Anda di halaman 1dari 23

Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanyatanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut (mutlak) yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangkan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya kenyataan lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak. Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai
1

Pendahuluan

dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan kenyataan yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap

"pemberontakan" remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanakkanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut. Kecenderungan remaja terhadap sesuatu kadang kala tidak dapat dipenuhi karena dihalangi oleh ketentuan agama dan adat kebiasaan di tengah masyarakat. Pertentangan itu semakin tampak tatkala remaja menginginkan sesuatu hanya menurut selera dan kehendaknya saja. Mereka berpakaian yang tidak sopan, menonton film dan berperangai buruk, padahal semua perbuatan ini berlawanan dengan ketentuan agama dan nilai-nilai universal. Bagi remaja yang pandai memposisikan dirinya pada tatanan nilai tersebut, maka dia dapat menghindari segala kecenderungan yang dianggap menginjak nilai. Pertentangan antara keinginan remaja dengan ketentuan agama ini menyebabkan jiwa remaja memberontak dan berusaha melawan kenyataan itu dengan

memperturutkan kata hatinya. Di sinilah letak gejolak proses pencarian nilai pada diri remaja. Tantangan yang dihadapi oleh remaja sekarang tentu saja memiliki ruang yang lebih kompleks sehingga stimulus (rangsangan), godaan,
2

Pendahuluan

kepada dunia mereka lebih varatif. Menurut KH. Toto Asmara (dalam M.Barnar, 2007) tantangan tersebut biasa disingkat dengan istilah 7 F. Yaitu Finance, Film, Food, Fashion, Fun, Free thinker dan Friction (pergesekan). Bagaimana menghadapi tantangan budaya global dengan menggunakan paradigma kini dan disini? Pertama, Finance. Para Remaja yang mengaku sebagai subyek perubahan, harus melek secara finansial. Mereka tidak manja dan terjebak pada pola hidup hedonis dan konsumtif, melainkan Remaja harus produktif dan memiliki sense (rasa)

kemanusiaan. Kedua, Film. Harus diakui bahwa film-film yang beredar di masyarakat kini digerakkan oleh pemilik modal yang ingin mengeruk kapital sebanyak-banyaknya. Remaja yang cerdas tidak akan bersikap menolak mentah-mentah produk Film yang menjual mimpi-mimpi dan gaya hidup materialistis. Melainkan mampu melakukan dialektika yang cerdas bukan sekedar keterampilan untuk menghujat dan mengecam produk-produk para kapitalis tersebut. Ketiga, Food. Globalisasi telah membawa spirit universalisme dalam seluruh lini (lapisan) kehidupan. Dalam hal makanan, spirit ini direpresentasikan oleh KFC dan Mc Donald yang ingin melakukan penyeragaman rasa lidah penduduk bumi. Dalam melakukan perlawanan terhadap globalisasi yang dimotori oleh mesin kapitalisme ini, para Remaja hendaknya mampu berpikir dan bersikap kreatif menolak trend ini, misalnya dengan tetap merasa bangga dengan menikmati makanan lokal yang mungkin lebih lezat, seperti Coto Makassar ataupun Sop Saudara. Keempat, Fun. Hidup hanya sekali, karena itu gunakanlah hanya untuk bergembira ria. Demikian jargon pola
3

Pendahuluan

hidup yang dikampanyekan dan dibiuskan oleh media kapitalis. Sikap ini tidak salah, apabila Fun tidak sekedar dimaknai secara individual, yang justru membangun dan menumbuhkan sikap asosial. Fun harus dibangun dalam kerangka kebersamaan dan kesejahteraan bersama. Misalnya dengan jargon Makan Nggak Makan Asal Kumpul. Kelima, Fashion. Setiap hari media menyuguhi kita dengan gaya fashion dari ujung kaki sampai ujung rambut. Akibatnya, anak muda lebih cenderung pada gaya dan performance ala hollywood ketimbang tampil sebagai dirinya sendiri. Sikap yang harus dibangun adalah kejujuran apa adanya sesuai dengan kapasitas dan pandangan dunia yang kita anut. Keenam, Free Thinker, Kebebasan berpikir sesungguhnya bukan masalah, melainkan ketika kebebasan berpikir itu tidak dalam bingkai humanisme-transendental, hendaknya senantiasa mengiringi dalam membingkai Kebebasan

