Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIKUM 3 FARMASETIKA I

(Solutiones)

Disusun Oleh : Nama NIM Dosen pembimbing : Khansa Nabila Nuzband : 723901S.11.040 : Ilfa Pratiwi S. Si., Apt

AKADEMI FARMASI SAMARINDA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Maksud praktikum Maksud diadakannya praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat membuat berbagai macam sediaan cair (solutiones) yang memenuhi persyaratan pustaka.

B. Tujuan praktikum Mahasiswa dapat membaca dan memahami resep dokter Mahasiswa dapat menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan Mahasiswa dapat menghitung dosis dengan benar Mahasiswa dapat menimbang bahan dengan benar Mahasiswa dapat mengerjakan bahan obat dalam bentuk sediaan cair Mahasiswa dapat memberikan informasi tentang sediaan kepada pasien

BAB II DASAR TEORI

Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satuh jenis obat atau lebih dalam pelarut air suling kecuali dinyatakan lain, dimaksudkan untuk digunakan sebagai obat dalam,obat luar atau untuk dimasukkan ke dalam rongga tubuh. Untuk larutan steril yang digunakan sebagai obat luar harus memenuhi syarat yang tetera pada injectiones. Sesuai dengan penggunaan, larutan dibagi menjadi:

Larutana steril Larutan tak steril Larutan antiseptika

Kadang-kadang dibedakan namanya, tetapi tidak ada perbedaan prinsip dalam pengertian, bila yang terlarut adalah hanya satu jenis obat yang dilarutkan disebut mikstura, sebagai contoh: solutio citratis magnesici dan mixtura brometorum. Larutan steril meliputi 1. larutan untuk penggunaan luar sebagai pengobatan luka atau kulit terbuka 2. larutan iritasi kandungan kemih. 3. larutan intraperitoneum baik alat maupun larutannya disterilkan dalam wadah yang steril.

Larutan tidak steril meliputi: 1. larutan obat dalam, baik larutan yang langsung diminum atau yang harus diramu lebih dulu. 2. larutan obat untuk kulit utuh dan 3. larutan hemosialisa Pada pembuatan larutan supaya dihindari sedapat mungkin adanya kontaminasi oleh bakteri dan jasad renik yang lain. Larutan antiseptik, mudah sekali dicemari oleh jasad renik yang telah resisten. Oleh karena itu air yang digunakan harus air suling atau air yang baru dididihkan, wadahnya harus betul betul bersih dan tidak menggunakan tutup gabus. Larutan antiseptik tidak boleh digunakan lebih dari satu mingu sejak tutup dibuka.larutan yang digunakan sebagai antiseptikum untuk mata yang luka atau dimasukkan ke dalam rongga tubuh harus disterilkan duklu. Larutan antiseptik yang steril di dalam wadah tertutup mudah dibedakan dengan wadah untuk larutan transfusi ternasuk larutan infusi. Pada etiket harus tertera : larutan steril, tidak disuntikan. Sistem pelarut dan zat terlarut 1. sirup 2. eliksir 3. spirit 4. air aromatik

Larutan oral Adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven air. Larutan oral yang mangandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi disebut sirup

Larutan sukrosa hampir jenuh dalam air disebut sirup simpleks (64%) Selain sukrosa dan gula lain, senyawa poliol tertentu seperti:

sorbitol gliserol digunakan sebagai penghambat terjadinya penghabluran, untuk mengubah kelarutan , rasa dan sifat sifat lain zat pembawa.

Zat anti mikroba untuk mencegah pertumbuhan bakteri, jamur, dan ragi.

Larutan oral lain yang tidak menandung gula , tetapi mengandung pemanis buaran seperti sorbitol, aspartam, dan bahan pengental seperti gom selulosa biasanya digunakan untuk pasien diabetes, Larutan yang mengandung etanol sebagai kosolven disebut eliksir. Larutan topikal Adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi sering kali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol, untuk penggunaan topikal pada kulit.

Lotio Adalah sedian larutan atau suspensi yang digunakan secara topical Contohnya : lotio kumerfeldi Larutan Otik Adalah larutan yang mengandung air atau gliserin atau pelarut lain dan bahan pendispersi, untuk penggunaan pada telinga luar. Misal : larutan otik neonisin dan polimisin B silfat. Spirit Adalah larutan yang mengandung etanol atau hidro alkohol dari zat mudah menguap, umumnya berupa larutan tunggal atau campuran bahan. Spirit harus

disimpan dalam wadah yang tertutup rapat tidak tembus cahaya. Jika pelarutnya air disebut air aromatik Sirup Adalah sediaan pekat dalam air dari gula atau pengganti gula dengan atau tanpa penambahan bahan pewangi dan zat obat. Sirup yang mengandung bahan pemberi rasa tapi tidak mengandung zat obat, pembawanya bukan obat atau pembawa yang wangi, misalnya: syrup akasia, sirup jeruk, dll Sirup yang mengandungbahan obat terapetik atau sirup obat, misalnya: antitusif, antihistamin. Komponen sirup 1. air 2. gula, sukrosa, pemanis buatan 3. pwngawet anti mikroba 4. pembau, penambah rasa misal minyak jeruk, vanili dan lain lain. Contoh pengawet

Asam benzoat (0,1-0.2) % Na benzoat (0.1-0.2) % campuran metil, propil dan butil paraben (total 0.1%)

Eliksir Adalah larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimaksudkan untuk penggunaan vital, dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Dibanding dengan sirup, eliksir kurang manis dan kurang kental karena mengandung kadar gula lebih rendah, sehingga kurang efektif dalam menutupi rasa dan bau zat aktif.

