Anda di halaman 1dari 4

EVALUASI AKHIR SEMESTER EVOLUSI

OLEH : RIZKY YANUARISTA (1509100027)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2012

PENDAHULUAN Evolusi (juga dikenal sebagai evolusi biologi, genetik atau organik) adalah perubahan sifat mewarisi dari populasi organisme melalui generasi berturut-turut. Perubahan ini hasil dari interaksi antara prosesproses yang memperkenalkan variasi dalam populasi, dan proses lainnya yang menghapus itu. Akibatnya, varian dengan sifat-sifat tertentu menjadi lebih, atau kurang, umum. sifat adalah ciri-anatomi tertentu, biokimia atau perilaku-yang merupakan hasil dari interaksi gen-lingkungan. Sumber utama variasi adalah mutasi, yang memperkenalkan perubahan genetik. Perubahan ini diwariskan (bisa ditularkan melalui reproduksi), dan dapat menimbulkan sifat alternatif dalam organisme. Sumber lain variasi adalah rekombinasi genetik, yang mengaduk-aduk gen ke dalam kombinasi baru yang dapat mengakibatkan organisme menunjukkan ciri yang berbeda. Dalam keadaan tertentu, variasi juga dapat ditingkatkan dengan transfer gen antara spesies, dan oleh penggabungan yang sangat jarang, tetapi signifikan, grosir genom melalui endosimbiosis (Anonim2, 2010). Perbandingan morfologi merupakan perbandingan bentuk dan struktur tubuh dari garis keturunan utama makhluk hidup, yang akan menghasilkan bukti-bukti yang kuat terhadap evolusi. Perbandingan morfologi bisa kita pelajari dari proses divergensi morfologi dan konvergensi morfologi. Divergensi morfologi adalah perubahan dari bentuk dan struktur tubuh nenek moyang menjadi bentuk struktur tubuh spesies-spesies berbeda. Konvergensi morfologi adalah perubahan bentuk dan struktur tubuh yang berbeda pada spesies-spesies yang hubungan evolusinya jauh menjadi bentuk dan struktur yang sama (Anonim1, 2010). Perbandingan morfologi dapat dipelajari pada: a. homologi yaitu persamaan asal usul struktur anggota tubuh berbagai organisme tetapi fungsinya berbeda. Contohnya tangan pada manusia dan kaki depan kuda.

Gambar 1 : Homologi

b. analogi yaitu persamaan fungsi bagian-bagian tubuh spesies yang berbeda yang asal usulnya berbeda. Contohnya sayap burung dan sayap kupu-kupu.

Gambar 2 : Analogi

(Anonim1, 2010). Studi molekuler memang merupakan cara yang paling akurat untuk mengetahui kedekatan filogenetik suatu spesies. Hal ini dikarenakan struktur molekuler dari suatu spesies bersifat lebih adaptif dalam menghadapi tekanan seleksi alam. Sebagaimana kita ketahui sifat suatu spesies ditentukan atau diturunkan secara genetik. Dalam suatu gen, sifat-sifat yang akan dimunculkan tersebut tersandi. Spesies keturunan, otomatis akan memiliki struktur genetik yang sama dengan induknya. Karena gen-gen tersebut diturunkan secara tetap dan terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu spesies yang memiliki kedekatan hubungan kekerabatan akan cenderung memiliki struktur genetik yang sama, meskipun spesies tersebut hidup di zaman yang berbeda (Anonim3, 2012).

Variasi genetik dalam populasi merupakan gambaran adanya perbedaan respon individu-individu terhadap lingkungan sebagai bentuk dari perubahan adaptif. Fenotipe suatu individu organisme dihasilkan dari genotipe dan pengaruh lingkungan organisme tersebut. Variasi fenotipe yang substansial pada sebuah populasi diakibatkan oleh perbedaan genotipenya. Oleh karena itu, meskipun secara morfologi spesies tersebut berbeda namun tetap dikatakan memiliki kedekatan filogenetik karena secara molekuler banyak memiliki kesamaan. Dalam hal ini, ekspresi gen yang dimunculkan pada tiap spesies tidak selalu sama, karena ekspresi gen tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Variasi fenotipe dapat menghilang ketika sebuah alel mencapai titik fiksasi, yakni ketika alel tersebut menghilang dari suatu populasi atau karena alel tersebut telah menggantikan keseluruhan alel nenek moyangnya (Anonim3, 2012). Dari asumsi hasil data molekuler dianggap selalu merupakan cerminan yang lebih akurat mengenai kedekatan filogenik dibandingkan studi morfologi karena hasil studi morfologi dianggap terlalu lemah dalam menghadapi tekanan adaptif dan tekanan seleksi serta merupakan hasil molekuler yang terekspresikan. PEMBAHASAN Suatu makluk hidup dapat dikatakan mengalami evolusi karena telah terjadi perubahan pada morfologi dan susunan molekulernya. Berdasarkan jurnal Ultrabithorax Function In Butterfly Wings And The Evolution Of Insect Wing Patterns ini, evolusi diperkirakan terjadi sekitar 500 juta tahun yang lalu yang mana dilihat berdasarkan perbedaan karakteristik atau adanya perubahan ekspresi gen pada arthropoda yang dipengaruhi oleh gen Hox (Homeobox). Gen Hox merupakan suatu gen yang terdapat pada Arthropoda.Terdapat perbedaan morfologi pada kupu-kupu yang dapat dilihat pada perbedaan dalam pigmentasi, skala morfologi dan elemen pola warna antara sayap depan dan sayap belakang pada Precis coenia yang termasuk golongan lepidoptera, diatur oleh Ubx dan pada lalat buah Drosophila yang termasuk golongan diptera, terjadi perbedaan dalam ukuran, bentuk dan pola antara sayap belakang yang sangat termodifikasi dan sayap depan yang diatur oleh Ubx. Perbedaan karakteristik tersebut diatur oleh gen Hox. Peran gen Hox dalam evolusi arthropoda sebagian besar mencakup perubahan fungsinya, peraturan, atau gen yang mengatur. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya perbedaan gen target yang diregulasi oleh protein UBx selama evolusi kupu-kupu dan lalat buah dari ancestor bersayap empat secara umum. Protein UBX meregulasi aspek detail morfologi, pigmentasi, serta pola bintik-bintik pada sayap belakang kupu-kupu Precis coenia dan meregulasi karakter yang berbeda pada organ homolognya yaitu pada halter lalat buah Drosophila. Perubahan pada gen target regulasi-Hox ini mendasari perbedaan morfologi dari struktur homolog pada hewan lain. Dalam jurnal ini disebutkan bahwa evolusi dari serangga dapat meliputi perbedaan pola ekspresi gen Hox, tidak ada serangga modern yang sayap bagian depan atau sayap bagian belakang identik,(misalnya, Diptera dan Lepidoptera) memiliki morfologi dan fungsi yang berbeda dari sepasang appendage telah menyimpang secara jelas, perbedaan dalam morfologi diantara struktur penerbangan di Drosophila dan kupu-kupu merupakan spesies yang mengekspresikan gen Ubx pada perkembangan sayap belakangnya yakni berupa bintik mata.

