Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL TUGAS AKHIR Rancang Bangun Sistem Monitoring Dan Pengendalian Kinerja Pegawai Berbasis Radio Frequensi Identification

(RFID) Pada Dinas Perhubungan,Komunikasi, Informasi Dan Telematika (Dishubkomintel) Pemerintah Aceh

Oleh:

Muhammad Aiyub NIM : 0404105020041

BIDANG STUDY TEKNIK KOMPUTER&INFORMATIKA

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM,BANDA ACEH Maret 2011

ABSTRAK

Salah satu cara untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas adalah dengan memonitoring daftar catatan kehadiran pegawai atau juga disebut absensi. Sebelum teknologi elektronika dan teknologi informasi berkembang begitu pesat. Proses pencatatan kehadiran dilakukan dengan cara manual, yaitu dengan cara mencatat pada lembaran kertas. Hal ini hanya efektif dilakukan jika individu yang akan diabsen berjumlah sedikit. Akan tetapi kalau individunya sudah banyak, tentu cara manual itu tidak efektif lagi. Oleh karena itu berbagai sistem digital diciptakan untuk kebutuhan absensi ini, yang paling popular diantaranya adalah sistem absensi sidik jari dan telapak tangan. Namun, sistem ini hanya bisa merekam data ketika pegawai menempel jarinya atau telapak tangannya ke perangkat tesebut. Bisa saja, setelah melakukan absensi tepat waktu, ada diantara pegawai pergi ke warung kopi dan ini tidak diketahui oleh pimpinan. Oleh karena itu,pada penelitian ini mencoba memanfaatkan teknologi RFID, dimana selain bisa merekam waktu kehadiran pegawai, dengan teknologi RFID ini juga bisa memantau pegawai ada dikantor saat jam kerja atau tidak. Dimana setiap data akan dimasukkan kedatabase, dan pimpinan dapat memantau data perminggu,perbulan dan pertahun untuk dievaluasi. Dengan demikian, pegawai akan memikir dua kali jika ingin keluar saat jam dinas. Sasaran penelitian ini akan dilakukan pada dinas Perhubungan,Komunikasi,Informasi dan Telematika (DISHUBKOMINTEL) Pemerintah Aceh.

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang begitu pesat khususnya dalam bidang elektronika dan teknologi

informasi telah memberi berbagai kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satu kemudahan itu antara lain dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas pegawai di suatu instansi atau perusahaan. Salah satu cara untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas adalah dengan

memonitoring daftar catatan kehadiran pegawai atau juga disebut absensi . Pada awalnya, kebutuhan absensi dipenuhi secara manual semisal dengan menulis di buku catatan. Hal ini hanya efektif dilakukan jika individu yang akan diabsen berjumlah sedikit. Pada penerapan nyata saat kebanyakan lingkungan memiliki banyak item yang perlu dicatat, absensi manual sulit diandalkan. Namun, dengan kehadiran Teknologi informasi telah membawa perubahan dalam

kehidupan manusia sekarang ini. Teknologi informasi yang semakin berkembang telah berperan dalam hal apapun, salah satunya adalah Radio Frequency Identification (RFID). Era biometrik memang kini mulai jadi trend. Pilihannya kian beragam, mulai dari sidik jari, pola wajah, pola suara hingga lapisan iris dari mata. Pemakaiannya sudah meluas ke berbagai hal, khususnya wilayah-wilayah yang sangat sensitif terhadap faktor keamanan. RFID adalah teknologi identifikasi yang fleksibel, mudah digunakan, dan sangat cocok untuk operasi otomatis. RFID mengkombinasikan keunggulan yang tidak tersedia pada

teknologi identifikasi yang lain. Dengan adanya system pemantauan kinerja pegawai berbasis RFID ini, pegawai tidak perlu lagi melakukan absensi secara manual baik dalam bentuk tanda tangan maupun finger print. Salah satu keunggulan RFID dibandingkan dengan finger print adalah dalam hal automasi dan terpantau secara real time pada computer server. Dari segi keamanan data, RFID juga bisa diandalkan karena sulit untuk dipalsukan.

