P. 1
Sasakala Sunda

Sasakala Sunda

|Views: 840|Likes:
Dipublikasikan oleh Perry Nugraha

More info:

Published by: Perry Nugraha on Apr 06, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

Dongeng Sasakala Sangkuriang (Legenda Tangkuban Perahu

)
Posted on 11:29 by Wisata Lembang

Alkisah pada jaman dahulu kala ada sebuah kerajaan di jawa barat yang dipimpin oleh seorang raja. Raja memiliki seorang putri yang sangat cantik yang bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi sangat pandai menenun, setiap hari dia akan menghabiskan waktu dengan menenun kain di sebuah pondok di pinggir hutan. Suatu hari, seperti biasa ketika Dayang sumbi sedang menenun kain, tiba-tiba segulung benang terjatuh dan berguling ke luar pondok. Tanpa sadar Dayang Sumbi berkata: "Siapa pun yang mau mengambilkan benangku yang terjatuh, jika dia wanita akan kujadikan saudara, jika dia pria akan kujadikan dia suamiku." Seekor anjing hitam tiba-tiba muncul di hadapannya dengan membawa gulungan benang miliknya. Dayang sumbi terkejut, namun apa mau dikata, Dayang sumbi telah terlanjur berucap. Maka Dayang sumbi pun bersedia menikahi anjing tersebut. Ternyata anjing tersebut adalah titisan dewa. Begitu Dayang sumbi bersedia menikahinya, dia pun berubah wujud menjadi seorang pria yang sangat tampan. Mereka berdua merahasiakan kejadian ini pada baginda raja. Raja hanya tahu bahwa kemana pun Dayang sumbi pergi akan ditemani oleh seekor anjing hitam yang dipanggil Tumang. Hingga suatu hari Dayang sumbi mengandung. Hal ini membuat istana geger dan membuat raja murka. Beliau murka karena Dayang sumbi hamil tanpa menikah. Karena sangat marah, raja lalu mengusir Dayang sumbi keluar dari istana. Maka Dayang sumbi dan si Tumang pun pergi dari istana dan tinggal di sebuah pondok di tepi hutan. Beberapa bulan kemudian Dayang Sumbi melahirkan seorang putra yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang pandai. Setiap hari Sangkuriang pergi berburu Rusa atau burung dan menangkap ikan di sungai bersama Tumang. Suatu ketika saat berburu, Sangkuriang melihat seekor kijang emas. Dia menyuruh Tumang mengejarnya. Anehnya Tumang yang biasanya menurut, kali ini tidak mau bergerak dari tempatnya meski Sangkuriang mengancamnya. Tak sengaja anak panah yang dipakai untuk mengancam Tumang terlepas dari busurnya dan mengenai Tumang hingga anjing itu tewas. Ketika sampai di pondok, Dayang sumbi yang sedang menanak nasi menanyakan keberadaan