Berpikirnya. Ketujuh, Friction. Dalam menghadapi bius budaya populer, anak muda akan mengalami kegamangan hingga berujung pada split personality. Oleh karena itu Remaja harus membangun pandangan hidup yang cerdas, yang tidak menolak mentah-mentah tawaran budaya populis, namun juga tidak menerima apa adanya kebudayaan tersebut. Pada mulanya belanja adalah sebuah prosesi yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat adalah bagian dari keseharian anggota masyarakat. Akan tetapi, pada saat ini akumulasi kapital mengalami kemandekan, sehingga para kapitalis mencoba cara baru agar peredaran barang produksi mereka bisa tetap berlangsung atau malah menghasilkan profit yang lebih baik. Belanja kemudian menjadi gaya hidup.
4

Pendahuluan

Dalam banyak hal bisa dikatakan, sejarah manusia adalah sejarah konsumsi (dan produksi). Sesudah dengan tangan telanjang kita memakai daun untuk makan, lalu memakai sendok-garpu, sumpit guna

mengkonsumsi makanan. Konsumsi berkait pemakaian barang/jasa untuk hidup layak dalam kelayakan konteks survival sosio-ekonomis-kultural (kelangsungan hidup). tertentu. Ia

menyangkut

Sedangkan

konsumerisme adalah soal lain lagi. Dalam masyarakat komoditas atau konsumer, terdapat suatu proses adopsi cara belajar menuju aktivitas konsumsi dan pengembangan suatu gaya hidup (Feathersone, 2005). Pembelajaran ini dilakukan melalui majalah, koran, buku, televisi, dan radio, yang banyak menekankan peningkatan diri, pengembangan diri, transformasi personal, bagaimana mengelolah kepemilikan, hubungan dan ambisi, serta bagaimana membangun gaya hidup. Melalui berbagai instrumen dan cara-cara persuasif, kapitalisme memaksa masyarakat mengkonsumsi tanpa henti. Muncul kemudian kebutuhan semu, bukan karena butuh (need), namun lebih pada ingin (want). Produksi tentu tak lepas dari konsumsi, pasangannya. Sebab keduanya saling membutuhkan. Pada awal perkembangan masyarakat, produksi adalah upaya usaha memenuhi kebutuhan sendiri. Dari gambaran di atas kita melihat bahwa,

mengkonsumsi sebenarnya bukan hanya persoalan pada zaman kini, ketika mall dan pusat perbelanjaan menjamur. Konsumsi merupakan perilaku primitif manusia.

Pendahuluan

Munculnya pusat perbelanjaan dalam bentuk yang lebih baru, membuat konsumsi menjadi sebentuk candu. Tentu saja perubahan pola perilaku konsumsi tidak terjadi begitu saja. Perubahan pola dan perilaku konsumsi terjadi seiring perkembangan infrastruktur masyarakat. Mereka yang menjadikan nongkrong di mall sebagai gaya hidup. Bagi banyak orang, mall dijadikan tempat pemburuan prestasi. Nongkrong bukan soal ada-tidaknya uang untuk shopping, pun bukan soal laba besar yang dikeruk melalui permainan insting konsumen. Berapa dan apapun harganya, mereka yang menganut ideologi ini pasti akan membayarnya. Lalu, mengapa di tengah lautan kemiskinan yang luas, orang menumpuk barang-jasa bermerek yang berharga absurd (tidak masuk akal)? Kunci untuk memahami konsumerisme adalah psikologi, bagaimana "konsumsi yang mengada-ada" dilembagakan sebagai nirvana. Dalam kasus ini, mereka diburu dengan harga absurd karena memberi kita klaim pada rasa percaya diri (pede) dan eksklusif. Lantaran eksklusif, maka juga prestise dan status sosial itu juga ada secara langsung. Fakta bahwa semua itu ternyata bukan nirvana tidak soal karena status dan rasa percaya diri tertinggi pun dengan cepat dilampaui, konsumerisme bagai urusan mengejar langit di atas langit. Orang tidak hanya merasa naik mobil, tetapi Jaguar; tidak hanya merasa mengenakan pakaian, tetapi memakai Armani. Pada satu sisi, konsumsi memang bersifat mutlak.

