Anda di halaman 1dari 26

I.

1.1. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN

Gula merupakan produk agroindustri yang memiliki peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pokok manusia. Gula tidak dapat dipisahkan dalam pengolahan berbagai jenis makanan dan minuman, baik skala industri maupun rumah tangga. Di Indonesia terdapat tiga jenis gula yang beredar di pasaran, yaitu gula kristal mentah (GKM) atau raw sugar yang digunakan sebagai bahan baku industri gula rafinasi, gula kristal putih (GKP) yang dikonsumsi secara langsung dan gula rafinasi sebagai bahan baku industri makanan dan minuman. Ketersediaan gula dunia pada umumnya berasal dari dua komoditas utama perkebunan, yaitu tanaman tebu dan bit. Sampai saat ini, sekitar 70% kebutuhan gula dunia tercukupi dari komoditas tanaman tebu, sisanya berasal dari komoditas tanaman bit mencapai sekitar 30% kebutuhan gula dunia. Tebu merupakan komoditas perkebunan Indonesia terbesar ketiga setelah teh dan kelapa sawit. Tebu banyak diusahakan petani di Indonesia karena cocok hidup di wilayah tropis. Sehingga produksi gula di Indonesia cukup tinggi. Namun, industri gula nasional selanjutnya mengalami penurunan yang cukup tajam akibat dari global warming, irigasi yang kurang baik, serangan hama, pupuk yang tersedia tidak tepat waktu, dan faktor teknologi produksi gula yang sudah usang. Sehingga persentase gula Indonesia terhadap gula dunia mencapai 1,99% pada musim giling 2006/2007. Persentase ini hanya sekitar 1,55% terhadap produksi total gula dunia. Pabrik pembuatan gula di Indonesia cukup banyak, baik yang berada di bawah pengawasan pemerintah maupun berdiri sendiri sebagai perusahaan swasta. Salah satu perusahaan pembuat gula di Indonesia adalah PT. Kebon Agung Pabrik Gula Trangkil. PT. Kebon Agung merupakan perusahaan perkebunan tebu dan pabrik gula secara terintegrasi yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Pati, Kecamatan Trangkil. Dalam menunjang proses produksinya, Pabrik Gula Trangkil telah

menggunakan beberapa alat dan mesin pertanian serta pabrik pengolahan tebu yang cukup baik dalam mengolah tebu menjadi gula. Selain itu, proses penanganan bahan dan penyimpanan produk akhir juga sudah menggunakan peralatan mekanik seperti conveyor, crane, serta didukung dengan kapasitas gudang yang mampu menampung ribuan ton gula. Pada praktik lapangan ini dipilih topik studi mengenai proses pegolahan gula tebu di Pabrik Gula Trangkil. Proses pengolahan yang baik akan sangat mempengaruhi mutu gula dan rendemen gula yang dihasilkan yang kemudian akan mempengaruhi daya saing perusahaan di tengah persaingan industri gula yang ada saat ini. Pengamatan secara langsung mengenai proses pengolahan gula tebu ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah pengetahuan bagi mahasiswa. Data dan informasi yang diperoleh selama kegiatan praktik lapangan digunakan untuk keperluan akademik.

http://pgtrangkil.com/articles.php http://www.ptkebonagung.com/program1.htm

II.TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI

2.1.

BAHAN BAKU DAN BAHAN PEMBANTU

2.1.1. Bahan Baku

1. SEJARAH BERDIRINYA PABRIK PG Trangkil berdiri tahun 1835, sejak didirikan dengan kapasitas giling terpasang 800 tth. Tahun 1921 kapasitas giling dinaikkan menjadi 1.250 tth. Pada tahun 1974 s.d. 1977 diadakan Rehabilitasi, Perluasan dan Modernisasi (RPM) kapasitas giling menjadi 1.800 tth, tahun 1993 s.d. 1995 dilakukan Peremajaan Mesin sehingga kapasitas giling menjadi 3.200 tth. Hingga tahun 2004 PG Trangkil melakukan perbaikan dan penggantian mesin untuk meningkatkan kemantapan kinerja dan efisiensi pabrik dengan sasaran kapasitas giling 3.560 tth. Sejak tahun 2005 PG Trangkil melakukan Program Pengembangan PT Kebon Agung dengan sasaran kapasitas giling 4.500 tth.

2. GAMBARAN UMUM a. Alamat Pabrik : .. Desa Kelurahan Kecamatan Kabupaten Propinsi Kode Pos : Trangkil :: Trangkil : Pati : Jawa Tengah : 59102

Jenis tanah : Aluvial coklat kelabu......... . kapur... KONDISI PABRIK...000 1.. Tahun pembuatan : 1835 Kepemilikan : Swasta Jenis prosessing : Sulfitasi Jenis gula yang dihasilkan: Kualitas GKP-I .Terletak : 75 km dari Ibukota Propinsi 11 km dari Ibukota Kabupaten b...Lainnya : ..Teknis :. pupuk Sp-36 Kelas jalan .....293 1.: Poliklinik..484 1..Perumahan Curah hujan (mm) 1..257 1... Sumber air (pabrik) .844 1.....243 1...Pompa : 10 % . .. Masjid. Sedimentasi aluvial. Lapangan olah raga ....% e...233 Hari hujan (hari) 78 97 80 63 100 95 105 87 55 61 67 Bulan kering (bln) 7 5 5 7 3 4 6 6 8 7 6 3.. 2.. : Tingkat Kabupaten Fasilitas sosial .. batuan volkanik c. Latosol merah.... Tahun 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 d..... Iklim. 3.. Topografi ...605 1.Tadah hujan : 90 % ..765 1...Tinggi di atas permukaan laut : 200 – 600 m diatas permukaan laut.: air sungai Sumber bahan baku pendukung : Belerang... 4..% ....118 1........ Prasarana Pendukung 1.... Pengairan .865 1..

Hampir seluruh stasiun yang ada di pabrikasi membutuhkan air untuk kelancaran produksi. masakan/ Puteran Asal Negara Jepang USA Indonesia Indonesia USA Rehab terakhir tahun 2005 1977 2003 2003 2005 5. Air Kebutuhan air dipenuhi dari air tanah. mikroorganisme dan bakteri. Stasiun Ketelan 2. Apabila air tanah digunakan sebagai air pengisi ketel maka air tanah ini harus diolah terlebih dahulu karena mengandung pengotor yaitu gas terlarut(CO2. KOMPONEN UTAMA PABRIK Jenis prosessing 1.Hak Guna Usaha 2.457 Ha 1. Natrium zeolit ini akan mengikat ion Ca dan Mg diharapkan berkurangnya kerak pada ketel yang ditimbulkan akibat air ini. LAHAN . Penyediaan dan Penanganan Air (Water Treatment Plant/ WTP) Ketersediaan air merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan proses produksi gula. Pemurnian Nira 4. gaam klorida.1. meliputi: 1. air hujan dan air kondensat. St.5 Ha . air imbibisi pada gilingan. Stasiun Gilingan 3. UTILITAS (SARANA PRODUKSI) Utilitas berfungsi untuk menunjang kelangsungan proses produksi. b. Air yang keluar dari deaerator telah siap digunakan sebagai air pengisi ketel. air injeksi dan air pendingin mesin. Air ini ditampung dalam bak penmapungan yang kemudian dialirkan ke tangki yang berisi resin (natrium zeolit) yang berfungsi sebagai ion exchanger (penukar panas). garam magnesium. Pada Pabrik Gula Trangkil. Adanya gas O2 dapat menyebabkan korosi pada ketel.Hak Guna Bangunan: 20. zat-zat tersuspensi. Air yang digunakan untuk pengisi ketel harus diolah terlebih dahulu.4. Adanya garam bikarbonat. Stasiun Penguapan 5. garam natrium yang menimbulkan kesadahan yang dapat menurunkan transfer panas karena terbentuk kerak pada pipa dan plat. O2 H2S) yang dapat menyebabkan korosi pada ketel. Penyediaan dan penanganan air di PG Jatitujuh ditangani langsung di bagian WTP yang terletak tepat di samping pabrik (di samping stasiun . air yang digunakn untuk pengisi ketel. Air yang sudah berkurang kandungan Ca dan Mg selanjutnya dimasukkan ke tangki deaerator untuk menghilangkan kandungan gas O 2.