Saturasi Adalah solutio yang dibuat dengan cara mereaksikan bagian asam dan suatu bikarbonat, yang didalamnya jenuh dengan CO2, biasanya digunakan sebagai penyegar. Contoh: Potio Riveri. Potiones Adalah sediaan yang berupa cairan untuk diminum, dibuat sedemikian rupa hingga dapat digunakan sebagai dosis tunggal dalam golume besar, umumnya 50 ml. Collyria Adalah sediaan berupa larutan steril, jernih, bebas partikel asing, isotonis dan digunakan untuk mencuci mata, dapat ditambahkan larutan dapar dan pengawet. Wadah yang dipakai dapat wadah dari gelas atau plastik yang tertutup kedap. Gargarisma Adalah sediaan berupa larutan. Umumnya pekat dan bila digunakan diencerkan dulu. Gargarisma digunakan sebagai pencegah infeksi tenggorokan dan tujuan penggunaan gargarisma ialah agar obatnya dapat langsung mengenai selaput lendir yang ada di dalam tenggorokan dan bukan sebagai pelindung selaput lendir maka tidak digunakan bentuk suspensi dan baha b berlendir tidak cocok sebagai obat kumur. Dalam tiket harus tertera :

hanya untuk kumur, jangan ditelan. Sebelum digunakan diencerkan.

INTERAKSI PELARUT ZAT TERLARUT Berhubung dengan kelarutan suatu zat dalam pelarut, maka dapat terjadi interaksi antara pelarut pelarut, pelarut zat pelarut terlarut dan zat zat terlarut.

Nilai atau diskripsi kualitatif beberapa parameter fisika kimia dari zat terlarut dan pelarut dapat membantu mendapatkan gambaran mengenai keterlarutan suatu obat, beberapa faktor dan konsep yang penting untuk meramal kelarutan obat adalah: 1. polaritas 2. co solvency 3. parameter kelarutan 4. suhu 5. salting out 6. salting in 7. hidrotopi 8. pembentukan kompleks 9. efek bersama ion 10. ukuran partikel 11. ukuran dan bentuk molekul 12. struktur air

Polaritas Aturan yang terkenal yaitu like dissolves like berdasarkan pada observasi bahwa molekul molekul dengan distribusi muatan yang sama dapat larut timbal balik, yaitu molekul polar, akan larut dalam media yang serupa yaitu polar, sedangkan molekul nonpolar akan larut dalam media nonpolar. Konsep polaritas kurang jelas apabila diterapkan pada kelarutan yang rendah, terbentuk miseldan berbentuk hidrat padat. Kosolven

Campuran pelarut untuk melarutkan zat tertentu banyak digunakan untuk membuat larutan obat. Kosolven dapat dipandang sebagai modifikasi polaritas dari sistem pelarut terhadap zat terlarut atau terbentuknya pelarut baru yang terjadinya interaksi tidak mudah diduga dari individu pelarut masing masing dalam sistem campuran. Kosolven supaya dibedakan dari fenomena yang sangat erat hubungannya seperti pelarut (solubilisasi) dan hidrotopi. Parameter kelarutan Dikembangkan oleh hildbrand untuk sebagai alat meramal kelarutan cairan dan substansi amorf dalam banyak macam pelarut dari industri.

Suhu Kebanyakan senyawa farmasetis pada kenaikan suhu akan naik kelarutannya, kecuali senyawa metilselulosa dan kalsium hidroksida. Proses eksoterm dapat digambarkan: Zat terlarut + pelarut larutan + panas Sedangkan proses endoterm Panas + zat terlarut + pelarut larutan Jika pada peristiwa eksoterm, bila suhu dinaikan maka kelarutan zatnya akan berkurang karena reaksi bergeser kekiri. Sedangkan pada peristiwa endoterm, bila suhu dinaikkan maka kelarutan zatnya akan bertambah, karena reaksi bergeser ke kanan. Salting out

Peristiwa pengendapan zat terlarut (biasanya zat organik) disebabkan oleh penambahan jumlah besar garam yang sangat mudah larut pada larutan air dari senyawa organik. Peristiwa ini merupakan kompetisi antara garam dan senyawa organik terhadap molekul pelarut yaitu air. Contoh peristiwa ini adalah: camphora dan oleum menthae piperitae dalam air aromatik. Larutan metilselulosa dalam air oleh penambahan NaCl. Mekanisme peristiwa ini ialah bahwa interaksi metilselulosa dan air adalah inkompetible dengan interaksi NaCldengan air dan sebagai hasil terjadi dehidrasi dari metilselulose dan mengakibatkan peristiwa salting out. Salting in Ialah peristiwa bertambahnya kelarutan dari suatu senyawa organik dengan penambahan suatu garam dalam larutannya. Sebagai contoh adalah globulin tidak larut dalam air tetapi dapat larut dalam larutan garam encer dalam air. Hidrotopi Ialah peristiwa bertambahnya larutan suatu senyawa yang tidak larut atau sukar larut dengan penambahan suatu senyawa lainyang bukan zat surfaktan (S.a.a.). Mekanismenya mungkin salting in, kompleksasi atau kombinasi beberapa faktor. Pembentukan kompleks Ialah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan zat yang larut dengan membentuk senyawa kompleks yang larut. Sebagai contoh larutan iodium dalam larutan KI atau NaI dalam air. Disini terjadi senyawa kompleks Triiodida. Juga larutan coffein didalam larutan natrii salisilat atau natrii benzoat dalam air. Senyawa kompleks ini bersifat reversible, mudah terjadi disosiasi dan melepas zat aktifnya dan memberi efek

Common ion effect Obat yang tak larut sering dibuat sebagai suspensi, disini ada keseimbangan antara partikel padat dengan larutan jenuhnya. Sebagai contoh adalah suspensi Procain Penicilin. Dengan penambahan Procain HCl yang mudah larut dalam air akan mengurangi penicilin ion dalam larutan, karena produk kelarutan suatu senyawa pada suhu konstan adalah tetap. Ukuran partikel Efek ukuran partikel dari zat terlarut dalam sifat keterlarutan terjadi hanya bila partikel mempunyai ukuran dalam sub mikro dan akan terlihat kenaikan kira kira 10% dalam kelarutannya. Kenaikan ini disebabkan adanya enersi bebas permukaan yang bebas permukaan yang besar dihubungkan dengan partikel yang kecil. Ukuran dan bentuk molekul Sifat sifat dapat melarutkan dari air sebagian besar disebabkan oleh ukuran yang kecil dari molekulnya. Zat cair dapat mempunyai polaritas, konstante dielektrik dan ikatan hidrogen dapat menjadi pelarut yang kurang bagi senyawa ionik, disebabkan ukuran partikelnya lebih besar dan akan sukar bagi zat cair untuk menembus dan melarutkan kristal. Bentuk dari molekul zat terlarut juga merupakan faktor didalam meneliti keterlarutan. Keterlarutan yang tinggi dari amonia yang cocok tanpa ada kesukaran berada didalam struktur dari air. Efek bentuk dari molekul zat terlarut terhadap kelarutannya di dalam suatu pelarut lebih banyak merupakan efek entropi. Struktur dari air Struktur air merupakan anyaman molekul tiga dimensi dan struktur ikatan hidrogen menentukan sifat sifat air dan interaksinya dengan zat terlarut. Strukturnya dapat dimodifikasi secara kualitatif dan kuantitatif oleh banyak faktor seperti suhu, permukaan dan zat terlarut. Struktur air adalah peka terhadap banyak faktor yang dapat memperkuat, melemahkan, mengubah atau memecah