Keberlangsungan hidup manusia tidak bisa terlepas dari asupan pangan yang mereka nikmati. Peningkatan intensitas kebutuhan komoditas
6

Pendahuluan

konsumsi secara rasio memang berkorelasi positif dengan pertumbuhan jumlah manusia. Lebih lanjut hakikat konsumsi, dalam hidup manusia terkait dengan pemenuhan akan kebutuhan hasrat fisik manusia. Maslow dalam teorinya tentang piramida kebutuhan manusia, mengemukakan, bahwa kebutuhan manusia secara berurut meliputi; kebutuhan dasar (pangan, sandang dan papan), kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk dicintai, kebutuhan sosial, self actualication, dan cognitive needs. Selanjutnya kami mau menjelaskan lebih jauh tentang

konsumerisme khususnya pada para remaja pada jaman sekarang ini. Remaja saat ini sering menghabiskan waktu di mall, mereka bisa pergi ke mall dalam waktu satu minggu tiga sampai empat kali, biasanya setiap malam minggu setiap mall pasti ramai, apa lagi mall-mall elit pastinya dikunjungi banyak pemuda remaja masa kini, di restoran, caf, bar, dan pusat perbelanjaannya. Mereka cenderung lebih sering nongkrong di mall dari pada di tempat hiburan lainnya. Apalagi sekarang banyaknya dibuka mall-mall baru dan tidak kalah saingnya setiap daerah sudah mendirikan mall-mall, walaupun Indonesia termasuk negara miskin tetapi mall-mall akan selalu ramai dengan banyak konsumer khususnya para remaja. Mall Pannakkukang dan Mall Trans adalah pusat perbelanjaan campuran yang tentu itu difasilitasi tempat yang bagus, di tempat ini terdapat banyak tempat yang bisa dijadikan tempat nongkrong artinya ada fungsi lainnya selain berbelanja tetapi juga sebagai tempat nongkrong, selain itu mall ini menyediakan banyak tempat yang kemudian dapat
7

Pendahuluan

membuat para remaja betah serasa rumah sendiri, dominasi pengunjung mall adalah perempuan remaja. Para remaja sering sekali mampir dan berbelanja walaupun tidak sangat berkepentingan mereka suka melihatlihat model-model yang baru keluar saat ini. Karena banyaknya para remaja mengandalkan gengsi dan senang memakai barang-barang yang bermerek daripada tidak bermerek. Seperti contoh-contoh yang telah ditulis di atas tadi juga merupakan hobi saya. Dipandang dari sudut logika ini berbicara tentang mall dan Perempuan itu tidak lepas dari pola perilaku perempuan remaja Makassar saat ini, belum lagi sifat dasar pada manusia adalah tidak pernah puas, selain itu manusia juga saat ini sangat paradoks, selain itu akan terjebak pula ke dalam ragam komoditi. Pada perkembangannya kini, manusia terjebak pada kompleksitas ragam komoditi yang hendak (secara sadar atau tidak) mereka konsumsi. Itu semua tak terlepas dari konstruksi sosial yang dibangun massa di dalam lingkungan manusia itu sendiri. Salah satunya yaitu peradaban modern yang tumbuh dari perkembangan umat manusia telah

menunjukkan kemajuan paling tinggi. Namun perkembangan peradaban yang kian maju, tidak semuanya memiliki dampak positif, beberapa diantaranya memberikan implikasi yang kurang baik bagi manusia, berupa perubahan budaya, salah satunya adalah budaya konsumtif terhadap benda (material culture). Tempat-tempat persemaian gaya hidup di Indonesia pada

umumnya dan Kota Makassar pada khususnya agaknya di masa depan


8

Pendahuluan

masih akan terus menumbuhkan berbagai corak gaya, nilai dan cita rasa yang tak lepas dari peran iklan gaya hidup dan pahlawan-pahlawan dalam kebudayaan pop. Dalam kondisi seperti ini, tak ada jalan lain antara larut atau lari dari hegemoni gaya hidup yang mungkin dianggap dekaden. Tampaknya, dalam kegelisahan psikologis itu, pencarian gaya akan tetap menantang. Karena pilihan gaya yang baru juga tidak putus-putusnya hadir ke hadapan kita. Seperti layaknya pusaran siklus mode atau fashion, pencarian gaya pun terus berputar bersama waktu dan kehidupan seseorang. Karena itu, bagaimana kita memilih gaya hidup dan apa makna gaya hidup itu bagi kita, akan terus menjadi salah satu isu psikologis yang penting hingga di masa-masa yang akan datang. Karena pilihan suatu gaya hidup tertentu, baik dilakukan dengan sadar atau tidak, akan dengan kuat sekali menentukan bentuk masa depan individu. Gaya hidup itu akan menentukan suatu tatanan, serangkaian prinsip atau kriteria pada setiap pilihan yang dibuat individu itu dalam hidupnya seharihari. Selain itu, mall dijadikan sebagai pemenuhan kebutuhan, padahal sangat terbalik dengan prinsip ekonomi yang sebenarnya, kenapa karena saat ini masyarakat kota khususnya remaja lebih memilih belanja di mall ketimbang di pasar-pasar, sementara harga barang-barang yang tersedia di mall itu mahal-mahal dan menariknya lagi remaja ini tidak memiliki penghasilan ekonomi tetap akan tetapi mereka lebih banyak ke mall ketimbang orang-orang yang berpenghasilan tetap. Berdasarkan