(c) Gambar 6. air jatuhan (air kondensor). Sumber air di WTP berasal dari sungai Cimanuk yang ditampung di water basin. (b) pompa. Water Treatment Plant (Gambar 5) menangani pengolahan air dari sungai. pendinginan air (stasiun pendingin). clarifier. dan (d) water basin Air Tanah.Boiler). Air hujan Dan Air Kondensat yang ditampung di water basin dipompa ke bak clarifier menggunakan pompa dengan kapasitas 60 liter per menit. dan air kondensat. Penambahan air juga dilakukan dari air yang disediakan untuk kebun dan disalurkan ke water basin ketika terjadi kekurangan air. Single Tray Clarifier di PG Trangkil. Gambar 5. Water treatment : (a) stasiun pendingin. Air yang .

yaitu tangki yang berkapasitas 300 m3 dan tangki dengan kapasitas 250 m3. sedangkan endapan lumpur disalurkan ke bak kontrol agar dapat dikendalikan dan dilakukan penambahan susu kapur untuk meningkatkan nilai pH.5) dalam air tersebut. Tangki filter tempat penampungan air hasil saringan memiliki kapasitas 500 m3 dan air yang tertampung akan dislurkan ke dalam pabrik untuk memenuhi kebutuhan air dalam proses produksi. Air bersih yang ditampung di gravel filter terbagi ke dalam tiga tangki berisi pasir silikon dari jepang. Tangki penampung air dan cooling tower ditunjukan pada (a) (b) Gambar 6. Proses pemutaran dan pengendapan air memisahkan air bersih dengan air endapan (lumpur).5 kw per 8 jam dan ketika air semakin keruh penambahan tawas akan bertambah hingga mencapai penambahan maksimum 2 kw per 8 jam. Jenis flokulan yang digunakan berupa polyalacon MF1012 yang dicairkan terlebih dahulu seperti tawas. Tangki soften terdiri atas dua tangki yang memiliki kapasitas berbeda. Limbah cair berupa endapan lumpur selanjutnya disalurkan ke IPAL untuk diproses melalui beberapa perlakuan. Proses selanjutnya adalah penambahan flokulan sebagai zat pengikat dan mengendapkan lumpur (flok) yang terkandung dalam air tersebut. Tawas yang ditambahkan sebanyak 1. Air yang bersuhu tinggi (35-38oC) tersebut disalurkan ke cooling tower . Air bersih dipompakan oleh pompa clarifier untuk diproses dan ditampung di gravel filter. Penambahan air tawas berfungsi untuk menjernihkan air sungai yang relatif keruh. (a) Tangki penampung air dan (b) cooling tower Penanganaan air di WTP juga dilakukan terhadap air jatuhan (air kondensor) dari pabrik dan air kondensat yang masing-masing memiliki suhu cukup tinggi. Perlakuan yang dilakukan adalah proses stabilisasi suhu dan pH (rata-rata 6. Fungsi pasir silikon ini untuk menyaring air agar lebih bersih dan jernih. Air hasil penyaringan dipompakan lagi oleh pompa plan tadel ke tangki filter dan tangki soften. Proses pendinginan air yang masih memiliki suhu panas di stasiun pendingin. Air dalam tangki soften digunakan sebagai air cadangan untuk bahan pengisi atau pengumpan boiler.dipompakan ke bak clarifier dicampur dengan air tawas yang sudah disiapkan sebelumnya di stasiun pendingin.

penyelesaian akhir dan perumahan dinas. staiun tngah (stasiun masakan dan penguapan). Poros turbin dihubungkan ke gearbox untuk menurunkan putarannya menjadi rpm saat mengrakkan generator. stasiun putaran.Uap yang dihasilkan kemudian memutar turbin. Mesin baling-baling yang saat ini digunakan ada lima mesin buatan Perancis. Listrik yang dihasilkan kemudian didistribusikan ke stasiun-stasiun antara lain stasiun listrik. Kapasitas terpasang masing-masing trafo adalah 2000 KVA. Air hasil pendinginan di cooling tower disalurkan kembali ke pabrik dengan bantuan empat pompa injeksi.8 kgf/cm2 dengan suhu 110oC. Tekanan uap yang masuk turbin adalah ± 18 kg/cm2 pada suhu 350oC sedangkan tekanan keluarannya 0. Steam Pada stasiun ketel dihasilkan uap yang berasal dari proses pembakaran ampas dalam boiler. 3. stasiun ketel. Setelah itu air ditampung dalam bak penampung dan siap digunakan untuk pabrikasi. PLTU adalah sumber utama (sentral distribusi listrik) dalam memenuhi kebutuhan listrik pabrik dan perumahan karyawan. Ampas yang digunakan merupakan hasil samping dari stasiun gilingan yang dibawa oleh konveyor ampas menuju dapur pembakaran bahan bakar melalui corong yang berjumlah lima. Air kemudian ditampung di bak pengendap dan akhirnya dipompa ke menara air. air juga digunakan dalam pabrkasi. penerangan. pompa. Syarat air untuk keperluan pabrikasi tidak terlalu kompleks seperti air untuk umpan ketel. 2. Air dilewatkan pada saringan kemudian dimasukkan ke dalam bak penampungan dan dipompa ke talang pencampur tawas. Pembangkit yang digunakan pada Pabrik Gula Trangkil berjumlah dua buah yang masingmasing digerakkan oleh turbin. yaitu generator PLTU.untuk didinginkan menggunakan baling-baling dan penyaringan. Sedangkan pada saat di luar masa giling kebutuhan listrik mengandalkan listrik dari PLN. Dua transformator yang digunakan untuk memacu listrik PLN memiliki tegangan primer 20 KVA dan tegangan sekunder 400V dengan frekuensi 50 Hz. Ampas yang . Selain untuk umpan ketel. Listrik Kebutuhan listrik Pabrik Gula Trangkil disuplai dari tiga sumber.5 MW/hari. Blower digunakan sebagai tenaga untuk pembakaran ampas dalam ketel pipa air sehingga menghasilkan uap. PLN dan diesel. Mekanisme yang terjadi pada unit pembangkit listrik mulai dari awal giling adalah listrik dari PLN digunkan untuk memutar blower. besali (bengkel tempat perbaikan). Pada masa giling kebutuhan listrik disuplai dari PLTU dan PLN sebagai cadangan. stasiun gilingan. Jika ternyata air kondensat tidak mencukupi kebutuhan jumlah air pengisi ketel maka dapat ditambahkan air yang berasal dari water treatment. Sedangkan setelah beroperasi maka ia pengisi ketel didapatkan dari air kondensat yang berasal dari evaporator (stasun peguapan). Dari generator ini dihasilkan listrik yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Pabrik Gula Trangkil. Untuk menghilangkan pasir halus maupun kasar maka dilakukan penyaringan. Daya yang dihasilkan dari PLTU adalah sekitar 4. Air pada water treatment ini digunakan pada saat awal operasi pabrik.

Kedua ketel ini bertekanan tinggi dan masing-masing menggerakkan satu buah turbin generator. Air yang digunakan adalah air kondensat yang berasal dari stasiun penguapan dan masakan. terdapat katup (valve) sebagai pengendali tekanan. bisa dikatakan bahwa sisitem kendali dari boiler ini dilakukan secara automatis. Tekanan ini terus dikontrol setiap saat. Apabila tekanan pada boiler telah melebihi tekanan maksimum (> 20 kgf/cm2). Solar digunakan sebagai penggerak motor diesel untuk pembangkit generator diesel. Bahan Bakar Bahan bakar yang digunakan Pabrik Gula Trangkil adalah ampas tebu (bagasse).000 m3/jam). residu juga digunakan sebagai bahan bakar ketel pada saat awal masa giling dimana pada saat itu belum dihasilkan bagasse. dan sebagainya. Pada bagian atas boiler. Standar tinggi air dalam boiler adalah 60%. 4. Abu ini akan dibuang dari ruang bakar setiap 8 jam sekali. residu dan solar. Jika air kondensat tidak memenuhi maka ditambahkan air hujan yang telah dimurnikan terlebih dahulu.3. Ampas digunakan sebagai bahan bakar ketel uap. Jadi. Jenis boiler (ketel) yang digunakan adalah boiler pipa air.000 m3/jam) sedangkan Takuma II berkapasitas 100 to/jam (100. Residu digunakan sebagai bahan bakar ketel apabila ampas tebu habis atau kurang memenuhi syarat bahan bakar karena kondisinya yang masih terlalu basah. Nilai kalor ratarata ampas adalah 1400-1500 kKal/kg. lokomotif. yaitu Takuma I dan Takuma II. Apabila tinggi air di dalam boiler menurun sampai < 60%. Jadi residu dijadikan sebagai bahan bakar awal ketel sebelum menggunakan bagasse. Ketel ini berisi air pada bagian dalam pipa sedangkan di luar pipa dikelilingi api.digunakan harus benar-benar kering agar mendapakan nilai kalor yang lebih besar. maka secara otomatis katup akan membuka untuk mengurangi tekanan sampai tekanan boiler kembali normal. Di Pabrik Gula Trangkil digunakan dua jenis ketel. Produk Utama . Tekanan maksimal dari boiler ini adalah 20 kgf/cm2 dan suhu maksimalnya adalah 350oC.2. 1. Air kondensat ini terlebih dahulu ditampung di dalam tangki 1000 (tangki yang berkapasitas 1000m3 = 106 liter). Pada stasiun ketel terdapat sistem reinjection yang berfungsi mendorong ampas tebu yang tidak terbakar untuk dikembalikan ke ruang bakar. hal ini tidak pasti dilakukan karena pembuangan abu juga mempertimbangkan kondisi ruang bakarnya. Namun. PRODUK UTAMA DAN SAMPINGAN 1. Selain itu. Pengontrolan ketel uap dilakukan boiler control panel. Jika nilai kalor ampas kurang memenuhi maka ditambahkan residu sebagai bahan bakar yang sudah tersedia di pabrik yang disimpan dalam sebuah tangki penampung.1. maka air akan mengisi secara otomatis ke dalam pipa boiler sampai ketinggian air normal kembali. Hasil pembakaran dari ampas tebu di dalam ruang bakar akan menyisakan abu. Takuma I berkapasitas 60 ton/jam (60. pompa kebun. traktor. Kapasitas air yang dibutuhkan untik ketel adalah 180 ton/jam.

