P. 1
PENGOLAHAN RUMPUT LAUT

PENGOLAHAN RUMPUT LAUT

|Views: 521|Likes:
Dipublikasikan oleh Asuler Weleh Weleh

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Asuler Weleh Weleh on Apr 05, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/30/2013

pdf

text

original

PENGOLAHAN RUMPUT LAUT

Oleh: Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Saefullah Habibi Z.A : B1J008010 : II :7 : Nita Wahyu Suwardani

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Rumput laut merupakan organisme yang hidup menempel pada substrat di perairan khususnya perairan laut, hidup dengan cara menyerap zat makanan dari perairan dan melakukan fotosintesis, intensitas cahaya matahari merupakan faktor pembatas dalam proses fotosintesis. Kandungan zat kimia rumput laut dipengaruhi oleh umur, musim dan habitat (Aslan, 1999). Rumput laut atau seaweed termasuk tumbuhan berthallus yang banyak dijumpai hampir di seluruh perairan pantai Indonesia, terutama di pantai yang mempunyai rataan terumbu karang. Di dalam perairan rumput laut menempati posisi sebagai produsen primer yang menyokong kehidupan biota lain pada tropik level yang lebih tinggi. Rumput laut umumnya hidup di dasar laut dan substratnya dapat berupa pasir, pecahan karang (gravel), karang mati, serta benda-benda keras yang terendam di dasar laut (Kadi, 1990). Potensi rumput laut di Indonesia mempunyai prospek yang cukup cerah, meskipun pada saat ini pemanfaatannya sangat terbatas hanya pada jenis-jenis yang telah umum dikenal saja yaitu dari marga Gracilaria, Eucheuma, Hypnea dan Gelidium (Kadi, 1990). Keadaan tersebut secara umum ditunjang oleh potensi wilayah yang baik seperti; keadaan perairan yang mendukung kehidupan rumput laut, sediaan alami yang banyak, dan lahan budidaya yang luas. Rumput laut dapat dimanfaatkan secara langsung sebagai bahan makanan maupun sebagai bahan dasar dari industri. B. Tujuan Tujuan dari praktikum Pengolahan rumput laut ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan rumput laut sebagai makanan olahan. C. Tinjauan Pustaka Rumput laut menempati posisi sebagai produsen primer yang menyokong kehidupan biota lain pada tropik level yang lebih tinggi. Rumput laut umumnya hidup di dasar laut dan substratnya dapat berupa pasir, pecahan karang (gravel), karang mati, serta benda-benda keras yang terendam di dasar laut (Kadi, 1989). Potensi rumput laut di Indonesia mempunyai prospek yang cukup cerah, meskipun pada saat ini pemanfaatannya sangat terbatas hanya pada jenis-jenis yang telah umum dikenal saja yaitu dari marga Gracilaria, Eucheuma, Hypnea dan Gelidium (Kadi, 1990). Keadaan tersebut secara umum ditunjang oleh potensi

wilayah yang baik seperti; keadaan perairan yang mendukung kehidupan rumput laut, sediaan alami yang banyak, dan lahan budidaya yang luas. Rumput laut merupakan makroalga bentik yang terdiri dari jenis-jenis yang termasuk divisio Rhodophyta (alga merah), Phaeophyta (alga coklat) dan Chlorophyta (alga hijau). Rumput laut umumnya tumbuh melekat pada suatu substrat (Kadi & Atmadja, 1996). Rumput laut bersama-sama dengan lamun adalah kontributor penting pada rantai makanan di perairan pantai.

II. MATERI DAN METODE A. Materi Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain : kompor gas, panci, pengaduk, cup gelas. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain : rumput laut Eucheuma cottonii, akuades, gula, susu shaset kental manis, santan instan, essens rasa buah melon dan strawberi. B. Metode Diagram alir proses pengolahan E. cottonii menjadi jelly: Bubur E. cottonii Ditimbang 75 g

Dimasukkan ke panci

Tambah air 350 ml

Rebus hingga tercampur semua

Tambahkan gula secukupnya

Masukkan Dalam 5 cup gelas

Pendinginan

Uji organoleptik

Diagram alir proses pengolahan E. cottonii menjadi puding :

Bubur E. cottonii

Ditimbang 75 g

Dimasukkan ke panci

Tambah air sesuai kelompok

Rebus hingga tercampur semua

Tambahkan gula, santan, 2 shaset susu kental masnis secukupnya,

homogenkan

Pendinginan

Uji organoleptik

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil berupa pudding dan jelly. Kekentalan jelly di dapat pada perlakuan penambahan air 100 ml, 150 ml, 200 ml, dan 300 ml