1.2

Tujuan Khusus Adapun tujuan dari tugas akhir ini mengenai RFID adalah; - Mempelajari dan mengetahui lebih mendalam tentang sistem kerja RFID - Membuat perancangan dan pembuatan prototype sebuah system pemantau kinerja pegawai yang automatis dan real time menggunakan RFID untuk diterapkan pada Dishubkomintel Aceh. - Dengan adanya sistem automasi pemantau pegawai ini, dapat meningkatkan kinerja pegawai. Salah satunya dengan tidak terlalu sering para pegawai keluar masuk kantor pada saat jam dinas. - Memudahkan pimpinan dalam mempromosi suatu jabatan dan member bonus kepada pegawai-pegawai yang berkinerja bagus.

1.3

Keutamaan dari penelitian ini Adapun keutaman melakukan penelitian tugas akhir ini mengenai RFID adalah; Sebetulnya teknologi RFID bukanlah hal yang baru, namun dalam beberapa tahun terakhir penggunaannya diberbagai sektor semakin meningkat dan akan terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun kedepan. RFID merupakan sesuatu yang baru bagi unsyiah khususnya jurusan teknik elektro, karena sejauh yang penulis ketahui, belum ada jurnal, karya ilmiah atau judul tugas akhir mengenai RFID di unsyiah. Teknologi RFID adalah sebuah teknologi yang memungkinkan untuk menginputdata secara otomatis kedatabase. Sehingga cocok untuk system tracking atau monitoring. Dibandingkan barcode, jika dilihat harga maka RFID lebih mahal. Namun, jika dilihat dari segi efektifitas dan efesiensinya, maka RFID lebih bagus dari barcode. Karena RFID bisa dibaca dari jarak yang jauh (tergantung jenis tag) dan dalam waktu bersamaan bisa membaca data lebih dari satu. Sedangkan barkode, hanya bisa membaca satu data dalam satu waktu.

BAB 2. STUDI PUSTAKA

2.1

Pengenalan RFID Radio Frequency Identification (RFID) adalah multi-disiplin teknolgi dari variasi displin ilmu. Karena RFID Ini termasuk RF dan microwave engineering, RF dan Rangkaian terpadu digital (digital integrated circuits). Sebagian besar melimpahkan beban pada teknologi antena yang diikuti oleh perangkat lunak dan sistem komputer untuk encoding dan decoding dari sinyal analog menjadi kode maksudnya untuk identifikasi dan pelacakan real time. Lahiri (2005) mengungkapkan fungsi RFID: Radio frequency identification (RFID) technology uses radio waves to automatically identify physical objects (either living beings or inanimate items). Lalu, Bhatt dan Glover (2006) menjelaskan definisi: RFID merupakan Sistem Identifikasi yang berfungsi saat suatu perangkat elektronik didekatkan pada benda yang ingin diidentifikasi menggunakan frekuensi radio atau

variasi medan magnet. Dari pernyataan Bhatt dan Glover tersebut, dapat dilihat adanya dua komponen utama dalam sistem RFID. Komponen pertama adalah benda elektronik yang didekatkan pada benda yang dikenali. Komponen pertama ini disebut dengan tag atau transponder. Komponen kedua adalah sub-sistem yang membaca tag atau sering disebut dengan reader.

2.3

Sistem Kerja RFID Sistem RFID dapat diklasifikasikan sesuai dengan frekuensi radio yang digunakan, jenis modulasi untuk berkomunikasi dan jenis tag yang digunakan dalam sistem. Dalam suatu sistem RFID sederhana, suatu object dilengkapi dengan tag yang kecil dan murah. Tag tersebut berisi transponder dengan suatu chip memori digital yang di dalamnya berisi sebuah kode produk yang sifatnya unik. Sebaliknya, interrogator, suatu antena yang berisi transceiver dan decoder,

memancarkan sinyal yang bisa mengaktifkan RFID tag sehingga dia dapat membaca dan menulis data ke dalamnya. Ketika suatu RFID tag melewati suatu zone elektromagnetis,

maka dia akan mendeteksi sinyal aktivasi yang dipancarkan oleh Reader. Reader akan men-decode data yang ada pada tag dan kemudian data tadi akan diproses oleh komputer.