Pendahuluan

fenomena di atas penulis tertarik melakukan penelitian dengan tema: Mall Bagi Remaja Perempuan Di Kota Makassar. I.2 Pertanyaan Penelitian Skripsi ini ingin memahami fenomena yang terjadi dalam pergaulan remaja perempuan yang menyebabkan mereka lebih sering mengunjungi mall dimana selain berbelanja tetapi mereka juga menjadikannya sebagai tempat nongkrong, selain itu mall ini menyediakan banyak tempat yang kemudian dapat membuat para remaja betah serasa rumah sendiri, dominasi pengunjung mall adalah perempuan remaja. Para remaja sering sekali mampir dan berbelanja walaupun tidak sangat berkepentingan mereka suka melihat-lihat model-model yang baru keluar saat ini. Karena banyaknya para remaja mengandalkan gengsi dan senang memakai barang-barang yang bermerek daripada tidak bermerek. Dengan mengacu pada uraian di atas, maka penulis memberikan batasan terhadap masalah yang akan diteliti. Adapun masalah-masalah tersebut kemudian dirumuskan yakni: I.2.1 Mengapa remaja perempuan di Kota Makassar lebih sering ke mall? I.2.2 Bagaimana implikasi sosial budaya dari perilaku remaja

perempuan sering ke mall? I.3 Tujuaan Dan Kegunaan Penelitian I.3.1 Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini berdasarkan perumusan pokok kajian di atas adalah sebagai berikut:
10

Pendahuluan

1. Untuk memberi gambaran dan penjelasan tentang apa yang mempengaruhi remaja perempuan lebih sering ke mall. 2. Untuk memberi penjelasan tentang bagaimana implikasi sosial budaya dari perilaku remaja perempuan sering ke mall. I.3.2 Kegunaan Penelitian Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat berguna antara lain sebagai: 1. Bahan masukan rekomendasi bagi pemerintah, secara khusus institusi terkait untuk menyikapi persoalan fenomena diatas. 2. Bahan masukan bagi pengembangan ilmu sosial budaya bagi peneliti-peneliti yang berminat dalam melakukan penelitian

terhadap masalah serupa. 3. Sebagai penambahan wawasan dan cakrawala berpikir yang mendalam bagi pihak pengelolah mall. 4. Sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana Antropologi di Universitas Hasanuddin. I.4 Kerangka Konseptual Gaya hidup seseorang adalah pola hidup seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat dan pendapat (opini) yang bersangkutan (Kotler, 1989:189). Dalam era globalisasi yang semakin pesat ini, identitas seseorang terutama remaja seringkali mengalami perubahan-perubahan yang dinyatakan melalui gaya dan tingkah laku sosialnya, majalah remaja seperti seventeen, gadis, cosmogirl, kawanku, shopn shop, atau ice; majalah-majalah tersebut ini
11

Pendahuluan

sering menampilkan informasi tentang apa yang sedang trend dan apa yang menggiring remaja agar memasuki gaya hidup tertentu sesuai dengan nilai-nilai yang disampaikannya. Ada beberapa alasan mengapa mall dijadikan tempat nongkrong (bukan sebagai tempat shooping) dan sebagai arena baru untuk beraktualisasi di kalangan remaja perempuan lebih mudah menjangkiti kalangan remaja, salah satunya karena secara psikologis remaja masih berada dalam proses mencari jati diri dan sangat sensitif terhadap pengaruh luar, seperti lingkungan bergaul dan lingkungan sosial. Masa remaja merupakan masa penuh gejolak emosi dan ketidakseimbangan sehingga mereka mudah terkena pengaruh lingkungan. Remaja ingin dianggap keberadaannya dan diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi lingkungan tersebut.

Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama denga orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang popular. Salah satunya mall, (studio, restoran-restoran, distro, kafe, dan tempat-tempat lainnya), semua fasilitas-fasilitas dan tempat seperti di atas tersedia di mall, untuk memudahkan mengakses semua informasi yang dapat mendukung gaya hidup mereka sehingga mereka menjadikan mall sebagai tempat nongkrong, untuk dianggap

keberadaannya atau eksistensinya oleh lingkungan mereka, maka harus menjadi lingkungan tersebut denga cara mengikuti gaya hidup saat ini dan menikmati semua fasilitas yang telah disediakan seperti yang dijelaskan di atas.
12

Pendahuluan

Adanya penyeragaman budaya (uniform culture). Artinya, ada pembangunan pemahaman massa dan penciptaan aksen serta batasan tentang idealitas. Sosio-budaya yang berkembang kini, sudah keluar dari hakikat konsumsi sebenarnya. Kondisi tersebut, mengarahkan manusia pada bentuk tubuh yang ideal mulai dari rambut yang ideal, warna kulit ideal, hingga bentuk hidung ideal. Bahkan, pula menyentuh ranah ras sampai agama ideal. Demikianlah, idealitas (dalam artian kondisi yang ideal/sempurna) dijadikan paham mutakhir menyambut era yang disebut global century ini. Masyarakat kini hampir tidak bisa lepas dari peran objek sebagai perumus eksistensi (status, prestise, kelas). Sekarang kebutuhan tidak lagi sekedar berkaitan dengan nilai guna suatu benda dalam rangka memenuhi fungsi utilitas atau kebutuhan dasar manusia, akan tetapi kini berkaitan dengan unsur-unsur simbolik untuk menandai kelas, status atau simbol sosial tertentu. Demi mendapatkan legitimasi bahwa kita adalah manusia yang dinamis dan sangat peka terhadap perubahan sosial budaya. Kebudayaan bersifat dinamis, tanpa adanya gangguan yang kemudian disebabkan oleh unsur budaya asing sekalipun suatu kebudayaan dalam masyarakat tertentu, pasti akan berubah seiring dengan waktu. Dalam setiap kebudayaan selalu ada kebebasan tertentu pada para individu dan kebebasan individu memperkenalkan variasi dan cara-cara yang berlaku itu, yang pada akhirnya dapat menjadi milik bersama, dengan demikian, dikemudian hari akan menjadi bagian dari kebudayaan atau mungkin

13

Pendahuluan

beberapa aspek dari lingkungan akan berubah dan memerlukan adaptasi kebudayaan yang baru (Ihromi, 1990 :32). Jadi, kebudayaan manusia bukanlah suatu hal yang timbul sekali atau bersifat sederhana. Setiap masyarakat memiliki kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan yang lain dan kebudayaan itu merupakan suatu kumpulan yang berintegrasi dari cara-cara yang dimiliki bersama dengan kebudayaan yang bersangkutan dan secara unik mencapai pada penyusuaian pada lingkungan tertentu. Sementara, Kroeber dan Kluckhon dalam Keesing (1999 : 68) melihat budaya sebagai pola eksplisit dan implisit, tentang dan untuk perilaku yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol, yang merupakan prestasi khas manusia termasuk perwujudannya dalam benda-benda budaya. Pola-pola kehidupan sosial yang khusus seringkali disederhanakan dengan istilah budaya, memang budaya biasa

didefenisikan sebagai keseluruhan gaya hidup suatu masyarakat, kebiasaan adat-istiadat, sikap dan nilai mereka, dalam hubungan antar manusia secara sosial, yang paling penting adalah melalui perantara benda-benda atau objek-objek. Perantara benda-benda ini berguna, karena menunjukkan materi dan budaya selalu berkombinasi dalam hubungan yang spesifik, dan dapat mengundang pendekatan yang fleksibel dalam mempelajari perubahan sosial yang salah satunya adalah proses pembentukan gaya hidup. Penambahan gaya pada setiap bidang dari penampilan dan kebiasaan merupakan cara untuk menyesuaikan diri dengan konteks
14