hingga suatu hari Dewa berkenan mengabulkan permintaannya. Karena ketekunannya Sangkuriang berhasil menjadi seorang yang sakti dan bisa memanggil serta memerintah jin dan dedemit. Dayang sumbi mulai curiga bahwa Jaka tidak lain adalah Sangkuriang anaknya sendiri. "Gampang sekali." Setelah bertahun-tahun lamanya. "Apapun persyaratannya aku pasti akan sanggup memenuhinya. Dia sangat kaget karena luka itu persis berada di tempat dia pernah memukul anaknya. Maka Dayang Sumbi pun bertanya: "Kenapa ada bekas luka di kepalamu. "Nyai. kang?" "Akang juga tidak tahu. "Kau harus bisa membuatkanku sebuah danau dan sebuah perahu tempat kita berbulan madu nanti. Maka ia pun berusaha meyakinkan Sangkuriang. Menurutnya tidak mungkin wanita muda di hadapannya adalah ibunya yang sudah berpisah sekian lama. Sangkuriang tak bisa lagi menahan rasa sakit di kepalanya. "supaya wajahmu tidak berubah sampai kapanpun. Jaka berniat untuk mengembara dan mencari tahu masa lalunya. Apalagi setelah diperhatikan Jaka sangat mirip dengan wajahnya sendiri. Setelah sekian lama berjalan. Mereka pun berkenalan dan saling jatuh cinta. "Seingatku luka itu sudah ada sejak akang masih kecil. "Saya membunuhnya bu. Karena Sangkuriang tetap tidak percaya dan dia tetap ingin menikahi Dayang Sumbi. Dayang sumbi sangat terkejut dan marah sehingga memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang sedang dipegangnya hingga berdarah. Sementara itu Dayang Sumbi menyesal telah mengusir Sangkuriang. Sangkuriang berulang kali memohon ampun. maka Dayang Sumbi mengajukan persyaratan. namun Dayang sumbi malah mengusirnya. Dayang sumbi berdoa siang dan malam." kata Sangkuriang. maka ia pun jatuh pingsan. Maka pertapa memanggilnya Jaka.Tumang. Maka jaka merendahkan tubuhnya supaya Dayang sumbi bisa mengikatkan ikat kepalanya. Suatu hari Jaka hendak pergi berburu. Ternyata wanita itu adalah Dayang Sumbi." kata Sangkuriang. sangkuriang tidak bisa mengingat masa lalunya. "Aku akan memberimu kecantikan abadi." Mendengar hal itu Dayang sumbi semakin yakin bahwa Jaka adalah Sangkuriang. Sayang. Tibatiba Dayang sumbi melihat bekas luka di kepala Jaka." kata Dewa. Dia merawat Sangkuriang sampai lukanya sembuh dan megajarinya ilmu bela diri dan kesaktian. Maka dia memohon kepada Dewa untuk mempertemukan mereka kembali. hari ini akang akan pergi berburu. Hingga akhirnya tibalah ia di sebuah pondok di tepi hutan. "Maukah kau mengikatkan ikat kepalaku?" "Baiklah kang. dan anakmu akan mengenalimu saat kalian berjumpa." kata Jaka." kata Dayang Sumbi. Guruku berkata bahwa dia menemukanku sedang pingsan dan terluka parah. Maka pergilah ia kemana kakinya melangkah. Seorang pertapa menemukan Sangkuriang dan membawanya ke pertapaan. "Hanya itu?" tanya Sangkuriang. Akang memang tidak ingat masa lalu akang." kata Dayang Sumbi." . Di sana dia bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik dan Jaka terpesona." kata Jaka. Namun Sangkuriang tidak percaya. Sangkuriang pun pergi meninggalkan Dayang sumbi.

Sejak itu perahu itu berubah menjadi gunung yang sampai sekarang dikenal dengan Gunung Tangkuban Perahu. "Kau akan melihatnya besok pagi. Tidak sulit bagi para makhluk gaib itu untuk melaksanakannya. Lalu mereka mulai menebang hutan dan membuat perahu. Dan cerita ini adalah mengenai asalusul terbentuknya situ Bagendit. Merupakan daerah yang subur dan memiliki banyak tempat wisata. Maka dengan kekuatannya dia menendang perahu yang dibuatnya hingga perahu itu terbang dan jatuh terbalik. Para Jin dan Dedemit yang melihat warna merah dan suara ayam berkokok mengira bahwa fajar akan segera terbit. "Baiklah!" kata Sangkuriang. Sangkuriang sangat marah mengetahui dirinya telah tertipu." Malam harinya Sangkuriang memanggil Jin dan dedemit untuk membantunya. Salah satunya adalah Situ bagendit. Dayang Sumbi yang diam-diam mengintip pekerjaan Sangkuriang merasa was-was melihat sebentar lagi danau dan perahu tersebut akan selesai. (Dalam bahasa Sunda Tangkuban Perahu artinya Perahu yang terbalik. tapi sebelum fajar menyingsing kau harus sudah menyelesaikannya. . Mereka ketakutan sehingga cepat-cepat melarikan diri meninggalkan perahu yang hampir jadi."Ya. Kemudian Dayang sumbi dan masyarakat di desa tersebut menggelar kain sutera merah di sebelah timur dan ramai bercengkrama sehingga membangunkan ayam-ayam yang lalu mulai berkokok seolah-olah hari telah pagi. Dongeng Situ Bagendit Posted on 11:15 by Wisata Lembang Garut adalah salah satu daerah di jawa Barat." jelas Dayang Sumbi. Mereka dengan mudah menggali tanah dan menyusun batu-batu besar untuk membendung aliran air sehingga terbentuk sebuah danau. Maka dia berlari ke desa terdekat untuk meminta pertolongan.

” Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit. dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkukbungkuk. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit. “Kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi. “Aduh pak. “Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. . maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Kan Tuhan mah tidak pernah tidur!” Sementara iru Nyai Endit sedang memeriksa lumbung padinya. Kenapa yah. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya. Ya Tuhan. Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu.” pikir si nenek. mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi. “Tidak tahan saya hidup seperti ini. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu. “Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?” kata nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis. Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain. “Barja!” kata nyai Endit. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit.” “Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. kasihan para penduduk ini. Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan. jangan kenceng-kenceng atuh. persediaan beras kita sudah menipis. para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan. namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. “Wah kapan ya nasib kita berubah?” ujar seorang petani kepada temannya. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi! Lumbungnya sudah penuh diisi padi. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air. Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat disbanding saat kita jual dulu. lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu?” “Sssst.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat lagi. Rumahnya mewah. Suatu siang yang panas. “Hmm. Namun meski begitu. jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul. nanti ada yang denger!” sahut temannya. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!” kata Nyai Endit. Ya! Seluruh petani. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba. Hari ini adalah hari panen.Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri. Benar saja.

bawalah barang berharga milik kalian.! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong. “Saya mau minta sedekah.” “Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget.. demikian pula para centengnya.” kata Nyi Asih. nenek bisa makan di rumah saya.” “Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja. Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan. Sudah tiga hari saya tidak makan. “Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi tersebut “Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” tanya si nenek “Oh. “Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.“Nyi! Saya numpang tanya.” kata si nenek.” bentak centeng. “Hei Endit. “Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.” “Aku tidak bercanda. ga bakalan dikasih. O ya. tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap-siap mengungsi.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyi Endit. Kalau nenek lapar. kau pasti mati.” jawab si nenek. “Siapa sih yang berteriak-teriak di luar.” kata Nyai Endit. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana.. “Sudah dekat nek.” kata nenek.ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu. “Ganggu orang makan saja!” “Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Endit. Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah. Apa susahnya nyabut tongkat. “Lah. “Ah percuma saja nenek minta sama dia.” kata si nenek. “Tidak perlu repot-repot mengusirku. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi Endit?” “Saya mau minta sedekah. maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih.” kata si nenek. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan. “Apa peduliku. cepat pergi sebelum saya seret!” Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. tapi tidak berhasil.” kata si nenek. “Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan.” kata si nenek. tapi seadanya.” ujar Nyai Endit. Lalu nenek belok kiri.” kata nenek. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar. Maka dari itu segera mengungsilah. “Tidak perlu. Itulah rumahnya. Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak. “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah.” “Dasar nenek gila. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. Centeng. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit .” kata Nyai Endit.

Dia coba dengan dua tangan. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!” Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana.sombong. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya. . “Sialan!” kata Nyai Endit. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut. namun meski sudah ditarik oleh tiga orang. “Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. Gaji kalian aku potong!” Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa.” Brut! Dengan sekali hentakan. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah. Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Lihat aku akan mencabut tongkat ini. Hup hup! Masih tidak bergeming juga. tongkat itu tetap tak bergeming. Beberapa orang percaya bahwa kadangkadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Orang menamakannya „Situ Bagendit‟. “Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang sengsara karenamu. tongkat itu sudah terangkat dari tanah.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->