Anda di halaman 1dari 14

Comtoh Skripsi kuantitatif BAB II

05 April, 2009 6:44:00 PM Posted by Moha 4 comments Oleh: Drs.Kandi Supriadi,MPd BAB II LANDASAN TEORI PENELITIAN A. Deskripsi Teori 1. Kinerja Guru a. Pengertian Kinerja Guru Kinerja dapat berarti kesuksesan seseorang didalam melaksanakan pekerjaannya1. Kinerja juga diartikan oleh briggs sebagai perilaku atau respon yang memberi hasil yang mengacu kepada apa yang dikerjakan ketika seseorang menghadapi suatu tugas yang meliputi semua kegiatan atau tingkah laku yang dialami. Dalam hal ini kinerja mengarah kepada kegiatan dalam menghasilkan sesuatu atau mencapai tujuan.2 artinya kinerja adalah prilaku yang diinginkan dari pegawai untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu kinerja guru dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menunjukan kesuksesan seorang guru dalam menjalankan tugasnya disekolah serta menggambarkan adanya suatu perbuatan yang ditampilkan guru dalam melakukan aktifitas mengajar. Kinerja menurut Expectancy Theory adalah hasil fungsi antara motivasi dan kemampuan dasar. Teori ini pada dasarnya mempunyai tiga komponen yaitu 1) ekspektansi kinerja ( performance out come ekspectancy ), dimana individu mengharapkan konsekuensi tertentu dari pelakunya, dan akan mempengaruhi keputusan tentang bagaimana berperilaku; 2) Valensi ( Valence ), yaitu kekuatan memotivasi yang bervariasi setiap individu; 3) harapan kinerja upaya ( effort performance expectancy ) yang berhubungan dengan tingkat kesulitan dalam usaha mencapai hasil yang mempengaruhi perilaku.3 Jadi kinerja guru adalah hasil kerja yang dicapai dari

seorang guru dalam melaksanakan tugas yang berhubungan dengan tanggung jawab yang diembannya. Kinerja adalah merupakan pelaksanaan fungsi fungsi yang dituntut seseorang. Kinerja juga merupakan suatu tanda berhasil atau tidaknya seseorang atau suatu organisasi dalam melaksanakan pekerjaan nyata yang ditetapkan dengan standar standar dari organisasi itu sendiri, selaku standar standar yang melampaui apa yang diminta atau diharapkan. Kinerja ditentukan oleh tiga hal, yaitu kemampuan, motivasi, dan lingkungan. Lingkungan antara lain terdiri dari metodologi dan peralatan kerja yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ( performance is determined by three things : abilitiy, motivation and environment. Environment are proper methodology, material and toal to do the job ).4 Implikasi dari teori teori tersebut menunjukan bahwa orang yang tinggi motivasinya tetapi memiliki kemampuan dasar rendah akan menghasilkan kinerja yang rendah. Begitu pula halnya dengan orang yang sebenarnya memiliki kemampuan dasar tinggi tetapi rendah motivasinya, maka kinerjanya rendah pula. Bila demikian maka disamping kemampuan dasar secara partial motivasi dapat merupakan salah satu unsure dari suatu kinerja dan motivasi dapat diartikan sebagai suatu usaha yang menimbulkan doringan untuk melakukan tugas. Karena itu, konsep penting dari teori teori diatas bahwa untuk mengungkap dan mengukur kinerja gurudapat dilakukan dengan menelaah kemampuan dasar guru atau pelaksanaan kompetensi dasar guru. Dilihat dari karakteristik personal, kinerja guru meliputi kemampuan, keterampilan, kepribadian dan motivasi. Dilihat dari proses, kinerja guru yang efektif akan teercapai jika perilaku personil dapat menunjukkan kecocokan dengan standar kinerja yang telah ditentukan. Dilihat dari hasil, dalam menilai kinerja guru hendaknya dilihat dari hasil nyata yang dikerjakan oleh guru baik dalam kualitas maupun dalam kuantitas. Pada dasarnya pendapat tentang peningkatan kinerja bertolak dari kedua diterminan kinerja yaitu kecakapan dan motivasi. Dalam tulisan ini, kriteria-kriteria kinerja yang telah dikemukakan diatas, dipilih untuk digunakan sebagai pegangan dalam menilai kinerja pegawai. kriteria-kriteria tersebut meliputi : 1) pemahaman tentang tugas, 2) kemampuan dan keterampilan, 3) semangat yang tinggi, 4) berinisiatif dan kemauan yang tinggi.5 Sementara itu tugas utama seorang guru pada hakikatnya adalah merencanakan, mengelola,, menilai proses belajar mengajar yang didalamnya terdapat berbagai kegiatan memilih, menilai, dan mengambil keputusan profesional.6 Oleh karena itu pada dasarnya tugas guru itu tidaklah

