Anda di halaman 1dari 40

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Puskesmas 1. Pengertian Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah satuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan (Depkes RI, 2006). Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan menyeluruh adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif (peningkatan kesehatan), preventif (pencegahan penyakit), kuratif (penyembuhan penyakit) maupun rehabilitatif (pemulihan kesehatan) dan ditujukan untuk semua golongan umur dan jenis kelamin (Depkes RI, 2006). Pengertian terpadu dan integrasi menurut WHO bila dilihat dari aspek fungsional, integrasi adalah suatu upaya untuk menyatukan berbagai fungsi dan struktur administratif yang berdiri sendiri sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan (Depkes RI, 2006).

Sedangkan bila dilihat dari aspek pengorganisasiannya, pelayanan kesehatan integrasi yaitu berbagai jenis upaya kesehatan yang ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat wilayah tertentu dilakukan satu administrasi dan satu pimpinan, atau dilakukan oleh berbagai instansi akan tetapi harus dengan koordinasi yang baik (Depkes RI, 2006). Pelayanan kesehatan integrasi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas upaya kesehatan sehingga dapat melaksanakan kegiatan dengan baik walaupun sumber dayanya terbatas (Depkes RI, 2006). Menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2006, pelayanan kesehatan melalui puskesmas diperlukan karena: a. Demi pemerataan pelayanan kesehatan, agar dapat menjangkau seluruh penduduk, maka pelayanan kesehatan diberikan tidak hanya melalui rumah sakit yang membutuhkan sumber daya yang tinggi, tapi dapat diberikan melalui fasilitas yang lebih sederhana, lebih murah tapi lebih tersebar luas seperti puskesmas, puskesmas pembantu, bidan di desa, dan didukung dengan sistem rujukan sehingga dapat menjangkau penduduk lebih banyak. b. Sebelum ada puskesmas, pelayanan kesehatan di tingkat kecamatan hanya ada pelayanan pengobatan jalan, BKIA, vaksinasi cacar dan petugas kesehatan lingkungan, yang pada umumnya tidak berhubungan dan tidak peduli keadaan yang satu dengan yang lainnya. Di samping itu pelayanan kesehatan belum ditujukan kepada masyarakat secara keseluruhan. Keadaan demikian dirasakan tidak efisien dan belum dapat mencapai sasaran yang sebenarnya.

2. Visi dan Misi Puskesmas Visi puskesmas adalah mampu melindungi kesehatan penduduk wilayah kerjanya dan memacu peningkatan kemandirian masyarakat untuk menolong dirinya dalam bidang kesehatan serta membudayakan hidup sehat dan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (Depkes RI, 2006). Sedangkan misi puskesmas adalah (Depkes RI, 2006) : a. Menyelenggarakan upaya kesehatan esensial yang bermutu, merata, terjangkau sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dengan membina peran serta masyarakat wilayah kerjanya. b. Kerjasama lintas sektoral dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan mengembangkan upaya kesehatan inovatif dan pemanfaatan teknologi tepat guna. 3. Kedudukan Puskesmas Kedudukan Puskesmas menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2006, antara lain : a. Kedudukan Puskesmas dalam sistem kesehatan kabupaten: 1. Kedudukan dalam bidang administrasi Puskesmas merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II dan bertanggung jawab langsung baik teknis maupun administratif kepada Kepala Dinas Kesehatan Dati II. 2. Kedudukan dalam jenjang sistem rujukan pelayanan kesehatan: Pada urutan tingkat pelayanan kesehatan dalam sistem rujukan, puskesmas berkedudukan pada tingkat fasilitas pelayanan kesehatan pertama.

b. Kedudukan dalam sistem kesehatan secara nasional Puskesmas berkedudukan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan nasional. c. Kedudukan dalam sistem pembangunan nasional Puskesmas berkedudukan sebagai salah satu unsur pembangunan dalam bidang kesehatan yang terdepan dan yang pada dasarnya saling tergantung satu dengan lainnya dengan unsur pembangunan sektor terkait di tingkat kecamatan. 4. Wilayah Kerja Puskesmas Wilayah kerja puskesmas bisa satu kecamatan atau sebagian dari wilayah kecamatan. Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografik dan keadaan infrastruktur lainnya merupakan bahan pertimbangan dalam menetukan wilayah kerja puskesmas (Depkes RI, 2006). Luas wilayah kerja yang masih efektif bagi sebuah puskesmas di daerah pedesaan adalah suatu area dengan jari-jari 5 km, sedangkan luas wilayah kerja yang dipandang optimal adalah area dengan jari-jari 3 km (Depkes RI, 2006). Puskesmas merupakan perangkat Pemerintah Daerah Tingkat II, sehingga pembagian wilayah kerja puskesmas ditetapkan oleh Bupati/Walikota, mendengar saran teknis dari Kepala Departemen Kesehatan Kabupaten/Kodya/Kepala Dinas Kesehatan Dati II yang telah disetujui oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi (Depkes RI, 2006). Lokasi wilayah kerja puskesmas bisa berada di: a. daerah pedesaan

10

b. daerah perkotaan c. daerah industri d. daerah perbatasan e. daerah masyarakat terasing f. daerah transmigrasi/pemukiman baru g. daerah gugus kepulauan Variasi lingkungan lokasi wilayah kerja puskesmas perlu mendapatkan perhatian dalam upaya menjangkau dan memenuhi kebutuhan penduduk wilayah kerjanya. Untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat masing-masing lokasi yang spesifik, tentunya puskesmas pada lokasi tertentu mempunyai corak tersendiri, baik jenis pelayanannya, maupun strategi untuk menjangkau masyarakat seluas mungkin serta cara melindungi kesehatan masyarakat wilayah kerjanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungannya (Depkes RI, 2006). 5. Fungsi Puskesmas Puskesmas mempunyai fungsi pengembangan upaya kesehatan,

pembinaan peran serta masyarakat dan pelayanan kesehatan masyarakat sebagai berikut : a. Sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dan pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan, puskesmas berfungsi menegakkan diagnosis masalah masyarakat, mengadakan pengamatan secara terus menerus terhadap segala perubahan yang terjadi yang mungkin membahayakan kesehatan masyarakat,

11

mengembangkan

inovasi

dan

memanfaatkan

teknologi

tepat

guna

penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat. b. Sebagai pusat pembinaan peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Puskesmas berfungsi mendidik, mendorong dan membantu masyarakat untuk mandiri dalam bidang kesehatan, meningkatkan pengertian, kemauan dan kemampuannya untuk hidup sehat. c. Sebagai pusat untuk memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh, terpadu dan bermutu kepada masyarakat dalam rangka memelihara dan melindungi kesehatan masyarakat. 6. Kegiatan Pelayanan Puskesmas Dalam pendekatan Primary Health Care telah ditetapkan minimal melaksanakan delapan unsur pelayanan kesehatan pokok yaitu : a. Penyuluhan kesehatan mengenai berbagai masalah kesehatan yang dihadapi dan cara pencegahan serta pengendaliannya. b. Peningkatan pengadaan makanan dan perbaikan gizi. c. Penyediaan air bersih dan perbaikan kesehatan lingkungan. d. Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana. e. Imunisasi terhadap berbagai penyakit menular yang utama. f. Pencegahan dan pemberantasan penyakit endemik setempat. g. Pengobatan penyakit umum dan cedera. h. Pengadaan obat essensial.