Gamba 2.3 Sistem kerja RFID.

2.4

Komponen Utama Sistem Kerja RFID Dalam suatu sistem kerja yang mendasar, komponen utama RFID ada tiga, yaitu; Tag (berisi microchip dan transponder), Reader (transceiver dan decoder ) dan sebuah middleware/Aplikasi/basisdata. Ada tiga tipe dari tag, yaitu; Tag Aktif,semi-pasif dan tag pasif.

Gambar 2.4 Salah satu contoh perangkat RFID Reader dan Tag sederhana.

2.4.1 RFID Reader Reader, kadang-kadang disebut interogator atau pemindai (scanner), mengirim dan menerima data RF ke dan dari tag melalui antena. Suatu RFID reader mungkin memiliki antena ganda yang bertanggung jawab untuk mengirim dan menerima gelombang radio. Sebuah RFID Reader mempunyai 3 komponen utama yaitu; Control section,High frequency (HF) interface,dan Antenna. 2.4.1.1 Arsitektur Sistem RFID Reader Dalam sistem RFID, Reader dan Transponders memiliki sebuah hubungan seperti tuanbudak (master-slave) dimana Reader bertindak sebagai master dan transponder sebagai budak (slave). Namun demikian, RFID Reader sendiri dalam posisi budak juga. Sebuah aplikasi perangkat lunak, atau disebut juga middleware, pemroses data dari RFID reader, bertindak sebagai unit master dan mengirimkan perintah ke reader. Reader melakukan operasi membaca atau menulis (read/write) RFID transponder yang berada di daerah interogasi nya. Seperti telah disebutkan sebelumnya, Sebuah RFID Reader mempunyai 3 komponen utama yaitu; Control section,High frequency (HF) interface,dan Antenna.

Gambar 2.4.1 Master-slave principle antara Middleware dan reader, dan antara reader dengan Transponders Kontrol dari RFID reader melakukan pemrosesan sinyal digital dan prosedur atas data yang diterima dari transponder RFID. Juga, bagian kontrol memungkinkan pembaca untuk berkomunikasi dengan transponder nirkabel dengan melakukan modulasi, prosedur anticollision dan decoding data yang diterima dari transponder. Data ini biasanya digunakan untuk tag menginterogasi (baca) atau untuk memprogram ulang tag (menulis). Bagian ini biasanya terdiri

dari sebuah mikroprosesor, sebuah blok memori, beberapa analog converter digital dan memblokir komunikasi untuk aplikasi perangkat lunak. 2.5.1. Transponder atau RFID Tag Tag RFID adalah devais yang dibuat dari rangkaian elektronika dan antena yang terintegrasi di dalam rangkaian tersebut. Rangkaian elektronik dari tag RFID umumnya

memiliki memori sehingga tag ini mempunyai kemampuan untuk menyimpan data. Memori pada tag secara dibagi menjadi sel-sel. Beberapa sel menyimpan data Read Only, misalnya serial number yang unik yang disimpan pada saat tag tersebut diproduksi. Sel lain pada RFID mungkin juga dapat ditulis dan dibaca secara berulang.Berdasarkan catu daya tag, tag RFID dapat digolongkan menjadi: Tag aktif , semi-aktif dan tag pasif.

2.5.2 Tag Aktif Yaitu tag yang catu dayanya diperoleh dari baterai, sehingga akan mengurangi daya yang diperlukan oleh pembaca RFID dan tag dapat mengirimkan informasi dalam jarak yang lebih jauh. Kelemahan dari tipe tag ini adalah harganya yang mahal dan ukurannya yang lebih besar karena lebih komplek. Semakin banyak fungsi yang dapat dilakukan oleh tag RFID maka rangkaiannya akan semakin komplek dan ukurannya akan semakin besar.

Gambar 2.5.2 Sistem kerja Tag aktif

2.5.3 Tag Semi-Pasif Tag semi-Pasif adalah sebuah transponder yang memantulkan energi RF kembali kepada reader seperti pada tag pasif, tetapi juga memiliki sumber daya onboard untuk menjalankan rangkaian chip. Hal ini memungkinkan untuk membaca lagi jangkauan dan kemampuan tidak hanya untuk menentukan lokasi item, seperti tag aktif.