ringan, sebab aktifitas yang dilakukan memerlukan perilaku, kontek dan konsekwensi tertentu yang dilaksanakan secara kompeten dan tuntas. Sedangkan menurut peters dalam buku sudjana terdapat tiga tugas pokok guru, yaitu: a) guru sebagai pengajar, b) guru sebagai pembimbing, dan c) guru sebagai administrator kelas.7 Didalam pelaksanaannya ketiga komponen diatas saling terkait satu sama liannya, sehingga diperlukan penguasaan kemampuan dasar dan keterampilan khusus dari setiap guru. b. Kemampuan Dasar Guru Proyek Pembinaan Pendidikan Guru (P3G) merumuskan sepuluh kemampuan dasar bagi seorang guru, yaitu: 1) menguasai bahan, 2) mengelola program belajar mengajar, 3) mengelola kelas, 4) menggunakan media/ sumber, 5) menguasai landasan-landasan kependidikan, 6) mengelola interaksi belajar mengajar, 7) menilai prestasi untuk kepentingan pengajaran, 8) mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, 9) mengenal dan menyelenggarakan adminis trasi sekolah, dan 10) memahami dan menafsirkan hasil-hasil penelitian guna keperluan pengajaran.8 Kesepuluh kemampuan tersebut bukanlah sesuatu yang sejajar dan setingkat, karena bila di kajihubungan diantara kesepuluh kemampuan tersebut pada hakekatnya ada yang hirarkis. Kemudian bila di telah maka delapan dari kesepuluh kopetensi ter sebut lebih di arahkan kepada kompetensi guru sebagaipengajar sehingga dapat disimpulkan bahwa sepuluh kompetensi tersebut hanya mencakup dua bidang guru, yakni kompetensi kognitip dan kompetensi perilaku. Sedangkan kompetensi sikap, khususnya sikap propesional guru tidak nampak. c. Tugas pokok Guru a. Merencanakan Program Belajar Mengajar Pengajaran/proses belajar-megajar adalah proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkahlangkahtertentu agar pelaksanaannya mencapai hasil yang di harapkan. Pengetahuan ini di tuangkan dalam bentuk perencanaan mengajar. Setiap perencanaan selalu berkenan dengan perkiraan mengenai apa yang akan dilakukan. Demikian halnya dalam perencanaan mengajar memperkirakan mengenai tindakan apa yang akan dilakukan pada waktu melaksanakan pengajaran. Mengingat pelaksanakan pengajaran adalah mengkoordinasi unsure-unsur (komponen) pengajaran, maka isi perencanaan pun pada hakikatnya mengatur dan menetapkan