12

Di samping itu ada sepuluh pelayanan dasar (PKD) yang tersebut di bawah ini merupakan pelayanan kesehatan yang pada saat ini dianggap efektif dan efisien dan mempunyai daya ungkit yang besar terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat pada umumnya. a. Imunisasi bayi lengkap. b. Pemeriksaan ibu hamil berkala, termasuk pemberian imunisasi tetanus toxoid, tablet besi, dan mendeteksi faktor resiko pada kehamilan, konseling serta pertolongan persalinan yang aman. c. Pencegahan, deteksi dan pengobatan penyakit Tuberkulosis. d. Pencegahan, deteksi dan pengobatan penyakit malaria. e. Deteksi dan pengobatan ISPA dan diare pada balita. f. Pencegahan dan pengobatan defisiensi yodium, zat besi dan vitamin A. g. Pencegahan, deteksi dan pengobatan penyakit demam berdarah. h. Penyuluhan kesehatan masyarakat, termasuk pembinaan kesehatan lingkungan dan penyuluhan dalam rangka mencegah AIDS. i. Keluarga Berencana. j. Kesehatan usia sekolah serta pencegahan dan pengobatan penyakit cacing pada anak sekolah. Berdasarkan komuniti diagnosis yang dilakukan oleh puskesmas, pelayanan kesehatan dasar lainnya yang dikenal dengan delapan belas kegiatan pokok puskesmas juga dapat dilakukan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat wilayah kerjanya diseduaikan dengan fungsi puskesmas dan

13

kemampuan sumber daya yang tersedia. Penyelenggaraan delapan belas kegiatan pokok yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Kesehatan Ibu dan Anak. 2. Keluarga Berencana 3. Perbaikan gzi 4. Kesehatan lingkungan 5. Surveilens, pencegahan dan pemberantasan penyakit dan imunisasi 6. Penyuluhan kesehatan masyarakat 7. Pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan 8. Kesehatan sekolah 9. Perawatan kesehatan masyarakat 10. Kesehatan gigi dan mulut 11. Kesehatan jiwa 12. Kesehatan mata 13. Kesehatan lanjut usia 14. Kesehatan olahraga 15. Pembinaan pengobatan tradisional 16. Kesehatan kerja 17. Laboratorium sederhana 18. Pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi kesehatan

14

B. Evaluasi Program Evaluasi merupakan bagian yang penting dari proses manajemen, karena dengan evaluasi akan diperoleh umpan balik (feed back) terhadap program atau pelaksanaan kegiatan. Tanpa adanya evaluasi, sulit rasanya untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan yang direncanakan itu telah mencapai tujuan atau belum (Notoatmodjo, 2003). Menurut kamus istilah manajemen, evaluasi adalah suatu proses bersistem dan objektif menganalisis sifat dan ciri pekerjaan di dalam suatu organisasi atau pekerjaan. Levey (1973) mengatakan, To evaluate is to make a value judment, it involves comparing something with another and then making either choice or action decision. Sedangkan menurut Perhimpunan Ahli Kesehatan Masyarakat Amerika, evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan nilai atau jumlah keberhasilan dan usaha pencapaian suatu tujuan yang telah ditetapkan. Proses tersebut mencakup kegiatan-kegiatan: memformulasikan tujuan, identifikasi kinerja yang tepat untuk digunakan mengukur keberhasilan, dan rekomendasi untuk kelanjutan aktivitas program. Evaluasi suatu program kesehatan masyarakat dilakukan terhadap tiga hal, yakni evaluasi terhadap proses pelaksanaan program, evaluasi terhadap hasil program, dan evaluasi terhadap dampak program (Notoatmodjo, 2003). a. Evaluasi proses ditujukan terhadap pelaksanaan program, yang menyangkut penggunaan sumber daya, seperti tenaga, dana dan fasilitas lain.

15

b. Evaluasi hasil program ditujukan untuk menilai sejauh mana program tersebut berhasil, yakni sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tercapai. Misalnya: meningkatnya cakupan imunisasi, meningkatnya ibu-ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya, dan sebagainya. c. Evaluasi dampak program ditujukan untuk menilai sejauh mana program itu mempunyai dampak terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Dampak program-program meningkatnya kesehatan ini tercermin kesehatan dari membaiknya atau

indicator-indikator

masyarakat.

Misalnya

menurunnya angka kematian bayi (IMR), meningkatnya status gizi anak balita, menurunnnya angka kematian ibu, dan sebagainya. Antara evaluasi program dengan fungsi pengawasan mempunyai kesamaan yaitu keduanya bertujuan untuk memperbaiki efisiensi dan efektifvitas pelaksanaan program melalui perbaikan fungsi manajemen. Namun terdapat perbedaan dalam hal sifat, sumber data , siapa yang melaksanakannya dan waktu pelaksanaannya (Muninjaya, 1999). Dalam evaluasi program sumber datanya berasal dari data primer dan data sekunder dan pelaksanaannya adalah pihak luar agar lebih objektif (Muninjaya, 1999). Ada beberapa jenis evaluasi (Muninjaya, 1999): a. Evaluasi terhadap in-put Biasanya dilaksanakan sebelum kegiatan program dimulai untuk mengetahui apakah pemilihan sumber daya sudah sesuai dengan kebutuhan. Kegiatan evaluasi ini juga bersifat pencegahan.

16

b. Evaluasi proses Dilaksanakan pada saat kegiatan sedang berlangsung untuk mengetahui apakah metode yang dipilih sudah efektif, apakah motivasi dan komunikasi antar staf sudah berkembang dengan baik, dan sebagainya. c. Evalusi terhadap out-put Dilaksanakan setelah pekerjaan selesai untuk mengetahui apakah out put, effect, atau out come program sudah sesuai dengan target yang ditetapkan sebelumnya.

