Anda di halaman 1dari 151

FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA

PADA DAGING BUAH PEPINO (Solanum muricatum Aiton)


YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIOKSIDAN






SKRIPSI






Oleh:

DEVI ARINDAH
NIM. 04530003













JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM (MMI) MALANG
2010

FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA
PADA DAGING BUAH PEPINO (Solanum muricatum Aiton)
YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIOKSIDAN







SKRIPSI






Diajukan Kepada:

Universitas Islam Negeri (UIN)
Maulana Malik Ibrahim (MMI) Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)







Oleh:

DEVI ARINDAH
NIM. 04530003







JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM (MMI) MALANG
2010
SURAT PERNYATAAN
ORISINALITAS PENELITIAN


Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Devi Arindah
NIM : 04530003
Fakultas/ Jurusan : Kimia
Judul Penelitian :Fraksinasi dan Identifikasi Golongan Senyawa pada
Daging Buah Pepino (Solanum muricatum Aiton) yang
Berpotensi Sebagai Antioksidan
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa hasil penelitian saya ini
tidak terdapat unsur-unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang
pernah dilakukan atau dibuat oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip
dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustka.
Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan,
maka saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan, serta diproses sesuai
peraturan yang berlaku.


Malang, 27 April 2010
Yang Membuat Pernyataan,


Devi Arindah
NIM. 04530003








FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA
PADA DAGING BUAH PEPINO (Solanum muricatum Aiton)
YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIOKSIDAN




SKRIPSI




Oleh:

DEVI ARINDAH
NIM. 04530003




Telah disetujui oleh:


Dosen Pembimbing I





Elok Kamilah Hayati, M. Si
NIP. 19790620 200604 2 002
Dosen Pembimbing II





Munirul Abidin M. Ag
NIP. 0921002 12110 070



Tanggal, 24 April 2010


Mengetahui,
Ketua Jurusan Kimia





Diana Candra Dewi, M. Si
NIP. 19770720 200312 2 001
FRAKSINASI DAN IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA
PADA DAGING BUAH PEPINO (Solanum muricatum Aiton)
YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTIOKSIDAN



SKRIPSI



Oleh:
DEVI ARINDAH
NIM. 04530003


Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi dan
Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)


Tanggal 27 April 2010

Susunan Dewan Penguji Tanda Tangan


1. Penguji Utama : Rini Nafsiati Astuti, M.Pd
NIP. 19750531 200312 2 001
( ................................... )


2. Ketua : Eny Yulianti, M.Si
NIP. 19760611 200501 2 006

( ................................... )
3. Sekretraris : Elok Kamilah Hayati, M.Si
NIP. 19790620 200604 2 002

( ................................... )
4. Anggota : DR. Munirul Abidin, M.Ag
NIP. 0921002 12110 070
( ................................... )




Mengetahui dan Mengesahkan
Ketua Jurusan Kimia



Diana Candra Dewi, M.Si
NIP. 19770720 200312 2 001
MOTTO



`., < -9 >9

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
(SQ. Al Faatihah 1:1)

.` 6>9 '!: ,` 6>9 ) . > .2 !
`2 | 9` ,9{

Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran
dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Barangsiapa yang
dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak, dan
hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran
(dari firman Allah)
(QS. Al Baqarah: 269)





















PERSEMBAHAN


Saya persembahkan sebuah karya Skripsi Nan Sederhana ini, sebagai:

Rasa Syukur dan Sujudku kepada ALLAH SWT yang telah meniupkan
hamba ruh dan memberikan hamba nafas Al-Islam dalam kehidupan serta
kekuatan untuk beribadah kepadaNya

Rasa Kasih Sayang, Terima Kasih dan Tadzim nanda kepada Ibunda
Erna Endahyati dan Ayahanda Datok Iswandi selaku kedua orang
tua yang apabila sesuatu terindah didunia ini di jual sekalipun tidak akan
bisa menandingi kasih sayang, bimbingan dan perhatian beliau. Karena
doa-doa beliau, nanda mampu mengukir kehidupan ini dengan
kesabaran, ketegaran, dan keikhlasan. Semoga ALLAH SWT selalu
menaumgi kedua orang tua nanda dengan Ridho, Rahmat dan InayahNya
Fiddunya wal-Akhirat. Amiin Ya Robb...

Terima kasih kepada Ibu Elok Kamilah Hayati, M.Si., Bapak DR. Munirul
Abidin, M.Ag., Ibu Himmatul Barroroh, M.Si., Ibu Rini Nafsiati Astuti,
M.Pd. dan ibu Eny Yulianti, M.Si., serta seluruh Bapak Dosen dan Ibu
Dosen Kimia yang selalu memberikan bimbingan, arahan, saran,
semangat, perhatian dan doa, yang mampu membuka mata hati dan fikiran
ini, untuk berupaya dan bertindak lebih baik dalam menggapai ilmu
pengetahuan (sains) maupun agama yang bermanfaat bagi kehidupan.
Amiin Ya Robb

Rasa Kasih Sayang dan Terima Kasihku kepada Kakekku Mbakku
Winar Wijayanti, Adikku Muhammad Nurus Shobah,
KakakkuFyan sera keluarga Pasuruan, sahabat INNSAF yang
menaungi doa untukku dan mampu memberiku ketenanagan dengan
Siraman Rohani dalam jiwa ini serta membantuku mengatasi problema
yang yang berevolusi dalam kehidupan duniawi ini.

Terima kasih Sahabat2 Chemistry04, Chemistry05, Chemistry06,
Chemistry07 yang selalu memberikan arahan ilmu, semangat,
senyumanm, Doa & persaudaraan. GO A HEAD CHEMISTRY..!!



Barokallahufiik

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur walhamdulillah ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat,
hidayah dan inayah-Nya yang telah memberikan pertolongan dan kemudahan bagi
setiap hamba-Nya, sehingga Allah SWT memperkenankan penulis untuk
menyelesaikan skripsi ini dengan judul "Fraksinasi dan Identifikasi Golongan
Senyawa pada Daging Buah Pepino (Solanum muricatum Aiton) yang Berpotensi
sebagai Antioksidan" sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana
Sains (S.Si).
Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada penghulu para Rasul,
Nabi Muhammad SAW, lentera hati yang tidak mudah padam, menerangi jalan
kehidupan menuju tempat kembali, diharibaan Allah SWT yang Maha suci,
beserta para sahabat, keluarga, dan seluruh kaum muslim yang mengikuti-Nya
hingga akhir zaman.
Penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada semua
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, terutama
kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN Maulana Malik
Ibrahim (MMI) Malang
2. Bapak Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro, SU., D.Sc selaku Dekan
Fakultas Sains dan Teknologi UIN MMI Malang.
3. Ibu Diana Candra Dewi, M.Si selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas Sains dan
Teknologi UIN MMI Malang.
4. Ibu Elok Kamilah Hayati, M.Si, bapak DR. Munirul Abidin, M.Ag dan ibu
Himmatul Barroroh, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.
5. Ibu Rini Nafsiati Astuti, M.Pd dan ibu Eny Yulianti, M.Si selaku penguji yang
banyak memberikan saran dan arahan demi sempurnanya isi skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu Dosen serta Laboran Jurusan Kimia Fakultas Sains dan
Teknologi yang telah banyak memberikan ilmunya.
7. Kedua orang tuaku (Ibu dan Bapak) dan kakak serta adikku yang segenap jiwa
raga dan seluruh hidup dengan ikhlas selalu membimbing dan mendukung
secara materiil maupun spirituil dalam kehidupan
8. Semua teman kimia dan semua pihak UIN MMI Malang yang telah banyak
membantu penulis demi terselesainya skripsi ini.
Akhir kata dengan penyerahan diri kepada Allah SWT dan pengharapan
besar untuk mendapat ridhaNya berharap semoga skripsi ini dapat memberikan
manfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya serta semoga
penulisan skripsi ini mendapatkan ridha, rahmat dan manfaat dari Allah SWT.
Amiin Yaa Robbal Alamiin.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Malang, 24 April 2010
Penulis
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... i
DAFTAR TABEL .................................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. iv
DAFTAR PERSAMAAN........................................................................................ v
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... vi
DAFTAR LAMBANG, SATUAN DAN SINGKATAN ...................................... vii
ABSTRAK .............................................................................................................. ix

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 7
1.3 Tujuan ........................................................................................................... 7
1.4 Batasan Masalah ........................................................................................... 8
1.5 Manfaat Penelitian ......................................................................................... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Buah pepino (Solanum muricatum Aiton) dalam Perspektif Islam ............... 9
2.2 Pepino (Solanum muricatum Aiton) ............................................................. 16
2.2.1 Morfologi Buah Pepino (Solanum muricatum Aiton) ................................... 16
2.2.2 Taksonomi Pepino ......................................................................................... 18
2.2.3 Jenis-jenis Buah Pepino ................................................................................ 19
2.2.4 Kandungan Buah Pepino ............................................................................... 21
2.3 Senyawa Antioksidan ................................................................................... 22
2.4 Golongan Senyawa-senyawa Antioksidan .................................................... 25
2.4.1 Alkaloid ......................................................................................................... 25
2.4.2 Vitamin C ...................................................................................................... 26
2.5 Metode Ekstraksi Maserasi ........................................................................... 27
2.6 Uji Aktivitas Antioksidan .............................................................................. 28
2.7 Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ................................................................. 30
2.7.1 Pengertian KLT ............................................................................................ 30
2.7.2 Sistem Fase Diam Silika Gel pada KLT ...................................................... 32
2.7.3 Sistem Eluen (Fase Gerak) KLT .................................................................. 34
2.7.4 Jenis-jenis Pelarut ......................................................................................... 36
2.7.5 Jenis-jenis KLT ............................................................................................ 41
2.7.6 Teknik KLT ................................................................................................... 41
2.7.7 Identifikasi .................................................................................................... 42
2.8 Spektrofotometer Infra Merah Transformasi FourierTH (TFourier
Transform Infra Red (FT-IR)) ....................................................................... 44

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................................ 48
3.2 Alat dan Bahan .............................................................................................. 48
3.2.1 Alat ................................................................................................................ 48
3.2.2 Bahan. ............................................................................................................ 49
3.3 Rancangan Penelitian .................................................................................... 49
3.4 Pelaksanaan Penelitian .................................................................................. 50
3.4.1 Preparasi sampel buah pepino ....................................................................... 50
3.4.2 Ekstraksi sampel ........................................................................................... 50
3.4.3 Pemisahan Senyawa Hasil Isolasi dengan KLT ............................................ 51
3.4.3.1 Pemisahan dengan KLT Analitik .................................................................. 51
3.4.3.2 Pemisahan dengan KLT Preparatif ............................................................... 52
3.4.4 Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan .............................................................. 53
3.4.5 Identifikasi IR Senyawa Isolat B ................................................................... 54
3.5 Analisa Data .................................................................................................. 54

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Preparasi Sampel Buah Pepino ..................................................................... 57
4.2 Ekstraksi Sampel .......................................................................................... 59
4.3 Fraksinasi Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ......................... 63
4.3.1 Pemisahan dengan KLT Analitik .................................................................. 63
4.3.2 Pemisahan dengan KLT Preparatif................................................................ 72
4.4 Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan dengan Metode DPPH ......................... 74
4.5 Identifikasi IR Senyawa Isolat B ................................................................... 78
4.6 Pemanfaatan Buah Pepino Dalam Perspektif Islam ...................................... 84

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan .................................................................................................... 88
5.2 Saran ............................................................................................................. 89

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 91
LAMPIRAN ............................................................................................................. 101



















DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kandungan Buah Pepino ........................................................................ 22
Tabel 2.2 Deret Eluotropi (efek elusi mulai dari atas ke bawah) .......................... 35
Tabel 2.3 Bagan Korelasi Spektrofotometer Infra Merah ...................................... 47
Tabel 3.1 Daftar eluen dan cara identifikasi spot ................................................... 52
Tabel 4.1 Nilai Rf dan Warna Noda Pada KLTA setElah di UV max 254
nm ........................................................................................................... 66
Tabel 4.2 Nilai Rf dan Warna Noda Pada KLTA Setelah di Semprot dengan
Marquis................................................................................................... 70
Tabel 4.3 Data Pengamatan Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan .......................... 74
Tabel 4.4 Persen Aktivitas Senyawa Antioksidan. ................................................ 76
Tabel 4.5 Interpretasi Spektra FTIR Dari Ioslat A Ekstrak Daging Buah
Pepino ..................................................................................................... 80
































DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bentuk Tanaman Pepino ..................................................................... 17
Gambar 2.2 Aneka Buah Pepino ............................................................................. 17
Gambar 2.3 Buah Pepino Kuning ........................................................................... 20
Gambar 2.4 Buah Pepino Ungu .............................................................................. 21
Gambar 2.5 Reaksi Penghambatan Antioksidan Primer Terhadap Radikal
Lipida ................................................................................................... 24
Gambar 2.6 Antioksidan Bertindak Sebagai Prooksidan Pada Konsentrasi
Tinggi ................................................................................................... 24
Gambar 2.7 Struktur Senyawa Solanina ................................................................ 25
Gambar 2.8 Stuktur Umum Senyawa L-Asam Askorbat ........................................ 27
Gambar 2.9 Reaksi DPPH (1,1-Difenil-2-pikrilhidrazil) Dengan Antioksidan ...... 29
Gambar 2.10 Struktur Silika Gel ............................................................................... 33
Gambar 2.11 Ikatan Hidrogen Antarmolekul Pada Air ............................................ 37
Gambar 2.12 Ilustrasi Cara Menghitung Nilai Rf ..................................................... 43
Gambar 2.13 Bagan Instrumentasi Spektrofotometer FTIR ..................................... 44
Gambar 4.1 Interaksi Analit Dengan Silika Gel ..................................................... 64
Gambar 4.2 Dokumentasi dan Ilustrasi Noda KLTA Sesudah di UV max
254 nm ................................................................................................. 66
Gambar 4.3 Dokumentasi dan Ilustrasi Noda Pada Plat Sesudah Disemprot
Dengan Pereaksi Marquis .................................................................... 70
Gambar 4.4 Reaksi Pencoklatan Vitamin C (L-Asam Askorbat) ........................... 71
Gambar 4.5 (a) Ilustrasi Penotolonan Isolat Pada Plat KLTP, (b) Ilustrasi
Isolat yang Akan Dikerok Setelah di Elusi dan di Sinari Lampu
UV max 254 nm, (c) KLTP Isolat Ketika di UV max 254 nm
dan (d) Noda Pada KLTP Setelah Dikerok .......................................... 73
Gambar 4.6 Reaksi DPPH Dengan Vitamin C (L-Asam Askorbat) ...................... 77
Gambar 4.10 Reaksi DPPH Dengan BHT ................................................................ 77
Gambar 4.11 Spektra Vitamin C ............................................................................... 79
Gambar 4.12 Spektra Isolat A ................................................................................... 79
Gambar 4.13 Struktur L-Asam Askorbat (Vitamin C).............................................. 83













DAFTAR PERSAMAAN

Persamaan 2.1 Nilai Rf ........................................................................................... 42
Persamaan 3.1 Nilai Persen Rendemen Ekstrak ..................................................... 55
Persamaan 3.2 Nilai Rf ........................................................................................... 55
Persamaan 3.1 Nilai Persen Aktivitas Antioksidan................................................. 56





















DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja Penelitian ....................................................................... 101
Lampiran 2. Pembuatan Eluen KLT ...................................................................... 109
Lampiran 3. Pembuatan Pereaksi/ Reagen KLT ...................................................... 110
Lampiran 4. Pembuatan Larutan Untuk Uji Aktivitas dengan Metode DPPH ........ 111
Lampiran 5. Data dan Perhitungan Rendemen ........................................................ 112
Lampiran 6. Data dan Perhitungan nilai Rf Masing-Masing Isolat (KLTA)
serta Perhitungan Berat Isolat .............................................................. 113
Lampiran 7 Perhitungan % Aktivitas Senyawa Antioksidan .................................. 116
Lampiran 8. Spektra FT-IR Senyawa Isolat ............................................................. 117
Lampiran 9. Dokumentasi Preparasi dan Maserasi Sampel ..................................... 118
Lampiran 10. Dokumentasi Pemisahan KLTA ......................................................... 120
Lampiran 11. Dokumentasi Pemisahan KLTP.......................................................... 123
Lampiran 12. Dokumentasi Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan dan
Instrumentasi FT-IR Senyawa Isolat ................................................. 124




















DAFTAR LAMBANG, SATUAN DAN SINGKATAN

Simbol Keterangan
C Derajat Celsius
% Persen
Tetapan dielektrikum
g Mikro gram
max Panjang gelombang maksimal
Kurang lebih
AP

Radikal antioksidan
AH Antioksidan
BHA Butil Hidroksianisol
BHT Butil Hidroksi Toluena (2,6-Ditert-butil-p-kresol)
BM Berat molekul
bj Berat jenis
b/v Berat per volume
CHCl
3
Kloroform
CH
3
COOH Asam asetat
CH
3
COCH
3
Aseton
CH
3
OH Metanol
CH
3
(CH
2
)
4
CH
3
Heksana
C
6
H
6
Heksana
C
6
H
5
Toluena/ toluol
CH
2
Cl
2
Metilena diklorida
cm Sentimeter
C
2
H
5
OH Etanol/ alkohol
C
6
H
8
O
6
Vitamin C/ asam askorbat
d Densitas
DPPH 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil
DPPH-H 1,1-difenil-2-pikrilhidrazin
EC
50
End Concentration dalam 50 % absorbansi
EtOH Etanol
FT-IR TFourier Trasform Infra RedT
G Gypsum (CaSO
4
.H
2
O)
Gal -D-Galaktosa
GF
254
Lapisan terbuat dari gypsum yang berfuoresensi
dengan panjang gelombang 254 nm
Gluk -D-Glukosa
HOAc Asam asetat
HOO

Radikal perhidroksil
H
2
O Air
H
2
SO
4
Asam sulfat
K Tetapan Gaya Ikatan
KBr Kalium Bromida
Simbol Keterangan
KLT Kromatografi Lapis Tipis
KLTP Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
LASER Light Amplification by Stimulated TEmmissionT of
RadiationT
m Mili
M Molaritas
Me Metil
MeOH Metanol
Me
2
CO Aseton
mg Miligram
mmHg Milimeter Hergenium
mm Milimeter
n- Normal (rantai lurus)
N
2
Nitrogen
nm nanometer
NH
2
-
Ion amida
NH
3
Ammoniak
NH
4
+
Ion ammonium
NH
4
OH Ammonium Hidroksida
O Oksigen
O
2
Oksigen
P Persen (%)
pet. Eter Petroleum eter
ppm Part per milion
R Gugus alkil
R

Radikal lipida
Ram -D-Rhamnosa
Rf Retordation factor
RH Lipida
ROOH Hidroperoksida
ROO

Radikal peroksil
RO

Radikal alkoksil
Si Silikon
SiO
2
Silikat
t.d. Titik didih
TD Titik didih
TL Titik leleh
TNT Tri nitro toluena
UV Ultaraviolet
UV-Vis Ultaraviolet-Visible
V Volume



ABSTRAK

Arindah, D,. 2010. Fraksinasi dan Identifikasi Golongan Senyawa Pada
Daging Buah Pepino (Solanum muricatum Aiton) yang Berpotensi
Sebagai Antioksidan. Pembimbing: Elok Kamilah Hayati, M. Si.

Kata kunci : buah pepino, fraksinasi, antioksidan, DPPH, FT-IR, vitamin C.

Indonesia sebagai negara yang dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa
memiliki keanekaragaman flora (biodiversity) yang cukup melimpah berarti
kenekaragaman senyawa kimia (chemodiversity) juga melimpah. Sebagaimana
firman-firman Allah SWT pada QS. Al An'am: 99, QS. 'Abasa: 24-28, QS. Al
Lukman: 10, QS. An Nahl: 11, QS. Al Baqarah: 269. Hal ini memicu
dilakukannya penelitian senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuh-
tumbuhan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti teknik
pemisahan, metode analisis, dan uji farmakologi yang akan digunakan sebagai
obat seperti pada buah pepino (Solanum muricatum Aiton) yang mengandung zat
antioksidan.
Pemisahan senyawa dari hasil isolasi menggunakan metode KLT yang
meliputi KLT Analitik dan KLT Preparatif. KLT Analitik dilakukan dengan
pencarian eluen terbaik dari berbagai eluen; perbandingan komposisi pelarut yang
terdiri: metanol: NH
4
OH pekat (10:0,03), asam asetat:etanol (1:3), aseton:air:
amoniak 25% (9:0,7:0,3), etanol:asam asetat 10% (9:1), petroleum eter: n-
heksana: metanol: kloroform: asam asetat (1:1:3:3:2), metanol: aseton:air
(2:4:0,3), toluol: etanol:asam asetat (5:4:1). Kemudian dilakukan pemisahan
KLTP, uji % aktivitas senyawa antioksidan dan diidentifikasi gugus fungsi jenis
senyawa dengan menggunakan spektrofotometer FT-IR (TFourier Trasform Infra
Red).
Eluen terbaik dengan KLTA menggunakan fase diam silika gel GF
254
adalah

petroleum eter: n-heksana: metanol: kloroform: asam asetat (1:1:3:3:2).
Pemisahan KLTP menghasilkan 2 fraksi yang berwarna biru gelap ketika
(Rf1=0,31 dan Rf2=0,75) disinari lampu UV max 254 nm sehingga
dimungkinkan senyawa yang terkandung dalam fraksi B pada ekstrak daging buah
pepino adalah vitamin C (L-asam askorbat) sedangkan fraksi A asam-asam lain..
Nilai % aktivitas senyawa antioksidan isolat B (77,73 % ) lebih tinggi
dibandingkan isolat A (76,56 %). Hasil identifikasi gusus fungsi spektrofotometer
FTIR pada isolat B adalah gugus , C=O, , yang
merupakan gugus karakteristik pada vitamin C.







ABSTRACT


Arindah, D,. 2010. Fractionation and Identification of Compound In Fruit
Meat of Pepino (Solanum muricatum Aiton) that has Potential as
Antioxidants. Supervisor: Elok Kamilah Hayati, M. Si.

Key word: pepino fruit, fractination, antioxiidant, DPPH, FT-IR, vitamin C.

As a country dubbed as the equatorial emerald, Indonesia provide a
plethora of diversity of flora (biodiversity) and chemical compounds
(chemodiversity) as well. Allah Al-Mighty has also mentioned the significance of
the diversity to be learned by human as noted in the Holy Quran surah al An'am:
1999, 'Abasa: 24-28, al Luqman: 10, an Nahl, 11, and Al Baqarah: 269. This
initiated the study of chemical compounds contained in plants along with the
progress of science and technology, such as separation techniques, analytical
methods, and pharmacological assay that will be used as a medicine such as the
fruit of pepino (Solanum muricatum Aiton) that contain antioxidants.
The research was conducted using several steps including separation
process using TLC analytical TLC and preparative TLC (KLTP). Analytical TLC
was done by searching the best eluent; the ratio of solvent composition
comprising: methanol: concentrated NH4OH (10:0,03), acetic acid: ethanol (1:3)
acetone: water: ammonia 25% (9:0 , 7:0,3), ethanol: acetic acid 10% (9:1),
petroleum ether: n-hexane: methanol: chloroform: acetic acid (1:1:3:3:2),
methanol: acetone: water(2:4:0,3), toluol: ethanol: acetic acid (5:4:1). The
preparative TLC was done by the similar condition followed by the test of %
activity of the antioxidant compounds. Finally, functional groups of compounds
were identified using FT-IR spectrophotometer.
The research showed that the best eluent using GF254 silica gel stationary
phase was petroleum ether: n-hexane: methanol: chloroform: acetic acid in
comparison of 1:1:3:3:2. KLTP separation produced two fractions (A and B) with
dark blue (Rf1=0,31 dan Rf2=0,75) when exposed to UV max 254 nm light and
it was suggested that the compound contained in fraction A in extracts of pepino
fruit is vitamin C (L-ascorbic acid).
The % activity of antioxidant of fraction B (77.73%) was found to be
higher than the fraction A (76.56%). The identification results of FTIR
spectrophotometer function on fraction B showed that appearance of functional
group of OH-, C=O, and C-O-C , .Those are in concordance with the
characteristic of vitamin C (L-ascorbic acid).






BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sumber daya alam hayati mempunyai sumber-sumber senyawa kimia
yang tidak terbatas jenis maupun jumlahnya. Sumber daya alam hayati Indonesia
yang melimpah belum dimanfaatkan dan dibudidayakan secara optimal. Lenny
(2006), keanekaragaman hayati mampu menghasilkan keanekaragaman senyawa
kimia (chemodiversity) untuk kebutuhan hidup manusia maupun organisme lain
seperti untuk obat-obatan, insektisida, kosmetik dan sebagai bahan dasar sintesa
senyawa organik yang lebih bermanfaat.
Keanekaragaman senyawa kimia pada sumber daya alam hayati
memiliki banyak nilai positif, misalnya kandungan senyawa vitamin C pada buah
jeruk bermanfaat sebagai antioksidan yang mencegah dan menghambat
pertumbuhan sel kanker (Silalahi, 2006: 27). Sebagaimana Allah SWT telah
menciptakan buah-buahan dengan rasa dan aroma khas masing-masing, agar
manusia dapat mengambil hikmah dan manfaatnya seperti yang disebutkan dalam
QS. An Nahl ayat 11:
,` /39 , _9 .9 9 s{ 2 ,:9 | 9
)9 `6.

