P. 1
Protap Penyakit

Protap Penyakit

|Views: 983|Likes:
Dipublikasikan oleh Acha Kitta

More info:

Published by: Acha Kitta on Apr 04, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

pdf

text

original

CARDIOPULMONOLOGI

ABSES PARU Nekrosis jaringan paru yang berisi pus karena penyumbatan bronkus. DIAGNOSIS Keluhan pokok :
• • • • Terdapat riwayat aspirasi. Demam 1-3 mgg disertai menggigil. Batuk produktif, barbau busuk, purulent, kuning kehijauan atau hemoptisis masif. Dyspnu, nyeri dada, malese, berat badan merosot.

Tanda penting : • Higiene mulut buruk. • Tampak sianosis. • Clubbing finger/toes. • Redup pada daerah abses. • Tanda lain seperti pneumoni. • Takikardi, takipnu. Pemeriksaan khusus : • Diagnosis dg foto dada, tampak air fluid level. • CT scan, bronkoskopi. • Aspirasi jarum transtoracal. KOMPLIKASI • Hemoptisis • Pneumothoraks atau pyopneumothoraks. • Metastasis abses. • Kerusakan paru permanen. PENATALAKSANAAN • Istirahat postural drainage (posisinya sedemikian rupa sehingga letak abses lebih tinggi dari saluran napas sehingga pus dapat mengalir keluar. • Drainase dapat juga dilakukan dg bronkoskopi untuk menyedot sekresi bronkus yg kental. Disamping itu juga menepuk-nepuk bagian yg kena abses. • Obat pertama : antibiotik yg sesuai, Ampicilin 1-2 juta unit/4-6 jam, Klindamisin 600 mg iv/8 jam, kemudian lanjut peroral. • Obat alternatif : dapat juga diberi bronkodilator. • Operasi untuk abses besar, bila abses terletak sebelah distal dari carcinoma bronkus atau corpus alienum dilakukan lobektomi.

PROGNOSIS Dengan antimikroba yg sesuai prognosis baik.

Infark myocard akut. PENATALAKSANAAN • Menghindari / mengatasi faktor resiko : diet, rokok, DM,hipertensi, dll. • Waktu serangan : Nitrogliserin sublingual 0,3 - 0,6 mg. • Pencegahan serangan : Isosorbid / dinitrat, salep nitrogliserin, penghambat betaadrenergik, antagonis kalsium dianjurkan diltiazem atau verapamil. ASMA BRONCHIALE Penyempitan jalan napas yang reversibel dalam waktu singkat oleh karena mukus kental, spasme dan edema mukosa serta deskuamasi epitel bronkus / bronkiolus, akibat inflamasi eosinofilik dg kepekaan berlebihan. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sesak napas, batuk. • Dada terasa terikat yang datang secara tiba-tiba, terutama oleh suatu fc pencetus (trigger). • Diluar serangan keluhan hilang. • Ada riwayat alergi dalam keluarga. Tanda penting : • Otot-otot pernapasan membesar. • Terdengar mengik, ekspirasi memanjang. • Udara pernapasan menurun. Pemeriksaan laboratorium : Dalam spiral ditemukan : • Spiral Churschman (cetakan mukus dalam saluran napas kecil). • Kristal Charcot Leyden (kristal romboid memanjang berasal dari sitoplasma eosinofil). Pemeriksaan khusus : • Spirometer, pemantauan arus puncak ekspirasi. • Tes nebulasi B-2 agonis. • Tes provokasi bronkus, tes tusuk kulit, kadar Ig E. KOMPLIKASI • Kelelahan, dehidrasi, infeksi jalan napas. • Cor pulmonale, gagal napas. • PPOK, pneumothoraks (jarang). PENATALAKSANAAN

ANGINA PECTORIS
Merupakan rasa nyeri / tidak enak didaerah jantung atau substernal (chest discomfort), terutama dipacu oleh kegiatan jasmani atau stres, akan mereda bila istirahat atau makan nitrat sublingual. Dapat pula menjalar sampai ke leher dan lengan kiri. Secara klinis dibagi mjd : • Exertional angina : terjadi setelah kegiatan jasmani. • Variable threshold angina : terjadi bila ada pergerakan pembuluh darah (vasomotion), dapat muncul sewaktu istirahat. • Prinzmetal (variant) angina : hanya muncul waktu isirahat, terutama pagi / subuh hari. • Unstable angina : awitan baru atau bila nyeri meningkat walaupun kegiatan jasmani sangat minim bahkan waktu iistirahat, berlangsung lama dan respons kurang terhadap pengobatan. DASAR KELAINAN Penyempitan pembuluh darah A. coronaria (iskemik myocard). DIAGNOSIS Keluhan pokok : Nyeri precardial selama 15-20 menit, sesak napas, capek dan keringat dingin. Tanda penting : Umumnya normal kecuali tanda dari faktor resiko. Pemeriksaan laboratorium : • CPK / CKMB. • LDH. • SGOT masih normal (beda dengan infark myocard). Pemeriksaan khusus : Pemeriksaan EKG : • Umumnya normal. • Ada tanda-tanda iskemik myocard pd saat serangan. • Atau elevasi segmen ST. KOMPLIKASI

• Istirahat, hindari alergen. • Oksigen 1-3 l/mnt melalui kanula hidung. Penderita rawat jalan (outpatients) : • Bronkodilator, simpatomimetik (salbutamol / albuterol /ventolin, metaproterenol / alupent, epinefrin / adrenalin), antikolinergik (ipratropium bromide / atrovent), Teofilin (teofilin, aminophylin). • Kortikosteroid : prednison / metil prednisolon, hydrocortison sodium succinat, budesonide inhalasi. • Antimediator : sodium kromolin (intal), sodium nedokromil 4-10 > kuat kromolin, antileukotrin. • Antimikroba. • Ekspektoran tanpa antihistamin. Penderita rawat inap (inpatients) : • Nebulasi ß2 agonis (metoproterenol 0,3 ml larutan 5%, albuterol 0,5 ml lart 5%). Bila 30 menit belum memberi respons, dosis yang sama diulangi. • Inhalasi kromolin 4x2 semprotan/hr. • Inhalasi ipatropium bromide (atrovent) 2-4 semprotan/6 jam. • Aminofilin IV, di USA tdk digunakan lagi. • Bila sulit menggunakan inhalasi dapat diberikan terbutalin subkutan sampai 3 dosis, @ 0,25 mg setiap 60-90 mnt. • Kortikosteroid IV diberikan dalam keadaan gawat. Dosis hidrocortison 4 mg/kgbb, metilprednisolon 1-2 mg/kgbb setiap 6 jam. PROGNOSIS • Umumnya baik. • Asma ekstrinsik semasa kecil prognosis lebih dibanding yang muncul setelah dewasa. Angka kematian meningkat bila tanpa fasilitas kesehatan

• •

Bila penyebabnya bakteri, sputumnya akan spt nanah. Ronki kering.

KOMPLIKASI • Bronkopneumoni, pneumoni, pleuritis. • Penyakit lain akan diperberat seperti jantung, penyakit jantung rematik, hipertensi, bronkiektasis. PENATALAKSANAAN • Istirahat dan bebas rokok. • Jika etiologinya virus diberi obat simptomatis dan bakteri diberikan antibiotik spt ampicilin, erythromicin, spiramicin, 3 x 500 mg/hr. PROGNOSIS Baik. BRONKITIS KRONIS Hipersekresi mukus bronkus dan penyumbatan jalan napas. DIAGNOSIS Keluhan pokok : Batuk lama. Tanda penting : Kalau lanjut terdengar ronki kering atau basah. Ada beberapa bentuk yaitu : • Pink Puffing (PP) = tipe A = tipe empisema : tampak merah muda, orangnya sangat kurus, batuk, kor pulmonale, sesak napas. • Blue Bloating Bronchitis (BB) = tipe B = tipe bronkitis : tampak sianosis, orangnya gemuk, batuk, kelemahan jantung, umumnya tidak sesak. • Bronkitis Asmatika. • Bronkitis kronis sederhana : batuk lama dengan sputum mukoid (lendir). Pemeriksaan khusus : Foto dada : • Sekitar 50% memberi gambaran normal. • Tubular shadows tram lines : bayangan garis paralel dari hilus ke apeks paru. • Corakan paru bertambah. KOMPLIKASI Gagal napas, kor pulmonale, emfisema, polisitemi.

baik

BRONKITIS AKUT Peradangan mendadak dari trakeobronkial oleh virus, bakteri, jamur atau karena bahan-bahan kimia. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Gatal-gatal dikerongkongan. • Sakit dibawah sternum. • Batuk kering / batuk berdahak. • Sering merasa panas atau linu. Tanda penting :

PENATALAKSANAAN Tujuan untuk mengatasi hipersekresi bronkus, sumbatan jalan napas, infeksi bronkus, kor pulmonale, gagal napas. • Istirahat, stop rokok. • Ekspektoran bila batuk berdahak, antitusif bila batuk kering. • Bronkodilator. • Sesak beri O2. • Bila ada infeksi (sputum mukopurulen) diberi antimikroba. • Kalau terjadi cor pulmonale diberi digoksin. PROGNOSIS Sering kambuh. BRONKIEKTASIS Terjadi pelebaran abnormal dan menetap dari bronkus akibat kerusakan komponen elastis dan muskulernya. Bronkiektasis kongenital (trias Kartagener) : Bronkiektasis, Dekstrokardi, SInusitis. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Batuk produktif berupa darah / nanah, berjumlah banyak terutama jam 2 sampai 3 dinihari dan disebut Maulvolle Expectoration. • Sering disertai : panas, anoreksi, anemi, malese, palpitasi, gelisah, hemoptisis. Tanda penting : • Sputum dan napas berbau tidak enak. • Ronki basah sedang sampai kasar didaerah yg terkena. • Kadang-kadang didengar ronki kering dan bunyi mengik. • Jantung dan trakea tertarik ke tempat yg terkena. • Jari tabuh. Pemeriksaan laboratorium : Sputum ditampung dalam gelas, bila didiamkan akan membentuk 3 lapisan : • Buih. • Jernih : lendir. • Keruh : nanah dan darah. Pemeriksaan khusus : Foto dada : Honeycomb appearance (gambaran sarang tawon). KOMPLIKASI Hemoptisis, bronkitis akut / pneumoni, abses paru, emboli paru, kor pulmonale, pneumothoraks, emfisema.

PENATALAKSANAAN • Istirahat stop rokok. • Pemilihan antibiotik berdasarkan pemeriksaan sputum dan bakteri, sementara menunggu hasil pemeriksaan sputum diberikan juga antibiotik spektrum luas (doksisiklin), antibiotika distop bila sputum kurang atau tidak purulent lagi. • Bronkodilator. • Operasi dilakukan bila pengobatan selama 2 tahun kurang menunjukkan perbaikan, timbul hemoptisis yg masif. PROGNOSIS • Sulit sembuh sempurna. Tergantung pada : banyaknya kerusakan, sputum yang purulen, adanya komplikasi EDEMA PARU Tertimbunnya cairan dalam jaringan interstitiel paru dan alveoli akibat peningkatan tekanan hydrostatik ataupun permeabilitas kapiler paru. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sesak napas tiba-tiba, biasanya nocturnal, ortopneu. • Keringat dingin, batuk produktif (kemerahan). • Hemoptisis, lemah. Tanda penting : • Sianosis, DVS meningkat, stupor, koma. • Takipneu, takikardi. • Mengik (wheezing), ronki basah kedua basal paru. Pemeriksaan laboratorium : • Analisa gas darah dan elektrolit. Foto dada : Tanda bendungan paru : • Garis Kerley A : garis-garis memanjang dari hilus ke arah perifer. • Garis Kerley B : garis-garis sejajar dari perifer. • Garis Kerley C : garis-garis yang mirip sarang laba-laba pada bagian tengah paru, hilus berkabut (batas hilus tidak jelas). PENATALAKSANAAN • Istirahat posisi setengah duduk, oksygen 40-50% 8 ltr/mnt. • Diet rendah garam.

Obat pertama : • Nitrogliserin sublingual/iv : 0,3-0,5 mg/kgbb atau nitroprosit : 15 mikrogram per menit sampai ada perbaikan atau hipotensi. Ditingkatkan tiap 5 menit, maksimal 400 mcg/mnt. • Morfin Sulfat 3-5 mg iv/15 mnt, total 15 mg. • Furosemid 40-80 mg iv, dosis dinaikkan setelah 4 jam, dilanjutkan dengan drips sampai produksi urine cukup 1 ml/kg/jam. Obat alternatif : • Vasodilator. • Inotropik PROGNOSIS Tergantung penyakit dasar dan penanggulangan. EFUSI PLEURA (PLEURITIS EXUDATIVA) Tertimbunnya cairan dalam cavum pleura DIAGNOSIS Keluhan pokok : Dari asimptomatis sampai sesak napas berupa : • Nyeri dada, sesak napas. • Batuk-batuk, panas. • Lebih senang tidur / baring kearah satu sisi (sisi yg berisi cairan). Keluhan tsb tgtg dari jumlah dan jenis cairan, kalau banyak atau purulen keluhan lebih berat. Tanda penting : Pada sisi yg sakit : • Dinding dada lebih cembung dan gerakan tertinggal. • Vocal fremitus melemah. • Pekak, batasnya merupakan garis lengkung dari medial bawah ke lateral atas disebut garis Ellis Damoiseau. • Bunyi pernapasan menurun atau menghilang pada sisi yg sakit. • Mediastinum terdorong ke sisi yg sehat, dpt dilihat / diraba pd trakea. • Iktus cordis berpindah ke sisi yg sehat. Pemeriksaan laboratorium : • Foto dada atau punksi pleura.

• • •

Obat pertama : Tuberkulostatika (umumnya EF mrp komplikasi TB), antibiotika bila ada infeksi. Obat alternatif : terapi simptomatis, prednison, bila cairannya cukup banyak dan disebabkan oleh tb paru, enzym proteolitik, roborantia. Punksi pleura (torakosentesis) kalau cairan masif, jangan lebih dari 1000-1500 cc tiap kali punksi, jika ada empyema dipasang WSD.

PROGNOSIS • Tergantung pada penyakit dasarnya. • Prognosis buruk pd efusi pleura berat terutama pH atau kadar gula cairan rendah. •

EMFISEMA

Pelebaran dan destruksi sinus alveoli, sehingga udara masuk jaringan interstitiel paru. DIAGNOSIS Keluhan pokok : Trias emfisema : batuk-batuk, sputum banyak, sesak napas. Tanda penting : Inspeksi • Dada berbentuk tong (barrel chest). • Sela iga melebar. Perkusi • Sonor, hipersonor. • Pekak absolut jantung mengecil. Auskutasi • Ronki bila disertai bronkitis. • Bunyi pernapasan melemah. Pemeriksaan laboratorium : • Kapasitas paru total meningkat. • FEV1 menurun. Foto dada : • Mungkin terlihat bulla. • Hiperiflasi, pembuluh darah kurang. • Diafragma turun atau mendatar. Pemeriksaan khusus : CT Scan toraks. KOMPLIKASI • Bulla pecah, sehingga terjadi pneumothoraks. • Gagal napas.

PENATALAKSANAAN

Kor pulmonale.

PENATALAKSANAAN • Istirahat stop rokok. • Bronkodilator : Teofilin 10-15 mg/kgbb peroral, Beta 2 Agonis peroral atau nebulizer • Corticosteroid, ekspektoran, mukolitik, kurangi sekresi mukus. PROGNOSIS Pada usia muda prognosis lebih buruk, pada usia lebih tua prognosis lebih baik.

PENATALAKSANAAN • Penicilin G dosis tinggi 6-12 juta unit/hr. • Ampicilin / Amoksisilin 3-4x(500-1000) mg/hr. • Erythromicin 3-4x500 mg/hr. • Sefalosforin dosis sesuai jenis preparat. • Kotrimoxazole 2x(1-2) tablet. PROGNOSIS Prognosis dipengaruhi oleh : • Umur • Bnayaknya lobus yg terkena. • Renjatan septik. • Gagal napas. • Mulainya terapi antibiotik, sebelum masa antibiotik mortalitas 33%, sesudah ada antibiotik menjadi 5%. • Gagal jantung, gagal ginjal. • PNEUMOTHORAKS Adanya udara dalam cavum pleura. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Ada riwayat aktivitas. • Sakit dada, sesak napas, keringat dingin, batuk kering. Tanda penting : • Iktus cordis terdorong ke arah paru yg sehat. • Trakea terdorong ke arah paru yg sehat. • Pada sisi yg sakit : pergerakan hemithoraks terbatas, sela iga (ICS) cembung, vocal fremitus melemah, pada perkusi terdengar bunyi hipersonor atau timpani pada sisi yg sakit, bunyi pernapasan melemah, diafragma terdorong ke bawah. Pemeriksaan laboratorium : • Foto dada : tampak hitam homogen. KOMPLIKASI • Gagal napas akut. • Mati mendadak, tapi jarang. • Pneumomediastinum dan emfisema subkutis. Bila hal ini terjadi mesti hati-hati adanya ruptur bronkus dan esofagus. PENATALAKSANAAN

PNEUMONIA
Kerusakan jaringan parenkim paru oleh infeksi. DIAGNOSIS Keluhan pokok : Demam menggigil, batuk dg sputum purulen, sakit dada, berat badan menurun. Tanda penting : • Takikardi, pernapasan cepat / alanasi. • Herpes labialis. • Bunyi krepitasi, bunyi gesekan pleura. • Bunyi pernapasan bronkial dan whispering pectoriloquy. • Vocal fremitus mengeras pada sisi sakit. Pekak relatif pada sisi sakit. Pemeriksaan laboratorium : • Darah : lekositosis. • Sputum : kuman penyebabnya (sulit dipercaya sebab banyak kontaminasi). • Foto dada tampak infiltrat KOMPLIKASI • Efusi pleura, empyema toracis, abses paru. • Atelektasis (kolaps paru). • Gagal pernapasan. • Kor pulmonale. • Septikemi / sepsis. • Herpes labialis. • Thromboemboli Karena pengaruh antibiotik sudah jarang terjadi komplikasi.

Pneumothoraks tertutup yang berat. • Istirahat di RS. • Obat simptomatis, laksansia. Tindakan khusus : ♦ Pneumothoraks terbuka : • Pengisapan udara terus menerus dg alat pnu. • Melekatkan kedua pleura dg penyuntikan larutan glukose 40-50%, 40-50 cc atau bedak talk yang steril ke dalam cavum pleura. ♦ Pneumothoraks ventil : • Dipasang WSD. Bia fistel sudah tertutup diisap dg pompa / alat pnu. • Bila pasien berada di luar RS, tusukkan jarum yg besar. Tindakan operasi (thoracotomi) dilakukan bila : • Pneumothoraks kambuh. • Pneumothoraks satu sisi, sisi lain sudah pernah pneumothoraks spontan. • Paru tidak mau mengembang setelah 5-7 hari. • Gagal dg WSD. • Hemopneumothoraks yg masif. PROGNOSIS Tergantung dari : • Jenis pneumothoraks : ventil (sangat berbahaya), terbuka, tertutup (bila tidak berat, mungkin sedikit keluhan). • Besarnya fistel. • Cepatnya tindakan. • Pneumothoraks dupleks umumnya fatal. Setengahnya kambuh setelah torakostomi, jarang pada post operatif, bila terapi berhasil tidak ada komplikasi. • PENYAKIT PARU OBTRUKTIF KRONIK (PPOK) CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE (COPD). Termasuk PPOM adalah : • Bronkitis kronis. • Bronkitis kronis obstuktif. • Emfisema. Kelainan patologis pada jar. paru yg mengakibatkan batuk, produksi sputum meningkat, aliran udara pernapasan terhambat dan gangguan pertukaran gas yang selanjutnya mengakibatkan hipoksemi, hipertensi pulmonal sampai kor pulmonale. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Perokok, batuk kronis, berdahak, sesak napas.

Tanda penting : • Ronki kering / basah, suara pernapasan melemah, waktu ekspirasi memanjang, udara pernapasan kurang. Pemeriksaan laboratorium : • Foto dada KOMPLIKASI • Bronkitis akut, pneumoni, emboli paru, korpulmonale, pneumothoraks, hemoptisis. PENATALAKSANAAN • Istirahat stop rokok, fisioterapi dada. • Bronkodilator : Teofilin. • Antikolinergik : Ipratropium bromida (atrovent). • Beta 2 agonist : Albuterol, Bitolterol, Isopreterenol, Terbutalin. • Antimikroba : Amoksisilin 3x(0,5-1) gr/hr, Cotrimoxazole (Bactrim, Spectrem, Septrim), 7-10 hr. • Mukolitik. • Kortikosteroid pada keadaan eksaserbasi akut. PROGNOSIS • Prognosis buruk. • Bila FEV1 1,4 ltr dpt hidup selama 10 th, semakin kecil FEV1, masa hidup semakin pendek. • Lebih buruk bila disertai kor pulmonale. • Bentuk bronkitis kronis asmatika lebih baik dari pada bentuk emfisematous.

ENDOKRINOLOGI
ADDISON DISEASE Hipofungsi glandula Cushing). suprarenalis (kebalikan dari penyakit

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Malese, fungsi seksual menurun. • Pusing postural. • Anoreksia, mual, konstipasi. • Amenore. Tanda penting : • Kelemahan otot, hypotensi. • Hiperpigmentasi : mukosa, areola mammae, lipatan-lipatan kulit, daerah yang sering tertekan. • Vitiligo, dehidrasi, hipoglikemi.

Pemeriksaan laboratorium : • Kortisol serum rendah. • ACTH tinggi. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Hidrocortison 20 mg pagi, 10 mg sore. PROGNOSIS Kaheksi. CUSHING SYNDROME Akibat peningkatan hormon glukokorticoid / cortisol. Bila penyebabnya akibat adenoma hipofisis, sekresi ACTH meningkat disebut Penyakit Cushing. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Kelemahan otot, mudah memar, luka lambat sembuh. • Oligo / amenore. • Sakit kepala / pinggang, poliuri, kehausan. Tanda penting : • Obesitas sentral, moon face. • Kulit tipis, sehingga pembuluh darah tampak. • Striae keunguan terutama pada paha bagian atas. • Abdomen membengkak karena otot atropi dan sangat lemah. Pemeriksaan laboratorium : • Gangguan toleransi glukosa, lekositosis, limfopeni, ACTH rendah. Pemeriksaan khusus : • MRI hipofiise. KOMPLIKASI • Hipertensi. • Mudah kena infeksi. • Osteoporosis. • Syndrom Nelson (hiperpigmentasi). PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Obat pertama : obat menghambat kortisol : Metirapon, Aminoglutetimid. • Obat alternatif : Azatioprin.

Operasi tumor hypofisis (penyakit Cushing) dan adrenal (syndrom Cushing).

PROGNOSIS Tergantung penyebabnya, tanpa terapi dapat sembuh, dengan operasi prognosis lebih baik. DIABETES INSIPIDUS Kekurangan hormon ADH (DI Sentral) atau ginjal tidak berespons terhadap ADH (DI Nefrogenik). DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Poliuri (2-40 ltr/hr) dan polidipsi tiba-tiba. • Penderita tahu tanggal bahkan jam terjadinya peristiwa tersebut. • Berat badan merosot, rasa haus yang hebat. Tanda penting : • Dehidrasi, hipotensi orthostatik, lethargi. Pemeriksaan laboratorium : • BJ urine rendah. • Hipernatremi. KOMPLIKASI • Dehidrasi berat, hipernatremi. • Intoksikasi air akibat terapi anti diuretik. • Dilatasi ureter dan buli-buli. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Terapi penyakit dasarnya . Bila tidak berhasil, terapi dg : obat pertama : DI Sentral : Desmopresin 2 x (10-20) µg intranasal. • Obat alternatif : HCT / Tiazid 50-100 mg/hr. PROGNOSIS Umumnya baik, tergantung pada jenis dan penyakit dasarnya. DIABETES MELLITUS Kekurangan atau resistensi insulin. DIAGNOSIS Keluhan pokok :

Pada tahap awal ditemukan tiga poli (3p atau 3 banyak) yaitu poliuria (banyak kencing), polidipsi (banyak minum), polifagi (banyak makan). • Lemah, berat badan merosot. • Fluor albus / keputihan. • Pada tahap lanjut ditemukan rasa kesemutan, kulit rasa panas, impotensi, gatal-gatal, visus menurun, sering bisul atau luka yang tidak mau sembuh, gigi mudah goyah, keguguran, anak lahir besar. Tanda penting : • Umumnya sulit ditemukan pada tahap awal. Kelainan lanjut : tanda garukan dikulit, katarak, bisul-bisul, TB paru. Pemeriksaan laboratorium : • GDP sama / lebih 126 mgr%, gula darah 2 jam post prandial lebih >200 mgr%. • Reduksi urine positif. KOMPLIKASI • Koma diabetik, neuropati, retinopati, nefropati. • Proteinnuria, ulkus / ganggren. • Penyakit jantung koroner, TB paru.
Perbedaan Koma Ketotik dan Nonketotik 1. Hiperglikemia 2. pH darah 3. 4. 5. 6. 7. Keton serum Bikarbonat serum Bau napas Pernapasan Keadaan DM Ketotik >300 mg% <7,3 (asidosis +) + <15 meq/l Keton + Kussmaul + Stres/sepsis umur muda >15 meq/l Keton Kussmaul DM ringan dewasa tua Nonketotik >600 mg% >7,3

(asidosis -)

PENATALAKSANAAN Terapi Umum : • Istirahat, bila ada komplikasi berat. • Diet sesuai dg kebutuhan menurut BB atau gizi penderita : Kurus BB x 40-60 kalori sehari, Normal BB x 30 kalori sehari, Gemuk BB x 20 kalori sehari, Obesitas BB x 10-15 kalori sehari. • Status gizi ditentukan dengan cara menentukan % RBW (Relative Body Weight) yang rumusnya : RBW = Berat Badan x 100% Tinggi (cm) - 100 Kurus : RBW <90% Normal : RBW 90-110%

Gemuk : RBW >110% Obesitas : RBW >120% • Contoh seorg ps DM berat 50 kg, tinggi 150 cm, maka RBW = 50/(150-100) x 100% = 100%, berarti masuk kategori normal, jadi kebutuhan kalori = 50 (berat) x 30 (normal) = 1500 kal. • Medikamentosa, golongan sulfonilurea : Diabenese, Amaryl, Diamicron, Euglucon, Daonil, Glurenorm. Diberikan 15 menit sebelum makan. • Golongan biguanida : Diabex, Metformin, Glucophage. Kedua golongan ini termasuk Obat Hipoglikemik Oral (OHO). • Akarbose (Cepobay) diberikan bersama dengan suap pertama tiap makan. Umumnya 3 x 1 tab/hr. • Repaglinide (Novonorm), diberikan setiap sebelum makan utama. • Insulin (Novo Nordisk) : Insulin larutan kerja pendek (Actrapid). • Insulin suspensi NPH, kerja sedang (Insulatard). • Insulin suspensi Zn, kerja sedang (Monotard). • Insulin campuran, kerja bifasik (Mixtard), diberikan setiap sebelum makan utama. Selalu dimulai dengan dosis rendah (4-8 IU) lalu dinaikkan sampai dosis optimal. • Bila hendak pindah dari insulin kerja cepat ke insulin kerja panjang, dosis insulin kerja panjang dibuat 2/3 dosis total insulin dosis 24 jam. • Indikasi pemberian insulin adalah DM pada keadaan berikut : gagal dg diet atau kombinasi dg OHO, pasien kurus, koma diabetik (ketoasidosis diabetik, hiperosmolar nonketotik, asidosis laktat), ganggren atau infeksi lain, perempuan hamil, pra/pasca operatif, DM tipe I. Terapi Komplikasi : Koma Ketoasidosis Diabetik • Biasanya didahului oleh keluhan berupa poliuria, polidipsi, sangat lemah, nausea vomiting. • Tanda-tanda berupa dehidrasi, stupor, napas bau aseton (khas), pernapasan Kussmaul (cepat dan dalam), terjadi pada keadaan stres atau sepsis. • Tindakan yang perlu dilakukan : segera rawat inap RS, pasang kateter, pasang sonde lambung, atasi dehidrasi dg larutan garam fisiologis, berikan insulin mulai dosis rendah (4 IU), kalau dapat dengan pompa insulin, beri kalium dapat diberi dalam bentuk larutan atau sari buah (tomat, anggur dan pisang), pemantauan gula darah.