C. Standar Keberhasilan Program Puskesmas Dinas Kesehatan secara rutin menetapkan target atau standar kuantitatif keberhasilan masing-masing kegiatan program. Standar keberhasilan program ini terkait dengan standar unjuk kerja (standar performance) staf. Standar unjuk kerja merupakan ukuran kualitatif keberhasilan program. Tingkat keberhasilan program secara kuantitatif diukur dengan membandingkan target yang sudah ditetapkan dengan zot put (cakupan pelayanan) kegiatan program (Muninjaya, 1999). Secara kualitatif keberhasilan program diukur dengan membandingkan standar prosedur kerja untuk masing-masing kegiatan program dengan penampilan (kemampuan) staf dalam melaksanakan kegiatan masing-masing program. Cakupan program dapat dianalisa secara langsung oleh staf puskesmas dengan menganalisa data harian setiap kegiatan program. Perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat (effect program) dan dampak program (impact) seperti tingkat kematian, kesakitan (termasuk gangguan gizi), tingkat kelahiran, dan kecacatan tidak diukur secara langsung oleh puskesmas. Impact program akan

17

diukur setiap lima tahun melalui survei kesehatan rumah tangga (SKRT) Depkes. Khusus unutk perkembangan masalah gizi dipantau setiap tiga tahun tapi hanya sampai di tingkat kabupaten (Muninjaya, 1999).

D. Pengertian ISPA ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI) (Corwin, 1997). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut : a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. b. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract). c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

18

1. Infeksi Saluran Napas Atas Infeksi saluran napas atas adalah infeksi-infeksi yang disebabkan oleh mikro-organisme. Infeksi-infeksi tersebut terbatas pada struktur-struktur saluran napas termasuk rongga hidung, faring dan laring (Corwin, 1997). Infeksi saluran napas atas mencakup Common cold (masuk angin), faringitis atau sore throat (radang tenggorokan), laringitis, dan influenza tanpa komplikasi. Sebagian besar infeksi saluran napas atas disebabkan oleh virus, walaupun bakteri juga dapat terlibat baik sejak awal atau yang bersifat sekunder terhadap infeksi virus. Semua jenis infeksi mengaktifkan respon imun dan peradangan sehingga terjadi pembengkakan dan edema jaringan yang terinfeksi. Reaksi perandangan menyebabkan peningkatan pembentukan mukus yang berperan menimbulkan gejala-gejala infeksi saluran napas atas yaitu hidung tersumbat, sputum berlebihan, dan rabas hidung (pilek). Nyeri kepala, demam ringan juga timbul akibat reaksi peradangan (Corwin, 1997). Gambaran klinis infeksi saluran napas atas bergantung pada tempat infeksi serta mikro organisme penyebab infeksi. Semua manifestasi klinis timbul akibat proses peradangan, mencakup : 1. batuk 2. bersin 3. pengeluaran mukus 4. nyeri kepala 5. demam ringan 6. malese (tidak enak badan)

19

Komplikasi dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas ini dapat berupa Infeksi saluran napas bawah, termasuk pneumonia dan bronkitis (Corwin, 1997). Sedangkan penatalaksanaan untuk kasus Infeksi Saluran Pernapasan atas adalah (Corwin, 1997) : 1. istirahat untuk menurunkan kebutuhan metabolik tubuh. 2. hidrasi tambahan untuk membantu mengencerkan mukus yang kental sehingga mudah dikeluarkan dari saluran napas. Hal ini perlu dilakukan karena timbunan mukus merupakan tempat yang baik untuk perkembangbiakan mikro-organisme sehingga timbul infeksi bakteri sekunder. 3. diperlukan antibiotik apabila penyebabnya adalah bakteri. 2. Pneumonia Pneumonia adalah infeksi saluran napas bagian bawah. Penyakit ini adalah infeksi akut jaringan paru oleh mikro-organisme. Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering Pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram, Streptococcus pneumoniae yang menyebabkan Pneumonis streptococcus (Corwin, 1997). Risiko untuk mengidap Pneumonia lebih besar pada para bayi, orang berusia lanjut, atau mereka yang mengalami gangguan kekebalan atau menderita penyakit atau kondisi kelemahan lain (Corwin, 1997). Gambran klinis Pneumonia serupa untuk semua jenis Pneumonia, tetapi terutama mencolok pada Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri. Gejala-gejala mencakup :

20

1. demam dan menggigil akibat proses peradangan 2. batuk yang sering produktif dan purulen 3. sputum berwarna merah karat (untuk Streptococcus pneumoniae), merah muda (untuk Staphylococcus aureus), atau kehijauan dengan bau khas (untuk Pseudomonas aeruginosa) 4. krekel (bunyi paru tambahan) 5. rasa lelah akibat reaksi peradangan dan hipoksia apabila infeksinya serius 6. nyeri pleura akibat peradngan dan edema 7. biasanya sering terjadi respons subyektif dispnu. Dispnu adalah perasaan sesak atau sulit bernapas, yang disebabkan oleh penurunan pertukaran gas-gas 8. mungkin timbul tanda-tanda sianosis 9. ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mukus 10. Hemoptisis, batuk darah, dapat terjadi akibat cedera toksin langsung pada kapiler, atau akibat reaksi peradangan yang menyebabkan kerusakan kapiler.

E. Pedoman Program P2 ISPA 1. Arah dan kebijakan tatalaksana ISPA Arah dan kebijakan tatalaksana ISPA berdasarkan KEPMENKES no 1537.A / MENKES/ SK/XII/ 2002 adalah: Pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA ditujukan pada kelompok usia balita, yaitu bayi (0 - kurang 1 tahun) dan anak balita (1 - kurang 5 tahun) dengan fokus penanggulangan pada penyakit pneumonia. Pemilihan kelompok ini target populasi program didasarkan pada kenyataan bahwa angka moralitas dan angka

