natural inilah yang menjadi karakteristik utama peneliti kualitatif.

226

Dalam setting yang alamiah, para peneliti kualitatif melakukan interaksi face-to-face sepanjang penelitian. Penneliti sebagai instrumen kunci (researcher as key instrument); para peneliti kualitatif mengumpulkan sendiri data melalui dokumentasi, observasi perilaku, atau wawancara dengan para partisipan. Mereka bisa saja mengumpulkan protokol-sejenis instrumen untuk mengumpulkan data-tetapi diri merekalah yang sebenarnya menjadi satu-satunya instrumen dalam mengumpulkan informasi. Mareka, pada umumnya, tidak menggunakan kuesioner atau instrumen yang di buat oleh peneliti lain. Beragam sumber data (multiple sources of data); para peneliti kualitatif biasanya memilih mengumpulkan data dari beragam sumber, seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi, ketimbang hanya bertumpu pada satu sumber data saja. Kemudian, peneliti mereview semua data tersebut, memberikannya makna, dan mengolahnya ke dalam kategori-kategori atau tema-tema yang melintasi semua sumber data. Analisis data induktif (inductive data analysis); para peneliti kualitatif membangun pola-pola, kategori-kategori, dan tema-temanya dari bawah ke atas (induktif), dengan mengolah data ke dalam unit-unit informasi yang lebih abstrak. Proses induktif ini mengilustrasikan usaha peneliti dalam mengolah secara berulang-ulang membangun serangkaian tema yang utuh. Proses ini juga melibatkan peneliti untuk bekerjasama dengan para partisipan secara interaktif sehingga partisipan memiliki kesempatan untuk membentuk sendiri tema-tema dan abstraksi-abstraksi yang muncul dari proses ini. Makna dari para partisipan (paticipants meaning); dalam keseluruhan proses penelitian kualitatif, peneliti terus fokus pada usaha mempelajari makna yang disampaikan para partisipan tentang masalah atau isu penelitian, bukan makna yang disampaikan oleh peneliti atau penulis lain dalam literatur-literatur tertentu. Rancangan yang berkembang (emergent design); bagi para peneliti kualitatif, proses penelitian selalu berkembang dinamis. Hal ini berarti bahwa rencana awal penelitian tidak bisa secara ketat dipatuhi. Semua tahap dalam proses ini bisa saja berubah setelah peneliti masuk kelapangan dan mulai mengumpulkan data. Misalnya, pertanyaan-pertanyaan bisa saja berubah, strategi pengumpulan data juga bisa berganti, dan individu-individu yang diteliti serta lokasi-lokasi yang dikunjungi juga bisa berubah sewaktu-waktu. Gagasan utama di balik penelitian kualitatif sebenarnya adalah mengkaji masalah atau isu dari para partisipan dan melakukan penelitian untuk memperoleh informasi mengenai masalah tersebut.
227

Perspektif teoritis (theoretical lens); para peneliti kualitatif sering kali menggunakan perspektif tertentu dalam penelitian mereka, seperti konsep kebudayaan, etnografi, perbedaan-perbadaan gender, ras, atau kelas yang muncul dari orientasi-orientasi teoritis, seperti yang telah dijelaskan pada Bab 3. Terkadang pula penelitian dapat diawali dengan mengidentifikasi terlebih dahulu konteks sosial, politis, atau historis dari masalah yang akan diteliti. Bersifat penafsiran (interpretive); penelitian kualitatif merupakan salah satu bentuk penelitian interpretif di mana di dalamnya para peneliti kualitatif membuat suatu interpretasi atas apa yang mereka lihat, dengar, dan pahami. Interpretasi-interpretasi mereka bisa saja berbeda dengan latar belakang, sejarah, konteks, dan pemahamanpamahaman mereka sebelumnya. Setelah laporan penelitian diterbitkan, barulah para pembaca dan para partisipan yang melakukan interpretasi, yang seringkali berbeda dengan interpretasi peneliti. Karena pembaca, partisipan, dan peneliti sama-sama terlibat dalam proses interpretif ini, tampaklah bahwa penelitian kualitaif memang menawarkan pandangan-pandangan yang beragam atas suatu masalah. Pandangan menyeluruh (holistic account); para penelitia kualitatif berusaha mambuat gambaran kompleks dari suatu masalah atau isu yang diteliti. Hal ini melibatkan usaha pelaporan perspektif-perspektif, pengidentifkasian faktor-faktor yang terkait dengan situasi tertentu, dan secara umum usaha pensketsaan atas gambaran besar yang muncul. Untuk itulah, para peneliti kualitatif diharapkan dapat membuat suatu model visual dari berbagai aspek mengenai proses atau fenomena utama yang diteliti. Model inilah yang akan membantu mereka membangun gambaran holistik (lihat, misalnya, Creswell & Brown, 1992) STRATEGI-STRATEGI PENELITIAN Selain karakteristik-karakteristik utama diatas, penelitian kualitatif juga memiliki strategi-strategi penelitian yang spesifik. Strategi-strategi ini utamnya terkait dengan pengumpulan data, analisis data, dan laporan penelitian, tetapi tetap berasal dari berbagai disiplin dan teru berkembang dinamis sepsnjang proses penelitian (seperti, jenis-jenis problem, masalah-masalah etis, dan sebagainya) (Creswell, 2007b). Ada banyak strategi kualitatif yang sudah dibahas, seperti 28 pendekatan yang pernah diidentifikasi oleh Tesch (1990), 19 jenis dalam konsep pohon-nya Wolcott (2001), dan 5 pendekatan kualitatif oleh Creswell (2007).

228

Seperti yang telah dijelaskan dalam Bab 1, saya merekomendasikan agar para peneliti kualitatif memilih antara beberapa kemungkinan, seperti naratif, fenomenologi, etnografi, studi kasus, dan grounded theory. Saya memilih lima strategi ini karena kelimanya cukup populer dalam ilmu kesehatan dan sosial saat ini. Strategi-strategi lain juga ada dan sudah byank dibahas secara meyakinkan dalam buku-buku kulaitatif, seperti penelitian tindakan partisipatoris (Kemmis & Wilkinson, 1998) atau analisis wacana (Cheek, 2004). Khusus untuk lima pendekatan tadi, para peneliti dapat mengkaji individu-individu (dengan naratif atau fenomenologi); mengeksplorasi proses, aktivitas, dan peristiwa-peristiwa (dengan studi kasus atau grounded theory); atau mempelajari perilaku culture-sharing dari individuindividu atau kelompok-kelompok tertentu (dengan etnografi). Dalam menulis prosedur penelitian untuk proposal kualitatif, pertimbangkan tipstips penelitan berikut ini: Jelaskan pendekatan spesifik yang akan anda gunakan. Sajikan sejumlah informasi historis mengenai strategi penelitan yang akan Anda terapkan, seperti asal mulanya, penerapannya, dan definis ringkasnya (lihat Bab 1 tentang lima strategi penelitian kualitatif). Jelaskam mengapa strategi tersebut dianggap sesuai untuk anda gunakan dalam penelitian Anda. Jabarkan pula bagaimana penggunaan strategi tersebut dapat menentukan jenis-jenis pertanyaan yang diajukan (lihat Morsee, 1994, untuk pertanyaan yang berhubungan dengan strategi penelitian), cara-cara pengumpulan data, langkah-langkah analisis data, dan narasi/laporan akhir. PERAN PENELITI Sebagaiman yang telah dijelaskan sebelumnya, penelitian kualitatif merupakan penelitian interpretif, yang didalamnya peneliti terlibat dalam pengalaman yang berkelanjutan dan terus-menerus dengan para partisipan. Keterlibatan inilah yang nantinya memunculkan serangkaian isu-isu strategi, etis, dan personal dalam proses penelitian kualitatif (Locke et at.,2007). Dengan keterlibatannya dalam concern seperti ini, peneliti kualitatif berperan untuk mengidentifikasi bisa-bisa, nilai-nilai, dan latar belakang pribadinya secara refleksif, seperti gender, sejarah, kebudayaan, dan status sosial ekonominya, yang bisa saja turut membentuk interpretasi mereka selama penelitian. Selain itu, para peneliti kualitatif juga berperan memperoleh entri dalam lokasi penelitan dan masalah-masalah etis yang bisa muncul tiba-tiba.
229

Nyatakanlah pengalaman-pengalaman Anda sebelumnya yang kira-kira dapat mencerminkan data mengenai latar belakang yang komprehensif sehingga pembaca bisa lebih memahami topik, setting, atau para partisipan serta interpretasi Anda atas fenomena tertentu.

Jelaskan hubungan antara Anda (sebagai peneliti) dan partisipan, dan berilah keterangan mengenai lokasi penelitian. Penelitian Backyard (Glesne & Peshkin, 1992) melibatkan usaha identifikasi atas strategi pengolahan, mitra-mitra, atau setting kerja peneliti. Tugas ini sering kali mengharuskan peneliti terlibat dalam kompromi-kompromi tertentu untuk mengungkap informasi dan memunculkan isu-isu kekuasaan. Meskipun pengumpulan data bisa berlangsung nyaman dan mudah, masalah-masalah pelaporan data yang sering kali mengandung bias, tidak utuh, atau penuh dengan kompromi-kompromi juga tidak bisa diremehkan begitu saja. Jika penelitian backyard akan digunakan , cobalah menerapkan beberapa strategi validasi (akan dijelaskan kemudian) untuk membuat pembaca merasa yakin akan akurasi hasil penelitan.

Jelaskan langkah-langkah yang Anda lalui dalam memperoleh izin dari Dewan Pertimbangan Institusional /Institutional Review Board (IRB) (lihat Bab 4) untuk memproteksi hak-hak para partisipan. Dalam lampiram, sajikan Surat Persetujuan atau Surat Izin dari IRB dan jelaskan proses-proses memperoleh izin tersebut.

Jelaskan langkah-langkah yang diambil untuk memperoleh izin dalam meneliti para partisipan dan lokasi penelitian (Marshall & Rossmas, 2006). Peneliti perlu memiliki akses untuk meneliti dan mengarsipkan lokasi penelitian dengan cara berusaha mendapatkan izin dari pihak security atau individu-individu tertentu yang memiliki akses pada lokasi tersebut dan memberikan izin penelitian. Proposal ringkas perlu dibuat untuk diserahkan sebagai pertimbangan kepada phak security tersebut. Bogdan dan Biklen (1992) menjelaskan beberapa hal yang dapat dibahas dalam proposal untuk keperluan izin ini: 1. Mengapa lokasi tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian? 2. Kegiatan-kegiatan apa yang akan dilakukan di lokasi tersebut selama penelitan? 3. Apakah penelitian ini kan mengganggu lingkungan sekitar? 4. Bagaimana melaporkan hasil penelitian? 5. Apa yang dapat diperoleh pehiak security dari penelitian ini?

Berikan penjelasan mengenai masalah-masalah etis yang mungkin muncul (lihat Bab 3) (Berg, 2001). Untuk masalah-masalah etis ini, jelaskan bagaimana Anda akan
230

mengantisipasinya. Misalnya, ketika sedang meneliti topik yang sensitif, penting merahasiakan nama-nama orang, lokasi, atau aktifitas-aktifitas tertentu. Dalam hal ini, proses merahasiakan informasi juga perlu dibahas dalam proposal penelitian.

PROSEDUR-PROSEDUR PENGUMPULAN DATA Penjelasan tentang peranan peneliti akan turut menentukan penjelasan tentang masalah-masalah yang mungkin muncul dalam proses pengumpulan data. Langkah-langkah pengumpulan data meliputi usaha membatasi penelitian, mengumpulkan informasi melalui observasi dan wawancara, baik yang tersetruktur maupun tidak, dokumentasi, materi-materi visual, serta usaha merancang protokol untuk merekam/mencatat informasi. Identifikasi lokasi-lokasi atau individu-individu yang sengaja dipilih dalam proposal penenlitian. Gagasan di balik penelitian kualitatif adalah memilih dengan sengaja dan penuh perencanaan para partisipan dan lokasi (dokumen-dokumen atau materi visual) penelitian yang dapat membantu peneliti mamahami masalah yang diteliti. Dalam penelitian kualitatif, tidak terlalu dibutuhkan random sampling atau pemilihan secara acak terhadap para partisipan dan lokasi penelitian, yang biasa dijumpai dalam penelitan kuantitatif. Pembahasan mengenai para partisipan dan lokasi penelitian dapat mencakup empat aspek (Miles dan Huberman, 1994), yaitu: setting (lokasi penelitian), aktor (siapa yang akan diobservasi atau diwawancarai), dan proses (sifat peristiwa yang dirahasiakan oleh aktor dalam setting penelitian). Jelaskan jenis-jenis data yang akan dikumpulkan. Peneliti-dalam kebanyakan penelitian kualitatif-mengumpulkan beragam jenis data dan memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk mengumpulkan informasi dilokasi penelitian. Prosedur-prosedur pengumpulan data dalam penelitian kualitatif melibatkan empat jenis strategi, seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 9.2. 1. Observasi kualitatif merupakan observasi yang di dalamnya peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu di lokasi penelitian. Dalam pengamatan ini, peneliti merekam/mencatat-baik dengan cara terstruktur maupun semistruktur (misalnya, dengan mengajukan sejumlah pertanyaan yang memang diketahui oleh peneliti) aktivitas-aktivitas dalam lokasi penelitian. Para peneliti kulitatif juga dapat terlibat dalam peran-peran yang beragam, mulai dari sebagai nonpartisipan hingga partisipan utuh.

231

2. Dalam wawancara kualitatif, peneliti dapat melakukan face-to-face interview ( wawancara berhadap-hadapan) dengan partisipan, wawancarai mereka dengan telepon, atau terlibat dalam focus group interview (interview dalam kelompok tertentu) yang terdiri dari enam sampai delapan partisipan per kelompok. Wawancarawawancara seperti ini tentu saja memerlukan pertanyaan-pertanyaan yang secara umum tidak tersetruktur (unstructured) dan bersifat terbuka (openended) yang dirancang untuk memunculkan pandangan dan opini dari para partisipan. Tabel 9.2 Jenis-Jenis, Opsi-Opsi, Kelebihan-Kelebihan, dan Kelemahan-Kelemahan Pengumpulan Data Kualitatif Jenis-Jenis Observasi Opsi-Opsi Partisipasi utuh peneliti menyembunyikan perannya sebagai Observer. Peneliti sebagai partisipan peneliti menampakkan perannya sebagai observer. Partisipan sebagai observer peran observasi sekunder diserahkan kepada partisipan. Peneliti utuh peneliti mengobservasitanpa bantuan partisipan. Berhadap-hadapan peneliti melakukan wawancara perorangan. Telepon peneliti mewawancarai partisipan lewat telepon Opsi-Opsi Focus group peneliti pewawancarai Kelebihan-Kelebihan Peenliti mendapatkan pengalaman langsung dari partisipan. Peneliti dapat melakukan perekaman ketika ada informasi yang muncul. Aspek-aspek yang tidak biasa, ganjil, atau aneh bisa di deteksi selama observasi. Opsi terkhir penting jika peneliti tengah mengeksplorasi topik-topik yang mungkin kurang menyenangkan bagi para partisipan untuk dibahas. Opsi pertama penting ketika peneliti tidak bisa mengobservasi secara langsung semua partisiapan. KelemahanKelemahan Peneliti bisa saja tampak sebagai pengganggu. Peneliti sangat mungkin tidak dapat melaporkan hasil observai yang bersifat frivat. Peneliti tidak dianggap memiliki skill observasi yang baik. Sejumlah partisipan tertentu (seperti, siswa) sering kali hanya mendatangkan masalah selama proses penelitian.

Wawancara

Informasi yang diperoleh bisa saja tidak murni karena masih disaring kembali oleh peneliti.

Jenis-Jenis

Kelebihan-Kelebihan Para partisipan bisa lebih leluasa memberikan


232

Kelemahan-Kelemahan Wawancara hanya akan memberikan informasi di tempat

partisiapan dalam sebuat kelompok Wawancara internet dengan email atau perangkat online lain.

Doumentasi

Dokumen publik, seperti makalah, atau koran. Dokumen privat, seperti diary, buku harian, atau surat.

Jenis-Jenis

Opsi-Opsi

AudioVisual

Foto Vediotape Objek-objek seni

yang sudah ditentukan, dan bukan di tempat alamiah. Kehadiran peneliti bisa saja melahirkan respons-respons yang bias. Tidak semua orang punya kemampuan artikulasi dan persepsi yang setara. Memungkinkan Tidak semua orang peneliti memperoleh memiliki bahasa dan kata-kata kemampuan tekstual dari artikulasi dan partisipan. persepsi yang setara. Dapat diakses kapan saja sumber Dokumen ini bisa informasi yang tidak saja diproteksi dan terlalu menonjol. tidak memberikan akses privat mapun Menyajikan data publik. yang berbobot. Data ini biasanya sudah Mengharuskan ditulis secara peneliti menggali mendalam oleh informasi dari partisipan tempat-tempat yang mungkin saja sulit ditemukan. Kelebihan-Kelebihan Kelemahan-Kelemahan Sebagai bukti tertulis, Dokumen yang data ini benar-benar terkomputerisasi dapat menghemat masih waktu peneliti dalam mengharuskan mentranskip. peneliti untuk mentranskip secara online atau menscanning-nya terlebih dahulu. Materi-materinya sangat mungkin tidak lengkap. Dokumen tersebut bisa saja tidak asli atau tidak akurat. Bisa menjadi metode Materi seperti ini yang tidak terlalu bisa saja sangat menonjol dalam rumit untuk
233

informasi historis. Memungkinkan peneliti mengontrol alur tanya jawab (questioning).

proses pengumpulan ditafsirkan. data. Bebarapa materi audio-visual Memberikan kesempatan bagi diproteksi dan tidak partisipan untuk memberikan akses membagi publik maupun pengalamannya privat. secara langsung. Kehadiran peneliti (seperti, fotografer) Materi audio-visual merupakan materi sangat mungkin kreatif yang dibuat mengganggu dengan penuh (disruptif). perhatian. Catatan: Tabel ini merupakan gabungan dari beberapa materi yang pernah disampaikan oleh Software komputer film Merriam (1998), Bogdam & Biklen (1992), dan Creswell (2007) 3. Selama proses penelitian, peneliti juga bisa mengumpulkan dokumen-dokumen kulitatif. Dokumen ini bisa berupa dokumen publik (seperti, koran, makalah, laporan kantor) ataupun dokumen privat (seperti, buku harian, diary, surat, e-mail). 4. Kategoti terakhir dari data kualitatif adalah materi audio dan visual. Data ini bisa berupa foto, objek-objek seni, videotape, atau segala jenis suara/bunyi. Dalam membahas pengumpulan data lain di luar observasi dan wawancara yang biasa. Strategi-strategi yang tidak biasa seperti ini tidak hanya memungkinkan peneliti memperoleh informasi penting yang mungkin luput dari observasi dan wawancara, tetapi juga akan membuat pembaca tertarik pada proposal yang diajukan. Misalnya, amatilah sejumlah pendekatan pengumpulan data dalam Tabel 9.3 yang mungkin bisa anda gunakan. Dari tabel ini, diharapkan anda mampu membuka imajinasi lebih luas terhadap kemungkinan pendekatan-pendekatan lain, misalnya dengan mengumpulkan bunyi atau rasa, atau dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang disukai partisipan untuk membangkitkan komentar mereka selama wawancra.

PROSEDUR-PROSEDUR PEREKAM DATA Sebelum terjun kelapangan, peneliti kualitatif merencanakan pendekatan untuk merekam data penelitian. Proposal seharusnya mengidentifikasi data apa yang akan direkam dan prosedur-prosedur apa yang digunakan untuk merekam data tersebut.

234

Gunakanlah protokol untuk merekam data observasional. Peneliti sering kali terlibat dalam banyak observasi selama penelitian dan selama observasi ini; peneliti meggunkan protokol observasional untuk merekam data. Protokol ini bisa berupa satu lembar kertas dengan garis pemisah di tengah untuk membedakan catatan-catatac deskriptif (deskripsi mengenai partisipan, rekonstruksi dialog, deskripsi mengenai setting fisik, catatan tentang peristiwa

Tabel 9.3 Beberapa Pendekatan Pengumpulan Data Kualitaif Observasi Observasi Mengumpulkan data lapangan denga berperan sebagai partisipan. Mengumpulkan data lapangan dengan berperan sebagai Observer. Mengumpulkan data lapangan dengan lebih banyak berperan sebagai partisipan ketimbang observer. Mengumpulkan data lapangan dengan lebih banyak berperan sebagai observer ketimbang partisipan. Mengumpulkan data lapangan dengan berperan sebagai outsider (orang luar) terlebih dahulu, kemudian mulai masuk kedalam setting penelitian sebagai insider (orang dalam) Wawancara Melaksanakan wawancara tidak-tersetruktur dan terbuka, sambil mencatat hal-hal penting. Melaksanakan wawancara tidak-tersetruktur dan terbuka, sambil merekamnya dengan audiotape, lalu mentranskipnya. Melaksanakan wawancara semi-terstruktur, sambil merekamnya dengan audiotape, lalu mentranskipnya. Melaksankan wawancara focus group, sambil merekamnya dengan audiotape, lalu mentranskipnya. Melaksanakan jenis wawancara yang berbeda sekaligus: melalui email, dengan berhadaphadapan langsung, wawancara focus group, wawancara focus group online, dan wawancara telepon. Dokumentasi Mendokumentasikan buku harian selama penelitian. Meminta buku harian atau diary dari partisipan selama penelitian. Mengumpulkan surat pribadi ari partisipan.
235

Menganalisis dokumen publik (seperti, memo resmi, catatan-catatan resmi, atau arsiparsip lainnya). Menganalisis autobiografi atau biografi. Meminta foto partisipan atau merekam suara mereka dengan videotape. Audit-audit. Rekaman medis

Materi Audio-Visual Menganalisis jejak-jejak fisik (seperti, jejak-jejak kaki di salju). Merkam atau memfilmkan situasi sosial atau seorang individu atau kelaompok tertentu. Menganalisis foto dan rekaman video. Mengumpulkan suara/bunyi (seperti, musik, teriakan anak, klakson mobil), Mengumpulkan email. Mengumpulkan text massage dari telepon seluler. Menganalisis harta kepemilikan atau objek-objek ritual. Mengumpulkan bunyi, aroma, rasa, atau stimuli-stimuli indra lainnya

Sumber: Diadopsi dari Creswell (2007) dan aktivitas tertentu) dengan catatan-catatan refleksif (pengetahuan pribadi peneliti, seperti spekulasi, perasaan, masalah, gagasan, dugaan, kesan, dan prasangka) (Bogdan & Biklen, 1992:121). Dalam prorokol ini juga bisa disertsakan informasi demografis, seperti jam, tanggal, dan lokasi di mana peneliti saat itu berada. Gunakanlah protokol wawancara ketika mengajukan pertanyaan dan merekam jawabanjawaban selama wawancara kualitatif. Protokol ini bisa mencakup komponen-komponen berikut ini: 1. Judul (tanggal, lokasi, pewawancara/peneliti, yang diwawancarai/partisipan). 2. Instruksi-instruksi yang harus diikuti oleh partisipan agar prosedur-prosedur wawancara dapat berajalan lancar. 3. Pertaanyaan-pertanyaan (biasanya pertanyaan ice-breaker di awal wawancara yang kemudian dilanjutkan dengan 4-5 pertanyaan yang menjadi subpertanyaansubpertanyaan dari rumusan masalah penelitian; lalu diikuti oleh beberapa pertanyaan lain atau pertanyaan penutup, seperti: siapa yang harus saya kunjungi untuk mempelajari lebih lanjut mengenai topik ini?

236

4. Proses penjajakan/pemeriksaan dengan mengajukan 4-5 pertanyaan, untuk meminta partisipan menjelaskan gagasan-gagasan mereka lebih detail atau menguraikan lebih rinci tentang apa yang mereka katakan. 5. Waktu tunda selama wawancara untuk merekam/mencatat respons-respons dari partisipan. 6. Ucapan terimakasih kepada orang yang diwawancarai atas waktu yang diluangkan untuk wawancara (lihat Creswell, 2007) Peneliti merekam informasi dari partisipan dengan menggunakan catatan-tangan, dengan audiotape, atau dengan videotape. Akan tetapi, meskipun wawancara ini direkam menggunakan audiotape, saya merekomendasikan agar peneliti tetap mencatatnya karena banyak kejadian hasil rekaman menjadi korup, rusak, atau gagal. Jika videotape yang digunakan, peneliti harus tetap mengatur rencana selanjutnya untuk mentranskip hasil rekaman vediotape ini. Untuk dokumen dan materi-materi visual, dapat direkam/ dicatat sesuai keinginkan peneliti. Biasanya, rekaman/catatan haruslah merefleksikan informasi menganai dokumen tersebut atau materi lain serta gagasan-gagasnan inti dalam dokumen itu. Penting juga mencatat apakah materi ini benar-benar mencerminkan materi primer (seperti, informasi yang secara langsung berasal dari orang atau situasi yang tengah diteliti) atau materi sekunder (seperti, catatan-catatan tangan-kedua/second-hand tentang orang atau situasi penelitian yang berasal dari sumber lain). Peneliti juga perlu memberikan komentar tentang nilai dan reliabilitas sumber-sumber data ini. ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA Dalam proposal, bagian analisis data bisa terdiri dari sejumlah komponen. Tetapi, proses analisis data secara keseluruhan melibatkan usaha memaknai data yang berupa teks atau gambar. Untuk itu, peneliti perlu mempersiapkan data tersebut untuk dianalisis, melakukan analisis-analisis yang berbeda, memperdalam pemahaman akan data tersebut (sejumlah peneliti kualitatif lebih suka membayangkan tugas ini layaknya menguliti lapisan bawang), menyajikan data, dan membuat interpretasi makna yang lebih luas akan data tersebut. Ada sejumlah proses umum yang bisa dijelaskan oleh peneliti dalam proposal mereka untuk menggambarkan keseluruhan aktivitas analisis data ini, sebagaimana yang pernah saya (Creswell, 2007), Rossman dan Rallis (1998) deskripsikan berikut ini:

237

Analisis data merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan refleksi terus-menerus terhadap data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan analitis, dan menulis catatan singkat sepanjang penelitian. Maksud saya, analisis data kualitatif bisa saja melibatkan proses pengumpulan data, interpretasi, dan pelaporan hasil secara serentak dan bersama-sama. Ketika wawancara berlangsung, misalnya, peneliti sambil lalu melakukan analisis terhadap data-data yang baru saja diperoleh dari hasil wawancara ini, menulis catatancatatan kecil yang dapat dimasukkan sebagai narasi dalam laporan akhir, dan memikirkan susunan laporan akhir. Analisis data melibatkan pengumpulan data yang terbuka, yang didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan umum, dan analisis informasi dari para partisipan. Analisis data kualitatif yang dilaporkan dalam artikel-artikel jurnal dan buku-buku ilmiah sering kali menjadi model analisis yang umum digunakan. Dalam model analisis tersebut, peneliti mengumpulkan data kualitatif, menganalisisnya berdasarkan tema-tema atau perspektif-perspektif tertentu, dan melaporkan 4-5 tema. Meski demikian, saat ini tidak sedikit peneliti kualitatif yang berusaha melampaui model analisis yang sudah lazim tersebut dengan menyajikan prosedur-prosedur yang lebih detail dalam setiap strategi penelitiannya. Misalnya, strategi grounded theory kini sudah memiliki langkah-langkah sistematis dalam analisis datanya (Corbin & Strauss, 2007; Strauss & Corbin, 1990,. 1998). Langkah-langkah ini meliputi, misalnya, membuat kategori-kategori atas informasi yang diperoleh (open coding), memilih salah satu kategori dan menempatkannya dalam satu model teoretis (axial coding), lalu merangkai sebuah cerita dari hubungan antar-kategori ini (selective ceding). Selain grounded theory, studi kasus atau penelitian etnografi kini sudah melibatkan deskripsi detail mengenai setting atau individu-individu tertentu, yang kemudian diikuti oleh analisis data (lihat Stake, 1995; Wolcott, 1994). Penelitian fenomenologis sudah menerapkan analisis terhadap per-nyataan-pernyataan penting, generalisasi unit-unit makna, dan apa yang disebut Moustakas (1994) sebagai deskripsi esensi. Penelitian naratif melibatkan penceritaan kembali cerita-cerita partisipan dengan menggunakan unsurunsur struktural, seperti plot, setting, aktivitas, klimaks, dan ending cerita (Clandinin & Connelly, 2000). Intinya, proses-proses dan istilah-istilah dalam strategi penelitian kualitatif berbeda satu sama lain dalam hal analisis datanya. Meskipun perbedaan-perbedaan analitis ini sangat bergantung pada jenis strategi yang digunakan, peneliti kualitatif pada umumnya menggunakan prosedur yang umum dan

238

langkah-langkah khusus dalam analisis data. Cara yang ideal adalah dengan mencampurkan prosedur umum tersebut dengan langkah-langkah

khusus. Ringkasan proses analisis data dapat dilihat pada Gambar 9.1. Sebagai tips penelitian, saya mengajak peneliti untuk melihat analisis data kualitatif sebagai suatu proses penerapan langkah- langkah dari yang spesifik hingga yang umum dengan berbagai berikut ini Gambar 9.1 mengilustrasikan pendekatan linear dan hierarkis yang dibangun dari bawah ke atas, tetapi dalam praktiknya saya melihat pendekatan ini lebih interaktif; beragam tahap saling berhubungan dan tidak harus selalu sesuai dengan susunan yang telah disajikan. Pendekatan di atas dapat dijabarkan lebih detail dalam langkah-langkah analisis berikut ini: Langkah 1. Mengolnh dan mempersiapkan data untuk dianalisis. Langkah ini melibatkan transkripsi wawancara, men-scanning materi, mengeuk data lapangan, atau memilah-milah dan menyusun data tersebut ke dalam jenis-jenis yang berbeda tergantung pada sumber informasi. Langkah 2. Membaca keseluruhan data. Langkah pertama adalah membangun general sense atas Informasi yang diperoleh dan me-refleksikan maknanya secara keseluruhan. Gagasan umum apa yang terkandung dalam perkataan partisipan? Bagaimana nada gagasangagasan tersebut? Bagaimana kesan dari kedalaman, kredibilitas, dan penuturan informasi itu? Pada tahap ini, para peneliti kualitatif terkadang menulis catatan-catatan khusus atau gagasan-gagasan umum tentang data yang diperoleh. Langkah 3. Menganalisis lebih detail dengan mene-coding data. Coding merupakan proses mengolah materi/informasi menjadi segmen-segmen tulisan sebelum memaknainya (Rossman & Rallis, 1998:171). Langkah ini melibatkan beberapa tahap: mengambil data tulisan atau gambar yang telah dikumpulkan selama proses pengumpulan, mensegmentasi kalimat-kalimat (atau paragraf-paragraf) atau level analisis yang berbeda, sebagaimana yang ditunjukkan

Menginterpretasitematema/deskripsi-deskripsi

Menghubungkan tematema/deskripsi-deskripsi (seperti, grounded theory, studikasus) 239

A V. Tema-tenia I Menvalidasi keakuratan informasi * Men-coding data Deskripsi L

(tangan atau komputer)i * Membaca keseluruhan data ji Mengolatrdan mempersiapkan data untuk i dianalisis Data mentah (transkripsi,

data lapangan, gambar, dan Analisis data dalam Penelitian Kualitatif sebagainya) gambar-gambar tersebut ke dalam kategori-kategori, kemudian melabeli kategori-kategori ini dengan istilah-istilah khusus, yang sering kali didasarkan pada istilah/bahasa yang benarbenar berasal dari partisipan (disebut istilah in vivo). Sebelum melanjutkan pada Langkah 4, pertimbangkan peturv-juk-petunjuk detail yang dapat membantu Anda dalam proses coding. Tesch (1990:142-145) memberikan ulasan menarik tentang dela-pan langkah dalam proses coding: 1. Berusahalah untuk memperoleh pemahaman umum. Bacalah semua tran'skripsi dengan hati-hati. Berusahalah untuk menangkap gagasan-gagasan inti dari transkripsi tersebut. 2. Pilihlah satu dokumen (seperti, wawancara) yang paling menarik, paling singkat, dan paling penting. Pelajari baik-baik, lalu tanyakan pada diri Anda sendiri, "Ini tentang apa?" Jangan dulu berpikir mengenai substansi informasi, tetapi pikirkanlah makna dasarnya. Tulislah gagasan tersebut dalam bentuk catatan-catatan kecil. 3. Ketika Anda sudah merampungkan tugas ini, buatlah daftar mengenai semua topik yang Anda peroleh dari perenungan Anda sebelumnya. Gabungkan topik-topik yang sama. Masukkan topik-topik ini dalam kolom-kolom khusus, bisa sebagai topik utama, topik unik, atau topik lain.
240

4.