Koma Nonketotik Hiperglkemik • Biasanya terjadi perlahan beberapa hari atau minggu, keluhan berupa loyo, poliuria dan polidipsi. • Tanda-tanda berupa dehidrasi, stupor, konvulsi dan koma, tanda pernapasan Kussmaul (cepat dan dalam). • Tindakan yang perlu dilakukan segera rawat inap RS, atasi dehidrasi dg larutan garam fisiologis, beri insulin mulai dosis rendah, kalau dapat dengan pompa insulin IV, pemberian kalium seperti pada komaketoasidosis diabetik, monitor gula darah. • DIABETES MELLITUS GESTATIONAL (DMG) Intoleransi karbohydrat yang terjadi pertama kali diketahui pada saat hamil. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • DM sewaktu hamil, riwayat kehamilan sebelumnya. • Persalinan seksio sesaria, kematian perinatal. • Bayi lahir besar (makrosomi). • Syndrom distress pernapasan. Tanda penting : • Preeklampsi. • Polihidramnion. Pemeriksaan laboratorium : • Test Toleransi Glukosa Oral (TTGO) 75 gram pada orang hamil : puasa >126 mg% atau 2 jam setelah beban (pp 2 jam) >200 mg%. KOMPLIKASI • Pada Ibu : Preeklampsi, polihidramnon, ISK. • Pada bayi : makrosomi, kematian perinatal, hipoglikemi, hipokalsemi, sindrom distress pernapasan. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • DIet diatur sesuai kebutuhan, 60% hidrat arang, 25% protein, 15% lemak. • Insulin dimulai bila dengan diet 2 minggu belum terkendali (GDP >105 mg% atau >120 mg% 2 jam sesudah makan. • Insulin dimulai dengan dosis kecil, yaitu 0,5 sampai 1,5 µ/kgbb, 2/3 pada pagi hari dan 1/3 pada sore hari. GIGANTISME DAN AKROMEGALI

Sekresi hormon pertumbuhan (growth hormone) meningkat abnormal sebelum dewasa (gigantisme) atau sebelum epifisis tertutup (akromegali) DIAGNOSIS Keluhan pokok : Akibat penekanan tumor (makro adenoma) : • Sefalgi. • Gangguan penglihatan : hemianopsi bitemporal, skotoma atau buta. • Kejang-kejang, keluar banyak keringat. • Keluhan-keluhan DM. Tanda penting : Produksi GH meningkat (mikro adenoma). Gangguan pertumbuhan tulang : • Bentuk muka berubah (frontal bossing). • Pertumbuhan gigi tidak rapat (prognatisme) dan maloklusi. • Kiposis, artropati. Akibat pada jaringan lunak : • Penebalan dan pelebaran hidung, lidah, bibir dan telinga. • Pembesaran kaki dan tangan. • Kulit tebal, basah dan berminyak. • Lipatan kulit kasar (skin tag). • Akanthosis nigricans. • Hipertrikosis, telapak kaki menebal (heel pads). • Suara parau (lower pitch). Kelumpuhan N III, IV, V, VI. Pemeriksaan laboratorium : • Glukosa darah meningkat. • Hiperfosfatemi, hiperlipidemi, hiperkalsemi. Pemeriksaan khusus : • Peningkatan growth hormon darah atau SM-C (IGF-1). • Somatostatin meningkat. • CT Scan, MRI. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Bromkriptin (Parlodel) : dosis 2,5 mg sesudah makan malam, dinaikkan 2,5 mg setiap 2-4 hari. • Octreotide (long acting somatostatin analogue), dosis 100200 µg/8 jam, maksimum 1500 µg. • Radiasi. • Pembedahan. • Terapi komplikasi terbaik untuk makro adenom.

PROGNOSIS Tergantung pada : • Lamanya proses berlangsung. • Besarnya tumor. • Tingginya kadar GH preoperatif.

GOITER ENDEMIK Kekurangan diet jodium. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Keluhan pembesaran kelenjar seperti disfagi, gangguan pernapasan. • Kelenjar tiroid membesar selama hamil. Tanda penting : • Pembesaran noduler pada kelenjar tyroid. Pemeriksaan laboratorium : • Umumnya tyroksin serum normal. • TSH normal atau naik sedikit. Pemeriksaan khusus : • Thyroid radioactive Iodine up take biasanya normal. KOMPLIKASI • Bayi bergondok besar sering mempersulit persalinan. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Diet menggunakan garam berjodium. • Yodium untuk pencegahan dalam disesuaikan dengan umur penderita : 0-6 bulan : 0,2-0,4 ml. 6-12 bulan : 0,3-0,6 ml 1-6 tahun : 0,5-1,0 ml 6-45 tahun : 1,0-2,0 ml

Gangguan fungsi seks (libido menurun), ereksi kurang kuat. • Amenore, kelemahan. • Daya tahan terhadap stres menurun. • Kurang subur. • Mual muntah, hipotensi orthostatik. • Sudut mata bergetar halus / ringan. Tanda penting : • Bulu axilla hilang, bulu pubis hilang, tensi menurun. Pemeriksaan laboratorium : • Free Thyroxine (FT4) rendah. • Testosteron darah turun. Pemeriksaan khusus : • Pemindaian CT (Computerized Tomography scan). • Magnetic Resonance Imaging (MRI) KOMPLIKASI • Syok, koma, demam tinggi, virus hilang dg cepat. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Medikamentosa tergantung hormon yang terganggu. Bila ada, insufisiensi adrenal pertama kali diatasi. • Obat pertama : korticosteroid, levothyroxine, growth hormone, hormon seks (androgen, estrogen, gonadotropin : Induksi fertilitas laki-laki 3 x 2000-5000 unit IM/mgg. Induksi fertilitas perempuan 50 mg/hr selama 5 hari setiap 2 bulan. • Obat alternatif : bromkriptin. PROGNOSIS Tergantung penyebab primernya. HIPERLIPIDEMIA Salah satu kelas lipoprotein atau komponen lipid lipoprotein lebih tinggi dari nilai normal. Supaya lemak darah dapat larut, lemak berikatan dengan protein dan disebut lipoprotein. Ada bebarapa lipoprotein : 1. Chilomicron. 2. Very Low Density Lipoprotein (VLDL). 3. Intermediate Density Lipoprotein (IDL). 4. Low Density Lipoprotein (LDL). 5. High Density Lipoprotein (HDL). Hanya HDL yang bernilai positif bila kadarnya lebih tinggi. Ada 3 bentuk hiperlipidemia :

bentuk

minyak

HIPOPITUITARISME Defisiensi multipel hormon hipofisis oleh berbagai sebab (adenom, aneurisma, apopleksi, dll). DIAGNOSIS Keluhan pokok : Tergantung hormon yang terganggu.

1. Hiperkolesterolemi. 2. Hipertrigliserilemi. 3. Campuran (peninggian 1 dan 2). DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Kemungkinan keturunan. • Kadang tanpa keluhan. Tanda penting : • Xanthomatosis Pemeriksaan laboratorium : • Kolesterol (>200 mg%). • Trigliserida (>200 mg%). • HDL (<45 mg%). • LDL (>130 mg%). • Rasio kolesterol total / HDL = harus kurang dari 5. PENATALAKSANAAN • Istirahat, olahraga rutin, juga berfungsi untuk mendapat berat badan normal. • Diet yang dianjurkan : ikan laut, daging muda, daging ayam tanpa kulit, telur (putih telur), minyak (jagung, kacang, wijen, zaitun), susu (skim, keju rendah lemak), kacang-kacangan (kacang, tahu, tempe, wijen, bunga matahari), nasi / roti yang tidak diolah, sayur, buah. • Diet yang tidak dianjurkan : udang, cumi-cumi, daging berlemak, kulit ayam / bebek, jeroan, daging olahan, daging kaleng, semua minyak selain yang dianjurkan, kuning telur, kacang-kacangan kecuali yang dianjurkan, nasi olahan (kebuli, lemak), buah apokat, kelapa, durian. • Obat pengikat asam empedu, Kolestramin 2 x (6 sampai 12 g)/hr, Kolestipol 2 x (5-150 g)/hr. • Obat penghambat enzym HMG Co-A Reduktase (Statin). Simvastatin 5-40 mg/hr, Pravastatin 10-40 mg/hr, Lovastatin 20-80 mg/hr, Fluvastatin 5-40 mg/hr. • Asam fibrat. HIPERPARATHYROIDISME Sekresi parathormon berlebihan. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sering asimptomatis. • Abdominal discomfort, ulkus peptikum. • Poliuria, nyeri tulang-tulang.

• Lemah, BB merosot. Tanda penting : • Kifosis. Pemeriksaan laboratorium : • Hiperkalsemi mengakibatkan hiperkalsiuri. • Hiperfosfaturi mengakibatkan hipofosfatemi. • Alkalifosfatase meninggi. Pemeriksaan khusus : • Foto tulang-tulang : osteitis fibrosa systica generalisata. KOMPLIKASI • Fraktur spontan. • Gagal ginjal. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Operasi kelenjar paratiroid merupakan cara terbaik. PROGNOSIS • Kalau tanpa operasi penyakit berjalan progresif. • Prognosis berhubungan langsung dengan gangguan fungsi ginjal. HIPERPROLAKTINEMI Produksi hormon prolaktin yang berlebihan. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Pada wanita : oligomenore / amenore, galaktorea, infertiitas. • Pada pria : hipogonadisme, libido menurun, ereksi terganggu, infertilitas. Tanda penting : • Ginecomasti. Pemeriksaan laboratorium : • Prolactin serum meningkat. • Gonadotropin (LH dan FSH) menurun. • Osteoporosis. Pemeriksaan khusus : • CT Scan, MRI. PENATALAKSANAAN • Istirahat.

keadaan

• • •

Dopamin agonist : Bromkriptin, mulai dosis kecil 1,25 mg lalu 2,5-20 mg/hr. Obat ini diberikan bertahun-tahun. Pergolide, 154-200 mg/hr. Operasi transfenoidal bagi penderita yang mengalami gangguan visus.

HIPERTHYROIDISME Hiperfungsi glandula tiroidea yang menyebabkan peningkatan hormon tiroksin bebas. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Gelisah, palpitasi, kaget-kaget, mudah tersinggung, mudah gugup, banyak keringat. • Lingkungan selalu terasa panas sehingga menyenangi hawa dingin. • Capek sampai sulit berdiri. • Menstruasi tidak teratur. • Berat badan merosot karena metabolisme meningkat, sering diare, selera makan menurun. Tanda penting : • Struma. • Tekanan nadi (sistolis-diastolis) tinggi, takikardia. • Duduk tidak tenang, jari tangan tremor, kulit halus kebirubiruan dan lembab. • Mata terkesan membelalak. • Kelenjar gondok membesar dan terdengar bising. Pemeriksaan laboratorium : • Free Thyroxine (FT4), T3 dan T4 serum meningkat. Pemeriksaan khusus : • CT Scan atau Ultrasonografi. KOMPLIKASI • Oftalmopati, krisis thyroid (storm). • Atrium fibrilasi, gagal jantung. • Paralisis periodik dan impotensi. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat, diet cukup kalori dan vitamin. • PTU (Propiltiourasil), dosis awal 4 x (75 sampai 150) mg/hr lalu menurun. Selama hamil dosis 200 mg/hr.

Metimazol (Neomercazole), dosis awal 30-60 mg/hr, lalu diturunkan sesuai dengan manifestasi klinik dan kadar tiroksin bebas. • Propranolol, dosis awal 3-4 x 10 mg/hr dan selanjutnya dosis segera dinaikkan sampai ada respon yg adekuat. • Yodium radioaktif (I 131) untuk penderita diatas 25 tahun, tidak dapat diberikan pada wanita hamil. • Diltiazem, dosis 4 x 30 mg (biasanya dibutuhkan 160-360 mg/hr). • Strumektomi (operasi kelenjar thyroid) bila sudah euthyroid. Terapi komplikasi : • Oftalmopati : Prednison kadar tinggi, 40-60 mg/hr lalu diturunkan setelah beberapa minggu. • Krisis thyroid (storm) : terjadi selama / pasca badah atau stres pada tirotoksikosis. Tiourea : PTU 4 x (150-250) atau metimazol 4 x (15-25). Larutan lugol 3 x 10 tts/hr 1 jam kemudian. Propranolol (0,2-2 mg)/4 jam IV atau 20-120 mg/6 jam. Kortikosteroid 4 x 50 mg/hr lalu segera diturunkan. • Dekompensasi kordis diobati seperti biasa. PROGNOSIS Penyakit Graves dapat remisi spontan, (malignant exopthalmus) prognosisnya jelek. eksoftalmus berat

HIPOPARATHYROIDISME Kekurangan parathormon (pascastrumektomi / tiroidektomi), sehingga metabolisme kalsium dan fosfat terganggu. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Mudah kejang-kejang. Tanda penting : • Kejang-kejang (tetani dan konvulsi). Pemeriksaan laboratorium : • Hipokalsemi mengakibatkan hipokalsiuri. • Hipofosfaturi : hiperfosfatemi. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Pemberian kalsium dan vitamin D. PROGNOSIS Buruk bila terapi terlambat.

HIPOTHYROIDISME DAN MIKSEDEMA Kekurangan tyroksin berbagai sebab. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Rasa lemah dan capek, konstipasi. • Tidak tahan hawa dingin, menorrhagi, kurang keringat. • Suara parau. myalgi atau arthralgi. • Berat badan bertambah. Tanda penting : • Kulit kering, bersisik, tebal dan dingin. • Alis gugur. • Lidah tebal dan kotor. • Foetor ex ore. • Bradicardia, bradipnea. • Refleks tendon melemah. Pemeriksaan laboratorium : • Kadar tyroksin rendah. KOMPLIKASI • Umumnya pada jantung : PJK dan gagal jantung kongestif. • Rentan infeksi. • Megakolon. • Psikosis (myxedema madness). • Abortus, koma. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Obat pokok : Levotyroksin 0,1-0,15 mg/hr. • Obat alternatif : Ekstrak thyroid (1-3) x (50-100) mg/hr. • PROGNOSIS Dengan terapi prognosis baik. KRISIS THYROID (THYROTOXIC CRISIS / STORM) Tirotoksikosis berat terjadi dalam waktu singkat oleh berbagai sebab / pencetus (bedah, sepsis, stress atau terapi tirotoksikosis yang tidak adekuat). Hormon tiroksin dalam darah relatif sama dengan tirotoksikosis biasa. Diagnosis Keluhan pokok

Panas tinggi, palpitasi, diare. Ada riwayat hiperthyroid. Atau pada apathetic thyrotoxycosis (gambaran klinik tidak jelas). Tanda penting • Hiperpireksi (suhu >41°C). • Ggn SSP : ensefalopati (gelisah, agitasi, tremor, delirium, stupor, koma, psikosis). • Ggn kardiovaskuler : takikardi, aritmi, gagal jantung kongestif, syok kardiovaskuler, hipotensi. • Ggn gastrointestinal : sakit perut, mual muntah, diare. • Dehidrasi. • Ikterus. • Hepatomegali. • Splenomegali. Pemeriksaan laboratorium • T3 atau T4 bebas. • EKG. • Hiperglikemia tanpa DM. • Lekositosis. • SGOT, LDH, bilirubin meningkat. Pemeriksaan khusus • T3 resin uptake (T3RU).

• • •

GASTROENTEROLOGI
ABSES HATI Rongga yg berisi sel hati nekrotik terutama akibat E. histolitika. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Demam dan menggigil, mual muntah. • Malese, berat badan menurun. • Nyeri spontan / tekan daerah hepar (sela iga atau hipokondrium kanan). • Kadang disertai nyeri pleura. • Penderita cenderung membungkuk atau menahan gerakan hypochondrium kanan. • Ada riwayat diare lendir (atau plus darah) beberapa tahun atau bulan lalu. Tanda penting : • Ikterus, hepatomegali, nyeri tekan, permukaan rata, fluktuasi mungkin ada. • Nyeri tekan pada sela iga kanan bawah.

• Anemis. Pemeriksaan laboratorium : • Lekositosis, LED tinggi. • Anemi ringan sp sedang. • Peningkatan bilirubin, alkali fosfatase, SGOT, SGPT. Pemeriksaan khusus : • USG, MRI, CT scan abdomen. • Tes serologi : Tes IHA (Imuno Hemaaglutination), titer 1:128 dianggap bermakna. KOMPLIKASI • Ruptur abses ke pleura, pericardium, paru, usus, atau kulit. • Metastasis abses ke otak. PENATALAKSANAAN • Istirahat tirah baring, diet TKTP. • Obat pertama : Metronidazole 3-4 x (500-750) mg/hr selama 7-10 hr, antibiotik spektrum luas bila pyogenik. • Obat alternatif : Emetin 1 mg/kgbb selama 7 hari, Klorokin 3 x 250 mg/hr selama 3 minggu, ditambah amubisid usus (Yatren) 3 x 500 mg 7 hari menjelang selesai klorokin. • Operatif drainase pus. PROGNOSIS Dengan terapi Metronidazole prognosis baik, bila ada ruptur abses mortalitas sampai 40-50%. AEROFAGI Usus berisi banyak udara. DIAGNOSIS Keluhan pokok : Sendawa, tegang dan tidak enak pada epigastrium, borborigmi, banyak flatus. PENATALAKSANAAN • Diet hindari permen karet, minuman yg mengandung gas, merokok, apel, kacang-kacangan, pisang, anggur. PROGNOSIS Baik. APPENDICITIS AKUT Peradangan akut pada appendiks.

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri didaerah Mc. Burney / appendix. • Biasanya mulai di epigastrium / umbilikus, demam lalu anoreksia dan muntah-muntah. • Kram pada paha kanan. • Tiap jalan atau batuk terasa nyeri didaerah appendix. Tanda penting : • Nyeri tekan / defence musculare perut kanan bawah. • Terlentang dg fleksi pada paha kanan. • Gerakan dan ekstensi paha kanan menambah rasa nyeri. • Jari tangan sering diletakkan diatas appendix. • Rebound tenderness positif. Pemeriksaan laboratorium : • Lekositosis KOMPLIKASI • Perforasi usus, flebitis, abses subfrenik. PENATALAKSANAAN • Antimikroba spectrum luas. • Appendictomi. PROGNOSIS Makin cepat ditindaki makin baik, relaps dapat tjd pada appendix yang tdk diangkat (tdk ada apendiditis kronik). KOLELITIASIS Bendungan batu dalam kandung empedu, ada 3 macam batu : batu kolesterol, batu kalsium bilirubinat dan batu pigmen hitam. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Kolik bilier didaerah hypochondrium dextra / epigastrium yg dapat menjalar ke abdomen kanan, bahu sampai punggung, biasanya timbul pagi hari atau dini hari, berlangsung 30-60 menit, menetap. Nyeri dapat juga menjalar ke kiri menyerupai angina pectoris. • Demam disertai menggigil. Tanda penting : • Murphy sign dan ikterus. Pemeriksaan laboratorium : • Lekositosis.

• Transaminase serum (SGOT/SGPT) meningkat. • Alkali fosfatase meningkat. • Kolesterol meningkat. Pemeriksaan khusus : CT scan abdomen, kolesistografi, USG abdomen. KOMPLIKASI Kolesistitis, kolangitis, pancreatitis, PENATALAKSANAAN • Istirahat, diet rendah lemak. • Terapi komplikasi antibiotik. PROGNOSIS Pada umumnya baik. CROHN DISEASE Peradangan yg dapat mengenai setiap tempat sal. cerna mulai dari mulut sampai anus. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sakit pada kuadran kanan bawah perut. • Diare atau konstipasi berulang. • Pyelonefritis dan hydronefrosis. • Berat badan merosot. Pemeriksaan laboratorium : • C-reactive protein. Pemeriksaan khusus : • Sigmoidoskopi dan biopsi rectal. • Radiologis : string sign of countour (barium kelihatan seperti benang), cabble stone appearance (tampak sebagai tumpukan batu kerikil). KOMPLIKASI • Obstruksi. • Perforasi. • Perdarahan usus. • Fistula (enterokutaneus, enterovesikuler, enterovaginal). PENATALAKSANAAN • Istirahat, diet makanan lunak, tidak merangsang, tinggi serat dan rendah lemak. Bila ada striktur atau steatorea, diet harus rendah serat.

Prednison 20-40 mg/hr, 1-2 bulan, bila ada kemajuan segera tappering. • Salazopirin (Sulfasalazine). • Metronidazole 3 x 250-500 mg/hr. PROGNOSIS Baik. DIARE AKUT Hilangnya cairan dan elektrolit dari tubuh melalui diare dari beberapa jam sampai 14 hari. DIAGNOSIS Keluhan pokok : Diare, nausea vomiting, sakit perut sampai kejang, kolik, demam, haus. Tanda penting : • Mata cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun. • Suara serak. • Takipnu dan dalam (pernapasan Kussmaul), akibat asidosis metabolik. • Renjatan hipovolemik : takikardi, tensi turun sampai nol, gelisah, akral dingin sampai sianosis, muka pucat. • Aritmia jantung (hipokalemi). • Oligouri sampai anuri. Pemeriksaan laboratorium : • Urine, darah perifer, analisis gas darah, elektrolit, ureum / kreatinin, tinja, kalium turun. KOMPLIKASI • Syok hipovolemik. • Gagal ginjal akut (nekrosis tubular akut). PENATALAKSANAAN • Rehidrasi secepatnya. • Ringan : cukup oralit, jika tdk ada berikan air kelapa. • Berat : infus RL / NaCl isotonik ditambah satu ampu Na Bicarbonat 7,5% 50 ml. • Jumlah cairan sesuai dengan yg keluar. Kehilangan cairan dapat dihitung menurut skor Daldijono atau metode Pierce. Obat pertama : • Tetrasiklin 3x500 mg/hr selama 3-5 hari. • Kloramfenicol 3x500 mg/hr selama 3-5 hr. • Metronidazole 3x500 mg/hr 5-7 hr.

• Diberikan sesuai etiologi. Obat alternatif : • Antimotilitas 3x1 tab/hr, selama 1-2 hr : Difenoksilat (Lomotil), Loperamid (Imodium), Kodein HCl / fosfat. • Antiemetik : Metoklopropamide, Prokloprazin, Domperidon. PROGNOSIS Umumnya baik tergantung, cepatnya penanganan.

Sprue tropik atau seliak : tetrasiklin 3x500 mg, lalu diturunkan 3x250 mg sampai 6 bulan.

DIARE KRONIK Diare akibat ggn mekanik, enzimatis dan mukosa usus lebih dari 3 minggu. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Diare lebih 3x sehari selama lebih dari 3 mgg. • Diare osmotik : feces berbentuk steatore. • Diare sekretorik : feces berbentuk seperti air. • Diare inflamasi : feces berdarah. Tanda penting : • Feces berbentuk lembek atau cair. Pemeriksaan laboratorium : • Feces, darah perifer. Pemeriksaan khusus : • Colon in loop. • Colonoskopi. • USG, CT scan abdomen. • Tes Schilling (untuk defisiensi vitamin B12). KOMPLIKASI • Syok hipovolemik, sepsis, gagal ginjal akut. PENATALAKSANAAN • Rehidrasi dg oralit, RL, Dx 5%, dekstrose dalam salin. • Antispasmodik : Papaverin, Hyosin N-Butylbromida (Buscopan). • Antidiare : Loperamid (Imodium) mulai 4 mg, lalu 2 mg, dosis maksimal 16 mg/hr. Difenoksilat (Lomotil) 4x5 mg (2 tab). Kodein sulfat 15-60 mg/6 jam. • Antibiotik bila ada infeksi.

DYSPEPSI DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Tidak enak pada epigastrium terutama sesudah makan. • Nausea, vomitus, regurgitasi. • Water brash (rasa asin di mulut). • Pirosis (heart burn). • Nyeri epigastrium terlokalisasi. • Kembung / meteorismus. • Flatulensi, cepat kenyang. • Intoleransi terhadap makanan tertentu. Pemeriksaan khusus : • Endoskopi, setengahnya normal. • USG. PENATALAKSANAAN • Antasida. • Antagonis reseptor H2 : Cimetidin, Ranitidin, Famotidin, Roksatidin, Nizatidin. • Proton Pump Inhibitor (Omeprazole). • Prokinetik : Metoklopramide, Domperidon, Cisapride. • Antikolinergik. • Psikoterapi. ESOFAGITIS Erosi mukosa esofagus, umumnya akibat refluks asam lambung. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Disfagia, nyeri retrosternal, pirosis (heart burn). • Ructus (sendawa). • Regurgitasi (isi lambung masuk mulut). Tanda penting : • Pucat, hematemesis. • Krepitasi pada basal paru. Pemeriksaan khusus : Esofagoskopi. PENATALAKSANAAN • Istirahat tempat tidur bagian kepala ditinggikan 60 cm (bukan dg bantal).

• • • •

Tidak merokok. Diet : sering makan dg porsi kecil, tidak makan 2-3 jam sebelum tidur. Obat pertama : Antasida. Obat alternatif : Metoklopramide, Cimetidin, Omeprazole, Sukralfat.

GASTRITIS AKUT Erosi mukosa gaster, eksudat purulent. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Mual muntah. • Nyeri epigastrium yg timbul tidak lama setelah makan atau minum unsur-unsur yang merangsang (alkohol, salisilat, makanan tercemar toksin stafilokokus). Tanda penting : • Pucat, lemah, keringat, takikardi. Pemeriksaan laboratorium : • Histologis : PMN dan eritrosit mukosa gaster. Pemeriksaan khusus : Gastroskopi. PENATALAKSANAAN • Istirahat, diet makanan halus atau encer yang seringkali diberikan dalam jumlah kecil, cukup cairan. • Antibiotik. PROGNOSIS Sembuh dalam 1-2 hari. GASTRITIS AKUT EROSIF Erosi mukosa gaster. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Baru minum bahan yang erosif : alkohol, NSAID, salisilat. • Refluks usus lambung. • Sebelumnya mengalami penyakit berat. • Nyeri epigastrium, anoreksi. • Nausea, vomiting. • Hematemesis warna coffee ground (tanah merah). • Melena. Tanda penting : • Muntah darah (hematemesis).

• Nyeri tekan epigastrium. • Colok dubur ada darah. • Tampak lemah dan pucat. Pemeriksaan khusus : • Endoskopi : mukosa hiperemis, bintik-bintik perdarahan tersebar. • Patologis : inflamasi, erosi, hemoragis. KOMPLIKASI • Perdarahan saluran cerna. • Ulkus. PENATALAKSANAAN • Istirahat kalau penderita baru saja minum bahan erosif (kurang 4 jam) sebaiknya lambung dibilas secepatnya dg garam fisiologis. Kalau lama jangan lagi dibilas lambungnya sebab dapat terjadi nekrose atau perforasi. • Bahan penyebab dihentikan, diberikan makanan halus, seringkali dalam porsi kecil dan cukup cairan. • Antasida, H2 blocking, inhibitor proton pump, antikolinergik. • Sitoprotektor (sukralfat, prostaglandin). • Kadang-kadang antimikroba. GASTRITIS KRONIK Atrofi mukosa gaster. DIAGNOSIS Keluhan pokok : Nyeri ulu hati, anoreksi, mual. Tanda penting : Nyeri tekan midepigastrium. Pemeriksaan laboratorium : Aklorhidri (HCl kurang). Pemeriksaan khusus : Endoskopi : rugae hilang, atrofi mukosa lambung. KOMPLIKASI • Mirip anemia pernisiosa. • Penyempitan antrum pilorus. • Carsinoma lambung. PENATALAKSANAAN

Vitamin B12, cisapride, metoklopramide, domperidon, antagonis reseptor H2, pirenzepin (antikolinergik).

HEMATEMESIS MELENA Pecahx pemb. darah pada saluran cerna bag. atas yaitu sal. cerna proksimal ligamentum Treitz, mulai bagian proksimal jejunum sp esofagus. Diagnosis Keluhan pokok • Muntah darah warna hitam atau tanah merah (coffee ground) dan BAB warna hitam ter. • Ada syndrom dispepsi. • Mungkin ada riwayat makan obat antireumatik atau obat analgetik lain. • Ada riwayat sirosis hepatis. • Nyeri ulu hati. Tanda penting • Sakit ringan sampai berat (prekoma/koma). • Tanda-tanda hipovolemik, takikardia, akral dingin, kulit pucat, tensi rendah. Pemeriksaan laboratorium • Hemostasis (wkt perdarahan, pembekuan, protrombin). • Darah perifer (Hb, Hm, trombosit). • Elektrolit (Na, K, Cl). • Fungsi hati, SGOT/SGPT. Pemeriksaan khusus • Endoskopi utk menentux sumber pdarahan. • USG apa ada sirosis hepatis atau hepatoma. • CT scan. Komplikasi • Syok hipovolemik. • Aspirasi pneumoni. • Anemi pascahemoragik. • Koma hepatikum. Penatalaksanaan • Dirawat dirg. gawat darurat. • Pemasangan SB-tube (Sengstaken-Blakemore).

• • •

Endoskopi untuk : skleroterapi jika ada varises, inj. adrenalin 1:10.000 atau etoksisklerol 1-1,5% sekitar lesi ulkus, bilasan lambung dg air es atau air + adrenalin 1:20.000 bila ada lesi non ulkus. Bilasan lambung dg air es dapat dilakukan dg sonde lambung / NGT. Transfusi darah, infus cairan elektrolit atau pengganti plasma. Diet, puasa (varises) atau makanan lunak.

Non Varises • Injeksi antagonis reseptor H2 atau penghambat pompa proton. • Sitoprotektor : Sukralfat 3-4 x 1 gr, Cetraxate 3-4 x 1 tab atau Misoprostol 3 x 1 tab. • Antasida. • Vitamin K untuk penyakit hati kronis atau sirosis hepatis. Varises • Somatostatin bolus 250 ug + drip 25 ug/jam atau Octreotide (Sandostatin) 0,1 mg/2 jam perdrip. • Propranolol 2 x 10 mg, dpt ditingkatkan sp tekanan diastolik 20 mmHg atau denyut nadi turun 20%. • Isorbid mononitrat / dinitrat 3 x 1 tab/hr. • Metoklopramid 3 x 10 mg/hr. Varises pecah / Sirosis hati • Laktulosa 4 x 1 sendok makan. • Neomisin 4 x 500 mg. Prognosis • Bila penyebabnya sirosis, akan berulang. • Bila penyebabnya gastritis erosif, umumnya baik bila penyebabnya dihindari. HEPATITIS VIRUS B Inflamasi menyeluruh pada sel-sel hepar. Masa inkubasi : 2-6 bulan. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Mual anoreksi vomitus, malese, demam. • Syndrom mirip influenza.