21

morbilitas ISPA pada kelompok umur balita di Indonesia masih tinggi. Disamping itu keberhasilan upaya Pemberantasan Penyakit P2 ISPA dapat mempunyai daya ungkit dalam penurunan angka kematian bayi di indonesia. Program P2 ISPA menetapkan angka 10% balita sebagai target penemuan penderita Pneumonia balita per tahun pada suatu wilayah kerja. Secara teoritis diperkirakan bahwa 10% dari penderita Pneumonia akan meninggal bila tidak diberi pengobatan. Adapun yang menjadi tujuan Umum dari kebijakan tatalaksana ISPA ini adalah turunnya angka kesakitan dan kematian pneumonia sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat. Sedangkan yang menjadi tujuan khususnya adalah: a. Turunnya angka kematian balita akibat pneumonia dari 5 per 1000 balita pada tahun 2000 menjadi 3 per 1000 balita pada akhir tahun 2004 b. Turunnya angka kesakitan balita akibat pneumonia dari 10 %- 20% pada tahun 2000 menjadi 8%-16 % pada akhir tahun 2004. Target yang direncanakan pada akhir tahun 2004 adalah: a. Cakupan penemuan penderita pneumonia balita sebesar 86 % dari perkiraan penderita pneumonia Balita b. Penderita pneumonia balita yang mendapat tatalaksana standard sebesar 63 % dari target cakupan penemuan penderita pneumonia balita. c. Proporsi Puskesmas yang melaksanakan Program P2 ISPA sekurangkurangnya 90%. Untuk mencapai tujuan program pemberantasan Penyakit ISPA balita maka dirumuskan kebijakan sebagai berikut :

22

1. Melaksanakan

promosi

penanggulangan

pneumonia

balita

sehingga

masyarakat, mitra kerja terkait dan mengambil keputusan mendukung pelaksanaan penanggulangan pneumonia balita. 2. Melaksanakan penemuan penderita melalui sarana kesehatan dasar (pelayanan kesehatan di desa, Puskesmas Pembantu, Puskesmas dan Sarana Rawat Jalan Rumah Sakit) dibantu oleh kegiatan Posyandu dan Kader Posyandu. 3. Melaksanakan tatalaksana standard penderita ISPA dengan deteksi dini, pengobatan yang tepat dan segera, pencegahan komplikasi dan rujukan ke sarana kesehatan yang lebih memadai. 4. Melaksanakan surveilans kesakitan dan kematian pneumonia balita serta faktor resikonya termasuk faktor-faktor resiko lingkungan dan kependudukan. Rumusan umum strategi Pemberantasan Penyakit ISPA adalah berikut: 1. Promosi penanggulangan pneumonia balita melalui advokasi, bina suasana gerakan masyakarakat. 2. Penurunan angka kesakitan dilakukan dengan upaya pencegahan atau penenggulangan faktor resiko melalui kerjasama lintas program dan lintas sektor, seperti melalui kerjasama dengan program imunisasi, program bina kesehatan balita, program bina gizi masyarakat dan program penyehatan lingkungan pemukiman. 3. Peningkatan penemuan penderita melalui upaya peningkatan perilaku masyarakat dalam pencarian pengobatan yang tepat (care seeking). 4. Melaksanakan tatalaksana kasus melalui pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan audit kasus untuk peningkatan kualitas tatalaksana.

23

5. Peningkatan sistem survailans ISPA melalui kegiatan surveilans rutin, autopsy verbal dan pengembangan informasi kesehatan serta audit manajemen program. Prioritas kegiatan Pemberantasan Penyakit ISPA ditujukan untuk mendukung kebijakan dan strategi yang telah diterapkan. Prioritas kegiatannya adalah sebagai berikut : 1. Promosi Penanggulangan Pneumonia Balita Promosi P2 ISPA di Indonesia mencakup kegiatan advokasi, bina suasana dan gerakan masyarakat. Tujuan yang diharapkan dari kegiatan promosi Pneumonia balita secara umum adalah meningkatnya pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat dalam upaya penaggulangan Pneumonia balita (Depkes RI, 2002). 2. Kemitraan Kemitraan merupakan faktor penting untuk menunjang keberhasilan program pembangunan. Pembangunan kemitraan dalam program P2 ISPA diarahkan untuk meningkatkan peran serta masyarakat, peran lintas program dan lintas sektor terkait serta peran pengambil keputusan termasuk penyandang dana. Dengan kata lain intervensi P2 ISPA tidak hanya tertuju pada penderita saja tetapi juga terhadap faktor risiko (lingkungan dan kependudukan) dan faktor lain yang berpengaruh melalui dukungan peran aktif sektor lain yang kompeten (Depkes RI, 2002).

24

3. Peningkatan penemuan kasus Dalam kebijakan dan strategi Program P2 ISPA, penemuan dan tatalaksana penderita dilaksanakan di rumah tangga dan masyarakat (keluarga, kader dan Posyandu), di tingkat pelayanan kesehatan tingkat pertama atau dasar (Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan pelayanan kesehatan di desa) dan di sarana kesehatan rujukan (rumah sakit). Dengan demikian yang melaksanakan kegiatan secara langsung adalah tenaga kesehatan di sarana-sarana kesehatan tersebut dan kader Posyandu di masyarakat (Depkes RI, 2002). Penemuan penderita dilaksanakan melalui kegiatan yang menunjang upaya masyarakat untuk mencari pengobatan kasus Pneumonia secara tepat dan deteksi dini oleh petugas di sarana kesehatan. Untuk itu dimungkinkan memperluas sasaran kegiatan penemuan penderita Pneumonia ke berbagai sarana pelayanan kesehatan (sarkes), tidak hanya sarkes milik pemerintah namun juga sarkes swasta (praktek dokter, poliklinik swasta, RS Swasta) (Depkes RI, 2002). 4. Peningkatan kualitas Tatalaksana Kasus ISPA Tatalaksana kasus ISPA dilaksanakan melalui pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di sarana kesehatan tingkat dasar. Disamping itu perlu dilakukan audit kasus dalam upaya peningkatan kualitas tatalaksana kasus yang dilakukan dengan koordinasi tingkat kabupaten/kota (Depkes RI, 2002). 5. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia (SDM) yang terlibat dalam program P2 ISPA meliputi kader, petugas kesehatan yang memberikan tatalaksana ISPA di sarana

25

pelayanan kesehatan (Polindes, Pustu, Puskesmas, RS, Poli klinik), pengelola program ISPA di Puskesmas, Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat. Upaya peningkatan kualitas SDM P2 ISPA dilakukan di berbagai jenjang melalui kegiatan diantaranya (Depkes RI, 2002) : a. Tingkat Puskesmas 1. Pelatihan ISPA bagi kader 2. Pelatihan tatalaksana penderita (diintegrasikan dalam pelatihan MTBS) 3. Pelatihan autopsi verbal b. Tingkat kabupaten 1. Pelatihan tatalaksana penderita (diintegrasikan dalam pelatihan MTBS) 2. Pelatihan manajemen program P2 ISPA 3. Pelatihan autopsi verbal 4. Pelatihan audit kasus 5. Pelatihan audit manajemen c. Tingkat propinsi 1. Pelatihan tatalaksana penderita (diintegrasikan dalam pelatihan MTBS) 2. Pelatihan manajemen program P2 ISPA 3. Pelatihan autopsi verbal 4. Pelatihan audit kasus 5. Pelatihan audit manajemen 6. Pelatihan promosi P2 ISPA 7. Pelatihan tatalaksana kasus ISPA balita di sarana rujukan

