Anda di halaman 1dari 61

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan

pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya. 1. Rencana Pelajaran 1947 Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: a) b) Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya Garis-garis besar pengajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran, yang diutamakan: pendidikan watak a) Kesadaran bernegara dan bermasyarakat.

b) c) 2.

Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari. Perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani. Rencana Pelajaran Terurai 1952 Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

3.

Kurikulum 1964 Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan Pancawardhana, yaitu :

a) b) c) d) e)

Daya cipta Rasa Karsa Karya Moral Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi:

a. b. c. d. e.

Moral Kecerdasan Emosional/artistik Keprigelan (keterampilan) Jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

4.

Kurikulum 1968 Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah: bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9. 5. a) Kurikulum 1975 Latar Belakang Diberlakukanya Kurikulum 1975 Dalam Kata Pengantar Kurikulum 1975, Menteri Pendidikan Republik Indonesia pada waktu itu Sjarif Thajeb, menjelaskan tentang latar belakang ditetapkanya Kurikulum 1975 sebagai pedoman pelaksanaan pengajaran di sekolah. Penjelasan tersebut sebagai berikut : 1) Sejak Tahun 1969 di Negara Indonesia telah banyak perubahan yang terjadi sebagai akibat lajunya pembangunan nasional, yang mempunyai dampak baru terhadap program pendidikan nasional. Hal-hal yang mempengaruhi program maupun kebijaksanaan pemerintah yang menyebabkan pembaharuan itu adalah : Selama Pelita I, yang dimulai pada tahun 1969, telah banyak timbul gagasan baru tentang pelaksanaan sistem pendidikan nasional. Adanya kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan nasional yang digariskan dalam GBHN yang antara lain berbunyi : Mengejar ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mempercepat lajunya pembangunan. Adanya hasil analisis dan penilaian pendidikan nasional oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan mendorong pemerintah untuk meninjau kebijaksanaan pendidikan nasional. Adanya inovasi dalam sistem belajar-mengajar yang dianggap lebih efisien dan efektif yang telah memasuki dunia pendidikan Indonesia.

Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan untuk meninjau system yang kini sedang berlaku. 2) Pada Kurikulum 1968, hal-hal yang merupakan faktor kebijaksanaan pemerintah yang berkembang dalam rangka pembangunan nasional tersebut belum diperhitungkan, sehingga diperlukan peninjauan terhadap Kurikulum 1968 tersebut agar sesuai dengan tuntutan masyarakat yang sedang membangun. b) Prinsip Pelaksanaan Kurikulum 1975 Berorientasi pada tujuan. Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill). c) Komponen Kurikulum 1975 Tujuan institusional baik SMP maupun SMA Tujuan Institusional adalah tujuan yang hendak dicapai lembaga dalam melaksanakan program pendidikannya Struktur program Kurikulum Struktur program adalah kerangka umum program pengajaran yang akan diberikan pada tiap sekolah. Garis-Garis Besar Program Pengajaran Sesuai dengan namanya, Garis-Garis Besar Program Pengajaran, pada bagian ini dimuat hal-hal yang berhubungan dengan program pengajaran, yaitu : a. Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan yang harus dicapai setelah mengikuti program pengajaran yang bersangkutan selama masa pendidikan. b. Tujuan Instruksional Umum, yaitu tujuan yang hendak dicapai dalam setiap satuan pelajaran baik dalam satu semester maupun satu tahun.

c.

Pokok bahasan yang harus dikembangkan untuk dijadikan bahan pelajaran bagi para siswa agar mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan

d.

Urutan penyampaian bahan pelajaran dari tahun pelajaran satu ke tahun pelajaran berikutnya dan dari semester satu ke semester berikutnya.

Sistem Penyajian dengan Pendekatan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) Sistem PPSI ini berpandangan bahwa proses belajar-mengajar sebagai suatu sistem yang senantiasa diarahkan pada pencapaian tujuan. Sistem pembelajaran dengan pendekatan sistem instruksional inilah yang merupakan pembaharuan dalam system pengajaran di Indonesia. Sistem Penilaian Dengan melaksanakan PPSI, penilaian diberikan pada setiap akhir pelajaran atau pada akhir satuan pelajaran tertentu. Inilah yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya yang memberikan penilaian pada akhir semester atau akhir tahun saja. Sistem Bimbingan dan Penyuluhan Setiap siswa memiliki tingkat kecepatan belajar yang tidak sama. Di samping itu mereka mereka memerlukan pengarahan yang akan mengembagkan mereka menjadi manusia yang mampu meraih masa depan yang lebih baik. Dalam kaitan ini maka perlu adanya bimbingan dan penyuluhan bagi para siswa dalam meniti hidupnya meraih masa depan yang diharapkanya. Supervisi dan Administrasi Sebagai suat lembaga pendidikan memerlukan pengelolaan yang terarah, baik yang digunakan oleh para guru, administrator sekolah, maupun para pengamat sekolah. Bagaimana teknik supervisi dan administrasi sekolah ini dapat dipelajari pada Pedoman pelaksanaan kurikulum tentang supervise dan administrasi. Ketujuh unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang mewarnai Kurikulum 1975 sebagai suatu sistem pengajaran. 6. a) Kurikulum 1984 Latar Belakang Diberlakukanya Kurikulum 1984 Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984.

Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut: Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik. Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah. Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang. Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah. Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja. b) 1. Pokok Kurikulum 1984 Ciri-ciri Kurikulum 1984

Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa. Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan. Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.

Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks. Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah pendekatan belajarmengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses

diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran. 2. a. Kebijakan Dalam Penyusunan Kurikulum 1984 Adanya perubahan dalam perangkat mata pelajaran inti

Kalau pada Kurikulum 1975 terdapat delapan pelajaran inti, pada Kurikulum 1984 terdapat enam belas mata pelajaran inti. Mata pelajaran yang termasuk kelompok inti tersebut adalah : Agama, Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, Bahasa dan Kesusasteraan Indonesia, Geografi Indonesia, Geografi Dunia, Ekonomi, Kimia, Fisika, Biologi, Matematika, Bahasa Inggris, Kesenian, Keterampilan, Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Sejarah Dunia dan Nasional. b. c. Penambahan mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan jurusan masing-masing. Perubahan program jurusan Kalau semula pada Kurikulum 1975 terdapat 3 jurusan di SMA, yaitu IPA, IPS, Bahasa, maka dalam Kurikulum 1984 jurusan dinyatakan dalam program A dan B. Program A terdiri dari : i. ii. iii. iv. A1, penekanan pada mata pelajaran Fisika A2, penekanan pada mata pelajaran Biologi A3, penekanan pada mata pelajaran Ekonomi A4, penekanan pada mata pelajaran Bahasa dan Budaya Sedangkan program B adalah program yang mengarah kepada keterampilan kejuruan yang akan dapat menerjunkan siswa langsung berkecimpung di masyarakat. Tetapi mengngat program B memerlukan sarana sekolah yang cukup maka program ini untuk sementara ditiadakan. d. Pentahapan waktu pelaksanaan

Kurikulum 1984 dilaksanakan secara bertahap dari kelas I SMA berturut tahun berikutnya di kelas yang lebih tinggi. 7. a)
-

Kurikulum 1994 Latar Belakang Diberlakukanya Kurikulum 1994 Bahwa sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan Undang-Undang.

Bahwa untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan, diperlukan peningkatan dan penyempurnaan pentelenggaraan pendidikan nasional, yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, perkembangan masyarakat, serta kebutuhan pembangunan.

Dengan berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional maka Kurikulum Sekolah Menengah Umum perlu disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan tersebut. Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak.

b)

Pokok Kurikulum 1994 Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut:

Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)

Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang

khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
-

Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan penyelidikan.

Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.

Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.

Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa. Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut:

Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan seharihari. Permasalahan di atas terasa saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu: Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat. Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.

Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa. Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran. Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikan dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah. Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang. 8. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Tahun 2002 dan 2004 Usaha pemerintah maupun pihak swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus menerus dilakukan, seperti penyempurnaan kurikulum, materi pelajaran, dan proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soejadi (1994:36), khususnya dalam mata pelajaran matematika mengatakan bahwa kegiatan pembelajaran matematika di jenjang persekolahan merupakan suatu kegiatan yang harus dikaji terus menerus dan jika perlu diperbaharui agar dapat sesuai dengan kemampuan murid serta tuntutan lingkungan.

Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 perlu disempurnakan lagi sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah. Sehingga dikembangkan kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Menurut Mulyasa (2006:39) Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugastugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Sejalan dengan visi pendidikan yang mengarahkan pada dua pengembangan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang, maka pendidikan di sekolah dititipi seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi.

Kompetensi

merupakan

pengetahuan,

keterampilan,

dan

nilai-nilai

dasar

yang

direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur, 2002:55). Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut: a. b. c. Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks. Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten. Kompeten merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran. d. Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur. (Puskur, 2002:56). Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada: (1) Hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) Keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya. Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten. Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu:
a. b. c.

Pemilihan kompetensi yang sesuai. Spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi. Pengembangan sistem pembelajaran. Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a) b)

Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

c) d)

Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

e)

Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

9.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)


Kurikulum terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang selanjutnya ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006. Menurut Undang-undang nomor 24 tahun 2006 pasal 1 ayat 15, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan

dilaksanakan di masing-

masing satuan pendidikan. Jadi, penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Disamping itu, pengembangan KTSP harus disesuaikan dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta peserta didik. Terdapat beberapa tujuan mengapa pemerintah memberlakukan KTSP pada setiap jenjang pendidikan. Tujuan tersebut dijabarkan sebagai berikut : Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah :
-

Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.

Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.

Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai. Mulyasa (2006: 22-23) Adapun prinsip-prinsip pengembangan KTSP menurut Permendiknas nomor 22 tahun 2006 sebagaimana dikutip dari Mulyasa (2006: 151-153) adalah sebagai berikut :

a.

Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan peserta didik dan lingkungannya. Pengembangan kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa peserta didik adalah sentral proses pendidikan agar menjadi manusia yang bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, serta warga negara yang demokratis sehingga perlu disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan lingkungan peserta didik.

b. Beragam dan terpadu Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman peserta didik, kondisi daerah dengan tidak membedakan agama, suku, budaya, adat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu. c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berkembang secara dinamis. d. Relevan dengan kebutuhan. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan relevansi pendidikan tersebut dengan kebutuhan hidup dan dunia kerja. e. Menyeluruh dan berkesinambungan Substansi kurikulum direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan. f. Belajar sepanjang hayat Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. g. Seimbang antara kepentingan global, nasional, dan lokal. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan global, nasional, dan lokal untuk membangun kehidupan masyarakat. Menurut Mulyasa (2006: 153-167), terdapat tujuh strategi yang perlu diperhatikan dalam pengembangan KTSP di sekolah. Strategi-strategi tersebut diuraikan sebagai berikut : a) Sosialisasi KTSP di sekolah Sosialisasi KTSP terhadap seluruh warga sekolah bahkan terhadap masyarakat dan orang tua peserta didik dapat meningkatkan pengenalan dan pemahaman warga sekolah terhadap visi dan misi sekolah, serta KTSP yang akan dikembangkan. Hal ini bertujuan agar KTSP dapat dilaksanakan secara optimal serta warga sekolah, masyarakat, dan orang tua merasa memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan pelaksanaan KTSP. b) Menciptakan suasana yang kondusif

Lingkungan sekolah yang aman, nyaman, tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari warga sekolah, serta adanya kegiatan-kegiatan yang terpusat pada diri peserta didik merupakan iklim yang dapat membangkitkan nafsu, gairah, dan semangat belajar.

Konsep Kurikulum Pendidikan Jepun


1.0 Pendahuluan Di Malaysia, Pendidikan Moral adalah salah satu pelajaran teras dalam Sijil Pelajaran Malaysia (SPM). Moral merupakan satu subjek teras untuk semua non- muslim dalam sistem pendidikan awam di Malaysia. Beberapa prinsip utama telah dikenal pasti sebagai panduan dalam melahirkan insan yang menyeluruh dari segi jasmani, intelek, rohani dan sosial. Pemilihan prinsip-prinsip tersebut dilakukan untuk merialisasikan semangat dan hasrat yang terkandung dalam Rukun Negara, Wawasan 2020 dan Falsafah Pendidikan Kebangsaan. Sebagai sebuah negara yang sedang melangkah ke arah status negara maju, kita perlu membina masyarakat yang sepenuhnya bermoral dan beretika, iaitu sebuah masyarakat bersatu padu yang mempunyai nilai keagamaan dan kerohanian yang kukuh dan bersikap toleransi. Manakala pendidikan Jepun yang diajarkan bertujuan untuk mengekalkan nilai-nilai sosial. Beberapa kajian yang telah dijalankan berkaitan dengan pendidikan moral Jepun yang dilakukan penyelidik barat. Dalam penyelidikan tersebut mereka menyatakan bahawa pendidikan moral Jepun tidak hanya didasari pada kokurikulum tetapi kaitannya dengan seluruh kehidupan sekolah. Pendidikan moral dikatakan juga merupakan satu pendidikan moral dalam sejarah, budaya dan konteks sosial, merujuk kepada kesan agama mereka. Dalam tugasan yang disedikan ini, membincangkan tentang kurikulum moral di Malaysia dan juga Jepun. Penekanan isi adalah berdasarkan kepada sejarah ataupun konsep pembentukkan kedua-dua kurikulum, sumber pembentukkan kurikulum, persamaan serta perbezaan dan yang terakhir adalah tentang kekuatan dan juga kelemahan kedua-dua kokurikulum yang dibincangkan. 2.0 Konsep Kurikulum Pendidikan Moral di Jepun

Konsep ataupun sejarah kurikulum pendidikan moral di Jepun telah wujud dari zaman kuno lagi. Setiap kurikulum pendidikan di dalam sesebuah negara itu mempunyai sejarahnya yang tersendiri. Nama lain bagi pendidikan moral di Jepun ialah pendidikan nilai. Pendidikan nilai di Jepun telah didasari oleh agama dan kepercayaan yang dianuti sejak berkurun lamanya. Kurikulum pendidikan nilai di Jepun dilihat wujud sejak zaman kuno lagi sehinggalah pada abad pertengahan. Antara zaman yang telah mengaplikasikan pendidikan nilai secara tidak langsung di Jepun bermula pada Zaman Edo, Zaman Nasionalisme dan Zaman Demokrasi sehinggalah sekarang. Semasa berlangsungnya zaman ini, masyarakat Jepun telah menganuti tiga agama dan kepercayaan terbesar iaitu ajaran Shinto, Buddha dan Konghucu (Konfusius). Secara berperingakat, ketiga-tiga agama ini dikatakan saling mempengaruhi dan diasimilasikan menjadi inti dalam sistem pendidikan nilai di Jepun. Keunikan masyarakat Jepun antaranya sering dikaitkan dengan amalan beragama, falsafah hidup serta mentaliti masyarakatnya. Ciri-ciri tertentu yang dimiliki oleh agama, falsafah serta cara pemikiran mereka menjadikannya agak bersifat eksklusif. Amalan beragama yang diamalkan oleh Jepun misalnya agama Shinto yang lebih kepada kepercayaan animisme, Agama Buddha dan Konfusius sememangnya berasal dari China. Ajaran Shinto merupakan agama peribumi masyarakat Jepun. Terdapat dua ciri utama dalam mengamalkan kepercayaan ini iaitu amalan pemujaan alam dan pemujaan roh nenek moyang. Ajaran ini beranggapan bahawa semua objek alam seperti batu, pokok, sungai, segala kejadian alam dan laut mempunyai roh ataupun semangat yang dikenali sebagai kami. Penganut Shinto percaya wujudnya Dewa-dewa dan Dewi-dewi dengan Dewi Ametirasu (Dewi Matahari) sebagai pusat pemujaan yang menjadi pegangan hidup Kerajaan Zaman Yamato. (Ahmad Sohaimi Lazim, 2005: 129) Agama Buddha juga turut menjadi dasar dalam kurikulum pendidikan nilai di Jepun. Jepun telah menerima pengaruh Agama Buddha ini pada abad ke-6 dari Korea. Pada masa ini, agama ini hanya boleh dianuti oleh kaum bangsawan pada abad ke-12 namun, pada abad ke-13, Agama Buddha ini telah meluas dan rakyat biasa turut menganuti ajaran ini. Perkembangan Agama Buddha di Jepun telah membawa kepada lahirnya Mazhab Zen Buddhisme yang memberi tumpuan kepada aspek ketenangan dan kekuatan dalaman yang diperolehi melalui amalan meditasi. Kekuatan dalaman ini dikatakan dapat mengawal diri supaya lebih berdisplin dan berani membuat sebarang keputusan hidup.

