Anda di halaman 1dari 51

BAB II KERANGKA TEORI, KONSEP DAN KAJIAN PUSTAKA 2.

1 Kerangka Teori Pembentukan kata yang dilakukan dalam penelitian ini bertolak dari ancangan teori Morfologi Generatif. Teori ini dicetuskan oleh Chomsky (1965) kemudian dikembangkan oleh Halle (1973) dan Aronoff (1976). Selanjutnya teori ini dimodifikasi oleh Dardjowidjojo (1988) dan disesuaikannya dengan sistem bahasa Indonesia. Menurut Chomsky (1965: 3-9) prinsip-prinsip atau asumsi-asumsi yang mendasari tata bahasa generatif transformasional pada umumnya dan morfologi generatif pada khususnya adalah sebagai berikut: Pertama, TGT adalah teori tentang kompetensi. Chomsky membedakan antara kompetensi dan performansi. Kompetensi adalah pengetahuan penutur asli mengenai bahasanya, yaitu sistem kaidah yang telah dikuasainya sehingga ia mampu menghasilkan dan memahami sejumlah kalimat yang terbatas, serta mengenal kesalahan-kesalahan dan ambiguitas-ambiguitas gramatikal, sedang performansi adalah penggunaan bahasa yang sesungguhnya oleh penutur asli dalam situasi nyata. TGT bertolak dari kompetensi. Sehubungan dengan hal ini, Chomsky menegaskan bahwa teori linguistik bersifat mentalistik karena teori ini berusaha menemukan realitas mental yang mendasari tingkah laku yang sesungguhnya. Performansi tidak dapat dijadikan sebagai landasan karena rekaman dari bahasa lisan yang alamiah menunjukkan awal yang salah, penyimpangan dari kaidah, perubahan rencana sementara pembicaraan berlangsung dsb. Selanjutnya dikemukakan, linguistik adalah telaah kompetensi. Objek sesungguhnya dari telaah linguistik adalah masyarakat yang homogen yang di dalamnya semua orang menggunakan bahasa yang sama serta mempelajari bahasa

Universitas Sumatera Utara

itu secara wajar. Data linguistik bukanlah ujaran oleh individu yang harus ditelaah, melainkan intuisinya tentang bahasanya, utamanya pertimbangannya menyangkut kalimat mana yang gramatikal dan yang mana yang tidak gramatikal, serta pertimbangannya tentang keterkaitan kalimat, artinya kalimat mana yang mengandung makna yang sama. Teori bahasa menerangkan intuisi ini. Kedua, bahasa memiliki sifat kreatif dan inovatif. Kreativitas bahasa adalah kemampuan penutur asli untuk menghasilkan kalimat-kalimat baru, yaitu kalimat-kalimat yang tidak mempunyai persamaan dengan kalimat-kalimat yang biasa. Penutur asli mampu menghasilkan dan memahami kalimat-kalimat baru atau mampu membuat pertimbangan mengenai keberterimaannya. Selanjutnya Chomsky (1972:11-12) menegaskan bahwa pemakaian bahasa yang normal bersifat inovatif, dengan pengertian bahwa kebanyakan yang kita katakan sama sekali baru, bukan ulangan dari apa yang telah kita dengarkan sebelumnya, bahkan tidak mempunyai pola yang sama dengan kalimat-kalimat atau wacana yang kita dengar di waktu lampau. Sangat sedikit yang kita hasilkan atau dengar merupakan ulangan dari ujaran-ujaran sebelumnya. Ketiga, TGT adalah seperangkat kaidah yang memberikan pemerian struktural kepada kalimat. Tujuan linguis yang berusaha untuk menjelaskan aspek kreatif dari kompetensi gramatikal ialah memformulasikan seperangkat kaidah pembentukan kalimat (kaidah sintaksis), kaidah penafsiran kalimat (kaidah semantis), dan kaidah pengucapan (kaidah fonologis). Jadi, mempelajari suatu bahasa berarti mempelajari seperangkat kaidah sintaksis, kaidah semantis, dan kaidah fonologis. Keempat, bahasa adalah cermin fikiran. Chomsky (1972:103) menyatakan bahwa terdapat sejumlah pertanyaan yang menyebabkan seseorang mempelajari bahasa. Ciri-ciri inheren dari pikiran manusia dapat diketahui setelah menelaah bahasa secara rinci. Maksudnya, dapat dicapai pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana pikiran manusia menghasilkan dan memproses bahasa . Selanjutnya Akmajian dkk (1984:5-7) melengkapi asumsi-asumsi dasar TGT sbb: hendaknya dibentuk untuk

Universitas Sumatera Utara

Pertama, bahasa manusia pada semua tingkatan dikuasai oleh kaidah. Setiap bahasa yang kita ketahui mempunyai kaidah sistematis yang menguasai pengucapan, pembentukan kata, dan konstruksi gramatikal. Selanjutnya, cara mengasosiasikan makna dengan frasa suatu bahasa ditandai oleh kaidah yang teratur. Terakhir, penggunaan bahasa untuk berkomunikasi dikuasai oleh generalisasi penting yang dapat kita ungkapkan dengan kaidah. Kaidah yang dimaksudkan di sini adalah kaidah-kaidah deskriptif, yaitu kaidah-kaidah yang memerikan bahasa yang sesungguhnya dari kelompok penutur tertentu. Kaidahkaidah deskriptif sebenarnya mengungkapkan generalisasi dan keteraturan tentang berbagai aspek bahasa. Kedua, bahasa manusia yang beraneka ragam itu membentuk fenomena yang menyatu. Para linguis mengasumsikan bahwa adalah mungkin menelaah bahasa manusia pada umumnya dan bahasa-bahasa tertentu untuk mengungkapkan ciri-ciri bahasa yang universal. Secara lahiriah, bahasa manusia sangat berbeda antara satu dengan lainnya, namun secara batiniah, bahasa-bahasa tersebut memiliki ciri-ciri kesemestaan. Semua bahasa yang kita ketahui memiliki tingkat kerumitan dan rincian yang sama. Tidak ada bahasa yang bersahaja. Semua bahasa memiliki cara untuk menyatakan pertanyaan dan membuat permintaan. Apa yang dapat diungkapkan dalam satu bahasa juga dapat diungkapkan dalam bahasa lain. Selanjutnya akan dikemukakan asumsi-asumsi yang mendasari morfologi generatif sebagai berikut: Pertama, morfologi adalah bagian integral dari komponen sintaksis. Dalam TGT standar, morfologi tidak merupakan suatu komponen yang otonom, melainkan bagian dari komponen sintaksis. Namun demikian, telah ada usahausaha untuk menjadikan komponen morfologi sebagai suatu komponen yang otonom. Scalise (1984) menyatakan bahwa pembentukan kata terjadi seluruhnya dalam leksikon dan ditangani oleh suatu mekanisme khusus yang disebut Kaidah Pembentukan Kata (KPK). Linguis pertama yang berusaha ke arah itu adalah Morris Halle.

Universitas Sumatera Utara

Kedua, analisis morfologis dilakukan dalam dua tingkatan, yaitu tingkatan struktur batin dan tingkatan struktur lahir. Berdasarkan asumsi ini, maka pertamatama kita perlu menelusuri struktur batin atau representasi asal suatu konstruksi morfologis, kemudian melihat proses proses apa yang terjadi terhadap bentuk asal tersebut untuk dapat menetapkan bentuk turunannya atau bentuk lahirnya. Secara umum penilitian ini akan dianalisis dengan menggunakan teori morfologi generatif. Teori morfologi generatif memiliki perangkat kaidah untuk membentuk kata-kata baru atau kalimat-kalimat baru dengan kaidah transformasi. Pemilihan kepada teori morfologi generatif dilakukan mengingat teori yang ada sebelumnya yaitu teori struktural dianggap tidak mampu lagi mengakomodasi fenomena kebahasaan bagi pembentukan kata bahasa Indonesia yang ada pada saat ini. Dikatakan demikian karena banyak kata potencial yang merupakan serapan dari bahasa Arab telah menjadi kata actual dan digunakan oleh penutur bahasa Indonesia tetapi tidak mendapat perhatian di dalam kajian struktural. Padahal salah satu tujuan ilmu morfologi seperti yang dikatakan oleh Katamba tidak hanya memahami dan membentuk kata yang ada (real) di dalam bahasa mereka tetapi juga membentuk kata potencial yang belum digunakan pada saat mereka berujar. Jadi, morfologi generatif memiliki predictive power yaitu dapat membentuk kata potensial yang belum digunakan oleh penuturnya. Menurut morfologi struktural pembentukan kata terdiri dari empat komponen yaitu, (1) Daftar Morfem (2) Pembentukan Kata (3) Proses Morfofonologis dan (4) Kamus.

1. Daftar Morfem Dalam daftar morfem, semua morfem baik morfem bebas maupun morfem terikat diidentifikasi. Adapun teknik identifikasi morfem menurut Bickford dkk (1991: 2-3) dapat diketahui dengan cara menemukan bagian-bagian yang berulang dengan makna tetap dan menemukan kontras dalam suatu kerangka. Menurut ahli

Universitas Sumatera Utara

tatabahasa struktural seperti Hocket (1970:123) menyatakan bahwa morfem adalah elemen terkecil yang secara individual mengandung arti sementara Bloomfield (1933: 161) menyatakan bahwa morfem adalah bentuk linguistik terkecil yang tidak mengandung kesamaan sebagian bunyi dan arti dengan bentuk linguistik lainnya. Kedua definisi ini memberi pengertian bahwa setiap bentuk yang mengandung arti yang berbeda harus dianggap sebagai morfem yang berdiri sendiri. Akibatnya pendapat ini sulit diterapkan untuk penentuan morfem di dalam bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Indonesia ditemukan morfem yang dapat memiliki lebih dari satu arti bergantung kepada bentuk dasar yang dilekatinya. Sebaliknya satu arti dapat dinyatakan oleh lebih dari satu morfem. Misalnya sufiks {-an} di dalam bahasa Indonesia dapat memiliki makna ‘tiap-tiap’ dalam bulanan; ‘yang ada di’ dalam bawahan; ‘hasil’ dalam pikiran; ‘alat’ dalam saringan; ‘tempat’ dalam kuburan dan ‘yang di’ dalam makanan. Contoh-contoh yang ada ini menunjukkan bahwa sufiks {-an} di dalam bahasa Indonesia memiliki enam makna yang berbeda. Aanya contoh sufiks {-an} yang memiliki makna yang berbeda-beda ini Uhlenbeck (1978: 326) berpendapat bahwa morfem (afiks) tidak memiliki makna yang berdiri sendiri. Arti morfem bergantung kepada kata (morfem akar) yang menjadi bentuk dasarnya. Bertentangan dengan kata, morfem bukanlah kesatuan linguistis, melainkan hanya momen dalam sebuah kata. Sebagai konsekuensinya Uhlenbeck selalu mengambil kesatuan kata sebagai keterangan linguistis yang diungkapkannya. Selanjutnya morfem dapat dibagi menjadi (1) morfem akar yang juga disebut sebagai morfem dasar (morfem leksikal) (2) morfem inflektif atau variasi paradigmatis (morfem gramatikal) dan (3) morfem derivatif (morfem gramatikal) (Fawler dalam Muhajir, 1984:18). Dengan memperhitungkan pihak morfem akar bersama dengan morfem non akar membentuk kata, segera akan tampak bahwa keenam perbedaan makna sufiks {-an} yang terdapat pada contoh di atas disebabkan oleh perbedaan keanggotaan kategorial morfem akar yang menjadi bentuk dasarnya.

Universitas Sumatera Utara

dan gaul. 2. Pembentukan Kata Menurut Bauer (1983: 201) pembentukan kata baru dapat dibagi menjadi 10 yaitu (1) compounding (2) prefixation (3) suffixation (4) conversion (5) back formation (6) clipping (7) blends (8) acronyms (9) word manufacture dan (10) Universitas Sumatera Utara . Menurut Sibarani (2002:37-39) morfem dibagi menjadi (1) morfem derivasional yaitu morfem yang dapat membentuk kata baru dengan cara mengubah baik makna atau kelas kata maupun kedua-duanya. pulang. seperti like yang berubah menjadi dislike. Morfem bebas ádalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan misalnya. jika ditambahkan afiks derivasional {-er} akan menjadi nomina teacher dan sweeper. Misalnya. keduanya berjenis verba. makan. henti. Jenis kata ini kadang-kadang juga tidak berubah disebabkan afiks derivasional tersebut. Keduanya ádalah nomina dan menunjuk kepada benda yang sama tetapi cats bentuk plural berisi informasi tambahan bahwa ada lebih dari satu kucing. Misalnya cat dan cats.Berdasarkan kebebasannya morfem dapat dibagi menjadi (1) morfem bebas dan (2) morfem terikat. bentuk happy dapat berubah menjadi unhappy (dalam hal ini terjadi perubahan makna) dan ripe (Adj) berubah menjadi ripen (verb) (2) morfem infleksional yaitu morfem yang dapat mengubah seluruh bentuk yang berbeda yang berasal dari bentuk yang sama dengan tidak mengubah kelas kata dan makna tetapi hanya mengubah informasi gramatikal tambahan tentang makna kata yang sudah ada. seperti semua afiks dalam bahasa Indonesia dan bentuk-bentuk terikat seperti juang. Adapun afiks-afiks infleksional adalah afiks-afiks yang menghasilkan bentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. rumah sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabungkan lebih dahulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan. Senada dengan pendapat di atas Booij (1988:39) menyatakan bahwa afiksafiks derivasional merupakan morfem terikat yang digabungkan dengan base untuk mengubah kelas katanya (part of speech) seperti teach dan sweep adalah verba.

seperti sumulat (bahasa Batak). b. morfem atau kata untuk membentuk sebuah kata. seperti kingdom. sementara Sibarani (2002:55) mengatakan bahwa proses pembentukan kata baru di dalam morfologi berjumlah 14 buah yang terdiri dari: a. Reduplikasi (Reduplication) adalah pengulangan sukukata. d. be-. Back Formation yaitu penghapusan afiks dari kata yang ada untuk membentuk kata baru. Kata majemuk (Compounding) merupakan gabungan dua bentuk dasar secara bersama-sama membentuk kata baru. Suplesi (Suppletion) adalah suatu ketidakmungkinan yang dapat dijadikan aturan umum atau hubungan yang teratur antara bentuk dasar dan kata derivasinya. breakfast dan play pit. verb + noun seperti. woman doctor dan skinhead.mixed formation. Akronim (Acronyms) adalah sesuatu kependekan yang berupa gabungan huruf atau sukukata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang sesuai dengan kaidah fonotaktik bahasa yang bersangkutan. -ess. seperti befriend. Modifikasi Internal (Internal Modification) yaitu perubahan internal dari base untuk membentuk kata. Afiksasi (Affixation) adalah penambambahan morfem terikat ke bentuk dasar untuk membentuk sebuah kata. Kata majemuk itu antara lain ada yang terdiri dari noun + noun seperti. sufiks –dom. seperti stewardess. Misalnya goody-goody dan wishy-washy. Penambahan bentuk terikat itu ada yang berupa prefiks a-. Misalnya: good bad better worse best worst f. dan noun + verb seperti sunshine dan birth control . c. Misalnya: Universitas Sumatera Utara . dengan menambahkan afiks ke morfem (afiksasi) atau dengan menyalin semua bagian dari morfem untuk membuat perbedaan morfologis. infiks –um-. Misalnya: man break men broke broken e. seperti asleep. Misalnya: RADAR = Radio Detection and Ranging BIMAS = Bimbingan Masyarakat g.