26

6. Surveilans kesakitan dan kematian Secara umum surveilans epidemiologi adalah kegiatan yang terus menerus dan sistematis untuk pengumpulan, pengolahan dan analisis data kesehatan, untuk menggambarkan dan memantau kejadian-kejadian kesehatan. Surveilans epidemiologi ISPA diarahkan untuk mendapatkan data dan informasi yang dapat digunakan sebagai landasan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan program pemberantasan ISPA secara efektif dan efisien serta mampu mengantisipasi kecenderungan-kecenderungan yang bakal muncul (Depkes RI, 2002). 7. Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan pokok ini terdiri dari dua kegiatan penting, yaitu pemantauan (monitoring) dan penilaian (evaluasi). Pemantauan P2 ISPA dimaksudkan untuk memantau secara teratur kegiatan dan pelaksanaan program agar dapat diketahui apakah kegiatan program dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan dan digariskan oleh kebijakan program (Depkes RI, 2002). Evaluasi P2 ISPA dimaksudkan untuk menilai apakah pencapaian hasil kegiatan telah memenuhi target yang diharapkan, mengidentifikasi masalah dan hambatan yang dihadapi serta menyusun langkah-langkah perbaikan

selanjutnya termasuk perencanaan dan penganggaran (Depkes RI, 2002). 8. Pengembangan program P2 ISPA Dalam upaya pencapaian tujuan pemberantasan penyakit ISPA khususnya Pneumonia, perlu dilakukan pengembangan program sesuai dengan

27

tuntutan perkembangan di masyarakat. Pengembangan program P2 ISPA dilakukan diantaranya melalui kegiatan penelitian, uji coba konsep-konsep intervensi baru seperti pendekatan tatalaksana penderita, pencegahan dan penanggulangan faktor risiko baik lingkungan maupun kependudukan, peningkatan kemitraan, peningkatan manajemen dan sebagainya serta kegiatankegiatan ilmiah lainnya seperti pertemuan kajian program, seminar, workshop dan sebagainya (Depkes RI, 2002). 2. Pengertian Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan Pneumonia Sejak dilaksanakan Pemberantasan Penyakit ISPA untuk penanggulangan pneumonia pada balita tahun 1990 sering timbul kerancuan dan kesimpangsiuran pemahaman antara ISPA dan Pneumonia. Untuk mencegah berlanjutnya kerancuan pemahaman tersebut maka dalam bab ini diupayakan untuk menjelaskan tentang ISPA dan Pneumonia secara rinci (KepMenKes, 2002). Istilah ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut dan mulai diperkenalkan pada tahun 1984 setelah dibahas dalam lokakarya Nasional ISPA di Cipanas, istilah ini merupakan padanan istilah bahasa inggris Acute Respiratory infection (ARI). Dalam Lokakarya Nasioanal ISPA tersebut terdapat dua pendapat berbeda, pendapat pertama memilih istilah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan pendapat kedua memilih istilah ISNA (Infeksi Saluran Napas Akut) Pada akhir Lokakarya diputuskan untuk memilih istilah ISPA dan sampai sekarang istilah ini yang digunakan (KepMenKes, 2002).

28

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Infeksi Saluran Pernapasan Akut adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (KepMenKes, 2002). Pneumonia Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paruparu (alveoli). Terjadinya Pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut bronkopneumonia. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA semua bentuk Pneomonia (baik Pneumonia maupun bronkopneumonia) disebut Pneumonia saja (KepMenKes, 2002). 3. Klasifikasi Penyakit ISPA Menurut KepMenkes tahun 2002, kriteria atau entry untuk menggunakan pola tatalaksana penderita ISPA adalah : balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas. Pola tatalaksana penderita ini terdiri dari 4 bagian yaitu : - Pemeriksaan - Penentuan ada tidaknya tanda bahaya - Penentuan klasifikasi penyakit - Pengobatan dan tindakan Program P2 ISPA membedakan klasifikasi untuk dua kelompok, yaitu: (1)untuk kelompok usia di bawah 2 bulan dan (2)untuk kelompok usia 2 bulan-5 tahun. Hal ini dilakukan karena walaupun prosesnya sama, pada bayi kurang dari

29

2 bulan ada beberapa karakteristik tersendiri yang harus dipertimbangkan pada penentuan klasifikasi penyakitnya (Ditjen PPM-PLP, 1993). Klasifikasi ini menggunakan metode klasifikasi yang dikembangkan oleh WHO yang telah diuji-cobakan di beberapa negara berkembang. Berdasarkan metode tersebut maka penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) diklasifikasikan sebagai (Ditjen PPM-PLP, 1993): 1. Pneumonia berat 2. Pneumonia tidak berat 3. Bukan pneumonia Selain tiga klasifikasi di atas, perlu juga diperhatikan adanya tanda bahaya pada anak. Tanda bahaya yang dimaksud adalah (Ditjen PPM-PLP, 1993): 1. Tanda bahaya pada anak usia kurang dari 2 bulan a. Kejang, kesadaran menurun atau sulit dibangunkan b. Stridor (pada bayi tenang) c. Kurang mau minum d. Demam atau terlalu dingin 2. Tanda bahaya pada usia 2 bulan-5 tahun a. Tidak Bisa minum b. Kejang-kejang, kesadaran menurun atau sukar dibangunkan c. Stridor d. Gizi buruk Tanda-tanda tersebut di atas dapat disebabkan oleh banyak kemungkinan, akan tetapi adanya satu atau lebih tanda-tanda bahaya tersebut merupakan tanda

30

bahwa anak tenderita sakit berat dan harus dirujuk ke rumah sakit atau Puskesmas. Berikut adalah pedoman klasifikasi penyakit ISPA pada usia bayi usia kurang dari 2 bulan dan pada usia 2 bulan-5 tahun (Ditjen PPM-PLP, 1993):

Klasifikasi penyakit ISPA pada anak kurang dari 2 bulan Bayi yang berusia kurang dari 2 bulan mempunyai beberapa karakteristik yang berbeda dari bayi/anak yang lebih besar. Karena itu tanda atau gejala yang digunakan dalam klasifikasi ISPA bayi yang berusia kurang dari 2 bulan berbeda dari bayi/anak yang lebih besar. Secara ringkas perbedaan-perbedaan tersebut adalah: 1. Perbedaan dalam tanda bahaya. Pada bayi kurang kurang dari 2 bulan dimasukkan beberapa tanda bahaya lain seperti: kurang mau minum, demam atau teraba dingin, dan wheezing. Tanda Gizi buruk tidak dimasukkan di sini. 2. Bayi kurang dari 2 bulan tergolong dalam kelompok penderita pneumonia berat bila mempunyai mempunyai tarikan dinding dada ke dalam yang kuat. 3. Batasan napas cepat untuk bayi kurang dari 2 bulan adalah bila frekuensi napasnya 60x permenit atau lebih. 4. Semua pneumonia pada bayi harus kurang dari 2 bulan digolongkan sebagai pneumonia yang harus dirujuk segera ke rumah sakit atau Puskesmas.