"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman;
zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
memikirkan" (An Nahl: 11).
Firman Allah SWT dalam QS. An Nahl ayat 11 merupakan tanda-tanda
kekuasaan Allah SWT berupa hasil-hasil ciptaanNya yang berada di langit dan
bumi, serta kejadian-kejadian yang berlangsung dalam ciptaanNya. Kemudian
Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk memikirkan tanda-tanda
kekuasaanNya melalui tanaman dan tumbuhan (Abdilbarr, 2007). Salah satu cara
memikirkan tanda-tanda kekuasaanNya adalah melakukan suatu penelitian pada
tanaman, seperti pada buah-buahan untuk mengetahui komponen zat yang
terkadung didalamnya sehingga mampu digunakan sebagai makanan dan sumber
obat yang memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup manusia.
Berdasarkan penelitian bahwa, dengan mengatur pola makanan (diet)
nabati terdapat phytochemicals dapat mengurangi resiko berbagai penyakit.
Phytochemicals (phyto = tumbuhan, chemicals = bahan-bahan kimia) adalah
senyawa di dalam makanan pada tumbuh-tumbuhan (nabati) yang aktif secara
fisiologis bersifat antioksidan dan mempengaruhi metabolisme tubuh manusia
secara baik sehingga berpotensi meningkatkan kesehatan serta mencegah berbagai
penyakit, terutama kanker (Watzl, 1996: 203). Umumnya senyawa antioksidan
yang diisolasi dari sumber alami adalah berasal dari tumbuhan. Isolasi antioksidan
alami telah dilakukan dari tumbuhan yang dapat dimakan, tetapi tidak selalu dari
bagian yang dapat dimakan. Antioksidan alami tersebar di beberapa bagian
tanaman seperti: kayu, kulit kayu, akar, daun, buah, bunga, biji, dan serbuk sari
(Firdaus, 2007).
Antioksidan dapat mencegah teroksidasinya sel tubuh oleh oksigen aktif
seperti superoksida, hidrogen peroksida dan radikal hidroksil serta radikal bebas
lainnya, sehingga tubuh dapat terhindar dari penyakit-penyakit degeneratif dan
penuaan dini. Beberapa contoh antioksidan yang terdapat dalam tanaman adalah
beta-karoten, likopen, vitamin C, vitamin E, flavonoid, ginkgo, kurkuminoid serta
senyawa-senyawa polifenol yang berasal dari tumbuhan tinggi (Ervina, 2008).
Indonesia sebagai negara yang dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa
memiliki keanekaragaman flora (biodiversity) yang cukup melimpah berarti
kenekaragaman senyawa kimia (chemodiversity) juga melimpah. Hal ini memicu
dilakukannya penelitian dan penelusuran senyawa kimia terutama metabolit
sekunder yang terkandung dalam tumbuh-tumbuhan seiring dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi seperti teknik pemisahan, metode analisis, dan uji
farmakologi. Senyawa hasil isolasi atau senyawa semi sintetik yang diperoleh dari
tumbuhan digunakan sebagai obat atau bahan baku obat (Sukadana dkk., 2008).
Banyak tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang mampu dimanfaatkan untuk
kesejahteraan masyarakat, sebagai contoh adalah buah pepino (Solanum
muricatum Aiton).
Pepino (Solanum muricatum Aiton) adalah buah yang masih satu famili
dengan keluarga terung. Merupakan buah baru di Indonesia tahun 2000 yang
banyak dibudidayakan di Daerah Dieng Jawa Tengah yang berasal dari
Pegunungan Andes (Amerika Selatan) di Wilayah Peru dan Chili. Buah pepino
dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik di dataran tinggi. Buah pepino
berbentuk bulat telur, berukuran panjang 2-6 inchi, berwarna ungu, hijau dengan
lurik ungu, kuning atau hijau keungu-unguan. Buah pepino memiliki cita rasa
sedikit manis dan sedikit asam seperti kombinasi rasa buah blewah dan buah
melon (Sutomo, 2007).
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa buah
pepino memiliki kandungan gizi antara lain: asam, beta karoten, lemak, protein,
serat, vitamin C, gula reduksi dan pati (Mitra Agro Melodi, 2006: 23). Namun
penelitian tentang analisa senyawa-senyawa yang terkandung di dalam buah
pepino masih sedikit sekali. Hal ini dikarenakan, buah pepino masih baru
dibudidayakan di Indonesia dan jarang diteliti oleh negara lain.
Sebagaimana penelitian Husnah (2009) telah melakukan proses ekstraksi
buah pepino (Solanum muricatum Aiton) dengan variasi pelarut etanol 70%, etil
asetat p.a, aquadest, kloroform p.a, petroleum eter p.a, heksana p.a. Ekstrak etanol
70% mempunyai aktivitas antioksidan tertinggi dan hasil identifikasi golongan
senyawa secara fitokimia didapatkan positif golongan senyawa alkaloid dan asam
askorbat (vitamin C), negatif untuk golongan senyawa karotenoid, steroid, dan
flavonoid. Dari penelitian tersebut, merupakan identifikasi ekstrak etanol 70%
dalam bentuk ekstrak kasar tanpa dilakukan pemurnian ekstrak. Ekstrak kasar
masih mengandung campuran jenis senyawa, oleh karena itu perlu dilakukan
pemurnian dengan fraksinasi ekstrak untuk mendapatkan jenis golongan senyawa
yang lebih baik tanpa mengandung campuran senyawa dari hasil fraksi ekstrak
kasar.
Salah satu metode pemurnian senyawa yang cukup baik dan sederhana
adalah Kromatografi Lapis Tipis. Metode KLT berdasarkan pada prinsip adsorbsi
antara fase diam dan fase gerak. Dalam metode KLT dengan fase diam tertentu,
proses pemisahan sangat bergantung pada jenis eluen (pelarut) yang digunakan
karena pemisahan terjadi bergantung pada (Gandjar dan Rohman, 2007: 329):
struktur kimia atau gugus aktif zat terlarut (solut) yang berinteraksi dengan fase
diam, ukuran partikel fase diam (adsorben) dan kelarutan solut dalam fase gerak.
Seperti penelitian Sulistijowati dan Gunawan (1997), hasil ekstraksi daun
kembang bulan (Tithonia diversifolia a. Gray) terhadap pertumbuhan Candida
albicans selanjutnya dilakukan pemeriksaan golongan kimia tanaman dengan
metode kromatografi lapis tipis menggunakan fase diam silika gel GF
254
dengan
berbagai variasi komposisi pelarut (etil asetat, methanol, air, asam asetat, butanol,
heksana) dan uji fitokimia dengan pereaksi untuk dianalisis kandungan warna
golongan senyawa fraksi berdasarkan profil kromatografi (noda/spot yang
terbentuk) dari hasil KLT. Hasil pemeriksaan golongan senyawa kimia tanaman
menunjukkan bahwa daun kembang bulan mengandung sedikitnya 12 senyawa
terpenoid, 14 senyawa flavonoid dan gula. Eskam dan Sukamat (2006), telah
melakukan ekstraksi secara maserasi, fraksinasi dengan berbagai cara
kromatografi dengan pelarut batang Garcinia balica Miq., hasilnya diperoleh
senyawa kumarin hasil isolasi dari fraksi polar ekstrak etil asetat pada senyawa
kumarin mempunyai aktivitas yang tinggi terhadap radikal bebas 1,1-difenil-2-
pikrilhidrazil (DPPH).
Pada penelitian ini akan dilakukan fraksinasi ekstrak buah pepino
(Solanum muricatum Aiton) untuk memisahkan senyawa yang berpotensi sebagai
antioksidan alami. Penelitian difokuskan pada pencarian eluen terbaik untuk
pemisahan jenis golongan senyawa yang mempunyai potensi sebagai antioksidan
yang terdapat dalam daging buah pepino dengan metode awal yaitu ekstraksi buah
pepino yang bertujuan untuk menghasilkan ekstrak kasar. Pemisahan senyawa
dari hasil isolasi akan menggunakan metode KLT yang meliputi KLT Analitik
dan KLT Preparatif. KLT Analitik dilakukan dengan pencarian eluen terbaik dari
berbagai eluen; perbandingan komposisi pelarut (tujuh macam eluen yang terdiri:
metanol: NH
4
OH pekat (10:0,03), asam asetat:etanol (1:3), aseton:air: amoniak
25% (9:0,7:0,3), etanol:asam asetat 10% (9:1), petroleum eter: n-heksana:
metanol: kloroform: asam asetat (1:1:3:3:2), metanol: aseton:air (2:4:0,3), toluol:
etanol:asam asetat (5:4:1)) yang merajuk pada penelitian dan reverensi. Eluen
terbaik dipilih dan akan digunakan untuk pemisahan selanjutnya yaitu KLT
Preparatif. KLT Preparatif bertujuan untuk memisahkan campuran senyawa dari
ekstrak dalam jumlah besar berdasarkan fraksinya. Hasil dari KLT Preparatif akan
menghasilkan isolat yang akan digunakan untuk uji aktivitas antioksidan dengan
menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) dengan menganalisa
perubahan warna ungu berlatar kuning (isolat yang mengandung senyawa
antioksidan) dan nilai kadar aktivitas antioksidan tertinggi dari masing-masing
isolat. Isolat yang mempunyai nilai kadar aktivitas antioksidan tertinggi akan
diidentifikasi gugus fungsi jenis golongan senyawa dengan menggunakan
spektrofotometer FT-IR (TFourier Trasform Infra Red).





1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian adalah:
1) Apakah eluen terbaik dalam pemisahan senyawa antioksidan hasil ekstrak
etanol 70% pada daging buah pepino (Solanum muricatum Aiton) dengan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Analitik menggunakan fase diam silika gel
GF
254
?
2) Apakah jenis golongan senyawa fraksi dari kadar aktivitas antioksidan
tertinggi pada daging buah pepino (Solanum muricatum Aiton) berdasarkan
pemisahan KLT Preparatif dan identifikasi gusus fungsi spektrofotometer
FTIR?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah:
1) Mencari eluen terbaik dalam pemisahan senyawa antioksidan menggunakan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Analitik dengan fase diam silika gel GF
254

hasil ekstrak etanol 70% pada daging buah pepino (Solanum muricatum Aiton)
2) Mengidentifikasi jenis golongan senyawa fraksi dari kadar aktivitas
antioksidan tertinggi pada daging buah pepino (Solanum muricatum Aiton)
berdasarkan pemisahan KLT Preparatif dan identifikasi gusus fungsi
spektrofotometer FTIR





1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah menggunakan daging buah
pepino (Solanum muricatum Aiton) dengan jenis buah pepino ungu yang berasal
dari Jl. Veteran No. 02 (Hypermart Malang Town Square)-Malang. Pemisahan
campuran jenis senyawa menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
dengan fase diam silika gel GF
254
dengan variasi eluen berdasarkan pada
penelitian dan literatur sederhana yang relevan.

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya
adalah:
1) Mengetahui golongan senyawa aktif pada buah pepino (Solanum
muricatum Aiton) yang berpotensi sebagai antioksidan
2) Memberikan informasi kepada masyarakat tentang buah pepino (Solanum
muricatum Aiton) sebagai antioksidan alami sebagai buah alternatif yang
mampu menghambat radikal bebas dalam tubuh seperti penurun resiko
penyakit kanker dan memperlambat penuaan dini.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Buah-buahan dan Pemanfaatannya dalam Perspektif Islam
Al Qur`an menyebutkan sejumlah buah-buahan dari ilmu pengetahuan
modern memiliki khasiat untuk mencegah beberapa jenis penyakit. Buah-buahan
memberikan manfaat pada tubuh manusia dalam berbagai cara dengan berbagai
rasanya. Dalam ayat-ayat Al Qur`an, Allah SWT menyuruh manusia supaya
memperhatikan keberagaman dan keindahan disertai seruan agar merenungkan
seluruh ciptaanNya yang sangat menakjubkan.
Sesungguhnya Allah SWT menciptakan sesuatu semata-mata untuk
makhluknya. Sebagai manusia yang beriman dan mempunyai akal harus dapat
berfikir untuk menggunakan segala ciptaanNya dengan memanfaatkan dan
mengelolanya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al An'am ayat 99:
%! !.9 ! !>>! , ,!, . `: !>>! .> _
!',> !,2. 9 !-=L % > ,!s .9 !9
!,.:` s ,:.` `L <| . | . - | 39 )9 ``


"Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami
tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka Kami
keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan
dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma
mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami
keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa.
Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah)
kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman" (QS. Al An'am: 99).

Ayat Al Qur'an dari surat Al An'am ayat 99 menyatakan bahwasanya
Allah SWT yang menurunkan air dari langit sebagai hujan untuk menghidupkan
bumi yang mati dan kering menjadi hijau karena rerumputan, menumbuhkan
tanaman yang menghasilkan biji-bijian serta buah-buahan yang dapat dinikmati
manusia dan makhluk lainnya (Tirtawinata, 2006: 223). Ayat-ayat Al Qur'an dan
hadits-hadits Nabi SAW banyak berbicara tentang makan dan makanan yang
dapat memelihara kesehatan manusia serta menjamin perkembangan
kehidupannya yang ideal. Hingga kesehatan jasmani, psikologi, rohani, juga sosial
terwujud dalam tubuhnya.
Al Qur'an surat Al An'am ayat 99 juga menyuruh manusia untuk
mempelajari bagaimana buah diciptakan, berkembang dan tumbuh pada fase yang
berbeda-beda hingga sampai pada fase kematangannya secara sempurna dengan
segala unsur, baik sukrosa, minyak, protein, bahan karbohidrat dan zat-zat tepung.
Penelitian klinis menjelaskan bahwa ketika materi klorofil menembus tubuh
manusia, dia akan menggabungkan diri pada sel-selnya sehingga memperkuatnya,
membantu mengalahkan kuman-kuman berbahaya, lalu bersiap untuk merangkai
jaringan ditubuhnya sehingga berhasil membentuk kekebalan tubuh terhadap
berbagai penyakit (Mahran dan Mubasyir, 2006: 95-96).
Syaikh Asy Syanqithi dalam Tafsir Adhwa'ul Bayan (2007: 322), QS. Al
An'am ayat 99 merupakan bentuk wajib sesuai dengan ketetapan dalam kaidah
ushul yaitu "bentuk perintah menunjukkan sesuatu yang wajib kecuali ada dalil
yang mengalihkannya dari kewajiban tersebut". Allah SWT memerintahkan
manusia agar memperhatikan makanan yang menyebabkan dirinya hidup dan
memikirkan air yang menyebabkan tumbuhnya biji-bijian.
Syaikh Abdur Rahman As Sady menjelaskan dalam tafsirnya:
FirmanNya: Perhatikanlah maksudnya lihatlah, pikirkanlah dan ambilah
pelajaran. buahnya diwaktu pohonnya berbuah maksudnya buah pohon/tanaman
secara umum, khususnya buah pohon kurma, dan (perhatikan pula)
kematangannya maksudnya perhatikanlah pada buah itu mulai dari waktu
muncul sampai matang. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat pelajaran dan
tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, dan menunjukkan rahmat Allah SWT,
banyaknya kebaikanNya dan kedermawananNya serta menunjukkan sempurnanya
kemampuanNya juga menunjukkan pertolonganNya kepada hamba-hambaNya.
Tidak semua orang mampu mengambil pelajaran dan memikirkan seluruh nikmat
dan rahmat Allah SWT dan tidak semua orang yang mampu memperhatikan dan
memikirkan untuk mengetahui makna yang terkandung. Sebagaimana Allah SWT
mengaitkan bahwa orang yang mampu mengambil manfaat (pelajaran) dari tanda-
tanda kebesaranNya hanyalah orang-orang yang beriman, sebagaimana firmannya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah
SWT) bagi orang-orang yang beriman. Sesungguhnya orang-orang yang
berimanlah dengan keimanannya membawa mereka kepada amal sebagai realisasi
dan konsekuensi dari keimanan mereka (Abdilbarr, 2007).
Al Qur'an surat Al An'am ayat 99 didukung oleh firman Allah SWT
yang lain pada QS. 'Abasa ayat 24-28:
L= .} <| ! -L ! !,,. !9 !', . . !)): _{ !):
!.,! ! !',> !,s !,.%

"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya (24).
Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit) (25),
kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya (26), lalu Kami tumbuhkan
biji-bijian di bumi itu (27), anggur dan sayur-sayuran (28)" (QS. 'Abasa: 24-28).

Setelah manusia memperhatikan manfaat makanan dan air untuk
kehidupan, manusia wajib berfikir saat tumbuhan menghasilkan buahnya dengan
memanfaatkan yang terkandung didalamnya untuk kelangsungan positif
kehidupan manusia. Seperti mempelajari kandungan-kandungan zat yang terdapat
didalam buah-buahan, sehingga bermanfaat sebagai makanan, obat dan
sebagainya.
Manusia wajib untuk memperhatikan sesuatu yang merupakan asal
penciptaannya, dikarenakan firman Allah SWT:
L= .} ,=>

"Maka hendaklah manusia memperhatikan dari Apakah Dia
diciptakan?" (QS. ath Thaariq: 5).

Ayat-ayat QS. Al An'am ayat 99, QS. 'Abasa ayat 24-28 dan QS. Ath
Thaariq ayat 5 jika dicermati secara seksama, niscaya ayat-ayat tersebut
mengandung informasi tentang aneka macam makanan. Sekaligus pencegahan
penyakit yang disebabkan oleh kecenderungan mengkonsumsi satu macam
makanan saja (As Sayid, 2006: 29-30). Secara zhahir ayat tersebut menunjukkan
bahwa memperhatikan ciptaanNya adalah wajib hukumnya. Sebagai contoh
unsur-unsur mineral, besi, kalsium, fosfor dan iodium, tubuh juga terdiri dari
unsur-unsur oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, potassium, sulfat, sodium,
magnesium, klorin, fluor dan silikon. Jika salah satu dari unsur-unsur di atas
mengalami kekurangan maka akan mengakibatkan kekacauan pada tubuh.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Lukman ayat 10:
,=> ,.9 -, - !. +9 _{ . 3, , ! . ,
!9 !.9 ! !.,! ! 2 _ .

"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia
meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak
menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam
jenis binatang, dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan
padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik" (QS. Al Lukman: 10).

QS. Al Lukman ayat 10 menyuruh manusia menggunakan tanaman yang
baik untuk keperluan yang baik pula. Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa Allah
SWT menciptakan aneka tumbuhan yang banyak, halal dan bermanfaat dari
penanamannya. Allah SWT sebagai pemilik tunggal dan penguasa jagat raya,
menciptakan tatanan bumi dan segala isinya ini dan memperlihatkannya kepada
manusia agar mereka mengambil hikmah dan mensyukuriNya.
Sebagaimana firman Allah SWT yang memberikan hikmah dan
manfaaat bagi manusia dengan mengisyaratkan tentang pengobatan dan keindahan
alam semesta yang dapat jadikan sebagai sumber dari pembuat obat-obatan yang
tertuang dalam QS. An Nahl ayat 11:
,` /39 , _9 .9 9 s{ 2 ,:9 | 9
)9 `6.
"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman;
zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
memikirkan" (QS. An Nahl: 11).

Firman Allah SWT dalam QS. An Nahl ayat 11 memberikan Peringatan
bagi Orang yang Berfikir (Ulul Albab). Sebagaimana QS. Al Imron ayat 190-191:
| ,=> ,.9 _{ #=.> 9 !]9 <`{ ,9{ %!
`. < !% `-% ?s ,``> `6. ,=> ,.9 _{ !, !
)=> L, 7>, !) ,s !9

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini
dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka
(QS. Al Imron: 190-191).

Ulul Albab adalah profil muslim yang mampu memadukan cara
memahami. Berdzikir sebagai cara memahami dengan hati yang selanjutnya
menjadi sumber pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual. Dan
bertafakur sebagai cara memahami dengan otak yang biasa menjadi pusat
pemikiran dan kecerdasan intelektual. Berdzikir lebih banyak berorientasi
memahami masalah ketuhanan Allah SWT (uluhiyyan dan rububiyyah) dan
sebagai kebijakanNya yang bersifat transenden. Sedangkan bertafakur adalah
lebih berorientasi pada masalah ciptaan dan segala kebijakan Allah yang bersifat
empirik. Kedua metode berfikir seperti ini diperlukan manusia, dan islam
membimbing mereka melakukannya secara seimbang (Ahmad, 2003).
Allah SWT menciptakan beragam jenis buah, setiap jenis memiliki rasa
dan harum masing-masing meskipun semuanya tumbuh di tanah yang sama dan
diairi dengan air yang sama. Sebagaimana penciptaannya, kenyataan bahwa buah-
buahan dan sayur-sayuran merupakan sumber-sumber vitamin dan nutrisi esensial
yang melimpah, juga menggugah manusia berakal untuk berpikir dengan
memadukan cara berpikir secara Ulul Albab.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 61:
| `.=% 9 `. ?s !-L > _! !9 , `_ !9 ! ,. `_{
!=), !!:% ! !.s != .,

"Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, Kami tidak bisa
sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk
Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang
ditumbuhkan bumi, Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang
adasnya, dan bawang merahnya,... " ( QS. Al Baqarah: 61).

As Sayyid (2006: 199) bahwa, dari rujukan kedokteran Arab sedikit
sekali yang berbicara tentang kandungan gizi dan unsur-unsur yang terkandung
dalam buah mentimun, padahal buah mentimun merupakan buah yang disebutkan
dalam al qur'an, tetapi kita menemukan didalamnya unsur-unsur gizi dan faedah-
faedah kedokteran. Para ahli kedokteran Arab kuno telah menjadikan mentimun
sebagai penghilang kering di tenggorokan dan rasa haus, tekanan darah,
menyembuhkan penyakit kuning, meredakan sakit kepala, membuka penutupan
hati, melancarkan buang air kecil, dan menghancurkan batu ginjal.
Dalam hadits Abdulloh bin Ja'far r.a dari At Tirmidzi:







.||, | |., ,= -,- = _= _| .


"Rosululloh SAW pernah makan mentimun dengan ruthab"(HR. At
Tirmidzi dan yang lain).

Mentimun bersifat dingin dan lembab, yang dapat menghilangkan panas
pada lambung yang terkena radang. Bermanfaat untuk menghilangkan rasa sakit
dikantong kemih. Bahkan aromanya dapat menyembuhkan orang pingsan.
Sedangkan bijinya dapat memperlancar buang air kecil dan daun yang dididihkan
dapat dijadikan obat pembalur dan mengobati bekas gigitan anjing. Buah ini
dikenal dingin yang bisa membahayakan tubuh, sehingga saat mengkonsumsinya
dianjurkan menghilangkan kelembabannya. Sebagaimana yang dilakukan Nabi
SAW jika beliau memakan mentimun, akan mengimbanginya dengan memakan
Ruthab (buah yang segar, nikmat, enak ketika sudah masak sehingga menjadi
lunak dan lezat) (As Sayyid, 2006: 198).

2.2 Pepino (Solanum muricatum Aiton)
2.2.1 Morfologi Buah Pepino
Pepino merupakan tanaman semak, tidak bercabang, akar berinti kayu
dan berserat. Pertumbuhannya tegak (meninggi) mencapai 50 cm. Tanaman
pepino menyerupai dengan tomat yang membutuhkan alat penegak atau
pendukung batangnya. Pepino mempunyai batang beruas-ruas seperti tanaman
cabai. Ruas-ruas batang pepino bisa tumbuh tunas-tunas akar yang digunakan
untuk tanaman (Sarno dan Purnama, 2005: 11-12).

Gambar 2.1 Bentuk tanaman pepino A) pepino (Solanum muricatum); A1) bunga;
A2) dan A3) buah-buahan pepino; B) tanaman tomat, tamarillo
(Cyphomandra betacea); B1) bunga; B2) penampang melintang buah
tomat; C) pepaya gunung (Carica pubescens); C1) daun; C2) buah;
C3) penampang melintang buah pepaya (I. SRRnchez Vega (National
University of Cajamarca, Peru, 1008).



Keragaman buah pepino ditunjukkan dalam hal ukuran dan bentuk. Di
daerah asalnya yaitu: Pegunungan Andes (Amerika Selatan) di Wilayah Peru dan
Chili, buah pepino ada yang bertipe bujur kecil dengan banyak biji, berbentuk
pear atau hati dengan beberapa atau banyak biji berbentuk bundar sedikit lebar
daripada bola baseball dan tidak berbiji sama sekali. Warna buah pepino juga
sangat beragam; sepenuhnya ungu, hijau, krem, hijau dengan lurik ungu atau krem
dengan lurik ungu (Sarno dan Purnama, 2005: 12).


Gambar 2.2 Aneka buah pepino (Anonymous
b
, 2008).



Buah pepino yang umumnya tumbuh di Indonesia berbentuk bulat
sampai bulat telur, berukuran panjang 2-4 inchi, beberapa dapat mencapai 6
inchi. Kulit buah biasanya berwarna kuning atau hijau keungu-unguan, sering
memiliki sejumlah lurik yang berwarna lebih gelap. Daging buah berwarna
kehijau-hijauan sampai putih dan orange kekuning-kuningan. Buah pepino yang
berkualitas baik adalah agak manis, menyegarkan, berair, rasa dan aroma mirip
blewah dan melon (Sarno dan Purnama, 2005: 14).
Buah yang berkualitas baik adalah sedikit manis, menyegarkan dan
berair dengan rasa yang berkombinasi antara blewah dan melon. Pepino
membutuhkan lebih banyak waktu untuk pematangan daripada hasil tanaman
Solanaceae yang lain seperti tomat, cabai dan terung. Kandungan gula pada buah
pepino dipengaruhi oleh suhu selama pematangan. Jika suhu maksimal selama
pematangan melebihi 30C, pengurangan gula dalam jumlah besar akan terjadi
(Sarno dan Purnama, 2005: 15-16).

2.2.2 Taksonomi Buah Pepino
Pratt dan Hudson (1990), umumnya senyawa antioksidan yang diisolasi
dari sumber alami adalah berasal dari tumbuhan. Kingdom tumbuhan,
Angiosperm memiliki kira-kira 250.000 sampai 300.000 spesies dan dari jumlah
ini kurang lebih 400 spesies yang telah dikenal dapat menjadi bahan pangan
manusia.

Taksonomi tanaman buah pepino (Solanum muricatum Aiton) adalah
(Sarno dan Purnama, 2005: 17):

Kingdom : PlantaeH
Sub Kingdom : Spermatophyta (Tanaman Berbiji)
Divisi : MagnoliophytaH (Angiopermae/ Tanaman Bunga)
Kelas : MagnoliopsidaH (Dicotyledonae)
Ordo (Bangsa) : SolanalesH
Famili (Suku) : Solanaceae
Sub Famili : HSolanoideaeT
Genus (Marga) : Solanum
Sub Genus : Solanum
Section (Golongan) : HBasarthrumT
Spesies (Jenis) : Solanum muricatum
Nama HBinomial H : Solanum muricatum Aiton


Banyak alkaloid bersifat terpenoid dan alkaloid-steroid seperti solanina
yang terdapat pada suku tumbuhan Solanaceae, misalkan pada kentang (Solanum
tuberosum) (Harborne, 1987: 234).