unsur-unsur tersebut. Unsur yang di maksud antara lain tujuan, bahan atau isi, metode dan alat serta evaluasi/ penilaian Kemampuan merencanakan program belajar mengajar bagi profesi guru semua dengan kemampuan mendesain bangunan bagi seorang arsitektur. Sebelum membuat perencanaan belajar mengajar, guru terlebih dahulu harus mengetahui arti dan tujuan perencanaan tersebut, dan menguasai secara teoretis dan praktis unsur - unsur yang terdapat dalam perencanaan belajar mengajar. Kemampuan merencanakan program belajar mengajar merupakan muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pengajaran. Makna atau arti dari perencanaan program belajar mengajar tidak lain adalah suatu proyeksi / perkiraan guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pengajaran berlangsung. Dalam kegiatan tersebut secara terinci harus jelas keman siswa akan dibawa ( tujuan ), apa yang harus dipelajari (isi bahan pelajaran) bagaimana cara siswa mempelajarinya (metode dan teknik) dan bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapainya ( penilaian ).9 b. Melaksanakan Proses Belajar - Mengajar Melaksanakan / mengelola proses belajar-mengajar merupakan pelaksanaan program yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar kemampuan yang dituntut adalah keaktifan guru dalam menciptakan dan menemukan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam perencanaan. Kemampuan melaksanakan program belajar-mengajar adalah kemampuan menciptakan interaksi belajar-mengajar sesuai dengan situasi dan kondisi serta program yang telah dibuat sebelumnya. Pada tahap pelaksanan ini semua ketentuan yang telah ditetapkan dalam rencana akan dicoba dilaksanakan dengan berbagai modifikasi sesuai dengan perkembangan yang terjadi dalam interaksi guru siswa yang berkaitan dalam proses belajarmengajar. Pada saat ini kiat seorang guru memerlukan kecepatan mengambil keputusan seperti menghentikan kegiatan belajar, mengubah interaksi, menulang beberapa pelajaran, dan berbagai tindakan yang sering tidak di rencanakan tetapi diperlukan. Oleh karena itu dalam melaksanakan pekerjaan tersebut seorang guru memerlukan pertimbangan profesional (profesional judgement). Pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar (satuan pelajaran) yang telah dibuat. Segala sesuatu yang telah ditetapkan dalam perencanaan kegiatan belajar-mengajar, diwujudkan secara nyata melalui keterampilan mengajar. Ketermpilan dasar mengajar mencakup keterampilan : 1) memulai dan mengakhiri pelajaran; 2) menjelaskan; 3) bertanya; 4) memberi penguatan; 5) mengadakan variasi; 6) membimbing diskusi kelompok; dan 7) mengelola kelas.10

Pada konsep lain disebutkan bahwa kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh guru dalam melaksanakan program belajar-mengajar mencakup kemampuan sebagai berikut : 1) memotivasi siswa belajar dari saat membuka sampai menutup pelajaran, 2) mengenalkan tujuan pengajaran, 3) menyajikan bahan pelajaran dengan metode yang relevan dengan tuujuan, 4) melakukan pemantapan belajar (reinforcement), 5) melaksnakan penilaian hasil belajar, 6) menggunakan alat-alat bantu pengajaran yang baik, 7) memperbaiki program belajar mengajar untuk keperluan mendatang, dan 8) melaksanakan layanan bimbingan penyuluhan.11 Didalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar tersebut pertama-tama guru perlu mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik siswa, kemudian mendiagnosis, meniali dan merespon setiap perubahan perilaku siswa. Berkenaan dengan hal itu, dapat dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu kegiatan dimana berlangsung hubungan antara manusia, bertujuan membantu pertumbuhan dan mendorong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada dasarnya kegiatan mengajar adalah menciptakan lingkungan atau suasana yang dapat menimbulkan perubahan struktur kognitif para siswa.12 c. Menilai Kegiatan Belajar-Mengajar Setiap guru harus dapat melakukan penilaian tentang kemajuan yang dicapai para pelajar, baik secara iluminatif-observatif maupun secara struktural-obyektif, iluminatif-observatif maksudnya dilakukan dengan pengamatan yang terus menerus tentang perubahan dan kemajuan yang dicapai siswa, sedangkan struktural-obyektif yang berhubungan dengan pemberian skor, angka atau nilai yang biasa dilakukan dalam rangka penilaian hasil belajar siswa. Untuk melihat sejauh mana perencanaan kegiatan belajar-mengajar telah dibuat diwujudkan secara nyata, perlu dilakukan penilaian atau evaluasi. Penilaian diartikan sebagai proses yang menentukan baik tidaknya program atau kegiatan yang sedang mencapai tujuan yang telah ditetapkan.13 Pendapat tyler menyatakan bahwa kurukulum dikembangkan atas dasar dan diarahkan pada pencapaian sejumlah tujuan pendidikan. penilaian berfungsi untuk mengetahui seberapa jauh tujuan-tujuan pendidikan tersebut telah atau belum tercapai. Dari hasil penilaian