Semakin rendah kandungan gula dalam tetes dan keadaan tetes semakin kental maka produk gula yang dihasilkan semakin baik.2. Adapaun standar gula menurut P3GI Pasuruan disajikan pada tabel 3. 1. Emplasmen berfungsi untuk menampung sementara dan menertibkan antrian sebelum tebu masuk ke stasiun timbangan sehingga tidak terjadi penumpukan antrian di dalam pabrik. Ampas gilingan terakhir digunakan untuk bahan bakar ketel. keras. PROSES PRODUKSI Proses pengolahan tebu menjadi gula pasir melalui tahapan-tahapan di setiap stasiunnya. Stasiun Timbangan dan Emplasmen Sebelum penimbangan tebu-tebu yang diangkut truk diarahkan ke emplasmen untuk mendapatkan nomor antrian. Abu ini akan ditampung dan dijual sebagai bahan pembuatan batu bata. . Gula adalah kristal berwarna putih. sisanya dijual pada pabrik kertas dan sebagai media untuk pertumbuhan jamur. Sesuai analisis P3GI Pasuruan maka produk gula Trangkil termasuk produk SHS 1. Abu Abu merupakan sisa pembakaran ampas yang dihasilkan dari stasiun ketel. Produk Sampingan a. untuk menguruk tanah atau sebagai pupuk organik. Ampas Ampas tebu merupakan hasil samping dari stasiun gilingan.3. Kandungan gula dalam tetes harus serendah mungkin. Pabrik Gula Trangkil memilki 2 emplasmen yaitu emplasmen Kajar dan emplasmen Depan Pabrik. mempunyai rasa manis.4. Blotong Blotong merupakan hasil samping yang didapat sebagai cake yang tertahan oleh filter pada Rotary Vakum Filter (RVF). c. Berikut ini adalah bagian-bagian dalam pengolahan tebu mnjadi gula pasir di Pabrik gula Trangkil: Gambar diagram alir gula 1. Tetes dijual pada pabrik Monosodium Glutamat (MSG) dan pabrik spiritus di Surabaya sehingga memberi nilai tambah. Blotong sebagai bahan buangan dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada pembuatan batu bata.Produk utama Pabrik Gula Trangkil adalah gula kristal tebu. 1. Tetes Tetes merupakan hasil samping dari masakan gula D1 yang memiliki kandungan gula yang sangat rendah. b. d.

Upah tebang yang diberikan kepada penebang disesuaikan dengan yang tertulis di stempel SPTA. A (banyak akar dan slamper). Pabrik Gula Trangkil menggunakan 2 jenis kendaraan yaitu truk dan lori.64 Ha. selanjutnya tebu-tebu tersebut dibawa menuju pabrik untuk dilakukan penimbangan. Berat maksimal pada timbangan barat adalah 60 ton. Emplasmen ini mampu menapung ± 400 truk per hari. Dengan mengurangi berat bruto dengan tarra akan diperoleh berat netto. Kelas-kelas tebangan yang ditetapkan oleh Pabrik Gula Trangkil adalah S (Super. Sebagai sarana transportasi tebu. Setelah melewati stasiun penimbangan.5 Ha. Pencatatan kualitas dilakukan dengan mencatat jenis kotoran yang ada pada tebu ketika dilakukan pembongkaran pada meja tebu.Luas emplasmen Kajar 3. Tebu yang memenuhi persyaratan ini adalah tebu yang manis (masak/tua). truk kembali ditimbang lagi sehingga didapatkan berat tarra. pihak pabrik menetapkan bahwa tebu yang diterima pabrik hanya jika memenuhi syarat MBS. Luas emplasmen depan pabrik 0. M (Medium. mendapat premi Rp. pucukan. C (kotor sekali). Untuk menertibkan antrian truk yang masuk. Banyaknya truk pengangkut tebu yang datang secara bersamaan dalam waktu yang sama mengakibatkan antrian yang terlalu panjang. Pengawasan dan persediaan bahan baku ditangani oleh bagian tanaman seksi tebang angkut. Truk digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun ke pabrik. Berat bruto akan muncul pada layar komputer. 300/ku). Pencatatan nomor kendaraan dan pemberian nomor antrian truk pengangkut tebu yang akan digilingdi pabrik dilakukan oleh petugas emplasemen Kajar. B(banyak bong. Setelah muatan tebu dibongkar. Untuk menjaga kualitas tebu maka pihak pabrik meningkatkan kebersihan tebangan dengan memberikan penyuluhan kepada para penebang. Truk bermuatan tebu dari emplasmen berhenti di atas jembatan penimbangan untuk diketahui berat brutonya. Timbnagan yang digunakan Pabrik Gula Trangkil ada dua timbangan. Lori digunakan untuk menampung tebu sementara sebelum digiling. Setelah ditampung di emlasmen. tapi pemberian stempel SPTA dilakukan oleh mandor yang berada di pos penimbangan ketika dilakukan penimbangan netto. di mana setiap jalur ditempati 2 truk. Timbangan barat sepanjang 16 meter sedangkan timbangan timu sepanjang 9 meter. Pabrik Gula trangkil mempunyai 250 lori namun . blotong dan sebagainya). di emplasemen dibuat semacam jalur / ban berjumlah 32 ban. bersih dari kotoran (slamper. Untuk mengontrol mutu tebangan tebu. R (terbakar). untuk sehari semalam 100 truk datang ke Pabrik Gula Trangkil. yaitu timbangan timur yang digunakan untuk menimbang tebu dengan berat maksimal 50 ton dan timbangan barat yang berfungsi untuk menimbang non tebu (ampas. tebu akan dibawa ke stasiun gilingan. tetes. 600/ku). Jika truk tebu di emplasmen Kajar suda penuh. akar. mendapat premi Rp. maka tebu tersebut dibawa ke emplasmen depan pabrik yang mempunyai daya tampung ±200 truk per hari. Tipe penimbangan yang dioperasikan di Pabrik Gula Trangkl yaitu tipe jembatan timbang. Pencatatan kualitas tebangan dilakukan oleh petugas di dalam kantor pengawasan yang berada tepat di samping meja tebu. dan segar (jangka waktu tebu tertebang sampai masuk gilingan <36 jam). Dalam satu truk kira-kira beratnya adalah 6 ton (dengan tebu). Untuk mengurangi antrian truk digunakan lori sebagai penampung tebu yang akan digiling. dan pucuk). tanah). Emplasmen Kajar terletak di luar pabrik ± 1 km sebelah selatan Pabrik Gula Trangkil. slamper.

d. diharapkan sel-sel dapat terbuka dengan maksimal. Stasiun Gilingan Penggilingan merupakan proses pemerahan nira dari batang tebu. alat-alat dalam persiapan tebu sebelum digiling dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Kelima gilingan tersebut yaitu: 1. Alat ini digerakkan oleh turbin uap. Pada gilingan I.yang digunakan secara aktif untuk mengangkut tebu setiap harinya adalah 150 lori. Meja tebu (Cane Table) Alat ini berfungsi untuk menempatkan dan mengatur tebu yang akan diletakkan diatas cane carrier. b. Pada gilingan ini merpakan penentu nira yang dihasilkan. Terdapat 2 jenis Cane Carrier yang digunakan yaitu Horizontal Cane Narrier dan Inclined cane Carrier. Dengan melihat fungsinya. Besarnya kecepatan rol dikarenakan pada gilingan ini dilakuakn penggilingan yang pertama dari tebu yang masih keras dan menganung banyak nira. Gilingan II . Tebu yang berada di truk atau lori diikat dengan rantai pengikat dengan ujung rantai dikaitkan dengan gerbal. Untuk menggerakkan lori tersebut dibutuhkan sebuah trkator yang menarik lori menuju tempat pengangkutan dan pembongkaran. Unigrator Unigrator berfungsi untuk mencabik dan memukul tebu. Alat Pengangkat Tebu (Crane) Alat ini berfungsi untuk memidahkan tebu dari truk ke meja tebu. karena nira yang dihasilkan pada gilingan ini adalah nira murni 100%. Pisau Tebu (Cane Cutter) Pisau tebu berfungsi untuk mencacah dan memotong tebu. e. Dengan melewati 5 buah gilingan diharapkan nira yang didapatkan maksimal. Setelah terikat dan terkait. Cane cutter ini bekerja dengan maksimal yang dipengaruhi oleh kapasitas pemasukan tebu dan rpm cane carrier. operator menggerakkan tombol motor penggerak III sehingga tebu yang ada di lori/truk terangkat dan tebu diturunkan ke meja tebu dengan posisi sejajar dengan cane carrier. Kemudian rantai dilepaskan dan ditarik ke atas untuk mengangkut tebu lagi. c. Alat penggilingan tebu yang diunakan Pabrik Gula Trangkil ada 5 buah. Cane Carrier Berfungsi untuk membawa tebu ke cane cutter dan unigrator serta ke gilingan (Milling station). Gilingan I Gilingan pertama memiliki jarak antar rol peniling yang masih lebar. rol penggiling bergerak dengan kecepatan antara 3000-5500 rpm dan tekanan hidroliknya 150 kg/cm2. 2. Tujuan pengilingan tebu adalah untuk memerah nira yang terkandung dalam batang tebu sebanyak mungkin dan memisahkan nira dari ampasnya dengan cara digiling. 2. Penyetelan cane cuter disesuaikan dengan kapasitas tebu.

hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan nira yang dihasilkan.50 3. kecepatan antara 300-5500 rpm karena dari gilingan I inilah yang akan berperan penting dalam perolehan nira. Pada proses penggilingan juga dibantu dengan alat IMC (Intermediet Carrier). tebu dari truk atau lori diangkat oleh cane crane kemudian diletakkan di atas meja tebu. 5. Kecepatan rol penggiling berkisar antara 500-1700 rpm dan tekanan hidroliknya 150 kg/cm2. kecepatan IMC untuk masing-masing gilingan sama yaitu antara 150-1480 rpm. Pada roll IV dan V. Pada rol gilngan I. jarak antar rol penggiling lebih kecil daripada jarak antar rol pada gilingan III. TABEL DATA TEKNIS GILINGAN Unit Gilingan I II III IV V Penggerak Turbin Uap Turbin Uap Turbin Uap Turbin Uap Turbin Uap Kecepatan (putaran/menit) 4. rol penggiling mempunyai jarak yang lebih kecil dibandingkan dengan rol penggiling pada gilingan II. Kecepatan rol penggiling pada gilingan III adalah sekitar 500-1700 rpm.80 4. Ampas dimasukkan ke dalam rol penggiling dan ditambahkan air imbibisi berupa nira hasil dari gilingan IV. Kecepatan giling dari rol penggiling pada gilingan ini adalah sekitar 3000-5500 rpm dan tekanan hidroliknya 133 kg/cm2. lalu tebu didorong menuju cane cutter (pisau pencacah). 3. kecepatan rol juga besar antara 300-5500 rpm karena digunakan untuk memaksimumkan pemerasan agar ampas yang dihasilkan sekering mungkin.50 Tekanan Hidrolik (Psi) 2500 2500 2500 2500 2500 Power (HP) 750 750 750 750 750 Sebelum tebu masuk ke penggilingan. Gilingan IV Pada gilingan IV.Pada Gilingan II.80 3. tebu dibawa ke unogrator. Kecepatan gilingan sekitar 3000-5500 rpm. Gilingan III Pada gilingan III. hal ini bertujuan untuk memalksimalan proses pengecilan ukuran.50 4. jarak rol penggiling lebih kecil daripada gilingan I. Selanjutnya tebu di bawa ke carrier datar menggunakan leveler. Gilingan V Rol pada gilingan V merupakan gilingan dengan jarak antar rol yang paling kecil. Setlah dilakuakn pencacahan. Kecepatan minimum unigrator adalah 500 rpm. 4. Perbedaan kecepatan rol giling pada masing-masing gilingan mempnyai tujuan tertentu. Alat ini merupakan alat pengecil ukuran yan bekerja dengan sistem pukulan. Tebu yang melewati unigrator sel-selnya . Tebu yang telah melewati pisau pencach ukurannya berubah menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. Arah putar cane cutter dan unigrator berlawanan.

Selain itu dengan menggunakan unigrator akan meringankan beban kerja gilingan. Tebu masuk ke gilingan I. Sebelum masuk ke gilingan I. ampas tebu yang masih mengandung gula akan dibawa ke gilingan 2. sehingga penyetelan rol berfungsi untuk menghindarkan patahnya rol-rol gilingan yang disebabkan oleh tebal tipisnya ampas yang tidak rata. Pada gilingan 4 dan . GAMBAR SKEMA ROLL Untuk mendapatkan hasil perahan yang sempurna. 1992). Ampas dari gilingan 2 diangkut menuju gilingan 3 untuk diperah lagi niranya. Feeding roll digerakkan oleh rol depan dengan mekanisme rantai. serabut tebu ditambah dengan susu kapur. Kerusakan nira karena pembusukan akan menyebabkan gula sukrosa terkonversi dan berubah menjadi gula invert (glukosa dan fruktosa) yang tidak dapat memadat setelah pengolahan. 4. baik bakteri kapang maupun khamir. Rol Belakang Rol ini sama halnya dengan rol depan. digunakan pompa tekanan hidrolik. Kerusakan nira menjadi masam disebabkan terjadinya proses fermentasi terhadap komponen gula oleh aktivitas mikroorganisme. Setelah melewati gilingan I. Selanjutnya tebu dubawa menuju gilingan I dengan menggunakan carrier miring. atau bahkan menjadi zat asm yang menyebabkan nira menjadi berasa asam. Feeding roll berukuran paling kecil bila dibandingkan dengan ketiga rol lainnya.akan terbelah sehinga nira yangterperah semakin banyak. Penambahan susu kapur berfungsi untuk membunuh mikroorganisme dan menjaga gula agar tidak rusak. Bila nira dibiarkan beberapa waktu tanpa adanya usaha pengawetan. Kerusakan nira pada umumnya ditandai dengan pembentukan asam atau alkohol. maka akan terjadi perubahan susunan kimianya. berbeda hanya posisi dan kerapatannya terhadap rol atas lebih besar. Perubahan ini disebabkan oleh adanya aktivitas mikroorganisme (enzim invertase) terhadao kandungan sukrosanya (Mansjoer. Top Roll Rol ini bersifat dinamis dapat ditekan menggunakan pompa hidrolik perputarannya berlawanan arah dengan jarm jam. Feeding Roll Feeding roll berfungsi sebagai pengumpan atau mendorong ampas tebu masuk ke top roll. Rol Depan Rol ini digerakkan oleh rol atas dengan mekanisme gear sebagai rol statis yang dapat digesergeser dengan putaran searah jarum jam. Alat penggilingan tebu yang digunakan di pabrik Gula Trangkil tersusun dalam satu rangkaian yang berjumlah 4 unit dan untuk setiap unit terdapat 4 buah rol gilingan yaitu: 1. 2. dalam gilingan I terjadi pemerahan sehingga akan didapatkan nira mentah dan ampas. Ampas dari gilingan 3 selanjutnya dibawa ke gilingan 4. berbuih putih atau berlendir. Perubahan atau kerusakan menyebabkan nira menjadi masam. 3. Ampas dari gilingan 4 dibawa ke gilingan 5.

Karena bila menggunakan imibisi yang suhunya terlalu tinggi akan menyebabkan gilingan mudah slip akibat terbentuknya zat lilin sehingga memberatkan kerja di pemurnian. Indikator yang digumakan untuk menentukan kondisi ampas hasil gilingan dengan cara menguji pol dari ampas tersebut. Jumlah air imbibisi yang digunakan sebesar 36% bobot tebu. dan 3 ditampung di bak nira mentah. Proses pemurnian yang digunakan di Pabrik Gula Trangkil adalah proses sulfitasi alkalis kontinyu dengan bahan pembantu proses yang berupa kapur tohor. Indikator yang digunakan untuk menentukan kondisi ampas hasil gilingan adalah dengan cara menguji pol dari ampas tersebut. dll. Proses ini berlangsung dari gilingan 1 sampai gilingan 5. Nira pada bak penampung nira dipompa menuju saringan DSM untuk memisahkan nira dari kotoran seperti ampas. pasir. belerang. Gambar 3. tanah. Suhu imbibisi yang digunakan berkisar antara 60-70oC. Nira . Ampas dari gilingan pertama menuju gilingan selanjutnya diangkut oleh intermediet carier. Nira dari gilingan 4 digunakan untuk imbibisi nira pada gilingan 2. Ampas dari gilingan 5 di[pindahkan dengan baggase conveyor menuju ketel uap yang selanjutnya digunakan sebagai pembangkit tenaga uap dan sebagian ampas yang halus ini dihisap oleh blower dilewatkan melalui saringan halus (baggase separator di mana ampas halus digunakan sebagai campuran mud juice (nira kotor) yang keluar dari Single Tray Clarifier menuju Rotary Vaccum Filer. Pemberian air imbibisi bertujuan untuk mencegah hilangnya gula yang kemungkinan terbawa dalam ampas dan untuk menonaktifkan mikroorganisme. Air yang ditambahkan berasal dari air kondensat evaporator yang masih mengandung nira dan bersuhu 60oC. DSM screen berbentuk miring dan sedikit melengkung. Stasiun Pemurnian Tujuan dari stasiun pemurnian adalah memisahkan kotoran-kotoran yang terdapat dalam nira sehinga menghasilkan nira yang bersih. Sedangkan nira dari perahan dari gilingan 1. Nira dari gilingan 5 digunakan untuk imbibisi nira pada gilingan 3. dan flokulan. 2. Pan Masakan Kapasitas 450 HL di PG Kebon Agung dan PG Trangkil 3.5 terjadi penambahan air imbibisi dengan cara semprotan. kemudian masuk ke donally cute fungsinya untuk mengarahkan ampas menuju gilingan selanjutnya agar tidak berceceran.

Selain untuk menaikkan pH. Setelah melalui defecator nira di pompa menuju SO2 tower untuk dikontakkan dengan gas SO2. sehingga membentuk endapan Ca3(PO4)2. dan membentuk garam kalsium organik.0. Selanjutnya nira masuk ke peti sulfitasi. Di dalam pompa terjadi penambahan susu kapur hingga pH nira 9. Selain itu pada suhu tersebut sebagian koloid akan menggumpal dan membentuk endapan. Gas ini yang berasal dari pembakaran belerang dari sulfur burner. Defecator 2 berfungsi untuk menyempurnakan reaksi dari defecator 1. kotoran akan mudah menggumpal dan terjadi reaksi yang optimal. Endapan ini akan mengikat kotoran-kotoran yang ada dalam nira kemudian diendapkan.8 mm. susu kapur juga berfungsi untuk mengendapkan kotoran yang terlarut dalam cairan nira. Nira pH nya perlu dinetralkan karena bila dalam kondisi basa saat nira dipanaskan akan terjadi pemecahan gula reduksi. Proses sulfitasi merupakan proses penetralan terhadap nira dalam kondisi alkalis dengan menggunakan gas SO2 sehinga pH mencapai 6. Untuk mengetahuo pH nira pada peti sulfitasi nira mentah . nira dipompa dengan pompa. Nira dari saringan DSM Scren ditampung di peti nira tersaring lalu dipompa ke peti nira tertimbang (terukur) dengan flowmeter. ukuran lubang saringan DSM antara 35 x 0. Nira ditambah dengan susu kapur sehingga pH nya netral 7. menetralisir asam organik dalam nira mentah. Setelah itu masuk ke netralizer dan ditambah susu kapur lagi sampai pH 7. Tujuan dari flowmeter adalah untuk mengetahui berapa banyaknya nira mentah yang dihasilkan oleh stasiun gilingan yang akan diproses sehingga dapat ditentukan jumlah kebutuhan bahan pembantu yaitu susu kapur. sehingga dapat diketahui berat nira mentah yang diperoleh dari penggilingan tebu. Pada pH tersebut.5-7. Gas SO2 akan membentuk endapan CaSO3 yang memiliki daya ekstraksi tinggi untuk megikat kotoran dalam nira.2. Pencampuran susu kapur dilakukan secara bertahap dengan tujuan untuk mempermudah pencampuran nira. Nira yang keluar dari heater 1 dialirkan ke defecator 1. Proses tersebut dinamakan proses defekasi.akan melewati lubang-lubang saringan. Nira mentah yang telah ditimbang dan disaring dipanaskan pada Juice heater 1 pada suhu 7580oC. selain itu perubahan pH yang terlalu mendadak akan mengakibatkan perpecahan gula reduksi yang semakin besar. gas SO2. Ion Ca akan mengikat ion fosfat yang terkandung dalam nira.5. Tujuan dari pemanasan 1 adalah untuk membunuh mikroorganisme yang terkandung dalam nira yang dapat menyebabkan kerusakan sukrosa dan mempercepat reaksi susu kapur dengan nira. Jika penambahan susu kapur ditambahkan sekaligus akan menyebabkan pencampuran larutan yang tidak homogen. dan flokulan Flowmeter dilengkapi dengan alat sensor elektronik dan diteruskan ke layar monitor dan diubah ke dalam bentuk digital. Nira dari sulfitasi akan keluar secara overflow (meluber) melalui pipa. Reaksi yang terjadi pada defecator 1 adalah: 2H3PO4 + 3Ca(OH)2 Ca3(PO4)2 (mengendap) + 6H2O Selanjutnya nira dari defecator 1 dialirkan ke defecator 2 dengan penambahan susukapur hingga pH mencapai 8-8. Untuk memanaskan nira pada heater digunakan uap bleeding dari stasiun penguapan jika uap ini tidak mampu memanasi sampai 75oC maka akan menggunakan uap bekas dari turbin atau PLTU. Setelah nira memasuki defecator 2.