2.2.3 Jenis-Jenis Buah Pepino
Ada dua jenis buah pepino yang dikenal di Indonesia, yaitu pepino
warna kuning dan pepino warna ungu (Sarno dan Purnama, 2005: 17-19).
1) Pepino Kuning
Pepino kuning memiliki bentuk beraneka ragam, umumnya
berbentuk bulat sampai oval (bulat telur) dan tanaman berwarna hijau
terang, helaian daun tertutup bulu-bulu kecil dan jarang. Bunga berwarna
putih kecil, berbentuk mirip dengan bunga tanaman yang lain termasuk
famili Solanaceae. Batang tanaman berwarna hijau ketika masih muda dan
berubah menjadi kecoklat-coklatan ketika sudah tua. Buah muda berwarna
hijau dengan seiring pertumbuhan tanaman, warna buah berangsur-angsur
akan berubah menjadi hijau keputih-putihan, dan kemudian menjadi
kuning ketika masak.


TGambar 2.3 Buah pepinot kuning (Sutomo, 2007)


2) Pepino Ungu
Sesuai dengan namanya, buah pepino jenis ini berwarna ungu sejak
muda hingga buah masak. Tangkai, tulang daun, dan bunga tanaman pun
berwarna ungu. Buah berbentuk memanjang seperti terung. Daging buah
memiliki warna yang sama dengan Pepino kuning.



TGambar 2. 4 Buah pepino ungu


2.2.4 Kandungan Buah Pepino
Pepino (Solanum muricatum Aiton) adalah buah yang masih satu famili
dengan keluarga terung. Buah pepino pertama kali di datangkan ke Indonesia pada
masa penjajahan Belanda. Buah pepino memiliki rasa tidak manis dan tidak asam.
Buah pepino bermanfaat untuk mengobati penderita kencing manis/diabetes,
stroke, tekanan darah tinggi, maag, atau gangguan pencernaan lainnya, kanker,
ginjal, sembelit, dan wasir (Anonymous
a
, 2007).
Fanani (2007), nilai kandungan buah pepino mempunyai kandungan air
sebesar 95%, vitamin C, mineral, gula sederhana, zat besi dan potasium. Setiap
100 g pepino mengandung vitamin C 25.1 mg, protein 0.6 g, betakaroten 26.6 mg,
asam 79.3 mg dan rendah lemak. Buah pepino bermanfaat untuk meningkatkan
stamina, menurunkan tekanan darah dan mencegah sariawan. Serat pepino juga
sangat tinggi, baik untuk membantu sistem pencernaan, mencegah sembelit dan
wasir. Serat juga mengikat zat karsinogen pemicu kanker kolon pada saluran
pencernaan.

Buah pepino akan lebih banyak mengandung air ketika musim hujan.
Rasa buah pada musim kemarau lebih manis dibandingkan dengan saat musim
hujan. Kandungan gizi buah pepino ditunjukkan pada tabel berikut (Sarno dan
Purnama, 2005: 23):

Tabel 2.2 Kandungan buah pepino
No. Zat Gizi
Hasil Analisis
Ulangan I Ulangan 2
1. Asam Sitrat (mg/100g) 79,3368 79,4948
2. Beta karoten (mg/100g) 26,6088 28,8874
3. Lemak (%) 0,0171 0,0158
4. Protein (%) 0,6473 0,6474
5. Serat (%) 0,0779 0,0799
6. Vitamin C (mg/100g) 25,1194 25,3061
7. Alkohol 0 0
8. Gula reduksi (%) 3,3075 3,3442
9. Pati (%) 0,9553 0,9041
10. Air (%) 95,0283 94,9000
Sumber: Laboratorium Uji Teknologi dan Hasil Pertanian UGM dalam Mitra Agro Melodi (Sarno
dan Purnama) 2005.

2.3 Senyawa Antioksidan
Antioksidan atau reduktor berfungsi untuk mencegah terjadinya oksidasi
atau menetralkan senyawa yang telah teroksidasi dengan cara menyumbangkan
hidrogen dan atau elektron (Silalahi, 2006: 47).
Pratt dan Hudson (1990), antioksidan alami di dalam makanan dapat
berasal dari (a) senyawa antioksidan yang sudah ada dari satu atau dua komponen
makanan, (b) senyawa antioksidan yang terbentuk dari reaksi-reaksi selama proses
pengolahan, (c) senyawa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami dan
ditambahkan ke makanan sebagai bahan tambahan pangan.
Hasil identifikasi membuktikan bahwa ekstrak buah pepino (Solanum
muricatum Aiton) dalam etanol 70% dengan menggunakan metode DPPH
mempunyai aktivitas antioksidan tertinggi pada konsentrasi ekstrak 400 ppm yang
berturut-turut: (etanol 70%, 88,95%), (aquades, 85,64%), (etil asetat, 85,55%),
(petroleum eter, 85,53), (kloroform, 79,70%), (n-heksana, 79,96%). Uji kualitatif
sederhana menunjukkan bahwa ekstrak buah pepino (Solanum muricatum Aiton)
dalam etanol 70% mengandung asam askorbat dan alkaloid (Husnah, 2009).
Antioksidan memiliki dua fungsi menurut mekanisme kerjanya (Gordon,
1990):
1. Fungsi utama dari antioksidan yaitu sebagai pemberi atom hidrogen.
Antioksidan (AH) yang mempunyai fungsi utama tersebut sering disebut
sebagai antioksidan primer. Senyawa ini dapat memberikan atom hidrogen
secara cepat ke radikal lipida (RP

, ROO

) atau mengubahnya ke bentuk lebih


stabil, sementara turunan radikal antioksidan (A

) tersebut memiliki keadaan


lebih stabil dibanding radikal lipida.
2. Fungsi kedua merupakan fungsi sekunder antioksidan, yaitu memperlambat
laju autooksidasi dengan berbagai mekanisme diluar mekanisme pemutusan
rantai autooksidasi melalui pengubahan radikal lipida ke bentuk yang lebih
stabil.
Penambahan antioksidan (AH) primer dengan konsentrasi rendah pada
lipida dapat menghambat atau mencegah reaksi autooksidasi lemak dan minyak.
Penambahan tersebut dapat menghalangi reaksi oksidasi pada tahap inisiasi
maupun propagasi (Gambar 2.5). Radikal-radikal antioksidan (AP

) yang terbentuk
pada reaksi tersebut relatif stabil dan tidak mempunyai cukup energi untuk dapat
bereaksi dengan molekul lipida lain membentuk radikal lipida baru (Gordon,
1990).

Inisiasi :

Propagasi :
RP

+ AH RH + AP


Radikal lipida Lipida
ROO

+ AH ROOH + AP


Radikal Peroksil Hidroperoksida

Gambar 2.5 Reaksi penghambatan antioksidan primer terhadap radikal lipida
(Gordon, 1990).

Hamilton (1983), radikal-radikal antioksidan dapat saling bereaksi
membentuk produk non radikal. Besar konsentrasi antioksidan yang ditambahkan
dapat berpengaruh pada laju oksidasi. Pada konsentrasi tinggi, aktivitas
antioksidan grup fenolik sering lenyap bahkan antioksidan tersebut menjadi
prooksidan (Gambar 2.6). Pengaruh jumlah konsentrasi pada laju oksidasi
tergantung pada struktur antioksidan, kondisi dan sampel yang akan diuji.

AH + O
2

AH + ROOH
AP

+ HOO

PRO

+ H
2
O + A


Gambar 2.6 Antioksidan bertindak sebagai prooksidan pada konsentrasi tinggi
(Gordon, 1990).



2.4 Golongan Senyawa-senyawa Antioksidan
2.4.1 Alkaloid
Alkaloid merupakan golongan metabolit sekunder terbesar. Umumnya
alkaloid merupakan senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom
nitrogen, biasanya dalam gabungan, sebagai bagian dari sistem siklik (Harborne,
1987: 234).

Me
O
N
Me
Gal
Me
Me
Gluk
O
Ram
Solanina

Gambar 2.7 Struktur umum senyawa solanina (Harborne, 1987: 239).

Pada pemisahan solanina dengan menggunakan kromatografi lapis tipis
silika gel G, dapat digunakan pengembang metanolNHB
4
OH (200:3 atau 22,2:0,3)
(RB
F
B 52). Detekasi adanya alkaloid pada kertas dan pelat, pertama menggunakan
fluoresensi dibawah sinar UV (tidak tampak warna bercak), kemudian
menggunakan penampak bercak dengan pereaksi Marquis (1 ml formaldehida
dalam 10 ml H
2
SOB
4
pekat) yang memberikan warna bercak kuning sampai merah
lembayung. Dapat pula menggunakan kromatografi lapis tipis silika gel G, dengan
pengembang asam asetatetanol (1:3) (RB
F
B 46) (Harborne, 1987: 239-244).
Adapun untuk eluen aseton:air:amoniak 25% (9:0,7:0,3) apabila spot divisualisasi
dengan Dragendorf berwarna merah jingga maka menunjukkan adanya alkaloid
(Stahl, 1985: 63).

2.4.2 Vitamin C
Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 gr/mol
dengan rumus molekul C
6
H
8
O
6
dalam bentuk kristal tidak berwarna
(bening/transparan), titik cair 190-192C. Bersifat larut dalam air sedikit larut
dalam aseton atau alkohol yang mempunyai berat molekul rendah dan sukar larut
dalam kloroform, eter, dan benzena (Sudarmadji, 2007: 165). Vitamin C dapat
dipisahkan baik dengan KLT pada silika gel G atau GF
254
dengan pengembangan
air (RB
F
B96) atau etanol (RB
F
B22). Etanolasam asetat 10% (9:1) digunakan untuk
memisahkan askorbat (RB
F
50) dari turunan dehidronya (RB
F
73) dan dari asam
isoaskorbat (RB
F
54). Asam askorbat dapat dideteksi pada plat silika gel GF
254

sebagai bercak biru gelap pada cahaya UV 254, batas deteksi 3 g (Harborne,
1987: 182-183).



Gambar 2.8 Struktur umum senyawa L- asam askorbat (Silalahi, 2006: 17).


Penggunaan petroleum eter:n-heksana:metanol:kloroform:asam asetat
(1:1:3:3:2) dan metanol:aseton:air (2:4:0,3), apabila spot berwarna biru gelap pada
sinar UV 254 nm maka menunjukkan adanya vitamin C (asam askorbat). Martelli
and Nano (1967: 22) dan Rohman dan Gandjar (2008: 239) menggunakan
campuran eluen toluol:etanol:asam asetat (50:40:10), untuk mengidentifikasi asam
askorbat spot divisualisasi dengan pereaksi ninhidrin memberikan warna merah
muda menjadi ungu (Auterhooff and Kovar, 1987: 67-71).

2.5 Metode Ekstraksi Maserasi
Proses maserasi (macerare= mengairi, melunakkan) merupakan proses
perendaman sampel dengan pelarut yang digunakan pada temperatur ruangan.
Pada psoses maserasi, bahan kandungan sel berpindah dengan terlarut dalam
molekuler pelarut dengan berdifusi melalui rongga antar sel. Gaya yang bekerja
adalah perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan pelarut yang
mula-mula tanpa bahan aktif. Bahan kandungan sel akan mencapai ke dalam
cairan di sebelah luar selama difusi melintasi membran sampai terbentuknya suatu
keseimbangan konsentrasi antara larutan disebelah dalam dan disebelah luar sel
(Voight, 1995: 566).
Metode maserasi dipilih karena metode ini murah dan mudah dilakukan,
selain itu dikhawatirkan senyawa yang terkandung dalam buah pepino merupakan
senyawa yang tidak tahan terhadap panas. Maserasi biasanya dilakukan dengan
perbandingan 1:2, seperti 100 Kg sampel diekstrak dengan 200 L pelarut. Guna
mendapatkan ekstrak dalam waktu yang relatif cepat dapat dilakukan pengadukan
dengan menggunakan shaker berkekuatan 120 rpm selama 24 jam (Husnah, 2009:
39).

2.6 Uji Aktivitas Antioksidan
Pengaruh jumlah konsentrasi pada laju oksidasi tergantung pada struktur
antioksidan, kondisi dan sampel yang akan diuji. Hasil uji aktivitas antioksidan
Arsianti dan Boer (2005) dengan metode penimbangan maupun dengan metode
Lea menunjukkan bahwa fraksi etil asetat G. parvifolia memiliki aktivitas
antioksidan yang lebih besar daripada BHA dan BHT dengan urutan aktivitas
antioksidan: ekstrak fraksi etil asetat G. parvifolia > BHA > BHT.
Urutan kekuatan aktivitas antioksidan dari nilai EC
50
ekstrak buah pepino
dengan variasi pelarut ekstrak adalah: etanol 70% (22,11 ppm)>etil asetat p.a.
(23,81 ppm)>aquadest (28,31 ppm)>kloroform p.a. (30,06 ppm)>petroleum eter
p.a. (32,80 ppm) >heksana p.a. (38,92 ppm). Apabila dibandingkan dengan
aktivitas antioksidan BHT yang mempunyai nilai EC
50
sebesar 12,23 ppm,
aktivitas antioksidan ekstrak kasar buah pepino masih lebih rendah. Ekstrak etanol
70% buah pepino mempunyai aktivitas antioksidan tertinggi, diketahui memiliki
senyawa aktif golongan senyawa antioksidan asam askorbat dan alkaloid. Uji
aktivitas antioksidan ini menggunakan metode DPPH (Husnah, 2009).
Hartati dan Ersam (2006) Antiradikal bebas (antioksidan) adalah bahan
yang dalam kadar rendah dapat mencegah terjadinya oksidasi dari substrat yang
mudah teroksidasi. Metode uji antioksidan dengan DPPH (1,1-difenil-2-
pikrilhidrazil) dipilih karena metode ini adalah metode sederhana untuk evaluasi
aktivitas antioksidan dari senyawa bahan alam. Senyawa yang aktif sebagai
antioksidan mereduksi radikal bebas DPPH menjadi 1,1-difenil-2-pikrilhidrazin
dan besarnya aktivitas penangkap radikal bebas dinyatakan dengan ECB
50
B yaitu
besarnya konsentrasi larutan uji yang mampu menurunkan 50% absorbansi DPPH
dibandingkan dengan larutan blangko.
DPPH yang bereaksi dengan antioksidan akan menghasilkan bentuk
tereduksi difenil pikril hidrazin dan radikal antioksidan (Prakash, 2001). Reaksi
antara antioksidan dengan molekul DPPH dapat dilihat pada gambar berikut:



Gambar 2.9 Reaksi DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) dengan antioksidan
(Prakash, 2001).

Uji Aktivitas Antioksidan dengan DPPH dilakukan setelah uji
pendahuluan di atas plat KLT, dimana senyawa (1), (2) dan senyawa quarsetin
(senyawa standard) masingmasing diambil dalam pelarut metanol, kemudian
dielusi dengan eluen CH
2
Cl
2
B:aseton (3:2), dikeringkan dan disemprot dengan
larutan DPPH 0,2% dalam methanol dengan diamati selama 30 menit, senyawa
yang aktif sebagai antioksidan akan memberikan bercak kuning berlatar ungu.
Kemudian dilakukan uji lanjut terhadap senyawa yang aktif untuk menentukan
harga EC
50
(Hartati dan Ersam, 2006).

2.7 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
2.7.1 Pengertian KLT
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu metode
kromatografi cair yang paling sederhana yang berdasarkan proses adsorbsi (Dewi,
2005: 54). Rohman dan Gandjar (2008: 329) bahwa sorbsi merupakan proses
pemindahan solut dari fase gerak ke fase diam sedangkan proses pemindahan
solut dari fase diam ke fase gerak disebut desorbsi. Kedua proses tersebut
terjadi terus menerus selama pemindahan kromatografi karena berada dalam
sistem kesetimbangan dinamis. Solut akan terdistribusi diantara dua fase yang
bersesuaian dengan perbandingan distribusinya untuk menjaga keadaan
kesetimbangan.



Ada empat jenis mekanisme sorbsi, yaitu (Rohman dan Gandjar 2008:
329):
1) Adsorbsi
Adsorbsi merupakan penyerapan pada permukaan yang melibatkan
interaksi-interaksi elektrostatik seperti pada gaya antarmolekuler pada fase
diam dengan fase gerak, misalnya: kromatografi kertas dan KLT.
2) Partisi
Partisi merupakan proses sorbsi seperti pada proses ekstraksi pelarut
dengan cara solut akan terdistribusi diantara fase diam sesuai dengan
kelarutan relatif keduanya, misalnya: kromatografi cair-gas.
3) Pertukaran ion
Pertukaran ion merupakan proses pertukaran solut-solut ion diantara
ion-ion yang terikat pada fase diam yang dinamakan resin berupa padatan
polimer oraganik yang bermuatan. Misalnya: kromatografi kolom.
4) Eksklusi
Eksklusi berdasarkan pada ukuran molekul dari zat padat (fase diam)
yang berupa gel sedangkan fase gerak berupa cairan. Proses tersebut dikenal
sebagai eksklusi gel.
KLT mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kromatografi kertas
karena membutuhkan waktu elusi yang lebih pendek dan diperoleh pemisahan
yang lebih baik untuk analisa kuantitatif. Hasil pemisahan yang baik dari KLT
mempunyai kapasitas lebih besar dibandingkan dengan kromatografi kertas. Serta
dapat digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa yang sifatnya hidrofobik
seperti lipida-lipida dan hidrokarbon yang sukar apabila dilakukan pada
kromatografi kertas (Sastrohamidjojo, 2005: 27).
Gritter, dkk (1985: 109) bahwa Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
melibatkan dua sifat fase yaitu: sifat fase diam (sifat lapisan/fase penyerap) dan
sifat fase gerak (pelarut pengembang). Fase diam dapat berupa serbuk halus yang
berfungsi sebagai permukaan penyerap (kromatografi cair-padat). Dewi (2005:
54), sebagai fase diam dapat digunakan silika atau alumina yang dilapiskan pada
lempeng kaca atau alumunium. Jika fase diam berupa silika gel maka bersifat
asam, jika fase diam alumina maka bersifat basa. Fase gerak atau larutan
pengembang biasanya digunakan pelarut campuran organik atau bisa juga
campuran pelarut organik-anorganik.

2.7.2 Sistem Fase Diam Silika Gel pada KLT
Fase diam yang paling banyak digunakan adalah silika gel dan
alumunium oksida. Jenis adsorben yang umum digunakan untuk KLT adalah
silika gel, karena silika gel adalah fase diam universal yang dapat digunakan
untuk memisahkan senyawa-senyawa yang bersifat netral, asam atau basa. Silika
gel merupakan penyerap yang paling banyak dipakai dalam KLT. Senyawa netral
yang mempunyai gugusan sampai tiga pasti dapat dipisahkan pada lapisan yang
diaktifkan dengan memakai pelarut organik atau campuran pelarut yang normal.
Karena sebagian besar silika gel bersifat sedikit asam, maka asam selalu sedikit
mudah dipisahkan. Fase diam silika gel meminimumkan reaksi asam/basa antara
penyerap dan senyawa yang dipisahkan (Gritter, 1991: 110).
Dalam penelitian Hartati dan Ersam (2006) melakukan uji pendahuluan
dengan KLT (Kromatografi Lapis Tipis) dengan tujuan untuk pemurnian senyawa
yang akan dianaliss selanjutnya dengan menggunakan plat Silika gel GF
254
B, silika
gel 60 (35-70 mesh, ASIM). Plat silika gel Merck 60 F
254
B;0,25 mm ukuran 20 x
20 cm dengan alumunium sebagai penyangga fasa diam, dan larutan 1,5% serium
sulfat (Ce(SO
4
)
2
).
Silika gel banyak yang digunakan sebagai fase diam, mempunyai rumus
empiris SiO
2
. Permukaan pada partikel silika gel terdapat suatu bayangan atom
oksigen yang mengikat proton. Adanya golongan hidroksil membuat silika
bersifat polar. Gugus fungsi yang bersifat polar akan berinteraksi kuat dengan
analit organik pada permukaan silika gel dan gugus fungsi non polar berinteraksi
secara lemah. Molekul analit yang bersifat polar dapat berikatan dengan silika gel
melalui dua cara, yaitu melalui ikatan hidrogen dan melalui interaksi dipol-dipol
(Anonymous
c
, 2008).

Si
OH
O
O O Si O
O
OH
Si Si
Si O
OH
O
Si
OH
O
Si Si O O O O O
O


Gambar 2.10 Struktur silika gel (Rohman dan Gandjar, 2009: 357).


2.7.3 Sistem Eluen (Fase Gerak) KLT
Polaritas fase gerak perlu diperhatikan pada analisa dengan KLT,
sebaiknya digunakan campuran pelarut organik yang mempunyai polaritas
serendah mungkin. Campuran yang baik memberikan fase-fase bergerak yang
mempunyai kekuatan bergerak sedang. Secara umum dikatakan bahwa fase diam
yang polar akan mengikat senyawa polar dengan kuat sehingga bahan yang
kurang sifat kepolarannya akan bergerak lebih cepat dibandingkan bahan-bahan
polar (Gritter, 1991: 85).
Khopkar (1990: 155), pemilihan sistem pelarut dan komposisi larutan
ditentukan oleh prinsip kromatografi yang akan digunakan. Untuk meneteskan
sampel yang akan dipisahkan digunakan suatu mikro-syiringe (penyuntik
berukuran mikro). Sampel diteteskan pada salah satu bagian tepi pelat
kromatografi (sebanyak 0,01-10 g zat).
Pelarut yang ideal harus melarutkan linarut (senyawa yang dipisahkan)
dan harus cukup baik sebagai pelarut yang bersaing dengan daya serap penyerap.
Keadaan yang ideal tersebut mungkin terjadi jika pelarut tidak berproton seperti
hidrokarbon, eter dan senyawa karbonil dipakai sebagai pelarut pengembang
(Gritter, 1991: 89).
Kromatografi dengan fase diam silika gel, sering menggunakan fase
gerak pelarut organik atau campuran pelarut organik. Fase gerak berfungsi untuk
menggerakkan permukaan pada silika gel dengan memindahkan analit dari
partikel-partikel fase diam. Molekul analit bebas untuk berpindah bersama
pelarut, jika molekul analit tidak berikatan dengan permukaan silika gel. Pertama,
golongan polar pelarut dapat bersaing dengan analit untuk menempatkan ikatan
pada permukaan silika gel. Oleh karena itu, jika pelarut yang digunakan terlalu
polar akan berinteraksi kuat dengan permukaan silika gel dan akan meninggalkan
tempat fase diam dengan membebaskan ikatan dengan analit tersebut. Kemudian
analit bergerak cepat pada fase diam. Dengan cara yang sama, kelompok polar
pelarut dapat mengikat kuat dengan fungsional polar pada analit dan menghalangi
interaksi analit dengan permukaan silika gel (Anonymous
c
, 2008).
Eluen pada kromatografi adsorbsi dapat dikelompokkan ke dalam deret
eluotropik berdasarkan efek elusinya. Seperti ditunjukkan pada tabel 2.4 berikut
Stahl (1985: 6):

Tabel 2.4 Deret eluotropi (efek elusi mulai dari atas ke bawah)
Pelarut
Titik didih
(TD)
(C/750 torr)
Tetapan
dielektrikum ()
pada 20 C
Viskositas CB
p
B
pada 20 C
n-Heksana 68,7 1,890 0,326
Toluena (toluol) 110,6 2,379 0,900
Kloroform 61,3 4,806 0,580
Eter (dietil eter) 34,6 4,34 0,233
Aseton 56.5 20,70 (T=25 C) 0,316 (T=25 C)
Etanol 78,5 24,30 (T=25 C) 1,200
Metanol 64,6 33,62 0,597
Air 100,0 80,37 1.005
Asam asetat 117,9 6,15 1,049
Ammoniak 30,9 - 0,59
Sumber: Stahl E., 1985, Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi, Hal: 7.



Tabel 2.4 menunjukkan bahwa kepolaran pelarut akan meningkat dengan
kenaikan nilai titik didih (TD), tetapan dielektrikum () pada 20C dan viskositas
CB
p
B pada 20C. Efek elusi naik dengan kenaikan kepolaran pelarut. Misalnya, n-
heksana nonpolar mempunyai efek elusi lemah, kloroform cukup kuat dan
metanol yang bersifat polar efek elusinya kuat. Laju rambat analit tergantung
kepada viskositas pelarut dan struktur lapisan.

2.7.4 Jenis-jenis Pelarut
1) Air (aquades)
Aquades berasal dari istilah latin aquadestilata yang berarti air suling.
Air suling merupakan air yang diperoleh dari pengembunan uap air akibat
penguapan atau pendidihan air (HAM, 2006: 9).
Sebuah molekul air terdiri dari sebuah atom oksigen yang berikatan
kovalen dengan dua atom hidrogen. Air pada fase cair memiliki ikatan
hidrogen antarmolekul seperti ditunjukkan pada Gambar 2.11 berikut:


Gambar 2.11 Ikatan hidrogen antarmolekul pada air (Effendy, 2006: 202).