seluruhnya. Faktor faktor ini termasuk suhu, zat terlarut non polar, ion monovalen dan polivalen, s.a.a., makromolekul dan permukaan. Keuntungan bentuk larutan 1. merupakan campuran homogen 2. dosis dapat mudah diubah-ubah dalam pembuatan 3. dapat diberikan larutan encer kapsul atau tablet lambung, sedangkan bila dalam bentuk kapsulatau tablet sulit diencerkan. 4. kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat diabsorbsi. 5. mudah diberi pemanis, bau bauan dan warna, dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak anak. 6. untuk pemakaian luar, bentuk larutan mudah digunakan. Kerugian bentuk larutan 1. volume bentuk larutan lebih besar 2. ada obat yang tidak stabil dalam larutan 3. ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Resep I I. Resep asli Dr. Yasmineva APOTEK AKFARSAM Jl. AW. Syahrani no. 51

R/ Zinci Chloridi Gargarisma 100 ml m.f. s gargle

Pro : Ny. Sari

A. Resep standar Zinci Chloridi Gargarisma ( FORNAS, 304) R/ Zinci Chloridum Acidum salicylicum Alumunii et kalii sulfas Oleum menthae Aquadest ad 1g 300 mg 1g gtt 2 300 ml

B. Kelengkapan resep Paraf dokter tidak tertera

Alamat pasien tidak tertera Tanggal penulisan resep tidak tertera C. Penggolongan obat O:G:W: B :ZnCl, Asam salisilat, alumunii et kalii sulfas

D. Komposisi bahan Tiap 100 ml mengandung ZnCl Alumunii et kalii sulfas Asam salisilat Oleum menthae pip Aquadest II. Uraian bahan 1. Zinci chloridum (FI III,835) a. Sinonim b. Khasiat : ZnCl, zink klorida, seng klorida : antiseptikum ad 330 mg 330 mg 100 mg 1 tetes 100 ml

c. Pemerian : serbuk habluratau granul halus, dapat berupa massa porselen atau silinder, sangat mudah mencair, bereaksi asam terhadap lakmus.

d. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol dan gliserin, larutan dalam air atau dalam etanol biasanya agak keruh kekeringan hilang jika ditambah dengan asam klorida 2. Alumunii et kalii sulfas (FI III, 81) a. Sinonim b. Khasiat : tawas, alumunium kalium sulfat : antibakteri, adstringen

c. Pemerian : massa hablur atau butiran hablur tidak berwarna, transparan, rasa manis dan sepat

d. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air mendidih, mudah larut dalam air, praktis tidak larut dalam etanol 95%, mudah larut dalam gliserol p 3. Oleum menthae piperitae (FI III,454) a. Sinonim b. Khasiat : minyak permen, peppermint oil : zat tambahan (pengaroma)

c. Pemerian : cairan tidak berwarna, kuning pucat atau kuning kehijauam, bau aromatic, rasa pedas dan hangat, kemudian dingin d. Kelarutan : larut dalam 4 bagian etanol 70 % 4. Aethanolum (FI III, 65) a. Sinonim b. Khasiat : etanol, alkhohol : zat tambahan (pelarut)

c. Pemerian : cairan jernih, mudah menguap dan bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah terbakar dengan membrikan nyala api biru d. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P

5. Acidum salicylicum (FI III, 56) a. Sinonim b. Khasiat c. Farmakologi : asam salisilat : keratolitikum, antifungi : berkhasiat fungisid dan bakteriostatik yang

menghentikkan pertumbuhan jamur (OOP, 101) d. Pemerian : hablur ringan tidak berwarna atau serbuk

berwarna putih, hamper tidak berbau, rasa agak manis dan tajam e. Kelarutan bagian etanol 95% : larut dalam 550 bagian air, dan dalam 4

III.

Perhitungan dosis -

IV.

Penimbangan bahan 1. ZnCl 2. Acidum salicylicum Etanol 3. Tawas Air 4. Oleum menthae 5. Aqua ad 100 ml 100 ml (1 ml + 1 ml ) = 98 ml 0,33 g x 1 bag = 0,33 ml ~ 1 ml 0,1 g x 4 = 0,4 ~ 1 ml

V.

Cara kerja 1. Disiapkan alat dan bahan-bahan yang diperlukan 2. Dikalibrasi botol sebanyak 100 ml 3. Ditimbang ZnCl sebanyak 0,33 g di timbangan mg halus 4. Ditimbang asam salisilat sebanyak 0,1 g di timbangan mg halus 5. Ditimbang alumunii et kalii sulfas sebanyak 0,33 g di timbangan mg halus 6. Dilarutkan acid salicylas dengan 1 ml etanol di Erlenmeyer (camp 1) 7. Dilarutkan tawas dengan air 1 ml di beaker glass, masukkan campuran 1 ke beaker glass (camp 2) 8. Dilarutkan ZnCl dengan sisa air yaitu 98 ml di Erlenmeyer (camp 3) 9. Di campurkan camp 2 dan camp 3 di dalam beaker glass, diaduk ad homogeny dan masukkan ke dalam botol 10. Diteteskan dengan oleum menthae sebanyak 1 tetes 11. Ditutup dan dikocok serta diberi etiket biru

VI.