Clarifier berfungsi untuk mengendapkan kotoran-kotoran yag terdapat dalam nira mentah tersulfitir dan dihasilkan nira jernih. Floculan yang digunakan Pabrik Gula Trangkil adalah accufloc. Karena pada suhu ini reaksi dapat terjadi secara optimal.digunakan indikator BTB (bromtymol blue). sedangkan pada peti reaksi sulfitasi nira kental digunakan indikator PP (penolphthalein). Pencucian dialakukan dengan pemberian siraman air yang bersuhu ±70oC.2-8. Silinder berputar dengan putaran yang rendah (0. Rotary Vaccum Filter (RVF) adalah alat penapis berupa silinder yang berputar. Drum terus berputar ke atas sampai masuk daerah pencucian. Nira jernih yang keluar dari clarifier dialirkan dalam saringan (Clean juice screen) untuk memisahkan kotoran yang masih terbawa nira jernih.4. Alat ini digunakan untuk menghilangkan gas-gas yang terlarut yang dapat menghambat proses pengendapan serta mengefektifkan pencampuran nira dan floculan. Indikator ini digunakan untuk pH 6. Mekanisme kerja dalam RVF adalah drum bagian bawah terendam nira kotor dan berputar masuk ke daerah tekanan vakum (± 20-25 cm Hg). Selanjutnya nira akan masuk ke bak penampung (raw juice vessel 2) kemudian nira akan dipompa ke heater 2 untuk menaikkan suhunya sampai 100oC-110oC. Nira tapis akan dipompa untuk dimasukkan ke bak nira mentah tertimbang. Nira dari pemanas 2 dipompa ke prefloc tower. Hasil dari RVF berupa nira tapis dan blotong. terjadi proses penguapa gas-gas terlarut yang jika tidak dihilangkan akan mengganggu proses pengendapan dan dapat membunuh mikroorganisme yang belum mati pada pemanas 1. Flokulan digunakan untuk memperbesar densitas partikel sehinga kotoran mudah diendapkan. Tujuan pemberian siraman ini untuk meminimalkan kandungan gula yang .6-7.6 rpm) agar proses pemisahan blotong dan nira tapis berlangsung optimal. Tujuan penambahan ampas halus untuk memperkuat struktur nira kotor sehingga memudahkan pemisahan nira tapis dari dalam nira kotor dan memudahkan penempelan blotong pada rotary vacuum flter. Pemberian ampas halus dari bagacillo separator dilakukan dengan tiupan blower dan masuk ke dalam cyclon separator. Kondisi vakum pada alat ini akan menyerap nira tapis sedangkan padatan berupa blotong akan tertahan di permukaan. sedangkan nira kotor yang memiliki densitas yang lebih besar akan menuju ke dasar clarifier.0. Dalam clarifier akan dipisahkan antara nira jernih dan nira kotor. Selanjutnya campuran ini dialirkan ke Rotary Vaccum Filter.25-0. Nira dan flokulan dicampur kemudian dialirkan ke clarifier untuk diendapkan. Nira jernih memiliki densitas yang lebih kecil sehingga berada di atas. nira yang lolos saringan ditampung ke tangki dunsap dan selanjutnya dipompa ke stasiun penguapan. Sedangkan nira kotor akan dipompa ke mixer nira kotor yang dicampur dengan ampas halus dari bagacillo separator . indikator ini digunakn untuk pH 7. Reaksi kimia yang terjadi adalah: CaO + H2O SO2 + H2O Ca(OH)2 + H2SO3 Ca(OH)2 H2SO3 CaSO3 + 2 H2O CaSO3 merupakan inti endapan yang dapat mengadsorbsi kotoran-kotoran dalam nira mentah.

Blotong mengalami pengeringan dan pada daerah yang tidak ada vacuum terjadi pelepasan blotong dengan cara penyekrapan. Setelah tahap pencucian. Evaporator yang digunakan adalah jenis Robert dengan tipe LongTube. Pada ujung tube cleaner ini dilengkapi dengan sikat baja yang sesuai dengan diameter besarnya pipa pemanas. 8 dan 9 adalah 200 kg untuk luas bidang yang dibersihkan. Bahan kimia yang digunakan adalah soda flake dengan dosis untuk evaporator 1 dan 2 adalah 300 kg. Agar nira bisa mengalir dari badan pertama ke badan selanjutnya. Blotong jatuh ke bak truk kemudian dibawa ke lahan pembuatan pupuk organik. Sebab-sebab terjadinya kerak karena reaksi lanjut yang rjadi di badan penguap serta adanya kenaikan konsentrasi dari zat-zat penyebab terjadinya kerak sehingga zat-zat tersebut cenderung bersedimentasi pada pipa pemanas. Pabrik Gula Trangkil mempunyai dua buah flexe tube cleaner yang digunakan untuk pembersihan secara mekanis. Di samping itu juga digunakan sikat baja yang digerakkan secara manual dengan menggosokkan sikat sepanjang lubang pipa pemanas ke bawah dan ke atas. untuk evaporator 3 dan 4 adalah 250 kg. dan untuk evaporator 7. untuk evaporator 5 dan 6 adalah 300 kg.6 %. Pada stasiun penguapan di Pabrik Gula Trangkil mempunyai 10 evaporator. drum berputar masuk ke daerah tekanan vakum tinggi (±40-45 cm Hg) sehingga larutan nira dalam kotoran terisap dan kotoran menjadi kering (blotong). Pol blotong berkisar 1-2. Setiap akan ganti pan dilakukan masak soda (NaOH) yang berfungsi untuk menghilangkan kerak pada pan. Untuk mendapatkan kapasitas penguapan yang tinggi dan konstan maka kebersihan setiap badan penguapan maupun secara keseluruhan maka dilakukan pergiliran pembersihan berdasarkan kecepatan pengotoran dari tiap badan. Dalam proses pemberian kerak digunakan bahan kimia dan alat pembersih. Hal ini dilakuakn untuk mempermudah proses kristalisasi pada pan masakan.terdapat dalam blotong. Penggunaan steam hanya untuk memanaskan pre-evapoator dan evaporator satu. sikat berputar masuk ke dalam lubang pipa pemanas dari ujung atas sampai ujung bawah. Tujuh buah badan digunakan untuk proses dan tiga badan sebagai cadangan. Nira encer memiliki brix 12-16 dikentalkan sehingga mencapai nilai brix 60-70. Penguapan di Pabrik Gula Trangkil dialakukan dengan sistem Quintiple effect adalah dengan pemakaian satu badan pre-evaporator dan enam badan evaporator yang disusun secara seri. Kerak merupakan kotoran yang menempel pipa pemanas yang mempunyai sifat menahan transfer panas. Stasiun Penguapan Tujuan dari penguapan adalah mengurangi kadar air dalam nira encer sampai diperoleh nira dengan kekentalan tertentu. Evaporator yang disusun secara seri memiliki kelebihan dalam penghematan penggunaan steam dibandingkan dengan menggunakan evaporator tunggal. Tube cleaner digerakkan oleh motor listrik dengan rpm 1400. 4. . sedangkan evaporator selanjutnya dipanaskan oleh uap yang dihasilkan evaporator sebelumnya. Penguapan ini dilakukan pada kondisi vakum agar sukrosa yang terkandung dalam nira tidak rusak.

