Anda di halaman 1dari 4

Nama NPM

: Yohan Alamsyah : 0806343456

Mata Kuliah : Teori Perundang-undangan

Tugas Essay Judicial Review UU No. 38 Tahun 2008 tentang ratifikasi Piagam ASEAN

Kelahiran piagam ASEAN benar- benar disambut dengan penuh harap sebagai katalis yang kuat dan kreatif bagi harapan- harapan rakyat di Asia Tenggara akan pentingnya pemajuan dan perlindungan hak- hak asasi manusia dan kebebasan fundamental, seperti yang ditegaskan pada pasal 14 Piagam ASEAN. Untuk mewujudkan amanat pasal tersebut, maka perlu adanya upaya- upaya yang harus dilaksanakan oleh ASEAN dalam meningkatkan pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia di Asia tenggara Piagam ASEAN merupakan dokumen pertama yang mengikat secara hukum bagi setiap negara anggotanya. Piagam ASEAN merupakan blue print yang menjadi penggerak dalam pembangunan masyarakat ASEAN. Piagam ASEAN untuk pertama kalinya mencantumkan target strategis pembangunan masyarakat ASEAN dan mengadakan penetapan konkrit mengenai target, prinsip, posisi, dan kerangka pengembangan ASEAN. Dalam perkembangannya, piagam ASEAN telah diratifikasi oleh indonesia yang merupakan salah satu negara anggota. Hal tersebut dapat dilihat dengan dikeluarkannya UU No.38 Tahun 2008 yang merupakan ratifikasi Piagam ASEAN. Namun dengan dikeluarkannya undang-undang tersebut, justru timbul beberapa permasalahan yang terkait dengan konstitusionalitas Piagam ASEAN itu sendiri. Dalam melihat permasalahan yang muncul tersebut, terlebih dahulu Tanpa mengurangi inti persoalan tentang konstitusionalitas Piagam ASEAN yang memang cukup penting, terdapat pertanyaan mendasar yang mengitarinya yang mungkin tidak kalah penting, yaitu apakah mekanisme konstitusi kita memungkinkan suatu perjanjian internasional dijudicial review? Pandangan publik yang selama ini ada selalu akan serta merta mengartikan bahwa Piagam ASEAN adalah identik dengan UU No. 38 Tahun 2008 yang meratifikasinya. Karena Piagam ASEAN adalah (telah menjadi) UU maka akan menjadi logis pula untuk berpandangan bahwa UU ini dapat di-uji materi-kan ke MK. Tetapi apakah benar bahwa UU No 38/2008 identik dengan Piagam ASEAN itu sendiri? Perdebatan yang sebenarnya justru pada aspek prosedural ini. Bagi ahli hukum tata negara kemungkinan besar akan melihat ini identik karena memang UU No 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan UU secara implisit

Dalam hukum dan praktik Indonesia sampai akhir Orde Baru. 24 tentang Perjanjian Internasional tidak secara tegas menjelaskan kedudukan perjanjian internasional dalam sistem perundang-undangan namun hanya menyatakan bahwa perjanjian internasional disahkan dengan undang-undang/Peraturan Presiden tanpa lebih lanjut menjelaskan apa arti dan konsekuensinya bagi perundang-undangan Indonesia. Namun ada baiknya untuk menelusuri prosedur hukum Indonesia tentang pemberlakuan suatu perjanjian internasional sampai dia mengikat Indonesia. yang pertama hanya menyebut "mengesahkan Piagam ASEAN". status perjanjian internasional tidak dipersoalkan dalam perpektif perundang-undangan karena memang belum ada ketertarikan hukum tata negara Indonesia tentang kedudukan dan status perjanjian internasional dalam sistem hukum nasional. Dari konstruksi ini maka UU No. seperti yang disinyalir oleh Prof. Jilid III. Bagir Manan (2008). Kalangan ini cenderung melihat Piagam ASEAN sebagai produk hukum yang berdiri sendiri terlepas dari legislasi nasional yang meratifikasinya. Pasal 11 UUD 45 hanya menyebutkan “Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang. merupakan suatu “kontradiksi keilmuan”. 1960)". sehingga persetujuan DPR itu sendiri berupa apapun telah mencakupi syarat formil menurut Konstitusi Pasal 11 (Naskah Persiapan UUD 1945. dituangkannya perjanjian internasional ke dalam bentuk UU pengesahan. Setelah diterbitkannya UU ini . yang kedua hanya mengatakan tanggal mulai berlakunya UU ini.tidak membedakan UU dengan UU yang meratifikasi suatu perjanjian internasional. adalah bentuk ”persetujuan DPR” dan bukan Piagam ASEAN itu sendiri. Menurut teori yang dikenal dalam Hukum Tata Negara RI. 38 Tahun 2008 pada hakikatnya. UU No. Namun bagi pengamat hukum internasional. Apakah dengan pengesahan dengan UU maka perjanjian internasional menjadi setara dengan UU merupakan pertanyaan yang masih belum terjawab sampai saat ini. perjanjian internasional (traktat) sudah dikenal sebagai sumber hukum dan kedudukannya adalah berdiri sendiri dan terpisah dari UU. tidak terdapat praktik bahkan wacana sekalipun untuk mengkonstruksikan perjanjian internasional ke dalam sistem perundang-undangan. dan tidak lain. damai dan membuat perjanjian dengan Negara lain”. Muhammad Yamin sebagai salah satu perumus UUD 1945 pernah menyatakan bahwa “tidak diterapkan dalam Pasal 11 bentuk juridis lain daripada persetujuan DPR. terlepas dari arti kedudukan UU ini. Namun. sebagaimana layaknya UU yang meratifikasi lainnya. hanya memuat 2 pasal. Hal ini terlihat karena UU No 38/2008. Ini semakin dibuktikan dengan prosedur berikutnya. persoalannya agak lain. Sejak mulai berlakunya UUD 1945.