• Kadang suhu tubuh turun, disertai ikterus timbul. Tanda penting : • Ikterus, hepatomegali, nyeri tekan, suhu diatas normal. Pemeriksaan laboratorium : • SGOT/SGPT meningkat. • Bilirubin meningkat. • Lekosit normal atau lekopeni. Pemeriksaan khusus : • HBsAg (Hepatitis B surface antigen) untuk HVB. • Anti HBs antibodi terhhadap HBsAg. • Anti HBc, HBeAg, HBV DNA. KOMPLIKASI • Koma hepatik • Hepatitis kronis aktif • Hepatitis kronis persisten • Sirosis hepatis • Hepatoma PENATALAKSANAAN • Istirahat dlm keadaan akut. • Diet disesuaikan dg kebutuhan, makanan berjamur (tempe) atau mengandung zat pengawet diihindari. Obat alternatif : • Korticosteroid jangka pendek sebelum terapi interferon. • Interferon. • 3TC (2,3 Trioxy tiocitidine) (Lamivudin) 100 mg/hr selama 2 tahun. • Timosin, Levamisol, Suramin, Acyclovir, Gancyclovir, Vidaribin, Foscamet, Fialuridin. PROGNOSIS Dapat berkembang menjadi hepatitis kronis, sirrosis hepatis, hepatoma. Kerusakan akut sel-sel hati.

• Ada riwayat hepatitis akut. • Muntah-muntah. • Fetor hepatik. • Perdarahan usus. • Demam. Tanda penting • Ikterus yang progresif. • Kuning seluruh tubuh. • Tanda-tanda neurologis. • Bingung-bingung, kesadaran menurun sampai koma. • Pengecilan hepar. • Perdarahan yang luas. Pemeriksaan laboratorium • Lekositosis. • Bilirubin meningkat. • Transaminase menurun. • Gangguan koagulasi. Komplikasi • Edema serebri. • Perdarahan saluran cerna. • Gagal ginjal. • Hipoglikemia. • Sepsis. • Disseminated Intravascular Coagulation. • Syok Penatalaksanaan • Rawat ICU. • Obat pertama : Laktulosa, hipoglikemi diberi larutan dextrose 10-25%, diazepam bila penderita gelisah, korticosteroid dosis tinggi 400-800 mg/hr. • Obat alternatif : antasida, H2 receptor antagonist. • Operasi : transplantasi hepar. Prognosis Bila terjadi peningkatan prognosis baik alfa feto protein pada awal koma

HEPATITIS FULMINAN Kerusakan akut sel-sel hati. Diagnosis Keluhan pokok HEPATOMA Desakan mekanis massa tumor atau metastasis.

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Mungkin ada riwayat hepatitis kronis atau sirosis hepatis. • Anoreksi, mual. • Berat badan turun, malese. • Kadang demam disertai menggigil. • Nyeri tumpul perut kanan atas (sering tidak nyeri), tidak terus menerus. • Rasa penuh pada perut kanan atas. Tanda penting : • Ikterus, ada tanda sirosis hepatis. • Hepatomegali, konsistensi keras, permukaan tidak rata, sering tidak nyeri tekan. • Ada bising hepar, tanda khas. Pemeriksaan laboratorium : • Fosfatase alkali naik. • Gamma GT naik. • Serum alfa fetoprotein ≥ 15 µg/ml. • Hiperkolesterolemi. • Bilirubin total naik. Pemeriksaan khusus : • USG ada lesi fokal atau difus. • CT scan abdomen. • Biopsi hati, angiografi hepar. KOMPLIKASI • Perdarahan varises oesophagus. • Koma hepatik, koma hipoglikemi.

Kemoterapi bila ada metastasis.

PROGNOSIS • Umumnya jelek. • Tanpa terapi akan meninggal dalam <1 th sejak diagnosis ditegakkan. • Bila operasi pada stadium dini diikuti kemoterapi umur dapat sampai 4-6 tahun. SYNDROM HEPATORENAL Gagal ginjal akut yg terjadi progresif akibat gagal hati kronik. Terjadi diduga akibat gangguan sirkulasi ginjal akibat lanjut kelainan hepar. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sebelumnya tidak ada ggn ginjal. • Ada keluhan sirosis hepatis. • Oligouri (<300 cc/24 jam). • Kadang-kadang diare. • Mungkin ada riwayat mendapat diuretik dosis tinggi. Tanda penting : • Ada tanda sirosis hepatis : asites. • Hypotensi, ensefalopati, ikterus. Pemeriksaan laboratorium : • Kreatinin meningkat. • Hyponatriumuri. Pemeriksaan khusus : Echo Doppler KOMPLIKASI • Koma PENATALAKSANAAN • Istirahat, diuresis diperbaiki dg albumin, dekstran atau cairan asites, penambahan volume plasma. • Diet rendah protein, tinggi karbohydrat, rehidrasi dan restriksi natrium. • Oktapresin dan ornipresin (vasopresin sintetik). • Corticosteroid : Prednison 40 mg/hr, lalu ditappering 10 hr. • Obat alternatif : Prostaglandin. • Parasentesis utk meningkatkan output jantung. • Operasi : anastomosis portokaval dan transplantasi hati.


Ruptur tumor, infeksi sekunder. Metastase ke organ lain, tersering ke paru.

PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Hepatoprotector. • 5 FU dan adriamisin. • 5-fluoro-2-deoksirubin (FUDR) dengan memasang pompa subkutan. • Injeksi alkohol perkutan bila diameter tumor <3 cm. • Reseksi tumor (diameter <5 cm). • TAE (Transanrterial Embolization) bila operasi tidak memungkinkan (diameter >3 cm).

Dialisis.

PROGNOSIS Prognosis jelek, angka kematian 90%.

ILEUS PARALITIK Peristaltik usus menurun atau menghilang. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Muntah-muntah, diare. • Ada riwayat penyakit penyerta. Tanda penting : • Perut kembung / distensi. • Ada gangguan kesadaran. • Bising usus menurun atau menghilang. • Colok dubur, spincter tidak mencekik. • Tensi turun, nadi cepat. Pemeriksaan laboratorium : • Darah perifer, gula darah. • Amilase serum, kalium. Pemeriksaan khusus : • Foto abdomen 3 posisi : gambaran herring bone, distensi usus, tidak terdapat air fluid level. • Foto dada, USG, CT Scan abdomen. KOMPLIKASI • Syok hipovolemik, syok sepsis, malnutrisi. PENATALAKSANAAN • Istirahat, rawat diruangan gawat darurat. • Segera pasang sonde lambung (NGT). • Selang rectal, pasang kateter. • Ps puasa, nutrisi parenteral total sampai ada bising usus atau mulai flatus. • Prostigmin 3x1 ampul iv utk memacu mobilitas usus. • Antibiotik. KOLESISTITIS AKUT Peradangan kandung empedu secara akut. DIAGNOSIS Keluhan pokok :

• Nyeri perut kanan atas epigatrium. • Nyeri bertambah bila makan 50 gr lemak. • Yang khas nyeri menjalar ke bahu kanan atau subscapula. • Mual muntah, demam tinggi disertai menggigil. Tanda penting : • Peritonitis lokal. • Murphy sign positif : ketika hypocondrium kanan ditekan, inspirasi dihentikan karena adanya rasa nyeri. • Bila ikterus disertai demam mungkin ada batu dalam kandung empedu. • Ikterus ringan. Pemeriksaan laboratorium : • Lekositosis. • Bilirubin total meningkat. • Alkali fosfatase naik. • Enzym transaminase (SGOT/SGPT) meningkat. Pemeriksaan khusus : • USG abdomen. • CT scan abdomen. • Kolesistografi. KOMPLIKASI • Perforasi kandung empedu. • Empyema kandung empedu. • Abses hati. • Sepsis. PENATALAKSANAAN • Istirahat tirah baring, infus cairan / elektrolit. • Diet lunak parenteral. • Antibiotik parenteral spektrum luas (terutama gram negatif). • Obat alternatif : Pethidin / analgetik untuk menekan nyeri. • Bedah : kolesitektomi (jarang). PROGNOSIS Sembuh spontan 85%, kadang berkembang menjadi empyema dan perforasi kandung empedu KOLITIS ULCERATIF Merupakan penyakit radang kronis difus, edematous, erosif, hiperemik pada mukosa kolon yang penyebabnya belum diketahui. DIAGNOSIS

Keluhan pokok : • Berak darah atau diare berat, anemi. • Demam dan takikardi yang hilang timbul. • Konstipasi, tenesmus. Tanda penting : • Dehidrasi. • Nyeri tekan pada perut kiri bawah. • Distensi daerah kolon. KOMPLIKASI • Aritmi. • Uveitis / iritis. • Eritema nodosum. • Pyoderma ganggrenosa. • Carsinoma, megakolon toksik. • Ankylosing spondilitis. • Hepatitis / perlemakan hati. • Kolelitiasis. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat, diet TKTP, tanpa susu, rendah serat. Obat pertama : • Prednison 60 mg pagi hari lalu diturunkan. • Sulfasalazin 3 x 1-2 gr/hr. • Mesalazina 3 x 0,5-1 gr. • 5-amino salisilat (5-ASA). • Mesalamin 4-5 gr/hr/oral. • Imunomedulator : Azatioprin 2-2,5 mg/kgbb/hr + Merkaptopurin 1-1,5 mg/hr. Sikloporin/oral atau iv. Metotreksat 25 mg / mgg bersama kortikosteroid. • Antibiotik pada pasca operasi. Obat alternatif : • Ketotifen untuk menstabilkan sel mast. • Nikotin transdermal, terbukti relaps hanya 20%, sedangkan dg prednison relaps 60%. • Pembedahan : sekitar 20-25% mengalami kolektomi atau ileostomi. Terapi komplikasi : Operasi bila ada karsinoma. PANCREATITIS AKUT Bebas enzym-enzym pancreas ke jaringan sekitar (rongga perut) karena kerusakan jaringan pancreas.

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Tiba-tiba nyeri epigastrium sering melingkar ke belakang. • Bertambah bila berjalan. • Berkurang bila duduk membungkuk. • Perut rasa kembung, mual muntah. • Keluar keringat, demam, lemah. • Ada riwayat minum alkohol. Tanda penting : • Perut kembung dan nyeri, terutama kuadran atas. • Ileus paralitik, panas, ikterus, syok atau koma. • Bising peri umbilikus (tanda Cullen). • Bising di pinggang (tanda Grey Turner). • Peristaltik menurun. Pemeriksaan laboratorium : • Amilase serum dan Hb meningkat. • Lekositosis, hiperglikemi, hipokalsemi. Pemeriksaan khusus : • Foto ikhtisar perut apakah terdapat colon cut off sign atau sentinel loop. • CT scan untuk melihat pembesaran pancreas. • USG. KOMPLIKASI Dehidrasi, ileus paralitik, syok, abses pancreas, DM, gagal jantung, gagal ginjal, ggn paru, perdarahan usus. Komplikasi berat bila ditemukan 3 atau lebih hal berikut (kriteria Ranson) : • Berumur >50 th. • Lekositosis >16.000/ml. • Glukosa darah >200mg/dl. • Terjadi penurunan basa >4 meq/l. • LDH serum >350 IU/l. • AST >250 IU/l. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat bed rest, pasang sonde lambung, pemberian cairan (NaCl) atau plasma. • Pemberian per os makanan dan cairan dibatasi. • Pethidine im, bila ditemukan tetani, berikan Kalsium glukonas iv. Terapi komplikasi :

• •

Atasi syok, makanan dan cairan per oral dihentikan sampai nyeri hilang dan peristaltik ada. Sonde lambung bila ada tanda-tanda ileus.

PROGNOSIS Keadaan berikut dalam 48 jam memperburuk prognosis : • Hematocrit turun >10%. • BUN meningkat >5 mg/ml. • Tekanan PO2 arteri <60 mmHg. • Kadar kalsium serum <8 mg/dl. • Penimbunan cairan >6 l. Mortalitas tinggi bila ada ggn hati, kardiovaskuler, ginjal, nekrosis pancreas. PANCREATITIS KRONIK Radang kronis pada pancreas. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri epigastrium menjalar ke punggung kiri, bersifat kontinu ringan, menekan dan tajam. • Berat badan turun. • Diare steatorea kronik. • Ada riwayat diabetes. Pemeriksaan laboratorium : • Pemeriksaan khusus, USG, CT Scan abdomen, ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography). KOMPLIKASI • Perdarahan usus, pseudokista, ikterus, karsinoma pancreas. PENATALAKSANAAN • Istirahat, makan sedikit-sedikit, rendah lemak. • Pemberian enzym pancreas. PERITONITIS Peradangan peritonium / omentum. DIAGNOSIS Keluhan pokok : Nyeri abdomen, lemah. Tanda penting : • Pasien tampak ketakutan. • Pasien diam / tdk mau bergerak.

• Perut kembung, nyeri tekan abdomen. • Defence muscular. • Bunyi usus berkurang / menghilang. • Pekak hati menghilang. Pemeriksaan laboratorium : • Kultur cairan peritoneum. KOMPLIKASI • Syok septik, ileus paralitik. • Abses pelvis, hepar, subfrenik. • Obstruksi usus. PENATALAKSANAAN • Istirahat tirah baring dg posisi Fowler, pasang sonde lambung, kateter dan infus. • Diet peroral dilarang. • Antibiotik spectrum luas, metronidazole. • Narkotika untuk mengurangi penderitaan pasien. • Operasi dilakukan untuk menutup perforasi dan menghilangkan sumber infeksi. PROGNOSIS Mortalitas 10-40%. SIROSIS HEPATIS Fibrosis dan nekrosis hepatosit seluruh hepar yang mengakibatkan disfungsi sel hepar, portosystemic shunting dan hipertensi portal. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Mula-mula tidak terasa lalu terjadi perlahan-lahan. • Sering rasa mules dan kembung. • Rasa capek, lemah. • Berat badan merosot, impoten, libido menurun. • Kalau lanjut hematemesis melena. • Amenore. Tanda penting : • Warna muka / kulit keabu-abuan. • Spider nevi. • Eritema palmaris. • Lunula melebar (batas kuku putih dan merah melebar). • Flapping tremor (asterixis). • Lekonikia. • Pelebaran vena pada dada dan abdomen (caput medusae). • Gynecomasti, nyeri tekan. • Ikterus, hepatomegali, mengeras.

• Splenomegali, asites, atrofi testis. Pemeriksaan laboratorium : • SGPT, fosfat alkali, bilirubin naik. • Albumin turun. • Gamma globulin naik. Pemeriksaan khusus : • Biopsi hati, endoskopi varices. • Cobblestone appearance pd foto esofagus. KOMPLIKASI • Hematemesis melena, hepatoma. • Koma hepatikum, infeksi. • Syndroma hepatorenal. PENATALAKSANAAN • Istirahat, hindari alkohol, bila prekoma/koma hindari protein. • Obat penghenti sintesis kolagen : Penisilamin, Kolkisin, Kortikosteroid, Gamma interferon. PROGNOSIS Tergantung dari luasnya kerusakan hepar. TUKAK PEPTIK (ULKUS PEPTIKUM) (TUKAK LAMBUNG & DUODENUM) Multifaktor terutama kelebihan helicobacter pylori.

KOMPLIKASI • Perforasi. • Hematemesis melena. • Dilatasi lambung mendadak. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat bed rest. • Diet lunak, dilarang makanan berlemak, pedas, keras, alkohol, asam atau kopi. Antagonis reseptor H2 selama 6-8 mgg : • Cimetidin 400 mg pagi dan 400 mg sebelum tidur atau sekali 800 mg sebelum tidur. • Ranitidin 300 mg sebelum tidur atau 2x 150 mg. • Famotidin 40 mg sebelum tidur atau 2x 20 mg. Penghambat pompa proton : • Omeprazole 20 mg/hr selama 4 mgg. • Sukralfat (ulsanic) 3-4x1 tab 1 jam sebelum makan. Alkali dan antasida. Antikolinergik : • Atropine 3 x 0,25-0,5 mg. • Probanthine. Bila disertai Helicobacter pylori, ditambah : • Klaritromisin 3 x 500 mg atau amoksisilin 4 x 500 mg selama 2 minggu. • Metronidazole 3 x 500 mg. Terapi komplikasi : Dilatasi lambung mendadak : • Pasang sonde lambung. • Beri cairan per infus. • Pasang kateter.

asam

lambung

dan

adanya

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri epigastrium hilang timbul. • Hilang 2 jam setelah makan. • Nyeri datang secara periodik beberapa minggu. • Berkurang setelah minum antasida, susu hangat, atau habis muntah. • Nyeri tengah malam. • Pirosis, mual dan muntah. • Selera makan umumnya normal. Tanda penting : • Umumnya tidak ditemukan kelainan khas. • Kadang nyeri tekan daerah epigastrium. Pemeriksaan khusus : Endoskopi.

HEMATOLOGI
ANEMI HEMOLITIK Berkurangnya eritrosit akibat hemolisis akut atau berkepanjangan, sehingga umur eritrosit memendek (kurang dari 120 hari). DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Akiibat dari penyakit dasarnya. • Lesu, demam, menggigil, pusing. Tanda penting :

• Anemis, ikterus, splenomegali. Pemeriksaan laboratorium : • Hb turun, Hm menurun, retikulositosis. • Bilirubin indirek meningkat (bilirubin total sampai 4 gr%). • Normositik normokrom. • Hemoglobinuria. Pemeriksaan khusus : • Gambaran darah tepi : anisositosis, poikilositosis, polikromasi, bentuk lain : fragmented. • Aspirasi sumsum tulang : eritropoetik sangat aktif. • Tes Coombs positif. PENATALAKSANAAN • Disesuaikan penyebabnya. • Bila disebabkan oleh reaksi toksik imunologik : istirahat, transfusi darah sebaiknya dihindari, diet TKTP. • Kortcosteroid : Prednison 1-2 mg/kgBB dosis terbagi. • Imunosupresif bila prednison dan splenektomi gagal. • Menghindari obat atau kelainan yang menghindarinya. • Bila ada infeksi diberi antibiotik. • Operasi splenektomi bila prednison gagal. PROGNOSIS • Jangka panjang anemi hemolitik autoimun umumnya prognosis baik. • Splenektomi umumnya dapat memperbaiki prognosis.

• •

Darah tepi : makrositosis, trombositopeni, hipersegmentasi PMN. Aspirasi SST : hiperaktif dengan adanya sel-sel megaloblast.

KOMPLIKASI • Gangguan psikis. • Gangguan gastrointestinal : atropi mukosa gaster, akili gastrika. • Gangguan neurologis : parastesi, kelemahan ekstremitas, kemampuan pembau hilang, gangguan visus. PENATALAKSANAAN • Istirahat, diet TKTP, hindari obat atau penyakit yang mendasari. • Vitamin B12, asam folat. PROGNOSIS Bila cepat ditangani prognosis baik, tetapi kelainan neurologis bersifat irreversibel setelah 6 bulan. ANEMI Suatu tanda dengan Hb <12 gr%, eritrosit atau hematokrit kurang dari normal. Terjadi akibat penghancuran eritrosit lebih dari normal atau pembentukan kurang dari normal. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Lemah, mudah kena infeksi. • Sakit kepala, pusing. • Konsentrasi kurang. • Keluhan gastrointestinal : anoreksi, mual, muntah, diare, kadang-kadang meteorismus, glossitis. • Menstruasi tidak teratur sampai amenore. • Polakisuri, nokturi (banyak kencing waktu malam). Tanda penting : • Kulit dan mukosa pucat. • Apati, otot ekstremitas lemah. • Pernapasan dan nadi cepat. Pemeriksaan laboratorium : • Darah perifer : Hb, eritrosit atau hematokrit kurang.

ANEMI MEGALOBLASTIK Pematangan inti eritroblast terlambat akibat kekurangan asam folat atau vitamin B12. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Keluhan anemi pada umumnya. • Gangguan gastrointestinal, gangguan neurologis. Tanda penting : • Anemi. Pemeriksaan laboratorium : • Anemi, lekopeni. • Trombositopeni ringan, retikulosit turun. Pemeriksaan khusus :

KOMPLIKASI • Dekompensasi cordis. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Diet disesuaikan dengan penyebabnya. Bila tidak diketahui beri saja makanan bergizi dan mengandung cukup Fe / ekstrak hepar. • Sulfas ferosus 3 x 1 tab. • Anemi berat dan akut atau Hb rendah (< 7 gr%) sebaiknya diberi transfusi darah. PROGNOSIS Tergantung penyebabnya. ANEMI APLASTIK Erythropoeisis tidak / kurang berfungsi karena sumsum tulang tertekan. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Lelah, capek. • Demam berulang karena infeksi (terutama saluran napas atas). • Perdarahan berbagai manifestasi bila ada thrombositopeni pada pansitopeni. • Konsentrasi kurang, sakit kepala, pusing, palpitasi. Tanda penting : • Pucat, purpura, peteki, ekimosis, takikardia. • Infeksi mulut (gingivitis, stomatitis, faringitis). • Hepatosplenomegali. Pemeriksaan laboratorium : • Darah perifer / gambaran darah perifer. • Awalnya anemi normositik normokrom, stadium akhir pansitopeni. • LED meningkat. • Waktu bekuan dan waktu perdarahan memanjang. Pemeriksaan khusus : • Aspirasi sumsum tulang : kepadatan sel-sel berkurang, selsel lemak meningkat, tak ditemukan megakaryosit pada semua lapangan pandang. KOMPLIKASI • Sepsis dan perdarahan.

PENATALAKSANAAN • Istirahat, transfusi darah, menghindari semua trauma (sikat gigi lunak). • Antibiotik. • Kombinasi steroid anabolik, androgen. • Menghindari aspirin. • Obat alternatif : Imunosupresif : Siklosporin A (CSA), Anti Lymphocyte Globuline (ALG), Anti Thymocyte Globuline (ATG). • Splenektomi dan transplantasi sumsum tulang. PROGNOSIS • Mulai dari ringan sampai berat, tetapi umumnya jelek. Pada penderita dengan pansitopeni ringan dan timbulnya keluhan kurang dari 6 bulan, prognosisnya relatif baik ANEMI DEFISIENSI BESI Kadar / cadangan zat besi dalam plasma dan hemoglobin kurang. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Demam, pusing, palpitasi. • Mungkin ada riwayat operasi saluran cerna. Tanda penting : • Anemi. • Ada sumber perdarahan kronis : ankylostomiasis, amebiasis, hemoroid. Pemeriksaan laboratorium : • Hb turun. • Morfologi eritrosit : hipokrom mikrositer. Pemeriksaan khusus : • Kadar Fe serum turun, tetapi daya ikat terhadap besi meningkat (TIBC). KOMPLIKASI • Dekompensasi kordis. PENATALAKSANAAN • Istirahat, diet TKTP. • Preparat zat besi : Sulfasferosus 3 x 1 tab/hr. • Terapi komplikasi : Digitalis. PROGNOSIS

Baik.

• • • • •

CHRONIC LYMPHOCYTIC LEUCEMIA Invasi dan infiltrasi limfosit yang kurang berkualitas pada berbagai organ tubuh. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sekitar 25% tanpa keluhan. • Hampir sama dg gejala CML: malese, mudah capek, berat badan menurun, anoreksia, demam yang tidak diketahui sebabnya, mudah kena infeksi, gatal-gatal dikulit. Tanda penting : • Kebanyakan terjadi pada orang tua (>50 th). • Limfadenopati superficialis, tidak nyeri. • Splenomegali, tidak nyeri. • Hepatomegali, tidak nyeri. • Perdarahan. • Papula atau vesikula yang tersebar dikulit sering terjadi. Ada 5 stadium : • Stadium • Stadium • Stadium • Stadium • Stadium 0 : hanya ditemukan limfositosis. I : limfositosis plus limfadenopati. II : disertai organomegali. III : disertai anemi. IV : disertai trombositopeni.

Anemi hemolitik autoimun. Trombositopeni autoimun. Infeksi. Bertransformasi menjadi limfoma sel besar (sindrom Richter). Hypogammaglobulinemi.

PENATALAKSANAAN • Bila tanpa keluhan, tidak usah diobati. • Indikasi untuk terapi : bila malese progresif, limfadenopati yang mengganggu, anemi, trombositopeni. Biasanya keadaan ini sesuai dg stadium II-IV. • Istirahat, sebaiknya rawat inap. • Obat pertama : Chlorambucil (Leukeran) 12 mg atau 0,6-1 mg/kgBB digabung dg 4 hari prednison 30-80 mg/hr, diulangi setiap 3 minggu. • Obat alternatif : Fludarabine, 2 Chlorodeoxyadenosine, Cyclophosphamide 1-3 x (50-100) mg/oral/hr, Prednison 40 mg/hr sampai ada respons, lalu dipertahankan 10-20 mg/24 jam. • Terapi komplikasi : anemi : prednison + transfusi darah. Infeksi : antibiotik. PROGNOSIS • Sangat dipengaruhi oleh saat diagnosis. • Umumnya ditemukan pada umur >45 th. • Stadium 0 setengahnya dapat hidup 10 th, stadium III-IV 2 th. • Pada usia tua perjalanan penyakit lambat sehingga disebut leukemia limfositik kronik jinak / inaktif, dapat hidup bertahun-tahun bahkan sampai 30 tahun tanpa pengobatan. • Pada usia lebih muda perjalanan lebih cepat disebut leukemia limfositik kronik aktif. LEUKEMIA GRANULOSITIK KRONIK Infiltrasi granulosit kurang berkualitas ke berbagai organ tubuh dan sumsum tulang. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Berangsung perlahan-lahan, anoreksi.

Berbeda dengan CML, pada CLL ditemukan tanda-tanda : • Pembesaran getah bening, tapi tidak nyeri dan tumbuhnya perlahan-lahan. • Limpa membesar tapi tidak menonjol. • Anemia hemolitik otoimun sering ditemukan pada leukemia kronis limfositer, jadi Coombs tes positif. Pemeriksaan laboratorium : • Limfosit matang sangat banyak, uniform, kecil-kecil. • Hypogammablobulinemia. • Coombs test positif. Pemeriksaan khusus : • Pemeriksaan sumsum tulang. KOMPLIKASI

• Gusi sering berdarah. • Rasa penuh / tidak enak perut (abdominal discomfort). • Lemah, keringat malam. • Sering demam tanpa infeksi. Tanda penting : • Nyeri tekan pada sternum. • Splenomegali yang hebat, tidak nyeri. • Hepatomegali, pembesaran KGB. • Pada kulit sering timbul benjolan kebiru-biruan. • Perdarahan gusi, umumnya tidak anemi. Pemeriksaan laboratorium : Gambaran darah periifer : • Lekosit >150.000/mm³, seri mieloid left shifted (bentuk matang dominan). • Bentuk eritrosit normal. • Jumlah dan bentuk trombosit normal, namun bentuk yang besar (abnormal) dapat terlihat. Pemeriksaan khusus : • Hapusan aspirasi SST : hiperselular, seri mielopoesis left shifted. Mieloblast <5% dari sel SST. • Kromosom Philadelphia mungkin positif pada darah perifer / SST. KOMPLIKASI • Tergantung organ yang terinfiltrasi sel leukemik. • Splenomegali yang nyeri. • Dalam waktu 3-4 th, setengah penderita mengalami blastic crisis dan bila demikian umur sisa beberapa bulan. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Obat pertama: Busulfan (Myleran) peroral, 4-8 mg/hr hingga lekosit turun 50% dari sebelum terapi. • Obat alternatif: Hydrosiurea peroral 20-30 mg/kg/hr sampai penyakit teratasi. • Transplantasi sumsum tulang. PROGNOSIS • Tanpa pengobatan perjalanannya progresif. • Dengan pengobatan dapat hidup 3-20 th, dan pada akhirnya terjadi keadaan yang disebut blastic crisis, yaitu sel-sel muda yang sangat banyak. • Penderita akan meninggal karena infeksi atau perdarahan.

Leukemia mielositer kronis, sekitar 5% kasus menjadi leukemia mieoloblast akut.

