Anda di halaman 1dari 5

1.

Filsafat dan Ideologi Pancasila Filsafat pancasila adalah usaha manusia melalui akal dan pengalaman secara

kritis, mendasar, integral (terpadu) dan radikal (sampai keakar-akarnya) untuk mencari dan menemukan hakekat kenyataan atau kebenaran, baik mengenai dirinya sendiri, maupun mengenai segala sesuatu yang dihadapinya dengan menempuh proses diskripsi, komunikasi, sinthesa dan evaluasi dalam konteks: a. Filsafat pancasila adalah filsafat yang mempunyai obyek pancasila, yaitu pancasila yang benar dan sah yang tercantum di dalam pembukaan UndangUndang Dasar 1945. b. Ideologi pancasila yang merupakan kelanjutan filsafat pancasila adalah pandangan dan tinjauan manusia indonesia tentang tingkah laku hidup bermasyarakat dan hidup bernegara dalam usaha mencapai cita-cita yang terkandung dalam pancasila. Dengan menghayati filsafat pancasila yang merupakan dasar dan ideologi pancasila, akan mudah mengetahui persamaan, perbedaan dan pertentangan dengan filsafat asing antara lain liberalisme, komunisme dan lain-lain. Dengan demikian filsafat pancasila akan dapat diamankan terhadap pengaruh negatif dari isme atau paham asing dan sekaligus dikembangkan terus dengan menggunakan pengaruh yang positif. Usaha tersebut berarti melestarikan filsafat dan ideologi pancasila akan menjamin kebudayaan pancasila yang akhirnya menjadikan dasar peradaban bangsa. Pancasila secara dasariah telah meletakkan pandangan filsafat tentang tata kehidupan kemasyarakatan dan kelembagaan dalam hidup kenegaraan bangsa indonesia dalam bernegara. Pandangan filsafat mengenai kehidupan negara dan bangsa indonesia berdasarkan pandangan tentang manusia. Dalam pembangunan nasional yang pada hakikatnya adalah pembangunan manusia indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat indonesia seluruhnya, pembangunan dibidang ideologi tidak kalah pentingnya dengan pembangunan dibidang-bidang lain yaitu ekologi, politik, sosial budaya dan hamkamnas. Apalagi kalau diingat dan disadari bahwa pada masa-masa yang lalu, sejarah telah membuktikan bahwa pertentangan-pertentangan dan pertikaian-pertikaian di antara

sesama kita yang terjadi di berbagai daerah di tanah air kita ini dikarenakan kurangnya perhatian di bidang ideologi bahkan mungkin kurang kukuhnya ideologi itu secara keseluruhan. Sebagai suatu sistem nilai, sila-sila pancasila mempunyai kedudukan (status) yang tetap dan berangkai bahwa pengertian masing-masing sila tidak dapat dipisahkan dengan sila-sila lainnya. Karena keterkaitan antara sila sati dengan sila lainnya, maka nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila merupakan nilai-nilai kriteria (inti), dengan segala sesuatu penilaian dapat dikembalikan kepada nilai inti sebagai batu uji. Materialisasi nilai inti tersebut kita jumpai baik pada hukum tertulis maupun pada hukum yang tidak tertulis. Pancasila sebagai filsafat negara, berfungsi sebagai landasan dasar negara yang berada diatasnya. Dengan demikian hakekat negara, tujuan negara, kedudukan negara atau penyelenggaraan negara dan lain sebagainya diarahkan atau diisi oleh landasan kerohanian (pancasila sebagai filsafat negara). Bahwa pancasila sebagai filsafat negara masih bersifat abstrak. Untuk mengkongkritkannya ke dalam realitas konkrit diperlukan konsep operationalnya. Dalam hal ini ideologi pancasila sebagai konsep operationalnya, maka sudah barang tentu ideologi pancasila menggariskan hal-hal yang bersifat praktis atau pragmatis dalam hubungannya dengan hidup bernegara. Dan ini bisa dapat terlaksana apabila ada keseragaman untuk menaggapi atau memberikan penilaian atas sesuatu (tunggal dalam tanggap nilai). Ini tertulis dalam ajaran ideologi pancasila tentang tanggap nilai. Dengan kata lain fungsi dari ideologi pancasila adalah pembaharuan masyarakat (reformasi sosial), menuju kepada masyarakat yang mengutamakan nilai-nilai moral. Akhirnya realitas konkrit pancasila sebagai filsafat negara dan ideologi negara bertujukan untuk mewujudkan masyarakat pancasila yang terjelma dalam peradaban pancasila yaitu bhinneka tunggal ika yang ujud realitasnya bhinneka dalam gatra, tungga dalam karsa atau tanggap nilai dan ika dalam citra. Untuk mewujudkan masyarakat yang bhinneka tunggal ika tersebut sudah barang tentu memerlukan usaha-usaha tertentu pula. Agar penetapan usaha-usaha tersebut dapat