Sekarang,bawalah daftar topik tersebut dan kembalilah ke data Anda. Ringkaslah topiktopik ini menjadi kode-kode, lalu tulislah kode-kode tersebut dalam segmensegmen/kategori-kategori. Amati kembali kategori-kategori yang sudah Anda buat, lalu lihatlah apakah ada kategori-kategori dan kode-kode lain yang luput dari pengamatan Anda.

5.

Buatlah satu kalimat/frasa/kata yang paling cocok untuk meng- gambarkan topik-topik yang sudah Anda peroleh sebelumnya, lalu masukkanlah topik-topik ini dalam kategorikategori khusus. Cobalah meringkas kategori-kategori yang ada dengan mengelompokkan topik-topik yang saling berhubungan satu sama lain. Untuk melakukan hal ini, Anda bisa membuat garis-garis antarkategori untuk menujukkan keterhubungannya

6.

Jika masih dimungkinkan, ringkas kembali kategori-kategori ini, lalu susunlah kodekode untuknya.

7.

Masukkan materi-materi data ke dalam setiap kategori tersebut dan bersiaplah untuk melakukan analisis awal.

8.

Jika perlu, coding-lah kembali data yang sudah ada.

Intinya, deiapan langkah di atas akan membuat peneliti lebih sistematis daiam proses analisis data tekstual. Tentu saja ada banyak variasi dalam proses ini. Sebagai tips penelitian, saya mendorong para peneliti kualitatif untuk menganalisis materi data mereka dengan menjelaskan: Kode-kode yang berkaitan dengan topik-topik utama yang sudah banyak diketahui oleh pembaca secara umum, dengan berpijak pada literatur sebelumnya dan common sense. Kode-kode yang mengejutkan dan tidak disangka-sangka di awal penelitian. Kode-kode yang ganjil dan memiliki ketertarikan konseprual bagi pembaca (seperti, dalam Asmussen dan Creswell, 1995, kami memunculkan retriggering, "penembakan kembali," sebagai salah satu kode/tema yang menyuguhkan dimensi baru pada kita tentang insiden penembakan di kampus dan tentu saja berhubungan dengan pengalaman orang lain di kampus mana pun). Kode-kode yang mencerminkan perspektif teoretis yang luas dalam penelitian. Sebagai konseptualisasi alternatif, pertimbangkan pula jenis-jenis kode yang menurut Bogdan dan Biklen (1992:166-172) banyak muncul dalam database kualitatif: Kode-kode setting dan konteks.
241

Perspektif-perspektif subjek. Kecenderungan berpikir subjek tentang orang lain dan objek-objek. Kode-kode proses. Kode-kode aktivitas. Kode-kode strategi. Kode-kode relasi dan struktur sosial Skema-skema coding yang sudah direncanakan sejak awal. Masalah lain yang sering kali muncul terkait dengan proses coding ini adalah soal

apakah peneliti seharusnya: (a) membuat kode-kode hanya berdasarkan informasi yang muncul dengan sendirinya (enlarging code) dari para partisipan; (b) menggunakan kodekode yang telah ditentukan sebelumnya {predetermined code), kemudian men-/ft-kan kodekode tersebut dengan data penelitian; atau (c) mengombinasikan dua jenis.kodie ini (emerging code dan predetermined code). Pendekatan yang banyak diterapkan dalam ilmu sosial adalah dengan membiarkan kode-kode tersebut muncul (emerging code) selama analisis data. Dalam ilmu kesehatan, pendekatan yang paling sering digunakan adalah dengan menggunakan kode-kode yang telah ditentukan sebelumnya {predetermined code) yang didasarkan pada teori yang akan diuji. Meski demikian, peneliti juga bisa menerapkan pendekatan lain yang lebih variatii, yaitu dengan membuat codebook kualitatif, sebuah tabel atau catatan yang berisi kode-kode yang telah ditentukan sebelumnya (predetermined codes) untuk digunakan dalam mengcoding data. Codebook ini bisa tersusun dari nama kode di satu kolom, definisi kode di kolom lain, dan keterangan-keterangan lain (seperti, nomor garis) yang menunjukkan adanya kode dalam transkrip ter-tentu. Hanya saja, codebook ini tidak akan terlalu berfungsi jika peneliti meng-coding data dari transkrip yang berbeda-beda. Codebook ini ber-kembang dan bisa berubah jika penelitiannya didasarkan pada" analisis tertutup (close analysis) atau ketika peneliti tidak memulai analisisnya dari perspektif emerging code. Bagi para peneliti yang memiliki teori yang sudah pasti dan mereka ingin menguji dalam proyek-proyeknya, saya merekomen-dasikan agarcodebook digunakan terlebih dahulu untuk meng-coding data dan biarkan codebook tersebut berkembang dan berubah sesuai dengan informasi yangdipelajari ketika melakukan analisis data. Penggunaan codebook secara khusus berguna bagi bidang-bidang yang menerapkan penelitian kuantitatif, namun masih memerlukan pendekatan yang lebih sistematis dari penelitian kualitatif.

242

Kembali pada proses coding sebelumnya, sejumlah peneliti melihat pentingnya mengcoding transkrip-transkrip atau informasi kualitatif dengan memakai tangan, atau mengcoding skema-skema dengan warna-warna, lalu menuliskan segmen-segmen teksnya ke dalam kartu-kartu kecii. Tentu saja, pendekatan ini menguras energi dan waktu. Pendekatan lain yang lebih cepat adalah dengan menggunakan program-program software komputer untuk membantu meng-coding, mengolah/ dan memilah-milah informasi yang mungkin berguna dalam proses penulisan bagi penelitian kualitatif. Ada beberapa software komputer yang memiliki fitur-fitur yang sangat berguna, seperti tersedianya tutorial dan CD peragaan, kemampuan menggabungkan data teks dan gambar (seperti, foto), kehandalan dalarh penyimpanan dan pengolahan data, kapasitas pencarian dan penempatan semua teks yang berhubungan dengan kode-kode tertentu, pencarian kode-kode yang saling berhubungan dalam membuat pertanyaan-per-tanyaan mengenai hubungan antarkode, dan import serta export data kualitatif ke dalam program-program kuantitatif seperti dalam spreadsheet atau program analisis data. Ide dasar di balik program-program seperti ini adalah bahwa menggunakan komputer merupakan cara efisien untuk menyimpan dan menempatkan data kualitatif. Meskipun dalam program ini peneliti masih perlu membaca teks (seperti transkripsi-transkripsi) dan memindah kode-kode, proses ini akan menjadi lebih cepat dan efisien ketimbang mengcoding menggunakan tangan. Selain itu, jika database sangat banyak, peneliti bisa dengan cepat mencari semua kutip-an (atau segmen-segmen teks) yang memiliki kode yang sama dan mendeteksi apakah para partisipan merespons gagasan dalam kode tersebut dengan cara yang sama atau berbeda. Di luar kemudahan ini, program komputer dapat menfasilitasi peneliti untuk mem-bandingkan kode-kode yang berbeda (seperti, bagaimana laki-iaki dan wanita kode pertama tentang gender berbeda-beda dalam hal sikap mereka terhadap aktivitas merokok kode kedua). Fitur-fitur inilah yang membuat proses coding dengan software komputer menjadi pilihan yang lebih logis kefimbang meng-codzng-nya dengan tangan. Sebagaimana program-program software lain, program software kualitatif seperti ini juga membutuhkan waktu dan keterampilan peneliti untuk mempelajari dan menerapkannya secara efektif, meski-pun buku-buku y ang membahas teknik-teknik penggunaan program ini sudah banyak tersedia (seperti, Weitzman & Miles, 1995). Ada begitu ban)'ak program software yang mendukung untuk PC pribadi. Misalnya, program-program software yang saya dan rekan-rekan saya guriakan di kantor penelitian adalah sebagai berikut:

243

MAXqda (www.maxqda .com). Program ini merupakan program berbasis PC dari Jerman yang dapat membantu peneliti secara sistematis mengevaluasi dan menginterpretasi teks-teks kualitatif. Program ini istimewa karena memiliki semua fitur yang telah saya sebutkan di atas.

Atlas.ti (www.atlasti.com). Program berbasis PC lain yang juga berasal dari Jerman ini juga dapat membantu peneliti dalam mengolah file-file data teks, gambar, audio, dan visual, serta hal-hal lain yang dapat di-coding, seperti memo, ke dalam proyek penelitian.

QSR NVivo (www.qsrintemational.com). Program yang berasal dari Austrasila ini menawarkan program software terkenal a N6 (atau Nud.ist) yang dikombinasikan dengan concept mapping NVivo. Program ini juga mendukung PC berbasis windows.

HyperRESEARCH (www.researchware.com). Program yang mendukung, baik untuk PC maupun MAC ini, merupakan paket software kualitatif yang mudah digunakan dan memungkinkan peneliti untuk meng-codzrzg, memperoleh kembali, dan membangun teori-teori, serta melakukan analisis data.

Langkah 4. Terapkan proses coding untuk mendeskripsikan setting, orang-orang, kategori-kategori, dan tema-tema yang akan di-analisis. Deskripsi ini melibatkan usaha penyampaian informasi secara detail mengenai orang-orang, lokasi-lokasi, atau peristiwaperistiwa dalam setting tertentu. Peneliti dapat membuat kode-kode untuk mendeskripsikan semua informasi ini, lalu menganalisisnya untuk proyek studi kasus, etnografi, atau penelitian naratif. Setelah itu, terapkanlah proses coding untuk membuat sejumlah kecil tema atau kategori, bisa lima hingga tujuh kategori. Tema-tema inilah yang biasanya menjadi hasil utama dalam penelitian kualitatif dan sering kali digvinakan untuk membuat judul dalam bagian hasil penelitian. Meski demikian, tema-tema ini sebaiknya diperkuat dengan berbagai kutipan, seraya menampilkan perspektif-perspektif yang terbuka untuk dikaji ulang. Setelah mengidentifikasi terria-tema selama proses coding, pene-liti kualitatif dapat memanfaatkan lebih jauh tema-tema ini untuk membuat analisis yang lebih kompleks. Misalnya, peneliti mengait-kan tema-tema dalam satu rangkaian cerita (seperti dalam penelitian naratif) atau mengembangkan tema-tema tersebut menjadi satu model teoretis (seperti dalam grounded theory). Tema-tema ini juga bisa dianalisis untuk kasus tertentu, lintas kasus yang berbeda-beda (seperti dalam studi kasus), atau dibentuk menjadi deskripsi umum (seperti dalam fenomenologi). Penelitian kualitatif yang rumit biasanya melampaui

244

deskripsi dan identifikasi tema untuk masuk ke dalam huburvgan antartema yang lebih kompleks. Langkah 5. Tunjukkan bagaimana deskripsi dan tema-tema ini akan disajikan kembali dalam narasi/laporan kualitatif. Pendekatan yang paling populer adalah dengan menerapkan pendekatan naratif dalam menyampaikan hasil analisis. Pendekatan ini bisa meliputi pembahasan tentang kronologi peristiwa, tema-tema tertentu (lengkap dengan subtemasubtema, ilustrasi-ilustrasi khusus, perspektif-perspektif, dan kutipan-kutipan), atau tentang keterhubung-an antartema. Para peneliti kualitatif juga dapat menggunakan visual-visual, gambar-gambar, atau tabel-tabel untuk membantu menyaji-kan pembahasan ini. Mereka dapat menyajikan suatu proses (sebagaimana dalam grounded theory), menggambarkan secara spesifik lokasi penelitian (sebagaimana dalam etnografi), atau memberikan informasi deskriptif tentang partisipan dalam sebuah tabel (sebagaimana dalam studi kasus dan etnografi). Langkah 6. Langkah terakhir dalam analisis data adalah meng-interpretasi atau memaknai data. Mengajukan pertanyaan seperti "Pelajaran apa yang bisa diambil dari semua ini?" akan membantu peneliti mengungkap esensi dari suatu gagasan (Lincoln & Guba, 1985). Pelajaran ini dapat berupa interpretasi pribadi si peneliti, dengan berpijak pada kenyataan bahwa peneliti membawa kebudayaan, sejarah, dan pengalaman pribadinya ke dalam penelitian. Interpretasi juga bisa berupa makna yang berasal dari perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang berasal dari literatur atau teori. Dalam hal ini, peneliti menegaskan apakah hasil peneliti-annya membenarkan atau justru menyangkal informasi sebelumnya. Interpretasi/pemaknaan ini juga bisa berupa pertanyaan-pertanyaan baru yang perlu dijawab selanjutnya: pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari data dan analisis, dan bukan dari hasil ramalan peneliti. Salah satu cara yang, menurut Wolcott (1994), dapat diterapkan ahli etnografi untuk mengakhiri penelitiannya adalah dengan meng-ajukan pertanyaan-pertanyaan lebih laniut. Pendekatan questioning ini juga berlaku dalam pendekatan advokasi dan partisipatoris. Selain itu, jika peneliti kualitatif menggunakan perspektif teoretis, mereka dapat membentuk interpretasi-interpretasi yang diorientasikan pada agenda aksi menuju reformasi dan perubahan. Jadi, interpretasi atau pemaknaan data dalam. penelitian kualitatif dapat berupa banyak hal, dapat diadaptasikan untuk jenis rancangan yang berbeda, dan dapat bersifat pribadi, berbasis penelitian, dan tindakan. RELIABIUTAS, VALIDItAS, DAN GENERALISABILITAS
245

Meski validasi atas hasil penelitian bisa berlangsung selama proses penelitian (seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 9.1), peneliti tetap harus memiokuskan pembahasannya mengenai validasi ini dengan cara menulis prosedur-prosedur validasi pada bagian khusus dalam proposal. Peneliti perlu menyampaikan langkah-iangkah yang ia ambil untuk memeriksa akurasi dan kredibilitas hasil penelitiannya. Dalam penelitian kualitatif, validitas ini tidak memiliki konotasi yang sama dengan validitas dalam penelitian kuantitatif, tidak pula sejajar dengan reliabilitas (yang berarti pengujian stabilitas dan konsistensi respons) ataupun dengan generalisabilitas (yang berarti validitas eksternal atas hasil penelitian yang dapat diterapkan pada setting, orang, atau sampel yang baru) dalam penelitian kuantitatif) (mengenai generalisabilitas dan reliabilitas kuantitatif ini sudah di-jelaskan dalam Bab 8). Sebaliknya, validitas kualitatif merupakan upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan me-nerapkan prosedur-prosedur tertentu, sementara reliabilitas kualitatif mengindikasikan bahwa pendekatan yang digunakan peneliti konsisten jika diterapkan oleh peneliti-peneliti lain (dan) untuk proyek-proyek yang berbeda (Gibbs, 2007). Bagaimana para peneliti kualitatif mengetahui bahwa pendekatan mereka konsisten dan reliabel? Yin (2003) menegaskan bahwa para peneliti kualitatif harus mendokumentasikan prosedur-prosedur studi kasus mereka dan mendokumentasikan sebanyak mungkin langkahlangkah dalam prosedur tersebut. Dia juga merekomendasi-kan agar para peneliti kualitatif merancang secara cermat protokol dan database studi kasusnya. Gibbs (2007) memerinci sejumlah prosedur reliabilitas sebagai berikut: Ceklah hasil transkripsi untuk memastikan tidak adanya kesalahan yang dibuat selama proses transkripsi. Pastikan tidak ada definisi dan makna yang mengambang mengenai kode-kode selama proses coding. Hal ini dapat dilakukan dengan terus membandingkan data dengan kodekode atau dengan menulis catatan tentang kode-kode dan defirusi-definisinya (lihat pembahasan mengenai codebook kualitatif). Untuk penelitian yang berbentuk tim, diskusikanlah kode-kode bersama partner satu tim dalam pertemuan-pertemuan rutin atau sharing analisis. Lakukan cross-check dan bandingkan kode-kode yang dibuat oleh peneliti lain dengan kode-kode yang teiah Anda buat sendiri.

246

Para peneliti kualitatif perlu menjelaskan sejumlah prosedur ini dalam proposal penelitian untuk menunjukkan bahwa hasil penelitian yang mereka peroleh nantinya akan benar-benar konsisten dan reliabel. Saya merekomendasikan agar beberapa prosedur penelitian dijelaskan dalam proposal, dan peneliti perlu mencari orang yang dapat mengkroscek kode-kode mereka untuk memperoleh apa yang saya sebut dengan intercoder agreement. Persetujuan semacam ini dapat didasarkan pada apakah dua atau lebih coder (pemeriksa kode, penj.) telah "sepakat" tentang kode-kode yang digunakan untuk "pernyataan yang sama" (Catatan: ini bukan soal apakah mereka menfr-coding pernyataan yang sama, tetapi apakah mereka akan meng-codmg pernyataan tersebut dengan kode yang sama/mirip satu sama lain). Setelah itu, peneliti dapat menerapkan prosedur-prosedur statistik atau subprogram-subprogram reliabilitas yang tersedia dalam program-program software kualitatif untuk mengetahui tingkat konsistensi coding. Miles dan Huberman (1994) merekomendasikan agar konsistensi coding ini setidaknya berada dalam 80% agreement untuk memastikan reliabilitas kualitatif yang baik. Sementara itu, validitas merupakan kekuatan lain dalam pe-nelitian kualitatif selain reliabilitas. Validitas ini didasarkan pada kepastian apakah hasil penelitian sudah akurat dari sudut pandang peneliti, partisipan, atau pembaca secara umum (Creswell & Miller, 2000). Ada banyak istilah dalam literatur-literatur kualitatif yang membahasakan validitas ini, seperti trustworthiness, authenticity, dan credibility (Greswell & Miller, 2000), bahkan ini menjadi salah satu topik penelitian yang paling banyak dibahas (Lincoln & Guba, 2000). Prosedur lain yang saya rekomendasikan untuk disertakan dalam proposal penelitian adalah mengidentifikasi dan membahas satu atau lebih strategi yang ada untuk memeriksa akurasi hasil penelitian. Peneliti perlu menjelaskan strategi-strategi validitas ke dalam proposalnya. Saya rnemang merekomendasikan digunakan-nya beragam strategi validitas karena hal ini dapat meningkatkan kemampuan peneliti dalam menilai keakuratan hasil penelitian serta meyakinkan pembaca akan akurasi tersebut. Berikut ini adalah dela-pan strategi validitas yang disusun mulai dari yang paling sering dan mudah digunakan hingga yang jarang dan sulit diterapkan: Mentriangulasi (triangulate) sumber-sumber data yang berbeda dengan memeriksa buktibukti yang berasal dari sumber-sumber tersebut dan menggunakannya untuk membangun justifikasi tema-tema secara koheren. Tema-tema yang dibangun berdasar-kan sejumlah sumber data atau perspektif dari partisipan akan menambah validitas penelitian. Menerapkan member checking untuk mengetahui akurasi hasil penelitian. Member

247

checking ini dapat dilakukan dengan membawa kembali laporan akhir atau deskripsideskripsi atau tema-tema spesifik ke hadapan partisipan untuk mengecek apakah mereka merasa bahwa laporan/deskripsi/tema tersebut sudah akurat. Hal ini tidak berarti bahwa peneliti membawa kembali transkrip- transkrip mentah kepada partisipan untuk mengecek akurasinya. Sebaliknya, yang harus dibawa peneliti adalah bagian-bagian dari hasil penelitian yang sudah dipoles, seperti tema-tema, analisis kasus, grounded theory, deskripsi kebudayaan, dan sejenisnya. Tugas ini bisa saja mengharuskan peneliti untuk melakukan wawancara tindak lanjut dengan para partisipan dan memberikan kesempatan pada mereka untuk berkomentar tentang hasil penelitian. Membuat deskripsi yang kaya dan padat (rich and thick description) tentang hasil penelitian. Deskripsi ini setidaknya harus berhasil menggambarkan setting penelitian dan membahas salah satu elemen dari pengalaman-pengalaman partisipan. Ketika para peneliti kualitatif menyajikan deskripsi yang detail mengenai setting misalnya, atau menyajikan banyak perspektif mengenai tema, hasilnya bisa jadi lebih realistis dan kaya. Prosedur ini tentu saja akan menambah validitas hasil penelitian. Mengklarifikasi bias yang mungkin dibawa peneliti ke dalam penelitian. Dengan melakukan refleksi diri terhadap kemungkinan munculnya bias dalam penelitian, peneliti akan mampu membuat narasi yang terbuka dan jujur yang akan dirasakan oleh pembaca. Refleksivitas dianggap sebagai salah satu karakteristik kunci dalam penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif yang baik berisi pendapat-pendapat peneliti tentang bagaimana interpretasi mereka terhadap hasil penelitian turut dibentuk dan dipengaruhi oleh latar belakang mereka, seperti gender, kebudayaan, sejarah, dan status sosial ekonomi. Menyajikan informasi "yang berbeda" atau "negatif" {negative or discrepant information) yang dapat memberikan perlawanan pada tema-tema tertentu. Karena kehidupan nyata tercipta dari beragam perspektif yang tidak selalu menyatu, membahas informasi yang berbeda sangat mungkin menambah kredibilitas hasil

penelitian. Peneliti dapat melakukan ini dengan membahas bukti mengenai suatu tema. Semakin banyak kasus yang disodorkan peneliti, akan melahirkan sejenis problem tersendiri atas tema tersebut. Akan tetapi, peneliti juga dapat menyajikan informasi yang berbeda dengan perspektif-perspektif dari tema itu. Dengan menyajikan bukti yang kontradiktif, hasil penelitian bisa lebih realistis dan valid. Memanfaatkan waktu yang relatif lama {prolonged time) dilapangan atau lokasi penelitian. Dalam hal ini, peneliti diharapkan dapat memahami lebih dalam fenomena

248

yang diteliti dan dapat menyampaikan secara detail mengenai lokasi dan orang-orang yang turut membangun kredibilitas hasil naratif peneiitian. Semakin banyak pengalaman yang dilalui peneliti bersama partisipan dalam setting yang sebenarnya, semakin akurat atau valid hasil penelitiannya. Melakukan tanya-jawab.dengan sesama rekan peneliti {peer debriefing) untuk meningkatkan keakuratan hasil penelitian. Proses ini mengharuskan peneliti mencari seorang rekan {a peer debriefer) yang dapat mereviezv untuk berdiskusi mengenai penelitian kualitatif sehingga hasil penelitiannya dapat dirasakan oleh orang lain, selain oleh peneliti sendiri. Strategi ini yaitu melibatkan interpretasi lain selain interpretasi dari peneliti dapat menambah validitas atas hasil penelitian. Mengajak seorang auditor {external auditor) untuk mereviexv ke- seluruhan proyek penelitian. Berbeda dengan peer debriefer, auditor ini tidak akrab dengan peneliti atau proyek yang diajukan. Akan tetapi, kehadiran auditor tersebut dapat memberikan penilaian objektif, mulai dari proses hingga kesimpulan penelitian. Peran auditor ini sebenarnya mirip peran auditor fiscal; begitu pula dengan karakteristik pertanyaanpertanyaan yang akan diajukan oleh keduanya (Lincoln & Guba, 1985). Hal-hal yang akan di-periksa oleh investigator independen seperti ini biasanya me-nyangkut banyak aspek dalam penelitian (seperti, keakuratan transkrip, hubungan antara rumusan masalah dan data, tingkat analisis data mulai dari data mentah hingga interpretasi). Tentu saja, strategi ini dapat menambah validitas penelitian kuaiitatif. Generalisasi kuaiitatif merupakan suatu istilah yang jarang digunakan dalam penelitian kuaiitatif karena istilah generalisasi lebih banyak diterapkan untuk penelitian kuantitatif. Tujuan dari generalisasi dalam penelitian kuaiitatif ini sendiri bukan untuk menggeneralisasi hasil penemuan pada individu-individu, lokasi-lokasi, atau tempat-tempat di iuar objek penelitian, sebagaimana yang banyak dijumpai dalam penelitian kuantitatif (lihat Gibbs, 2007, terkait catat-an marning-nya tentang generalisasi dalam penelitian kuaiitatif). Pada dasarnya, nilai dari penelitian kuaiitatif terletak pada deskripsi dan tema-tema tertentu yang berkembang/dikembangkan daiam konteks lokasi tertentu pula. MenekankanparHkularitaskeiimbang generalisabilitas (Greene & Caracelli, 1997) merupakan karakteristik penelitian kuaiitatif. Akan tetapi, ada sejumlah literatur kuaiitatif yang membahas mengenai generalisabilitas ini, khususnya yang berlaku untuk penelitian studi kasus. Yin (2003), misalnya, merasa bahwa hasil studi kasus kuaiitatif dapat digeneralisasi pada sejumlah teori yang lebih luas. Generalisasi ini muncul ketika para
249

peneliti kuaiitatif meneliti kasus-kasus tambahan dan menggeneralisasi hasil penelitian sebelumnya pada kasus-kasus yang baru tersebut. Ini mirip logika replikasi yang berlaku dalam penelitian eksperimen. Akan tetapi, untuk mengulang atau mereplikasi hasil penelitian studi kasus dalam setting kasus yang baru, peneliti perlu melakukan dokumentasi yang baik atas prosedur-prosedur kuaiitatif, seperti protokol penelitian untuk mendoku-mentasikan kasus secara detail dan mengembangkan database studi kasus secara utuh (Yin, 2003).