2) Asam Asetat
Asam asetat atau asam etanoat merupakan asam karboksilat berwujud
cairan kental jernih dengan rumus molekul CH
3
COOH dengan aroma yang
khas. Densitas: 1,049 gram/mL, titik leleh 16,7C; titik didih 118,5C.
Senyawa asam asetat murni dinamakan "asam asetat glasial" dengan cara
mengoksidasi etanol atau butana dengan bantuan Mangan (II) atau Kobalt (II)
etanoat terlarut pada suhu 200C (Daintith, 1994: 177-178).
3) Aseton
Aseton mempunyai nama lain dimetil asetat, dimetil keton, metil
asetat, ketopropan, propanon, piroasetat eter dan piroasetis spirit. Rumus
molekul aseton adalah CH
3
COCH
3
. Umumnya digunakan sebagai pelarut
karena mempunyai sifat higroskopis, baunya ringan, sangat volatil, tidak
berresidu dan mudah terbakar. Mempunyai berat molekul 58,1 g/mol dengan
titik leleh -94,6 C; titik didih 56,1C (Daintith, 1994: 358).
4) Ammoniak
Ammoniak mempunyai bau yang menyengat, titik leleh -74C , titik
didih -30,9C. Sangat larut dalam air dan alkohol. Ammoniak dalam keadaan
cair memiliki kesamaan dengan air dalam hal dapat berikatan hidrogen dan
mempunyai tetapan dielektrikum sedang yang dapat berfungsi sebagai pelarut
pengion. Ammoniak dapat berswa-ionisasi, menghasilkan ion ammonium
NH
4
+
dan ion amida NH
2
-
. Ammoniak sangat larut dalam air menghasilkan
larutan basa yang mengandung molekul NH
3
tersolvasi dan sejumlah kecil ion
NH
4
+
dan OH
-
(Daintith, 1994: 31).
5) Etanol
Etanol atau alkohol (C
2
H
5
OH) merupakan cairan tanpa warna yang
larut dalam air, densitas 0,6 (0C) titik leleh -169C , titik didih -102C.
Adanya gugus hidroksil (OH) pada alkohol memberikan sifat polar, sedangkan
gugus alkil (R) merupakan gugus non polar. Proporsi dari kedua gugus
tersebut merupakan faktor yang menentukan sifat alkohol (Daintith, 1994:
178).
Husnah (2009), untuk mengekstrak sampel uji, lebih baik
menggunakan etanol daripada metanol karena antioksidan yang hendak
diekstrak diharapkan dapat diaplikasikan pada produk makanan, minuman dan
obat-obatan sehingga aman untuk dikonsumsi sedangkan metanol bersifat
toksik.
6) Kloroform
Kloroform merupakan salah satu senyawa haloform dengan rumus
kimia CHClB
3
Byang mudah menguap, tanpa warna, densitas 1,48; titik leleh -
63,5C; titik didih 61C. Senyawa ini dibuat melalui klorinasi metana (diikuti
oleh pemisahan produk campurannya) atau melalui reaksi haloform.
Kloroform digunakan sebagai pelarut dan bahan dasar untuk membuat
senyawa lainnya (Daintith, 1994: 443).
Kloroform (triklorometana) sukar terbakar (tetapi uapnya mudah
terbakar), tidak larut dalam air tetapi larut dalam alkohol dan eter; uapnya
bersifat membius dan bila terkena udara dan cahaya dapat membentuk gas
fosgen yang beracun. Kloroform digunakan untuk pembuatan senyawa fluoro-
karbon, sebagai pelarut (cat), dan sebagai anastetik. Kelarutan dalam air pada
suhu 25
o
PC 7,43 x 10P
3
Pmg/L, Tl. -63,5C, t.d. 61,7C, d 1,483 (HAM, 2006:
232).
7) Metanol
Metanol (Methyl Alkohol) adalah cairan tanpa warna dengan rumus
kimia CH
3
OH, densitas 0,79 gram/mL; titik leleh -98C, titik didih 64C.
Senyawa ini dibuat melalui oksidasi katalitik dari metana (gas alam)
menggunakan udara (atau dibuat dari karbon monoksida dan oksigen) dan
digunakan sebagai pelarut serta sebagai bahan baku untuk industri kimia
(Daintith, 1994: 282).
8) n-Heksana
n-Heksana merupakan hidrokarbon alifatik yang mudah menguap.
Sehingga dalam jurnal Fachriyah (2007) n-heksana digunakan sebagai pelarut
sokletasi yang bertujuan untuk menghilangkan lemak. Ikatan pada heksana
yang tunggal dan sifat yang kovalen menjadikan n-heksana tidak reaktif
sehingga sering digunakan pelarut inert pada reaksi organik.
Nama lain dari Heksana (Hexane) adalah kaproil hidrida, metil n-butil
metan dengan rumus molekul CH
3
(CH
2
)B
4
CH
3
. Heksana mempunyai
karakteristik sangat tidak polar, volatil, mempunyai bau khas yang dapat
menyebabkan pingsan. Berat molekul heksana adalah 86,2 gram/mol dengan
titik leleh -94,3 sampai -95,3C. Titik didih heksana pada tekanan 760 mmHg
adalah 66 sampai 71C (Daintith, 1994: 219).
9) Petroleum eter
Petroleum eter merupakan campuran hidrokarbon (bukan eter
sebenarnya), yang atsiri dan mudah terbakar, tidak berwarna, densitas 0.625
sampai 0,660 g/ml terutama terdiri dari pentana dan heksana. Bahan ini
mendidih dalam rentang 30-70
o
C dan digunakan sebagai pelarut (Daintith,
1994: 327). HAM (2006: 331), petroleum eter merupakan campuran
hidrokarbon berupa cairan jernih, mudah menguap, mudah terbakar. Diperoleh
dari pengolahan minyak bumi, dan digunakan sebagai pelarut di laboratorium.
10) Toluena
Toluena atau metilbenzena merupakan cairan tanpa warna dengan
rumus molekul CH
3
C
6
H
5
dengan densitas 0,9 gram/mL; titik leleh -94C, titik
didih 111C. Metilbenzena diturunkan dari benzena melalui penggantian atom
hidrogen oleh gugus metil. Senyawa dapat diperoleh dari tar batubara atau
dibuat dari metilsikloheksana (diekstraksi dari minyak mentah) melalui
hidrogen katalitik. Umumnya digunakan sebagai pelarut dan bahan dasar
pembuatan TNT (Tri Nitro Toluena) (Daintith, 1994: 283).

2.7.5 Jenis-jenis KLT
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dapat digunakan untuk tujuan analitik
dan preparatif. KLT analitik digunakan untuk menganalisa senyawa-senyawa
organik dalam jumlah kecil misalnya, menentukan jumlah komponen dalam
campuran dan menentukan pelarut yang tepat untuk pemisahan dengan KLT
preparatif. Sedangkan KLT preparatif digunakan untuk memisahkan campuran
senyawa dari sampel dalam jumlah besar berdasarkan fraksinya, yang selanjutnya
fraksi-fraksi tersebut dikumpulkan dan digunakan untuk analisa berikutnya
(Townshend, 1995: 9-10).

2.7.6 Teknik KLT
Penotolan dilakukan cara; cuplikan ditotolkan yang berupa pita harus
sekecil mungkin karena pemisahan bergantung pada lebar pita. Penotolan dapat
dilakukan dengan pipet atau mikro syiring. Hostettmann (1995: 10), untuk pita
yang terlalu lebar dapat dilakukan pemekatan dengan cara pengembangan
memakai pelarut polar sampai kira-kira 2 cm di atas tempat penotolan. Kemudian
pelat dikeringkan dan dielusi dengan pelarut yang diinginkan.
Pengembangan yaitu proses pemisahan campuran cuplikan akibat pelarut
mengembang merambat naik dalam lapisan. Proses pemisahan dapat dilakukan
beberapa cara, pengembangan sederhana yaitu perambatan 1x dengan arah keatas.
Lapisan KLT harus dalam keadaan kering di antara kedua pengembangan
tersebut, yang dapat dilakukan dengan membiarkan plat di udara selama 5-10
menit (Stahl, 1985: 11).

2.7.7 Identifikasi
Ada beberapa kemungkinan cara mendeteksi senyawa tidak berwarna
pada kromatogram. Deteksi paling sederhana adalah jika senyawa menunjukkan
penyerapan di daerah UV gelombang pendek (radiasi utama kira-kira 254 nm)
atau jika senyawa itu dapat dieksitasi ke fluoresensi radiasi UV gelombang
pendek dan gelombang panjang (365 nm). Pada senyawa yang mempuyai dua
ikatan rangkap atau lebih dan senyawa aromatik seperti turunan benzena,
mempunyai serapan kuat di daerah 230-300 nm (Stahl, 1985: 13).
Untuk identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah dari lapisan tipis
menggunakan harga Rf. Harga Rf (Retordation Factor) didefinisikan sebagai
berikut (Sastrohamidjojo, 2005: 23):

Nilai Rf =
gerak) (fase pelarut oleh ditempuh yang Jarak
senyawa oleh ditempuh yang Jarak
=
X
Y
(2.1)

Garis depan pelarut


Jarak yang ditempuh senyawa



Jarak yang ditempuh pelarut (fase gerak)

Titik awal penotolan

Gambar 2. 12 Ilustrasi Cara Menghitung Nilai Rf
(Gritter et al, 1991 dalam Rohman dan Gandjar, 2009: 328)

Nilai Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan dengan
harga-harga standart. Nilai-nilai Rf yang diperoleh hanya berlaku untuk campuran
tertentu dari pelarut dan penyerap yang digunakan, meskipun demikian daftar dari
harga-harga untuk berbagai campuran dari pelarut dan penyerap dapat diperoleh
(Sastrohamidjojo, 2005: 24).
Nilai Rf merupakan tetapan fisika untuk setiap senyawa dan
didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh senyawa dari titik awal sampai ke titik
berhenti dibagi dengan jarak yang ditempuh pelarut. Nilai Rf berubah dengan
suhu, arah serat kertas, dan banyaknya senyawa yang ditotolkan. Oleh karena itu,
harga Rf tidak dapat diandalkan untuk identifikasi tanpa pertimbangan (Robinson,
1995: 7).
Identifikasi lanjutan senyawa golongan alkaloid Callyspongia sp.
menggunakan KLT silika gel GFB
254
B dengan larutan pengembang campuran
methanol-NHB
4
BOH (200:3) memperlihatkan adanya bercak dengan Rf 0,33, yang
pada pengamatan sinar UV memberikan warna kuning hijau. Bercak ini
memberikan warna jingga dengan pereaksi Dragendorff yang mengidentifikasikan
adanya golongan alkaloid. Pada uji dengan pereaksi DPPH
(Diphenilpikrilhidraksil), bercak ini memberikan aktivitas peredaman radikal
bebas, berarti senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan dalam ekstrak
Callyspongia sp. adalah senyawa golongan alkaloid (Hanani dkk., 2005).

2.8 HTSpektrofotometer Infra Merah Transformasi FourierTH (TFourier
Transform Infra Red (FT-IR))

Pada dasarnya Spektrofotometer FTIR (TFourier Trasform Infra RedT)
adalah sama dengan Spektrofotometer IR dispersi, yang membedakannya adalah
pengembangan pada sistim optiknya sebelum berkas sinar infra merah melewati
contoh (Giwangkara, 2006).
Pada prisipnya spektrum FTIR dihasilkan dengan cara melewatkan
radiasi inframerah yang telah didespersikan oleh interferometer (kisi difraksi)
yang dikontrol secara otomatis dengan komputer menembus sampel kemudian
diterima oleh detektor dan akhirnya dicetak pada rekorder (Hayati, 2007: 39).


Gambar 2.13 Bagan instrumentasi spektrofotometer FTIR

Keterangan :

1. Sumber radiasi
2. Sampel
3. Monokromator
4. Detektor
5. Penguat
6. Rekorder

4 5 2 6 1
3
Pada sistem optik FTIR digunakan radiasi LASER (TLight Amplification by
Stimulated TEmmissionT of RadiationT) yang berfungsi sebagai radiasi yang
diinterferensikan dengan radiasi infra merah agar sinyal radiasi infra merah yang
diterima oleh detektor secara utuh dan lebih baik (Giwangkara, 2006).
Secara keseluruhan, analisis menggunakan Spektrofotometer FTIR
memiliki dua kelebihan utama dibandingkan metoda konvensional lainnya, yaitu
(Giwangkara, 2006):
1. Dapat digunakan pada semua frekuensi dari sumber cahaya IR secara
simultan sehingga analisis dapat dilakukan lebih cepat daripada
menggunakan cara sekuensial atau scanning
2. Sensitifitas dari metode Spektrofotometri FTIR lebih besar daripada cara
dispersi, sebab radiasi yang masuk ke sistem detektor lebih banyak karena
tanpa harus melalui celah (TslitlessT).
Bahan alam banyak mengandung molekul organik yang menunjukkan
absorpsi infra merah. Spektrofotometri infra merah sangat sesuai untuk
identifikasi gugus fungsi dalam molekul. Hal pengkonformasian struktur suatu
zat, spektrum infra merah sering digunakan yaitu dengan membersihkan spektrum
zat yang dianalisis dengan spektrum zat pembanding (Harborne, 1985: 24 ).
Spektrum infra merah senyawa tumbuhan dapat diukur dengan
spektrofotometer infra merah yang terekam secara otomatis dalam bentuk larutan,
bentuk gerusan dalam minyak nujol atau dalam bentuk padatan dicampur dengan
Kalium Bromida (Harborne, 1985:25). Banyak gugus fungsi dapat
diidentifikasikan dengan menggunakan FTIR yang mengakibatkan
spektrofotometri infra merah merupakan cara paling sederhana dan diandalkan
untuk menentukan golongan senyawa.
Secara umum untuk mengetahui frekuensi tiap-tiap gugus fungsi lebih
baik menggunakan bagan korelasi (correlation chart) untuk mengidentifikasi
gugus fungsi. Sebagaimana bagan korelasi (correlation chart) IR pada tabel 2.8
berikut:


































Tabel 2.8 Bagan Korelasi (correlation chart) Infra Red (IR):
Gugus Fungsi Frekuensi Intensitas Keterangan
cmP
-1
P m
Alkana C=C streching vibration
Isolat C=C 1680-1620 5.95-6.17 w-m Kemungkinan adanya
senyawa simetrik
C=C konjugat
dengan aryl
1640-1610 6.10-6.21 m -
C=C konjugat
dengan C=C
atau C=O
1660-1580 6.02-6.33 s -
Konjugat
CHB
2
B=CH-
CC-
1620-1610 6.17-6.12 s-m Konjugat dengan CC
Golongan vinyl,
-CH=CHB
2
B
1645-1640 6.08-6.10 w-m Hidrokarbon
Vinyl eter, -O-
CH=CHB
2
B
1640-1630
1620-1610
6.49-6.54
6.17-6.21
s
s
Biasanya doublet pada
frek. 1640-1610
Vinyl ketone,
-CO-CH=CHB
2
B
1620-1615 6.17-6.19 s -
Vinyl ester,
CHB
2
B=CHOCOR
1700-1645 5.85-6.08 S -
Siklopropana ~1655 ~6.04 w-m Senyawa Polyfluorinated
~1945 cmP
-1
P
Siklobutana ~1565 ~6.39 w-m Senyawa Polyfluorinated
~1800 cmP
-1
P
Siklopentana ~1610 ~6.21 w-m Senyawa Polyfluorinated
~1770 cmP
-1
P
Sikloheksana ~1645 ~6.08 w-m Senyawa Polyfluorinated
~1745 cmP
-1
P
Alkana C=H vibration
Vinyl 3095-3075 3.23-3.25 m CH str of CHB
2
B
Senyawa Vinyl
hidrokarbon,
-CH= CHB
2
B
3030-2995
1985-1970
1850-1800
3.30-3.34
5.04-5.08
5.41-5.56
m
w
w
CH str of CH
Overtone
Overtone
Senyawa vinyl
halogen
945-925
905-865
10.58-10.83
11.05-11.56
m
s
CH out-of-plane def.
(senyawa suibstitusi
nitril, 960cmP
-1
P)
Vinyl eter, -O-
CH=CHB
2
B
965-960
945-940
825-810
10.36-10.42
10.58-10.64
12.12-12.35
s
m
s
CH out-of-plane def.
CH out-of-plane def.
CHB
2
Bout-of-plane def.
Vinyl keton, -
COCH=CHB
2
B
995-980
965-955
10.05-10.20
10.36-10.47
s
m
CH out-of-plane def.
CH out-of-plane def.
Sumber: Socrates G., 1994, Infrared Characteristic Group Frequencies, Second Edition, Table and
Charts. Hal: 77.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Adapun tempat penelitian yang akan dilakukan adalah di Laboratorium
Riset Kimia Analitik dan Laboratorium Kimia Organik Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang pada bulan Nopember 2009-Maret 2010.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau, blender, pipet
tetes, pipet ukur, botol kaca gelap, beaker glass, bola hisap, erlenmeyer, corong
glass, corong buchner vacum, pengaduk, shaker, rotary evaporator vacum,
sentrifugasi Heraeus Labofuge 200-Thermo Electron corporation, Inkubator
Heraeus-Thermo Electron Corporation, Shaker BL (Barnstead Lab-Line) Max-Q,
seperangkat alat KLT (chamber, pipet ukur, pipa kapiler), lampu UV (Hand Held
UV Lamp-Compact UV Lamp 254/366 nm), seperangkat alat Spektrofotometer
FTIR-8400S Shimadzhu dan spektrofotometer Varian 50 Cons UV-Visible.



3.2.2 Bahan
Bahan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Buah Pepino
(Solanum muricatum Aiton) dari Jl. Veteran No. 02 (Hypermart Malang Town
Square)-Malang.
Bahan-bahan kimia yang digunakan adalah aquadest, petroleum eter p.a.,
aseton p.a., etanol 70 %, etanol 95 %, n-heksana p.a., kloroform p.a., pellet KBr,
plat silika gel GF
254
, asam asetat p.a., DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil), BHT,
kertas saring, metanol p.a., NH
4
OH p.a., pereaksi Marquis, amoniak p.a., reagen
Dragendorf, asam asetat 10%, toluena dan pereaksi Ninhidrin.

3.3 Rancangan Penelitian
Pada penelitian yang berjudul "Fraksinasi dan Identifikasi Golongan
Senyawa Pada Daging Buah Pepino (Solanum muricatum Aiton) yang Berpotensi
Sebagai Antioksidan " ada lima tahapan yaitu:
1) Preparasi sampel
2) Ekstraksi sampel untuk menghasilkan ekstrak kasar
3) Pemisahan senyawa hasil isolasi meliputi ;
a. KLT Analitik untuk menentukan jumlah komponen dalam campuran
dan memperoleh komposisi eluen yang paling baik untuk keperluan
preparatif.
b. KLT Preparatif untuk memisahkan campuran senyawa dari sampel
dalam jumlah besar berdasarkan fraksinya dan digunakan untuk analisa
berikutnya.
4) Uji aktivitas antioksidan pada fraksi hasil KLTP untuk mengetahui
aktivitas masing-masing isolat.
5) Identifikasi senyawa isolat dari fraksi yang memiliki potensi persen
aktivitas tertinggi dengan FTIR untuk memperkuat asumsi bahwa gugus
fungsi jenis golongan senyawa adalah senyawa tertentu hasil uji.

3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Preparasi sampel Buah Pepino
500 gram buah pepino (Solanum muricatum Aiton) dibersihkan dengan
air, dikupas kulit buahnya, dibuang isinya dan daging buah dipotong kecil-kecil,
kemudian diblender (tanpa penambahan pelarut) sampai menjadi bubur buah
pepino.

3.4.2 Ekstraksi sampel
Sebanyak 250 gram bubur buah pepino dimaserasi dengan 500 ml etanol
70% menggunakan shaker berkekuatan 120 rpm selama 24 jam pada suhu ruang
(Husnah, 2009). Kemudian disaring dengan corong buchner vacum. Filtrat yang
diperoleh dilakukan pemekatan dengan rotary evaporator vacum sehingga
diperoleh ekstrak kasar. Ekstrak, selanjutnya dipisahkan dengan KLT, di uji
aktivitas antioksidannya dan diidentifikasi dengan FTIR.




3.4.3 Pemisahan Senyawa Hasil Isolasi dengan KLT
3.4.3.1 Pemisahan dengan KLT Analitik
Pemisahan ekstrak menggunakan Plat Silika gel GF
254
dengan ketebalan
0,1 mm yang berukuran 2x10 cm. Ekstrak pekat (1 gr ektrak : 3 mL etanol 70%)
ditotolkan pada permukaan plat dengan pipa kapiler sebanyak 1 totolan pada jarak
1 cm ditepi bawah plat KLT. Selanjutnya dielusi dalam bejana pengembang
selama beberapa menit (hingga mencapai bagian plat) yang eluennya telah
dijenuhkan sebelumnya didalam bejana. Larutan pengembang (eluen) yang
digunakan adalah: metanol: NH
4
OH pekat, asam asetat:etanol, aseton:air:
amoniak 25%, etanol:asam asetat 10%, petroleum eter: n-heksana: metanol:
kloroform: asam asetat, metanol: aseton:air, toluol: etanol:asam asetat.
Plat hasil elusi dikeringkan, seluruh noda pada masing-masing plat
dilakukan penyemprotan dengan menggunakan reagen: marquis, dragendorf, serta
ninhidrin yang sebelum dan sesudah penyemprotan dideteksi dengan sinar lampu
UV (max 254 dan 366 nm). Cara perlakuan identifikasi spot dijelaskan pada
tabel 3.1 berikut:







Tabel 3.1 Daftar eluen dan cara identifikasi spot:
Eluen ( )
v
v

Visualisasi
(Cara
Identifikasi)
Warna Bercak
Solut
Identifikasi
Golongan
Senyawa
Referensi
Metanol: NH
4
OH
pekat (10:0,03),
Asam asetat:etanol
(1:3),
Aseton:air:
amoniak 25%
(9:0,7:0,3),
Etanol:asam asetat
10% (9:1),
Petroleum eter: n-
heksana: metanol:
kloroform: asam
asetat (1:1:3:3:2),
Metanol: aseton:air
(2:4:0,3),
Toluol:
etanol:asam asetat
(5:4:1)
Sinar UV
254 nm
Spot berwarna
biru kehitaman
(gelap)
Asam
askorbat
(vitamin C)
Harborne,
1987: 182,
Rohman dan
Gandjar
(2008: 239),
Martelli and
Nano (1967:
22)
Ninhidrin Warna merah
muda menjadi
ungu
Asam
askorbat
(vitamin C)
Auterhooff
and Kovar,
1987: 67
Dragendorf Warna jingga
berlatar kuning
Alkaloid Harborne,
1987: 239

Marquis

Warna kuning
sampai merah
lembayung

Alkaloid

Harborne,
1987: 239

3.4.3.2 Pemisahan dengan KLT Preparatif
Pada KLT Preparatif, disiapkan plat KLT silika gel GF
254
dengan ukuran
10x20 cm, ekstrak ditotolkan 1 totolan dengan pipa kapiler secara horizontal
(195 totol) sehingga menyerupai garis sepanjang plat pada jarak 1 cm dari garis
bawah dan 1 cm dari garis tepi serta dikeringkan diudara selama 5-10 menit
(Stahl, 1985: 11). Setelah kering dielusikan dalam bejana pengelusi dengan eluen
terbaik yang telah didapatkan dari hasil KLT analitik yaitu petroleum eter: n-
heksana: metanol: kloroform: asam asetat (1:1:3:3:2 ( )
v
v
). Elusi dihentikan
setelah eluen bergerak dengan jarak 9 cm. Noda dideteksi menggunakan lampu
UV dengan max 254 dan 366 nm. Noda dikerok dari plat KLTP dan dilarutkan
dengan 10 ml pelarut etanol 70% dan disentrifugasi dengan kecepatan 1600 rpm
selama 15 menit untuk memisahkan filtrat dengan endapan. Filtrat kemudian siap
digunakan untuk uji aktivitas dan analisa IR. Pemisahan KLTP ini dilakukan
sebanyak satu kali.

3.4.4 Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan
Uji aktivitas antioksidan dengan DPPH dilakukan setelah uji KLTP
dengan cara:
1) Membuat larutan kontrol DPPH dengan cara: 3 ml larutan DPPH 0,2 mM
dimasukkan tabung reaksi dan diinkubasi pada suhu 37C selama 30
menit. Kemudian dimasukkan kuvet untuk diukur absorbansinya pada
max 517 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis (Sukamat dan
Ersam, 2006).
2) Membuat larutan isolat A dan Isolat B dengan cara: masing-masing isolat
diambil 2,25 ml filtrat hasil KLTP dengan menambahkan 0,75 ml larutan
DPPH 0,2 mM (Husnah, 2009). Setelah itu diinkubasi pada suhu 37C
selama 30 menit untuk senyawa yang mengandung antioksidan
menunjukkan perubahan warna ungu menjadi kuning, kemudian
dimasukkan kuvet untuk diukur absorbansinya pada max 517 nm
menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
3) Pembanding BHT dengan cara: 2,25 ml larutan BHT 12,23 ppm
menambahkan 0,75 ml larutan 0,2 mM DPPH dalam etanol 95% ( )
v
v

(Husnah, 2009) dimasukkan tabung reaksi. Setelah itu diinkubasi pada
suhu 37C selama 30 menit untuk menunjukkan perubahan warna ungu
menjadi kuning (BHT adalah antioksidan sintetik), kemudian dimasukkan
kuvet untuk diukur absorbansinya pada max 517 nm menggunakan
spektrofotometer UV-Vis.
Absorbansi kontrol, isolat A, isolat B dan pembanding BHT dilakukan
pengulangan tiga kali (triplo).

3.4.5 Identifikasi FT-IR Senyawa Isolat B
Larutan isolat B dipipet dan diteteskan 1 tetes pada film tipis diantara dua
lapis NaCl yang transparan kemudian dianalisis spektrum infra merahnya dengan
alat alat Spektrofotometer FTIR-8400S Shimadzhu pada rentang kisaran
gelombang 4000-400 cm
-1
, dengan kondisi resolution 4, scan 16, gain 10,
apodiazation Cs.

3.5 Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan tahapan:
1) Nilai Persen Rendemen Ekstrak
Data % rendemen ekstrak didapatkan dari hasil perolehan sampel
setelah di rotary evaporator kemudian dapat dihitung nilai %rendemen
ekstrak dengan Rumus 3.1:

% Rendemen Ekstrak = % 100
pepino) buah (bubur sampel Berat
pekat ekstrak Berat
(3.1)

2) Data KLT Anallitik
Data KLT Anallitik didapatkan dari analisis profil pemisahan noda
pada plat dengan mengamati warna dan bentuk masing-masing spot yang
terbentuk pada plat setelah diamati pada lampu UV dan penyemproton.
Kemudian dihitung nilai Rf menggunakan Rumus 3.2.
Perhitungan nilai Rf:

Nilai Rf =
gerak) (fase pelarut oleh ditempuh yang Jarak
senyawa oleh ditempuh yang Jarak
(3.2)

Eluen terbaik dari hasil KLT Analitik akan digunakan untuk
pemisahan KLT Preparatif. Eluen terbaik merupakan eluen yang
mendapatkan hasil spot pada plat yang memenuhi kriteria: warna yang
jelas (sesuai Tabel 3.1), jarak yang teratur (tidak overleap/ tumpang
tindih), dan nilai Rf pada spot berada diantara 0,2-0,8 untuk
memaksimalkan pemisahan (Rohman dan Gandjar, 2008: 359).
3) Data KLT Preparatif
Data KLT Preparatif dianalisis dengan cara mengamati
noda/fraksi-fraksi pada sepanjang plat secara horisontal dengan dideteksi
pada sinar lampu UV max 254 dan 366 nm. Kemudian noda dikerok
untuk dilarutkan dalam etanol 70% dengan menghasilkan filtrat
(supernatan) yang disebut isolat.
4) Data Uji Aktivitas Antioksidan
Data uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan melihat data
absorbansi yang diperoleh untuk mengetahui potensi senyawa tersebut
sebagai antioksidan tertinggi berdasarkan nilai % aktivitas antioksidan.
Untuk menentukan % Aktivitas antioksidan dengan rumus (Molyneux,
2003):

%Aktivitas antioksidan =
kontrol Absorbansi
100% sampel) Absorbansi - kontrol i (Absorbans
(3.3)

5) Data Identifikasi FT-IR
Data identifikasi FT-IR senyawa Isolat dari spektra IR dilakukan
dengan memperhatikan pola dan puncak serapan spektrum Isolat B yang
memberikan informasi tentang karakteristik gugus fungsi dalam Isolat B
dan menggunakan standart spektra IR senyawa vitamin C berdasarkan
hasil KLT Preparatif dan uji aktivitas antioksidan tertinggi.