Selain itu juga ajaran Konfusius telah dibawa ke Jepun dari China. Ajaran ini lebih menekankan keperluan menjaga keharmonian manusia dengan alam dan masyarakat. Segala peraturan perlu ditaati sama ada oleh rakyat ataupun pemerintah. Ajaran ini lebih menekankan konsep Jen iaitu menekankan perasaan keperimanusiaan terhadap orang lain dan harga diri. Tiga konsep utama ajaran ini iaitu Li, Ren dan Zhongyang. Konfusius ini merupakan satu bentuk falsafah dan etika dimana moralnya menekankan lima prisip asas iaitu, anak patuh kepada bapa, isteri patuh kepada suami, adik patuh kepada abang, kawan setia kepada kawan dan rakyat patuh kepada raja. Kelima-lima prinsip ini saling mempengaruhi hubungan masyarakat Jepun terutamanya dalam hubungan kekeluargaan, kemasyarakatan dan kenegaraan. Dua peristiwa besar yang membawa kepada perubahan drastik dalam sistem pendidikan Jepun iaitu semasa pemulihan Meiji pada tahun 1867 dan akhir perang kedua pada tahun 1945. kedua-dua peristiwa ini telah memberi impak yang besar kepada sistem pendidikan nilai di Jepun. Pendidikan nilai di Jepun telah bermula pada tiga era utama seperti Zaman Edo iaitu pada tahun 1603 sehingga 1867, Zaman Nasionalisme pada tahun 1868 sehingga 1945 dan pada Zaman Demokrasi pada tahun 1945 sehinggalah sekarang. Pada Zaman Edo, sekolah pendidikan Han telah ditubuhkan di mana sekolah ini menjurus ke arah feudal domains. Sekolah ini ditubuhkan bagi mengajar anak-anak dari keluarga samurai belajar mengenai budaya, moral dan ilmu mempertahankan diri. Pada zaman ini, moral mereka disebut sebagai Bushido dan kod samurai. Dalam pengajaran mereka, penekanan dari aspek kesetiaan, pengorbanan diri, keadilan, mempunyai rasa malu, sopan santun, kemurnian, berhemah tinggi, semangat bela diri, kehormatan dan kasih sayang lebih diutamakan. Pada Zaman Edo ini, pendidikan nilai lebih menekankan dua aspek penting iaitu semangat bela diri dan juga menjaga kehormatan diri. Mereka beranggapan bahawa, pentingnya mengawal diri sendiri dahulu sebelum mengawal orang lain. Jadi latihan rohani dipraktikkan bagi mengawal disiplin diri. Pendidikan nilai pada Zaman Demokrasi iaitu sekitar tahun 1868 sehinggalah 1945, lebih menumpukan kegiatan membasmi buta huruf di kalangan masyarakat Jepun pada waktu itu. Pada zaman ini, pendidikan nilai diberi gelaran Shushin yang membawa maksud disiplin diri. Shushin telah dijadikan salah satu daripada lapan mata pelajaran rasmi pada waktu itu. Objektif Primary

Education (1879), menekankan bahawa tugas utama pendidikan adalah untuk menjelaskan dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kesetiaan dan berbakti kepada orang tua. Pada Zaman Demokrasi pada tahun 1945 sehinggalah sekarang memperlihatkan tujuan pendidikan nilai itu diwujudkan adalah untuk menubuhkan pendidikan moral selaras dengan sistem demokrasi yang dilaksanakan melalui kurikulum itu sendiri. Pendidikan itu bertujuan untuk melahirkan masyarakat yang membangunkan sepenuhnya peribadi, berusaha melindungi orang lain, cinta akan keamanan, keadilan, menghargai nilai-nilai individu, menghargai kerja, mempunyai rasa tanggungjawab, bersemangat membangunkan negara dan mengekalkan keharmonian masyarakat. Pada zaman ini juga, kerajaan telah menghadkan mata pelajaran pendidikan nilai ini wajib diajar satu jam dalam seminggu di setiap kelas. Isi kandungan atau sukatan pendidikan nilai di Jepun ini telah dipertingkatkan dan disesuaikan secara berperingkatperingkat. 3.0 Sumber Kurikulum Pendidikan Moral di Jepun Sumber membawa maksud bahan rujukan yang utama bagi sesesuatu penulisan ilmiah ataupun dalam pengukuhan sesuatu fakta. Memang tidak boleh dinafikan, kurikulum sesuatu subjek ataupun mata pelajaran terbentuk berasaskan kepada sesuatu sumber. Daripada analisa yang kami buat daripada jurnal, rujukan internet dan lain-lain lagi, kami telah memahami sumber kurikulum Pendidikan Moral dibahagikan kepada dua iaitu secara tidak formal dan formal. Sumber yang berbentuk tidak formal di sini merujuk kepada asuhan ibubapa ataupun penjaga sejak kecil lagi. Anak-anak akan dibela dengan memupukkan nilai-nilai murni dalam diri mereka sejak mereka. Nilai-nilai murni akan diwarisi secara turun-temurun. Memang tidak dinafikan bahawa orang Jepun memang mementingkan nilai murni dan adap dalam kehidupan mereka. Bagi mereka, seseorang itu mempunyai perwatakan yang mulia dianggap sebagai orang yang bermaruah dan dihormati. Contoh nilai-nilai murni yang diwarisi secara turun-temurun ialah adap menghormati orang tua. Maka, sumber kurikulum Pendidikan Moral adalah adaptasi daripada asuhan dan didikan ibubapa ataupun nenek moyang sejak kecil lagi.

Selain daripda sumber tidak formal, sumber yang berasaskan formal juga memainkan peranan yang amat penting dalam pembentukkan kurikulum Pendidikan Moral. Di Malaysia, pembentukkan kurikulum Pendidikan Moral adalah berasaskan pada agama dan tindak-tanduk masyarakat. Tetapi, Pendidikan Moral di Jepun pula berasaskan pada agama sahaja. Masyarakat Jepun mengutamakan tiga agama iaitu agama Shinto, Buddha, dan Konfusius. Ketiga-tiga agama ini telah bergabung dan diterapkan ke dalam sistem nilai Jepun. Nilai-nilai ynag terdapat dalam ketiga-tiga agama ini telah diterapkan ke dalam kurikulum Pendidikan Moral. Maka, terbentuklah satu sistem kurikulum yang seragam. 3.1 Ajaran Shinto Salah satu agama utama yang memainkan peranan yang amat penting dalam pembentukkan kurikulum Pendidikan Moral Jepun ialah agama Shinto. Agama Shinto merupakan agama asas masyarakat Jepun. Ia juga digelarkan agama asli masyarakat Jepun. Shinto merupakan perkataan orang Cina. Shinto membawa maksud jalan Tuhan atau lebih dikenali The Way of God. Shi bermaksud jalan dan to pula merupakan Tuhan. Perkataan Shinto merupakan nama baru iaitu perubahan bunyi daripada Tien-Tao. Asal-usul agama Shinto adalah lenyap dalam lipatan sejarah, tetapi terdapat ahli sejarahwan menyatakan bahawa ia bertapak pada akhir tempoh Jomon. Agama Shinto amat meluas di Jepang. Agama Shinto lebih mengutamakan kehidupan duniawi dan bukan kehidupan selepas mati. Agama Shinto merupakan satu bentuk kepercayaan animisme atau pemujaan alam dan roh nenek moyang. Mereka mengganggap bahawa semua benda mempunyai semangat tertentu. Mereka memuja bulan, laut, pokok, sungai dan lain-lain yang dikenali senagai Kami. Penganut Shinto percaya wujudnya Dewa-dewa dan Dewi-dewi dengan Dewi Ametirasu (Dewi Matahari) sebagai pusat pemujaan. Shinto merupakan satu agama yang tidak mempunyai set dogma, tiada tempat suci, tiada orang yang dianggap suci dan cara penyembahan yang khusus. Walaubagaimanapun, terdapat dua buah buku yang dianggap sebagai kitab suci iaitu Kojiki dan Nihonji. Kitab Kojiki menerangkan tentang alam kayangan tempat kehidupan para dewa dan dewi. Kita boleh juga menakfirkan bahawa agama Shinto ini merupakan himpunan kaedah dan upacara yang

bertujuan untuk menyelaraskan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Agama Shinto ini telah diasimilasikan ke dalam agama Buddha selepas kewujudannya. Sebenarnya agama Shinto ini tidak memberi kesan yang begitu mendalam dalam pembentukkan kurikulum Pendidikan Moral Jepun. tetapi, nilai-nilai murni yang terdapat dalam agama ini telah dimasukkan ke dalam kurikulum Pendidikan Moral seperti cinta akan alam sekitar, kepercayaan Tuhan, dan lain-lain lagi. Ternyata di sini, agama Shinto merupakan asas dalam pembentukkan kurikulum pendidikan Moral. 3.2 Agama Buddha Sebenarnya agama Buddha berasal daripda China iaitu Korea pada abad keenam. Mengikut pandangan ahli falsafah, agama Buddha ini diperkenalkan pada abad ke-604 A.D. Agama Buddha ini diasaskan oleh Gautama Buddha. Agama ini mendapat nama daripada nama pengasasnya. Buddha ini merupakan etika yang berhubung dengan kehidupan. Ia tidak mengandungi aspek-aspek yang berkait rapat dengan metafizik. Agama ini mengutamakan kehidupan selepas mati. Agama Buddha ini mudah berkembang dalam kalangan masyarakat Jepun. Salah satu sebab unsur agama ini dapat diterima oleh masyarakat Jepun ialah ajaran agama ini sesuai dengan semangat ketenteraan Jepun. pada peringkat awal, kemasukkan agama Buddha ditentang oleh golongan istana. Keadaan ini berubah apabila Putera Mahkota Shotoku Bushi menjadi penaung agama Buddha pertama di Jepun. Perkembangan Ajaran Buddha di Jepun membawa kepada lahirnya mazhab Zen Budhisme. Zen ini memberi tumpuan kepada aspek ketenangan dan kekuatan dalaman yang diperolehi melalui amalan meditasi. Kekuatan dalaman ini dapat mengawal diri, disiplin dan keberanian membuat keputusan. Terdapat juga beberapa nilai-nilai murni dalam agama Buddha yang dapat membentuk masyarakat yang beretika. Antara satunya ialah penekanan aspek disiplin dan kawalan diri daripada mazhab Zen. Selain itu, agama ini juga mengutamakan sikap saling membantu dan prinsip persamaan hak tanpa perbezaan warna kulit, keturunan, agama dan lain-lain lagi. Tambahan pula, agama ini juga menekankan nilai moral antara ibubapa dan anak-anak, nilai moral murid dan guru, nilai moral antara suami isteri dan lain-lain lagi.

Agama Buddha ini mengutamakan empat kebenaran yang dijadikan pegangan hidup. Terdapat juga jalan lapis mulia iaitu pengetahuan yang baik, pemikiran yang baik, pertapaan yang baik, perkataan yang baik, keinginan yang baik, kelakuan yang baik, usaha yang baik, dan kehidupan yang baik. Selain itu, agama ini juga memberi penekanan dalan kerangka dasar ajaran Buddha iaitu ajaran tentang Sradha (keyakinan), ajaran tentang sila (etika), dan ajaran tentang ritual (bakti). 3.3 Ajaran Konfusius Agama ini diasaskan oleh Kung Fu Tse. Beliau merupakan seorang ahli falsafah yang amat terkenal. Ia merupakan keperluan menjaga keharmonian manusia dengan alam dan masyarakat. Konfusius ini tidak dianggap sebagai satu agama yang berunsurkan ketuhanan tetapi merupakan prinsip hidup yang baik berasaskan konsep Jen. Ajaran etika Konfusius ini memang mementingkan pemikiran yang betul dan bukan etika. Antara ajaran Kung Fu Tse ialah orang yang bijaksana mampu untuk mencapai kesempurnaan berbanding dengan orang biasa, kebijaksanaan boleh dicapai melalui proses berfikir, menakul, menganalis dan lain-lain lagi. Ternyata di sini, agama ini sentiasa mengutamakan keilmuan. Seperti yang telah dinyatakan sebelum ini, nilai-nilai asas ketiga-ketiga agama ini telah bergabung dan diterapkan ke dalam pembentukkan kurikulum Pendidikan Moral. Terdapat beberapa cara yang tidak langsung telah memasukkan nilai-nilai agama ini dimasukkan ke dalam kurikulum Pendidikan Moral. Pada Zaman Edo (1603 - 1867), sistem feudal di Jepun telah mencapai kemuncak dan runtuh. Hal ini bermakna selepas keruntuhan sistem feudal maka wujudlah golongan sekular yang mementingkan sistem pendidikan. Pada masa yang sama, kedudukan golongan samurai telah meningkat dan mula memainkan peranan dalam sistem politik. Bagi mengukuhkan kedudukan mereka dalam sistem politik, mereka telah menghantar anak-anak mereka dengan menubuhkan sekolah-sekolah Han. Sekolah tersebut bertujuan dalam mengajar anak-anak tentang adat keluarga, nilai moral dan lain-lain lagi. Ajaran ini dikenali sebagai Bushido. Ajaran ini merupakan gabungan daripada Konfusius dan mazhab Zen (Buddha). Ajaran ini juga

memberi penekanan terhadap nilai kesetiaan, pengorbanan diri, keadilan, harga diri, dan lainlain lagi. Pada Zaman Nasionalisme iaitu pada tahun 1868 hingga 1945 pendidikan Jepun berkembang secara meluas khususnya semasa pemerintahan Meiji. Maharaja dalam pemerintahan tersebut telah mewajibkan sistem pendidikan di seluruh Jepun pada kali pertama. Pada masa tersebut, Pendidikan Moral dikenali sebagai Sushin yang bermaksud disiplin diri. Nilai ini adalah asas daripada ajaran Konfusius. Ajaran ini diajar dalam lapan subjek dari peringkat rendah. Memang ternyata di sini, bahawa nilai-nilai murni yang terdapat dalam ketiga-tiga agama ini telah diterapkan ke dalam pembentukkan Pendidikan Moral Jepun. Selepas Zaman Nasionalisme, kurikulum Pendidikan Moral lebih diteraskan ajaran Konfusius. 4.0 Persamaan antara kurikulum pendidikan moral di Jepun dan Malaysia Persamaan kokurikulum pendidikan moral Jepun dan Malaysia ialah kedua-dua merupakan Independent Subject. Kedua-dua negara ini mempunyai satu subjek khas bagi sesi pengajaran pendidikan moral di negara masing-masing. Terdapat peruntukan masa khas bagi sesi pengajaran subjek moral. Kandungan pendidikan moral Jepun diperkenalkan daripada beberapa sudut. Kurikulum Jepun terdiri daripada tiga kategori iaitu mata pelajaran akademik, pendidikan moral dan kegiatan khusus. Setiap sekolah menyelenggarakan kurikulum berdasarkan program pembelajaran (shidoGakushu-yoryo), yang menunjukkan standard-standard akademik yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan, Sains dan Kebudayaan. Oleh itu, bagi setiap sekolah diwajibkan untuk mematuhi piawaian yang telah ditetapkan. Setiap sekolah diwajibkan mengajar Pendidikan Moral sejam setiap minggu. Selain itu, program pembelajaran menjelaskan enam tujuan pendidikan moral iaitu (1) untuk menggalakkan semangat menghormati martabat manusia dan kagum kehidupan, (2) untuk memelihara orang-orang yang berusaha untuk mewarisi dan mengembangkan budaya tradisional, dan menciptakan individu yang kaya dengan budaya (3) untuk memelihara orang-orang yang

berusaha untuk membentuk dan membangunkan masyarakat yang demokratik dan negara, (4) untuk memelihara orang-orang yang dapat memberikan sumbangan untuk mewujudkan masyarakat antarabangsa yang damai, (5) untuk memelihara orang-orang yang boleh membuat keputusan dengan tidak bergantung kepada orang lain, dan (6) untuk memupuk rasa prinsip moral. SD (Kelas 1 - 6) dan SMP (Grade 7 - 9) pendidikan moral, sebagai subjek yang khas. Setiap sekolah yang diberikan 34 jam di kelas pertama, 35 jam di kedua kelas sembilan. Ini mewakili 3-4% daripada semua sekolah jam dalam setahun untuk setiap kelas. Dengan kata lain, setiap sekolah diperuntukkan masa (45 minit di SD, 50 minit di tingkatan SMP) daripada pendidikan moral seminggu. Guru kelas akan dibekalkan dengan buku rujukan berdasarkan kursus, koleksi bahan bacaan, dan peralatan lainnya. Nilai-nilai moral utama yang harus diajarkan ditugaskan pada tempoh masing-masing kelas. Guru memilih beberapa nilai-nilai moral berkaitan satu sama lain, kemudian menyepadukan dengan tema yang disarankan, menggunakan bahan-bahan seperti cerita pendek, esei, program televisyen pendidikan, dan sebagainya. Kandungan pendidikan moral diklasifikasikan menjadi empat bahagian yang terdiri daripada 76 item dalam kandungannya. Terdapt empat kandungan iaitu "berkaitan diri", "berkaitan dengan imej", "berkaitan dengan alam", dan "berkaitan dengan kumpulan dan masyarakat". Di Malaysia, Pendidikan Moral ialah satu mata pelajaran teras untuk murid bukan beragama Islam di peringkat sekolah menengah. Mata pelajaran ini yang memberi tumpuan pada pemupukan, penghayatan dan amalan nilai-nilai murni masyarakat Malaysia bertujuan melahirkan murid yang berilmu pengetahuan, berperibadi mulia, serta rela dan sanggup berbakti kepada masyarakat dan negara. Kandungan Sukatan Pelajaran Pendidikan Moral Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah merangkumi aspek diri, keluarga, alam sekitar, patriotisme, hak asasi manusia, demokrasi serta keamanan dan keharmonian. Pendidikan Moral di sekolah menengah memberi tumpuan kepada usaha memupuk kekuatan kerohanian dan kemoralan murid melalui penghayatan dan amalan nilai-nilai murni masyarakat