Pre-evaporator bertujuan untuk mempersiapkan nira mendekati titik didihnya pada badan evaporator 1. Penambahan energi ini dilaksanakan dengan perantara panas.2 kg/cm2. Uap air selanjutnya akan dibawa ke kondensor yang disebut Barometrik Kondensor. Jika nira terlalu kental maka perlu penambahan air panas . akan dipisahkan antara nira yang terkandung dalam uap dengan uap air. Uap nira dari pan akhir akan disedot vacum menuju multi buffer tank. Nira kemudian dipompa ke badan evaporator 1 menggunakan pompa sirkulasi.2 kg/cm2 dengan suhu sebesar 110oC. Suhu dari badan pre-evaporator ini adalah sebesar 125o dengan tekanan 0. Alat ini digunakan untuk mengkondensasi . Oleh karena itu evaporator badanterakhir harus dikondisikan vakum dengan pompa vakum. begtu seterusnya sampai badan evaporator akhir. Suhu pada badan evaporator akhir ini sebesar 90o dan suhu dari nira yang dihasilkan adalah 80oC. suhunya sama dengan suhu di badan pre-evaporator yaitu 125oC.maka tekanan di dalam evaporator satu harus lebih tinggi dibandingkan dengan evaporator kedua.1 kg/cm2. Nira hasil penguapan di badan evaporator 2 mengalir ke badan evaporator 3 untuk diupakan lebih lanjut. Uap nira yang dihasilkan dari pre-evaporator akan digunakan dalam proses masakan. Uap yang diperoleh digunakan sebagai pemanas di evaporator 4. dan seterusnya. Pada multi buffer tank. jika nira terlalu encer maka akan menghasilkan buih yang sangat banyak.8 kg/cm2. Penguapan di badan evaporator 3 menghasilkan uap nira yang bersuhu sekitar 70o dan tekanan vakum sebesar 20-25 cmHg. Di dalam badan evaporator 1.2 kg/cm2 dengan suhu 110OC. karena jika nira terlalu kental akan mempersulit dalam proses kristalisasi. Penguapan di badan evaporator 4 menghasilkan uap nira dengan tekanan vakum 57-60 cmHg dengan suhu 60oC. Uap panas pada badan evaporator 3 ini berasal dari badan evaporator2 dengan suhu antara 90oC-95oC dan tekanan 0. Perpindahan panas dapat terjadi dari suatu tempat ke tempat lain bila ada daya dorong. serta penambahan energi pada molekul-molekul penyusun zat cair agar mudah berubah menjadi molekul-molekul uap dan gas. Pompa sirkulasi dimaksudkan untuk menjaga laju nira ketika terjadi perubahan tekanan pada evaporator. hal ini akan menggangu proses pemasakan. Namun. Nira dari stasiun pemurnian akan mengalir menuju ke tangki pre evaporator ini. Uap untuk badan evaporator 1 diperoleh dari uap bekas dari gilingan juga. Nira yang dihasilkan dari bada evaporator 2 ini mempunyai suhu sebesar 90oC-95oC dengan tekanan 0.1 kg/cm2. Uap nira dari badan evaporator 1 ini akan digunakan sebagai uap untuk memanaskan nira pada badab evaporator 2. Uap yang digunakan merupakan uap bekas yang berasal dari proses gilingan. Selanjutnya nira dari badan evaporator 3 mengalir ke badan evaporator 4 untuk diuapkan lagi dengan uap hasil badan evaporator 3 dengan tekanan vakum 20-25 cm Hg dan suhu kira-kira 70oC. Nira dari badan evaporator 4. di dalam tangki ini terdapat 7000 lubang tempat keluarnya nira nantinya. besarnya arus panas sesuai dengan besarnya perbedaan suhu. Kekentalan nira yang dihasilkan antara 25-30 Be. sehingga suu dan tekanan uap di bada evaporator 2 sama dengan suhu dan tekanan nira di badan evaporator 1 yaitu 105oC-110oC dan 0. Uap nira yang dihasilkan sebesar 0. Sedangkan uap nira yang dihasilkan sebesar 0.5-0. akan masuk ke badan evaporator 5. Daya dorong perpindahan panas adalah perbedaan suhu.

Air kondensat dari pre-evaporator . Badan evaporator nomor 3 dan 4 adalah 1500 cm3. Tekanan vakum bertujuan untuk menurunkan titik didih nira emcer. 2. Kontak antara uap dengan air injeksi akan menyebabkan kondensasi. Badan evaporator nomor 8 dan 9 adalah 700 cm3. Proses penguapan yang terjadi dari preevaporator sampai evaporator badan akhir menguapkan air sebanyak 70%. Uap air dar kondensor selanjutnya akan digunakan untuk air injeksi. Dengan adanya tekanan vakum maka akan terjadi beda tekanan antara evaporator badan akhir dengan kondensor. Air jatuhan ini kemudian didinginkan dengan cooling tower /cooling pond hingga suhunya mencapai 36-38oC lalu disirkulasikan kembali menjadi air injeksi. Gula yang dipanaskan pada suhu tingi pada tekanan atmosfir akan merusak nira dan akanmembentuk karamel yang berwarna coklat tua sehingga dapat mengganggu proses di stasiun masakan. evaporator 1 dan evaporator 2 dialirkan ke ketel untuk menjadi feed boiler (air pengisi ketel sedangkan air kondensat . Badan evaporator nomor 6 adalah 1100 cm3. Jack nozzle sebagai tempat penyimpan perputaran air soda (NaOH). 5. 4. Kapasitas untuk masing-masing pan evaporator adalah: 1. Badan evaporator nomor 10 adalah Pada ruang evaporator terdapat pipa pelepas yang disebut sebagi pipa amoniak dan jack nozzle. Tekanan dalam barometrik Kondensor dibuat vakum 60-64 cmHg. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi terjadinya karamelisasi adalah dengan cara mengkondisikan penguapan pada tekanan rendah atau vakum sehingga dapat menurunkan titik didih air dan mempercepat proses penguapan air. Proses penguapan nira dilakukan pada suhu yang rendah dan tekanan vakum untuk mencegah kerusakan sukrosa selama pemasakan karena sukrosa mempunyai sifat tidak tahan panas. Pipa pelepas ini berfungsi untuk melepas gas-gas selain steam sehingga dapat menghindari penghambatan aliran steam. Badan evaporator nomor 7 adalah 900 cm3. 7. Sedangkan yang memiliki pH lebih dari 7 disebut air bersih. Air yang keluar dari kondensor disebu dengan air jatuhan yang memiliki suhu ± 50oC. Badan evaporator nomor 5 adalah 1250 cm3.sehingga akan terjadi aliran uap dari evaporator ke kondensor. 6. Jika aliran steam lancar maka pemanasan terhadap nira bisa merata. Sedangkan nira akan ditampung dalam tangki verklyker dan selanjutnya akan dibawa ke stasiun putaran untuk dilebur.. Badan evaporator nomor 1 dan 2 adalah 2500 cm3.uap dari badan evaporator yang terakhir. selnjutnya akan dibawake tangki 1000 kemudian ke ketel. Proses penguapan nira dilakukan pada suhu yang rendah umtuk mencegah kerusakan gula. Selanjtnya air jatuhan akan didinginkan dengan cooling tower hingga suhu 36-38oC lalu disirkulasikan kembali sebagai air injeksi. 3. Air kondensat yang memiliki pH kurang dari 7 disebut air kotor yang masih mengandung gula yang selanjutnya akan digunakan untuk ar gilingan. Aliran uap nira pada Barometrik Kondensor masuk dari samping bawah. Air yang keluar isebut juga air jatuhan dengan suhu 55oC. Air kondensor dihasilkan oleh semua evaporator. sedangkan air pendingin (air injeksi) dengan suhu ± 40oC masuk dari atas.

nira akan masuk ke peti penampungan. Nira kental hasil sulfitasi kedua dialirkan ke bak nira kental (NKL). air pencuci pada stasiun masakan dan putaran.6. kemudian dengan pipa absorber. Proses pemberian gas SO2 ini bertujuan untuk mereduksi zatzat pembentuk warna dengan mengubah ikatan ferri (Fe3+) menjadi ferro (Fe menjadi ± 5. Setelah dari badan evaporator akhir. selain ukuran tersebut gula akan kembali dilebur. Dengan proses sulfitasi 2 iini akan dihasilkan dua macam nira yang akan dipisahkan salam dua peti penampungan. Prinsip dari stasin masakan adalah menguapkan kembali air di dalam nira hingga mencapai kondisi lewat jenuh.9 mm. Gula SHS yang inin diproduksi Pabrik Gula Trangkil berukuran 0. . Di dalam bejana sulfitasi terdapat sekat-sekat berupa sarangan yang berfungsi untuk meatakan pencampuran nira kental. Nira kental yang berasal dari badan evaporator berwarna coklat karena selama proses penguapan berlangsung.5. Nira pertama akan mengalami pemasakan sedangkan nira kedua akan bersirkulasi kembali mengalami sulfitasi. Dalam peti penampungan nira ini.2. Untuk mengurangi intensitas warna pada nira kental dari hasil penguapan diberikan gas SO 2 pada sulfitasi nira kental yang berfungsi untuk memucatkan warna nira sehingga didpaatkan nira yang putih dan juga menurunkan pH menjadi sekitar 5. Dengan kondisi lewat jenuh molekul sukrosa menjadi berdekatan dan saling melekat sehingga membentuk gugus kristal. nira akan dipompa masuk ke dalam absorber untuk dicampur dengan flokulan dan kenudian disulfitasi kembali dengan mencampur nira bersama SO2. terjadi reaksi-reaksi yang akan menimbulkan proses pergerakan dan pembentukan zat warna. Nira yang dihasilkan dari stasiun penguapan dipompa dan ditampung di peti nira kental I menuju ke bejana sulfitasi nira kental. nira pertama akan bercampur lagi dengan klare. Stasiun Kristalisasi Stasiun ini bertujuan untuk mengubah nira kental menjadi kristal dengan ukuran yang seragam dan sesuai yang diinginkan.dari evaporator 3 dan 4 digunakan sebagai ami imbibisi pada gilingan. Nira yang keluar dari peti sulitasi. 2+ ) sehingga pH nira 5.4-5. nira kental disebut nira kental tersulfitir yang akan ditampung pada peti nira kental II untuk dimaskkan ke dalam pan-pan masakan Dalam bejana sulfitasi ini nira kental dialiri gas belerang dioksida (SO2) secara kontunyu hingga mencapai pH 5.

