Anda di halaman 1dari 1

Transmisi gerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia telah menghasilkan gerakan dakwah yang dikenal dengan gerakan tarbiyah (Rahmat

, 2005). Gerakan Ikhwanul Muslimin adalah sebuah gerakan Islamisme atau gerakan yang menganggap Islam tidak hanya sebagai agama tetapi sekaligus ideologi politik (Roy, 1992). Gerakan tarbiyah muncul sejak tahun 1970-an dengan pusat perkembangan utamanya adalah di kampus-kampus dan sekolah-sekolah dan terus berlangsung hingga sekarang. Sistem pembinaan pengkaderan gerakantarbiyah seperti halaqah (biasa disebut liqa’ atau mentoring), rihlah, amal ‘jamai (kerja kolektif), mukhayyam (berkemah) telah mengakar dalam pembinaan kader lembaga dakwah sekolah dan kampus. Setelah Soeharto lengser tahun 1998, gerakan tarbiyah berkembang menjadi partai politik Islam dengan mendirikan Partai Keadilan (PK) yang kemudian berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tahun 2001. Meski telah bertransformasi menjadi partai politik, metode pembinaan yang digunakan PKS tetap mengacu pada sistem pengkaderan dakwah tarbiyah yang telah mengakar di sekolah dan kampus tersebut. Bahkan PKS sendiri secara resmi menjadikan lembaga dakwah kampus (LDK) dan lembaga dakwah sekolah (LDS) sebagai sumber rekruitmen peserta tarbiyah yang dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga dakwah tersebut (Tim Kaderisasi PKS, 2003). Secara tidak langsung suksesnya perkembangan dakwah tarbiyahdi sekolah dan kampus telah memberikan keuntungan politik bagi PKS yaitu dukungan kader tarbiyah terhadap PKS dengan pencitraan partai dakwah. Fenomena transformasi gerakan tarbiyah menjadi partai politik menjadi menarik diamati karena Ikhwanul Muslimin sebagai sumber ideologi tarbiyah sangat menekankan pentingnya sebuah negara Islam atau khilafah Islamiyah. Hal ini merupakan karakter orisinil pemikiran tokoh Ikhwanul Muslimin yang salah satunya adalah pemikiran Sayyid Quth yang buku-bukunya sering dirujuk oleh gerakan tarbiyah. Namun nyatanya, gerakantarbiyah mendirikan suatu partai politik yang terlibat dalam sistem demokrasi yang sejatinya bersifat sekuler dan menunjukkan penerimaan terhadap bentuk negara Indonesia berdasarkan Pancasila. PKS menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah bentuk negara yang ideal dan tidak bisa diganggu gugat (Sembiring, 2007).Pernyataan Sembiring tersebut menginformasikan bahwa PKS tidak akan melakukan usaha mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Disinilah dapat dilihat kontradiksi perilaku politik PKS dengan ideologi dakwah Ikhwanul Muslimin atau tarbiyah. Di satu sisi dakwah menghendaki pendirian negara Islam tetapi disisi lain dalam pernyataan politiknya partai tidak menunjukkan usaha perwujudan hal tersebut.