Malaysia yang terdapat dalam agama, tradisi dan adat resam pelbagai kaum di negara ini. Dengan itu murid dapat membina satu panduan hidup yang membolehkan mereka menjadi insan yang bermoral. Ini membolehkan mereka menjadi individu yang bertanggungjawab moral dan sosial terhadap segala keputusan dan tindakan yang dilakukan. Untuk membolehkan murid memahami, menghayati serta mengamalkan prinsip-prinsip tersebut sebanyak tujuh bidang pembelajaran telah dikenal pasti dan nilai-nilai moral disampaikan menerusi bidang pembelajaran tersebut. Selain aspek kerohanian dan kemanusiaan, bidang pembelajaran itu juga menekankan aspek kemasyarakatan dan kebudayaan. Bidang pembelajaran tersebut adalah seperti berikut (1) nilai berkaitan perkembangan diri, (2) nilai berkaitan dengan kekeluargaan, (3) nilai berkaitan dengan alam sekitar, (4) nilai berkaitan dengan patriotisme, (5) nilai berkaitan dengan hak asasi manusia, (6) nilai berkaitan dengan demokrasi, dan (7) nilai berkaitan dengan keamanan dan keharmonian. Seperti di negara Jepun, Malaysia juga turut menggunakan bahan-bahan untuk membantu melancarkan pengajaran moral. Para murid juga digalakkan mencari dan memperoleh sumbersumber maklumat melalui teknologi maklumat dan komunikasi seperti Internet, CD-Rom, e-mail dan sidang telekomunikasi. Aktiviti seperti ini dapat berfungsi sebagai perangsang dan pemangkin kepada kewujudan masyarakat Malaysia yang celik teknologi. Persamaan seterusnya ialah di dalam isi kandungan. Di dalam kurikulum pendidikan moral Jepun dan Malaysia mengandungi bidang pembelajaran yang sama iaitu penekanan kepada aspek berkaitan perkembangan diri dan juga nilai berkaitan dengan alam sekitar. Mengambil contoh nilai berkaitan dengan alam sekitar. Kurikulum pendidikan Jepun sangat menitik beratkan tentang penjagaan alam sekitar. Misalnya nilai yang ditekankan seperti menghormati alam. Nilai moral yang diterapkan ialah perlunya untuk menjadi akrab dengan alam sekitar dan mempunyai kasih sayang terhadap binatang dan juga tumbuhan. Selain itu, menghormati kehidupan. Perlunya untuk menghormati kehidupan dan semua makhluk hidup. Nilai berkaitan alam sekitar ini juga sama seperti yang terkandung dalam kurikulum Pendidikan Moral di Malaysia. Nilai yang diterapkan ialah seperti menyayangi alam sekitar. Moral ini diterapkan bagi memupuk kesedaran tentang perlunya memelihara dan memulihara

alam sekeliling untuk mengekalkan keseimbangan ekosistem. Selain itu, nilai keharmonian antara manusia dengan alam sekitar. Nilai ini hampir sama dengan nilai moral menghormati kehidupan di Jepun. Keadaan ini saling memerlukan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam sekeliling supaya kualiti kehidupan manusia dan alam sekeliling terpelihara. 5.0 Perbezaan antara kurikulum Pendidikan Moral di Jepun dan Malaysia Terdapat juga perbezaan antara kurikulum Pendidikan Moral Jepun dengan Malaysia. Misalnya dalam nilai berkaitan diri, di Jepun tidak terdapat tentang nilai kepercayaan kepada Tuhan. Nilai-nilai moral yang terkandung berkaitan diri hanya tertumpu terhadap diri individu itu sahaja tanpa menyentuh mengenai kepercayaan kepada Tuhan. Contohnya seperti kesederhanaan, keberanian, ketulusan dan mencintai dan mencari keberanian. Manakala di Malaysia, terdapat nilai kepercayaan kepada Tuhan yang terkandung dalam moral berkaitan dengan perkembangan diri. Keyakinan wujudnya Tuhan sebagai pencipta alam dan mematuhi segala suruhan Nya berlandaskan pegangan agama masing- masing selars dengan Prinsip Rukun Negara pertama di Malaysia yang menekankan kepercayaan kepada Tuhan. Terdapat juga perbezaan dari segi kemahiran penilaian menerusi Pendidikan Moral yang diajarkan. Pendidikan Moral Jepun menggunakan pendekatan formatif. Pendidikan moral yang praktikkan di Jepun lebih kepada kegiatan harian secara pratikal bagi memupuk nilai-nilai moral dikalangan relajarnya. Jepun mempunyai pendidikan moral direka untuk mencapai matlamat melalui semua kegiatan pendidikan sekolah. Sebagai contoh, pertama adalah pembersihan bangunan sekolah. Setiap hari, setiap sekolah, SD di seluruh sekolah-sekolah di Jepun menyuruh mahasiswa untuk membersihkan ruangan kelas dan ruangan awam, seperti, ruangan istirehat, pintu masuk, gimnasium, di luar bangunan dan sebagainya. Ini adalah bertujuan bukan sahaja untuk mencipta persekitaran belajar yang baik dan suasana lebih baik, tetapi juga bagi pelajar menghargai nilai kerja dan kerjasama dengan masyarakat. Ini jelas dilihat bahawa Pendidikan Moral di Jepun bukan lebih kepada teori pengajaran namun menjurus kepada praktikal yang dikatakan mampu memberikan kesan positif pemupukan amalan moral dalam diri setiap masyarakatnya.

Manakala di Malaysia pula, pendidikan moral yang diajarkan dinilai secara berorientasikan kepada peperiksaan. Pendidikan moral sering dipelajari dengan menghafal dan secara teori sahaja. Guru di sekolah-sekolah cenderung untuk menumpu pada teknik menjawab daripada pengajaran yang diberikan dalam buku teks. Bukannya mentafsirkan nilai yang sesuai berdasarkan maklumat yang diberikan, pelajar diajar untuk mencari kata kunci spesifik dalam keterangan dan mengenalpasti nilai moral yang sesuai. Dengan demikian, penghafalan ketat daripada nilai-nilai yang diperlukan tanpa ada penekanan tentang pemahaman atau aplikasi. Penilaian yang dapat dilihat apabila seseorang murid mendapat markah yang tinggi dalam peperiksaan walaupun nilai moral sebenarnya tidak dipraktikkan.

(http://en.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_Moral) 6.0 Kekuatan dan Kelemahan Kurikulum Pendidikan Moral Jepun Selain negara totalitarian, tiada negara moden lain yang menggunakan sekolah secara sistematik bagi maksud indoktrinasi politik seperti Jepun. Walaupun pengasas sistem persekolahan moden menggunakan bahasa utilitarian, mereka tidak pernah melupakan isu moral dan patriotisme (Passin, 1982:149). Dalam hal ini menunjukkan bahawa pendidikan moral amat dititikberatkan dalam melahirkan warganegara yang cintakan Negara dan hasil daripada penterjemahan kurikulum pendidikan secara menyeluruh member impak positif kepada setiap warganya. Walaupun terdapat beberpa kelemahan dalm pelaksanaan kurikulum ini tetapi ia masih mampu diperbaiki. Kekuatan dan kelemahan kurikulum ini dikaji berdasarkan daripada objektif pengajaran pendidikan Moral iaitu: 1. Untuk menggalakkan semangat menghormati martabat manusia dan kehidupan. 2. Untuk memelihara orang-orang yang berusaha mewarisi dan mengembangkan budaya tradisional dan mencipta budaya yang kaya secara individual. 3. Untuk memelihara orang-orang yang berusaha membentuk dan mengembangkan masyarakat dan msyarakat yang demokratik.

4. Untuk memelihara mereka yang boleh menyumbang untuk mewujudkan masyarakat antarabangsa yang damai. 5. Untuk memelihara mereka yang boleh membuat keputusan tanpa dipengaruhi. 6. Untuk memupuk rasa kemoralan. Penentuan objektif pengajaran pendidikan moral di Jepun ini didasari oleh pengalaman pendidikan yang bermula dari zaman awal pemerintahan kemaharajaan sehinggalah zaman pendidikan moden. Contohnya ketika zaman persekolahan Meiji, ia terbuka kepada semua kanak-kanak dalam negara tanpa mengira tempat tingal dan latar belakang. Ia bertujuan melahirkan jati diri nasional atau semangat kenegaraan yang harus dikongsi oleh golongan yang selama ini mengaitkan diri mereka dengan pemerintahan feudal masing-masing dan untuk melatih mereka dalam membina sebuah negara bangsa yang moden (Kaori Okano & Motonori Tsuchiyo, 2004). Dari pandangan keseluruhan mengenai objektif pengajaran pendidikan moral ini, dapt dinilai bahawa penetuan objektif ditentukan oleh semangat kenegaraan dan patriotisme berkenaan Jepun. Pembinaan semangat ini dilihat sangat jelas dan mudah untiuk dipraktikkan dalam subjek pendidikan moral ini yang bukan sahaja diajar di dalam subjek ini, tetapi penerapan unsure kemoralan ini diajarkan secara tidak langsung dalam subjek-subjek lain di sekolah. Pendek kata, penerapan unsur kenegeraan ini meliputi semua bidang pengajaran pendidikan di Jepun. Perbincangan yang menjurus kepada kekuatan dan kelemahan pelaksanaan kurikulum ini ditinjau melalui persamaan dan perbezaan yang terdapat dalam kurikulum pendidikan moral di Malaysia dan Jepun yang dibentangkan dalam bahagian yang seterusnya. Dalam bahagian ini, disentuh sedikit tentang pelaksanaan kurikulum di Malaysia untuk dibuat perbandingan dengan Jepun bagi member gambaran keseluruhan tentang kelemahan dan kekuatan kurikulum tersebut. Pembentukan kurikulum bukan sahaja di Malaysia, malah hampir di seluruh dunia menekankan tentang patriotisme dan ketatanegaraan serta penghayatan nilai-nilai murni dalam Falsafah Pendidikan Negara masing-masing. (Kaori Okano & Motonori Tsuchiyo, 2004). 6.1 Kekuatan Kurikulum

Berdasarkan kepada perbincangan diatas, dapatlah dinilai beberapa kekuatan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan moral di Jepun ini. Pertama, kurikulum yang komprehensif secara tidak langsung meletakkan tujuan pencapaian yang mempunyai keutamaan terhadap semua subjek di dalam pendidikan. Penekanan terhadap unsure patriotisme dan ketatanegraan sememangnya termasuk dalam pembentukan Falsafah Pendidikan telah dipraktikkan sepenuhnya dalam pelaksanaan kurikulum ini. Menurut Abu Bakar Nordin dan Ikhsan Othman (2003), kurikulum pada masa hadapan yang menekankan kepada kesinambungan pembinaan beberapa perkara termasuk kebudayaan nasional, ideologi dan aspirasi nasional yang akan dapat mengukuhkan lagi identiti kebangsaan dan membentuk bangsa yang berwibawa dan bermoral tinggi. Ini dilihat berdasarkan prinsip moral konfucius mengenai hubungan keluarga di satu pihak dan prinsip moral bangsa moden di pihak yang lain, termasuk faedah awam, tanggungjawab awam dan perlembagaan negara serta perundangan Negara. Prinsip moral keluarga dan Negara diintegrasikan dlam pengorbanan individu demi Negara dan maharaja. Pada peringkat sekolah inividu, Perisytiharan lebih menekankan pendidikan moral. Disamping 3M, pelajar memepelajari ciri unik tentang Jepun. Senaskah Perisytiharan dan sekeping gambar maharaja dan maharani diedarkan kepada semua sekolah untuk membentuk asas upacara nasionalis, untuk menyemai dikalangan pelajar dan ibu bapa bahawa matlamat pendidikan adalah lebih utuk Negara berbanding individu.(Kaori Okano & Motonori Tsuchiyo, 2004). Keduanya, pendidikan di Jepun bertujuan untuk mengekalkan nilai-nilai sosial dan mengekalkannya untuk generasi akan datang. Kekuatan ini didorong oleh kemampuan organisasi pendidikan di Jepun menjadikan sekolah sebagai agen pembudayaan. Perkara ini diperkukuhkan lagi dengan penegasan objektif pendidikan moral yang kedua iaitu untuk memelihara orangorang yang berusaha mewarisi dan mengembangkan budaya tradisional dan mencipta budaya yang kaya secara individual. Sekolah merupakan satu sistem sosial tersendiri yang mempunyai stuktur dan peraturan yang perlu dipatuhi. Konflik yang sering berlaku di antara pelajar dalam kumpulan diselesaikan menggunakan mekanisme sistem sosial yang sedia ada (Abu Bakar Nordin &Ikhsan Othman, 2003: 178). Perkara yang paling penting ialah dalam hal ini ialah pelajar memelajari norma dan nilai hidup bermasyarakat yang seterusnya membantu pelaksanaan dan pencapaian objektif tersebut. Penerapan nilai-nilai murni ini akan membentuk masyarakat

yang kukuh dengan ciri-ciri moral dan etikanya sekaligus mencipta kebanggaan terhadap warisannya. Seterusnya, kekuatan kurikulum ini dilihat mampu dan berupaya secara penuh membolehkan para pelajarnya juga warganya untuk memahami dengan jelas sejarah dan senario dunia. Dalam waktu yang sama, ia mampu untuk memperdalamkan pemahaman mereka tentang bangsa lain dan cara hidup mereka. Modul persekolahan yang dilaksanakan di Jepun ini menerapkan perkara mengenai kepentingan tiga perkara ini : 1. Menghormati hak asasi manusia 2. Menghormati dan saling bekerjasama antara Jepun dan negara-negara asing. 3. Pemahaman dan kerjasama dengan pertubuhan antarabangsa seperti UNESCO. Antara program yang dilaksanakan ialah The Associated School Project for International Understanding yang bertujuan mempelajari metode pendidikan yang tepat untuk pemahaman antarabangsa melalui pengembangan dalam pendidikan secara bersama-sama yang dilaksanakan di sekolah-sekolah yang telah dilantik UNESCO. Melalui program ini, UNESCO bertindak sebagai orang tengah dalam menghubungkan perkembangan pendidikan antara negara. Perasaan prejudis dan stereotaip terhadap kebudayaan negara asing dielakkan melalui program ini yang bertujuan mewujudkan persefahaman yang berterusan sekaligus melihat kebudayaan laur juga mempunyai ketamadunan yang tinggi dan boleh dicontohi. Selain itu, program yang dijalankan di Filipina Study on Japan bertujuan sama iaitu mengelakkan rasa prejudis terhadap orang asing sebaliknya mencontohi budaya yang baik dripada negara asing. Contohnya, budaya warga Jepun yang dikenali sebagai bangsa yang rajin bekerja boleh dipraktikkan dalm kehidupan seharian, tidak semata-mata dalam konteks pendidikan. UNESCO meletakkan institusi pendidikan sebagai wadah yang penting dalam mengeratkan kerjasama antara negara krana pendidikan merupakan kepentingan bagi semua negara. Pertukaran budaya, contohnya mengenai pelaksanaan kurikulum pendidikan akan mendatangkan impak yang besar dalam melahirkan nilai kemoralan yang tinggi dikalangan pelajar bahkan keseluruhan masyarakat. 6.2 Kelemahan Kurikulum

Berdasarkan pemahaman mengenai kurikulum pendidikan moral di Jepun, terdapat beberapa kelemahan yang masih lagi boleh diperbaiki untuk meningkatkan lagi persembahannya kepada para pelajar dan institusi pendidikannya terutama dalam merealisasikan objektif kurikulum moral. Antara kelemahan yang dikenalpasti ialah: 1. Berorientasikan peperiksaan. Menurut kajian yang dilakukan oleh Prof.Yoshida yang melakukan perbandingan dengan persekolahan J.Waldrof (2005) mendapati bahawa kurikulum pendidikan di Jepun lebih berorientasikan peperiksaan. Menurutnya, Sebenarnya, ada masalah-masalah khusus seperti pengasas falsafah spiritual, tidak ada buku teks, tidak ada kurikulum yang standard dalam diri orang lain. Elemen ini tidak dapat diterima di sekolah di Jepun.Dalam erti kata lain, anak-anak tidak perlu bersaing satu sama lain dalam peperiksaan. Mereka membuataktiviti berkumpulan, persekitaran yang kondusif dan sekaligus dapat menyemai perasaan gembira untuk mempelajarinya (Petikan daripada jurnal). Berdasarkan daripada kenyataan tersebut, pendidikan yang lebih berorientasikan peperiksaan mempunyai kelemahan dalam mengukur tahap pencapaian sahsiah diri berbanding pencapaian akademik. Apatah lagi dalam pendidikan moral yang lebih mementingkan peningkatan nilai dalam diri pelajar. Kurikulum yang berorientasikan peperiksaan tidak hanya tertumpu di Jepun, malah hampir kebanyakan negara di Asia melaksanakan prosedur yang sama. 2. Penggunaan buku teks secara menyeluruh Penggunaan buku teks secara asasnya penting dalam memastikan gred objektif pengajaraan dan pembelajaran tercapai. Kelemahan mula timbul apabila penggunaan buku teks secara menyeluruh terutama dalam pengajian berteraskan nilai dan kemoralan dijadikan kayu pengukur pencapaian pelajar yang diorientasikan kepada peperiksaan, sedangkan pengajaran nilai untuk disematkan di dalam hati para pelajar terutamanya perlulah dilaksanakan dengan menggabungjalinkan pelbagai aspek kemanusiaan yang tidak hanya bterhad kepada pembacaan sahaja.