Infeksi saluran pernapasan akut pada bayi usia kurang dari 2 bulan diklasifikasikan sebagai: 1. Pneumonia berat

31

Bayi yang berusia kurang dari 2 bulan diklasifikasikan sebagai penderita pneumonia berat bila menunjukkan gejala pernapasan cepat (60x permenit atau lebih) atau ditemukan gejala tarikan dinding dada ke dalam yang kuat. Pada keadaan seperti ini, bayi harus segera dirujuk ke rumah sakit atau puskesmas. 2. Bukan Pneumonia Bayi penderita ISPA berusia kurang dari 2 bulan diklasifikan sebagai penderita bukan pneumonia (napas cepat dan tarikan dindng dada ke dalam yang kuat) dan tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya. Tanda yang perlu diketahui untuk mengenal apakah bayi kurang dari 2 bulan menderita pneumonia adalah: frekuensi napas permenit dan ada tidaknya tarikan dinding dada ke dalam yang kuat. Bila ditemukan tanda bahaya maka bayi harus segera dirujuk ke rumah sakit tanpa harus memperhatikan klasifikasi penyakitnya. Klasifikasi Penyakit ISPA pada Anak Usia 2 bulan-5 tahun Anak umur 2 bulan-5 tahun yang menderita ISPA tanpa adanya tandatanda bahaya diklasifikasikan sebagai salah satu dari: 1. Pneumonia berat Anak yang diklasifikasikan sebagai penderita pneumonia berat adalah anak dengan gejala tarikan dinding dada ke dalam. Tarikan dinding dada ke dalam terjadi karena diperlukannya tenaga yang lebih besar dari biasanya pada waktu menarik napas. Tarikan dinding dada ke dalam dengan pneumonia berat tidak selalu disertai dengan pernapasan cepat, karena bila anak telah letih bernapas dan tenaga

32

untuk menggerakkan paru-parunya sudah berkurang maka akhirnya anak akan bernapas lambat. Karena itu tarikan dinding dada ke dalam bisa jadi merupakan satu-satunya tanda utama pneumonia berat. Pada penderita pneumonia berat, tarikan dinding dada ke dalam dapat juga disertai dengan gejala-gejala lain seperti: a. Napas cuping hidung kembang kempis waktu bernapas b. Suara rintihan c. Sianosis (kulit kebiru-biruan karena kekurangan oksigen) 2. Pneumonia (tidak berat) Anak penderita ISPA yang menunjukkan gejal pernapasan cepat (50x permenit atau lebih pada anak usia2 bulan-<12 bulan, atau 40x permenit atau lebih pada anak usia 12 bulan-5 tahun) tanpa ada tarikan dinding dada ke dalam diklasifikasikan sebagai penderita pneumonia (tidak berat). Anak yang menderita pneumonia dapat berlanjut menjdai pneumonia berat. Namun pada sebagian anak yang menderita pneumonia tidak akan menderita pneumonia berat bila cepat diberi pengobatan yang tepat dan adekuat. Anak dalam kelompok (tidak berat) diobati dengan antibiotika dan diberi tindakan penunjang di rumah. Selain itu harus dianjurkan kepada ibunya untuk membawa anaknya kembali 2 hari setelah pemberian antibiotika, atau lebih awal bila keadaan memburuk. 3. Bukan Pneumonia (batuk pilek) Anak penderita ISPA diklasifikasikan sebagai penderita bukan pneumonia bila tidak menunjukkan gejala pernapasan cepat dan tidak ditemukan tarika

33

dinding dada ke dalam. Anak-anak dalam kelompok ini tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika. Namun demikian, ibu harus dianjurkan untuk memberikan tindakan penunjang di rumah dan mengamati kemungkinan adanya tanda-tanda pneumonia. Anak anak dalam kelompok bukan pneumonia (batuk pilek) harus dianjurkan untuk kembali berobat bila keadaannya memburuk karena sebagian anak dengan batuk pilek juga dapat mempunyai masalah lain, yaitu: a. Anak dengan batuk kronis (lebih dari 30 hari) mungkin penderiat TBC, asma, batuk rejan dan lain-lain. b.Anak mungkin menderita penyakit telinga atau penyakit tenggorokan c. Anak mungkin menderita penyakit kulit,diare atau gizi kurang. 4. Etiologi ISPA dan Pneumonia Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptokokus. Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium. Virus Penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain (KepMenKes, 2002) . Etiologi Pneumonia pada balita sukar untuk ditetapkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab Pneumonia. Hanya biakan dari aspirat paru serta pemeriksaan spesimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu penetapan etiologi Pneumonia. Meskipun pemeriksaan spesimen aspirat paru merupakan cara yang sensitif untuk

34

mendapatkan dan menentukan bakteri penyebab Pneumonia pada balita akan tetapi fungsi paru merupakan prosedur yang berbahaya dan bertentangan dengan etika, terutama jika hanya dimaksudkan untuk penelitian (KepMenKes, 2002). Oleh karena alasan tersebut diatas maka penetapan etiologi Pneumonia di Indonesia masih didasarkan pada hasil penelitian di luar Indonesia. Menurut publikasi WHO, penelitian di berbagai negara menunjukan bahwa di negara berkembang Streptokokus pneumonia dan Hemofilus influenza merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada dua pertiga dari hasil isolasi, yaitu 73,9 % aspirat paru dan 69,1% hasil isolasi dari spesimen darah. Sedangkan di negara maju, dewasa ini Pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus (KepMenKes, 2002). 5. Pemeriksaan Pasien ISPA Balita Anak dengan batuk atau sulit bernapas dapat disebabkan oleh pneumonia yang merupakan penyakit berat. Akan tetapi, batuk dan sulit bernapas juga dapat disebabkan oleh pilek, hidung tersumbat, lingkunagn berdebu, pertusis, tuberculosis, campak, croup atau wheezing. Oleh karena itu pemeriksaan yang tepat dan teliti mutlak diperlukan untu mendiagnosis penyakit ISPA secara tepat. Pemeriksaan yang dimaksud adalah cara untuk memperoleh informasi tentang penyakit anak dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada ibu yang mengasuhnya, serta dengan melihat dan mendengar anak. Dalam program P2 ISPA telah diberikan pedoman mengenai langkah-langkah pemeriksaan pada balita penderita ISPA. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut (Ditjen PPM-PLP, 1993) :

