Anda di halaman 1dari 4

Jenis Sambungan Las Sebelum memulai pengelasan, harus ditentukan dulu jenis sambungan las yang bagaimana yang

akan dipilih. Harus diperhitungkan bahwa sambungan yang akan dibuat akan mampu menerima beban (beban statis dan beban dinamis atau kedua-duanya). Yang dimaksud dengan beban statis adalah beban tetap tanpa bertambah atau berkurang dalam kondisi berfungsi atau tidak berfungsi, misalnya balok besi penyangga pada konstruksi bangunan. Ia hanya menerima beban sekali saja secara tetap. Kalaupun ada penambahan dan pengurangan beban hanya sedikit saja, sehingga tidak berpengaruh dan dapat diabaikan. Beban dinamis adalah beban yang berubah-ubah dengan pertambahan dan pengurangan yang cukup besar dalam kondisi yang tak tentu.misalnya besi penyangga pada konstruksi jembatan atau pada alat pengangkat. Dengan adanya beberapa kemungkinan pemberian beban sambungan las, maka terdapat beberapa jenis sambungan las, yaitu sebagai berikut :

1. Las alur (kampuh) I Sambungan ini dapat dibuat dua kemungkinan, yaitu sambungan tertutup dan sambungan terbuka. Sambungan ini kuat untuk kondisi bebas statis, tetapi tidak disarankan untuk menerima beban tekuk. a. Las alur I dengan sambungan tertutup Disebut sambungan tertutup jika sisi kedua pelat saling menyentuh. Tebal pelat maksimum yang disarankan adalah 2 mm, sehingga pengelasan cukup pada satu sisi. Untuk tebal pelat lebih dari 2 mm, sambungan akan sempurna bila dilas dari kedua sisi pelat. b. Las I dengan sambungan terbuka Pada sambungan ini terdapat celah antara pelat yang akan dilas. Lebar celah bergantung pada ketebalan pelat. Sambungan ini kurang kuat dibanding sambungan tertutup. Tebal pelat yang biasa digunakan pada sambungan ini 3 6 mm. 2. Sambungan V-tunggal Sambungan V-tunggal dapat juga dibuat tertutup dan terbuka. Sambungan ini lebih kuat daripada sambungan persegi dan dapat dipakai untuk menerima

gaya tekan yang besar, serta lebih tahan terhadap kondisi beban statis. Pada pelat dengan tebal 5 mm 20 mm perembesan (penetrasi) dapat dicapai 100%. 3. Sambungan V-ganda Sambungan ini lebih kuat daripada sambungan V-tunggal, sangat baik untuk kondisi beban statis maupun dinamis serta dapat menjaga perubahan bentuk kelengkungan sekecil mungkin. Sambungan ini dipakai pada ketebalan 18 mm 30 mm. 4. Sambungan V-miring tunggal dan ganda Sambuungan ini dipergunakan untuk beban tekan yang besar. Sambungan ini lebih baik daripada sambungan las persegi, tetapi tidak lebih baik dari sambungan V. Letaknya disarankan terbuka dan dipakai pada ketebalan pelat 6 mm 20 mm. 5. Sambungan U-tunggal Sambungan U-tunggal dapat dibuat secara tertutup dan terbuka. Sambungan ini lebih kuat menerima beban statis dan diperlukan untuk sambungan berkualitas tinggi. Umumnya dipakai pada ketebalan pelat 12 mm 25 mm. 6. Sambungan U-ganda Sambungan U-ganda dapat juga dibuat secara tertutup dan terbuka. Sambungan ini lebih kuat menerima beban statis dan dinamis. Dengan ketebalan pelat 12 mm 25 mm dapat dicapai perembesan ( penetrasi ) pengelasan 100%. 7. Sambungan J-ganda Sambungan J-ganda digunakan untuk keperluan yang sama dengan sambungan V-ganda, tetapi tidak baik untuk menerima beban tekan. Sambungan ini dapat dibuat secara tertutup atau terbuka. Sambungan ini kuat menerima kondisi beban ringan. 8. Sambungan tumpang (lidah) Sambungan ini sangat simpel, murah, dan mudah. Bila sambungan ini diperlukan untuk menahan tekanan berat, maka pengelasan harus dikerjakan pada kedua sisi permukaan.

(1)

Sambungan-T dengan las siku

Sambungan-T dapat digunakan tebal pelat lebih besar dari 12 mm. Banyaknya lasan bergantung pada tebal pelat dan kekuatan yang diperlukan. Umunya pada pelat-pelat tebal diperlukan pengelasan dari 2 sisi. (2) Sambungan-T dengan alur V-miring tunggal

Sambungan ini lebih kuat terhadap beban tekan yang besar dibanding sambungan-T dengan las rusuk. Dapat dipakai pada pelat dengan ketebalan 10 mm 16 mm. (3) Las-T dengan alur V-miring ganda

Sambungan ini lebih kuat daripada sambungan-T dengan alur V-miring tunggal, sangat baik untuk menahan beban sedang dengan ketebalan pelat 12 mm 25 mm. (4) Las-T dengan alur J-tunggal

Dipakai untuk beban tekan yang lebih besar daripada las rusuk, tetapi tidak untuk mengganti sambungan dengan las-T dengan alur V-miring ganda. Sambungan ini digunakan untuk ketebalan pelat 25 mm atau lebih. (5) Las-T dengan alur J-ganda

Digunakan untuk menahan beban kejut dengan ketebalan pelat 30 mm atau lebih.

Sambungan sudut

Sambungan sudut dapat dibuat dengan tiga cara, yaitu: (1) Sambungan sudut rapat

Sambungan ini banyak dijumpai pada konstruksi-konstruksi dengan bahan dasar pelat tipis 3 mm. Pada tebal pelat 3 mm 5 mm perembesan dapat dicapai sempurna bilas dilas dari dua sisi. (2) Sambungan sudut setengah terbuka

Sambungan sudut setengah terbuka dapat digunakan pada tebal pelat 4 mm 6 mm. Sambungan ini lebih tahan dibanding ikatan rapat, tetapi tidak disarankan untuk menerima gaya bending.

(3)

Sambungan sudut terbuka

Ketebalan pelat 6 mm 25 mm memungkinkan dengan cara seperti ini. Perembesan bahan pengisian pada pelat-pelat yang disambung juga mudah dicapai.

Sambungan tepi

Sambungan ini hanya cocok untuk tebal pelat kurang dari 3 mm. Perembesan yang sempurna tidak mungkin dapat dicapai. Sambungan ini hanya digunakan untuk menahan beban kecil dan tidak digunakan untuk tegangan yang besar.

Sambungan flens

Sambungan ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dilas pada satu sisi atau dilas pada kedua sisi, untuk ketebalan pelat lebih dari 3 mm. Sambungan ini lebih kuat dibanding cara sambungan tumpang atau sambungan sudut biasa.