Pendahuluan

dimana

seseorang

menjadi

bagian

yang

bagaimanapun dalam

juga

memperlihatkan

kecenderungan-kecenderungan

pembentukan

relativisme nilai. Hebdige berpendapat bahwa gaya adalah sebuah praktek penandaan (signifying practice), gaya adalah sebuah arena penciptaan makna (Antariksa, 2000). Gaya merupakan bentuk pernyataan diri ke luar, melalui penampilan dan tingkah laku. Maka tentunya usaha ekspresi ini diharapkan akan membuat impress (kesan) pada orang lain. Jika orang lain tidak hanya terkesan, melainkan juga dapat menangkap makna pernyataan diri itu, maka terciptalah suatu komunikasi sosial. Dengan demikian, gaya pada hakekatnya berfungsi sebagai ekspresi sosial. Ekspresi sosial atau ekspresi diri dengan makna sosial yang melekat. Artinya, apapun yang melekat pada diri kita sebagai manusia itu terkonstruk secara sosial, sehingga makna itu ada. I.5 Metode Penelitian I.5.1 Jenis dan Tipe Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptifkualitatif, yaitu dengan

menguraikan gambaran menyeluruh dan terperinci tentang masalah yang diteliti. Sebagaimana yang telah tergambar pada judul kami di atas yaitu Mall Bagi Remaja Perempuan Di Kota Makassar, Dalam penelitian ini, penulis ingin mendiskripsikan hal-hal yang terjadi di lokasi tentang bagaimana perilaku remaja ketika mereka berada di mall menghabiskan waktu mereka dengan mengadakan pengamatan secara langsung serta mengadakan wawancara secara langsung melalui pertanyaan-pertanyaan

15

Pendahuluan

yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti untuk mendapatkan jawaban langsung yang nantinay dapat memudahkan dalam penulisan. Dalam kajian ini penyelenggaraannya dengan memutuskan kasus pada remaja perempuan dan mall-mall yang ada di Kota Makassar. I.5.2 Penentuan Lokasi Penelitian Dalam penelitian kualitatif, lokasi penelitian ditentukan secara purpossive (sengaja), yaitu Mall Panakkukang, dan Mall Trans di Kota Makassar. Mall Panakkukang dipilih karena di mall ini dapat dijangkau oleh semua kalangan dan merupakan mall yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas, fasilitas yang dimaksud adalah tenant, atau gerai-gerai, itu memanjakan bagi pengunjung mall, mulai dari pelayanan, kebersihan, dan terpenting kenyamanan itu lebih utama. Sedang Trans Mall terletak di pusat kota dan merupakan mall terbaru yang ada di Makassar dan menurut saya, mall ini juga merupakan mall mewah dan elit, selain itu mall ini juga menyediakan tempat yang jauh lebih nyaman dan bernuansa Eropa, yang pertama hadir di Kota Makassar, sehingga kami tertarik untuk menjadikannya sebagai salah satu lokasi penelitian kami. Dengan pertimbangan inilah maka kami memilih kedua mall ini untuk melakukan penelitian yang tentu berdasar pada masalah-masalah penelitian. I.5.3 Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini melalui teknik penelitian lapangan seperti pengamatan dan wawancara. Pengamatan (observasi) dilakukan dalam rangka untuk melihat dan mengamati
16

Pendahuluan

aktivitas kehidupan masyarakat sebagai objek penelitian, dalam kaitannya dengan masalah yang diteliti. Hal ini dimaksudkan untuk memahami secara dekat dan agar data yang diharapkan dapat terangkum lebih lengkap guna mendukung deskripsi dan analisis. Teknik wawancara dimaksudkan untuk memperoleh data atau informasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti dengan tetap mengacu pada pedoman wawancara. Kedua metode yang terdapat di dalam metodologi penelitian kualitatif ini kemudian akan kami jelaskan sebagai berikut, untuk melihat keterkaitan penggunaan metode dengan fokus penelitian kami. 5.3.1 Observasi (pengamatan) Pembahasan yang dilakukan Lexy Moleong (2001, 125-126) di dalam bukunya; Metodologi Penelitian Kualitatif, mengisyaratkan bahwa pengamatan adalah sebuah metode yang memungkinkan peneliti mengalami hal yang diteliti sebab berada di lokasi penelitian, dan juga mencatat segala situasi dan kondisi yang ada di lokasi penelitian, dengan kata lain, pengamatan mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tidak sadar dan kebiasaan. Berkaitan dengan hal yang akan kami teliti, maka metode pengamatan sangat memungkinkan di dalam memberi pemahaman mengenai pola interaksi pada tingkatan-tingkatan yang dimaksud pada fokus penelitian kami. Terlebih mereka terikat pada sebuah kesatuan yang menggunakan lambang-lambang tertentu sebagai pengikat kebersamaan mereka, yang tentunya akan menjadi bagian pertanyaan di dalam
17