MENULIS KUALITATIF Bagian prosedvir kualitatif dalam proposal penelitian seharusny a diakhiri dengan penjelasan mengenai bagaimana peneliti menarasi-kan hasil analisis datanya. Ada banyak model narasi ini; peneliti bisa menemukannya dalam jurnal-jumal akademik. Yang jelas, dalam merancarig penelitian kualitatif, peneliti perlu menjelaskan tentang proses narasi tersebut. Sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa prosedur dasar dalam melaporkan hasil penelitian kualitatif adalah membuat des-kripsi-deskripsi dan tema-tema yang berasal dari data penelitian (lihat Gambar 9.1), khususnya deskripsi atau tema yang mengandung beragam perspektif dari partisipan atau gambaran detail tentang setting dan individuindividu. Setiap strategi penelitian kualitatif pada hakikatnya memiliki prosedur narasinya masing-masing, misal-nya narasi kronologis mengenai kehidupan individu (penelitian naratif), deskripsi detail mengenai pengalaman mereka (fenomenologi), sebuah teori yang dihasilkan dari data penelitian (grounded theory), potret detail mengenai kelompok culturesharing (etnografi), atau analisis mendalam tentang satu atau beberapa kasus (studi kasus). Dari narasi-narasi yang berbeda ini pula, peneliti dapat mem-bahas bagian-bagian proposal lain, seperti hasil penelitian dan inter-pretasi data, utamanya tentang bagaimana bagian-bagian ini akan, disajikan: apakah dengan pertimbangan objektif, pengalamanpengalaman lapangan (Van Maanen, 1988), ataukah dengan krono-logi, model proses, kisah yang diperluas, analisis berdasarkan kasus atau lintas kasus, atau dengan potret deskriptif yang detail (Creswell, 2007). Pada tingkat tertentu, strategi /menulis dua bagian proposal di atas (hasil penelitian dan interpretasi data) dapat dilakukan dengan leknik-teknik berikut ini: Gunakanlah cuplikan-cuplikan dan variasikan panjang pendeknya cuplikan tersebut dengan tepat dan sesuai keperluan. Catatlah percakapan-percakapan yang terjadi selama penelitian dan sajikan percakapan250

percakapan ini dalam bahasa yang berbeda untuk merefleksikan sensitivitas kultural. Sajikan informasi tekstual dalam bentuk tabel (seperti, matriks, tabel-tabel perbandingan untuk kode-kode yang berbeda). Gunakan pernyataan dari partisipan untuk membuat kode-kode atau melabeli tema. Campurkan kutipan-kutipan dengan penafsiran-penafsiran penulis. Terapkan indent (menambah spasi di depan alinea untuk tulisan- tulisan penting atau semiblok, penj.) atau format lain untuk menandai cuplikan-cuplikan yang berasal dari partisipan. Gunakan kata ganti pertama (saya) atau "kita" dalam bentuk naratif. Gunakan metafora-metafora dan analogi-analogi (lihat, misalnya, Richardson, 1990, yang membahas bentuk-bentuk ini). Terapkan pendekatan naratif yang biasanya digunakan dalam strategi penelitian kualitatif (seperti deskripsi dalam studi kasus atau etnografi, narasi detail dalam penelitian naratif). Deskripsikan bagaimana hasii narasi tersebut dikomparasikan dengan teori-teori atau literatur-literatur yang membahas topic yang sama. Dalam sebagian besar karya tulis kualitatif, peneliti membahas literatur ini di akhir penelitian (lihat pembahasan dalam Bab 2). RINGKASAN Bab ini mengeksplorasi langkah-iangkah dalam mengembang-kan dan menulis prosedur-prosedur kualitatif. Selain memperkenal-kan sejumlah variasi dalam penelitian kualitatif, bab ini juga menge-mukakan panduan umum tentang prosedur-prosedur kualitatif yang meliputi pembahasan mengenai karakteristik-karakteristik umum penelitian kualitatif, yang berguna bagi para pembaca yang mungkin kurang familiar dengan pendekatan ini. Beberapa karakteristik penelitian kualitatif antara Iain: berada dalam setting yang alamiah; berpijak pada dasar bahwa peneliti adalah instrumen utama pengum-pulan data; melibatkan beberapa metode pengumpulan data; bersif at induktif; didasarkan pada makna partisipan; sering kali menyertakan perspektif-perspektif teoretis; bersifat interpretif dan holistik.

Contoh 9.1, Prosedur-Prosedur Kualitatif Berikut ini adalah salah satu contoh prosedur kualitatif yang ditulis di bagian kbiisus dalam sebuah proposal doktoralnya Miller (1992). Proyek Miller ini adalah penelitian etnografi tentang pengalaman tahun pertama seorang rektor di sebuah universitas yang
251

baru berumur empat tanun. Untuk menyajikan bagian prosedur kualitatif dalam pr,oyek ini, saya sudah merujuk pada beberapa bagian yang dianggap paling penOng. Selain itu, saya juga tetap mempertahankan istilah informan yang digunakan Miller meskipun saat ini ibtilah yang lebih tepat digunakan adalah partisipan. Paradigma Penelitian Kualitatif Paradigma penelitian kualitatif pada hakikatnya berasal dari antropologi kultural dan sosiologi Amerika (Kirk & Miller, 1936). - Hanya baru-baru ini saja paradigma tersebut diadopsi oieh para peneliti per.didikan (Borg &Gall, 19R9). Tujuan peneiitian kualitatif / adalah memahami situasi, peristiwa, kelompok. atau interaksi j sosial tertentu (Locke, Spirduso, & Silverman, 1987). Penelitian > ini dapat diartikan sebagai proses investigatif yang di dalamnya penelitj secara perlahan-lahan memaknai suatu fenamena sosial dengan membedakan, membandingkan, menggandakan, menga-talogkan, dan mengklasifiKasikan objek penelitian (Miles & Huberman, 1984). Marshall dan Rossman (1989) menyatakan bahwa penelitian ini melibatkan peneliti untuk menyelami setting peneliti. Peneliti memasuki dunia informan melalui interaksi berkeianjutan, mencaii makna-makna dan perspektif-perspektif informan. {Di $ini, peneliti menjelaskan asumsi-asumsi kualitatif). Para sarjana menyatakan bahwa penelitian kualitatif dapat dibedakan dengan metodologi kuantitatif berdasarkan karakteristik-karakteristiknya yang inheren. Berikut ini adalah sintesis dari asumsi-asumsi umum tentang karaktenstik-karakteristik penelitian kualitatif yang pemah diajukan oleh sejumlah peneliti: 1. Penelitian kualitatif muncul dalam setting yang alamiah di mana di dalamnya ada banyak penlaku dan peristiwa ' kemahusiaan yang terjadi. 2. Penelitian kualitatif didasarkan pada sumsi-sumsi yang sangat berbeda dengan rancangan kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif, tidak ada teori atau hipotesis yang dibangun secara priori 3. Penelitian kualitatif lebih memprioritaskan peneliti ketimbang mekanisme yang tak bernyawa sebagai instumen primer dalam pengumpulan data (Eisner, 1991; Frankel & Wallen, 1990; Lincoln & Guba, 1985; Merriam, 1998). 4. Data Penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Data ini merupakan data yang

disajikan dalam bentuk kata-kata (utamanya kata-kata parisipan) atau gambargambar ketimbang angka-angka (Freenkel & Wallen, 1990; Locke

et.al.1987;Marshall & Rossman,1989; Merriam 1988)

252

5.

Penelitian kualitatif menekankan pada persepsi-persepsi dan pengalamanpengalaman partisipan, dan cara-cara mereka memaknai hidup (Freenkel & Wallen, 1990; Locke et.al.1987; Merriam 1988)

6.

Penelitian kualitatif berfokus pada proses-proses yang terjadi, atau hasil dan outcome. Penelitian kualitatif khususnya tertarik pada usaha memahami bagaimana sesuatu itu muncul (Freenkel & Wallen, 1990; Merriam 1988)

7.

Dalam Penelitian Kualitatif, diterapkan interpretasi ideografis. Dengan kata lain, fokusnya pada sesuatu yang partikular dimana data diinterpretasikan dalam hubungannya dengan partikulasi-partikularitas suatu kasus daripada generalisasigeneralisasi

8.

Penelitian kualitatif merupakan suatu rancangan di mana di dalamnya peneliti dpat menegosiasi hasil penelitian (outcomes). Makna dan interpretasi dinegosiasi dengan sumber-sumber data manusiawi karena inilah realitas subjek yang memang ingin direkonstruksi oleh seorang peneliti kulatatif (Lincoln & Cuba, 1985; Merriam, 1988)

9.

Tradisi penelitian in (kualitatif) bertumpu pada penerapan pengetahuan yang tersirat (pengetahuan intuitif atau perasaan) karena sering kali nuansa dari beragam realitas hanya dapat diapresiasi dengan cara ini (Lincoln & Cuba, 1985 ) Maka dari itu, bentuk datanya tidak bisa dihitung {not quantifiable) dalam pengertian yang biasa.

10.

Objektivitas dan kebenaran menjadi dua hal yang sangat penting dalam tradisitradisi penelitian. Akan tetapi, kriteria untuk mempertimbangkan penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian kuantitatif. Pertama dan yang utama, peneliti kualitatif lebih berusaha untuk mencari ketepercaya-an {believability) yang didasarkan pada koherensi, kegunaan instrumental dan pengetahuan, (Eisner, 1991) serta ber-dasarkan pada sesuatu yang dapat dipercaya {trustworthiness) (Lincoln & Guba, 1985) melalui proses verifikasi dari-pada melalui pengukuran validitas dan reliabilitas pada umumnya. {Disini, peneliti menjelaskan karakteristik-karak-teristik penelitian kualitatif).

Rancangan Penelitian Etnografis Penelitian ini menerapkan rancangan etnografis. Rancangan etnografis berasal dari bidang antropologi, khususnya dari kohtribusi Brortislaw Malinowski, Robert Park, dan Franz Boas (Jacob, 1987; Kirk & Miller, 1986). Tujuan penelitian etnografis
253

adalah memperoleh gambaran umum mengenai subjek penelitian. Penelitian ini menekankan aspek pemotretan pengalaman individu-indivsdu sehari-hari dengan cara mengobservasi dan mewawancarai mereka dan individu-individu lain yang relevan (Fraenkel & Wallen, 1990). Penelitian etnografis melibatkan wawancara mendalam dan observasi terus-menerus pada para partisipan dalam situasi tertentu (Jacob, 1987). Penelitian ini juga berusaha memperoleh gambaran menyeluruh untuk dapat menyingkap bagaimana manusia mendeskripsikan dan men-strukturkan dunia (Fraenkel & Wallen, 1990). {DI sini, peneliti menggunakan dan menjelaskan pendekatan etnografis).

Peran Peneliti Karena peran peneliti dianggap sebagai instrument primer dalam pengumpulan data kualitatif, maka di bagian awal penelitian diperlukan adanya identifikasi terhadap nilai-nilai, asumsi-asumsi, dan bias-bias personal (peneliti). Kontribusi peneliti terhadap setting penelitian sangat penting da positif, buka malah merugikan (locke et al., 1987). Persepsi saya terhadap jabatan rector perguruan tinggi dari universitas terbentuk dari pengalaman pribadi saya. Dari agustus 1980 hingga Mei 1990, saya bertugas sebagai staf administrasi di sejumlah perguruan tinggi swasta yang terdiri dari 600 hingga 5000 mahasiswa. Yang lebih terkini (1987-1990), saya menjabat sebagai Dekan Student Life di salah satu universitas di Midwest. Sebagai anggota dewan rektorat, saya sudah sering terlibat dalam semua aktivitas dan keputusan dewan administratif tingkat tinggi. Saya juga sering bekerja sama dengan pihak fakultas, anggota dewan, rektor, dan dewan perwakilan mahasiswa. Selain memberikan laporan kepada rektor, saya juga telah bekerja sama dengannya pada awal tahun masa kepemimpinannya di universitas. Saya yakin pemahaman saya tentang konteks dan peran ini dapat meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan sensitivitas saya terhadap tantangantantangan, keputusan keputusan, dan isu-isu yang sering dihadapi oleh rektor universitas di tahun pertama, dan karena itulah saya berniat untuk menjadikan rektor sebagai informan dalam penelitian ini. Sayajuga sudah cukup memahami tentang struktur perguruan tinggi dan peran rektor di dalamnya. Focus penelitian ini adalah pada peran seorang rektor baru dalam menginisiasi perubahan, pembangunan relasi, dan pembuatan keputusan, serta

mempersiapkan kepemimpinan dan visi universitas.


254

Karena pengalaman-pengalaman bekerja sebelumnya dengan seorang rektor baru di sebuah universitas, saya tentu membawa bias bias tersendiri ke dalam penelitian ini. Meskippun saya sudah berusaha semaksimal mungkin memastikan objektivitas penelitian, bias-bias ini tetap saja muncul. Akan tetapi, bias-bias ini justru membantu bagaimana saya memandang dan memahami data yang dikumpulkan, serta bagaimana saya

menginterpretasikan pengalaman-pengalaman saya pribadi. Saya mengawali penelitian ini dengan asumsi bahwa rektor universitas merupakan suatu jabatan yang sangat berbeda dan rumit. Meskipun banyak ekspektasi terhadapnya, saya tetap mempertanyakan seberapa besar kemampuan rektor untuk menginisiasi perubahan dan mempersiapkan kepemimpinan dan visi universitas. Saya memandang tahun pertama sebagai tahun yang amat penting; dipenuhi dengan berbagai perubahan, frustasi, kejutan-kejuatan yang tak terduga, dan tentu saja tantangan-tantangan baru. (disini, peneliti merefleksikan perannya dalam penelitian).

Batasan Penelitian Lokasi Penelitian ini dilakukan di salah satu universitas negeri di Midwest. Universitas ini terletak di lingkungan masyarakat pedesaan Midwestern. Ketika kuliah aktir, mahasiswa universitas ini yang berjumlah 1.700 orang nyaris mengisi tiga kali lipat populasi masyarakat di sana yang hanya berkisar 1.000 orang. Institusi ini memiliki jenjang S1, S2, dan S3 dengan 51 mata kuliah.

Informan Informan dalam penelitian inin adalah rektor baru disalah satu universtitas negeri Midwest. Informan utama dalam penelitian ini adalah rektor tersebut. Akan tetapi saya mengobservasi peran rektor ini hanya dalam konteks pertemuan-pertemuan dewan administrative. Dalam dewan ini, rektor memliki tiga pembantu Rektor (Bidang Akademik, Bidang Administrasi, dan Bidang Kemahasiswaan) dan dua Dekan (Sarjana dan Diploma).

Peristiwa Didasarkan pada metodologi etnografis, focus penelitian ini adalah pengalaman dan peristiwa sehari-hari seorang rektor yang baru, serta persepsi-persepsinya dan makna-makna dalam pengalaman tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh informan. Penelitian ini

255

mencangkup penyesuaian peristiwa-peristiwa atau informasi-informasi yang mengejutkan dan pemaknaan atas peristiwa-peristiwa atau isu-isu penting yang muncul.

Proses Penelitian ini difokuskan pada peran seorang rektor baru dalam menginisiasi perubahan, membangun relasi, membuat keputusan, serta mempersiapkan kepemimpinan dan visi universitas. (Disini, peneliti menjelaskan batasan-batasan pengumpulan data). Perimbangan-pertimbangan Etis Dalam merancang penelitian, para peneliti kualitatif pada umumnya selalu membahas pentingnya pertimbangan-pertimbangan etis (Locke et al., 1982; Marshall & Rossman, 1989; Merriam, 1988; Spradley, 1980). Pertama dan yang utama, peneliti harus memiliki kewajiban untuk menghormati hak-hak, kebutuhan-kebutuhan, nilai-nilai, dan keinginan-keinginan (para) informan. Dalam konteks pertimbangan etis ini, penelitian etnografis lah yang paling menonjol. Observasi dalam penelitian etnografis mengharuskan peneliti untuk menggali kehidupan informan (Spradley, 1980) dan terus menyikap informasi-informasi yang dianggap sensitif. Uniknya, dalam penelitian ini, jabatan dan institusi informan yang benar-benar tampak justru menjadi salah satu perhatian. Untuk itulah diperlukan pula proteksi terhadap hak-hak informan: (1) sasaran penelitian harus disampaikan secara verbal da tulisan sehingga sasaran-sasaran tersebut bisa dipahami dengan jelas oleh informan (termasuk deskripsi mengenai bagaimana data yang nanti terkumpul dan dimanfaatkan selanjutnya dan untuk keperluan apa); (2) izin tertulis untuk melakukan penelitian tersebut harus diperoleh dari informan; (3) formulir dispensasi penelitian harus disahkan oleh Dewan Peninjau Institusional/ Institutional Review Board/IRB (Lampiran B1 dan B2); (4) informan harus diberi tahu mengenai semua perangkat dan aktivitas pengumpulan data (5) transkripsi harfiah (kata demi kata) da interpretasi serta laporan tertulis harus dibuat dan diberikan pada informan; (6) hak-hak, keinginan-keinginan, dan harapan-harapan informan harus dpertimbangkan terlebih dahulu ketika akan dibuat pilihan-pilihan tentang pelaporan data penelitian; dan (7) keputusan akhir yang terkait dalam anonimitas informan selebihnya diserahkan pada informan sendiri. (Disini, peneliti membahas masalah-masalah etis dan review IRB)

Strategi-Strategi Pengumpulan data Data dikumpulkan sejak Februari hingga Mei, pada 1992. Jangka waktu ini sudah mencangkup minimal sekali dalam sebulan wawancara terekam selama 45 menit dengan
256

informan (rancangan pertanyaan-pertanyaan wawancara, lampiran C), sekali dalam sebulan, observasi dua jam pada aktivitas-aktivitas keseharian, dan sekali dalam sebulan analisis pada kalender dan dokumen-dokumen informan (catatan-catatan pertemuan, memo, dan Publikasi). Selain itu, informan telah setuju untuk merekam kesan-kesan mengenai pengalaman, pemikiran, dan perasaan-perasaannya melalui diary terekam/ taped diary (petunjuk-petunjuk tentang refleksi terekam, Lampiran D). wawancara lanjutan (follow up interview) dijadwalkan akan dilakukan pada akhir Mei 1992 (lihat Lampiran E untuk catatan waktu dan jadwal kegiatan yang direncanakan). (Disini, peneliti berencana untuk wawancara secara berhadap-hadapan, berpartisipasi sebagai observer, dan memperoleh dokumendokumen pribadi). Untuk membantu pengumpulan data, saya akan menggunakan catatan lapangan (field log), yang menampilkan sejumlah petunjuk tentang bagaimana saya harus memanfaatkan waktu ketika saya berada di lapangan, ketika menstranskip dan menganalsis data. Saya juga bermaksud mencatat detail-detail observasi saya dalam notebook dan pemikiran, perasaan, penglaman, dan persepsi saya selama proses penelitian dalam catatan lapangan. (Disini, peneliti menjelaskan bagaimana ia mencatat informasi deskriptif dan reflektif).

Prosedur-Prosedur Analisis Data Merriam (1998) dan Marshall dan Rossman (1989) menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dan analisis data harus serempak (simultaneously). Schatzman dan Strauss (1973) menyatakan bahwa analisis data kualitatif utamanya melibatkan pengklasifikasian benda-benda, orang-orang, dan peristiwa-peristiwa, serta property-properti lain yang mencirikan ketiganya. Biasanya sepanjang proses analisis data, peneliti etnografi mengindeks dan mengkode data mereka dengan menggunakan sebanyak mungkin kategori-kategori (Jacob, 1987). Mereka berusaha mengidentifikasi dan

mendeskripsikan pola-pola dan tema-tema dari sudut pandang partisipan, kemudian berusaha memahami dan menjelaskan pola-pola dan tema-tema tersebut (Agar, 1980). Selama analis ini, data disusun secara kategoris dan kronologis, diperiksa kembali berulang-ulang, dan dicoding secara terus menerus. Gagasan- gagasan utama dicatat rentetan kemunculannya (seperti yang disarankan oleh Merriam, 1988). Diary terekam (taped diary) milik partisipan dan hasil wawancara terekam (taped interview) di transrip dalam kata demi kata. Catatancatatan rekaman dan entri-entri di dalamnya direview secara terus menerus. (Disini, peneliti mendeskripsikan langkah-langkah dalam analisis data).

257

Selain itu, proses analisis data ini dibantu dengan penggunaan program computer analisis data kualitatif yang dikenal dengan HyperQual. Raymond Padilla (Arizona State University) merancang HyperQual ini pada 1987 yang diterapkan pertama kali dalam komputer Macintosh. HyperQual memanfaatkan software HyperCard dengan memfasilitasi perekaman/ pencatatan dan analisis data teks dan grafis. Stack-stack khusus dirancang untuk mengoperasikan dan mengolah data. Denga HyperQual, peneliti dapat langsung memasukkan data lapangan, termasuk data wawncara, observasi, catatan pribadi, dan ilustrasi-ilustrasi(dan) menge-tag (atau meng-coding) semua atau sebagian sumber data sehingga sekumpulan data dapat disaring dan dirakit kembali dalam konfigurasi yang baru dan lebih baik (Padilla, 1989: 67-70). Sekumpulan data yang penting dapat diidentifikasi, diperoleh kembali, dipilah-pilah, dikelompokkan , dan dikelompokkan kembali untuk dianalisis. Kategori-kategori atau kode-kode dapat dimasukkan terlebih dahulu atau di lain waktu. Kode-kode ini juga dapat ditambah, diubah, atau dihapus dengan menggunakan editor HyperQual, data-data teks dapat dicari kategori-kategori, tema-tema, kata-kata, atau frasafrasa kuncinya. (Disini, peneliti menjelaskan penggunaan software computer untuk analisis data).

Verifikasi Untuk memastikan validitas internal, berikut ini strategi-strategi yang akan diterapkan: 1. Triangulasi data; data dikumpulkan melalui beragam sumber agar hasil wawancara, observasi, dan dokumen dapat dianalisis seutuhnya. 2. Member Checking; informan akan mengecek seluruh proses analisis data. Tanya jawab bersama informan terkait dengan hasil interpretasi peneliti tentang realitas dan makna yang disampaikan informan akan memastikan nilai kebenaran sebuah data 3. Waktu yang lama dan observasi berulang di lokasi penelitian; observasi regular dan berulang atas fenomena dan setting penelitian akan dilakukan dalam jangka waktu empat bulan. 4. Pemeriksaan oleh sesame peneliti (peer examination); seorang mahasiswa doktoral dan graduate asisten di Jurusan Psikologi Pendidikan dipilih sebagai rekan pemeriksa atas peneitian ini. 5. Pola partisipatoris; informan dilibatkan dalam sebagian besar tahap penelitian ini, mulai dari perancangan proyek hingga pemeriksaan interpretasi dan kesimpulan.

258

6. Klarifikasi bias penelitian; di awal penelitian ini; bias peneliti telah dijelaskan dalam subjudul Peran Peneliti. Sementara itu, untuk memastikan validitas eksternal dalam proyek ini, strategi utama yang diterapkan adalah menyediakan deskripsi-deskripsi yang kaya, padat, dan rinci sehingga setiap orang yang tertarik membaca proyek ini akan memiliki perbandingan kerangka kerja (Merriam, 1988). Ada tiga teknik untuk memastikan reabilitas penelitian ini. Pertama, peneliti memberikan penjelasan detail tentang focus penelitian, peran peneliti, kedudukan informan dan dasar penelitian, serta konteks dari mana data dikumpulkan (LeCompte & Goetz, 1984). Kedua, diterapkan traingulasi dan beberapa metode lain dalam pengumpulan dan analisis data. Ketiga, Strategi pengumpulan dan analisis data akan dilaporkan secara detail untuk memberikan gambaran yang jelas dan akurat mengenai metode-metode yang digunakan dalam penelitian ini. Semua tahap dalam penelitian ini juga akan diperiksa oleh seorag auditor luar yang sudah berpengalaman dalam metode penelitian kualitatif. (Disini, Peneliti mengidentifikasi strategi-strategi validitas yang akan digunakan dalam penelitian).

Melapokan Hasil Penelitian Lofland (1974) menegaskan bahwa: meskipun strategi-strategi pengumpulan dan analisis data relatif sama dalam berbagai metode kualitatif, cara melaporkan hasil penelitian cenderung berbeda. Miles dan Huberman (1984), misalnya, menjelaskan pentingnya membuat tampilan data, dan tulisan naratif adalah bentuk yang paling sering digunakan untuk menampilkan data kualitatif. Karena penelitian ini merupakan penelitian naturalistik maka hasil-hasilnya akan lebih pas bila disajikan dalam bentuk deskriptif-naratif ketimbang dalam bentuk laporan saintfik. Deskripsi yang padat akan menjadi sarana menyampaikan gambaran holistik mengenai pengalaman-pengalaman dari seorang rektor universitas yang baru. Proyek akhirnya akan berupa konstruksi pengalaman-pengalaman informan dan pemaknaannya terhadap pengalaman tersebut. Hal ini akan memungkinkan pembaca untuk turut merasakan tantangan-tantangan yang dirasakan informan dan memberikan prespektif yang dengannya pembaca juga dapat memandang dunia sang informan (Disini, Peneliti menyebutkan outcome penelitian). Selain itu, saya juga merekomendasikan agar peneliti menjelas-kan dalam proposal penelitian strategi penelitian yang akan di-gunakan, seperti penelitian individu-individu (naratif, fenomenologi), eksplorasi proses, aktivitas, dan peristiwa (studi kasus, grounded theory), atau pengamatan perilaku-perilaku individu ataii kelompok culture-sharing
259

(etnografi). Jika ada satu strategi yang dipilih, berarti strategi ini juga perlu disajikan sesuai dengan model narasinya masing-masing. Lebih jauh, proposal penelitian juga perlu membahas peran peneiiti: pengalam anpengalaman sebelumnya, hubungan personal dengan lokasi penelitian, langkah-langkah memperoleh entri, dan masalah-masalah etis. Dalam bagian proposal pengumpulan data, peneliti seharusnya menyertakan penjelasan tentang pendekatan sampling dan

jenis/strategi apa yang digunakan untuk mengumpulkan data (seperti, observasi, wawancara, dokumentasi, dan audiovisual). Penting juga menjelaskan jenis-jenis protokol perekaman/ pencatatan data yang akan digunakan. Analisis data merupakan proses yang terus berkelanjutan selama penelitian. Analisis ini melibatkan analisis informasi partisipan, dan peneliti biasanya menerapkan langkahlangkah analisis umum dan strategi-strategi khusus di dalamnya. Langkah-langkah umum ini meliputi antara lain: pengolahan dan penyiapan data, pembacaan awal informasi, pehgcodmg-an data, deskripsi detail kode-kode, analisis tematik kode-kode, penggunaan program-program kom puter, penyajian data dalam tabel, grafik, dan gambar, serta interpretssi terhadap data penelitian. Untuk interpretasi data penelitian, peneliti perlu menyampaikan pelajaran apa yang dapat diambil, membandingkan hasil penelitian dengan literatur dan teori tertentu, memunculkan pertanyaan-per-tanyaan, dan/atau mengajukan agenda perubahan. Proposal penelitian seharusnya juga berisi satu bagian tentang outcome yang di-harapkan. Selain itu, dalam proposal tersebut, peneliti juga perlu menyebutkan strategi-strategi yang akan digunakan untuk memvali-dasi keakuratan hasil penelitian, menunjukkan reliabilitas prosedur-prosedur, dan menjelaskan fungsi generalisabilitas. Latihan Menulis
LATIHAN MENULIS

1.

Tulislah satu rancangan prosedur penelitian kualitatif. Setelah menulis rancangan ini, perhatikan Tabel 9.1 untuk mengecek apakah rancangan yang Anda tulis tersebut sudah lengkap atau tidak.

2.

Buatlah tabel yang, dalam kolom paling kiri, menyajikan langkah-langkah analisis data. Dalam kolom-kolom sebelah kanan, tunjukkan langkah-langkah yang akan Anda terapkan dalam proyek Anda, strategi penelitian yang ingin Anda giinakan, dan data yang harus Anda kumpulkan.