B. Pembahasan
Rumput laut merupakan sumber nutrisi yang esensial, khususnya trace elements dan senyawa bioaktif lainnya. Hal tersebut yang menjelaskan mengapa saat ini rumput laut dijadikan supplement makanan untuk abad 21 sebagai sumber protein, lipid, polisakarida, mineral, vitamin dan enzim (Rimber, 2007 dalam El-Deek et al., 2009). Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar-agar, karaginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahanbahan tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung iodium (DPPS, 2007). Permintaan terhadap produk makanan kesehatan seperti makanan bebas gula (sugar-free food), makanan rendah kalori (low calorie food) dan makanan kaya serat (high fibre food) meningkat dengan pesat. Kecenderungan ini didasarkan atas

perannya dalam pencegahan penyakit hipertensi, diabetes, kanker usus, dan
penyakit degeneratif lainnya. Berbagai sumber bahan berserat tinggi seperti selulosa, hemiselulosa, lignin, dan gum sekarang menjadi perhatian utama dalam pengembangan produk makanan tersebut. Oleh karena itu pemanfaatan tepung ampas rumput laut dari pengolahan agar-agar kertas menjadi jelly berkadar serat tinggi menjadi sangat penting untuk dilakukan (Riyanto dkk., 2006). Berdasakan hasil yang diperoleh pada praktikum pengolahan rumput laut, masing-masing kelompok dengan perlakuan pemberian kadar air yang berbedabeda menunjukkan hasil agar-agar dengan tekstur dan kekenyalan yang berbeda pula. Semakin tinggi kadar air dengan jumlah ekstrak agar yang tetap maka akan semakin lembek hasil pengolahan agar yang didapatkan. Kelompok 1 menggunakan air sebanyak 100 ml dengan ekstrak agar 75 gram dengan hasil pengolahan agar-agar didapatkan 5 cup jelly dengan tingkat kekenyalan sangat kenyal. Kelompok lain dengan voume air yang lebih banyak dan berat ekstrak agar

sama menghasilkan tekstur jelly tidak kenyal. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa volume air mempengaruhi tingkat kekenyalan jelly. Sifat yang paling menonjol dari agar-agar adalah memiliki daya gelasi (kemampuan membentuk gel), viskositas (kekentalan), setting point (suhu pembentukan gel), dan melting point (suhu mencairnya gel) yang sangat menguntungkan untuk dipakai pada dunia industri pangan maupun nonpangan. Rumput laut mempunyai kandungan kimia seperti protein, mineral, trace elements, karbohidrat (Manivannan et al., 2008). Eucheuma cottonii digunakan sebagai olahan merupakan salah satu jenis rumput laut yang biasa makanan, khususnya pembuatan jelly. Ciri-ciri

Eucheuma cottonii adalah thallus dan cabang-cabangnya berbentuk silindris atau pipih, percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine untuk melindungi gametan. Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning. Spina Eucheuma cottonii tidak teratur menutupi thallus dan cabang-cabangnya. Permukaan licin, cartilaginous, warna hijau, hijau kuning, abau-abu atau merah. Penampakan thallus bervariasi dari bentuk sederhana sampai kompleks (Kadi, 1990). Salah satu spesies Rhodophyta yang berpotensi menghasilkan jelly dengan tekstur kenyal adalah Eucheuma cottonii. Rumput laut jenis Eucheuma cottonii ini juga dikenal dengan nama Kappaphycus alvarezii. Menurut Dawes dalam Kadi dan Atmadja (1996) bahwa secara taksonomi rumput laut jenis Eucheuma dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Rhodophyta : Rhodophyceae : Gigartinales : Solieriaceae : Eucheuma : Eucheuma cottonii

IV. KESIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan praktikum ekstraksi karaginan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1.

Agar memiliki sifat tidak larut dalam air dingin, namun larut dalam air panas. Untuk agar-agar dengan kemurnian tinggi tidak akan larut pada air bersuhu 25 0 C, tetapi larut di dalam air panas pada suhu 32-390 C, agar-agar akan berbentuk padatan yang tidak akan mencair lagi pada suhu di bawah 800 C.

2. 3.

Volume air mempunyai pengaruh terhadap tingkat kekenyalan pembuatan jelly. Rumput laut dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam olahan seperti pudding dan jelly drink.

DAFTAR REFERENSI Aslan, L.M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Atmadja, W.S., A. Kadi, dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanografi-LIPI, Jakarta. Divisi Penelitian dan PengembanganSeaweed (DPPS). 2007.Teknis Budidaya Rumput Laut. Kelompok Studi Rumput Laut Kelautan UNDIP. El-Deek,, A.A , and Mervat A. Brikaa. 2009. Nutritional and Biological Evaluation of Marine Seaweed as a Feedstuff and as a Pellet Binder in Poultry Diet. International Journal of Poultry Science 8 (9): 875-881. Manivannan, K., Thirumanan, G., Devi, G. Karthikai., Hemalatha, A., Anantharaman, P. 2008. Biochemical Composition of Seaweeds from Mandapam Coastal Regions along Southeast Coast of India. American-Eurasian Journal of Botani, 1 (2) : 32-37. Kadi, A. 1990. Inventarisasi Rumput Laut di Teluk Tering dalam Perairan Pulau Bangka, (ed) Anonimous. LIPI. Jakarta. hal : 45 - 50. Riyanto, B dan Maya, W. 2006. Cookies Berkadar Serat Tinggi Substitusi Tepung Ampas Rumput Laut Dari Pengolahan Agar-Agar Kertas. FPIK, IPB.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->