mendukung sasaran yang ingin dicapai, kita perlu memperhitungkan faktor-faktor yang mendukung dan faktor-faktor yang melemahkan. 2. Perbedaan Filsafat Pancasila dengan Filsafat-filsafat lainnya Perbedaan filsafat pancasila dengan filsafat-filsafat lainnya terletak pada orientasi yang melandasinya. Jika filsafat-filsafat lainnya, seperti pragmatisme, marxisme dal lain sebagainya berorentasi pada satu dimensi (natural) maka fisafat pancasila berorentasikan dua dimensi yaitu natural (anthropo-centrik) dan super natural (theo-centrik). Dengan demikian orientasi pancasila sebagai filsafat adalah theo-anthropo centrik. Asumsi-asumsi theoritikal yang akan lahir dari pancasila, pasti berbeda dengan asumsi-asumsi theoritikal yang lahir dari filsafat lain. Tetapi itu tidak dapat disamakan begitu saja dengan aliran supernaturalisme barat, yang menganggap adanya dua alam dan dua penguasa diatas alam, tanpa ada kaitannya antara kedua realitas itu. Bagi pancasila antara kedua realitas itu terdapat suatu kaitan demikian rupa, sehingga merupakan suatu keterpaduan orientasi. Pandangan tentang kemanusiaan yang dilahirkan dari pancasila tidak pula akan menyerupai aliran humanistic naturalisme yang waktu itu sangat mempengaruhi pandangan dulia, meskiput terlihat beberapa persamaan-persamaan dalam kulitnya atau tampak pada permukaan saja. Selanjutnya sebagai filsafat negara, maka sila ketiga merupakan pandangan ethno-centrik, tetapi karena tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan aspek theo-antheropo-centrik maka tak mungkin menjurus ke arah chauvinisme yang sempit atau jingoisme. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan merupakan aspek demo-centrik yang akan melahirkan sistem demokrasi dalam ketatanegaraan, dimana sistem ini tidak dapat disamakan begitu saja dengandemokrasi yang lahir dari liberalisme dan komunisme, karena adanya aspek theo-centrik. Begitu juga dengan aspek yang dilahirkan oleh sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, aspek socio-centrik tidaklah sama dengan konsep keadilan sosial dari leberalisme dan komunisme.

Adapun nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pancasila, pertama yang dapat dijabarkan dari sila pertama adalah bahwa manusia itu makhluk tuhan, dan tuhan itu tidak layak menciptakan saja, tetapi terus memeliharanya ke arah yang dikehendakiNya. Tiga nilai dasar yang lahir dari kepribadiannya sebagai mahluk tuhan adalah sebagai berikut: a. manusia dilahirkan sebagai hamba Tuhan. b. Manusia dilahirkan sama. c. Manusia dilahirkan bebas/merdeka. Asumsi-asumsi dasar atau premise-premise dasar yang didapatkan dari nilai dasar ini adalah: kehendak, keinginan serta kepentingan pribadi diakui, tetapi harus dibatasi oleh penghargaan pada sesama manusia serta ditundukkan pada ketentuan peraturan. Sila kedua merupakan esprit dan ethos yang tetkandung dalam sila pertama. Kata adil dan beradap, menguatkan arti dan makna yang terkandung dalam kata kemanusiaan. Kedua kata adil dan beradap, menunjukkan sikap manusia yang utuh lahir bathin, karena adil menunjukan sikap rohaniah (mental attitude), sedangkan adil menunjukkan pada prilaku sebagai ekspressi dari adap. Kalau adab lahir dari orientasi super natural yang bersifat spiritual, maka sikap adil merupakan tanggap prilaku menghadapi realitas keduniawian yang lahir dari orientasi natural. Pancasila sebagai ideologi merupakan suatu citra kehendak budi kelompok yang akan direalisir menjadi suatu kebudayaan. Dalam terminologi yang populer sekarang ini, proses konkritisasi itu disebut proses pembangunan. Jadi proses pembangunan itu haris dilandaskan pada suatu ideologi yang telah disepakati bersama. Ini berarti bahwa pembangunan itu harus mampu mencerminkan nilainilai yang terkandung dalam ideologi tadi. Bagi bangsa indonesia adalah ideologi pancasila, dimana nilai-nilainya telah dijabarkan dari filsafat pancasila, ideologi itu dapat dikatakan juga sebagai konsep operasional dari suatu pandangan atau filsafat hidup. Nilai-nilai dasar yang lahir dari filsafat hidup, akan merupakan norma-norma ideal yang melandasi ideologi, karena norma itu dapat dituangkan dalam prilaku, juga dalam kelembagaan sosial, pendidikan, ekonomi, hamkamnas, dan seterusnya.

Proses ini harus diakui melalui suatu reformasi socio moral yang berlandaskan pada premise dasar bahwa dunia hukum tidak terpisah dari dunia moral. Disinilah filsafat sebagai suatu nilai dan ideologi sebagai tonggak nilai direalisir menjadi suatu kenyataan melalui usaha taitu tunggal dalam tanggap karsa atau tanggap nilai berdasarkan ika dalam citra dalam mewujudkan bhinneka dalam gatra.