260

BACAAN TAMBAHAN Marshall, C, & Rossman, G.B. (2006). Designing Qualitative Research. Edisi keempat. Thousand Oaks, CA: Sage. Catherine Marshall dan Gretchen Rossman memperkenalkan prosedur-prosedur dalam penelitian kualitatif. Topik-topik yang di-sertakan dalam buku ini sangat komprehensif. Misalnya, mereka menjelaskan tentang kerangka.-konseptual penelitian; logika dan asumsiasumsi dasar tentang rancangan dan metode penelitian; rnetode-metode pengumpulan data dan prosedur-prosedur dalammengatur, merekam, dan menganalisis data kualitatif; dan sumber-sumber yang dibutuhkan untuk penelitian, seperti waktu, anggota, dan pendanaan. Ini adalah buku yang komprehensif dan insightful, cocok dipelajari untuk para peneliti pemula maupun peneliti yang sudah mahir. Flick, U. (Ed.). (2007). The Sage Qualitative Research Kit. London: Sage. Buku yang terdiri dari delapan volume dan diedit oleh Uwe Fick ini ditulis oleh para peneliti kualitatif kelas dunia dan dibuat secara kolektif untuk menjelaskan masalah-masalah inti yang muncul ketika para peneliti melaksanakan penelitian kualitatif. Buku ini menjelaskan bagaimana merencanakan dan merancang penelitian kualitatif, mengumpulkan data, dan menganalisisnya (misalnya, data visual, analisis wacana). Tidak hanya itu, buku ini juga membahas isu-isu kualitas dalam penelitian kualitatif. Secara keseluruhan, buku ini bisa menjadi informasi up-to-date bagi para peneliti masa kini yang ingin mendalami bidang penelitian kualitatif. Creswell, J.W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing among Five Approaches. Edisi kedua. Thousand Oaks, CA: Sage. Terkadang, sejumlah penulis yang membahas penelitian kualitatif terlalu berpijak pada sikap filosofis terhadap topik yang dibahas, dan pembaca dibiarkan tanpa pemahaman tentang prosedur-pro-sedur dan praktik-praktik yang sebenarnya dalam merancang dan melaksanakan penelitian kualitatif. Sebaliknya, ketimbang menekan-kan sikap filosofis, buku saya lebih menyajikan lima pendekatan praktis dalam penelitian kualitatifpendekatan naratif, fenomeno-logi, grounded theory, etnografi, dan studi kasus dan membahas bagaimana prosedur-prosedur dalam lima jenis penelitian ini ber-beda dan sama antarsatu dengan yang lain. Di bagian akhir, para pembaca akan lebih mudah memilih dan menentukan mana dari kelimanya yang tepat diterapkan untuk masalah penelitian mereka dan sesuai dengan gaya pribadi mereka dalam melakukan penelitian.
261

Bab Sepuluh

PROSEDUR-PROSEDUR METODE CAMPURAN


Seiring berkembangnya penelitian kualitatif dan kuantitatif dalam ilmu sosial humaniora, penelitian dengan metode campuran yakni, menerapkan kombinasi dua pendekatan sekaligus (kualitatif dan kuantitatif) menjadi kian populer. Popularitas ini, salah satunya, disebabkan oleh kenyataan bahwa metodologi penelitian teais berevolusi dar. berkembang, dan metode campuran adalah salah satu wujud dari perkembangan ini, yang memanfaatkan kekuatan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif sekaligus. Apalagi, masalah-masalah yang diangkat oleh para pakar ilmu sosial dan kesehatan begitu kom-pleks sehingga menerapkan hanya satu pendekatan saja tentu tidak memadai untuk menjabarkan kompleksitas ini. Sifat interdisipliner penelitian juga turut memengaruhi tim penelitian yang terdiri dari individu-individu yang memiliki minat dan pendekatan metodologis yang beragam. Pada akhirnya, ada begitu b3nyak manfaatyang dapat diperoleh dari kombinasi penelitian kualitatif dan kuantitatif ini daripada sekadar menerapkan salah satu dari keduanya secara terpisah. Salah satu manfaatnya adalah memberikan pemahaman yang lebih luasterhadap masalah-masalah penelitian. Bab ini akan mengulas banyak hal yang telah disajikan dalam bab-bab sebelumnya, misalnya pembahasan lebih luas mengenai pandang-an-dunia pragmatis, kombinasi penerapan metode kualitatif dan kuantitatif, dan penerapan metode-metode jamak (multiple methods) sebagaimana yang telah dijabarkan pada Bab 1. Bab ini juga akan menjelaskan lebih lanjut tentang masalah-masalah penelitian yang menuntut keniscayaan untuk dieksplorasi dan dijelaskan (Bab 5). Selain itu, bab ini juga akan menjelaskan tujuan penelitian dan rumusan masalah dari kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif (Bab 6 dan 7), dan menjelaskan alasan-alasan digunakannya strategi-strategi jamak (multiple forms) dalam pengumpulan dan analisis data (Bab 8 dan 9).

KOMPONEN-KOMPONEN PROSEDUR METODE CAMPURAN


262

Saat ini, penelitian metode campuran telah berkem'oang menjadi seperangkat prosed ur y a rig dapat diterapkah para peneliti dalam mendesain penelitian metode campuran mereka. Pada 2003, diterbit-kanlah Handbook of Mixed Methods in the Social & Behavior Sciences (Tashakkori & Teddlie, 2003), yang untuk pertama kalinya menyajikan overviezo komprehensif mengenai strategi penelitian yang satu ini. Baru-baru ini, sejumlah jurnal juga m ulai fokus pada peneli tian d engan metode campuran, seperti Journal of Mixed Methods Research; Quality and Quantity dan Field Methods. Bahkan, sejumlah jurnal lain juga telah berusaha merumuskan penelitian ini dalam konteks disiplin ilmu pengetahuan tertentu, seperti International Journal of Social Research Methodology; Qualitative Health Research; Annals of Family Medicine. Selain jurnal, beberapa penelitian sosial humaniora juga bany ak yang menerapkan penelitian metode campuran ini dalam bidang-bidang yang beragam, seperti bidang terapi okupasional (Lysack & Kreftdng, 1994), komunikasi interpersonal (Boneva, Kraut.. & Frohlich, 2001), pencegahan AIDS (Janz et al., 1996), perawatan demensia (Weitzman & Levkoff, 2000), kesehatan mental (Rogers, Day, Randall, & Bentall, 2003), dan dalam sains sekolah menengah (Houtz, 1995). Buku-buku terbaru yang terbit setiap tahun pun juga tidak sedikit yang ditulis khusus untuk membahas penelitian metode campuran (seperti, Bryman, 2008; Creswell & Piano Clark, 2007; Greene, 2007; Piano Clark & Creswell, 2008; Tashakkori & Teddlie, 1998). Checklist pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana mendesain penelitian metode campuran sudah disajikan dalam Tabel 10.1. Dalam bab ini, akan dijelaskan komponenkomponen penting terkait sifat-sifat dan jenis-jenis strategi penelitian metode campuran. Selain itu, bab ini juga akan membahas perlunya model visual dalam

Tabel 10.1 Checklist Pertanyaan-pertanyaan untuk merancang prosedur Metode campuran --------------------------------------------______ --------------------Apakah definisi dasar tentang metode campuran sudah disajikan? Apakah alasan/rasionalisasi digunakannya dua pendekatan atau data ini (kuantitatif dan kualitatif) juga sudah disajikan? Apakah pembaca merasakan manfaat potensial dari diterapkannya rancangan metods campuran ini? Apakah kriteria-kriteria dalam memilih strategi metode campuran sudah diidentifikasi? Apakah strategi yang dipilih sudah disebutkan? Apakah model visual yang mengilustrasikan strategi tersebut juga sudah disajikan? Apakah ada notasi yang digunakan untuk menyajikan model visual tersebut?
263

-------------------------

-------------

---------------------

Apakah prosedur-prosedur pengumpulan dan analisis data sudah dijelaskan? Apakah strategi-strategi sampling untuk pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif sudah dijeiaskan? Apakah strategi-strategi sampling ini berkaitan erat dengan strategi penelitian yang dipiiih? Apakah prosedur-prosedur data yang spesifik sudah dijelaskan? Apakah prosedur-prosedur ini berkaitan erat dengan strategi penelitian yang dipilih? Apakah prosedur-prosedur validasi data kualitatif dan kuantitatif sudah dijelaskan? Apakah struktur naratif/penyajian metode campuran sudah dijelaskan, dan apakah struktur ini berkaitan dengan strategi penelitian yang dipilih?

rancangan metode campuran, prosedur-prosedur khusus dalam pengumpulan dan analisis datanya, peran peneliti, dan struktur penyajjan laporan akhir. Setelah pembahasan mengenai komponen-komponen di atas, disajikan satu contoh prosedur metode campuran yang diperoleh dari berbagai sumber.

SIFAT PENELITIAN METODE CAMPURAN Karena penelitian metode campuran ini relatif baru di dalam ilmu sosial humaniora maka peneliti perlu menyajikan definisi dasar dan deskripsi singkat dalam proposal. Berikut ini, beberapa hal yang perlu dijelaskan terkait dengan sifat metode campuran dalam proposal penelitian: Jelaskan secara kronologis dan singkat sejarah perkembangan metode campuran. Beberapa sumber mengidentifikasi bahwa penelitian ini bermula dari psikologi dan matriks multitraid-multwietlwd-nya Campbell dan Fiske (1959) yang tertarik untuk mengonvergensi dan mentriangulasi sumber-sumber data kuantitatif dan kualitatif 0ick, 1979). Namun, ada pula yang menyatakan bahwa metode campuran ini didorong oleh keinginan untuk mengembangkan metodologi yang berbeda dalam penelitian (lihat Creswell & Piano Clark, 2007; Tashakkori & Teddlie, 1998). Definisikan penelitian metode campuran, misalnya, dengan menyertakan definisi dalam Bab 1 yang fokus pada pengombinasian dua metode (kualitatif dan kuantitatif) dalam. satu penelitian (lihat, panjelasan lebih detail tentang bagaimana mendefinisikan pene litian metode campuran dalam Johnson, Onwuegbuzie, Turner, 2007). Jelaskan pula mengapa peneliti harus menggunakan rancangan metode campuran (misalnya, untuk memperluas pembahasan dengan cara menerapkan dua metode sekaligus; untuk menggunakan satu pendekatan integratif agar mampu memperoleh pemahaman yang
264

lebih baik; atau untuk menguji hasil penelitian dari pendekatan yang berbeda). Yang jelas, campuran dua metode ini bisa saja berada dalam satu penelitian atau berada di antara sejumlah studi dalam satu program penelitian. Selain itu, kenalilah istilah-istilah berbeda yang sering digunakan untuk menyebut penelitian ini, seperti integmsi, sintesis, metode kuantitatif dan kualitatif. multimetode, dan metodologi campuran, meski bukubuku yang terbit baru-baru ini lebih banyak menggunakan istilah

metode campuran (Bryman, 2006; Tashakkori & Teddlie, 2003). Jelaskan secara singkat perkembangan minat terhadap penelitian metode campuran seperti yang banyak terungkap dalam buku- buku, artikel-artikel jurnal, penelitianpenelitian akademik, dan proyek-proyek yang didanai/hibah (lihat Creswell & Piano Clark, 2007 untuk pembahasan mengenai inisiatif inisiatif awal yang turut berkontribusi pada perkernbangan metode campuran saat ini). Tulislah tantangan-tantangan yang Anda hadapi ketika menerapkan penelitian metode campuran. Tantangan-tantangan ini bisa berupa sifat pengumpulan datanya yang harus ekstensif, sifat analisisnya yang begitu intensif atas data teks dan angka-angka, serta tuntutan akan pengetahuan mendalam tentang bentuk penelitian kuantitatif sekaligus kualitatif. STRATEGI-STRATEGI PENELITIAN METODE CAMPURAN DAN MODELMODEL VISUALNYA Ada beberapa tipologi yang bisa dimanfaatkan peneliti untuk memilih jenis strategi metode campuran yang akan digunakan dalam ponelitiannya. Creswell dan Piano Clark (2007) mengidentifikasi 12 sistem klasifikasi strategi penelitian metode campuran yang didasar-kan pada ranah-ranah yang berbeda, seperti evaluasi, perawatan kesehatan publik, kebijakan dan penelitian pendidikan, serta penelitian sosial dan behavioral. Dalam klasifikasi-klasifikasi ini, setiap strategi memiliki istilah yang berbeda-beda, meskipun ada sejumlah hal substansial yang mirip dan overlapping dalam rancangan-rancang-an tersebut. Berikut ini, saya jelaskan enam strategi penelitian metode campuran yang sudah saya dan rekan-rekan saya gunakan sejak 2003 (Creswell et al., 2003).

Merencanakan Prosedur-Prosedur Metode Campuran Sebelum membahas enam strategi ini, penting kiranya untuk mempertimbangkan terlebih dahulu sejumlali aspek penting dalam merancang prosedur-prosedur untuk penelitian
265

metode campuran. Aspek-aspek tersebut antara lain: timing (waktu), iveighting (bobot), mixing (pencampuran), dan teorizing (teorisasi) seperti yang dapat dilihat dalam Gambar 10.1

Timing Konkuren/Tidak Sekuensial Tahap Pertama Kualitatif-Sekuensial

Bobot/Prioritas Pencampuran Seimbang Menggabungkan {Integrating) Kualitatif Menghubungkan (Connecting)

Teorisasi Eksplisit

Implisit Tahap Pertama Kuantitatif Menancapkan Kuantitatif-Se(Embedding) kuensial Gambar 10.1 Aspek-Aspek yang Perlu Dipertimbangkan dalam Merancang Penelitian Metode Campuran Sumber: Diaptasi dari Creswell et al. (2003).

Timing (Waktu) Peneliti harus mempertimbangkan waktu dalam pengumpulan data kualitatif dan kuantitatifnya: apakah data akan dikumpulkan secara bertahap (sekuensial) atau langsung dikumpulkan sekaligus dalam satu waktu (konkuren). Ketika data dikumpuikan secara bertahap, peneliti periu menentukan data apa saja yang akan dikumpulkan terlebih dahulu: apakah data kuantitatif atau data kualitatif. Hal ini bergantung pada tujuan awai peneliti. Ketika data kualitatif yang terlebih dahulu dikumpulkan, berarti tujuannya adalah untuk mengeksplorasi topik penelitian dengan cara mengamati para parti-sipan di lokasi penelitian. Setelah itu, peneliti memperluas pema-hamannya melalui tahap kedua, kuantitatif, yang di dalamnya data dikumpulkan dari sejumlah besar partisipan (yang biasanya di-anggap sebagai sampel penelitian). Ketika data dikumpulkan secara konkuren, berarti data kualitatif maupun data kuantitatif sama-sama dikumpulkan sekaligus dalam satu waktu, dan pelaksanaannya ber-langsung serempak. Dalam beberapa proyek penelitian, terkadang memang tidak efektif mengumpulkan data secara bertahap dalamjangka waktu yang lama (misalnya, dalam ilmu kesehatan di mana para dokter tidak punya banyak waktu untuk mengumpulkan data di lapangan). Dalam hal ini, ketika peneliti berada dalam lokasi penelitian, mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif dalam satu waktu sering kali lebih efektif ketimbang mengumpulkannya secara bertahap. Weighting (Bobot)
266

Faktor kedua yang perlu diperhatikan dalam merancang prosedur-prosedur metode campuran adalah bobot atau priori tas yang diberikan antara metode kuantiatif dan kualitatif. Dalam beberapa penelitian, bobot ini bisa saja seimbang, namun dalam beberapa penelitian lain, bobot tersebut bisa lebih berat ke satu metode daripada metode yang lain. Prioritas pada satu metode bergantung pada minat peneliti, keinginan pembaca (seperti, pihak fakultas, organisasi profesionai), dan hal apa yang ingin diutamakan oleh peneliti. Dalam kerangka yang lebih praksis, bobot dalam penelitian metode campuran ini bisa dipertimbangkan melalui beberapa hal, antara lain apakah data kualitatif atau data kuantitatif yang akan diutamakan terlebih dahulu, sejauh mana treatment terhadap masing-masing dari dua jenis data tersebut; atau apakah pendekatan induktif (seperti, membangun tema-tema dalam kualitatif) atau pendekatan deduktif (seperti, menguji suatu teori) yang akan diprioritaskan. Terkadang, peneliti memang sengaja lebih mernprioritaskan satu jenis data untuk penelitian tertentu, seperti dalam percobaan-percobaan eksperimen (lihat Rogers et al., 2003). Mixingr(Pencttiiipuran) Mencampur data (atautialam pengertian yang lebih luas, men-campur rumusan masalah/ filosofi, dan interpretasi penelitian) bukanlah pekerjaan yang mudah mengingat data kualitatif terdiri dari teks-teks dan gambar-gambar, sedangkan data kuantitatif terdiri dari angka-angka. Ada dua pertanyaan yang perlu diajukan dalam hal ini: Kapan peneliti harus melakukan pencampuran (mixing) dalam penelitian metode campuran? Dan bngaiinann proses pencampuran ini? Pertanyaan pertama lebih mudah dija wab ketimbang pertanyaan kedua. Pencampuran dua jenis data bisa saja dilakukan dalam bebe-rapa tahap: tahap pengumpulan data, tahap analisis data, tahap inter-pretasi, atau bahkan dalam ketiga tahap ini sekaligus. Bagi para pem-buat proposal yang menggunakan metode campuran ini, mereka perlu menjelaskan dan menyajikan dalam. proposalnya kapan proses pencampuran tersebut terjadi. Bagaimana data dicampur? Ini menjadi salah satu perhatian utama di kalangan para pakar metodologi penelitian baru-baru ini (Creswell & Piano Clark, 2007). Mencampur (mixing) berarti bahwa data kualitatif dan kuantitatif benar-benar dileburkan dalam satu end of continuum, dijaga keterpisahannya dalam end of continuum yang lain, atau dikombinasikan denganbeberapa cara yang lain. Dua data ini bisa saja ditulis secara terpisah, namun keduanya tetap dihubung-kan satu sama lain secara implisit. Misalnya, dalam proyek dua-tahap yang diawali oleh tahap kuantitatif, analis,is data danhasilnya dapat digunakan untuk mengidentifikasipara partisipan yang dikumpul-kan pada tahap
267

selanjutnya, yakni pada tahap pengumpulan data kualitatif. Dalam situasiini, baik data kuantitatif maupun data kualitatif, saling dihubungkan (connecting) satu sama lain selama tahap-tahap penelitian. Keterhubungan ini tergambar dari penelitian kuantitatif dan kualitatif yang terhubung selama analisis data pada tahap pertama dan pengumpulan data pada tahap kedua. Dalam proyek yang lain, peneliti bisa saja mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara konkuren dan menggabungkan (integrating) database keduanya dengan

mentransformasikan tema-tema kualitatif menjadi angka-angka yang bisa dihitung (secara statistik) dan membandingkan hasil penghitunganini dengan data kuantitatif deskriptif. Dalam hal ini, pencampuran berarti menggabungkan dua database dengan meleburkan secara utuh data kuantitatif dengan * data kualitatif. Dalam skenario proyek terakhir. peneliti bisa saja lebih cende-rung untuk mengumpulkan satu jenis data (katakanlah kuantitatif) yang didukung oleh jenis data lain (katakanlah kualitatif) yang sudah ia miliki sebelumnya. Dalam hal ini, peneliti tidak menggabungkan dua jenis data yang berbeda dan tidak pula menghubungkan dua tahap penelitian yang berbeda..Sebaliknya, ia justru tengah me-nancapkan (embedding) jenis data sekunder (kualitatif) ke dalam jenis data primer (kuantitatif) dalam satu penelitian. Database sekunder memainkan peran pendukung dalam penelitian ini.

Teorisasi dan Perspektif-PerspektifTrcmsformasi Faktor terakhir yang perlu dipertimbangkan seorang peneliti dalam merancang prosedur metode campuran adalah perspektif teo-retis apa yang akan menjadi landasan bagi keseluruhan proses/ tahap penelitian. Perspektif ini bisa berupa teori yang berasal dari ilmuilmu sosial (seperti, teori adopsi, teori kepemimpinan, teori atribusi) atau perspektifperspektif teoretis lain yang lebih luas, semacam advokasi/partisipatoris (misalnya, gender, ras, kelas) (lihat Bab 3). Semua peneliti membawa teori-teori ke dalam penelitian mereka, dan teori-teori ini dapat ditulis secara eksplisit dalam. penelitian metode campuran, tetapi bisa juga ditulis secara implisit, bahkan tidak disebutkan sama sekali. Di sini, kita akan fokus pada penggunaan teori-teori yang eksplisit. Dalam penelitian metode campuran, teori biasanya muncul di bagian awal penelitian untuk membentuk rumusan masalah yang diajukan, siapa yang berpartisipasi dalam penelitian, bagaimana data dikumpulkan, dan implikasi-implikasi yang diharapkan dari penelitian (biasanya demi
268

perubahan dan advokasi). Setiap teori pada umumnya menyediakan perspektif utuh yang bisa diterapkan dalam semua strategi penelitian metode campuran (akan dibahas sebentar lagi). Mertens (2003), misalnya. Ia menyajikan pembahasan yang me-narik tentang bagaimana perspektif transformasi membentuk tahap-tahap penelitian metode campuran.

Strategi-Strategi Penelitian Metode Campuran dan Model-Model Visualnya Empat faktor ini waktu, bobot, pencampuran, dan teorisasi dapat membantu peneliti untuk merancang prosed ur-prosedur penelitian metode campuran. Meski demikian, keempat faktor tersebut tidak menu tup kemungkinan'kemungkinan yang lain. Masih a da enam strategi penting yang bisa dipiiih oleh peneliti dalam merancang prosedur-prosedur penelitiannya. Keenam strategi ini di-adaptasi dari Creswell et al. (2003). Sebuah proposal seharusnya berisi deskripsi tentang strategi penelitian dan model visualnya, serta prosedurprosedur dasar yang akan digunakan peneliti dalam menerap-kan strategi tersebut. Gambar 10.2 dan 10.3 mendeskripsikan dan mengilustrasikan secara singkat masing-masing strategi ini. Kata kualitatifdan kumititatif dalam dua gambar tersebut disingkat dengan kata "qual" dan "quan" (pembahasan detailnya akan disajikan lebih lanjut). Masing-masing strategi metode campuran ini dapat dideskripsi-kan dengan notasi yang sudah lazim digunakan dalam ranah metode campuran. Notasi metode campuran merupakan label-label dan simbol-simbol singkatan yang mencerminkan aspek-aspek penting dalam penelitian metode campuran, yang bisa digunakan oleh para peneliti untuk

mengomunikasikan prosedur-prosedur metode campuran mereka dengan mudah. Berikut ini adalah notasi yang diadaptasi dari Morse (1991), Tashakkori dan Teddlie (1998), dan Creswell dan Piano Clark (2007): Simbol "+" mengindikasikan strategi pengumpulan data secara konkuren dan simultan, dengan data kualitatif dan kuantitatif yang dikumpulkan sekaligus dalam satu waktu. Simbol">" mengindikasikan strategi pengumpulan data sekuensial, dengan satu jenis data (misalnya, data kualitatif) yang men- dukung jenis data yang lain (misainya, data kuantitatif). Pengapitalan ("KUAN" atau "KUAL") mengindikasikan suatu bobot atau prioritas yang diberikan pada data, analisis, dan interpretasi kuantitatif atau kualitatif. Dalam penelitian metode campuran, data kualitatif dan kuantitatif dapat diprioritaskan
269

Gambar 10.2 Strategi-Strategi Sekuensial Sumber: Diadaptasi dari Creswell et al. (2003) secara seimbang, atau salah satu data dapat diutamakan ketim-bang data yang lain. Pengapitalan ini mengindikasikan adanya satu pendekatan atau metode yang lebih diprioritaskan. "Kuan" dan "Kual" merupakan kependekan dari kunntitntif dan kualiatif. Keduanya menggunakan jumlah kata yang sama untuk menunjukkan keseimbangan antara dua jenis data. Notasi KUAN/kual mengindikasikan bahwa metode kualitatif ditancapkan ke dalam rancangan kuantitatif. Kotak-kotak mengindikasikan analisis dan pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif.

270

Selain notasi di atas, yang juga perlu dimasukkan ke dalam setiap gambar adalah prosedur-prosedur spesifik dalam pengumpulan analisis, dan interpretasi data untuk

Gambar 10.3 Strategi-Strategi Konkuren Sumber: Diadaptasi dari Creswell et al. (2003). membantu pembaca memahami prosedur-prosedur spesifik yang digunakan. Dalam hal mi, sebuah gambar setidaknya harus terdiri dari dua elemen: prosedur umum dalam metode campuran yang digunakan dan prosedur-prosedur yang lebih spesifik dalam pengumpulan, analisis., dan interpretasi data. Strategi Eksplanatoris Sekuensial Strategi eksplanatoris sekuensial merupakan strategi yang cukup populer dalam penelitian metode campuran dan sering kali digunakan oleh para peneliti yang lebih condong pada proses kuanti-tatif. Strategi ini diterapkan dengan pengumpulan dan analisis data
271

kuantitatif pada tahap pertama yang diikuti oleh pengumpulan dan analisis data kualitatif pada tahap kedua yang dibangun berdasarkan hasil awal kuantitatif. Bobot/prioritas lebih diberikan pada data kuantitatif. Proses pencampuran (mixing) data dalam strategi ini terjadi ketika hasil awal kuantitatif menginformasikmi proses pengumpulan data kualitatif. Untuk itulah, dua jenis data ini terpisah, namun tetap berhubungan. Teori yang eksplisit bisa saja disajikan, tetapi bisa juga tidak, dalam membentuk keseluruban prosedur. Langkah-langkah dari strategi ini sudah diilustrasikan dalam Gambar 10.2a. Rancangan eksplanatoris sekuensial biasanya digunakan untuk menjelaskan dan menginterpretasikan hasil-hasil kuantitatif berdasarkan hasil pengumpulan dan analisis data kualitatif. Rancangan ini secara khusus berguna ketika muncul hasil-hasil yang tidak diharapkan dari penelitian kuantitatif (Morse, 1991). Artinya, pengumpulan data kualitatif yang dilakukan sesudahnya dapat diterapkan untuk menguji hasil-hasil yang mengejutkan ini dengan lebih detail. Strategi ini bisa saja memiliki atau tidak memiliki perspektif teoretis tertentu. Sifat keterusterangan (straightforward) dari rancangan ini merupakan salah satu kekuatan utamanya. Rancangan ini juga mudah dideskripsikan dan dilaporkan. Kelemahan utama rancangan ini terletak pada lamanya waktu dalam pengumpulan data karena harus melewati dua tahap secara terpisah. Selain itu, strategi ini akan lemah ketika dua tahap pengumpulan data diberikan prioritas yang seimbang. Strategi Eksploratoris Sekuensial Strategi ini mirip dengan strategi sebelumnya, hanya tahap pengumpulan dan analisis datanya saja yang dibalik. Strategi eksploratoris sekuensial melibatkan pengurrpulan dan analisis data kualitatif pada tahap pertama, yang kemudian diikuti oleh pengtimpuian dan analisis data kuantitatif pada tahap kedua yang didasarkan pada hasil-hasil tahap pertama. Bobot/prioritas lebih cenderung pada tahap pertama, dan proses pencampuran (mixing) antarkedua metode ini terjadi ketika peneliti menghnbungkan antara analisis data kualitatif dan pengumpulan data kuantitatif. Strategi eksploratoris sekuensial bisa, atau tidak bisa, diimplimentasikan berdasarkan perspektif teoretis tertentu (lihat Gambar 102b). Pada level yang paling dasar, tujuan dari strategi ini adalah menggunakan data dan hasil-hasil kuantitatif untuk membantu menafsirkan penemuan-penemuan kualitatif. Tidak seperti strategi eksplanatoris sekuensial, yang lebih cocok untuk menjelaskan dan menginterpretasi hubungan-hubungan, fokus utama dalam strategi eksploratoris sekuensial adalah mengeksplorasi suatu fenomena. Morgan (1998) menyatakan bahwa strategi ini cocok