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Al Quran merupakan petunjuk yang lengkap dan sempurna bagi manusia
untuk pedoman kehidupan secara baik dan benar. Al Quran berbicara tentang
Tuhan, manusia, alam dan berbagai aspek kehidupan yang menjadi obyek ilmu
pengetahuan. Mempelajari segala ilmu merupakan ayat Al Quran pertama kali
yang diturunkan oleh Allah SWT dengan perantara malaikat Jibril kepada Nabi
Muhammad SAW untuk diperintahkan membaca, sebagaimana firmanNya dalam
Q.S. Al Alaq 1-5:
% `!, 7, %! ,=> ,=> .} ,=s % 7, `.{ %!
=. =)9!, =. .} ! `9 >-

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya(QS. Al Alaq: 1-5).

Iqra berasal dari kata qaraa yang berarti membaca kemudian menjadi
kata perintah iqra yang berarti bacalah, amatilah, fahamilah, telitilah. Allah
SWT mengajar manusia dengan pena (tulisan) yang berarti suatu proses
pencapaian ilmu pengetahuan dengan membaca dan menulis. Objek yang harus
dibaca adalah semua yang belum diketahui oleh manusia secara tertulis maupun
tidak tertulis.
Proses penelitian adalah salah satu contoh proses dari membaca dan
memahami sesuatu (objek) yang belum diketahui. Seperti halnya penelitian ini
yang berjudul Fraksinasi dan Identifikasi Golongan Senyawa pada Daging Buah
Pepino (solanum muricatum aiton) yang Berpotensi sebagai Antioksidan.
Mempelajari dan melakukan penelitian tentang objek yang belum tertulis menjadi
objek tertulis selanjutnya dapat dipelajari berupa memberikan rezeki akan manfaat
bagi manusia karena senyawa yang terkandung pada buah pepino mempunyai
manfaat sebagai antioksidan.

4.1 Preparasi Sampel Daging Buah Pepino (Solanum muricatum Aiton)
Buah Pepino (Solanum muricatum Aiton) yang digunakan adalah buah
pepino ungu. Sampel yang digunakan adalah daging buah pepino yang masak
dalam keadaan basah (buah dalam keadaan segar tanpa proses pengeringan)
karena pada buah pepino terdapat beberapa kandungan gizi yang cukup, dengan
kadar air yang paling tinggi yaitu: 95%.
Bagian daging dipotong kecil-kecil untuk mempercepat proses
penghalusan dan mempermudah penggilingan. Ukuran bahan terlalu besar
mengakibatkan kontak antara komponen yang akan dipisahkan dengan pelarut
menjadi kecil. Jika ukuran bahan lebih kecil, maka pelarut lebih mudah
berinteraksi dengan komponen yang akan dipisahkan.
Kadar air yang tinggi dari buah pepino memungkinkan senyawa-senyawa
aktif yang tidak tahan terhadap pengeringan akan dapat terlindungi dari
kerusakan, sehingga sampel daging buah pepino yang sudah masak berwarna
kuning kehijauan dapat dihaluskan dengan blender tanpa penambahan pelarut.
Proses penghalusan bertujuan untuk mengoptimalkan jalannya proses maserasi
dengan cara memperluas permukaan sel-sel sampel yang akan mempercepat
kontak reaksi katalitik antara pelarut dan sampel. Sampel pada proses
penghalusan menghasilkan bubur buah pepino yang berwarna kuning kecoklatan
dengan tekstur yang kental (seperti juice).

4.2 Ekstraksi Sampel
Ekstraksi sampel menggunakan pelarut etanol 70%, dengan alasan
pemakaian pelarut etanol 70% adalah mengacu pada penelitian Husnah (2009: 64)
bahwa ketika ekstraksi sampel buah pepino menggunakan metode maserasi
dengan variasi pelarut: etanol 70%, etil asetat p.a, aquadest, kloroform p.a,
petroleum eter p.a dan n-heksana p.a. Dihasilkan pelarut etanol 70% (pelarut
terbaik) yang dapat mengekstrak sampel dalam jumlah besar dan dapat
mengekstrak golongan senyawa antioksidan yang mempunyai aktivitas tertinggi
terhadap antiradikal DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Demikian pula yang
dilakukan pada penelitian ini yaitu menggunakan metode ekstraksi maserasi
dengan pelarut etanol 70%.
Etanol 70% merupakan pelarut yang tergolong polar, ketika proses
maserasi tidak menunjukkan adanya pemisahan lapisan. Hal ini disebabkan bahwa
senyawa-senyawa yang bersifat nonpolar masih tertinggal dalam sel, karena
pelarut hanya dapat melarutkan senyawa yang mempunyai kepolaran sama (like
dissolveses like). Umumnya cairan yang digunakan sebagai pengekstraksi adalah
campuran pelarut, seperti: etanol-air karena etanol 70% merupakan pelarut yang
sangat efektif untuk mengekstraksi jumlah bahan aktif yang optimal dan penyebab
pembengkakan membran sel serta memperbaiki stabilitas bahan terlarut (sampel).
Proses maserasi (macerare= mengairi, melunakkan) merupakan metode
ekstraksi yang paling sederhana dan mudah dilakukan serta baik untuk isolasi
senyawa bahan alam buah pepino yang mengandung senyawa tidak tahan
terhadap panas. Pada proses perendaman (pelunakan sampel) pelarut etanol 70%
melarutkan komponen dalam sel ekstrak daging buah pepino dengan cara
pemecahan dinding sel dan membran sel. Akibat perbedaan tekanan antara di
dalam dan di luar sel ekstrak maka metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma
akan terlarut dalam pelarut etanol 70%. Proses mengalirnya bahan pelarut etanol
70% ke dalam sel ektrak daging buah pepino dapat menyebabkan protoplasma
membengkak dan bahan kandungan (komponen senyawa) sel akan terlarut sesuai
dengan kelarutannya.
Komponen senyawa dalam sel ekstrak daging buah pepino berpindah
dengan cara terlarut dalam molekuler pelarut etanol 70% yang berdifusi melalui
rongga antar sel. Gaya yang bekerja adalah perbedaan konsentrasi antara larutan
di dalam sel ekstrak daging buah pepino dengan pelarut etanol 70%. Komponen
senyawa sel ekstrak mencapai ke dalam cairan di sebelah luar sel. Hal ini
berlangsung selama proses difusi melintasi membran sampai terbentuknya suatu
keseimbangan konsentrasi antara larutan (pelarut etanol dan bahan terlarut yaitu
komponen senyawa dala ekstrak) disebelah dalam dan disebelah luar sel.
Proses maserasi dilakukan dengan perendaman dan pengadukan.
Perendaman sampel disimpan dalam wadah yang tertutup dan terlindungi dari
cahaya langsung untuk mencegah reaksi katalisis cahaya ataupun perubahan
warna. Pengadukan dilakukan dengana cara dishaker (dengan alat pengocokan
Shaker Incubator) dengan kecepatan 120 rpm selama 7 jam dengan
penyimpanan selama 24 jam yang bertujuan untuk mempercepat kontak kelarutan
antara sampel ekstrak daging buah pepino dengan pelarut etanol 70%.
Hasil maserasi (maserat daging buah pepino) dilakukan penyaringan
(filtrasi) yaitu pemisahan bahan secara mekanis berdasarkan ukuran partikel yang
berbeda dengan media bantuan filter sehingga partikel padat yang kasar akan
tertahan oleh media filter. Penyaringan maserat dilakukan dengan teknik
penghisapan menggunakan corong buchner (buchner vacuum filtrate) yang
bertujuan untuk mempercepat penyaringan akibat perbedaan tekanan di dalam dan
di luar penyaring dengan memperbesar tekanan di dalam penyaring dengan
memberikan tekanan dari pompa vacuum sehingga filtrat dari maserat
tertarik/tersaring lebih cepat dan residu tertahan di atas kertas saring pada corong
buchner. Filtrat dihasilkan dengan volume 350 ml atau 320,6 g yang berwarna
kuning kecoklatan (agak bening) tanpa menunjukkan adanya pemisahan lapisan
karena kepolaran pelarut etanol 70% untuk maserasi sama dengan kadar air yang
terkandung pada buah pepino 95% pada penelitian Sarno dan Purnama (1995: 23).
Filtrat yang dihasilkan dari penyaringan dipekatkan dengan rotary
evaporator vacuum dengan cara menguapkan pelarut pada tekanan rendah (Etanol
= 60 C) akan teruapkan melalui pemutaran labu ekstrak dalam penangas. Melalui
pembesaran permukaan penguapan, penguapan berlangsung dengan membentuk
uap etanol, pelarut etanol akan tertampung pada labu pelarut serta ekstrak pekat
tertampung dilabu alas bulat. Pemekatan dihentikan ketika tidak ada penetesan
pelarut pada labu pelarut. Ekstrak kasar yang dihasilkan berwarna coklat tua
dengan cairan pekat yang memiliki nilai rendemen 10,6% sedangkan nilai
rendemen ekstrak etanol 70% pada penelitian Husnah (2009: 66) adalah 11,2%.
Selisih nilai rendemen ini dimungkinkan karena buah pepino memiliki nilai kadar
rendemen yang berbeda-beda pada tiap-tiap buah pepino.
Ekstrak kasar yang diperoleh tenyata belum benar-benar pekat,
dimungkinkan karena ekstrak masih terdapat pelarut air dalam etanol 70 %
sehingga perlu dilakukan pemekatan lagi untuk menghilangkan air (kelembaban)
yaitu dengan cara sampel dimasukkan dalam desikator vakum yang mampu
mengeringkan lebih cepat pada sampel yang dianalisis. Pemekatan ini juga
berguna untuk mencegah pertumbuhan jamur akibat kelembaban yang
menyebabkan terjadinya reaski hidrolisis, setelah itu dilakukan penimbangan
untuk mengetahui hasil akhir rendemen ekstrak yang telah dipekatkan dan
didapatkan persen (%) rendemen ekstrak adalah 3,528%. Cara pencegahan
kehilangan suatu senyawa maka sampel (ekstrak pekat daging buah pepino) perlu
dilakukan penyimpanan yang aman dalam wadah gelas dilemari es. Ektrak pekat
kemudian dipisahkan dengan Kromatografi Lapis Tipis.



4.3 Fraksinasi Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Isolasi senyawa pada sampel daging buah pepino dilakukan dengan cara
fraksinasi yaitu pemisahan suatu campuran menjadi beberapa golongan senyawa.
Pemisahan ini dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu metode kromatografi cair
yang paling sederhana yang berdasarkan proses adsorbsi yang melibatkan dua
sifat fase yaitu: sifat fase diam (sifat lapisan/fase penyerap) silika gel GF254 dan
sifat fase gerak (pelarut pengembang) dengan komposisi berbagai pelarut.
Kromatografi Lapis Tipis adalah metode yang sesuai untuk analisis dalam
penelitian ini karena memerlukan peralatan sedikit, waktu yang efisien untuk
analisis dan memerlukan jumlah cuplikan ektrak pekat daging buah pepino yang
sedikit (1 gram).

4.3.1 Pemisahan dengan KLT Analitik
Pemisahan KLT dari penelitian ini menggunakan mekanisme proses sorbsi
adsorbsi yaitu penyerapan solut ekstrak daging buah pepino pada permukaan plat
sebagi fase diam dengan melibatkan gaya antarmolekuler seperti ikatan hidrogen,
penarikan dipol-dipol, dan penarikan yang diinduksi oleh dipol. Adsorben KLT
pada penelitian ini merupakan fase diam silika gel GF 254. Silika gel merupakan
jenis adsorben yang umum digunakan. Permukaan silika gel terdiri atas gugus Si-
O-Si dan gugus silanol (Si-OH). Gugus silanol bersifat sedikit asam dan polar
sehingga gugus ini mampu membentuk ikatan hidrogen dengan solut-solut yang
sedikit polar sampai polar.

Gambar 4.1 Interaksi analit dengan silika gel (Rohman dan Gandjar, 2008: 329)

Sebelum dilakukan pengembangan, pemisahan KLTA dilakukan
penotolan ekstrak. Ekstrak daging buah pepino dilarutkan sebesar 1 gram dalam 3
ml etanol 70%, kemudian dilakukan penotolan sebanyak 1 tetes dengan
menggunakan pipa kapiler yang telah diruncingkan guna menghasilkan bercak
sekecil mungkin, sehingga mencegah pelebaran dan penggabungan spot yang
terbentuk pada plat setelah dilakukan pengembangan.
Eluen (komposisi pelarut) untuk proses pengembangan sebelumnya
dilakukan penjenuhan terlebih dahulu dalam suatu wadah/bejana tertutup
(chamber) agar menyimpan uap larutan pengembang/eluen sehingga akan terjadi
keseimbangan antara larutan dengan uap yang dinamakan proses penjenuhan
eluen. Mengetahui kejenuhan suatu eluen maka dimasukkan kertas saring halus
dengan ukuran 2x10 cm ke dalam chamber. Ketika eluen bergerak melalui lapisan
kertas saring dengan pengembangan menaik (ascending) akibat gaya kapilaritas
(gaya yang disebabkan oleh resapan melalui pori-pori lapisan) yang bergerak
berupa garis lurus vertikal sepanjang lapisan maka proses pengembangan
dihentikan dan dapat digunakan untuk proses pengembangan sampel.
Fase Gerak pada KLTA dilakukan untuk mencari eluen terbaik dari
berbagai eluen dengan perbandingan komposisi pelarut {tujuh macam eluen yang
terdiri: E1=metanol: NH
4
OH pekat (10:0,03), E2=asam asetat:etanol (1:3),
E3=aseton:air: amoniak 25% (9:0,7:0,3), E4=etanol:asam asetat 10% (9:1),
E5=petroleum eter: n-heksana: metanol: kloroform: asam asetat (1:1:3:3:2),
E6=metanol: aseton:air (2:4:0,3), E7=toluol: etanol:asam asetat (5:4:1) ( )
v
v
}.
Setelah dilakukan pengembangan, maka lapisan/plat KLT harus dalam keadaan
kering dengan membiarkan plat di udara selama 10 menit.
Hasil fraksinasi sampel daging buah pepino menggunakan plat silika gel
dengan berbagai macam eluen (E1-E2-E3-E4-E5-E6-E7) menunjukkan bahwa
plat silika gel dengan eluen E1 s/d E7 tidak menunjukkan adanya noda setelah di
elusi, sehingga dilakukan visualisasi noda dengan sinar lampu UV max 254 nm
dan 366 nm untuk memperjelas noda yang tidak dapat terlihat.
Hasil identifikasi noda pada plat dengan UV max 254 nm dapat
ditunjukkan pada Gambar 4.2 dan Tabel 4.1:


E1-E2-E3-E4 E5-E6-E7



Gambar 4.2 Dokumentasi dan ilustrasi noda KLTA sesudah diUV max 254 nm


Tabel 4.1 Nilai Rf dan warna noda pada KLTA setelah di UV max 254 nm.
Eluen (E) Jumlah Spot Nilai Rf Warna Noda
E1 1 0,25 Biru kehitaman
E2 1 0,50 Biru kehitaman
E3 1 0 Biru kehitaman
E4 1 0,30 Biru kehitaman
E5 1
2
0,75
0,31
Biru kehitaman
Biru kehitaman
E6 1 0,60 Biru kehitaman
E7 1 0 Biru kehitaman
Sumber: Hasil penelitian (2010).

Gambar 4.2 dan Tabel 4.1 menunjukkan bahwa eluen yang dapat
memisahkan ekstrak pekat daging buah pepino dengan baik adalah E5 {petroleum
eter: n-heksana: metanol: kloroform: asam asetat (1:1:3:3:2)} karena
menghasilkan noda yang paling banyak (2 spot) dari pada noda pada eluen yang
lain (1 spot) dengan pemisahan yang jelas dan spot yang terbentuk tidak terjadi
tumpang tindih dengan menghasilkan dua (2) spot yang kedua-duanya berwarna
biru kehitaman dengan Rf
1
= 0,31 dan Rf
2
=0,75 serta nilai Rf pada spot berada
diantara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan (Rohman dan Gandjar, 2008:
359).
Eluen E1=metanol: NH
4
OH pekat (10:0,03), E2=asam asetat:etanol (1:3),
E4=etanol:asam asetat 10% (9:1), E6=metanol: aseton:air (2:4:0,3) menghasilkan
noda pada plat dengan satu (1) spot yang masing-masing Rf-nya adalah Rf
E1
=
0,25, Rf
E2
= 0,50 , Rf
E4
= 0,30 , Rf
E6
= 0,60 yang masing-masing spot berwarna
biru kehitaman. Ekstrak daging buah pepino yang telah dielusi dengan eluen ke-3
{E3=aseton:air: amoniak 25% (9:0,7:0,3)} tidak menghasilkan noda. Ekstrak pada
eluen ke-7 {E7= toluol: etanol:asam asetat (5:4:1)} tidak dapat terelusi dengan
baik yang ditunjukkan dengan terbentuknya spot berekor yang berada pada titik
awal penotolan.
Golongan senyawa yang diduga untuk spot pertama pada Rf
1
= 0,31
dengan warna biru kehitaman pada E5 adalah senyawa-senyawa asam organik.
Sedangkan spot kedua pada Rf
2
=0,75 dengan warna biru kehitaman pada E5
merupakan ciri-ciri adanya senyawa L-asam askorbat (vitamin C). Hal ini sesuai
dengan referensi Martelli and Nano (1967: 22) bahwa asam askorbat dapat
dipisahkan dengan fase gerak campuran pelarut petroleum eter: n-heksana:
metanol: kloroform: asam asetat (1:1:3:3:2) pada fase diam silika gel GF 254
dengan diketahui spot yang berwarna biru kehitaman (biru gelap) dan nilai Rf=
0,71 melalui visualisasi sinar lampu UV max 254 nm.
Pelarut n-heksana dan petroleum eter bersifat nonpolar yang mempunyai
efek elusi lemah terhadap fase diam silika gel yang bersifat polar, kloroform yang
bersifat semi polar cukup kuat daya elusinya terhadap fase diam. Asam asetat
yang bersifat semi polar dan metanol yang bersifat polar efek elusinya kuat
terhadap fase diam. Campuran pelarut dengan kepolaran dan viskositas pelarut
yang berbeda serta struktur lapisan dari silika gel mampu mempengaruhi laju
rambat analit.
Pemisahan yang menggunakan fase diam polar seperti silika gel, polaritas
fase gerak akan menentukan kecepatan/ laju rambat/ migrasi solut (analit) pada
ekstrak daging buah pepino yang berarti akan menentukan nilai Rf. Semakin kuat
gaya antarmolekuler analit ekstrak daging buah pepino dalam eluan E5 dengan
fase diam silika gel GF254 maka eluen akan sulit membawa analit mengalir akibat
viskositas tinggi yang ditunjukkan dengan waktu laju rambat eluen selama 35
menit. Karena dengan penambahan pelarut yang bersifat sedikit polar ke dalam
pelarut non polar akan meningkatkan harga Rf seperti pada nilai Rf= 0,75 pada
eluen E5.
Pemisahan analit pada fase diam berpindah bersama pelarut, jika molekul
analit tidak berikatan dengan permukaan silika gel. Golongan pelarut polar pada
etanol dapat bersaing dengan analit ekstrak daging buah pepino untuk membentuk
ikatan hidrogen dari gaya antarmolekuler pada permukaan silika gel. Oleh karena
itu, jika pelarut yang digunakan terlalu polar akan berinteraksi kuat dengan
permukaan silika gel dan akan meninggalkan tempat fase diam dengan
membebaskan ikatan hidrogen dengan analit tersebut. Analit akan bersaing
dengan fase gerak untuk saling berikatan akibat gaya antarmolekuler keduaya
dengan sisi-sisi polar pada permukaan adsorben (gugus OH). Dengan cara yang
sama, kelompok polar pelarut etanol dapat mengikat kuat dengan fungsional polar
pada analit dan menghalangi interaksi analit dengan permukaan silika gel.
Penampakan noda yang berwarna biru gelap pada E5 yang terdapat pada
plat ketika di sinari lampu UV max 254 nm disebabkan karena adanya daya
interaksi antara sinar UV dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada plat
silika gel GF (Gypsum Fluoresensi). Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan
emisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen pada plat yang mengandung
fuoresensi ketika elektron yang tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat
energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula dengan
melepaskan energi sehingga spot tampak berwarna gelap.
Ketika divisualisasi dengan sinar lampu max 366 nm, ekstrak pada plat
KLTA tidak menunjukkan adanya noda sama sekali pada eluen ke-1 sampai eluen
ke-7 (E1 s/d E7), sehingga perlu dilakukan visualisasi dengan reagen (pereaksi)
semprot untuk penampak noda seperti Marquis, Dragendorf dan Ninhidrin untuk
mengetahui adanya senyawa-senyawa alkaloid maupun senyawa-senyawa organik
seperti vitamin C. Pemilihan pereaksi ini didasarkan karena pada ekstrak kasar
pepino dengan pelarut etanol 70% dimungkinkan adanya senyawa alkaloid dan
vitamin C pada uji fitokimia (Husnah, 2009).
Hasil identifikasi noda dengan pereaksi Marquis dari ekstrak daging buah
pepino dengan variasi eluen dapat ditunjukkan pada Gambar 4.3 dan Tabel 4.2:

E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7


Gambar 4.3 Dokumentasi dan ilustrasi noda pada plat setelah disemprot dengan
pereaksi Marquis

Tabel 4.2 Nilai Rf dan warna noda pada KLTA setelah disemprot dengan Marquis.
Eluen (E) Jumlah Spot Nilai Rf Warna Noda Keterangan
E1 1 0,25 Coklat muda -
E2 1 0,50 Coklat muda -
E3 1 0 Coklat muda Akhir elusi
nampak bercak
merah
lembayung
E4 1 0,30 Coklat muda -
E5 1
2
0,31
0,75
Coklat muda
Coklat tua
kemerahan
-
E6 1 0,60 Coklat muda Akhir elusi
nampak bercak
merah
lembayung
E7 1 0 Coklat muda Akhir elusi
nampak bercak
coklat tua
Sumber: Hasil penelitian (2010).

Gambar 4.3 dan Tabel 4.2 menunjukkan adanya bercak berwarna merah
lembayung pada E3-E6-E7 yang diduga adanya golongan senyawa alkaloid,
namun pemisahannya tidak berlangsung dengan baik dan maksimal karena
kenampakan warna bercak noda terlihat pada akhir elusi. Spot yang berwarna
coklat pada plat KLTA disebabkan karena adanya senyawa-senyawa organik
seperti vitamin C (L-asam askorbat) pada ekstrak bereaksi dengan asam pekat
yang terdapat pada pereaksi Marquis (1 mL formaldehida dalam 10 mL H
2
SO
4

pekat) yang menghasilkan spot warna coklat.


Gambar 4.4 Reaksi pencoklatan vitamin C (L-asam askorbat) (Winarno, 2002: 43).


Gambar 4.4 merupakan reaksi pencoklatan yang dialami vitamin C (L-
asam askorbat) ketika dalam suasana asam. L-asam askorbat ketika disemprot
dengan asam pada pereaski Marquis membentuk asam L-Dehidroaskorbat,
kemudian cincin lakton asam L-Dehidroaskorbat terurai dengan membentuk suatu
senyawa asam L-diketoglutonat yang menghasilkan warna coklat pada ekstrak
yang terdapat di plat. Sehingga dapat dipastikan senyawa yang terdapat pada
ekstrak daging buah pepino mengandung senyawa vitamin C (L-Asam askorbat).


Berdasarkan hasil KLTA maka didapatkan eluen terbaik yang dapat
memisahkan komponen senyawa dengan menggunakan komposisi pelarut yaitu:
petroleum eter: n-heksana: metanol: kloroform: asam asetat (1:1:3:3:2) dengan
menghasilkan noda sebanyak 2 spot dengan nilai Rf
1
= 0,31 dan Rf
2
=0,75. Cara
mengetahui untuk memperkuat dugaan senyawa yang berpotensi sebagai
antioksidan maka dilakukan pemisahan lebih lanjut dengan menggunakan
pemisahan KLT Preparatif.

4.3.2 Pemisahan dengan KLT Preparatif
KLTP dilakukan untuk memisahkan campuran senyawa dari sampel dalam
jumlah besar berdasarkan fraksinya yang selanjutnya fraksi-fraksi tersebut
dikumpulkan dan digunakan untuk analisa berikutnya. KLTP dilakukan dengan
cara 1 tetes ekstrak ditotolkan pada plat silika gel GF
254
dengan ukuran 10x20 cm
secara horizontal (195 totol), sehingga menyerupai garis sepanjang plat pada
jarak 1 cm dari garis bawah dan 1 cm dari garis tepi setelah itu dikeringkan di
udara selama 10 menit. Ekstrak (195 tetes pipa kapiler) yang telah ditotolkan pada
plat dielusi dengan eluen terbaik dari hasil KLTA yaitu petroleum eter: n-heksana:
metanol: kloroform: asam asetat (1:1:3:3:2) yang selanjutnya divisualisasi dengan
lampu UV max 254 nm dan didapatkan 2 fraksi (fraksi A dan fraksi B).
Berikut adalah gambar dari KLTP ketika dilkakukan penotolan ekstrak
hingga didapatkan fraksi yang selanjutnya dikerok untuk dijadikan isolat pada
analisa berikutnya:


(a)




(b)



Fraksi B

Fraksi A


(c)


(d)

Gambar 4.5 (a) Ilustrasi penotolonan isolat pada plat KLTP, (b) Ilustrasi isolat
yang akan dikerok setelah di elusi dan di sinari lampu UV max 254
nm, (c) KLTP isolat ketika di UV max 254 nm dan (d) Noda pada
KLTP setelah dikerok.