Menurut Kaori Okano & Motonori Tsuchiya (2004), persekolahan menengah menyediakan pelajar untuk peperiksaan kemasukan sekolah tinggi dan sekolah menengah memperuntukkan masa yang lebih untuk aktiviti dan matapelajaran bukan akademik. Guru juga mengajar berdasarkan buku teks sepenuhnya kerana banyak tajuk yang perlu diajar untuk peperiksaan ke sekolah tinggi dan tidak banyak masa untuk menyentuh tajuk di luar buku teks. Penilaian oleh rakan sebaya di sekolah rendah digantikan dengan peperiksaan yang menguji penguasaan pelajar tenteng kandungan buku teks (Fukuzawa, 1994). Pemberian kuasa yang lebih tegas dalam soal buku teks oleh Kementerian Pendidikan, penyemakan semula kurikulum pengajian sosial pengenalan pendidikan moral dan kursus pengajian baru(garis kasar kurikulum yang perlu dilitupi), yang lebih perskriptif. Kementerian pendidikan mengumumkan pendidikan moral dikendalikan oleh guru homeroom seminggu sekali dan mengadakan pendidikan dala perkhidmatan untuk memaklumkan perkara ini. Keadaan ini secara tidak langsung telah mengakibatkan jadual pembelajarannya tidak mencukupi dan terhad. 3. Objektif lebih bermatlamatkan kenegaraan Kelemahan lain ditimbulkan berikutan penggunaan buku teks secara menyeluruh iaitu menimbulkan persoalan sejauh mana pendidikan moral dalam kurikulum berkesan dalam menyemaikan kesetiaan terhadap kerajaan bermaharaja di kalangan remaja boleh diperdebatkan. Seseorang boleh mengandaikan bahawa ia berjaya menghalang kebanyakan daripada mereka menentang negara secara terang-terangan, tetapi ada individu yag tidak dapat menerimanya (Kaori Okano & Motonori Tsuchiya, 2004). Objektif kurikulum yang lebih menonjolkan matlamat kenegaraan ini memerlukan daya usaha yang kuat terutama dalam merekabentuk kurikulum tersebut. Apabila pendidikan moral diperkenalkan secara rasmi dalam kurikulum sekolah rendah apada tahun 1959, kesatuan guru menyuarakan kebimbangan bahawa pendidikan moralApabila pendidikan moral diperkenalkan secara rasmi dalam kurikulum sekolah rendah apada tahun 1959, kesatuan guru menyuarakan kebimbangan bahawa pendidikan moral bercorak nasional seperti zaman sebelum perang akan

hidup kembali (Cummings 1980;Tsuneyoshi 1994). Keadaan ini dibimbangi pengajaran dan pembelajaran pendidikan moral itu akan beralaih kepada kepentingan politik. 7.0 Kesimpulan Berdasarkan daripada keseluruhan perbincangan ini, dapat disimpulkan bahawa kurikulum pendidikan moral di Jepun ini telah mencapai satu tahap perkembangan yang baik dalam meningkatkan semangat nasionalisme dan patriotisme sejak dari persekolahan peringkat rendah lagi. Apatah lagi dalam mewujudkan kerjasama antarabangsa dalam bidang pendidikan terutamanya pendidikan moral ini yang disedari mempunyai objektif yang berbeza bagi setiap negara. Penyesuian dan pertukaran budaya ini tidak hanya terhad dalam soal politik semata-mata malah mencakui seluruh aspek kehidupan. Contohnya, budaya warga Jepun yang dikenali dengan sifat suka bekerja boleh dijadikan amalan yang dipupuk sejak sekolah rendah melalui program yang dilaksanakan oleh UNESCO. Semua warga masyarakat dunia perlulah menyedari bhawa pendidikan moral ini tidak hanya bertunjangkan pembentukan moral semata-mata, malah secara keseluruhannya dalam setiap subjek wujudnya penerapan pendidikan moral itu secara tdak langsung. Perlu juga disedari, perbezaan dan persamaan yang wujud dalam kurikulum pendidikan moral yang dilaksanakan di Malaysia dan Jepun ini boleh mewujudkan satu hubungan toleransi dalm menjayakan Falsafah Pendidikan Kebangsaan. Pendidikan moral di Jepun menjadi contoh terbaik kerana ianya bertujuan membangunkan warganegara yang tidak pernah kehilangan semangat yang konsisten untu menghormati sesama manusia.

Sistem Pendidikan di Singapura


Sistem pendidikan Singapura didasarkan pada pemikiran bahwa setiap siswa memiliki bakat dan minat yang unik. Singapura memakai pendekatan yang fleksibel untuk membantu perkembangan potensi para siswa. Pendidikan Pra Sekolah Pendidikan pra sekolah diselenggarakan oleh Taman kanak-kanak dan pusat perawatan anak, terdiri dari program tiga tahun untuk anak usia 3 hingga 6 tahun. Terdaftar pada menteri pendidikan, Taman kanak-kanak di Singapura dilaksanakan oleh yayasan masyarakat,

perkumpulan keagamaan, organisasi sosial dan bisnis. Pusat perawatan anak mendapat ijin dari Menteri Pengembangan Masyarakat dan olah raga. Kebanyakan dari Taman kanak-kanak menyelenggarakan dua sesi sehari dengan tiap sesi pelatihan dari 2, 5 sampai 4 jam, 5-hari setiap minggunya. Pada umumnya kurikulum termasuk program berbahasa Inggris dan bahasa asing dengan pengecualian terhadap sistem luar negeri yaitu pada sekolah Internasional yang menawarkan program Taman kanak-kanak bagi anak-anak ekspatriat. Periode pendaftaran bagi setiap Taman kanak-kanak dan pusat perawatan berbedabeda. Kebanyakan dari pusat perawatan anak menerima siswa dari negara manapun sepanjang tahun selama masih ada ketersediaan tempat. Silahkan menghubungi Taman kanak-kanak tersebut secara langsung untuk informasi mengenai pendaftaran, kurikulum dan lainnya. Sekolah Dasar Seorang anak di Singapura menjalani pendidikan dasar selama 6 tahun, terdiri dari empat tahun tahap dasar pertama yaitu Sekolah Dasar kelas 1 sampai 4 dan tahap orientasi tahun ke dua yaitu Sekolah Dasar kelas 5 sampai 6. Pada tahap dasar, kurikulum inti terdiri dari pengajaran Bahasa Inggris, Bahasa daerah dan matematika, dengan mata pelajaran tambahan seperti musik, kesenian dan kerajinan tangan, pendidikan fisik dan pembelajaran sosial. Ilmu pengetahuan sudah diajarkan sejak kelas 3 Sekolah Dasar. Untuk memaksimalkan potensi mereka, siswa diarahkan menurut kemampuan belajar mereka sebelum menguasai tahap orientasi. Pada akhir kelas 6 SD, siswa mengikuti Ujian Kelulusan Sekolah Dasar (Primary School Leaving Examination). Kurikulum Sekolah Dasar di Singapura telah digunakan sebagai model internasional, khususnya metode pengajaran matematika. Siswa asing dari negara manapun diterima di Sekolah Dasar menurut ketersediaan lowongan tempat.

Sekolah Lanjutan Sekolah Lanjutan di Singapura terdiri dari sekolah dengan Dana Pemerintah, bantuan Pemerintah atau biaya sendiri. Para siswa melaksanakan pendidikan lanjutan selama 4 atau 5 tahun melalui program spesial, cepat ataupun normal. Program spesial dan cepat mempersiapkan siswa untuk mengikuti ujian GCE O (Singapore-Cambridge General Certificate of Education Ordinary) pada tingkat empat. Siswa pada program normal dapat memilih jurusan akademik atau teknik, yang keduanya mempersiapkan siswa untuk mengikuti ujian GCE N (Singapore-Cambridge General Certificate of Education Normal) pada tingkat empat dan jika hasilnya memuaskan, maka siswa akan mengikuti ujian GCE O pada tingkat lima. Kurikulum pendidikan lanjutan mencakup Bahasa Inggris, Bahasa daerah, Matematika, Ilmu Pengetahuan dan kemanusiaan. Pada tingkat lanjutan ke-3, siswa dapat memilih pilihan mereka sendiri tergantung apakah mereka di jurusan Seni, Ilmu Pengetahuan, Perniagaan atau teknik terapan.

Kurikulum pada Sekolah Lanjutan di Singapura dikenal di seluruh dunia atas kemampuannya untuk mengembangkan siswa melalui pemikiran yang kritis dan keterampilan intelektual. Siswa asing dari negara manapun diterima di Sekolah Lanjutan menurut ketersediaan lowongan tempat. Dua institusi akademik swasta di Singapura juga menawarkan kepada siswa internasional pilihan kesempatan yang unik untuk meneruskan pendidikan dasar, lanjutan dan pendidikan akhir mereka. San Yu Adventist School yang dikelola oleh Seventh-day Adventist Mission (Singapura), menawarkan program mulai dari pendidikan dasar, pendidikan lanjutan dan pendidikan akhir bagi para siswa dengan budaya dan warga negara yang berbeda. St.Francis Methodist School yang merupakan anggota dari kelompok sekolah-sekolah metodist di Singapura, menawarkan pendidikan lanjutan dan akhir bagi para siswa lokal maupun internasional. Kedua sekolah tersebut terdaftar pada Menteri Pendidikan dan menawarkan kepada para siswa mereka kurikulum akademik yang fleksibel, berwawasan luas dan tepat. Sekolah-sekolah ini membanggakan diri mereka karena memiliki program yang melebihi persyaratan akademik biasanya, menggabungkan elemen- elemen pembelajaran yang kreatif ke dalam kurikulum reguler mereka. Akademi / Pra-Universitas Setelah menyelesaikan ujian tingkat GCE O, para siswa diperbolehkan mendaftar untuk mengikuti program akademi selama dua tahun masa pelajaran pada pra-universitas atau institut terpadu selama tiga tahun masa pelajaran pada pra-universitas, yang keduanya merupakan dasar untuk masuk ke universitas. Kurikulum terdiri dari dua mata kuliah wajib, yaitu General Paper dan Mother Tongue, dan maksimum empat subyek Singapore-Cambridge General Certificate of Education Advanced (GCE A) dari tingkat seni, ilmu pengetahuan dan pelajaran tentang perniagaan. Di akhir masa pelajaran pada pra universitas siswa mengikuti ujian tingkat GCE A. Siswa asing dari negara manapun diterima di akademi dan pra-universitas menurut ketersediaan lowongan tempat.
Politeknik

Sekolah teknik didirikan di Singapura untuk menawarkan kepada para siswa tentang pelajaran melalui practice-oriented pada level diploma. Setidaknya ada 5 politeknik di Singapura:
1. 2. 3. 4. Nanyang Polytechnic Ngee Ann Polytechnic Republic Polytechnic Singapore Polytechnic 5. Temasek Polytechnic

Mereka menawarkan ruang lingkup yang luas dari rangkaian pelajaran seperti Keahlian Teknik, pelajaran tentang Bisnis, Komunikasi Massa, Desain dan info-komunikasi. Mata pelajaran spesialisasi seperti Optometri, Teknik Kelautan, Studi Kelautan, Perawat, Pendidikan Awal pada anak dan Perfilman juga tersedia bagi mereka yang ingin berlatih di jalur karir tertentu. Lulusan-lulusan politeknik telah membuktikan diri dengan menjadi tenaga kerja yang populer ketika mereka bergabung dalam dunia kerja yang dilengkapi dengan keterampilan dan pengalaman yang terkait pada bidang ekonomi baru. Institut Pendidikan Teknik Institut Pendidikan Teknik (ITE) merupakan alternatif pilihan setelah melewati tingkat lanjutan bagi mereka yang memilih untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan teknik dalam berbagai sektor industri. Disamping menyediakan program-program bimbingan dan pelatihan kelembagaan secara full-time untuk lulusan sekolah lanjutan, ITE juga menyediakan program-program pendidikan berkelanjutan bagi mereka yang bekerja.
Universitas Tiga universitas lokal di Singapura: 1. National University of Singapore (NUS) 1. Nanyang Technological University (NTU) 2. Singapore Management University (SMU)

Universitas lokal tersebut diatas membentuk lulusan yang hebat dengan gelar kesarjanaan yang dikenal secara internasional. Kesempatan untuk melakukan penelitian ilmiah dan beasiswa juga tersedia untuk para siswa lanjutan tingkat akhir. Sejak berdiri pada tahun 1905, NUS telah berkembang menjadi universitas yang mempunyai cakupan luas dengan menawarkan pelatihan tentang berbagai disiplin ilmu seperti Ilmu pengetahuan, keahlian tehnik terapan, teknologi, hukum, seni dan pengetahuan sosial dan pengobatan. NTU didirikan pada tahun 1981 dengan menyediakan banyak fasilitas untuk melaksanakan pendidikan tingkat 3 dan melakukan penelitian dalam keahlian tehnik dan teknologi. NTU telah tergabung dengan National Institute of Education (NIE) fakultas keguruan dan berkembang mencakup kegiatan pembukuan, bisnis dan ilmu komunikasi. Universitas Internasional di Singapura Selain dari universitas-universitas lokal, banyak juga universitas-universitas asing terkemuka yang telah hadir di Singapura. Universitas-universitas ini ada yang mendirikan kampusnya sendiri (institusi untuk pendidikan lanjutan) atau mempunyai program gabungan/kolaborasi dengan universitas lokal (kerja sama lokal). Institusi Internasional Terkemuka dengan Kampusnya di Singapura

INSEAD University of Chicago Graduate School of Business Duke SP Jain Centre of Management ESSEC Digipen Institute of TechnologyUniversity of Nevada, Las Vegas (UNLV) New York University Tisch School of the Arts Asia

Universitas Internasional Terkemuka yang Berkolaborasi dengan Universitas-Universitas Lokal Singapura


Johns Hopkins Georgia Institute of Technology Massachusetts Institute of Technology (MIT) The Wharton School of the University of Pennsylvania Design Technology Institute German Institute of Science & Technology Shanghai Jiao Tong University Stanford University Waseda University Indian Institute of Technology, Bombay New York University School of Law Cornell University

Selain itu, universitas-universitas lokal kami, National University of Singapore dan Nanyang Technological University juga mempunyai program kerja sama dengan lebih dari 16 institusi lainnya di seluruh dunia. Ini termasuk: University of St. Gallen (Swiss), Beijing University for Chinese Medicine, ESIEE (Perancis), Australian National University, University of Melbourne (Australia), University of Illinois Urbana-Champaign (AS), UCLA Anderson School of Management (AS), Ecole Suprieure dElectricit (Supelec) (Perancis), Peking University (Cina), Karolinska Institutet (Swedia), University of Basel (Swiss), Technical University of Denmark, Kings College London, Tsinghua University (Cina), Universit Pierre Et Marie Curie, Universit Paris Sud dan French Grandes coles. Terdapat juga institusi-institusi khusus asing di Singapura, yang telah mendirikan kampusnya di sini atau bekerja sama dengan politeknik-politeknik lokal. Program ini memungkinkan siswasiswa politeknik untuk mendapatkan gelar yang berkaitan dengan mata pelajaran yang telah mereka ambil setelah mereka menyelesaikan diploma mereka di politeknik.
Sekolah Swasta

Di Singapura, sekolah-sekolah swasta turut menawarkan berbagai jenis program, menambah lengkapnya keanekaragaman dunia pendidikan di negeri ini. Terdapat sekitar 300 sekolah swasta di Singapura, dengan penjurusan seperti komersial, TI, senirupa dan bahasa. Private Education Institutions (PEI/Lembaga Pendidikan Swasta) ini menawarkan berbagai program studi yang banyak dicari oleh siswa lokal maupun internasional. PEI menawarkan berbagai program studi di tingkat sertifikat, diploma, sarjana (bachelor) maupun pascasarjana (postgraduate). Melalui kemitraan dengan berbagai universitas internasional yang populer dari AS, Inggris, Australia dll,

PEI menawarkan kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan sertifikasi internasional dalam lingkungan yang aman dan terjangkau. Masing-masing PEI memiliki kegiatan penerimaan/pendaftaran siswanya sendiri, dan bagi siswa yang tertarik silakan langsung menghubungi sekolah yang diminati. Saat memilih PEI, pastikanlah bahwa sekolah tersebut telah memenuhi harapan Anda dalam hal:

Program studi yang ditawarkan Pengakuan atas sertifikasi yang didapat Fasilitas sekolah (ruang kelas, fasilitas komputer dan sebagainya) Layanan bagi siswa internasional (bantuan akomodasi dan visa, orientasi siswa, konseling siswa, dll)

Untuk memastikan bahwa PEI di Singapura dapat menjaga kepentingan dan kesejahteraan siswa melalui standar peraturan yang berkualitas tinggi dan praktik usaha yang baik, telah dibentuk Council for Private Education (CPE/Dewan Pendidikan Swasta), sebuah dewan resmi di bawah Departemen Pendidikan Singapura untuk mengatur semua masalah yang berkaitan dengan sektor pendidikan swasta di Singapura. Semua lembaga pendidikan swasta yang menerima siswa internasional harus mendapat sertifikasi EduTrust. EduTrust Skema sertifikasi EduTrust merupakan skema sertifikasi sukarela yang diselenggarakan oleh Council for Private Education, bagi para lembaga pendidikan swasta di Singapura. Meskipun skema sertifikasi EduTrust ini bersifat sukarela, namun merupakan prasyarat bagi lembaga pendidikan swasta yang menerima siswa internasional agar dapat mengeluarkan Student Pass, sesuai peraturan dari Immigration and Checkpoints Authority (ICA/Otorita Imigrasi dan Pemeriksaan Tempat Masuk). Skema ini memberi jalan bagi lembaga pendidikan swasta yang lebih baik untuk membedakan diri karena telah mencapai standar yang lebih tinggi dalam bidang-bidang utama pengelolaan dan pengawasan layanan pendidikan. Sekolah sistem luar negeri / Sekolah Internasional Sekolah sistem luar negeri atau Sekolah Internasional menawarkan kesempatan kepada anda untuk mengikuti pendidikan yang mirip dengan negara asal anda. Terdaftar pada Menteri Pendidikan, mengikuti aturan dan kurikulum yang identik dengan negara asal anda. Singapura memiliki sejumlah sekolah internasional yang memberikan ijin masuk untuk para siswa asing dan penduduk setempat. Beberapa sekolah internasional menentukan persyaratan minimum pada saat melakukan pendaftaran, seperti kemampuan bahasa atau kewarganegaraan. Kriteria tiap sekolah berbeda.