272

digunakan untuk menguji elemen-elemen dari suatu teori yang dihasilkan dari tahap kualitatif. Lebih dari itu, strategi ini juga dapat digunakan untuk melakukan generalisasi atas penemuan-penemuan kualitatif pada sampel-sampel yang berbeda. Begitu pula, Morse (1991) menyatakan bahwa salah satu tujuan dipilihnya strategi ini adalah untuk menentukan distribusi suatu fenomena dalam populasi yang dipilih. Pada akhirnya, strategi eksploratoris sekuensial sering kali dipilih sebagai prosedur penelitian ketika peneliti perlu membuat suatu instrumen disebabkan instrumen yang ada tidak layak atau tidak tersedia. Untuk membuat instrumen ini, peneliti perlu melewati tiga tahap: pertama-tama, mengumpulkan data kualitatif dan mengana-lisisnya (Tahap 1), lalu menggunakan analisis tersebut untuk membuat suatu instrumen (Tahap 2), yang kemudian diatur untuk ke-perluan sampel populasi (Tahap 3) (Creswell & Piano Clark, 2007). Strategi eksploratoris sekuensial memiliki banyak keunggulan sebagaimana strategi sebelumnya. Pendekatan dua-tahap irvi (pene-litian kualitatif yang diikuti oleh penelitian kuantitatif) membuat strategi ini mudah diwujudkan, dideskripsikan, dan dilaporkan. Strategi ini tepat digunakan oleh peneliti yang ingin mengeksplorasi suatu fenomena, tetapi juga ingin memperluas penemuan-penemuan kualitatifnya. Selain itu> strategi ini dapat membuat penelitian kualitatif yang sangat luas menjadi nyaman dibaca oleh pembimbing, panitia, atau komunitas penelitian yang terbiasa dengan penelitian kuantitatif. Seperti halnya strategi eksplanatoris sekuensial, strategi eksploratoris sekuensial juga mengharuskan peneliti untuk melewati. waktu yang relatif lama dalam menyelesaikan tahap-tahap pengumpulan data, yang tentu saja lemah untuk beberapa situasi penelitian tertentu. Selain itu, peneliti juga harus membuat keputusan penting tentang penemuan-penemuan awal kualitatif apa saja yang akan difokuskan dalam tahap kuantitatif berikutnya (seperti, satu tema, perbandingan antarkelompok.. tema-tema ganda). Strategi Transformatif Sekuensial Strategi ini terdiri dari dua tahap pengumpulan data yang ber-beda, satu tahap mengikuti tahap yang lain, seperti halnya dua strategi sekuensial sebelumnya (lihat Gambar 10.2c). Strategi transformatif sekuensial merupakan proyek dua-tahap dengan perspektif teoretis tertentu (seperti, gender, ras, teori ilmu sosial) yang turut membentuk prosedur-prosedur di dalamnya. Strategi ini terdiri dari tahap pertama (baik itu kuantitatif ataupun kualitatif) yang diikuti oleh tahap kedua (baik itu kuantitatif maupun kualitatif). Perspektif teoretis diperkenalkan di bagian pend~huluan. Perspektif ini dapat membentuk rumusan masalah yang akan dieksplorasi (seperti, ke-tidaksetaraan, diskriminasi, ketidakadilan), menciptakan
273

sensitivitas pengumpulan data dari keiompok-kelompok marginal, dan diakhiri dengan ajakan akan perubahan. Dalam strategi ini, peneliti dapat menggunakari salah satu dari dua metode dalam tahap pertama, dan bobotnya dapat diberikanpada salah satu dari keduanya atau didis-tribusikan secara merata pada masing-masing tahap. Dalam strategi transfonnatif sekuensial ini, proses pencampuran (mixing) terjadi ketika peneliti menggabungkan antardua metode penelitian, seperti yang dilakukan dalam strategi-strategi sekuensial sebelumnya. Meski demikian, tidak seperti strategi eksploratoris dan eksplanatoris sekuensial sebelumnya, dalam strategi transformatif sekuensial ini, peneliti harus menggunakan perspektif teoretis tertentu untuk me-mandu penelitiannya. Pada dasarnya, perspektif teoretis ini, apakah itu berupa kerangka konseptual atau ideologi tertentu, atau sejenis advokasi, lebih bertujuan untuk membimbing penelitian ketimbang untuk diterapkan sebagai metode tersendiri. Tujuan dari strategi transformatif sekuensial adalah untuk me-nerapkan perspektif teoretis si peneliti. Dengan diterapkannya penelitian dua-tahap dalam strategi ini, peneliti diharapkan dapat me-nyuarakan perspektif-perspektif yang berbeda, memberikan advokasi yang lebih baik kepada partisipan, atau niemahami suatu feno-mena dengan lebih baik. Strategi transformatif sekuensial juga memiliki kekuatan dan kelemahan metodologis tersendiri dibandingkan dengan dua strategi sekuensial sebelumnya. Tahap-tahap yang berbeda dalam strategi iru mernudahkan peneliti untuk menerapkan, mendeskripsi, dan rnelaporkan hasil penelitiannya meskipun strategi ini juga membutuh-kan waktu yang tidak sebentar dalam menyelesaikan dua tahap pengumpulan data. Yang lebih pen ting, strategi ini telah menempat-kan penelitian metode campuran dalam kerangka transformatif: sesuatu yang tidak dilakukan dalam dua strategi sebelumnya. Maka dari itu, strategi ini bisa jadi lebih menarik dan acceptable bagi para peneliti yang perriah menggunakan kerangka transformatif dalam satu metodologi terlentu, misalnya dalam penelitian kualitatif. Sayangnya, salah satu kelemahan strategi ini adalah sedikitnya buku yang ditulis tentangnya, terutama tentang bagaimana visi transformatif tersebut digunakan untuk memandu metode penelitian. Begitu juga, seperti halnya strategi-strategi sekuensial lain, peneliti masih perlu memutuskan tentang hasil-hasil apa saja pada tahap pertartia yang akan dijadikan fokus vintuk ditindaklanjuti pada tahap kedua. Strategi Triangulasi Konkuren

274

Strategi triangulasi konkuren mungkin menjadi satu-satunya strategi dari enam strategi rnetode campuran yang paling populer saat ini (lihat gambar 10.3a). Dalam strategi triangulasi konkuren, peneliti mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara konkuren (dalam satu waktu), kemudian membandingkan dua database ini untuk mengetahui apakah ada konvergensi, perbedaan-perbeda-an, atau beberapa kombinasi. Sebagian penulis menyebut perban-dingan ini dengan istilah konfirmasi, diskonfirtnasi, lintas-validasi, atau corroboration (Greene, Caracelli, & Graham, 1989; Morgan, 1998; Steckler, McLeroy, Goodman, Bird, & McCormick, 1992). Strategi ini pada umumnya menerapkan metode kuantitatif dan kualitatif secara terpisah untuk menutupi/menyeimbangkan kelemahankelemahan satu metode dengan kekuatan-kekutan metode yang lain (atau sebaliknya, kekuatan satu metode menambah kekuatan metode yang lain). Dalam strategi ini, pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif dilakukan secara bersamaan (konkuren) dalam satu tahap peneliuan. Idealnya, bobot antara dua metode ini setara/seimbang, tetapi dalam praktiknya; sering kali ada prioritas yang lebih dibebankan pada satu metode ketimbang pada metode yang lain. Dalam strategi ini, pencampuran (mixing) terjadi ketika peneliti sampai pada tahap interpretasi dan pembahasan. Pencampuran tersebut dilakukan dengan meleburkan dua data penelitian menjadi satu (seperti, mentransformasi satu jenis data menjadi jenis data lain sehingga keduanya dapat mudali diperbandingkan) atau dengan mengintegrasikan atau mengomparasikan hasil-hasil dari dua data tersebut secara berdampingan dalam pembahasan. Integrasi ber-dampingan ini (side-by-side integration) banyak dijumpai dalam pene-litian-penelitian metode campuran terpublikasi yang bagian pembahasan di dalamnya selalu menyajikan hasil-hasil statistik (kuantitatif) terlebih dahulu, baru kemudian diikuti oleh kuota-kuota kualitatif yang mendukung atau menolak hasil-hasil tersebut. Strategi transformatif konkuren ini memiliki banyak manfaat selain karena sudah populer di kalangan peneliti, strategi ini juga dapat menghasilkan penemuan yang substantif dan benar-benar tervalidasi. Saya sering menjumpai bahwa para peneliti yang ingin melakukan penelitian metode campuran hampir selalu mengguna-kan strategi ini dalam mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif, dan membandingkan kedua data tersebut. Apalagi, pengumpuian data konkuren membutuhkan jangka waktu pengumpuian data yang relatif sebentar jika dibandingkan dengan pengumpuian data se-kuensial. Hal ini disebabkan data kuantitatif dan kualitatif dikumpul-kan sekaligus dalam satu waktu di lokasi penelitian. Meski demikian, strategi ini juga memiliki sejumlah keterbatas-an. Salah satunya adalah karena strategi ini membutuhkan usaha keras dan keahlian khusus dari peneliti untuk
275

mengkaji fenomena dengan dua metode yang berbeda. Kerumitan strategi ini juga ter-letak pada keharusan untuk membandingkari hasil-hasil dari dua analisis dengan dua data yang berbeda. Selain iru, peneliti bisa saja bingung bagaimana mengatasi ketidaksesuaianketidaksesuaian yang sering kali muncul ketika membandingkan hasil-hasil penelitian, meskipun cara-cara mengatasi masalah ini sudah banyak di-bahas dalam literatur, seperti mengumpulkan data tambahan untuk memecahkan ketidaksesuaian, memeriksa kembali database asli, memperoleh gagasan baru dari ketidaksamaan data, atau membuat proyek baru yang membahas ketidaksesuaian tersebut (Creswell & Piano Clark, 2007). Strategi Embedded Konkuren Seperti halnya strategi triangulasi konkuren, strategi embedded konkuren juga dapat dicirikan sebagai strategi metode campuran yarg menerapkan satu-tahap pengumpuian data kuantitatif dan kualitatif dalam satu waktu (lihat Gambar 10.3b). Meski demikian, yang membedakan strategi ini dengan strategi konkuren sebelumnya adalah bahwa strategi embedded konkuren memiliki metode primer yang memandu proyek dan database sekunder yang memainkan peran pendukung dalam prosedur-prosedur penelitian. Metode sekunder yang kurang diprioritaskan (kuantitatif atau kualitatif) di-tancapkan {embedded) atau disarangkan (nested) ke dalam metode yang lebih doniinan (kualitatif atau kuantitatif). Penancapan ini dapat berartibahwa metode sekunder menjabarkan rumusan masalah yang berbeda dari metode primer (seperti, dalam penelitian eksperimen, data kuantitatif menjelaskan outcome yang diharapkan dari proses treatment, sementara data kualitatif mengeksplorasi proses-proses yang dialami oleh masing-masing individu dalam kelompok treat-men t) atau mencari informasi dalam tingkatan analisis yang berbeda (seperti, analogi dalam analisis hierarkis kualitatif sangat membantu dalam mengkonseptualisasi level-level hierarki ini) (lihat Tashakkori dan Teddlie, 1998). Dalam strategi ini, pencampuran (mixing) dua data terjadi ketika peneliti mengomparasikan satu sumber data dengan sumber data yang lain, biasanya pencampuran ini banyak muncul dalam bagian pem-bahasan penelitian. Meski demikian, dua data tersebut bisa saja tidak dikomparasikan, tetapi dideskripsikan secaraberdampingan sebagai dua gambaran berbeda yang rnerepresentasikan penilaian gabungan terhadap suatu masalah. Hal ini akan terjadi jika peneliti mengguna-kan strategi ini untuk mengevaluasi dua rumusan masalah yang berbeda (antara kualitatif dan kuantitatif) atau meneliti level-level yang berbeda dalam suatu organisasi. Mirip dengan strategi konkuren sebelumnya,. strategi ini juga menerapkan perspektif teoretis tertentu untuk menjelaskan metode primer.
276

Strategi embedded konkuren dapat digunakan untuk beragam tujuan. Strategi ini kerap kali digunakan agar peneliti dapat memper-oleh perspektif-perspektif yang lebih luas karena mereka tidak hanya menggunakan metode yang dominan saja, melainkan juga menggunakan dua metode yang berbeda. Morse (1991) misalnya, menyata-kanbahwa strategi kualitatif pada umumnya dapat ditancapkan (embedded) ke dalam data kuantitatif untuk memperkaya deskripsi ten tang para partisipan yang menjadi sampel penelitian. Lebih lanjut, Morse mendeskripsikan bagaimana data kualitatif juga dapat digunakan untuk

mendeskripsikan aspek penelitian kuantitatif yang tidak dapat dihitung (unquantifiable). Selain itu, strategi embeddedkonkuxen iniberguna ketika peneliti lebih memilih menggunakan metode-metode yang berbeda uhtuk meneliti kelompok-kelompok atau levellevel yang berbeda pula. Misalnya, jika yang diteliti adalah suatu organisasi, peneliti dapat meneliti para pegawainya secara kuantitatif, mewawancarai manajer-nya secara kualitatif, menganalisis seluruh divisi di dalamnya ber-dasarkan data kuantitatif, dan seterusnya. Tashakkori dan Teddlie (1998) menyebut strategi ini sebagai rancangan multilevel (multilevel design). Pada akhirnya, dalam strategi ini, satu metode dapat diguna-kan dalam kerangka metode yang lain. Misalnya, jika peneliti me-rancang dan melakukan penelitian eksperimen untuk menguji hasil-hasil treatment, dia bisa menggunakan metodologi studi kasus untuk meneliti bagaimana partisipan dalam penelitian tersebut menjalani prosedurprosedur treatment, Strategi embedded konkuren ini, untuk sejumlah alasan tertentu, memang atraktif. Peneliti mampu mengumpulkan dua jenis data secara serempak dalam satu tahap pengumpulan data saja. Strategi ini menampiikan suatu penelitian yang sama-sama memanfaatkan kelebihan-kelebihan dari data kualitatif dan kuantitatif. Apalagi, dengan digunakannya dua metode yang berbeda sekaligus, peneliti dapat memperoleh perspektifperspektif yang lebili luas dari jenis-jenis data yang berbeda dalam satu penelitian. Meski demikian, ada pula kelemahan-kelemahan yang perlu dipertimbangkan ketika memilih strategi ini. Peneliti terlebih dahulu harus mentransf ormasikan data dari dua metode ini ke dalam bebe-rapa kategori agar data tersebut dapat digabungkan dalam tahap analisis. Selain itu, jika dua database ini dikomparasikan, bisa saja muncul ketidaksesuaianketidaksesuaian yang tentu saja perlu di-tuntaskan sesegera mungkin. Karena prioritas pada dua metode ini tidak seimbang, strategi triangulasi konkuren tidak jarang meng-hasilkan bukti-bukti yang juga tidak setara dalam penelitian, yang mungkin akan merugikan peneliti ketika menginterpretasi hasil akhir.

277

Strategi Transformatif Konkuren Seperti halnya strategi transformatif sekuensial, strategi transformatif konkuren ini diterapkan dengan mengumpulkan data kuanti-tatif dan kualitatlf secara serempak serta didasarkan pada perspektif teoretis tertentu (lihat Gambar 10.3c). Perspektif ini bisa berorien-tasi pada ideologi-ideologi seperti teori kritis, advokasi, penelitian partisipatoris, atau pada kerangka konseptual tertentu. Perspektif ini biasanya direfleksikan dalam tujuan penelitian atau rumusan masalah. Bahkan, perspektif inilah yang akan menjadi kekuatah utama dalam mendefinisikan masalah, mengidentifikasi rancangan dan sumber-sumber data, menganalisis, menginterpretasi, dan me-laporkan hasil penelitian. Tldak hanya itu, strategi transformatif ini juga bisa diterapkan dalam konteks strategistrategi konkuren lain, seperti triangulasi dan embedded, untuk menfasilitasi perspektif teoretis yang dibawanya. Misalnya, seorang peneliti bisa saja menancapkan {embedding) satu metode ke dalam. metode yang lain agar suara paridsipan dapat ter-sampaikan demi perubahan proses suatu organisasi. la juga bisa men-trianguiasi {triangulating) data kuantitatif dan kualitatif untuk me-ngonvergensi informasi-informasi demi membuktikan adanya ke-tidaksetaraan dalam kebijakan-kebijakan organisasi tersebut. Untuk itulah, strategi transformatif konkuren bisa saja diterapkan dalam kerangka strategi konkuren yang lain, baik itu triangulasi maupun embedded (dua jenis data dikumpulkan sekaligus dalam satu tahap penelitian, atau ditancapkanberdasarkanprioritas yang diberi-kan pada keduanya). Proses pencampuran {mixing) dalam strategi ini terjadi ketika peneliti meleburkan {merging), menghubungkan {connecting), atau menancapkan {embedding) dua data yangberbeda. Karena strategi transformatif konkuren ini salingberbagi fitur dengan strategi.embedded dan triangulasi maka ketiga strategi ini pun juga saling berbagi kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Akan tetapi, strategi transformatif ini memiliki iiilai plus karena tidak seperti dua strategi konkuren sebelumnya telah menempatkan penelitian metode campuran dalam kerangka transformatif, yang rnembuatnya tampak menarikbagi para peneliti yang memang ingin menggunakan perspektif transformative untuk memandu penelitiannya. Memilih strategi metode campuran. Para peneliti metode campuran perlu memilh strategi spesifik dalam pengumpulan data. Lebih jauh, mereka juga perlu menampilkan gambar visual yang dapat mempresentasikan prosedur-prosedur pengumpulan data yang akan mereka terapkan. Gambar 10.2 dan 10.3

278

menampilkan strategi-strategi metode campuran yang bisa dipertimbangkan, dan berikut ini beberapa tips penelitian tentang cara-cara bagaimana memilih strategi metode campuran: Gunakanlah informasi dalam gambar 10.1 untuk mengevaluasi prosedur-prosedur yang ingin anda terapkan, lalu identifikasilah salah satu dari enam strategi yang telah dibahas dalambab ini sebagai strategi utama yang akan anda gunakan untuk penelitian anda. Dalam proposal, sajikan satu definisi untuk strategi tersebut beserta model visual dan rasionalisasinya: mengapa strategi tersebut anda anggap paling layak untuk digunakan. Pertimbangkan batas waktu yang anda miliki dalam mengumpulkan data. Strategistrategi konkuren tidak terlalu time consuming karena data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan sekaligus dalam satu waktu di lokasi penelitian. Ingatlah bahwa pengumpulan data analisis kuantitatif dan kualitatif merupakan proses rigrous yang benar-benar memakan waktu. Ketika waktu menjadi masalah, saya selalu memberikan pertimbangan kepada para mahasiswa untuk menggunakan strategi embedded kongkuren. Strategi ini merupakan satu teknik primer (seperti, survey) dan teknik seunder (seperti, sedikit mewawancarai beberapa partisipan yang sudah mengisi instrument survey) dalam pengumpulan data. Apalagi, strategi embedded konkuren memberikan bobot tidak setara pada dua bentuk data yang memiliki besara dan kerumitan yang berbeda sehingga memungkinkan penelitu untuk membatasi ruang lingkup penelitiannya dan mengatur waktu dan sumber-sumber yang tersedia. Cobalah untuk menggunakan strategi sekuensial eksplanatoris. Strategi ini merupakan strategi favorit para mahasiswa saya, khususnya mereka yang kurang berpengalaman dengan penelitian kulitatif namun memiliki potensi besar dalam penelitian kualitatif. Dalam strategi ini, pengumpulan data kuantitatif pada tahap pertama dilanjutkan dengan pengumpulan data kualitatif pada tahap kedua sebagai tindak lanjut atas hasilhasil kuantitatif sebelumnya. Bacalah artikel-artikel jurnal yang menggunakan strategi-strategi yang berbeda dan tentukan artikel mana yang paling berkesan bagi anda. Creswell dan Plano Clark (2007) menyertakan empat artikel jurnal utuh sehingga pembaca dapat mengamati detail-detail penelitian di dalamnya yang menerapkan strategi-strategi yang berbeda. Carilah artikel-artikel jurnal metode campuran yang menerapkan strategi yang anda pilih, lalu tunjukkan artikel tersebut pada pembimbig anda atau pihak fakultas agar mereka memiliki satu model nyata tentang strategi penelitian yang ingin anda
279

gunakan. Karena kita masih berada dalam tahap mengadopsi penelitian dengan metode campuran, penelitian-penelitian terpublikasi (seperti, artikel jurnal) dalam bidang konsentrasi anda akan menbantu strategi metode campuran yang anda pilih yang telah disetujui oleh pihak fakultas. Hal ini akan membuat mereka dan pembaca lain merasa yakin bahwa strategi tesebut benar-benar dapat diterapakan untuk meneliti masalah penelitian yang anda angkat. Proseder-prosedur pengumpulan data Meskipun model visual dan pembahasan mengenai strategi penelitian sudah memberikan deskripsi yang cukup jelas mengenai prosedur-prosedur pengumpulan data yang digunakan, peneliti tetap harus menjelaskan dalam proposalnya- jenis-jesi data yang akan dikumpulkan. Penting pula bagi peneliti untuk mengidentifikasi strategi-strategi sampling dan pendekatan-pendekatan dalam memvalidasi data. Identifikasi dan tentukanlah jenis data baik kulitatif maupun kuantitatif- yang akan dikumpulkan selama penelitian. Amati kembali table 1.3 yang menunjukkan dua jenis data tersebut (kuantitatif dan kualitatif). Data dibedakan dalam konteks respons terbuka versus respon tertutup. Bebrapa jenis data, seperti wawancara dan observasi, bisa menjadi data kuantitatif atau kualitatif, tergantung pada seberapa terbuka (kualitatif) opsi-opsi respons yang muncul dalam hasil wawancara atau ceklis obserpasi tersebut. Mesipun mengubah informasi menjadi angka-angka merupakan pendektan yang sering diterapkan dalam penelitian kuantitatif, hal ini bukan tidak mungkin juga diterapakan dalam penelitian kulitatif (mengubah angka-angka menjadi deskripsi-deskripsi yang detail). Ketahuilah bahwa data kuantitatif sering kali dipilih dengan random sampling agar masing-masing individu memiliki yang sama untuk diseleksi sebagai sampel, dan sampel ini dapat digeneraisasi pada populasi yang lebih luas. Meski demkian, sampling juga ditetapan dalam pengumpulan data penelitian kulitatif untuk memilih individu-individu yang benar-benar telah mengalami/ merasakan fenomena utama. Prosedur-prosedur sampling ini perlu dijelaskan dalam proposal, khususnya di bagian pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif. Selain itu, teddlie dan yu (2007) telah mengembangkan tipologi lima sampling metode campran. Tipologi ini dibuat dengan cara menghubungkan prosedur-prosedur sampling dengan srategi-strategi metode campuran yang sudah saya bahas sebelumnya:
280

1. Strategi-strategi dasar; di dalamnya sampling kuantitatif dan sampling kualitatif dikombinasikan (seperti, stratified purposeful sampling dan purposive random sampling). 2. Sampling sekuensial; didalamnya sampling tahap pertama melengkapi sampling tahap kedua. 3. Sampling konkuren; di dalamnya probabiltas kuantitatif dan sampling kulitatif dikombinasikan menjadi prosedur-prosedur sampling indevenden atau ditetapkan secara bersamaan ( seperti, instrument survey dengan respons tertutup dan respons terbuka). 4. Sampling multilevel; di dalamnya sampling ditetapkan pada dua atau lebih unit analisis. 5. Sampling yang menerapkan bentuk kombinasi apa pun dengan strategistrategi metode campuran sebelumnya. Sertakan prosedur-prosedur rinci dalam model visual anda. Misalnya, dalam strategi eksplanatoris sekuensial, prosedur-prosedur umum harus terletak di bagian atas halaman, sedangkan prosedur-prosedur yang lebih spesifik ditulis di bawahnya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar 10.2a. lalu, bahaslah kemabali secara rinci model visual anda. Misalnya, pembahasan ini dapat meliputi pendeskripsian lebih jauh tentang pengumpulan data survey yang diikuti oleh analisis data yang deskriptif dan inferensial pada tahap pertama, kemudian obsevasi kualitatif, coding, dan analisis tematik dalam penelitian etnografi pada tahap kedua.

ANALISIS DATA DAN PROSEDUR-PROSEDUR VALIDASI Selain prosedur-prosedur pengumpulan data, penelitian juga perlu menjelaskan prosedur-prosedur analisis data dalam proposalnya. Analisis data dalam penelitian metode campuran sangat berkaitan dengan jeis strategi yang dipilih.analisis bisa dilakukan berdasarkan pendekatan kuantiataif (analisis angka-angka secara deskriptif dan inferesial) dan kualitatif (deskripsi dan analisis teks atau gambar secara tematik), atau antar dua pendekatan ini. Misalnya, ada beberapa analisis data metode campuran yang menerapkan pendekatan-pendekatan berikut ini (lihat caracelli & greene, 1993; creswell & plano clark, 2007; tashakkori & teddlie, 1998):

281

Transformasi data. Dalam strategi-strategi konkuren, peneliti bisa saja menghitung berapa kali kode-kode dan tema-tema tersebut muncul dalam data teks (atau dengan menhitung garis-garis dan kalimat-kalimat yang membicarakan kode dan tema itu). Penghitungan data kualitatif inilah yang memungkinkan peneliti untuk membandingkan hasil-hasil kuantitatif dengan data kualitatif. Sebaliknya, peneliti juga dapat mengualifikasi (qualify) data kuantitatif. Misalnya, dalam analisis faktor berdasarkan skala dengan menggunakan instrumen tertentu, peneliti dapat membuat faktor-faktor atau tema-tema kuantitatif yang kemudian diperbandingkan dengan tema-tema dan database kualitatif.

Mengeksplorasi outlier-outlier. Dalam strategi-strategi sekuensial, analisis data kuantitatif pada tahap pertama dapat menghasilkan kasus-kasus ekstrem dan outlier. Setelah analisis ini, peneliti dapat menindaklanjuti dengan wawancara kualitatif tentang kasus-kasus outlier tersebut untuk memperoleh pengetahuan tentang mengapa kasus-kasus ini berbeda/menyimpang dari sampel kuantitatif.

Membuat instrumen. Dengan menerapkan salah satu strategi sekuensial sebelumnya, kumpulkan tema-tema atau statemen-statemen tertentu dan partisipan pada tahap pertama kualitatif. Pada tahap selanjutnya, gunakanlah statemen-statemen ini Sebagai item-item spesifik dan tema-temanya sebagai skala-skala untuk membuat instrumen survei kuantitatif. Pada tahap ketiga, cobalah mnvalidasi instrumen tersebut dengan sampel yang representatif dan populasi.

Menguji level-level ganda. Dengan menerapkan strategi embedded konkuren, lakukan survei (misalnya, pada kelompok-kelompok) untuk mengumpulkan hasil-hasil kuantitatif tentang sampel. Pada waktu yang bersamaan, lakukan wawancara kualitatif (seperti, pada inclividu-individu) untuk mengeksplorasi suatu fenomena berdasarkan pandangan individu-individu dalam kelompok-kelompok tersebut.

Membuat matriks/tabel. Dengan menerapkan salah satu strategi konkuren yang sudah dijelaskan sebelumnya, kombinasikanlah informasi-informasi yang diperoleh dan pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif ke dalam sebuah matriks/tabel. Poros horizontal dalam matriks/tabel ini dapat berupa variabel kategorial kuantitatif (seperti, jenis-jenis provider perawat, dokter, dan asisten medis), sedangkan poros vertikalnya dapat berupa data kualitatif (seperti, lima tema tentang relasi caring antara provider dan pasien-pasiennya). Informasi dalam setiap cell (kotak-kotak dalam matriks/tabel) dapat berupa kuota-kuota dan data kualitatif, hitungan jumlah kode dan kualitatif, atau kombinasi-kombinasi lain. Dengan cara seperti ini, matriks/tabel tersebut akan
282

menampilkan analisis data kualitatif dan kuantitatif terkombinasi. Untuk membuat matriks/tabel ini, gunakanlah program-program software kualitatif (lihat Bab 9). Aspek lain dari analisis data yang harus dideskripsikan dalam proposal metode campuran adalah serangkaian langkah yang diambil untuk memeriksa validitas data kuantitatif dan akurasi hasil kualitatif. Sejumlah penulis metode campuran menganjurkan pada kita untuk menerapkan prosedur-prosedur validitas, baik untuk tahap penelitian kuantitatif maupun tahap penelitian kualitatif (Tashakkori & Teddlie, 1998). Untuk tahap kuantitatif, penulis proposal harus membahas validitas dan reliabilitas skor-skor dan penggunaan instrumen sebelumnya. Selain itu, ancaman-ancaman potensial terhadap validitas internal dalam rancangan survei dan eksperimen juga perlu dicatat (lihat Bab 8). Untuk tahap kualitatif, strategi-strategi yang akan digunakan untuk memeriksa akurasi hasil penelitian juga harus disebutkan (lihat Bab 9). Strategi-strategi ini bisa meliputi triangulasi sumber data, member checking, deskripsi detail, atau pendekatan-pendekatan lain. Penulis proposal juga harus menjelaskan mengapa dan bagaimana validitas untuk penelitian metode campurannya berbeda dengan validitas untuk penelitian kuantitatif dan kualitatif. Beberapa penulis menyebut validitas untuk penelitian metode campuran ini dengan istilah legitimasi (Onwuegbuzie & Johnson, 2006: 55). Legitimasi dalam penelitian metode campuran berhubungan erat dengan semua tahap dalam proses penelitian, mulai dari isu-isu filosofis (seperti, apakah prinsip-prinsip filosofis penelitian kuantitatif dan kualitatif sudah dicampur ke dalam satu konsep filosofis yang bisa diterapkan secara menyeluruh?) hingga inferensi-inferensi yang diambil (misalnya, inferensi-inferensi ini haruslah benar-benar berkualitas) dan manfaat penelitian bagi pembaca (lihat Onwuegbuzie & Johnson, 2006). Bagi siapa pun yang merancang proposal dengan metode campuran,

pertimbangkanlah jenis validitas yang berhubungan dengan komponen kuantitatif (lihat Bab 8), jenis validitas yang berhubungan dengan komponen kualitatif (lihat Bab 9), dan isu-msu validitas lain yang mungkin berhubungan dengan pendekatan metode campuran. Isu-isu validitas dalam penelitian metode campuran juga bisa berhubungan dengan jenis-jenis strategi yang pernah dibahas dalam bab ini. Bahkan, isu-isu tersebut juga bisa berhubungan dengan pemilihan sampel, besaran sampel, tindak lanjut terhadap hasil-hasil yang bertentangan, bisa dalam pengumpulan data, prosedur-prosedur yang tidak layak, atau rumusan masalah-rumusan masalah yang saling berseberangan (lihat Creswell & Piano Clark, 2007, untuk pembahasan lebih detail mengenai hal ini).