Penandaan Laboratorium Farmasetika I Akademi Farmasi Samarinda Apt : Khansa Nabila Nuzband No. 01 Ny. Sari Obat kumur Jangan ditelan OBAT LUAR tgl : 19 Maret 2012

VII.

Edukasi 1. Obat ini dugunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri dan jamur pada mulut dan tenggorokan 2. Obat digunakan dengan cara dikumurkan setelah menyikat gigi 3. Obat tidak untuk ditelan 4. Simpan obat di tempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya

Resep 2 I. Resep asli

Dr. Yasmineva APOTEK AKFARSAM Jl. AW Syahrani No.51 Samarinda

R/ Loco Kalibex Adde Ascal m.f.da.s q dd cth I

60

Pro : Astri ( 5 thn )

I.

Resep Asli/Standar a. Resep Asli R/ Loco Kalibex Adde Ascal Resep Standar Kalibex ( ISO vol 45, 504 ) R/ Dekstrometorfan HBr CTM Ammonium Klorida R/ Ascal NaBr 15 mg 1 mg 100 mg 6 2 5 60

Aqua

ad 100

Ascal dapat dibuat dengan mereaksikan 5 g asetosal dengan 1,670 g calcii carbonas. b. Kelengkapan Resep Nomor telepon dan paraf dokter tidak tertera Alamat pasien tidak tertera Tanggal resep tidak ada c. Penggolongan Obat O : G : W : Dekstrometorfan HBr, CTM B : amonium klorida, calcii carbonas, asetosal

d. Komposisi Bahan Tiap 65 g larutan mengandung : Dekstrometorfan HBr CTM Amonium klorida Asetosal Calcium carbonat Aqua ad 128 mg 8,5 mg 857 mg 3,7 g 1,25 mg 65 ml

II.

Uraian Bahan 1. Dekstrometorfan HBr ( FI III, 207 )

a. Sinonim b. Khasiat c. Farmakologi

: Dekstrometorfan hidrobromida : Antitussivum : Bekerja berdasarkan peningkatan ambang Ambang pusat di otak ( OOP V, 622 )

d. Pemeriaan e. Kelarutan

: Sebuk hablur, putih, tidak barbau, pahit. : Larut dalam 60 bagian air dan dalam 10 bagian etanol ( 95% ) P, mudah larut dalam kloroform P, disertai pemisahan air praktis, tidak larut dalam eter P.

f. Dosis

: DM : 1 X : 1 H : 1 mg/kg, dibagi dalam 3 4 dosis

2. Ammonia Klorida ( FI III, 87 ) a. Sinonim b. Khasiat c. Farmakologi : Ammonium Chloridum, Salmiak : Ekspektoran : keasaman darah yang disebabkan dapat merangsang pusat pernafasan sehingga cillia disaluran nafas distimulasi dan sekresi dahak juga meningkat. d. Pemeriaan : Serbuk putih atau hablur, tidak berbau, rasa asin dan dingin, higroskopik. e. Kelarutan : Larut dalam air dan gliserol lebih mudah larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam etanol. f. Dosis : DL : 1 H : 75 mg/kg, dibagi dalam 4 dosis DM : 1 H : 10 g 3. CTM ( FI III, 153 ) a. Sinonim b. Khasiat c. Farmakologi : Chlortrimeton, Chlorpeniramin maleat : antihistamin : Efek antihistaminnnya tidak begitu kuat

tetapi tidak merangsang selaput lendir sehingga cocok digunakan pada pengobatan gejala alergi hidung ( selesma ) ( OOP V, 773 )

d. kelarutan

: Larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian Etanol 95% dan dalam 10 bagian kloroform P sukar larut dalam eter P.

e. Pemeriaan

: Serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa Pahit.

f. Dosis

: DL anak : 1 X : 1 H : 0,35 mg, dibagi dalam 4 Dosis DM dewasa : 1 X : 1 H : 40 mg

4. Asetosal ( FI III, 43 ) a. Sinonim : Acidum Acetylsalicylicum, Asam Asetilsalisilat b. Khasiat c. Pemeriaan : Analgetikum dan Antipiretikum : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur Putih, tidak berbau atau tidak berbau, rasa Asam. d. Farmakologi : Menghambat agregasi trombosit,hal ini Tidak reversible dan berdasarkan keadaan Biocade enzym siklo onsigenase yang Bertahan selama hidupnya trombosit. Obat Ini juga berkhasiat sebagai anti radang Akibat gagalnya sintesa prostaglandit E ( OOP V, 298 )

e. Kelarutan

: Agak sukar larut dalam air, mudah larut Larut dalam etanol, larut dalam kloroform.

f. Dosis

: DL anak

: 1X : 40 mg-50 mg/tahun 1H : 120 mg-200 mg/tahun

DM dewasa : 1X : 1 g 1H:8g g. Inkompatibilitas : Dengan calcii carbonas, dapat meraksikan Gas CO2. 5. Calcium Carbonat ( FI III, 120 ) a. Sinonim b. Khasiat c. Farmakologi : Kalsium Karbonat : Antasidum : Menetralkan asam lambung sambil Melepaskan gas CO2 yang diduga bisa Merangsang dinding dengan mencetuskan Perforasi dari tukak. ( OOP V, 253 ) d. Pemeriaan : Serbuk hablur, putih tidak berbau, tidak Berasa.

e. Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air, sangat sukar Sukar larut dalam air yang mengandung CO2.

f. Inkompatibilitas

: CaCO3 dengan zat yang beraksi asam akan Membebaskan CO2. ( tak tercampurkan Obat obat, 30 )

6. Aqua Destillata ( FI III, 96 ) a. Sinonim : Air suling

b. Khasiat c. Pemeriaan

: Pelarut :Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, Tidak mempunyai rasa.

III.

Perhitungan Dosis 1. Ammonia Klorida Umur pasien 5 tahun berat badannya 14,2 kg DL anak : 1H : 75 mg/kg 1X : DM anak : 1H : = 1X : = 725 mg 14,2 kg = 1065 mg

= 266,25 mg

DDR

: Banyaknya ammonia klorida = 857 mg Ammonia klorida dalam 1 cth = = 65,92 mg 1X : 65,92 mg 1H : 4 X 65,92 mg = 263, 68 mg.