Clipping yaitu pengambilan suku kata khusus dalam kata yang selanjutnya dianggap sebagai kata baru. run dan buy bisa dikategorikan sebagai nomina dan verba sementara bentuk dirty. Bentuk burger sudah ditambahkan ke tipe makanan lain. Kata yang ada itu dianggap sebagai akronim dari bentuk panjang yang menghasilkan makna baru. Coinage yaitu pembentukan kata yang tidak kelihatan prosesnya.edit donate Misalnya: brunch - editor donation h. Kesalahan etimologi (False Etymology) yakni salah menganalisis sebuah kata dan menambahkan bagian kata ke bentuk dasar lain untuk membentuk kata baru. sufiks –burger menghasilkan salah analisis bahwa hamburger berasal dari ham plus burger (humberger merupakan clipping dari humberger steak). better bisa dikategorikan sebagai adjektiva dan verba. Misalnya. Misalnya. Blending yaitu menggabungkan dua kata atau lebih untuk membentuk satu kata. dan steakburger. l. pizzaburger. Misalnya: Universitas Sumatera Utara . seperti cheeseburger. (breakfast + lunch) telex (teleprinter + exchange) i. Konversi (Conversion) yaitu proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar berkategori tertentu menjadi kata berkategori lain tanpa mengubah bentuk fisik dari bentuk dasar tersebut. kata Soeharto dipelesetkan menjadi SUka HARTa Orang dan SUMUT dipelesetkan menjadi Semua Urusan Mesti Uang Tunai. Misalnya: Bentuk laugh. Pelesetan (Deviating) yakni proses pembentukan suatu kata baru dengan mempelesetkan morfem yang ada atau kata dari makna yang terdahulu. m. (advertisement) (examination) j. lower. Misalnya: ad exam Xerox Kodak k. salmonburger.

seperti {–an}. Afiksasi yaitu proses pembubuhan afiks pada suatu satuan baik satuan tersebut berbentuk tunggal atau kompleks. seperti {me-}. seperti berkata-kata . bolak balik. Washington D.maka kata tersebut berubah menjadi berpakaian yang berkategori verba dan maknanya berubah menjadi ’melakukan sesuatu sesuai bentuk dasar’.n. {-em-}. reduplikasi. {di-}. seperti {–el-}. Contohnya. {pe-an}. dsb. seperti {ke-an}. yaitu kombinasi dari dua afiks atau lebih yang bergabung dengan bentuk dasarnya seperti {me-kan}. {se-}. (5) kombinasi afiks . 1985:57). {-kan}. Universitas Sumatera Utara . Kata majemuk ada yang terdiri dari dua kata sebagai unsurnya seperti meja makan. Gabungan afiks dengan bentuk dasarnya dapat menimbulkan perubahan bentuk dan perubahan makna. seperti batu-batu (2) pengulangan sebagian. Di dalam bahasa Indonesia jenis-jenis afiks dapat diklasifikasikan menjadi (1) prefiks. aktivitas. baik dengan variasi fonem maupun tidak (Ramlan. dsb.C.Berdasarkan bentuk dasar kata yang diulang reduplikasi di dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi empat jenis yaitu (1) pengulangan seluruh. dsb. seperti gerak gerik. Misalnya kata pakaian yang berkategori nomina apabila dilekatkan kepada afiks ber. Pemajemukan yaitu gabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. komposisi dan difokuskan pada afiksasi saja. tergulingguling (3) pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks. (2) infiks. (4) konfiks. dan {-i} . Reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatik baik seluruhnya maupun sebagiannya. Hasil pengulangan itu disebut kata ulang sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. {me-i} dan {ber-kan}. dan penemuan yang dikaitkan dengan sesuatu atau orang. kamar gelap dan ada pula yang terdiri dari kata dan pokok kata seperti daya juang dan ruang baca. (untuk George Washington dan District of Colombia untuk Christoper Colombus) Sesuai dengan jenis data yang ditemukan pada penelitian ini maka pembentukan kata yang dilakukan hanya dibatasi pada afiksasi. tempat. (3) sufiks. {ter-}. {ber-}. dsb. kekuning-kuningan dan (4) pengulangan dengan perubahan fonem. seperti rumah-rumahan. {-er-}. {per-an}. Nama diri (Proper name) yaitu nama benda.

putih bersih dan tua bangka. Misalnya. Misalnya kata /hari/ + {-an} = /harian/ [hariyan] (b) pelesapan fonem. yakni munculnya fonem (bunyi) dalam proses morfologis yang pada mulanya tidak ada. dalam proses pengimbuhan sufiks {–an} pada bentuk dasar hari akan memunculkan bunyi semi vokal [y]. Misalnya {ber-}+ /renang/ = /berenang/ (c) peluluhan fonem. yaitu (a) pemunculan fonem. proses reduplikasi maupun proses komposisi. baik proses afiksasi. yakni luluhnya sebuah fonem serta disenyawakan dengan fonem lain dalam suatu proses morfologis. yaitu kata majemuk yang unsurnya tetap. morfem{ber-} ketika digabungkan dengan morfem ajar menghasilkan kata belajar. anak tangga. Misalnya {me-}+ /sikat/ = /menyikat/ (d) perubahan fonem. hidung belang. kata majemuk dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu (1) kata majemuk subordinatif substantif yaitu komponen yang pembentuknya berlainan. tidak sederajat seperti. tidak dapat dibalikkan atau ditukar posisinya. yakni hilangnya fonem dalam statu proses morfologis. Proses Morfofononologis Morfofonologi (morfofonemik) adalah terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi. pengimbuhan prefiks {me-}pada bentuk dasar sikat. alih bahasa dan tanam paksa (2) kata majemuk subordinatif atributif yaitu kata majemuk yang komponen pembentuknya juga tidak sederajat seperti. Universitas Sumatera Utara . seperti lebih besar. Misalnya. Misalnya. maka fonem /s/ pada kata sikat itu diluluhkan dan disenyawakan dengan fonem nasal /ny/ yang ada pada prefiks {me-}itu. kepala dingin dan mulut manis (3) kata majemuk koordinatif. Ada beberapa jenis perubahan fonem yang terjadi akibat proses morfologis di dalam bahasa Indonesia. maka bunyi /r/ yang ada pada prefiks {ber-} dilesapkan. Misalnya dalam proses pengimbuhan prefiks {ber-} pada bentuk dasar renang .Berdasarkan status komponen-komponen pembentuk kata majemuk. 3.

Kata pangkal terikat berupa afiks. rupa. Semua kata pangkal dan afiks didaftarkan dalam daftar morfem dengan menggunakan kurung berlabel disertai nama kategorinya. janji akan mati’ (2) Ajnas ‘jenis. saat mati. Adjektiva pangkal (Adj. yaitu fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/. Misalnya. yaitu proses morfofonologis dan tidak mendapat halangan maka kata-kata tersebut langsung masuk ke kamus dan diberi maknanya. laut. potong. Daftar Morfem (DM) Morfologi generatif memiliki prinsip-prinsip dan teknik identifikasi morfem yang sama dengan teknik identifikasi morfem yang dilakukan di dalam morfologi struktural. Verba pangkal (Vp) ikat. Misalnya (1) Ajal ‘ batas hidup yang telah ditentukan Tuhan.p) berani. Kamus Semua kata yang telah diproses melalui komponen ke tiga. Jadi di dalam DM Universitas Sumatera Utara . Semua morfem yang telah diidentifikasi. belakang dan numeralia pangkal (Num.p) depan. dikelompokkan ke dalam dua kategori atau kelas utama yaitu kata pangkal (Kp) dan afiks. rumah. Adapun pembentukan kata menurut morfologi generatif terdiri dari empat komponen. 1. Misalnya (4) {ber-}+ /ajar/ = /belajar/. yaitu (1) Daftar Morfem (2) kaidah pembentukan kata (3) saringan (filter) dan (4) kamus. Afiks terdiri atas prefiks.p) seperti. pengimbuhan afiks {ber-}pada bentuk dasar ajar yang menyebabkan terjadinya perubahan bunyi. yaitu kata pangkal bebas ( base) dan kata pangkal terikat (ítems). dua dan tiga.yaitu berubahnya sebuah fonem atau bunyi sebagai akibat terjadinya proses morfologis. benar. satu. Kata pangkal dapat dibagi lagi ke dalam dua kelas. Semua kata pangkal dikelompokkan ke dalam kategori-kategori leksikal mayor tertentu seperti nomina pangkal (Np) ikan. 4. Adverbia pangkal (Adv. sufiks dan infiks. macam’.

Bauer juga merumuskan bahwa pembentukan infleksional dapat. Misalnya. Dan [-el-]inf. [pukul] vp. kaidah pembentukan verba. Maknanya ‘orang atau alat untuk melakukan X’. tidak sistematik.ditampilkan sbb: [ikan] np.p. berbeda dengan work yang berubah menjadi worker. worked. tidak otomatis. sedangkan derivasi lebih bersifat tidak bisa diramalkan. sedangkan pembentukan derivasional tidak dapat diramalkan. Kaidah ini menyatakan bahwa nomina dapat dibentuk dengan menambahkan prefiks [pəη-] kepada verba pangkal (Vp) yang dinyatakan dengan X dengan makna ‘orang atau alat untuk melakukan X’. diramalkan. bersifat konsisten. verba work. Misalnya untuk membentuk nomina di dalam bahasa Indonesia dapat dibentuk kaidah sebagai berikut: [[pəη-] pref + [X] vp]N. otomatis. otomatis akan dikenali bentuk Works. Selanjutnya Bauer (1988:12-13) berpendapat bahwa derivasi adalah proses morfologis yang menghasilkan morfem baru. [berani] Adj. sedangkan infleksi adalah proses morfologis yang menghasilkan bentukbentuk kata yang berbeda dari sebuah leksem yang sama. Setiap kaidah yang dirumuskan disertai makna atau semantiknya. Selanjutnya karena pertemuan morfem dengan unit-unit lainnya dapat mengubah bentuk katanya maka kajian morfem dikaitkan dengan proses derivasi dan infleksi. kaidah pembentukan adjektiva dan kaidah pembentukan adverbia. Penambahan prefiks [pəη-] Universitas Sumatera Utara . [meng-]pref. sistematik. 2. berdasarkan kaídah sintaktik.. dan mengubah identitas leksikal. working atau worker menjadi workers ( bentukan infleksional yang teramalkan). Kaidah Pembentukan Kata Tugas berikutnya setelah semua morfem didaftarkan dalam DM adalah merumuskan seperangkat kaidah pembentukan kata (KPK) yang meliputi kaidah pembentukan nomina. [-kan]suf. dan tidak mengubah identitas leksikal. Katamba (1993:92-100) menjelaskan bahwa infleksi berkaitan dengan kaídah-kaidah sintaktik yang dapat diramalkan.

sedangkan struktur asal yang tidak berterima harus melalui proses morfofonologis. bantu. Kaidah-kaidah morfofonologis meliputi: (a) kaidah asimilasi fonem nasal /η/ seperti: /η/ /η/ /η/ /η/ sebelum fonem hambat velar bersuara /g/. yaitu penyesuaian fonem nasal /η/ dari prefiks [pəη-] dengan fonem awal Kp. Saringan (Filter) Struktur asal yang berterima langsung dapat masuk ke kamus sedangkan struktur asal yang tidak berterima seperti: *[#[pəη-] pref + [dəηar] vp#] N *[#[pəη-] pref + [bantu] vp#] N *[#[pəη-] pref + [pukul] vp#] N masuk ke saringan dan belum dapat dimasukkan ke dalam kamus karena harus melalui beberapa proses morfofonologis antara lain: asimilasi. 3. seperti gerak. dengar. Strukturstruktur asal itu berubah menjadi struktur lahir yang dapat masuk ke dalam kamus setelah melalui proses morfofonologis.kepadaVp. 1. /n/ sebelum fonem hambat alveolar bersuara /d/ /m/ sebelum fonem hambat bilabial bersuara /b/ Kaidah asimilasi fonem nasal velar /η/ dapat dirumuskan sebagai berikut: Universitas Sumatera Utara . Struktur asal yang berterima langsung masuk ke dalam kamus. serta pelesapan fonem nasal /η/ dari prefiks [pəη-] dan fonem hambat /p/ dari kata /pukul/. lempar menghasilkan struktur asal atau representasi asal sebagai berikut: [#[pəη-] pref + [gərak] vp #] N *[#[pəη-] pref + [dəηar] vp#] N *[#[pəη-] pref + [bantu] vp#] N *[#[pəη-] pref + [pukul] vp#] N *[#[pəη-] pref + [lempar] vp#] N Struktur asal yang ada di atas ini ada yang berterima dan ada pula yang tidak berterima.