SUSUNAN LAPORAN PENELITIAN


283

Susunan untuk laporan penelitian, sebagaimana untuk analisis data, harus disesuaikan dengan jenis strategi yang dipilih. Karena penelitian metode campuran mungkin terkesan asing bagi pembaca maka penulis proposal perlu memberikan beberapa petunjuk tentang bagaimana menyusun laporan akhir. Dalam penelitian sekuensial, peneliti metode campuran biasanya menyusun laporannya mengenai prosedur-prosedur ke dalam bagian pengumpulan data kuantitatif dan analisis data kuantitatif yang dilanjutkan dengan bagian data kualitatif, pengumpulan data kualitatif, dan analisis data kualitatif. Setelah itu, dalam bagian kesimpulan dan interpretasi, peneliti memberikan komentar tentang bagaimana hasil-hasil kualitatif membantu mengelaborasi atau memperluas hasil-hasil kuantitatif. Sebagai alternatifnya, laporan mengenai pengumpulan dan analisis data kualitatif dapat disajikan terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh laporan tentang pengumpulan dan analisis data kualitatif. Dalam kedua susunan ini, penulis proposal biasanya menyajikan proyeknya menjadi dua tahap yang berbeda, dengan judul yang juga terpisah untuk keduanya. Dalam penelitian konkuren, laporan tentang pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif dapat disajikan di bagian terpisah, tetapi analisis dan interpretasinya harus dikombinasikan untuk mencari konvergensi dan kesamaan-kesamaan antara hasil-hasil yang diperoleh. Biasanya, susunan seperti ini tidak memperjelas perbedaan antara tahap kuantitatif dan tahap kualitatif. Dalam penelitian transformatif, susunannya biasanya meliputi pembahasan mengenai isu advokasi di awal proposal, sedangkan untuk penyusunan proposal, penelitian transformatif bisa menggunakan susunan sekuensial ataupun konkuren seperti yang dijelaskan sebelumnya. Di akhir proposal harus ada bagian tersendiri yang membahas mengenai agenda perubahan atau reformasi yang akan dilakukan setelah penelitian berlangsung.

CONTOH-CONTOH PROSEDUR METODE CAMPURAN Beberapa ilustrasi berikut ini menggambarkan penelitian-penelitian metode campuran yang menggunakan strategi-strategi dan prosedur-prosedur, baik yang sekuensial maupun yang konkuren. Tujuan penelitian di atas mengilustrasikan kombinasi antara tujuan dan rasionalisasi dilakukannya mixing (pencampuran), yakni untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik, serta kombinasi antara dua jenis data yang dikumpulkan selama penelitian. Di bagian

284

Pendahuluan penelitiannya, Kushman perlu menganalisis secara statistik komitmen organisasi dan komitmen terhadap pembelajaran siswa, yang berarti menjadikan pendekatan kuantitatif sebagai prioritas utama. Prioritas ini lebih jauh diilustrasikan dalam bagian Definisi istilah yang menjabarkan apa yang disebut dengan komitmen organisasi dan komitmen terhadap pembelajaran siswa. Untuk mendukung definisi ini, Kushman merujuk pada beberapa literatur yang pernah membahas dua konsep tersebut. Setelah itu, Kushman meContoh 10.1 Strategi Sekuensial Kushman (1992) meneliti dua Jenis komitmen para guru -baik komitmennya secara organisasional maupun komitmennya terhadap pembelajaran siswa-di 63 SD dan SMP kota Penelitian Kushman ini menerapkan strategi metode campuran sekuensial eksplanatoris dua-tahap, sebagaimana dijelaskan dalam tujuan penelitiannya Premis utama dalam penelitian ini adalah bahwa komitmen organisasi dan komitmen terhadap pembelajaran slswa merupakan dua sikap yang berbeda, namun sama-sama penting untuk efektivitas sekolah Premis ini memang sudah banyak dibahas dalam literatur, namun membutuhkan validasi empiris lebih lanjut..... Tahap 1 adalah penelitian kuantitatif yang melihat hubungan statistik antara komitmen guru dan antesendenanteseden organisasional di SD dan SMP Setelah analisis mikrolevel ini, diterapkanlah Tahap 2, yaitu metode kualitatif/studi kasus pada sekolah-sekolah tertentu-untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang persoalan komitmen guru (Kushman, 1992 13)

nyajikan kerangka konseptual, lengkap dengan model visualnya, serta rumusan masalah yang diajukan untuk mengeksplorasi hubungan antar kedua komitmen tersebut. Kerangka koniseptual inilah yang memberikan petunjuk-petunjuk teoretis tentang semua proses/tahap penelitian kuantitatif (Morse, 1991). Dalam penelitian dua-tahap ini, Kushman menerapkan tahap kuantitatif dengan KUAN kual. Artinya, Kushman menyajikan hasil-hasilnya dalam dua tahap, yakni tahap pertama-hasil kuantitatif- yang menampilkan dan membahas korelasi, regresi, dan ANOVA. Kemudian, hasil studi kasus kualitatif disajikan pada tahap kedua dalam bentuk tema-tema dan subtema-subtema, lengkap dengan kutipan-kutipannya. Pencampuran (mixing) hasil kuantitatif dan hasil kualitatif dalam penelitian Kushman muncul di pembahasan akhir di mana di dalamnya Kushman menyoroti hasil-hasil kuantitatif dan kompleksitas-kompleksitas yang muncul dan hasil-hasil kualitatif. Meski demikian, Kushman tidak menggunakan satu teori yang spesifik dalam penelitiannya kali ini.

285

Contoh 10.2 Strategi Konkuren Pada 1993, Hossler dan Vesper meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan penghematan orang tua untuk anak-anaknya yang tengah studi di perguruan tinggi. Dengan data longitudinal yang dikumpulkan dari para mahasiswa dan orang tua mereka selama jangka waktu 3 tahun, penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang paling berhubungan dengan tabungan orang tua untuk pendidikan S2 anak-anak mereka. Hasilnya, ditemukan bahwa faktor-faktor yang penting dalam relasi ini adalah dukungan orang tua, ekspektasi pendidikan, dan informasi akan biaya perguruan tinggi. Dalam hal ini, Hossler dan Vesper mengumpulkan Informasi dari hasil survei terhadap 128 mahasiswa dan orang tua dan hasil wawancara dengan 56 mahasiswa dan orang tua Berikut ini tujuan penelitian Hossler dan Vesper yang cenderung menerapkan strategi trangulasi data Karya tulis ini berusaha meneliti perilaku-perilaku penghematan (saving) orang tua. Dengan menggunakan data mahasiswa dan orang tua yang diperoleh dari penelitian longitudinal dengan metode survei selama 3 tahun, kami memilih regress logistik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan penghematan orang tua bagi pendidikan S2 anak-anak mereka. Tidak hanya itu, kami juga berusaha menggali pengetahuan lain dari hasil wawancara kami dengan beberapa mahasiswa dan orang tua mereka selama lima kali dalam jangka waktu tiga tahun. Pengetahuan ini diharapkan dapat membantu mengeksplorasi lebih jauh isu tentang penghematan orang tua. (Hossler & Vesper, 1993: 141)

Data aktual dikumpulkan dari hasil survei terhadap 182 mahasiswa dan orang tua dari hasil wawancara dengan 56 mahasiswa dan orang tua. Dan tujuan penelitiannya, kita bisa melihat bahwa Hossler dan Vesper mengumpulkan dua data ini secara konkuren (dalam satu waktu). Mereka juga menyajikan pembahasan tentang analisis kuantitatif terhadap data survei, termasuk pembahasan mengenai pengukuran variabel-variabel dan detail-detail dalam analisis data regresi logistik. Mereka juga menyebutkan kelemahan-kelemahan dalam analisis kuantitatif dan hasil-hasil analisis t-test dan regresi. Meski demikian, dalam satu halaman khusus, mereka juga menyajikan analisis data kualitatif dan menjelaskan secara singkat tema-tema yang muncul dalam pembahasannya. Bobot atau prioritas untuk penelitian metode campurannya Hossler dan Vesper kali ini cenderung pada pengumpulan dan analisis data kuantitatif, dan notasi untuk penelitian ini berupa KUAN + kual. Pencampuran (mixing) kedua sumber data ini dilakukan dalam bagian khusus berjudul Tembahasan Hasil Survei dan Wawancara (hlm. 155), lebih tepatnya dalam tahap interpretasi. Dalam bagian ini, mereka mengomparasikan pentingnya faktorfaktor yang menjelaskan penghematan orang tua untuk hasil-hasil kuantitatif, di satu sisi, dengan hasil-hasil wawancara kualitatif di sisi ang lain.
286

Mirip dengan Contoh 10.1, tidak ada perspektif teoretis yang digunakan dalam penelitian ini meskipun di bagian awal mereka menyajikan literatur-literatur yang membahas tentang ekonometrik dan pilihan perguruan tinggi, dan di bagian akhir mereka menyajikan Model Tambahan tentang Penghematan Orang Tua. Artinya, kami melihat teori yang digunakan dalam penelitian ini bersifat induktif (sebagaimana penelitian kualitatif), didasarkan literatur-literatur yang ada (sebagaimana penelitian kuantitatif), dan pada akhirnya dibangun dan direkonstruksi secara terus-menerus selama proses penelitian. Peneliti (dalam hal ini, Bbopal) menulis penelitiannya dengan tujuan untuk menyuarakan pandangan kaum wanita dan memberikan kritik tajam terhadap ketidakadilan gender. Dalam penelitian di

287

Contoh 10.3 Strategi Transformatif Bhopal (2000) menggunakan perspektif feminis dalam penelitian metode campuran triangulasi transformatifnya. Ia tertarik menguji apakah teori-teori patriarki bisa diterapkan untuk meneliti para wanita Asia Selatan (dari India, Pakistan, dan Bangladesh) yang hidup di London Timur. Sejak kaum wanita ini menikah dan diberi mas kawin, Bhopal melihat mereka sering kali mengalami bentuk-bentuk patriarki yang-anehnya-justru tidak dialami oleh kaum wanita Kulit Putih di Britania. Tujuan penelitian ini secara keseluruhan adalah untuk memperoleh pengetahuan detail tentang kehidupan kaum wanita, perasaan mereka terhadap perannya sebagai istri dan apakah mereka benar-benar melaksanakan peran tersebut di rumah, sikap mereka terhadap pernikahan, mahar atau mas kawin, pekerjaan domestik, dan keuangan rumah tangga (hlm. 70). Dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, Bhopal meneliti 60 wanita, (untuk) menginvestigasi tingkat perbedaan yang signifikan antara kaum wanita ini yang pernah mengalami patriarki..., dan menyajikan informasi akurat yang berhubungan dengan jumlah kaum wanita yang mengalami bentuk-bentuk patriarki yang berbeda, serta menguji kekuatan dampak-dampak patriarki yang berbeda. (Bhopal, 2000: 68) Dari penelitian ini, Bhopal menemukan bahwa pendidikanlah yang berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan kaum wanita. Di samping itu, dia juga mendeskripsikan bagaimana metodologi feminis membantu proses penelitiannya. Dia juga membahas bagaimana kaum wanita hidup dalam istilah-istilah mereka sendiri, dengan menggunakan bahasa dan kategorikategori yang di dalamnya kaum wanita mengekspresikan dirinya sendiri. Menariknya, penelitian Bhopal ini tidak saja tentang wanita, tetapi juga untuk wanita. Bhopal terlibat langsung dalam proses penelitian yang di dalamnya dia menjelaskan prosedur-prosedur rasionalisasi mengapa ia tertarik meneliti kehidupan kaum wanita dengan perspektif feminis ini. Tidak hanya itu, penelitian Bhopal tersebut juga merupakan refleksi yang menampilkan bias-bias pribadinya sebagai seorang wanita. Dalam hal ini, penelitian metode campuran membantu Bhopal untuk mengekspos kehidupan kaum wanita Apajagi, strategi transformatif yang dipilihnya memungkinkan para wanita untuk mengambil manfaat dan proyek penelitian ini (hlm 76)

atas, data kuantitatif menampilkan pola-pola partisipasi umum, sementara data kualitatif menunjukkan narasi personal kaum wanita. Timing dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data terlebih dahulu, kemudian mewawancarai beberapa wanita untuk menindaklanjuti dan memahami partisipasi mereka secara mendalam (strategi sekuensial eksplanatoris). Komponen kualitatif dan komponen kuantitatif sama-sama diberi bobot yang seimbang, dengan asumsi bahwa keduanya dapat memberikan kontribusi pada pemahaman yang lebih detail terhadap masalah penelitian. Pencampuran (mixing) antara dua komponen ini dilakukan dengan cara menghubungkan hasil-hasil dan survei kuantitatif dan mengeksplorasi lebih jauh hasil-hasil ini dalam tahap kualitatif. Karena teori feminis dibahas.

288

Sepanjang penelitian ini dengan fokus pada kesetaraan dan penyuaraan hak-hak kaum wanita maka bisa dipastikan bahwa penelitian ini secara eksplisit telah menggunakan perspektif feminis sebagai landasan berpikinya. RINGKASAN Untuk merancang prosedur-prosedur penelitian metode campuran, mulailah dengan menjelaskan sifat penelitian metode campuran. Penjelasan ini bisa meliputi sejarah berkembangnya penelitian tersebut, definisinya, dan aplikasinya dalam berbagai bidang penelitian. Setelah itu, terapkan empat kriteria (seperti yang sudah dijelaskan) untuk memilih strategi metode campuran yang dianggap paling layak. Tunjukkan pula strategi timing dalam melakukan pengumpulan data (apakah konkuren, dalam satu waktu, atau sekuensial, tahap demi tahap). Selain itu, nyatakan pula bobot/ prioritas untuk dua pendekatan penelitian (kuantitatif dan/atau kualitatif), apakah bobotnya setara atau lebih memprioritaskan salah satu di antara keduanya. Jelaskan pula bagaimana kedua data ini dicampur (mixed), apakah dengan cara meleburkan (merging) data, menghubungkan (connecting) data dan satu tahap ke tahap lain, atau menancapkan (embedding) sumber data sekunder ke dalam sumber data primer. Akhinya, tunjukkan dan jelaskan pula apakah ada perspektif teoretis tertentu yang akan digunakan untuk memandu penelitian, seperti teori dan ilmu-ilmu sosial atau perspektif advokasi (misalnya, feminisme, ras, dan sebagainya). Ada enam strategi pengumpulan data dalam penelitian metode campuran. Peneliti patut memilih salah satu dari keenam strategi tersebut: apakah secara sekuensial (eksplanatoris dan eksploratoris), secara konkuren (triangulasi dan embedded), atau dengan perspektif transformatif (sekuensial atau konkuren). Setiap strategi memiliki kekuatan dan kelemahannya tersendiri, meskipun diakui bahwa strategi sekuensial memang paling mudah diterapkan. Strategi yang dipilih juga harus disajikan dalam gambar (model visual). Peneliti lalu menghubungkan dan menjelaskan gambar ini dengan prosedur-prosedur yang lebih spesifik untuk membantu pembaca memahami semua proses penelitian. Prosedur-prosedur ini bisa meliputi prosedur-prosedur pengumpulan data (kuantitatif dan kualitatif) dan prosedurprosedur analisis data (kuantitatif dan kualitatif). Analisis data metode campuran bisa dilakukan dengan mentransformasi data, mengeksplorasi outlier-outlier, menguji level-level ganda, atau membuat matriks/tabel yang mengombinasikan hasil kuantitatif dan penemuan kualitatif. Prosedur-prosedur validitas juga harus dideskripsikan secara eksplisit. Meski penelitian metode campuran ini kurang familiar bagi sebagian pembaca, peneliti sebaiknya tetap menyusun laporan tertulis untuk proposal penelitiannya. Susunan laporan ini harus disesuaikan dengan jenis strategi yang dipilih289

sekuensial, konkuren, atau transformatif- karena masing-masing dari ketiganya memiliki susunan penyajian tersendiri.

290

LATIHAN MENULIS

1. Rancanglah sebuah penelitian yang mengombinasikan model kualitatif dan kuantitatif dengan fokus pada strategi sekuensial dua-tahap. Jelaskan alasan/rasionalisasi mengapa tahap-tahap tersebut diterapkan secara Sekuensial. 2. Rancanglah penelitian yang mengombinasikan model kualitatif dan kuantitatif dengan memprioritaskan pengumpuian data kualitatif ketimbang pengumpulan data kuantitatif. Jelaskan juga pendekatan yang diambil (sekuensial, konkuren, dan transformatif) dalam menyajikan atau menulis pendahuluan, tujuan penelitian, rumusan masalah, dan strategi pengumpulan data. 3. Buatlah gambar visual dan prosedur-prosedur spesifik yang mengilustrasikan penggunaan suatu perspektif teoritis tertentu, seperti perspektif ferminis, dalam penelitian metode campuran transformatif. Jangan lupa untuk menggunakan notasi yang tepat dalam gambar ini.

BACAAN TAMBAHAN Creswell, J.W. & Piano Clark, V.L.(2007). Designing and Conducting Mixed Methods Research. Thousand Oaks, CA: Sage. Piano Clark, V.L. & Creswell, J.W. (2008). The Mixed Methods Reader. Thousand Oaks, CA: Sage. Creswell dan Piano Clark menulis dua buku yang menjelaskan penelitian metode campuran, lengkap dengan contoh-contohnya dan artikel-artikel metodologis tentang penelitian ini. Pada buku pertama, mereka fokus pada empat jenis strategi metode campuran (sekuensial eksplanatoris, sekuensial eksploratoris, triangulasi, dan rancangan embedded) dan menyajikan contoh-contoh penelitian yang mencerminkan masing-masing strategi ini. Strategi-strategi ini kemudian dijabarkan lebih jauh dalam buku kedua, yang di dalamnya mereka menyertakan contoh-contoh penelitian lain yang benar-benar menerapkan strategistrategi tersebut. Dalam buku kedua ini pula, mereka membahas seputar ide-ide dasar tentang empat strategi metode campuran tersebut. Greene, J.C., Caracelli, V.J., & Graham, W.F. (1989). Toward a Conceptual Framework for Mixed-Method Evaluation Designs. dalam Educational. Evaluation and Policy Analysis. 11 (3). (hlm. 255-274). Jennifer Greene dan rekan-rekannya mengevaluasi 57 penelitian metode campuran yang dipublikasikan mulai tahun 1980 hingga 1988. Dari evaluasi ini, mereka menampilkan
291

lima tujuan dari tujuh karakteristik metode campuran. Mereka menyatakan bahwa penelitian metode campuran sering kali diterapkan untuk mencari konvergensi (triangulation), meneliti aspek-aspek yang berbeda dari sebuah fenomena (complementary), menganalisis data secara sekuensial (development), mendeteksi paradoks dan perspektif-perspektif baru (initiation), dan memperluas ruang lingkup penelitian (expansion). Mereka juga menemukan bahwa penelitian-penelitian metode campuran ini pada umumnya berbeda-beda dalam hal asumsiasumsi, kekuatan-kekuatan, dan kelemahan-kelemahan metodologisnya. Begitu pula, perbedaan-perbedaan ini bisa terlihat dari apakah penelitian-penelitian ini menjabarkan fenomena yang berbeda atau fenomena yang sama; apakah diimplementasikan dalam paradigma yang sama atau berbeda; apakah diberikan bobot/prioritas yang sama atau berbeda; atau apakah diimplementasikan secara independen, konkuren, atau sekuensial. Dengan tujuan-tujuan dan karakteristik-karakteristik tersebut, mereka kemudian merekomendasikan sejumlah strategi metode penelitian yang layak digunakan. Morse, J.M. (1991). Approaches to Qualitative-Quantitative Methodological Triangulation dalam Nursing Research. 40(1). (him. 120-123). Janica Morse menyatakan bahwa penggunaan metode kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan untuk membahas suatu masalah penelitian menuntut adanya upaya

mempertimbangkan bobot dan urutan masing-masing metode tersebut. Berdasarkan gagasan inilah, Morse kemudian mengetengahkan dua bentuk triangulasi metodologis, yakni secara simultan (simultaneous), yang menggunakan dua metode dalam satu waktu, dan bertahap (sequential), yang memanfaatkan hasil dari satu metode untuk melaksanakan metode selanjutnya. Dua bentuk ini dideskripsikan dengan menggunakan notasi huruf kapital dan huruf kecil yang menunjukkan bobot relatif serta urutan masing-masing metode. Morse juga menjelaskan tujuan-tujuan, pendekatan-pendekatan, dan kelemahan-kelemahan dalam strategi triangulasi ini.

Tashakkori, A., & Teddlie, C. (Ed). (2003). Handbook of Mixed Methods in the Social & Behavioral Sciences. Thousand Oaks, CA: Sage. Handbook yang dieditori oleh Abbas Tashakkori dan Charles Teddlie ini menyajikan tulisan dari para penulis kontemporer yang memang berkonsentrasi dalam penelitian metode campuran. Dengan 27bab di dalamnya, handbook ini memperkenalkan kepada pembaca metode campuran, mengilustrasikan isu-isu metodologis dan analisis dalam penerapan metode campuran, mengidentifikasi aplikasi-aplikasinya dalam ilmu sosial humaniora, dan menggagas pandanganpandangan masa depan terkait dengan metode campuran ini. Misalnya,
292

ada bab-bab khusus yang mengilustrasikan penerapan metode penelitian dalam evaluasi, manajemen dan organisasi, ilmu kesehatan, keperawatan, psikologi, sosiologi, dan pendidikan.

293

Glosarium
Abstrak dalam review penelitian adalah review singkat mengenai penelitian (biasanya berupa paragraf singkat) yang menyimpulkan beberapa bagian utama dalam sebuah penelitian agar pembaca bisa memahami hal-hal dasar yang ada dalam sebuah penelitian. Pandangan advokatif/partisipatoris adalah landasan filosofis dalam penelitian dimana dalam proses penyelidikan, penelitian dihubungkan dengan politik dari sebuah agenda politik. Karena itu, penelitian semacam ini memuat sebuah rencana tindakan untuk melakukan perubahan yang dimungkinkan bisa terjadi dalam kehidupan partisipan, institusi yang didiami partisipan, atau dalam kehidupan peneliti sendiri. Selain itu, pandangan ini juga mengangkat isu-isu spesifik dalam kehidupan sosial yang tengah terjadi di masyarakat, Semisal pemberdayaan, ketidaksetaraan, penindasan, dominasi, tekanan, dan pengasingan. Perhatian atau minat dalam penulisan adalah beberapa kalimat yang bertujuan untuk memberi batasan pembahasan pada pembaca (agar pembaca bisa tetap fokus), mengorganisir gagasan, dan menarik perhatian individu secara kontinu. Gagasan dasar dalam penulisan adalah kalimat-kalimat yang mengandung beberapa gagasan atau gambar khusus yang termasuk dalam gagasan utama. Gagasan atau gambar khusus ini berfungsi untuk menguatkan, memperjelas, atau memaparkan gagasan-gagasan yang termuat dalam gagasan utama. Studi kasus adalah stategi kualitatif di mana peneliti mengkaji se-buah program, kejadian, aktivitas, proses, atau satu atau lebih indi-vidu dengan lebih mendalam. Kasus-kasus tersebut dibatasi oleh waktu dan aktivitas, sehingga peneliti harus mengumpulkan infor-masi yang detail dengan menggunakan beragam prosedur pengum-pulan data selama periode waktu tertentu. Pertanyaan inti (Rumusan masalah) dalam penelitian kualitatif adalah pertanyaan besar yang dimiliki peneliti dan mengharuskan adanya sebuah penjelasan berupa fenomena sentral atau konsep sebuah penelitian. Kode etik adalah aturan-aturan dan prinsip etis yang ditetapkan oleh sekelompok profesional yang khusus mengatur penelitian-penelitian ilmiah. Materi kode (coding) adalah proses pengaturan materi-materi pada bagian-bagian dalam keseluruhan teks agar gagasan umum bisa dikembangkan dan tersebar dalam tiap-tiap bagian.

294

Koherensi dalam penulisan berarti adanya kesatuan gagasan dan adanya ketersambungan logis antar beberapa kalimat dan beberapa paragraf. Database literarur dalam komputer dewasa ini sudah bisa diakses di perpustakaan. Database ini memberikan akses cepat pada ribuan jurnal, arsip konferensi, dan materi-materi lain. Strategi embedded konkuren dalam metode penelitian campuran bisa diketahuai dari kegunaannya pada satu fase pengumpulan data, yakni selama pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif dilakukan secara berkesinambungan. Tidak seperti model triangulasi tradisional,pendekatan embedded konkuren memiliki metode utama yang membimbing laju penelitian dan memiliki metode kedua yang ber-peran suportif dalam prosedur tersebut. Prosedur metode campuran konkuren adalah prosedur di mana peneliti mengumpulkan atau mengombinasikan data kualitatif dan kuantitatif untuk memberikan sebuah analisis komprehensif ter-hadap masalah penelitian. Pendekatan transformatif konkuren dalam metode campuran di-arahkan oleh sebuah perspektif teoretis khusus yang digunakan pe-neliti serta pengumpulan data kualitatif dan kuantitatif yang konku-ren. Strategi triangulasi konkuren dalam metode campuran adalah se-buah pendekatan di mana peneliti mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara konkuren kemudian membandingkan dua data-base tersebut untuk menentukan adakah kesamaan, perbedaan, atau kemungkinan melakukan kombinasi antar dua data tersebut. Interval kepercayaan adalah sebuah prkiraan dalam penelitian kuantitatif yang berupa nilai statistik tertinggi dan terendah yang konsisten pada data yang diteliti serta memuat mean populasi yang sesungguhnya. Ketersambngan dalam penelitian metode campuran berarti adanya keterhubungan antara penelitian kualitatif maupun penelitian kuan-titatif dengan analisis data pada fase pertama penelitian serta dengan pengumpulan data fase kedua. Validitas gagasan terjadi ketiga seorang invertostor menggunakan definisi dan ukuran variabel yang cukup. Kekurangan dalam penelitian terdahulu mungkin terjadi sebab topik penelitian yang sama tidak ditujukan pada kelompok, sampel, atau populasi yang khusus. Penelitian terdahulu mungkin sudah harus dikaji uang untuk melihat adakah temuan penelitian yang sama, untuk
295

diberi sampel baru berupa individu baru atau situs-situs penelitian, atau untuk mengetahui adanya data dari sebuah kelompok yang belum terangkat dalam penelitian terdahulu tersebut. Penegasan judul adalah bagian yang berada dalam proposal penelitian dan menjelaskan istilah-istilah yang mungkin tidak dipahami pembaca. Analisis deskriptif terhadap data untuk variabel-variabel sebuah penelitian mencakup penggambaran hasil penelitian yang berupa mean, penyimpangan standar, dan jarak antara angka terendah dan angka tertinggi. Hipotesis direktif, yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah ketika seorang peneliti membuat prediksi tentang arah atau hasil penelitian yang diharapkan. Ukuran efek mengkaji kekuatan sebuah kesimpulan dari segi per-bedaan kelompok atau hbungan antara beberapa variabel dalam penelitian kuantitatif. Embedding adalah bentuk pencampuran dalam metode penelitian campuran,di mana bentuk data kedua dihubungkan dengan peneliti-an berskala lebih luas yang menjadi database utama. Database kedua berfungsi untuk mendukung database utama. Etnografi adalah strategi kualitatif di mana peneliti mempelajari sebuah kelompok kultural secara utuh dalam setting yang natural selama periode waktu tertentu dengan mengumpulkan data pene-litian dan wawancara. Desain eksperimental dalam penelitian kuantitatif menguji dampak treatment (arah sebuah intervensi) terhadap hasil penelitian serta mengkaji semua faktor lain yang dimiliki kemungkinan untuk memengaruhi hasil sebuah penelitian. Penelitian eksperimental berupaya menentukan apakah sebuah treatmen khusus bisa memengaruhi hasi sebuah penelitian. Dampak atau pengaruh tersebut bisa diketahuai dengan memberikan sebuah treatment khusus pada sebuah kelompok dan membatasi treatment pada kelompok lain. Kemudian, peneliti menentukan bagaimana perbedaan dua kelompok tersebut memengaruhi hasil sebuah penelitian. Ancaman validitas eksternal munculsaat seorang yang melakukan eksperimen membuat kesimpulan yang salah dari sampel data dengan mengkaji orang lain, setting lain, atau situasi yang telah lalu dan situasi yang akan datang. (tidak tepat sasaran) Kegemukan dalam penulisan berartiadanya kata yang ditambahkan dan sebenarnya tidak dibutuhkan dalam sebuah kalimat untuk me-nyampaikan sebuah gagasan.