Noda dikerok dari plat KLTP dan dilarutkan dengan 10 ml pelarut etanol
70% untuk melarutkan isolat dan disentrifugasi dengan kecepatan 1600 rpm
selama 15 menit untuk memisahkan filtrat dengan endapan. Filtrat isolat A dan
Filtrat isolat B kemudian di lakukan penimbangan untuk mengetahui berat
masing-masing isolat yang didapatkan dari plat KLTP. Berat isolat A adalah
0,0209 gram atau 20,9 mg dan berat isolat B adalah 0,0576 gram atau 57,6 mg.
Kemudian filtrat isolat daging buah pepino dilakukan uji aktivitas antioksidan
senyawa dan identifikasi FT-IR senyawa.






4.4 Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan dengan Metode DPPH
Antioksidan (antiradikal bebas) adalah bahan yang dalam kadar rendah
dapat mencegah terjadinya oksidasi dari substrat yang mudah teroksidasi (Ersam,
2006). Metode uji antioksidan dengan DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) dipilih
karena metode ini adalah metode sederhana, mudah, cepat dan peka serta hanya
memerlukan sedikit sampel untuk evaluasi aktivitas antioksidan dari senyawa
bahan alam sehingga digunakan secara luas untuk menguji kemampuan senyawa
yang berperan sebagai pendonor elektron atau hidrogen.
Pengukuran absorbansi kontrol yang digunakan pada penelitian ini adalah
larutan DPPH 0,2 mM tanpa penambahan sampel dan dilakukan pengukurannya
setiap akan melakukan pengukuran absorbansi sampel agar dapat memberikan
kestabilan sistem pengukuran pada saat pengukuran.
Perubahan warna yang dihasilkan dari kontrol DPPH, isolat A, isolat B
dan pembanding BHT dapat dilihat pata Tabel 4.3 berikut:

Tabel 4.2 Data pengamatan uji aktivitas senyawa antioksidan
No.
Sampel
Perubahan Warna
Sebelum
diinkubasi
Setelah
diinkubasi
Setelah
pengukuran
absorbansi
1. Kontrol DPPH 0,2 mM Ungu Ungu
kemerahan
Ungu pekat
2. Isolat A Ungu Sedikit
kekuningan
Kuning
3. Isolat B Ungu Sedikit
kekuningan
Sedikit
kekuningan
4. Pembanding BHT 12,23 ppm Sedikit
kekuningan
Kuning Kuning
Sumber: Hasil penelitian (2010).
Kontrol DPPH 0,2 mM pada uji aktivitas antioksidan sebelum diinkubasi
berwarna ungu, perubahan terjadi setelah diinkubasi menjadi ungu kemerahan dan
setelah pengukuran absorbansi warna kontrol DPPH semakin ungu pekat. Hal ini
disebabkan karena elektron yang tidak berpasangan pada DPPH memiliki
kemampuan penyerapan yang kuat pada panjang gelombang 517 nm dengan
warna ungu.
Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH dari filtrat isolat A, isolat
B dan pembanding BHT mengalami penurunan warna dari warna ungu menjadi
kuning. Perubahan warna terjadi pada isolat A dan isolat B sebelum diinkubasi
dengan warna ungu, namun setelah di inkubasi berwarna ungu kekuningan
(sedikit keunguan) dan setelah dilakukan pengukuran absorbansi isolat A
berwarna kuning sedangkan isolat B berwarna ungu kekuningan sama ketika
sesudah diinkubasi. Pembanding BHT berwarna ungu kekuningan sebelum
diinkubasi, kemudian berubah warna menjadi kuning setelah diinkubasi dan
setelah pengukuran absorbansi. Perubahan warna ungu menjadi kuning seiring
dengan menurunnya absorptivitas molar dari molekul DPPH karena elektron yang
tidak berpasangan dengan adanya pemberian atom hidrogen dari antioksidan
membentuk DPPH-H tereduksi. Aktivitas penangkapan radikal bebas/antiradikal
ditunjukkan dengan presentase berkurangnya warna ungu dari DPPH.
Pengukuran absorbansi persen (%) aktivitas senyawa antioksidan yang
dihasilkan dari masing-masing sampel sesuai pada Tabel 4.3 :




Tabel 4.3 Persen aktivitas senyawa antioksidan
No. Sampel
Ulangan nilai absorbansi
Total Rerata
% Akttivitas
Antioksidan Ke-1 Ke-2 Ke-3
1.
KontrolA 0,2758 0,2752 0,2756 0,8266 0,2756
76,56
Isolat A 0,0646 0,0647 0,0646 0,1939 0,0646
2.
Kontrol B 0,2761 0,2766 0,2784 0,8311 0,2770
77,73
Isolat B 0,0619 0,0618 0,0612 0,1849 0,0617
3.
Kontrol C 0,2724 0,2709 0,2712 0,8145 0,2715
97,16
BHT 12,23 ppm 0,0078 0,0078 0,0073 0,0229 0,0077
Sumber: Hasil penelitian (2010).

Nilai persen (%) aktivitas antioksidan penangkap radikal DPPH masing-
masing isolat menunjukkan bahwa isolat B mempunyai aktivitas antioksidan
penangkap radikal yang relatif lebih tinggi dibandingkan isolat A dengan nilai %
akttivitas antioksidan isolat A sebesar 76,56 % dan isolat B 77,73 %. Dari %
aktivitas antioksidan tiap-tiap isolat, isolat B merupakan isolat yang mempunyai
potensi % aktivitas antioksidan teringgi dari pada isolat A. Senyawa yang
dimungkinkan terdapat pada isolat B adalah vitamin C, sesuai hasil data KLTA
adalah termasuk senyawa antioksidan dengan menyumbangkan atom hidrogennya
pada radikal DPPH sehingga radikal DPPH menjadi DPPH-H diamagnetik, karena
adanya elektron yang berpasangan maka DPPH-H tidak bersifat radikal bebas.
Mekanisme reaksi vitamin C ketika bereaksi dengan molekul DPPH adalah
sebagai berikut:





+
CH
3
C(CH
3
)
3
(H
3
C)
3
C
OH
BHT
DPPH
N N
O
2
N
O
2
N
NO
2
N
H
N
O
2
N
O
2
N
NO
2
DPPH-H
CH
3
C(CH
3
)
3
(H
3
C)
3
C
O
+
RadikalPhenoxy
N N
O
2
N
O
2
N
NO
2 +
N
H
N
O
2
N
O
2
N
NO
2
+
N N
O
2
N
O
2
N
NO
2 +
N
H
N
O
2
N
O
2
N
NO
2
+
N N
O
2
N
O
2
N
NO
2
+
N
H
N
O
2
N
O
2
N
NO
2
+
L-AsamAskorbat
Radikal L-Askorbil
Dehidro-L-AsamAskorbat
Radikal L-AsamAskorbat
DPPH-H
DPPH-H
DPPH-H
O
O
HO
HO
HO OH
O O
HO
HO
HO O
O O
HO
HO
HO O
O O
HO
HO
O O
O O
HO
HO
O O
O
O
HO
HO
O O
DPPH
DPPH
DPPH
Radikal L-AsamAskorbat
Radikal L-Askorbil












Gambar 4.6 Reaksi DPPH dengan vitamin C (L-Asam Askorbat) (Nishizawa, 2005)

Pembanding BHT (antioksidan sintesis) mempunyai nilai % aktivitas
antioksidan tertinggi dibandingkan dengan isolat (antioksidan alami) yaitu sebesar
97,16 %. Mekanisme aktivitas antioksidan BHT yang bereaksi dengan DPPH
sebagai berikut:





Gambar 4.7 Reaksi DPPH dengan BHT (Brand-Williams, 1995)
Berdasarkan mekanisme reaksi yang terjadi pada senyawa antioksidan
vitamin C dan BHT, maka dapat dikatakan bahwa senyawa antioksidan
mempunyai sifat yang relatif stabil dalam bentuk radikalnya pada senyawa-
senyawa polar.

4.5 Identifikasi FT-IR Senyawa pada Isolat B
Isolat yang terbaik dari ekstrak daging buah pepino adalah isolat B yang
mempunyai nilai persen aktivitas tertinggi terhadap radikal DPPH yang di
dalamnya terkandung senyawa vitamin C. Vitamin C pada ekstrak adalah suatu
senyawa yang diduga dari hasil KLTA yang dan diuji aktivitas antioksidannya
kemudian untuk memperkuat asumsi bahwa ektrak pada daging buah pepino
terdapat senyawa vitamin C (L-asam askorbat) maka dilakukan uji identifikasi
FT-IR.
Identifikasi FT-IR senyawa isolat B dari spektra IR dilakukan dengan
memperhatikan pola dan puncak serapan spektrum isolat yang memberikan
informasi tentang karakteristik gugus fungsi dalam isolat B dengan menggunakan
standart spektra IR 5 % vitamin C dalam larutan triglisin sulfat [(NH
2
CH
2
-
COOH)
3.
H
2
SO
4
]. Berikut spektra yang dihasilkan dari standart vitamin C dan
isolat B:




500 750 1000 1250 1500 1750 2000 2500 3000 3500 4000
1/cm
-20
0
20
40
60
80
100
120
%T
3
3
8
2
.
9
1
2
9
7
5
.
9
6
2
8
9
7
.
8
5
1
6
4
5
.
1
7
1
4
5
1
.
3
3
1
4
2
2
.
4
0
1
3
8
2
.
8
7 1
3
2
7
.
9
0
1
2
7
3
.
9
0
1
0
8
7
.
7
8
1
0
4
7
.
2
7
8
7
9
.
4
8
6
4
9
.
0
0
ISOLAT PEPINO

















Gambar 4.8 Spektra vitamin C (Linet, et al., 2008)




















Gambar 4.9 Spektra isolat B (Hasil penelitian, 2010)


Hasil interpretasi spektra FT-IR isolat B dari ekstrak daging buah pepino
dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4 Interpretasi spektra FTIR dari isolat B ekstrak daging buah pepino
No. Bilangan Gelombang (cm
-1
)
Intensitas Keterangan Isolat B Vitamin C Range
Korelasi
1. 3382,91 3434 3600-3300 Melebar Vibrasi uluran

2. 2975,96 - 2985-2965* Kuat Vibrasi uluran dari

3. 2897,85 - 2820-2900 Kuat Vibrasi uluran
dari alifatik
4. 1645,17 1715 1640-1820 Sedang Vibrasi uluran dari
konjugat C=O
5. 1451,33 - 1480-1440* Sedang Vibrasi tekukan

6. 1422,40 - 1452-1375 Sedang Vibrasi tekukan

7. 1382,87 1413 1410-1350* Lemah Vibrasi tekukan dari

8. 1327,90 - 1410-1350* Lemah Vibrasi tekukan dari

9. 1273,90 - 1290-1030* Lemah Vibrasi uluran

10. 1087,78 1110 1150-1060* Sedang Vibrasi uluran
asimetri dari

11. 1047,27 - 1085-1030* Sedang Vibrasi uluran dari

12. 879,48 - 1000-850 Kuat Vibrasi keluar
bidang dari

13. 649 - 700-600* Melebar Vibrasi tekukan
keluar bidang
* Socrates , Sastrohamidjojo, Fessenden.

Adanya ikatan hidrogen menyebabkan puncak melebar dan terjadi
pergeseran kearah bilangan gelombang yang pendek. Resapan OH terlihat sebagai
pita runcing melebar pada 3382,91 cm
-1
(3600-3300 cm
-1
). Sedangkan dua pita
utama 2897,85 cm
-1
dan 2975,96 cm
-1
menunjukkan bahwa adanya vibrasi uluran
dari alifatik dan vibrasi uluran dari .
Gugus C=O umumnya telihat didaerah serapan 1715 cm
-1
, bila
trekonjugasi dengan ikatan rangkap dua maka C=O terlihat pada frekuensi yang
lebih rendah disekitar daerah 1640-1820 cm
-1
yang terlihat pada spektra isolat
yaitu didaerah 1645,17 cm
-1
. Hal ini disebabkan adanya resonansi yang dapat
memperpanjang ikatan C=O sehingga mengurangi tetapan gaya K dan serapan
bergeser ke frekuensi yang lebih kecil. Sehingga, vibrasi uluran karbonil (C=O)
dari terlihat didaerah 1645,17 cm
-1
dengan menunjukkan serapan pita yang kuat.
Tetapan gaya (K = tetapan gaya untuk ikatan) untuk ikatan tunggal adalah = 2-8
10
5
dyne/cm, sedangkan untuk ikatan ganda = 8-12 10
5
dyne/cm dan untuk
ikatan rangkap tiga = 12-18 10
5
dyne/cm. Semakin besar tetapan gaya (K) pada
suatu ikatan menyebabkan frekuensi vibrasi semakin besar.
Daerah 1451,33 cm
-1
memberikan puncak yang sedang dengan kisaran
1480-1440 cm
-1
terdapat vibrasi tekukan dari gugus

. Daerah 1422,40 cm
-1
merupakan vibrasi tekukan yang dimungkinkan berasal dari pelarut isolat
yang ikut terserap (etanol 70%). Puncak yang lemah pada daerah 1382,87 cm
-1
dan 1327,90 cm
-1
adalah vibrasi tekukan dari gugus atau alkohol
sekunder, sedangkan 1273,90 cm
-1
dengan puncak yang lemah diperkirakan
terdapat vibrasi uluran .
Daerah serapan 1087,78 cm
-1
merupakan vibrasi uluran asimetri dari
dan gugus C-O pada terlihat didaerah serapan 1047,27 cm
-1

yang terletak dalam daerah sidik jari (1085-1030 cm
-1
dan 1050-1260 cm
-1
).
Oksigen bersifat elektronegatif sehingga uluran akan menyebabkan perubahan
besar dalam momen ikatan yang menyebabkan resapan C-O kuat.
Pita yang kuat pada 879,48 cm
-1
disebabkan oleh deformasi keluar bidang
dari gugus tak jenuh (alkena) dengan overtone yang lemah pada 1800 cm
-1
akibat
dari gerakan keluar bidang atom-atom hidrogen pada ikatan rangkap. Pita-pita
yang paling kuat dalam spektrum terletak diantara 1200-1000 cm
-1

yang
disebabkan oleh eter C-O-C. Pada daerah 879,48 cm
-1
dengan kisaran daerah
1000-850 cm
-1
terdapat vibrasi keluar bidang dari ikatan rangkap . Ikatan
C=C merupakan ikatan rangkap dan tidak polar, uluran ini hanya mengakibatkan
perubahan kecil dalam momen ikatan sehingga absorbsi yang terjadi sangat
lemah.
Berdasarkan hasil pengamatan spektra FT-IR dapat diketahui bahwa
karakteristik gugus fungsi yang terdapat pada isolat B identik dengan gugus
fungsi yang terdapat pada vitamin C (standart). Dengan ditunjukkan adanya
gugus , C=O, , dan daerah sidik jari (fingerprint region)
terlihat pada daerah sebelah kanan 1400 cm
-1
(900-1400 cm
-1
) antara spektra isolat
B dengan vitamin C (standart).
Berikut gambar struktur senyawa vitamin C (L-asam askorbat)
diasumsikan yang terdapat pada isolat B:


Gambar 4.10 Struktur senyawa L-asam askorbat (vitamin C) (Silalahi, 2006: 17).














4.6 Pemanfaatan Buah Pepino dalam Perspektif Islam
Allah SWT menciptakan alam semesta dan segala sesuatu semata-mata
untuk makhlukNya. Salah satu ciptaan Allah SWT yang memberikan manfaat
kepada manusia adalah buah-buahan. Buah pepino sangat beragam dalam hal
ukuran dan bentuk buahnya, keberagaman ini merupakan salah satu kebesaran
Allah SWT yang sesuai pada QS. Al Hijr ayat 19:
_{ ! !)9 ! !., ! . `: `

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya
gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran
(QS. Al Hijr: 19).

Keberagaman buah pepino merupakan salah satu bukti tanda kebesaran
Allah SWT yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sangat sempurna dari
segi bentuk, ukuran, warna, daun, buah, batang dan bunga tanaman. Seperti
halnya pada penelitian ini, bahwa dalam 250 gram buah pepino yang telah
diekstrak dengan pelarut etanol 70% menghasilkan ekstrak daging buah pepino
sebesar 8,8201 gram ekstrak. Dari ekstrak tersebut, menghasilkan senyawa yang
berpotensi sebagai antioksidan, dengan persen aktivitas antioksidan tertinggi
77,73 % kemudian di lakukan identifikasi senyawa ekstrak daging buah pepino
mengandung senyawa vitamin C (L-asam askorbat) yang baik dikonsumsi
buahnya untuk kesehatan. Hal ini membuktikan bahwa Allah SWT menciptakan
segala sesuatu menurut ukuran yang tepat di alam ini dengan manfaatnya sesuai
hikmah, kebutuhan dan kemaslahatan makhluk.

Dalam hadits riwayat At Tirmidzi:







.||, | |., ,= -,- = _= _| .


"Rosululloh SAW pernah makan mentimun dengan ruthab"(HR. At
Tirmidzi dan yang lain).

Suatu temuan ilmiah yang diperoleh dari pengamatan laboratorium dari
suatu tanaman masing-masing memiliki kesamaan dilihat dari sisi luar sisi dalam.
Seperti halnya buah pepino (Solanum muricatum Aiton) dari luar seperti terung
yakni termasuk famili Solanaceae (terung-terungan) dan pohonnya seperti buah
tomat, kandungan dalam buah juga menyerupai buah tomat, yaitu: memiliki kadar
air yang cukup tinggi 95% dan setelah dilakukan penelitian mengandung vitamin
C. Kadar air yang tinggi pada daging buah pepino seperti halnya pada buah tomat,
buah semangka, mentimun dan buah-buahan yang mengandung banyak air
lainnya, maka dapat dikonsumsi sebagai makanan dan minuman yang mampu
mengurangi rasa dahaga.
Seperti penelitian yang dilakukan oleh para ahli kedokteran Arab kuno
telah menjadikan mentimun sebagai penghilang kering di tenggorokan dan rasa
haus, tekanan darah, menyembuhkan penyakit kuning, meredakan sakit kepala,
membuka penutupan hati, melancarkan buang air kecil, dan menghancurkan batu
ginjal. Sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW jika beliau memakan mentimun,
akan mengimbanginya dengan memakan Ruthab (buah yang segar, nikmat, enak
ketika sudah masak sehingga menjadi lunak dan lezat).


Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Imron ayat 190-191 dan
QS. Al Baqarah ayat 269 memberikan hidayahNya bagi manusia yang berusaha
untuk berfikir dan memahami akan keindahan alam semesta sebagai manfaat bagi
kehidupan:
| ,=> ,.9 _{ #=.> 9 !]9 <`{ ,9{ %!
`. < !% `-% ?s ,``> `6. ,=> ,.9 _{ !, !
)=> L, 7>, !) ,s !9

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk
atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini
dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka
(QS. Al Imron: 190-191).

.` 6>9 '!: ,` 6>9 ) . > .2 ! `2 | 9`
,9{

Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al
Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa
yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang
banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil
pelajaran (dari firman Allah) (QS. Al Baqarah: 269).

Segala sesuatu yang dimanfaatkan di dunia ini adalah suatu pemikiran
akal dalam mengolah sumber daya alam yang merupakan anugerah dari Allah
SWT bagi seluruh umat manusia. Al Quran merupakan pedoman bagi manusia
sebagai dalil Aqliyah (penalaran akal/ Naqliyah: Al Quran dan Al Hadis).
Ilmu yang dipelajari dengan manusia dengan benar dan manfaat
merupakan suatu Hikmah yaitu kemampuan memahami dan mendalami
kebenaran ajaran dan petunjuk dari Allah SWT yang telah dianugerahkan kepada
manusia dengan menggunakan akalnya (Wardhana, 2006:49).
Mengamati ciptaan Allah SWT dilangit dan dibumi serta segala sesuatu
yang ada didalamnya merupakan kegiatan ilmiah yang merupakan ibadah
kepadaNya dan sejalan dengan Al Quran. Hasil-hasil pengamatan alam yang
rasional seperti pada penelitian ini bahwa buah pepino mengandung senyawa
antioksidan yaitu asam askorbat (vitamin C) yang dapat dikonsumsi sebagai
makanan maupun digunakan sebagai obat.
Vitamin C merupakan suatu zat pada buah pepino yang mampu
memberikan manfaat sebagai senyawa antioksidan (zat yang mampu mencegah
terjadinya proses oksidasi). Antioksidan pada makanan akan mampu menghambat
senyawa-senyawa reaktif pada tubuh manusia (seperti; radikal bebas dari
lingkungan yang meliputi; rokok, ozon, sinar ultraviolet) yang mengakibatkan
penyakit kronis atau akut. Dengan adanya zat-zat yang bermanfaat pada buah
pepino maka dapat dijadikan makanan yang baik untuk dikonsumsi oleh manusia
karena mampu mencegah berbagai penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Sebagaimana Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari
hadits Abu Zubair yang meriwayatkan dari Jabir Bin Abdulloh (Al Jauziyah,
2009: 34) bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
- - = .., , =| . .,= . . . |
Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat diberikan, dengan
izin Allah, penyakit itu akan sembuh (HR. Ahmad dan Hakim).
Vitamin C dapat berbentuk L-asam askorbat dan asam L-
dehidroaskorbat yang keduanya mempunyai keaktifan sebagai vitamin C. Asam
askorbat sangat mudah teroksidasi secara reversibel menjadi asam L-
dehidroaskorbat. Secara kimia, asam L-dehidroaskorbat sangat labil dan dapat
mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam L-diketoglutonat yang tidak
mempunyai keaktifan vitamin C lagi (zat antioksidan). Reaksi tersebut
menunjukkan bahwa vitamin C akan mempunyai kemampuan sebagai obat
apabila di perlakukan secara baik dan benar dalam hal perlakuan sampel untuk
memisahkan senyawa vitamin C.
Begitu juga penggunaan vitamin C yang akan dikonsumsi sebagai obat
ketika dimanfaatkan untuk mengobati penyakit. Vitamin C harus dipergunakan
dengan sesuai menurut menurur dosisnya. Karena, obat yang diberikan melebihi
dosis atau tidak sesuai dengan penyakitnya dapat menimbulkan jenis penyakit
lain. Jika dosis yang diberikan kurang dari yang dibutuhkan, maka tidak akan
cukup untuk menyembuhkan penyakit. Namun, jika dilakukan dengan
penanganan yang tepat dan sesuai dosis maka Insyaallah biidznillah akan
sembuh.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al A'raf ayat 31:
_, > /3. s . >`. =2 ,. . | > .9

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (QS. Al A'raf: 31).

Senyawa vitamin C dalam buah pepino dapat berfungsi sebagai obat yaitu
sebagai zat antioksidan apabila masih dalam batas konsentrasi tertentu yaitu
minimal 60 mg/hari. Apabila melebihi batas konsentrasi tersebut maka aktivitas
sebagai antioksidan dapat berubah menjadi prooksidan sehingga dapat
mendatangkan efek negatif, seperti munculnya penyakit kanker, terutama untuk
penggunaan di atas ambang batas. Oleh karena itu Allah SWT melarang
hambanya untuk berlebih-lebihan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
| !. 3, 9 `.6: 3{ 9 n2 | s :9

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"( QS.
Ibrahim: 7).

Manfaat buah pepino dalam segi kesehatan mempunyai nilai positif bagi
kehidupan dari penelitian yang telah dilakukan. Dengan memanfaatkan buah
pepino sebagai makanan dan obat bagi kehidupan, maka kesehatan akan terjaga
dan mencegah adanya penyakit. Agama islam memerintahkan umat muslim untuk
menggunakan obat dan upaya-upaya penyembuhan yang tidak bertentangan
dengan kodrat ketergantungan manusia (tawakal) kepada Allah SWT. Dari usaha-
usaha manusia memperhatikan dengan seksama segala ciptaan Allah SWT bahwa
menganalisis buah pepino dan memanfaatkannya dengan bijaksana maka akan
menambah rasa kagum akan kesempurnaan kekuasaanNya dan rasa syukur
kepadaNya sehingga Allah SWT akan menambah nikmatNya.

Sebagaimana firman Allah SWT pada QS. An Nahl ayat 114:
=3 ! `6% < => !,L `6: - < | `.. !| ,-.

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan
Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja
menyembah (QS. an Nahl: 114).

Berdasarkan QS. An Nahl ayat 114 maka buah pepino merupakan buah
halal dan baik untuk dikonsumsi secara aman yang artinya tidak menyebabkan
penyakit dan aman untuk digunakan sebagai sumber makanan secara duniawi dan
ukhrawi. Karena buah pepino memberikan manfaat sebagai sumber makanan yang
mengandung zat antioksidan selama konsumen tidak melebihi batas (tabdzir).
Allah SWT memerintahkan untuk makan makanan halal lagi baik yang
ada di alam untuk manusia. Sepertti buah pepino yang mempunyai manfaat
sebagai antioksidan yang dapat mencegah penyakit degenerativ merupakan suatu
makanan yang dapat dikonsumsi dan digunakan sebagai sumber obat bagi
manusia. Manusia memanfaatkan buah pepino dan seluruh alam dengan baik
maka kewajiban manusia kepada Allah SWT adalah bersyukur atas segala nikmat
dan karuniaNya, sebagai tanda manusia yang bertaqwa dengan salah satu bentuk
ibadah kepada TuhanNya. Karena bersyukur merupakan cara untuk
memanfaatkan segala karunia Allah SWT sebagaimana mestinya.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Eluen terbaik dalam pemisahan senyawa antioksidan hasil ekstrak etanol
70% pada daging buah pepino (Solanum muricatum Aiton) dengan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Analitik menggunakan fase diam silika
gel GF
254
adalah

petroleum eter: n-heksana: metanol: kloroform: asam
asetat (1:1:3:3:2).
2. Jenis golongan senyawa fraksi dari kadar aktivitas antioksidan tertinggi
pada ekstrak daging buah pepino (Solanum muricatum Aiton) adalah isolat
B (77,73 %) dari pada isolat A (76,56 %), sehingga isolat B dilakukan uji
identifikasi karakteristik gugus fungsi senyawa. Golongan senyawa yang
terdapat di dalam isolat B adalah vitamin C (L-asam askorbat). Hal ini
berdasarkan hasil pemisahan KLTA dan KLTP pada eluen terbaik
didapatkan spot berwarna biru kehitaman pada Rf=0,75 ketika
divisualisasi dengan sinar UV 254 nm dan hasil identifikasi gusus fungsi
spektrofotometer FTIR pada isolat A adalah gugus , C=O, ,
yang merupakan gugus karakteristik pada vitamin C.