-koronal] berubah menjadi ruas [+konsonantal] yang sesuai dengan ciri-ciri [anterior] dan [koronal] yang mengikutinya. Representasi struktur lahir setelah kaidah morfofonologis dirumuskan dan selanjutnya dapat disajikan semua struktur lahir dari struktur nasal N yang telah diperoleh dalam penerapan kaidah pembentukan kata (KPK). khususnya struktur N yang tidak berterima.malar ⎥ ⎣ ⎦ ⎡K ⎤ ⎢+ nasal ⎥ ⎥ + Ø/ ⎢ ⎢+ tinggi ⎥ ⎢ ⎥ ⎣+ belakang⎦ Kaidah ini menyatakan bahwa fonem hambat bilabial tak bersuara /p/ dilesapkan apabila didahului oleh fonem nasal velar /η/. (c) kaidah pelesapan fonem hambat bilabial tak bersuara /p/ ⎡K ⎤ ⎢+ anterior ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.⎡K ⎤ ⎡K ⎤ ⎡K ⎤ ⎢+ nasal ⎥ ⎢α anterior ⎥ / ⎢α anterior ⎥ ⎢ ⎥→ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. -anterior.koronal ⎦ ⎤ ⎡K ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ + ⎢+ lateral⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎦ ⎣ Ø/ Kaidah ini menyatakan bahwa fonem nasal dengan ciri-ciri [+nasal.bersuara ⎥ ⎢.anterior ⎥ ⎢ β koronal ⎥ ⎢ β koronal ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣. Perhatikan struktur nasal N berikut.koronal ⎦ Kaidah ini menyatakan bahwa ruas dengan ciri-ciri [+nasal. dilesapkan apabila diikuti oleh Vp yang berawal dengan fonem lateral /l/.anterior ⎥ ⎢ ⎥ ⎣. 2.koronal ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. anterior dan – koronal. yaitu fonem nasal /η/. (b) Kaidah pelesapan fonem nasal velar / η/ ⎡K ⎤ ⎢+ nasal ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. *[#[pəη-] pref + [dəηar] vp#] N *[#[pəη-] pref + [bantu] vp#] N Universitas Sumatera Utara .

Kata yang mengalami idiosinkresi fonologis. Semua kata pangkal (Kp) maupun kata turunan Universitas Sumatera Utara . KPK dapat membentuk kata-kata yang secara fonologis. Untuk dapat dimasukkan ke dalam kamus harus diterapkan kaidah asimilasi fonem nasal *[#[pəη-] pref + [dəηar] vp#] N *[#[pəη-] pref + [bantu] vp#] N sehingga diperoleh struktur lahir sebagai berikut: SA: *[#[pəη-] pref + [dəηar] vp#] N Asimilasi /η/: *[#[pəη-] pref + [dəηar] vp#] N SL: Pendengar SA: *[#[pəη-] pref + [bantu] vp#]N Asimilasi /η/: *[#[pəm-] pref + [bantu] vp#] N SL: Pembantu Komponen filter juga suatu mekanisme yang menangani idiosinkresi yang terdapat dalam suatu bahasa. *berbis. Idiosinkresi semacam ini ditangani di filter sehingga keluaran dari komponen saringan tidak akan berwujud *memunyai atau *penggolf. dan *mempersedikit. Tidak semua kata dapat diturunkan dengan menggunakan KPK. morfologis. leksikal maupun semantik. misalnya mempunyai dan pegolf.Struktur nasal ini belum berterima sehingga belum dapat dimasukkan ke dalam kamus. 4. Kata dasar golf juga melanggar aturan umum yang berkaitan dengan afiks {peN-}. dan semantis berterima tetapi tidak pernah muncul pada struktur lahir. Menurut KPK bahasa Indonesia fonem /p/ akan luluh apabila berkolokasi dengan afiks {meN-}. Kata-kata yang diberi idiosinkresi itu ada yang bersifat fonologis. tetapi kata dasar punya tidak mematuhi aturan umum ini. meskipun sebenarnya kata tersebut adalah potensial seperti *berian. Idiosinkresi leksikal merujuk pada tidak adanya kata dalam kenyataan. Idiosinkresi semantik terdapat pada kata perjuangan yang bermakna ‘suatu kegiatan yang bertaraf (paling tidak) nasional ataupun dalam kehidupan’. Kamus Keluaran dari komponen saringan disimpan dalam suatu komponen ke empat yang dinamakan kamus.

bernyawa . pelesapan fonem. Misalnya: 1.yang dibentuk melalui kaidah pembentukan kata dan telah melewati saringan (filter). sementara dalam morfologi generatif proses morfofonologis dimasukkan ke dalam komponen filter dengan kaidah struktur asal (SA). Selain itu kata-kata yang potensial ada yang diberi idiosinkresi baik idiosinkresi fonologi. Kata-kata tersebut dibentuk dan (akan) dipakai oleh masyarakat pemakai bahasa sebagai alat komunikasi. proses asimilasi dan struktur lahir (SL). Hal lain yang menunjukkan perbedaan antara morfologi generatif dan struktural dapat dilihat pada adanya komponen ciri-ciri pembeda (distinctive fitures) untuk membedakan kata-kata yang ditemukan di dalam kamus.abstrak + terbilang Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa kata-kata yang telah dibentuk di pembentukan kata (KPK) ada yang mengalami proses morfofonologis.abstrak + terbilang 2. Semua kata disertai dengan arti dan ciricirinya.Pelempar ‘alat untuk melakukan pekerjaan seperti dinyatakan oleh Kp’ +N . Hal yang seperti ini diperlukan dalam pemilihan dan pemakaian kata dalam kalimat sehingga kita menghasilkan kalimat yang menyimpang (ungrammatical). leksikal maupun semantik. dimasukkan ke dalam kamus. Jadi bentuk bunyi apapun yang digunakan manusia sebagai pengguna bahasa itulah kenyataan bahasa.manusia . peluluhan fonem. Penggerak ‘orang yang melakukan pekerjaan seperti dinyatakan oleh Kp’ +N + bernyawa + manusia . Uraian metode struktural tentang morfofonologis diakhiri dengan penemuan kaidah yang berupa penambahan fonem. Universitas Sumatera Utara .

Untuk lebih jelasnya pembentukan kata menurut teori struktural dan teori morfologi generatif dapat dilihat diagram di bawah ini. teori struktural tidak digunakan di penelitian ini karena dianggap tidak mampu lagi mengakomodasi fenomena kebahasaan pembentukan kata pada saat ini. Terikat Daftar Morfem Afiks Morfem Dasar Kata Bebas Afiksasi Reduplikasi Komposisi Pembentukan kata Proses Morfofonemis Penambahan Fonem Pelesapan Fonem Peluluhan Fonem Perubahan Fonem Kamus Kata Makna Diagram 1: Pembentukan Kata Morfologi Struktural Universitas Sumatera Utara .Berdasarkan uraian di atas. Hal ini sesuai dengan tujuan morfologi yang dikatakan oleh Katamba bahwa salah satu tujuan morfologi tidak hanya memahami dan membentuk kata yang ada (real) dalam bahasa mereka tetapi juga membentuk kata-kata potensial yang belum digunakan pada saat mereka berujar.

Kata pangkal (Kp) Daftar Morfem Kp Bebas Kp Terikat Afiks KPN KPV KPAdj KP Adv Proses Morfofonemik Idiosinkresi (Bentuk-bentuk potensial) Kaidah pembentukan kata Berterima Tdk Berterima Struktur Asal Filter Asimilasi Struktur Lahir 1. Perbedaannya terletak pada struktur luar yaitu tulisan atau ujaran yang sesungguhnya. Leksikal 3. Semantik Kamus Kata Makna Diagram 2: Pembentukan Kata Morfologi Generatif Modifikasi dari Halle (1973) Tata bahasa transformasi berbicara dalam dua terminologi. oleh karena semua bahasa dilihat dari struktur dalamnya sama yaitu menunjukkan atau melambangkan tingkat pikiran. yaitu struktur batin (deep structure) dan struktur lahir (surface structure). Menurut Halle dalam Scalise (1984:43) studi morfologi generatif terdiri dari empat komponen yang terpisah yaitu (1) daftar morfem (list of morphemes) (2) kaidah pembentukan kata (word formation rules) (3) saringan (filter) dan (4) Universitas Sumatera Utara . Fonologi 2.

[discuss]v.1988:58). Pencegatan terhadap kata-kata seperti ini dilakukan oleh komponen saringan (Dardjowidjojo. kata transformasional terdiri dari lima morfem. Katamba (1993:83-84) menjelaskan bahwa bentukbentuk potensial itu memang ada dan uraiannya sebagai berikut: “One of the goals of morphological theorizing is to account for the ways in which speakers both understands and form on only ‘real’ words that occur in their language. yakni transform-at-ion dan al. Universitas Sumatera Utara . dan sufiks. *berlayar dan *berbis untuk bahasa Indonesia yang dihasilkan oleh KPK karena bentuk-bentuk berbintang ini pun memenuhi semua aturan dalam kedua bahasa ini. Ia menjelaskan satuan-satuan dasar leksikon adalah morfem.kamus (dictionary). Kata vacant terdiri dari dua morfem yaitu morfem va dan cant. baik kata-kata yang benar-benar ada maupun bentuk “kata potensial” yaitu bentuk satuan lingual yang belum ada dalam realitas tetapi mungkin akan ada karena memenuhi persyaratan KPK. Misalnya kata derivation dan *derival dalam bahasa Inggris serta kata pemberian dan *berian. b. Menurutnya. Selain itu ia juga mengatakan bahwa afiks infleksional tidak perlu dipisahkan dari afiks derivasional Komponen kedua adalah KPK yaitu bersama-sama dengan morfem yang termuat dalam DM membentuk kata-kata. tidak berasal dari bahasa Latin dan konjugasinya bukan konjugasi yang umum. dan c. misalnya dapat dinyatakan dengan a. Daftar Morfem berisi morfem yang dinyatakan sebagai suatu gugus ruas fonologis dan diberikan kurung berlabel representasi nomina. Komponen pertama adalah DM yang terdiri dari dua macam anggota yaitu morfem dan bermacam-macam afiks. misalnya kata mahkamah tidak dapat diuraikan menjadi morfem mah-ka-mah. tetapi dalam kenyataan kata-kata berbintang itu tidak muncul. Contohnya dalam bahasa Inggris ditemukan morfem write yang harus dijelaskan sebagai kata verbal. [home]n. but also potential words which are not instantiated in use in utterances”. Pembagian morfem dengan cara seperti ini tidak dapat diterapkan dalam pembagian kata BI yang berasal dari BA. baik yang derivasional maupun yang infleksional. Butir leksikal dalam DM tidak cukup diberikan dalam bentuk urutan segmen fonetik tetapi harus pula dibubuhi dengan keteranganketerangan gramatikal yang relevan. [-ity]suf. verba.

Misalnya. Kata titik’ adalah bentuk potensial dalam BI dari BA. Selanjutnya kata mengazab ini menjadi dasar pembentukan kata berikutnya yaitu pengazab. *mempersedikit dalam bahasa Indonesia. Komponen ke empat adalah kamus yang memiliki peranan dalam pembentukan kata untuk menampung bentuk-bentuk yang gramatikal dan berterima dalam suatu bahasa serta bentuk-bentuk potensial yang dihasilkan oleh KPK (Dardjowidjojo.. *membadalhajikan ‘melaksanakan haji untuk orang lain’ dan *noktahkan ‘beri Universitas Sumatera Utara . kata azab menjadi mengazab telah lulus melewati saringan (filter) kemudian kata ini dapat dimasukkan ke komponen kamus. semantik maupun leksikal. Hal ini berarti tidak semua bentukan oleh KPK dapat lolos ke kamus. mangkat. bandingkan dengan bentuk memilih dari bentuk dasar pilih. Menurut kaidah yang terdapat di dalam bahasa Indonesia fonem /p/ seharusnya lesap apabila terletak setelah afiks {meN-}. Idiosinkresi semantik misalnya terdapat pada kata perjuangan yang bermakna ‘suatu kegiatan yang bertaraf nasional ataupun kehidupan’. Kamus menampung kata dasar bebas. Idiosinkresi leksikal adalah kata bentukan melalui KPK yang dalam kenyataan tidak ada tetapi secara potensial ada seperti *mencantik. Idiosinkresi yang bersifat fonologis misalnya terdapat pada kata mempunyai. Bentukan dan kata bentukan melalui proses afiksasi yang telah termuat dalam kamus inilah menjadi bahan dalam pembentukan sintaksis. Kata yang telah terdaftar dalam kamus dapat menjadi masukan KPK untuk diproses lebih lanjut untuk memperoleh kata bentukan baru dan menjadi anggota kamus kembali. kata dasar turunan yang diproses melalui KPK dan tidak dibendung dalam saringan. Demikian pula pada kata wafat.Komponen ketiga adalah komponen saringan yang bertugas menempelkan segala macam idiosinkresi yang terdapat dalam kata baik bersifat fonologis. Uraiannya menunjukkan bahwa kamus merupakan unit yang sama pentingnya dengan ketiga komponen *zikiran ‘berzikir’. Dengan demikian terdapat saluran yang menghubungkan timbal balik antara KPK dengan kamus. Struktur permukaan tampil mengikuti aturan fonologis yang telah mengalami proses di KPK dan KPK mempunyai saluran masuk ke fonologi dan kamus. dan gugur dalam bahasa Indonesia.1988:57). *tanyaan.