Biaya pertahun biasanya mencapai S$4,600 sampai S$14,000 untuk tingkat yang lebih rendah dan S$6,000 sampai S$18,000 untuk tingkat yang lebih tinggi. Tahun ajaran sekolah dan semester juga berbeda pada setiap sekolah. Dua sekolah top di Singapura, Anglo-Chinese School (ACS) dan Hwa Chong Institution telah meraih status sekolah swasta, dengan penerimaan murid pertama pada bulan Januari 2005. Didirikan di bawah badan ACS International dan Hwa Chong International, kedua sekolah akan menawarkan pendidikan sekolah menengah dan selepas sekolah menengah. ACS International akan menawarkan GCSE internasional dan Program Internasional Baccalaureate Diploma, sementara Hwa Chong International akan menawarkan program sekolah menengah dan prauniversitas dengan sertifikat tanda tamat belajar GCE A Level. Departemen Pendidikan Singapura (Ministry of Education) tampaknya lebih banyak bekerja dan memberi perhatian besar pada pengembangan pendidikan ketimbang memanfaatkan pendidikan sebagai sumber rezeki bagi oknum atau pegawai-pegawai departemen itu. Dari sekolah dasar hingga universitas, misalnya, siswa sudah dipantau dan diarahkan untuk mendapatkan pendidikan yang cocok untuknya.Jadi, tidak semua warga layak atau bebas masuk universitas di Singapura.Bagi mereka yang tidak layak masuk universitas di Singapura, memang bebas memilih kuliah di luar negeri sesuai dengan kemampuan orangtua, tetapi tidak bebas masuk universitas di Singapura jika tidak melewati tes tertentu. Dosen-dosen dan guru di Singapura juga tidak kalah profesionalnya.Dengan gaji yang tergolong memadai, orang- orang terangsang menjadi guru.Tidak semua guru berasal dari Singapura sendiri. Dosen-dosen di NTU, misalnya, tidak sedikit yang menjadi orang-orang hebat di negara asalnya dan kemudian direkrut menjadi dosen di Singapura.Masalahnya, Singapura berniat menjadikan dirinya sebagai pusat pendidikan berkelas internasional, setelah berhasil menjadikan dirinya sebagai pusat pelayanan kesehatan terbagus di Asia Tenggara. Kegiatan di universitas dan di sekolah-sekolah bukan sebatas acara belajar-mengajar rutin di ruang-ruang kelas.Hampir setiap bulan tampil pembicara tamu berkaliber internasional membawakan topik-topik baru yang ditemukan di dunia. Pemerintah Singapura tidak segan-segan mendatangkan, misalnya, Michael Porter, Philip Kottler, ahli manajemen terkenal di dunia, serta dosen-dosen kaliber internasional yang memang mahal tarifnya tetapi Singapura tidak pelit soal itu. Jadi, selain mendapatkan ilmu, mahasiswa juga diberi pencerahan dengan menghadiri seminarseminar gratis tetapi sangat berkualitas.Jangan bayangkan presentasi mereka seperti guru-guru atau dosen-dosen yang direkrut begitu saja untuk jadi pengajar P4 yang membuat ngantuk di negara kita pada zaman Orde Baru.

Gilanya lagi, sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan di Singapura tidak berhenti melirik perkembangan pendidikan di negara lain. Maka, muncullah misalnya aliansi antara sekolah bisnis di NTU dan Sloan School of Management di Massachusetts Institute of Technology. Aliansi seperti itu dibiarkan dirangsang sendiri oleh masing-masing fakultas.Universitas hanya memberi persetujuan.Otonomi masing-masing fakultas dibuat sedemikian tinggi dan dibiarkan mampu memikirkan pengembangan diri sendiri.Soal pendanaan, tampaknya tidak menjadi masalah.NTU, misalnya, sudah memiliki endowment fund dari pemerintah sebesar 200 juta dollar Singapura. Maka, tidak heran jika NTU, NUS, dan Singapore Management University dengan mudah membangun aliansi dengan Harvard University, Wharton School, dan universitas kelas satu lainnya di AS. Kerja sama internasional pendidikan juga dilakukan dengan banyak negara. Namun, kemajuan pendidikan di AS membuat Singapura lebih berkiblat ke AS. Mahasiswa di Singapura sering kali mendapatkan kesempatan untuk melakukan studi tur dengan menjelajah dunia.Bagi mahasiswa yang mampu dibiarkan membayar sendiri, tetapi dengan subsidi universitas.Namun, bagi yang tidak mampu tersedia beasiswa yang memungkinkan mereka tinggal di hotel, seperti JW Marriott.Bayangkan, misalnya, selama satu setengah bulan mahasiswa pascasarjana di Nanyang MBA Fellowship Programme tinggal di apartemen yang dikelola JW Marriott di Boston. Jadi, persoalan bukanlah pada fasilitas dan beasiswa.Mahasiswa tinggal menyediakan waktu dan niat untuk belajar tekun tanpa harus diganggu oleh ketiadaan biaya.Bukan hanya itu, Pemerintah Singapura tidak saja bersedia mendidik warganya, tetapi juga bersedia merekrut calon-calon siswa dan mahasiswa dari negara tetangga dan dengan beasiswa serta tawaran kesempatan kerja di Singapura.Karena itu, tidak heran jika ada warga melayu dari Padang hingga Klaten belajar di Singapura dengan bantuan, termasuk ongkos pesawat pergi pulang saat liburan. Singapura sadar akan potensi kekurangan tenaga kerja. Niat Singapura untuk menawarkan beasiswa bukan sekadar menjadikan mereka sebagai tenaga di Singapura suatu saat.Bagi mahasiswa yang kembali bekerja di negara asalnya, setidaknya diharapkan bisa menjadi orang yang kenal dan sayang dengan Singapura dan bisa menjadi jaringan Singapura di kemudian hari. Bukan itu saja, dengan mengundang mahasiswa dari luar, Pemerintah Singapura otomatis membuat warganya terbiasa bergaul secara internasional ketika masih berada di sekolah.Itu sesuai dengan posisi Singapura sebagai hub regional sehingga warganya tidak menjadi seperti katak di bawah tempurung.Bicara soal silabus dan kurikulum, departemen pendidikan di Singapura setiap kali bekerja untuk melakukan evaluasi.Setiap perkembangan baru selalu disisipkan pada silabus baru. Jadi, itulah pendidikan di Singapura, bukan sekadar menyediakan sarana dan prasarana yang baik, tetapi terus melakukan up-dating dari tahun ke tahun.Itu semua dilakukan sebagai pengejawantahan visi dan misi pendidikan di Singapura.

Bukan itu saja, iklim persaingan di antara keluarga dan komunitas di Singapura menjadi salah satu kunci rahasia sukses pendidikan di Singapura. Bayangkan, orangtua, rekan, pasangan, atau pacar seperti memaksa siswa dan mahasiswa untuk menjadi juara satu atau tidak sama sekali. Hanya ada satu orang juara satu. Akan tetapi, dengan prinsip itu, semua orang berlomba mendapatkan nilai terbaik dan tidak jarang sejumlah besar mahasiswa sama-sama memiliki nilai A semuanya. Apa sih kurangnya pendidikan di Singapura? Tidak ada jika dibandingkan dengan pendidikan di Indonesia, misalnya.Yang mungkin masih kurang adalah keberanian siswa dan mahasiswa berbicara di ruang kelas dan mempertanyakan kebenaran sistem dari negara yang tidak begitu bebas.Mahasiswa Singapura tidak begitu cerewet di kelas seperti masyarakatnya.Inilah yang disadari oleh PM Lee Hsien Loong (BG Lee).Kebebasan berekspresi secara nasional ala Singapura ternyata berdampak di kelas-kelas.Maka itu, kini BG Lee menawarkan paradigma baru, yakni kebebasan bicara. Soalnya, aneh memang jika di kelas pun mahasiswa harus ramah dan menurut. Bukankah pendidikan bermaksud mencari kebenaran atas yang salah, termasuk kediktatoran ala Singapura yang dimulai oleh mantan PM Lee Kuan Yew, yang melarang oposisi berkoak-koak?

Biaya Sekolah di Singapura


Pendidikan Dasar Untuk sekolah negeri dan sekolah bantuan Pemerintah, biaya per bulan adalah sebagai berikut:

S$120 untuk Sekolah Dasar S$170 untuk Sekolah Lanjutan S$280 untuk Pendidikan Pra Universitas/ akademi

Mengenai biaya sekolah independen dan daerah sangat bervariasi, silahkan periksa langsung ke institusi yang dimaksud. Institusi Biaya Pendidikan dapat berubah setiap tahunnya. Menengah

Untuk melihat biaya sekolah di Singapura yang lebih lengkap bisa di baca di Singapore Edu Website.

Mendaftar Sekolah di Singapura


Untuk membantu memastikan bahwa anda telah mengambil langkah yang tepat dalam melakukan pendaftaran, kami secara rinci menjelaskan di link ini prosedur pendaftaran ke berbagai institusi yang berbeda di Singapura.

Perkembangan Pendidikan di Brunei 1954-1984


03/01/2011

ibnuziad Perkembangan Pendidikan di Brunei 1954-1984 Leave a comment KANDUNGAN;


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. PENDAHULUAN. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SEBELUM PEMERINTAHAN BRITISH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SEMASA PENTADBIRAN RESIDEN PERKEMBANGAN DASAR PENDIDIKAN UGAMA ISLAM DI BRUNEI SEKOLAH MELAYU SEKOLAH CINA SEKOLAH INGGERIS SITUASI PENDIDIKAN SELEPAS PERANG DUNIA KEDUA. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN 1954 DASAR PERKEMBANGAN PENDIDIKAN 1962 PERKEMBANGAN DASAR PENDIDIKAN 1972 KEGAGALAN DASAR PENDIDIKAN NEGARA 1962 DAN DASAR PENDIDIKAN 1972- 19 DASAR PENDIDIKAN DWI BAHASA KONSEP DWIBAHASA KESIMPULAN LAMPIRAN

PERKEMBANGAN DASAR PENDIDIKAN 1954 -1985 : SATU TINJAUAN PENDAHULUAN. Pendidikan memainkan peranan bagi kecemerlangan sesebuah negara untuk membangun. Oleh itu Brunei tidak terkecuali bagi proses kearah pembangunan dan meninggi tarafkan kedudukan negara ke mata dunia. Sejarah perkembangan dasar pendidikan banyak memberi kesedaran kepada kita bahawa Dasar pendidikan yang dilaksanakan itu mengharungi rintangan-rintangan yang patut dinilai semula oleh sesiapa sahaja yang terlibat dengan bidang pendidikan samaada dari golongan bertaraf atasan maupun yang baru terlibat dalam bidang pendidikan. Kerana jika seseorang yang berkenaan itu dapat mengambil iktibar dan pengajaran daripada apa yang telah berlaku tentang perkembangan dasar pendidikan negara ini sudah pasti tidak akan mudah tersilap hingga ke hari ini. Dalam essei ini akan merungkap beberapa perkembangan dasar pendidikan di Brunei bermula dari peranan Pehak Residen dalam perkembangan dan sistem pendidikan di Brunei. Mengapakah Pehak Residen yang tidak mahu pendidikan di negara ini berkembang seperti yang diharapkan oleh masyarakat di awal penubuhan pendidikan secara formal ? Sejauh manakah perkembangan dasar pendidikan di Brunei, di mana sering berlakunya pembaharuan hingga ke hari ini ? Mengapa dasar pendidikan itu membawa kegagalan sehingga membawa ke dasar pendidikan semasa kemerdekaan iaitu pada tahun 1984 ? ( sila lihat Lampiran 6 ) Dalam essei ini akan menjelaskan terlebih dahulu perkembangan dasar pendidikan di zaman sebelum,smasa dan selepas pentadbiran Residen dan sekolah-sekolah yang dibina hingga ke tahun 1954, iaitu bermulanya Dasar Pendidikan 1954 dan peranan sekolah-sekolah yang dibina itu terhadap masyarakat di Brunei.

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SEBELUM PEMERINTAHAN BRITISH Sebelum mengulas tentang perkembangan pendidikan Brunei pada 1954 hingga 1984, perlu di ketehui juga asas perkembangan pendidikan di Brunei adalah lebih awal daripada yang dijangkakan, di mana, pendidikan Islam mula berlaku adalah serentak dengan kedatangan Islam di Negara Brunei Darussalam pada abad ke 13 Masehi ( Pg Hj Mohammad bin Pg. Hj Abd Rahman, Dr., 2005 : 12 ). Sehubungan dengan dengan itu, telah terbukti apabila artifek sejarah terbaru yang ditemui dalam tahun 1972, iaitu penemuan oleh Muzium Brunei yang menemui sebuah batu nisan di perkuburan orang Islam di Rangas. Di mana sebuah batu nisan itu dipercayai kepunyaan oleh seorang pegawai kanan dalam zaman pemerintahan Chun Yu, yang di utus ke Puni ( Brunei) yang meninggal dalam tahun 1264 M ( Hj Zaini Hj Ahmad Dr. , 2003 : 23 ). Dengan bukti ini menunjukkan bahawa Islam telah bertapak lebih awal, dan secara lojiknya pendidikan yang berunsurkan agama Islam sudah diterapkan kepada penduduknya ketika itu dan dikalangan masyarakatnya sudah pandai menulis sehingga berkemahiran untuk mencatatkan penulisan ke atas batu nisan.Oleh yang demikian, seperti yang dimaklumi bahawa sebagai seorang yang mengakui ia Islam, adalah satu kewajiban bagi seorang Muslim bahawa untuk menjalankan kewajiban ibadah dan mengukuhkan akidah mestilah ada ilmu pengetahuan ugama. Pendidikan pada ketika itu secara tidak resminya dijalankan menerusi rumah-rumah, masjidmasjid dan surau-surau dan tidak juga ketinggalan dijalankan di istana. Manakala sejarah pendidikan di Brunei tidak di catatkan adanya institusi pengajian pondok seperti yang wujud di tempat lain di Nusantara dan di Tanah Melayu. Walau bagaimanapun, pada peringkat awal ini matlamat pendidikan ialah untuk menyampaikan ilmu pengetahuan fardhu ain bagi membentuk keperibadian Muslim yang sempurna. Tenaga pengajarnya pula terdiri daripada mubalighmubaligh, pedagang-pedagang Islam, Imam-Imam, Pembesar-pembesar negara dan orang-orang alim setempat ketika itu. Adapun kurikulumnya meliputi persoalan aqidah dan perkara-perkara ibadat serta membaca Al Quran sahaja. Manakala struktur pengajiannya tidaklah berjalan secara terbuka tanpa ada peraturan dan garis pandu yang tertentu. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN SEMASA PENTADBIRAN RESIDEN Sistem Residen mula bertapak di Brunei pada tahun 1906, iaitu selepas termeterinya Perjanjian Perlindungan dengan pihak British pada 3 Disember, 1905 dan 2 Januari 1906. Sebaik sahaja Brunei di bawah pentadbiran Residen, negara ini mengalami berbagai perubahan baik dari segi sosial, ekonomi, pentadbiran maupun pendidikan. Namun sistem pendidikan tidak diperkenalkan secara mendadak kerana kerajaan Residen terpaksa memulihkan sistem pentadbiran yang telah mengalami berbagai rintangan itu terlebih dahulu. Proses ini mengambil masa selama lebih kurang lima ke enam tahun. Ini bersandarkan kenyataan Jatswan S.Sidu yang mana ura-ura melahirkan satu sistem pendidikan ala Barat hanya terlaksana pada tahun 1911.( Jatswan S. Sidhu, 1995 : 12 ).

Oleh itu, pada peringkat awal sistem pendidikan diperkenalkan adalah untuk mengisikan kekurangan kakitangan kerajaan ketika itu, seperti yang dikatakan oleh Residen Inggeris pada tahun 1912 dalam laporan tahunan beliau, bahawa belum terdapat dikalangan penduduk yang tahu membaca dan menulis. Ini bererti penduduknya belum pandai membaca dan menulis dalam huruf rumi kerana sebelum sistem Residen diperkenalkan, telah sedia wujud golongan penduduk tempatan yang tahu membaca dan menulis dalam huruf jawi.( Sabihah Osman, 1995, : 61 ) Ia ditambah lagi dengan laporan Residen British (1916 1921 ) yang mengatakan these do not aim at providing a high standard of education. They do, however provide the children with elementary training and also teach them discipline, punctuality and personal cleanliness ( Hj Jamil Al Sufri, 1999 : 14 ) Jadi dengan itu jelas menunjukkan bahawa tujuan pihak British mengadakan bukanlah untuk mencapai kemajuan pendidikan yang lebih tinggi lagi bagi masa depan penduduk tempatan. Di mana, pihak Residen British memberikan pendidikan kepada rakyat Brunei dengan tidak memberikan pendidikan ke taraf yang tinggi. Oleh itu, mereka hanya mendedahkan dan memberikan bidang pendidikan kepada penuntutpenuntut di Brunei, hanyalah sakadar untuk kepentingan asas sahaja dan bukan untuk mencapai kemajuan pendidikan yang lebih tinggi lagi bagi masa depan penduduk tempatan. Sebelum ini kebanyakan penduduk Brunei pada masa itu ada yang sudah pandai membaca dan menulis di dalam tulisan Jawi. Dari hal demikian pada tahun 1914, bermulalah sistem pendidikan secara formal dimana sekolah-sekolah didirikan termasuklah sekolah-sekolah yang akan diperjelaskan lebih terperinci lagi nanti, iaitu seperti sekolah misi, Melayu, Cina dan Inggeris. Walaupun pendidikan formal sudah mula diperkenalkan di Brunei pada tahun 1914, namun kerajaan tidak pernah mengeluarkan secara rasmi dasar pendidikan yang dijalankan di Brunei sehingga tahun 1953. Ini mungkin disebabkan pihak British yang menguasai pendtadbiran Kerajaan ketika itu tidak begitu mengambil berat tentang perkembangan pendidikan di Brunei. Justeru, bidang pendidikan di anggap kurang penting berbanding dengan bidang-bidang lain seperti perdagangan, perindustrian, pertanian dan sebagainya, yang lebih menguntungkan. Sedangkan dalam proses pendidikan, satu dasar yang perlu diwujudkan dan dirancang bagi menentukan arah dan tujuan sebenar pendidikan negara, agar ia sesuai dengan arus perkembangan ekonomi dan sosial yang dialami oleh sesebuah negara itu. Pendidikan di Brunei pada tahun-tahun sebelum 1960-an adalah mundur. Keadaan ini mungkin disebabkan oleh pentadbiran Residen British yang secara umumnya tidak pernah mengambil perhatian yang berat terhadap pelajaran anak-anak tempatan.( Razali Hj Ahmad, 1999 : 304).

Kegagalan pentadbiran Residen untuk menyediakan satu sistem pelajaran adalah tidak dapat diterima kerana selepas Perang Dunia Kedua. Ketika itu Brunei mempunyai lebihan perbelanjaan yang agak besar. Ianya tidak menjadi masalah jika sekiranya pihak Residen benar-benar ingin memajukan anak-anak tempatan.( Razali Hj Ahmad, 1999 : 305) Berdasarkan kepada perkembangan pelajaran dan dasar pelajaran yang diterima dalam zaman Residen, sedikit sebanyak telah memberikan kesan yang jelas kepada perkembangan sosio ekonomi di Brunei sehingga tahun-tahun 1960-an.