Piagam ASEAN sebagai dokumen pertama yang memiliki daya mengikat secara hukum bagi setiap negara anggota dengan sendirinya akan mendorong identitas ASEAN sebagai organisasi internasional-regional yang memiliki kepribadian hukum internasional. namun kajian tentang traktat tersebut dalam perspektif hukum tata negara masih sangat terbatas. sekalipun sudah menjadi kurikulum baku di Indonesia.maka Menteri Luar Negeri mengeluarkan suatu dokumen formal yang disebut instrumen ratifikasi untuk disampaikan kepada Sekjen ASEAN. masih berhenti pada aspek hukum internasional tentang perjanjian internasional dan belum memasuki wilayah hukum tata negara Indonesia. Pertama. di tengah-tengah kekuasaan eksekutif yang sangat dominan. perjanjian internasional masih merupakan kajian primadona dari para pakar hukum internasional ketimbang pakar hukum tata negara. Secara teoritis. wacana publik ke arah pembentukan politik hukum tentang persoalan ini juga belum dimulai. Pertanyaan lainnya yang terkait dengan konstitusionalisme dalam hal pembentukan peraturan perundang-undangan adalah dapatkah MK menguji perjanjian internasional sebagai produk hukum internasional?. nyaris tidak ada persoalan atau perdebatan tentang status serta perjanjian internasional di Indonesia. . Kedua. kajian hukum perjanjian internasional. Sistem hukum Indonesia sayangnya masih belum memberi perhatian pada permasalahan ini sehingga jangankan pada tataran konstitusi. Kalaupun persoalan ini muncul. Dengan diterimanya instrumen ratifikasi ini maka sejak itulah Piagam ASEAN mulai berlaku terhadap Indonesia.undangan nasional. Pada negara-negara maju. Tanggal berlakunya UU No 38/2008 dengan tanggal berlakunya Piagam ASEAN berbeda. Di lain pihak. Sekalipun para pakar hukum tata negara Indonesia secara tegas mengakui bahwa traktat adalah salah satu sumber hukum tata negara. pada masa Orde Baru. Dengan demikian. Hal ini sudah memperlihatkan bahwa kedua dokumen ini tidak pernah identik. Setidaknya dua faktor yang mengakibatkan politik hukum tentang status perjanjian internasional dalam hukum nasional tidak pernah berkembang. aliran ini telah dicerminkan dalam UUD yang secara tegas memuat kaidah tentang apa status perjanjian internasional dalam hukum nasionalnya. persoalan ini berakar pada ketidakjelasan tentang aliran/doktrin yang dianut oleh hukum Indonesia tentang hubungan perjanjian internasional dan hukum nasional. Pada akhirnya yang sebenarnya perlu dilihat adalah apakah kegunaan dari ratifikasi piagam ASEAN tersebut yang dimasukkan ke dalam perundang. maka penyelesaian politik ketimbang hukum lebih diutamakan.

ASEAN melalui piagamnya diharapkan adanya suatu kewajiban dari negara anggota untuk melaporkan secara periodik perkembangan penghormatan hak asasi manusia sehingga dapat meminimalisir pelanggaran hak asasi manusia dan hal tersebut tentunya adalah hal yang baik untuk dimasukkan ke dalam perundang-undangan nasional terlepas dari permasalahannya terkait dengan konstitusionalisme. .