Kesimpulan

: Subterapi

Rekomendasi : 1X : 300 mg 1H : 4 X 300 mg = 1200 mg 2. CTM DL anak : 1H : 0,35 mg 1X : DM anak : 1H :

1X : DDR : Banyaknya CTM = CTM dalam 1 cth = 1X = 1 X 0,659 mg = 0,659 mg 1H = 4 X 0,659 mg = 2,636 mg Kesimpulan : Terapi 3. Asetosal DL anak : 1X : 40 mg 50 mg/tahun ( 5 tahun ) = 200 mg 250 mg 1H : 120 mg 200 mg/tahun ( 5 tahun ) = 600 mg 1000 mg DM anak : 1X : 1H : DDR : Jumlah Asetosal Banyaknya Asetosal dalam 1 cth = 1X = 1 X 0,32 g = 0,32 g 1H = 4 X 0,32 = 1,28 g Kesimpulan : Over dosis untuk 1X nya Rekomendasi : Diturunkan sesuai DL 1X = 200 mg 1H = 4 X 200 mg = 800 mg

4. Dekstrometorfan HBr DL anak 1X : 8 mg ( OOP V, 623 ) 1H : 4 X 8 mg = 32 mg DM anak 1H : 1X : = 8,82

DDR : Jumlah DMP HBr = DMP HBr dalam 1 cth = = 9,88 mg 1X 1H Kesimpulan : 9,88 mg : 4 X 9,88 mg = 39,52 mg : Over Dosis

Rekomendasi : Dosis diturunkan sesuai DL 1X 1H IV. Penimbangan Bahan 1. DMP = 8 mg X 13 = 104 mg/15 mg/tab = 6,93 tab Pelarut ( etanol ) = 10 bagian X 2. CTM = 1 mg/7 ml X 60 ml = 8,57 mg/4 mg/tab = 2,1 tab Pelarut ( air ) = 4 bagian X : 8 mg : 4 X 8 mg = 32 mg

3. Asam klorida = 300 mg X 13 = 3900 mg Pelarut ( air ) = 5 ml

4. Asetosal = 200 mg X 13 = 2600 mg Pelarut ( air ) = 30 ml 5. Calcii Carbonas = 6. Aqua ad V. Cara Kerja 1. Disiapkan Semua alat dan bahan yang diperlukan 2. Ditimbang bahan sesuai dengan penimbangan DMP 104 mg ditimbangan mg halus CTM 8,7 mg ditimbangan mg halus Asam klorid 3900 mg ditimbangan gr ( kasar ) = 65 g 2,6 g = 0,87 g

Calcii carbonas 870 mg ditimbangan mg halus

3. Ditara botol sampai 65 mg 4. Dilarutkan dekstrometorfan dengan air didalam erlenmeyer, hingga larut, kemudian masukkan dalam beaker gelas 5. Dilarutkan CTM dengan air didalam erlenmeyer hingga larut, lalu masukkan kedalam beaker gelas 6. Dilarutkan amm.klorida dengan air didalam erlenmeyer hingga larut, lalu masukkan ke dalam beaker gelas. 7. Dimasukkan campuran didalam beaker gelas kedalam botol 8. Dibuat ascal : masukkan ascal ke dalam mortir, lalu digerus hingga benar benar halus. Kemudian masukkan calcii carbonas, kemudian gerus hingga halus dan homogen. Tambahkan air sedikit demi sedikit sambil terus digerus, hingga semua larut dengan CO2 hilang. Masukkan kedalam botol dengan disaring menggunakan kertas saring. 9. Terakhir tambahkan air hingga 65 ml kedalam botol. Tutup dan kemas botol lalu beri etiket putih. VI. Penandaan Etiket Putih Laboratorium Farmasetika I Akademi Farmasi Samarinda Apt : Khansa nabila No : 02 Tgl 19 Maret 2012

Astri 4 X sehari 1 sendok the KOCOK DAHULU

VII.

Edukasi 1. Obat ini berkhasiat untuk mengobati dan mempermudah keluarnya dahak serta memgurangi demam yang mungkin timbul 2. Obat ini diminum 4 X sehari 1 sendok teh. Obat ini sebaiknya di minum setelah makan karena dapat menimbulkan gangguan pada lambung. 3. Efek samping dari obat ini adalah rasa kantuk, pusing, atau gangguan lambung. 4. Obat ini sebaiknya disimpan ditempat kering dan sejuk dan terlindung cahaya matahari langsung

Resap 3 I. Resep asli Dr. Yasmineva APOTEK AKFARSAM Jl. AW. Syahrani no. 51

R/ Na.Bicarbonat As. Sitrat Vitamin C Flavour Colour Sir. Simplex Aqua

1,25 qs 0,5 qs qs 10 ad 50

m.f.pot.eff.da s haust

Pro : Tn anto

A. Resep standar Siruf Simplex ( FORMIN 191 ) R/ Gula Aqua 66 ad 100

B. Kelengkapan resep Parap dokter tidak tertara Alamat pasien tidak tertara Tanggal penulisan resep tidak tertara C. Penggolongan obat O; G; W;

B ; Asam sitrat, Na.Bicarbonat D. Komposisi bahan Na. Bicarbonat Asam sitrat Vitamin C Oleum citri FD yellow Siruf simplex Aquq ad 1,25 1,040 0,5 II gtt 5 ml 10 50

II.