5.2 Saran
Adapun saran dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Perlu adanya penelitian tentang identifikasi golongan senyawa yang
terdapat pada isolat A dari ekstrak daging buah pepino (Solanum
muricatum Aiton)
2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk uji aktivitas antioksidan pada
beberapa jenis buah pepino selain buah pepino ungu.






























DAFTAR PUSTAKA

Abdilbarr, A. 2007. Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Dalam Pertanian dalam
Tafsir Karimir Rohman Fi Tafsir Kalamil Manan. 200M / 1420 H.
Abdur Rohman as-Sady. Maktabah an-Nubala.
http://abuabdilbarr.wordpress. com/2007/06/20/tanda-tanda-kekuasan-
alloh-subhanahu-wa-ta%E2% 80%99ala-dalam-pertanian. Tanggal
Akses 9 Januari 2009.


Ahmad, I. 2003. Peringatan Bagi (Reminders for People of Understanding),
www.imtiazahmad.com. Tanggal Akses 21 Agustus 2008.

Al jauziyah, I.Q. 2009. Praktek Kedokteran Nabi (Penyembuhan Dibawah
Bombingan Wahyu). Yogyakarta: Hikam Pustaka.

Anonymous
a
. 2007. Pepino (Solanum muricatum Aiton) Sang Buah Ajaib,
http://www.pepino. uni.cc/ Katalog Produk : Bibit Buah-Pepino-
(Melodi)-Buah Berkhasiat Obat. Tanggal akses 22 Januari 2008.

Anonymous
b
. 2007. El Pepino Dulce y su Cultivo Por Contenidos de Infoagro,
http//:www.infoagro .com, Multimedios Ambiente Ecolgico - MAE.
ISSN 16683358www.mae. org.ar/ info@mae.org.ar, Tanggal akses 19
Februari 2008.

Anonymous
c
. 2008. Thin Layer Chromatography. http//:www.siggy.chem.
ucla.edu /VOH/136/TLC.pdf. Tanggal akses 12 juni 2008.

Arsyad, N. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Ilmiah. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

As Sayyid, A.B.M. 2006. Pola Makanan Rosulullah; Makanan Sehat Berkualitas
Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jakarta: Almahira.

Asy Syanqithi, S. 2007. Tafsir Adhwa'ul Bayan. Jakarta: Pustaka Azzam.

Auterhooff, H. and Kovar, KA. 1987. Identifikasi Obat - 215 Gambar
(Kromatografi Lapis Tipis dan Spektrum IR) dan 17 Tablet. Bandung:
Penerbit ITB.

B.P p.i.c. 2003. Ethyl Acetate CAS No. 141-78-6 IUPAC Name: Ethyl Ethanoate.
USA: Technical Service and Development.


Brand-williams, W.etc.1995. Use of S Free Radical Method To Evaluate
Antioxidant Activity. Lebensmittel-Wissenschaft Und Technologie.
Dalam Ratmo. 2007. Potensi Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper
Crocotum) Sebagai Antioksidan. www.kimiabrawijaya.ac.id.

Daintith, J. 1994. Kamus Lengkap Kimia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Dewi, CD. 2005. Kimia Analitik Teori Dasar dan Penerapannya. Malang:
Universitas Islam Negeri.

Effendi. 2006. Teori VSEPR, Kepolaran dan Gaya Antarmolekul Edisi 2.
Malang: Bayu Media.

Ervina, M. dkk. 2008. Isolasi Senyawa Antioksidan dari Rimpang Temu Ireng
(Curcuma aeruginosa Roxb.). http://www.lppm.wima.ac.idmarta_1.
pdf. Tanggal akses 11 Maret 2008.

Fachriyah, E., Kerniawan A., Gnardi dan Meiny. 2006. Senyawa Kimia Fraksi
Metanol Rimpang Bingle (Zibgiber Cassumunar Roxb.),
http://mediamedika.net/modulus/php?name=jurnal&file. Tanggal Akses
11 Maret 2008.

Fanani, Z. 2007. Kandungan Gizi Buah Pepino. http://www.pepinomalang.
multiply.com/journal. Tanggal akses 22 Januari 2008.

Fessenden, R.J., Fessenden, J.S., 1982, Kimia Organik Jilid 1, Jakarta: Erlangga



Firdaus, R. 2007. Makalah Seminar Literatur JHD, Aktivitas Antioksidan Teh
Cair yang Berasal dari Oregano, Thyme, dan Wild Thyme,
http://www.damandiri.or.id/file/muhamadsamsiipbbab1.pdf. FMIPA
UNAND. Tanggal akses 11 Maret 2008.

Giwangkara, S, EG. 2006. Aplikasi Logika Syaraf Fuzzy Pada Analisis Sidik Jari
Minyak Bumi Menggunakan Spetrofotometer Infra Merah -Transformasi
Fourier (FT-IR). Sekolah Tinggi Energi dan Mineral, Cepu - Jawa
Tengah, http://www.wikipedia.com. Tanggal Akses 25 Oktober 2007.


Gordon, M.H. 1990. The Mechanism of Antioxidants Action In Vitro. Di dalam:
B.J.F. Hudson, editor. Food Antioxidants. Elsivier Applied Science,
London.Gritter R.J., 1991, Dalam Term Paper Trilaksani W., 2003,
Antioksidan: Jenis, Sumber, Mekanisme Kerja dan Peran Terhadap
Kesehatan. http://fa.lib.itb.ac.id/go.php?id =jbptitbfa-gdl-s2-1992-
marlina-63, Institut Pertanian Bogor, Tanggal akses 20 Februari 2008

Gritter, R.J. 1991. Pengantar Kromatografi. Penterjemah : Kosasih Padmawinata.
Edisi Kedua. Bandung: ITB.

Green, R.J. 2004. Antioxidant Activity of Peanut Plant Tissues. Thesis,
Department of Food Science,North Caroline State University, Raleigh.
dalam Ratmo. 2007. Potensi Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper
Crocotum) Sebagai Antioksidan. www.kimiabrawijaya.ac.id. Tanggal
akses 27 Desember 2009.

Gurav, S. N. Deshkar, V. Gulkari, N. Duragkar, Dan A. Patil. 2007. Free Radical
Scavengeng Activityof. Polygala chinensis Linn, Pharmacologyonline, 2
: 245-253. dalam Ratmo. 2007. Potensi Ekstrak Daun Sirih Merah
(Piper Crocotum) Sebagai Antioksidan. www.kimiabrawijaya.ac.id.
Tanggal akses 27 Desember 2009.

Hamilton. 1983. The Mechanism of Antioxidants Dalam Term Paper Trilaksani
W. 2003. Antioksidan: Jenis, Sumber, Mekanisme Kerja dan Peran
Terhadap Kesehatan. http://fa.lib.itb.ac.id/go.php?id =jbptitbfa-gdl-s2-
1992-marlina-63. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Tanggal akses 20
Februari 2008.

HAM, M. 2006. Kamus Kimia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
HAM, M. 2006. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi Aksara.

Hanani, E., dkk. 2005. Identifikasi Senyawa Antioksidan dalam Spons
Callyspongia sp dari Kepulauan Seribu. Majalah Ilmu Kefarmasian,
Vol. II, No.3. Desember 2005, 127 133. FMIPA-UI. Depok: UI.
Tanggal akses 20 Februari 2008.


Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB.

Hartati, S. dan Ersam, T. 2006. Dua Senyawa 4-fenilkumarin pada Fraksi Non
Polar dari Ekstrak Etil Asetat Batang Garcinia balica miq. (Mundu
Alas). Kelompok Penelitian Kimiawi Tumbuhan ITS, Jurusan Kimia,
Surabaya: FMIPA ITS. http://www. beckers@chem.its.ac.id. Tanggal
akses 19 Februari 2008.

Hayati, E. 2007. Dasar-Dasar Analisis Spektroskopi. Malang: Universitas Islam
Negeri Malang.

Hostettmenn. 1995. Cara Kromatografi Preparatif: Penggunaan pada Isolasi
Senyawa Alam. Penerjemah Kosasih Padmawinata. Bandung: ITB,


Husnah, M. 2009. Uji Aktifitas dan Identifikasi Golongan Senyawa Antioksidan
Ekstrak Kasar Buah Pepino (Solanum muricatum Aiton) Berdasarkan
Variasi Pelarut. Malang: Univesrsitas Islam Negeri Malang.

International Plant Genetic Resources Institute. 2004. Descriptors for (Solanum
muricatum). IPGRI is a Future Harvest Centre supported by the
Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR)
IPGRI COMAV. Italy Spain. www.futureharvest.org. Tanggal akses 19
Februari 2008

I. Snchez Vega. 1998. Andean Fruits. Peru: National University of Cajamarca.
www. andeanfruits.org. Tanggal akses 19 Februari 2008.

Khopkar. 1990. Konsep Dasar Analitik. Jakarta: UI Press.

Lenny, S.. 2006. Senyawa Terpenoide dan Steroida. Sumut: USU Repository.
http://library.usu.ac.id/download/fmipa/06003488.pdf-senyawa. Tanggal
akses 06 Desember 2007.

Linet, J. M. 2008. Dielectric And Microhardness Studies On L-Citrulline And
Lascorbic Acid Admixture Tgs Crystals. Department of Physics. Loyola
College. India. Published online 30 May 2008. www.crystalresearch.
com crt ab43 806 a. Tanggal akses 27 Desember 2009.

Mahran, J., dan Mubasyir, A.A.H. 2006. Al-Qur'an Bertutur Tentang Makanan
Dan Obat-Obatan. Penerjemah: Irwan Raihan. Yogyakarta: Mitra
Pustaka.

Martelli, A., and Nano, GM. 1967. Farmaco dalam Text Book Chapter III
Aplication of Analytical Techniques to the Identification and Assay of
Ascorbic Acid Related Compounds. http://prr.hec.gov.pk/Chapters/665-
3.pdf. Tanggal Akses 01 Desember 2008.

Nishizawa, etc.. 2005. Non Reductive Scavenging Of 1,1-Diphenyl-2-
Picrylhidrazyl (Dpph) By Peroxyradical: a useful method for
quantitative analysis of peroxyradical, japan, published online.
www.53_714-DPPH&ASCORBAT=print.pdf. Tanggal akses 21 Mei
2009.

Sarno dan Purnama D.A. 2005. Pepino Buah Mewah Berkhasiat Obat.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Prakash A. 2001, Medhalin Laboratories Analytical Progress,
http://medlab.com/file.aspx?field=56. Tanggal akses 25 Januari 2006.

Prakash, A. 2001. Antioxidant Activity. Medallion Laboratories Analytical
Progress,Takes you into the Heart of a Giant Resource Volume 19
Number 2. http//:www.medlabs.com/file.aspx?FileID=56. Tanggal
akses 12 juni 2008.




Pratt, D.E. dan B.J.F. Hudson. 1990. Natural Antioxidants not Exploited
Comercially. Di dalam: B.J.F. Hudson, editor, Food Antioxidants.
Elsevier Applied Science. London. Dalam Term Paper Trilaksani W.,
2003. Antioksidan: Jenis, Sumber, Mekanisme Kerja dan Peran
Terhadap Kesehatan. http://fa.lib.itb.ac.id/go.php?id =jbptitbfa-gdl-s2-
1992-marlina-63, Institut Pertanian Bogor, Tanggal akses 20 Februari
2008


Pratt, D.E. 1992. Natural Antioxidants From Plant Material. Di dalam: M.T.
Huang, C.T. Ho, dan C.Y. Lee, editor. Phenolic Compounds in Food and
Their Effects on Health H. American Society, Washington DC. Dalam
Term Paper Trilaksani W. 2003. Antioksidan: Jenis, Sumber,
Mekanisme Kerja dan Peran Terhadap Kesehatan.
http://fa.lib.itb.ac.id/go.php?id =jbptitbfa-gdl-s2-1992-marlina-63,
Institut Pertanian Bogor. Tanggal akses 20 Februari 2008.

Ratmo. 2007. Potensi Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper Crocatum) Sebagai
Antioksidan. Skripsi Jurusan Kimia. Fakultas MIPA. Universitas
Brawijaya. Malang. www..brawijaya.ac.id /bss-ub /proceeding
/PDF%20FILES /BSS_ 205_ 1 p. Tanggal akses 27 Desember 2009.


Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerjemah: Kosasih
Padmawinata. Bandung: Penerbit ITB.

Rohman, A., dan Gandjar, IG. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta::
Pustaka Belajar.

Sastrohamidjojo, H. 2005. Kromatografi. Yogyakarta: Penerbit Liberty.

Sastrohamidjojo, H. 2001. Spektroskopi. Yogyakarta: Liberty.

Shihab, M.Q. 2002. Tafsir Al-Mishbah (Pesan Kesan dan Keserasian Al-Quran)
Volume 7. Jakarta: Lentera Hati..

Silalahi, J. 2006. Makanan Fungsional. Yogyakarta: Kanisius.

Socrates, G. 1994. Infrared Characteristic Group Frequencies, Second Edition,
Table and Charts. Brunel, The University of West London, Middlesex,
United Kingdom.

Stahl, E. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Penerjemah :
Kosasih Padmawinata. Bandung: Penerbit ITB.

Sudarmadji, S., Haryono, B. dan Suhardi. 2007. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian,. Yogyakarta: Penerbit Liberty.

Sukadana, IM., Santi, SR. dan Juliarti, NK. 2008. Aktivitas Antibakteri Senyawa
Golongan Triterpenoid dari Biji Papaya (Carica papaya L.). Jurnal
Kimia 2 (1) Januari 2008: 15-18. Bukit Jimbaran: Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Udayana.

Sukamat dan Ersam. 2006. Dua Senyawa Santon Dari Kayu Batang Mundu
Garcinia Dulcis (Roxb.) Kurz. Sebagai Antioksidan. Kelompok
Penelitian Kimiawi Tumbuhan ITS. Kimia FMIPA Jurusan Kimia,
Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Http://chem.its.ac.id.
Tanggal akses 13 February 2008.

Sulistijowati, A. dan Gunawan, D. 1997. Efek Ekstrak Daun Kembang Bulan
(tithonia diversifolia a. Gray) Terhadap Candida albicans Serta Profil
Kromatografinya. Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001. Jakarta:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan-Departemen Kesehatan RI.. http://
www.kalbe.co.id/cdk-International Standard Serial Number: 0125
913X. Tanggal Akses 11 Maret 2008.


Sutomo, B. 2007. Buah Pepino Pendatang Baru yang Kaya Manfaat. Jakarta.
www.asiablogging.com. Tanggal Akses 22 Januari 2008.


Tirtawinata. 2006. Makanan dalam Perspektif Islam Al-Quran dan Ilmu Gizi.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Townshend, A. 1995. Encyclopedia of Analytical Science, Vol. 2. London:
Academic Press Inc.
Voight, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Penerjemah Soendari, N.S.,
Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Wardhana, W.A. 2006. Melacak Teori Einstein Dalam Al-Quran (Penjelasan
Ilmiah Tentang Teori Einstein Dalam Al-Quran). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Watzl, B. 1996. Healthing-Promoting Effects of Phytochemicals, Proceedings of
IUFoST 1996. Seoul-Korea: Regional Symposium on Nutritive Health
Factors For Future Foods.


Winarno, FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.































DAFTAR PUSTAKA

Abdilbarr, A. 2007. Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Dalam Pertanian dalam
Tafsir Karimir Rohman Fi Tafsir Kalamil Manan. 200M / 1420 H.
Abdur Rohman as-Sady. Maktabah an-Nubala.
http://abuabdilbarr.wordpress. com/2007/06/20/tanda-tanda-kekuasan-
alloh-subhanahu-wa-ta%E2% 80%99ala-dalam-pertanian. Tanggal
Akses 9 Januari 2009.


Ahmad, I. 2003. Peringatan Bagi (Reminders for People of Understanding),
www.imtiazahmad.com. Tanggal Akses 21 Agustus 2008.

Al jauziyah, I.Q. 2009. Praktek Kedokteran Nabi (Penyembuhan Dibawah
Bombingan Wahyu). Yogyakarta: Hikam Pustaka.

Anonymous
a
. 2007. Pepino (Solanum muricatum Aiton) Sang Buah Ajaib,
http://www.pepino. uni.cc/ Katalog Produk : Bibit Buah-Pepino-
(Melodi)-Buah Berkhasiat Obat. Tanggal akses 22 Januari 2008.

Anonymous
b
. 2007. El Pepino Dulce y su Cultivo Por Contenidos de Infoagro,
http//:www.infoagro .com, Multimedios Ambiente Ecolgico - MAE.
ISSN 16683358www.mae. org.ar/ info@mae.org.ar, Tanggal akses 19
Februari 2008.

Anonymous
c
. 2008. Thin Layer Chromatography. http//:www.siggy.chem.
ucla.edu /VOH/136/TLC.pdf. Tanggal akses 12 juni 2008.

Arsyad, N. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Ilmiah. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

As Sayyid, A.B.M. 2006. Pola Makanan Rosulullah; Makanan Sehat Berkualitas
Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jakarta: Almahira.

Asy Syanqithi, S. 2007. Tafsir Adhwa'ul Bayan. Jakarta: Pustaka Azzam.

Auterhooff, H. and Kovar, KA. 1987. Identifikasi Obat - 215 Gambar
(Kromatografi Lapis Tipis dan Spektrum IR) dan 17 Tablet. Bandung:
Penerbit ITB.

B.P p.i.c. 2003. Ethyl Acetate CAS No. 141-78-6 IUPAC Name: Ethyl Ethanoate.
USA: Technical Service and Development.


Brand-williams, W.etc.1995. Use of S Free Radical Method To Evaluate
Antioxidant Activity. Lebensmittel-Wissenschaft Und Technologie.
Dalam Ratmo. 2007. Potensi Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper
Crocotum) Sebagai Antioksidan. www.kimiabrawijaya.ac.id.

Daintith, J. 1994. Kamus Lengkap Kimia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Dewi, CD. 2005. Kimia Analitik Teori Dasar dan Penerapannya. Malang:
Universitas Islam Negeri.

Effendi. 2006. Teori VSEPR, Kepolaran dan Gaya Antarmolekul Edisi 2.
Malang: Bayu Media.

Ervina, M. dkk. 2008. Isolasi Senyawa Antioksidan dari Rimpang Temu Ireng
(Curcuma aeruginosa Roxb.). http://www.lppm.wima.ac.idmarta_1.
pdf. Tanggal akses 11 Maret 2008.

Fachriyah, E., Kerniawan A., Gnardi dan Meiny. 2006. Senyawa Kimia Fraksi
Metanol Rimpang Bingle (Zibgiber Cassumunar Roxb.),
http://mediamedika.net/modulus/php?name=jurnal&file. Tanggal Akses
11 Maret 2008.

Fanani, Z. 2007. Kandungan Gizi Buah Pepino. http://www.pepinomalang.
multiply.com/journal. Tanggal akses 22 Januari 2008.

Fessenden, R.J., Fessenden, J.S., 1982, Kimia Organik Jilid 1, Jakarta: Erlangga



Firdaus, R. 2007. Makalah Seminar Literatur JHD, Aktivitas Antioksidan Teh
Cair yang Berasal dari Oregano, Thyme, dan Wild Thyme,
http://www.damandiri.or.id/file/muhamadsamsiipbbab1.pdf. FMIPA
UNAND. Tanggal akses 11 Maret 2008.

Giwangkara, S, EG. 2006. Aplikasi Logika Syaraf Fuzzy Pada Analisis Sidik Jari
Minyak Bumi Menggunakan Spetrofotometer Infra Merah -Transformasi
Fourier (FT-IR). Sekolah Tinggi Energi dan Mineral, Cepu - Jawa
Tengah, http://www.wikipedia.com. Tanggal Akses 25 Oktober 2007.


Gordon, M.H. 1990. The Mechanism of Antioxidants Action In Vitro. Di dalam:
B.J.F. Hudson, editor. Food Antioxidants. Elsivier Applied Science,
London.Gritter R.J., 1991, Dalam Term Paper Trilaksani W., 2003,
Antioksidan: Jenis, Sumber, Mekanisme Kerja dan Peran Terhadap
Kesehatan. http://fa.lib.itb.ac.id/go.php?id =jbptitbfa-gdl-s2-1992-
marlina-63, Institut Pertanian Bogor, Tanggal akses 20 Februari 2008

Gritter, R.J. 1991. Pengantar Kromatografi. Penterjemah : Kosasih Padmawinata.
Edisi Kedua. Bandung: ITB.

Green, R.J. 2004. Antioxidant Activity of Peanut Plant Tissues. Thesis,
Department of Food Science,North Caroline State University, Raleigh.
dalam Ratmo. 2007. Potensi Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper
Crocotum) Sebagai Antioksidan. www.kimiabrawijaya.ac.id. Tanggal
akses 27 Desember 2009.

Gurav, S. N. Deshkar, V. Gulkari, N. Duragkar, Dan A. Patil. 2007. Free Radical
Scavengeng Activityof. Polygala chinensis Linn, Pharmacologyonline, 2
: 245-253. dalam Ratmo. 2007. Potensi Ekstrak Daun Sirih Merah
(Piper Crocotum) Sebagai Antioksidan. www.kimiabrawijaya.ac.id.
Tanggal akses 27 Desember 2009.

Hamilton. 1983. The Mechanism of Antioxidants Dalam Term Paper Trilaksani
W. 2003. Antioksidan: Jenis, Sumber, Mekanisme Kerja dan Peran
Terhadap Kesehatan. http://fa.lib.itb.ac.id/go.php?id =jbptitbfa-gdl-s2-
1992-marlina-63. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Tanggal akses 20
Februari 2008.

HAM, M. 2006. Kamus Kimia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
HAM, M. 2006. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi Aksara.

Hanani, E., dkk. 2005. Identifikasi Senyawa Antioksidan dalam Spons
Callyspongia sp dari Kepulauan Seribu. Majalah Ilmu Kefarmasian,
Vol. II, No.3. Desember 2005, 127 133. FMIPA-UI. Depok: UI.
Tanggal akses 20 Februari 2008.


Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB.

Hartati, S. dan Ersam, T. 2006. Dua Senyawa 4-fenilkumarin pada Fraksi Non
Polar dari Ekstrak Etil Asetat Batang Garcinia balica miq. (Mundu
Alas). Kelompok Penelitian Kimiawi Tumbuhan ITS, Jurusan Kimia,
Surabaya: FMIPA ITS. http://www. beckers@chem.its.ac.id. Tanggal
akses 19 Februari 2008.

Hayati, E. 2007. Dasar-Dasar Analisis Spektroskopi. Malang: Universitas Islam
Negeri Malang.

Hostettmenn. 1995. Cara Kromatografi Preparatif: Penggunaan pada Isolasi
Senyawa Alam. Penerjemah Kosasih Padmawinata. Bandung: ITB,


Husnah, M. 2009. Uji Aktifitas dan Identifikasi Golongan Senyawa Antioksidan
Ekstrak Kasar Buah Pepino (Solanum muricatum Aiton) Berdasarkan
Variasi Pelarut. Malang: Univesrsitas Islam Negeri Malang.

International Plant Genetic Resources Institute. 2004. Descriptors for (Solanum
muricatum). IPGRI is a Future Harvest Centre supported by the
Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR)
IPGRI COMAV. Italy Spain. www.futureharvest.org. Tanggal akses 19
Februari 2008

I. Snchez Vega. 1998. Andean Fruits. Peru: National University of Cajamarca.
www. andeanfruits.org. Tanggal akses 19 Februari 2008.

Khopkar. 1990. Konsep Dasar Analitik. Jakarta: UI Press.

Lenny, S.. 2006. Senyawa Terpenoide dan Steroida. Sumut: USU Repository.
http://library.usu.ac.id/download/fmipa/06003488.pdf-senyawa. Tanggal
akses 06 Desember 2007.

Linet, J. M. 2008. Dielectric And Microhardness Studies On L-Citrulline And
Lascorbic Acid Admixture Tgs Crystals. Department of Physics. Loyola
College. India. Published online 30 May 2008. www.crystalresearch.
com crt ab43 806 a. Tanggal akses 27 Desember 2009.

Mahran, J., dan Mubasyir, A.A.H. 2006. Al-Qur'an Bertutur Tentang Makanan
Dan Obat-Obatan. Penerjemah: Irwan Raihan. Yogyakarta: Mitra
Pustaka.

Martelli, A., and Nano, GM. 1967. Farmaco dalam Text Book Chapter III
Aplication of Analytical Techniques to the Identification and Assay of
Ascorbic Acid Related Compounds. http://prr.hec.gov.pk/Chapters/665-
3.pdf. Tanggal Akses 01 Desember 2008.

Nishizawa, etc.. 2005. Non Reductive Scavenging Of 1,1-Diphenyl-2-
Picrylhidrazyl (Dpph) By Peroxyradical: a useful method for
quantitative analysis of peroxyradical, japan, published online.
www.53_714-DPPH&ASCORBAT=print.pdf. Tanggal akses 21 Mei
2009.

Sarno dan Purnama D.A. 2005. Pepino Buah Mewah Berkhasiat Obat.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Prakash A. 2001, Medhalin Laboratories Analytical Progress,
http://medlab.com/file.aspx?field=56. Tanggal akses 25 Januari 2006.

Prakash, A. 2001. Antioxidant Activity. Medallion Laboratories Analytical
Progress,Takes you into the Heart of a Giant Resource Volume 19
Number 2. http//:www.medlabs.com/file.aspx?FileID=56. Tanggal
akses 12 juni 2008.




Pratt, D.E. dan B.J.F. Hudson. 1990. Natural Antioxidants not Exploited
Comercially. Di dalam: B.J.F. Hudson, editor, Food Antioxidants.
Elsevier Applied Science. London. Dalam Term Paper Trilaksani W.,
2003. Antioksidan: Jenis, Sumber, Mekanisme Kerja dan Peran
Terhadap Kesehatan. http://fa.lib.itb.ac.id/go.php?id =jbptitbfa-gdl-s2-
1992-marlina-63, Institut Pertanian Bogor, Tanggal akses 20 Februari
2008


Pratt, D.E. 1992. Natural Antioxidants From Plant Material. Di dalam: M.T.
Huang, C.T. Ho, dan C.Y. Lee, editor. Phenolic Compounds in Food and
Their Effects on Health H. American Society, Washington DC. Dalam
Term Paper Trilaksani W. 2003. Antioksidan: Jenis, Sumber,
Mekanisme Kerja dan Peran Terhadap Kesehatan.
http://fa.lib.itb.ac.id/go.php?id =jbptitbfa-gdl-s2-1992-marlina-63,
Institut Pertanian Bogor. Tanggal akses 20 Februari 2008.