DISSEMINATED INTRAVASCULAR COAGULATION Aktifitas trombin meningkat, sehingga terjadi hipofibrinogenemi, trombositopeni, fibrinolisis dan penurunan faktor pembekuan. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Perdarahan, demam. Tanda penting : • Perdarahan dari bekas punksi vena. • Hematoma, jari-jari pucat, hypoksia, ganggren. • Tanda-tanda penyakit dasar seperti kanker, sepsis dll. Pemeriksaan laboratorium : • Thrombositopeni. • Burr cell +. • Hypofibrinogenemi. • Fibrin Degradation Product (FDP) meningkat. • Waktu protrombin memanjang. • Partial thromboplastin time (PTT) normal atau naik. • D-dimer +. KOMPLIKASI • Disfungsi organ, syok. • Deep vein thrombosis (trombosis vena dalam). • Tthromboflebitis. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Cryoprecipitate untuk mengganti fibrinogen. • Heparin masih kontroversial. • Epsilon amino caproic acid (EACA). • Transfusi darah segar atau PRC, trombosit (platelet concentrate), plasma segar (fresh frozen plasma / FFP). PROGNOSIS • Tergantung dari penyakit dasarnya. • DIC yang berat akan fatal. LYMFOMA HODGKIN Desakan terhadap organ-organ. DIAGNOSIS

Keluhan pokok : • Pembesaran kelenjar tanpa nyeri, tetapi nyeri setelah mengkonsumsi alkohol. • Demam, berat badan merosot, lemah. • Gatal-gatal yang menyeluruh. • Mandi keringat malam. • Ada riwayat remisi dan eksaserbasi. Tanda penting : • Mengenai umur dewasa muda. • Lymfadenopati: unilateral khususnya dileher, tanpa nyeri, kadang-kadang bersatu dg kelenjar yang lebih profunda, kulit bebas bergerak. • Stadium I : hanya satu kelenjar limfe yang terkena. • Stadium II : dua kelenjar limfe pada satu sisi diafragma (diatas atau dibawah) terkena. • Stadium III : kelenjar regional pada dua sisi diafragma terkena. • Stadium IV : kelenjar limfe yang terkena sudah tersebar sampai sumsum tulang dan hepar. • Atau dapat pula dibagi: Stadium A : gejala-gejala konstitusional belum jelas. Stadium B : berat badan merosot, demam dan keringat malam jelas. Pemeriksaan khusus : • Biopsi kelenjar limfe.

• •

Obat alternatif: kombinasi kemoterapi lain ABVD (Adriamisin + Doksorubisin + Bleomisin + Vinblastin + Dakarbazin). Radioterapi dilakukkan pada stadium I, II dan III dan terlokalisasi.

PROGNOSIS • Stadium IA dan IIA dg radioterapi prognosis baik, 80% hidup sampai 10 th. • Stadium IIIA dan IV, 50-60% hidup sampai 5 tahun. • Prognosis buruk pada orang tua dan limfosit rendah. DIOPATHIC / AUTOIMMUNE THROMBOCYTOPENIC PURPURA Antibodi IgG mengikat trombosit sehingga banyak trombosit dihancurkan oleh lien. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Perdarahan kulit dan mukosa. • Tidak disertai panas. Tanda penting : • Tanda-tanda perdarahan. • Tidak ada splenomegali, dan kalau ada diragukan diagnosis ITP. Pemeriksaan laboratorium : Pada hapusan darah perifer ditemukan : • Trombositopeni sampai <10.000/ml, ukurannya besar (megathrombocytes). • Anemi ringan berat, retikulositosis, sferositosis. • Fragmentasi eritrosit (sistosit, sel helmet, bentuk segitiga). • Mikroangiopati. Pemeriksaan khusus : • Sumsum tulang: normal atau megakarysit meningkat. • IgG terhadap trombosit meningkat.

KOMPLIKASI • Anemi hemolitik. • Bendungan vena cava superior. • Gatal yang sulit sembuh. • Efusi pleura, paraplegia. • Sarcoma Hodgkin. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Obat pertama: bila masih terlokalisasi (IA, IIA) ditanggulangi dengan radioterapi. Bila sudah tersebar (IIIB, IV) dengan kemoterapi kombinasi. • Kemoterapi kombinasi: Adriamisin (Doksorubisin), Bleomisin, Vincristin, Dakarbasin (ABVD) atau diselangselingi dg Mekloretamin, Oncovin (Vincristin), Procarbazin dan Prednison (MOPP), digunakan minimal 6 siklus.

PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Prednison 1-2 mg/kgbb/hr respons 80%. • IgG dosis tinggi 400 mg/kgbb/hr selama 3-5 hr respons 90% tetapi mahal. • Obat alternatif : Danazol 600 mg/hr respons 50%.

• • •

Imunosupresif untuk kasus refrakter: Vincristin, Vinblastin, Azatioprin, Siklofosfamid. Transfusi trambosit jarang dilakukan. Splenektomi bila prednison gagal respons 80%.

PROGNOSIS • Sebagian penderita mengalami remisi baik. • Perdarahan otak berat bila trombosit <5000/ml. • Perdarahan fatal jarang terjadi. • LEUKEMIA AKUT Infiltrasi masif sel lekosit ke dalam organ tubuh dan penekanan produksi sistem sel darah yang lain serta gangguan fungsi sel. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Lebih sering pada anak-anak. • Sakit baru dirasakan beberapa hari atau minggu. • Sering disertai perdarahan (gusi, epistaksis, menoragi). • Malese, lekas capek, anoreksi. • Sering demam walau tanpa infeksi. • Sakit kepala, nyeri sendi dan tulang. Tanda penting : • Hipertrofi gusi, stomatitis. • Ulcerasi pada rectum ddan vagina. • Purpura, ekimosis, anemis. • Pembesaran limpa, hepar. • Pembesaran kelenjar getah bening (lebih sering pada tipe limfoblaster daripada tipe yang lain. • Sering nyeri tekan pada sternum. • Tanda-tanda infeksi (selulitis, pneumoni, sepsis). Pemeriksaan laboratorium : • Anemi. • Gambaran darah perifer : sel blaster (sangat muda) sangat tinggi (>200.000/µl). Bila tidak disertai sel blaster disebut leukimia alekemik. Pemeriksaan khusus : • Aspirasi sumsum tulang menunjukkan hiperseluler, didominasi oleh sel blaster. PENATALAKSANAAN

Prinsip terapi : mencapai remisi, mempertahankan keadaan remisi dg obat-obat, bila terjadi relaps diusahakan reinduksi remisi kembali. • Istirahat, perawatan ditujukan pada perdarahan dan infeksi. • Leukemia Myeloblaster Akut (LMA) : mula-mula diterapi kombinasi kemoterapi : Daunorubicin dan Cytarabine. Selama terapi diberi transfusi darah dan antiinfeksi. Begitu terjadi remisi sempurna, terapi pasca remisi / suportif dilanjutkan dg dosis tinggi kemoradioterapi dg transplantasi sumsum tulang. • Leukemia Limfoblaster Akut (LLA) : mula-mula diobati dg kombinasi kemoterapi : Daunorubicin, Vincristine, Prednison dan Asparaginase. Setelah tercapai remisi sempurna, penderita mendapat profiaksis SSP dg cranial irradiation dan methotrexate intrathecal. Juga sama halnya dengan LMA menerima kemoterapi dosis tinggi plus transplantasi SST. PROGNOSIS • Tanpa pengobatan, penderita leukemia akut akan meninggal dalam waktu beberapa mgg / bln. • Bila dg pengobatan keadaan membaik, dapat hidup sampai 5 tahun. • Leukemia myeloblaster remisi sempurna + 70-80% pada orang dewasa <60 th. • Leukemia limfoblastik mengalami remisi sempurna sampai 80% pada org dewasa. LYMFOMA NON HODGKIN Pembesaran kelenjar limfe, sehingga menekan organ-organ. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Limfadenopati tanpa nyeri. • Massa tumor pada beberapa tempat. • Demam tanpa sebab yang jelas. • Keluar banyak keringat pada malam hari. • Berat badan merosot, sakit perut. Tanda penting : • Limfadenopati tanpa nyeri tekan, terisolasi atau menyebar diluar lokasi kelenjar limfe seperti kulit, saluran cerna. Pemeriksaan laboratorium : • Gambaran darah perifer umumnya normal. • Pada fase leukemik sulit dibedakan dengan leukemi.

• LDH meninggi bila perjalanan penyakit progresif. Pemeriksaan khusus : • Biopsi kelenjar. • Biopsi sumsum tulang. • CT scan / USG abdomen. • Foto dada. KOMPLIKASI • Penekanan organ: jalan nafas, usus, saraf. • Mudah kena infeksi. PENATALAKSANAAN • Istirahat, bila ditemukan tanpa keluhan tidak perlu terapi. Terapi umumnya bersifat paliatif. • Obat pertama CHOP dan CEOP. • CHOP: Chorambucil 0,6-1 mg/kgbb setiap 3 minggu atau kombinasi dg Siklofosfamid 750 mg/m² (permukaan tubuh) IV hari 1. Doksorubisin 50 mg/m² IV hari ke 1, Oncovin (Vincristin) 2 mg IV, Prednison 100 mg oral hr ke 1 sampai 5. • CEOP: Cyclofosfamid dosis sama, Epirubisin 75 mg/m² IV hr pertama, Oncovin dosis sama, Prednison dosis sama hr 16. • Transplantasi SST. PROGNOSIS • Bila diagnosis patologis ditegakkan berarti stadium sudah lanjut. • Setengahnya dapat hidup sampai 6-8 tahun. • Dengan kombinasi terapi agresif respons sekitar 40-60%. MYELOFIBROSIS Fibrosis sumsum tulang akibat peningkatan sekresi platelet derived growth factor (PDGF). Sebagai respons terjadi hemopoeisis extrameduler (hepar, limpa dan kelenjar limfe). DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Mengenai orang dewasa >50 th. • Mulainya perlahan-lahan. • Paling sering merasa sangat lemah. • Perut terasa penuh (splenomegali). • Sakit perut akibat infark limpa.

Nyeri tulang (tidak selalu ada) terutama pada tungkai bawah. • Perdarahan. Tanda penting : • Anemia selalu ada, selanjutnya sangat berat. • Splenomegali selalu ada, kadang sangat masif. • Hepatomegali, penderita kurus. • Tanda-tanda akibat hemopoeisis extrameduler : hipertensi pulmonal, obstruksi intestinal dan uretral, hipertensi intracranial, tamponade jantung, tekanan medula spinalis, tanda hipertensi portal (asites, varises esofagus, gagal hepar). Pemeriksaan laboratorium : • Gambaran darah perifer : diagnosis myelofibrosis, trias : teardrop poikilocytosis, leukoeritroblastik, trombosit raksasa abnormal. • Anemia dapat sangat berat. • Lekosit bisa rendah, normal atau tinggi sampai 50.000/mm³. • Jumlah trombosit bervariasi. • LDH dan alkalifosfatase serum naik. Pemeriksaan khusus : • Aspirasi sumsum tulang : fibrosis, hiperseluler dengan retikulin atau fibrosis kolagen, kadang-kadang dry tap (hasil aspirasi nihil). • Tes khusus : pengecatan perak untuk mendeteksi peningkatan serabut retikulin. KOMPLIKASI • Gagal sumsum tulang, organomegali. • Infeksi organ dalam (paru). • Berkembang ke lekemi akut. • Fever of unknown origin. PENATALAKSANAAN • Istirahat, transfusi darah. • Obat alternatif : Androgen : Oxymetholone testosteron. • Erythropoetin rekombinan (epoetin alfa). • Interferon alfa, allopurinol. • Splenektomi. • Terapi komplikasi : transfusi terus menerus.

atau

PROGNOSIS • 50% meninggal dalam 5 tahun. • Fase terakhir: kelemahan umum, gagal hepar, perdarahan. • Beberapa menjadi lekemia mieloblaster akut. MULTIPEL MYELOMA Proliferasi sel plasma, produksi paraprotein yang berlebihan akibat keganasan sel plasma. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri tulang : collumna vertebra, tulang iga, os femur. • Syndrom hiperviskositas : vertigo, nausea, gangguan penglihatan, perdarahan. Tanda penting : • Umumnya pada orang tua >60 tahun. • Anemis, pucat. • Mungkin fraktur Collum femoris. • Nyeri tulang dan massa jaringan. • Neuropati. Pemeriksaan laboratorium : • Preparat darah tepi: pembentukan rouleaux meningkat, sel plasma positif. • Hiperkalsemi. Pemeriksaan khusus : • Elektroforesis paraprotein: IgG, IgA, rantai pendek. • Radiologi: bone survey: osteoporosis tulang-tulang. KOMPLIKASI • Infeksi, gagal ginjal, amiloidosis. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Melphalan (Alkeran) 0,25 mg/kgbb/hr + Prednison 2 mg/kgbb/hr selama 4 hr, diulangi setiap 6 minggu. • Bila kadar paraprotein tidak turun dapat ditambahkan Procarbazine 4 mg/kgbb/hr 6 hr setiap 6 minggu. • Vinkristin, Adriamisin (Doksorubisin), Deksamethason (VAD). • Transplantasi sumsum tulang. • Radioterapi lokal. PROGNOSIS • Setengahnya dapat hidup sampai 3 tahun.

Lebih jelek bila disertai peningkatan paraprotein, gagal ginjal, hiperkalsemi, kerusakan banyak tulang. Keadaan ini disebut low tumor burden, setengahnya meninggal (median survival) dalam 5-6 th. Pada high tumor burden bila fraksi IgG >7 g/dl, hematocrit <25%, kalsium >12 mg/dl atau lebih dari 3 tulang mengalami osteoporosis, median survival sekitar 1 tahun.

POLISITEMI Suatu keadaan yang ditandai oleh proliferasi yang berlebihan dari sel-sel eritrosit. Ada PS relatif dan absolut (sekunder dan primer = PS rubra vera = eritremi). DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sefalgi, pusing, tinitus, penglihatan kabur. • Capek, epistaksis, arthralgi (gout). Tanda penting : • Wajah merah padam seperti orang marah. • Pruritus, splenomegali. Pemeriksaan laboratorium : • Hemoglobin tinggi, eritrosit tinggi. • Hematocrit, lekosit dan trombosit juga diatas normal. • Hyperurisemi. KOMPLIKASI • Trombosis arteri. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Flebotomi, pengeluaran darah sekitar 500 cc / mgg sampai hematocrit <45% atau trombosit kurang dari 700.000/mm³. • Hydroksiurea, Busulfan, Interferon, Allopurinol. PROGNOSIS Perjalanan lambat, sebab kematian adalah trombosis Polisitemia vera dapat berubah menjadi myelofibrosis. arteri.

DEEP VEIN THROMBOSIS (THROMBOSIS VENA DALAM) Tersumbatnya vena yang letaknya dalam, sehingga terjadinya bendungan. DIAGNOSIS

Keluhan pokok : • Ada riwayat trombus, pasca bedah. • Imobilisasi karena penyakit berat atau trauma. • Keganasan (tumor atau hematologis). • Pengguna hormon estrogen. • Nyeri lokal tiba-tiba. Tanda penting : • Edema pada bagian tubuh yang terkena, eritema. • Peningkatan suhu lokal, vena teraba. • Homan's sign positif (rasa tidak enak dibelakang lutut bila dorsofleksi paksa kaki). Pemeriksaan laboratorium : • Kadar antitrombin III (AT III) menurun. • Kadar Fibrinogen Degradation Product (FDP) naik. • Titer D-dimer naik. • Kadar protein C dan protein S meningkat. Pemeriksaan khusus : • Flebografi / venografi. • Impedance Phletysmography untuk melihat variasi arus aliran darah. • USG Doppler. PENATALAKSANAAN • Istirahat, ekstremitas yg kena ditinggikan, kompres hangat, latihan fleksi ekstensi / range of motion (ROM), pakai kaus kaki elastik (elastic stocking). • Thrombolisis diberikan sebelum sampai 2 minggu terbentuknya trombus : streptokinase, urokinase. • Antikoagulan: Heparin 24.000-35.000 unit atau mulai bolus 5000 unit (100-200 unit/kgbb) dilanjutkan sampai didapatkan aPTT 2-2,5 kali normal (50-80 det). Dosis ini dipertahankan sampai 7-12 hr. • Berbagai preparat heparin molekul kecil dapat diberikan setiap 12 jam atau setiap 24 jam. • Coumarin (sintrom) dan warfarin. • Obat alternatif : anti agregasi trombosit : aspirin, dipiridamol, sulfinpirazon. PROGNOSIS Tergantung pada penyakit dasarnya dan cepatnya tindakan. THROMBOTIC THROMBOCYTOPENIC PURPURA Kelainan ini merupakan sindrom trias : Anemia hemolitik microangiopati, Thrombositopeni dan Abnormalitas neurologik.

Dasar kelainan : jumlah trombosit kurang dari normal. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Perdarahan, sefalgi, afasi, demam, gangguan kesadaran. • Bingung-bingung. Tanda penting : • Menyerang umur 20-50 th. • Kejang-kejang, hemiparesis. • Suhu badan naik, bukan karena infeksi. • Pucat, sakit perut. Pemeriksaan laboratorium : • Anemi berat, retikulositosis. • Yang penting adanya mikroangiopati dg fragmen eritrosit. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Plasmaferesis : 60-80 ml/kgBB plasma dikeluarkan dan diganti dg plasma yang dibekukan (fresh frozen plasma). • Prednison. • Antitrombotik : aspirin, dipiridamol. • Splenektomi. • Kombinasi splenektomi + steroid + infus dextran. PROGNOSIS Dengan plasmaferesis : • Prognosis TTP membaik, 80-90% sembuh sempurna. • Kelainan neurologis sembuh total. • 20-30% menjadi kronis dan relaps.

INFEKSI
AMUBIASIS Invasi Entamuba hystolitica ke dlm mucosa kolon. Masa inkubasi 8 hari (2-4 mgg). DIAGNOSIS Keluhan pokok : Kolitis ringan sp berat, berak darah, lendir dan sakit perut. Tanda penting : Hiperperistaltik, meteorismus, nyeri tekan perut bagian bawah. Pemeriksaan laboratorium :

Tinja : E. hystolitica dan erythrocit. KOMPLIKASI Abses hati amuba, perdarahan / perforasi usus, ameboma, intususepsi, striktur usus, amebiasis pleura, amebiasis kulit, abses otak, abses limpa. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Obat pertama Metronidazole 3x500 mg, 5 sp 7 hr. • Obat alternatif : Tetrasiklin 3x500 mg 10 hr. Filoxanide Furoat 3x500 mg 10 hr. Emetin / Dehidroemetin 1 mg/kgbb 3 sp 5 hr. Paromomisin 25 sp 30 mg/kgbb dosis terbagi 3 selama 7 hr. Iodoquinol 3x650 mg/hr. Terapi komplikasi : • Metronidazole 3x500 mg 10 hr. • Kloroqin 500 mg/hr 7 hr. • Emetin / dehidroemetin 8 sp 10 hr. PROGNOSIS Umumx baik, tgtg dari : • Tepatnya terapi. • Resistensi E. Hystolitica thd obat. • Letaknya: amobiasis otak jelek. NTHRAX Nekrosis lokal akibat toksin atau bakteriemia. Masa inkubasi 2-5 hari. DIAGNOSIS Keluhan pokok : Keluhan umum : demam, sefalgia, malese, mual muntah. Tergantung dari lokasinya: • Kulit (Anthrax Cutaneus) : pruritus, papul yg tdk sakit. • Paru (Anthrax Paru "Woolsorter's Disease") : sesak, batukbatuk, tersumbat di hidung, kerongkongan dan larings. • Gastrointestinal : mual muntah, nyeri abdomen, diare bercampur darah. Tanda utama : • Lesi vesikel (ring vesicle) dg nekrosis hitam pada bagian tengah, dikelilingi cincin eritema dan edema. • Kongesti jaringan mukosa. • Tanda lain sesuai lokasi infeksi. Pemeriksaan laboratorium :

• •

Pemeriksaan sputum. Kultur dari jaringan nekrosis lalu diwarnai gram atau fluoresen.

KOMPLIKASI Sepsis, Meningitis, Endokarditis. PENATALAKSANAAN • Penicilin G 2 juta unit/6 jam hingga tanda-tanda edema hilang. Lalu dengan pemberian peroral selama 7 sampai 10 hari. • Eritromisin / tetrasiklin 4x500 mg bila alergi penicilin. PROGNOSIS Mortalitas : • Anthrax cutaneus 10-20%. • Anthrax paru sampai 100% • Anthrax gastrointestinal 50%. Bila terapi cepat dan tepat mortalitas dapat diturunkan. DIFTERI Eksotoksin Corynobacterium menutup sal. napas. Masa inkubasi 1-10 hari. difteri dan pseudomembran yg

DIAGNOSIS Keluhan pokok : Demam, malese, suara parau, keluar sekret hidung mulai cair sampai kental. Tanda penting : • Pseudomembran keabu-abuan pd farings dan sekitarx. • Sekret hidung. • Suhu badan tinggi. • Takikardi. • Kongesti vaskuler. • Obstruksi saluran napas (bull neck, difteri maligna). Pemeriksaan laboratorium : • Preparat langsung. • Kultur dg medium Loeffler atau telurin. • Test Shick (imunitas). KOMPLIKASI • Miocarditis. • Kln. Neurologis.

• • •

Infeksi sekunder. Obstruksi sal. napas. Pneumoni.

KOMPLIKASI Dehidrasi (syok), Hemolytic Uremic Syndrome (HUS), Hiponatremi, Hipoglikemi, Ensefalopati, Arthritis, Iritis. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat rawat inap dan isolasi. • Dehidrasi diatasi dg larutan RL. • Diet bubur yg cair. • Obat pertama Trimetoprim Sulfametoksazole (Bactrim) 2x2 tab, Ciprofloxacin (Quinolon) 2 x 750 mg. • Obat alternatif Ampicilin / Amoxicilin, Norfloxacin (Quinolon) dosis tunggal (400 mg) PROGNOSIS Bentuk berat mortalitas tinggi, bentuk sedang mortalitas rendah. FILARIASIS Peradangan atau bendungan saluran dan kelenjar lymfe. Masa prepaten 8-16 bln. DIAGNOSIS Keluhan pokok : Akut : • Sefalgi, anoreksi, menggigil, demam 3-5 hr, interval tdk teratur. Kronis : • Ekstremitas semakin membesar (elefantiasis). Tanda penting : • Adanya adenolimfangitis, pembengkakan kelenjar getah bening tanpa ada luka. • Peradangan kelenjar limfe, panas, sakit dari pangkal kaki / lengan ke arah ujung (retrograde lymphangitis). • Filarial abses : luka yg mengeluarkan darah dan nanah pada kelenjar limfe yg meradang. • Pembesaran, nyeri dan kemerahan pada tungkai, lengan, dada dan scrotum. • Epididimitis, orkitis, elefantiasis,hydrokel dan varises limfatik. Pemeriksaan laboratorium : • Darah tebal pukul 22.00-02.00 utk melihat microfilaria. Pemeriksaan khusus : • Tes serologi. • Limfangiografi dan limfoskintigrafi.

PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Ps diisolasi dan istirahat di tempat tidur 2 sampai 3 mgg. • Jalan napas dibersihx, membran diangkat dg laringoskopi / bronkoskopi. • Paralisis dilakukan fisioterapi. • Diet lunak atau cair. • Antitoksin 20.000-100.000 unit/drip dalam lart. NaCl 0,9%. • Amoksisilin / Erythromicin 4x500 mg, selama 7 sp 10 hari. • Peniciln Procain G im 2x600.000 unit selama 14 hari. • Vaksin toksoid difteri biasax dalam vaksin DPT. Terapi komplikasi : • Trakeostomi / intubasi endotrakeal segera bila ada obstruksi laring. • Alat pacu jantung bila ada blok jantung. • DL Carnitine 100 mg/kgbb dalam 2 dosis bila terjadi miocarditis. PROGNOSIS Biasax jelek, tergantung dari : • Virulensi kuman. • Lokasi dan perluasan membran. • Kecepatan terapi. • Status kekebalan. DISENTRI BASILER Toksin dan peradangan pada kolon. Masa inkubasi beberapa jam sampai 3 hari. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Berak lendir dan darah, tenesmus, panas, sakit perut. Tanda penting : • Suhu tinggi, tampak toksis, dehidrasi, dengan pemeriksaan sigmoidoskopi mukosa tampak hiperemis merata. Pemeriksaan laboratorium : • Tinja mengandung lekosit dan eritrosit, tampak merah berselimut lendir, isolasi basil dari Shigela dari tinja.

KOMPLIKASI • Hydrokel, kiluri, kiloasites. PENATALAKSANAAN • Bed rest dalam keadaan akut. • Verband elastis untuk menahan edema, elefantiasis. • Kain penahan untuk orkitis dan epididimitis. • Diethylcarbamazine (DEC), obat pilihan, dosis 3x2 mg/hr, mulai dosis kecil lalu ditingkatkan 3x3 mg selama 21 hari. • DEC untuk terapi massal: 100 (1 tab) perminggu untuk umur >10 th selama 40 mgg, umur >2-9 th dosis 50 mg (½ tab). • Ivermectin dosis tunggal 200 µg/kgbb diikuti 400 µg, masih perlu DEC. • Antimikroba bila ada infeksi sekunder. PROGNOSIS Bila segera diterapi, progosis baik, bila terlambat, prognosis penyembuhan buruk. GAS GANGGREN (CLOSTRIAL MYONECROSIS) Nekrosis otot dan jaringan lunak oleh toksin Klostridia. Masa inkubasi kurang dari 3 hari. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Ada trauma sampai mencederai otot yg dalam. • Pasca operatif. • Pernah mendapat suntikan im. • Keluhan yg khas nyeri tiba-tiba pd daerah luka. Nyeri semakin keras hanya terbatas pada daerah luka. Segera setelah nyeri timbul pembengkakan, edema, eksudat yg hemoragis. Tanda penting : • Luka dalam yg tertutup. • Daerah luka bengkak, edema dan eksudat yg hemoragis. • Eksudat mungkin berbuih. • Kulit tegang, putih, benjolan kebiruan, suhu lebih dingin dari kulit normal • Penderita sadar sampai hampir mati. • Luka menjadi kemerahan. • Bulla yg berisi cairan merah tua disertai bagian kulit yg kehitaman. • Adanya bulla dan krepitasi berarti akan memburuk.

• Takikardi. • Suhu badan hanya meningkat sedikit. Pemeriksaan laboratorium : • Kultur. Pemeriksaan khusus : • Foto. KOMPLIKASI • Syok • PENATALAKSANAAN Terapi umum : Obat pertama : • Penicilin G (20 juta/hr) • Klindamicin 600 mg/6 jam plus penicilin dosis tinggi. Obat alternatif : • Cefoxitin. • Carbenisilin. • Kloramfenicol. • Metronidazole 3x500 mg. • Doksisiklin 2x100 mg. • Imipenem. • Vinkomisin 4x125 sp 500 mg selama 7 sp 10 hr. • Sefalosforin generasi tiga. Bedah : • Nekrotomi. • Amputasi. KOLERA Adanya enterotoksin yg mendorong hilangx air dan elektrolit dari usus. Masa inkubasi 3-6 hari. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Tiba-tiba diare dg tinja encer / lembek, diikuti oleh cairan yang menyerupai air cucian beras, berbau amis. • Muntah-muntah menyusul diare. Tanda penting : • Dehidrasi (turgor kulit jelek, mata dan pipi cekung). • Jari keriput, asidosis. • Syok : nadi cepat dan kurang berisi, tensi turun, keringat dingin.

Pemeriksaan laboratorium : • Hipokalemi. KOMPLIKASI • Gagal ginjal akut. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Dasarx mengganti cairan dan elektrolit. • Keadaan ringan dan sedang cukup minum oralit, aqua atau air kelapa. • Kalau dehidrasi berat harus dg cairan infus. • Istirahat di RS, beri lart. RL atau lart. garam fisiologis. • Diet bebas. • Obat pokok : Tetrasiklin 3x500, 2-3 hr, Kloramfenicol sama dg Tetrasiklin, Kotrimoxazole 2x2 tab, Streptomicin peroral. • Tanpa antibiotik dpt sembuh sendiri, asal masukan cairan dan elektrolit mencukupi. PROGNOSIS Kalau segera diberi cairan prognosis cukup baik. LEPTOSPIROSIS Gambaran klinik yg berat disebut penyakit Weil. Masa inkubasi 2-26 hari (rata-rata 10 hr). DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Demam tiba-tiba. • Myalgi terutama pd M. gastrocnemius. • Mual. • Sakit kepala terutama retroorbital. • Oligouri. • Ada riwayat pekerjaan yg berhubungan dg darah hewan atau dg kencing tikus (jagal, pembersih selokan dll). Tanda penting : • Nyeri tekan pd M. Gastrocnemius. • Injeksi periconjunctivalis (conjunctival suffusion). • Ikterus, hepatomegali. Pemeriksaan laboratorium : • Lekositosis

• • •

Proteinuri, lekosuri, hematuri, leptospiruri, dg mikroskop biasa dapat dilihat leptospira dalam sedimen urine pd pembesaran 10x40. Dg mikroskop lapangan gelap (dark field examination) dapat dilihat gerakan leptospira dalam darah penyebabx. Dapat dikultur menurut cara Korthof.