Pendahuluan

penelitian kami. Dan untuk itu, peneliti menggunakan pengamatan berperan serta secara lengkap; sebagai pengamat yang menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati. Dalam pengamatan ini, penulis memperhatikan tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh remaja perempuan ketika berada di mall, apa yang sering mereka lakukan ketika berada di mall, dengan siapa saja mereka mengunjungi mall. Sehingga penulis dapat mengetahui secara langsung kegiatan para remaja perempuan ketika berada di mall sebelum melakukan wawancara. 5.3.2 Wawancara (Interview) Metode wawancara jelas tepat digunakan di dalam penelitian kami. Sebab, selain melakukan pengamatan, tentunya terdapat pertanyaanpertanyaan yang muncul seputar hal yang diamati, dan seterusnya akan menjadi pertanyaan dari hasil atau data yang telah diperoleh. Hal ini sesuai dengan tujuan wawancara yang antara lain digunakan untuk mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi,

perasaan, motivasi, perasaan, tuntutan, kepedulian dan lain-lain (Lexy Moleong, 2001:135). Sebagai pemisahan lambang atau simbol pengikat yang telah sah di dalam organisasi, dapat dipahami dengan melakukan wawancara terhadap Remaja Perempuan sebagai pengunjung mall untuk mengetahui secara langsung tentang darimana mereka mendapatkan informasi tentang mall, bagaimana sehingga mereka lebih memilih untuk

mengunjungi mall ketimbang tempat lain, apa saja yang sering mereka
18

Pendahuluan

lakukan selama berada di mall, berapa kira-kira pengeluaran mereka setiap kali mereka ke mall, apa mall merupakan otoritas terpenting bagi remaja perempuan, dengan siapa saja mereka biasanya ke mall. 5.3.3 Studi Dokumentasi Dokumentasi menurut Paul Otlet pada International Economic Conference tahun 1905 adalah kegiatan khusus berupa pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penemuan kembali dan penyebaran dokumen. Kegiatan dokumentasi melibatkan kegiatan pengumpulan, pemeriksaan, pemilihan dokumen sesuai dengan kebutuhan dokumentasi;

memungkinkan isi dokumen dapat di akses; pemrosesan dokumen; mengklasifikasi dan mengideks; menyipkan penyimpanan dokumen; pencari kembali dan penyajianya. Metode atau studi dokumen, meski pada mulanya jarang diperhatikan dalam metodologi penelitian kualitatif, pada masa kini menjadi salah satu bagian yang penting dan tak terpisahkan dalam metodologi penelitian kualitatif. Bungin (2007)

menyatakan bahwa tingkat kredibilitas suatu hasil penelitian kualitatif sedikit banyaknya ditentukan pula oleh penggunaan dan pemanfaatan dokumen yang ada. Dalam kaitan dengan penelitian kami, maka dokumen/ sumber yang kami gunakan berhubungan dengan skripsi kami seperti data dari pengelolah mall baik dari Mall Pankkukang dan Mall Trans, seperti sejarah berdirinya mall, struktur organisasi, sarana dan prasarana, struktur kerja, serta tenant-tenant atau gerai yang ada di mall tersebut.

19

Pendahuluan

I.5.4 Teknik Penentuan Informan Informan di dalam penelitian ini adalah mereka atau remaja perempuan yang menghabiskan waktunya hanya di mall dan berusia 16 tahun sampai dengan 21 tahun berdasarkan ukuran yang diberikan oleh WHO, dan untuk mendapatkan data yang lain maka kami juga memilih pengelolah mall untuk menjadi informan kami. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan terdapat informan di luar kriteria tersebut sebab; salah satu fokus penelitian kami adalah memahami faktor-faktor dan implikasi sosial budaya yang kemudian dapat mempengaruhi pola perilaku remaja perempuan ketika berada di mall. Untuk kriteria informan ini, mereka termasuk informan biasa. Adapun para remaja perempuan yang tidak lagi memfungsikan mall sebagai tempat shooping akan tetapi sebagai tempat nongkrong, kami kategorikan sebagai informan kunci (key informant), yang dianggap mengetahui lebih banyak tentang masalah tersebut. Untuk menjawab permasalahan yang telah diajukan pada ujian proposal, maka penulis memilih dan menetapkan informan sebagai orang yang dapat memberikan informasi berkaitan dengan rumusan masalah yang diajukan penulis. Pemilihan informan dalam penelitian ini sangat selektif mengingat judul skripsi yang diajukan oleh penulis terkait, maka dengan itu informan yang dipilih adalah mereka yang terlibat langsung. Dari pemilihan informan yang secara purposive, penulis menuai kendala sebab di antara beberapa informan yang berusia remaja belasan tahun, menolak untuk menjadi informan. Bagi penulis remaja yang tidak
20