2. bukan kata kompleks atau lebih kecil dari kata. 4. KPK hanya berlaku untuk kata tunggal. verba dan sebagainya. 3. Aronoff juga mengatakan kata dasar (lexem) yang digunakan dalam pembentukan kata memiliki kriteria sebagai berikut: 1. Input dan output dari KPK harus termasuk dalam kategori sintaktik utama seperti nomina. Uraian yang di atas ini menunjukkan bahwa pembentukan kata menurut Aronoff terdiri dari komponen leksikal sehingga aksesnya hanya kepada apapun Universitas Sumatera Utara . Istilah kata yang dimaksud di sini adalah leksem (lexeme-based). Oleh karena itu hanya kata yang dapat dijadikan unit dasar dalam pembentukan kata (word-based approach). Aronoff (1976:48) berpendapat bahwa morfem tidak memiliki makna tetap dan dalam keadaan tertentu morfem tidak memiliki makna sama sekali.yang mendahuluinya dan Halle memberikan gambaran diagram pembentukan katanya sebagai berikut: Daftar morfem KPK Saringan Kamus Keluaran Fonologi Sintaksis Diagram 3 model pembentukan kata oleh Halle (1973) Berbeda dengan Halle. Dasar pembentukan kata adalah kata. kata yang potensial tidak dapat menjadi unit dasar KPK. Kata-kata yang menjadi unit dasar (input) dalam proses pembentukan kata (KPK) adalah kata yang benar-benar ada. Lebih jauh ia mengatakan kaidah pembentukan kata adalah kaidah yang beraturan yang hanya menurunkan kata yang bermakna. Semua proses pembentukan kata yang beraturan didasarkan pada kata.

bentuk terikat dan kata berafiks sebagai dasar pembentukan kata. Kata terdaftar pada leksikon (kamus) sedangkan afiks terdapat pada komponen KPK. Begitu pula halnya dengan afiks infleksional dan afiks derivasional. Aronoff sangat selektif dalam Universitas Sumatera Utara . Dardjowidjojo (1988:55) memberi contoh dengan adanya kata dasar kali di dalam bahasa Indonesia yang jika dilekatkan dengan sufiks {-i} tidak akan pernah menjadi kalii. Kamus memiliki informasi kategorial (seperti nomina.yang ada pada leksikon dan tidak kepada komponen fonologi maupun komponen sintaktik. Walaupun kedua pakar ini berbeda pendapat tentang pembentukan kata tetapi mereka memiliki kesamaan pendapat bahwa morfem dapat dilihat melalui wujudnya dan bukan arti (prinsip recognizability). KPK yang diajukan Aronoff ini juga sangat peka terhadap ciri sintaktis dan ciri fonologis. Perbedaan lain yang ditemukan adalah Aronoff menempatkan kata pada tempat yang berbeda. Misalnya dalam bahasa Inggris ditemukan afiks {–able} yang dapat bergabung dengan verba seperti readable tetapi afiks tersebut tidak dapat bergabung dengan nomina atau adjektiva seperti *paperable atau *sickable. Kepekaan ini dapat ditemukan pada setiap morfem/kata yang berakhir dengan vokal /i/. sebab dalam BI yang berasal dari BA ditemukan kata tunggal. Pendapat seperti yang dikemukakan Aronoff di atas ini tidak dapat diterapkan pada data BI yang berasal dari BA. Konsep Halle tentang unit dasar pembentukan kata seperti dijelaskan sebelumnya juga tidak dapat diterapkan dalam penelitian ini karena ia berpendapat morfem sebagai unit dasar pembentuk kata sedangkan Aronoff berpendapat kata sebagai unit dasar pembentukan kata. Penjelasan tentang afiks hanya memiliki informasi relasional dan kata harus memiliki informasi kategorial menunjukkan keduanya (afiks dan kata) ditempatkan dalam dua komponen yakni list of morphemes (Daftar Morfem = DM) dan word formation rules (Kaidah Pembentukan Kata = KPK). verba) sedangkan afiks hanya memiliki informasi relasional. . karenanya konsep Aronoff tentang ihwal pembentukan kata tidak dapat diacu sepenuhnya dalam penelitian ini. keduanya tidak dapat dimasukkan ke dalam satu komponen karena keduanya memiliki representasi yang berbeda dalam membentuk kata.

Kedua kata ini tidak berubah menjadi *nominatee dan memunyai tetapi berubah menjadi nominee dan mempunyai. ziarah diproses di KPK menjadi menziarahi. yang digunakan untuk menghapus morfem akhir dari suatu kata dasar apabila suatu akhiran tertentu ditambahkan pada kata dasar ini.membendung (blocking) dengan maksud mencegah munculnya suatu kata karena sudah ada kata lain yang mewakilinya. Misalnya: [[akar kata + A] X + B] Y 1 2 3 1∅3 dimana X danY adalah kategori leksikal utama. Misalnya dalam bahasa Inggris ditemukan kata dasar nominate dan di dalam bahasa Indonesia ditemukan kata punya. tetapi bentuk dasar itu dapat pula berasal dari kamus yang berupa bentuk kompleks setelah lulus dari komponen KPK dan komponen saringan. Pendapat Aronoff ini tidak menunjukkan adanya komponen khusus untuk menangani kata-kata yang potensial dalam bahasa tetapi ia memiliki mekanisme blocking yakni suatu mekanisme yang mencegah munculnya suatu kata karena telah ada kata lain yang mewakilinya dan ia memberi contoh dengan adanya bentuk adjektiva yang memiliki afiks {-ous} dalam bahasa Inggris yang terdapat pada kata furious dan glorious yang sudah memiliki nomina abstrak fury dan glory. Sewaktu terjadinya proses pembentukan kata di KPK. Kata nominee misalnya diturunkan melalui langkah-langkah Kamus : [nomin + ate] KPK : [nomin + ate] + ee] Universitas Sumatera Utara . Kata-kata yang sewaktu terjadi penambahan afiks mengalami perubahan wujud dengan kata dasar harus ditampung dengan aturan yang disebutnya Aturan Penyesuaian (AP) atau adjusment rule. Misalnya. Bentuk ini setelah lulus melewati saringan dapat dimasukkan kembali ke dalam kamus dan menjadi dasar pembetukan kata berikutnya menjadi penziarah. bentuk dasarnya tidak harus selalu berasal dari DM. Melalui kedua kata itu tidak mungkin dapat dibentuk lagi nomina lain dengan menggunakan afiks {-ity} menjadi *furiosity dan *gloriousity. AP memiliki dua aturan. yaitu (1) aturan pemenggalan (truncation rule) dan (2) aturan alomorf (allomorph rule).

Tujuannya adalah untuk menampung bentuk terikat seperti morfem prakategorial. mempertemukan. penemuan.Pemenggalan: Keluaran: [nominee] Aturan pemenggalan yang tertera di atas ini adalah aturan pemenggalan yang proses kondisi pembentukan katanya adalah morfologis (Morphological Conditioned). menyelenggarakan dan sebagainya. Adapun model yang diusulkan oleh Dardjowidjojo sebagai berikut: DM Kata Dasar Bebas APK Saringan Kamus a b c Terikat d h g Universitas Sumatera Utara . Ia memodifikasi model Halle yang digambarkan oleh Scalise dalam komponen DM. Pemisahan kedua bentuk ini mempunyai konsekuensi morfologis dan sintaktik Maksudnya hanya bentuk bebaslah yang memiliki kategori dan subkategori sintaktik. menemui. Misalnya bertemu. pertemuan. Kata tersebut setelah mendapat imbuhan statusnya jelas. penyelenggara. penemu. Dardjowidjojo (1988:57) juga mengusulkan adanya empat komponen yang integral dalam morfologi generatif. apakah menjadi kata kerja atau kata benda. Hal itu terbukti dengan adanya bentuk dasar di dalam bahasa Indonesia yang statusnya belum jelas seperti bentuk temu. Bentuk-bentuk tersebut statusnya belum jelas dan akan memiliki status sebagai kata setelah mendapat afiks tetapi dapat masuk dalam DM. Bentuk terikat dapat memiliki kategori sintaktik apabila telah mengalami proses afikasasi. selenggara dan juang. Dardjowidjojo memisahkan bentuk bebas dan bentuk terikat yang keduanya dapat dipakai sebagai dasar penurunan kata. yaitu (1) daftar morfem (2) kaidah pembentukan kata (KPK) (3) saringan dan (4) kamus. menemukan.A.

Bentuk e -i berisi kata turunan yang berasal dari bentuk terikat.A f i k s Diagram 4 : Model Alur Pembentukan Kata Dardjowidjojo Melalui jalur A setiap bentuk bebas dapat langsung diproses langsung ke kamus. Kata permandian merujuk pada suatu ucapan keagamaan dimana ada air terlibat dalam pengguyuran tetapi tidak benar-benar dalam wujud mandi. Bentuk-bentuk bebas yang mengalami proses di KPK ditempatkan di jalur B. Uraian di atas menunjukkan bahwa Dardjowidjojo tidak hanya menggunakan unsur linguistik sebagai alat untuk menyaring kata di saringan. Misalnya kata permandian dan mengawini.dan tertahan di saringan. seperti juang . sedangkan kata mengawini dalam budaya kita pada umumnya dilakukan oleh pelaku pria. Bentuk kata yang terkena idiosinkresi ditempatkan di jalur C. Bentuk potensial yang tidak ada dalam pemakaian bahasa sehar-hari tetapi suatu saat mungkin akan terpakai memberikan tanda *.k digunakan untuk bentuk yang mengalami idiosinkresi seperti pegolf yang tertahan di saringan karena alasan fonologi dan berjuang yang tertahan di saringan karena alasan semantik. Jalur f dipecah menjadi dua yaitu f-j dan f-k. Bentuk-bentuk yang tidak berterima seperti * berjalani dan * melukisan melalui jalur d-h tidak dapat masuk ke dalam kamus tetapi tertahan pada komponen saringan. jalur f-j digunakan untuk kata yang tidak memiliki idiosinkresi dan jalur f. maka dilakukan melalui jalur d -g kemudian disimpan di dalam kamus dengan Universitas Sumatera Utara .

tetapi lebih dari itu yakin mereka cenderung untuk membentuk kalimat baru (fresh sentences) dengan maksud mengarahkan peristiwa percakapan.tetapi ia juga menggunakan unsur budaya dan agama. Berbicara tentang bentuk-bentuk potensial ( potensial word). memiliki makna yang tidak dapat diprediksi. penutur suatu bahasa tidak semata-mata mengembalikan (recycle) kalimat-kalimat yang sudah dihapal dari percakapan sebelumnya. Artinya Mathews sendiri tidak membuat konsep yang pasti memgenai semi produktif tersebut. Secara tipikal. Mathews memberi label kategori khusus terkait dengan istilah semi produktif yang mencakup idiosinkresi afiks-afiks yang tidak dapat dijelaskan atau tidak bisa dipahami secara pasti terhadap kemunculan bentuk yang dapat dipilih. Hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas pembentukan katakata baru dalam tulisan ini merujuk pada Katamba. Katamba (1993: 69-72) menjelaskan dalam kaitannya dengan produktivitas pembentukan kata sebagai berikut: “suatu proses dikatakan produktif jika proses yang dimaksud terjadi secara umum yang mencakup banyak kata dan membentuk kata baru. Adapun Mathews (dalam Katamba. berarti kita juga berbicara tentang pembentukan kata-kata baru. sebab konsep Mathews sulit dipahami. Saringan bertugas untuk meluluskan bentuk yang nyata ada (real word) dan bertugas untuk membendung bentuk-bentuk yang tidak nyata dan menyalahi KPK. Selanjutnya dalam hal yang berkaitan dengan bentuk-bentuk potensial Katamba (1993:65) memberitahukan bahwa satu tujuan morfologi adalah tidak hanya memahami dan membentuk kata yang ada (real) dalam bahasa mereka tetapi bagaimana juga mereka membentuk kata-kata potensial yang tidak mereka gunakan pada saat mereka berujar. dalam hal ini tidak diberikan konsep semi produktif yang tergolong semi produktif. 1993:71) mengakui adanya kategori khusus terkait dengan ikhwal pembentukan kata ini. Misalnya sebagai berikut: layak diakui karena dalam prakteknya sulit sekali untuk menentukan proses pembentukan kata mana yang Universitas Sumatera Utara . Lebih jauh afiks-afiks yang digunakan pada proses pembentukan kata tersebut.

bunyi bahasanya bercampur dan pada akhirnya kaidah ketatabahasaannya bisa bercampur pula. …Oleh karena itu dalam mabhas majalah dipaparkan sejumlah perbedaan antara asuransi konvensional dan taawun. Misalnya dalam bahasa Inggris ditemukan kata stool pigeon’ informan polisi’. …Marhabanan itu akan dilaksanakan di Masjid Agung. (Republika. …Zakat dapat mentaharahkan diri dan harta. Edisi 08/tahun XII/1428 H/2007 M).1. 15 September 2009). tetapi bagaimana juga mereka membentuk kata-kata potensial yang tidak mereka gunakan pada saat mereka berujar. Dikatakan demikian karena unsur-unsur di dalamnya merupakan campuran antara aspek-aspek kebahasaan sebagai warga bangsa tertentu dengan bangsa lain yang memang bertemu dan terus bercampur. 3. dan marhabanan (contoh 3) adalah bentuk-bentuk potensial dan telah menjadi kata-kata aktual yang terbukti telah digunakan oleh penutur bahasa Indonesia yang digunakan secara tertulis dalam majalah As-Sunnah. (Majalah As-Sunnah. Suatu hal yang perlu disadari oleh linguis adalah bahwa bahasa memiliki keistimewaan cara tersendiri yang diperantarai oleh penuturnya (misalnya bahasa Indonesia). (Waspada.1. Ia menambahkan bagaimanapun penutur suatu bahasa memiliki kemampuan untuk memperluas jumlah stok kata-kata secara idiomatik dengan menyusun kata-kata tanpa mengikuti dengan cermat aturan standart pembentukan kata. tetapi besar kemungkinannya terdapat pula pada bahasa-bahasa besar di dunia lainnya adalah fakta pemakaian unsur-unsur kebahasaan yang sifatnya campuran (mix typed). Artinya. Kata mabhas (contoh 1). Hal ini membuktikan bahwa apa yang dikatakan Katamba memang benar bahwa salah satu tujuan teori morfologi adalah tidak hanya memahami dan membentuk kata yang ada (real) dalam bahasa mereka. Universitas Sumatera Utara . 26 Desember 2009). Jadi kata-kata yang ada di dalamnya bisa bercampur. 2. Kata bentukan ini secara semantis tidak bisa diprediksi maknanya. Hal. penutur suatu bahasa tertentu bisa saja membentuk / menambah jumlah kata secara idiomatik tanpa harus terjebak atau mengikuti aturan standard pembentukan kata. surat kabar Republika dan Waspada. mentaharahkan (contoh2).