KOMPLIKASI Gagal ginjal, gagal hati, miocarditis, meningitis, perdarahan masif, iridosiklitis, arthritis. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat, diet bebas. • Obat pertama Penicilin dosis tinggi 2 sp 3x (3-6) juta unit secepat mungkin. • Obat alternatif Tetrasiklin 3x500 mg/hr, Doksisiklin 2x100 mg/hr, tapi hati-hati bila ada ggn. fungsi ginjal. Terapi komplikasi : GGA memerlukan hemodialisis secepatx. PROGNOSIS Mortalitas 7,1 sp 10% pd umur 2 th, mortalitas 50% pd umur 50 tahun. MALARIA Kerusakan eritrosit dan trombosit pembuluh darah. Masa inkubasi 10 sp 28 hr, tergantung dari jenis plasmodium. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Keluhan periodik klasik dan khas berurutan : menggigil/dingin, panas, keringat lalu apireksi. • Kadang periodisitas tdk jelas, hanya jelas pd awalx. • Malese, anoreksia, mual muntah, sefalgia, pusing, myalgia dan nyeri tulang-tulang. Tanda penting : Splenomegali, anemi. Gambaran klinik karakteristik malari : • Demam periodik yg khas. • Splenomegali. • Anemi. Pemeriksaan laboratorium : • Tetes darah tebal / tipis ditemukan parasit malaria dalam eritrosit.

Pemeriksaan serologis : titer 1 : 64 pd immunofluorescence. Pemeriksaan khusus : • PCR (Polymerase Chain Reaction). • ELISA (Enzyme Linked Immonosorben Assay). • Radioimmunoassay (RIA).

indirect

KOMPLIKASI Malaria serebral, edema paru, malaria algida / kolaps, black water fever, anemia hemolitik, GGA, ruptur lien, gejala gastrointestinal, dehidrasi, ggn hati. PENATALAKSANAAN Terapi umum : Obat pertama : • Kloroquin basa : hari pertama 600 mg, disusul 300 mg setelah 6 jam. Hari kedua dan ketiga masing-masing 300 mg atau dosis disederhanakan menjadi 2 x 300 mg/hr.Dosis total 1500 mg. • Pada P. vivax ditambahkan primakin 15 mg/hr selama 14 hr diberikan bersama atau setelah pemberian kloroquin, sedangkan pada P. falciparum diberi 3 sp 5 hr saja mensterilkannya. Obat alternatif : • Amodiakin 3x200 mg hari pertama, disusul 2x200 mg pd dua hari berikutx. • Sulfadoksin pirimetamin (Fansidar) dosis tunggal 2-3 tab. • Kina (Quinine sulfat) 3x650 mg oral selama 7 sp 14 hr. • Meflokuin 15 sp 25 mg/kgbb, dosis tunggal peroral terbagi dalam 2 dosis setiap 12 jam. • Halofantrin dg dosis 500 mg tiap 6 jam, total 1500 mg. • Qinghaosu, Kinghaosu dan Pironaridin. Beberapa antimikroba dapat digunakan untuk malaria : • Tetrasiklin 4x250 mg/hr, 7-10 hr. • Doksisiklin 2x100 mg/hr, 7 hr. • Klindamisin 3x300 mg/hr, 7-10 hr. • Spiramisin 3x500 mg. • Rifampisin 1x(450-600) mg. • Fluoroquinolon. • Sulfonamid. JENIS PENGOBATAN MALARIA Kemoprofilaksis Jarang dilakukan.

Pada keadaan akut • Klorokin basa (lihat diatas). Apabila terpaksa diberi obat secara parenteral berikan klorokin 200 mg im/6 jam, maksimal 800 mg/hr. • Kina sulfas, kina Hcl dlm NaCl fisiologis / Dx 5% dlm waktu 4 jam infus dan diulangi 12 jam kemudian, maksimal 1800 mg/24 jam. Terapi supresif Agar tidak timbul serangan malaria. Jenis obat yg digunakan : • Kloroquin untuk pendatang sementara ke daerah endemis. Dosis 300 mg/mgg, 1 mgg sebelum berangkat, selama dilokasi, sampai 4 mgg setelah kembali. Penduduk didaerah endemis dan penduduk baru yg akan menetap tinggal dianjurkan menelan kloroquin 300 mg/mgg selama 6 th atau amodiakin 600 mg/2 mgg. Semua penderita demam didaerah endemis diberi klorokin dosis tunggal 600 mg. Bila di daerah itu P. falciparum sudah resisten thd kloroquin ditambahkan primakin sebanyak 3 tab. • Mepakrin 100 mg/hr dimulai 2 mgg sebelum sampai, hingga 4 mgg setelah keluar daerah endemis tsb. • Pirimetamin (Daraprim) 50 mg/mgg sp dg empat mgg setelah meninggalkan daerah tsb. • Proguanil 100 mg/hr atau 300 mg dosis tunggal/mgg sp dg empat minggu setelah kembali. • Kina 1 tab (250 mg)/hr sp dg empat mgg setelah meninggalkan lokasi. Terapi radikal Untuk menghilangkan seluruh parasit malaria dalam tubuh, diberikan obat : • Klorokin seperti terapi akut bersama dg primakin 15 mg selama 14 hr. • Pirimetamin + sulfadoksin (Fansidar) plus primakin. Terapi kasus-kasus khusus 1. Malaria cerebral • Rawat ICU. • Obat yg diberikan parenteral adalah Kloroquin 200 mg im, diulangi 6 jam kmd. Maksimal 800 mg/hr, hati-hati. • Kina hidroklorida dalam NaCl fisiologis / Dx 5% dalam wkt 4 jam, diulangi 12 jam kmd. Dosis maksimal 1800 mg/24 jam. Kalau sudah sadar diteruskan dg pemberian peroral 3x650 mg sp 7 hr sejak hari pertama pemberian. • Kinidin (isomer kina) 15 mg basa/kgbb dlm lart. spt pd kina. Dilanjutkan peroral setelah sadar. • Dekstran molekul rendah, 500 cc/24 jam.

2. 3. 4.

5. 6. 7. 8.

9.

Bila ada hipoglikemi, diberikan 50 ml glukosa 40%/iv, lalu diteruskan dg Dx 10%. • Ada yg berhasil dg pentoksifilin 600 mg/hari plus kinin dan klindamisin. • Bila kejang diberikan Phenobarbital 3,5 mg/kgbb, Diazepam 10-20 mg/iv atau Klorpromazin 50-100 mg/im. • Pentoksifilin 600 mg/hr. • Kinin + Klindamisin. Gagal ginjal akut • Perlu dipertimbangkan hemodialisis secepatx, pengaturan cairan dan elektrolit. Malaria biliosa • Kina 20 mg/kgbb. Hipoglikemi • Apabila kadar gula darah sangat rendah (40 mg%), segera berikan 40 sp 50 ml Dx 40% bolus, lalu dilanjutkan glukosa 10% perinfus. Dapat juga diberikan obat yg menekan produksi insulin spt diazoxide, glukagon atau somastatin analogue. Malaria algid • Atasi syok yg ada. Edema paru • Pemberian cairan hrs hati-hati, transfusi darah pelan, pemberian diuretika. Anemi berat • Transfusi darah pelan (lebih baik darah segar) bila Hb gr% atau hematokrit turun. Blackwater fever • Harus istirahat. • Menghentikan muntah dg sedatif atau traquilizer (CPZ, Diazepam). • Bila hipotensi, secepatx diberi cairan plasma atau darah. • Bila ureum 200 mg% perlu hemodialisis. • Bila parasitemi tinggi diberikan kloroquin atau amodiakin. Bila resisten diberikan sulfadoksin + pirimetamin. Malaria ibu hamil • Kloroquin (600 mg + 300 mg : 300 mg : 300 mg) • Pirimetamin + Sulfadoksin (Fansidar) 1x3 tab.

MORBILI (MEASLES = PURUKASAEJA) Infeksi sel epitel kulit dan mulut. Masa inkubasi 10 - 14 hari. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Demam tinggi, malese. • Keluhan 3 C (Coryza, Conjunctivitis, Coughing). Tanda penting : • Eritema pd kulit muka, badan dan ekstremitas. • Tanda 3 C, koplik's spot pada mukosa mulut. • Lidah mirip lidah tifoid. Pemeriksaan laboratorium : • Lekopeni. KOMPLIKASI • Susunan saraf pusat. • Penyakit traktus respiratorius. • Infeksi sekunder. • TB. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat dan isolasi di tempat tidur sp apireksi. • Diet. • Vitamin A 2 x 400.000 IU peroral. Terapi komplikasi : • Bila ada infeksi sekunder beri antibiotik PROGNOSIS Negara berkembang mortalitas tinggi (10%). RABIES (LYSSA = LASSA = PENYAKIT ANJING GILA) Peradangan SSP. DIAGNOSIS Masa inkubasi 3-7 mgg. Gigitan dikaki 60 hr, dilengan 40 hr, kepala 30 hr. Keluhan pokok : • Demam, sefalgi, myalgi, malese. • Anoreksi, nausea, vomiting. • Sakit tenggorokan. • Batuk non produktif. • Pernah digigit hewan terutama anjing. • Rasa nyeri, kesemutan dan panas disekitar luka.

PROGNOSIS • Plasmodium vivax dpt menjadi kronis. • Plasmodium falciparum dapat menjadi sampai fatal.

malaria

berat

Tanda penting : • Hidrofobi, konvulsi, paralisis. • Parestesi, hiperhydrosis. • Hipersalivasi kental. • Mulut berbusa, hiperlakrimasi. • Menggigil, suhu badan naik. • Liar dan maniak. • Bingung-bingung, koma. • Priapismus dan ejakulasi spontan. Pemeriksaan laboratorium : • Isolasi virus rabies dari saliva, urine dan caran serebrospinalis. • Negri bodies pd sitoplasma sel ganglion otak, utamanya hipokampus. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Dilarang kegiatan jasmani berat dan minum alkohol selama terapi. • Luka gigitan segera dibersihkan dg air dan sabun, segera anti serum (SAR) 40 IU/kgBB diinfiltrasikan sekeliling luka gigitan. • Vaksinasi anti rabies (VAR) subkutan 2 ml perhari selama 14 hari, lalu diikuti booster hari ke 10, ke 20 dan ke 90 setelah suntikan terakhir. • Di USA diberi HDCV (Human Diploid Cell Rabies Vaccine) 5x suntikan 1 ml/im pd m. deltoideus pd hr ke 0, ke 3, ke 7, ke 14 dan ke 28 setelah gigitan. Booster setiap 2 sp 5 th. • Vaksinasi sebelum terpapar, suntikan pd hr ke 0, ke 21 dan ke 28. PROGNOSIS Jelek. DEMAM BERDARAH DENGUE Rx Ag-Ab makibatx vaskulopati, trombositopeni, koagulopati dan perubhan imunitas humoral dan seluler. DIAGNOSIS Masa inkubasi 2-7 hr. Keluhan pokok • Suhu meningkat tiba-tiba. • Sakit kepala supra / retroorbital. • Nyeri otot dan tulang belakang (breakbone fever).

• Gusi berdarah ketika sikat gigi. • Sakit perut dan diare. • Mual muntah. Tanda penting • Injeksi konjunctiva, lacrimasi, fotofobi. • Nyeri tekan pd otot. • Eksantem pd kulit (initial dan terminal rash). • Kurva suhu bifasik / sadddle back fever (suhu badan panas selama 3-7 hr, apireksi tjd bbrp jam sp 2 hr, lalu demam kembali). • Lidah kotor. • Perdarahan kulit (peteki, purpura, ekimosis). • Perdarahan epistaksis, melena, hematemesis. • Hepatomegali. • Tanda-tanda syok (tensi rendah, nadi cepat). Derajat DBD secara klinis Derajat I (Ringan), Demam Dengue (DF). • Demam 5-7 hari, bifasik (saddle back fever). • Sefalgi hebat. • Nyeri retroorbital. • Myalgi. • Nyeri tulang dan sendi. • Mual muntah. • Timbul ruam pada awal penyakit (1-2 hr) lalu hilang (hr 67), tu di kaki / tangan atau telapak kaki / tangan. • Uji Tourniquet (Rumpel Leede) positif. • Mungkin ada perdarahan spontan, tetapi tidak ada hemokonsentrasi. • Bila tak ada perdarahan spontan, tdk perlu dirawat di RS cukup diawasi. Derajat II (Sedang), Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). • Terjadi perdarahan spontan (gusi, sal. cerna, batuk darah). • Ada kebocoran plasma shg tjd peningkatan hematocrit, efusi pleura / peritoneum, hipoproteinemi. • Hepatomegali. • Rawat RS. Derajat III (Berat), Dengue Shock Syndrome (DSS). • Terjadi saat suhu menurun antara hari ke 3 dan ke 7. • Mula-mula letargi atau gelisah. • Lalu timbul tanda syok. • Rawat RS. Derajat IV (Sangat Berat), DSS.

Ada tanda syok yg berat (nadi tdk teraba dan tensi tak terukur). • Rawat RS. • Derajat III dan IV disebut Sindrom Syok Dengue (SSD/DSS). Pemeriksaan laboratorium. • Uji komplemen fiksasi (CF test). • Uji hemaglutinasi inhibisi (HI test). • Uji netralisasi (NT test). • IgM ELISA (Mac. ELISA). • IgG ELISA. • Trombositopeni. • Peningkatan hematokrit. KOMPLIKASI • Perdarahan spontan. • Syok hipovolemi. • DIC / Perdarahan Intravaskuler Menyeluruh (PIM). • Efusi pleura. PENATALAKSANAAN Terapi umum. Dianjurkan minum banyak agar kebutuhan cairan tubuh terpenuhi. • Istirahat tirah baring, kompres dingin. • Diet makanan lunak. • Medikamentosa simptomatis, parasetamol (asetosal dihindari). Terapi komplikasi. • Syok segera diatasi. • Minum banyak (lebih baik bila oralit / air kelapa). • Infus RL, salin (NaCl 0,9%). • WHO memberi pilihan Dx 5% + saline (aa) pd DBD, sedang pd DSS RL, Dx 5% + saline, Dx 5% + 0,5 saline (D5-0,5S), Dx 5% + 0,5 RL (D5+0,5RL) atau Dx 5% + 1/3 saline. • Bila ada perdarahan, transfusi darah segar. • Bila hanya DSS tanpa perdarahan diberi plasma darah saja. • Larutan koloid golongan karbohidrat (dekstran atau hexaethyl starch, HES). • Albumin. PROGNOSIS • Derajat I baik. • Bila ada syok atau perdarahan cukup berat. • Pada anak-anak lebih ringan.

PENYAKIT SAMPAR (PES) Reaksi radang, endo dan eksotoksin. Masa inkubasi 2-8 hari. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri didaerah inguinal. • Demam tiba-tiba, kadang sampai delirium. • Mialgi berat. • Menggigil. • Ada riwayat terpapar tikus. Tanda penting : Tergantung dari bentuknya : 1. Bentuk bubonik : • Bubo atau pembesaran kelenjar limfe terutama daerah inguinal dan femoral. 2. Bentuk septikemik : • Pucat. • Lemah sampai koma. 3. Bentuk pneumonik : • Batuk-batuk. • Sesak napas dg sputum yang cair. 4. Bentuk meningeal : • Sefalgia. • Kaku kuduk. • Kernig's sign positif. • Kejang sampai koma. Pemeriksaan laboratorium : • Biakan aspirat nodul limfe / darah. • Hapusan aspirat bubo ditemukan basil gram negatif. • Titer antibodi. • Lekositosis sampai memberi gambaran reaksi lekomoid (100.000/mm³). • Ada tanda PIM/DIC. PENATALAKSANAAN • Bentuk pneumonik perlu diisolasi. • Obat pertama Streptomicin im 30 mg/kgbb/hr, 3 sp 4x/hr, suntikan pertama 1 gr. • Obat alternatif Tetrasiklin sebagai lanjutan / bersamasama dg Streptomicin, dosis 30 mg/kgbb, Kloramfenicol 50 sp 75 mg/kgbb selama 10 hari, Trimetoprim Sulfametoksazol 2x2 tablet, Sulfadiazin.

PROGNOSIS • Mortalitas tergantung dari tipe dan terapi antibiotik. • Tipe pneumonik, septikemik dan meningeal hampir 100%. • Tipe bubonik 50 sampai 90%. ETANUS Eksotoksin mengenai SSP. Masa inkubasi 2-21 hari. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sebelumnya ada riwayat luka. • Trismus (sulit buka mulut). • Bayi tiba-tiba tdk dapat menetek. • Dysfagi. • Kejang-kejang. Tanda penting : • Umumx kesadaran baik. • Opistotonus (kaku kuduk). • Dinding perut kejang / tegang. • Tungkai mengalami ekstensi. • Lengan kaku. • Tangan mengepal. • Rhisus Sardonicus (wajah setan : alis tertarik ke atas, sudut mulut tertarik ke samping dan bawah, mulut tertekan pada bibir). • Hiperrefleksi : serangan mudah dicetuskan oleh rangsang ringan seperti suara, cahaya atau sentuhan. KOMPLIKASI Asfiksi dan fraktur vertebra. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat diisolasi dari rangsang, luka dirawat baik. • Diet TKTP, keseimbangan cairan dan elektrolit. • Obat pokok : Tetanus Imunoglobulin (TIG) lebih dianjurkan, dosis 500-1000 unit per im, antikonvulsan, Diazepam 0,51,0 mg/kgbb/4 jam im, Meprobamat 300-400 mg/4 jam im, Klorpromazin 25-75 mg/4 jam im, Fenobarbital 50-100 mg/4 jam im.

Obat alternatif ATS, ada yg mberikan pentotal perdrips/iv bila terjadi status konvulsi, antibiotik Penicilin Procain 1, 2, 3 juta unit/hr atau Tetrasiklin 1 gr/hr intravena selama 10 hari. Jika alergi PP dpt diberikan eritromisin. Pencegahan dg Toksoid Tetanus diberikan pd anak berumur 6 minggu sp 6 bl sbb : Suntikan Dosis Bulan I 0,5 ml 0 II 0,5 ml 1-2 III 0,5 ml 6 - 12 Booster 0,5 ml 120 Booster setiap 10 th bila anak berumur 7 th atau lebih. Apabila suntikan keempat anak belum berumur 4 tahun, dibooster waktu masuk TK. Lebih aman memberikan tetanus difteri setiap ada luka. Bila luka dalam dan kotor dikombinasi dg TIG.

PROGNOSIS Mortalitas tergantung : • Masa inkubasi semakin pendek makin tinggi angka mortalitasnya. Masa inkubasi kurang dari 7 hari umumx berakibat fatal. • Neonatus atau orang tua angka mortalitasnya tinggi. • Seringx kejang atau trismus. • Suhu badan. • Spasme otot pernapasan dan obstruksi saluran napas. • Cepatnya terapi. DEMAM TIFOID Endotoksin dan peradangan pada kelenjar limfoid. Masa inkubasi 10-14 hr. DIAGNOSIS Keluhan utama : • Demam terutama sore atau malam hari. • Obstipasi, anoreksi, batuk-batuk. Tanda penting : • Agak tuli. • Lidah tifoid (tremor, tengah kotor, tepi hiperemesis). • Nyeri tekan / spontan pd perut didaerah Mc Burney (kanan bawah). Pemeriksaan laboratorium : • Kultur empedu (darah, sumsum tulang). • Tes Widal : titer O 160, titer H 640.

Peningkatan titer Widal 4x dalam seminggu dianggap DT positf. Sindrom trias suspek demam tifoid : • Demam sore / malam hari. • Adanya lidah tifoid. • Nyeri spontan / tekan didaerah Mc Burney, sedangkan sisi kiri normal / kurang nyeri. KOMPLIKASI • Perdarahan khusus. • Perforasi usus. • Meningitis. • Ggn mental. • Syok septik. • Pneumoni. • Hepatitis. • Arthritis. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat baring ditempat tidur 5 sp 7 hr apireksi. • Diet tinggi kalori, cukup cairan. • Makanan sesuai selera penderita. • Langsung beri nasi / makanan padat lain asal rendah serat. • Obat pertama Kloramfenicol 3 x 500 mg sp 7 - 10 hr apireksi. Obat alternatif : Cotrimoxazole 2x2 tab/hr. Ampisilin / amoksisilin 3 x 0,5-1 mg/hr. Quinolon (Peflacin) 400 mg/hr. Seftriakson 2x1 gr/hr selama 3-5 hari. • Dalam keadaan toksis dapat diberikan corticosteroid dosis tinggi. Terapi komplikasi : Perdarahan usus : • Pemberian obat peroral tetap hati-hati, lebih baik dihentikan. • Diet halus, sebaiknya diet diberi parenteral. • Dapat diberikan obat hemostasis spt asam traneksamat (Cyklokapron). Perforasi usus : • Diet dan obat peroral dihentikan. • Segera konsultasikan ke bag. bedah.

PROGNOSIS Mortalitas anak 2,6%, dewasa 5,6%. Tergantung umur, keadaan umum, derajat kekebalan, virulensi Slmonella, kecepatan terapi. VARICELLA (CHICKENPOX) Masa inkubasi 10-20 hr. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Demam, malese, myalgi, sefalgi. • Keluhan lbh berat pada org dewasa dp anak-anak. Tanda penting : • Lesi bersifat sentrifugal mulai dari wajah ke ekstremitas. • Mulai muncul makula merah pd wajah dan badan. • Dalam 12-24 jam makula berturut-turut menjadi papula, vesikula, ruptur dan krusta. • Tanpa infeksi sekunder krusta akan jatuh dalam satu minggu. Pemeriksaan laboratorium : • Lekopeni. KOMPLIKASI • Infeksi sekunder luka. • Pneumoni. • Cacat pd bayi bila ibunya kena varicela pd saat didlm kandungan. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat dan isolasi ps sp krusta pertama hilang dan afebris / apireksi. • Diet. • Medikamentosa : obat pertama Asiklovir 30 mg//kgbb, Corticosteroid. Terapi komplikasi : • Antimikroba. PROGNOSIS • Sembuh dalam 2 minggu. THERAPY TB ♦ BTA (+) 2RHZE / 4R3H3 R400,H300,Z1500,E800/R600,H600 2RHZES / 1RHZE / 5R3H3E3

R450,H300,Z1500,E800,S750/R4500,H300,Z1500,E800/R600, H1200,E1200 ♦ Biakan (-) 2RHZ / 4R3H3 R450,H300,Z1500/R600,H600

NEFROLOGI
BATU BULI-BULI Tekanan mekanis pada buli-buli (v. urinaria). DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sering tidak dirasakan, nyeri supra pubik, hematuria. Tanda penting : • Pada tahap awal tidak ada. • Nyeri tekan supra pubis. Pemeriksaan laboratorium : • Hematuri, lekosuri. • Kristal-kristal yg membentuk batu. Pemeriksaan khusus : • USG, IVP. KOMPLIKASI • Infeksi saluran kemih. PENATALAKSANAAN • Istirahat, harus banyak minum air. • Diet seperti batu ginjal. • Antimikroba yang sesuai. • Operasi untuk menghilangkan batu. PROGNOSIS Tergantung dari besar batu.

• Kolik ureter pada perut unilateral hingga pinggang (khas). • Mual muntah, hematuri. • Ada riwayat kencing mengandung pasir / batu. Tanda penting : • Pada tahap awal kadang tidak jelas. • Nyeri perut pada perut sebelah lateral. Pemeriksaan laboratorium : • Hematuri, lekosuri. • Kristal-kristal yang membentuk batu. Pemeriksaan khusus : • USG, IVP. KOMPLIKASI • Obstruksi saluran hydronefrosis. • Infeksi saluran kemih. kemih, dapat mengakibatkan

PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Antimikroba yang sesuai. • Obat alternatif : antispasmodik. • Operasi untuk menghilangkan obstruksi. PROGNOSIS Tergantung dari besar batu, letak batu, adanya infeksi, adanya obstruksi. GAGAL GINJAL AKUT POSTRENAL Obstruksi traktus urinarius. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Poliuria lalu anuri. • Kolik ureter bila ada batu. Tanda penting : • Hydronefrosis bilateral. • Buli buli teraba. Pemeriksaan laboratorium : • Ureum, kreatinin meningkat. • Menyusul terjadi urin isotonik. Pemeriksaan khusus : • USG, BNO/IVP, CT scan. PENATALAKSANAAN

BATU URETER Adanya batu yang tersangkut dalam ureter. DIAGNOSIS Keluhan pokok :

• • •

Istirahat, masukan cairan diatur. Operasi mengatasi obstruksi. Dialisis.

PROGNOSIS GAGAL GINJAL AKUT PRERENAL Penurunan perfusi ginjal secara mendadak. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Oligouri (<400 ml/hr) sampai anuri (<50 ml/hr). • Sesuai dengan sebabnya ( dehidrasi, NSAID, sirosis, ACE inhibitor). • Haus, berat badan merosot. • Pusing pada setiap perobahan posisi tubuh. Tanda penting : • Takikardi, tekanan vena jugularis menurun. • Turgor kulit jelek. • Membrana mukosa kering. • Keringat kurang terutama axila. Pemeriksaan laboratorium : • Ureum / kreatinin naik. • Na rendah, isostenuri. • BJ urine >1.018. • Silinder hyalin +. PENATALAKSANAAN • Istirahat, jumlah cairan dibatasi. • Obat pertama Furosemide. • Dialisis : heodialisis, peritoneal dialisis. PROGNOSIS Tergantung penyebab, perbaikan terjadi segera dg perfusi ginjal. GAGAL GINJAL AKUT RENAL Gangguan pembuluh darah ginjal, iskemik atau toksin (Nekrosis Tubular Akut / NTA) atau penyakit akut tubulointerstitium. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Oligouri sampai anuri. • Mual muntah, berak darah. •

Tanda penting : Syndroma uremia: • Kesadaran menurun sampai koma. • Gastrointestinal : mual muntah, stomatitis, singultus / hiccup, berak darah. • Kardiovasculer : hipertensi, payah jantung, overhydrasi, pericarditis. • Pernapasan : asidosis (Kussmaul), Cheyne Stokes / stertoreus, napas bau ureum, pneumoni uremik. • Kulit / mukosa : perdarahan, dermatitis uremik, anemi, udema. Pemeriksaan laboratorium : • Proteinuri / albuminuri. • Sedimen urine mengandung : lekosit, RBC, silinder RBC / granuler. • Konsentrasi Na dalam urine tinggi (>20 mEq/l). • Osmolaritas urin rendah (<400 mOsm/l). • Rasio ureum urin / plasma kurang dari 10. • Rasio ureum / kreatinin plasma kurang dari 10 : 1. • Uji diabetik tidak memberi diuresis. Pemeriksaan khusus : • Imunofluorescens : pengendapan IgG, C3, mikroskop elektron : humps (pengendapan subepitelial). • SIdikan Technitium Tc99m. • Sidikan Iodohippurate Sodium 131. • Tehnik klirens isotop : klirens iothalamate. KOMPLIKASI • Infeksi, hiperkalemi, hyponatremi, asidosis metabolik. • Hipertensi, payah jantung. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat. • Diet : jumlah cairan 500 ml + urine + IWL. • Keseimbangan elektrolit Na sampai 500 mg/hr, K sebaiknya dihindari. • Makanan yang mengandung fosfat dibatasi. • Kalori cukup 2000-3000 kalori (karbohydrat minimal 200 gr/hr). • Protein dibatasi 0,3-0,5 gr/kgbb/hr. Lemak bebas diberikan, vitamin B comp. • Bila ada infeksi beri antibiotik. • Furosemide dosis tinggi.

• Dialisis bila ada indikasi (sindroma uremia). • Transplantasi ginjal. Terapi komplikasi : Hiperkalemi • Pengaturan diet. • Kalsium glukonat IV 0,5 ml/kgbb lart 10%. • Natrium bicarbonat 45-90 mEq/l IV. • Glukosa 25-50 gram dalam larutan hipertonik. • Insulin reguler. Asidosis metabolik • Na bicarbonat 0,3 x kgbb x (defisit HCO3 plasma dalam mEq/l) x 0,084. • Kalsium karbonat. Hipertensi • Atur diet. • Furosemide, Na nitroprussud, diasoksid. • Obat anti HT lain. Payah jantung kongestif • Furosemid. • Flebotomi. Infeksi • Antibiotik. PROGNOSIS • Kurang baik. • Kematian umumnya karena penyakit dasarnya. GAGAL GINJAL KRONIK Penurunan fungsi ginjal yang menahun dan umumnya irreversibel. Nefron kedua ginjal rusak. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Anoreksia, nausea, vomiting. • Gatal-gatal, kulit mudah lecet, insomni, impotensi, amenore. • Malese, kelemahan otot, nokturi, poliuri, konsentrasi menurun, bingung, sefalgi. Tanda penting : • Foetor uremik. • Urea frost (kristalisasi urea pada kulit). • Udema, lidah kering dan berselaput, stomatitis. • Hiccup (cegukan). • Gastritis erosif, anemis, HT.

• Disritmi, nafsu seks menurun. Pemeriksaan laboratorium : • Ureum, kreatinin naik. • Klirens kreatinin menurun. • Asam urat naik. • Rasio kalium / natrium naik (K naik, Na turun). • Dislipidemi • Asam guanidinosuksinat plasma naik. Pemeriksaan khusus : • USG, IVP. • Biopsi ginjal. KOMPLIKASI • Hiperkalemi, gangguan keseimbangan asam basa. • HT, pericarditis, gagal jantung. • Anemi, perdarahan usus, pleuritis, asidosis. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat. • Protein maksimal 30 gr/hr. Rendah kalori 40-50 kal/kg/hr. • Cairan dan elektrolit, pertama berikan 3000 ml IV, lalu berikan sampai diuresis cukup 40 ml/jam. • Cairan dibatasi bila ada : edema, hipertensi, gagal jantung kongestif. • Natrium dibatasi, namun cukup untuk mejaga volume cairan ekstraseluler. • Kalium dibatasi bila ada oligouria, • Bila kadar kalium >6,5 mEq/l perlu rawat inap. • Hiperkalemi akut diberikan insulin dan dekstrose IV, fludrokortison, albuterol nebuliser. • Hiperkalemi kronis dapat diberikan natrium polystyrene sulfonate (Kayexalate).