kemudian dapat diketahui bagian- bagian mana dari sistem yang memerlukan perbaikan.14 Artinya penilaian adalah merupakan proses pengumpulan informasi untuk pertimbanganpertimbangan pengambilan keputusan. Penilaian merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan alternative keputusan. Kemuian kegiatan penilaian yang perlu dilakukan oleh guru antara lain adalah penilaian hasil belajar. Evaluasi hasil belajar siswa bermakna bagi semua komponen dalam proses pengajaran, terutama siswa, guru, sekolah dan orang tua siswa. 2. Prestasi Belajar Siswa a. Pengertian prestasi belajar

Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian, berlatih, memarahi.6 Secara terminologis, Skinner mengartikan belajar sebagai proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Sedangkan Hintzman mengartikan belajar dengan perubahan yang terjadi pada organisma ( manusia atau hewan ) yang disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisma tersebut.7 Selanjutnya belajar menurut S. Nasution adalah perubahan dalam kelakuan seseorang sebagai akibat pengaruh dari usaha pendidikan.8 Dari pengertian yang diberikan S. Nasution ini, belajar mempunyai penekanan pada aspek perubahan. Cronbach sebagaimana yang diterjemahkan oleh Sumadi Suryabrata berpendapat bahwa belajar yang sebaik baiknya adalah mengalami dan dalam kondisi mengalami tersebut, si individu yang sedang belajar mempergunakan panca inderanya.9 Dengan pengertian demikian, menurutnya belajar merupakan proses pengalaman

dengan ditandai oleh berbagai perubahan, baik aspek pengetahuan, perasaan, dan emosi serta perilaku pada diri orang yang belajar tersebut. Perubahan dalam proses belajar merupakan akibat dari latihan dan pembiasaan. Menurut A. Suryadi, perubahan tersebut adalah perubahan informasi, pengembangan atau peningkatan pengertian, penerimaan sikap yang baru, perolehan penghargaan dan pengerjaan sesuatu dengan menggunakan apa yang telah dipelajari.10 Berkenaan dengan definisi belajar ini, menarik untuk disimak pendapat dari Biggs. Ia melihat pengertian belajar dari tiga sudut tinjauan, yaitu : a. Pengertian belajar secara kuantitas, yaitu belajar merupakan pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak banyaknya. b. Pengertian secara institusional, yaitu belajar dipandang sebagai proses validasi atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi materi yang telah ia pelajari. c. Pengertian secara kualitatif, yaitu proses memperoleh dan memahami arti arti dan pemahaman serta cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa.11 Belajar selain mempunyai penekanan pada terjadinya perubahan, juga mempunyai artikulasi yang sangat mendalam. Hal ini disebabkan oleh pengertiannya yang bukan hanya menekankan aspek perubahan pada lahiriyah saja, melainkan juga menyangkut perubahan secara psikis, meliputi seluruh aspek kepribadian. Dalam pengertian tradisional, belajar diartikan sebagai usaha memperoleh sejumlah pengetahuan. Menurut pengertian ini, belajar mempunyai pengertian yang ditekankan hanya pada aspek kognitif saja. penekanan pada aspek kognitif tampaknya disebabkan oleh anggapan bahwa pengetahuan mempunyai peranan yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Karena penekanan pada aspek kognitif, maka pengertian secara tradisional ini sering disebut pula pengertian berdasar pada pandangan intelektualitas. Untuk mengetahui adanya perubahan hasil belajar, dapat dilakukan dengan evaluasi, sehingga siswa dapat diketahui meningkat atau menurun prestasi belajarnya. Prestasi menurut bahasa berarti kemampuan, sedangkan secara terminology adalah kemampuan atau hasil yang dicapai oleh seseorang yang melaksanakan suatu pekerjaan.12