Uraian bahan 1. Na. Bicarbonat a. Sinonim b. Khasiat ( FI III, hal 424 )

: Natrium subcarbonat, Natrium bicarbonas : Antasida

c. Pemerian : Serbuk putih atau hablur, buram, tidak berbau, rasa asin d. Kelarutan : Larut dalam 11 bagian air, praktis tidak larut dalam etanol e. Farmakologi : Basa-basa lemah untuk mengikat, dan

meneetralkan asam lambung f. Inkompatibilitas : Dengan asam membebaskan CO2 g. Dosis :1x=14g 1h=14g 2. Asam sitrat a. Sinonim b. Khasiat ( FI III, hal 50 ) : Acidum citrikum : Zat tambahan ( oop, 230 )

c. Farmakologi : Dalam siklus asam sitrat, glukosa di rubah melalui piltrat, menjadi asam sitrat yang merupakan bahan pangkal untuk sintesa asam lemak dan kolestrol d. Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau rasa sangat asam, agak higrokopis

e. Kelarutan : larut dalam 1 bagian air dan dalam 1,5 bagian etanol ( 95 % ) 3. Vitamin C ( FI III, hal 47 )

a. Sinonim : Asam askorbat, acidum askorbikum b. Khasiat : Antiskorbut, anti oksidan

c. Farmakologi : Pengubah tripton menjadi serotomin, yang di hasilkan dari reduksi vitamin c d. Pemerian : Serbuk atau hablur putih agak kuning, tidak berbau asam oleh pengaruh cahaya e. Kelarutan : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol 4. Oleum citri ( FI III, hal 455 )

a. Sinonim : Minyak jeruk b. Kegunaan : Zat tambahan c. Pemerian : Cairan kuning agak pucat, atau kuning kehijauan d. Kelarutan : Larut dalam 12 bagian etanol, larut agak berpotensi dapat bercampur dengan etanol, mutlak e. Konsentrasi : 0,2 0,3 % 5. FD & yellow ( MD 32th. 1001 ) a. Sinonim : Tatrazin b. Khasiat : Zat tambahan sebagai pewarna

c. Kelarutan : Larut dalam air dan membentuk larutan kuning, mudah larut dalam alkohol d. Konsentrasi : 0.01 % 6. Siruf simplex ( FI III, hal 567 ) a. Sinonim : Siruf gula b. Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, rasa manis c. Kegunaan : Zat tambahan

7. Aquades

( FI III, hal 96 )

a. Sinonim : Air suling, aqua destilata b. Pemerian : Cairan jernih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa c. Kegunaan : Zat tambahan III. Perhitungan dosis

IV.

Penibangan bahan 1. Asam sitrat : Na.bicarbonat 10 : 2 1.40 : X = 10.2 X= = 1,249 mg = 1.3 mg Air = 1,040 X 10 ml = 10,4 ml 2. Vitamin C Air 0,5 X 1 = 0,5 g = 0,5 ml 1 ml

3. FD & C yellow = 0,01 % X 50 g = 5 mg Pengenceran FD & C yellow = 50 mg Ari = 10 ml

4. Siruf simplex = 10 g 5. Oleum citri 6. Aqua V. Cara kerja 1. Dikalibrasi botol 50 ml, di saiapkan alat dan bahan ad = 0,2 % X 50 = 0,1 ml X 20 tetes = 2 tetes = 50 ml

2. Ditimbang Na.bicarbonat 1,25 gram, ditimbang Asam sitrat 1,040 gram, ditimbang vitamin c 500 mg, ditimbang FD & C yellow 50 mg, diukur siruf simplex 10 ml 3. Buat pengenceran FD & C yellow, di ambil 5 ml, hasil pengenceran di masukan dalam beker glass 4. Dilarutkan Na.bicarbonat dalam mortir dengan cara gerus tuang ( di gerus dan masukan cairan jernih ke dalam botol, endapan ditambah air dan digerus semua endapan larut dan habis ), basa 5. Dilarutkan asam sitrat dalam beker gelas, ditambah siruf simplex sampai larut sishkan, ( campuran 1 ) 6. Larutkan vitamin c, dalam beker gelas masukan kedalam campuran 1 7. Masukan 2/3 bagian asam ke dalam botol, biarkan netral 8. Ditetesi oleum citri, lalu masukan 1/3 bagian air asam melalui dinding botol 9. Dikemas dan ditutup, beri etiket putih

VI.

Penandaan Laboratorium Farmasetika Dasar Akademi Farmasi Samarinda Apt ; Khansa nabila No. 03 Tgl : 12 des 2011

Tn. Anto Di minun sekaligus Jangan di kocok

VII.

Edukasi 1. Obat ini berkhasiat penyegar sebagai antasida ( Mengurangi rasa nyeri lambung ) 2. Obat di minum sekaligus dan sebelum di minim tidak boleh di kocok 3. Efek samping mual, muntah, sakit kepala 4. Simpan di tempat sejuk dan kering

BAB IV PEMBAHASAN
Resep 1
Pada resep yang pertama akan di buat sediaan larutan berupa gargarisma. Gargarisma adalah sediaan berupa larutan. Umumnya pekat dan bila digunakan

diencerkan dulu. Gargarisma digunakan sebagai pencegah infeksi tenggorokan dan tujuan penggunaan gargarisma ialah agar obatnya dapat langsung mengenai selaput lendir yang ada di dalam tenggorokan dan bukan sebagai pelindung selaput lendir maka tidak digunakan bentuk suspensi dan bahan berlendir tidak cocok sebagai obat kumur. Gargarisma yang akan dibuat adalah Zinci chloridi gargarisma sebanyak 100 ml. Resep tersebut merupakan resep standar yang komposisinya terdapat di dalam buku Formularium Nasional halaman 304 yaitu Zinci chloridum sebanyak 1 g, acidum salicylas sebanyak 0,3 g, alumunii et kalii sulfas sebanyak 1 g, oleum menthae sebanyak 1 tetes serta aquadest hingga 300 ml. Zinc Chloride berupa kristal yang berwarna putih dan tidak berbau. Berat molekul 136,29; Rumus molekul ZnC12; Titik didih 1350 OF (732 OC); Titik Lebur 541OF (283 OC); Gravitasi khusus (air=1) 2,91@ 25 OC; Kelarutan dalam air 432%@ 25OC; PH 1(larutan 17%); Larut dalam alkohol, eter, asam klorida pekat, gliserol, aseton; Tidak larut dalam amonia. Zink chloride digunakan Sebagai deodoran, desinfektan, pengawet pada landasan rel kereta api, jaket tahan api, zink klorida dan amonium klorida untuk solder, untuk menggores logam, industri kertas perkamen, sutera buatan, zat warna, karbon aktif, lem, vulkanisasi karet, pencoklat baja, galvanisasi besi, pemurnian minyak bumi, mordan untuk printing dan pewarna tekstil; dalam industri tekstil; sintesa kimia. Tawas atau sering disebut juga alumunii et kalii sulfas berupa bongkahan Kristal hablur yang bening dan berwarna kecoklatan muda, transparan mempunyai rasa yang manis serta sepat. Alum atau tawasw merupakan salah satu senyawa kimia yang dibuat dari dari molekul air dan dua jenis garam, salah satunya biasanya Al2(SO4)3. Alum kalium, juga sering dikenal dengan alum, mempunyai rumus formula yaitu