Masakan D1 Bahan masakan: pecahan D2 + klare D 4. dengan pembagiannya adalah 8 pan masakan untuk masakan A dan 4 pan masakan untuk masakan D. Pada puteran kontinyu ini.Pabrik Gula Trangkil untuk saat ini memilik 12 pan masakan. Saringan yang terdapat pada puteran kontinyu ini ada dua lapis. b. Pabrik Gula Trangkil memiliki 2 jenis puteran. Ada alt pemantau unuk ketebalan gula yang masuk. jika ketebalan sudah maksimal maka . sehingga larutan akan lolos menembus saringan dan kristala akan tertekan disaringan. Penyaringan dilakukan dengan menggunakan kekuatan putaran. Lapisan II berfungsi untuk menahan saringan pertama. dan tetes dengan gaya sentrfugal. Masakan A Bahan masakan: PDC-D + NKL 2. pemasukan massecuite dilakukan secara terus menerus. Masakan CVP Bahan masakan: pecahan D2 + klare D + stroop A + air Proses masakan saat awal giling dimulai dari masakan A. dan klare SHS. Proses pemasakan yang dilakukan di Pabrik Gula Trangkil berjalan dengan sistem dua tingkat pemasakn (AD). Putan discontinyu yang dipakai sekarang ini berjmlah 2 buah. stroop A. Siraman saringan ini dilakukan dengan menggunakan air panas 100 oC. karena saringan pertama terbuat dari bahan yang lebih tipis sehingga mudah rusak. Kemudian dari stroop A dan klare SHS dihasilkan masakan D dan tetes. Continue Centrifuge Continue centrifuge terdiri atas putaran D1 dan D2 yang bekerja dengan putaran 2200 rpm dengan kapasitas masing-masing puteran sebesar 15 ton per hari. Urutan proses pemutaran pada alat ini adalah sebagai berikut: a. Pada tingkat pertama terbentuk masakan A yang menghaslkan gula A. Pemasukan Gula Pemasukan gula melalui alat yang dinamakan Filter. Pemisahan antara larutan dengan kristal maskan dilakuakndengan cara menyaring. Pada puaran ini sudah menggunakan alat sentrifugasi yang modern dengan bantuan komputerisasi atau otomatisasi. Untuk masakan A. yang dipakai hanya 7 pan masakan saja. Lapisan I memiliki diameter lebih kecil (cover screen) dan lapisan II memiliki lapisan lebih besar. Alat putaran dilengkapi dengan saringan di dalamnya. 2. Siraman Saringan Siraman saringan dilakukan untuk membersihkan saringan dari sisa gula sebelumnya. Stasiun Puteran Stasiun putaran bertujuan untuk memisahkan kristal gula dari stroop atau klare. yaitu: 1. Pada saat gula masuk maka kecepatan akan berkurang. Discontinue Centrifuge Pemutar discontinue digunakan untuk memutar gula A menjadi SHS. 1. Masakan D2 Bahan masakan: stroop A + klare SHS + Fondan 3. Proses memasak nira dimulai 1 6.

Siraman B Siraman B digunakan untuk mengeluarkan klare pada gula. Pengeringn bertujuan untuk mengurangi kadar air gula yang dihasilkan sampai batas tertentu. maka bandul tersebut akan menyentuh saklar yang otomatis akan membuka pintu menuju bak kedua dan untuk sementara akan menutup pintu masuk tetes pada bak pertama. Gula SHS dari putaran SHS turun ke talang getar (Vibrating conveyor) selanjutnya masuk ke alat pengerng gula (vibrating sugar dryer) untuk pengeringan lebih lanjut. kemudian tetes juga akan diaduk-aduk agar tetes tidak mengeras. Kapasitas tampung dalam satu alat dalam sentrifugasi ± 1. Stasiun Finishing Pada stasiun ini merupakan akhir dari proses pembuatan gula. Jika tetes dalam bak pertama penuh. demikian proses terjadi terus menerus. waktu penyiraman dan kecepatan penyiraman bisa berubah-ubah tergantung pada jenis gula yang masuk. Pada alat pengering ini memiliki 6 buah blower. Tetes pada bak kedua akan mengalir melalui pipa yang kemudian akan dipompa meuju ke tangki-tangki tetes.akan secara otomatis menutup lubang keluar nira. Siraman A Siraman A adalah siraman air panas dengan suhu 100oC untuk mengeluarkan stroop. e. . Pabrik Gula Trangkil mempunyai 3 buah tangki penampungan tetes yaitu tangki 1. amka gula SHS yang dihasilkan akan tuun ke vibrating conveyor. Jika bak pertama sudah habis maka pintu penghubung bak pertama dan kedua akan tertutup dan pintu masuk tetes ke bak pertama akan terbuka sehingga tetes dapat mengisi bak pertama kembali. Jika bak pertama sudah penuh maka akan membuka pintu untuk mengalirkan tetes menuju bak kedua. Gula SHS yang turun dari putaran masih mengandung banyak air sehingga perlu dilakuakn pengeringan agar kadar airnya berkurang.3 ton (termasuk berat air dan tetes serta gula). kedua bak tersebut saling berhubungan. Kecepatan putarannya 1000 rpm. blower 1-4 digunakan sebagai pengering dan nomor 5-6 digunakan sebagai pendingin. Tetes yang dihasilkan akan ditampung dalam dua buah bak yang saling berhubungan. Sebelum gula diturunkan. Lama pengisian gula pada umumnya kurang lebih 10 detik. Siraman Uap Siraman uap digunakan untuk membuat gula menjadi lebih kering. d. Pengerukan Gula Hampir keseluruhan alat ini digerakkan oleh kompesor kecuali putaran yang digerakkan oleh motor. 7. Prinsip yang digunakan adalah dengan penggunaan bandul sebagai petunjuk kenaikan tetes. f. 2. gula dikeringkan dengan steam selama 30 detik. Setelah satu proses putaran selesai. Tujuan dari tahapan ini adalah menyelesaikan lebih lanjut gula SHS yang dihasilkan dari stasiun puteran. Waktu standar penyiraman A adalah 18 detik. c. Tetes ini akan ditambah dengan air panas agar tetes tidak mengental dan memudahkan kerja pompa. Ada dua buah bak penampungan tetes sementara. dan 3.

yaitu saringan kasar yang ditempatkan pada bagian atas dan saringan halus yang ditempatkan pada bagian bawah.000 ku : 40. Gudang A1 2. Agar tumpukan sak tidak rusak. jika berat gula masih kurang maka aan dilakukan penambahan gula lagi. Gula produk dikemas dalam sak (karung plastik) dengan kapasitas 50 kg/. maka tumpukan sak diatur maksimal 55 tumpuk. dan produk. Setelah dikeringkan. Gula prodk akan dikeluarkan melalui ujung saringan kemudian ditampung dalam silo dan siap untuk dikemas. Untuk penyimpanan Pabrik Gula Trangil mempunyai empat gudang untuk penyimpanan gula. Gudang yang masih aktif dipakai yaitu gudang A1 dan A4. Gudang di pabrik Gula Trangkil diatur dengan temperatur rata-rat 28oC dengan kelembaban 78%. gla yang turun dar silo diatyr beratnya secara otomatis (±50 kg) kemudian dilakuakn penimbangan lagi untuk mengetahui berat sesungguhnya. . Kerusakan sak biasanya terjadi akibat tersangkut belt conveyor. Pabrik Gula Trangkil memiliki dua silo yang dibatasi oleh sekat. Kemudian dismprot dari bawah belt yang berpori. Gydang A4 : 80. Gudang A3 4.000 ku Sebagai tempat untuk menyimpan gula produksi gudang memiliki syarat-syarat tertentu untuk menjaga mutu gula. Dengan naiknya kadar air gula dalam karung akan menyebabkan gula menjadi lumer atau menjadi cair sehingga memudahkan mikroorganisme menguraikan gula tersebut. Silo kedua terletak di bawah belt konveyor.000 ku : 20. Gula halus dan kasar yang dihasilkan dimasukkan ke melter untuk dilebur dengan nira verklyker dan nira tumpahan dari putaran kemudian di recycle ke peti NKL untuk diproses lagi. dan memudahkan dalam perhitungan. Gula dalam silo akan dikemas. Gula kasar akan tertahan pada saringan bagian atas sedakan gula halus akan lolos dari saringan di bawahnya. Selain itu pemberian lapisan plastik juga berguna untuk mencegah kotoran masuk. Gudang harus bisamelindungi gula dari panas dan hujan.Blower akan menghisap udara luar dan megalirkannya melalui pipa-pipa yang selanjutnya akan ipanaskan dengan uap. Di dalam sak dilapisi dengan plastik kedapudara yang terbuat dari bahan polietilen yang berfungsi untuk menjaga kelembaban gula yaitu mencegah uap air masuk ke dalam karung yang dapat mengakibatkan kadar air gula dalam karung naik.karung. Suhu gula di dalam karung diusahakan berkisar 30-35oC. sedangkan dua gudang yang lain dalam masa perbaikan. Kapasitas masing-masing gudang adalah sebagai berikut: 1.gulanSHS dibawa oleh bucket elevator menuju ke vibrating screen untuk memisahkan gula halus. Gudang A2 3. tujuannya adalah unuk menampung gula yang belum jatuh ke silo pertama akibat gulanya masih menempel di belt konveyor. Tujuan dari pengemasan gula adalah melindungi gula agar tidak mudah rusak. Saringan getar (vibrating screen) terdiri dari 2 buah saringan. Selanjutnya karung gula dijahit dan dibawa ke gudang penyimpanan menggunakan belt conveyor. gula kasar.000 ku : 145. Dua buah gudang aktif pakai. memudahkan dalam pengangkutan.