7. dalam kalimat: Kita harus bertaawun untuk mencapai kesuksesan bersama. dalam kalimat: Mari kita bertaawuz kepada Allah dari segala macam cobaan’ 4. Kata bertaawun. bertaawuz ‘minta perlindungan’. 10. mentabayunkan keberangkatan.. mentabayunkan.Tartilan ‘kumpulan orang yang membaca Alquran dengan bagus secara berganti-ganti’. bertaawuz.Sejalan dengan uraian di atas. membadalhajikan ‘menggantikan melakukan ibadah haji untuk orang lain’. Tausiahan ‘Pelaksanaan tausiahan atau memberi pesan keagamaan Zainudin MZ sedang berlangsung di Majid Raya Medan. mengumrahkan. mengumrahkan ‘memberi biaya umrah’. bermuhasabah ‘berintrospeksi diri’. dalam kalimat: Marhabanan di Asrama Haji itu dihadiri juga oleh pejabat-pejabat penting. tartilan. dan marhabanan merupakan bentuk potensial yang suatu saat akan digunakan oleh penutur bahasa yang disampaikan oleh seseorang (da‘i) ’. 9. dalam kalimat: Tausiahan oleh Da’i ‘mengkonfirmasi’. maka salah satu usaha untuk mengembangkan dan membina bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa ilmu pengetahuan seiring dengan perkembangan dan kebutuhan pemakaian bahasa diusulkan bentuk-bentuk potensial BI yang berasal dari BA yang akan diluluskan di saringan sebagai berikut: 1. 3. 2. 5. berjaulah. marhabanan ‘pelaksanaan acara marhaban’. para penumpang dalam pesawat kalimat: harus Sehari sebelum mentabayunkan Universitas Sumatera Utara . bermuhasabah. bertaawun ‘tolong menolong’. dalam kalimat: Mantan calon gubernur itu sering mengumrahkan ibu-ibu pengajian 6. dalam kalimat: Siswa pesantren itu tartilan di sore hari. dalam kalimat: Anggota pengajian itu berjaulah sesama mereka seminggu sekali. tausiahan. dalam kalimat: Dia membadalhajikan ibunya yang telah meninggal dunia. berjaulah ‘berjalan berkeliling melawat dari rumah ke rumah untuk mendengar pengajian’. keberangkatannya. 8. membadalhajikan. dalam kalimat: Mari kita bermuhasabah agar menjadi lebih baik di tahun yang akan datang.

Artinya. Katamba (1993:84) mengatakan. Secara tipikal. bagaimanapun penutur suatu bahasa memiliki kemampuan untuk memperluas stok kata-kata secara idiomatik dengan menyusun kata-kata tanpa mengikuti dengan cermat aturan standar pembentukan kata. Kata-kata tersebut memenuhi syarat yang dikriteriakan oleh kaidah pembentukan. Ini juga membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh Katamba memang benar bahwa salah satu tujuan teori morfologi adalah tidak hanya memahami dan membentuk kata yang ada (real) dalam bahasa mereka tetapi bagaimana juga mereka membentuk kata-kata potensial yang tidak mereka gunakan pada saat mereka berujar. produktivitas dan kreativitas kata. Fakta-fakta kebahasaan di atas ini terlahir secara sepontan melalui media bahasa tulis dan lisan dan sebagian dari kata-kata tersebut kedengarannya lebih santun. penutur suatu bahasa tertentu bisa saja membentuk / menambah jumlah kata secara idiomatik tanpa harus terjebak aturan standar pembentukan kata. Kata majemuk seperti stool pigeon merupakan kata bentukan yang secara semantis tidak bisa diprediksi maknanya. Dia memberi contoh dengan adanya kata stool pigeon dalam bahasa Inggris yang artinya ‘informan polisi ’ dan redlegs ‘orang kulit putih miskin’ di Tobago. penulis merujuk ke teori yang dimodifikasi oleh Dardjowidjojo (1988) dari teori Halle (1973) dan Aronoff (1976) dan akan disesuaikan dengan penelitian ini. Selain itu digunakan pula Chaiyanara (2006). Berbicara tentang bentuk-bentuk potensial. Hal ini memang sudah menjadi sifat bahasa yakni selalu berkembang. Berdasarkan uraian yang ada. penutur suatu bahasa tidak semata-mata mengembalikan kalimat-kalimat yang sudah dihapal dari percakapan sebelumnya. Hanya saja mungkin kata-kata ini belum banyak dipakai di kalangan penutur bahasa Indonesia. tetapi lebih dari itu mereka cenderung untuk membentuk kalimat baru dengan maksud menyetel / mengarahkan peristiwa percakapan.Indonesia karena berdasarkan pada KPK (Kaidah Pembentukan Kata). Pemilihan kepada teori yang dimodifikasi oleh Dardjowidjojo dkk tersebut dilakukan dengan alasan pemenggalan morfem yang dilakukan oleh Halle tidak sesuai dengan kenyataan morfem yang ada di dalam BI yang berasal dari BA dan Aronoff yang berpendapat bahwa dasar pembentukan kata adalah kata sementara Universitas Sumatera Utara .

+ [khatam]] → [pəηΧataman]. Bentukan yang lulus menjadi anggota kamus dapat diproses kembali dalam KPK dan menjadi angggota kamus kembali serta menjadi emberio dalam pembentukan sintaksis. Daftar Morfem KPK Filter BP Morfosintaksis Keluaran Sukri (2007:85) Revisi model pembentukan kata di atas disesuaikan dengan sifat penelitian ini selanjutnya dibuat kerangka teoritis pembentukan kata BI yang berasal dari BA seperti terlihat dalam diagram 5 berikut ini. kemudian diproses kembali di KPK menjadi dasar pembentukan kata berikutnya menjadi [[pəN. bentuk terikat dan afiks. Misalnya kata /khatam/ yang berubah menjadi /khataman/ telah lulus melewati saringan (filter) dapat masuk ke kamus. dalam hubungan ini pembentukan kata melalui mekanisme morfosintaksis terjadi karena persinggungan antar morfem dapat mempengaruhi kategori sintaksis suatu bentuk. Penyesuaian diagram di atas ini dilakukan dengan alasan sebagai berikut: 1.keduanya berpendapat bahwa morfem tidak memiliki makna. 2. Daftar morfem berisi bentuk bebas. dengan demikian diagram model pembentukan kata oleh Halle (1973) dan Aronoff (1976) di atas akan disesuaikan menurut kepentingan penelitian ini menjadi diagram 5 berikut ini. Bentuk dasar dari KPK adalah kata seperti yang dikemukakan Aronoff tidak dapat digunakan sepenuhnya di sini karena bentuk dasar BI dari BA ada yang terdiri dari bentuk bebas seperti /jahil/ ‘bodoh’ dan /lailah/’ malam’ dan ada Fonologi Sintaksis Kamus Diagram 5: Revisi Model Pembentukan Kata Halle & Aronoff mengikut Universitas Sumatera Utara . KPK memeroses bentuk–bentuk tersebut sehingga menghasilkan kata kompleks dan lulus di saringan lalu masuk ke kamus.

Afiks di dalam BI dari BA dimasukkan ke dalam DM sebagai sub kelompok tersendiri. 3. kata /marhabanan/ ‘pelaksanaan acara marhabanan’. Garis putus-putus yang terdapat pada bentuk potensial dari arah filter menuju kamus menunjukkan bahwa bentuk potensial (BP) itu suatu saat akan muncul di dalam fenomena kebahasaan misalnya.pula bentuk dasar yang terdiri dari bentuk terikat seperti /silah/ dan /rabiu/. /syawalan/ ‘menghadiri acara hari raya syawalan’ dan /mentaharahkan/ ‘mensucikan atau membersihkan’ Universitas Sumatera Utara . sementara afiks baik derivasional maupun infleksional secara sejajar dimasukkan ke dalam DM menurut Halle dan menurut Aronoff dimasukkan ke dalam KPK dengan fungsi relasional. sementara bentuk /rabiu/ dapat bermakna apabila dilekatkan pada kata /awal/ menjadi /rabiulawal/. 4. Bentuk /silah/ hanya dapat bermakna apabila dilekatkan pada bentuk /rahim/ menjadi /silaturahim/.

terikat. KPAdj. KPV. KPAdv Proses Morfofonemik Saringan Idiosinkresi (Btk-btk Potensial) Kp Bebas Kp Terikat Berterima Tak Berterima Struktur Asal Asimilasi Struktur Lahir Fonologi Leksikal Semantik Kaidah Pembentukan Kata Kamus Kata. afiks Reduplikasi Tipologi Morfologis BI dari BA Pembentukan Kata BI dari BA (Morfologi Generatif) Komposisi Afiks Daftar Morfem Kata Pangka (Kp) KPN. Makna dan Ciri-cirinya Output : Temuan Penelitian dan Simpulan Diagram 6: Kerangka Teoretis Pembentukan Kata BI dari BA Modifikasi Halle dan Dardjowidjojo Berterima Tak Berterima [ke-an] + [kizib] [pəN-] + [hijab] [pəN-] + [hijab]N /N/ /kekiziban/ ‘kedustaan’ /penghijab/ ‘alat pendinding’ Universitas Sumatera Utara Struktur Asal Asimilasi [pəη-] + [hijab] .PEMBENTUKAN KATA BI DARI BA Afiksasi Bebas.

Morfem adalah bentuk terkecil yang bermakna yang tidak dapat dibagi atas bagian yang lebih kecil lagi (Keraf:1984:70. 2.2. menyembunyikan’ /meraswah/ ‘memberi uang suap (menyogok)’ /sekaten/ (berasal dari bahasa Arab syahadatain) ‘upacara yang dilakukan pada bulan maulid dalam rangka memperingati maulid nabi dan bentuk acaranya mengeluarkan serta memainkan gamelan peninggalan kraton Jogjakarta di halaman Mesjid Raya Jogjakarta disertai acara pasar malam’ Lanjutan diagram : 6 2.Fonologi Leksikal Semantik /mensirkan/ ‘merahasiakan.2 Konsep Dasar Yang dimaksud dengan konsep dasar di sini adalah konsep dasar yang memberikan penegasan atas beberapa ide yang terkait dalam penelitian ini.1 Morfem Berbagai pendapat tentang morfem telah diberikan oleh pakar bahasa. Kelihatannya beberapa pendapat pakar ini tentang morfem berbeda dengan pandangan Ramlan (1990: 10) yang Universitas Sumatera Utara . Alwasilah:1994:150-162 dan Kusno:1985:20). Kridalaksana:1985:110. Konsep-konsep yang dimaksud dijadikan sebagai definisi operasional dan juga dimaksudkan untuk memberikan penegasan terhadap beberapa ide yang terkait dengan penelitian ini.

bukan pada obyek yang diwakilinya. morfem jamak tidak tampak secara segmental. pemajemukan. Masih mengenai definisi morfem. Perbedaan ini tampak pada adanya kekhususan bagi morfem itu sendiri yaitu bentuk bebas dan bentuk terikat. Pendapat ini juga berbeda dengan pendapat tentang morfem yang ada di atas karena morfem ini dikaitkan dengan adanya aspek mirip dan berulang. pengklitikan. Sementara Samsuri (1981:170) mengatakan morfem sebagai komposit bentuk pengertian terkecil yang sama atau mirip yang berulang. dan pengulangan. Definisi morfem yang lain juga dikemukakan oleh Nida (1962:6) yang mengatakan ” morphemes are the minimal meaningful units which may constitute word or part of word” dan Hocket (1970:123) memberi batasan morfem dengan “ morphemes are the smallest individually meaningful elements in the utterances of a language”. Adapun O’ Grady dan Dobrovolsky (1989:91) mengatakan bahwa morfem adalah satuan-satuan bahasa terkecil yang bermakna yang bersifat arbitrer dan berarti hubungan antara bunyi dari suatu morfem dengan maknanya sama sekali bersifat konvensional. Morfem segmental seperti pengafiksasian. Pernyataan yang hampir sama dinyatakan oleh Katamba (1993:24-44) bahwa morfem adalah perbedaan terkecil mengenai bentuk kata yang berhubungan dengan perbedaan terkecil mengenai makna kata atau makna kalimat atau dalam struktur gramatikal.mengatakan bahwa morfem adalah bentuk tunggal baik bebas maupun terikat. Verhaar (2000: 97-98) membagi morfem ke dalam dua jenis yakni morfem bebas dan morfem terikat. Lebih jauh Verhaar membagi morfem menurut bentuknya secara linear ke dalam dua macam. Morfem segmental hanya dicontohkan dengan kata bahasa Inggris tak teratur untuk jamak foot adalah feet. akan tetapi. Adapun Bauer (1988: 13-17) memberi batasan morfem sebagai satuan-satuan dasar analisis dalam morfologi. Data ini dikatakan sebagai morfem ganda atau polimorfemis. Ia menambahkan suatu morf merupakan bentuk fisik yang mewakili beberapa morfem dalam suatu bahasa. yakni morfem segmental dan morfem suprasegmental. yang ada hanyalah morfem segmental foot dan perubahan fonem /u – i/. Universitas Sumatera Utara . Terjemahannya dalam bahasa Indonesia sbb:”morfem adalah unsure atau satuan terkecil yang memiliki arti yang dapat berwujud kata atau bagian kata”.