Melihat daripada dasar-dasar yang dijalankan di atas, adalah tidak dinafikan bahawa kemunduran penyertaan penduduk-penduduk tempatan dalam perkembangan sosioekonomi adalah berpunca daripada ketidak sesuaian dasar pelajaran yang mereka terima. Walau bagaimanapun kelemahan-kelemahan ini tidaklah sepenuhnya disebabkan oleh kelemahan dasar pelajaran yang dijalankan oleh pentadbiran Residen sahaja, tetapi masyarakat pada masa itu dalam menerima sistem pelajaran ala barat pada peringkat awalnya tidak meyakinkan mereka. Ramai berpendapat pelajaran barat hanya akan membuka jalan bagi orang-orang barat untuk mengkristiankan anak-anak mereka. Bagi mereka istilah barat itu berkait rapat dengan ugama Kristian. Oleh itu masalah-masalah tadi, telah menambahkan lagi ketidak seriusan pentadbiran Residen dalam menangani serta menyesuaikan dasar atau perkembangan pendidikan yang dapat memberikan galakan untuk anak-anak tempatan dalam memajukan dan menyertai perkembangan sosioekonomi Brunei sehingga tahun 1950-an. PERKEMBANGAN DASAR PENDIDIKAN UGAMA ISLAM DI BRUNEI Pendidikan Ugama Islam telah diperkenalkan di Brunei sejak abad ke 14, iaitu oleh mubalighmubaligh dan juga orang-orang tempatan melalui masjid-masjid, balai-balai dan rumah-rumah persendirian. ( Hj Abd. Ghani Hj.Bujang , 1999 : 356 ) Pelajaran ugama sebagai satu mata pelajaran mula diperkenalkan di sekolah rendah dalam tahun 1930-an iaitu apabila sistem pendidikan persekolahan secara teratur diperkenalkan. Walau bagaimanapun persekolahan ugama secara penuh dan bersistem bermula dalam tahun 1956, Kewujudan sistem persekolahan Ugama khas ini adalah atas titah perintah perkenan Allahyarham Sultan Omar Ali Saifuddin III iaitu setelah mendapat laporan dan syor berikutan terdapat kelemahan murid-murid di beberapa sekolah Melayu dalam pendidikan Ugama. Laporan tersebut menyatakan dua yang utama iaitu pertama, kebanyakan murid tidak tahu rukun Islam sementara kedua, masa belajar ugama terlalu pendek dan guru-guru mengajar itu bukan keluaran dari sekolah ugama dan tidak pandai menjalankan tugas menurut peraturan sekolah.

Oleh yang demikian pendidikan persekolahan ugama secara penuh dan bersistem telah ditubuhkan dengan menggunakan bangunan Sekolah-sekolah Kerajaan Melayu dan Inggeris. Kementerian Hal Ehwal Ugama adalah agensi resmi kerajaan yang bertanggungjawap sepenuhnya dalam hal ehwal ugama termasuklah pelaksanaan pendidikan Islam di negara Brunei Darussalam. Manakala Jabatan Pengajian Islam adalah jabatan khusus yang mentadbir dan memantau perjalanan pendidikan Islam tersebut. Dalam tahun 1966, Sekolah Arab pertama ditubuhkan iaitu Sekolah Menengah Arab Laki-Laki Hassanal Bolkiah dan berikutnya dalam tahun 1967 Sekolah Menengah Arab Perempuan Raja Isteri Pengiran Anak Damit pula ditubuhkan. Dengan kemunculan sekolah ugama dan sekolah Arab, ternyata kedua-dua jenis sekolah ini telah dapat memenuhi sebahagian daripada ciri-ciri yang dikehendaki oleh Dasar Pendidikan Negara 1962 ( yang akan diperjelaskan lebih lanjut lagi) dan Dasar Pendidikan Negara 1972 dari segi penerapan nilai-nilai ugama. Walau bagaimanapun kedua-dua sekolah ini tidak memberikan kesan yang besar terhadap perkembangan Dasar pendidikan pada ketika itu. Kemudian dalam tahun 1972, muncul pula Maktab Perguruan Ugama Seri Begawan dengan tujuan untuk membekalkan guru-guru ugama bagi kegunaan Sekolah-sekolah Rendah Ugama. Dalam pertengahan tahun 1970-an, bangunan kekal khas untuk persekolahan rendah ugama mula dibangunkan untuk menampung pertambahan murid-murid. Perkembangan institusi pengajian ugama terus meningkat lewat 1980-an seperti Mahad Islam Brunei. SEKOLAH MELAYU Sebelum menerangkan Dasar dan perkembangan lebih lanjut, ada lebih elok diperjelaskan dahulu perkembangan Sekolah Melayu dan secara tidak langsung menjadi dasar dalam pendidikan negara seperti yang telah janjikan untuk diperjelaskan lebih lanjut lagi di dalam essei ini. Sekolah Melayu pertama ditubuhkan di Bandar Seri Begawan pada tahun 1914. Keramaian pelajar sebanyak 30 orang dan bertambah kepada 40 orang pelajar setahun berikutnya. Kesemua pelajar ini terdiri daripada pelajar lelaki. Disebabkan oleh sambutan yang kurang menggalakkan dimana kedatangan yang tidak menentu, pihak kerajaan kurang mengambil perhatian serius untuk memperkembangkan sistem persekolahan Melayu. Hal ini mungkin disebabkan pihak ibu bapa yang belum dapat menerima perubahan ini. Tambahan lagi, sistem persekolahan yang diperkenalkan ialah sistem pendidikan ala Barat ,oleh itu mereka takut akan terpengaruh dengan agama Kristian. ( Sabihah Osman, 1995 : 64 ). Dalam pada itu, pada tahun 1915, sebuah sekolah Melayu didirikan di Muara oleh seorang guru di rumahnya dengan keramaian pelajar lelaki sebanyak 40 orang. Dua tahun berikutnya, sekolah Melayu ketiga didirikan di Belait. Menjelang tahun 1918 sebuah lagi sekolah Melayu didirikan dengan jumlah pelajar seramai 175 orang dan kesemuanya lelaki.

Oleh kerana Brunei belum mempunyai maktab latihan perguruan sendiri, bagi mendapatkan guru terlatih, pada 1924, beberapa orang calon guru dihantar ke Maktab perguruan Sultan Idris ( MPSI ) Tanjung Malim, Perak. Manakala pada tahun 1925, masyarakat kedayan meminta di Kilanas untuk didirikan sebuah sekolah dan ianya mula beroperasi pada tahun 1926. Bagi mewujudkan kesungguhan belajar dikalangan penuntut dalam tahun 1929 satu enakmen kehadiran di sekolah diluluskan. Sehingga tahun 1932 enakmen ini hanya berkuatkuasa di Bandar dan setahun berikutnya baharulah diperluluskan ke Kuala Belait. Seterusnya dalam tahun 1930, sebuah sekolah perempuan pertama dibuka di Bandar Brunei. Sekolah ini sekarang dikenali sebagai Sekolah Rendah Raja Isteri Fatimah. Satu-satunya sekolah perempuan pertama ini terpaksa ditutup apabila pengetuanya meninggalkan Brunei. Sekolah itu akhirnya dibuka semula pada tahun 1932 di bawah seorang guru wanita berbangsa Melayu dengan keramaian pelajar seramai 13 orang, tetapi ditutup lagi pada tahun hadapannya kerana kekurangan penuntut yang hadir disebabkan ibu bapa yang enggan menghantar anak perempuan mereka ke sekolah. Sejurus selepas itu pada tahun 1936, Sekolah Melayu ditubuhkan di Kuala Belait. Seramai 10 orang penuntut perempuan hadir belajar bersama pelajar lelaki yang lainnya. Menjelang tahun 1937, jumlah ini bertambah kepada 42 orang dan menjadi 48 orang dan menjadi 48 orang pada tahun 1938. Pada tahun yang sama juga sebuah kelas khas bagi pelajar perempuan juga telah dimulakan di sekolah Melayu Jalam Sultan, di Bandar Brunei dengan keramaian pelajar 74 orang termasuk anakanda baginda Sultan. Adapun dasar dan perkembangan sekolah Melayu pada selepas itu, iaitu berbalik pada tajuk asal bahawa dalam Dasar Pendidikan 1954, bahasa Melayu tidak menjadi bahasa pengantar utama dalam sistem pendidikan Brunei. Walau bagaimanapun, pihak British telah berjanji bahawa penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah akan dilaksanakan secepat mungkin dan penggunaan bahasa Inggeris akan dikurangkan. Sehubungan dengan itu, British beralasan bahawa ia tidak dapat dilaksanakan secepat mungkin kerana bahasa Inggeris ialah bahasa penting dan banyak ilmu pengetahuan boleh didapati dalam bahasa ini. Di samping itu, ia digunakan secara meluas di seluruh dunia. Jadi untuk memberikan pengetahuan yang tinggi kepada anak-anak Brunei, maka penggunaan bahasa Inggeris adalah perlu. Sebarang usaha untuk menghapuskan bahasa Inggeris dalam pendidikan Brunei hanya akan menggagalkan rancangan untuk memberikan anak-anak Brunei berilmu pengetahuan. Kekurangan buku-buku teks dalam bahasa Melayu juga menjadi penghalamg kepada penggunaan bahasa ini sebagai bahasa pengantar, lebih-lebih lagi dalam bidang teknikal dan peringkat pengajian tinggi. Brunei juga adalah di bawah naungan British, jadi penggunaan

bahasa Inggeris adalah penting dari segi perhubungan dengan British yang menggunakan bahasa ini ( Bevington, 1983 : 120-121) Biarpun pihak British telah bersetuju untuk meninggikan taraf sekolah pandai membaca dan menulis di sekolah-sekolah Melayu, ternyata terus diwujudkan dalam Dasar Pendidikan 1954. Dasar ini jelas, satu dasar penyekatan dan menekan terhadap persekolahan Melayu. Hal ini boleh dilihat apabila taraf tertinggi sekolah Melayu cuma setakat darjah VI dan kurikulumnya banyak menjuruskan kepada mata pelajaran perkebunan dan kraft tangan. Namun begitu, penyekatan bukan saja terhadap sekolah Melayu, tapi juga terhadap sekolah Inggeris Kerajaan. Dasar ini boleh di lihat dari segi sistem pelajaran yang bercampur baur antara mata pelajaran akademik dengan mata pelajaran teknikal dan vokasional. Pendeknya, Pihak British khuatir dasar pendidikan pada masa itu apabila kemunculan golongan terpelajar di kalangan anak-anak tempatan sudah pasti akan menggugat kedudukan pegawai British sebagai pentadbir penting dalam kerajaan Brunei.Selain itu, mereka juga merasa bimbang terhadap golongan terpelajar ini akan bangun menentang untuk membebaskan Brunei daripada cengkaman penjajah British seperti mana yang terjadi di negeri-negeri nusantara iaitu Filipina dan Indonesia. SEKOLAH CINA Kewujudan sekolah cina di negara ini hampir selari dengan penubuhan sekolah- sekolah Melayu. Sekolah Cina pertama didirikan di Bandar Brunei pada tahun 1916 dan menjelang tahun 1926 sebuah lagi sekolah persendirian Cina dibina di Kuala Belait. Kedua-dua sekolah ini dibukakan kepada pelajar lelaki dan perempuan. Sementara itu pada tahun yang sama juga, sebuah lagi didirikan di Labi, Belait tetapi setahun berikutnya terpaksa ditutup. Manaka pada 1932, sekolah Cina di Bandar Brunei menerima pertambahan pelajar seramai 44 orang lelaki dan 18 orang perempuan. Manakala sekolah Cina di Belait pula bertambah kepada 42 orang pelajar lelaki dan 11 orang pelajar perempuan. Menjelang tahun 1937 sebuah lagi sekolah Cina didirikan di Kuala Belait dan setahun berikutnya sebuah lagi di Seria. Ini menjadikan jumlah pelajar di sekolah-sekolah Cina semakin bertambah walaupun kewujudan sekolah-sekolah Cina di negara ini adalah atas usaha bersama masyarakat itu sendiri tanpa adanya banyak bantuan dari pihak kerajaan seperti yang diberikan kepada sekolah-sekolah Melayu. Sehingga pada tahun 1967 hanya terdapat lapan buah Sekolah Cina sahaja. Walau bagaimanapun sekolah-sekolah Cina mempunyai kurikulum yang berlainan dari sekolah-sekolah kerajaan. SEKOLAH INGGERIS

Dasar perkembangan sekolah Inggeris boleh dikatakan lambat kerana hanya pada tahun 1930 sahaja baharulah sekolah itu dapat diwujudkan di Kuala Belait oleh British Malayan Petroleum Company ( BPMC ). Pada tahun 1931 sekolah Inggeris dikelolakan oleh Mr.Synott ( seorang paderi Kristian di Kuala Belait) dangan keramaian pelajar 21 orang iaitu lelaki dan perempuan. Sekolah ini merupakan sebuah sekolah Perdagangan ( School Trade ) bertujuan untuk melatih orang Brunei bagi kerjakerja di padang minyak. Kemudian diikuti pula pada tahun 1933, Roman Catholic Mission telah membuka sekolah Inggeris kedua di Brunei dengan keramaian penuntut 29 lelaki dan 8 pelajar perempuan. Menjelang 1938 sebuah lagi dibuka di Bandar Brunei . Setelah meletusnya Perang Dunia Kedua, didapati sebanyak tiga buah sekolah Inggeris yang telah dibuka dengan jumlah penuntut seramai 142 lelaki dan 34 perempuan. Perhatian British terhadap pelajaran aliran Melayu agak sederhana, tetapi satu keberuntungan besar kepada perkembangan pendidikan di Brunei ketika itu, ialah langkah pihak British memperkenalkan pelajaran bahasa Inggeris sebagai salah satu mata pelajaran dalam tahun 1951 dan seterusnya penubuhan sekolah aliran Inggeris persediaan dan menengah. Kerana langkah ini secara tidak langsung telah memberi peluang anak Brunei yang pintar dan bijak menyambung pelajaran mereka di United Kingdom, Singapura dan Malaya. SITUASI PENDIDIKAN SELEPAS PERANG DUNIA KEDUA. Pendudukan Jepun selama tiga setengah tahun di Brunei membawa kepada satu keadaan yang menyebabkan perkembangan pendidikan terbantut. Dalam sistem pendidikan ketika itu, pehak Jepun mahukan bahasa mereka digunakan ( Hussainmiya B.A., 1995 : 33). Hal ini sedikit sebanyak menggangu kelancaran sistem pendidikan yang telah diwujudkan. Apabila Jepun menyerah kalah pada tahun 1945, keadaan sekolah-sekolah di Brunei amat mendukacitakan. Di antaranya ada yang rosak akibat dibom dan juga kerana ditinggalkan. Di atas kesukaran ini pihak kerajaan terpaksa mengambil langkah untuk memulakan satu rancangan lima tahun pada 1946. Rancangan ini diperuntukkan bagi memperbaiki dan membina semula sekolah-sekolah baru. Menjelang tahun 1947, terdapat sebanyak 24 buah sekolah Melayu di Brunei berada dibawah pengawasan Jabatan Pelajaran. Manakala pada tahun berikutnya dengan bilangan sekolah yang sama jumlah pelajar meningkat kepada 2,029 orang ( 1,653 pelajar lelaki dan 376 perempuan). Seterusnya pada tahun 1950 dengan bilangan sekolah yang meningkat maka keramaian pelajar sudah setentunya juga turut meningkat kepada 2,255 orang. ( sila lihat lampiran 1 )

Setelah baginda Sultan Omar Ali Saifuddin menaiki takhta keadaan ini dapat diimbangi dengan mengambil beberapa inisiatif. Sebagai seorang sultan yang mempunyai cita-cita bagi masa depan rakyatnya. Baginda awal-awal lagi sudah sedar bahawa betapa pentingnya pendidikan bagi pertumbuhan masyarakat berkualiti.Baginda tahu bahawa satu-satu cara untuk mempertingkatkan taraf kehidupan rakyat adalah melalui peningkatan taraf pendidikan rakyat. (Muhd. Hadi Abdullah, 1991 : 30) Pada tahun 1950, peruntukan untuk pembelajaran juga bertambah hingga empat kali ganda iaitu dari $ 56,018.00 pada tahun 1947 ke $201,041.00 pada tahun 1950. Pada tahun 1954 diadakan pengenalan Rancangan kemajuan Pendidikan. Ini merupakan satu titik peralihan yang amat penting dalam kemajuan sisitem pendidikan Brunei amnya dan persekolahan Melayu Khasnya. Dengan perancangan ini jumlah pelajar sekolah Melayu semakin bertambah. Pada tahun 1956 sebuah Maktab perguruan pertama siap dibina di Berakas dengan 21 orang guru pelatih. Menjelang tahun 1959 sebanyak 52 buah sekolah Rendah Melayu telah wujud di Brunei dengan jumlah pelajar seramai 3,459 orang ( termasuk 1944 lelaki dan 1515 perempuan). Manakala sekolah Inggeris pula sebanyak 10 buah dengan pelajar keseluruhan seramai 3,583 orang. ( sila lihat lampiran 2 ) PERKEMBANGAN PENDIDIKAN 1954 Walaupun dasar pendidikan sebelum tahun 1954 tidak dikeluarkan dengan rasminya, tetapi ia boleh dikesan menerusi apa yang sedang berlaku pada waktu itu. jelasnya, dasar pendidikan khususnya bagi sekolah Melayu hanyalah untuk membolehkan anak-anak Melayu pandai membaca dan menulis dalam tulisan jawi dan rumi sebagaimana yang telah disebutkan tadi. Oleh itu pelajar yang lulus di Sekolah Melayu cuma layak untuk menjadi guru sekolah Melayu, budak pejabat, petani, nelayan dan sebagainya. Selain itu, ia bukan bertujuan untuk melahirkan tenaga manusia, berkemahiran yang dikehendaki oleh pembangunan negara dan dasar ini serupa dengan yang ada di Tanah Melayu. Sementara itu sekolah misi dan sekolah Cina beroperasi dengan menggunakan sistem pendidikan dan kurikulumnya sendiri. Manakala Pendidikan Ugama cuma diajarkan sebagai satu mata pelajaran di sekolah-sekolah Melayu. Menurut pendapat kebanyakan sarjana, Brunei mempunyai dasar pendidikan yang rasmi dan jelas apabila Jabatan Pelajaran membentuk dasar pendidikan pada tahun 1954. Kemunculan Dasar Pendidikan 1954 ini boleh dikatakan berpunca daripada desakan orang ramai dan pertubuhan sukarela yang mahukan satu corak pendidikan yang lebih baik dan teratur untuk dilaksanakan di Brunei. ( lihat lampiran 3 )