• •

Obat pertama : bila ada asidosis metabolik diberikan Natrium bikarbonat 20-30 mmol/d atau Natrium sitrat. Sebaiknya dikombinasi dengan loop diuretik. Obat alternatif : Erythropoetin bila ada anemia dosis 25-50 unit/kgbb 3x/mgg, iV/SC, lalu dinaikkan setelah 18-12 minggu. Preparat kalsium 3 x 650 mg bila terdapat hipokalsemia dan hiperfosfatemi.

• • • • Terapi • •

Allopurinol bila ada hiperurisemi dan terjadi arthritis gout. Transfusi darah bila sangat perlu. Dialisis. Transplantasi ginjal terbaik. komplikasi : Bila ada asidosis : Bikarbonat natrium 2-3 x 600 mg/hr. Bila terdapat HT : ACEI atau CCB (Calcium Channel Blocker).

Perdarahan otak.

PENATALAKSANAAN • Istirahat, harus rawat inap. • Diet rendah garam. • Obat pertama tdk ada yg spesifik, terapi infeksi pencetus. • Obat alternatif antihipertensi, diuretikum. PROGNOSIS • Sekitar 95% sembuh setelah 2 bulan. • SIsanya 5% menjadi persisten. HIPERKALEMI Kadar kalium naik dalam darah akibat masukan kalium yang berlebihan atau pengeluaran menurun. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sering tanpa keluhan, aritmi jantung, lemah. • Meteorismus, diare. Tanda penting : • Paralisis flaksid. • Pada EKG : gelombang T meninggi, QRS melebar dan bifasik, fibrilasi ventrikel, terakhir henti jantung. Pemeriksaan laboratorium : • Kadar kalium dalam plasma : >5 mmol/ltr. • Kalium urine dalam 24 jam. • Analisis gas darah. • Kadar ureum dan kreatinin meningkat. • Kreatinin fosfokinase. • Kadar aldosteron dalam darah. Pemeriksaan khusus : • EKG. KOMPLIKASI • Gangguan fungsi neuromuskuler (kelemahan, paralisis flaksid, meteorismus, diare), • Gangguan irama jantung (bradikardi, fibrilasi ventrikel, henti jantung). PENATALAKSANAAN

PROGNOSIS Kurang baik. GLOMERULONEFRITIS AKUT Reaksi autoimun yang mengakibatkan pengendapan IgG, C3, subepitel pada membrana basalis glomerulus selanjutnya menyebabkan peradangan, koagulasi glomeruli, membrana glomeruli menjadi porous sehingga molekul-molekul protein melewatinya membentuk silinder hyalin. Masa inkubasi 2-3 mgg post infeksi dg Streptokokus grup A ß hemolltikus. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Edema mendadak mulai pada muka / kelopak mata, lalu pada kaki dan pada kemaluan. • Oligouri / anuri. • Hematuri. Tanda penting : • Edema anasarca. Pemeriksaan laboratorium : • Proteinuri / albuminuri. • Sedimen urine mengandung lekosit, eritrosit (RBC), silinder RBC / granuler. Pemeriksaan khusus : • Immunofluoresens : pengendapan IgG, C3. • Mikroskop elektron : humps (pengendapan subepitelial). KOMPLIKASI • Gagal ginjal akut. • Gagal ginjal kronik. • Hipertensi. • Edema pulmonal. • Ensefalopati. • Payah jantung.

• • • • • • • • •

Istirahat, dalam keadaan berat harus dirawat di rumah sakit. Diet rendah kalium. Obat pertama : Kalsium glukonat dosis 5-30 ml, 10% IV. Kalsium klorida dosis 5-30 ml, 10% IV. Bicarbonat / NaHCO3, dosis 44-88 mEq (1-2 ampul) IV, lebih dari 60 menit. Reguler insulin dosis 5-10 unit IV, dalam glukosa 5%, 25 g (1 ampul) atau dalam 100 ml dekstrose 10% IV. Albuter nebulizer dosis 10-20 mg dalam 4 ml garam fisiologis selama 10 menit. Furosemide, dosis 40-60 mg IV. Obat alternatif : dialisis.

• • • •

Hipernatremi disertai hipovolemi : garam fisiologis (0,9%) dilanjutkan dg NaCl 0,45% dan dekstrose bila dehidrasi sudah teratasi. Hipernatremi disertai euvolemi : cukup dg minum air atau dekstrose 5%. Hipernatremi disertai hipervolemi : dekstrose 5% plus furosemide 0,5-1 mg/kg. Bila ada gagal ginjal dibutuhkan dialisis.

PROGNOSIS D HIPOKALEMI Kadar kalium darah turun akibat pengeluaran yang berlebihan ataupun asupan yang kurang. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Rasa capek, otot-otot lemah, obstipasi, poliuria. Tanda penting : • Meteorismus sampai ileus. • Paralisis flaksid. • Hiporefleksi. • Pada EKG (menyerupai intoksikasi digitalis) : gelombang T mendatar, gelombang U lebih jelas, segmen ST depresi, blok atrioventrikuler, terakhir henti jantung. Pemeriksaan laboratorium : • Kadar kalium darah <3,5 mEq/ltr. • Kadar K, Na dan Cl dalam urine 24 jam. • Kadar Mg dalam serum. • Analisis gas dalam darah Pemeriksaan khusus : • EKG. KOMPLIKASI • Kelemahan otot. • Kejang-kejang / kaku otot. • Ileus, konstipasi. • Paralisis flaksid, hiporefleksi, rhabdomyositis. PENATALAKSANAAN • Istirahat, monitoring EKG selama pemberian Kalium.

PROGNOSIS Bila tidak segera diatasi dapat fatal. HIPERNATREMI Kadar natrium serum lebih akibat pengeluaran cairan berlebihan atau pemberian natrium berlebihan (>0,150 mmol/l). DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Lemah, kehausan, berat badan merosot. • Volume urine kering, palpitasi, demam. Tanda penting : • Hipotensi, oligouri, delirium, koma. • Kejang-kejang. Pemeriksaan laboratorium : • Kadar natrium dalam serum. • Kadar natrium dalam urine sewaktu. • Osmolalitas sewaktu. KOMPLIKASI • Kesadaran menurun, kejang-kejang. • Thrombosis / perdarahan serebral. • Berat badan menurun. • Hipotensi, takikardi, demam, rasa haus. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Obat pertama disesuaikan dg keadaannya.

• • •

Diet jus buah-buahan cukup bila kalium >3 mEq/l. Atasi sumber penyakit. KCl dosis maksimal 20 mmol/jam dalam larutan 50-100 dekstrose 5%.

HT Systolik Borderline

≥140 140-149

<90 <90

• HIPONATREMI Pengeluaran natrium berlebihan atau asupan kurang. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Anoreksi, kejang-kejang. Tanda penting : • Letargi, kebingungan, koma. Pemeriksaan laboratorium : • Pemeriksaan natrium dalam serum <130 mEq/l. • Pemeriksaan Na, K dan Cl dalam urine sewaktu. • Pemeriksaan osmolalitas urine Pemeriksaan khusus : • Foto dada. KOMPLIKASI • Kesadaran menurun. • Kejang-kejang. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Obat disesuaikan dg keadaannya. Hiponatremi disertai hipovolemi : garam fisiologis atau RL injeksi. • Hiponatremi disertai euvolemi atau hipervolemi : restriksi cairan (0,5-1 liter)/24 jam, restriksi asupan natrium, dapat diberikan diuretik.

DIET RENDAH PROTEIN (Pada Renal Failure) I. Energi 1575 cal, Protein 20 gr, Na 172 mg II. E 2015 cal P 40 gr Na 282 mg III. E 2125 cal P 60 mg Na 507 mg DIET RENDAH GARAM DRG I Na 200-400 mg Tdk boleh diberi garam sama sekali utk ps udem, ascites, dan HT berat DRG II Na 600-800 mg Boleh ¼ sdt garam utk ps udem, ascites, HT sedang DRG III Na 1000-1200 mg Boleh ½ sdt garam utk udem dan HT ringan DIET RENDAH PURIN Untuk penderita hiperuricemi dan atau gout. ♦ Kadar purin dalam makanan normal sehari dpt mencapai 600- 1000 mg, sedangkan diet rendah purin mengandung 120- 150 mg purin. ♦ Konsumsi lemak dibatasi karena cenderung menghambat pengeluaran asam urat. ♦ Konsumsi karbohidrat tinggi dan banyak minum cairan dapat membantu pengeluaran as. urat. Makanan yang tidak diperbolehkan. ♦ Sarden, jeroan (hati, limpa, jantung, ginjal, usus, paru), otak, ekstrak daging (kaldu), bebek, angsa, burung, kerang dan minuman yang mengandung alkohol. Makanan yang dibatasi. ♦ Daging, ayam, ikan (tongkol, tenggiri, bawal,bandeng) maksimum 50 gr sehari. ♦ Kacang-kacangan kering maksimum 50 gr sehari. ♦ Tahu, tempe dan oncom maksimum 50 gr sehari. ♦ Sayuran kembang kol, bayam, jamur, asparagus, kacang buncis, kacang polong, maksimum 50 gr sehari. Makanan yang diperbolehkan. ♦ Semua karbohidrat (nasi, jagung, mie, ubi, singkong)

HIPERTENSI Optimal Normal Tinggi Normal HT Ringan Borderline Sedang Berat

Systole <120 <80 <139 <85 130-139 85-89 140-139 90-99 140-149 90-94 160-179 100-109 ≥180 ≥110

Diastole

♦ ♦ ♦ ♦

Buah-buahan. Sayuran kecuali yang dibatasi. Susu non fat, telur. Semua bumbu kecuali ragi.

DIET RENDAH KOLESTEROL ♦ Untuk penderita dengan kadar kolesterol tinggi dan trigliserida normal atau agak tinggi, maka konsumsi kolesterol sehari rendah (tidak lebih dari 300 mg), lemak dibatasi sedangkan KH tidak dibatasi. ♦ Untuk penderita dg kadar trigliserida tinggi dan kadar kolesterol normal atau agak tinggi maka konsumsi lemak, KH dan kolesterol dibatasi (konsumsi kolesterol 300-500 mg sehari). ♦ Asupan kalori disesuaikan dg kebutuhan. ♦ Asupan protein tdk dibatasi dan dianjurkan serat tinggi. Makanan yang harus dihindari. ♦ Semua daging berlemak spt babi, kambing, kornet, udang, kuning telur, kerang, jeroan. ♦ Susu full cream, keju, es krim, permen coklat. ♦ Kue yg dibuat dari susu full cream dan mentega. ♦ Minyak kelapa, kelapa, santan kental, lemak hewan, margarin dan mentega. Makanan yang harus dibatasi. ♦ Makanan dan minuman yang terlalu manis, misalnya sirop, dodol, kolak, es krim. ♦ Daging tak berlemak maksimum 100 g/hari. Makanan yang diperbolehkan. ♦ Semua jenis sayuran dan buah segar. ♦ Kacang-kacangan dan hasil olahannya spt tahu,tempe, oncom, keju, kacang tanah dll. ♦ Ikan, putih telur, susu skim, yoghurt dari susu skim. ♦ Semua minyak tumbuhan (kecuali minyak kelapa), spt minyak jagung, kacang tanah, biji bunga matahari, biji kapas, wijen dll. DIET PADA PENYAKIT HATI ♦ Kalori yang diberikan tinggi, terutama dari KH. ♦ Lemak yang diberikan dalam jumlah sedang dan dipilih lemak yang mudah dicerna. ♦ Garam dibatasi bila terjadi penimbunan garam / air (terjadi udem). ♦ Protein diberikan secara bertahap sesuai kondisi penderita. Makanan yang harus dihindari ♦ Makanan yg banyak mengandung lemak seperti daging kambing, daging babi, usus, babat, otak, santan kental, kornet, sarden, sosis, ikan asin.

♦ Bahan makanan yang menimbulkan gas spt ubi, kacang merah, kol, sawi, lobak, timun, durian, nangka. ♦ Bumbu yang mengandung garam seperti terasi, tauco, petis, vetsin, kecap asin, soda kue. ♦ Minuman beralkohol. ♦ Bumbu yang merangsang. Makanan yang harus dibatasi ♦ Daging sapi, telur, susu, ayam, hati, ikan. ♦ Tahu tempe, kacang hijau. ♦ Margarin dan minyak. Makanan yang diperbolehkan ♦ Gula, madu, sirop, bubur, nasi tim dan sumber KH lain yang tidak dilarang. ♦ Buah yang manis dan tidak banyak serat. ♦ Bumbu-bumbu yang tidak merangsang. HIPERTENSI ESENSIAL HT esensial / primer / idiopatik : hipertensi yang tidak diketahui sebabnya. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sefalgi, pusing, migren, insomnia, rasa berat ditengkuk, epistaksis, tinitus. • Penglihatan berkunang-kunang, palpitasi, nokturi, sering marah. Tanda penting : • Sulit ditentukan. • TD lebih dari normal. KOMPLIKASI • Payah jantung. • Perdarahan otak. • HT maligna : HT berat yang disertai kelainan retina, ginjal dan serebral. • HT ensefalopati : komplikasi HT maligna dg gangguan otak. PENATALAKSANAAN Terapi Umum • Istirahat. • Diet rendah garam, penurunan BB, olahraga teratur. • Menghindari fc resiko : rokok, alkohol, hiperlipidemi, stres. Medikamentosa Obat pertama

Diuretik - Tiazid - Hidroklortiazid (HCT) 1-2x(25-50) mg/hr. - Furosemide 40 mg/hr. - Asam etakrinat, ds awal 50 mg pagi hr. - Spironolacton (aldakton) 1-2x(50-100)/hr. - Indapamid 4x(2,5-5) mg/hr.

-

Losartan 1x1 tab. Candesartan celexetil (blopress) 1x1 tab (16 mg). Irbesartan. Micardis (telmisartan)

• •

Penghambat simpatetik - Metildopa (2-3)x250 mg/hr. - Klonidin 0,1-1,2 mg/hr - Reserpin 1-2x(0,1-0,2) mg/hr. Beta bloker Larut dalam lemak - Propranolol (inderal) 3x(40-160) mg/hr. - Asebutolol (sectral) 3x(400-1200) mg/hr. - Alprenolol. - Metoprolol (lopresor). - Oksprenolol (trasicor). - Pindolol (visken) 2x5-30 mg/hr. - Timolol (blocarden) 2x(10-30) mg/hr. Larut dalam air - Atenolol (tenormin) 1x(25-250) mg/hr. - Nadolol (corgard) 1x(40-240) mg/hr. - Praktolol. - Dotalol. Vasodilator - Prazosin 2,5-7,5 mg/hr. - Hidralazin 10-25 mg/hr. - Minoksidil 12,5-25 mg/hr. - Diazoksid, awal 300 mg/IV. - Sodium nitroprusid 3 µg/kg/mnt. ACE inhibitor - Kaptopril 1-2x12,5 mg/hr, lalu dinaikkan. - Enalapril 1-2x(2,5-40) mg/hr. - Zilazapril (inhibace) 1x1 tab. - Lisinopril 1x (10-40) mg/hr. - Fosinopril 1x(10-80) mg/hr. - Ramipril 1-2x(2,5-20) mg/hr. Penghambat angiotensin II - Valsartan (diovan) 1x1 cap.

Antagonis kalsium - Diltiazem (3-4)x30 mg/hr. - Verapamil 3x(120-480) mg/hr. - Nifedipin 3x(10-40) mg/hr. - Nicardipin 3x(30-120) mg/hr. - Isradipin 2x(2,5-10) mg/hr.

Terapi Komplikasi HT Maligna : a. Parenteral : • Klonidin 6 ampul (0,90 mg) dalam dekstrose 5%, kombinasi dengan furosemide. • Diazoksid 100 mg, diulangi tiap 10 sp 15 menit. • Sodium nitroprusid : hrs dg pengawasan yg baik karena cepat sekali (30 detik) menurunkan TD. • Hidralazin. • Reserpin. b. Peroral : • Kaptopril. • Klonidin. • Minoksidil. • Nifedipin sublingual. PROGNOSIS Pada umumnya hipertensi merupakan penyakit seumur hidup. INFEKSI SALURAN KEMIH Infeksi saluran kemih dua macam : 1. ISK bag bawah : uretritis, sistitis, prostatitis. 2. ISK bag atas : pyelonefritis akut, abses intra dan perirenal. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Disuri, polakisuri, urgensi (terdesak miksi). • Nyeri supra pubis. • Tenesmus (rasa nyeri dan ada keinginan miksi walau bulibuli kosong). Keluhan tsb umumnya karena sistitis. • Stranguri (kencing susah + kejang otot pinggang).

Nokturi. Panas, menggigil, mual muntah, umumnya karena pyelonefritis. • Enuresis nokturnal sekunder (mengompol pada orang dewasa). • Prostatismus (sulit memulai miksi, arusnya kurang deras, berhenti sementara miksi). Tanda penting : • Nyeri ketok dipinggang tanda pyelonefritis. Pemeriksaan laboratorium : • Piuri (> 10/LPB). • Silinder lekosit. • Hematuri (> 5/LPB). • Proteinuri. • Bakteriuri (> 100.000 koloni/ml urine). • Urine tampak keruh. KOMPLIKASI • Gagal gnjal kronis. PENATALAKSANAAN • Istirahat, upayakan segera miksi setelah refleks miksi muncul. • Pada wanita bila cebok tangan dari arah belakang tidak sampai ke depan / vagina / orificium uretrae. • Cukup vitamin A dan C untuk mempertahankan epitel saluran kemih. • Obat terbaik sesuai kultur. • Sefotaksim. • Seftriakson 2-3 x 1 gr/hr. • Kotrimoksazol, dosis tunggal 4 tablet. • Trimetoprim : 400. • Fluoroquinolon (norfloxacin, ciprofloxacin, ofloxacin). • Amoksisilin 3 gram. Obat ini sepertiganya resisten terhadap E. coli. • Doksisiklin pada klamidia 2 x 100 mg/hr. • Aminoglikosida. • Sefalosforin generasi ketiga. • Bila penyakit berat atau ada tanda urosepsis, harus rawat inap dan secara empiris dapat diberikan Imipenem, Penisilin / Sefalosforin plus Aminoglikosida dan Seftriakson atau Seftazidine. Obat tsb diberikan 7-14 hr, ditindaklanjuti 7-21 pasca terapi. • Pada ibu hamil, sistitis akut diberikan amoksisilin, nitrofurantoin atau sefalosforin.

• •

PROGNOSIS • Kalau segera diterapi umumnya baik. • Dapat terjadi gagal ginjal. • Pada sistitis (saluran kemih bagian bawah) hampir selalu reinfeksi bukan relaps. • Pada saluran kemih bagian atas lebih banyak terjadi relaps daripada reinfeksi. KRISIS HIPERTENSI Kerusakan organ-organ tubuh akibat tekanan darah yang tiba-tiba meningkat, seperti perdarahan intraserebral, ensefalopati, infark myocard, edema paru, gagal ginjal akut. Diagnosis Keluhan pokok • Fc pencetus : trauma, uremia, tumor abdomen, tumor endokrin. • Sebelumnya pasien adalah penderita HT. • Keluhan angina pectoris. • Keluhan infark myocard. Tanda penting • HT darurat (emergensi) : TD diastolis >120 mmHg, perdarahan intracranial, ensefalopati, gagal jantung kiri dg edema paru, diseksi aorta (dissecting aneurisma aorta), eklampsi, gagal ginjal akut, hematuri. • HT gawat (urgensi) : HT berat, edema papil, komplikasi organ yang progresif, HT perioperasi, HT karena nyeri atau stres. • Accelerated hypertension : HT berat, tekanan diastolik >140mmHg + retinopati (papil edema, perdarahan, eksudasi). Pemeriksaan laboratorium • EKG, urinalisis, darah perifer. • Ureum kreatinin, elektrolit darah. Pemeriksaan khusus • USG, foto thorax. • Funduskopi. Komplikasi • Perdarahan intraserebral. • Infark serebral. • Ensefalopati. • Retinopati.

• • • • •

Penyakit jantung koroner. Diseksi aorta. Gagal ginjal akut. Edema paru. Anemia hemolitik mikroangiopati.

• •

Furosemide, dosis 10-80 mg. Bila TD sudah terkontrol, obat tetap dapat dilanjutkan parenteral dg tappering off selama 2-3 hr.

Penatalaksanaan • Rawat diruangan gawat darurat. • Ukur tensi 15-30 menit. • Turunkan rata-rata TD sebanyak 25% dalam beberapa menit sampai 2 jam (HT darurat) atau dalam 24-28 jam (HT gawat). • Diet pantang garam. • Obat pertama peroral : Klonidin dosis awal 0,1-0,2 mg lalu dilanjutkan 0,05-0,1 mg, diberikan 4x sehari, maksimal 0,8 mg. • Captopril : dosis mulai 6,25-12,5 mg. • Prazosin, dosis 1-2 mg. • Minoksidil, dosis 5-10 mg kombinasi dg obat lain. • Nitrogliserin, sublingual, dosis 1/150 gr. • Nifedipin dosis 10-20 mg. • Obat intravena : Sodium nitroprusid, 16 µg/mnt, 1-6 µg/kgBB/menit. • Trimetafan, 0,5-5 mg/mnt. • Diazoksid, bolus 50 mg 4x setiap 5-10 mnt, atau drip 7,530 mg/mnt + propranolol. • Hidralazin, 10-20 mg dapat diulang setelah 20 menit. • Methyldopa, dosis 4 x (250-500) mg/hr. • Fentolamn, dosis awal 5-10 mg 4x setiap 15 menit, infus 0,2-0,5 mg/mnt. • Labetalol, dosis 20-40 mg setiap 10 menit, maksimal 300 mg. • Nikardipin, dosis 5 mg/jam diitingkatkan 1-2,5 mg/jam setiap 15 menit. • Nitrogliserin, dosis 5-100 µg/mnt. • Dilevalol, dosis 10 mg dilanjutkan 25-100 mg setiap 15 menit. • Enalapril, dosis 1,25 mg dilanjutkan 2,5-10 mg setiap 30-60 menit. • Fenoldopa mesilat, dosis 0,1-0,3 µg/kg/mnt. • Esmolol hidroklorida, dosis 250-500 µg/kg/mnt selama 1 menit dilanjutkan 50-100 µg/kg/mnt selama 4 menit, dosis dapat diulangi.

NEFROLITIASIS Jenis batu : batu kalsium, batu asam urat, batu struvite, batu sistin. Tekanan mekanis pada ginjal. Sekitar 70-88% terdiri dari batu kalsium. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri pinggang mulai perlahan-lahan. • Kolik ginjal sampai ke paha. • Hematur, mual muntah. • Keringat, stranguri. • Demam tanpa infeksi. Tanda penting : • Pada tahap awal kadang tidak ditemukan • Nyeri ketok pada pinggang. Pemeriksaan laboratorium : • Hematuri, leukosuri. • Kristal-kristal yang membentuk batu. Pemeriksaan khusus : • USG, IVP. KOMPLIKASI • Obstruksi. • Infeksi saluran kemih. PENATALAKSANAAN • Istirahat, harus banyak minum / cairan. • Diet disesuaikan dg jenis batu : batu kalsium perlu dibatasi ikan teri, bayam, coklat, kacang, teh, strawberry. • Batu urat perlu dibatasi jeroan, otak dan makanan yang banyak mengandung purin. • Rendah protein, rendah garam. • Beri antimikroba yang sesuai bila terdapat infeksi. • Batu urat (hiperurikosuria) : allopurinol 3x100 mg/hr, kalium sitrat. • Hipositraturi : kalium sitrat. • Hiperkalsiuri : tiazid. • Batu sistin : D-penicillamine. • Obat alternatif : analgesik NSAID, opiat, antispasmodik.

• •

Operasi bila ada obstruksi atau batunya besar. Extracorporeal lithotripsy.

Paling banyak berakhir dg gagal ginjal. PYELONEFRITIS Radang pada pyelum dan nefron yang disebabkan oleh infeksi pada ginjal, umumnya berasal dari infiltrasi bakteri dari pelvis renis kedalam parenkim ginjal, sehingga menyebabkan destruksi yang besar pada ginjal. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Demam, menggigil. • Irritative voiding symptoms (sering miksi, mendesak dan disuri). • Nyeri pinggang, mual sampai muntah. Tanda penting : • Nyeri ketok pada pinggang yang terkena (angulus costovertebral). Pemeriksaan laboratorium : • Lekositosis (shift to the left). • Kultur urine positif hebat. • Urinalisis : pyuri, bakteriuri, hematuri. • Silinder lekosit +. Pemeriksaan khusus : • USG, IVP. • Imaging : bila ada komplikasi : hydronefrosis. KOMPLIKASI • Batu saluran kemih. • Obstruksi saluran kemih. • Hydronefrosis. • Insufusuensi ginjal. • Hipo / isostenuri. • Hipertensi. • Sepsis. PENATALAKSANAAN • Istirahat, hindari hubungan seksual, banyak minum bila fc ginjal masih baik. • Antibiotik sesuai hasil kultur / pengalaman. • Kotrimoksazole 2x2 tab. • Obat alternatif Bikarbonat 4x2 gr untuk alkalinasi urine. SYNDROM NEFROTIK Proteinuri yang masif karena membrana glomerulus porous (diikuti hipoproteinemi, edema anasarca, hiperlipidemi).

PROGNOSIS Gagal ginjal, tergantung pada besar batu, letak batu, adanya infeksi, adanya obstruksi. NEFROPATI DIABETIK Kerusakan glomerulus yang mengakibatkan gangguan fungsi ginjal (albuminuri) karena DM. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Ada riwayat dan keluhan keluhan DM. • Lemah, keluhan-keluhan GGK. Tanda penting : • Tanda-tanda GGK, pucat. • Hipertensi. Pemeriksaan laboratorium : • Gula darah puasa >126 mg%. • Gula darah 2 jam sesudah puasa >200 mg%. • Mikroalbuminuri (ekskresi albumin 20-200 µg/menit atau >300 mg/24 jam. • HbA1C Pemeriksaan khusus : • Funduskopi ada retinopati diabetik. • Biopsi ginjal : hipertrofi glomerulus, glomerulosklerosis, hyalinosis arteriole. • USG. KOMPLIKASI • Hipertensi, gagal ginjal kronik, ISK, ketoasidosis diabetik. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Diet disesuaikan dg kebutuhan penderita 35 Kcal/kgbb/hr, protein dibatasi 0,8 g/kgbb/hr bila ada albuminuri. • ACEI/ACEI + antagonis kalsium bila ada HT. • Insulin bila gula darah tidak terkontrol dg diet. • Hemodialisis. • Transplantasi ginjal. PROGNOSIS

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Bengkak seluruh tubuh dimulai dari kelopak mata, lalu dada, perut / ascites, tungkai dan genital. • Bengkak demikian sudah berulang. • Urine keruh. Tanda penting : • Edema anasarca / generalisata. • Sesak, anemi ringan, hipertensi ringan. Pemeriksaan laboratorium : • Proteinuri masif (>3,5 g/24 jam). • Hipoalbuminemi (<3,5 g%). • Hiperkolesterolemi (>250 mg%). • Lipiduri. • Silinder dalam urine. • Fungsi ginjal. Pemeriksaan khusus : • Esbach. • Elektrolit (Na, K, Cl) • Biopsi ginjal. KOMPLIKASI • Hipoalbuminemi yang berat. • Hipokoagulasi / thrombosis. • Gagal ginjal akut. • Infeksi. • Malnutrisi. • Hiperlipidemi. • Defisiensi vitamin D. PENATALAKSANAAN • Istirahat, tirah baring sambil memakai stocking yang agak ketat. • Diet protein tinggi tidak lagi dianjurkan, cukup 40-60 gr/hr plus yang keluar.. • Garam dan cairan dibatasi, kalori tinggi. • Prednison, dosis 2 mg/kgBB/hr selama 2-4 minggu bila remisi lengkap, dilanjutkan berselang sehari 2 mg/kgBB/hr selama 1 bulan, lalu diturunkan bertahap sampai 4-6 bulan. • Atau 60-80 mg/hr selama 2-4 mgg. Bila ada remisi lengkap dilanjutkan selama 4-6 bulan dg intermitten. • Siklofosfamid, dosis 0,5-3 mg/kgBB/hr selama 1-3 mgg. • ACE ihibitor.

Obat alternatif furosemide atau tiazide dosis rendah, antibiotik proflaksis dapat dipertimbangkan, NSAID.

PROGNOSIS Perjalanannya hilang timbul.