296

Gatakeeperadalah beberapa staf yang terlibat dalam situs penelitian yang memberikan akses pada situs yang bersangkutan dan meng-izinkan terlaksananya sebuah penelitian kualitatif. Teori grounded adalah sebuah strategi kualitatif di mana peneliti menyampaikan teori yang umum dan abstrak mengenai proses, tindakan, atau interaksi yang grounded dalam pandangan partisipan sebuah penelitian. Penulisan yang biasa adalah penulisan proposal dengan cara yang umum dan terus-menerus, bukan penulisan dalam jangka waktu yang tidak teratur dan mandeg beberapa saat. Hipotesis menghubungkan beberapa variabel atau membandingkan kelompok-kelompok dalam variabel sehingga kesimpulan sampel bisa ditarik menjadi kesimpulan populasi. Formulir izin ditandatangani oleh partisipan sebelum mereka terlibat dalam sebuah penelitian. Formulir ini menegaskan bahwa hak partisipan akan dilingdungi selama proses pengumpulan data. Memadukan dua database dalam metode penelitian campuran ber-arti bahwa database kualitatif dan kuantitatif benar-benar digabung-kan dengan sebuah pendekatan perbandingan atau untuk keperluan melakukan transformasi data. Persetujuan intercoder (atau pengujian ulang) adalah ketika dua atau beberapa coder menyetujui penggunaan beberapa kode untuk bagian yang sama dalam sebuah teks. (Hal tersebut tidak berarti mereka memberi kode pada teks yang sama, namun berarti bahwa coder lain akan memberi kode yang persis sam dengan kode yang digunakan seorang coder pada bagian yang sama).Prosedur statistik atau subprogram yang telah terakui dalam paket software kualitatif bisa digunakan untuk menentukan level konsistensi dalam memberi kode. Ancaman validitas internal adalah prosedur eksperimental, treat-ment, atau pengalaman partisipan yang bisa menghambat peneliti untuk membuat kesimpulan yang tepat dari data mengenai populasi yang dilibatkan dalam eksperimen. Interpretasi hasil dalam penelitian kuantitatif berarti bahwa peneliti menarik kesimpulan dari pertanyaan dalam penelitian, hipotesis, dan makna yang lebih luas dalam hasil penelitian. Interpretasi dalam penelitian kualitatif berarti bahwa peneliti dapat menarik makna dari hasil analisis data. Makna ini bisa berupa pelajaran atau informasi untuk melakukan perbandingan dengan penelitian lain dan pengalaman pribadi. Protokol wawancara adalah sebuah formulir yang digunakan oleh peneliti kualitatif untuk merekam dan menulis informasi yang di-dapatkan selama proses wawancara.
297

Peta penelitian adalah sebuah gambaran visual (atau gambar) me-ngenai penelitian sebuah topik yang menggambarkan bagaimana sebuah penelitian khusus bisa memberikan kontribusi terhadap se-buah topik tertentu. Memasangkan partisipan dalam penelitian eksperimental adalah prosedur yang

memasangkan beberapa partisipan yang memiliki sifat dan karakteristik tertentu dan secara acak ditugaskan untuk terlibat dalam kelompok eksperimental dan kelompok yang melakukan kontrol. Notasi metode campuran memberikan label dan simbol kecil yang memainkan peran penting dalam metode penelitian campuran. Notasi ini memaparkan cara bagaiman peneliti dengan metode campuran bisa dengan mudah berkomunikasi dengan prosedur yang harus dipenuhinya. Statemen purpose metode campuran memuat keseluruhan maksud penelitian, informasi mengenai STRAND kualitatif dan kuantitatif penelitian, serta alasan logis dalam memadukan kedua STRAND tersebut untuk menelti masalah yang diangkat. Metode penelitian campuran adalah sebuahpendekatan untuk me-nyelidiki suatu objek dengan mengombinasikan atau menghubung-kan bentuk penelitian kualitatif dan bentuk penelitian kuantitatif. Metode ini juga dilibatkan asumsi filosofis, kegunaan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dan campuran antara dua pendekatan dalam sebuah penelitian. Rumusan masalah dalam metode penelitian campuran adalah per-tanyaan khusus yang diangkat dalam penelitian metode campuran dan secara langsung membidik percampuran antara STRANDS pe-nelitian kualitatif dan kuantitatif. Pertanyaan inilah yang akan di-jawab pada penelitian yang menggunakan metode campuran. Pencampuran bisa diartikan adanya kombinasi antara data kualitatif dan kuantitatif,satu data terakhir dalam sebuah rangkai-an,pemisahan dua data,satu data lain berakhir dalam sebuah rangkaian, atau pencampuran sedemikian rupa dalam sebuah rangkaian. Sisipan narasi adalah sebuah istilah yang berasal dari susunan bahasa inggris. Sisipan ini berarti kata bermakna yang digunakan sebagai kalimat pembuka sebuah pendahuluan yang berfungsi untuk menggambarkan,melibatkan,atau mengajak pembaca untuk terlibat dalam penelitian. Penelitian naratif adalah sebuah strategi kualitatif di mana peneliti mempelajari kehidupan individu dengan meminta satu atau bebe-rapa individu untuk menuturkan cerita
298

kehidupannya. Informasi ini sering kali dituturkan kembali oleh peneliti dengan menggunakan narasi kronologis. Hipotesis tak berarah dalam strategi penelitian kuantitatif adalah sebuah penelitian di mana seorang peneliti membuat prediksi, namum bentuk perbedaan yang pasti (semisal lebih tinggi, lebih rendah, lebih, atau kurang) tidak diperkirakan secara jelas, sebab peneliti tidak mengetahui apa yang bisa diperkirakan dari penelitian terdahulu. Hipotesis nol penelitian kuantitatif yang mencerminkan pen-dekatan tradisional dalam membuat hipotesis. Hipotesis tradisional tersebut adalah bahwa, dalam populasi umum, tidak ada hubungan atau tidak ada perbedaan signifikan antara dua kelompok dalam sebuah variabel. Protokol observasional adalah sebuah formulir yang digunakan oleh seorang peneliti kualitatif untuk merakam dan menulis informasi saat tengah melakukan observasi. Penelitian fenomenologis adalah strategikualitatif di mana peneliti mengidentifikasikan esensi pengalaman manusia tentang fenomena yang diungkapkan seorang partisipan dalam sebuah penelitian. Postpositivistik mencerminkan sebuah filosofi deterministik mengenai penelitian yang bisa menentukan efek atau hasil tertentu. Sebab itu, masalah yang diteliti dengan menggunakan landasan ini mencerminkan isu yang tidak harus diidentifikasi dan diketahui penyebab yang memuat hal tersebut bisa memengaruhi hasil penelitian, semisal dalam sebuah eksperimen. Pragmatisme sebagai sebuah pola pikir atau landasan filosofis muncul dalam tindakan, situasi, dan konsekuensi serta bukan dari kondisi yang sebelumnya (seperti dalam postpositivistik). Ada sebuah konsern yang dilengkapi dengan aplikasi-yang berfungsi dengan baik-serta solusi terhadap masalah-masalah yang muncul. Selain fokus pada beberapa metode, peneliti juga menekankan masalah penelitian dan menggunakan semua pendekatan yang cocok untuk bisa memahami sebuah permasalahan. Statemen purpose dalam sebuah proposal penelitian memaparkan sasaran, tujuan, dan gagasan beasr sebuah penelitian. Adanya partisipan atau situs yang sengaja dipilih (atau dengan dokumen serta materi visual) menandakan bahwa peneliti kualitatif memilih beberapa individu yang akan banyak membantu dalam memahami masalah penelitian dan memecahkan pertanyaan yang mendasari penelitian.
299

Materi audio dan visual kualitatif bisa berbentuk foto,karya seni, videotapes, atau bentukbentuk suara lain. Kode buku kualitatifadalah sebuah alatuntuk mengatur data kuali-tatif dengan menggunakan sebuah list yang berisi kode yang belum ditentukan dan akan digunakan untuk memberi kode pada data. Buku kode ini bisa berisi nama kode dalam sebuah kolom, definisi kode di kolom lain,lalu contoh-contoh khusus(semisal garis angka) yang menunjukkan di mana saja posisi kode dalam transkrip pada kolom yang lain. Dokumen kualitatif adalah dokumen publik (semisal surat kabar, arsip pertemuan, report kantor), atau dokumen pribadi (semisal jurnal pribadi, diari, surat, dan email). Generalisasi kualitatifadalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkancara-cara tertentu dalam penelitian kualitatif, sebab tujuan penyelidikan ini tidaklan untuk mengumumkan temuan pada individu, situs, atau tempat-tempat yang tidak terkait dengan pene-litian. Menggeneralisasi beberapa temuan menjadisebuah teori merupakan sebuah pendekatan yang digunakan dalam beberapa studi kasus penelitian kualitatif, namun peneliti harus memiliki pro-sedur yang terdokumentasi dengan baik dan database kualitatif yang telah dikembangkan dengan baik. Wawancara kualitatif berarti bahwa peneliti mengadakan wawan-cara tatap muka dengan partisipan,melakukan wawancara melalui telepon, ata terlibat dalam sebuah wawancara diskusi kelompok yang berisi enam hingga delapan narasumber pada masing-masing kelompok. Bebarapa wawancara ini melibatkan pertanyaan yang tidakteratur dansecara umum masih open-ended.Jumlah pertanyaan untuk wawancara ini relatif masih sedikit dan digunakan untuk memperoleh pandagan dan opini yang muncul dari partisipan. Observasi kualitatif berarti bahwa seorang peneliti memerhatikan dan mencatat tingkah laku dan aktivitas individual yang terlibat dalam situs penelitian dan rekaman observasi. Statemen purpose kualitatif memuat informasi mengenai fenomena inti yang dipaparkan dalam sebuah penelitian, partisipan dalam penelitian, serta situs penelitian. Statemen ini juga memuat desain yang muncul dan kata-kata penelitian yang didapatkan dari bahasa penyelidikan kualitatif. Reabilitas kualitatif menunjukkan bahwa sebuah pendekatan ter-tentu bisa konsisten di tengah beberapa peneliti yang memiliki beragam proyek penelitian. Penelitian kualitatif adalahsebuah alatuntuk memaparkan dan me-mahami makna yang berasal dari individu dan kelompok mengenai masalah sosial atau masalah individu. Proses
300

penelitian melibatkan pertanyaan dan prosedur yang sudah muncul; yakni dengan mengumpulkan data menurut setting partisipan; menganalisis data secara induktif,mengelola data dari yang spesifik menjadi tema umum,dan membuat penafsiran mengenai makna di balik data.Re-port yang berhasil ditulis memiliki struktur penulisanyang fleksibel. Validitas kualitatif berarti bahwa peneliti menguji akurasi temuan penilaian dengan menggunakan beberapa prosedur tertentu. Hipotesis kualitatif adalah prediksi-prediksi yang dibuat oleh pe-neliti mengenai hubungan antar variabel yang diharapkan. Statemen purpose kuantitatif mencakup beberapa variabel dalam peneltitian dan hubungan antarbeberapa variabel tersebut,partisipan dalam penelitian, serta situs penelitian. Statemen purpose ini juga memuat bahasa yang berhubungan dengan penelitian kuantitatif danuji coba deduktif terhadap hubungan antar beberapa teori. Penelitian kuantitatif adalah cara untuk menguji sasaran teori dengan mengkaji hubungan antarbeberapa variabel.Beberapa varia-bel ini bisa diukur,khususnya dalam beberapa instrumen,sehingga data yang sudah ditandai dengan nomor bisa dianalisis dengan menggunakan prosedur statistik.Report yang ditulis pada akhir penelitian memiliki susunan penulisan yakni pendahuluan, literatur dan teori, metode, hasil, dan diskusi. Pertanyaandalampenelitiankuantitatifadalahstatemen interogatif yang memunculkan

pertanyaan mengenai hubungan antarbeberapa variabel yang ingin dicari tahu jawabannya oleh pelaku investigasi. Kuasi-eksperimen adalah sebuah bentuk penelitian eksperimental di mana para individu tidak secara acak disuruh bergabung dalam sebuah kelompok. Pengacakan sampel adalah sebuah prosedur dalam penelitian kuantitatif untuk memilih partisipan. Hal ini berarti bahwa masing-masing individu dalam sebuah populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk dipilih dan dijaring sebagai sampel. Dengan teori ini, bisa dipastikan bahwa sampel yang diambil benar-benar cukup representatif mewakili populasi yang ada. Refleksitas berarti bahwa seorang peneliti memasukkan bias, nilai, dan latar belakang semisal gender, sejarah, kebudayaan, dan status sosial ekonomi yang dimilikinya dalam membentuk interpretasi yang dimilikinya selama melakukan penelitian.

301

Keberterimaan sebuah penelitian berarti bahwa berapa pun skor pada item yang berada dalam sebuah instrumen,skor tersebut secara internal memiliki konsistensi(yakni apakah item responsselalu kon-sisten?) tetap stabil dari waktu ke waktu (dengan menguji dan me-lakukan korelasi dengan uji ulang), dan apakah ada konsistensi dalam uji administrasi dan penetapan skor. Desainpenelitianadalahrencana dan prosedur penelitian yang men-cakup semua keputusan mulai dari asumsi yang luas hingga metode paling mendetail mengenai proses pengumpulan dan analisis data. Desain ini melibatkan adanya pertemuan antara beberapa asumsi filosofis, strategi penyelidikan, dan metode-metode tertentu. Metode penelitian melibatkan berbagai macam teknik pengumpul-an, analisis, serta interpretasi data yang dikemukakan peneliti dalam kerja penelitiannya. Masalah penelitian adalah masalah atau isu yang menjadi sebab adanya sebuah penelitian. Tips penelitian adalah pikiran-pikiran saya mengenai pendekatan atau teknik yang telah banyak berfungsi dengan baik pada saya selama beberapa tahun saya melakukan berbagai penelitian. Responsbias adalah efekdari tidak adanya respons dalam perkiraan survei, dan hal tersebut berarti bahwa jika ada orang yang bukan termasuk responden mamberikan respons, maka respons asing tersebut akan secara substansial mengubah hasil survei. Penelitian review dalam sebuah pendahuluan memaparkan pentingnya penelitian dan membuat batasan antara penelitian terdahulu yang telah dilakukan dengan penelitian yang diinginkan dan akan dilakukan. Skripsi, yang digunakan dalam buku ini, adalah sebuah template yang berisi beberapa kalimat dengan kata-kata dan gagasan utama dalam bagian khusus sebuah proposal atau laporan penelitian (se-misal statemen purpose atau rumusan masalah) dan memberikan ruang bagi peneliti untuk menyisipkan informasi yang berhubungan dengan proyek yang tengah dikerjakan. Strategi eksplanatori sekuensial dalam metode penelitian campuran bisa dikenali dengan pengumpulan dan analisis data kuantitatif dalam fase pertama yang kemudian diikuti dengan pengumpulan dan analisis data kuantitatif pada fase kedua yang akan menghasilkan temuan awal dalam sebuah penelitian kuantitatif.
302

Strategi eksplanatori sekuensial dalam metode penelitian campuran melibatkan fase pertama pengumpulan dan analisis data kualitatif yang kemudian diikuti dengan fase kedua, yakni pengumpulan dan analisis data kualitatif yang akan mengahasilkan temuan dalam fase pertama kuantitatif. Prosedur metode campuran sekuensial ialah prosedur yang mengharuskan peneliti memaparkan atau mengembangkan sebuah temuan mengenai sebuah metode dengan metode lain. Strategi transformatif sekuensial dalam metode penelitian campuran adalah sebuah proyek dengan dua fase yang memiliki lensa teoretis (yakni gender,ras,sosial,teori ilmu pengetahuan) berlandaskan sebuah prosedur, yakni fase awal (baik kualitatif ataupun kuantitatif) yang diikuti oleh fase kedua (baik kualitatif maupun kuantitatif) yang akan melengkapi proses fase pertama. Signifikansi penelitian dalam pendahuluan menyampaikan pentingnya masalah yang menjadi subjek penelitian untuk diangkat pada audien yang berbeda serta keuntungan yang mungkin bisa di-dapatkan dari pembacaan dan penggunaan hasil penelitian. Desain subjek tunggal atau desain N of 1 melibatkan aktivitas penelitian perilaku seorang individu (atau sejumlah kecil individu) dalam jangka waktu tertentu. Konstruktivis sosial memiliki asumsi bahwa masing-masing orang mencoba memahami dunia yang akrab dengan hidup keseharian mereka. Masing-masing individu tersebut mengembangkan makna subjektif dari pengalaman yang mereka lewati serta makna yang diarahkan terhadap sesuatu tertentu. Validitas kesimpulan statistik tidak muncul saat seorang pelaku eksperimen menghasilkan kesimpulan yang tidak akurat dari data sebab kekuatan statistik yang tidak sama atau kesalahan dalam asumsi statistik. Strategi penyelidikan adalah tipe desain atau model kualitatif, kuantitatif, dan metode campuran yang memberikan arah khusus terhadap prosedur dalam desain penelitian. Gaya manual memberikan bimbingan untuk membuat sebuah manuskrip ilmiah, semisal format yang konsisten dalam menulis referensi, memuat heading memuat tabel dan gambar, dan menggunakan bahasa yang tidak diskriminatif.

303

Desain survey memaparkan rancangan sebuah gambaran kuantitatif berupa angka yang menunjukkan kebiasaan, tingkah laku, pendapat, atau populasi dengan mempelajari sebuah sampel dari sebuah populasi tertentu. Penelitian survey menampilkan sebuah gembaran kuantitatif dalam bentuk angka mengenai kebiasaan, tingkah laku, atau opini sebuah populasi dengan mempelajari sampel dari sebuah populasi. Lensa teoretisatauperspektif dalam penelitiankualitatif memuat keseluruhan pandangan yang digunakan untuk penelitian yang mengkaji masalah gender,kelas,ras,atau isu lain mengenai kelom-pok yangn termarginalkan).Lensa ini menjadi sebuah perspektif advokasi yang membentuk tipe-tipe pertanyaan yang diajukan, me-maparkan cara-cara pengumpulan dan analisis, serta menyuntikkan semangat untuk melakukan sebuah gerakan perubahan. Teori dalam metode penelitian campuran memuat sebuah lensa orientasi yang akan mengarahka tipe pertanyaan yang diajukan, siapa saja yang berpartisipasi dalam penelitian, cara pengumpulan data,dan implikasi yang dihasilkandari penelitian (khususnya untuk

304

Daftar Pustaka
Aikin, M.C. (Ed.). (1992). Encyclopedia of educational research (6th ed.). New York: Macmillan. American Psychological Association. (2001). Publication Manual of the American Psychological Association (5th ed.). Washington, DC: Author. Anderson, E.H., & Spencer, M.H. (2002). Cognitive representation of AIDS. Qualitative Health Research, 12(10). 1338-1352. Annual Review of Psychology. (1950-). Stanford, CA: Annual Reviews. Ansorge, C, Creswell, J.W., Swidler, S. & Gutmann, M. (2001). Use of iBook laptop computers in teacher education. Unpublished manuscript. University of Nebraska-Lincoln. Asmussen, K.J,, & Creswell, J.W. (1995). Campus response to a student gunman. Journal of Higher Education. 66. 575-591. Babbie, E. (1990). Survey Research Methods (2nd ed.). Belmont, CA: Wadsworth. Babbie, E. (2007). The Practice of Social Research (11th ed.). Belmont, CA: Wadsworth/ Thomson. Bailey, E.P. (1984). Writing Clearly: A Contemporary Approach. Columbus, OH: Charles Merrill. Bausell, R.B. (1994). Conducting Meaningful Experiments. Thousand Oaks. CA: Sage. Bean, J., & Creswell, J.W. (1980). Student attrition among women at a liberal arts college. Journal of College Student Personnel, 3,320-327. v .. Beisel, N. (February, 1990). Class, culture, and campaigns against vice in three American cities, 1872-1892. American Sociological Revieio, 55,44-62. Bern, D. (1987). Writing the empirical journal article. In M. Zanna & J. Darley (Ed.), The Compleat Academic: A Practical Guide for the Beginning Social Scientist (pp. 171-201). New York: Random House. Berg, B.L. (2001). Qualitative Research Methods for the Social Sciences (4th ed.). Boston: Allyn & Bacon. Berger, P. L. & Luekmann, T. (1967). The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology ofKjwzoledge. Garden City, NJ: Anchor. Bhopal, K. (2000). Gender, "race" and power in the research process: South Asian women in East London. In C. Truman. D.M. Mertens, & B. Humphries (Ed.), Research and inequality. London: UCL Press. Blalock, H. (1969). Theory Construction: From Verbal to Mathematical Formulations. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall. Blalock, H. (1985). Casual Models in the Social Sciences. New-York: Aldine. Blalock, H. (1991). Are there any constructive alternatives to causal modeling? Sociological Methodology, 21, 325-335. Blase, J.J. (1989, November). The micropolitics of the school: The everyday political orientation of teachers toward open school principals. Educational Administration Quarterly, 25(4), 379-409. Boeker, W. (1992). Power and Managerial Dismissal: Scapegoating at the top. Administrative Science Quarterly, 37. 400-421. Bogdan. R.C. & Biklen, S.K. (1992). Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn & Bacon. Boice, R. (1990). Professors as Writers: A Self-help Guide to Productive Writing. StiUwater, OK: New Forums. Boneva, B., Kraut, R., & Frohlich, D. (2001). Using e-mail for personal relationships. American Behavioral Scientist, 45(3). 530-549. Booth-Kewley, S. Edwards, J.E. & Rosenfeld, P. (1992). Impression management, social
305

desirability, and computer administration of attitude questionnaires: Does the computer make a difference. Journal of Applied Psychology, 77(4). 562-566. Borg, W.R. & Gall, M.D. (1989). Educational Research: An Introduction (5th ed.). New York: Longman. Borg, W.R., Gall, J.P. & Gall, M.D. (1993). Applying Educational Research: A Practical Guide. New York: Longman. Boruch, R.E. (1998). Randomized controlled experiments for evaluation and planning. In L. Rickman & D.J. Rog (Ed.). Handbook of Applied Social Research Methods (pp. 161191). Thousand Oaks. CA: Sage. Bryman, A. (2006). Mixed Methods: A Four-Volume Set. London: Sage. Bunge, N. (1985). Finding the Words: Conversations with Writers Who Teach. Athens, OH: Swallow Press, Ohio University Press. Cahill, S.E. (1989). Fashioning males and females: Appearance management and the social reproduction of gender. Symbolic Interaction. 12(2), 281-298. Campbell, D., & Stanley, J. (1963). Experimental and quasi-experimental designs for research. In N.L. Gage (Ed.). Handbook of Research on Teaching (pp. 1-76). Chicago: Rand McNally. Campbell, D.T., & Fiske, D. (1959). Convergent and discriminant validation by the multitraitmultimethod matrix. Psychological Bul-, letin, 56, 81-105. Campbel,. W.G., & Ballou, S.V. (1977). Form mid Style: Theses, Reports, Term Papers (5th ed.). Boston: Hough ton Mifflin. Caracelli, V.J., & Greene, J.C. (1993). Data analysis strategies for mixed-method evaluation designs. Educational Evaluation and Policy Analysis. 15(2). 195-207. Carroll, D.L. (1990). A Manual of Writer's Tricks. New York: Paragon. Carstensen, L.W, Jr. (1989). A fractal analysis of cartographic generalization. The American Cartographer, 16(3), 181-189. Castetter, W.B. & Heisler, R.S. (1977). Developing and Defending a Dissertation Proposal. Philadelphia: University of Pennsylvania, Graduate School of Education. Center for Field Studies. Charmaz, K. (2006). Constructing Grounded Theory. Thousand Oaks, CA: Sage. Cheek, J. (2004). At the margins? Discourse analysis and qualitative research. Qualitative Health Research, 14,1140-1150. Cherryholmes. C.H. (1992, August-September). Notes on pragmatism and scientific realism. Educational Researcher, 13-17. Clandinin, D.J. & Connelly, F.M. (2000). Narrative Inquiry: Experience and Story in Qualitative Research. San Francisco: Jossey-Bass. Cohen, J. (1977). Statistical Power Analysis for the Behavioral Sderices. New York: Academic Press. Cook, T.D.. & Campbell, D.T. (19 79). Quasi-Experimentation: Design and Analysis Issues for Field Settings. Chicago: Rand McNally. Cooper, H. (1984). The lntegrative Research Review: A Systematic approach. Beverly Hills, CA: Sage. Cooper. J.O., Heron, T.E., & Heward. W.L. (1987). Applied Behavior Analysis. Columbus. OH: Merrill. Corbin, J.M., & Strauss, J.M. (2007). Basics of Qualitative Research: Techniques and Procedures for Developing Grounded Theory (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Creswell, J.W. (1999) Mixed method research: Introduction and application. In G.J. Cizek (Ed.). Handbook of educational policy (pp. 455-472). San Diego, CA: Academic Press. Creswell, J.W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing among Five Approaches ( 3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Creswell, J.W. (2008). Educational Research: Ptoming, Conducting, and Evaluating Quantitative
306

and Qualitative Research (3rd ed.). Upper Saddle River, NJ: Merrill. Creswell, J.W. & Brown, M.L. (1992, Fall). How chairpersons enhance faculty research: A grounded theory study. The Review of Higher Education, 16(1), 41-62. Creswell, J.W., & Miller, D. (2000). Determining validity in qualitative inquiry. Theory into Practice, 39(3), 124-130. Creswell, J.W. & Piano Clark, V.L. (2007). Designing and Conducting Mixed Methods Research. Thousand Oaks, CA: Sage. Creswell, J.W. Piano Clark, V. Gutmann. M., & Hanson, W. (2003). Advanced mixed methods designs. In A. Tashakkori & C. Teddlie (Ed.), Handbook of Mixed Method Research in the Social and Behavioral Sciences (pp. 209-240). Thousand Oaks, CA: Sage. Creswell, J.W., Seagren, A.. & Henry, T. (1979). Professional development training needs of department chairpersons: A test of the Biglan model. Planning and Changing, 10. 224237. Crotty. M. (1998). The Foundations of Social Research: Meaning and Perspective in the Research Process. London: Sage. Crutchfield, J.P. (1986). Locus of Control, Interpersonal Trust, and Scholarly Productivity. Unpublished doctoral dissertation, University of Nebraska-Lincoln. DeGraw, D.G. (1984). Job Motivational Factors of Educators Within Adult Correctional Institutions from Various States. Unpublished doctoral dissertation. University of NebraskaLincoln. Denzin, N.K., & Lincoln, YS. (Ed.). (2005). The Handbook of Qualitative Research (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. DiUard. A. (1989). The Writing Life. New York: Harper & Row. Dillman, D.A. (1978). Mail and Telephone Surveys: The Total Design Method. New York: John Wiley. Duncan, O.D. (1985). Fath analysis: Sociological examples. In H. M. Blalock, Jr. (Ed,). Causal Models in the Social Sciences (2nd ed., pp. 55-79). New York: Aldine. Educational Resources Information Center. (1975). Thesaurus of ERIC descriptors (12th ed.). Phoenix. AZ: Oryx. Eisner, E.W. (1991). The Enlightened Eye: Qualitative Inquiry and the Enhancement of Educational Practice. New York: Macmillan. Elbow, P. (1973). Writing Without Teachers. London: Oxford University Press. Erms, C.Z.. & Hackett, G. (1990). Comparison of feminist and nonfeminist women's reactions to variants of nonsexist and feminist counseling. Journal of Counseling Psychology, 37(1), 33-40. Fay, B. (1987). Critical Social Science. Ithaca, NY: Cornell University Press. Field, A., & Hole, G. (2003). How to Design and Report Experiments. Thousand Oaks, CA: Sage. Finders, MJ. (1996). Queens and teen Zines: Early adolescent females reading their way toward adulthood. Anthropology and Education Quarterly, 27, 71-89. Fink, A. (2002). The Survey Kit (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Firestone. WA. (1987). Meaning in method: The rhetoric of quantitative and qualitative research. Educational Researcher, 16,16-21. Flick, U. (Ed.). (2007). The Sage Qualitative Research Kit. London: Sage. Flinders, D.J., & Mills. G.E. (Ed.). (1993). Theory and Concepts in Qualitative Research: Perspectives from the Field. New York: Columbia University, Teachers College Press Fowler, E J. (2002). Survey Research Methods (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Franklin, J. (1986). Writing for Story: Craft Secrets of Dramatic Nonfic-tion by a Two-time Pulitzer Prize-winner. New York: Atheneum. Gamson, J. (2000). Sexualities, queer theory, and qualitative research. In N.K. Denzin & Y.S.
307