Tulus Tuu mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan guru.13 Dari pengertian prestasi dan belajar di atas dapat disimpulkan bahwa a. Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah b. Prestasi belajar siswa tersebut terutama dinilai aspek kognitifnya karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, dan evaluasi c. Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukan melalui nilai atau angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan ulangan atau ujian yang ditempuhnya. b. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Sedangkan indikator-indikator yang mempengaruhi hasil belajar dari lingkungan luar sekolah adalah faktor-faktor sebagai berikut : a. Faktor Lingkungan Informal 1) Faktor kiat orang tua mendidik anak Kegiatan pendidikan yang dilaksanakan orang tua terhadap putra-putrinya merupakan proses pendidikan berdasarkan cinta dan kasih sayang sejati. Cinta dan kasih sayang yang dilengkapi dengan pendidikan tatakrama dan perilaku antara orang tua dengan putra-putrinya, dan hal tersebut merupakan salah satu kiat yang dilakukan. Pendidikan keluarga merupakan institusi pendidikan pertama dan utama yang dapat membentuk sikap dan kepribadian anak yang berperan besar dalam perkembangan jiwa anak melalui interaksi dilingkungan keluarga terutama dengan kedua orang tuanya. Dari gambaran di atas sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Slameto, bahwa siswa belajar akan menerima pengaruh dari keluarga dengan berupaya cara orang tua mendidik di anak antar anggota keluarga dan faktor masyarakat.14 2) Faktor komunikasi keluarga

Komunikasi sangat diperlukan dalam proses interaksi pembelajaran, yang dalam hal ini sudah barang tentu proses komunikasi yang dilakukan antara orang tua dengan putra-putrinya secara terbuka, jelas, berimbang, demokratis, dan harmonis. Sehingga komunikasi menjadi efektif dan terbentuknya suasana kondusif, harmonis dan menyenangkan. Komunikasi yang demikian akan memotivasi anak untuk tumbuh kemauan belajarnya baik di rumah maupun di sekolah. 3) Faktor ekonomi keluarga Dalam mendidik anak sangat berhubungan erat dengan faktor ekonomi keluarga. Sebab, dari mulai anak itu dilahirkan oleh orang tuanya harus memiliki kemampuan pendukung ekonomi dalam memberikan bantuan pertumbuhan dan perkembangan baik fisik dan psikisnya, yaitu memberikan fasilitas belajar mencukup dan memadai. Hal yang demikian akan dapat mendorong proses pertumbuhan dan perkembangan anak dan dapat memotivasi belajarnya sesuai fase-fase perkembangannya. Penjelasan di atas sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto, bahwa dengan tersedianya fasilitas yang diberikan dalam belajar turut memegang peranan penting untuk keberhasilan belajar.15 Dengan demikian, bahwa anak yang tidak terpenuhi segala sesuatu yang berkaitan dengan fasilitas belajarnya, maka akan terganggu dan dapat mempengaruhi proses belajarnya. Diharapkan orang tua dapat mengerti dan memahami tugas, kewajiban, dan bertanggung jawabnya terhadap pemenuhan kebutuhan pendidikan anaknya. b. Faktor lingkungan teman sebaya Faktor lingkungan sebaya atau teman pergaulan adalah suatu kumpulan individu anak-anak yang setara dalam usia dan merupakan teman sepermainan yang relatif sama. Lingkungan ini dapat pula memberikan pengaruh pada proses perkembangan dan hasil belajar anak, dan tidak memiliki target dan tujuan yang jelas terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Sehingga lingkungan ini dapat memberikan pengaruh dalam membentuk anak, baik berupa sikap dan mental anak dalam proses belajar. Di sisi lain dapat memberikan pelatihan dan pengalaman anak dalam berinteraksi secara emosional sosial dengan sebayanya, dan saling berbagi satu sama lain. Berbeda dengan lingkungan informal atau keluarga yang memiliki target dan tujuan pendidikan jangka panjang terhadap anak dan merupakan program pendidikan orang tuanya terhadap anaknya.