Misalnya kata cats memiliki sufiks {-s} penanda jamak sebagai sufiks yang bersifat inflektif. Senada dengan hal di atas Lyons (1971:182) menjelaskan bahwa morfem akar merupakan hal yang menjadi dasar bagi pembentukan kata dengan kategori lain sementara Nida (1962:99-100) mengatakan akar merupakan inti sebuah kata. Adapun Elson dan Pickett (1983:69) mengatakan “ in general. Senada dengan hal ini Sibarani (2002:7-8) Universitas Sumatera Utara . bentuk dasar dan pangkal. Beberapa pendapat pakar tentang definisi morfem di atas menunjukkan prinsip yang sama. inti pernyataan Bauer adalah bentuk itu dapat dipilah-pilah (take a part) untuk memperlihatkan unsur-unsur konstituennya. bentuk seperti {juang}. The difference is that a root always refers to a single morpheme while a stem may be either a root (single morpheme) or consist of several morphemes. “ Another trem for the core part of the word is stem. Keduanya menambahkan. ia membedakan morfem dasar. “Lain halnya dengan Palmer (1996:55) dalam membahas akar kata. roots are single morphemes which carry the ‘basic meaning’ of the words. hanya cara penyampaian dan sudut pandang yang digunakan berbeda. Morfem dasar biasanya digunakan sebagai dikotomi dengan morfem afiks. sedangkan kata yang lain seperti worker terdiri dari work sebagai root dan worker sebagai stem. Uraian Katamba ini menunjukkan bahwa stem dapat muncul dengan satu kondisi bahwa kata yang akan dilekati oleh stem tersebut belum mendapat afiks infleksi apabila kata yang dimaksud sudah mendapat tambahan afiks infleksi maka kehadiran ataupun kelakatan stem tidak diizinkan. At this stage we use the term root and stem interchangeably when they refer to single morphemes. Jadi batasan-batasan tersebut dapat saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Adapun morfem afiks semuanya termasuk morfem terikat. {meja} dan {kaki} adalah morfem dasar. Katamba (1993:45) menjelaskan bahwa stem adalah bagian dari kata yang kemunculannya sebelum adanya tambahan afiks infleksi. Morfem dasar pun ada yang berupa morfem terikat seperti {henti} dan {abai}dan ada pula yang termasuk morfem bebas seperti {datang} dan {pulang}. Jadi. Sufiks {-s} ini dilekatkan pada stem cat yang merupakan bare root (inti kata yang tidak bisa diurai lagi).Jadi. dengan kata lain semua root adalah base. a root the core of a word’.

Afiks infleksi adalah afiks yang mampu menghasilkan bentuk-bentuk kata yang baru dari leksem dasarnya sedangkan afiks derivasional adalah afiks yang menghasilkan leksem baru dari leksem dasar. sufiks. konfiks (ambifikssimulfiks) (Verhaar:2000:61). infiks. Perbedaan antara pembentukan secara derivasional dan infleksional diuraikan oleh Nida dalam Subroto (1985:269) yang mengatakan bahwa pembentukan derivasional termasuk jenis kata yang sama dengan kata yang tunggal (yang termasuk sistem jenis kata tertentu) seperti singer ‘penyanyi’ (nomina) yang berasal dari verba to sing ‘menyanyi’. Pembagian afiks juga dikaitkan dengan proses infleksi dan derivasinya. apakah afiks itu dilekatkan dengan konfiks dan secara bersama-sama atau tidak bersama-sama disebut kombinasi afiks (Pateda: 2002:54). Prefiks re. sedangkan sufiks –s bersifat infleksional. sedangkan sufiks -s membentuk kata yang lain dari leksem recreate. sirkumfiks. infiks . sufiks. simulfiks. dan base adalah istilah-istilah yang digunakan di dalam literatur untuk menunjukkan bagian kata yang tetap tinggal pada saat semua afiks dibuang. dan sebuah sufiks –s. dan kombinasi afiks (Kridalaksana:1996:28-31). infiks. baik morfem dasar bebas maupun morfem dasar terikat. Selain membagi afiks dari distribusinya. pembagian afiks dalam penelitian ini juga dilakukan dengan cara melihat bagaimana unit-unit lain dapat berfungsi untuk mengubah bentuk katanya. Berikutnya ada juga istilah ambifiks. Misalnya kata recreates dapat dianalisis terdiri atas sebuah prefiks re-. sebuah akar create.menjelaskan bahwa root. Jadi prefiks re-bersifat derivasional. prefiks. konfiks.membentuk leksem baru recreate dari bentuk dasar create. stem. Afiksasi atau pengimbuhan merupakan pembentukan kata dengan membubuhkan afiks atau imbuhan pada morfem dasar. dan transfiks (Matthews:1978:77). superfiks atau suprafiks. misalnya verba polimorfemis walked tidak termasuk beridentitas sama dengan verba monomorfemis yang manapun juga dalam sistem Universitas Sumatera Utara . sedangkan pembentukan infleksional tidak. Dilihat dari distribusinya. sufiks dan berdasarkan cara melekatnya afiks tersebut. prefiks. Samsuri (1981:188) menyebut morfem dasar bebas dengan istilah akar dan pangkal atau pokok. afiks dapat dibagi menjadi prefiks.

{-ed2}. sedangkan membaca dan mendengar adalah infleksi. Morfem infleksional adalah morfem terikat yang menciptakan bentuk lain dari kata yang sama dengan cara tidak mengubah kelas kata dan maknanya tetapi hanya memberikan informasi gramatikal tambahan tentang makna kata yang sudah ada.morfologi bahasa Inggris. {-ed1}. -ness. kata menggunting termasuk derivasi. dan {-ing}. -ation. Selanjutnya Sibarani (2002:38-39) mengatakan bahwa morfem derivasional dapat menciptakan kata-kata baru dari kata-kata yang ada dengan dua cara. Morfem plural S berisi informasi tambahan bahwa ada lebih dari satu kucing. 1994:194 dan Walley 1997:96). Samsuri (1981:199) mengungkapkan bahwa di dalam bahasa Eropa utamanya Inggris pengertian derivasi dan infleksi dapat dikenakan secara konsisten. Berbeda halnya di dalam bahasa Indonesia. seperti cat dan cats. oleh sebab itu pengertian derivasi dan infleksi tidak dapat diterapkan secara konsisten di dalam bahasa Indonesia. -ment. morfem derivasional tersebut dapat mengubah kelas kata seperti kata ripe (adj) yang berubah menjadi ripen (verb) dan kedua morfem derivasional tersebut dapat mengubah makna kata seperti happy menjadi unhappy (bandingkan dengan Chaer. Secara statistik afiks derivasional lebih beragam misalnya dalam bahasa Inggris terdapat afiks-afiks pembentuk nomina: -er. Ia juga mengatakan dalam bentuk nominal morfem infleksional berfungsi menandakan fungsi gramatikal seperti jumlah dan milik sedangkan dalam bentuk verba menandakan kala sementara pada bentuk adjektiva menunjukkan kepada tingkatan. Pertama. -ion. sedangkan afiks infleksional dalam bahasa Inggris kurang beragam {-s} dengan segala variasinya. Selanjutnya pengkajian afiks juga digolongkan ke dalam morfem produktif dan yang tidak produktif. Hal ini sejalan dengan pendapat Subroto (1985:268) yang mengatakan pembedaan afiks derivasi dan infleksi tersebut tampaknya masih meragukan untuk diterapkan pada bahasa Indonesia yang tergolong bahasa aglutinasi. Afiks derivasional dapat mengubah kelas kata sedangkan afiks infleksional tidak. Menurut Pateda (2002:54) afiks produktif adalah afiks yang memiliki kesanggupan besar untuk dilekatkan pada morfem yang lain yang menghasilkan kata yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dan afiks Universitas Sumatera Utara .

tetapi mungkin ada petunjuk-petunjuk fonologis untuk Universitas Sumatera Utara .inproduktif adalah afiks yang tidak memiliki kesanggupan untuk dilekatkan pada morfem yang lain untuk membentuk kata yang berfungsi dalam ujaran. Lebih lanjut Halliday. Masalah ini terutama yang berhubungan dengan identifikasi dan definisi kata. Sementara Subroto (1985:95) mengemukakan bahwa cara untuk menentukan prosedur produktif ialah jumlah. bahasabahasa yang mempunyai tipe struktural yang berbeda. Kata adalah satuan yang dapat didefinisikan secara fisik yang dijumpai dalam suatu rentang tulisan (yang dibatasi oleh spasi) atau bicara (dimana identifikasi lebih sulit lagi. Bauer (1983:87) menjelaskan produktivitas melalui pola pembentukan kata yang secara sistematis dapat digunakan oleh pemakai bahasa untuk membentuk kata-kata baru yang jumlahnya tidak terbatas dan kata-kata baru tersebut diterima dan dipakai oleh para pemakai bahasa lainnya secara sepontan tanpa kesukaran.2 Kata Berbagai pendapat tentang kata dapat dilihat pada uraian di bawah ini. Selanjutnya Katamba (1993:65-72) memberikan gambaran tentang masalah produktivitas menyangkut perluasan leksikon yang tiada hentihentinya. Lyons (1971:197) menyatakan bahwa kata mengacu ke unit-unit bahasa terkecil yang sifatnya fonologis atau ortografis. Definisi kata yang umum sebagai satuan makna adalah gagasan yang tidak membantu karena kesamaran konsep. ketentuan-ketentuan batas kata maupun status. Selanjutnya ia membuat perbedaan teoretis tentang makna utama kata sebagai berikut. 2. Ada beberapa kesulitan untuk sampai kepada pemakaian yang konsisten dari istilah itu dalam kaitannnya dengan kategori-kategori lain dari pemerian linguistik. sebagaimana dikutip Kridalaksana (1996:36) menyebutkan bahwa kata dipandang sebagai satuaan yang lebih konkrit. Crystal (1980:383-385) mengemukakan bahwa kata adalah satuan ujaran yang mempunyai pengenalan intuitif universal oleh penutur asli.2. baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis. dan dalam perbandingan.

dan men. dst. Leksem adalah satuan kosakata yang didaftarkan dalam kamus. seperti kesenyapan atau ciri-ciri jeda). Pembagian-pembagian seperti inilah yang disebut kata dalam istilah unit fonologis (word in terms of phonological units). Misalnya. Hal ini mengharuskan penetapan bagi suatu satuan yang abstrak untuk memperhatikan bagaimana katakata beroperasi dalam tatabahasa suatu bahasa. Ada suatu makna yang lebih abstrak. a. country. (b) kata adalah apa yang disebut leksem dan (c) kata adalah apa yang disebut dengan kata gramatikal dan Subroto menjelaskan kata menurut pengertian (b) dan (c) ini berhubungan dengan konsep derivasi dan infleksi. Sejalan dengan hal di atas Subroto (dalam Dardjowidjojo. Kata country secara fonetik dapat dibagi menjadi [k^N] dan [tri] dengan penekanan pada silabe pertama. yang merujuk kepada faktor umum yang mendasari himpunan bentuk yang sama. Setiap kata dibangun dari sejumlah variasi huruf atau fonem. tanda modifikasi. akibatnya dibuat beberapa perbedaan teoretis yang pada akhirnya kata mempunyai tiga pengertian makna seperti yang dikemukakan oleh Mathews (1978:22-30) seperti di bawah ini: (a) kata adalah apa yang disebut kata fonologis atau ortografis. 1981:268) mengemukakan bahwa ada kekaburan mengenai istilah kata. dan kata. Istilah netral yang sering digunakan bagi keduanya adalah bentuk kata (word form). seperti walk. sehingga apabila kita berbicara mengenai konsep leksem tidak dapat dipisahkan dari konsep derivasi dan infleksi. walking dan walked. Menurut model analisis hierarkis kalimat (klausa) terdiri atas kata dan kata terdiri atas morfem. old. biasanya disiapkan untuk peran ini. Ia memberi contoh dengan kalimat pembuka syair Yeats : That is no country for old men. maksudnya adalah bahwa kata semata-mata didasarkan atas wujud fonologis atau wujud ortografisnya. kata that terdiri atas huruf t. walks. no. h. Kata adalah satuan gramatikal dari jenis teoretis yang sama seperti morfem dan kalimat. Satuan kata mendasar itu sering dirujuk sebagai suatu leksem. t. Kata dalam makna ini dirujuk sebagai kata ortografis (untuk tulisan) atau kata fonologis (untuk bicara).mengidentifikasi batas-batas. for. Kalimat dalam syair ini terdiri dari tujuh kata. Universitas Sumatera Utara . is. yakni that.

semua bentuk-bentuk infleksif seperti give. Dalam kamus. Leksem dapat muncul dalam banyak bentuk yang berbeda di dalam tuturan atau bahasa tulisan. Demikian pula halnya dengan ungkapan-ungkapan burry the hatchet. termasuk ke dalam satu leksem give. dan sebuah frasa yang telah menjadi ungkapan yang idiomatispun dapat menjadi sebuah leksem. sebuah kata dapat menjadi sebuah leksem. Kata try dan amo serta realisasinya disebut dengan leksem. (Richards dalam Parera. dalam realisasinya kata ini dapat berbentuk “ try” dalam kalimat I try to do it. Berkaitan dengan hal di atas. dalam kalimat he tries to do it dan tried dalam kalimat He tried to do it yesterday. given. sedangkan kata trying (verba) berasal dari leksem try. Salah satu di antara definisi tentang leksem adalah sebagai berikut : “leksem adalah unit abstrak. hammer and tongs. Kedua kata trying menurut pengertian (a) adalah sama. dan dianggap sebagai leksem yang sama meskipun dalam infleksif. Selain itu ada pula kata-kata yang berasal dari leksem yang sama dan bentuknya sama. 1988 : 117). giving. maksudnya kata bukan dalam bentuk realisasinya atau bentuk nyatanya. kata amo ‘love’ dapat direalisasikan sebagai amo ‘I love’. sebuah morfem dapat menjadi sebuah leksem. Leksem dapat memiliki bentuk yang sama. and white paper dianggap sebgai leksem tunggal. Kata tried dalam kalimat pertama mengandung makna past. gave. give up. dan amawi ‘I have loved’. seperti pada pengertian (a) misalnya kata trying (adjektif) dan kata trying (verb) dalam frasa kalimat berikut ini “a trying day” dan “they are trying hard”. tetapi penggunaannya berbeda. Misalnya dalam bahasa Inggris. tetapi dalam pengertian (b) berbeda disebut dengan homonimi. tries. gives. setiap leksem hendaknya merupakan entri tersendiri”. Misalnya kata tried (bentuk lampau) dan kata tried (bentuk partisip) dalam kalimat : I tried hard dan I have tried hard. amot ‘he loves’. Misalnya. baik secara fonetik maupun secara fonemik. Kata trying (adjektiva) berasal dari leksem trying. kata “try”. Apabila ditinjau dari pengertian (b) kedua kata itu berbeda. Universitas Sumatera Utara . omas ‘you love’. Dalam bahasa Latin. Leksem dapat dikatakan sebagai bentuk bahasa terkecil pendukung makna yang erat kaitannya dengan ide dan rujukan yang ada dalam alam pikir manusia pemakainya. Kedua kata yang dalam pengertian (a) sama.Kata dalam pengertian (b) juga bermakna unit abstrak.