Lincoln (Ed.), Handbook of Qualitative Research (pp. 347-365 ). Thousand Oaks, CA: Sage. Gibbs, G.R. (2007). Analyzing qualitative data. In U. Flick (Ed.). The Sage Qualitative Research Kit. London: Sage. Giordano, J., O'Reilly, M., Taylor, H. & Dogra, N. (2007). Confidentiality and autonomy: The challenge(s) of offering research participants a choice of disclosing their identity. Qualitative Health Research. 17(2). 264-275. Glesne, C, & Peshkin, A. (1992). Becoming Qualitative Researchers: An Introduction. White Plains, NY: Longman. Gravetter, E.J., & Wallnau, L.B. (2000). Statistics for the Behavioral Science (5th ed.). Belmont, CA: Wadsworth/Thomson. Greene, J.C. (2007). Mixed Methods in Social Inquiry. San Francisco: Jossey-Bass. Greene. J.C, & Caracelli, V.J. (Ed.). (1997). Advances in Mixed-method Evaluation: The Challenges and Benefits oflntegrating Diverse Paradigms. (New Directions for Evaluation, No. 74). San Francisco: Jossey-Bass Greene, J.C., Caracelli, V.J., & Graham, W.F. (1989). Toward a conceptual framework for mixed-method evaluation designs. Educational Evaluation and Policy Analysis, 11(3), 255-274. Guba, E.G. (1990). The alternative paradigm dialog. In E.G. Guba (Ed.). The paradigm Dialog (pp. 17-30). Newbury Park, CA: Sage. Guba, E.G., & Lincoln, Y.S. (2005). Paradigmatic controversies, contradictions, and emerging confluences. In N.K. Denzin & Y.S. Lincoln, The Sage handbook of qualitative research (3rd ed., pp. 191-215). Thousand Oaks. CA: Sage. Hatch, J.A. (2002). Doing Qualitative Research in Educational Settings. Albany: State University of New York Press. Heron, ]., & Reason, P. (1997). A participatory inquiry paradigm. Qualitative Inquiry, 3, 274-294. Hesse-Bieber, S.N. & Leavy, P (2006). Tlie Practice of Qualitative Research. Thousand Oaks, CA: Sage. Humans, G.C (1950). The Human Group. New York: Harcourt, Brace. Hopkins, T.K. (1964). The Exercise of Influence in Small Groups. Totowa, NJ: Bedmister. Hopson, R.K., Lucas, K.J., & Peterson, J.A. (2000). HIV/AIDS talk: Implications for prevention intervention and evaluation. In R.K. Hopson (Ed.), How and why Language Matters in Evaluation. (New Directions for Evaluation. Number 86). San Francisco: Jossey-Bass. Hossler, D. & Vesper, N. (1993). An exploratory study of the factors associated with parental savings for postsecondary education. Journal of Higher Education, 64(2), 140-165. Houtz, L.E. (1995). Instructional strategy change and the attitude and achievement of seventh- and eighth-grade science students. Journal of Research in Science Teaching, 32(6), 629-648. Huber, J., & Whelan, K. (1999). A marginal story as a place of possibility: Negotiating self on the professional knowledge landscape. Teaching and Teacher Education, 15,381396. Humbley, A.M., & Zumbo, B.D. (1996). A dialectic on validity: Where we have been and where we are going. The Journal of General Psychology, 123, 207-215. Isaac, S. & Michael, W.B. (1981). Handbook in Research and Evaluation: A Collection ofPrinciples. Methods, and Strategies useful in the Planning, Design, and Evaluation of Studies in Education and the Behavioral Sciences (2nd ed.). San Diego. CA: EdITS. Isreal, M. & Hay, I. (2006). Research Ethics for Social Scientists: Between Ethical Conduct and
308

Regulatory Compliance. London: Sage. Janovec, T. (2001). Procedural Justice in Organizations: A Literature Map, Unpublished manuscript. University of Nebraska-Lincoln. Janz, N.K., Zimmerman, MA,, Wren, P.A., Isreal. B. A., Freudenberg, N. & Carter, R.J. (1996). Evaluation of 37 AIDS prevention projects: Successful approaches and barriers to program effectiveness. Health Education Quarterly, 23(1), 80-97. Jick, T.D. (1979, December). Mixing qualitative and quantitative methods: Triangulationin action. Administrative Science Quarterly, 24, 602-611. Johnson, R.B., Onwuegbuzie, A.J., &Turner, L.A. (2007). Toward a definition of mixed methods research: Journal of Mixed Methods Research, 1(2), 112-133. Jungnickel, P.W. (1990). Workplace Correlates and Scholarly Performance of Pharmacy Clinical Faculty Members. Unpublished manuscript, University of Nebraska-Lincoln. Kalof, L. (2000). Vulnerability to sexual coercion among college women: A longitudinal study. Gender Issues, 18(4), 47-58 Keeve, J.P. (Ed.). (1988). Educational Research, Methodology, and Measurement: An international handbook. Oxford, UK: Pergamon. Kemmis, S., & Wilkinson, M. (1998). Participatory action research and the study of practice. In B. Atweh, S. Kemmis. & P. Weeks (Ed.). Action Research in Practice: Partnerships for Social Justice in Education (pp. 21- 36). New York: Routledge. Keppel, G.' (1991). Design and Analysis: A Researcher's Handbook (3rd ed.). Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall. Kerlinger, RN. (1979). Behavioral Research: A conceptual Approach. New York: Holt, Rinehart & Winston. Kline, R.B. (1998). Principles and Practice of Structural Equation Modeling. New York: Guilford. Kos, R. (1991). Persistence of reading disabilities: The voices of four middle school students. American Educational Research Journal. 28(4), 875-895. Kushman, J.W. (1992, February). The organizational dynamics of teacher workplace. Educational Administration Quarterly. 28(1), 5-42. Kvale, S. (2007). Doing interviews. In U. Flick (Ed.). The Sage Qualitative Research Kit. London: Sage. Labovitz, S. & Hagedorn, R. (1971). Introduction to Social Research. New York: McGrawHill. Ladson-Billings, G. (2000). Racialized discourses and ethnic episte-mologies In N.K. Denzin & Y.S. Lincoln (Ed.), Handbook on Qualitative Research (pp. 257-277). Thousand Oaks. CA: Sage. Lather, P. (1986). Research as praxis. Harvard Educational Review 56, 257-277. Lather, P. (1991). Getting Smart: Feminist Research and Pedagogy with/in the Postmodern. New York: Routledge. Lauterbach, S. S. (1993). In another world: A phenomenologicalperspective and discovery of meaning in mothers' experience with death of a wished-for baby: Doing phenomenology. In P.L. Munhall & CO. Boyd (Ed.). Nursing Research: A qualitative Perspective (pp. 13 3-179). New York: National League for Nursing Press. LeCompte, M.D., & Schensul, J.J. (1999). Designing and Conducting Ethnographic Research. Walnut Creek, CA: AltaMira. Lee. Y.J., & Greene, J. (2007). The predictive validity of an ESLplacement test: A mixed methods approach. Journal of Mixed Methods Research. 1(4), 366-389. Leslie, L.L. (1972). Are high response rates essential to valid surveys? Social Science Research, 1,323-334. Lincoln, Y. S. & Guba, E.G. (1985). Naturalistic Inquiry. Beverly Hills. CA:Sage. Lincoln, Y. S. & Guba. E.G. (2000). Paradigmatic controversies, contradictions, and emerging
309

confluences. In Y. S. Lincoln & E. G. Guba (Ed.). Handbook of Qualitative Research (pp. 163-188). Thousand Oaks. CA: Sage. Iipsey, M.W. (1990). Design Sensitivity: Statistical Power for Experimental Research. Newbury Park, CA: Sage. Locke, L.E. Spirduso, W.W, & Silverman, S.J. (2007). Proposals that work: A Guide for Planning Dissertations and Grant Proposals (5th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Lysack, C.L., & Krefting, L. (1994). Qualitative methods in field research: An Indonesian experience in community based practice. The Occupational Therapy Journal of Research, 14(20), 93-110. Marshall, C, & Rossman, G.B. (2006). Desigiiing Qualitative Research (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Mascarenhas, B. (1989). Etomains of state-owned, privately held, and publicly traded firms in international competition. Adminis-trative Science Quarterly, 34,582-597. Maxwell, J.A. (2005). Qualitative Research Design: An Interactive Approach (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. McCracken, G. (1988). The Long Interview. Newbury Park, CA: Sage. Megel, M.E., Langston, N.E. & Creswell, J.W. (1987). Scholarly productivity: A survey of nursing faculty researchers. Journal of Professional Nursing, 4,45-54. Merriam, S.B. (1998). Qualitative Research and Case Study Applications in Education. San Francisco: Jossey-Bass. Mertens, D.M. (1998). Research Methods in Education and Psychology: Integrating Diversity with Quantitative and Qualitative Approaches. Thousand Oaks. CA: Sage. Mertens, D.M. (2003). Mixed methods and the politics of human research: The transformative-emancipatory perspective. In A. Tashakkori & C. Teddli (Ed.), Handbook of Mixed Methods in the Social & Behavioral Sciences (pp. 135-164). Thousand Oaks. CA: Sage. Miles. M.B., & Huberman, A.M. (1994). Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods. Thousand Oaks, CA: Sage. Miller, D. (1992). The Experiences of a First-year College President: An Ethnography. Unpublished doctoral dissertation, University of Nebraska-Lincoln. Miller, D.C. (1991). Handbook of Research Design and Social Measurement (5th ed.). Newbury Park, CA: Sage. Moore, D. (2000). Gender identity. Nationalism and social action among Jewish and Arab women in Israel: Redefining the social order? Gender Issues, 18(2), 3-28. Morgan, D. (1998). Practical strategies for combining qualitative and quantitative methods: Applications to health research. Qualitative Health Research, 8(3), 362-376. Morgan, D. (2007). Paradigms lost and pragmatism regained: Methodological implications of combining qualitative and quantitative methods. Journal of Mixed Methods Research, 1(1), 48-76. Morse, J.M. (1991. March/April). Approaches to qualitative-quantitative methodological triangulation. Nursing Research, 40(1). 120-123. Morse, J.M. (1994). Designing funded qualitative research. In N.K. Denzin & Y.S. Lincoln, (Ed.), Handbook cf Qualitative Research (pp. 220-235). Thousand Oaks, CA: Sage. Moustakas, C. (1994). Phenomenological Research Methods. Thousand Oaks. CA: Sage. Murguia, E. Padilla, R.V., & Pavel. M. (1991. September). Ethnicity and the concept of social integration in Tinto's model of institutional departure. Journal of College Student Development, 32, 433-439. Murphy, J.P. (1990). Pragmatism: Vrom Peirce to Davidson. Boulder, CO: Westview. Nesbary, D.K. (2000). Survey Research and the World wide web. Boston: Allyn & Bacon. Neuman, S.B. & McCormick. S. (Ed.). (1995). Single-subject Experimental Research:
310

Applications for Literacy. Newark, DE: International Reading Association. Neuman, W.L. (2000). Social Research Methods: Qualitative'and Quantitative Approaches (4th ed.). Boston: Allyn & Bacon. Newman, L. & Benz. C.R. (1998). Qualitative-quantitative Research Methodology: Exploring the Interactive Continuum. Carbondale and Edwardsville: Southern Illinois University Press. Nieswiadomy, R.M. (1993). Foundations of Nursing Research. (2nd ed.). Norwalk. CT: Appleton & Lange. Nordenmark, M. & Nyman, C. (2003). Fair or unfair? Perceived fairness of household division of labour and gender equality among women and men. The European Journal of Women's Studies. 10(2). 181-209. O'Cathain, A., Murphy, E., & Nicholl, J. (2007). Integration and Publications as indicators of "yield" from mixed methods studies. Journal of Mixed Methods Research. 1(2), 147163. Olesen, V.L. (2000). Feminism and qualitative research at and into the millennium. In N.L. Denzin & Y.S. Lincoln. Handbook of qualitative Research (pp. 215-255). Thousand Oaks, CA: Sage. Onwuegbuzie, A.J., & Johnson, R.B. (2006). The validity issue in mixed research. Research in the Schools, 13(1), 48-63. Padula, M. A., & Miller, D. (1999). Understanding graduate women's reentry experiences. Psychology of Women Quarterly, 23,327-343. Patton, M.Q. (1990). Qualitative Evaluation and Research Methods (2nd ed.). Newbury Park. CA: Sage. Patton, M.Q. (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Phillips, D.C., & Burbules,N.C. (2000). Postpositivism and Educational Research. Lanham, NY: Rowman & Littlefield. Piano Clark, V.L., & Creswell, J.W. (2008). The Mixed Methods Reader Thousand Oaks, CA: Sage. Prose, F. (2006). Reading Like a Writer New York: HarperCollins. Punch, K.F. (2000). Developing Effective Research Proposals. London: Sage. Punch, K.F. (2005). Introduction to Social Research: Quantitative and Qualitative Approaches (2nd ed.). London: Sage. Reichardt, CS., & Mark. M.M. (1998). Quasi-experimentation. In L. Bickman & DJ. Rog (Ed.), Handbook of Applied Social Research Methods (pp. 193-228). Thousand Oaks, CA: Sage. Rhoads, R.A. (1997). Implications of the Growing Visibility of Gay and Bisexual male Students on Campus. NASPA Journal, 34(4). 275-286. Richardson, L. (1990). Writing strategies: Reaching diverse audiences. Newbury Park, CA: Sage. Richie, B.S., Fassinger, R.E., Linn. S.G., Johnson. J., Prosser. J., & Robinson, S. (1997). Persistence, connection, and passion: A qualitative study of the career development of highly achieving African American-Black and White women. Journal of Counseling Psychology, 44(2), 133-148. Riemen, D.J. (1986). The essential structure of a caring interaction: Doing phenomenology. In P.M. Munhall & C.J. Oiler (Ed.). Nursing Research: A qualitative Perspective (pp. 85105). Norwalk, CN: Appleton-Century-Crofts. Rogers. A., Day. J. Randall, E, & Bentall, R.P. (2003). Patients' understanding and participation in a trial designed to improve the management of anti-psychotic medication: A qualitative study. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology. 38,
311

720-727. Rorty, R. (1983). Consequences of Pragmatism. Minneapolis: University of Minnesota Press. Rorty, R. (1990). Pragmatism as anti-representationalism. In J.P. Murphy, Pragmatism: From Peirce to Davison (pp. 1-6). Boulder. CO: Westview. Rosenthal, R., & Rosnow, R.L. (1991). Essentials of Behavioral Research: Methods and Data Analysis. New York: McGraw-Hill. Ross-Larson. B. (1982). Edit Yourself: A manual for Everyone who Works with Words. New York: Norton Rossman. G., & Rallis. S. F. (1998). Learning in the Field: An Introduction to Qualitative Research. Thousand Oaks, CA: Sage. Rossman, G.B.. & Wilson. B.L. (1985, October). Numbers and words: Combining quantitative and qualitative methods in a single large-scale evaluation study. Evaluation Review, 9(5), 627-643. Rudestam, K.E., & Newton, R.R. (2007). Surviving your Dissertation (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Salant. F, & Dillman, DA. (1994). How to Conduct your own Survey. New York: John Wiley. Salkind, N. (1990). Exploring Research. New York: MacMillan. Sarantakos, S. (2005). Social Research (3rd ed.). New York: Palgrave Macmillan. Schwandt, TA. (1993). Theory for the moral sciences: Crisis of identity and purpose. In D j. Flinders & G.E. Mills (Ed.), Theory and concepts in Qualitative Research: Perspectives from the Field (pp. 5-23). New York: Columbia University, Teachers College Press. Schwandt, TA. (2000). Three Epistemological stances for qualitative Inquiry. In N.K. Denzin & Y.S. Lincoln (Ed.). Handbook of qualitative research (2nd ed. pp. 189-213). Thousand Oaks, CA: Sage. Schwandt, TA. (2007). Dictionary of Qualitative Inquiry (3rd ed.). Tho sand Oaks, CA: Sage. Shadish, W.R.,*Cook, T.D., & Campbell, D.T. (2001). Experimental and Quasi-experimental Designs for Generalized Causal Inference. Boston: Houghton Mifflin.

Sieber, J.E. (1998). Planning ethically responsible research. In L.Bickman & D.J. Rog
(Ed.).. Handbook of Applied Social Research Methods (pp. 127-156). Thousand Oaks, CA:

Sage. Sieber, S.D. (1973). The integration of field work and survey methods. American Journal of
Sociology. 78,1335-1359.

Slife, B.D., & Williams, R.N. (1995). What's behind the Research? Discovering Hidden Assumptions in the Behavioral Sciences. Thousand Oaks, CA: Sage. Smith, J.K. (1983, March). Quantitative versus qualitative research: An attempt to clarify the issue. Educatioiial Researcher. 6-13. Spradley,J.R (1980). Participant Observation,New York: Holt, Rinehart & Winston. Stake, R.E. (1995 ). The art of Case Study Research. Thousand Oaks, CA: Sage. Steckler, A., McLeroy, K.R., Goodman, R.M., Bird, S.T. & McCormick. L. (1992). Toward integrating qualitative and quantitative methods: An introduction. Health Education Quarterly, 19(1), 1-8. Steinbeck, J. (1969). Journal of a Novel: The East of Eden Letters. New York: Viking. Strauss, A., & Corbin, J. (1990). Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques (1st ed.). Newbury Park. CA: Sage. Strauss, A., & Corbin. J. (1998). Basics of Qualitative Research: Grounded theory Procedures and Techniques (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Sudduth, A.G. (1992). Rural Hospitals use of Strategic Adaptation in a changing health care environment. Unpublished doctoral dissertation. University of Nebraska-Lincoln. Sue, V.M.. & Ritter, L.A. (2007). Conducting online surveys. Thousand Oaks, CA: Sage. Tarshis, B. (1982). How to Write like a pro: A guide to Effective Ncnfiction Writing. New York:
312

New American Library. Tashakkori, A., & Creswell, J.W. (2007). Exploring the nature of research questions in mixed methods research. Editorial. Journal of Mixed Methods Research, 1(3), 207-211 Tashakkori, A., & Teddlie, C. (1998). Mixed Methodology: Combining Qualitative and Quantitative Approaches. Thousand Oaks, CA: Sage. Tashakkori, A., & Teddlie, C. (Ed.). (2003). Handbook of Mixed Method Research in the Social and Behavior Sciences. Thousand Oaks, CA: Sage. Teddlie, C, & Yu, R (2007). Mixed methods sampling: A typology with examples. Journal of Mixed Methods Research. 1(1), 77-100. Terenzini. P.T., Cabrera, A.E. Colbeck, C.L., Bjorklund, S A. & Parente, JM. (2001). Racial and ethnic diversity in the classroom. The Journal of Higher Education, 72(5), 509-531. Tesch, R. (1990). Qualitative Research: Analysis Types and Software Tools. New York: Falmer. Thomas, G. (1997). What's the use of theory? Harvard Educational Review, 67(1), 75-104. Thomas, J. (1993). Doing critical ethnography. Newbury Park, CA: Sage. Thorndike, R.M. (1997). Measurement and Evaluation in Psychology and Education (6th ed.). New York: Macmillan. Trujillo, N. (1992). Interpreting (the work and the talk of) baseball: Perspectives on ballpark culture. Western Journal of Communication, 56.350-371. Tuckman, B.W. (1999). Conducting Educational Research (5th ed.). Fort Worth, TX: Harcourt, Brace. Turabian, K.L. (1973). A Manual for Writers of term Papers. Theses, and Dissertations (4th ed.) Chicago: University of Chicago Press. University of Chicago Press. A manual of Style. (1982). Chicago: Author. University Microfilms. (1938). Dissertation Abstracts International. Ann Arbor, MI: Author. VanHorn-Grassmeyer, K., (1998). EnJiancing Practice: New Professional in student affairs. Unpublished doctoral dissertation, University of Nebraska-Lincoln. Van Maanen,}., (1988). Tales of the Field: On Writing Ethnography. Chicago: University of Chicago Press. Vernon, J.E., (1992). The impact of divorce on the Grandparent/Grandchild Relationship When the Parent Generation Divorces. Unpublished doctoral dissertation. University of Nebraska-Lincoln. Vogt. W.P., (1999). Dictionary of Statistics and Methodology: A nontechnical Guide for the Social Sciences (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage. Webb, R.B., & Glesne, C. (1992). Teaching qualitative research. In M. D. LeCompte, W. L. Millroy. & J. Preissle (Ed.), The Handbook of Qualitative Research in Education (pp. 771814). San Diego, CA: Academic Press. Webb, W.H., Beals, A.R., & White, CM. (1986). Sources of Information in the Social Sciences: A Guide to the Literature (3rd ed.). Chicago: American Library Association. Weitzman, P.A., & Miles. M.B. (1995). Computer Programs for Qualitative Data Analysis. Thousand Oaks. CA: Sage. Weitzman, R.F., & Levkoff, S.E. (2000). Combining qualitative and quantitative methods in health research with minority elders: Lessons from a study of dementia caregiving. Field Methods, 12(3), 195-208. Wilkinson, A.M. (1991). The Sientist's Handbook for Writing Papers and Dissertations. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall. Wolcott, H.T. (1994). Transforming Qualitative Data: Description, Analysis, and interpretation. Thousand Oaks. CA: Sage. Wolcott, H.T. (1999). Ethnography: A way of Seeing. Walnut Creek, CA: AltaMira. Wolcott, H.T. (2001). Writing up Qualitative Research (2nd ed.). Thousand Oaks. CA: Sage. Yin, R.K. (2003). Case study research: Design and Methods (2nd ed.). Thousand Oaks, CA:
313

Sage.
Ziller, R.C. (1990). Photographing the self: Methods for Observing Personal Orientations. Newbury Park. CA: Sage. Zinsser, W. (1983). Writing with a Word Processor. York: Harper Colophon.

314

Indeks
Adorno, 13 Analisis data, 301 analysis of covariance (ANCOVA),249 antropologi, 80 B Beisel, N., 148 Berg, E.L., 136 Berger, P.L., 11 between-subject design, 238 Biklen, S.K., 266, 279 Bjorklund, S.A., 150 Blalock, H., 82 Bogdan, R.C., 266, 279 Boice,R., 119 Borg, W.R., 248 Burbules, N.C., 9,10 C Cabrera, A.F., 150 Campbell, D.T., 21, 307 Caracelli, V.J., 101 Carrol, D.L., 120 Cherryholmes C.H., 15 Clandinin, D.J., 19 Clark, Piano, 101, 308, 313 clustering, 218 clustering sampling, 218 Colbeck, C.L., 150 Collin, 80 Comte, 9 concurrent mixed methods, 23 Connelly, F.M., 19 construct validity, 222 contmt validity, Til Cooper, H., 44 CorbinJ., 19 corroboration, 320 Creswell, J.W., 101, 206, 263, 308, 313 Crotty, M., 11, 12 Crutchfiled, J.P., 89 culture-sharing, 93
315

D dependent variables, 77 Dewey, John, 15 Dillard, Annie, 121 Dillman, D.A., 224 diskonfirmasi, 320 Duncan, O.D., 82 Durkheim, Emile, 9 E Elbow, Peter, 118 empowerment approach, 101 etnografi, 20,93; kritis, 98 experimental design, 249 F factorial design, 250 Fay, B., 13 Fenomenologi, 20 Finders, M.J., 195 Fink, A., 217 Firestone, 63 Fisk, 21 Fiske,D.,307 Franklin, 118, 125 Freire, Paulo, 13 G Gall, M.D., 248 generalisasi: kualitatif, 289 naturaiistik, 97 proporsional, 97 Gibbs, G.R., 285 Goffman, 80 Gravetter, F.J., 227 Greene, J.C., 101 grounded theory, 19, 20, 42, 97, 98, 193

Guba,E.G.,ll,97 Gutmann, 101 H Habermas, Jurgen, 13 Hagedorn, R., 79 Hanson, 101 Hay, I., 138 Heron, J., 13 ----- . __ . Hesse-Biber, S.N., 131 hipotesis, 78,197; alternatif, 198; nol, 198 Homans, 81 Hopkins, T.K., 81 Huberman, A.M., 192, 286 I independent variables, 77 inferential statistical test, 249 integratif, 44 Interval confidence, 250 Isreal, M., 138 J James, 15 Jancvec, 55 Jungnickel, P.W., 84 K Kalof, L., 178 kelompok: eksperimen, 134 kontrol, 134 Kemmis, S., 13,14 Kerlinger, E.N., 78 Kushman, J.W., 332, 333 L Labovitz, S., 79 Lather, 98 Lather, P., 98 Lauterbach, S.S., 171 Leavy, P., 131 legitimasi, 330 Lenski, 80 level: makro, 80 meso, 80
316

mikro, 80 Lincoln, Y.S., 11, 97 lintas-validasi, 320 Locke, L.F., 9,166 Luekmann, T., 11 M Mannheim, Karl, 11 Marcuse, 13 Marshall, C, 157 Marx, Karl, 13 Maxwell, J.A., 110, 138 McCracken, G. 169 Mead, 15 means, 249 member checking, 330 Mertens, D.M., 101,102,312 Metafora pelangi, 79 metode: campuran, 149, 307 kombinasi, 22 konvergens, 22 primer, 322 saintifik, 8, 9 sekunder, 322 terintegrasi, 22 metodologi: penelitian, 17 metodologis, 44 Miles, M.B., 192, 286 Mill, 9 model: defisiensi, 145, 159 defisiensi pendahuluan, 150 Morgan, D., 15,317 Morse J.M., 147, 313, 317, 322 Moustakas, C, 19,193, 275 multi-metode, 22 multilevel design, 323 multimethods, 21 multiple approaches, 21 multivariate analysis of variance (MANOVA), 249 Murphy, J.P., 15 N Naratif, 21

Neuman, W.L., 11, 80, 97 Newton, 9 nonparametric statistical test, 250 O observasi, 327; kualitatif, 267 P Parente, J.M., 150 participatory action research, 101 pattern theory, 97 Patton, M.QV 15 Peirce, Sanders, 15 pendekatan: deduktif, 86 penelitian, 17 penelitian: korelasional, 18 kualitatif, 4, 28 kuantitatif, 5, 27 metode campuran, 5, 28 positivis/post-positivis, 8 penelitian sains, 8 Perspektif feminis, 94 teori kritis, 94 Phillips, D.0,9,10 populasi, 218, 220 Pragmatisme, 15 pre-experimental design, 238 predictive validity, 222 probabilistic sample, 220 Prose, Francine, 116 Q quasi-eksperimen (quasi-experi-ment), 18,232, 238 R Rallis, S.F., 95,274 . rancangan transformatif, 101 random assignment, 19, 216 random numbers table, 221 random sampling, 220, 232, 327 range, 249
317

Reason, 13 regresi, 335;,logistik, 335 Rorty, R., 15 Rosenthal, R., 236 Rosnow, R.L., 236 Ross-Larson, B., 125 ' Rossman, G., 95, 274 Rossman, G.B., 157 S Salant, P., 224 sampel, 218 sample size formula, 221 sampling, 218, 327 Schwandt, T.A., 11 sequential mixed methods, 22 single-subject r 18 single-subject design, 238, 250 sosiologi, 80 Spradley, J.P., 192 Stake, R.E., 19, 97 standard deviation, 249 Stanley, J., 239 starting point, 97 Steinbeck, John, 120 Strategi: eksploratoris sekuensial, 317 embedded konkuren, 321 transformatif konkuren, 324 transformatif sekuensial,318 triangulasi konkuren, 320 Studi kasus, 20 systematic sample, 220 T t-test, 249, 335 Tarshis, B., 122 Tashakkori, A., 15, 206, 313, 323 Teddlie, C, 15, 327,313, 323 theoretical rationale, 79 Teori queer, 94 Terenzini, P.T., 150 Tesch, R., 263 Thomas, J., 148

transformative mixed methods, 23 triangulasi, 324 triangulasi of data resourcers, 22 triangulate, 286 true experiment, 232, 238 U univariate analysis of variance (ANOVA), 249 V validitas, 222, 286; konstruk, 247 Variabel, 76; bebas, 87, 178; confounding, 78; control, 78; intervening, 77; moderating, 77; terikat, 87, 178 W

Wacana rasial, 94 Wallnau, L.B., 227 wawancara, 327; kualitatif, 267; mendalam, 25 Wilkinson M., 13,14, 38, 63,123, 145, 166 Wolcott, 125, 284 Wolcott, H.T., 19, 125, 263 Y Yin, R.K., 285, 289 Yu, R, 327 Z Zinsser, W., 117, 118, 123

318