K2SO4.Al2 (SO4)3 .24H2O. Alum kalium merupakan jenis alum yang paling penting. Alum kalium merupakan senyawa yang tidak berwarna dan mempunyai bentuk kristal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat dan aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan didinginkan. Larutan alum kalium tersebut bersifat asam. Alum kalium sangat larut dalam air panas. Ketika kristalin alum kalium dipanaskan terjadi pemisahan secara kimia, dan sebagian garam yang terdehidrasi terlarut dalam air. Alum kalium memiliki titik leleh 900C. Asam salisilat (asam ortohidroksibenzoat) merupakan asam yang bersifat iritan lokal, yang dapat digunakan secara topikal. Terdapat berbagai turunan yang digunakan sebagai obat luar, yang terbagi atas 2 kelas, ester dari asam salisilat dan ester salisilat dari asam organik. Di samping itu digunakan pula garam salisilat. Turunannya yang paling dikenal asalah asam asetilsalisilat. Oleum menthae piperitae atau sering disebut juga minyak permen dalah minyak atsiri yang dengan destilasi uap dari bagian di atas tanah tanaman berbunga. Etanol, disebut juga etilalkohol, alcohol murni, alcohol absolut, atau alcohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol adalah salah satu obat rekreasi yang paling tua. Dalam resep ini etanol digunakan sebagai pelarut. Adapun cara pengerjaan resep ini yaitu disiapkan dan ditimbang serta di kalibrasi botol 100 ml. dilarutkan zink chloride dengan sisa air di dalam beaker glass dan disisihkan. Dilarutkan acid salicyl di dalam Erlenmeyer hingga larut. Digunakan Erlenmeyer karena acid salicyl dilarutkan bersama etanol yang bersifat mudah menguap. Dilarutkan tawas atau alumunium kalii sulfas di dalam beaker dengan air lalu dicampurkan dengan larutan acid salicyl dan diaduk hingga homogeny. Campuran tersebut dimasukkan kedalam larutan zink klorida yang telah dilarutkan dan dimasukkan dalam botol. Ditambahkan oleum menthae pip sebagai pengaroma dan dikocok serta diberi etiket berwarna biru sebagai tanda obat luar.

Obat ini sebagai obat kumur yang digunakan untuk mengobati infeksi yang diakibatkan oleh jamur atau bakteri pada mulut dan tenggorokan. Obat digunakan dengan cara dikumurkan setelah menyikat gigi pagi dan sore. Obat hanya untuk dikumur dan tidak boleh ditelan.

Resep 2 Pada resep ke dua ini dibuat sediaan potio. Potio a dalah sediaan yang berupa cairan untuk diminum, dibuat sedemikian rupa hingga dapat digunakan sebagai dosis tunggal dalam golume besar, umumnya 50 ml. Resep ini mengadung kalibex yang merupakan resep standar dan terdiri dari dextrometorfan HBr, CTM (Chlor Tri Meton), dan ammonium chlorida. Dekstrometorfan (DMP) adalah suatu obat penekan batuk (anti tusif) yang dapat diperoleh secara bebas, dan banyak dijumpai pada sediaan obat batuk maupun flu. Dosis dewasa adalah 15-30 mg, diminum 3-4 kali sehari. Efek anti batuknya bisa bertahan 5-6 jam setelah penggunaan per-oral. Jika digunakan sesuai aturan, jarang menimbulkan efek samping yang berarti. Chlorpheniramin maleat atau lebih dikenal dengan CTM merupakan salah satu antihistaminika yang memiliki efek sedative (menimbulkan rasa kantuk). Namun, dalam penggunaannya di masyarakat lebih sering sebagai obat tidur dibanding antihistamin sendiri. Keberadaanya sebagai obat tunggal maupun campuran dalam obat sakit kepala maupun influenza lebih ditujukan untuk rasa kantuk yang ditimbulkan sehingga pengguna dapat beristirahat. Amonium Klorida mempunyai efek ekspektoran yang diduga berdasarkan peningkatan cairan di saluran napas dengan refleks melalui rangsangan selaput lendir saluran cerna. Amonium klorida memiliki rumus NH4Cl, merupakan suatu garam yang terbuat dari asam kuat HCl dan basa lemah NH4OH (atau NH3). Dengan demikian amonium klorida merupakan garam yang dapat terhidrolisis dalam air membentuk larutan yang agak asam (pH < 7), jadi pH nya tidak netral seperti garam NaCl. Asetosal atau yang mempunyai nama resmi acidum acetylosalicylicum merupakan sediaan padat berupa serbuk hablur yang

tidak berwarna mempunyai bau khas dan mempunyai rasa yang asam. Dalam resep ini asetosal berkhasiat sebagai analgetik dan antipiretikum yaitu menghilangkan rasa nyeri dan menurunkan panas. Adapun cara kerjanya yaitu disiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan serta ditimbang bahan. Dikalibrasi botol 65 ml.dibuat ascal dengan cara digerus asetosal dalam mortar hingga halus dan ditambahkan CaCo3 dan digerus bersamaan hingga homogen. Lalu di masukkan air 41 ml sedikit demi sedikit, jika tidak sampai 41 ml telah larut pemberian air dihentikan. Lalu disaring ke dalam botol dengan menggunakan corong kaca dan kertas saring. Sambil menunggu digerus DMP tablet hingga halus dan dilarutkan dengan etanol lalu saring kedalam botol dan dibilas dengan sisa air (jika ada). Digerus CTM tablet hingga halus dan dilarutkan dengan air kemudian disaring dan dimasukkan kedalam botol serta dibilas dengan sisa air. Ammon chloride dilarutkan dengan air lalu dimasukkan ke dalam botol. Tambahkan air hingga tanda kalibrasi lalu ditutup dan dikocok serta diberi etiket putih sebagai penandaan.
Obat ini berkhasiat sebagai obat batuk berdahak dan tidak berdahak karena mengandung DMP untuk batuk tidak berdahak dan ammon chloride untuk batuk yang berdahak. Obat diminum 4 kali sehari 1 sendok the sehabis makan. Obat ini mempunyai efek samping ngantuk, pusing dan gangguan lambung.