Ratmo. 2007. Potensi Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper Crocatum) Sebagai
Antioksidan. Skripsi Jurusan Kimia. Fakultas MIPA. Universitas
Brawijaya. Malang. www..brawijaya.ac.id /bss-ub /proceeding
/PDF%20FILES /BSS_ 205_ 1 p. Tanggal akses 27 Desember 2009.


Robinson, T. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Penerjemah: Kosasih
Padmawinata. Bandung: Penerbit ITB.

Rohman, A., dan Gandjar, IG. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta::
Pustaka Belajar.

Sastrohamidjojo, H. 2005. Kromatografi. Yogyakarta: Penerbit Liberty.

Sastrohamidjojo, H. 2001. Spektroskopi. Yogyakarta: Liberty.

Shihab, M.Q. 2002. Tafsir Al-Mishbah (Pesan Kesan dan Keserasian Al-Quran)
Volume 7. Jakarta: Lentera Hati..

Silalahi, J. 2006. Makanan Fungsional. Yogyakarta: Kanisius.

Socrates, G. 1994. Infrared Characteristic Group Frequencies, Second Edition,
Table and Charts. Brunel, The University of West London, Middlesex,
United Kingdom.

Stahl, E. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Penerjemah :
Kosasih Padmawinata. Bandung: Penerbit ITB.

Sudarmadji, S., Haryono, B. dan Suhardi. 2007. Analisa Bahan Makanan dan
Pertanian,. Yogyakarta: Penerbit Liberty.

Sukadana, IM., Santi, SR. dan Juliarti, NK. 2008. Aktivitas Antibakteri Senyawa
Golongan Triterpenoid dari Biji Papaya (Carica papaya L.). Jurnal
Kimia 2 (1) Januari 2008: 15-18. Bukit Jimbaran: Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Udayana.

Sukamat dan Ersam. 2006. Dua Senyawa Santon Dari Kayu Batang Mundu
Garcinia Dulcis (Roxb.) Kurz. Sebagai Antioksidan. Kelompok
Penelitian Kimiawi Tumbuhan ITS. Kimia FMIPA Jurusan Kimia,
Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Http://chem.its.ac.id.
Tanggal akses 13 February 2008.

Sulistijowati, A. dan Gunawan, D. 1997. Efek Ekstrak Daun Kembang Bulan
(tithonia diversifolia a. Gray) Terhadap Candida albicans Serta Profil
Kromatografinya. Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001. Jakarta:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan-Departemen Kesehatan RI.. http://
www.kalbe.co.id/cdk-International Standard Serial Number: 0125
913X. Tanggal Akses 11 Maret 2008.


Sutomo, B. 2007. Buah Pepino Pendatang Baru yang Kaya Manfaat. Jakarta.
www.asiablogging.com. Tanggal Akses 22 Januari 2008.


Tirtawinata. 2006. Makanan dalam Perspektif Islam Al-Quran dan Ilmu Gizi.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Townshend, A. 1995. Encyclopedia of Analytical Science, Vol. 2. London:
Academic Press Inc.
Voight, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Penerjemah Soendari, N.S.,
Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Wardhana, W.A. 2006. Melacak Teori Einstein Dalam Al-Quran (Penjelasan
Ilmiah Tentang Teori Einstein Dalam Al-Quran). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Watzl, B. 1996. Healthing-Promoting Effects of Phytochemicals, Proceedings of
IUFoST 1996. Seoul-Korea: Regional Symposium on Nutritive Health
Factors For Future Foods.


Winarno, FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.































Lampiran


Lampiran 1: Skema Kerja Penelitian

1. Preparasi Sampel Buah Pepino



- dibersihkan dengan air
- dikupas
- dibuang isi buahnya
- dipotong kecil-kecil
- ditimbang 500 gram gram kemudian diblender (tanpa
penambahan pelarut)





2. Ekstraksi (maserasi) sampel Buah Pepino



- dimasukkan dalam Erlenmeyer 1000 mL
- dimaserasi dengan 500 mL pelarut etanol 70 %
- di shaker (kecepatan 120 rpm selama 24 jam pada suhu ruang)


- disaring dengan corong buchner vacum




- dipekatkan dengan rotary evaporator vacum



- ditimbang
- dihitung % rendemen ekstrak kasar






Residu
Buah pepino
Bubur buah pepino
Filtrat
Ekstrak kasar
250 gr bubur buah pepino
Maserat
% Rendemen ekstrak kasar
Lanjutan lampiran 1.



Cara menghitung nilai % rendemen ekstrak kasar:

Nilai % rendemen ekstrak kasar = % 100
sampel Berat
kasar ekstrak Berat



3. Pemisahan Senyawa Hasil Isolasi dengan KLT
a) Pemisahan dengan KLT Analitik





- dipotong dengan ukuran 2x10 cm
- ditotolkan 10-15 totol ekstrak pada plat dengan jarak 1 cm pada tepi
bawah dengan pipa kapiler
- dikeringkan diudara



- dimasukkan dalam bejana pengembang
- dielusi dengan metanol:NH
4
OH pekat (20:0,3)
- diangkat plat dalam chamber saat mencapai 3/4 bagian (8cm)
- dikeringkan
- diamati dengan sinar lampu UV max 254 dan 366 nm
- dianalisa spot yang terbentuk, warna dan harga Rf spot
- disemprot dengan pereaksi marquis, dragendorf, ninhidrin
- dikeringkan
- diamati dengan sinar lampu UV max 254 dan 366 nm
- dianalisa spot yang terbentuk, warna dan harga Rf spot











Plat silika gel GF
254

Plat KLT dengan noda
Spot
Lanjutan lampiran 1


Keterangan:
Prosedur di atas dilakukan kembali dengan mengganti eluennya yairu: asam
asetat p.a.,:etanol p.a., (1:3), aseton p.a.,:air: amoniak 25% (9:0,7:0,3), etanol
p.a.,:asam asetat 10% (9:1), petroleum eter p.a.,: n-heksana p.a.,: metanol p.a.,:
kloroform p.a.,: asam asetat p.a., (1:1:3:3:2), metanol p.a.,: aseton p.a.,:air
(2:4:0,3), toluol p.a.,: etanol p.a.,:asam asetat p.a., (5:4:1). Masing-masing eluen
menggunakan 5 plat KLT dengan spot yang sesuai dengan reagen penyemprotan
(1 plat=1reagen semprot).

Cara menghitung nilai Rf:
Nilai Rf =
gerak) (fase pelarut oleh ditempuh yang Jarak
senyawa oleh ditempuh yang Jarak



Cara Identifikasi Noda dengan KLT Analitik
1) Vitamin C (asam askorbat)




- divisualisasi dengan sinar UV max254 nm
- diamati warna spot yang terbentuk

Jikalau identifikais noda dengan visualisasi sinar lampu UV max 254
tidak terdapat noda pada plat maka dilkukan penyemprotan dengan reagen
semprot.









Noda
Spot berwarna biru gelap
Vitamin C (asam askorbat)
Lanjutan lampiran 1.







- divisualisasi dengan pereaksi ninhidrin
- diamati warna spot yang terbentuk





2) Alkaloid




- divisualisasi dengan pereaksi dragendorf
- diamati warna spot yang terbentuk












Noda
Spot berwarna merah muda
ungu biru gelap
Vitamin C (asam askorbat)
Noda
Spot berwarna jingga
berlatar kuning
Alkaloid
Lanjutan lampiran 1.






- divisualisasi dengan pereaksi marquis
- diamati warna spot yang terbentuk



b) Pemisahan dengan KLT Preparatif



- ditimbang 1 gram
- dilarutkan dengan 3 mL etanol 70%
- diambil dengn pipa kapiler
- diteteskan 1 tetes pada plat KLTP yang berukuran 1020 cm
dengan jarak 1 cm pada tepi bawah dengan pipa kapiler
- dielusi dengan eluen petroleum eter p.a.,: n-heksana p.a.,:
metanol p.a.,: kloroform p.a.,: asam asetat p.a., (1:1:3:3:2)
- diangkat plat dalam chamber saat mencapai 3/4 bagian (8 cm)
- dikeringkan diudara selama 15 menit



- diamati spot-spot (noda) yang terbentuk pada sinar lampu UV
max 254 dan 366 nm
- diberi tanda sepanjang noda
- dikerok







Ekstrak pekat
Noda pada plat
Noda
Spot berwarna kuning
berlatar merah lembayung
Alkaloid
Serbuk silika
dan Isolat A
Serbuk silika
dan Isolat B

Lanjutan lampiran 1.




- ditimbang
- dilarutkan dengan 10 mL pelarut etanol 70 %
- dituang dalam tabung reaksi
- disentrifugasi dengn kecepatan 1600 rpm selama 15 menit




- disiapkan kertas saring dan ditimbang
- ditempatkan endapan silika pada kertas saring
- dikeringkan dengan meletakkan endapan pada desikator



- ditimbang
- dihitung berat isolat



Keterangan: isolat B dilakukan cara perlakuan yang sama seperti isloat A

Cara menghitung berat isolat:
Berat Serbuk Silika = berat (kertas saring+serbuk silika) berat kertas saring
Isolat = berat (serbuk silika+Isolat) berat serbuk silika



4. Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan
Perlakuan Kontrol



- dimasukkan tabung reaksi
- diinkubasi pada 37
o
C selama 30 menit
- diukur absorbansinya pada 517 nm


Filtrat isolat A Endapan silika basah
Serbuk silika
dan Isolat A
Endapan silika kering
(serbuk silika)+kertas saring
Berat isolat A
DPPH 0,2 mM
Hasil
Lanjutan lampiran 1.

Perlakuan Isolat


-
- diambil 2,25 mL
- ditambahkan 0,75 ml larutan 0,2 mM DPPH dalam tabung reaksi
- dinkubasi 30 menit pada suhu 37C
- diamati perubahan warna ungu menjadi kuning
- dimasukkan kuvet
- diukur absorbansinya pada maks 517 nm dengan spektrofotometer
UV-Vis
- ditentukan % Aktivitas antioksidan



-
- diambil 2,25 mL
- ditambahkan 0,75 ml larutan 0,2 mM DPPH dalam tabung reaksi
- dinkubasi 30 menit pada suhu 37C
- diamati perubahan warna ungu menjadi kuning
- dimasukkan kuvet
- diukur absorbansinya pada maks 517 nm dengan
spektrofotometer UV-Vis
- ditentukan % Aktivitas antioksidan



Perlakuan Pembanding BHT



- diambil 2,25 mL
- ditambahkan 0,75 ml larutan 0,2 mM DPPH dalam tabung reaksi
- dinkubasi 30 menit pada suhu 37C
- diamati perubahan warna ungu menjadi kuning
- dimasukkan kuvet
- diukur absorbansinya pada maks 517 nm dengan
spektrofotometer UV-Vis
- ditentukan % Aktivitas antioksidan

Larutan Isolat A
% Aktivitas Isolat A

BHT 12,23 ppm
% Aktivitas BHT
Larutan Isolat B
% Aktivitas Isolat A

Lanjutan lampiran 1.

Keterangan :
Untuk menghitung % Aktivitas antioksidan menggunakan rumus :
% Aktivitas antioksidan =
kontrol Absorbansi
100% x sampel) Absorbansi - kontrol i (Absorbans

Pengukuran absorbansi kontrol diukur absorbansinya dengan pengulangan
absorbansi sebanyak tiga kali. Untuk cara perlakuannya adalah absorbansi
kontrol diukur pada tiap-tiap sampel, sehingga masing-masing sampel
mempunyai nilai absorbansi kontrolnya masing-masing (isolat A, isolat B dan
pembanding BHT) yang diukur absorbansinya pada panjang gelombang 517
nm.


5. Identifikasi IR Senyawa Isolat




- diambil 1 tetes
- diteteskan pada film tipis diantara dua lapis NaCl yang
transparan
- dianalisis spektrum IR-nya dengan alat spektrofotometer
FTIR-8400S Shimadzhu pada rentang kisaran gelombang
4000-400 cm
-1
. dengan kondisi resolution 4, scan 16, gain
10, apodiazation Cs.
















Gugus fungsi senyawa
Fraksi aktif dengan % Aktivitas
antioksidan tertinggi (isolat A)
Lampiran 2: Pembuatan Eluen KLT

Larutan Asam Asetat 10 %
Untuk membuat 100 ml larutan asam asetat 10% dari asam asetat glasial 100%
digunakan rumus pengenceran:
P1 V1 = P2 V2
100 % V1 = 10 % 100 ml
V1 =
% 100
ml % 1000

V1 = 10 ml
Jadi, volume asam asetat 10% yang diperlukan untuk membuat larutan asam
asetat 1% dengan volume 100 ml

pelarut aquades adalah: 10 ml.












Lampiran 3: Pembuatan Pereaksi/ Reagen KLT

Pereaksi Marquis = 10 ml formaldehida dalam 100 ml HB
2
BSOB
4
B pekat
(Harborne, 1987: 240).
Larutan Ninhidrin = 0,1 gram ninhidrin dalam 100 ml aquadest
(Auterhoff, 1987: 200).
Pereaksi Dragendorf = membuat larutan persediaan (1) 0,6 gram
bismutsubnitrat dalam 2 ml HCl pekat dan 10 ml air; (2)
6 gram kalium idodida dalam 10 ml air. Larutan
persediaan dicampur dengan 7 ml HCl pekat dan 15 ml
air (Harborne, 1987: 240).












Lampiran 4: Pembuatan larutan untuk uji aktivitas dengan metode DPPH
Pembuatan larutan DPPH 0,2 mM dalam 10 ml pelarut etanol 99,9%
Mr DPPH (C
15
H
12
N
5
O
6
) = 394,33 gram/mol
Mol DPPH = 10 mL
1000
0,2
mM
= 0,002 mmol
Gram DPPH = mol Mr DPPH
= 0,002 mmol 394,33 gram/mol
= 0,78866 mg
Jadi, jumlah massa DPPH yang diperlukan untuk membuat larutan DPPH 0,2
mM dalam 10 ml pelarut etanol 99,9% adalah: 0,78866 mg.

Pembuatan larutan BHT 12,23 ppm dalam 10 ml pelarut n-heksana
ppm
L
mg
=
12,23 ppm =
L 0,050
BHT mg

mg BHT = 12,23 ppm 0,010 L
mg BHT = 0,1223 mg
Jadi, jumlah massa BHT yang diperlukan untuk membuat larutan BHT 12,23
ppm dalam 10 ml = 0,010 L adalah: 0,1223 mg.



Lampiran 5: Data dan Perhitungan Rendemen
Hasil pengamatan perolehan ekstrak
No.
Perlakuan Ektrak
setelah di Rotary
Evaporator
Tekstur Warna
Berat
(gram)
1. sebelum didesikator
vakum
Encer Coklat muda 26,5047
2. sesudah didesikator
vakum
Pekat Coklat tua 8,8201

Nilai rendemen ekstrak dihitung dengan menggunakan rumus:
% Rendemen Ekstrak = % 100
pepino) buah (bubur sampel Berat
pekat ekstrak Berat


Maka %rendemen ekstrak encer:
% Rendemen Ekstrak encer = % 100
gram 250
gram 26,5047

= % 100 1061088 , 0
= 10,611 %

Maka %rendemen ekstrak pekat:
% Rendemen Ekstrak pekat = % 100
gram 250
gram 8,8201

= % 100 03528 , 0
= 3,528 %








Lampiran 6: Data dan Perhitungan nilai Rf masing-masing isolat (KLTA)
serta perhitungan berat isolat



Hasil pengamatan noda pada plat setelah di elusi dengan variasi eluen
pada KLTA
Variasi
eluen
Warna noda dan nilai Rf
Sebelum diUV max 254
dan 366nm
Sesudah diUV max
254 nm
Sesudah diUV
max
366 nm
Krg N

M D Krg N M D Krg N M D
E1 - -
Coklat
- Biru
gelap
- - - - - - -

- - Rf: 0,25 - Rf: 0,25 - - - - -
E2 - -
Coklat
- Biru
gelap
- - - - - - -
Rf: 0,50 - Rf: 0,50
E3 - - Coklat - - - - - - - - -
0
E4 - -
Coklat
- Biru
gelap
- - - - - - -
Rf: 0,34 Rf: 0,30
E5 - - Coklat dan
coklat
kemerahan
- Biru
gelap
- - - - - - -
Rf: 0,31 dan
0,75
Rf: 0,31
dan 0,75

E6 - -
Coklat
- Biru
gelap
- - - - - - -
Rf: 0,60 Rf: 0,60
E7 - - Coklat - - - - - - - - -













Lanjutan lampiran 6.


Keterangan: E 1 = metanol p.a : amoniak p.a (10:0,03) ( )
v
v

E2 = asam asetat p.a. :e tanol p.a (1:3) ( )
v
v

E3 = aseton p.a : air : amoniak p.a (9:0,7:0,3) ( )
v
v

E4 = etanol p.a : asam asetat 10% (9:1) ( )
v
v

E5 = petroleum eter p.a : n-heksana p.a : metanol p.a :
kloroform p.a : asam asetat p.a (1:1:3:3:2) ( )
v
v

E6 = metanol p.a : aseton p.a : air (2:4:0,3) ( )
v
v

E7 = toluena p.a : etanol p.a :asam asetat p.a (5:4:1) ( )
v
v

Krg = kering (tanpa reagen semprot)
N = ninhidrin
M = marquis
D = dragendorf

Cara menghitung nilai Rf:
Nilai Rf =
gerak) (fase pelarut oleh ditempuh yang Jarak
senyawa oleh ditempuh yang Jarak


Rf E1

=
cm 8
cm 2
= 0,25
Rf E2
=
cm 8
cm 4
= 0,50
Rf E3 = 0
Rf E4
=
cm 8
cm 2,7
= 0,34
Rf1 E5
=
cm 8
cm 2,5
= 0,31 dan Rf2 E5 =
cm 8
cm 6
= 0,75
Rf E6
=
cm 8
cm 4,8
= 0,60
Rf E7 = 0




Lanjutan lampiran 6.


Perhitungan berat isolat setelah di KLTP
Cara menghitung berat isolat:





1) Isolat A
Isolat A+serbuk silika = 0,2060 gram
Kertas saring A = 0,6780 gram
Kertas saring A+serbuk silika = 0,8264 gram

Maka,
Berat Serbuk Silika A = berat (kertas saring+serbuk silika) berat kertas saring
= 0,8264 gram - 0,6780 gram
= 0,1484 gram

Isolat A = berat (serbuk silika+Isolat) berat serbuk silika
= 0,2060 gram - 0,1484 gram
= 0,0576 gram

Jadi, berat isolat A adalah 0,0576 gram atau 57,6 mg.



2) Isolat B
Isolat B+serbuk silika = 0,0772 gram
Kertas saring B = 0,6895 gram
Kertas saring B+serbuk silika = 0,7458 gram

Maka,
Berat Serbuk Silika B = berat (kertas saring+serbuk silika) berat kertas saring
= 0,7458 gram - 0,6895 gram
= 0,0563 gram

Isolat B = berat (serbuk silika+Isolat) berat serbuk silika
= 0,0772 gram - 0,0563 gram
= 0,0209 gram

Jadi, berat isolat B adalah 0,0209 gram atau 20,9 mg.

Berat Serbuk Silika = berat (kertas saring+serbuk silika) berat kertas saring
Isolat = berat (serbuk silika+Isolat) berat serbuk silika

Lampiran 7: Perhitungan % Aktivitas Senyawa Antioksidan
Data Pengamatan Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan
No. Sampel
Perubahan Warna
Sebelum
diinkubasi
Setelah
diinkubasi
Setelah
pengukuran
absorbansi
1. Kontrol DPPH 0,2
mM
Ungu
Ungu
kemerahan
Ungu pekat
2. Isolat A
Ungu
Sedikit
kekuningan
Kuning
3. Isolat B
Ungu
Sedikit
kekuningan
Sedikit
kekuningan
4. Pembanding BHT
12,23 ppm
Sedikit
kekuningan
Kuning Kuning

Data Hasil Perhitungan % Aktivitas Senyawa Antioksidan
No. Sampel
Ulangan nilai absorbansi
Total Rerata
% Akttivitas
Antioksidan Ke-1 Ke-2 Ke-3
1.
Kontrol A 0,2758 0,2752 0,2756 0,8266 0,2756
76,56
Isolat A 0,0646 0,0647 0,0646 0,1939 0,0646
2.
Kontrol B 0,2761 0,2766 0,2784 0,8311 0,2770
77,73
Isolat B 0,0619 0,0618 0,0612 0,1849 0,0617
3.
Kontrol 0,2724 0,2709 0,2712 0,8145 0,2715
97,16
BHT 12,23 ppm 0,0078 0,0078 0,0073 0,0229 0,0077

Cara menghitung % Aktivitas antioksidan dengan rumus (Molyneux, 2003):

% Aktivitas antioksidan =
kontrol Absorbansi
100% sampel) Absorbansi - kontrol i (Absorbans


1) % Aktivitas antioksidan isolat A=
0,2756
100% 0,0646) - (0,2756

= 76,56 %
2) % Aktivitas antioksidan isolat B =
0,2770
100% 0,0617) - (0,2770

= 77,73 %
3) % Aktivitas antioksidan BHT =
0,2715
100% 0,0077) - (0,2715

= 97,16 %

Lampiran 8: Spektra FT-IR Senyawa Isolat B


500 750 1000 1250 1500 1750 2000 2500 3000 3500 4000
1/cm
-20
0
20
40
60
80
100
120
%T
3
3
8
2
.
9
1
2
9
7
5
.
9
6
2
8
9
7
.
8
5
1
6
4
5
.
1
7
1
4
5
1
.
3
3
1
4
2
2
.
4
0
1
3
8
2
.
8
7 1
3
2
7
.
9
0
1
2
7
3
.
9
0
1
0
8
7
.
7
8
1
0
4
7
.
2
7
8
7
9
.
4
8
6
4
9
.
0
0
ISOLAT PEPINO







Lampiran 9: Dokumentasi Preparasi dan Maserasi Sampel
Preparasi sampel


Buah pepino


Potongan daging
buah pepino

Bubur daging
buah pepino


Maserasi Sampel



Pengadukan dengan shaker incubator


Perendaman sampel


Filtrasi Maserat


Penyaringan maserat dengan
corong buchner vacuum

Filtrat maserat

Residu maserat
Lanjutan lampiran 9.

Pemekatan Filtrat Maserat


Pemekatan filtrat maserat dengan rotary evaporator vacuum



Ekstrak pekat/ ekstrak kasar
dalam labu alas bulat


Ekstrak pekat/ ekstrak kasar

















Lampiran 10: Dokumentasi Pemisahan KLTA
Proses Elusi KLT Analitik


Eluen 1
Metanol:
Ammoniak
(10:0,3)

Eluen 2
Asam
Asetat:
EtanoL
(1:3)


Eluen 3
Aseton:
Aquadest:
Ammoniak
(10:0,3)

Eluen 4
Etanol:
Asam
Asetat 10%
(9:1)


Eluen 5
Petroleum
Eter: n-
Heksana:
Methanol:
Kloroform:
Asam Asetat
(1:1:3:3:2)

Eluen 6
Metanol:
Aseton:
Aquadest
(2:4:0,3)

Eluen 7
Toluene:
Etanol:
Asam Asetat
(5:4:1)



Noda plat pada E1-E2-E3-E4-E5-E6-
E7 ( UV max 254 nm)

Noda plat pada E1-E2-E3-E4- E5-
E6-E7 (UV max 366 nm)



Visualisasi Noda Plat dengan Reagen Semprot Sebelum dan Sesudah
Di Deteksi Dengan Lampu UV max 254 nm dan max 366 nm


Noda E1 (Marquis-
Ninhidrin-Dragendorf)

Noda E1 M-N-D
UV max 254 nm

Noda E1 M-N-D
UV max 366 nm


Lanjutan lampiran 10.



Noda E2 (Marquis-
Ninhidrin-Dragendorf)

Noda E2 M-N-D
UV max 254 nm

Noda E2 M-N-D
UV max 366 nm



Noda E3 (Marquis-
Ninhidrin-Dragendorf)


Noda E3 M-N-D
UV max 254 nm

Noda E3 M-N-D
UV max 366 nm




Noda E 4 (Marquis-
Ninhidrin-Dragendorf)


Noda E4 M-N-D
UV max 254 nm

Noda E4 M-N-D
UV max 366 nm




Lanjutan lampiran 10.



Noda E 5 (Marquis-
Ninhidrin-Dragendorf)


Noda E5 M-N-D
UV max 254 nm

Noda E5 M-N-D
UV max 366 nm



Noda E 6 (Marquis-
Ninhidrin-Dragendorf)


Noda E6 M-N-D
UV max 254 nm

Noda E6 M-N-D
UV max 366 nm



Noda E 7 (Marquis-
Ninhidrin-Dragendorf)

Noda E7 M-N-D
UV max 254 nm

Noda E7 M-N-D
UV max 366 nm







Lampiran 11: Dokumentasi Pemisahan KLTP
Pemisahan dengan KLT Preparatif



KLTP Isolat kering
setelah di elusi

KLTP Isolat ketika
di UV max 366 nm



KLTP Isolat ketika
di UV max 254 nm

Noda pada KLTP yang dikerok



Chamber KLTP

Lemari asam
untuk ruang elusi




Hand Held UV Lamp-Compact UV Lamp 254/366 nm





Lampiran 12: Dokumentasi Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan dan
Instrumentasi FT-IR Senyawa Isolat


Isolat A dan Isolat B
dalam serbuk silika






Pembanding BHT dan kontrol DPPH

Sampel sebelum diinkubasi




Sentrifugasi Heraeus Labofuge 200-
Thermo Electron corporation




Incubator Heraeus -Thermo Electron
corporation


Spektrofotometer Varian 50 Cons
UV-Visible.


Spektrofotometer FTIR-8400S
Shimadzhu

Filtrat
Endapan