Gambar 3 : Adult ventral posterior eyespots on wild-type, (a) forewings and (b) hindwings, illustrate the differences in the size and color of this pattern element between the two flight appendages.

Pada Precis coenia terjadi evolusi pada mutant homeotik yang ditemukan kehilangan beraneka ragam ekspresi protein Ubx pada sayap bagian ventral.

Gambar 4 : Tranformasi bagian ventral hindwing dan ventral forewing dalam pola homoetic kupu-kupu mutan. (a) permukaan dorsal wild-type forewing (atas) dan hindwing (bawah). Ventral permukaan depan hindwing (b) wind-type dan (c) homeotic belakang strain mengungkapaka perubahan dalam pigmentasi dan warna unsur-unsur pola dalam hindwing homeotic (membandingkan (b) dan (c)di bawah).

Gen homeotik adalah gen yang mengatur identitas anatomis segmen ordo Lepidoptera. Gen homeotik akan menspesifikasikan anggota tubuh dan struktur lain yang akan dibentuk oleh tiap-tiap segmen. Gen homeotik memiliki satu urutan yang terdiri dari 180 nukleotida yang disebut homeobox (Hox gene). Digunakan penyelidikan pada Precis coenia mengetahui pola mutasi homeotik pada sayap belakang. Selain karena mutasi homeotik, pengurangan ekspresi gen Ubx ini dapat disebabkan beberapa kemungkinan, yakni mutasi pada protein regulator ekspresi gen Ubx atau mutasi pada Ubx sendiri. Data ini menunjukkan bahwa Ubx normal mengatur pigmentasi, unsur warna pola dan skala morfologi di hindwings P. coenia. Bintik mata pada sayap depan bagian ventral posterior lebih luas dibandingkan bintik mata pada sayap belakang. Selain karena faktor morfologi dan molekuler, juga ada faktor lingkungan Precis coenia yang mempunyai bintil mata pada sayapnya dapat digunakan untuk mengelabuhi mangsanya sehingga Precis coenia dapat bertahan hidup di lingkungannya. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari kasus ini adalah kesamaan molekuler bukanlah penentu akhir dari hubungan filogenik melainkan adanya pengaruh faktor lingkungan yang mempengaruhi kesamaan molekuler dan morfologi. Pada jurnal Ultrabithorax Function In Butterfly Wings And The Evolution Of Insect Wing Patterns dapat ditemui kesamaan gen hox pada lepidoptera dan diptera namun, terjadi perbedaan gen target yang diregulasi oleh protein UBx selama evolusi kupu-kupu dan lalat buah dari ancestor bersayap empat secara umum, serta perbedaan morfologi pada sayap bagian ventral Precis coenia. Hasil menunjukkan bahwa ukuran eyespot hindwing dapat dikontrol oleh Ubx dalam dua langkah dalam perkembangan jalur eyespot Ubx menekan produksi sinyal focal, yang berkurang ketika sebagian besar fokus kehilangan ekspresi Ubx. Gen Ubx mempengaruhi respon gen dari sinyal hilir fokus misalnya, DII. Karena unsur-unsur pola eyespot tidak memiliki padanan pada ordo serangga lainnya, kita menyimpulkan bahwa pola Ubx regulasi gen eyespot telah berevolusi dalam Lepidoptera.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. 2010. Analogi dan Homologi. Diakses dari http://bioabsis.blogspot.com/2009/12/homologi-dananalogi.html pada tanggal 11 Januari 2012 pukul 19.55 WIB. Anonim2.2010. pengertian Evolusi. Diakses dari http://id.shvoong.com/humanities/archeology/2091012pengertian-evolusi/ pada tanggal 11 Januari 2012 pukul 20.01 WIB. Anonim3. 2012. Variasi Genetik. http:// I:\blog-evolusi-dan-seleksi-alam.php.htm. Diakses tanggal 11 Januari 2012 pukul 20.08 WIB. Weatherbee, Scott D., Nijhout, H. Frederik,etc.1999. Ultrabithorax function in butterfly wings and the evolution of insect wing patterns. Elsevier Science Ltd ISSN 0960-9822.