Gambar 2.5.3 Sistem kerja Tag semi pasif 2.5.4 Tag Pasif Yaitu tag yang catu dayanya diperoleh dari medan yang dihasilkan oleh pembaca RFID. Rangkaiannya lebih sederhana, harganya jauh lebih murah, ukurannya kecil, dan lebih ringan. Kelemahannya adalah tag hanya dapat mengirimkan informasi dalam jarak yang dekat dan pembaca RFID harus menyediakan daya tambahan untuk tag RFID.

Gambar 2.5.3 Sistem kerja Tag pasif

2.6

Frekuensi Kerja Tag RFID Frekuensi Kerja (Operating Frequency) adalah frekuensi gelombang elektromagnetik

yang yang digunakan tag untuk berkomunikasi atau untuk mengambil daya. Spektrum elektromagnet dimana RFID bekerja dibagi menjadi low frequency (LF), high frequency (HF), ultra-high frequency (UHF), dan microwave.

Gambar 2.6 . Electromagnetic Spectrum


(sumber: RFID: Technologies and Application, POLITECNICO DI MILANO)

Dari gambar Electromagnetic Spectrum diatas dapat dilihat bahwa frekuensi kerja RFID seperti pada table berikut. Frequency Range Low Frequency (LF) High Frequency (HF) Ultra-High Frequency (UHF) Microwave Ultra-Wide Band (UWB) Frequencies 120-140 KHz 13.56 MHz 868-928 MHz 2.45 & 5.8 GHz 3.1-10.6 GHz

Tabel 2.6 Frekuensi Kerja RFID

Masing-masing frekuensi memiliki kelebihan dan kekurangan yang relatif terhadap kemampuannya. Umumnya frekuensi yang lebih rendah berarti kisaran membaca lebih rendah dan lebih lambat membaca data rate, tetapi meningkatkan kemampuan untuk membaca dekat atau pada permukaan logam atau cair.

2.7

Regulasi dan Standarisasi Sampai saat ini belum ada lembaga atau badan dunia yang mengatur mengenai

penggunaan frekuensi pada RFID. Pada dasarnya, setiap negara dapat membuat peraturan sendiri mengenai hal ini. Namun demikian, ada beberapa Badan utama yang tugasnya memberi alokasi frekuensi untuk RFID adalah sebagai berikut: - USA: FCC (Federal Communications Commision) - Canada: DOC (Department of Communication) - Europe: ERO, CEPT dan ETSI - Japan: MPHPT (Ministry of Public Management, Home Affairs, Post and Telecommunication) - China: Ministry of Information Industry - Australia: Australian Communication Authority - New Zealand: Ministry of Economic Development Frekuensi rendah (125 - 134 kHz dan 140 - 148.5 kHz) dan frekuensi tinggi (13.56 MHz) dari RFID tag dapat digunakan secara global tanpa lisensi. Frekuensi ultra tinggi ( 868 MHz -928 MHz) tidak boleh digunakan secara global karena belum ada standar global yang mengaturnya. Di Amerika Utara, UHF dapat digunakan tanpa lisensi pada rentang 908 - 928 MHz, tetapi restriksinya ada pada transmission power-nya. Di Eropa, UHF sedang dipertimbangkan dalam rentang 865.6 - 867.6 MHz. Penggunaannya saat ini masih tanpa lisensi untuk rentang 869.40 - 869.65 MHz, tetapi restriksinya kembali pada transmission power-nya. Standar UHF di Amerika Utara tidak diterima di Perancis karena akan menimbulkan interferensi dengan frekuensi yang digunakan oleh

militer. Di Cina dan Jepang juga belum ada regulasi untuk penggunaan UHF. Di Australia dan Selandia Baru, rentang 918 - 926 MHz digunakan tanpa lisensi, tetapi restriksinya juga ada pada transmission power-nya. Regulasi juga ada pada sisi kesehatan dan isu lingkungan. Sebagai contoh, di Eropa, regulasi dari Waste Electrical and Electronic Equipment menyatakan bahwa RFID tag tidak boleh dibuang. Ini artinya bahwa jika suatu kemasan kosong mau dibuang, maka RFID tag-nya harus dilepas terlebih dahulu. Berikut ini beberapa standar yang dibuat dan mengandung seputar teknologi RFID:

Frequency Spectrum
Low Frequency (125/134.2 kHz) High Frequency (13.56 MHz) 7 kHz High Frequency (433 MHz) ISO 18000-7 High Frequency (860-960MHz) ISO 18000-6A Ultra High Frequency (2.45 GHz) ISO 18000-4

ISO 11784

ISO/IEC 14443

ISO NUMBER
ISO/IEC 18000-2A ISO/IEC 15693 ISO 18000-3 ISO 18000-6B ISO 18000-6C ISO/IEC 24730-

ISO/IEC 18000-2B

Tabel 1. Tabel Standarisasi Yang Terkait dengan RFID

2.8

MySQL MySQL adalah suatu Relatinonal Database Management System(RDBMS) yang

mendukung database yang terdiri dari sekumpulan relasi atau tabel. MySQL menggunakan suatu format standar SQL bahasa data yang terkenal. MySQL dilepaskan dengan suatu lisensi open source, dan tersedia secara cuma-cuma. MySQL bekerja pada berbagai sistem operasi, dan banyak bahasa. MySQL bekerja dengan cepat dan baik dengan data yang besar. PHP menyediakan banyak fungsi untuk mendukung database MySQL.

2.9 PHP(PHP:Hyper Text Preprocesor) PHP merupakan salah satu bahasa pemrograman web yang paling banyak digunakan saat ini. Hasil dari NetCraft, menyatakan bahwa ada kurang lebih 52juta pengguna PHP diseluruh dunia atau kalau di persentase sekitar 70,9%. Sebuah angka yang fantastis untuk sebuah bahasa pemrograman.

BAB 3 METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penyusunan tugas akhir ini adalah, sebagai berkut; 1. Tinjauan pustaka, mempelajari buku, artikel, dan situs yang terkait dengan RFID. 2. Wawancara, melakukan studi dengan metode wawancara kepada dosen ataupun praktisi yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas dalam tugas akhir ini. 3. Pengumpulan data, mencari data tentang RFID reader dan RFID Tag mengenai frekuensi kerja dan harga yang sesuai untuk riset ini. 4. Perancangan, melakukan konsultasi dengan kepala Dishubkomintel atau bagian Chief Information Officer(CIO) dinas tersebut dalam pemodelan sistem. 5. Membangun sistem, ketika gambaran atau pemodelan system telah didapat, maka langkah selanjutnya adalah dengan membuat aplikasi. 6. Pengujian, setelah pembuatan aplikasi selesai, maka sebelum betul-betul diterapkan akan dilakukan pengujian. 7. Penerapan, setelah sistem berjalan dengan baik maka system siap diterapkan karena hasil akhir dari penelitian ini adalah untuk diterapkan pada dishubkomintel Aceh. 8. Penulisan Tugas Akhir Tahap terakhir ini dibuat buku sebagai dokumentasi dari perancangan dan uji coba sistem dari tugas akhir ini.

JADWAL PELAKSANAAN

DAFTAR PUSTAKA OHALLORAN, MARTIN DAN GLAVIN, MARTIN. APRIL 2004. RFID Patient Tagging and Database System. National University of Ireland, Galway; United States Government Accountability Office (2005), Informaton Security : Radio Frequency Identification Technology in the Federal Government, http://www.gao.gov/new.items/d05551.pdf, Boon Siong, Ang. Assets Tracking and Personals Positioning in Hospitals. SIM University, Singapore; http://www.aiyubm.isgreat.org/TugasKuliah/Skripsi/Referensi/02RFID-SIM.pdf Haikal, Mohd B Mohd Baharudin, 2007. Student Examination Atitindance System Via RadioFrequency Identification (RFID) Simulator. Universiti Teknikal Malaysia Melaka. Erwin, 2004. Radio Frequency Identification ;Tugas Proyek Mata Kuliah Keamanan Sistem Informasi. Institut Teknologi Bandung.