35

Tanyakan kepada ibu (yang mengasuh): a. Berapa umur anak? b. Apakah anak batuk? Berapa hari? c. Apakah anak dapat minum? d. Apakah anak demam? Berapa hari? e. Apakah anak kejang-kejang? Perlu diperhatikan bahwa anak dikatakan tidak dapat minum jika sama sekali tidak mampu minum atau apabila anak sangat lemah untuk minum, tidak dapat menetek atau menelan, atau apabila anak sering muntah sehingga tidak ada yang ditelan. Lihat dan dengar Lihat dan dengar yang dimaksud adalah melihat dan mendengarkan anak untuk mengetahui apakah ada tanda kesulitan bernapas seperti tarikan dinding dada ke dalam, napas cepat, stridor atau wheezing pada anak. a. Menghitung frekuensi napas dalam 1 menit Penghitungan frekuensi napas dilakuan dengan menggunakan alat

pengukur waktu yang berbunyi dan dihitung selama 1 menit. Frekuensi pernapasan pada anak-anak berbeda pada tiap tingkatan usia. Oleh karena itu didiagnosa cepat pada anak-anak dibagi menurut kelompok umur. Pembagian itu adalah sebagai berikut: 1. Anak usia kurang dari 2 bulan dikatakan bernapas cepat jika frekuensi napasnya 60x permenit atau lebih.

36

2. Anak usia 2 buan sampai <12 bulan dikatakan bernapas cepat bila frekuensi napasnya 50x permenit atau lebih 3. Anak usia 1 samapi 5 tahun dikatakan bernapas cepat bila frekuensi napasnya 40x permenit atau lebih. b. Melihat tarikan dinding dada ke dalam Tarikan dinding dada ke dalam adalah suatu kondisi yang terjadi pada waktu menarik napas akibat diperlukannya tenaga yang lebih besar dari biasanya. Pada anak yang normal, bila menarik napas napas dada dan perut akan bergerak keluar. Anak dikatakan menunjukkan gejala tarikan dinding dada ke dalam apabila dinding bagian bawah dada tertarik ke dalam pada saat anak menarik napas. Jika hanya jaringan lunak antar tulang iga atau di atas tulang selangka yang tertarik pada waktu bernapas maka tidak diartikan sebagai statu tarikan dinding dada ke dalam. Pemeriksaan pada bayi kurang dari 2 bulan harus dilakukan secara lebih teliti dan hati-hati karena selain tulang dadanya masih lunak, pada bayi yang sehat terlihat tarikan dinding dada yang tidak kuat. c. Lihat dan dengar stridor Stridor adalah suara keras yang terjadi bila anak menarik napas. Hal ini terjadi karena udara yang masuk ke paru-paru terganggu akibat adanya penyempitan laring, trakea atau epiglotis. Untuk mendengarnya dekatkan teliga dengan mulut anak. Anak harus dalam kondisi tenang, karena pada anak yang menangis atau rewel dapat ditemukan stridor walaupun tanpa sakit berat.

37

d. Lihat dan dengar wheezing Wheezing adalah suara napas seperti suara musik yang terjadi karena adanya penyempitan saluran udara paru. Pada anak dengan wheezing tampak adanya kesulitan dalam bernapas. Jika anak tenderita wheezing, tanyakan pada ibunya apakah anak tampak sangat mengantuk dan sukar dibangunkan. Perhatikan apakah anak terbangun bila ibunya berbicaraatau bila kita bertepuk tangan. Setiap bayi yang tidur nyenyak akan terbangun bila ada gangguan. Sementara anak yang sukar bangun akan terus tidur walaupun ada suara ibunya ataupun ada suara tepukan yang keras. Ukur suhu tubuh anak dengan termometer Suhu tubuh anak harus diukur bila memungkinkan. Anak dengan suhu tubuh lebih dari 38 dikatakan dengan demam, sementara anak dengan suhu kurang 35,5 disebut hipotermi. Periksa apakah ada tanda kekurangan gizi berat Pemeriksaan tanda kekurangan gizi berat dilakukan dengan melihat

kondisi anak menggunakan metode-metode yang lazim digunakan untuk mengukur status gizi anak.

6. Pengobatan Pasien ISPA Balita Pengobatan pasien ISPA menurut buku pedoman penatalaksanaan penderita ISPA untuk petugas kesehatan dari departemen kesehatan Republik Indonesia (1988) adalah sebagai berikut:

38

a. ISPA Berat ISPA berat harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas yang mempunyai sarana perawatan, dengan syarat tersedianya fasilitas minimal sebagai berikut: 1. perlengkapan untuk pemberian zat asam (oksigen) 2. alat penghisap lendir (untuk aspirasi) 3. sarana pemberian cairan intervena (infus) 4. obat-obatan yang cukup, mencakup antimikroba, bronkodilator, digitalis, serum anti difteri (ADS) Untuk pengobatan antimikroba, dipakai antimikroba lini kedua, yaitu: Benzil Penisilin (suntikan) Untuk infeksi paru yang berat (penarikan dada ke dalam) tanpa sianosis, dianjurkan pemakaian Benzil Penisilin intramuskuler tiap 6 jam. Untuk usia kurang dari 1 tahun dosisnya 300.000 unit/dosis dan untuk usia 1 tahun ke atas dosisnya 600.000 unit/dosis. Kloramfenikol (suntikan/oral) Untuk kasus ISPA berat yang ditandai penarikan dada ke dalam dengan sianosis, pemberian Benzil Penisilin hendaknya ditambah dengan Kloramfenikol intravena atau oral. Dosisnya 50 mg/Kg BB/dosis, 4 kali sehari selama 5-10 hari, tapi tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi di bawah usia 2 bulan. Gentasimin (suntikan) Suatu Aminoglikosida yang diberikan sebagai kombinasi dengan Benzil Penisilin untuk infeksi paru yang berat pada bayi (Pneumonia neonatal). Dosisnya 2,5 mg/Kg BB/hari, dibagi 3 dosis (tiap 8 jam), intramuskuler atau intravena.