Persekutuan guru-guru Melayu di Brunei pernah menyuarakan kepada kerajaan melalui surat yang bertarikh 24 November 1953, supaya dasar pendidikan yang ada dirombak dan diganti dengan yang baru. Dasar baru ini hendaklah berlandaskan dasar pendidikan kebangsaan dengan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama sekolah-sekolah Brunei. Pada ketika itu kerajaan telah melancarkan Rancangan Kemajuan Negara yang pertama ( 1953 1958 ) sebagai satu rancangan yang menyeluruh, maka perkembangan pendidikan tidak terkecuali dalam rancangan ini. Kerajaan ingin mengetahui mengenai apa yang berlaku terhadap persekolahan Brunei daripada pihak Jabatan Pelajaran supaya dapat diselaraskan dengan Rancangan Kemajuan Negara tersebut. Oleh sebab itu Jabatan tersebut menjelaskan mengenai dasar pendidikan Brunei dengan mengeluarkan Dasar Pendidikan 1954. Sultan Omar Ali Saifuddin III telah menaiki takhta pada Jun 1950. Baginda mengganti kekanda Baginda yang telah lindung di Singapura pada Jun 1950. Belum pun setahun baginda menaiki takhta Kerajaan, sebuah Sekolah Inggeris telah didirikan di Bandar Brunei. Sehubungan dengan itu baginda bukanlah bertujuan untuk mengetepikan peranan penting Sekolah Melayu. Ini adalah satu langkah memperkuat dan mempercepat proses kelahiran satu golongan elit yang berpendidikan Barat yang boleh dijadikan penggerak jentera awal pada tahun 1951. Di Bandar Brunei didirikan sebuah sekolah Menengah Inggeris Kerajaan ( Government Secondary English School ) yang menggunakan bahasa Inggeris sepenuhnya sebagai bahasa pengantar. Kelompok pertama yang bernasib baik memasuki sekolah elit ini ialah murid-murid yang terpilih dimasukkan ke darjah peralihan selama dua tahun sebelum memasuki darjah biasa, yakni dalam Tingkatan 1 berumur di antara dua belas tahun hingga empat belas tahun. Mengikut dasar pendidikan baru ini, pengambilan murid dikhaskan kepada mereka yang telah menjalani pendidikan asas selama empat tahun di Sekolah Melayu atau sekolah Cina. Seorang murid akan belajar selama 13 tahun dari peringkat asas hingga ke peringkat menengah atau sebelum memasuki universiti ataupun hingga murid itu belajar enam tahun lagi. Pada umumnya, Dasar Pendidikan 1954 adalah dasar yang diselaraskan dengan Rancangan Kemajuan Negara. Oleh itu, kerajaan akan menyediakan pendidikan percuma kepada semua anak-anak Melayu bermula daripada umur enam tahun. Mereka belajar di sekolah Melayu, Inggeris dan vokasional. Menurut Laporan Aminuddin Baki dan Paul Chang, Dasar Pendidikan 1954 sebagai dasar terapung ( drifting ) kerana hanya menyesuaikan dengan keadaan semasa dengan tidak ada matlamat atau dasar yang tegas berhubung dengan peranan pendidikan dan persekolahan. Oleh

yang demikian pendidikan di Brunei pada masa itu kurang berkembang dan tidak tentu hala ( Aminudin B. & Paul Chang, 1959 , :2 ) Dari dasar ini ternyata sistem pendidikan Brunei telah dibahagikan kepada tiga bahasa pengantar iaitu Bahasa Melayu bagi sekolah Melayu, sekolah Inggeris Kerajaan dan sekolah misi menggunakan bahasa Inggeris, dan bahasa Cina pula untuk sekolah Cina. Ketiga-tiga persekolahan ini telah diperjelaskan di dalam essai ini tadi. Sehubungan dengan itu, ini bermakna dasar tersebut tidak menuju ke arah perpaduan masyarakat Brunei yang berlainan bangsa dan ugama. Justeru tidak disatukan di bawah satu dasar pendidikan yang sama. Oleh yang demikian, sudah jelas bahawa dalam Dasar Pendidikan 1954 ini, bahasa Melayu tidak menjadi bahasa pengantar utama dalam sistem pendidikan Brunei. DASAR PERKEMBANGAN PENDIDIKAN 1962 Dasar pendidikan 1954 menjadi perbincangan isu hangat dalam Majlis Masyuarat Negeri, ini kerana melalui rancangan kemajuan negara, perkembangan pendidikan perlu diambil perhatian ke arah pembangunan negara, lebih-lebih lagi selepas perlembagaan negara 1959. Pada tahun 1962, salah seorang ahli majlis yang mewakili Parti Pembangkang ( Pertai Rakyat Brunei) ketika itu mengusulkan supaya Kerajaan mengadakan satu Dasar Pendidikan Kebangsaan yang tidak dipengaruhi oleh dasar-dasar luar negeri. Syor ini telah mendapat tentangan daripada wakil Kerajaan kerana dikatakan membebankan kerajaan. Sehubungan dengan itu, Kerajaan sebenarnya telah merancang untuk mengadakan Dasar Pendidikan Kebangsaan yang baru. Ini menunjukkan cadangan daripada ahli Parti Pembangkang itu mendapat perhatian daripada Kerajaan. Di samping faktor desakan orang ramai yang menyebabkan kemunculan Dasar Pendidikan Negara 1962 .( lihat lampiran 4 ) Dalam persidangan Majlis Mesyuarat Negeri pada tahun 1960, di mana majlis telah memutuskan supaya Brunei mencapai kemerdekaan pada tahun 1965. Sementara itu Parti pembangkang mahu kemerdekaan itu diadakan lebih awal iaitu pada tahun 1963. Jadi sebagai persediaan menyambut kemerdekaan ini, Brunei sudah pasti memerlukan tenaga tempatan yang berpendidikan tinggi untuk menerajui pentadbiran Kerajaan. Dasar Pendidikan Negara 1962 boleh dikatakan dasar pelajaran pertama yang paling jelas kandungan dan tujuannya berbanding dengan Dasar Pendidikan 1954. Di antara perkara terbaru dalam dasar ini ialah menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa utama dalam persekolahan Brunei. Ia juga cuba menyatukan sekolah-sekolah yang berlainan aliran bukan saja menjadi satu aliran bukan saja menjadi satu aliran, bahkan cuba menyatukan sistem dan kurikulumnya.

Dasar ini juga mahukan supaya peluang pelajaran diberikan kepada semua lapisan rakyat Brunei, tidak seperti Dasar Pendidikan 1954 yang cuma menghadkan kepada anak-anak Melayu. Justeru itu dalam Dasar Pendidikan ini, ia menjadi iklan dan penyampaian maklumat untuk melahirkan satu generasi yang taat kepada dan negara. Ini kerana Allahyarhan Sultan Omar Ali Saifuddin III pernah menyarankan kepada guru-guru ketika dalam titah baginda pada 14 Mei 1959 : saya sukacita hendak mengingatkan cikgu-cikgu dan guru-guru sekalian, iaitu dan saya berharap hendaklah guru-guru atau cikgu-cikgu selain daripada mengajar anak-anak dengan pelajaran-pelajarannya di bangku sekolah, juga hendaklah mengadakan didikan dan menggalakkan anak-anak atau murid-murid itu dengan semangat yang tingi tentang mengasihi tanah airnya, kaum keluarganya dan bangsanya, serta taat setia kepada pemerintah Kerajaan negerinya juga Keseluruhannya, Dasar Pendidikan 1962 adalam salah satu sumbangan besar kepada pendidikan dari segi penentuan haluan dan corak pendidikan. Pada ketika itu, struktur pentadbiran Jabatan Pelajaran diubahsuai dalam tahun 1964. Justeru dalam tahun 1966, sekolah menengah aliran Melayu diperkenalkan sebagai langkah mengemaskini pentadbiran dan pengurusan termasuk memantapkan peluang dari segi menambah bilangan jawatan dan status perjawatan. PERKEMBANGAN DASAR PENDIDIKAN 1972 Selepas 10 tahun dasar Pendidikan Negara 1962 dijalankan, beberapa perkembangan bermula dari perlantikan sebuah Suruhanjaya Pelajaran oleh Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah. Suruhanjaya Pelajaran diarahkan untuk menilai kemajuan , meneliti dan menyiasat perkembangan pendidikan di Brunei bagi faedah membentuk satu Dasar Pendidikan Kebangsaan yang lengkap dan sesuai dengan cita-cita, kepentingan dan perkembangan ekonomi serta kedudukan rakyat Brunei. Selain itu Suruhanjaya ini juga bertanggungjawab untuk mengkaji punca kegagalan perlaksanaan Dasar Pendidikan Negara 1962. Maka hasil kajian Suruhanjaya Pelajaran akan membentuk satu lagi dasar pendidikan yang baru pada tahun 1972. Pada asasnya, kandungan Dasar Pendidikan 1972 tidak jauh bezanya dengan Dasar Pendidikan Negara 1962. ( sila lihat lampiran 5 ) Dalam kedua-dua dasar tersebut mempunyai persamaan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar yang utama di sekolah-sekolah di Brunei, menyatukan sistem pendidikan mengisi keperluan tenaga manusia, dan melahirkan generasi yang taat kepada Sultan dan negara.

Walau bagaimanapun, Dasar Pendidikan 1972 juga menonjolkan kepentingan pendidikan Islam dalam sistem persekolahan di Brunei. Aspek ini tidak disentuh oleh Dasar Pendidikan Negara 1962,mungkin pembuat dasar ini menganggap pendidikan ugama ialah tugas Jabatan Hal Ehwal Ugama ( yang telah diperjelaskan tadi ). Sementara itu adanya penekanan pendidikan Islam dalam Dasar Pendidikan 1972 disebabkan ada antara ahli yang bertanggungjawab membuat dasar ini iaitu pegawai-pegawai dari Jabatan Hal Ehwal Ugama. Kesimpulan daripada kedua-daa dasar ini, Dasar pendidikan 1962 dan 1972 tidak dapat dilaksanakan dan dijalankan dengan sepunuhnya hingga para sarjana banyak mengatakan bahawa kedua-dua dasar ini menemui kegagalan. Adapun kegagalan dasar-dasar pendidikan ini akan diperjelaskan lagi seterusnya nanti melalui beberapa aspek kegagalan. KEGAGALAN DASAR PENDIDIKAN NEGARA 1962 DAN DASAR PENDIDIKAN 1972 Kerajaan Brunei dalam berusaha memperkembangkan pendidikan di Brunei yang sentiasa menitik beratkan perkembangan pendidikan sehingga terbentuknya Dasar Pendidikan 1962 dan Dasar Pendidikan 1972. Walau bagaimanapun dasar-dasar tadi sebahagian daripada kandungan dan matlamat kedua-dua dasar tersebut telah gagal dilaksanakan. Dasar Pendidikan Negara 1962 dan Dasar Pendidikan 1972 telah gagal dilaksanakan diantaranya ialah kerana : Sikap Kerajaan yang tidak tegas dalam memainkan peranan dalam kegagalan perlaksannan Dasar Pendidikan Negara 1962. Kalau Dasar Pendidikan 1962 dan Dasar Pendidikan 1972 kerana kerajaan tidak bersikap tegas maka kedua bolehlah dianggap gagal. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Laporan Suruhanjaya Pelajaran Brunei 1972 bahawa : Kegagalan ini adalah disebabkan oleh kelemahan-kelemahan dalam melaksanakan tujuantujuan dan matlamat-matlamat yang disebutkan di atas, dengan lain perkataan, oleh sebab kelemahan yang terdapat pada badan kerja atau badan pelaksana, iaitu pentadbir Jabatan Pelajaran sendiri. Mereka tidak mempunyai perancangan tertentu untuk melaksanakan Dasar Pendidikan Negara 1962. Akibat dari perkembangan pembangunan negara yang pesat dan tertubuhnya berbagai jabatan dan syarikat swasta pada 1960-an dan 1970-an. Kesan dari perkembangan pembangunan ini, keperluan kakitangan yang pandai berbahasa Inggeris semakin bertambah. Dalam pada itu, keperluan kepada kekitangan Kerajaan mahir berbahasa Inggeris semakin menyerlah. Oleh itu, kegagalan ini berpunca kerana matlamat Dasar Pendidikan 1962 dan Dasar Pendidikan 1972 bahawa taraf kedudukan Bahasa Melayu yang menjadi pengantar di semua peringkat persekolahan di negeri ini sebagaimana yang tersebut dalam perlembagaan. Sistem pendidikan Brunei sepenuhnya masih bergantung kepada luar negeri seperti United Kingdom, Singapura dan Malaysia. Brunei ketika itu bergantung meliputi keperluan guru, kurikulum, buku teks, peperiksaan dan pengajian tinggi. Akibatnya, perubahan perhubungan dan

pendidikan dengan negeri-negeri yang terlibat akan memberi kesan kepada dasar pendidikan Brunei. Kekurangan pegawai dan guru-guru yang berkemahiran juga boleh dikatakan menjadi punca Dasar Pendidikan tadi tidak berjaya dilaksanakan dalam sistem pendidikan Brunei. Ini kerana rata-rata pegawainya tidak berkelulusan dan dinaikkan pangkat bukan kerana kebolehan tetapi disebabkan senioriti mereka. Kegagalan menyatukan sekolah Cina dan misi di bawah satu dasar pendidikan bersamasama dengan sekolah-sekolah Kerajaan. Kegagalan ini disebabkan Kerajaan, kurikulum bersepadu, buku teks, peperiksaan dan lain aspek yang boleh dijadikan landasan oleh semua sekolah dalam memenuhi kehendak Dasar Pendidikan 1962. Walau bagaimanapun, di bawah Dasar Pendidikan 1972, sekolah-sekolah misi, swasta dan Cina telah berjaya disatukan dengan sekolah-sekolah Kerajaan di bawah satu kurikilum dan peperiksaan pada tahun 1974. Dasar Pendidikan Negara 1962 digagalkan oleh peristiwa pemberontakan dan penolakan Brunei memasuki Malaysia, maka peristiwa yang hampir sama juga berlaku terhadap kegagalan Dasar Pendidikan 1972. Ketika Dasar Pendidikan 1972 hendak dilancarkan hubungan Malaysia dan Brunei tidak selari. Oleh itu Brunei amat memerlukan bantuan Malaysia dalam melaksanakan Dasar Pendidikan 1972 tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya. Kegagalan dari segi menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa utama di sekolah-sekolah adalah disebabkan sikap masyarakat Brunei memandang rendah terhadap pendidikan aliran Melayu. Kebanyakan ibu bapa lebih suka menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah beraliran Inggeris.

DASAR PENDIDIKAN DWI BAHASA Daripada kegagalan yang telah diperjelaskan tadi, Kerajaan perlu mencari satu lagi dasar pendidikan baru yang bersesuaian dengan keperluan perkembangan dan perubahan sosial, politik dan ekonomi Brunei, lebih-lebih lagi saat-saat Brunei sudah mencapai kemerdekaan. Oleh yang demikian, kerajaan secara rasmi mengisytiharkan satu lagi dasar pendidikan baru pada 9 April 1984. Dasar ini dikenalai sebagai Dasar Pendidikan Konsep Dwibahasa. ( Pelita Brunei, 1984 : 16 ) Secara umum matlamat utama Dasar Pendidikan Dwibahasa (yang akan diperjelaskan nanti) tidak jauh berbeza dengan apa yang pernah dikemukakan dalam Dasar Pendidikan 1972. Umpamanya penyatuan sistem pendidikan dari segi kurikulum peperiksaan dan penerapan nilainilai Islam. Walau bagaimanapun, perbezaan yang paling ketara pada dasar ini dengan Dasar Pendidikan 1972 ialah penggunaan bahasa Inggeris sebagai bahasa pengantar utama dalam sistem pendidikan Brunei.

Penekanan bahasa Inggeris ini dilakukan bagi membolehkan pelajar Brunei melanjutkan pendidikan ke peringkat lebih tinggi yang kebanyakannya boleh didapati dalam bahasa Inggeris. Dengan adanya Dasar Pendidikan Dwibahasa, maka rancangan untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama di sekolah-sekolah tidak dapat dicapai matlamatnya. Matlamat Dasar Pendidikan dan Konsep Dwibahasa ialah:
1. Melaksanakan matlamat-matlamat dasar pendidikan seperti yang terkandung dalam Laporan Suruhanjaya Pelajaran Brunei 1972 dengan beberapa pindaan berdasarkan kepada perkembangan terbaharu.