Pendahuluan

bersedia untuk menjadi informan dalam penelitian ini sangat disayangkan sebab informasi yang akan didapatkan akan sangat variatif. Akan tetapi dengan tidak bersedianya remaja tersebut tidak menjadi alasan bagi penulis untuk mengorek informasi dari informan yang bersedia sehingga informasi dibutuhkan dalam penulisan skripisi ini cukup. Adapun keterangan mengenai informan menurut umur, jenis kelamin dan pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel I.1 Informan Menurut Umur, Jenis Kelamin dan Pekerjaan Jenis No Nama Informan kelamin Umur Pekerjaan L P 1 Kasmila 20 Mahasiswi 2 Wirda 19 Mahasiswi 3 Luly 17 Pelajar 4 Novriany 21 Mahasiswi 5 Claudia 18 Pelajar 6 Dia 20 Mahasiswi 7 Amelia 16 Pelajar 8 Rara 19 Mahasiswi 9 Jeane 18 Karyawati 10 Elly Runturambi 19 Mahasiswi 11 Dede 18 Mahasiswi 12 Cristine 18 Mahasiswi 13 Fila 19 Mahasiswi 14 Thinie 17 Pelajar Sumber: Data Primer

Adapun waktu yang sering dimanfaatkan remaja khususnya konsumen Mall untuk berkunjung dapat dilihat tabel di bawah ini:

21

Pendahuluan

No.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

Tabel I.2 Waktu Berkunjung Ke Mall Nama Informan Jenis Pagi Kelamain Hari L P Kasmila Wirda Luly Novriany Claudia Dia Amelia Rara Jeane Elly Runturambi Dede Cristine Fila Thinie -

Siang/ Sore Hari

Malam Hari

8 Sumber: Data Primer I.5.5. Teknik Analisis Data

Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan yang sudah tertulis dalam catatan harian di lapangan, hasil observasi dan lain sebagainya (Moleong, 2001:209). Langkah menganalisis data adalah dengan menarik kesimpulan atau verifikasi, yaitu sebagian dari suatu kegiatan konfigurasi yang utuh. Kesimpulan yang diambil tentu saja berdasar pemahaman terhadap data yang telah disajikan dan dibuat dalam pernyataan singkat dan mudah dipahami dengan mengacu pada pokok permasalahan yang diteliti. Cara yang diambil dalam analisis ini adalah setelah data terkumpul semua baik itu wawancara, pengamatan yang sudah tertulis dalam catatan harian di lapangan, hasil observasi dan lain sebagainya ditabulasi.

22

Pendahuluan

Setelah itu peneliti melakukan pengelompokan-pengelompokan jawaban, mengacu pada parameter yang telah ditentukan. Dengan cara seperti ini diharapkan akan mempermudah penarikan kesimpulan. I.6 Sistematika Penulisan Bab I, pendahuluan memuat tentang latar belakang, masalah penelitian, kerangka konseptual, metode penelitian dan

sistematika penulisan BAB II, tinjauan Pustaka memuat tentang hal-hal yang berkenaan dengan masalah penelitian yang dijadikan bahan acuan dalam

penyusunan tulisan ini tentang masyarakat dan kebudayaannya; pengertian kebudayaaan; perilaku; globalisasi, mall dan gaya hidup; dan remaja. BAB III, memuat tentang gambaran umum tentang Lokasi Penelitian yaitu Mall Panakkukang, dan Mall Trans. BAB IV, memuat data khusus tentang pengetahuan remaja perempuan tentang mall dan implikasi sosial budaya dari perilaku remaja perempuan yang suka ke mall. BAB V, adalah kesimpulan dan saran tentang masalah penelitian.

23