Lingkungan sebaya merupakan bagian dalam institusi sosial, karena keberadaannya di lingkungan sosial. Lingkungan sebaya ini tidak memiliki struktur sosial yang jelas dan tidak memiliki tujuan yang permanen. Tetapi keberadaannya dapat menciptakan rasa solidaritas yang kuat di antara sesama anggotanya, bila kegiatan yang dilakukan bersifat positif maka positif pula pengaruh yang diterima, akan tetapi bila kegiatan yang dilakukan bersifat negatif maka negatif pula yang diterima anak. Maka akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak didik baik mental dan psikisnya dan berpengaruh pula terhadap lingkungan sekolah, keluarga, dan hasil belajar anak. c. Faktor lingkungan masyarakat Pada faktor ini merupakan dimana tempat tinggal anak berada, termasuk teman sebayanya di luar lingkungan sekolah. Situasi dan kondisi lingkungan masyarakat turut memberikan peran dan mempengaruhi pada proses pembelajaran anak, keadaan ini memberikan pula pengaruh pada tujuan belajar anak didik. Sangat tidak dapat ditolak, bahwa lingkungan ini pun dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan masa depan anak didik. Dalam banyak penelitian telah membuktikan bahwa faktor lingkungan keluarga dan masyarakat turut berperan serta dalam menentukan tinggi dan rendah kualitas mental dan perilaku anak dalam proses pendidikan. d. Faktor lingkungan alam sekitarnya Faktor ini pun memberikan kematangan pada anak didik yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi alam sekitar dimana anak didik bertempat tinggal. Melalui lingkungan alam sekitar anak didik dapat memperoleh proses pembelajaran, yang dipengaruhi baik oleh suhu, iklim, dan suasana lingkungan alamnya, yang tidak dapat diubah oleh faktor lingkungan sekolah. Lingkungan alam ini dapat pula mempengaruhi proses belajar mengajar pada anak didik di sekolah. Seperti halnya keberadaan sekolah yang letaknya berada di dekat keramaian, baik yang letaknya dekat terminal, pasar, jalan raya, menimbulkan kegaduhan dan mengganggu proses belajar mengajar menjadi tidak kondusif. Selanjutnya, dalam proses pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai baik pertumbuhan dan perkembangan kompetensi individu yang bermanfaat untuk kehidupannya di hari kemudian. Keberhasilan pendidikan melalui proses pembelajaran ini merupakan suatu prestasi yang diharapkan bagi pelakunya. Sehingga pengetahuan yang di dapat anak didik dari hasil belajar akan dapat diketahui hasil yang telah dicapainya, dan bagaimana usaha untuk meningkatkan keberhasilan belajar selanjutnya. B. Kerangka Berpikir Banyak factor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, dan factor tersebut diantaranya adalah kinerja guru. Kinerja guru adalah hasil pencapaian kerja guru yang dilakukan oleh seorang guru dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai kegiatan belajar-mengajar, sedangkan indicator kinerja guru diantaranya 1). merencanakan pengorganisasian bahan pelajaran.2). membuka dan