Resep 3

Resep ke tiga ini dibuat sediaan potio efferfescent yang merupakan contoh dari sediaan saturasi. Saturasi adalah Adalah solutio yang dibuat dengan cara mereaksikan bagian asam dan suatu bikarbonat, yang didalamnya jenuh dengan CO2, biasanya digunakan sebagai penyegar. Komposisi resep tersebut adalah natrium bikarbonat sebagai basa, asam sitrat sebagai asam, vitamin C sebagai zat aktif, oleum citri pengaroma, FD & C yellow sebagai pewarna, sirupus simplek sebagai pemanis dan air sebagai pelarut. Natrium bikarbonat adalah senyawa kimia dengan rumus NaHCO3. Dalam penyebutannya kerap disingkat menjadi

bicnat. Senyawa ini termasuk kelompok garam dan telah digunakan sejak lama. Senyawa ini disebut juga baking soda (soda kue), Sodium bikarbonat, natrium hidrogen karbonat, dan lain-lain. Senyawa ini merupakan kristal yang sering terdapat dalam bentuk serbuk. Natrium bikarbonat larut dalam air. Senyawa ini digunakan dalam roti atau kue karena bereaksi dengan bahan lain membentuk gas karbon dioksida, yang menyebabkan roti "mengembang". Senyawa ini juga digunakan sebagai obat antasid (penyakit maag atau tukak lambung). Karena bersifat alkaloid (basa). Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di dalam mitokondria, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan. Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan vitamin antioksidan yang mampu menangkal berbagai radikal bebas ekstraselular. Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam. Buah-buahan, seperti jeruk, merupakan sumber utama vitamin ini. Tartrazin (dikenal juga sebagai E102 atau FD&C Yellow 5) adalah pewarna kuning lemon sintetis yang umum digunakan sebagai pewarna makanan. Tartrazin merupakan turunan dari coal tar, yang merupakan campuran dari senyawa fenol, hidrokarbon polisiklik, dan heterosklik. Karenakelarutannyadalam air, tartrazin umum digunakan sebagai bahan pewarna minuman. Oleum citri berupa cairan berwarna kuning pucat atau kuning kehijauan, mempunyai bau khas dan agak pahit, dalam resep ini oleum berkhasiat sebagai pengaroma jeruk.
Adapun cara kerja resep ini. Disiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang diperlukan serta ditimbang bahan-bahan. Resep ke 3 ini tidak dilakukkan kalibrasi karena sisa air

digunakan untuk melarutkan Natrium bromide, lagipula jika sisa air dimasukkan delam botol dengan tutup yang terbuka akan membebaskan CO2 yang dibutuhkan dalam

pengobatan. Dibuat pengenceran pewarna yaitu FD & Cyellow yang dilarutkan dengan 10 ml air dan diambil hanya 1 ml disishkan. Potio effervescent ini adalah pencampuran asam dan basa yang bereaksi mengeluarkan gas CO2 . Dalam resep ini basa dibuat dengan dilarutkannya natrium bikarbonat di mortir dengan cara gerus tuang. Gerus tuang adalah cara melarutkan sediaan tertentu dengan digerus bersama air dalam mortir, larutan yang jernih dimasukkan ke botol dan endapan dilarutkan lagi dengan air, dilakukkan berulang-ulang hingga endapan habis terlarut. Larutan natrium bikarbonat langsung dimasukkan ke dalam botol. Kemudian dibuat asam dengan dialarutkannya asam sitrat didalam beaker hingga larut dan ditambahkan dengan sirupus simplek serta I ml pengenceran FD & C yellow yang telah dibuat. Diaduk campuran asam hingga homogeny. Kemudian 2/3 asam dimasukkan ked lam basa dan dibiarkan netral (hingga habis semua gelembung CO2 ) lalu ditambahkan oleum citri. Lalu sisa asam dimasukkan perlahan lahan melewati dinding botol ke dalam basa dan segera ditutup dengan gabus atau karet dan diikat dengan tali secara simpul sampangne. Jangan dikocok karena akan memeberikan tekanan lebih besar untuk CO2 dalam botol, diberi etiket putih. Obat ini berkhasiat sebagai antasida karena mengandung CaCo3 dan sebagai penyegar dengan CO2. Obat diminum sekaligus dihabiskan, sebelum diminum jangan dikocok. Efek samping dari obat adalah mual, sakit kepala, dan muntah-muntah.

BAB V PENUTUP
A. kesimpulan Resep 1 Dari praktikum kemarin di dperoleh gargarisma berupa sediaan cair yang bening tidak berwarna, beraroma minyak permen sebanyak 100 ml. Resep 2 Dari praktikum kemarin diperoleh potio berupa sediaan cair yang bening berwarna kuning, sebanyak 65 ml. Resep 3 Dari praktikum kemarin diperoleh potio effervescent

berupa sediaan soda yang bening tidak berwarna berasa manis sebanyak 50 ml.

B. Saran Sebelum praktek hendaknya menara botol terlebih dahulu, sehingga dalam praktikum botol siap digunakan dan tidak mengulur waktu untuk kalibrasi botol.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Muhammad. 1987. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press: Yogyakarta. Ansel, H.C.1987. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi IV. Universitas Indonesia Press: Jakarta. Boylan James.C, dkk.2003. Handbook of Pharmaceutical Exicipients : USE. Gunawan, Sulistia Gan, dkk. 1971. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Departemen Farmaklogi Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. Parafit, Khatleen. 1999. Martindale, The Complete Drug Reference. Edisi 28. Pharmaceutical Press: London. Prawirosujanto, Sunarto, dkk. 1966. Formularium Indonesia. Depkes RI: Jakarta. http://farmasiabis.blogspot.com/2011/04/solutiones-larutan.html