Limbah gas berasal dari asap ketel pembakaran yang tidak sempurna akan menghasilkan jelaga. . maka sak terebut akan ditambah gula kembali. Terbawanya minyak pelumas atau bahan bakar dari air buangan. di dalam proses pengolahan terssebut akan menghasilkan limbah. pada ketel dilengkapi dust colector dan cyclon yang dapat memisahkan partikel dari gas dengan cara memaskkan aliran gas menurut gerakan rotasi dan membentuk vorteks sehingga menimbulkan gaya sentrifugal yang akan melempar partikel secara radial ke arah dinding cerobong. Limbah padat yang dihasilkan berupa ampas dan blotong. UPLC (Unit Pengolahan Limbah Cair) Limbah cair merupakan sisa hasil produksi suatu industri yang mengandung bahan-bahan kimia yang cukup berbahaya. Air pendingin mesin pabrik. Air pendingin ketel. dan gas.Jika kerusakannya sudah banyak maka akan dilakukan oper sak. Apabila rusk dan beratnya kurang dari 50 kg. Begitu pula dengan Pabrik GulaTrangkil yang mengolah tebu menjadi gula kristal. Air pembersih ketel. e. Larutan gula dari pipa-pipa yang langsung masuk ke selokan. limbah cair perlu diolah terlebih dahulu untuk mengurangi atau menghilangkan kandungan kimia berbahaya. IMBIBISI PENGOLAHAN LIMBAH Setiap jenis industri tentunyaakan menghasilkan suatu limbah di dalam proses pengolahannya. Oleh karena itu. Untuk mengatasi hal tersebut. d. Oper sak dalah kegiatan penimbangan ulang dalam sak. Limbah yang dihasilkan oleh industri gula Pabrik Gula trangkil terdiri dari limbah padat. sehingga limbah tersebut dapat menjadi air yang dapatdimanfaatkan kembali dalam proses produksi di industri. Pabrik Gula Trangkil memiliki UPLC (Unit Pengolahan Limbah Cair). Pengolahannya seperti yang sudah dijelaskan pada produk sampingan. Air cucian evaporator. Sedangkan untuk pengolahan limbah cair. c. f. cair. Limbah cair yang dihasilkan pabrik Gula Trangkil berasal dari : a. b. g. Air injeksi kondensor. Pabrik Gula Trangkil memiliki Unit Pengolahan Limbah Cair (UPLC) yang bertujuan untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan dalam proses pembuatan gula di mana limbah tersebut mengandung bahan-bahan kimia berbahaya.

BOD ditentukan dengan jumlah oksigen yang dibutuhkan dalam 5 hari oleh suatu sampel pada suhu standar 200oC. berarti pencemaran yang terjadi dalam tingkat rendah. Secara prinsip sebagaian besar zat organis akan dioksidasi oleh K2Cr2O7 dalam keadaan asam mendidih. d. e. disimulasikan melalui proses penguraian polutan dari molekul besar menjadi lebih kecil secara alami. maka BOD akan meningkat akibat proses bio-kimia yang lebih cepat. Sebagai akibatnya adalah oksigen terlarut dalam air akan menurun (disini tingkat DO rendah). Bahan organik dipisakan menjadi sel dan padatan melalui pengendapan. BOD adalah parameter yang berguna karena nilainya ditentukan melalui proses alami yang terjadi didalam air. Pemisahan air berpolutan. Mengganti penggunaan Pb asetat dengan Al sulfat pada analisis gula. Melalui pengisian udara secara alami akan mempercepat DO menjadi normal kembali. b. Jika kadar COD rendah. dan reaksi berlangsung selama ± 2 jam. Minimisasi limbah. H2O. Limbah yang membusuk lebih cepat akan lebih banyak membutuhkan oksigen untuk penguraian limbahnya. Penanganan limbah cair secara internak dilakukan dengan: a. dengan harapan jumlah limbah yang dihasilkan sekecil mungkin dan kadar polutan sekecil mungkin sehingga diharapkan tidak mencemari lingkungan. Jika suhu dinaikkan. Daur ulang polutan yang bisa diproses. Lumpur aktif yang mengendap akan dimasukkan ke kolam aerasi untuk membantu kerja mikroorganisme dalam kolam aerasi. Kebutuhan oksigen bio-kimia (BOD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk penguraian (proses oksidasi) polutan dalam air dengan cara bio-kimia. c. . dan energi dengan menggunakan mikroba aerob yang dibantu oleh oksigen. hal ini berarti bahwa pencemaran yang terjadi berada dalam tingkat yang rendah. Sedangkan penanganan limbah secara eksternal dilakukan dengan melewatkan air berpolutan lewat UPLC. Bahan kimia (oksidator) K2Cr2O7 banyak digunakan sebagai sumber oksigen dalam pengujian di laboratorium. Sedangkan sisa bahan organik akan dikeringkan di dalam bak pengering yang berisi pasir sehingga menjadi limbah padat yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kompos. Penanganan limbah cair dilakukan dengan dua cara. yaitu secara internal dan secara eksternal. yaitu dengan menambah bahan kimia peng-oksidasi pada polutan. Pencegahan masuknya polutan padat ke air. Apabila BOD rendah. Prinsip sistem aerasi lanjut yaitu menguraikan polutan organik menjadi CO2. UPLC di Pabrik Gula Trangkil ini pengolahannya dilakukan dengan aerasi lanjut (SAL/PSUL 93-3). Kebutuhan oksigen kimia (COD) adalah jumlah oksigen (mg O 2)yang diperlukan untuk oksidasi komponen-komponen polutan (organis) dalam air dengan cara kimia. Angka COD akan menjadi ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara alami dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air.Prinsip yang digunakan dalam mengolah limbah cair di pabrik Gula Trangkil ini adalah dengan mengukur kadar polutan bahan organik meggunakan parameter BOD (Biochemical Oxigen Demand) dan COD ( Chemical Oxigen Demand). maka jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengurai polutan juga rendah. Pada pengujian laboratorium BOD.

Efluent dipompakan ke bak pengendapan I dan II dengan aerasi. Pengolahan limbah air di UPLC ini dilakukan dengan cara memasukkan limbah yang baru datang (influent) dari pabrik ke dalam bak equalisasi yang dilengkapi dengan penyaring minyak agar minyak tidak ikut masuk ke kolam aerasi dan ditampung tersendiri di bak penampung khusus. Dari bak aerasi II mengalir melalui atas ke bak aerasi III. diambil sebanyak 1m3 lalu dimasukkan ke dalam bak mikroba II. Setelah itu. Endapan hasil penyaringan dijual sebagai pupuk kompos. 2. maka bakteri pereduksi akan mati. Air hasil aerasi ditampung di dalam kolam ikan. air limbah mask ke bak aerasi I (16 m3 berbakterisasi). Proses pembiakan bakteri ini antara lain: 1. artinya air libah di bak aerasi I mengalir melalui bagian bawah ke bak aerasi II. Hasil aerasi berupa air (supernatan) dan endapan lumpur aktif. bahan-bahan organik dan bakteri yang mati. Begitu seterusnya setiap bak aerasi mempunyai aerator sebagai penyuplai oksigen. Pengolahan limbah di UPLC ini membutuhkan waktu ± 20 jam. Efluent dari proses aerasi berupa air (supernatan). Biakan ini dikembangkan menjadi volume 2m3 dengan cara menambahkan 1m3 air dengan campuran bahan yang sama. Endapannya masuk ke dalam bak penyaringan. Dalam Bak Mikroba II Dari bak mikroba I. Sirulasi berbentuk gelombang. . inokulum dari bak mikroba II dimasukkan ke dalam bak aerasi. kerikil. Fungsi lain dari bak equalisasi adalah untukmenstabilkan pH limbah menjadi 7-8 dengan menambahkan NaOH jika limbah cair bersifat asam. Dalam Bak Mikroba I Di dalam bak mikroba I ini. Fungsi dari bak equalisasi adalah untuk menurunkan suhu sehingga kurang dari 35oC. lalu ditambah 3 kg gula sebagai sumber karbon. Untuk sumber protein digunakan 1 kg ZA dan sebagai sumber hara ditambahkan pula 0. Di dalam bak penyaringan terdapat batu kali. Jumlah bak equalisasi di dalam sistem UPLC ini adalah 4 buah. Kemudian campuran ini diaerasi selama 24 jam sehingga menjadi biakan bakteri. Hasil equalisasi.5 kg TSP. Setelah itu dikembangkan lagi menjadi 16 m3 dengan cara menambahkan lagi 8m3 air dengan bahan campuran yang sama seperti sebelumnya. Kemudian dikembangkan menjadi 8m3 dengan cara menambahkan 7m3 air dengan bahan yang sama seperti bak mikroba I. Uji pH dilakukan dengan menggunakan indikator pH universal. ijuk dan pasir sebagai penyaring endapan menghasilkan efluent yang dapat masuk ke kolam ikan. 1 kg bakteri kering ditambah dengan 1m3 air.Mikroorganisme yang digunakan dalam SAL adalah bakteri Inola 221 jenis Isopilik. Air limbah bersirkulasi dari bak aerasi satu ke bak aerasi lain. Hal ini dilakukan karena apabila suhu lebih dari 35oC.