39

Kloksasilin (suntikan/oral) Jika terjadi infeksi oleh bakteri yang memproduksi enzim Penisilinase, misalnya pada Pneumonia stafilokok, pemberian penisilin tidak efektif lagi. Pada kasus ini dianjurkan pemakaian Kloksasilin, biasanya dipakai dalam bentuk kombinasi dengan Ampisilin atau dengan Gentasimin. Dosisnya 25-50 mg/Kg BB/dosis. diberikan 4 kali sehari dalam bentuk suntikan intravena, Intramuskuler atau oral. b. ISPA Sedang Untuk pengobatan antimikroba, dipakai antimikroba sebagai berikut: Prokain Penisilin (suntikan) Untuk usia kurang dari 1 tahun dosisnya 300.000 unit dan usia 1 tahun ke atas dosisnya 600.000 unit. Diberikan secara intramuskuler tiap hari sekali selama 5 hari. Kotrimoksasol Cukup diberikan 2 kali sehari. Untuk usia kurang dari 1 tahun dosisnya tablet dewasa, sedangkan untuk usia 1 tahun ke atas dosisnya tablet dewasa. Ampisilin Dosisnya 25 mg/Kg BB/dosis, diberikan 4 kali sehari selama 5 hari dengan pemberian secara oral. c. ISPA Ringan - Pemberian Parasetamol pada demam yang lebih dari 38o C, diberikan selama 2 hari. Dosis 10-15 mg/Kg BB sehari 3 kali.

40

- Mempertahankan suhu lingkungan dan pakaian yang sesuai. Untuk mengatasi batuk bisa dianjurkan pemakaian obat-obatan tradisional setempat, yang aman dan murah. - Pilek diatasi dengan membersihkan hidung memakai kertas/kain penyerap yang bersih. kalu perlu dibasahi bila ingus sudah mengering. - Mempertahankan konsumsi makanan/minuman. - Congekan yang lebih dari 2 minggu, dibersihkan dengan kertas/kain penyerap yang bersih. Pemberian antibiotika tidak efektif lagi pada kasus ini. Pemberian obat tetes telinga tidak dianjurkan. 7. Perawatan Pasien ISPA di Rumah Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA. a. Mengatasi panas (demam) Untuk anak usia 2 bulan samapi 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es). b. Mengatasi batuk Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari.

41

c. Pemberian makanan Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan. d. Pemberian minuman Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita. e. Lain-lain Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali kepetugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang. 8. Pencegahan dan Pemberantasan ISPA Pencegahan dapat dilakukan dengan : 1. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.

42

2. Immunisasi. 3. Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan. 4. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA. Pemberantasan yang dilakukan adalah : 1. Penyuluhan kesehatan yang terutama di tujukan pada para ibu. 2. Pengelolaan kasus yang disempurnakan. 3. Immunisasi. Pelaksana pemberantasan Tugas pemberantasan penyakit ISPA merupakan tanggung jawab bersama. Kepala Puskesmas bertanggung jawab bagi keberhasilan pemberantasan di wilayah kerjanya. Juga merupakan tanggung jawab dari dokter puskesmas, paramedis puskesmas pembantu serta kader kesehatan yang ada di wilayah kerja puskesmas tersebut. Sebagian besar kematiaan akibat penyakit pneumonia terjadi sebelum penderita mendapat pengobatan petugas Puskesmas. Karena itu peran serta aktif masyarakat melalui aktifitas kader akan sangat'membantu menemukan kasuskasus pneumonia yang perlu mendapat pengobatan antibiotik (kotrimoksasol) dan kasus-kasus pneumonia berat yang perlusegera dirujuk ke rumah sakit. Adapun tugas dari Dokter puskesmas adalah sebagai berikut : 1. Membuat rencana aktifitas pemberantasan ISPA sesuai dengan dana atau sarana dan tenaga yang tersedia. 2. Melakukan supervisi dan memberikan bimbingan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA kepada perawat atau paramedis.

43

3. Melakukan pemeriksaan pengobatan kasus- kasus pneumonia berat/penyakit dengan tanda-tanda bahaya yang dirujuk oleh perawat/paramedis dan merujuknya ke rumah sakit bila dianggap perlu. 4. Memberikan pengobatan kasus pneumonia berat yang tidak bisa dirujuk ke rumah sakit. 5. Bersama dengan staff puskesmas memberi kan penyuluhan kepada ibu-ibu yang mempunyai anak balita. perihal pengenalan tanda-tanda penyakit pneumonia serta tindakan penunjang di rumah, 6. Melatih semua petugas kesehatan di wilayah puskesmas yang di beri wewenang mengobati penderita penyakit ISPA, 7. Melatih kader untuk bisa, mengenal kasus pneumonia serta dapat memberikan penyuluhan terhadap ibu-ibu tentang penyaki ISPA, 8. Memantau aktifitas pemberantasan dan melakukan evaluasi keberhasilan pemberantasan penyakit ISPA. menditeksi hambatan yang ada serta menanggulanginya termasuk aktifitas pencatatan dan pelaporan serta pencapaian target.

Sedangkan tugas Paramedis Puskesmas pembantu yaitu: 1. Melakukan penatalaksanaan standar kasus-kasus ISPA sesuai petunjuk yang ada. 2. Melakukan konsultasi kepada dokter Puskesmas untuk kasus-kasus ISPA tertentu seperti pneumoni berat, penderita dengan weezhing dan stridor. 3. Bersama dokter atau dibawah, petunjuk dokter melatih kader.

44

4. Memberi penyuluhan terutama kepada ibu-ibu. 5. Melakukan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pimpinan Puskesmas sehubungan dengan pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA.

Dan peran dari Kader kesehatan adalah sebagai berikut: 1. Dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia. 2. Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit 3. Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan pneumonia) dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk putih. 4. Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat. 5. Atas pertimbangan dokter Puskesmas maka bagi kader-kader di daerah-daerah yang terpencil (atau bila cakupan layanan Puskesmas tidak menjangkau daerah tersebut) dapat diberi wewenang mengobati kasus-kasus pneumonia (tidak berat) dengan antibiotik kontrimoksasol. 6. Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk.

45

F. Kerangka Teori

Program Kesehatan

MASUKAN

PROSES

KELUARAN

DAMPAK

Penilaian Program Kesehatan

Gambar 1. Kerangka Teori (Muninjaya, 1999)

46