menyampaikan tujuan pembelajaran.3). Menyampaikan dan menjelaskan materi . 4). mendorong keterlibatan siswa dalam pengajaran. 5). Mengadakan evaluasi terhadap prestasi belajar siswa.. Kinerja guru yang baik adalah Penampilan kerja seorang guru yang dapat melaksanakan indicator-indiator tugas dan fungsi seorang guru, seperti membuat perencanaan pengajaran dengan baik, menyampaikan materi dengan baik, mengevaluasi hasil belajar secara baik, serta dapat mempertanggung jawabkan hasil kerjanya kepada atasan. Kinerja guru seperti ini akan berpengaruh terhadap kegiatan belajar-mengajar dan diperkirakan dapat mempengaruhi hasil belajar. Sementara kinerja guru yang kurang baik seperti malas dalam mengajar, dating selalu terlambat, tidak membuat perencaan dalam mengajar, tidak menguasai materi pelajaran, serta tidak melakukan evaluasi hasil pembelajaran, kurang harmonisnya terhadap sesame guru dan pimpinan jelas akan berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas. Kinerja guru yang baik akan mendorong siswa lebih termotivasi dalam belajar, serta dapat meningkatkan prestasi belajar meningkat. Jadi atas dasar itu diduga terdapat pengaruh yang signifikan peningkatan kinerja guru terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Artinya semakin baik kinerja guru maka semakin baik pula prestasi belajar siswa. Demikian pula sebaliknya semakin buruk kinerja guru maka semakin rendah pula prestasi belajar siswa. C. Hipotesis Berdasarkan deskripsi dan kerangka berpikir yang dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan hypothesis sebagai berikut: H.1. Ada Pengaruh yang signifikan kinerja guru terhadap presasi belajar siswa di SMP An-Nur Cabangbungin Bekasi . H.2. Tidak ada Pengaruh yang signifikan kinerja guru terhadap presasi belajar siswa di SMP AnNur Cabangbungin Bekasi . 1 Moh Asad, Psikologi Industri ( Yogyakarta, Liberety, 1987 ) p. 47. 2 Leslie J. Briggs, Intuctional Design : Principles and Application (New Jersey :Prentice _ Hall, Inc, 1979) p. 56 3 Ricky W. Griffin, Management ( Massachusets, Houghton Mifflin Company, 1987), p. 398

4 Ibid, p. 389 5 E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah/Konsep Strateggi dan Implementasi (Bandung : Rosdakarya,2002) p. 125 6 Soedijarto, Menatapkan Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia, 1993), p. 84. 7 Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1989), p. 15. 8 ibid, p. 19 9 Sudjana, op.cit., p. 20. 10 Piet. A. Sahertian dan Ida Aleida Sahertian, Supervisi Pendidikan dalam rangka Inservice Education (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), p. 97. 11 Wijaya dan Rusyan, op. cit. pp. 31-32 12 Bruce Joyce and Marsha Weil, Models of Teaching (Massachussets: Allyn and Bacon, A.

Divisonof Simon & Schuster, Inc, 1992), p. 246 13 Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan ; Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional (Bandung: Angkasa, 1983), p. 212. 14 Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001), p. 6.

6 WJS Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia ( Jakarta, Balai Pustaka, 1993 ) hal. 22 7 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan ( Bandung, Remaja Rosdakarya, 1995 ) hal. 90 8 S. Nasution, Asas Asas Kurikulum ( Bandung, Jemmers, 1995 ) hal. 11 9 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan ( Jakarta, CV Rajawali, 1992 ) hal. 253 10 A. Suryadi, Membuat Siswa Aktif ( Bandung, CV Mandar Maju, 1989 ) hal. 4 11 Muhibbin Syah , Op Cit. hal. 93

12 Suharto, Kamus Bahasa Indonesia ( Surabaya, IKAPI, 1996 ) Hal. 97 13 Tulus Tuu, Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa ( Jakarta, Gramedia Widiasarana Indonesi, 2004 ) hal. 75 14 Slameto, Op. Cit., hal 6 15 Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Jakarta : Sinar Baru, 1995), hal. 104