Uraian ini menunjukkan adanya perbedaan di antara homonimi dan sinkretisme. dan seen adalah realisasi dari leksem see”. Uraian di atas ini senada dengan apa yang dikatakan Kridalaksana (1996) bahwa kata harus dilihat sebagai satuan sintaksis.sedangkan tried dalam kalimat kedua mengandung makna participle. saw. yaitu suatu unsur yang dapat muncul tersendiri dalam berbagai posisi kalimat. adjektiva Universitas Sumatera Utara . sees. Pendapat lain seperti O’Grady dan Dobrofolsky (1989) mengatakan bahwa kata merupakan suatu bentuk bebas yang terkecil. Hal yang seperti ini disebut dengan sinkretisme. dan yang berperan sebagai substansi gramatika adalah leksem. Dalam pengertian ini munculnya tiga bentuk yang berbeda dari leksem tersebut akan dianggap sebagai tiga kata. Pembahasan tentang kelas kata tidak dapat mengabaikan wujud gramatika. Selanjutnya ia membagi kelas kata menjadi (1) verba (2) adjektiva (3) nomina (4) pronominal (5) numeralia (6) adverbia (7) interogativa (8) demonstrativa (9) preposisi dan (10) konjungsi). Leksem yang mengandung makna leksikal ini muncul dalam pelbagai wujud sesuai dengan tatarannya dalam sistem gramatika. Salah satu wujud gramatikal itu ialah kata. Jadi. dan kategorinya berbeda sedangkan sinkrotisme adalah kata yang memiliki bentuk fonetik dan fonemiknya sama dan berasal dari leksem yang sama dan kategori katanya masih sama. Kita seharusnya setuju bahwa bentuk fisik suatu kata seperti see. seing. Lebih lanjut O’Grady menjelaskan bahwa semua kata dalam suatu bahasa dibagi dalam dua kategori utama yaitu (1) kata tertutup yang mencakup kata dan fungsi dan (2) kategori kata terbuka yang meliputi kategori leksikal mayor seperti nomina. kata dapat menunjuk bahwa to see. Jadi kata berbeda dengan leksem. verba. sees. tetapi bukan berasal dari leksem yang sama. karena kebebasannya itulah ia dapat langsung berperan sebagai unsur utama dalam satuan yang lebih besar. Berbicara masalah kata Katamba (1993: 17-19) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut : “kita dapat menggunakan istilah kata untuk menunjuk pada bentuk fisik sebuah leksem dalam suatu tuturan atau tulisan. Homonimi memiliki bentuk fonetik dan fonemik yang sama. saw dan seen sebagai lima kata yang berbeda. Kata sebagai satuan yang benar-benar bebas. seing.

informasi tentang maknanya (semantik). 2. Entri untuk setiap butir leksikal akan mencakup pengucapannya (fonologi).3 Morfofonemik Kajian ini melibatkan dua cabang linguistik. Kajian morfofonemik ini antara lain menyangkut aspek fonotaktik. Universitas Sumatera Utara . kata dalam bahasa manusia dapat dibagi menjadi dua jenis. kaidah struktur morfem.dan adverbia. Kata sederhana adalah kata yang tidak dapat diuraikan menjadi satuan-satuan bermakna yang lebih kecil sedangkan kata kompleks adalah kata yang dapat diuraikan menjadi bagian-bagian konstituen yang menyatakan suatu makna yang dapat dikenal. Ia menambahkan setiap kata yang menjadi anggota suatu kategori leksikal mayor disebut butir leksikal yang merupakan entri dalam leksikon. Katamba (1993: 34) menegaskan bahwa morfofonemik mengkaji fenomena-fenomena yang melibatkan kajian morfologi dan fonologi. morfem dan pembentukan kata dalam kaitannya dengan serapan dan pelafalannya. Setiap kata-kata baru dapat ditambahkan kepada kategori leksikal mayor tersebut karena masalah utama morfologi ialah bagaimana orang membentuk dan memakai kata yang belum pernah ditemukan sebelumnya. bentuk kanonik. dan kata kompleks. Sibarani (2002) dan Kridalaksana (1996). Ditinjau dari segi bentuknya. struktur fonologis morfem.2. Kajian ini juga akan membahas kata. Untuk menganalisis morfem dan kata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab digunakan konsep Katamba (1993). termasuk kategori leksikal apa dan dalam lingkungan sintaksis mana kata itu dapat muncul (sub kategorisasi). Beberapa pendapat yang dikemukakan di atas pada prinsipnya sama yaitu menganggap kata sebagai satuan bebas terkecil atau unsur bahasa yang dapat berdiri sendiri. yaitu (1) kata sederhana dan (2) kata kompleks. Selain itu pengelompokan kata disesuaikan dengan ancangan O’Grady (1989) yang membagi kata menjadi kata tunggal. maka morfologi hanya berurusan dengan kategori-kategori leksikal mayor. pola persukuan silabel dan realisasi morfem akibat pengaruh dua morfem yang berdekatan. yaitu morfologi dan fonologi yang oleh para linguis Amerika disebut dengan morfofonemik.

/rooms/. Menurutnya setiap pendeskripsian bahasa yang sistematis harus mencakup sistem morfofonemik. ada juga yang menggunakan istilah alternasi. Schane telah membuat ciri-ciri Universitas Sumatera Utara . Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Schane (1992:65-77). Chiyanara (2006: 84) menjelaskan tanda (+) dimaksudkan adanya fitur berkenaan sedangkan tanda (-) dimaksudkan fitur berkenaan tidak dimiliki oleh bunyi yang berkaitan. /shoes/ yang direalisasikan dengan /z/. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa setiap bunyi memiliki fitur-fitur tertentu. Adapun ciri pembeda (distinctive feature) dalam teori fonologi generatif merupakan suatu perangkat unit yang spesifik dan yang membedakannya dengan unit-unit lain. dan sintaksis. Pertemuan morfem dimaksud adalah pertemuan antara morfem bebas dengan morfem terikat. Lass (1984:95) di samping menggunakan istilah tersebut untuk merujuk ke arah perubahan fonemis secara historis juga menggunakan istilah perubahan fonologis.Misalnya dalam bahasa Inggris /mazes/. Crystal(1980:102) mengatakan bahwa fitur (feature) mengacu pada suatu ciri khas dan fitur itu dapat dikelompokkan ke dalam berbagai tingkat analisis linguistik seperti fitur fonetik. Morfofonemik merupakan suatu proses morfologis berupa proses perubahan fonem akibat pertemuan morfem dengan morfem lainnya. Ciri-ciri fitur tersebut dalam penerapannya menggunakan ciri biner yaitu tanda (+) dan (-). Fitur distingtif di dalam fonologi adalah ciri-ciri yang nyata yang dimiliki oleh fonem. Untuk pengertian yang sama. Misalnya. dalam bahasa Indonesia morfem {ber-} bila bertemu dengan morfem ajar. Pentingnya kajian morfofonemik ini juga ditegaskan oleh Hocket (1965). /fishes/ dan /beaches/ yang direalisasikan dengan /-iz/. /carts/ direalisasikan dengan /s/ dan /mugs/. Sudarno (1990:25). /keys/. fonem /r/ berubah menjadi /l/ sehingga menjadi belajar. /cups/. fonologi. Istilah proses morfofonemis sebagai perubahan fonemis akibat proses morfemis digunakan oleh Kridalaksana (1996:183). Untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan fonologi generatif dalam kajian ini. Chaer (1994:195) dan Parera (1988:27). Ciri-ciri tersebut mampu membedakannya dengan fonem-fonem yang lain bagi memberikan makna-makna tertentu dalam bahasa. gramatikal.

1992:44) memandang Universitas Sumatera Utara . khususnya melalui penggunaan konstruksi morfem. Secara tradisional biasanya dibedakan dari sintaksis yang khusus berkaitan dengan kaidah penguasaan dan kombinasi kata dalam kalimat. Secara ideal. 2. Hal ini barangkali menunjukkan bahwa banyak kata yang secara morfologis sederhana dan tidak dapat dipenggal-penggal menjadi unit-unit yang lebih kecil yang masing-masing mempunyai makna. Sementara Halle masih (dalam McCarthy. dan berusaha untuk menjelaskan kemunculan setiap formatif. Morfologi biasanya dibedakan atas dua bidang kajian. Sementara Crystal (1980: 249) menjelaskan bahwa morfologi sebagai cabang tatabahasa yang mengkaji struktur atau bentuk kata. Ciri-ciri itu membedakan segmen yang satu dengan segmen yang lain. Pernyataan bahwa kata mempunyai struktur menunjukkan bahwa kata sebagai kesatuan makna yang tidak dapat dibagi lagi.2. ciri yang sesuai harus memenuhi tiga fungsi yaitu (1) mampu memberikan fonetik sistematik atau disebut fungsi fonetis (2) pada tataran yang lebih abstrak. Adapun Bauer (1983 : 33) mengatakan bahwa morfologi membahas struktur internal bentuk kata. berguna untuk membedakan unsur-unsur leksikal yang disebut fungsi fonemis (3) membuat kaidah kelas segmen dengan fitur distinktif dan spesifikasi ciri minimum yang diperlukan untuk sebuah identifikasi segmen.4 Morfologi Menurut Katamba (1993: 3) morfologi mengkaji struktur kata. yaitu kajian infleksi (morfologi infleksi) dan pembentukan kata (morfologi leksikal atau morfologi derivasi) – suatu perbedaan yang kadang–kadang didasari oleh status teorinya (morfologi split / terpisah). 1992: 44) secara eksplisit menghilangkan morfologi infleksi dari pertimbangannya. sehingga mereka tidak membicarakan pokok permasalahan apakah ada atau semua bentuk kata yang diinfleksi seharusnya secara leksikal dibuat daftarnya. Berkaitan dengan hal ini Aronoff dan Corbin (dalam Carthy.pembeda. Analisis pembentukan kata dalam morfologi membagi bentuk kata ke dalam formatif komponennya (yang kebanyakan merupakan morf yang berwujud akar kata atau afiks).

