Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Krisis energi merupakan salah satu masalah yang sedang dihadapi oleh beberapa negara di dunia saat ini, permasalahan tersebut membuat berbagai pihak khawatir akan ketersediaan bahan bakar yang berasal dari fosil, lama kelamaan bahan bakar menjadi mahal dan langka. Lebih-lebih di indonesia akhir-akhir ini dilanda isu kenaikan harga bahan bakar minyak 1 april 2012 yang di masih ditunda oleh pemerintah turut meresahkan masyarakat. Dalam rangka menekan penggunaan bahan bakar berbasis energi fosil maka berbagai upaya telah dikembangkan terutama di sektor energi alternatif dan terbarukan. Salah satu sumber energi alternatif selain bahan bakar fosil adalah biogas. Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti kotoran ternak yang dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses mikrobial bersifat anaerobik. Pengolahan kotoran sapi menjadi energi alternatif biogas yang ramah lingkungan merupakan cara yang sangat menguntungkan, namun penggunaan biogas saat ini masih terbatas untuk kebutuhan rumah tangga dan penerangan saja. Sehingga diperlukan penelitian untuk mencari pemanfaatan biogas dibidang-bidang yang lain seperti bidang industri. Di industri, istilah brazing mengacu pada penyambungan dua buah logam atau lebih, baik itu logam sejenis maupun tidak sejenis dengan menggunakan bahan tambah yang titik cairnya jauh lebih rendah dibanding dengan titik cair logam yang akan disambung dengan menggunakan temperatur yang rendah. Pada

2 Rumusan Masalah 1. Asetilen merupakan gas yang dibentuk dari turunan bahan bakar fosil yang sifatnya tidak terbarukan.4 Tujuan Penelitian 1.5 Mamfaat Penelitian 1.3 Batasan Masalah 1. Menurut Arnott (1985) Jika dibandingkan dengan oksigen-asetilen.6 Hipotesis .umumnya sumber panas yang digunakan untuk brazing adalah dari hasil pembakaran bahan campuran Oksigen–Asetilin (Oxigen-acetylen) yang dikemas dalam tabung yang berbeda. 1. nilai panas pembakaran yang dihasilkan dari oksigen-metana yang terdapat pada biogas tidak jauh berbeda yaitu 3000 C sekitar 250 C lebih rendah dari oksigen-asetilen. Lebih rendahnya suhu panas pembakaran oksigen-metana (oksigen-biogas) tersebut memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan bakar untuk proses brazing logam.