RHEUMATOLOGI
ARTHRITIS RHEUMATOID Peradangan kronik rawan sendi dan sendi akibat pengendapan komplek imun (Ag-Ab) dalam ruang sendi melalui reaksi autoimun. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri, hangat dan bengkak pada sendi. • Morning stiffness. • Malese, demam, berat badan menurun. • Terjadi perlahan-lahan. Tanda penting : • Bengkak pada sendi-sendi kecil dan simetris. • Ekstraartikuler : nodul subkutaneus, efusi pleura, pericarditis, limfadenopati, splenomegali, neuropati, Sjorgren syndrome. Pemeriksaan laboratorium : • LED sangat tinggi, anemi. Pemeriksaan khusus : • Ro : ruang sendi menyempit. • Fc rheumatoid serum positif. • ANA test, HLA DR-4. • Analisis cairan synovia. KOMPLIKASI • Kerusakan sendi, sindrom terowongan karpal. • Pericarditis, pleuritis, skleritis. • Neuropati perifer, nodula subkutan. • Anemi, osteoporosis, sindrom Felty. PENATALAKSANAAN • Istirahat tirah baring, fisioterapi. • NSAID sesudah makan : asam mefenamat, indometasin, diklofenak. • Korticosteroid IM.

• • •

Obat alternatif : DMARD (disease modifying anti rheumatic drugs). Obat remitif : Kloroquin 1 x 250 mg/hr, Salazopirin 3 x 500 mg/hr. Terapi komplikasi : Prednison 10 mg/hr.

Keluhan pokok : • Nyeri lokal atau nyeri pada pergerakan. • Pembengkakan. Tanda penting : • Nyeri tekan dan eritema. PENATALAKSANAAN • Istirahat, harus hindari pergerakan sendi yang menimbulkan nyeri. • Pemasangan bidai terutama untuk mencegah nyeri pada siku dan pergerakan tangan. • Fisioterapi. • NSAID, analgetik, suntikan lokal kortikosteroid dan xylocain. • Obat alternatif : Tetrasiklin intrabursal, 250 mg dalam 5-10 ml dalam garam fisiologis.

PROGNOSIS Perjalanan penyakit mengalami relaps dan remisi. Setelah 5-10 tahun, remisi mulai sulit dipertahankan.

ARTHRITIS SEPTIK Infeksi pada sendi. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri sendi akut yang umumnya mengenai satu sendi lutut. Tanda penting : • Pembengkakan jaringan lunak sekitar sendi. Pemeriksaan laboratorium : • Cairan sendi : keruh, lekosit meningkat, kultur bakteri positif. Pemeriksaan khusus : • Radiologi : pembengkakan jaringan lunak, celah sendi melebar KOMPLIKASI • Sepsis, Osteomyelitis. PENATALAKSANAAN • Istirahat mutlak. • Antibiotik spektrum luas atau sesuai hasil kultur. • Invasif : drainase atau aspirasi cairan sendi. • Operasi dilakukan bila : ada osteomyelitis, sulit dilakukan drainage dan infeksi semakin meluas. BURSITIS Peradangan bursa pada tempat perlekatan tendon atau otot dengan tulang. DIAGNOSIS

CARPAL TUNNEL SYNDROM Terjepitnya N. medianus dalam tunnel (terowongan), akibat edema atau penekanan tumor. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Parastesi pergelangan tangan melalui telapak tangan menuju jari I, II, III dan sebagian jari IV, dan dapat menjalar ke lengan, sehingga penderita mengibasngibaskan tangan untuk menghilangkan rasa nyeri. • Kadang rasa panas di telapak tangan. • Barang yang dipegang tiba-tiba terlepas. • Lebih lanjut, nyeri menjalar ke lengan atas dan leher. Tanda penting : • Tidak ada kelainan, kecuali kalau terjadi atrofi otot tenar dalam keadaan yang berat. • Tes provokasi (Phalen's test) positif : nyeri bertambah pada ekstensi / fleksi maksimal pergelangan tangan selama 60 detik. • Tinel's sign yaitu perkusi ringan N. medianus pada pergelangan tangan timbul rasa nyeri yang menjalar ke lengan dan jari I-III. Pemeriksaan laboratorium : • Elektromyografi menunjukkan kelainan N. medianus.

PENATALAKSANAAN • Istirahat, pasang bidai. • NSAID, suntikan kortikosteroid. FASCIITIS PLANTAR Inflamasi tempat insersi fasia plantaris pada calcaneus, sering karena trauma. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri waktu berjalan. Tanda penting : • Nyeri tekan telapak kaki. • Ada daerah kaku pada kalkaneus anteromedial. Pemeriksaan laboratorium : • Ro : spur formation, namun umumnya normal. PENATALAKSANAAN • Istirahat, fisioterapi. • NSAID. • Obat alternatif : injeksi lokal corticosteroid dan xylocain. • Operasi. FIBROSITIS Sinonim : Sindrom Fibromialgi, Fibromyositis, Soft Tissue Rheumatism. Dasar kelainan : peradangan jaringan ikat pada tempat perlekatan dengan tendon. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Faktor pencetus : infeksi, trauma, hawa dingin dan lembab, stres. • Nyeri dan kaku terutama pada pagi hari + 30 menit dan sulit ditentukan asalnya. • Kelemahan umum, insomnia. • Bangun pagi merasa lelah, kurang segar, sakit kepala. • Ada 3 gejala utama : nyeri muskuloskeletal, stiffnes (kaku), cepat capek (fatigue). Tanda penting : • Tidak ada yang khas. • Kadang-kadang nyeri tekan pada beberapa daerah yang terkena (tender point), hanya ini agak khas. • Pada perempuan 20-50 th.

Ada tanda-tanda depresi.

PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Salisilat, NSAID, muscle relaxant. • Sedatif, hipnotik dan tranquilizer. • Fisioterapi : pemanasan, masase, latihan fisik. PROGNOSIS Kebanyakan berlangsung kronis. FROZEN SHOULDER (KAPSULITIS ADHESIF BAHU) Inflamasi sendi bahu, terjadi perlengketan simpai sendi skapulohumeral dg jaringan ikat periartikuler. Ini merupakan salah satu kelompok spondiloarthropati seronegatif. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Mulai sakit tiba-tiba atau perlahan-lahan. • Nyeri meningkat bila sendi bahu digerakkan secara ekstrim, gerakan terbatas. • Sakit meningkat waktu malam / tidur miring ke bahu sakit (posisi lateral decubitus). Tanda penting : • Nyeri tekan setempat. • Inflamasi sinovia dan tendon sekitar sendi, bursa dan ligmentum sekitar sendi. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Latihan aktif untuk mencegah kekakuan sendi. • Fisioterapi dengan ultrasound dan short wave diathermi 4 x 2 menit perhari. • Manipulasi dan blok pada ganglion stellata. • NSAID. • Suntikan lokal kortikosteroid dan xylocain. GOUT ARTHRITIS Penimbunan kristal biologis monosodium urat (MSU) dalam ruang sendi. DIAGNOSIS Keluhan pokok :

Nyeri akut nocturnal terutama pada arthritis metatarsofalangeal pertama. • Serangan pertama umumnya mengenai satu sendi, sangat akut dan sakit (curial pain). • Ada periode asimptomatis antara serangan akut. • Berespons baik terhadap kolkisin atau NSAID. Tanda penting : • Bengkak pada sendi metatarsofalangeal (tak selalu). • Bila berlangsung kronis (+ >3 th) terjadi tofi (benjolan sekitar sendi). Pemeriksaan laboratorium : • Hiperurisemi naik >7,5 mg% tetapi ada pirai dengan asam urat normal. Pemeriksaan khusus : • Ro (foto sendi) : ada daerah radiolusen. Diagnosis menurut kriteria American Rheumatism Association (ARA) yaitu : • Terdapat kristal monosodium urat dalam cairan sendi atau • Terdapat kristal monosodium urat dalam tofi atau • Didapatkan 6 dari 12 kriteria berikut : • Inflamasi maksimum pada hari pertama. • Serangan arthritis akut lebih dari 1 kali. • Arthritis monoartikular. • Sendi yang terkena berwarna kemerahan. • Pembengkakan dan sakit pada sendi metatarsofalangeal I (MTP I). • Serangan pada sendi metatarsofalangeal unilateral. • Serangan pada sendi tarsal unilateral. • Adanya tofu. • Hiperurisemi. • Pada gambaran radiologis, tampak pembengkakan sendi asimetris. • Pada gambaran radiologis, tampak kista subkortikal tanpa erosi. • Kultur bakteri cairan sendi negatif.

Hipertensi.

PENATALAKSANAAN Terapi dibedakan antara gout akut dengan hiperurikemi. Gout akut diobati terlebih dahulu, baru kemudian hiperurikemi. • Istirahat, diet rendah purin. • Kolkisin 0,6 mg/jam sampai ada perbaikan atau gangguan gastrointestinal. Obat dihentikan bila sampai dosis ke 10 masih gagal. • NSAID. • Probenisid (urrikosurik, jarang dipakai). Dosis awal 0,5 mg/hr, lalu ditingkatkan sampai 1-3 mg/hr dalam dosis terbagi 2-3 kali/hr. • Allopurinol (inhibitor xantinoxidase) 1 x 300 mg/hr, disesuaikan dg kadar asam urat dan nyeri / kelainan. • Glukokortikoid intraartikuler. • Obat alternatif: ACTH dosis tunggal IM 40-60 unit. PROGNOSIS • Dengan terapi serangan akut berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu, semakin muda mulai serangan, semakin cenderung progresif. • Arthropati jarang terjadi bila onset serangan diatas 50 tahun. • Tergantung penyakit penyertanya. LOW BACK PAIN (LUMBAGO) Banyak penyebabnya (infeksi, kanker atau inflamasi). Ada hubungan degeneratif pada discus intervertebralis. Mengenai sampai 80% populasi. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri tulang belakang, tergantung pada kelainannya. • Ischialgia : nyeri merambat dari bokong ke lutut. • Keganasan collumna vertebralis : nyeri hebat malam hari tidak berkurang dg istirahat atau mengubah posisi tubuh. • Nyeri yang cepat memberi gangguan neurologis juga kemungkinan tumor pada cauda equina atau abses epidural. • Ankylosing spondilitis : muncul perlahan pada umur sebelum 40 tahun. Lumbago bertambah berat waktu istirahat dan membaik bila aktif.

KOMPLIKASI • Tofus, deformitas sendi. • Nefrolithiasis dapat terjadi serangan pertama gout. • Nefropati gout : gagal ginjal.

sebelum

atau

sesudah

Kolik renalis : terjadi akut dan mengambil posisi membungkuk. • Stenosis spinalis : umur 60 th, rasa kurang enak (biasanya bilateral) pada bokong, ekstremitas bawah, waktu berdiri lama. Gejala klasik, keluhan berkurang pada waktu istirahat, fleksi vertebra lumbal, lebih mudah berjalan mendaki daripada menurun. Tanda penting : • Umumnya kausanya tidak spesifik. • Gerakan tulang belakang terbatas karena nyeri. Pemeriksaan laboratorium : • Tidak khas. Pemeriksaan khusus : • Foto tulang belakang dapat membantu. PENATALAKSANAAN • Istirahat ditempat tidur sangat penting dengan dasar yang keras dan rata. • Waktu duduk, bangun dihindari titik berat badan jatuh pada tulang belakang. • NSAID atau opioid. POLIARTERITIS NODOSA Penyakit sistemik dengan peradangan akut akibat gangguan arteri. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Mulai dengan samar-samar. • Sangat mencurigakan bila ada keluhan dini yang spesifik berupa : demam, berat badan merosot, neuritis. • Malese, anoreksia, vomiting. • Arthralgia, myalgia terutama betis. • Nyeri perut 30 menit setelah makan (abdominal angina). • Peradangan multiorgan beberapa hari. • Termasuk penyebab FUO. Tanda penting : • Hipertensi, hematuria. • Ulkus pada kulit. Pemeriksaan laboratorium : • Hematuri, proteinuri. • Penurunan Hb, lekositosis. Pemeriksaan khusus : • Histopatologi, angiografi.

KOMPLIKASI • Gagal ginjal, gagal jantung. PENATALAKSANAAN • Istirahat, perawatan khusus di ICU / ICCU. • Obat alternatif : analgesik, kortikosteroid, sitostatika. • Terapi komplikasi : operasi. PROGNOSIS Tergantung pada jumlah dan jenis organ yang terkena. OSTEOPOROSIS Pengurangan densitas / massa tulang, sehingga mudah fraktur, akibat proses penuaan. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri spontan dengan / tanpa fraktur pada tulang. Tanda penting : • Deformitas vertebra atau tungkai yang mengakibatkan badan memendek. Pemeriksaan laboratorium : • Reabsorbsi tulang menyebabkan peningkatan : kalsium, hydroksiprolin, alkali fosfatase tulang, osteokalsin. Pemeriksaan khusus : • Radiologi : survei tulang dan pengukuran densitas tulang. KOMPLIKASI • Mudah terjadi fraktur spontan (fraktur oleh trauma ringan saja). PENATALAKSANAAN • Istirahat, pemajanan sinar UV yang memadai. • Diet tinggi Ca, Na dan Fluoride. • Steroid anabolik, kalsitonin, estrogen, golongan bifosfonat. • Obat alternatif : Na fluorida, Kalsium. • Terapi komplikasi : bila terapi konservatif gagal dilakukan tindakan operatif. PROGNOSIS POLIARTERITIS NODOSA Penyakit sistemik dengan peradangan akut akibat gangguan arteri.

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Mulai dengan samar-samar. • Sangat mencurigakan bila ada keluhan dini yang spesifik berupa : demam, berat badan merosot, neuritis. • Malese, anoreksia, vomiting. • Arthralgia, myalgia terutama betis. • Nyeri perut 30 menit setelah makan (abdominal angina). • Peradangan multiorgan beberapa hari. • Termasuk penyebab FUO. Tanda penting : • Hipertensi, hematuria. • Ulkus pada kulit. Pemeriksaan laboratorium : • Hematuri, proteinuri. • Penurunan Hb, lekositosis. Pemeriksaan khusus : • Histopatologi, angiografi. KOMPLIKASI • Gagal ginjal, gagal jantung. PENATALAKSANAAN • Istirahat, perawatan khusus di ICU / ICCU. • Obat alternatif : analgesik, kortikosteroid, sitostatika. • Terapi komplikasi : operasi. PROGNOSIS Tergantung pada jumlah dan jenis organ yang terkena. RAYNAUD PHENOMENON Aliran darah ke arteri jari terhambat akibat kedinginan DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Jari-jari kesemutan atau hilang rasa. • Paronikia yang sulit sembuh. Tanda penting : • Jari tangan kaki tampak pucat berwarna keabu-abuan, kotor dan teraba dingin. Pemeriksaan khusus : • Pada angiografi terlihat penyempitan dan kerusakan pembuuh darah.

PENATALAKSANAAN • Istirahat, pemanasan lokal, menghindari dingin, memakai sarung tangan dan kaus kaki, menghentikan rokok. • Vasodilator. • Obat alternatif : obat antihipertensi : Nifedipine 3 x (10-30) mg/hr, Reserpin 4 x (0,25-0,5) mg/hr, Prazosin 3 x (1-5) mg/hr. RHEUMATIK Nyeri rheumatik ada 2 golongan besar berdasarkan : LOKALISASI Artikuler Langsung mengenai sendi : • Artritis rheumatoid. • Gout. • Arthritis septik. • Osteoarthritis. • Non Artikuler Mengenai jaringan lunak diluar / sekitar sendi : • Cervicobrakialis. • Lumbago (low back pain). • Frozen shoulder (capsulitis adhesif bahu). • Tennis elbow (epicondilitis, epicondylalgia). • Jari pelatuk (trigger finger). • Fibrositis. • Tendinitis dan tenosinovitis. • Bursitis. • Syndrom Carpal Tunnel. PENYEBAB • Inflamasi : nyeri muncul saat beristirahat, menghilang saat melakukan aktivitas. • Mekanik : nyeri muncul saat aktif, menghilang saat istirahat. RHEUMATISME NON ARTIKULER Nyeri rematik yang mengenai jaringan lunak diluar / sekitar sendi (tendon, ligamen, sarung tendon dan bursa) akibat mekanik, inflamasi dan deposisi kristal kalsium. DIAGNOSIS

Keluhan pokok : • Nyeri dan gangguan pergerakan sendi. • Sering disertai stress. Tanda penting : • Nyeri sekitar sendi. • Pergerakan sendi terbatas / kaku dan sering disertai pembengkakan. Pemeriksaan khusus : • Foto sendi. • Elektromyografi. PENATALAKSANAAN • Istirahat, imobilisasi dan fisioterapi. • NSAID, Tranquilizer. • Obat alternatif : Corticosteroid injeksi intraartikular. • Terapi komplikasi : tindakan operasi. PROGNOSIS Umumnya baik, tapi sering residif.

• Uveitis, fibrosis paru. Pemeriksaan laboratorium : • Lekositosis, LED meningkat. • IgA meningkat. • C reaktif protein (CRP) positif. • Hipergamaglobulinemi positif. • Faktor reumatoid negatif (khas). Pemeriksaan khusus : • HLA-B27 positif. • Ro : torakal tampak osteofit memberi gambaran batang bambu (bamboo spine). Lumbal : lordosis berkurang, lebih kifosis. Cervical : lordosis berkurang (straght back), lebih kifosis. Sacroilitis. • CT Scan. KOMPLIKASI • Fraktur dislokasi, bamboo spine, peradangan mata. • Aritmia cordis, amiloidosis. PENATALAKSANAAN • Istirahat : mempertahankan mobilitas, fisioterapi, hydroterapi. • NSAID : indometasin 3 x 25-50 mg/hr, naproksen, tolmetin, fenoprofen, piroksikam. • Bedah : jarang dilakukan. PROGNOSIS • Umumnya prognosis baik, dapat remisi dan relaps spontan. • Kadang-kadang ankilosis meluas ke seluruh ruang tulang belakang. TENDINITIS DAN TENOSINOVITIS Peradangan pada tendon (tendinitis) dan pada selaput atau sarung tendon (tenosinovitis) akibat penggunaan berlebihan dari sendi atau merupakan bagian dari sinovitis. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri pada setiap gerakan dan kekakuan diatas tempat endapan kalsium. Tanda penting : • Pembengkakan lokal, kekakuan dan krepitasi. Pemeriksaan laboratorium :

SPONDILITIS ANKILOSA Radang sendi tulang belakang (terutama sacroiliaca) tanpa faktor rematik dan tidak diketahui penyebabnya. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Terutama mengenai laki-laki umur 17-23 tahun. • Awalnya hanya nyeri pinggang pagi hari. • Nyeri vertebra lumbal atau dorsolumbal. • Gerakan tulang belakang terbatas secara progresif. • Ekspansi dada terbatas secara progresif. • Nyeri krista iliaca. • Nyeri pinggang torakit. • Nyeri dada pleuritik. Tanda penting : • Fleksi anterior dan lateral terbatas. • Ekstensi lumbal terbatas. • Tendinitis Achilles. • Osteoporosis, aorta insufisiensi.

Radiologi : tampak endapan kalsium pada serat-serat tendon.

PENATALAKSANAAN • Istirahat. • NSAID. • Penyuntikan anestesi lokal dan kortikosteroid pada daerah yang sakit. • Operasi bila pengobatan gagal. TENDINITIS ACHILLES Trauma, aktifitas berlebihan, iritasi dan penekanan sepatu dan dorsofleksi tiba-tiba. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri pada setiap pergerakan (aktif atau pasif). Tanda penting : • Pembengkakan tendo Achilles. • Nyeri pada dorsofleksi. • Teraba krepitasi tepat diatas calcaneus. PENATALAKSANAAN • Istirahat, imobilisasi. • Tidur dengan tungkai bawah lebih tinggi. • Fisioterapi, kompres air dingin dan hangat. • DAINS. • Obat alternatif : injeksi lokal xylocain atau corticosteroid.

• Benda yang dipegang mudah terlepas sendiri. Tanda penting : • Pembengkakan tendon didaerah processus styloideus radii. • Merah dan nyeri bertambah bila adduksi ibu jari deviasi ulnar (tes Finkelstein). • Dapat teraba adanya krepitasi pada saat tendon bergesekan dengan sarung tendon dan terasa sangat nyeri. • Pada keadaan lebih lanjut mungkin tidak mampu menggenggam dan nyeri berkepanjangan. PENATALAKSANAAN • Istirahat. • Suntikan lokal kortikosteroid, xylocain 1%. • Insisi sarung tendon bila terapi konservatif gagal. TENNIS ELBOW (EPICONDYLITIS LATERAL, EPICONDYLITIS EPICONDYLALGIA) DAN EPICONDYLITIS MEDIAL (GOLFERS ELBOW) Suatu sindrom sakit dan kekakuan pada regio epikondilus sendi siku, bersifat nyeri sub akut maupun kronik. Dasar kelainan : inflamasi tendon origo flexor dan extensor dari epicondylus. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Nyeri sisi lateral atau medial daerah siku. • Nyeri meningkat bila menggenggam, dorsofleksi, antefleksi atau rotasi pergelangan tangan, menyebar ke lengan bawah / tangan. Tanda penting : • Nyeri tekan paling terasa 1-2 cm distal epikondilus. PENATALAKSANAAN • Istirahat, immobilisasi. • Pembalut lengan bawah akan mengurangi rasa nyeri waktu menggenggam, menghindari faktor pencetus, kompres air dingin, fisioterapi. • NSAID. • Suntikan lokal kortikosteroid, anestesi lokal, TRIGGER FINGER (JARI PELATUK) Suatu bentuk tenosinovitis pada mengunci gerakan fleksi jari tangan. flexor jari tangan. Noduli

TENDINITIS De QUERVAIN Tendinitis pergelangan tangan, tendon ekstensor pollicis brevis dan abduktor pollicis longus. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Keluhan dan nyeri pada bagian radial pergelangan tangan, terutama pada ibu-ibu yang sering menyanggah dengan ibu jari. • Nyeri pada punggung pergelangan tangan ke ibu jari dan lengan atas pada sisi radial.

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Hambatan gerakan fleksi, dan bila dibantu akan berbunyi klik. Tanda penting : • Nodul teraba pada proksimal sendi metacarpofalageal. PENATALAKSANAAN • Istirahat, imobilisasi, fisioterapi. • Antiinflamasi nonsteroid. • Suntikan lokal kortikosteroid. • Anastesi lokal.

EMERGENCY
ALKALOSIS METABOLIK Peningkatan HCO3 atau kehilangan HCl lambung. Ginjal gagal mengeluarkan HCO3. Diagnosis Keluhan pokok • Pusing, bingung-bingung. • Ada riwayat menggunakan obat mineralokorticosteroid. Tanda penting • Hipotensi, aritmia jantung, hiperventilasi. • Kejang-kejang, delirium. Pemeriksaan laboratorium • Kadar HCO3 tinggi. • pH naik. • PaCO2 turun. Penatalaksanaan • Atasi penyebab, diuretik dihentikan. • Infus NaCl 0,9%. • Infus asam amino seperti arginin hidroklorid. • Hemodialisis dg dialisat rendah (HCO3) tinggi (Cl). Gangguan keseimbangan asam basa karena produksi bikarbonat menurun, ekskresi bikarbonat urine meningkat atau karena asamasam dalam tubuh meningkat.

Diagnosis Keluhan pokok • Keluhan penyakit dasarnya. • Sakit kepala, anoreksi, mual, muntah. Tanda penting • Pernapasan cepat dan dalam (Kussmaul). • Udara pernapasan berbau. • Somnolen sampai koma. • Bingung-bingung. • Edema pulmonum. • Kontraksi jantung menurun. • Syok. Pemeriksaan laboratorium • pH darah menurun (<7,2). • Glukosa darah meningkat. • Kadar HCOO3 plasma turun. Komplikasi 1. Pernapasan Kussmaul. 2. Hiperkalemi. Penatalaksanaan • Ditujukan kepada penyakit dasarnya : diare, ketoasidosis, gagal ginjal. • Infus, diet. • NaHCO3 secara oral (larutan Shohl) atau IV, 50-100 mEq selama 1-2 jam. • Asidosis dikoreksi bila HCO3 <16 mEq/ltr, sampai mencapai 16 mEq/ltr. Prognosis Kalau terlambat bisa fatal. HIPOGLIKEMIA Gula darah dalam darah turun jauh dibawah normal, yang mungkin disebabkan oleh pemberian insulin atau OHO (obat hipoglikemik oral) sulfonil urea lebih dari dosis. Diagnosis Keluhan pokok • Ada riwayat menggunakan obat diabetes tetapi kurang makan. • Palpitasi, mandi keringat. • Kadang-kadang terjadi setelah kegiatan fisik.

diuretik

atau

• Penglihatan kabur / diplopi. • Sakit kepala. Tanda penting • Mandi keringat. • Takikardi, bicara tidak jelas, lemah, gelisah. • Kesadaran menurun sampai koma. • Pupil dilatasi atau sudah miosis. Pemeriksaan laboratorium • Gula darah rendah <50 mg/dl. Penatalaksanaan • Rawat di ruang gawat darurat. • Diet. • Segera berikan IV glukosa 40% sebanyak 50 ml atau dekstrose 40%. • Setengah jam kemudian berikan lagi 10-50 ml glukosa 40% setiap 10-20 mnt sampai penderita sadar dan seterusnya dapat dberikan peroral. • Bila penderita masih sadar berikan larutan gula sampai keluhan menghilang. • Obat alternatif : glukagon 1-2 mg IM/SC. • Bila ada edema serebri beri manitol IV atau deksametason. Prognosis Bila segera diberi glukosa prognosis baik. Bila terlamba penderita akan meninggal. KOMA KETOASIDOSIS DIABETIK Insufisiensi insulin sehingga asam lemak bebas menjadi benda keton selanjutnya menyebabkan tertimbunnya asam asetoasetat. Diagnosis Keluhan pokok • Ada riwayat DM yg tak terkontrol baik. • Poliuri, polidipsi, sangat loyo. • Nausea, vomiting. • Umumnya terjadi pada keadaan stres atau sepsis. Tanda penting • Dehidrasi, tensi rendah / renjatan. • Stupor sampai koma. • Napas berbau aseton (khas). • Pernapasan Kussmaul (cepat dan dalam).

Pemeriksaan laboratorium • Hiperglikemi, aseton plasma meningkat. • Glukosuri, Asetonuri. Pemeriksaan khusus • EKG untuk pemantauan. Penatalaksanaan • Rawat inap RS, pasang kateter, pasang sonde lambung. • Infus garam fisiologis utk mengatasi dehidrasi. • Pantau gula darah. • Mulai insulin dg dosis rendah (4 IU), jika memungkinkan gunakan pompa insulin, lalu tappering sesuai dg kadar gula darah. Jika sudah bisa makan, berikan sejumlah kalori sesuai kebutuhan, 4 porsi. • Kalium : berikan dalam bentuk larutan atau sari buah segar (tomat, anggur, pisang). • Bikarbonat 100 mEq bila pH darah <7,0 + 20 meq KCl dalam 20-40 menit. Dosis diulang bila pH masih <7,0 sesudah 60-90 mnt. Prognosis Tergantung pegobatan. pada lamanya koma dan cepatnya tindakan

KOMA NONKETOTIK HIPERGLIKEMIK Kegagalan pankreas menghasilkan insulin akibat stres yang mendorong pengeluaran glukagon, sehingga kadar glukosa sangat meningkat. Diagnosis Keluhan pokok • Biasanya terjadi perlahan-lahan dalam beberapa hari atau minggu. • Loyo, poliuri, polidipsi, usia lanjut. • Tidak ada riwayat DM. • Ada penyakit dasar lain. • Sering muncul karena obat-obatan : tiazid, furosemide, propranolol, manitol, digitalis. • Ada factor pencetus : infeksi, stres, perdarahan. Tanda penting • Dehidrasi berat. • Stupor, konvulsi dan koma. • Tanpa pernapasan Kussmaul.

• Tidak ada bau keton. Pemeriksaan laboratorium • Gula darah >600 mg%. • Osmolalitas plasma >300 mosmol. Penatalaksanaan • Rawat inap RS, atasi dehidrasi dg lart. garam fisiologis. • Gula darah dimonitor. • Diet. • Obat pertama : mulai insulin dosis rendah, jika dapat gunakan pompa insulin IV. • Pemberian kalium seperti pada koma ketoasidosis diabetik. Prognosis Umumnya > buruk dari koma ketoasidotik. Mortalitas 40-70%. KOMA HEPATIK Ggn beberapa zat kimia (terutama amonia, GABA) terhadap neuron otak, akibat kerusakan sel-sel hati. Diagnosis Keluhan pokok • Ada riwayatt penyakit hati, sirosis hepatis. • Sesuai dg beratnya koma. • Lemah. • Keluhan-keluhan sesuai dg factor pencetus : azotemi spontan / diuretik, alkalosis metabolik, sedatif, tranquilizer, analgesik, perdarahan saluran cerna, diet protein tinggi, infeksi, obstipasi. Tanda penting • Kesadaran menurun : • Prodromal : asteriksis, perubahan kesadaran, kelakuan yang tidak wajar, sulit bicara, sulit menulis. • Koma yang mengancam (impending coma) : disorientasi, bingung. • Koma ringan : bingung, masih bereaksi terhadap rangsang, lengan kaku, hiperfleksi, clonus, refleks menggenggam dan mengisap masih ada. • Koma yang dalam : reaksi rangsang hilang, tonus otot dan lengan hilang. • Ikterus. • Tremor / flapping tremor. • Fetor hepatik.