2. Melaksanakan satu sistem pendidikan yang dinamakan Sistem Pendidikan Negara Brunei Darussalam yang tidak berlainan sebagai media pengantar di persekolahannya. 3. Sistem Pendidikan Negara Brunei Darussalam ini akan membentuk masyarakat Negara Brunei yang berdasarkan kepada konsep Melayu Islam Beraja. 4. Sistem ini juga akan menjadi saluran menyatupadukan rakyat dan pendudukan negara ini melalui satu sistem pendidikan sahaja. 5. Nilai-nilai Islam akan diterapkan ke dalam Sistem Pendidikan Negara Brunei Darussalam melalui kurikulum sekolah. Konsep Dwibahasa Adapun konsep Dwibahasa bagi menyalaraskan dan melaksanakan Dasar Pendidikan ini diantaranya:
1. Satu cara bagi mendaulatkan bahasa Melayu di samping tidak mengabaikan kepentingan bahasa Inggeris dengan yang demikian kemahiran dalam kedua-dua bahasa tersebut akan dicapai dalam Sistem Pendidikan Negara Brunei Darussalam. 2. Perkiraan bahasa Inggeris dibat semata-mata dengan maksud akademik jua, iaitu bagi memudahkan pelajar-pelajar Brunei memasuki tempat-tempat pengajian tinggi di luar negara yang mempunyai pengantar bahasa Inggeris. Perkiraan ini sudah tentu akan menemui perubahan lain jika Brunei berkemampuan secara sendiri memenuhi keperluan pengajian tinggi yang dinyatakan itu. 3. Perlaksanaan konsep Dwibahasa ini dari segi mata-mata pelajaran adalah dibuat seperti berikut:

I ) Mata-mata pelajaran yang tidak begitu rapat hubungannya dengan kebanyakan pengajian tinggi di luar negara akan disampaikan dalam bahasa Melayu. II ) Mata-mata pelajaran yang banyak bergantng kepada penggunaan bahasa Inggeris dalam pengajian tinggi di luar negara akan disampaikan dalam bahasa Inggeris.

4. Secara berperingkat-peringkat dan menurut keupayaan konsep dwibahasa akan dilaksanakan sepenuhnya dalam Sistem Pendidikan Negara Brunei Darussalam. Bahkan jika berkemampuan pada masa-masa hanya menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Inggeris sahaja, boleh jadi lain-lain bahasa asing yang difikirkan sangat berguna akan diambil kira. Walau bagaimanapun, dalam apa keadaan sekalipun kedudukan bahasa Melayu akan terus dipelihara sebagai mata pelajaran yang mesti wujud, berkembang dan dikuasai oleh semua pelajar. KESIMPULAN Dalam essei ini telah menjelaskan tentang pendidikan yang berkembang semenjak dari Dasar pendidikan yang tidak formal dan formal. Dalam perlaksanaan pendidikan formal di Brunei, sekolah yang mula ditubuhkan ialah sekolah Melayu. Selepas itu diikuti pula oleh kemunculan sekolah-sekolah Cina, Misi, Inggeris Kerajaan, ugama dan vokasional. Sungguhpun pendidikan formal telah bermula pada tahun 1914, ternyata Kerajaan yang dikuasai oleh British tidak pernah mengeluarkan dasar pendidikan yang rasmi dan jelas. Perkara ini berlarutan sehingga tahun 1954. Dasar Pendidikan dalam jangka masa 40 tahun ( 1914- 1954 ) Cuma boleh diketahui menerusi perlakuan dan tendakan yang dibuat oleh Kerajaan terhadap sekolah-sekolah yang sedia ada.Walau bagaimanapun penjelasan tertumpu kepada perkembangan dasar pendidikan daripada tahun 1954 hingga tahun 1984. Adapun penjelasan di awal pendidikan semenjak zaman pentadbiran Residen adalah untuk mengungkap serba sedikit tahap perkembangan yang telah dilaksanakan sehingga membentuk Dasar Pendidikan 1954, Dasar Pendidikan 1962, Dasar Pendidikan 1972 dan terakhir sekali Dasar Pendidikan Dwibahasa. Bertolak daripada penjelasan diatas ternyata sebelum tahun 1954, Brunei tidak mempunyai dasar pendidikan yang jelas. Menjelang tahun 1954 barulah Kerajaan mengeluarkan bentuk dasar pendidikan yang dilaksanakan. Bagaimanapun, dasar ini bukanlah sesuatu yang baru, bahkan ia merupakan penjelasan kepada dasar yang sudah dijalankan sejak kemunculan sekolah Melayu pada tahun 1914. Dasar ini telah menerangkan bahawa sistem pendidikan Brunei masih diimplementasikan dalam aliran yang berlainan. Sekolah Melayu ternyata masih tertinggal berbanding dengan sekolah-sekolah lain dalam dasar ini kerana pada tahun 1950-an hingga awal tahun 1960-an sekolah Melayu cuma mempunyai sistem pendidikan rendah. Selepas Dasar Pendidikan 1954, muncul pula Dasar Pendidikan Negara 1962 dan Dasar Pendidikan 1972, namun matlamat kedua-dua dasar ini tidak berjaya dilaksanakan sepenuhnya.

Kerajaan hanya boleh dikatakan berjaya melaksanakan Dasar Pendidikan 1972 dengan mengadakan penyatuan kurikulum dan sistem peperiksaan bagi semua sekolah, mengadakan mata pelajaran ugama di sekolah-sekolah dan menubuhkan sekolah vokasional. Kegagalan kedua-dua dasar tersebut berlaku kerana dalam merangka dasar pendidikan, Kerajaan perlu menimbang supaya dasar yang akan diwujudkan mestilah selaras dengan keperluan negeri dan perubahan politik dan sosial negara agar ia lebih banyak mendatangkan kebaikan kepada semua lapisan masyarakat. Pada realitinya baik bahasa Melayu maupun Inggeris, kedua-duanya adalah penting. Bahasa Melayu penting kerana ia merupakan bahasa rasmi dan majoriti penduduk Brunei adalah berbangsa Melayu. Sementara bahasa Ingggeris dari segi meninggikan taraf pendidikan masyarakat Brunei lantaran tenaga mereka diperlukan untuk mengisikan berbagai bidang dalam sektor kerajaan dan swasta. Dengan itu bolehlah dikatakan dasar pendidikan dalam berbagai aliran seperti yang terkandung dalam Dasar Pendidikan 1954 terus berjalan sehingga menjelang tahun 1980-an. Maka atas pertimbangan dan alasan kepentingannya akan bahasa Inggeris dalam dasar pendidikan, maka akhirnya terpaksa mengambil keputusan untuk mengadakan Dasar Pendidikan Konsep Dwibahasa pada tahun 1984 yang dijadikan bahasa Inggeris sebagai bahasa pengantar. Sungguhpun pada asasnya bahasa Melayu memang wajar diangkat sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah di Brunei, namun bahasa ini tidak akan dipandang sebagai bahasa terpenting selagi peluang untuk menggunakannya dalam dunia pekerjaan, pembangunan, perdagangan, perindustrian dan teknologi tidak menggalakkan. Akhirnya, dalam masa 1954 hingga tahun 1984, jelas Kerajaan Brunei amat mengambil berat terhadap perkembangan pendidikan. Dasar ini tidak terhenti begitu sahaja, bahkan, masih lagi mengalami perubahan hingga ke hari ini,seperti S.P.N 21. Perkembangan Dasar Pendidikan yang ada pada ketika 1954-1984 dapat juga membawa negara Brunei mencapai kemerdekaan dan hampir 100 % jawatan yang mengendalikan pentadbiran negara dijawat oleh anak tempatan negara ini sendiri. LAMPIRAN 1 PERANGKAAN KERAMAIAN MURID DAN BANYAK SEKOLAH RENDAH MELAYU SELURUH NEGERI BRUNEI 1954-1984 (Annual Report,1954-1984 ) LAMPIRAN 2 PERANGKAAN KERAMAIAN MURID DAN SEKOLAH RENDAH INGGERIS SELURUH NEGERI BRUNEI 1954-1984(Annual Report,1954-1984 )

LAMPIRAN 3

Dasar Pendidikan 1954 mempunyai matlamat berikut :


1. Kerajaan menyediakan pelajaran percuma bagi semua kanak-kanak Melayu ( di sekolah rendah Melayu ) yang berumur 14 tahun. Pada peringkat ini mereka akan menduduki bangku sekolah selama enam tahun di sekolah rendah.

2. Bahasa pengantar adalah bahasa Melayu. Bahasa Inggeris akan diajarkan dalam Darjah III hingga Darjah VI. Jadual pengajaran diteruskan seperti yang ada sekarang dengan mata pelajaran perkebunan dan kraf tangan terus diberi keutamaan. Sementara itu pusat latihan urusan rumah tangga, pertukanan kayu dan besi akan diadakan di sekolah-seklah kawasan bandar. 3. Murid-murid dari sekolah rendah Melayu yang terpilih memasuki sekolah Inggeris Kerajaan akan diajarkan bahasa Melayu sebagai satu mata pelajaran. 4. Kerajaan menyediakan sekolah menengah bawah Inggeris ( Tingkatan I Tingkatan III ) percuma. Mereka yang berjaya dalam peringkat ini akan dibenarkan meneruskan pelajaran ke peringkat menengah atas dan seterusnya untuk melanjutkan pelajaran di universiti di seberang laut. 5. Memberikan latihan pertukangan dan teknikal di Sekolah Pertukangan Syarikat Minyak Shell Brunei. 6. Memberikan bantuan kewangan kepada sekolah Cina dan misi.

7. Menyediakan kemudahan pelajaran dewasa bagi membanteras buta huruf dan pelajaran bahasa Inggeris. 8. 9. Menyediakan makanan dan minuman percuma di sekolah-sekolah. Mengadakan pemeriksaan kesihatan kepada murid-murid sekolah.

LAMPIRAN 4 Matlamat Dasar Pendidikan Negara 1962 ialah:


1. Untuk memberikan pelajaran kepada semua rakyat negeri ini bagi melengkapkan diri mereka supata menjadi: 1. Pekerja yang sempurna mengikut asas-asas kehendak kecenderungan masing-masing dan berfaedah bagi megeri ini mengikut yang dikehendaki oleh megeri ini. 2. Ibu bapa yang sempurna yang bertanggungjawab kepada bangsa dan negerinya dan taat setia kepada Sultan dan negeri ini. 2. Untuk mengusahakan supaya pelajaran menengah dan tinggi dapat disediakan dan bahasa Melayu menjadi pengantar di semua peringkat persekolahan dalam negeri ini dan mempunyai taraf dan mutu yang tinggi. 3. Untuk menyesuaikan kedudukan taraf bahasa Melayu yang menjadi bahasa rasmi negeri ini sebagaimana yang tersebut dalam perlembagaan.

4. Untuk menggalakkan kandungan pelajaran yang setara, bahasa yang sekata, peluang-peluang yang sama,semangat yang bersegahaman di kalangan rakyat negeri ini untuk menumpukan taat setianya yang tidak berbelah bahagi kepada Sultan dan negera.

LAMPIRAN 5 Dasar Pendidikan 1972 mempunyai matlamat berikut:


1. Untuk menjadikan secepat mungkin bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dalam sekolahsekolah rendah dan menengah kebangsaan sesuai dengan kehendak perlembagaan. 2. Untuk meninggikan ukuran penggunaan bahasa Inggeris dalam sekolah-sekolah rendah dan menengah di megeri ini. 3. Untuk lebih menitik beratkan pendidikan ugama Islam sesuai dengan perlembagaan negeri ini yang menjadikan Islam sebagai ugama rasmi. 4. Untuk menyediakan pendidikan selama sembilan tahun yang sesuai dengan kehendak negera terus-menerus kepada semua kanak-kanak Brunei ; enam tahun di sekolah rendah dan tega tahun di sekolah menengah bawah. 5. Untuk memastikan dengan menyedikan iktisar mata pelajaran yang isinya serupa yang setaraf pelajaran di semua sekolah adalah sebanding. 6. Untuk melanjutkan pendidikan menengah dapat dicapai oleh semua orang berdasarkan kepada kehendak-kehendak dan kebolehan mereka. 7. Untuk memberikan kepada semua kanak-kanak Brunei segala kemungkinan peluang dimi menjadikan diri mereka berguna kepada perkembangan negeri bagi memengi segala kehendakkehendak yang diperlukan oleh negeri supaya semua kehendak-kehendak itu dipenuhi oleh rakyat Brunei sendiri. 8. Untuk menimbulkan melalui saluran-saluran di atas, suatu identiti kebangsaan sebagai tapak pertumbuhan rasa taat setia kepada Brunei dan juga membangun kedekapan dan sefat melentur di dalam sistem pendidikan untuk memenuhi kehendak-kehendak pembangunan negeri ini.

LAMPIRAN 6 Perkembangan Pendidikan di Brunei Darussalam


1912 1916 1930 1931 Sebuah Sekolah Melayu ditubuhkan di Bandar Brunei yang menampung 53 orang murid. Sebuah Sekolah Cina ditubuhkan oleh Komuniti Cina. Sekolah-sekolah melayu mula dibukakan kepada murid-murid perempuan. Sekolah Bahasa Inggeris pertama mula ditubuhkan (Anglican (SPG) Mission School). Di zaman pemerintahan Jepun telah menyumbangkan kepada penurunan perkembangan dalam pembelajaran.

1942

1951 1956

Tahun ini mereupakan satu titik-tolak kepada perkembangan sistem pendidikan moden di Brunei Darussalam apabila Kementerian Pendidikan mula ditubuhkan. Sebuah Pusat Guru-Guru Terlatih yang pertama dibukakan. Satu gagasan dalam pembelajaran yang digelar Aminuddin Baki-Paul Chang Commision telah ditubuhkan. Kedua pegawai ini adalah dari Kerajaan Kementerian Pendidikan di Kuala Lumpur telah membuat laporan mengenai pendidikan di Brunei. Kerajaan telah menerima laporan pendidikan yang digelar 1962 Education Report. Sebuah Sekolah Menengah yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantaraan mula ditubuhkan. KDYMM telah melantik satu badan penasihat dalam pendidikan, yang digelar sebagai The Education Commission, yang telah diberi kepercayaan(dipertanggungjawabkan) untuk mendalami pelan pendidikan dan progres serta memberikan usulan (cadangan) kepada perancangan untuk menaiktarafkan status pendidikan di negara ini. The 1972 Education Report telah diluluskan. Pengaplikasian dalam struktur pendidikan di Jabatan Pendidikan telah dibuat mengikut cadangan (gagasan) yang telah dibuat dalam 1972 Report iaitu:

1959

1962 1966

1970

1972

1974

1) Badan Pendidikan (Education Council) 2) Pemantauan (Inspectorate) 3) Badan Peperiksaan (Examination Board)

1974

1976

Badan Peperiksaan mendaftarkan dalam dan luar Peperiksaan Awam (Public Examination contohnya BGCE O dan A levels, dan peperiksaan BJCE); seorang Pegawai Pendidikan Kanan (Senior Education Officer) telah dilantik sebagai Pengarah Pendidikan. Tiga bahagian dalam pengurusan struktur baru telah ditubuhkan di Jabatan Pendidikan bersama dengan perlantikan tiga Penolong Pengarah Pendidikan iaitu:

1980

1) Pengurusan dan Servis (Administration and Services) 2) Perancangan dan Perkembangan Pendidikan (Planning dan Development of Education) 3) Sekolah-Sekolah dan Maktab-Maktab (Schools and Colleges).

1982

KDYMM melantik satu Badan Penasihat (Advisory Board) yang diberi kuasa untuk mengkaji masalah pendidikan di negara ini.

1983

Jabatan Pendidikan berpindah ke pusat baru (headquarters) di Lapangan terbang Lama Berakas. Menteri Pendidikan dan Kesihatan telah ditubuhkan serta merta selepas kemerdekaan penuh diterima pada 1hb Januari, dan Jabatan Pendidikan di bawah menteri ini; empat lagi bahagian baru telah ditubuhkan di bawah pengurusan struktur di Jabatan Pendidikan ada seperti berikut:

1984

Jabatan Kurikulum Aktibiti Luar Kurikulum Sekolah Menengah Dan Maktab Pertubuhan (Publication)

1985

Satu sistem dwibahasa dalam pendidikan telah dilancarkan secara rasmi; Maktab Perguruan Sultan Hassanal Bolkiah telah dinaik-tarafkan sebagai Institut Pendidikan Sultan Hassanal Bolkiah; Sekolah Teknik Sultan Saiful Rijal just dinaik-tarafkan sebagai Maktab Terknik Sultan Saiful Rijal; Universiti Brunei Darussalam telah ditubuhkan.

Perkembangan Pendidikan di Brunei Darussalam BIBLIOGRAFI Aminudin B. & Paul Chang, 1959, Laporan Penyata bulanan Negeri Brunei. Bevington, 1983, Penyata Pembangunan Negeri Brunei 1953-1958, B/6469/1983,SUK 240/52, Education Policy For Brunei. Hj Abd. Ghani Hj.Bujang , 1999 , Masa Silam Saran Masa Depan : Kumpulan Kertas Kerja Seminar Sejarah Brunei II, Jabatan Pusat Sejarah, Kementerian Belia dan Sukan, Brunei Darussalam. Hj Jamil Al Sufri Dr., 1999, , Masa Silam Serana Masa Depan : Kumpulan Kertas Kerja Seminar Sejarah Brunei II, Jabatan Pusat Sejarah, Kementerian Belia dan Sukan, Brunei Darussalam. Hj Zaini Hj Ahmad Dr. , 2003, Brunei Merdeka : sejarah dan budaya politik,DeImas Printing & Trading Company, Brunei. Hussainmiya B.A., 1995, Sultan Omar Ali Saifuddin III and Britain : the making of Brunei Darussalam, Oxford University Press, Kuala Lumpur. Laporan Suruhanjaya Pelajaran (1972), Jabatan Setiausaha kerajaan, Percetakan Asia, Brunei

Muhd. Hadi Abdullah, 1991, Sultan Omar Ali Saifuddin : raja yang berjiwa rakyat, Beriga Jan-Mac / bil: 30, Dewan Bahasa Dan Pustaka, Brunei Darussalam. Pelita Brunei, 1984, ( Minggu Kerajaan Brunei ), Brunei Pg Hj Mohammad bin Pg. Hj Abd Rahman, Dr., 2005, Islam Di Brunei Darussalam, Bandar Seri Begawan; Dewan Bahasa Dan Pustaka. Razali Hj Ahmad, 1999, Masa Silam Saran Masa Depan : Kumpulan Kertas Kerja Seminar Sejarah Brunei II, Jabatan Pusat Sejarah, Ke

Anda mungkin juga menyukai