yakni menciptakan entri-entri baru sementara morfologi infleksional tidak mengubah suatu kata menjadi kata yang lain dan tidak pernah mengubah kategori sintaksis. Unsur adalah bagian terkecil Universitas Sumatera Utara . Berikutnya morfologi khusus merupakan seperangkat kaidah yang mempunyai fungsi ganda. Morfologi derivasioanal mengambil satu kata dan mengubahnya menjadi kata yang lain. Teori morfologi umum berurusan dengan pembahasan secara tepat mengenai jenis kaidah morfologi yang dapat ditemukan dalam bahasa-bahasa alamiah. kaidah-kaidah ini mewakili pengetahuan penutur asli yang tidak disadari tentang struktur internal kata yang sudah ada dalam bahasanya. 2. khususnya kata kompleks. Kedua. Hal yang sama diungkapkan oleh Bickford (1991:17-18) yang membagi morfologi ke dalam morfologi derivasional dan morfologi infleksional. Pertama. perbedaan antara keduanya hanya bentuk infleksi telah dikelompokkan di dalam kamus ke dalam model pola dan ia menambahkan bahwa sebuah bahasa mempunyai seperangkat kaidah yang menentukan bagaimana morfem dapat digabungkan bersama untuk membentuk unit / kesatuan yang lebih besar yang disebut kata.2. kaidah-kaidah ini berurusan dengan pembentukan kata baru. Pendapat lain yang berbeda dengan pendapat di atas adalah pendapat yang dikemukakan oleh O’grady dan Dobrovolsky (1989:89-90) morfologi adalah komponen tatabahasa generatif transformational (TGT) yang membicarakan tentang struktur internal kata.5 Unsur Serapan Berbicara tentang unsur serapan ada baiknya dilihat terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan unsur dan serapan itu sendiri.tidak ada alasan untuk tidak membuat daftar bentuk–bentuk infleksi sebagaimana halnya bentuk derivatif . Selanjutnya mereka membedakan antara teori morfologi umum yang berlaku bagi semua bahasa dan morfologi khusus yang hanya berlaku bagi bahasa tertentu. Ketika kita membicarakan tentang morfologi atau struktur morfologi suatu bahasa. kita merujuk pada jenis–jenis morfem yang dimiliki dan cara menggabungkannya sesuai dengan kaidah–kaidah yang ada.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa penyerapan itu merupakan pengambilan ciri-ciri linguistik yang digunakan bahasa lain terhadap suatu bahasa. status linguistik bentuk-bentuk serapan itu masih belum pasti. Misalnya dalam bahasa Indonesia kata-kata yang berasal dari bahasa Arab itu lambat laun menjadi kosakata seharihari. Para bilingual mula-mula akan ragu-ragu untuk menggunakan bentuk-bentuk serapan itu karena mereka sadar bahwa itu adalah bentuk atau unsur asing.dari suatu benda. tetapi apabila pungutan itu diambil dari wilayah bahasa yang lain disebut dengan serapan cultural (cultural borrowing). Bloomfield (1933:444) membedakan unsur serapan menjadi dua bagian. penyerapan masuk (ke dalam lubang-lubang kecil) (Poerwadarminta. sedangkan serapan adalah pemasukan ke dalam. Sementara Kridalaksana (1980:144) menyebut serapan dengan peminjaman (borrowing) yaitu pemasukan unsur fonologis. 1985:130 dan 425). 1992:197) berpendapat bahwa penyerapan adalah reproduksi yang diupayakan dalam satu bahasa mengenai pola-pola yang sebelumnya ditemukan dalam bahasa lain (The attempted reproduction in one language of patterns previously found in another). gramatikal. Apabila serapan itu diambil dari satu wilayah bahasa (speech area) yang sama maka ia disebut dengan serapan dialek (dialect borrowing). bahkan ada pula kosakata yang tidak terlihat lagi ciri kearabannya. Samsuri (1981:51) dan Ruskhan(2007:3) menyebut serapan dengan pungutan yaitu pemasukan unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu. bahan asal. Universitas Sumatera Utara . atau leksikal dalam bahasa atau dialek dari bahasa atau dialek lain karena kontak atau peniruan. dengan demikian dapat dikatakan bahwa unsur serapan adalah unsur dari suatu bahasa (asal bahasa) yang masuk dan menjadi bagian dalam bahasa lain (bahasa penerima) yang kemudian oleh penuturnya dipakai sebagai layaknya bahasa sendiri. zat asal. Bersamaan dengan itu Hsia (1989:23 cf. Ahmad:1992 dalam Ruskhan: 2007:27) mengemukakan bahwa penyerapan itu adalah proses pengambilan dan penggunaan unsur bahasa lain dalam konteks lain. Selanjutnya (Haugen dalam Ruskhan:2007:5) juga menjelaskan bahwa pada saat pertama serapan bentuk asing itu masuk. Sementara Haugen (1992:212.

Selanjutnya Zuhriah (2004:3) membagi pola penyerapan kosakata bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia menjadi (1) pola penyerapan penuh yaitu penyerapan fonem dilakukan secara utuh tanpa ada perubahan karena fonem bahasa Arab setelah ditranslitrasi mempunyai kesamaan dengan fonem bahasa Indonesia (2) pola penyerapan sebagian adalah sebagian fonem yang terdapat dalam sebuah kata disesuaikan dengan bahasa Indonesia. (3) pola penyesuaian lafal. Proses penyerapan bahasa lain termasuk bahasa Arab masuk ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan cara pengintegrasiannya terbagi ke dalam dua bagian (1) melalui pemakaian bahasa sehari-hari. di samping pengajaran bahasa arab itu sendiri baik di bangku sekolah maupun di luar sekolah dan melalui tulisan berupa buku-buku ilmu pengetahuan. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Weinriech (1953:56) yang berpendapat bahwa keadaan yang paling umum yang menyebabkan seseoarang untuk menciptakan kata-kata baru adalah apabila seseorang atau suatu masyarakat bahasa hendak menggambarkan suatu konsep baru. yang umum terjadi adalah menggunakan kata yang digunakan oleh masyarakat bahasa pemilik konsep itu. misalnya melalui pengajaran yang dilakukan lewat penyebaran agama Islam di Indonesia. kebudayaan dan sarana tertulis lainnya. seni. dan cara pengintegrasian seperti ini disebabkan adanya hubungan atau kontak langsung antara penutur asli (penutur sumber) dengan penutur bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari (2) melalui pengajaran dan tulisan. Apabila konsep baru itu didapat karena adanya kontak kebudayaan dengan kebudayaan asing. (1993:42) membagi penyerapan yang berasal dari bahasa Arab menjadi (1) penyerapan penuh meliputi (a) penyerapan fonem secara utuh tanpa ada perubahan (b) penyerapan morfem secara utuh (2) penyerapan sebagian fonem yang terdapat dalam sebuah kata disesuaikan ke dalam bahasa Universitas Sumatera Utara . Burhanuddin dkk. 404-405). seperti surat kabar dan majalah (Zuhriah:2004:2).Terjadinya penyerapan satu bahasa kepada bahasa lain disebabkan oleh (1) adanya keperluan untuk memenuhi kebutuhan (need filling motive) dan (2) adanya keinginan untuk kelihatan bergaya (prestige motive) (Hockett:1970.

Misalnya salat al’id ‘salat hari raya’. 2007:29). Misalnya kata neraka merupakan terjemahan dari na : r. 1992: 215.‘i: d. Penyerapan campuran adalah penyerapan yang terdiri dari penyerapan yang sebagian morfemiknya terdiri dari proses pemasukan sedangkan sebagian lagi terdiri atas penerjemahan berupa bahasa penerima (Haugen. penambahan vokal dan perlakuan terhadap suku yang mirip imbuhan serta penyimpangan-penyimpangan. Hsia. Selain itu ia juga menjelaskan gejala-gejala lainnya yang terdapat pada proses penyerapan itu seperti terjadinya penggantian vokal. Kata salat merupakan serapan sedangkan kata hari raya merupakan terjemahan dari al. penghilangan vokal.Indonesia. Universitas Sumatera Utara .1992:214). Adapun (Haugen 1992 dalam Ruskhan: 2007:5) menyebut penyerapan dengan penyerapan dan ia membagi tipe penyerapan meliputi dua hubungan proses yakni proses pemasukan (importation) dan proses penyulihan (substitution).1989:143-148). Penyerapan kata adalah penyerapan yang memperlihatkan pemasukan morfemis tanpa penerjemahan. Penyerapan penerjemahan adalah penyerapan yang berbentuk terjemah (loan translation). sedangkan proses penyulihan adalah penyerapan yang menghasilkan model yang bukan berupa penggantian pola yang sama dari bahasa penyerap. tanpa ada perubahan baik perubahan sebagian atau perubahan secara lengkap (Haugen. Maksudnya seluruh bentuk morfemisnya merupakan bentuk morfemik bahasa sumber. Penyerapan jenis ini memiliki bentuk struktur dari bahasa lain yang dipindahkan ke dalam bahasa penerima sehingga bahasa penerima menggantikan butir bahasa lain itu (Ruskhan. Berdasarkan proses penyerapan itu ia membagi serapan menjadi (1) serapan kata (loan words) (2)serapan padu (loan blends) dan serapan sulih (loan shifts). Haugen menyebutkan bahwa proses pemasukan adalah penyerapan yang sama dengan model (bahasa sumber) sehingga diterima si penutur sebagai milik bahasanya. Hsia (1989:98) menyebut penyerapan jenis ini ke dalam penyerapan kata murni. sementara Sudarno (1990) membedakan proses penyerapan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan (a) bidang fonem (b) pola suku kata dan (c) rangkaian suku kata.

Tulisan tersebut tidak membahas proses pembentukan kata bahasa Arab menjadi bahasa Indonesia. Burhanuddin juga tidak konsisten dengan pendapatnya yang mengatakan di dalam bahasa Arab tidak ditemukan vokal / a. Tanda kasus yang ada hanya merupakan harkat. Misalnya muktamar dan sabar.3 Kajian Pustaka Beberapa penelitian terdahulu yang pernah membahas kata serapan bahasa Indonesia dalam bahasa Arab sebagai berikut : Tulisan tentang “Bahasa Arab dan Perkembangan Bahasa Indonesia” pernah ditulis oleh (Barried. Misalnya. Ia mendistribusikan kata-kata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab dari sudut kelas kata. 1982 dalam Ruskhan. Penyerapan sebagian juga tidak menjelaskan pada suku kata yang mana fonem disesuaikan dengan fonem yang terdapat pada bahasa Indonesia. iktikad dan mufakat berupa bentuk masdar. Selanjutnya ia menjelaskan ada dua buah diftong di dalam bahasa Arab yaitu / ai dan au /. Ia berpendapat bahwa bahasa Arab yang masuk ke dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi (1) penyerapan penuh (2) penyesuaian fonem (3) penyesuaian lafal dan penyimpangan pola penyerapan. kata musyawarah. i dan u / karena tidak mempunyai lambang bunyi dalam bentuk huruf. Selanjutnya Burhanuddin dkk (1993:5) pernah pula mengkaji kosakata bahasa Arab dalam bahasa Indonesia. Selain itu dibahas sedikit tentang perubahan makna kata-kata tertentu dan perubahan fonologisnya.2. namun tidak dijelaskan contoh yang mana yang dimaksud dengan penyerapan fonem secara utuh dan contoh yang mana yang dimaksud dengan penyerapan morfem secara utuh. Universitas Sumatera Utara . Penelitian ini masih mengguanakan metode struktural. 2007:7) pada pidato pengukuhan guru besarnya. Ia membagi pola penyerapan menjadi penyerapan penuh yang terdiri dari (1) penyerapan fonem secara utuh dan (2) penyerapan morfem secara utuh dengan memberi contoh bab dan muslim. padahal untuk menentukan ada tidaknya sebuah fonem dalam satu bahasa dapat dianalisis melalui pasangan minimal dan melihat distribusi fonem itu dalam sebuah kata.

namun tidak dijelaskan suku kata keberapa yang hilang dan proses apa yang terjadi selanjutnya pada kata tersebut. Tulisan ini merupakan salah satu rujukan yang akan digunakan dalam penelitian ini. kadang-kadang bentuk dasar tersebut diambil dari nomina yang disebutnya dengan kata pangkal seperti kata qurani yang diserap dari kata kompleks / qura : ni : / berasal dari pangkal /qura:n/ yang bergabung dengan sufiks / -i : /. Proses yang terjadi pada waktu penyerapannya ke bahasa Indonesia berupa pergantian vokal dari vokal panjang /a:/ menjadi vokal pendek /a/. Universitas Sumatera Utara . Penulis tidak konsisten di dalam mengambil bentuk dasar. Adapun Zuhriah (2004:5) menulis “Penyimpangan-Penyimpangan Unsur Serapan Bahasa Arab”dengan menggunakan metode struktural. Penulis kurang cermat di dalam menganalis data. Sebenarnya kata bab berasal dari bahasa Arab / ba:b /. Dikatakan didalam tulisannya ada tiga macam pola penyerapan kosakata bahasa arab ke dalam bahasa Indonesia yaitu (1) pola penyerapan penuh (2) pola penyerapan sebagian dan (3) pola penyesuaian lafal dan penyimpangan penyerapan. Ia memberi contoh adanya pola penyerapan penuh pada kata bab. Dikaji juga di tulisan tersebut beberapa penyimpangan makna seperti pada kata ulama yang maknanya berubah dari ‘banyak orang berilmu’ menjadi ‘seorang yang berilmu’. Ruskhan (2007:27) meneliti tentang kata serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia dalam laras keagamaan dan ia membagi serapan tersebut menjadi (1) serapan kata dari segi bentuk (2) serapan padu dari segi bentuk (3) serapan sulih dari segi bentuk dan (4) perubahan makna serapan bahasa Arab.Deskripsi yang dihasilkan Burhanuddin ini memiliki kontribusi dalam kajian ini terutama sebagai bahan banding. sementara kata rasul yang diserap dari bentuk / rasu : l / dianggap berasal dari bentuk dasar verba perfect / RaSaL / ‘mengutus’. Penelitian ini juga masih menggunakan metode struktural. Selain itu bagian pola penyesuaian lafal dikatakannya terjadi penghilangan suku kata pada kata isnayn yang diserap menjadi senin. namun tidak dijelaskan perubahan makna yang terjadi apakah berbentuk perluasan atau penyempitan. Penelitian ini sangat bermanfaat dipakai sebagai bahan acuan peneliti dan tulisan ini masih menggunakan metode struktural.

namun datanya sangat terbatas dan analisisnya tidak mendalam. Sementara aspek-aspek semantis kata serapan dan perubahan-perubahan makna yang terjadi pada kata serapan tersebut tidak dibahas. Universitas Sumatera Utara . perubahan ejaan. Ia menulis tentang pengaruh fonologis. namun analisisnya hanya tertuju pada segi fonologis kata serapan. Belum dikaji apakah kata-kata yang mendapat pengaruh dari bahasa Arab tersebut berupa serapan yang berbentuk terjemahan atau berbentuk serapan campuran.Selain penulis-penulis tersebut di atas (Badudu. Tulisan tersebut juga tidak membahas jenis-jenis penyerapan dan kategori kata serapan tersebut baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arabnya. penulis banyak mengambil datadatanya sebagai bahan banding dan penelitian ini juga masih menggunakan metode struktural. Walaupun demikian. Terakhir adalah tulisan yang dilakukan oleh Sudarno (1990). 1991 dalam Ruskhan:2007:11) pernah pula menulis makalah mengenai “Pengaruh Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia” yang disajikan dalam Konferensi dan Musyawarah Nasional VI Masyarakat Linguistik Indonesia. pola suku kata dan rangkaian suku kata. Selain itu ia juga membahas gejala-gejala lainnya seperti penggantian vokal dan penyimpangan-penyimpangan. pengaruh morfologis dan sintaksis. Ia membagi proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia meliputi bidang fonem.