Pemeriksaan laboratorium • Bilirubin meningkat. • Aminotransferase meningkat. • Amoniak meninggi. • Hipoglikemi. • Hipokalemi. Pemeriksaan khusus • Number connection test. • Digit symbol dan digit copying test. • Elektroensefalografi : kebanyakan irama lambat. • CT Scan kepala. Penatalaksanaan • Rawat inap. • Hindari factor pencetus. • Membersihkan saluran cerna dan defekasi 2-3 kali sehari. • Menjaga keseimbangan elektrolit. • Mengobati penyakit dasarnya. • Diet : Pembatasan / penghentian masukan protein, lalu meningkat sesuai dengan perbaikan kesadarannya, cukup kalori. • Obat pertama : Laktulosa dan Laktosa, dosis 60-120 ml/hr, dapat diberikan secara enema 300 ml dalam 700 ml air. • Lactosa 50 gr 2-3 x/hr atau secara enema 200 gr dalam 1 ltr air, 2-3 x/hr. • Obat alternatif : antibiotik Neomicin dosis 2-4 gr/hr peroral atau secara rectal dalam larutan 1% sekali sehari. • Metronidazole 4 x 250 mg/hr. Prognosis • Setelah terapi legeartis 80-90% dapat sadar kembali. • Bila ada ikterus, ascites, kadar albumin rendah, prognosis agak buruk. • Pada gagal hati fulminan 80% meninggal. HYPERTHERMI Suhu diatas 40 °C atau diatas 41 °C. Dasar kelainan : kerusakan otak (pusat thermoregulator pada hypothalamus anterior) dan kegagalan organ-organ pada tubuh. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Kejang-kejang. • Sesuai dengan penyakit dasarnya. Tanda penting :

• • •

Suhu diatas 40 °C. Kejang-kejang atau komatous. Keluhan dan tanda lain umumnya sesuai dengan penyakit dasarnya : infeksi, penyakit autoimun, penyakit SSP, keganasan, penyakit hematologis, penyakit kardiovaskuler, penyakit gatrointestinal, penyakit karena zat kimia, penyakit lain, panas yang dibuat-buat.

PENATALAKSANAAN • Istirahat, pakaian dibuka. • Mengeluarkan atau memindahkan panas : bilas badan dg alkohol atau air dingin. Kalau dengan air, lebih baik gunakan handuk yang dapat menutupi tubuh dan ganti setiap 5-10 menit. Meletakkan kantong es pada badan. Enema air es. Bak air es. • Antibiotik spektrum luas dibenarkan bila ada tanda-tanda penderita akan mengalami hiperthermia. • Antipiretik : Salisilat dan Asetaminofen 1 tablet / 4 jam. • Dantrolen 1 - 2,5 mg/kgbb IV setiap 6 jam sekurangkurangnya 24 - 28 jam dan selanjutnya diberikan Dantrolen peroral. • Pemberian cairan peroral / perinfus. • Obat alternatif : Prokainamid untuk mencegah fibrilasi ventrikel. • Steroid bila penyebabnya bukan bakteri. PROGNOSIS Umumnya jelek, tergantung pada penyakit dasarnya dan cepatnya tindakan. HYPOTHERMI Penurunan fungsi-fungsi fisiologis : oksigenasi jaringan turun, polarisasi otot jantung lambat. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Ada riwayat berada dalam lingkungan yang dingin, alkoholisme, imobilisasi, hypothyroidisme. • Rasa dingin, pusing, tidak kooperatif, poliuria atau justru oliguria. Tanda utama : • Suhu tubuh <35 °C, pucat. sianosis, bingung, letargi. • Pernapasan lambat, nadi ireguler atau bradikardi. • Otot-otot tremor, gerakan dan refleks lamban, hipotensi. Pemeriksaan laboratorium : • Viskositas darah meningkat.

• Kurva oksihemoglobin bergeser kekiri. Pemeriksaan khusus : EKG : • Sinus bradikardi. • Atrium fibrilasi respon kurang. • Fbrilasi ventrikel sampai asistol. • Adanya gelombang J pada akhir kompleks QRS merupakan tanda patognomonis. KOMPLIKASI • Gangguan irama jantung. • Syok hipovolemik karena cold diuresis. PENATALAKSANAAN Terapi umum : • Istirahat, atasi kausa, awasi jalan napas, tanda vital, monitor EKG. • Penghangatan pasif, penderita dimasukkan ke dalam ruangan hangat, dengan memakai jaket atau pakaian tebal. • Penghangatan internal dengan cairan NaCl 0,9% hangat (37,7-40 °C), IV 300 cc dalam 15 menit pertama, selanjutnya 700 cc pada jam pertama. Pemberian cairan selanjutnya sesuai dengan kekurangan cairan. • Oksigen hangat 100% (tidak lebih 46,6 °C) secara humidified. • Bila penderita mengalami perubahan status mental diberi Thiamnin IV, 100 mg dalam 50 cc glukosa 50%. • Bila gagal, dilakukan peritoneal dialisis dg 2 liter cairan dialisat bebas kalium, suhu 40°C. Terapi komplikasi : • Supraventrikular takiaritmi biasanya hilang sendiri bila suhu normal. • VES berat : Lidocain IV. • Fibrilasi ventrikel : dilakukan kardioversi. • Asidosis : Natrium bikarbonat 1 mEq/kgbb IV. PROGNOSIS • Tergantung dari penyakit dasarnya. • Dengan penanganan yang baik 75% dapat hidup. ACUTE RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME Kerusakan paru secara mendadak (24-48 jam). DIAGNOSIS Keluhan pokok :

Penderita bukan penyakit paru yang berat lalu tiba-tiba sesak napas dan syok. • Ada keluhan-keluhan infeksi paru. Tanda penting : Tanda merupakan trias : • Faal paru memburuk sangat cepat. • Infiltrasi luas pada seluruh lapangan paru atau gangguan paru yang lain. • Hipoksemi / sianosis : ronki basah pada kedua paru, suara napas bronkial. Pemeriksaan laboratorium : • Analisis gas darah. Pemeriksaan khusus : • Infiltrat retikular yang luas. KOMPLIKASI Akibat ventilator : • Pneumothoraks. • Pneumomediastinum. • Emfisema subkutan. Akibat penyakitnya : • Fibrosis paru. • Hipertensi pulmonal. • Asidosis laktat. • DIC. • Gagal napas. PENATALAKSANAAN • Istirahat, mutlak rawat inap untuk : dipasang ventilator / intubasi dg kecepatan pernapasan 15-25 x/mnt, kadar oksigen 100% lalu berangsur diturunkan. Pemberian PEEP (Positive End Expiratory Pressure) bila kadar oksigen rendah, mulai dari tekanan 5 cm H2O. • Sedatif untuk menekan produksi CO2, antibiotik yang sesuai. • Obat alternatif : Korticosteroid, Pentoksifilin, Surfactan. PROGNOSIS • Mortalitas 50% di RS. • Bila disertai renjatan sepsis mortalitas 50%. • Bila disertai kelainan faal hati mortalitas 100%.

CARDIOPULMONARY ARREST (HENTI JANTUNG DAN PARU) Terjadi gangguan pertukaran dan jantung dan paru berhenti tiba-tiba.

pengangkutan

gas

karena

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Gangguan irama jantung Tanda penting : • Tanda peringatan (warning sign) : gelisah dan VES. • Trias dari cardiopulmonary arrest : nadi tidak teraba, kesadaran menurun, pernapasan berhenti. Pemeriksaan khusus / EKG : • Gelombang kardioelektrografi berubah. • Denyut jantung berhenti (cardiac stand still). • Fibrilasi ventrikel. KOMPLIKASI • Patah tulang iga atau sternum karena resusitasi. • Gangguan paru. • Gangguan SSP. • Nekrosis tubuler akut. • Gangguan keseimbangan asam basa. PENATALAKSANAAN • Restorasi serebri (menyelamatkan fungsi serebral). • Restorasi kardiovakular (mengembalikan fungsi jantung). • Restorasi respiratorius (mengembalikan fungsi pernapasan). • Mengobati faktor penyebabnya. Membebaskan jalan napas : • Ekstensi leher, menekan lidah ke bawah. • Membebaskan jalan napas dari benda asing. Pernapasan mulut ke mulut : • Tangan kiri penolong atau bantal diletakkan pada tengkuk penderita supaya tetap pada posisi ekstensi. • Mulut penolong dibuka lebar-lebar sambil menarik napas dalam, kemudian mulut penolong diletakkan rapat pada mulut penderita lalu udara ditiupkan kedalam mulut penderita. Hal ini diulangi setiap 5 detik. • Setelah 5 kali meniup diamati apakah penderita sudah dapat bernapas sendiri. Pernapasan mulut ke hidung :

• • • •

Tangan kiri penolong mengatup mulut penderita rapat. Penolong menghembuskan napas ke dalam paru sambil mengatupkan kedua bibir penderita. Setelah 5 kali diulangi lalu diamati pernapasan otomatis penderita. Cara ini kurang efektif dibandingkan dg cara mulut ke mulut.

Tindakan pernapasan buatan pada bayi sama dg pada orang dewasa dengan cara : • Volume udara lebih sedikit. • Interval waktu lebih pendek yakni setiap 3-4 detik. Restorasi jantung : Pijatan jantung dilakukan bersama dengan pernapasan buatan : • Ps ditelentangkan di tempat yang keras. • Penekanan pada 1/3 bagian sternum (bayi pertengahan sternum). • Pangkal tangan kiri diletakkan pada lokasi tersebut dan pangkal tangan kanan diletakkan bersusun diatas pangkal telapak tangan kiri. • Penekanan dada dilakukan sedalam 3-4 cm dengan frekuensi 80-100 x/mnt. Medikamentosa : • Adrenalin, dosis 0,5 cc IV atau intracardial dalam larutan 1 : 10.000 setiap 3-5 menit. • Isoprenalin. • Kalsium klorida, dosis 0,5 gram dari larutan 10% intracardiac setiap 5 - 10 menit. • Natrium bikarbonat, dosis sesuai dg rumus 0,3 mEq x BB x asam basa atau sekitar 44 mEq IV, setiap 10 menit atau melihat pH darah. • Lidocain (Xylocain), dosis 50-100 mg bolus, dilanjutkan infus 1-3 mg/mnt dalam dekstrose 5% yang mengandung 500 mg lidokain. • Propranolol, dosis 0,5-1 mg IV. • Metaraminol, dosis 2-5 mg tiap 10-15 menit, melalui infus 20-100 mg/500 cc dekstrose 5%. • Obat alternatif : digitalis, kortikosteroid, antibiotik. EMBOLI PARU Terlepasnya trombus vena profunda kaki (ekstremitas bawah) yang akan menyumbat pembuluh darah paru.

DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Sesak napas tiba-tiba, sakit dada mirip infark myocard. • Batuk non produktif, hemoptisis. • Pusing dan synkop. • Ada riwayat predisposisi : pasca operasi, imobilisasi lama, trauma, gangguan koagulasi, penggunaan alat kontrasepsi oral. Tanda penting : • Sianosis, edema dan nyeri pada kaki. • Takipnu, takikardi / fibrilasi atrium. • Irama gallop S3 dan S4. • Bising systolis, ronki, hipotensi. • Suhu badan naik, hepatomegali. Pemeriksaan laboratorium : • Lekositosis, LED meningkat. • Tekanan PO2 rendah, PCO2 normal atau naik. • LDH, SGOT, SGPT naik. • EKG : gambaran mirip kor pulmonale. • Ro dada : efusi pleura, atelektasis paru, tanda dari Hampton : hipovaskularisasi yang berbasis pada pleura, kasus masif : Western Mark sign. Pemeriksaan khusus : • CT scan paru, arteriografi paru. KOMPLIKASI • Gagal napas, renjatan. PENATALAKSANAAN • Istirahat, harus rawat RS, pemberian oksigen 40-60%, awasi tanda vital. • Heparin IV/SC, dosis IV 5000-10000 unit bolus, diteruskan 1300 unit/jam sampai 5 hari. • Heparin molekul rendah / subkutan, dosis SC 175 unit/kgbb/24 jam selama 5 sampai 6 hari. • Obat alternatif : Warfarin dapat diberikan bersama Heparin. Dosis awal 10 mg/hr selama 3-5 hr, dilanjutkan dg dosis pemeliharaan 2-15 mg/hr sampai 1-3 bulan bahkan seumur hidup. • Trombolitik : Streptokinase, Urokinase. • Dobutamin 2,5-10 µg/kgbb/menit dan Dopamin 2,5 µg/kgbb/mnt bila hipotensi / syok. • Terapi komplikasi : emboliektomi.

PROGNOSIS Hipertensi pulmonal, mati mendadak. HEAT STROKE Kegagalan thermoregulator di hipothalamus (pusat pengatur suhu tubuh). DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Ada riwayat penderita terpapar suhu yang ekstrem. • Ada riwayat makan obat tertentu (antihitamin, antikolinergik). • Pelari marathon. • Pusing, kelemahan, penglihatan kabur, mual muntah. Tanda penting : • High risk untuk lansia. • Kesadaran menurun, emosi tidak stabil. • Bingung-bingung, delier, kejang-kejang. • Tidak berkeringat, suhu tubuh >41 °C. • Kulit panas dan kering. • Nadi mulanya keras. • Tensi mulanya naik, lalu turun. • Hiperventilasi karena respirasi alkalosis. Pemeriksaan laboratorium : • Lekositosis, BUN naik. • Hiperurisemi, hemokonsentrasi, trobositopeni, myoglobinuri. • Takikardi, terdapat tanda-tanda PJK. KOMPLIKASI • Kerusakan otak, kerusakan kardiovaskuler. • Kerusakan hepar, kerusakan ginjal. PENATALAKSANAAN • Istirahat, harus rawat inap. • Turunkan suhu dalam waktu 1 jam dengan evaporative cooling. • Pakaian penderita harus dilepaskan. • Seluruh tubuh dibasuh dengan air 15 °C, kipas angin diarahkan ke ps. • Posisi penderita sebaiknya lateral supaya permukaan tubuh luas terpajan udara.

• • • •

Tempatkan es batu terbungkus handuk pada daerah aliran pembuluh darah besar (lipat paha, ketiak dan leher). Dapat juga diberi pakaian dingin khusus. Upaya diatas diteruskan sampai suhu paling sedikit turun sampai 39 °C dan diteruskan sampai 24 jam. Kateter dipasang untuk mengawasi luaran. Chlorpromazin 25-50 mg/IV dapat diberikan setiap 4 jam. Antipiretik tdk bermanfaat, bahkan kontrandikasi. Dekstrose 5% dan keseimbangan elektrolit dijaga.

PROGNOSIS Kalau terlambat fatal, dg terapi intensif mortalitas tetap diatas 76% jika suhu tubuh >41,1 °C. INFARK MYOCARD AKUT Nekrosis myocardium akibat penyumbatan / stenosis A. koronaria. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Rasa tidak enak tiba-tiba di daerah precordium (anterior chest discomfort), berlangsung lebih dari 30 menit. • Sesak, mual, muntah, lemah. • Diaporesis, palpitasi. Tanda penting : • Aritmia, syok. • Gagal jantung. • Akral dingin Pemeriksaan laboratorium : • CK (kreatin kinase) atau CPK (kreati fosfokinase) / CK-MB naik. • LDH (laktat dehidrogenase). • SGOT (glutamik oksaloasetat transaminase) atau AST (aspartat amino transferase). • Troponim T/I. Pemeriksaan khusus (EKG) : • Elevasi segmen ST atau justru depresi. • Lambat laun terjadi gelombang Q. KOMPLIKASI • Fibrilasi atau flutter ventrikel. • Asistoli, aritmi. • Renjatan kardiogenik. • Gagal jantung. • Bradicardi sinus.

• • • • • • •

Irama nodal. Takikardi ventrikel. Takikardi idioventrikel. Takikardi sinus. Kontraksi prematur ventrikel. Gangguan hantaran atrioventrikuler. Gangguan hantaran intraventrikuler

PENATALAKSANAAN • Istirahat, segera masuk ICCU, bila tidak ada komplikasi lamanya 2-3 hari dan boleh pulang hari ke 10. • Infus dekstrose 5%, oksigen 2-4 lt/mnt. • Segera beri trombolitik. • Rehabilitasi : hari ke 2 di ICCU mulai mobilisasi, dilakukan latihan naik tangga akhir minggu ke 2 lalu pulang ke rumah. • Dirumah pada akhir minggu ke 3 latihan lebih intensif dan pada akhir minggu ke 6 sudah dapat bekerja seperti biasa. • Obat pelembek tinja (dulcolax, laxoberon). • Diet, puasa 8 jam hari pertama, makanan saring hari pertama dan diteruskan bubur biasa. • Morfin atau pethidin untuk mengatasi nyeri. • Obat penenang seperti diazepam 5 - 10 mg/8 jam. • Antitrombotik / trombolitik merupakan obat pilihan utama IMA (4 jam pertama) : tissue Plasminogen Activator (tPA), streptokinase, Anisoylated Plasminogen Streptokinase Activator Complex (Anistreptase ; APSAC), urikinase, Levanox subkutan / 8 jam, Aspirin 160-325 mg, Ticlopidin atau Clopidogrel bila aspirin tidak dapat diberikan. • Obat alternatif : Beta adrenoceptor blocker. • Terapi komplikasi : setelah kembali kerumah dianjurkan tetap minum Aspirin (Farmasal) 1 x 100 mg. Kalsium antagonis hanya dianjurkan Diltiazem 2-3 x 30 mg/hr atau Verapamil. ACE inhibitor 2 x (12,5 - 25) mg/hr. • Olahraga teratur, menghindari stress. PROGNOSIS • Mortalitas tertinggi 4 jam pertama serangan IMA. • Dalam 24 jam berikutnya masih rawan. • Setelah 24 jam komplikasi sangat menurun. • Tingkat I Killip : tanpa syok dan bendungan paru. Prognosis baik, mortalitas <5%. • Tingkat II Killip : bendungan paru ringan, prognosis lebih jelek.

• • PENYAKIT KARENA KETINGGIAN Terjadi karena individu tidak dapat menyesuaikan diri dengan ketinggian diatas 2000 m dalam waktu 1-2 hari. Dasar kelainan : Hipoksemia berat, edema serebral dan pulmonum. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Ada fc resiko : ada riwayat sebelumnya demikian, umumnya muncul dalam 24 jam setelah berada diketinggian, cepat melakukan pendakian, kurang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan cuaca, umur muda, kegiatan jasmani yang berlebihan, sebelumnya ada penyakit paru, pengguna alkohol. • Sefalgi, anoreksi mual muntah, vertigo, palpitasi, insomni. • Sulit konsentrasi, lemah, dyspnu, batuk-batuk. Tanda penting : • Takikardia, sputum berbuih dan berdarah. • Terdengar ronki basah. Pemeriksaan laboratorium : • Radiologi : edema pulmonum. KOMPLIKASI • Edema pulmonum, edema serebri. PENATALAKSANAAN • Istirahat, bila ada keluhan segera kurang ketinggian. • Beri cairan, oksigen 2-3 liter/mnt sambil turun ke ketinggian 1000-1500 meter. • Bantuan pernapasan mekanis dapat dipertimbangkan pada edema pulmonum. • Bila ada edema serebri kecepatan oksigen dapat ditambah dan bila mungkin dapat dipasang intubasi endotrakeal. • Analgesik ringan : Asetaminofen 650 mg, Compazine 4 x 10 mg bila mual. • Dexamethason 4 x 10 mg lalu 4 mg, IV dan Furosemid 2040 mg, IV bila ada edema serebri. STUPOR DAN KOMA Tingkat kesadaran : Kesadaran baik - apati - somnolent - stupor - koma. Dasar kelainan : gangguan serebral. Ada beberapa sumber gangguan : 1. Hepatogen.

Tingkat III Killip : edema paru, dekompensasi prognosis lebih jelek lagi. Tingkat IV Killip : syok, mortalitas sampai 80%.

kiri,

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Diabetogen. Nefrogen. Neurogen. Obat-obatan. Hipotermi. Miksedema.

Reaksi alergen dg antibodi yang akan mempengaruhi organ lain. Diagnosis Keluhan pokok • Palpitasi tiba-tiba. • Lemah. Tanda penting • Nadi cepat / kecil sampai tak teraba. • Tensi turun sampai tak terukur. • Akral dingin, keringat dingin. Pemeriksaan laboratorium • Analisa gas darah. Pemeriksaan khusus • EKG. Komplikasi • Syok ireversibel. • Kerusakan organ-organ tubuh. Penatalaksanaan • Ps ditelentangkan pada dasar yg agak keras, kaki ditinggikan sekitar 30-40 derajat. • Bila ps tdk sadar, lakukan trias gerakan : kepala diekstensikan, mandibula didorong kedepan, mulut dibuka. • Bila ps apneu, segera lakukan ventilasi buatan dan bantu dg oksigen murni (100%). • Bila jalan napas tersumbat akibat edema laring, dipasang intubasi trakea. • Bila terjadi cardiac arrest (henti jantung), lakukan kompresi jantung 15x dg kecepatan 80-100x/mnt diikuti 2x ventilasi. • Diberi cairan / cairan koloid seperti albumin. • Obat pertama Adrenalin dosis 3-5 ml IV larutan 1:10.000. • Adrenalin IM/SK 0,3-0,5 ml larutan 1:1000 bila keadaan ringan, ulang setiap 5-10 mnt. • Adrenalin intracardiac bila ada bendungan vena. • Obat alternatif, Aminophylin bila ada bronkospasme dosis 5-6 mg/kg perinfus selama 20 mnt dilanjutkan 0,4-0,9 mg/kg/jam. • Kortikosteroid / hydrocortison IV 100-200 mg.

Diagnosis Keluhan pokok • Ada riwayat dari sumber gangguan diatas. Tanda penting • Tanda dari ggn organ bersangkutan. • Tampak kesadaran menurun. • Kontak menurun / tdk ada sama sekali. • Kurang / tidak bereaksi terhadap rangsang. • Disorientasi. • Fungsi-fungsi vital masih bagus. Pemeriksaan laboratorium Sesuai dg sumber penyakit : • Hepar : SGOT, SGPT. • DM : gula darah. • Ginjal : ureum kreatinin. • Saraf : CT Scan kepala, punksi lumbal. • Obat : kadar obat dalam darah. • Hipothermi : suhu diukur cermat. • Miksedema : kadar tiroksin darah. Penatalaksanaan • Lacak sumber terjadinya koma. • Infus dekstrose 10% secepatnya sebelum tegak diagnosis. • Makanan peros hanya diberikan melalui sonde lambung. • Hindari makanan yang dapat memperberat koma. • Medikamentosa : diobati sesuai dg latar belakang penyakitnya. Prognosis Semua penderita koma dianggap berat. Tergantung pada : 1. Latar belakang penyakitnya. 2. Cepat dan tepatnya diagnosis dan terapi. 3. Dalam dan lamanya koma. SYOK ANAFILAKTIK

• Antihistamin IV. Prognosis Tergantung pada beratnya penyakit, cepat serta tepatnya penanganan, tenaga yang menangani, peralatan dan kesediaan obat. SEPSIS DAN RENJATAN SEPSIS Respon inflamasi yg dipengaruhi oleh sitokin atau mediator lain, menyebabkan ggn endotel (peningkatan permeabilitas, vasodilatasi / konstriksi, mikroemboli), depresi myocard, ggn mikrosirkulasi yg selanjutnya menyebabkan disfungsi multipel organ. Hal ini umumnya akibat pelepasan endotoksin kuman gram negatif. Diagnosis Keluhan pokok • Sesuai dg penyakit pencetusnya. • G3 status mental akut. Tanda utama • Tekanan darah sistolis <90 mmHg atau turun >40 mmHg dari tekanan awal (bukan karena obat). • Suhu badan >38°C atau <36°C. • Denyut nadi >90 x/mnt. • Frekuensi pernapasan >20x/mnt. • Oligouri, tanda-tanda asidosis. • Umumx terdapat pd usia lanjut, malnutrisi, penyakit berat, kehamilan, DM, penyakit kronis, debilitas, trauma / luka bakar, pemakaian pipa vena atau kateter urin yg lama, penyakit infeksi ginekologik, penyakit infeksi gastrointestinal, neoplasma, terapi imunosupresi. Pemeriksaan laboratorium • Lekosit >12.000/mm³ atau <4000/mm³. • Sel-sel muda (batang) >10%. • PaCO2 <32 tor. Komplikasi • Kegagalan organ multiple (jantung, paru, gimjal). • ARDS. • Koagulasi intravaskuler diseminata. • Hiperpireksi. • Asidosis.

Penatalaksanaan • Istirahat cegah dekubitus, cegah infeksi nosokomial, cegah deep vein thrombosis dg heparin / heparin molekul rendah. • Diberi cairan dan elektrolit yg cukup : kristaloid, koloid. • Bila hematokrit <30%; transfusi eritrosit (PRC). • Napas : bantuan mekanis bila frekuensi pernapasan >30x/mnt dan dangkal. • Makanan melalui NGT bila penderita tidak sadar. • Protein dan kalori tinggi. • Makanan dapat ditunda 1-2 hari sampai keadaan hemodinamik stabil. • Pemberian enteral dimulai setelah renjatan teratasi. • Obat pertama : Dopamin 2-4 ug/kgBB/mnt dalam NaCl 0,9%, Dekstrose 5% atau RL ditambah larutan Norepinefrin. • Dobutamin, Nitroprusid. • Antimikroba bakterisidal spektrum luas : awal Aminoglikosid, dilanjutx Sefalosforin generasi 3 (Seftriakson, Sefotaksin, Zeftazidin). • Klindamisin atau Metronidazol untuk infeksi anaerob. • Kortikosteroid sedini mungkin mendahului antimikroba, dg dosis tinggi 3-6 mg/kgBB atau Metilprednison 30 mg/kgbb. Ulangi 12 jam kemudian. • Antithrombin III. • Terapi kemungkinan masa depan : Antiendotoksin (E5), 2 mg/kgBB, IV, dibagi 2 pemberian. • HA-IA (anti IgM monoklonal yang berikatan dg endotoksin) • Anti TNF-alfa. Prognosis • Angka kematian 40-60%. • Kurang baik bila ada kenaikan : gula darah, asam laktat, IL-Ira, IL-10. TENGGELAM Tenggelam di air tawar menyebabkan hemolisis, sedangkan tenggelam di air laut menyebabkan kerusakan parenkim paru, khususnya membran alveoli. Dasar kelainan : gangguan fungsi pernapasan karena alveoli terisi air. DIAGNOSIS Keluhan pokok : • Ada riwayat tenggelam.

Traktus respiratorius : batuk hebat disertai sputum kental dan berbusa, kadang hemoptisis, sesak napas. Tanda penting : • Sianosis. • Traktus respiratorius : takipnu atau apnu, wheezing (mengi). • Kardiovaskuler : takikardi, aritmia (fibrilasi atrium / ventrikel,cardiogenic shock. • Cerebral : konvulsi, kesadaran turun sampai koma. • Ginjal : tanda-tanda gagal ginjal (nekrosis tubuler akut). Pemeriksaan laboratorium : • PO2, PCO2 dan pH. KOMPLIKASI • Cardiopulmonal arrest. • Koma. • Gagal ginjal akut. • Gangguan termoregulasi. PENATALAKSANAAN • Rendahkan posisi kepala saat membawa korban, korban berada diatas punggung penolong, kedua kaki korban menjepit leher penolong. Tenggelam di air tawar : • Observasi di RS paling sedikit 24jam. • Merendahkan posisi kepala untuk mengeluarkan air. • Cardiopulmonary arrest : tindakan resusitasi kardiopulmonal dapat segera dilakukan ditempat kejadian. • Di RS : beri oksigen 100% dengan kateter, membersihkan saluran napas (suction), aspirasi cairan lambung, memperbaiki fungsi kardiovaskuler dengan mengatasi syok, transfusi PRC Tenggelam di air laut : • Segera atasi asfiksia dengan merendahkan posisi kepala, melakukan RKP, tindakan lain terhadap komplikasi sama bila tenggelam di air tawar. • Natrium bikarbonat 5-10 mEq/kgbb. • Diuretik, memperbaiki fungsi ginjal. • Antibiotik untuk mengatasi infeksi. Sepuluh langkah untuk penderita tenggelam :

• • • • • • • • • •

Keluarkan segera korban dari air dan perbaiki posisi kepala dan leher. Secepatnya dilakukan ABC RKP meski korban masih berada dalam air asal tidak membahayakan penolong. Jika korban tidak sadar, jaga jalan napas tetap terbuka, bila mungkin dengan memasang intubasi endotrakea. Secepatnya menstabilkan aliran darah vena. Berikan bantuan oksigen dan bantuan alat pernapasan sampai tidak dibutuhkan lagi (menurut analisis gas dan pH darah). Pantau secepatnya denyut jantung. Ukur dan pertahankan suhu tubuh pada keadaan normal. Bila pernapasan masih terganggu, dapat digunakan alat bantu pernapasan. Bila keadaan kardiovaskuler korban belum stabil, perlu monitor secara intensif dan mengukur elektrolit darah. Evaluasi dan atasi fungsi ginjal dan fungsi otak diamati.

PROGNOSIS Tergatung pada cepat dan tepatnnya tindak penyelamatan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->